BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Tujuan kegiatan yang akan dicapai. 2. Kegiatan yang diambil dalam mencapai tujuan.

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Program Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara 2.1.1 Program

Program adalah unsur pertama yang harus ada demi terciptanya suatu kegiatan. Di dalam program dibuat beberapa aspek, disebutkan bahwa di dalam setiap program dijelaskan mengenai:

1. Tujuan kegiatan yang akan dicapai.

2. Kegiatan yang diambil dalam mencapai tujuan.

3. Aturan yang harus dipegang dan prosedur yang harus dilalui. 4. Perkiraan anggaran yang dibutuhkan.

5. Strategi pelaksanaan.

Melalui program maka segala bentuk rencana akan lebih terorganisir dan lebih mudah untuk diopersionalkan. Hal ini sesuai dengan pengertian program yang diuraikan. “A programme is collection of interrelated project designed to harmonize and integrated various action an activities for achieving averral policy abjectives” suatu program adalah kumpulan proyek-proyek yang berhubungan telah dirancang untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang harmonis dan secara integraft untuk mencapai sasaran kebijaksanaan tersebut secara keseluruhan.

Menurut Charles O. Jones, pengertian program adalah cara yang disahkan untuk mencapai tujuan, beberapa karakteristik tertentu yang dapat membantu seseorang untuk mengindentifikasi suatu aktivitas sebagai program atau tidak yaitu:

1. Program cenderung membutuhkan staf, misalnya untuk melaksanakan atau sebagai pelaku program.

(2)

2. Program biasanya memiliki anggaran tersendiri, program kadang biasanya juga diidentifikasikan melalui anggaran.

3. Program memiliki identitas sendiri, yang bila berjalan secara efektif dapat diakui oleh publik.

Program terbaik didunia adalah program yang didasarkan pada model teoritis yang jelas, yakni: sebelum menentukan masalah sosial yang ingin diatasi dan memulai melakukan intervensi, maka sebelumnya harus ada pemikiran yang serius terhadap bagaimana dan mengapa masalah itu terjadi dan apa yang menjadi solusi terbaik (Jones, 1996: 295)

2.1.2 Pelayanan Sosial

Johnson (dalam Muhidin, 1992) mendefenisikan pelayanan sosial sebagai program-program dan tindakan yang mempekerjakan pekerja-pekerja sosial atau tenaga profesional yang berkaitan dan diarahkan pada tujuan-tujuan kesejahteraan sosial. Adapun makna tujuan-tujuan kesejahteraan sosial adalah sebagai pelayanan sosial.

Dalam kesejahteraan sosial juga terdapat usaha kesejahteraan sosial, dimana pelayanan sosial juga termasuk dari salah satu di dalamnya. Pelayanan sosial diartikan dalam dua macam, yaitu:

a. Pelayanan sosial dalam arti luas adalah pelayanan sosial yang mencakup fungsi pengembangan termasuk pelayanan sosial dalam bidang pendidikan, kesehatan, perumahan, tenaga kerja dan sebagainya.

b. Pelayanan sosial dalam arti sempit atau disebut juga pelayanan kesejahteraan sosial mencakup program pertolongan dan perlindungan kepada golongan yang tidak beruntung seperti pelayanan sosial bagi anak

(3)

terlantar, keluarga miskin, cacat, tuna sosial dan sebagainya (Muhidin, 1992: 41).

2.1.3 Fungsi-fungsi Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial dapat dikategorikan dalam berbagai cara tergantung dari tujuan klasifikasi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengemukakan fungsi pelayanan sosial sebagai berikut :

1. Peningkatan kondisi kehidupan masyarakat. 2. Pengembangan sumber-sumber manusiawi.

3. Orientasi masyarakat terhadap perubahan-perubahan sosial dan penyesuaian sosial.

4. Mobilisasi dan pencipta sumber-sumber masyarakat untuk tujuan pembangunan.

5. Penyediaan dan penyelenggaraan struktur kelembagaan untuk tujuan agar pelayanan-pelayanan yang terorganisasi dapat berfungsi (Muhidin, 1992: 42).

Khan (dalam Muhidin, 1992: 43) menyatakan fungsi pelayanan sosial adalah: 1. Pelayanan sosial untuk pengembangan.

2. Pelayanan sosial untuk penyembuhan, perlindungan dan rehabilitasi. 3. Pelayanan akses.

Pelayanan sosial untuk sosialisasi dan pengembangan dimaksudkan untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam diri a nak dan pemuda melalui program-program pemeliharaan, pendidikan (non formal) dan pengembangan. Tujuannya yaitu untuk menanamkan nilai-nilai masyarakat dalam usaha pengembangan kepribadian remaja.

(4)

Pelayanan sosial untuk penyembuhan, perlindungan dan rehabilitasi mempunyai tujuan untuk melaksanakan pertolongan kepada seseorang, baik secara individual maupun di dalam kelompok/keluarga dan masyarakat agar mampu mengatasi masalah-masalahnya. Kebutuhan akan program pelayanan akses disebabkan oleh karena :

a. Adanya birokrasi modern.

b. Perbedaan tingkat pengetahuan dan pemahamam masyarakat terhadap hal-hal dan kewajiban/tanggung jawabnya.

c. Diskriminasi.

d. Jarak geografi antara lembaga-lembaga pelayanan dari orang-orang yang memerlukan pelayanan sosial (Muhidin, 1992: 44).

2.1.4 Program Pelayanan Sosial

Program-program pelayanan sosial merupakan bagian dari intervensi kesejahteraan sosial. Pelayanan sosial melalui kegiatan-kegiatan atau intervensi kasus yang dilaksanakan secara diindvidualisasikan, langsung, dan terorganisir yang bertujuan membantu individu, kelompok, dan lingkungan sosial dalam upaya mencapai penyesuaian.

Bentuk-bentuk pelayanan sosial sesuai dengan fungsi-fungsinya adalah sebagai berikut:

1). Pelayanan akses, mencakup pelayanan informasi, rujukan pemerintah, nasehat dan partisipasi. Tujuannya membantu orang agar dapat mencapai atau menggunakan layanan yang tersedia.

2) Pelayanan terapi, mencakup pertolongan dan terapi, atau rehabilitasi, termasuk didalamnya perlindungan dan perawatan. Misalnya, pelayanan

(5)

yang diberikan oleh badan-badan yang menyediakan konseling, pelayanan kesejahteraan anak, pelayanan kesejahteraan sosial mendidik dan sekolah, perawatan bagi orang-orang jompo dan lanjut usia.

3) Pelayanan sosialisasi dan pengembangan, misalnya taman penitipan bayi dan anak, keluarga berencana, pendidikan keluarga, pelayanan rekreasi bagi pemuda dan masyarakat yang dipusatkan atau community centre (Nurdin, 1989).

2.2 Remaja Tuna Rungu Wicara

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tuna rungu berarti tuli atau tidak dapat mendengar. Sementara itu, kata deaf menurut kamus bahasa inggris berarti kekurangan atau kehilangan sebagian atau seluruh pendengaran atau tidak mampu mendengarkan, sedangkan deafness berarti ketunarunguan yaitu cacat indera pendengaran bawaan atau kehilangan pendengaran. Mufti Salim (dalam Depsos RI, 2008) mengatakan bahwa tuna rungu adalah remaja yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengarannya, sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya.

Karakteristik tuna rungu wicara pasti berbeda dengan anak/remaja normal pada umunya. Bentuk mimik remaja tuna rungu wicara berbeda dikarenakan mereka tidak pernah mendengar atau mempergunakan panca inderanya yaitu mulut dan telinga. Oleh sebab itu mereka tidak terlalu paham dengan apa yang dimaksud dan dikatakan oleh orang lain.

Menurut Sastrawinata dkk (1997) anak tuna rungu wicara memiliki ciri yang cukup khas dibanding anak normal lainnya. Ciri khas tersebut diantaranya:

(6)

a. Ciri khas anak tuna rungu dalam segi fisik disebutkan, antara lain:

1. Cara berjalannya kaku dan agak membungkuk. Hal ini disebabkan terutama terjadi jika di bagian telinga dalam terdapat kerusakan pada alat keseimbangan.

2. Gerakan mata cepat dan agak beringas. Hal ini menunjukan bahwa ia ingin menangkap keadaan di sekitarnya.

3. Gerakan kaki dan tangannya sangat lincah, hal ini tampak dalam mengadakan komunikasi dengan gerak isyarat dengan orang di sekitarnya.

4. Pernafasan pendek dan agak terganggu. b. Ciri khas dalam segi intelegensi

Intelegensi merupakan faktor penting dalam belajar meskipun faktor lain tidak bisa diabaikan begitu saja seperti faktor kesehatan,lingkungan. Intelegensi merupakan motor dari perkembangan mental seseorang.

c. Ciri ciri khas segi emosi.

Kekurangan akan bahasa lisan dan tulisan sering menyebabkan anak tuna rungu dalam menafsirkan secara negatif atau salah, hal ini sering mengakibatkan tekanan emosinya. Tekanan emosi dapat menghambat perkembangan pribadinya, sehingga menampilkan sikap menutup diri, bertindak agresif, dan memiliki emosi yang bergejolak.

d. Ciri-ciri khas segi sosial.

Perlakuan yang kurang wajar dari anggota keluarga dan lingkungan dapat menampilkan beberapa aspek negatif yaitu:

1. Perasaan rendah diri dan merasa diasingkan oleh keluarga dan masyarakat,

(7)

2. Perasaan cemburu dan merasa tidak adil, 3. Kurang dapat bergaul dan bersikap agresif. e. Ciri khas dalam segi bahasa.

Pada umumnya anak tuna rungu wicara dalam segi bahasa memiliki ciri-ciri: 1. Miskin dalam kosakata,

2. Sulit mengartikan ungkapan bahasa, 3. Sulit mengartikan kata-kat abstrak, 4. Kurang menguasai irama bahasa

Panti sosial tuna rungu wicara adalah panti rehabilitasi sosial khusus penyandang cacat tuna rungu wicara yang mempunyai tugas memberikan pelayanan rehabilitasi sosial yang meliputi pembinaan fisik (biologis), mental (psikologi) , sosial, pelatihan keterampilan dan resosialisasi serta pembinaan lanjut bagi orang dengan kecacatan rungu wicara agar mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Pada dasarnya program rehabilitasi sosial rungu wicara pada panti sosial tuna rungu wicara (PSBRW) adalah terbina dan terentasnya orang dengan kecacatan rungu wicara agar mampu melaksanakan fungsi sosialnya dalam tatanan kehidupan dan penghidupan masyarakat. Proses pelayanan panti sosial meliputi beberapa tahap antara lain tahap pendekatan awal, asessment, perencanaan program pelayanan, pelaksanaan pelayanan dan rujukan, pemulangan dan penyaluran serta pembinaan lanjut. Dimana pada tahap akhir pelayanan adalah pembinaan lanjut yang merupakan rangkaian dari proses rehabilitasi sosial atau pemulihan, yang ditujukan agar eks klien dapat beradaptasi dan juga berperan serta di dalam lingkungan keluarga, kelompok, lingkungan kerja dan masyarakat.

Ada dua macam standar panti sosial, yaitu standar umum dan standar khusus. Standar umum adalah ketentuan yang memuat kondisi dan kinerja tertentu yang perlu

(8)

dibenahi bagi penyelenggaraan sebuah panti sosial jenis apapun. Mencakup aspek kelembagaan, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, pembiayaan, pelayanan sosial dasar, dan monitoring-evaluasi. Sedangkan standar khusus adalah ketentuan yang memuat hal-hal tertentu yang perlu dibenahi bagi penyelenggaraan sebuah panti sosial dan atau lembaga pelayanan sosial lainnya yang sejenis sesuai dengan karekteristik panti sosial. Adapun yang menjadi standar umum panti sosial adalah

A. Kelembagaan, meliputi:

1. Legalitas Organisasi. Mencakup bukti legalitas dari instansi yang berwenang dalam rangka memperoleh perlindungan dan pembinaan profesionalnya.

2. Visi dan misi, memiliki landasan yang berpijak pada visi dan misi tersebut. 3. Organisasi dan Tata Kerja, memiliki struktur organisasi dan tata kerja

dalam rangka penyelengaraan kegiatan. B. Sumber Daya Manusia

1. Aspek penyelenggara panti, yang terdiri dari 3 unsur yaitu:

a. Unsur Pimpinan, yaitu kepala panti dan kepala-kepala unit yang ada dibawahnya.

b. Unsur Operasional, meliputi pekerja sosial, instruktur, pembimbing rohani, dan pejabat fungsional lainnya.

c. Unsur Penunjang, meliputi pembina asrama, pengasuh, juru masak, petugas kebersihan, satpam dan sopir.

2. Pengembangan personil panti. C. Sarana dan Prasarana, mencakup:

1.Pelayanan Teknis, mencakup peralatan asesmen, bimbingan sosial, keterampilan fisik dan mental.

(9)

2. Perkantoran, memiliki ruang kantor, ruang rapat, ruang tamu, kamr mandi, peralatan kantor sperti alat komunikasi, alat transportasi dan tempat penyimpanan dokumen.

3. Umum, memiliki ruang makan, ruang tidur, mandi dan cuci, belajar, kesehatan dan peralatannya serta ruang perlengkapan.

D. Pembiayaan Memiliki anggaran yang berasal dari sumber tetap maupun tidak tetap.

E. Pelayanan Sosial Dasar Memiliki pelayanan sosial dasar untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari penerima manfaat, meliputi makan, tempat tinggal, pakaian, pendidikan dan kesehatan.

F. Monitoring dan Evaluasi, meliputi

1. Money Process, yakni penilaian terhadap proses pelayanan yang diberikan kepada penerima manfaat.

2. Hasil, yakni monitoring dan evaluasi terhadap penerima manfaat, untuk melihat tingkat pencapaian dan keberhasilan penerima manfaat setelah memperoleh proses pelayanan.

Adapun Standar Khusus Panti Sosial, berupa kegiatan pelayanan yang terdiri dari tahapan sebagai berikut:

a. Tahap Pendekatan Awal, mencakup: 1. Sosialisasi program

2. Penjaringan/penjangkauan calon penerima manfaat 3. Seleksi calon penerima manfaat

4. Penerimaan dan registrasi 5. Konferensi kasus

(10)

1. Analisa kondisi penerima manfaat, keluarga dan lingkungan 2. Karakteristik masalah, sebab dan implikasi masalah

3. Kapasitas mengatasi masalah dan sumber daya 4. Konferensi kasus

c. Tahap Perencanaan Pelayanan, meliputi: 1. Penetapan tujuan pelayanan

2. Penetapan jenis pelayanan yang dibutuhkan penerima manfaat 3. Sumber daya yang akan digunakan

d. Tahap Pelaksanaan Pelayanan, terdiri dari: 1. Bimbingan individu

2. Bimbingan kelompok 3. Bimbingan sosial

4. Penyiapan lingkungan sosial 5. Bimbingan mental psikososial 6. Bimbingan pelatihan keterampilan 7. Bimbingan fisik kesehatan

8. Bimbingan pendidikan

2.3 Biopsiksosial Spiritual Remaja Tuna Rungu Wicara 2.3.1 Teori Biologis

Motif manusia untuk berkembang berasal dari organismenya sebagai mahluk biologis, dan motif-motif yang berasal dari lingkungan kebudayaannya. Kebutuhan biologis manusia demi kelanjutan hidupnya, hal ini asli di dalam diri manusia dan berkembang dengan sendirinya.

(11)

Teori biologis didasarkan pada bukti bahwa perilaku yang sangat terganggu sangat ditentukan oleh proses-proses organik dan fisik serta otak (Suharto, 2008). Sebagai makluk holistik, manusia utuh dilihat dari aspek jasmani, rohani, unik serta berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya terus menerus menghadapi perubahan lingkungan, dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan. Manusia sebagai makluk bio. Bio berasal dari kata bios yang artinya hidup. Manusia sebagai makluk biologis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Terdiri dari sekumpulan organ tubuh yang semuanya mempunyai fungsi terintegritasi. Dalam hal ini, setiap organ tubuh mempunyai tugas masing masing, tetapi tetap bergantung pada orang lain dalam menjalankan tugasnya. b. Diturunkan atau berkembang biak melalui jalan pembuahan sperma laki-laki

dan ovum wanita sehingga wanita dapat hamil lalu melahirkan bayi yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi remaja, dewasa, menua dan akhirnya meninggal.

c. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup, manusia mempunyai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Kebutuhan dasar yang paling utama adalah keyakinan kepada Tuhan, sedangkan kebutuhan dasar biologis adalah kebutuhan fisiologis seperti oksigen, air, makanan eliminasi dan lainnya (Asmadi, 2008).

Bimbingan fisik (biologis) merupakan bimbingan yang penting bagi remaja tuna rungu wicara sebagai manusia yang harus berkembang dengan baik secara fisik. Perkembangan fisik didukung oleh kebutuhan dasar sebagai makluk hidup seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, obat-obatan, serta olah raga yang mendukung perkembangan fisik manusia. Makan sesuai dengan kebutuhan gizi dan kalori

(12)

perharinya merupakan aspek yang penting untuk mendukung perkembangan biologis, ketersediaan tempat tinggal yang layak juga merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari aspek pendukung perkembangan fisik yang baik, rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, tersedianya obat-obatan dan olah raga.

Upt pelayanan sosial tuna rungu wicara dan lansia pematang siantar merupakan panti yang memberikan pelayanan sosial kepada berkebutuhan khusus tuna rungu wicara. Melalui program bimbingan fisik yang dilakukan untuk mendukung perkembangan fisik (biologis) warga binaan, sehingga remaja tuna rungu wicara memiliki perkembangan fisik yang sama dengan remaja normal dan kebutuhan dasar terpenuhi dengan baik, sehingga penyandang cacat tuna rungu dapat bertumbuh secara fisik dengan baik selayaknya manusia.

2.3.2 Psikososial

Kata psikososial sendiri menggarisbawahi suatu hubungan yang dinamis antara efek psikologis dan sosial yang mana keduanya saling mempengaruhi. Kebutuhan psikososial mencakup cara seseorang berfikir dan merasa mengenal dirinya dengan orang lain, keamanan dirinya dan orang lain, keamanan dirinya dengan orang-orang yang bermakna baginya, hubungan dengan orang lain lingkungan sekitarnya serta pemahaman dan reaksinya terhadap kejadian-kejadian dan sekitarnya (Depertemen Sosial, 2004).

Manusia sebagai mahluk psiko. Psiko berasal dari phyche yang artinya jiwa. Menurut Aristoteles, jiwa berarti kekuatan hidup. Jadi manusia sebagai mahluk psiko, artinya adalah manusia mahluk yang berjiwa. Sebagai mahluk psiko, manusia mempunyai kemampuan berpikir, kesadaran pribadi, dan kata hati (perasaan) (Asmadi, 2008).

(13)

Konsep diri merupakan bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak didapat sejak lahir, namun dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman seseorang terhadap dirinya. Konsep diri berkembang secara bertahap sesuai dengan tahap perkembangan psikososial seseorang. Secara umum konsep diri adalah semua tanda, keyakinan dan pendirian yang merupakan sesuatu pengetahuan individu tentang dirinya, yang dapat mempengaruhi hubungan dengan orang lain, termasuk karakter, kemampuan, nilai, ide, dan tujuan (Minarni dan Yuniati, 2013).

Manusia adalah mahluk sosial. Sejak lahir, manusia tumbuh dan berkembang memerlukan bantuan orang lain. Menurut Aristoteles, manusia adalah mahluk Zoonpoliticon. Artinya, manusia adalah mahluk sosial yang tidak lepas dari orang lain dan selalu berinteraksi dengan mereka. Manusia akan belajar dari lingkungan tentang norma, ajaran, peraturan, kebiasaan, tingkah laku yang etis maupun tidak etis atau ragam budaya manusia (Asmadi, 2008).

Fase-fase Perkembangan Psikososial Terdapat 8 fase menurut Erick H Erikson:

Kedelapan tahapan psikosisial menurut Erikson tersebut adalah sebgai berikut:

a. Percaya versus tidak percaya (Balita).

Bayi yang baru keluar harus banyak belajar untuk percaya kepada ibunya akan ada disampingnya untuk memberi makan, mengasuh, dan memberikan perawatan mendasar. Jika kebutuhan dasar ini tidak dipenuhi, balita tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang yang tidak mudah percaya dan tidak dapat mengandalkan orang lain, yang kemudian secara signifikan mengurangi kecenderungan untuk menjalin hubungan yang erat dengan orang lain dikemudian hari.

(14)

b. Otonomi versus rasa malu dan keraguan (Awal masa kanak-kanak).

Pelatihan penggunaan toilet, yang merupakan aktivitas pertama yang memerlukan pembelajaran aktif pada balita yang sedang berkembang, merupakan suatu yang penting dalam aktivitas lanjutan yang memerlukan kepercayaan diri. Jika seorang anak kecil diberi dukungan, dorongan dan pujian pada proses ini, dia akan berkembang menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan mandiri. Jika kritik yang berlebihan diberikan oleh orangtua, hilanglah kepastian dalam diri sang anak untuk perkembangan selanjutnya. c. Inisiatif Vesus Rasa Bersalah (Usia Pra Sekolah)

Erikson, seperti halnya Sigmund Freud mengemukakan bahwa anak-anak harus menghilangkan kemarahan pada ayah dan ibunya. Mereka harus menyelesaikan rivalitasnya dan menggunakan energinya untuk beraktifitas lain dan bermain dengan teman-temannya sebagai cara untuk melatih inisiatif dan membangun kompetisi. Tanpa hal tersebut rasa bersalah akan muncul, yang akan berujung pada ketidakmampuan dalam membangun hubungan secara aktif.

d. Industri versus inferioritas (Masa Sekolah)

Kognitif, sama halnya dengan kemampuan sosial lainnya yang dibutuhkan di sekolah adalah pusat dari perkembangan tahap ini, dan identitas jenis kelamin seseorang adalah masalah yang penting. Anak yang mengembangkan kemampuan ini, akan memperkuat keinginannya untuk hidup berkecukupan atau industri, sedangkan perkembangan yang tidak cukup baik dalam tahap ini akan berakhir dengan rasa yang tidak cukup dan inferior.

(15)

Erikson memandang tahapan ini sebagai tahapan yang sangat penting dalam pembentukan dasar kedewasaan. Para remaja diharapkan untuk mengembangkan sebuah jaminan bahwa orang lain melihat mereka sama seperti halnya mereka melihat dirinya sendiri. Tahapan ini, para remaja berani bertemu dengan arti atau tujuan hidup dan mulai mengembangkan tujuan-tujuan masa depan secara mandiri. Mereka mulai menyadari bahwa mereka perlu untuk memikul tanggung jawab atas diri mereka sendiri dan terhadap apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tanpa kesadaran mereka dalam identitas diri, maka akan sulit mengembangkan sebuah hubungan, dan keputusan yang diambil perihal tanggung jawab sebagai orang dewasa menjadi sulit dijelaskan.

f. Intimidasi Versus Isolasi (awal Masa Dewasa)

Pada tahapan ini seorang dewasa muda belajar untuk bekerja sama dengan orang lain dan membangun hubungan yang lebih dekat. Beberapa hubungan yang sangat dekat mungkin yang memulai isolasi dapat terjadi jika seseorang dewasa muda tidak dapat mengembangkan hubungan yang kooporatif dan dekat

g. Generalis Versus Stagnasi (Usia Pertengahan)

Tahapan setelah bertanggung jawab untuk diri sendiri adalah tahapan dimana seseorang bertanggung jawab pula untuk membantu orang lain. Dengan membantu orang lain tumbuh dan berkembang, orang tersebut akan menjadi dewasa. Mereka yang tidak mengembangkan rasa tanggung jawab ini akan menjadi stagnan dan kehilangan perasaan dewasa yang dihubungkan dengan kontribusi terhadap perkembangan orang lain.

(16)

Perasaan berharga dan berhasil dirasakan oleh orang-orang dewasa tua usia 60. Ada perasaan bahwa mereka telah berhasil dengan baik dan telah mengalami sebagian besar dari apapun yang orang dapat pertanyakan tentang hidup. Mereka yang mencapai usia ini dengan perasaan bahwa mereka gagal mencapai tujuan hidupnya, mengalami keterputusasaan, penyesalan, atau perasaan tidak berharga dalam hidupnya. Mereka merasa bahwa mereka tidak memberikan kontribusi apapun dan merasa takut tidak dapat berkontribusi pada orang lain atau mencari arti hidup pada sisa umur yang ada (Suharto, 2008).

Bimbingan sosial bertujuan membantu remaja dalam mengatasi kesulitan masalah sosialnya sehingga ia mampu mengadakan hubungan-hubungan sosial yang baik. Bimbingan sosial merupakan bimbingan yang sering terlupakan seolah terdesak karena kebutuhan bimbingan yang lain yang lebih jelas terlihat hasilnya (Singgih, 1999: 36)

Upt pelayanan sosial tuna rungu wicara dan lansia pematang siantar memberikan bimbingan mental (Psikologi) dan sosial berupa konseling pribadi kepada warga binaan tuna rungu wicra yang bertujuan untuk membantu masalah masalah yang dialami remaja tuna rungu akibat kecacatan yang disandang serta masalah mental yang harus dibentuk didalam keterbatasan fisik yang dimiliki. Warga binaan tuna rungu wicara didalam lingkungan panti diajarkan agar mampu bersosialisasi dengan baik sehingga memiliki hubungan yang baik diantara sesama warga binaan upt pelayanan sosial tuna rungu wicara dan lansia pematang siantar

(17)

Karakteristik anak tuna rungu dalam aspek sosial-emosial adalah sebagai berikut:

a. Pergaulan terbatas dengan sesama tunarungu, sebagai akibat dari keterbatasan dalam berkomunikasi.

b. Sifat egosentris yang melebihi anak normal, yang ditunjukan dengan sukarnya mereka menempatkan diri pada situasi berpikir dan perasaaan orang lain, sukarnya menyesuaikan diri, serta tindakannya lebih terpusat pada ego, sehingga jika ada keinginan harus selalu dipenuhi.

c. Perasaan takut atau khawatir terhadap lingkungan sekitar, yang menyebabkan ia tergantung pada orang lain sehingga kurang percaya diri.

d. Perhatian anak tuna rungu sukar dialihkan, apabila ia sudah menyenangi suatu benda atau pekerjaan tertentu.

e. Memiliki sifat polos, serta perasaannya umumnya dalam keadaan ekstrim tanpa banyak nuansa.

f. Cepat marah dan mudah tersinggung sebagian akibat seringnya mengalami kekecewaan karena sulitnya menyampaikan perasaan secara

lisan atau dalam memahami pembicaraan orang lain (Rumah Tuna Rungu Wicara, 2015).

2.3.2.2 Perkembangan Sosial Remaja Tuna Rungu Wicara

Sudah menjadi kejelasan bagi kita bahwa hubungan sosial banyak ditentukan oleh komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Kesulitan komunikasi tidak bisa dihindari. Namun, bagi anak tuna rungu wicara tidaklah demikian karena anak ini mengalami hambatan dalam mendengar dan berbicara. Kemiskinan bahasa

(18)

membuat mereka tidak mampu terlibat secara baik dalam situasi sosialnya. Sebaliknya, orang lain akan sulit memahami perasaan dan pikirannya.

Anak tuna rungu wicara banyak dihinggapi kecemasan karena mengahadapi lingkungan yang beraneka ragam komunikasinya. Hal ini akan membingungkan anak tuna rungu wicara. Anak tuna rungu wicara sering mengalami berbagai konflik, kebingungan, dan ketakutan karena ia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang bermacam-macam.

Faktor sosial dan budaya meliputi pengertian yang sangat luas, yaitu lingkungan hidup dimana anak berinteraksi yaitu interaksi antar individu, dengan kelompok, dengan keluarga, dan masyarakat. Untuk kepentingan anak tuna rungu wicara, seluruh anggota keluarga, guru, dan masyarakat disekitarnya hendaknya berusaha mempelajari dan memahami keadaan mereka karena hal tersebut dapat menghambat perkembangan kepribadian yang negatif pada diri anak/remaja tuna rungu wicara (Somantri, 2006).

Menurut Sastrawinata dkk (1977) perkembangan dan ciri khas anak tunarungu, antara lain:

1. Perkembangan pada segi fisik dan bahasa pada anak tunarungu, dalam segi fisik sebenarnya anak tunarungu tidak memiliki banyak hambatan walaupun sebagian anak tunarungu yang terganggu keseimbangan karena ada hubungan antara kerusakan telinga bagian dalam dengan indera keseimbangan yang ada didalamnya. Demikian pula ada sebagian anak tunarungu yang perkembangan fisiknya terhambat akibat tekanan-tekanan jiwa yang dideritanya. Sebaliknya ketunarunguan jelas mengakibatkan hambatan dalam perkembangan bahasa, karena perkembangan bahasa banyak memerlukan kemampuan pendengaran;

(19)

2. Perkembangan intelegensi anak tunarungu, sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa sehingga hambatan perkembangan bahasa pada anak tunarungu menghambat perkembangan intelegensinya. Kerendahan tingkat intelegensi bukan berasal dari kemampuan intelektuilnya yang rendah, tetapi pada umumnya disebabkan karena intelegensinya tidak mendapat kesempatan untuk berkembang;

3. Perkembangan emosi anak tunarungu, keterbatasan kecakapan berbahasa mengakibatkan kesukaran dalam berkomunikasi, dan akhirnya menghambat perkembangan emosi. Emosi berkembang karena pengalaman dalam komunikasi seorang anak dengan anak yang lain, orangtuanya dan orangorang lain disekitarnya. Selain sebab kemiskinan bahasa anak tunarungu, yang mengakibatkan kedangkalan emosinya, juga sikap masyarakat dan kegagalankegagalan dalam banyak hal mengakibatkan emosi anak tunarungu menjadi tidak stabil;

4. Perkembangan kepribadian anak tunarungu, perkembangan kepribadian terjadi dalam pergaulan, atau perluasan pengalaman pada umumnya dan diarahkan oleh faktor-faktor anak sendiri. Pertemuan antara faktor-faktor dalam diri anak tunarungu, yaitu ketidakmampuan menerima rangsang pendengaran, kemiskinan berbahasa, ketidaktetapan emosi, dan keterbatasan intelegensi, dihubungkan dengan sikap lingkungan terhadapnya menghambat perkembangan pribadinya.

2.3.3 Spiritual

Manusia secara terus menerus menghadapi berbagai perubahan lingkungan yang selalu berusaha menyesuaikan diri agar tercapai keseimbangan dan interaksi

(20)

dengan lingkungan serta menciptakan hubungan antara manusia secara serasi. Manusia sebagai manusia yang holistik merupakan pendekatan yang bersifat menyeluruh terhadap individu dalam kontak biopsikososial, spiritual dan kultural dimana sebagai mahluk hidup dengan dasar spiritual, manusia memiliki keyakinan dan kepercayaan serta menyembah Tuhan atau sembahyang (Christina dkk, 2003).

Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kata “spiritual” sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Untuk memahami pengertian spiritual dapat dilihat dari berbagai sumber. Berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang mendasar, penting, dan mampu menggerakkan serta memimpin cara berpikir dan bertingkah laku seseorang. Anak merupakan tahap perkembangan kepercayaan berdasarkan pengalaman, perilaku didapatkan berdasarkan pengalaman. Perilaku yang didapat antara lain adanya pengalaman dari interaksi dengan orang lain keyakinan dan kepercayaan yang dianut. Pada saat ini, anak/remaja belum mempunyai pemahaman salah atau benar. Kepercayaan atau keyakinan yang ada pada masa ini mungkin hanya mengikuti ritual atau meniru orang lain. Pada masa ini mereka biasanya sudah mulai bertanya tentang pencipta, arti doa, dan mencari jawaban tentang kegiatan keagamaan. Peran orangtua sangat menentukan dalam perkembangan spiritual mereka. Hal terpenting bukan apa yang diajarkan orangtua pada anak tentang Tuhan, tetapi apa yang mereka pelajari mengenai Tuhan, kehidupan, diri sendiri dari perilaku mereka (Sulistiyanto dkk, 2013).

Upt pelayanan sosial tuna rungu wicara dan lansia pematang siantar memberikan bimbingan agama kepada warga binaan tuna rungu wicara melalui bimbingan agama yang diadakan yaitu bimbingan agama kristen dan katolik, islam.

(21)

Selain itu banyak kegiatan yang dilakukan untuk meningkat spritualitas warga binaan seperti perayaan hari besar agama dan kegiatan rutin agama masing-masing.

2.4 Efektivitas Program Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara 2.4.1 Efektivitas

Efektivitas diartikan sebagai sesuatu yang ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya), dapat membawa hasil, berhasil guna (tindakan) serta dapat pula

berarti mulai berlaku (tentang undang-undang/peraturan) (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993). Selanjutnya bahasa inggris, kata efektif

yaitu effective yang berarti berhasil, atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi, kegiatan ataupun program. Disebut efektif apabila tercapai tujuan ataupun sasaran seperti yang telah ditentukan

Efektivitas pada dasarnya mengacu pada sebuah keberhasilan atau pencapaian tujuan. Efektivitas merupakan salah satu dimensi dari produktivitas, yaitu mengarah kepada pencapaian untuk kerja yang maksimal, yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Efektivitas menurut Hidayat (2006) yang menjelaskan bahwa : “Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya (http://repository.unhas.ac.id ).

Dilihat dari perspektif efektivitas organisasi, Gaertner dan Ramnarayan mengatakan, efektivitas dalam suatu organisasi bukan suatu benda, atau suatu tujuan, atau suatu karakteristik dari output atau perilaku organisasi, tetapi cukup suatu pernyataan dari relasi-relasi di dalam dan di antara jumlah yang relevan dari

(22)

organisasi tersebut. Suatu organisasi yang efektif adalah yang dapat membuat laporan tentang dirinya dan aktivitas-aktivitasnya menurut cara-cara dalam mana jumlah-jumlah tersebut dapat diterima. Pandangan efektivitas sebagai suatu proses ini mencerminkan aspek politik ketimbang aspek ekonomi atas bidang produktivitas. Gerakan produktivitas tidak begitu disebabkan oleh dorongan ekonomi. Menjadi produktif adalah menjadi tanggap secara politik (Gomes, 2003).

Unsur yang penting dalam konsep efektivitas adalah yang utama adalah pencapaian tujuan yang sesuai dengan apa yang telah disepakati secara maksimal, tujuan merupakan harapan yang dicita-citakan atau suatu kondisi tertentu yang ingin dicapai oleh serangkaian proses. Diketahui bahwa efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat penting karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasarannya atau dapat dikatakan bahwa efektivitas merupakan tingkat ketercapaian tujuan dari aktivasiaktivasi yang telah dilaksanakan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada beberapa literatur ilmiah mengemukakan bahwa efektivitas merupakan pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektivitas juga bisa diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Sebagai contoh jika sebuah tugas dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif.

2.4.2 Efektivitas Program Pelayanan Sosial Tuna Wicara

Usaha Kesejahteraan Sosial mengacu pada program, pelayanan dan berbagai kegiatan yang secara kongkret (nyata) berusaha menjawab kebutuhan ataupun

(23)

masalah yang dihadapi anggota masyarakat. Usaha kesejahteraan sosial itu sendiri dapat diarahkan pada individu, keluarga, kelompok ataupun komunitas. Berdasarkan hal di atas dapat dirasakan bahwa kesejahteraan sosial tidaklah bermakna bila tidak diterapkan dalam bentuk usaha kesejahteraan sosial yang nyata yang menyangkut kesejahteraan warga masyarakat. Oleh karena itu dua terminologi ini sulit untuk dipisahkan satu dengan lainnya (inseparable) dan seringkali digunakan secara tukar-menukar (interchangeably).

Dari terminologi tersebut terlihat bahwa usaha kesejahteraan sosial seharusnya merupakan upaya yang konkret (nyata) baik ia bersifat langsung (direct services) ataupun tidak langsung (indirect services), sehingga apa yang dilakukan dapat dirasakan sebagai upaya yang benar-benar ditujukan untuk menangani masalah ataupun kebutuhan yang dihadapi warga masyarakat, dan bukan sekedar program, pelayanan ataupun kegiatan yang lebih dititikberatkan pada upaya menghidupi organisasinya sendiri ataupun menjadikan sebagai “panggung” untuk sekedar mengekspresikan penampilan diri person dalam suatu lembaga (Adi, 1994).

Efektivitas pelayanan sosial tuna rungu wicara adalah sejauh mana pencapaian pelayanan yang sudah ditetapkan berdasarkan makna dari pelayanan sosial itu sendiri, sehingga apa yang dilakukan dapat dirasakan sebagai upaya yang benar-benar ditujukan untuk menangani masalah kebutuhan biospsikososial spritual bagi perkembangan remaja tuna rungu wicara.

2.5 Kerangka Pemikiran

Remaja dengan kecacatan rungu wicara merupakan realitas sosial yang tidak terelakkan keberadaannya di masyarakat. Pada dasarnya remaja tuna rungu wicara memiliki hak yang sama dengan semua remaja yang lainnya. Remaja tuna rungu

(24)

wicara berhak atas kesejahteraan, perawatan, dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarga maupun di dalam asuhan tumbuh kembang dengan baik. Keterbatasan yang dimiliki karena ketunarunguan menyebabkan kesulitan berkomunikasi. Keberadaan remaja tuna rungu wicara di dalam masyarakat menjadi kelompok yang direndahkan sehingga menyebabkan masalah yang kompleks bagi perkembangan remaja tuna rungu wicara baik masalah biologi, psikologi, sosial dan spiritual.

Masalah biologi yang dialami oleh remaja tuna rungu wicara di dalam masyarakat disebabkan kurangnya pertahatian dari orang-orang di sekitarnya sehingga kebutuhan fisiknya jarang dipenuhi, kesehatannya sering diabaikan. Akibatnya mereka mengalami kesenjangan dalam pertumbuhan biologi. Masalah lainnya yang dialami yaitu masalah psikososial, mental dan sosial remaja tuna rungu wicara dalam masyarakat cenderung mengalami krisis. Hal ini disebabkan oleh tekanan sosial, stigma sosial yang dihadapi oleh remaja tuna rungu akibat keterbatasan yang dimiliki, sehingga dalam lingkungan sosial remaja tuna rungu wicara cenderung bersifat egosentris yang hanya berfokus pada diri sendiri, selalu menyendiri dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Begitu juga dengan masalah perkembangan spiritual remaja tuna rungu wicara yang mengalami kesenjangan akibat keterbatasan dalam memahami nilai-nilai agama sehingga kurang memiliki motivasi diri yang baik.

Berdasarkan masalah yang dialami oleh remaja tuna rungu wicara tersebut maka Upt pelayanan sosial tuna rungu wicara dan lansia pematang siantar berdiri memberikan penanganan pelayanan sosial terhadap masalah tuna rungu wicara dan lansia. Sistem pelayanan dan rehabilitasi sosial yang dilakukan oleh upt pelayanan sosial tuna rungu wicara dan lansia pematang siantar adalah suatu bentuk perwujudan

(25)

dari tanggungjawab dan kewajiban pemerintah. UPT Pelayanan Sosial Tuna Rungu Wicara dan Lansia memberikan pelayanan sosial kepada remaja tuna rungu wicara berupa bimbingan biologis, bimbingan psikologi (mental), bimbingan sosial, bimbingan spiritual. Bimbingan biologis meliputi sandang, papan, kesehatan, obat-obatan, bimbingan psikologi dan sosial meliputi bimbingan mental dengan psikolog dan bimbingan sosial terhadap warga binaan tuna rungu wicara sedangkan bimbingan spritual meliputi kegiatan bimbingan agama, perayaan hari besar agama, serta rutinitas kegiatan agama sesuai dengan kepercayaan warga binaan tuna rungu wicara.

Pelayanan sosial ini diberikan kepada warna binaan dengan kriteria sasaran yang telah ditetapkan oleh upt pelayanan sosial tuna rungu wicara dan lansia pematang siantar meliputi kriteria usia dalam batas 15-35 tahun, sehat dan tidak memiliki penyakit menular, dalam keadaan belum menikah, selama menjadi warga binaan bersedia untuk diasramakan, membawa surat pengantar dari pemerintah setempat.

Pelayanan sosial yang diberikan kepada remaja tuna rungu ditujukan untuk meningkatkan perkembangan aspek biopsikososial spiritual sehingga meningkatkan keberfungsian sosial dan kemandirian remaja tuna rungu wicara. Dalam pelaksanaan pelayanan sosial dalam menunjang perkembangan biopsikososial dan spritual tuna rungu wicara perlu dipantau untuk memastikan program biopsikososial menunjang perkembangan remaja tuna rungu wicara sehingga memiliki perubahan yang lebih baik dalam aspek biologi, psikologi, sosial serta spritual.

(26)

Gambar 2.5

BAGAN ALIR PEMIKIRAN

2.6 Defenisi Konsep dan Defenisi Operasional

UPT PELAYANAN SOSIAL TUNA RUNGU WICARA

DAN LANSIA PROGRAM BIOPSIKOSOSIAL

SPIRITUAL

Efektifitas pelaksanaan program

1. Pemahaman program : pengetahuan tentang sosialisasi, tujuan, dan metode pelayanan sosial

2. Ketepatan sasaran : remaja tuna rungu wicara < 18 tahun 3. Tepat Waktu : ketepatan jadwal frekuensi pemberian

pelayanan sosial, ketepatan jadwal mendapat bantuan pelayanan.

4. Tercapainya tujuan : remaja tuna rungu wicara mendapatkan perlindungan dan kebutuhan secara fisik, memperoleh bimbingan psikologi dari psikolog secara rutin melalui

konseling, bimbingan sosial, memiliki motivasi dan nilai-nilai agama yang mendukung sikap hidup.

5. Adanya perubahan nyata, meliputi: memiliki kesehatan yang baik,memiliki tempat tinggal,terpenuhi kebetuhan olahraga semakin baik, kebutuhan kesehatan dan kebersihan semakin

REMAJA TUNA RUNGU WICARA a. Usia 15-35 tahun

b. Tidak cacat ganda dan memilki penyakit menular

c. Belum menikah d. Bersedia diasramakan e. Membawa surat pengantar

Spiritual/Bimbingan keagamaan Psikososial  Bimbingan mental  Bimbingan sosial Biologi/Bimbingan fisik  Sandang, Papan  Kesehatan, Obat  Olahraga

(27)

2.6.1 Defenisi Konsep

Defenisi konsep adalah batasan arti dan gambaran hubungan dari antara unsur-unsur yang ada di dalamnya (Siagian, 2011). Konsep penelitian bertujuan untuk merumuskan istilah dan mendefenisikan istilah-istilah yang digunakan secara mendasarkan agar tercipta suatu persamaan persepsi dan tidak muncul salah pengertian pemakaian istilah yang dapat mengaburkan tujuan penelitian. Untuk memperjelas penelitian ini, maka peneliti membatasi konsep-konsep yang digunakan sebagai berikut :

1. Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (seperti reaksi, belajar, perilaku dan hasil organisasi ) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu. Dengan demikian, suatu usaha atau kegiatan dikatakan efektif apabila tujuan atau sasaran dapat dicapai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya dan dapat memberikan manfaat yang nyata sesuai dengan kebutuhan.

2. Penyandang cacat tuna rungu wicara adalah seseorang yang mempunyai kelainan pada alat pendengaran dan bicara sehingga tidak dapat melakukan fungsinya secara wajar.

3. Pelayanan Sosial disebut juga pelayanan kesejahteraan sosial mencakup program pertolongan dan perlindungan kepada golongan yang tidak beruntung seperti pelayanan sosial bagi anak terlantar, keluarga miskin, cacat, tuna sosial dan sebagainya.

4. Program biopsikososial spiritual adalah suatu program ataupun proyek yang berhubungan dengan kondisi fisik, mental sosial dan spiritual yang

(28)

dirancang untuk meningkatkan perkembangan, keberfungsian sosial dan kemandirian remaja tuna rungu wicara.

5. UPT Tuna Rungu Wicara dan Lansia adalah lembaga yang memberikan pelayanan sosial berupa bimbingan sosial, fisik, psikososial dan pendidikan keterampilan bagi remaja tunarungu wicara.

Dengan demikian kita ambil definisi konsep secara keselurahan yang dimaksud dengan efektivitas program pelayanan sosial bagi perkembangan biopsikososial spiritual remaja tuna rungu wicara di UPT tuna rungu wicara dan lansia adalah tercapainya tujuan dari seluruh program yang dilakukan oleh UPT terhadap perkembangan fisik, mental, sosial dan spiritual.

2.6.2 Defenisi operasional

Defenisi operasional adalah proses operasionalisasi konsep yaitu upaya transformasi konsep ke dunia nyata sehingga konsep-konsep penelitian dapat diobservasi (Siagian, 2011). Dengan defenisi operasional dapat diketahui indikator-indikator apa saja yang akan diukur dan dianalisa dalam variabel yang ada.

1. Pemahaman program, meliputi:

a. Sosialisasi program pelayanan sosial yang diberikan kepada remaja tuna rungu wicara

b. Pemahaman setelah sosialisasi program pelayanan sosial remaja tuna rungu wicara

c. Pengetahuan tentang tujuan program pelayanan sosial remaja tuna rungu wicara

d. Pengetahuan tentang metode program pelayanan remaja tuna rungu wicara

(29)

2. Ketepatan sasaran, meliputi:

a. Remaja tuna rungu wicara 18-35 tahun.

b. Tidak memiliki cacat ganda dan penyakit menular. c. Belum menikah.

d. Bersediakan diasramakan.

e. Membawa surat pengantar dari pemerintah setempat. 3. Tepat waktu, meliputi:

a. Ketepatan waktu frekuensi pemberian pelayanan sosial.  Bimbingan Fisik (Biologis)

 Bimbingan Psikososial  Bimbingan Agama (Spritual) 4. Tercapainya tujuan, meliputi:

a. Remaja tuna rungu wicara mendapatkan perlindungan dan kebutuhan secara fisik yang mendukung tumbuh kembang kesehatan yang baik seperti kebutuhan sandang, pangan, papan .

b. Remaja tuna rungu wicara memperoleh bimbingan psikologi dari psikolog secara rutin melalui konseling untuk meningkatkan kepercayaan diri, sikap mental, serta terkait masalah yang dihadapi remaja tuna rungu wicara.

c. Remaja tuna rungu wicara mampu bersosialisasi dilingkungan panti, mengenal sistem kekeluargaan.

d. Remaja tuna rungu wicara memiliki motivasi dan nilai-nilai agama yang mendukung sikap hidup.

5. Adanya perubahan nyata, meliputi: peningkatan kebutuhan biologis seperti makanan, obat-obatan, tempat tinggal, olahraga, kesehatan serta kebersihan.

(30)

Peningkatan mental dan sosial yang lebih baik seperti rasa percaya diri semakin optimal, hubungan sosial dengan orang sekitar harmonis, terpenuhinya rasa kasih sayang, memiliki prestrasi, meningkatnya pengetahuan dasar dan keterampilan.

Peningkatan spritual meliputi pengetahuan agama,rutinitas melakukan solat dan berdoa, intensitas ke rumah ibadah.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :