REL
Rel
•
Rel pada jalan rel mempunyai fungsi sebagai
pijakan menggelindingnya roda kereta api dan
untuk meneruskan beban dan roda kereta api
kepada bantalan
•
Rel berguna untuk
memindahkan tekanan
roda-roda KA ke at
as bantalan-bantalan dan
Gaya-gaya pada Rel
•
Rel ditumpu oleh bantatan-bantalan, sehingga rel
merupakan batang yang ditumpu oleh
penumpu-penumpu.
•
Pada sistem tumpuan yang sedemikian, tekanan
tegak lurus dan roda menyebabkan momen
lentur pada rel di antara bantalan-bantalan.
Selain itu, gaya arah horisontal yang disebabkan
oleh gaya angin, goyangan kereta api, dan gaya
sentrifugal (pada rel sebelah luar) menyebabkan
tenjadinya momen lentur arah horisontal
Bentuk-bentuk Rel
•
Untuk mengimbangi momen-momen yang
bekerja, rel didesain dgn bentuk sbb:
Tipe Rel
Kelas Jalan Rel Tipe Rel
I R.60 / R.54
II R.54 / R.50
III R.54 / R.50 / R.42
IV R.54 / R.50 / R.42
Bahan dan Kekuatan Rel
• Untuk mendapatkan rel yang tahan aus dan tidak mudah
retak bahan dasar rel selain Fe sebagai bahan utama, juga mengandung C, dan Mn.
• Kandungan C diperlukan untuk mendapatkan sifat kuat dan
keras, Mn diperlukan sebagai bahan deoxidasi dan sebagai bahan campuran. Mn akan mengikat 0 dan S menjadi MnO dan MnS yang tidak merugikan. Jika tidak terdapat Mn maka akan terbentuk FeO dan FeS yang menjadikan rel getas dan mudah patah.
• Dengan pertimbangan perlunya rel yang kuat, keras, tahan
terhadap aus, tidak getas, dan tidak mudah patah maka rel yang digunakan di Indonesia ialah jenis rel tahan aus yang sejenis dengan rel WR-A pada klasifikasi UIC.
Macam Rel
•
Ada 3 macam rel tahan aus (Wear Resistant –
WR):
– WR-A
– WR-B
Dimensi Rel
• Permukaan cukup lebar; supaya tegangan kontak sekecil mungkin
• Kepala rel harus cukup tebal; memberikan umur panjang
• Badan rel harus cukup tebal; antisipasi korosi, tegangan lentur dan tegangan horisontal
• Dasar rel harus cukup lebar; supaya mengecilkan distribusi tegangan ke bantalan
• Dasar rel harus cukup tebal; antisipasi korosi dan menjaga kekakuan
• Momen inersia harus tinggi; tinggi rel semaksimal mungkin
• Kepala dan dasar rel harus cukup lebar; untuk menahan gaya horisontal
Dimensi Rel
•
Perbandingan lebar dan tinggi harus cukup;
untuk kestabilan horisontal
•
Titik pusat sebaiknya ditengah rel
•
Geometri badan harus sesuai dengan pelat
sambung
•
Jari-jari kepala rel harus cukup besar supaya
tegangan kontak sekecil mungkin
Pemilihan Dimensi
Pemilihan dimensi Tegangan ijin (Si) Tegangan lentur; Sbase<Si Beban 1 gandar Beban 6 gandar CC dan 4 gandar BB Perancangan RelPemilihan Dimensi
•
Tegangan Ijin
– Besarnya tegangan ijin sangat tergantung kepada
mutu rel yang dipakai, pada umumnya mutu rel yang dipakai bertegangan ‘ultimate’ di atas 7000 kg/cm.
– Dalam menentukan tegangan ijin, beberapa negara memakai dasar kelas jalan (Jepang dan Jerman), dan ada negara yang memakai metoda pemasangan rel, rel pendek atau rel panjang (Amerika).
– Perumka dalam peraturan barunya, memakai dasar kelas jalan, sehingga tegangan ijin di dasar rel, makin besar untuk kelas di bawahnya. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Tabel.
Tabel contoh perhitungan dimensi rel
pada kelas jalan rel Perumka
Pemilihan Dimensi
•
Tegangan Lentur
– tegangan lentur dihitung berdasarkan balok di atas tumpuan elastis
– beban yang bekerja adalah beban roda-roda kendaraan rel
•
Formula untuk tegangan lentur
cos x sin x)
e 4 P Mx x Pemilihan Dimensi
•
Tegangan Lentur
– Beban 1 gandar Jika x = 0 maka 4 P Ma a P xPemilihan Dimensi
•
Tegangan Lentur
– Beban 6 gandar CC dan 4 gandar BB
a P1 P2 P3 x P1 P2 P3 a P1 P2 x P1 P2
4
P
75
,
0
x
sin
x
cos
e
4
P
M
4
P
82
,
0
x
sin
x
cos
e
4
P
M
4 1 i x a 6 1 i x aPerancangan Rel
•
Formula yang digunakan
•
Sehingga persamaan tegangan di dasar rel
– dengan:
• P=tekanan roda dinamis = Ps X Ip
• Ps = tekanan roda statis
• Ip = faktor dinamis = 1 + 0,01 (v/1,609 – 5)
• v = kecepatan rencana (km/jam)
4 P 85 , 0 Ma b b a base W 4 P 85 , 0 W M S
Perancangan Rel
– Dengan (lanjutan):
• = damping factor =
• k = kekakuan jalan rel (kg/cm2)
• I = momen inersia rel (cm4)
• Wb = section modulus base (cm3)
• E = modulus elastisitas jalan rel (kg/cm2)
b b a baseW
4
P
85
,
0
W
M
S
4 EI 4 kLatihan
•
Jalan rel kelas V, dengan data-data sbb:
– Daya angkut lintas < 2,5 juta ton/tahun– Tekanan gandar 18 ton; Ps = 9000 kg
– Kecepatan rencana 100 km/jam; Ip = 1+0,01(100/1,609-5)
– Kekakuan jalan rel (k) = 180 kg/cm2
– Momen inersia rel R-42 (I) = 1369 cm4
– Tahanan momen dasar (Wb) = 200 cm3
– Modulus elastisitas rel (E) = 2,1.106 kg/cm2
Latihan
Momen Maks
25 , 0 6 a 1369 x 10 x 1 , 2 x 4 180 x 4 5 609 , 1 100 x 01 , 0 1 x 9000 x 85 , 0 M Latihan
Tegangan ijin
σx = X I y M = 1369 86 6 57 259217. . = 1297.035 kg/cm2 ( < 2000 kg/ cm2)…OK!Latihan
Tahanan Momen
Jadi rel R-42 dianggap cukup untuk kelas jalan V
2 2 b a base 1296,09 kg / cm 1343,5kg / cm 200 259217,57 W M S
Umur Rel
•
Umur rel sangat dipengaruhi oleh mutu rel,
keadaan lingkungan dan beban yang bekerja
(daya angkut lintas).
•
Pada jalan lurus umur rel banyak yang lebih besar
dari 40 tahun, studi lain umur rel bisa mencapai
60 tahun, tetapi biasanya umur 40 tahun
dijadikan sebagai dasar umur.
•
Umur rel dapat ditentukan dari :
– Kerusakan ujung rel– Keausan baik di lurus maupun lengkung
Kerusakan Ujung Rel
• Pembatas umur rel adalah pada sambungan, terutama
pada rel pendek
• Kerusakan di sambungan tjd akibat:
– Beban gandar yang tinggi
– Lebar Celah
– Mutu rel
– Beda tinggi rel
– Diameter roda yang kecil
– Kondisi kendaraan rel (pemegasan)
– Jari-jari permukaan rel
– Kekakuan jalan rel
Kerusakan Ujung Rel
•
Akibat kerusakan tersebut, ada hantaman roda ke
sambungan
•
Contoh kerusakan akibat hantaman:
– Tercabutnya tirpon dari bantalan– Retaknya pelat sambungan rel
– Longgarnya baut-baut sambungan rel
– Naiknya lumpur di bawah bantalan sehingga umur bantalan rendah (lapuk atau patah)
– Ketidakstabilan geometri (angkatan maupun alinyemen)
Kerusakan Ujung Rel
•
Antisipasinya:
– Pengerasan pada ujung rel
– Pemeliharaan yang baik
UMUR REL BERDASARKAN KEAUSAN
Konstruksi rel dapat diukur umur manfaatnya
melalui keausan. Meskipun demikian faktor
kelelahan dan masalah shelling akibat beban gandar
(tegangan kontak) adalah faktor yang menentukan
umur rel.
PT.KAI membatasi besarnya keausan rel
berdasarkan asumsi bahwa pada saat rel dan roda
pada aus maksimum, pergerakan roda tidak
menumbuk sambungan rel.(=Lihat pembatasan
keausan maksimum)
Persamaan Empiris AREA untuk Perhitungan
Umur Rel
• AREA (American Railway Engineering Association) membuat model persamaan empiris untuk menentukan umur rel berdasarkan
keausan sebagai berikut :
T = K W D0.565
dengan
T = umur rel (juta ton) K = konstanta kondisi rel
W = berat rel (lbs/yard), 1 lb/yd = 0.496 kg/m
D = daya angkut lintas (juta ton/tahun atau mgt) 1 mgt = 0.909 juta ton
Besaran nilai K
Nilai K ditentukan sebagai :
• Jalan baru : 0.9538,
• CWR = 1,3544 – 1,3930
• Rel > 123 RE : 0.9810,
• High Silicon Rail = 1,4210-1,4616
Tabel hubungan jari-jari lengkung dengan Nilai K
Contoh Perhitungan
Direncanakan sebuah konstruksi jalan rel baru kelas IV dengan daya lintas 5 juta ton per tahun (5,5 mgt), dengan menggunakan rel tipe R 54.
Panjang jalan 50 km • 10 km lurus • 10 km R = 500 m • 5 km R = 150 m • 10 km R = 800 m • 15 km R = 300 m
Contoh Perhitungan
•
Menentukan nilai K
– Untuk jalan baru K = 0,9538 (lurus)
– Karena tidak semua lurus, K dihitung jika jalan tanpa pelumasan sbb
Contoh Perhitungan
•
Perhitungan Nilai T dan Umur Manfaat Rel (U)
T = 0,555 x 109 x 5,5 mgt = 158,5 mgt
= 144,14 juta ton
U = (158,5 juta ton) / (5 juta ton/tahun) = 28,8
tahun
Percobaan Ttg Keausan
•
Selain menggunakan persamaan di atas
digunakan pula metode perhitungan keausan
dengan percobaan di laboratorium maupun
lapangan.
•
Beberapa contoh spesifikasi pembatasan
keausan:
– 0,056 in/100 mgt untuk rel 115RE (University of Illinois)
– 0,058 in/100 mgt untuk 132 RE (University of Illinois)
3. UMUR REL BERDASARKAN LELAH (FATIGUE)
• Jalan rel adalah struktur elastis yang dibebani secara siklus (cyclic) bahaya lelah
• Fatigue dimulainya retak yang semakin lama semakin melebar dan diakhiri dengan patah.
• Jika tegangan total di kepala rel, akibat beban
kombinasi tegangan lentur, kontak dan suhu melebihi tegangan lelah maka umur rel dihitung berdasarkan umur lelah.
Tegangan yang Bekerja di Kepala Rel
1. Tegangan Lentur (Sl) aW
M
Sl
dengan, Sl = tegangan lentur M = momen lenturTegangan yang Bekerja di Kepala Rel
2. Tegangan Kontak (Sk), Rumus HR. Thomas :
3 2 3 1 2 271 , 0 2 1 k
R
R
R
2
P
23500
S
dengan,Sk = tegangan kontak (psi) P = beban dinamis (lbs)
R1 = Jari-jari roda kereta (inch) R = Jari-jari rel (inch)
Tegangan yang Bekerja di Kepala Rel
3. Tegangan Suhu, (Ss) ) t t ( E L L E Ss E L Ss AE PL L ) t t ( L t L L P P dengan, L = panjang rel tp = suhu pemasangan(°C)t = suhu maksimum di lapangan (°C)
Tegangan yang Bekerja di Kepala Rel
Tegangan Lelah (S
f),
•
Yaitu batas umur rel yang dihitung dengan
analisis keausan atau analisis lelah.
•
Besarnya tegangan lelah tergantung mutu rel
dan standar pembuatan rel yang disajikan
dalam grafik tegangan vs siklus (Grafik SN
Curve)
Linear Cumulative Damage Theory
Miners mengusulkan perhitungan umur lelah dengan asumsi bahwa :
1. Tegangan kombinasi < tegangan lelah 2. Akibat beban dianggap berterusan 3. Tidak ada retak awal
4. Tidak ada bahaya negatif dari siklus beban 5. Asumsi Beban : Grafik SN adalah linear dan
S-N Curve
St1 107 Stn Sf k N1 N2 Nn St2 Tegangan SiklusUmur Rel dari Grafik S-N
tahun D 1 L rel umur N N ... N N N D Sf Sti Ne Ni i i n n 3 3 2 2 1 1 k 1
Ni = siklus penyebab failure pada tegangan Sti (siklus)
k = slope pada S-N diagram
Ne = batas berulangnya beban jika terjadi lelah
i = siklus yang bekerja untuk setiap beban Sti N = siklus per waktu (siklus/tahun)
Klasifikasi Rel Panjang
Menurut panjangnya, rel ada 3 jenis:
1. Rel Standar, dengan panjang 25 meter (sebelumnya 6 – 10 meter),
2. Rel Pendek, dengan panjang maksimum 100 meter atau 4 x 25 meter,
3. Rel Panjang, adalah rel yang mempunyai panjang statis, yaitu daerah yang tidak terpengaruh pergerakan
sambungan rel, biasanya dengan panjang minimal 200 meter.
• Sambungan rel merupakan titik terlemah jika terjadi beban kejut yang besar dapat merusak struktur
jalan rel.
• Oleh itu, rel dari pabrik yang diproduksi 25 meter akan dilas dengan “flash butt welding” dan di
lapangan akan disambung lagi dengan las “thermit welding” sehingga menjadi rel panjang.
Bahaya Pada Stabilitas Rel Panjang
•
Pada rel panjang dapat terjadi bahaya tekuk
(buckling) akibat gaya longitudinal dan
perubahan suhu.
•
Solusi: Rel tidak boleh berkembang bebas,
dimana akan dihambat oleh perkuatan pada
bantalan dan balas.
1. Perhitungan Panjang Minimum
Permasalahan yang ditimbulkan dalam rel panjangadalah penentuan panjang minimal rel panjang yang diakibatkan oleh dilatasi pemuaian sebagaimana
dituliskan dalam persamaan berikut :
L = L T
dimana :
L = Pertambahan panjang (m) L = Panjang rel (m)
= Koefisien muai panjang (˚ C -1) T = Kenaikan temperature (˚ C)
Konsep Penurunan Rumus
dari Hukum Hooke
Gaya yang terjadi pada rel (hukum Hooke) : L A E ΔL F = E A T dimana :
E = modulus elastisitas Young (kg/cm2) A = luas penampang (cm2)
Penentuan Panjang Minimum (L)
Diagram gaya normal :
Diagram gaya lawan bantalan:
Panjang l : ℓ = O M = r ΔT α A E
r = tg = gaya lawan bantalan per satuan panjang L ≥ 2 ℓ ℓ ℓ F = E A T = r l M' O' M O L F = E A T
Contoh Perhitungan :
Digunakan konstruksi rel dengan bantalan beton pada rel tipe R.42 (E = 2,1 106
kg/cm2), dimana gaya lawan bantalan diketahui sebesar 450 kg/m, dan = 1,2 10-5
˚C -1. Jika rel dipasang pada 20˚ C dan suhu maksimum terukur 50 ˚ C, tentukan
panjang rel minimum yang diperlukan !
Jawaban :
Gunakan persamaan untuk menentukan nilai ℓ :
ℓ = 450 20 -50 10 1,2 54,26 10 2,1 6 5 = 91,1568 m
Panjang minimum rel R.42 yang dipersyaratkan dengan bantalan beton = L L = 2 ℓ = 2 91,1568 = 182,3136 m ≈ 200 m (Dibulatkan kelipatan 25 m)
Longitudinal Creep Resistance
(Gaya/Tahanan Rayapan Longitudinal] 1. Gaya akibat suhu
P = EA (t - tp)
2. Pergerakan sambungan (Gap)
Jika suhu mulai meningkat, rel merayap yang
ditahan oleh bantalan dan balas sampai menutup sambungan. Ada bagian yang bergerak (breathing
length) dan ada bagian yang tidak bergerak/tetap
(static, unmovable) G = EA2(t - tp)2/ 2r
Distribusi Gaya Longitudinal
Tahapan penentuan distribusi gaya longitudinal : 1. Tegangan Pada Suhu Maksimum,
2. Lebar dan Suhu (t1) dimana celah tertutup (Gmaksimum),
3. Penentuan Gaya Longitudinal terhadap berbagai nilai variasi suhunya.
Distribusi Gaya Longitudinal
Diketahui :
R.42 dengan A = 54,26 cm2, dan E = 2,1 106 kg/cm2, dipasang pada suhu 26 ˚C pada bantalan beton
dengan tahanan balas 450 kg/m. Jika lebar celah direncanakan sebesar 13 mm dan suhu lapangan
maksimum dari pengamatan sebesar 50 ˚C, tentukan
Solusi
1. P maksimum terletak pada t maksimum = 50 ˚C.
P maksimum = EA (t-tp)
P = 2,1 106 . 54,26 . 1,2 10-5 ˚C-1. (50 – 26)
P = 31.175,6 kg
2. Suhu (t1) dimana celah tertutup maksimum (G = 0).
e1 = G/2 = 13/2 = 6,5 mm
e2 = EA 2 (t-tp)2/2r = 2,1 106.54,26.(1,2 10-5 ˚C-1)2. (t 1
– 26)2 / 2 (450)
dari subtitusi e1 dalam e2 diperoleh bahwa : t1 – 26 ˚C = 19,9 ˚C, sehingga t1 = 44,9 ˚C
Solusi
3. Gaya longitudinal pada saat celah tertutup (t1 = 44,9
˚C) :
P pada t1 = EA (t-tp)
P = 2,1 106.54,26.1,2 10-5 ˚C-1.(44,9 – 26)
Diagram Distribusi
Keterangan :
A, D : Sambungan Rel
AB – CD : Daerah Bergerak (breathing length) B – C : Daerah Statik (static area/unmovable)
B
B A C D C
P maksimum = EA (tmak-tp)
Longitudinal Creep Resistance
(Gaya/Tahanan Rayapan Longitudinal) 3. Gaya Tekuk (Buckling Forces) :
Qb D Wl Qb l D 16 C EI l Pb 2 2 2 s 2 2 dengan,
Is = momen inersia (2 Iy) (cm4)
E = modulus elastisitas rel = 2,1.106 kg/cm2
C = koefisien torsi penambat (tm/rad, kgm/rad) D = jarak bantalan (cm)
W = tahanan lateral balas (kg/meter) l = panjang ketidaklurusan (meter)
Tahanan Torsi Penambat
• Koefisien torsi penambat diperoleh dari pengujian terhadap penambat di laboratorium.
• Satuan koefisien yang diperolehi adalah ton inch/rad0.5.
Tahanan Momen Lateral
Diketahui dengan pengujian tahanan momen lateral dari struktur rel, penambat dan bantalan.
Tahanan Balas
• Diketahui dengan pengujian tahanan lateral dan longitudinal balas.
• Tahanan lateral dapat diperbesar dengan
memperberat bantalan, penggemukan bahu jalan dan memakai safety caps.
Ketidaklurusan
Beberapa penyebab ketidaklurusan jalur rel (jalan rel) :
• Kerusakan Tanah Dasar
• Ketidakstabilan Jalan Rel