²penulis penanggungjawab
³
penulis penanggungjawabPENINGKATAN KREATIVITAS SISWA MELALUI METODE MIND
MAPPING PADA KONSEP GAYA
Windyaningsih, Margaretha Sri Yuliariatiningsih², Komariah³
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru
[email protected] ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kreativitas siswa. Hal tersebut terlihat ketika pembelajaran berlangsung, siswa kesulitan dalam menuangkan materi berdasarkan hasil pemikirannya sendiri, baik penggunaan kata maupun bahasa. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Ciporeat 3 Kota Bandung pada siswa kelas V-B yang berjumlah 33 siswa yang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kreativitas siswa dan untuk mengetahui respon siswa pada pembelajaran konsep gaya melalui metode mind mapping. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode PTK dengan model desain Elliot. Model desain Elliot terdiri dari tiga siklus yang setiap siklusnya terdiri dari tiga tindakan. Hasil penelitian yang diperoleh dari instrumen penelitian yang kemudian diolah menjadi data kualitataif dan kuantitatif. Rata-rata nilai kreativiitas siswa dari empat indikator kreativitas pada siklus ke-I, ke-II, dan ke-III secara berturut-turut yaitu 61,7, 67,4, dan 72,1. Sedangkan untuk hasil respon siswa yang diperoleh dari angket yang dibagikan kepada masing-masing siswa yaitu dengan jumlah skor sebesar 1424 yang termasuk ke dalam kategori tinggi. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat diperoleh hasil penelitian bahwa kreativitas siswa pada setiap siklusnya mengalami peningkatan dan respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan metode mind mapping termasuk ke dalam kategori tinggi. Penulis merekomendasikan metode mind mapping sebagai alternatif untuk melaksanakan pembelajaran di kelas dengan materi dan mata pelajaran yang lain, serta dengan media yang lebih menarik.
Kata kunci: IPA, Kreativitas, Mind Mapping, SD.
Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Metode Mind Mapping pada Konsep Gaya| 2
THE IMPROVEMENT OF STUDENTS’CREATIVITY THROUGH MIND
MAPPING METHOD ON THE CONCEPT OF FORCE
Windyaningsih, Margaretha Sri Yuliariatiningsih², Komariah³
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru
[email protected] ABSTRACT
This research is motivated by lack of students’ creativity. It is seen in the learning process, students' difficulty in pouring material based on the results of their own ideas, both the use of words or language. This research was conducted in SDN Ciporeat 3 Bandung in class V-B which was included by 33 students consisting of 18 male students and 15 female students. The purpose of this study is to determine the improvement of students’ creativity and the response of students in learning the concept of force through mind mapping
method. The method used in this research was classroom action research with Elliot design model. Elliot design model consists of three cycles which is each cycle consisting of three acts. The results obtained from the research instrument then were processed into qualitative and quantitative data. The average value of students’ creativity from the four creativity indicators on cycle-I, II, and III all in a row, namely, 61.7, 67.4, and 72,1. While for the results of students’ responses obtained from a questionnaire distributed to each student were with a total score of 1424 which were included in the high category. Based on the research that had been conducted, it could be obtained the findings that the students’ creativity at each cycle had increased and students' response in learning by using mind mapping methods included into high category. The research recommends mind mapping
method as an alternative to implement the learning in the classroom with other materials and subject, as well as with media which is more attractive.
²penulis penanggungjawab
³
penulis penanggungjawabManusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya yang ada di bumi, yaitu manusia dianugerahi akal yang sangat berperan penting untuk menunjang kehidupannya. Akal tersebut apabila selalu dikembangkan maka akan menghasilkan individu atau manusia yang cerdas dan pintar. Oleh karena itu, setiap manusia mengalami pendidikan untuk mengembangkan akalnya. Pendidikan berlangsung secara terus-menerus, tidak hanya berlangsung ketika manusia dilahirkan, tetapi pendidikan sejatinya sudah dimulai sejak manusia masih di dalam kandungan hingga akhir hayat. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara. Menurut pengertian di atas, maka pendidikan merupakan suatu kegiatan yang sangat penting bagi setiap manusia untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Suatu negara dapat dikatakan sebagai negara yang maju apabila mutu pendidikannya menunjukkan angka yang tinggi. Mutu pendidikan yang tinggi akan menghasilkan individu-individu yang cerdas dan dapat membangun serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Sekolah sebagai contoh dari pendidikan formal merupakan wadah bagi individu-individu yang belum mengetahui, dan memahami ilmu apapun hingga ia mengetahui dan memahami ilmu pengetahuan bahkan sampai pada aplikasi di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam pendidikan yang berlangsung di sekolah, terdapat suatu kegiatan belajar dan
pembelajaran yang keduanya sangat berperan penting di dalam pendidikan. Adapun pengertian belajar yang dikemukaan oleh Slameto (2013) bahwa belajar ialah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku yang baru. Adapun perubahan tingkah laku tersebut diperoleh berdasarkan kepada pengalamannya sendiri.
Salah satu mata pelajaran yang dipelajari di Sekolah Dasar yaitu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pembelajaran IPA merupakan pembelajaran yang menuntut kreativitas dan keterampilan siswa, hal tersebut sejalan dengan pendapat Widodo, A., Sri, W., & Margareta (2010) yang menyatakan bahwa, IPA bukan hanya sekumpulan ilmu dan pengetahuan. IPA pada hakikatnya juga mengandung cara-cara untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan tentang alam dengan menggunakan sejumlah keterampilan dasar.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan di kelas V SDN Ciporeat 3 Bandung pada mata pelajaran IPA, peneliti menemukan bahwa kreativitas dan respon siswa masih rendah. Hal tersebut disebabkan karena berbagai faktor. Rendahnya kreativitas siswa dilihat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Siswa hanya diberikan materi berupa bacaan-bacaan yang membuat kreativitas siswa rendah. Ketika proses pembelajaran berlangsung siswa tidak diberikan kebebasan untuk memahami materi, melainkan siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dan hanya sesekali melakukan tanya-jawab. Selain itu, siswa sulit menuangkan konsep-konsep materi dengan menggunakan bahasa atau pemikirannya sendiri. Siswa sulit mengubah pokok bahasan materi dari bacaan-bacaan ke dalam bentuk lain seperti penggunaan bahasa, bagan, gambar, atau peta konsep berdasarkan hasil pemikirannya. Padahal dalam pelaksanaannya pembelajaran IPA
Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Metode Mind Mapping pada Konsep Gaya | 4 memerlukan keterlibatan siswa secara
langsung agar siswa dapat memahami materi berdasarkan pemikiran dan pemahamannya sendiri. Oleh karena itu pada pembelajaran IPA kreativitas siswa rendah.
Hal lain selain kreativitas siswa yaitu mengenai respon siswa. Respon siswa dilihat dari cara siswa memberikan tanggapan terhadap pembelajaran. Bertemali dengan hal tersebut Skinner (Romadhon, 2015) mengemukakan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Dengan diberikannya suatu stimulus penguat makan respon atau perilaku yang dihasilkan oleh individu akan berbeda-beda. Adapun menurut Skinner (Swadarma, 2013) frekuensi respon akan meningkat apabila diberikannya stimulus yang menyenangkan.
Kenyataan yang terjadi kelas, siswa kurang menunjukkan respon yang baik terhadap pembelajaran IPA. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya siswa yang kurang memperhatikan guru ketika pembelajaran. Siswa banyak yang mengobrol dengan temannya. Siswa menganggap bahwa pembelajaran IPA merupakan pembelajaran yang kurang menarik karena dalam penyajiannya yang monoton dan membuat siswa bosan.
Berdasarkan temuan di atas peneliti menganggap perlu mengadakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan respon siswa pada pembelajaran IPA konsep gaya. Adapun dalam pelaksanaannya peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan metode mind mapping sebagai solusinya. Hal tersebut dikarenakan metode mind mapping merupakan metode yang sangat efektif untuk mengembangkan pemikiran siswa dari gagasan-gagasan diubah menjadi peta pikiran (Huda, M 2013). Selain itu mind map dapat menarik perhatian siswa karena
pada mind map terdapat gambar-gambar dan warna-warna yang dapat meningkatkan daya ingat anak dan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan serta bermakna. Adapun mind map yang dibuat siswa merupakan sebuah produk kreativitas siswa. Hal terssebut bertemali dengan pendapat Csikzentmihalyi (dalam Rachmawati, Y & Euis, K., 2011) memaparkan bahwa kreativitas dapat dikatakan sebagai produk apabila seseorang dapat menghaslkan suatu produk baru daripada ia belajar hanya melalui buku. Jadi dapat dikatakan bahwa produk kreativitas dalam penelitian ini yaitu mind map. Selain itu mind map yang dibuat digunakan untuk membuat siswa senang dan tertarik terhadap pembelajaran konsep gaya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Jones, Brett D., dkk. (2012) bahwa mind map sangat berguna untuk meningkatkan motivasi anak dalam belajar dan belajar dengan menggunakan mind map membuat respon siswa tinggi.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui peningkatan kreativitas siswa pada pembelajaran konsep gaya kelas V-B di SDN Ciporeat 3 melalui metode mind mapping, dan untuk mengetahui respon siswa pada pembelajaran konsep gaya kelas V-B di SDN Ciporeat 3 melalui metode mind mapping.
METODE
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK dipilih karena sesuai untuk memperbaiki praktek pendidikan yang tidak sesuai dan untuk dapat mengembangkan kemampuan guru dalam mendidik baik dalam mentransfer ilmu maupun dalam pembentukkan karakter siswa. Bertemali dengan hal tersebut Abidin, Y. (2011, hlm. 217) mengemukakan PTK adalah “Penelitian yang dilakukan untuk memecahkan masalah, mengkaji langkah pemecahan masalah itu sendiri, dan atau
²penulis penanggungjawab
³
penulis penanggungjawabmemperbaiki proses pembelajaran secara berulang dan bersiklus.”
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model desain penelitian John Elliot (dalam Hopkins, 2008). Ciri dari model desain penelitian John Elliot yaitu terdapat tiga siklus dan pada setiap siklusnya terdiri dari tiga tindakan. Tindakan-tindakan tersebut berbentuk suatu kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti untuk meningkatkan kreativitas siswa pada pembelajaran IPA konsep gaya.
Tempat dilaksanakannya penelitian ini yaitu di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ciporeat 3 yang terletak di jalan A. H. Nasution, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung. SD ini bertempat di pinggir jalan raya yang merupakan tempat yang strategis kerena mudah dijangkau. Sedangkan subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas V-B SDN 3 Ciporeat dengan jumlah siswa 33 siswa dengan jumlah laki-laki sebanyak 18 siswa dan perempuan sebanyak 15 siswi.
Instrumen pada penelitian ini adalah lembar observasi, lembar catatan lapangan, lembar penilaian mind map, lembar angket dan kamera untuk dokumentasi. Adapun teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif dan analisi data kuantitatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil temuan yang telah dilakukan pada kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode mind map, dapat diketahui bahwa kreativitas siswa pada siklus I sampai siklus III mengalami peningkatan baik dilihat dari rata-rata pemerolehan skor untuk empat indikator kreativitas maupun dilihat dari rata-rata pemerolehan nilai kreativitas siswa. Adapun pemerolehan rata-rata nilai kreativitas siswa setiap indikator kreativitas melalui mind map selama tiga siklus dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1
Rata-rata Skor Siswa untuk Setiap Indikator Kreativitas
Berdasarkan gambar 1 peneliti memperoleh gambaran mengenai rata-rata pemerolehan skor yang didapat berdasarkan empat indikator kreativitas dari mind map yang dibuat oleh siswa pada setiap siklus. Pada gambar 4.2 terlihat adanya peningkatan rata-rata skor untuk setiap indikator kreativitas, tetapi selain itu terdapat juga rata-rata skor indikator yang tetap dari siklus kesatu hingga siklus ketiga.
Pada indikator fluency rata-rata pemerolehan skor siswa dari siklus kesatu hingga siklus ketiga tidak mengalami peningkatan dan tidak juga mengalami penurunan. Skor rata-rata yang diperoleh siswa masih tetap sama yaitu 2,8. Hal tersebut dikarenakan dari siklus kesatu siswa sudah bisa menuliskan kata kunci/ide pokok pada mind map mengenai materi yang telah dipelajari. Kata kunci/ide pokok dalam sebuah mind map sangat penting karena untuk memudahkan pembaca dalam mengingat suatu materi atau hal-hal penting yang telah dipelajari. Hal tersebut senada dengan yang dikatakan Swadarma (2013) bahwa kata kunci atau key word dalam mind mapping sangat dibutuhkan, karena untuk membantu dalam menghafal.
Indikator flexybility, pemerolehan rata-rata skor yang didapat siswa dari siklus kesatu hingga siklus ketiga mengalami peningkatan walaupun tidak terlalu
Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Metode Mind Mapping pada Konsep Gaya | 6 signifikan. Pada siklus kesatu,
pemerolehan skor rata-rata siswa yaitu 1,8, siswa masih kesulitan dalam memberikan/menuliskan penjelasan untuk setiap kata kunci/ide pokok yang dituliskan melainkan siswa hanya menuliskan kata kunci/ide pokok saja tidak disertai dengan penjelasannya. Kemudian pada siklus kedua mengalami sedikit peningkatan skor rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 1,9. Siswa sudah mulai bisa menuliskan penjelasan untuk kata kunci/ide pokok walaupun tidak semua kata kunci/ide pokok yang diberikan penjelasan. Pada siklus ketiga pemerolehan rata-rata skor siswa juga semakin mengalami penningkatan yaitu 2,1. Siswa sudah mulai terbiasa untuk menuliskan penjelasan untuk kata kunci/ide pokok yang dituliskan walaupun belum terlalu lengkap.
Indikator selanjutnya yaitu originalitas, pemerolehan rata-rata skor yang didapat siswa dari siklus kesatu hingga siklus ketiga juga mengalami peningkatan. Pada siklus kesatu pemerolehan rata-rata skor siswa yaitu 1,1. Hal tersebut dikarenakan pada siklus kesatu siswa masih meniru mind map yang dibuat oleh guru dan siswa yang lain, baik dilihat dari komposisi warna yang digunakan maupun dilihat dari komposisi garis-garis lengkung yang dibuat. Kebanyakan siswa membuat mind map dengan komposisi yang warna dan bentuk garis lengkung yang sama. Selain itu pad siklus kesatu kebanyakan siswa tidak membawa spidol atau pensil warna oleh karena itu kebanyakan siswa membuat mind map yang tidak berwarna yaitu hanya membuat mind map dengan menggunakan pensil atau bolpoint saja. Mind map seharusnya dibuat dengan menggunakan beraneka macam warna agar terlihat menarik dan lebih mudah menghafal bagian atau cabangnya, seperti yang dikemukakan oleh Swadarma, D. (2013) yaitu bahwa mind map yang dibuat setidaknya terdapat 2-7 warna yang
bertujuan untuk merangsang kreativitas dan memotivasi secara visual, juga untuk mempermudah dalam membedakan antara cabang utama dan sub-sub cabang utama.
Pada siklus kedua untuk indkator originalitas pemerolehan rata-rata skor siswa mengalami sedikit peningkatan yaitu 1,5. Siswa mulai bisa membuat mind map berdasarkan hasil pemikirannya sendiri baik dalam penggunaan komposisi warna maupun dilihat dari komposisi bentuk garis lengkung. Selain itu siswa mulai bisa memberikan hiasan-hiasan pada mind map yang dibuat. Kemudian pada siklus ketiga semakin mengalami peningkatan. Pemerolehan rata-rata skor siswa yaitu 1,77. Siswa semakin terbiasa membuat mind map sesuai dengan keinginannya dan berdasarkan hasil pemikirannya sendiri, walaupun hal tersebut tidak sepenuhnya siswa membuat mind map berdasarkan hasil pemikirannya sendiri.
Selain penggunaan komposisi warna yang beragam, dalam mind map juga digunakan garis melengkung agar mind map yang dibuat tidak terlihat kaku dan tidak monoton. Hal tersebut sejalan dengan (DePorter, Boby & Mike, 2002; Huda, 2013) yang berpendapat bahwa Garis yang digunakan dalam mind mapping yaitu garis lengkung yang bentuknya mengecil dari pangkal menuju ujung. Garis tersebut berfungsi agar mind map lebih menarik dan tidak monoton.
Indikator kreativitas terakhir yaitu elaboration, pemerolehan rata-rata skor siswa mengalami peningkatan dari siklus kesatu hingga siklus ketiga. Pada sikls kesatu pemerolehan rata-rata skor siswa yaitu 1,77. Hal tersebut dikarenakan kebanyakan siswa membuat mind map tidak disertai dengan gambar pendukung. Kemudian pada siklus kedua mengalami kenaikan, pemerolehan rata-rata skor siswa yaitu menjadi 1,83. Siswa mulai terbiasa untuk membuat gambar pendukung kata kunci/ ide pokok. Tetapi masih banyak juga siswa yang tidak membuat gambar
²penulis penanggungjawab
³
penulis penanggungjawabpendukung dikarenakan siswa tidak bisa menggambar atau siswa kebingungan untuk menggambar. Kemudian pada siklus ketiga terus mengalami peningkatan pada indikator elaboration, pemerolehan rata-rata skor siswa yaitu menjadi 2,1. Siswa mulai terbiasa untuk membuat gambar pendukung. Gambar yang dibuat siswa pada siklus ketiga semakin bertambah jumlahnya dibandingkan pada siklus sebelumnya.
Adapun untuk rata-rata nilai kreativitas siswa dari empat indikator kreativitas siswa melalui mind map untuk setiap siklus terdapat pada gambar 4.3.
Gambar 2
Rata-rata Nilai Kreativitas Siswa pada Setiap Siklus
Berdasarkan gambar diagram di atas, terlihat adanya peningkatan nilai kreativitas siswa dari siklus kesatu hingga siklus ketiga, walaupun peningkatan tersebut tidak terlalu signifikan.
Hal lain selain kreativitas yaitu mengenai respon siswa terhadap pembelajaran pada konsep gaya melalui metode mind mapping diperoleh melalui angket yang diberikan kepada masing-masing siswa. Adapun angket tersebut berisi pernyataan-pernyataan yang harus diisi siswa dengan pilihan jawaban SS (sangat setuju), S (setuju), R (ragu-ragu), TS (tidak setuju), dan STS (sangat tidak setuju). Adapun untuk hasil respon siswa dapat terlihat pada gambar 3.
Gambar 3
Pemerolehan Skor Respon Siswa pada Skala Likert
Berdasarkan gambar 3, maka diketahui respon siswa terhadap pembelajaran konsep gaya melalui metode mind mapping melebihi batas kategori tinggi tetapi masih kurang dari kategori sangat tinggi. Melainkan respon siswa dapat dikatakan masuk ke dalam kategori tinggi. Ketika pembelajaran siswa menunjukkan sikap yang antusias terhadap pembelajaran seperti ketika kegiatan tanya jawab siswa berebut ingin menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Slameto (2013) bahwa respon siswa akan terlihat dari tanggapan yang diberikan oleh siswa terhadap penjelasan dari guru dan siswa terlihat antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
KESIMPULAN
Berdasarkan proses pelaksanaan penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan dari penelitian yang dilakukan selama tiga siklus pada konsep gaya dengan menggunakan metode mind mapping pada kelas V-B SDN Ciporeat 3 Kota Bandung dapat disimpulkan bahwa kreativitas siswa pada pembelajaran konsep gaya kelas V-B di SDN Ciporeat 3 melalui metode mind mapping mengalami peningkatan. Hal tersebut dapat dilihat dari pemerolehan rata-rata nilai kreativitas siswa pada setiap siklusnya. Pada siklus ke-I rata-rata nilai kreativitas siswa yaitu 61,7. Sedangkan pada siklus ke-II yaitu 67,4. Pemerolehan rata-rata nilai kreativitas siswa pada siklus ke-II
330 S Sangat rendah Rendah 660 S 990 S 1320 S 1650 S
Sedang Tinggi Sangat
Tinggi 1414
Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Metode Mind Mapping pada Konsep Gaya | 8 mengalami peningkatan sebesar 5,7. Pada
siklus ke-III pemerolehan rata-rata nilai siswa yaitu 72,1, hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan sebesar 4,7.
Respon siswa pada pembelajaran konsep gaya kelas V-B di SDN Ciporeat 3 melalui metode mind mapping menunjukkan respon yang tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari pemerolehan jumlah skor angket dari 33 siswa kelas V-B yaitu sebesar 1424 yang termasuk ke dalam kategori tinggi berdasarkan pada skala likert.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Y. (2011). Penelitian Pendidikan dalam Gamitan Pendidikan Dasar dan Paud. Bandung : Rizqi Press.
Buzan, T. (2007). Buku pintar mind map untuk anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2003). Undang-undang no.20 tahun 2003 tetang sistem pendidikan nasional. Jakarta: Depdikbud.
Deporter, B. & Mike, H. (2002). Quantum learning. Bandung: Kaifa.
Hopkins. (2008). A teacher’s guide classroom research. Glass glow: Bell and Bain ltd.
Huda, M. (2013). Model-model pengajaran dan pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jones, Brett D., dkk. (2012). The Effects of Mind Mapping Activities on Students' Motivation. International Journal for the Scholarship of Teaching and Learning. 1 (6). Hlm. 1-2
Rachmawati, Y. & Euis, K. (2011). Strategi pengembangan kreativitas pada anak usia taman kanak-kanak. Kencana Prenada Media Group: Jakarta.
Romadhon. (2015). Perilaku tokoh utama novel saksi mata karya suparto brata: kajian psikologi sastra. Jurnal Sastra Indonesia. 4 (1), hlm 1-12.
Slameto. (2013). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.
Swadarma, D. (2013). Mind mapping dalam kurikulum pembelajaran. Jakarta: Gramedia.
Widodo, A., Sri, W. & Margareta. (2010). Pendidikan ipa di sekolah dasar. Bandung: UPI PRESS