PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA

Teks penuh

(1)

PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA

Dedi Sukandar1, Widyatuti2

Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia

E-mail: Dedi.sukandar10@gmail.com  

ABSTRAK

Diare merupakan salah satu penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas balita di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Urug Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor. Desain penelitian ini merupakan deskriptif korelasi dengan pendekatan potongan lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak balita sebanyak 89 orang dengan sampel yang dipilih dengan teknik acak secara sederhana (simple random sampling). Data dikumpulkan dengan penyebaran kuesioner dan analisis yang digunakan melalui dua tahap yaitu univariat untuk melihat distribusi frekuensi, dan bivariat untuk melihat hubungan antara variabel dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan keluarga tentang PHBS dengan kejadian diare pada balita, p = 0,112 (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini: tidak adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan keluarga dengan kejadian diare.

Kata kunci : PHBS, Keluarga, Diare, Balita

ABSTRACT

The Diarrhea is one of the causes of high morbidity and mortality of children in Indonesia. This study was aimed to identify the relationship between family knowledge of hygiene and healthy practices with the incidence of diarrhea in infants in the Village District of Sukajaya Urug Bogor Regency. This research used a descriptive correlation with cross-sectional study. The sample size was using 89 mothers who had children with random techniques (simple random sampling). Data were collected by questionnaires and analyzed by two stages, an univariate test to see the frequency and distribution of resapondent and a bivariate test to identify relationships between variables that used Chi Square test. The results showed that there was not relationship between family knowledge of hygiene and healthy practices with the incidence of diarrhea in infants, p = 0.112 (p <0.05). The conclusion of this study: the absence of a significant association between knowledge family with the incidence of diarrhea.

Keywords:

Behavior, Family, Diarrhea, Toddler

PENDAHULUAN

Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit potensial KLB yang sering disertai dengan kematian. WHO dan UNICEF (2009) menjelaskan bahwa diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur. Data UNICEF memberikan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare. Laporan Riskesdas

tahun 2007 menunjukkan bahwa diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%) dan balita (25,2%), sedangkan pada golongan semua umur merupakan penyebab kematian yang keempat (13,2%). Hasil survei morbiditas diare menunjukan penurunan angka kesakitan penyakit diare yaitu dari 423 per 1.000 penduduk pada tahun 2006 turun menjadi 411 per 1.000 penduduk pada tahun 2010. Jumlah

(2)

penderita pada KLB diare tahun 2012 menurun secara signifikan dibandingkan tahun 2011 dari 3.003 kasus menjadi 1.585 kasus pada tahun 2012 (Kemenkes, 2013). Prevalensi diare secara nasional adalah 9,00%. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi diare di atas angka nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Papua Barat, dan Papua (Riskesdas, 2007). Hal ini menunjukan Jawa Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang mempunyai prevalensi diare cukup tinggi. Jawa Barat memiliki angka diare 9,00%, data di Kabupaten Bogor tahun 2012 mencatat jumlah balita yang terkena diare di puskesmas Kiarapandak kecamatan Sukajaya yang berada di lima desa (Urug, Kiarasari, Cisarua, Kiarapandak, dan Harkat Jaya) tahun 2012 mencatat sebanyak 2.035 jiwa. Jumlah balita (usia 0-1 tahun) yang mengalami penyakit diare 148 jiwa dengan presentase 17,3%, pada balita (usia 1-4 tahun) 182 jiwa mengalami penyakit diare dengan presentase 15,3% (Puskes, 2012). Faktor risiko dapat mempengaruhi terjadinya diare.

Faktor risiko yang berhubungan dengan diare pada balita antara lain penggunaan air bersih, kebiasaan ibu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, penggunaan jamban, pengelolaan sampah, dan pengelolaan air limbah dengan kejadian diare pada balita (Hamzah, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Rahman tahun 2012, menunjukkan bahwa dari 49 responden terdapat hubungan yang bermakna antara faktor pengetahuan ibu balita dengan kejadian diare. Penelitian (Griyantini, 2000; Alamsyah , 2002; Ibrahim, 2003; Johar, 2004; Fitriyani, 2005) pengetahuan Ibu yang rendah mengenai hidup sehat merupakan faktor risiko yang menyebabkan penyakit diare pada bayi dan balita.

Asti (2012), meneliti ada hubungan yang bermakna antara pemberian ASI Eksklusif, penimbangan bayi dan balita setiap bulan, penggunaan air bersih, kebiasaan ibu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun,

penggunaan jamban. Dari hasil penelitian di atas menunjukan bahwa tingkat pengetahuan Ibu sangat memengaruhi perilaku hidup bersih dan sehat yang menyebabkan penyakit diare pada bayi dan balita.

Upaya program untuk menurunkan angka diare adalah pemberantasan penyakit menular, secara intensif salah satunya program penanggulangan penyakit diare baik secara promotif, preventif maupun kuratif. Kegiatan yang telah dilaksanakan adalah penyuluhan tentang penyakit diare di berbagai kelompok masyarakat, baik melalui kegiatan Posyandu maupun pertemuan Kader, dan kegiatan-kegiatan masyarakat yang lain, di samping itu kegiatan kuratif juga dilaksanakan dengan fasilitas puskesmas rawat jalan, semua ini dengan tujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik pada masyarakat (Puskes, 2012). METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan desain deskriptif-korelasi yang bertujuan mengetahui deskriptif-korelasi atau hubungan antara pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian

cross-sectional karena pengumpulan data dilakukan

pada suatu saat atau periode tertentu dan pengamatan hanya dilakukan satu kali selama penelitian. Penelitian dan pengamatan pada variabel independen dan variabel dependen dari objek penelitian dilakukan secara bersamaan dalam waktu yang terbatas, artinya objek tidak diteliti atau diamati secara terus menerus dalam kurun waktu tertentu.

Populasi dalam penelitian ini semua keluarga yang memiliki anak balita yang berada di Desa Urug sebanyak 431 keluarga. Sedangkan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebagian keluarga yang memiliki anak balita sebanyak 89 responden (Profil Desa, 2014). Kriteria inklusi responden dalam penelitian ini adalah (1) keluarga bisa membaca dan menulis, (2) keluarga yang memiliki balita, (3) pengasuh utama balita adalah ibu, (4) umur balita lebih dari 3 bulan, dan (4) bersedia menjadi responden. Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah balita yang sedang sakit kronis selain diare dan keluarga yang tidak

(3)

tinggal di Desa Urug Kecamatan sukajaya Kabupaten Bogor kurang dari 5 bulan.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara random sampling yaitu teknik acak secara sederhana. Rumus yang digunakan untuk menentukan besaran sampel menggunakan rumus Slovin. Dengan pengambilan data diperoleh menggunakan kuesioner. Kuesioner terbagi menjadi 2 yaitu, kuesioner A tentang karakteristik responden dan kuesioner B tentang PHBS yang dikembangkan oleh Asti N (2012).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1 menujukan bahwa sebagian besar responden termasuk dalam kelompok dewasa awal lebih tinggi di bandingkan dengan responden kelompok dewasa akhir dengan presentase dewasa awal sebanyak 86,4%. Distribusi tingkat pendidikan responden yang paling banyak responden berpendidikan rendah sebanyak 90,1%, sedangkan untuk pendidikan menengah sebanyak 9,9%. Dan distribusi pendapatan keluarga responden yang memiliki pendapatan ≤ UMR relatif tinggi yaitu sebanyak 79,0%. Sedangkan untuk pendapatan responden yang memiliki > UMR responden sebanyak 21%. Hal ini menunjukan bahwa responden terbanyak yaitu dengan umur dewasa awal dan berpendidikan rendah serta pendapatan keluarga responden ≤ UMR.

Tabel 1

Karakteristik Responden di Desa Urug

Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor 2014 (n = 81)

No Variabel Frekuensi (n) Persentase (%) 1 Umur Ibu - Dewasa Awal (20-30 tahun) - Dewasa Akhir (31-55 tahun) Total 70 11 81 86,4 13,6 100 2 Pendidikan Ibu - Pendidikan Menengah (SMA/SMP) - Pendidikan Rendah (SD/Tidak Sekolah) Total 8 73 81 9,9 90,1 100 3 Pendapatan Keluarga - > UMR Rp 1.250.000 - ≤ UMR Rp 1.250.000 Total 17 64 81 21,0 79,0 100 Tabel 2

Pengetahuan PHBS keluarga dengan balita pengunjung posyandudi Desa Urug Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor Tahun 2014 (n = 81)

Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase (%) - Rendah - Tinggi 60 21 74,1 25,9 Total 81 100

Tabel 3 hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan responden sebagian besar menunjukan pengetahuan rendah sebanyak 74,1%

Tabel 3

Hubungan karakteristik responden yang memiliki balita dengan kejadian diare di Desa Urug Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor Tahun 2014 (n = 81)

Umur Kejadian Diare Total OR (95% CI) p Diare Tidak Diare n % n % n % Dewasa Awal (20-30 tahun) 35 43,2 35 43,2 70 86,4 (0,3351,200 :4,299 ) 1,00 0 Dewasa Akhir (31-55 tahun) 5 6,2 6 7,4 11 13,6 Total 40 49,4 41 50,6 81 100 Tingkat Pendidika n Pendidika n Rendah 34 42 39 48,1 73 90,1 3,441 (0,651 :18,19 0) 0,24 8 Pendidika n Menenga h 6 7,4 2 2,5 8 9,9 Total 40 49,4 41 50,6 81 100 Pendapat an Keluarga ≤ UMR Rp 1.250.000 32 39,5 32 39,5 64 79 0,889 (0,305 :2,594 ) 1,00 0 > UMR Rp 1.250.000 8 9,9 9 11,1 17 21 Total 40 49,4 41 50,6 81 100

(4)

Hasil penelitian menunjukan tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian diare pada balita dan umur dewasa awal berisiko terkena diare pada balita sebesar 1,2 kali lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur dewasa akhir. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Kasman (2003), bahwa tidak ada hubungan signifikan antara umur ibu dengan kejadian diare, Karakteristik responden yang perlu dilihat adalah karakteristik pendidikan ibu. Tingkat pendidikan mempunyai peranan penting dalam kaitannya dengan kejadian diare. Hasil penelitian menunjukan tingkat pendidikan responden sebagian besar pada tingkat pendidikan rendah sebanyak 73 orang dengan persentase 90,1%. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dengan kejadian diare pada balita dan ibu balita yang memiliki pendidikan rendah mempunyai risiko balitanya terkena diare sebesar 3,4 kali dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan menengah.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Yanti, E (2001) di Padang Bolak Julu yang menemukan tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian diare. Begitu pula dengan hasil penelitian Giyantini T (2000) menyatakan bahwa ibu berpendidikan dasar akan berisiko terjadinya diare pada balitanya sebesar 3,42 kali dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan tinggi. Namun lain halnya dengan penelitian yang dilakukan Kasman (2003) menyatakan ada hubungan signifikan pendidikan dengan kejadian diare. Orang dengan tingkat pendidikan rendah cenderung akan mempunyai risiko terjadinya diare pada balitanya sebesar 32,1% dibandingkan orang dengan tingkat pendidikannya tinggi, karena orang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah memahami arti serta pentingnya kesehatan dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang rendah.

Karakteristik ekonomi dalam penelitian ini perlu dilihat karena pendapatan keluarga mempunyai peran penting dalam kaitannya dengan kejadian diare. Hasil penelitian menunjukan pendapatan keluarga responden

masih di bawah UMR sebanyak 64 orang dengan persentase 79%. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan kejadian diare pada balita. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Kasman (2003), bahwa tidak ada hubungan signifikan antara pendapatan keluarga dengan kejadian diare. Berbeda halnya dengan penelitian Alamsyah (2002) menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pendapatan keluarga dengan kejadian diare pada balita. Begitu pula dengan penelitian Suroto (2001) menyatakan bahwa keluarga yang status kepemilikannya tergolong miskin memiliki risiko untuk terjadinya diare pada anak balitanya sebesar 1,44 kali dibandingkan dengan keluarga yang status kepemilikannya tergolong kaya. Sejalan dengan itu Giyantini T (2000) menemukan bahwa pengeluaran keluarga kurang atau sampai dengan Rp.540.000,- mempunyai risiko terjadinya diare sebesar 2,75 kali dibandingkan dengan pengeluaran keluarga setiap bulannya lebih dari Rp.540.000,-. Kejadian diare lebih sering muncul pada bayi dan balita yang status ekonomi keluarganya rendah. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Khosman (2004), bahwa permasalahan penyakit diawali masalah kesehatan berakar dari kemiskinan yang disebabkan oleh krisisi ekonomi yang belum membaik. Peneliti menyimpulkan bahwa pendapatan keluarga tidak mempengaruhi kejadian diare. Ini berarti bahwa responden memiliki pendapatan yang kurang atau lebih, sumber pendapatan keluarga tidak menentukan kemampuan seseorang dalam menjangkau akses pelayanan kesehatan. Hal ini tidak menunjukkan rendah atau tingginya status sosial ekonomi keluarga merupakan salah satu faktor risiko penyebab penyakit diare pada keluarga. Pendapatan keluarga tidak menentukan untuk memfasilitasi keluarga dalam berperilaku hidup bersih dan sehat khususnya dalam pencegahan diare pada balita.

(5)

Tabel 4

Hubungan Pengetahuan keluarga dengan kejadian diare di Desa Urug Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor Tahun 2014 (n = 81)

Pengetah uan PHBS

Kejadian Diare Total OR 95% CI p Diare Tidak Diare n % n % n % Rendah 26 32,1 34 42,0 60 74,1 0,382 (0,135: 1,083) 0,112 Tinggi 14 17,3 7 8,6 21 25,9 Total 40 49,4 41 50,6 81 100

Tingkat pengetahuan perlu dilihat karena ini sangat erat kaitannya dengan masalah kesehatan. Tingkat pengetahuan yang rendah tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seorang ibu cenderung kesulitan untuk melindungi dan mencegah balitanya dari penyakit diare. Pengetahuan yang rendah ini menyebabkan masyarakat mempunyai pandangan tersendiri dan berbeda terhadap penyakit diare. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan rendah sebanyak 74,1% dan pengetahuan tinggi sebanyak 25,9%. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian diare pada balita. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Suroto (2001) menyatakan bahwa hasil analisis bivariat ditemukan tidak ada hubungan antara informasi kesdehatan dengan kejadian diare pada anak balita. Ini membuktikan bahwa setiap keluarga perduli dengan kesehatan dan kebersihan.

Penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Alamsyah (2002), bahwa ada hubungan antara pengetahuan terhadap kejadian diare, hal ini disebabkan karena dengan memiliki pengetahuan yang kurang seseorang tidaklah mampu atau memecahkan atau menuliskan dalam bentuk kata-kata ataupun maksud yang sebenarnya tentang penyakit diare, dengan demikian seseorang akan mampu melakukan sesuatu yang dianggap baik dan berguna bila memiliki pengetahuan yang cukup bahkan dengan pengetahuan pula akan membuat seseorang lebih mudah melihat cara dan kesempatan atau meningkatkan taraf hidupnya. Begitu pula dengan penelitian Kasman (2003), di Padang dengan jumlah sampel 207 batita.

Dari hasilnya ia menyebutkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu (p=0,000) dengan kejadian diare pada balita.

Rahman di Makasar (2012), meneliti bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada pada balita. Pada pengetahuan ibu, rendahnya pengetahuan ibu mengenai hidup sehat merupakan faktor risiko yang menyebabkan penyakit diare pada bayi dan balita.

Ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2010), bahwa pengetahuan akan membuat seseorang lebih melihat cara dan kesempatan untuk meningkatkan derajat hidup. Seseorang akan mampu melakukan sesuatu yang dianggap baik bila memiliki pengetahuan cukup. Orang tua memiliki peran penting dalam kesehatan anaknya. Orang tua menentukan pilihan jumlah dan kualitas pelayanan kesehatan yang anaknya terima, makanan yang mereka makan, jumlah aktivitas fisik yang dilakukan, dukungan emosianal yang diberikan, serta kualitas lingkungan mereka sebelum dan sesudah lahir. Ibu pada umumnya menjadi pengasuh yang lebih dominan dalam kelurga terhadap anak-anaknya, seperti jumlah waktu dan frekuensi interaksi yang lebih pada anak-anaknya.

Adisasmito (2007), menyatakan faktor ibu merupakan salah satu faktor diare pada anak, dalam hal ini perilaku ibu yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan atau praktek merupakan faktor resiko yang signifikan dalam menyebabkan penyakit diare pada anak. Perilaku ibu yang sehat akan menurunkan resiko diare pada balita. Kemenkes RI (2011), menyatakan pencegahan diare pada anak yang benar dan efektif dapat dilakukan dengan cara penyehatan lingkungan serta perilaku hidup sehat.Penyehatan lingkungan terdiri dari penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, dan sarana pembuangan air limbah. Perilaku sehat terdiri dari pemberian ASI, makanan pendamping ASI, menggunakan air bersih yang cukup, mencuci tangan, menggunakan jamban, dan pemberian imunisasi campak. Pengetahuan yang rendah akan berpengaruh kepada perilaku, perilaku yang tidak sehat merupakan faktor resiko penting yang

(6)

mempengaruhi kejadian diare pada balita. Pengetahuan ibu yang rendah mempunyai risiko terkena diare pada balita.

Pengetahuan merupakan suatu hasil tahu atau sesuatu yang dipelajari melalui pengetahuan ini dapat berubah perilaku masyarakat dibidang kesehatan sehingga berperan dalam perubahan sikap yang pada akhirnya merupakan predisposisi bentuk perubahan (Notoatmojo, 2010). Tingkat pengetahuan keluarga berpengaruh terhadap status kesehatan anak, tingkat pengetahuan keluarga yang tinggi atau rendah sedapat mungkin melakukan upaya pencegahan gangguan kesehatan dan mewaspadai jika masalah kesehatan timbul. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau kuesioner yaitu menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. Kuesioner dalam penelitian berisi tentang PHBS terutama yang ada hubungannya dengan diare seperti memberi bayi ASI eksklusif, menimbang bayi dan balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan pakai sabun, dan menggunakan jamban sehat (Rahman, Asti, dan Hamzah, 2012).

Masyarakat umumnya belum menyadari sepenuhnya tentang pentingnya pemeliharaan kesehatan melalui pencegahan, masyarakat akan memperhatikan masalah kesehatan ketika sudah dihinggapi atau menderita suatu penyakit, padahal masalah kesehatan bukan hanya terletak pada pengobatan. Pengobatan hanyalah salah satu aspek yang ditempuh untuk meningkatkan kesehatan. Masih ada aspek lainnya yang lebih penting diantaranya aspek preventif dan aspek promotif seperti yang terlah dikemukakan di atas.

Responden kurang mengetahui atau kurang paham tentang masalah perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pengetahuan PHBS sangat erat dengan masalah diare, apabila responden pengetahuan PHBS nya kurang baik, ini akan berdampak pada perilakunya sehingga balitanya akan berisiko terkena diare, namun ada juga responden yang pengetahuannya cukup tetapi perilaku yang sudah terbiasa dengan perilaku buruk yang susah diubah. Disamping itu ada asumsi responden bahwa

anak-anak yang mulai tumbuh gigi dan berjalan anak akan pintar dan sehat.

Kebiasaan buruk responden berkunjung ke dokter atau tenaga kesehatan lain apabila kondisi anak sudah kronis. Mengenai tanggapan responden tentang makanan dan minuman yang disajikan harus ditutup, umumnya sudah dipahami namun kurang dilaksanakan. Kondisi ini disebabkan karena faktor kebiasaan yang disebabkan kurangnya pengetahuan responden tentang akibat dan dampak yang ditimbulkan oleh kebiasaan buruk.

Pengetahuan akan berdampak pada perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terutama dalam pencegahan diare pada balitanya. PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan di masyarakat. PHBS di rumah tangga dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat (Depkes, 2007).

KESIMPULAN

Karakteristik responden di Desa Urug Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor tahun 2014 menunjukan sebagian besar responden termasuk dalam kelompok dewasa awal, sedangkan pendidikan responden menunjukan sebagian besar memiliki pendidikan rendah. Hampir sebagian besar responden yang memiliki penghasilan di bawah UMR. Pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagian besar memiliki pengetahuan rendah dengan persentase 74,1%. Kejadian diare pada balita yang berkunjung ke posyandu dalam 3 bulan terakhir di Desa Urug Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor tahun 2014 sebagian mengalami diare. Karakteristik responden seperti umur, pendidikan, dan pendapatan keluarga, hasil analisis menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara

(7)

karakteristik responden dengan kejadian diare pada balita di Desa Urug Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor. Pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam penelitian ini menunjukan tidak ada hubungan yang bermakna dengan kejadian diare pada balita di Desa Urug Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor.

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito W. 2007. Faktor Resiko Diare Pada

Bayi dan Balita di Indonesia: Systematic Review Penelitian Akademik Bidang

Kesehatan Masyarakat. Makara Kesehatan. Volume 11: 1-10

Alamsyah. (2002). Hubungan Perilaku Hidup

Bersih dengan Kejadian Diare pada Balita di Kec. Bangkinang Barat, Kampar dan Tambang Kab. Kampar tahun 2002. Tesis.

Program Studi Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

Depkes. (2007). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Jakarta: Depkes

Fitriyani. (2005). Hubungan Faktor-faktor Risiko

dengan Kejadian Diare pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Boom Baru Palembang tahun 2005. Skripsi Sarjana.

Jurusan Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

Hamzah. (2012). Hubungan perilaku hidup bersih

dan sehat dengan kejadian diare pada balita di kecamatan belawa kabupaten wajo Tahun 2012. Makasar: UNHAS

Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Ibrahim. (2003). Hubungan Kondisi Sarana Air

Bersih, Pembuangan Limbah dan Karakteristik Individu dengan Kejadian Diare Balita di Kota Solok, Sumatera Barat tahun 2003. Tesis. Program Studi

Epidemiologi Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

Johar. (2004). Hubungan Jenis Sarana Sumber

Air Penduduk dengan Kejadian Diare pada Balita di Sekitar TPA Sampah Kec. Bantar

Gebang Kota Bekasi tahun 2004. Skripsi Sarjana. Fakultas Kesehatan Masyarakat,

Universitas Indonesia.

Kasman. 2003. Faktor-faktor yang berhubungan

dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Air Dingin Kecamatan Kotot Tangah Kota Padang. Fakultas Kesehatan

Masyarakat. Sumatra Barat

Kemenkes. (2013). Profil Kesehatan Indonesia

2012. Jakarta: Kemenkes

. (2011). Situasi Diare di Indonesia. Jakarta: Kemenkes

Khosman. (2004). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare pada Balita. Buletin Penelitian Kesehatan.

Diaskes dari http://eprints.undip.ac.id pada tanggal tanggal 13 maret 2014.

Notoatmojo. (2010). Pendidikan dan Perilaku

Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Profil Desa. (2014). Laporan Bulanan. Bogor: Desa Urug

Puskes. (2012). Laporan Tahunan Puskesmas

Kiarapandak Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor. Dinkes: Bogor

Potter, P.A & Perry, A.G. ( 2005 ). Fundamental

keperawatan Edisi 4 volume 1 ( Alih Bahasa: Yasmin, dkk ). Jakarta: EGC.

Rahma Ayu Pebriani, Surya Dharma, Evi Naria. (2012). Faktor - Faktor yang berhubungan

dengan genggunaan jamban keluarga dan kejadian diare di Desa Tualang Sembilar Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2012. Sumatra Utara:

Universitas Sumatra Utara Fakultas Kesehatan Masyarakat

Rahman, Hadi Amin. (2012). Faktor-faktor yang

mempengaruhi kejadian diare pada Batita di wilayah kerja Puskesmas Baranglompo Kecamatan Ujung Tanah tahun 2012.

Makasar: UNHAS Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Sinthamurniwaty. (2006). Faktor-faktor risiko

kejadia diare akut pada balita.

Semarang: Universitas Diponegoro Fakultas Ilmu Keperawatan.

(8)

Yanti, E. 2001. Faktor-faktor yang mempengaruhi

kejadian diare pada balita di Kecamatan Padang Bolak Julu Kabupaten Tapanuli Selatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat

Sumatera Utara, Medan.

Giyantini, Trisiana. (2000). Faktor-faktor yang

Berhubungan dengan Diare pada Balita di Kecamatan. Duren Sawit Jakarta Timur.

Tesis Program Studi Epidemiologi (FETP), Program pasca sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, depok.

UNICEF. (2009). Diarhoea: Why children still

dying and what can be done. Diunduh

tanggal 04 Desember 20013 dari

Figur

Tabel  1  menujukan  bahwa  sebagian  besar  responden termasuk dalam kelompok dewasa  awal  lebih  tinggi  di  bandingkan  dengan  responden  kelompok  dewasa  akhir  dengan  presentase  dewasa  awal  sebanyak  86,4%

Tabel 1

menujukan bahwa sebagian besar responden termasuk dalam kelompok dewasa awal lebih tinggi di bandingkan dengan responden kelompok dewasa akhir dengan presentase dewasa awal sebanyak 86,4% p.3

Referensi

Memperbarui...