BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kesejahteraan subjektif remaja untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Psikolog baru-baru ini menekankan perlunya mempromosikan kesejahteraan subjektif remaja untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif remaja. Istilah kesejahteraan subjektif identik dengan kebahagiaan (Diener, 2008), dan terdengar lebih ilmiah (Eid dan Larsen, 2008; Seligman dan Csikszentmihalyi, 2000). Penggunaan istilah kesejahteraan subjektif sebagai sinonim dari kebahagiaan, dan keduanya digunakan secara bergantian (Kahneman dan Krueger, 2006; Diener dan Biswas, 2011).

Kesejahteraan subjektif adalah keseluruhan kepuasan hidup dan kebahagiaan. Kepuasan hidup merupakan ukuran kognitif yang melibatkan penjumlahan penilaian kepuasan hidup dari beberapa domain kehidupan ataupun kepuasan hidup secara umum. Selanjutnya kebahagiaan dianggap sebagai tindakan afektif yang melibatkan emosi (Taylor, Chatters, Hardison, dan Ricky 2001). Dapat dipahami bahwa kebahagiaan merupakan bagian dari kesejahteraan subjektif. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti lebih memilih untuk menggunakan istilah kesejahteraan subjektif atau Subjective Well-Being (SWB).

Remaja awal berusia sekitar 12-15 tahun berada pada periode transisi perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosi, (Santrock, 2007; Hurrelmann dan Richter, 2006; Mönks, Knoers, dan Haditono, 2004; Brittain dan Hunt, 2003), serta transisi dari sekolah dasar menuju ke sekolah menengah pertama (Schunk

(2)

dan Meece, 2005; Hurlock, 2004), dihadapkan dengan banyak perubahan dan tuntutan baru (Zulkifli, 2006; Ali dan Asrori, 2004; Mönks dkk., 2004), sehingga remaja awal harus mampu menyesuaikan diri dengan baik (Amstrong, 2011; Jacobson dan Brudsal, 2012; Chong, Huan, Lay, dan Rebecca, 2006). Setiap aspek perkembangan remaja, baik fisik, kognitif, sosial, dan emosi, satu sama lain saling mempengaruhi. Apabila remaja mengalami gangguan pada aspek fisik, maka akan menyebabkan gangguan pada perkembangan aspek lainnya (Yusuf dan Sugandhi, 2012).

Sejumlah peneliti setuju bahwa masa transisi sekolah menengah pertama adalah pengalaman paling menekan di masa remaja, sehingga dimungkinkan dapat menghambat penyesuaian psikologis dan kesejahteraan serta merusak pengalaman menyenangkan yang dimiliki oleh remaja (Rhodes, Way, dan Reddy, 2007; Hurrelman dan Richter, 2006; Sarwono, 2006). Penyesuaian pada periode transisi sekolah menengah pertama, mencakup penyesuaian pada mata pelajaran, penyesuaian dengan lingkungan, sistem sekolah atau pendidikan, teman, peraturan, serta metode pembelajaran yang baru (Kralova, 2012; Shashoni dan Slone, 2012; Fatimah, 2010). Remaja yang dapat menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan dan tuntutan pada masa transisi, akan merasa sejahtera (Yettie, 2006).

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa mayoritas remaja merasa sejahtera (Berg, George, Edwin, Anja, Basson, Marisa, dan Solomon, 2013; Huebner, Tian, Liu, dan Huang, 2013), dan juga mengalami tingkat kepuasan hidup di atas rata-rata (Basson, 2008). Penelitian yang dilakukan pada remaja Amerika, menemukan bahwa kebanyakan remaja, yaitu sebesar 73 % melihat keseluruhan kehidupan secara positif (Aro dan Soini, 2010). Selain itu, temuan

(3)

baru-baru ini menyimpulkan bahwa mayoritas remaja mengalami kesejahteraan subjektif tinggi, yaitu berdasarkan hasil penelitian pada remaja Afrika Selatan yang memiliki tingkat rata-rata atas dalam menilai kesejahteraan subjektif (Berg dkk., 2013). Hal ini diperkuat dengan hasil survey awal yang telah dilakukan oleh peneliti pada bulan Oktober 2013 pada 117 siswa kelas VII dan kelas VIII di SMP Negeri 6 Kota Y dan SMP Negeri 23 Kota S, dengan tujuan untuk mengukur kesejahteraan remaja awal, menunjukkan bahwa sebagian besar remaja menyatakan sejahtera, yaitu sebanyak 71 remaja (60,68%).

Secara lebih terperinci, hasil survey awal menjelaskan bahwa pada domain lingkungan keluarga, remaja merasa sejahtera ketika dapat berkumpul dengan keluarga (28%), pada domain pribadi, yaitu remaja merasa sejahtera memiliki fisik atau postur tubuh yang sempurna (32%). Selanjutnya, pada domain lingkungan teman, remaja merasa sejahtera memiliki teman untuk belajar dan bermain (36%), serta pada domain lingkungan sekolah, remaja merasa sejahtera di lingkungan sekolah karena memperoleh banyak teman (37%). Sementara pada domain agama, remaja merasa sejahtera saat melakukan ibadah (31%), dan yang terakhir pada domain keuangan, remaja merasa sejahtera ketika memiliki banyak uang (28%).

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, hasil survey awal memperlihatkan sebagian besar remaja merasa sejahtera, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa terdapat sebagian remaja lainnya, yaitu sejumlah lima orang (4,27%) merasa tidak sejahtera. Hasil survey awal menjelaskan berbagai alasan atau penyebab kesejahteraan subjektif menurut remaja, yang dikemukakan oleh 117 siswa, yaitu bahwa remaja merasa tidak sejahtera, apabila mengalami konflik dengan orangtua, seperti: dimarahi orangtua, tidak

(4)

mendapat perhatian, kasih sayang, serta dukungan dari orangtua, dan lain sebagainya. Bukti tambahan yang mendukung, yaitu penelitian baru-baru ini, dilakukan oleh Lotta dan Lehto (2013) pada 737 anak Finlandia usia rata-rata 12 tahun, menyebutkan bahwa perselisihan antara remaja dengan orangtua telah terbukti dapat menurunkan kesejahteraan subjektif remaja.

Selain itu, remaja merasa tidak sejahtera ketika berada pada interaksi sosial yang tidak menyenangkan, misalnya: tidak mendapat dukungan teman, tidak diterima oleh teman sebaya, dijauhi, diacuhkan, dikucilkan, dan tidak memiliki teman untuk berkomunikasi. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hasil penelitian Gustavo, Hagit, dan Fishman (2008) pada 732 remaja imigran di Israel, berusia antara 12 sampai 18 tahun. Bahwa diskriminasi yang dirasakan oleh remaja imigran sebagai kelompok minoritas, mencerminkan terjadinya interaksi sosial negatif dengan penduduk setempat, yang dapat mengganggu kesehatan dan penyesuaian sosial, serta mengurangi kesejahteraan subjektif remaja imigran di Israel.

Penelitian kesejahteraan subjektif remaja dilakukan pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Kota S, yang merupakan salah satu SMP Negeri favorit dan unggulan di Kota S. Kralova (2012) mengungkapkan bahwa tuntutan lebih besar dialami oleh remaja awal yang menjadi siswa di sekolah berkualitas, dibandingkan dengan siswa yang bersekolah di sekolah kurang berkualitas. Selain itu, remaja yang telah melalui masa transisi sekolah di tahun pertama, yaitu berada pada kelas VIII, akan menghadapi tuntutan dari lingkungan yang lebih berat lagi. Kebanyakan remaja belum dipersiapkan untuk menyesuaikan diri menghadapi berbagai tuntutan dan perubahan. Selanjutnya, diperoleh bukti dari hasil penelitian Berg dkk., (2013), bahwa peningkatan jumlah perubahan dalam

(5)

kehidupan remaja, sangat mempengaruhi penyesuaian diri yang berdampak pada kesejahteraan subjektif remaja.

Pengambilan data awal di lokasi penelitian telah dilakukan oleh peneliti pada tanggal 11 dan 12 Februari 2014, melalui wawancara dengan salah satu guru Bimbingan Konseling untuk siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Kota S. Diperoleh data, bahwa menurut guru tersebut, siswa merasa sejahtera karena dapat diterima dan bersekolah di SMP Negeri 2 Kota S, yang merupakan salah satu SMP Negeri favorit di Kota S. Selain itu, pihak sekolah juga telah dan terus berusaha meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan subjektif siswa di sekolah, diantaranya dengan menyediakan fasilitas lengkap untuk sarana kegiatan belajar mengajar, ditunjang oleh guru-guru yang professional, ramah, dan hangat, serta proses pembelajaran yang bervariasi dan tidak membosankan. Oleh karena itu, menurut guru, diharapkan siswa seharusnya dapat merasa nyaman dan sejahtera di sekolah, meskipun berdasarkan pengamatan guru, masih terdapat beberapa siswa yang terlihat murung, tidak bersemangat, tampak sendirian, tidak memiliki teman kelompok, mengalami kesulitan belajar, mendapatkan nilai jelek di berbagai mata pelajaran, serta terlibat dalam perilaku bermasalah.

Wawancara juga dilakukan terhadap sepuluh orang siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Kota S yang dipilih oleh peneliti secara acak. Menurut pendapat yang dikemukakan langsung oleh sepuluh orang siswa, didapatkan hasil bahwa tujuh dari sepuluh siswa (70%) mengaku merasa sejahtera, sedangkan tiga diantaranya (30%) menyatakan merasa tidak sejahtera, yaitu: OE, MT, dan LY

OE mengaku saat ini tidak sejahtera, OE merasa lebih sejahtera pada saat bersekolah di sekolah dasar. Tuntutan-tuntutan di sekolah menengah

(6)

pertama dirasakan berat oleh OE, sehingga OE merasa sering tertekan dan terbebani oleh tugas-tugas di sekolah, juga karena harapan orangtua agar OE mendapatkan peringkat atas. Sementara, MT mengatakan tidak sejahtera, karena merasa tidak percaya diri, minder, merasa tidak mampu, dan tidak pintar dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Selain itu, LY juga merasa tidak sejahtera, karena mengalami masalah yang terkait dengan hubungan dengan teman sebaya. LY mengaku tidak akrab dengan teman sekolah, dan hanya mempunyai sedikit teman, baik teman di sekolah ataupun teman di rumah.

Berdasarkan data awal yang telah diperoleh peneliti di lokasi penelitian, dapat diketahui bahwa adanya berbagai tuntutan (pribadi, keluarga, sekolah, dan sosial) yang dirasakan oleh siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Kota S, mengharuskan siswa untuk mampu menyesuaikan diri dengan baik, karena hal ini berdampak pada kesejahteraan subjektif remaja. Selain itu, permasalahan-permasalahan dalam hubungan sosial yang dialami oleh siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Kota S, juga dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif remaja.

Kesejahteraan subjektif remaja salah satunya dipengaruhi oleh hubungan baik remaja dengan lingkungan sekolah (Anderman, 2002). Kepuasan hidup remaja di sekolah, secara signifikan terkait dengan kepuasan hidup remaja secara global (Bradshaw, Keung, Rees, & Goswami, 2011; Schimmack, Oishi, Radhaknishnan, & Dzokoto, 2002). Hal ini disebabkan selain di rumah, sebagian besar waktu remaja awal banyak dihabiskan di sekolah (Cakar, 2013; Schutte, Malouff, dan Thorsteinsson, 2013; Syamsu, 2012; Lukk, 2009; Elias, Bryan, Patrikakov, & Weissberg, 2002), sehingga selain rumah, sekolah merupakan salah satu lingkungan yang dapat membantu remaja dalam memperoleh kesejahteraan subjektif (Panembrama, 2013). Hasil penelitian oleh Hashim dan

(7)

Hashimah (2007), menunjukkan bahwa permasalahan yang diidentifikasi terkait dengan kesejahteraan subjektif remaja, berasal dari hubungan remaja di dalam lingkungan rumah (34%) dan di dalam lingkungan sekolah (31%).

Kesejahteraan subjektif remaja juga terkait dengan masalah perkembangan sosial dan emosi yang dialami, yaitu bahwa kecerdasan emosi remaja awal yang masih labil disertai dengan interaksi sosial remaja awal yang semakin luas, sangat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan subjektif remaja (Ryff dan Singer, 2001). Bar-On (2010) menambahkan bahwa kecerdasan emosi dan interaksi sosial saling terkait yang berfungsi mengarahkan individu pada pencapaian kesejahteraan subjektif.

Remaja awal usia 12-15 tahun cenderung merasa tertekan dan bersikap pemurung yang disebabkan perubahan biologis terkait kematangan seksual serta kebingungan dalam menghadapi lingkungan sosial dan orang dewasa lainnya, sehingga kemungkinan besar remaja awal menjadi pendiam dan suka menyendiri, yang dapat berpengaruh pada kesejahteraan subjektif remaja awal (Fatimah, 2010). Sesuai dengan pendapat Hurlock (2004), bahwa individu yang merasa tidak sejahtera pada masa remaja, cenderung merasa tidak sejahtera pada masa dewasa. Selanjutnya, kesejahteraan subjektif akan dapat bertahan apabila individu berhasil dalam menyesuaikan diri terhadap peran dan harapan sosial yang baru di setiap tahap perkembangan (rentang kehidupan), serta kondisi lingkungan yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan remaja awal, khusunya terkait penerimaan, perasaan, dan prestasi.

Routledge (2007) memberikan penjelasan bahwa remaja yang mempunyai kesejahteraan subjektif tinggi, akan mampu memenuhi tuntutan situasional dan berhasil dalam menghadapi tekanan hidup. Sebaliknya, remaja

(8)

dengan kesejahteraan subjektif rendah, biasanya kurang sukses dalam memenuhi tuntutan hidup dan sering mengalami gangguan sosial ataupun emosional.

Penelitian ini dinilai penting untuk dilakukan dengan tujuan mengetahui kesejahteraan subjektif yang dialami (dirasakan) oleh remaja awal, serta memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif pada remaja awal. Selain itu, dengan adanya penelitian ini, diharapan agar remaja awal mampu menilai kesejahteraan subjektif serta faktor-faktor yang mempengaruhi, sehingga ketika remaja awal memiliki kesejahteraan subjektif yang rendah, akan mampu berusaha dan berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif pada masa remaja awal, karena kesejahteraan subjektif yang tinggi pada masa remaja awal, akan mempengaruhi kesejahteraan subjektif individu pada masa dewasa ataupun lansia. Hal ini sesuai dengan pendapat Yusuf dan Sugandhi (2012) bahwa prinsip dasar perkembangan individu berlangsung secara bertahap, berurutan, dan berkesinambungan. Artinya, setiap aspek perkembagan individu secara terus menerus berkembang atau berubah sesuai dengan tahap perkembangan, yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidup secara berurutan, dan saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Kesejahteraan subjektif adalah salah satu topik menarik yang dapat ditemukan pada diri individu, salah satunya adalah pada remaja awal. Bahwa dalam pencapaian kesejahteraan subjektif, tidak hanya ditentukan oleh kondisi dan situasi lingkungan yang dihadapi saat itu saja, tetapi juga oleh bawaan individu ataupun pengaruh latar belakang lingkungan pada masa perkembangan sebelumnya. Oleh karena itu, untuk dapat membantu memahami kesejahteraan

(9)

subjektif individu, perlu untuk memperhatikan keadaan individu itu sendiri dan lingkungan di sekitar individu (Hartanti, 2011).

Kesejahteraan subjektif individu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: sikap optimisme (Gordeeva dan Osin, 2011; Seligman dan Steen, 2005; Carr, 2004), kepribadian ekstrovert (Samman, 2007; Diener, Oishi, dan Lucas, 2003), kecerdasan emosi (Prasetiyo dan Andriani, 2011; Zeidner dan Shemesh, 2010; Gallagher dan Dianne, 2008), spiritualitas (Ekwonye, 2011; Froh Sefick, dan Emmons, 2008), kontrol diri (Eddington dan Shuman, 2008; Carr, 2004), dan dukungan sosial (Ratelle, Simard, dan Guay, 2012; Riddle dan Romans, 2011; Joronen, 2005; Taylor, Chatters, Hardison, dan Ricky, 2001). Kesejahteraan subjektif individu dapat ditentukan oleh faktor internal dan eksternal individu (Darmayanti, 2012).

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif remaja adalah kecerdasan emosi, sebagaimana penelitian Prasetiyo dan Andriani (2011) pada 100 siswa sekolah menengah pertama yang berada pada situasi dan lingkungan baru. Didapatkan hasil bahwa kecerdasan emosi terkait dengan penyesuaian psikologis dan berperan penting dalam pencapaian kesejahteraan subjektif remaja.

Hasil penelitian Amani (2009) pada 182 remaja awal, menunjukkan bahwa kemampuan memahami dan mengatur emosi berpengaruh terhadap kesejahteraan subjektif remaja awal. Suasana hati dan perasaan pada remaja awal mengalami pergolakan dan perubahan yang sangat cepat. Seringkali orang tua mengatakan bahwa ketika anak remajanya kecewa, maka akan tampak sangat sedih, namun apabila remaja mendapatkan kesenangan maka mereka tampak sangat sejahtera.

(10)

Penelitian Zeidner dan Shemesh (2010) menjelaskan hubungan antara kecerdasan emosi dengan kesejahteraan subjektif. Bahwa individu dengan kecerdasan emosi tinggi, akan lebih mampu menyadari dan mengatur emosi, dapat menghindari stres, dan secara bersamaan mengalami tingkat yang lebih tinggi pada kesejahteraan subjektif. Selain itu, individu dengan kecerdasan emosi tinggi memiliki jaringan sosial yang lebih luas, sehingga mampu menanggulangi dampak negatif dari tekanan emosi untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif. Selanjutnya, individu dengan kecerdasan emosi tinggi dapat mengarahkan tindakan dan pikiran yang berhubungan dengan oranglain dan lingkungan dalam rangka meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraan subjektif. Berdasarkan alasan ini, kecerdasan emosi diketahui dapat memprediksi kesejahteraan subjektif indivudu dan juga kesehatan mental yang positif.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif adalah dukungan sosial, sebagaimana hasil penelitian Abbey, Abramis, dan Caplan (2005), bahwa dukungan sosial mampu meringankan beban masalah yang dihadapi individu sehingga dapat lebih meningkatkan kesejahteraan subjektif. Berg dkk. (2013) melakukan penelitian pada 846 siswa kelas delapan berusia antara 12 sampai 16 tahun, pada konteks di Afrika Selatan yang mengalami perubahan politik selama tiga dekade terakhir. Hal ini menyebabkan peningkatan masalah emosional dan perilaku di kalangan remaja, karena adanya perubahan struktur masyarakat telah mengikis dukungan sosial dan emosional pada remaja. Masyarakat dinilai semakin lalai untuk memberikan dukungan sosial bagi remaja yang sangat membutuhkan dukungan sosial untuk menghadapi berbagai perubahan lingkungan, termasuk tuntutan internal dan eksternal dari pribadi,

(11)

keluarga, dan sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif remaja sangat terkait dengan dukungan sosial.

Selanjutnya, hasil penelitian Ammar, Nauffal, dan Sbeity (2013) menunjukkan peran dukungan sosial pada kesejahteraan subjektif remaja Lebanon. Remaja cenderung mencari dukungan sosial dari jaringan sosial terdekat, seperti: orangtua, guru, dan teman. Temuan ini mengungkapkan bahwa dukungan sosial memberikan kontribusi dalam pencapaian pengalaman menyenangkan dan kepuasan hidup remaja, yang didukung oleh adanya sifat hubungan kolektivis pada masyarakat Lebanon.

Ketika remaja merasa sedih, tegang, atau gugup, maka remaja mendapatkan keuntungan besar dari dukungan sosial, melalui pemahaman empatik dari individu di sekitar remaja (Demaray, Malecki, Devidson, Hodgson, dan Rebus, 2005). Remaja dengan dukungan sosial tinggi, akan mampu memecahkan permasalahan, sukses dalam sekolah, memiliki tingkat stres yang rendah, optimis dalam meraih tujuan hidup, sehingga mampu mencapai kesejahteraan subjektif (Talwar dan Fadzil, 2013; Jairam dan Kahl, 2012; Liu, 2002).

Hasil penelitian Setyowati (2010) pada 115 remaja awal berusia 11-14 tahun, yang merupakan siswa sekolah menengah pertama, menunjukkan bahwa dukungan sosial berpengaruh pada kesejahteraan subjektif remaja awal. Dikarenakan pada masa remaja awal, kemampuan sosialisasi telah mengalami perkembangan yang intensif, sehingga kehidupan sosial dengan teman sebaya menjadi lebih primer dibanding dengan ikatan kehidupan dalam keluarga. Remaja berusaha mendapatkan dukungan sosial dari teman dan orang dewasa lainnya, serta masih membutuhkan dukungan sosial dari orangtua.

(12)

Dukungan sosial membantu remaja dalam menyesuaiakan diri, melakukan peran sosial seperti membina hubungan dengan teman, mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya, mengurangi tekanan emosional, sehingga dapat merubah suasana hati ke arah yang lebih positif, untuk dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif (Demaray dkk., 2005; Demaray dan Malecki, 2002). Selanjutnya, Kehadiran dukungan sosial dapat berpengaruh pada perkembangan sosial emosi remaja, serta memberikan kontribusi pada peningkatan kesejahteraan subjektif remaja (Cohen, Gottlieb, dan Underwood, 2000).

Remaja yang mampu menilai kondisi dan mengembangkan kemampuan interpersonal serta memperoleh dukungan sosial, akan menentukan kesejahteraan subjektif yang dimiliki (Darmayanti, 2012). Penelitian oleh Anggit dan Mira (2003) menemukan bahwa siswa sekolah menengah pertama seringkali tidak mampu menghadapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan, yang berhubungan dengan pribadi, sosial, juga sekolah. Salah satu penyebabnya, yaitu siswa kurang mampu mengoptimalkan kecerdasan emosi, yang sangat efektif untuk digunakan dalam menghadapi situasi penuh tekanan. Selain itu, dukungan sosial dari lingkungan sekitar, akan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Ketersediaan dukungan sosial dari jaringan sosial yang dimiliki, menjadikan siswa merasa dicintai, diperhatikan, dan dihargai, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif siswa.

Berdasarkan latar belakang masalah, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: ”Peran Dukungan Sosial dan Kecerdasan Emosi terhadap Kesejahteraan Subjektif pada Remaja Awal”.

(13)

B. Rumusan Masalah

Kesejahteraan subjektif remaja awal dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis beranggapan bahwa kecerdasan emosi dan dukungan sosial merupakan faktor penting yang berpengaruh pada kesejahteraan subjektif remaja awal. Maka rumusan masalah yang penulis ajukan adalah sebagai berikut: Apakah ada hubungan antara dukungan sosial dan kecerdasan emosi dengan kesejahteraan subjektif pada remaja awal?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesejahteraan subjektif pada remaja awal, dilihat berdasarkan faktor dari dalam individu yaitu kecerdasan emosi dan faktor dari luar individu yaitu dukungan sosial.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang akan didapat adalah sebagai berikut: 1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi mengenai kecerdasan emosi, dukungan sosial, dan kesejahteraan subjektif pada remaja awal dalam pengembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi perkembangan, dan juga ilmu psikologi pada umumnya.

2. Manfaat praktis

a. Bagi orang tua, dapat memberikan wawasan tentang kecerdasan emosi, dukungan sosial, dan kesejahteraan subjektif remaja awal, untuk dapat menciptakan hubungan yang hangat dengan remaja awal, sehingga

(14)

remaja awal akan mampu menjalankan tugas-tugas perkembangan secara maksimal untuk mencapai kesejahteraan subjektif.

b. Bagi guru, dapat memberikan masukan dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung dan nyaman untuk siswa (remaja awal), sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif siswa. c. Bagi siswa (remaja awal), dapat menambah pengetahuan tentang

kecerdasan emosi, dukungan sosial, dan kesejahteraan subjektif, untuk membantu remaja awal dalam mengelola emosi secara positif, membangun hubungan baik dengan oranglain dan lingkungan sosial, sehingga dapat mencapai kesejahteraan subjektif.

d. Bagi peneliti lain, dapat digunakan sebagai bahan masukan dan referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya, khususnya penelitian mengenai kecerdasan emosi, dukungan sosial, dan kesejahteraan subjektif pada remaja awal, serta dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam penelitian selanjutnya.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian yang dilakukan Lotta dan Lehto (2013) pada 737 remaja Finlandia dengan usia rata-rata 12 tahun, melihat keterkaitan antara kebahagiaan, depresi, dan faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif remaja. Hasilnya bahwa kepuasan hidup dan kebahagiaan remaja terbukti berkaitan dengan hubungan sosial. Hubungan

sosial yang baik, dapat memprediksi kebahagiaan yang lebih tinggi dan

(15)

Schutte dan Malouff (2011) telah melakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosi, kesadaran, dan kesejahteraan subjektif. Temuan ini memberikan penjelasan bahwa kesadaran mengarah pada peningkatan kecerdasan emosi, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif individu.

Riddle dan Romans (2011) meneliti 196 remaja Amerika India dengan usia 10-14 tahun, untuk meneliti kontribusi resiliensi dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan subjektif remaja. Didapatkan hasil bahwa kesejahteraan subjektif remaja dipengaruhi oleh resiliensi (34%), dukungan sosial (33%), dan variabel-variabel lain (33%).

Penelitian di Indonesia mengenai kesejahteraan subjektif, salah satunya dilakukan oleh Darmayanti (2012) pada 209 remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas dan kepribadian tangguh berpengaruh terhadap kesejahteraan subjektif pada remaja.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :