• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Pembangunan dan Pengembangan Wilayah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Pembangunan dan Pengembangan Wilayah"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Pembangunan dan Pengembangan Wilayah

Pembangunan merupakan proses alami untuk mewujudkan cita-cita bernegara, yaitu terwujudnya masyarakat makmur sejahtera secara adil dan merata. Proses alami tersebut harus diciptakan melalui intervensi pemerintah melalui serangkaian kebijaksanaan pembangunan yang akan mendorong terciptanya kondisi yang memungkinkan rakyat berpartisipasi penuh dalam proses pembangunan. Proses pembangunan yang memihak rakyat merupakan upaya sinergi dalam langkah pemberdayaan masyarakat. Peran pemerintah adalah sebagai katalisator dalam mewujudkan langkah pemberdayaan masyarakat. Dalam kerangka itu pembangunan harus dipandang sebagai suatu rangkaian proses perubahan yang berjalan secara berkesinambungan untuk mewujudkan pencapaian tujuan (Sumodiningrat, 1999).

Secara historis kegagalan program-program pembangunan di dalam mencapai tujuannya bukanlah semata-mata kegagalan dalam pelaksanaan pembangunan itu sendiri. Tetapi karena teori-teori pembangunan selalu berkembang dan mengalami koreksi, sehingga selalu melahirkan pergeseran tentang nilai-nilai yang dianggap benar dan baik dalam proses pembangunan. Pembangunan wilayah bukan hanya fenomena dalam dimensi lokal dan regional namun merupakan bagian tak terpisahkan dari kepentingan skala nasional bahkan global (Rustiadi et al., 2006).

Paradigma baru pembangunan pada saat ini mengarahkan kepada terjadinya pemerataan (equity), pertumbuhan (efficiency), dan keberlanjutan (sustainability). Menurut Anwar dan Setiahadi (1996) dalam Rustiadi et al. (2006), pembangunan wilayah tersebut memerlukan pemahaman mengenai perencanaan pembangunan wilayah yang berdimensi ruang yang terkait aspek sosial ekonomi wilayah sehingga dapat mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan wilayah itu sendiri memiliki tujuan yang saling terkait antara sisi sosial ekonomi dan ekologis. Dari sudut pandang sosial ekonomi, pengembangan wilayah adalah upaya meningkatkan kesejahteraan kualitas hidup masyarakat, seperti menciptakan pusat-pusat produksi, memberikan kemudahan prasarana dan

(2)

pelayanan logistik. Secara ekologis, pengembangan wilayah juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan lingkungan sebagai akibat campur tangan manusia terhadap lingkungan (Triutomo, 1999 dalam Al Kadri et al., 2001).

Menurut Sumodiningrat (1999) pembangunan daerah dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu pembangunan sektoral, pembangunan wilayah, dan pembangunan pemerintahan. Dari segi pembangunan sektoral, pembangunan daerah merupakan pencapaian sasaran pembangunan nasional dilakukan melalui berbagai kegiatan atau pembangunan sektoral, seperti pertanian, industri, dan jasa yang dilaksanakan di daerah. Pembangunan sektoral dilaksanakan di daerah sesuai dengan kondisi dan potensinya.

Dari segi pembangunan wilayah, meliputi perkotaan dan perdesaan sebagai pusat dan lokasi kegiatan sosial ekonomi dari wilayah tersebut. Dari segi pemerintahan, pembangunan daerah merupakan usaha untuk mengembangkan dan memperkuat pemerintahan daerah untuk makin mantapnya otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi dan bertanggung jawab. Pembangunan daerah di Indonesia memiliki dua aspek yaitu bertujuan memacu pertumbuhan ekonomi dan sosial di daerah yang relatif terbelakang, dan untuk lebih memperbaiki dan meningkatkan kemampuan daerah dalam melaksanakan pembangunan melalui kemampuan menyusun perencanaan sendiri dan pelaksanaan program serta proyek secara efektif.

Pembangunan berbasis pengembangan wilayah memandang pentingnya keterpaduan antar sektoral, spasial, serta pelaku pembangunan di dalam maupun antar daerah. Keterpaduan sektoral menuntut adanya keterkaitan fungsional dan sinergis antar sektor pembangunan sehingga setiap program pembangunan sektoral selalu dilaksanakan dalam kerangka pembangunan wilayah (Rustiadi et al., 2006).

Pada konsep pembangunan daerah yang berbasis pada sektor/komoditas unggulan ada beberapa kriteria sektor/komoditas sebagai motor penggerak pembangunan suatu daerah, antara lain: mampu memberikan kontribusi yang signifikan pada peningkatan produksi, pendapatan dan pengeluaran, mempunyai keterkaitan ke depan dan belakang (forward dan backward linkage) yang kuat,

(3)

mampu bersaing (competitiveness), memiliki keterkaitan dengan daerah lain, mampu menyerap tenaga kerja, bertahan dalam jangka waktu tertentu, berorientasi pada kelestarian sumber daya alam dan lingkungan serta tidak rentan terhadap gejolak eksternal dan internal.

Perencanaan untuk pengalokasian lahan pertanian harus mempertimbangkan banyak faktor (biofisik, ekonomi, sosial) melalui banyak tahap aktivitas. Menurut Young (1998) dalam Baja (2002), aktivitas tersebut pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga tahap utama: (1) pemilihan opsi dari beberapa alternatif penggunaan lahan yang tersedia; (2) pembuatan rencana pokok (plan) alternatif terpilih; dan (3) pelaksanaan atau implementasi.

Menurut Rondinelli (1985) dalam sudut pandang wilayah sebagai suatu sistem produksi pertanian, kebijakan-kebijakan dan program-program pembangunan wilayah difokuskan pada memperbaiki output pertanian dan efisiensi usaha tani. Informasi yang dikumpulkan pada wilayah tersebut adalah yang berhubungan dengan faktor-faktor yang perlu dikelola untuk meningkatkan produktivitas hasil-hasil pertanian (Gambar 1).

Komisi Sosial Ekonomi Asia Pasifik (the Economic and Social Comission for Asia and the Pasific/ESCAP) mempertimbangkan usaha tani dan rumah tangga tani sebagai unit dasar dari aktivitas pertanian terhadap produktivitas pertanian wilayah. Karenanya informasi yang dikumpulkan adalah mengenai penggunaan lahan pertanian, tenaga kerja, modal, dan kondisi pengelolaan pertanian di wilayah tersebut serta komposisinya, kebutuhan subsisten, preferensi dan kebutuhan rumah tangga tani.

Usaha tani dan rumah tangga tani dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik (iklim, vegetasi, tanah, hama dan penyakit), karakteristik penduduk (jumlah, densitas, pertumbuhan, dan komposisi penduduk), faktor sosial budaya, tingkat pelayanan sosial ekonomi, harga dan kondisi perdagangan tingkat dunia, harga nasional dan dukungan kebijakan. Formulasi kebijakan dan implementasinya difokuskan pada mengkoordinasikan semua faktor yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi regional dan pendapatan masyarakat.

(4)

Gambar 1 Wilayah sebagai sistem produksi pertanian.

sumber: UNESCAP, Guidelines for Rural Center Planning (1979) dalam Rondinelli (1985)

Sektor Basis dan Non Basis

Setelah berlakunya otonomi daerah, setiap daerah memiliki independensi dalam menetapkan sektor atau komoditi yang akan menjadi prioritas pengembangan. Kemampuan pemerintah daerah untuk melihat sektor yang memiliki keunggulan ataupun kelemahan diwilayahnya menjadi penting. Sektor yang memiliki keunggulan memiliki prospek yang lebih baik untuk dikembangkan dan diharapkan dapat menjadi push factor bagi sektor-sektor lain untuk berkembang (Tarigan, 2005).

Teori basis ekonomi mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut. Kegiatan ekonomi dikelompokkan atas kegiatan basis dan non basis.

Kebijakan pemerintah: - Subsidi - Harga - Pajak Pasar dunia: - Harga - Struktur kekuasaan

Pelayanan sosial ekonomi: - Penelitian lanjutan - Pemasaran - Infrastruktur - Kredit - Pendidikan - Kesehatan - Ketersediaan air Sistem Pertanian: USAHA TANI - Lahan - Tenaga kerja - Modal - Manajemen - Harga RUMAHTANGGA TANI: - Komposisi - Keb.subsisten - Preferensi individu - Keb. masa depan Kependudukan:

- Kepadatan - Pertumbuhan - Komposisi

Lingkungan budaya sosial: - Nilai-nilai - Sikap - Struktur sosial - Kepemilikan lahan Lingkungan fisik: - Iklim - Vegetasi - Tanah - Hama/Penyakit

(5)

Teori ini menyatakan bahwa sektor basis membangun dan memacu penguatan dan pertumbuhan ekonomi lokal, sehingga diidentifikasi sebagai mesin ekonomi lokal.

Menurut Rustiadi et al. (2006), sektor ekonomi wilayah dapat dibagi ke dalam dua golongan, yaitu sektor basis dimana kelebihan dan kekurangan yang terjadi di dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut menyebabkan terjadinya mekanisme ekspor dan impor antar wilayah. Artinya industri basis ini akan menghasilkan barang dan jasa, baik untuk pasar domestik daerah maupun pasar luar wilayah/daerah. Sedangkan sektor non basis adalah sektor dengan kegiatan ekonomi yang hanya melayani pasar didaerahnya sendiri, dan kapasitas ekspor ekonomi daerah belum berkembang.

Kemampuan memacu pertumbuhan suatu wilayah akan sangat tergantung dari keunggulan atau daya saing sektor-sektor ekonomi diwilayahnya. Nilai strategis setiap sektor di dalam memacu menjadi pendorong utama (prime mover) pertumbuhan ekonomi wilayah yang berbeda-beda.

Untuk mengetahui potensi aktivitas ekonomi yang merupakan basis dan non basis dapat digunakan metode Location Quotient (LQ), yang merupakan perbandingan relatif antara kemampuan sektor yang sama pada daerah yang lebih luas dalam suatu wilayah. Asumsi dalam LQ adalah terdapat sedikit variasi dalam pola pengeluaran secara geografi dan produktivitas tenaga kerja homogen serta masing-masing industri menghasilkan produk/jasa yang seragam. Berbagai dasar ukuran yang digunakan dalam penghitungan LQ harus disesuaikan dengan kepentingan penelitian dan sumber data yang tersedia.

Analisis LQ juga memberikan gambaran sektor atau kegiatan ekonomi apa yang terkonsentrasi dan yang tersebar. Tarigan (2005) menyatakan bahwa LQ sebagai petunjuk adanya keunggulan komparatif dapat digunakan bagi sektor-sektor yang telah lama berkembang, sedangkan bagi sektor-sektor yang baru atau sedang tumbuh apalagi yang selama ini belum pernah ada LQ tidak dapat digunakan karena produk totalnya belum menggambarkan kapasitas riil daerah tersebut.

Jika melakukan analisis LQ dengan penggunaan data time series/trend maka hal ini dapat menunjukkan perkembangan suatu sektor tertentu apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Sehingga kekuatan dan kelemahan dalam suatu wilayah

(6)

dapat dibandingkan secara relatif dalam wilayah yang lebih luas. Dalam konteks strategi pengembangan wilayah perlu digunakan potensi yang positif sebagai kekuatan daerah tersebut.

Evaluasi Sumber Daya Lahan

Evaluasi sumber daya lahan pada hakekatnya merupakan proses untuk menduga potensi sumber daya lahan untuk berbagai penggunaannya. Adapun kerangka dasar dari evaluasi sumber daya lahan adalah membandingkan persyaratan yang diperlukan untuk suatu penggunaan lahan tertentu dengan sifat sumber daya yang ada pada lahan tersebut (Sitorus, 2004).

Manfaat yang mendasar dari evaluasi sumber daya lahan adalah untuk menilai kesesuaian lahan bagi suatu penggunaan tertentu serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan. Kegunaan terperinci dari evaluasi lahan sangat beragam ditinjau dari konteks fisik, ekonomi, sosial dan dari segi intensitas skala dari studi itu sendiri serta tujuannya.

Kesesuaian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu. Evaluasi kesesuaian lahan pada hakekatnya berhubungan dengan evaluasi untuk satu penggunaan tertentu, seperti untuk budidaya padi, jagung, dan sebagainya. Hal ini dapat dilakukan dengan menginterpretasikan peta-peta yang dapat mengambarkan kondisi biofisik lahan seperti peta tanah, peta topografi, peta geologi, peta iklim dan sebagainya dalam kaitannya dengan kesesuaiannya untuk berbagai tanaman dan tindakan pengelolaan yang diperlukan.

Berdasarkan FAO (1976) evaluasi lahan dapat dilakukan menurut dua strategi (Gambar 2):

1) pendekatan dua tahap (two stage approach). Tahapan pertama terutama berkenaan dengan evaluasi lahan yang bersifat kualitatif, yang kemudian diikuti dengan tahapan kedua yang terdiri dari analisis ekonomi dan sosial.

(7)

2) pendekatan sejajar (parallel approach). Analisis hubungan antara lahan dan penggunaan lahan berjalan secara bersama-sama dengan analisis-analisis ekonomi dan sosial.

Ciri dari proses evaluasi lahan adalah tahapan di mana persyaratan yang dibutuhkan suatu penggunaan lahan dibandingkan dengan kualitas lahan. Sedangkan fungsi dari evaluasi lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kepada perencana perbandingan serta alternatif pilihan penggunaan yang diharapkan berhasil (FAO, 1976).

Gambar 2 Pendekatan dua tahap dan sejajar dalam evaluasi lahan.

Kualitas lahan merupakan sifat-sifat atribut yang komplek dari suatu lahan. Sedangkan tipe penggunaan lahan adalah jenis penggunaan lahan yang diuraikan secara lebih detil karena menyangkut pengelolaan, input yang diperlukan dan output yang diharapkan secara spesifik. Persyaratan penggunaan lahan yang meliputi persyaratan tanaman, persyaratan pengelolaan, dan persyaratan konservasi diperlukan masing-masing komoditas mempunyai kisaran batas minimum, optimum, dan maksimum (FAO, 1976). Persyaratan tersebut dijadikan

TAHAP KEDUA TAHAP PERTAMA Konsultasi Awal Klasifikasi Lahan Kualitatif

Survei Dasar Survei Dasar

PENDEKATAN

DUA TAHAP PENDEKATAN SEJAJAR

Klasifikasi Lahan Kualitatif dan

Kuantitatif

Klasifikasi Lahan Kuantitatif Analisis Sosial dan

Ekonomi

Analisis Sosial dan Ekonomi

Keputusan-keputusan Perencanaan

(8)

dasar dalam menyusun kriteria kelas kesesuaian lahan yang dikaitkan dengan kualitas dan karakteristik lahan.

Adapun parameter yang dinilai dalam evaluasi lahan adalah kualitas lahan yang dicerminkan oleh karakteristik lahan yang nyata berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman (Tabel 2). Sistem klasifikasi kesesuaian lahan yang banyak dipakai adalah berdasarkan sistem yang dikembangkan oleh FAO (1976).

Berdasarkan sistem klasifikasi ini, tingkat kesesuaian suatu lahan ditunjukkan melalui empat kategori yang merupakan tingkatan yang bersifat menurun yaitu:

(1) Ordo: menunjukkan apakah suatu lahan sesuai atau tidak sesuai untuk penggunaan tertentu. Ordo dibagi menjadi dua yaitu ordo S (sesuai) dan N (tidak sesuai);

(2) Kelas: menunjukkan tingkat kesesuaian dari masing-masing ordo. Ada tiga kelas dari ordo tanah yang sesuai yaitu S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai), dan S3 (sesuai marjinal/bersyarat). Sedangkan untuk ordo yang tidak sesuai ada dua kelas yaitu N1 (tidak sesuai saat ini) dan N2 (tidak sesuai);

(3) Sub Kelas: menunjukkan jenis faktor penghambat pada masing-masing kelas. Pada satu sub kelas dapat mempunyai lebih dari satu faktor penghambat dan jika ini terjadi maka faktor penghambat yang paling dominan dituliskan paling depan; dan

(4) Unit: menunjukkan kesesuaian lahan dalam tingkat unit yang merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas berdasarkan atas besarnya faktor penghambat.

Dalam proses evaluasi lahan, kesesuaian lahan aktual (yang merupakan kesesuaian lahan yang diperoleh saat penelitian) dapat diperbaiki menjadi kelas kesesuaian lahan yang lebih tinggi atau disebut dengan kesesuaian lahan potensial (kesesuaian lahan setelah dilakukan perbaikan atau input yang diperlukan). Namun demikian tidak semua kualitas atau karakteristik lahan dapat diperbaiki dengan teknologi yang ada saat ini atau diperlukan tingkat pengelolaan yang tinggi untuk melakukan perbaikan.

(9)

Tabel 2 Parameter (kualitas dan karakteristik lahan) dalam evaluasi lahan

No Kualitas Lahan Karakteristik Lahan

A Persyaratan Tumbuh Tanaman/Ekologi

1 Regim radiasi Panjang/lama penyinaran 2 Regim suhu Suhu rata-rata tahunan

Suhu rata-rata bulanan

Suhu rata-rata max./min. bulanan 3 Kelembaban udara Kelembaban nisbi

4 Ketersediaan air Curah hujan tahunan Curah hujan bulanan

Bulan kering (Curah hujan < 60 mm) 5 Media perakaran Drainase

Tekstur

Kedalaman efektif

Gambut (kedalaman, kematangan, kadar abu)

6 Retensi hara KTK

pH C-Organik 7 Ketersediaan hara N total

P2O5 tersedia

8 Bahaya banjir Periode Frekuensi

9 Kegaraman Daya hantar listrik (DHL) 10 Toksisitas Kejenuhan Al

Bahan sulfidik

B Persyaratan Pengelolaan

11 Kemudahan pengelolaan Tekstur tanah/bahan kasar

Kelas kemudahan pengelolaan

12 Potensi mekanisasi Kemiringan lahan

Batuan di permukaan

Singkapan batuan

C Persyaratan Erosi

13 Bahaya Erosi Tingkat bahaya erosi

Indek bahaya erosi

Sumber: Puslitbangtanak, 2003

Komoditas Unggulan Daerah

Penetapan komoditas unggulan nasional dan daerah merupakan langkah awal menuju pembangunan pertanian yang berpijak pada konsep efisiensi untuk meraih keunggulan komparatif dan kompetitif dalam menghadapi era perdagangan bebas. Komoditas unggulan adalah komoditas andalan yang memiliki posisi strategis, baik berdasarkan pertimbangan teknis (kondisi tanah dan iklim) maupun sosial ekonomi dan kelembagaan (penguasaan teknologi, kemampuan sumberdaya manusia, infrastruktur, dan kondisi sosial budaya setempat) untuk dikembangkan di suatu wilayah (Badan Litbang Pertanian, 2003).

(10)

Menurut Syafaat dan Supena (2000) dalam Hendayana (2003) langkah menuju efisiensi pembangunan pertanian dapat ditempuh dengan mengembangkan komoditas yang mempunyai keunggulan komparatif baik ditinjau dari sisi penawaran maupun permintaan. Dari sisi penawaran komoditas unggulan dicirikan oleh superioritas dalam pertumbuhannya pada kondisi biofisik, teknologi, dan sosial ekonomi (penguasaan teknologi, kemampuan sumber daya manusia, adat istiadat, dan infrastruktur) petani di suatu wilayah. Sedangkan dari sisi permintaan komoditas unggulan dicirikan dari kuatnya permintaan di pasar baik pasar domestik maupun internasional.

Pada lingkup kabupaten/kota, komoditas unggulan kabupaten diharapkan memenuhi kriteria sebagai berikut: (1) mengacu kriteria komoditas unggulan nasional; (2) memiliki nilai ekonomi yang tinggi di kabupaten; (3) mencukupi kebutuhan sendiri dan mampu mensuplai daerah lain/ekspor; (4) memiliki pasar

yang prospektif dan merupakan komoditas yang berdaya saing tinggi; (5) memiliki potensi untuk ditingkatkan nilai tambahnya dalam agroindustri; dan

(6) dapat dibudidayakan secara meluas di wilayah kabupaten.

Setiap daerah mempunyai karakteristik wilayah, penduduk, dan sumber daya yang berbeda-beda. Hal ini membuat potensi masing-masing daerah akan menjadi berbeda pula dan akan mempengaruhi arah kebijakan pengembangan kegiatan ekonomi di wilayah tersebut. Penetapan komoditas unggulan di suatu wilayah menjadi suatu keharusan dengan pertimbangan bahwa komoditas-komoditas yang mampu bersaing secara berkelanjutan dengan komoditas-komoditas yang sama yang dihasilkan oleh wilayah lain adalah komoditas yang secara efisien diusahakan dari sisi teknologi dan sosial ekonomi serta memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.

Pewilayahan Komoditas Unggulan Pertanian

Pewilayahan komoditas pertanian sesuai dengan daya dukung lahan dimaksudkan agar produktivitas lahan yang diusahakan mencapai tingkat optimal. Dalam mendukung kegiatan agribisnis, pengertian produktivitas lahan ditujukan untuk suatu tipe penggunaan lahan (Land Utilization Types) baik secara campuran

(11)

(multiple land utilization types) maupun individual (compound utilization types) mampu berproduksi optimal (Djaenudin et al., 2002).

Dilihat dari aspek ekonomi komoditas yang dihasilkan harus mempunyai peluang pasar, baik sebagai komoditas domestik maupun ekspor. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka komoditas harus dikembangkan pada lahan yang paling sesuai sehingga akan mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif.

Pada umumnya setiap tanaman dan/atau kelompok tanaman mempunyai persyaratan tumbuh yang spesifik untuk dapat berproduksi secara optimal. Hal ini menunjukkan bahwa suatu wilayah kemungkinan hanya memiliki kesesuaian untuk komoditas tertentu tetapi tidak untuk yang lain. Sehingga apabila persyaratan tumbuhnya dari segi lahan tidak terpenuhi maka tidak selalu setiap jenis komoditas dapat diusahakan di setiap wilayah.

Perbedaan karakteristik lahan yang mencakup iklim terutama suhu udara dan curah hujan, tanah (sifat fisik, morfologi, kimia tanah), topografi (elevasi, lereng), dan sifat fisik lingkungan lainnya dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk seleksi awal dalam menyusun zonasi pengembangan komoditas pertanian. Penyusunan tata ruang pertanian melalui pendekatan pewilayahan komoditas dengan mempertimbangkan daya dukung lahan akan dapat menjamin produktivitas lahan yang berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.

Proses Hirarki Analitik (PHA/Analytical Hierarchy Process)

Di dalam pengambilan suatu keputusan, banyak sekali kriteria yang harus diperhitungkan baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Banyak diantara kriteria-kriteria tersebut dapat bersifat conflicting (saling bertentangan) pada suatu alternatif sehingga dalam pengambilan keputusan dengan melibatkan kriteria ganda (multi-criteria decision making) yang dihasilkan adalah solusi kompromi (compromised solution) terhadap semua kriteria yang diperhitungkan.

Salah satu teknik analisis kriteria ganda adalah Proses Hirarki Analitik (PHA/Analytical Hierarchy Process) yang dikembangkan oleh Thomas L.Saaty pada awal 1970-an. Analisis kriteria ganda dengan PHA didasarkan atas konsep

(12)

dekomposisi dan sintetis dengan penyajian struktur kriteria secara hierarkis. Model Struktur PHA 2 Level dengan N kriteria dan M alternatif disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3 Model struktur PHA 2 level dengan N kriteria dan M alternatif. Untuk memperoleh bobot dari tiap-tiap kriteria, PHA menggunakan perbandingan berpasangan (pairwise comparison) dengan skala 1 sampai 9 dimana: 1 = sama penting (equal importance); 3 = sedikit lebih penting (moderate more importance); 5 = cukup lebih penting (essential, strong more importance); 7 = jauh lebih penting (demonstrated importance); 9 = mutlak lebih penting (absolutely more importance); 2, 4, 6, 8 = nilai-nilai antara yang memberikan kompromi (grey area).

Kuesioner perbandingan berpasangan diberikan dalam bentuk sebagai berikut : 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9

C1 X C2

Artinya: kriteria C1 jauh lebih penting daripada C2. Jika terdapat n kriteria maka akan terdapat (n(n-1))/2 perbandingan berpasangan.

Di dalam analisa multi kriteria ganda diperhitungkan juga kriteria kualitatif yang memungkinkan terjadinya ketidakkonsistenan (inconsistency) dalam penilaian perbandingan kriteria-kriteria atau alternatif-alternatif. Salah satu cara pengukuran konsistensi diusulkan oleh Saaty melalui indeks konsistensi (Consistency Index/CI) yang didefinisikan sebagai:

Go C C C Cn C11 C12 Cn …... . ………… … A A Am Level 0 Level 1 Level 2 Alternatif

(13)

1 max − − = n n CI λ

dengan n menyatakan jumlah kriteria/alternatif yang dibandingkan dan λmax adalah nilai eigen (eigen value) yang terbesar dari matriks perbandingan berpasangan orde n. Jika CI bernilai 0 maka berarti keputusan penilaian tersebut bersifat perfectly consistent dimana λmax sama dengan jumlah kriteria yang diperbandingkan yaitu n. Semakin tinggi nilai CI semakin tinggi pula tingkat ketidakkonsistenan dari keputusan perbandingan yang telah dilakukan.

Rasio konsistensi (CR/Consistency Ratio) dirumuskan sebagai perbandingan antara Consistency Index (CI) dan Random Index (RI) dengan rumus sebagai berikut:

RI

CI

CR =

Tabel nilai-nilai RI untuk beberapa nilai n diberikan dalam Tabel 3. Tabel 3 Nilai RI

N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 RI 0 0 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49 1,51 1,48 1,56 1,57 1,59 Nilai CR yang lebih besar dari 0,1 perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap penilaian responden (Saaty, 1980).

Proses hirarki analitik merupakan salah satu metode analisis yang banyak digunakan dalam pengambilan keputusan. Baja (2002) dalam makalahnya yang berjudul Aplikasi Sistem Informasi Geografi dan Analytic Hierarchy Process

dalam Studi Alokasi dan Optimasi Penggunaan Lahan Pertanian memberikan dua macam pendekatan analisis dengan PHA. Yang pertama adalah penentuan proporsi optimal lahan untuk tiga jenis komoditas yaitu jagung, kedelai, dan buah-buahan, dan yang kedua adalah penentuan peringkat bidang lahan untuk satu jenis penggunaan lahan. Pada pendekatan ini data diproses dengan menggunakan pendekatan integrasi lepas (loose coupling integration), dimana basis data dibangun dan dikelola dalam sistem informasi geografi (SIG), kemudian analisis kriteria gandanya dilakukan dalam sistem perangkat lunak PHA (Expert Choice

(14)

Metode analisis yang dipaparkan menunjukkan bahwa PHA dapat digunakan untuk menganalisis kesesuaian lahan secara komprehensif, yang mempertimbangkan aspek biofisik (seperti kelas kesesuaian lahan, tingkat erosi, dan lain), ekonomi (biaya produksi, peluang pasar, sarana prasarana, dan lain-lain), dan sosial (preferensi masyarakat untuk komoditi tertentu, kemauan berpartisipasi, dan sebagainya). PHA dapat menganalisis secara simultan parameter-parameter yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Dengan demikian keluaran hasil pemodelan, survei, pendugaan, atau analisis dengan GIS dapat sekaligus dipadukan dengan parameter lain dalam suatu sistem/lingkup analisis yang sama.

Teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG)

Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan suatu cara baru yang berkembang saat ini dalam menyajikan dan melakukan analisis data spasial dengan komputer. Selain mempercepat proses analisis, SIG juga bisa membuat model yang dengan manual sulit dilakukan (Barus dan Wiradisastra, 2000).

Konsep dasar SIG merupakan suatu sistem yang terpadu yang mengorganisir perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan data yang selanjutnya dapat menggunakan sistem penyimpanan, pengolahan maupun analisis data secara simultan sehingga dapat diperoleh informasi yang berkaitan dengan aspek spasial. Elemen dasar SIG yang beroperasi pada sistem yang terpadu tersebut meliputi hardware, software, pemasukan data, serta sumberdaya manusia yang bertanggung jawab terhadap masalah desain, implementasi, dan penggunaan dari SIG. Keluaran yang dihasilkan dari keempat elemen tersebut berupa informasi keruangan yang jelas dalam bentuk peta, grafik, tabel ataupun laporan ilmiah.

SIG dapat mendukung fungsi sebagai berikut: (1) menyediakan struktur basis data untuk penyimpanan dan pengaturan data dalam area yang luas; (2) mampu mengumpulkan atau memisahkan data regional, landsekap, dan skala plot; (3) mampu membantu dalam pengalokasian plot studi dan atau secara ekologi area yang sensitif; (4) meningkatkan kemampuan ekstraksi informasi

(15)

penginderaan jauh; (5) mendukung analisis statistik spasial pada distribusi ekologi; dan (6) menyediakan input data/parameter untuk permodelan ekosistem.

Aronoff (1993) menguraikan SIG atas beberapa sub sistem yang saling terkait yaitu: (1) data input, yang bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentransformasikan format-format data ke dalam format yang digunakan oleh SIG; (2) data output, sebagai sub sistem yang menampilkan atau menghasilkan sebagian basis data baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy seperti tabel, grafik, peta dan lain-lain; (3) data manajemen, yang mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah di-update dan diedit; dan (4) data manipulasi dan analisis, sebagai sub sistem yang menentukan informasi-informasi yang dihasilkan oleh SIG. Selain itu juga melakukan manipulasi dan permodelan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.

Penyajian data spasial dari fenomena geografis di dalam komputer dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu raster (grid cell) dan vektor. Bentuk raster adalah penyajian obyek dalam bentuk rangkaian elemen gambar (pixel) yang menampilkan semua obyek dalam bentuk sel-sel. Sedangkan vektor disajikan dalam bentuk titik atau segmen garis karena model data vektor lebih banyak berkaitan dengan bentuk obyek pada peta.

Aplikasi SIG dalam pengambilan keputusan berkriteria ganda sangat besar peranannya dalam pengelolaan basis data, analisis berbasis spasial, penampilan luaran hasil analisis, dan fungsi-fungsi SIG lainnya (Baja, 2002). Seperti dikemukakan juga oleh Miranda (2004) dalam tulisannya yang mengintegrasikan kegunaan SIG untuk mengatasi masalah alokasi lahan melalui dua teknik: fuzzy logic dan multicriteria analysis, bahwa SIG sangat berguna dalam analisis data spasial dan analisis multi-kriteria ideal dalam pengambilan keputusan dalam pengembangan wilayah.

Pemodelan Multi-Criteria Evaluation (MCE)

Metode yang umum untuk mencapai evaluasi adalah evaluasi multi-kriteria (Multi-Criteria Evaluation/MCE) dimana kesesuaian lahan maupun alokasi

(16)

penggunaan lahan untuk tujuan tertentu diuji berdasarkan pada pemikiran ataupun kriteria yang ditetapkan. Prosedur evaluasi multi-kriteria berbentuk hibrid karena mengkombinasikan keahlian baik para ahli dan juga pengguna akhir. Prosedur ini dapat digunakan sebagai alat yang sistematis untuk partisipasi pengguna selama pembuatan desain dan pengujian. Pengguna tidak hanya sebagai subyek tetapi juga sebagai evaluator, desainer, dan pembuat dan penentu keputusan.

Kriteria beraneka dirangking dalam satu order berdasarkan kepentingannya terhadap subyek. Prosedur evaluasi, termasuk kepentingan kuantitatif tiap kriteria dapat ditentukan untuk satu produk. Ilustrasi konkrit dan prototipe yang dapat diuji pengguna digunakan untuk menggambarkan bagaimana produk yang dipertanyakan terlihat dan dirasakan (Husdal, 2002 dalam Desiana, 2006).

Metode MCE melibatkan pembobotan, skoring atau ranking kriteria baik kualitatif maupun kuantitatif dalam hal kepentingannya baik untuk tujuan tunggal maupun beraneka. Pembobotan informal dan metode skoring merupakan teknik pemodelan yang paling umum digunakan oleh pembuat keputusan. Heywood et al. (2002) dalam Desiana (2006) selanjutnya mendefinisikan:

(1) satu keputusan adalah satu pilihan dari dua alternatif; (2) kriteria sebagai bukti dari mana keputusan berdasar;

(3) satu aturan keputusan sebagaimana beberapa metode pembobotan atau kriteria skor untuk menilai kepentingannya, dalam banyak kasus penting untuk menstandarisasi kriteria karena penggunaan campuran data kuantitatif dan kualitatif; dan

(4) satu opsi keputusan sebagai keluaran dari penerapan aturan keputusan.

Adapun Husdal (2002) dalam Desiana (2006) menyatakan bahwa aturan keputusan memerlukan tiga elemen, yaitu:

(1) standarisasi, untuk penggambaran kriteria dalam hal kemungkinan perbandingan;

(2) agregasi, untuk mengkombinasi berbagai kriteria yang menghasilkan satu ukuran komposisi dari tiap alternatif kesesuaian; dan

(3) ambang (treshold), suatu ambang nilai untuk memutuskan alternatif ke dalam dua hal – ya atau tidak.

(17)

Evaluasi multi kriteria dalam SIG ditetapkan dalam dua cara: kriteria dikonversi ke bentuk Boolean untuk mempertimbangkan keputusan dan kriteria diskalakan kembali untuk satu standar skala numerik dan mengkombinasikannya dengan menggunakan Weighted Linear Combination (WLC).

Salah satu perangkat lunak SIG yang menjadi pionir dalam penggunaan SIG berbasis pada banyak tujuan bagi pembuat keputusan, ketepatan manajemen dan penilaian resiko adalah Idrisi. Idrisi mendukung data input dari tiga sumber yaitu

digitizer, scanner dan GPS; impor data ke format Idrisi; dan impor dan konversi data dalam format file non-Idrisi yang umum tersedia (file Arc/Info atau citra satelit).

Dalam menu help perangkat lunak Idrisi versi 3.2 dijelaskan bahwa MCE adalah alat pendukung keputusan (decision support) untuk evaluasi multi-kriteria (multi-criteria evaluation). Menurut Husdal (2002) dalam Desiana (2006) di dalam Idrisi menghitung bobot adalah didasarkan pada metode perbandingan berpasangan yang dikembangkan oleh Saaty (1980) melalui Analytical Hierarchy Process.

Salah satu alat analisa untuk metode MCE pada Idrisi adalah Multi-Objective Land Allocation (MOLA). Berdasarkan peta kesesuaian lahan, MOLA bekerja berdasarkan tujuan, pembobotan relatif terhadap setiap tujuan, dan luasan wilayah yang akan dialokasikan untuk setiap tujuan (Mwasi, 2001).

Menurut Simonovic (1997), Idrisi merupakan alat informasi geografi profesional berbasis sistem mikro komputer yang mengintegrasi layar baik untuk data vektor maupun raster. Sistem dalam Idrisi memfasilitasi analisis geografi dan model lingkungan. Penggunaannya mudah, komposisi peta baik dan tampilan sistem memungkinkan untuk mengakses ke lebih dari 150 modul analisis. Idrisi merupakan software pionir yang mengembangkan sarana khusus untuk sistem informasi geografi yang berbasis pada banyak tujuan bagi pembuat keputusan, ketepatan manajemen, dan penilaian resiko.

Gambar

Gambar 1 Wilayah sebagai sistem produksi pertanian.
Gambar 2 Pendekatan dua tahap dan sejajar dalam evaluasi lahan.
Tabel 2  Parameter (kualitas dan karakteristik lahan) dalam evaluasi lahan
Gambar 3  Model struktur PHA 2 level dengan N kriteria dan M alternatif.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini relavan dengan penelitian yang dilakukan yang oleh Aisa Rahmi Syarif yang berjudul Pengaruh Hutang terhadap Profitabilitas perusahaan (Studi

Daerah potensi genangan diturunkan dari titik tinggi Peta RBI menggunakan teknik interpolasi Spline with Barriers untuk menghasilkan model permukaan digital (DEM). DEM

Pusat penterjemahan yang terpenting di Andalus ialah di Toledo. Pelbagai karyaa arab diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Antara penterjemah yang terbaik ialah

[r]

Studi pembelajaran dapat dilakukan oleh sejumlah guru/dosen/tutor dan pakar pembelajaran yang mencakup 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu perencanaan, implementasi pembelajaran

Barang ba)aan disimpan di 3CFs untuk diantar ke gerbang dengan cepat. 3FCs adalah kendaraan tanpa manusia yang mampu membongkar dan memuat barang tanpa mengehntikan gerakannya.

Berdasarkan berbagai penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa belum pernah dilakukan adanya penelitian mengenai resistensi masyarakat terjajah dan penjajah yang

Kontrak Opsi Saham (KOS) adalah efek yang memuat hak untuk membeli (call option) dan hak untuk menjual (put option) atas underlying stock (saham perusahaan telah tercatat