PENINGKATAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN PENDIDIKAN DI SMAN 08 KABUPATEN BULUKUMBA

101 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN

PENDIDIKAN DI SMAN 08 KABUPATEN BULUKUMBA

Disusun dan diusulkan Oleh NURDIANA USMAN

Nomor Induk Mahasiswa: 105640219015

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

i

PENINGKATAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN PENDIDIKAN DI SMAN 08 KABUPATEN BULUKUMBA

Skripsi

Diajukan kepada Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar untuk memenuhi

Persyaratan guna Memproleh Gelar Sarjana (S1) Ilmu Pemerintahan

Disusundan Diusulkan Oleh NURDIANA USMAN

Nomor Induk Mahasiswa: 105640219015

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)

ii

PERSETUJUAN

Judul Proposal Penelitian : Peningkatan Manajemen Mutu Pendidikan Di SMAN

08 Kabupaten Bulukumba.

Nama Mahasiswa : Nurdiana Usman

Nomor Stambuk : 105640219015

Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyetujui :

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Nuryanti Mustari, S.IP.,M.Si Ahamad Taufik, S.IP, M.AP

Mengetahui

Dekan KetuaJurusan

FisipUnismuh Makassar IlmuPemerintahan

Dr. Hj. Ihyani Malik, Sos.,M.Si Dr. Nuryanti Mustari, S.IP,. M.Si NBM : 730 727 NBM : 103 1102

(4)

iii

PENERIMAAN TIM

Telah diterima oleh TIM penguji skripsi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, berdasarkan Surat Keputusan/undangan menguji ujian skripsi Dekan Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar, Nomor 0079/FSP/A.3-VIII/II/41/2020 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S.1) dalam program studi Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Makassar pada hari Rabu tanggal 5 bulan Februari tahun 2020.

TIM PENILAI

Ketua Sekretaris

Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si. Dr. Burhanuddin, S.Sos., M.Si.

Penguji :

1. Dr. H. Anwar Parawangi, M.Si. (……….)

2. Dr. Amir Muhiddin, M.Si. (……….)

3. Ahmad Taufik, S.IP., M.Si. (……….)

(5)

iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Nurdiana Usman

Nomor Stambuk : 105640219015

Program studi : Ilmu Pemerintahan

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/ dipublikasikan orang lain atau melalui plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun gelar akademik.

Makassar, 30Agustus 2019

Yang menyatakan,

(6)

v

ABSTRAK

Nurdiana Usman, PENINGKATAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN PENDIDIKAN DI SMAN 08 KABUPATEN BULUKUMBA, (dibimbing oleh Nuryanti Mustari dan Ahmad Taufik)

Penelitianini bertujuan untuk mengetahui Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan di sman 08 Kabupaten Bulukumba dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan Di SMAN 08 kabupaten Bulukumba. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan tipe penelitian fenomenologi adapun yang dilakukan untuk mencari dan menyusun secara sistematis yaitu melalui data dokumen dan hasil wawancara. Data kemudian dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasi lpenelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sejumlah program yang berkaitan dengan administrasi perkantoran dalam sebuah institusi pendidikan yang bersifat harian, mingguan, bulanan dan Tri wulan. Selanjutnya pada indikator Peningkatan Kinerja Aparat Pendidikan menunjukkan bahwa untuk peningkatan kinerja pendidikan dibutuhkan sistem penjaminan mutu dimana pada pelaksanaan sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah mengacu pada standar sesuai peraturan yang berlaku. Unsur penjaminan mutu tersebut dapat dalam bentuk Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Sekolah (TPMPS) yang merupakan tim independen di luar manajemen sekolah yang minimal berisi perwakilan pimpinan satuan pendidikan, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya serta komite di satuan pendidikan tersebut. Selanjutnya pada indikator peningkatan kapasitas aparat pendidikan menunjukkan perlunya meningkatkan kapasitas SDM melalui diklat (pendidikan dan pelatihan) yang bertujuan untuk mencapai sistem MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) dan terdapat tuntutan sistem pekerjaan administrasi sekolah yang mengandalkan sistem komputerisasi dan sistem online. Oleh karena itu pengembangan kapasitas diarahkan pada Pembinaan TIK. Kemudian faktor pendukung dalam penelitian ini yaitu jumlah SDM, infrastruktur sekolah yang memandai dan fasilitas yang mendukung kegiatan belajar mengajar di Sekolah. Selain porsi guru yang ideal dengan jumlah rombongan belajar SMAN 08 Bulukumba telah didukung dengan infrastruktur sekolah dan fasilitas yang memadai. Faktor pendukung lainnya adalah kemampuan manajerial dan kepemimpinan kepala sekolah. Selanjutnya faktor penghambatnya yaitu pemerataan kualitas guru yang ada disekolah dan juga kebijakan dan aturan yang kadang-kadang mengalami perubahan sehingga pihak sekolah harus beradaptasi lagi dengan aturan yang baru.

(7)

vi

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tiada kata terindah yang patut di ucapkan oleh peneliti selain puji syukur yang sebesar-besarnya hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala yang telah melimpahkan nikmat kesehatan, kesabaran, kekuatan serta ilmu pengetahuan kepada hambaNya. Atas perkenannya sehingga peneliti dapat menyelesaikan dan mempersembahkan skripsi ini, bukti dari perjuangan yang panjang dan jawaban atas do’a dan senantiasa mengalir dari orang-orang terkasih. Sholawat serta salam “Allahumma Sholli Ala Sayyidina” juga peneliti sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Sang pejuang sejati yang telah membawa kita dari tidak tau menjadi tau.

Skripsi dengan judul “Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan Di SMAN 08 Kabupaten Bulukumba” sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa mulai dari awal hingga akhir proses pembuatan skripsi ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak rintangan, hambatan, dan cobaan yang selalu menyertainya. Hanya dengan ketekunan dan kerja keraslah sehingga membuat penulis termotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini. Juga dengan adanya berbagai bantuan baik berupa moril dan materil dari berbagai pihak sehingga mempermudah penyelesaian penulisan skripsi ini.

Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua tercinta Ayahanda Aiptu Usman Lahabo, BA dan Ibunda

(8)

vii

Hj.Hartawati Yusuf (ALM), yang tidak hentinya mendoakan dan membantu penulis secara tulus dan ikhlas sampai akhirnya bisa ketahap ini.

Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak, diantaranya :

1. Ibu Dr. Ihyani Malik, S.Sos., M.SI selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Dr. Burhanuddin, S.Sos., M.SI selaku wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Dr. NuryantiMustari, S.IP., M.SI selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan dan Bapak Ahmad Harakan, S.IP., M.H.I selaku sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar

4. Ibu Dra. Hj. Sitti Nurmaeta, MM selaku Dosen Penasehat Akademik Penulis 3 tahun menampaki jenjang pendidikan di bangku kuliah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Ibu Dr. Nuryanti Mustari, S.IP.,M.Si dan Bapak Ahmad Taufik, S.IP., M.AP selaku pembimbing I dan II penulis yang selalu memberikan arahan dan dorongan atas penyelesaian skripsi ini.

6. Para Dosen dan Staf Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah banyak memberikan bekal pengetahuan dan membantu penulis selama menjalani proses perkuliahan.

7. Kakak saya Syahra Awaliah Usman, S.E dan Syaskia Rahmah Usman, S.Kep yang selalu memberikan support, mendoakan dan membantu penulis selama kuliah.

(9)

viii

8. Seluruh teman-teman kelas IP-D 2015, yang selama ini selalu bersama-sama mengikuti jadwal kuliah, yang selalu punya cerita dan pengalamannya tersendiri di dalamkelas.

9. Saudariku sahabat-sahabatku Ardita Pratiwi, A. Tenri Fauziah, Eka Lestari, Magfirah, A. Ika Nurul Fadilah yang selalu memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis selama mengerjakan skripsi.

10. Semua keluarga, teman, sahabat dan pihak-pihak yang tidak bias disebut satu-satu, yang telah memberikan dukungan, mendoakan dan membantu penulis selama ini.

Makassar, 30 Agustus 2019

Penulis

(10)

ix DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Lemabar Persetujuan ... ii

Lembar Penerimaan Tim ... iii

Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iv

Abstrak ... v Kata Pengantar ... vi Daftar Isi... ix BAB I PENDAHULUAN ... 1 A.Latar Belakang ... 1 B.Rumusan Masalah ... 5 C.Tujuan Penelitian ... 5 D.Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

A. Konsep Pelayanan Publik ... 6

B.Konsep Manajemen ... 10

1. Definisi Manajemen ... 10

2. Unsur-Unsur Manajemen ... 11

C.Konsep Manajemen Pelayanan ... 14

D.Konsep Pelayanan Pendidikan ... 15

1. Definisi Pelayanan Pendidikan ... 15

2. Dimensi-Dimensi Pelayanan Pendidikan ... 17

E.Konsep Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan ... 18

F. Kerangka fikir ... 23

G.Fokus Penelitian ... 24

H.Deskripsi Fokus Penelitian ... 24

BAB III METODE PENELITIAN ... 26

A.Waktu dan Lokasi Penelitian ... 26

B.Jenis dan Tipe Penelitian ... 26

1. Jenis Penelitian... 26

2. Tipe Penelitian ... 26

(11)

x

1. Data Primer ... 27

2. Data Sekunder ... 27

D.Informan Penelitian ... 28

E.Teknik Pengumpulan Data ... 28

1. Observasi... 28

2. Wawancara ... 28

3. Dokumentasi ... 29

F. Teknik Analisis Data... 29

G.Keabsahan Data ... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32

A.Deskripsi Lokasi Penelitian ... 32

B.Implementasi Program Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Bulukumba ... 54

C.Faktor pendukung dan penghambat Implementasi Program Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan Di Kabupaten Bulukumba... 66 BAB V PENUTUP ... 74 A.Kesimpulan ... 74 B.Saran ... 75 DAFTAR PUSTAKA ... 77 LAMPIRAN

(12)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan sebuah hal mutlak bagi seseorang agar memiliki daya saing yang tinggi. Tanpa memiliki pendidikan yang memadai, seorang anak akan sulit menghadapi persaingan tenaga kerja yang makin kompetitif.

Pendidikan adalah salah satu kebutuhan dasar kehidupan manusia yang akan menentukan kualitas hidup manusia. Walaupun bukan satu-satunya faktor yang menentukan, tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan merupakan kunci sukses hidup seseorang dan ilmu pengetahuan diraih melalui Pendidikan. Pendidikan juga diyakini berperan penting dalam upaya pengentasan kemiskinan, baik miskin ilmu, mental, fisik maupun materi.

Pendidikan merupakan institusi yang paling bertanggung jawab terhadap masa depan suatu bangsa. Institusi pendidikan diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas secara akademik dan sekaligus mumpuni secara moral. Sebab, diakui atau tidak sumberdaya manusia sangat menentukan proses kinerja suatu bangsa. Untuk itu, perbaikan sistem pendidikan menjadi suatu keniscayaan dan sangat signifikan dalam sejarah bangsa. Undang-Undang Sisdiknas, Undang-Undang Guru dan Dosen merupakan bukti keseriusan pemerintah dan para wakil rakyat memperbaiki sektor pendidikan. Setiap proses pendidikan akan mengembangkan seluas-luasnya potensi individu menuju perbaikan dan perubahan. Perubahan ini penting untuk menyesuaikan dengan

(13)

tuntutan zaman yang semakin kompleks dalam persaingan global yang semakin ketat dan kompetitif.

Memasuki era globalisasi yang sarat dengan perubahan yang cepat, radikal dan penuh tantangan di berbagai aspek kehidupan, globalisasi perlu disikapi secara arif dan dimanfaatkan serta dianggap sebagai peluang. Berangkat dari pemikiran tersebut, upaya untuk menciptakan manusia yang bersumber daya unggul, tangguh dan berkualitas, memiliki keseimbangan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan serta taqwa kepada Allah SWT, tidak bisa ditunda lagi ( Engking Soewarman 2002: 2)

Upaya meningkatkan mutu pendidikan merupakan serangkaian kebijakan pemerintah menyusul adanya indikasi semakin merosotnya mutu pendidikan yang berdampak pada rendahnya mutu SDM belakangan ini. Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya nyata walaupun belum optimal untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang diamanatkan Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003. Dalam pasal itu disebutkan,

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Tidak berlebihan jika kekhawatiran muncul karena realitas menyebutkan bahwa banyak hal yang telah diundangkan secara resmi oleh pemangku kebijakan, namun bukan merupakan barang jaminan untuk menjadi kenyataan. Misalnya, anggaran pendidikan 20% secara difinitif termaktub dalam pasal 31 ayat 4 UUD

(14)

45, diperkuat pada pasal 49 UU RI No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional belum terpenuhi. Fenomena imajinatif inilah merupakan salah satu penyebab mandulnya pendidikan di Indonesia.

Pemerintah sudah cukup berupaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan, misalnya adanya perubahan kurikulum, penyediaan infra struktur, penyediaan buku pelajaran, adanya pendidikan dan pelatihan, bintek, workshop dan kegiatan akademik lainnya. Pemberlakuan desentralisasi pendidikan yang merupakan salah satu implikasi Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1999 dipandang secara mikro memberikan keleluasaan sekolah agar dapat mandiri sesuai dengan kubutuhan siswa dan kultur sekolah.

Berbagai kegiatan program pelayanan pendidikan yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba antara lain; Manajemen Pendataan Pendidikan, Fasilitasi Akreditas Sekolah / Madrasah, Fasilitasi Penyelenggaraan Ujian Nasional, Fasilitasi Pembinaan Nasionalisme, Evaluasi Kinerja Kepala SMA, Fasilitasi Pendidikan Untuk Semua, Fasilitasi Pendidikan Untuk Inklusi, Fasilitasi PUG Bidang Pendidikan, Fasilitasi Monev Pada Satuan Pendidikan, Fasilitasi Penilaian Kinerja Kepala Satuan Pendidikan, Pembinaan Peserta Didik/Pendidik/Tenaga Kependidikan Berprestasi, Penyelenggaraan Hari Besar Nasional, serta masih banyak lagi sederet kebijakan pemerintah untuk meningkatkan baik kuantitas maupun kualitas pendidikan.

Pelayanan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan tertentu dimana tingkat pemuasannya hanya dapat

(15)

dirasakan oleh orang yang melayani atau dilayani, tergantung kepada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan pengguna (Moenir, 2002:26).

Program-program pelayanan pendidikan pada sebuah Lembaga Pendidikan tidak serta merta dilaksanakan begitu saja untuk mendapatkan hasil yang maksimal, yang harus diterapkan adalah peran dan fungsi manajemen karena setiap Lembaga memerlukan sebuah perencanaan yang matang dalam melakukan suatu aktivitas.

Adapun indikator yang tercantum dalam Rencana Strategi Dinas Pendidikan yaitu Peningkatan Administrasi Perkantoran, Peningkatan Kinerja Aparat Pendidikan, dan Peningkatan Kapasitas Aparat Pendidikan dalam pelayanan manajemen mutu pendidikan.

Manajemen pendidikan yang baik sangat didambakan untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, yang secara politis diharapkan dapat menjadi landasan dalam pengembangan pendidikan di Indonesia baik secara makro maupun mikro. Kebijakan tersebut menawarkan satu model manajemen yang cocok diterapkan di sekolah sebagai bentuk aktualisasi dari otonomi secara mikro. Untuk itu, peneliti merasa perlu mengkaji, mendalami konsep dan hal ihwal yang mengkait dengan kendala dan solusinya, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Sehubungan dengan itu, untuk mewujudkan semua ini peneliti sengaja mengedepankan program manajemen pelayanan pendidikan menjadi fokus penelitian ini, dengan judul “PENINGKATAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN PENDIDIKAN DI SMAN 08 KABUPATEN BULUKUMBA

(16)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dirumuskan masalah pokok penelitian ini yaitu :

1. Bagaimana Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan di SMAN 08 Kabupaten Bulukumba?

2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat Peningktaan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan di SMAN 08 Kabupaten Bulukumba?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu :

1. Untuk mengetahui Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan di SMAN 08 Kabupaten Bulukumba.

2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan di SMAN 08 Kabupaten Bulukumba.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu : 1. Manfaat Teoritis

Diharapkan dengan penelitian ini dapat menjadi bahan informasi kepada pembaca dan dapat dijadikan referensi bagi peneliti yang lain.

2. Manfaat Praktis

Sebagai tambahan pengetahuan mengenai Implementasi Program Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan Di Kabupaten Bulukumba.

(17)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Pelayanan Publik

Menurut Moenir (2010 : 26) pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materi melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya. Pelayanan hakikatnya adalah serangkaian kegiatan, karena itu pelayanan merupakan sebuah proses. Sebagai proses, pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan orang dalam masyarakat. Kemudian Sinambela (2011:5) mengemukakan pelayanan publik diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi iti sesuai dengan aturan pokok dan tatacara yang telah ditetapkan.

Adapun krakteristik layanan yang terdapat dalam Tjiptono, (2004 : 69) yaitu

1. Reliability: memiliki konsistensi dalam kinerja dan ketahanannya, kinerja yang benar saat pertama dimulai sampai selesai, menepati janji dan akurat dalam spesifikasi, sesuai dengan iklan dan label.

2. Responsiveness: tanggap atau memberikan respon terhadap klaim atau protes konsumen, kesiapan karyawan memberikan layanan pada waktu yang diperlukan, respon yang cepat atas perubahan lingkungan, misalnya teknologi, peraturan, perilaku konsumen yang berubah yang harus

(18)

3. diantisipasi dengan kemungkinan penawaran baru untuk produk atau jasa yang belum ada di pasar.

4. Competence: menguasai ketrampilan dan pengetahuan yang memadai untuk memberikan service yang diperlukan.

5. Access: kemudahan dalam memperoleh akses atau layanan, waktu tunggu yang cepat, jam operasional yang relatif panjang termasuk di akhir pekan sabtu dan minggu.

6. Courtesy: sopan santun, respek, perhatian, tulus, dan keramahan, ramah tamah, sabar mendengar keluhan pelanggan.

7. Communication: penyampaian informasi kepada para konsumen dalam bahasa yang difahami konsumen, mendengarkan dan memperhatikan suara konsumen, menyesuaikan bahasa kepada kebutuhan konsumen yang berbeda, menjelaskan perihal layanan atau jasa yang ditawarkan, dan bagaimana masalah-masalah yang timbul akan diatasi.

8. Credibility: kepercayaan, keandalan, kejujuran , reputasi perusahaan, karakteristik pribadi dari karyawan perusahaan.

9. Security: bebas dari bahaya, resiko, atau keraguan, keamanan fisik, keamanan finansial, kerahasiaan.

10. Understanding the customer: memahami konsumen,berusaha mengerti kebutuhan konsumen, belajar memahami kebutuhan konsumen yang spesifik, memberikan perhatian pribadi, memperhatikan langganan yang baru maupun reguler dan royal.

(19)

11. Assurance: memiliki sumber daya manusia dan teknologi serta fasilitas untuk memberikan jaminan memenuhi kebutuhan konsumen dengan jasa purnajual jangka panjang,bukan sesaat saja sewaktu menyerahkan barang. 12. Tangibles: bukti physik adanya jasa (service) ;fasilitas physik ; penampilan

personil atau karyawan; perangkat (tools) untuk menyediakan jasa atau layanan, pelayanan jasa dengan kemudahan, efektifitas dan efisiensi bagi konsumen, dan servis yang melekat pada produk.

Manajemen pelayanan publik yang diselenggarakan oleh aparatur pemerintahan dimaknai sebagai keseluruhan kegiatan pengelolaan pelayanan oleh instansi-instansi pemerintah atau badan hukum lain milik pemerintah kepada masyarakat sesuai dengan kewenangannya, baik pelayanan yang diberikan secara langsung maupun tidak langsung melalui kebijakan-kebijakan tertentu.

Sejalan dengan perkembangan penyelenggaraan negara dan dalam upaya mewujudkan pelayanan prima, paradigm pelayanan publik berkembang dengan fokus pengelolaan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (costumer driven government), dengan ciri-ciri berikut :

1) Lebih memfokuskan kepada fungsi pengaturan, melalui berbagai kebijakan yang memfasilitasi berkembangnya peluang yang kondusif bagi kegiatan pelayanan oleh masyarakat;

2) Lebih memfokuskan diri pada pemberdayaan masyarakat, sehingga masyarakat mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap fasilitas pelayanan yang telah dibangun bersama;

(20)

3) Menerapkan sistem kompetisi dalam hal penyediaan pelayanan publik tertentu;

4) Berfokus pada pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran yang berorientasi pada hasil (outcomes) yang sesuai dengan input yang digunakan;

5) Lebih mengutamakan keinginan masyarakat;

6) Dalam hal tertentu, Pemerintah berperan juga untuk memperoleh pendapatan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan;

7) Lebih mengantisipasi permasalahan pelayanan; 8) Lebih mengutamakan desentralisasi dalam pelayanan; 9) Menerapkan sistem pasar dalam memberikan pelayanan.

Selanjutnya dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik dikemukakan pengertian tentang Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

Tujuan Undang-Undang tentang Pelayanan Publik adalah:

a. terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung jawab, kewajiban, dan kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik;

b. terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik;

(21)

c. terpenuhinya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan

d. terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

Pelayanan publik yang terkait dengan peningkatan mutu pendidikan dikemukakan dalam Hadijaya (2012) bahwa indikator yang tercantum dalam Rencana Strategi Dinas Pendidikan yaitu (1) Peningkatan Administrasi Perkantoran, (2) Peningkatan Kinerja Aparat Pendidikan, dan (3) Peningkatan Kapasitas Aparat Pendidikan dalam pelayanan manajemen mutu pendidikan. B. Konsep Manajemen

1. Definisi Manajemen

Kata manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Selain itu juga, manajemen berasal dari bahasa inggris yaitu management berasal dari kata manage menurut kamus oxford yang artinya memimpin atau membuat keputusan di dalam suatu organisasi.

Istilah manajemen yang diterjemahkan dari kata manage memang biasanya dikaitkan dengan suatu tindakan yang mengatur sekelompok orang di dalam organisasi atau lembaga tertentu demi mencapai tujuan-tujuan tertentu. Pada penelitian ini, peneliti mengutip definisi manajemen menurut beberapa ahli.

Menurut Manulang (Atik & Ratminto, 2012: 1) mendefinisikan manajemen sebagai suatu seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian,

(22)

pengarahan, penyusunan dan pengawasan daripada sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. G.R Terry (Hasibuan, 2009 : 2) mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumbersumber lainnya.

Menurut Stoner dan Freeman (Safroni, 2012: 44) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan proses penggunaan semua sumber daya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Berdasarkan pengertian-pengertian manajemen yang telah dijelaskan diatas, maka dalam penelitian ini dapat dipahami bahwa manajemen merupakan suatu rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian serta pengawasan dengan memanfaatkan sumber daya manusia serta sumber-sumber daya lainnya untuk mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditentukan.

2. Unsur-unsur Manajemen

George R. Terry mengemukakan bahwa unsur dasar (basic elements) yang merupakan sumber yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan dalam manajemen adalah:

(23)

Men (manusia, orang-orang, tenaga kerja) merupakan tenaga kerja yang meliputi baik tenaga kerja eksekutif maupun operatif. Dalam kegiatan manajemen faktor manusia adalah yang paling menentukan. Titik pusat dari manajemen adalah manusia, sebab manusia membuat tujuan dan dia juga yang melakukan proses kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya itu. Tanpa tenaga kerja tidak akan ada proses kerja. Hanya saja manajemen itu sendiri tidak akan timbul apabila setiap orang bekerja untuk diri sendiri saja tanpa mengadakan kerjasama dengan yang lain.

2) Money (Uang)

Money (uang yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan) merupakan unsur yang penting untuk mencapai tujuan, disamping faktor manusia yang menjadi unsur paling penting (the most important tool) dan faktor-faktor lainnya. Dalam Dunia modern yang merupakan faktor yang paling penting sebagai alat tukar dan alat pengukur nilai suatu usaha. Suatu perusahaan yang bisa diukur pula dari jumlah uang berputar pada perusahaan itu. Tetapi yang menggunakan uang tidak hanya perusahaan saja, instansi pemerintahan dan yayasan juga menggunakannya. Jadi uang diperlukan dari setiap kegiatan manusia untuk mencapai tujuannya.

3) Methods (Cara)

Methods (cara yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan) yaitu untuk melakukan kegiatan secara guna dan berhasil guna,

(24)

manusia dihadapkan dengan berbagai alternatif metode atau cara untuk menjalankan pekerjaan tersebut sehingga cara yang dilakukannya dapat menjadi sarana atau alat manajemen untuk mencapai tujuan. Atau cara yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. Metode ini diperlukan dalam setiap kegiatan manajemen yaitu dalam kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengawasan.

4) Machines (Mesin)

Machines (alat yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan) perana mesin sebagai alat pembantu yang dapat meringankan dan memudahkan dalam melaksanakan pekerjaan. Hanya yang perlu diingat bahwa penggunaan mesin sangat tergantung pada manusia, bukan manusia yang tergantung oleh mesin.

5) Materials (Bahan atau perlengkapan)

Materials (bahan atau perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan) manusia tanpa material atau bahan-bahan tidak akan bisa mencapai tujuan yang diinginkan, sehingga unsur material dalam manajemen tidak dapat diabaikan.

6) Market (Pasar)

Market (pasar atau tempat menjual barang yang dihasilkan) bagi suatu perusahaan, pemasaran produk yang dihasilkan tentu yang paling penting bagi kelangsungan proses produksi dari perusahaan itu sendiri. Proses produksi suatu barang akan berhenti apabila

(25)

barang-barang yang diproduksi itu tidak laku atau tidak diserap oleh konsumen. Oleh karena itu pasar sangat penting untuk dikuasai demi kelangsungan proses kegiatan perusahaan atau industri.

Dari ke enam unsur tersebut saling terkait antara unsur yang pertama dengan unsur yang lainnya yaitu dalam sebuah perusahaan manusia dalam unsur manajemen sangat berperan penting karena dalam kegiatan manajemen faktor manusia yang paling menentukan, selain faktor manusia dalam sebuah perusahaan uang sangat membantu untuk mencapai tujuan dengan menggunakan cara atau alat yang bisa menghasilkan suatu barang dan jasa yang bermanfaat.

C. Konsep Manajemen Pelayanan

Gibson, Donelly dan Ivancevich (2005) Manajemen Pelayanan mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses yang dilakukan oleh satu atau lebih individu untuk mengkoordinasikan berbagai aktivitas lain untuk mencapai hasil–hasil yang tidak bisa dicapai apabila satu individu bertindak sendiri.

Menurut Ratminto (2005) manajemen pelayanan dapat diartikan sebagai suatu proses penerapan ilmu dan seni untuk menyusun rencana, mengimplementasikan rencana, mengkoordinasikan dan menyelesaikan aktivitas-aktivitas pelayanan demi tercapainya tujuan-tujuan pelayanan yang tegas dan ramah terhadap konsumen, terciptanya interaksi khusus dan control kualitas dengan pelanggan.

Menurut Brata (2003) mengatakan bahwa “Suatu pelayanan akan terbentuk dikarenakan adanya sebuah proses pemberian layanan tertentu dari pihak penyedia

(26)

layanan pada pihak yang dilayaninyaDan selain itu juga brata menambahkan bahwa suatu pelayanan bisa terjadi diantara seseorang dengan seseorang yang lain, seseorang dan juga dengan kelompok, atau juga kelompok dengan seseorang seperti halnya orang-orang yang berada didalam sebuah organisasi. Yang juga memberikan pelayanan pada orang-orang yang ada di sekitarnya yang juga membutuhkan sebuah informasi organisasi itu sendiri.

D. Konsep Pelayanan Pendidikan 1. Definisi Pelayanan Pendidikan

Pengertian Pelayanan Pendidikan Dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia jasa pendidikan memegang peranan penting. Akan tetapi, minat dan perhatian pada aspek kualitas jasa pendidikan bisa dikatakan baru berkembang dalam satu decade terakhir. Keberhasilan jasa pendidikan ditentukan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada para pengguna jasa pendidikan tersebut (siswa, stakeholder, masyarakat).

Secara sederhana layanan pendidikan bisa diartikan dengan jasa pendidikan. Kata jasa (service) itu sendiri memiliki beberapa arti, mulai dari pelayanan pribadi (personal service) sampai pada jasa sebagai suatu produk. Sebelum lebih jauh membahas mengenai layanan pendidikan, terlebih dahulu akan dibahas mengenai pengertian jasa menurut beberapa ahli, sehingga pembahasan ini dapat dipahami secara komprehensif.

Selanjutnya Stanton mengungkapkan bahwa jasa diidentifikasi sebagai kegiatan tidak berwujud yang merupakan obyek utama dari

(27)

transaksi yang dirancang untuk menyediakan keinginan atau kepuasan kepada pelanggan.

Sedangkan Zaithmal dan Bitner berpendapat:

“include all economic activities whose output is not a physical product or construction, is generally consumed at the time it is produced, and provides added value in forms (such as convenience, amusement, timelines, comfort of health) that are essentially intangible concerns of its first purchaser”.

Jasa pada dasarnya merupakan seluruh aktivitas ekonomi dengan output selain produk dan pengertian fisik, dikonsumsi dan diproduksi pada saat bersamaan, memberikan nilai tambah dan secara prinsip tidak berwujud (intangible) bagi pembeli pertamanya.

Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan sebagai produk jasa merupakan sesuatu yang tidak berwujud akan tetapi dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang diproses dengan menggunakan atau tidak menggunakan bantuan produk fisik dimana proses yang terjadi merupakan interaksi antara penyedia jasa dengan pengguna jasa yang mempunyai sifat yang tidak mengakibatkan peralihan hak atau kepemilikan. Jasa bukan barang melainkan suatu proses atau aktivitas yang tidak berwujud.

Layanan adalah meliputi segenap kegiatan ekonomi yang menghasilkan output (keluaran) berupa produk atau kontruksi (hasil karya) nonfisik, yang lazimnya dikonsumsi pada saat diproduksi dan memberi nilai tambah pada bentuk (form) seperti kepraktisan,

(28)

kecocokan/kepantasan, kenyamanan, dan kesehatan, yang pada intinya menarik cita rasa pada pembeli pertama.

Sementara itu, jasa pendidikan merupakan layanan yang bersifat kompleks karena sifat padat karya dan padat modal. Artinya, dibutuhkan banyak tenaga kerja yang memiliki skill khusus dalam bidang pendidikan dan padat modal karena membutuhkan infrastruktur (peralatan) yang lengkap dan harganya mahal. Pendidikan merupakan proses pemanusiaan manusia atau suatu proses yang harus dilakukan baik yang terlembaga maupun tidak terlembaga yang menyangkut fisik dan non fisik dan membutuhkan infrastruktur dan skil ataupun keterampilan.

Dengan demikian layanan pendidikan adalah seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan yang mengutamakan pelayanan dalam prosesnya. Karakteristik layanan Pendidikan Pada dasarnya layanan adalah sesuatu yang diberikan oleh satu pihak kepada pihak lain yang sifatnya tidak berwujud dan tidak memiliki dampak perpindahan hak milik.

2. Dimensi-dimensi Pelayanan Pendidikan

Dimensi-Dimensi Pelayanan Pendidikan untuk memperjelas bentuk layanan yang diberikan maka peneliti memberikan beberapa dimensi yang dijadikan tolak ukur pelayanan dalam memberikan kepuasan kepada pelanggan pendidikan. Tim dosen administrasi Universitas Pendidikan Indonesia, Leonard Berry, A. Parasuraman, dan Valerie Zeithmal menemukan bahwa ada lima penentu kualitas layanan sesuai urutan tingkat kepentingan pelanggan sebagai berikut:

(29)

1) Reliabilitas (reliability) Kemampuan lembaga pendidikan untuk melaksanakan layanan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. 2) Daya Tanggap (responsiveness) Berkenan dengan kesediaan dan

kemampuan untuk membantu pengguna jasa (siswa, stakeholder, dan masyarakat) dan merespon permintaan mereka dengan cepat.

3) Jaminan (assurance) Jaminan mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan respek terhadap peserta didik. Jaminan memiliki sifat dapat dipercaya, bebas dari bahaya dan keragu-raguan. Sebagaimana yang tercantum dalam pasal 28 Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005, yang berisi tentang, “Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan ruhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

4) Empati (empathy) Berarti bahwa lembaga pendidikan bersedia untuk peduli kepada pengguna jasa dan memberi perhatian pribadi kepada para pengguna jasa (siswa, stakeholder, dan masyarakat) dan memiliki jam operasi yang nyaman.

5) Bukti Fisik (tangibles) Berhubungan dengan penampilan fasilitas fisik, peralatan / perlengkapan, personil dan materi komunikasi.

E. Konsep Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan

Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menghendaki sebuah sistem pendidikan yang mampu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi,

(30)

memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Berlakunya Undang-Undang ini berdampak semakin banyaknya aktivitas yang harus ditangani oleh lembaga pendidikan dalam rangka mewujudkan amanat Undang-Undang itu sendiri. Oleh karena itu penyelenggara pendidikan dituntut untuk memahami dan mempraktikkan ilmu manajemen layanan.

Pelayanan bertujuan untuk memenuhi kepuasan dan harapan pelanggan. Para ahli menefinisikan kepuasan sebagai perasaan senang atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap ekspektasi mereka. Dikemukakan dalam Hadijaya (2012) bahwa indikator yang tercantum dalam Rencana Strategi Dinas Pendidikan yaitu Peningkatan Administrasi Perkantoran, Peningkatan Kinerja Aparat Pendidikan, dan Peningkatan Kapasitas Aparat Pendidikan dalam pelayanan manajemen mutu pendidikan.

Kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan merupakan respon pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya. Sedangkan harapan pelanggan merupakan keyakinan pelanggan sebelum mencoba atau membeli suatu produk, yang dijadikan acuan dalam menilai kinerja produk tersebut.

Kepuasan, harapan dan mutu merupakan hal yang saling berkaitan. Suharsaputra (2015:292) menyatakan bahwa “quality and customer satisfaction are the same thing”. Ini berarti sebagus dan semahal apapun suatu produk

(31)

dihasilkan atau pelayanan diberikan menjadi sia-sia jika tidak membuat pelanggan puas. Oleh karena itu kepuasan pelanggan menjadi perhatian penyelenggara pelayanan untuk menetapkan arah kebijakan melalui upaya memperbaiki dan meningkatkan kinerja manajemen penyelenggara. Kualitas layanan merupakan inti utama manajemen pelayanan.

Para penyedia layanan menjadikan mutu layanan sebagai indikator dalam penerapan manajemennya, tanpa memandang apapun jenis barang dan jasa layanannya, siapapun aktor penyedia layanan yang berperan, serta bagaimanapun metode dan model layanan yang dipilih.

Para ahli mendefinisikan mutu layanan sebagai suatu aktivitas yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang bersifat kasat mata, tidak menghasilkan kepemilikan apapun, berkaitan dengan produk, jasa, manusia, proses, lingkungan yang diperlukan pelanggan, dalam rangka memenuhi atau bahkan melebihi kebutuhan dan harapannya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa layanan pendidikan memiliki peran yang penting bagi lembaga pendidikan sebagai penyelenggara layanan agar mampu bersaing di era global dewasa ini. Tuntutan yang diharapkan dari pelanggan adalah terjaminnya kualitas baik akademis maupun administratif. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan oleh lembaga pendidikan agar memiliki tempat yang mapan di hati masyarakat, yaitu : mampu amenarik minat pelanggan, tanpa mencari sudah dicari oleh pelanggan, pelayanannya memuaskan bagi pelanggan.

(32)

Peningkatan mutu layanan pendidikan bukan sesuatu yang mudah, terkadang penyelenggaraannya sering menghadapi permasalahan. Rasa tidak puas dari para pelanggan baik eksternal maupun internal sering muncul. Ketidakpuasan pelanggan ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan layanan belum memenuhi ekspektasi dan harapan pelanggan. Mutu dalam pendidikan dapat dilihat dari segi relevansinya dengan kebutuhan masyarakat, dapat tidaknya lulusan dapat melanjutkan ke jenjang selanjutnya bahkan sampai memperoleh suatu pekerjaan yang baik, serta kemampuan seseorang didalam mengatasi persoalan hidup. Mutu pendidikan dapat ditinjau dari kemanfaatan pendidikan bagi individu, masyarakat dan bangsa atau Negara. Secara spesifik ada yang melihat mutu pendidikan dari segi tinggi dan luasnya ilmu pengetahuan yang ingin dicapai oleh seseorang yang menempuh pendidikan.

Wolkins dalam Prasetyo (2012:7-8) mengemukakan ada enam faktor yang menentukan kualitas pelayanan, yaitu : organisasi, kepemimpinan, struktur organisasi, kemampuan aparat, sistem layanan dan penghargaan.

Menurut Hanafiah, & Suhana (2012:82) dalam konteks pendidikan yang dimaksud dengan pelanggan atau klien (clien) dibagi menjadi dua, yakni pelanggan internal dan pelanggan eksternal.

1. Pelanggan internal (Internal customer) adalah orang-orang yang berada di organisasi sekolah, yaitu guru, staf tata usaha, pesuruh (Office boys), Cleaning service, pelayan teknis, dan komponen lainya.

(33)

2. Pelanggan eksternal (exsternal customer) adalah orang-orang yang berada diluar organisasi sekolah yang memperoleh layanan sekolah. Pelanggan eksternal dibagi menjadi dua macam, yakni:

1) Pelanggan primer (Primery customer) adalah pelanggan utama, yaitu oarang-orang yang langsung bersntuhan dengan jasa-jasa pendidikan yang diberikan oleh sekolah, seperti peserta didik.

2) Pelanggan sekunder (secondary customer) adalah pihak-pihak lain yang tidak secara langsung terimbas dari layanan pendidikan yang diberikan oleh sekolah, yakni oragtua siswa, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha/industri sebagai pengguna tenaga kerja.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa mutu pendidikan artinya kemampuan lambaga pendidikan dalam mempedayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin. Peningkatan mutu pendidikan berkaitan erat dengan peningkatan hasil belajar siswa bahkan dapat dikatakan mutu pendidikan tercermin pada hasil belajar siswa. Aspek yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa adalah situasi belajar mengajar. Situasi belajar mengajar yang efektif akan dapat menghasilkan peningkatan mutu pendidikan.

Komponen sekolah termasuk guru harus partispatif dan bersama-sama membuat keputusan agar faktor-faktor penentu keberhasilan peningkatan mutu dikelola dan disinergikan untuk mencapai tujuan penyelenggaraan pendidikan di sekolah yaitu terciptanya kualitas output. Salah satu faktor

(34)

penentu kualitas lulusan yaitu manajemen sarana prasarana. Dengan manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan kualitas lulusan sekolah menengah kejuruan mampu dan siap untuk bekerja di dunia industri.

F. Kerangka Fikir

Implementasi Program Peningkatan Mutu Manajemen Pelayanan Pendidikan Di

Kabupaten Bulukumba Faktor Pendukung 1. SDM dan infrastruktur Sekolah 2. Kemampuan Manajerial dan Kepemimpinan Kepala Sekolah Faktor Penghambat 1. Kurangnya Pemerataan kualitas guru 2. Perubahan Kebijakan Pendidikan Indikator Manajemen Pelayanan

Pendidikan:

1) Peningkatan Administrasi Perkantoran.

2) Peningkatan Kinerja Aparat Pendidikan

3) Peningkatan Kapasitas Aparat Pendidikan

Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Bulukumba Meningkat

(35)

G. Fokus Penelitian

Untuk menghindari terjadinya penafsiran yang keliru dari pembaca dan keluar dari pokok permasalahan, oleh karena itu penelitian fokus pada “Implementasi Program Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan Di Kabupaten Bulukumba”.

H. Deskripsi Fokus Penelitian

Berdasarkan pada fokus penelitian di atas, dapat dideskripsikan berdasarkan substansi permasalahan dan subtansi pendekatan penelitian ini, yaitu Implementasi Program Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan Di Kabupaten

Bulukumba. Maka deskripsi fokus penelitian iniadalah:

1. Implementasi Program Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan di Kabupaten Bulukumba

a. Peningkatan Administrasi Perkantoran

Dengan dilaksanakannya peningkatan administrasi perkantoran dapat

mewujudkan pelayanan administrasi perkantoran dengan baik. Serta sasaran

program administrasi perkantoran untuk kepuasan masyarakat/aparatur

terhadap pelayanan adaministrasi perkantoran dan kenyamana kantor

b. Peningkatan Kinerja Aparat Pendidikan

Memberikan peningkatan kedisiplinan kinerja aparat demi untuk

mendapatkan kualitas pekerja yang maksimal dan menghasilkan tenaga

kerja yan professional.

(36)

Dengan dilaksanakannya peningkatan kapasitas aparat pada pelayanan

pendidikan dapat mewujudkan peningkatan kapasitas kelembagaan yang

tepat dan fungsional sesungguhnya

2. Faktor Pendukung Pemerintah daerah dalam Penerapan Program Manajemen Pelayanan Mutu Pendidikan Di kabupaten Bulukumba

Yang dimaksud disini adalah hal-hal yang memengaruhi sesuatu menjadi berkembang, memajukan, menambah dan menjadi lebih dari sebelumnya.

3. Factor Penghambat Pemerintah daerah dalam Penerapan Program Manajemen Pelayanan Mutu Pendidikan Di kabupaten Bulukumba

Yang dimaksud adalah hal-hal yang berpengaruh sedikit/bahkan menghentikan sesuatu menjadi lebih dari sebelumnya.

(37)

26 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Adapun waktu penelitian dilaksanakan selama 2 bulan setelah seminar penelitian. Lokasi penelitian yaitu Di UPT Dinas Pendidikan Kabupaten Bulukumba dan Instansi-Instansi yang terkait. Alasan Peneliti memilih lokasi ini karena data ataupun dokumen-dokumen dapat di peroleh dari sekolah SMAN 08 Kabupaten Bulukumba dan Instansi-Instansi yang terkait. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tentang Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan Di SMAN 08 Kabupaten Bulukumba.

B. Tipe dan Jenis Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penilitian ini adalah metode kualitatif dengan cara melakukan wawancara dan observasi langsung terhadap informan. Tujuan untuk mengetahui dan memahami mengenai Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan Di SMAN 08 Kabupaten Bulukumba

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian adalah tipe fenomenologi. Maksud dari fenomenologi itu sendiri adalah dalam penelitian ini akan digambarkan dan dijelaskan masalah-masalah dalam proses mengenai Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan. Selain masalah yang ditemukan oleh peneliti sendiri tentunya masalah yang dialami oleh informan sebagai

(38)

pendukung penelitian berdasarkan apa yang diketahui dan dialami oleh informan.

C. Sumber Data

Sumber data ada dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang didapatkan peneliti secara langsung, sedangkan data sekunder adalah data yang didapatkan peneliti dari sumber data yang sudah ada. Dibawah ini penjelasan yang lebih lanjut yaitu sebagai berikut:

1. Data Primer

Data primer, yaitu data yang diperoleh dari pengamatan langsung (observasi/wawancara), dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada implementor dan masyarakat yang berpengaruh tentang bagaimana proses mengenai Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan. Data primer juga dimaksudkan untuk pengenalan kondisi fisik dan sosial ekonomi wilayah kota secara langsung melalui kunjungan ke semua bagian wilayah kota.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data pendukung yang diperlukan untuk melengkapi data primer yang dikumpulkan. Hal ini dilakukan sebagai upaya penyesuaian dengan kebutuhan data lapangan yang terkait dengan objek yang dikaji. Data sekunder terutama diperoleh melalui dokumentasi.

(39)

D. Informan Penelitian

Teknik penentuan informan dilakukan secara purposive yaitu sengaja memilih orang-orang yang dianggap paling mengetahui dan dapat memberikan informasi sesuai dengan tujuan penelitian. Berikut merupakan jumlah informan dalam penelitian.

No Informan Keterangan

1. Kepala UPT Dinas Pendidikan 1 Orang

2. Sekretaris UPT Dinas Pendidikan 1 Orang 3. Kepala Sekolah SMAN 8 Bulukumba 1 Orang 4. Kepala Tata Usaha SMAN 8 Bulukumba 1 Orang 4. Pegawai/Guru SMAN 8 Bulukumba 2 Orang

Jumlah 6 Orang

E. Teknik Pengumpulan Data

Guna memperoleh data yang relevan dengan tujuan penelitian, maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Observasi

Yaitu pengamatan yang dilakukan peneliti secara langsung dilapangan untuk memperoleh data mengenai mengenai Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan Di Kabupaten Bulukumba

2. Wawancara

Peneliti akan melakukan wawancara langsung secara mendalam kepada informan yang menjadi obyek dari penelitian ini yaitu Kepala/ Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah beserta Pegawai/Guru yang

(40)

bersangkutan. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh informasi penelitian mengenai mengenai Peningkatan Manajemen Mutu Pelayanan Pendidikan Di Kabupaten Bulukumba.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah melakukan pengumpulan data mengenai UPT Dinas Pendidikan Kabupaten Bulukumba maupun Instansi-instansi yang berkaitan dengan penerapan manajemen mutu pendidikan yang berkaitan dengan penelitian ini berbentuk catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen, literatule dan sebagainya.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data ialah langkah selanjutnya untuk mengelola data dimana data yang diperoleh, dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untukmenyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian. Dalam model ini terdapat 3 (tiga) komponen pokok. Menurut Miles dan Huberman (2007) ketiga komponen tersebut yaitu:

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Penyajian data dan penarikan kesimpulanatau verifikasi. Proses reduksi data adalah suatu proses pemilihan data penyederhanaan, pengabstrakan data dan transformasi kasat yang manual dari catatan-catatan dilapangan.

2. Penyajian Data (Data Display)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data merupakan kumpulaninformasi tersusun untuk memungkinkan terdapatnya penarikan

(41)

kesimpulan dan pengambilan tindakan dengan melihat penyajian-penyajian agar kita dapat memahami apa yang tengah terjadi serta yang harus dilakukan.

3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion Drawing/ Verification)

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi adalah dengan memulai mencaridata dan mencari arti pola-pola, benda, mencatat keteraturan, penejelasan, konfigurasi yang munkin alur sebab akibat dan proposisi.

G. Keabsahan Data

Salah satu cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengujian kredibilitasdata adalah dengan triangulasi. Menurut sukri (Sugiyono, 2013), Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, danberbagai waktu. Lebih lanjut Sugiyono membagi triangulasi ke dalam tiga macam, yaitu:

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada. Kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.

(42)

2. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Dalam hal ini data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumen.Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.

3. Triangulasi Waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya.

(43)

32 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian

Kabupaten Bulukumba berada di 153 Km dari Makassar Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan terletak di bagian selatan dari jazirah Sulawesi Selatan dengan luas wilayah kabupaten 1.154,67 km² atau 1,85% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, yang secara kewilayahan Kabupaten Bulukumba berada pada kondisi empat dimensi, yakni dataran tinggi pada kaki gunung Bawakaraeng-Lompobattang, ataran rendah, pantai dan laut lepas.

Kabupaten Bulukumba terletak diantara 05º20´ - 05º40´ LS dan 9º58´ - 120º28´ BT dengan batas-batas yakni: - Sebelah utara berbatasan Kabupaten Sinjai; - Sebelah Timur berbatasan Teluk Bone dan Pulau Selayar - Sebelah Selatan berbatasan Laut Flores; - Sebelah Barat berbatasan Kabupaten Bantaeng; Kabupaten Bulukumba terdiri dari 10 kecamatan yaitu Kecamatan Ujung Bulu (Ibukota Kabupaten), Gantarang, Kindang, Rilau Ale, Bulukumpa, Ujung Loe, Bontobahari, Bontotiro, Kajang dan Herlang. 7 diantaranya termasuk daerah pesisir sebagai sentra pengembangan pariwisata dan perikanan yaitu Kecamatan: Gantarang, Ujung Bulu, Ujung Loe, Bontobahari, Bontotiro, Kajang dan Herlang. 3 Kecamatan sentra pengembangan Pertanian dan Perkebunan yaitu Kecamatan Kindang, Rilau Ale dan Bulukumpa. Kabupaten Bulukumba juga mempunyai 6 buah pulau yang terdapat pada wilayah Kecamatan Bontobahari 5 buah pulau (Pulau Liukang Loe, Pulau Kambing, Pulau Batukasuso, Pulau Batutaha, Pulau Bili) dan Kecamatan Bontotiro 1 buah pulau (Pulau Samboang). Dari 6 buah

(44)

Pulau tersebut hanya satu buah pulau yang berpenghuni yakni Pulau Liukang Loe di Kecamatan Bontobahari. Secara keseluruhan panjang garis pantai Kabupaten Bulukumba mencapai 128 km, sangat menunjang Kabupaten Bulukumba sebagai daerah bahari/maritim dengan potensi unggulan perikanan dan kelautan. Dari 10 kecamatan yang ada, semua dapat ditempuh dengan mudah dan ditunjang dengan infrastruktur jalan kabupaten yang memadai. Kecamatan yang terjauh dari ibukota kabupaten yakni Kecamatan Kajang.

Kabupaten Bulukumba berada di sektor timur, musim gadu antara Oktober - Maret dan musim rendengan antara April - September. Terdapat 8 buah stasiun penakar hujan yang tersebar di beberapa Kecamatan yakni Stasiun Bettu, Stasiun Bontonyeleng, Stasiun Kajang, Stasiun Batukaropa, Stasiun Tanah Kongkong, Stasiun Bontobahari, sStasiun Bulo-bulo dan Stasiun Herlang.

Pertumbuhan penduduk menjadi prioritas pemerintah saat ini terkait dengan adanya hubungan yang linier antara pertumbuhan penduduk dengan angka kemiskinan atau peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ketika pertumbuhan penduduk menjadi modal dalam faktor produksi dan semakin bertambahnya akan semakin meningkatkan output, maka kondisi ini menandakan bahwa penduduk memiliki kedudukan sebagai asset. Namun sebaliknya, ketika pertumbuhan penduduk akan semakin menurunkan daya beli individu, maka dikatakan penduduk sebagai beban. Hal inilah yang menjadi perhatian baik di daerah maupun ditingkat pusat. Menurut data Badan Pusat Statistik, Kabupaten Bulukumba pada tahun 2014 memiliki jumlah penduduk mencapai 407.775 jiwa, yang berada di 10 (sepuluh) Kecamatan dengan kepadatan penduduk 353 orang

(45)

per Km², ini berarti mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yakni tahun 2013 dimana jumlah penduduk sebanyak 404.900 jiwa dengan kepadatan penduduk 351 orang per Km².

Kepadatan penduduk Kabupaten Bulukumba pada tahun 2014 yakni 353 jiwa per km² mengalami peningkatan 0,57% dari tahun 2013. Kecamatan Ujungbulu mempunyai kepadatan yang tinggi dikarenakan sebagai Ibukota kKabupaten dan aktivitas yang tinggi dengan jumlah penduduk yang besar dan luas daerah relatif kecil jika dibandingkan kecamatan lainnya.

Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu daerah adalah tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang cukup dan berkualitas, dan dengan adanya Sumber Daya Manusia yang baik akan memicu tingkat penurunan kemiskinan di suatu daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan, penduduk miskin di Kabupaten Bulukumba sampai dengan tahun 2013 sebanyak 36.671 orang atau 9,04% dari total penduduk Kabupaten Bulukumba termasuk dalam kategori penduduk miskin. Jumlah ini mengalami peningkatan jika dibandingkan penduduk miskin tahun 2012 yakni 31.524 orang atau 7,83 % dari Jumlah Penduduk Kabupaten Bulukumba. Secara makro naiknya angka kemiskinan disebabkan oleh terjadinya inflasi, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Harga bahan pokok.

Jumlah Sekolah di Kabupaten Bulukumba dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan hingga tahun 2014 sekolah yang ada mulai dari tingkat kelompok bermain, taman kanak-kanak, SD, SMP, SMU dan paket A, B, dan C sebanyak

(46)

840 buah yang terdiri dari sekolah Negeri maupun Swasta yang berada dibawah naungan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bulukumba dengan jumlah murid 89.877 orang dan tenaga pengajar sebanyak 8.093 orang.

Pada tahun 2013 Jumlah sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) mencapai 296 sekolah, jumlah guru Taman KanakKanak (TK) 1.290 sedangkan jumlah muridnya sebanyak 9.819 orang yang tersebar di 10 Kecamatan. Jumlah Sekolah dasar Pada tahun 2014 sebanyak 348 buah dengan jumlah guru 3.760 orang sedangkan jumlah murid 48.450 orang.

Pada tahun 2014 Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Swasta sebanyak 7 buah dengan jumlah siswa 372 orang dan jumlah guru sebanyak 92 orang.Pada tahun 2014 jumlah sekolah MI Negeri sebanyak 7 buah, guru 148 orang dan siswa sebanyak 944 orang. Jumlah sekolah MI Swasta sebanyak 29 buah, guru 322 orang dan siswa sebanyak sebanyak 2.276 orang. Jumlah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MAN) 6 buah, guru 177 orang dan siswa sebanyak 1.924 orang. Jumlah Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTs) 34 buah, guru 532 orang dan siswa sebanyak 6.522 orang. Jumlah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 buah, guru 94 orang dan siswa sebanyak 1.206 orang. Jumlah Madrasah Aliyah Swasta (MAS) 19 buah, guru 261 orang dan siswa sebanyak 1.489 orang.

Berbagai peningkatan derajat kesehatan masyarakat telah dicapai sebagai hasil dari pembangunan di bidang kesehatan kesehatan. Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan (SPPK) yang dikelola pemerintah adalah dukungan yang paling menentukan derajat kesehatan masyarakat. Sarana dan prasana tersebut meliputi: Rumah Sakit Umum Daerah klasifikasi type B (SK. Kemenkes Nomor

(47)

HK.02.03/I/0196/2015 Tanggal 4 Februari 2015). Dalam rangka mendukung operasional sebagai Rumah Sakit klasifikasi type B maka berbagai upaya yang dilakukan diantaranya pengembangan sarana dan prasarana rumah sakit, baik panambahan ruang, alat kesehatan (alkes), tenaga medis/paramedis untuk meningkatkan pelayanan. Puskesmas/Pustu sebanyak 79 unit yang tersebar di 10 kecamatan baik Puskesmas Rawat Inap maupun non perawatan dan 544 unit Posyandu. Disamping itu terdapat klinik balai kesehatan 11 buah praktek dokter 70 serta 27 buah apotik yang dikelola oleh pihak swasta. Jumlah Madrasah diniyah 33 buah, guru 188 orang dan siswa sebanyak 1.830 siswa. Pesantren dibagi dua yakni Pondok Pesantren dan Pondok Pesantren salafiyah. Pondok Pesantren sebanyak 4 buah, guru 58 orang dan santri sebanyak 933 orang, sedangkan Pondok Pesantren Salafiyah sebanyak 7 buah, guru 107 orang dan santri sebanyak 621 orang.

Untuk jenjang Perguruan Tinggi terdapat 5 (lima) sekolah yang terdiri dari 3 (tiga) Sekolah Tinggi, 1 (satu) Akademi Keperawatan dan 1 (satu) Akademi Kebidanan yang kesemuanya dikelola oleh swasta dan telah mempunyai alumni kecuali Akademi Perawatan yang dikelola oleh Pemerintah Daerah.

1. Visi dan Misi Kabupaten Bulukumba

Visi dan Misi Kabupaten Bulukumba Visi Kabupaten Bulukumba yang tertuang dalam RPJPD (2005-2025) yaitu: “Bulukumba Yang Sejahtera Dan Mandiri” Misi Kabupaten Bulukumba yaitu:

a. Mewujudkan masyarakat bulukumba yang sejahtera dan mandiri melalui pengembangan agroindustri;

(48)

b. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia;

c. Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan amanah serta menjunjung tinggi supremasi hukum;

d. Mewujudkan bulukumba yang bersih lingkungan dan alam yang ramah mendukung Indonesia Go Green.

Arah Pembangunan Kabupaten Bulukumba tentunya tertuang dalam Visi dan misi Kabupaten Bulukumba. Penjabaran Visi Misi Kabupaten tersebut dimuat di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Visi Pemerintah Kabupaten Bulukumba pada Periode RPJMD 2016-2021 adalah Masyarakat Bulukumba yang Sejahtera dan Terdepan melalui Optimalisasi Potensi Daerah dengan Penguatan Ekonomi Kerakyatan yang Dilandasi pada Pemerintahan yang Demokratis dan Religius.

Salah satu Misi untuk mewujudkan visi RPJMD 2016-2021 yang mengedepankan aspek pengelolaan lingkungan hidup adalah Melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan serta budaya dan peninggalan situs sejarah. Dalam proses pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan tersebut maka dirumuskan strategi dasar dibidang lingkungan hidup adalah dengan menggunakan analisis SWOT, dimana kekuatan Kabupaten Bulukumba adalah posisi kabupaten Bulukumba yang poternsial baik dari segi geografis maupun demokrafis. Untuk melanjutkan dan merumuskan kembali arah kebijakan dan program pembangunan Kabupaten Bulukumba yang mengakomodir berbagai kepentingan dan aspirasi masyarakat guna mewujudkan pencapaian visi, misi, dan program pembangunan Bupati Bulukumba hingga periode 2021 maka telah

(49)

disusun rancangan RPJMD periode 2016-2021. Berikut ini Visi- Misi Kabupaten Bulukumba 2016-2021 A. Visi Adapun visi Pemerintah Kabupaten Bulukumba adalah “Masyarakat Bulukumba yang Sejahtera dan Terdepan melalui Optimalisasi Potensi Daerah dengan Penguatan Ekonomi Kerakyatan yang Dilandasi pada Pemerintahan yang Demokratis dan Religius.”.

Misi

Dari visi yang ada maka kami menjabarkannya dalam rumusan misi sebagai berikut :

a. Menuntaskan pelayanan hak dasar masyarakat dibidang infrastruktur, kesehatan, kependudukan dan pendidikan yang merata dan berkeadilan. b. Mendorong peningkatan pendapatan masyarakat melalui percepatan usaha

agribisnis, agroindustri, pariwisata dan kelautan yang berdaya saing dan berbasis kerakyatan dengan menjaga keseimbangan sumber daya alam dan lingkungan.

c. Menciptakan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi pada berbagai sektor dan wilayah.

d. Mendorong terciptanya iklim usaha dan investasi yang sehat, aman dan bertanggung jawab.

e. Mengoptimalkan potensi sumber daya lokal pada sektor pertanian secara umum, perikanan, kelautan dan pariwisata.

f. Menciptakan sumber daya manusia yang berjiwa Entrepreneur dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan agama.

(50)

h. Mewujudkan tata pemerintahan yang makin baik, bersih, damai, teratur, dan amanah (Good Governance) dengan berlandaskan pada kedaulatan rakyat, menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak asasi manusia. i. Masyarakat Bulukumba yang Sejahtera dan Terdepan melalui Optimalisasi

Potensi Daerah dengan Penguatan Ekonomi Kerakyatan yang Dilandasi pada Pemerintahan yang Demokratis dan Religius

j. Melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan serta budaya dan peninggalan situs sejarah.

k. Mendorong terciptanya suasana religius didalam kehidupan bermasyarakat dalam pencapaian kesejahteraan masyarakat.

l. Membangun pusat kemaritiman selatan selatan di Provinsi Sulawesi Selatan.

2. Dinas Pendidikan Kabupaten Bulukumba

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga sebagaimana dimaksud huruf mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan azas otonomi dan tugas pembantuan. Untuk menyelenggarakan tugas Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga mempunyai fungsi:

a. Perumusan kebijaksanaan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya

d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya

(51)

Susunan Organisasi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga terdiri dari : a. Kepala Dinas; b. Sekretariat; c. Bidang; d. Sub Bagian; e. Seksi; f. UPT; g. Jabatan Fungsional. 1. Kepala Dinas

Dinas pendidikan dipimpin oleh seorang Kepala Dinas mempunyai tugas pokok membantu Kepala Daerah merumuskan konsep sasaran, mengkoordinasikan, menyelenggarakan, membina, mengarahkan, mengevaluasi serta melaporkan pelaksanaan urusan Pemerintah daerah di bidang pendidikan, pemuda dan olahraga berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan sesuai dengan urusan Pemerintah yang menjadi kewenangan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Dalam menyelenggarakan tugas pokok, Kepala Dinas Pendidikan mempunyai fungsi, meliputi:

a. Merumuskan dan menyusun program kerja sebagai acuan pelaksana tugas; b. Menyelenggarakan rencana strategis dan program kerja dinas;

c. Mengarahkan dan merumuskan program kerja dinas dan menetapkan kebijakan operasional pendidikan, pemuda dan olahraga sesuai dengan kebijakan kabupaten, provinsi dan nasional;

(52)

e. Memberi saran dan pertimbangan teknis kepada atasan;

f. Membina pelaksanaan tugas-tugas unit pelaksana teknis daerah, sanggar kegiatan belajar, satuan pendidikan non formal, pengawas, penilik dan pamong belajar;

g. Menyelenggarakan monitoring dan evaluasi program dan kegiatan; h. Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada Bupati;

i. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan. 2. Sekretariat

Sekretariat dipimpin oleh seorang sekretaris mempunyai tugas pokok melaksanakan pelayanan teknis dan administrative serta koordinasi pelaksanaan tugas di lingkungan dinas pendidikan, pemuda dan olahraga. Dalam menyelenggarakan tugas pokok, sekretaris mempunyai fungsi membantu mengkoordinir dan/atau memfasilitasi unsur manajemen satuan perangkat daerah bidang pendidikan khususnya urusan dalam, meliputi:

a. Koordinasi penyusunan kebijakan, rencana, program, kegiatan dan anggaran di bidang pendidikan, pemuda dan olahraga;

b. Pengelolaan data dan informasi di bidang pendidikan, pemuda dan olahraga;

c. Kooordinasi dan pelaksanaan kerja sama di bidang pendidikan, pemuda dan olahraga;

d. Koordinasi Pengelolaan dan laporan Keuangan di lingkungan dinas pendidikan, pemuda dan olahraga;

Figur

Memperbarui...

Related subjects :