Tantangan dalam Melestarikan Sistem Subak sebagai Warisan Budaya Dunia di Bali.

10  14  Download (0)

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

TANTANGAN DALAM MELESTARIKAN SISTEM SUBAK SEBAGAI WARISAN

BUDAYA DUNIA DI BALI

I Nyoman Norken1, I Ketut Suputra2 dan I Gusti Ngurah Kerta Arsana3

1Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana

Email:inorken@yahoo.co.uk

2Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana

Email:suputra.rais@yahoo.com

3Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana

Email:kerta.arsana@yahoo.co.id

ABSTRAK

Subak, yang merupakan sistem irigasi tradisional di Bali, telah dianugerahi status Warisan Budaya Dunia dari UNESCO. Keberadaan subak di Bali diperkirakan sebelum abad ke IX dan sejak saat itu subak telah berhasil menjaga keberlangsungan tradisi pengelolaan sumber daya air untuk keperluan irigasi dan UNESCO telah menetapkan subak sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2012. Walaupun subak sangat dikenal dalam hal pengeloaan sistem irigasi dan keindahan alamnya, namun ada indikasi subak sangat mengkhawatirkan akan keberlanjutannya. Kondisi subak saat ini sebagian cukup mempihatinkan antara lain: kondisi jaringan dan bangunan sebagian masih dalam keadaan rusak, keterbatasan dalam pemeliharaan baik dari pemerintah maupun petani, organisasi subak masih berjalan cukup baik, namun sejak tahun 2000an, Sedahan maupun Sedahan Agung sebagai aparat pemerintah pembina subak tidak jelas keberadaanya. Ritual keagamaan tersebut hingga saat ini masih terus dilaksanakan oleh para anggota dan prajuru/pengurus subak, walaupun rangkaian, jenis dan besarnya ritual sangat berbeda atara satu subak dengan subak yang lain. Tantangan dalam pelestarian subak dimasa yang datang meliputi: penyusutan area subak yang terjadi akibat alih fungsi lahan, para petani tidak mampu hidup layak bila menggantungkan hidup dari pertanian karena kepemilikan lahan yang sempit, menurunnya kuantitas dan kualitas sumber daya air akibat kerusakan hutan dan kawasan hulu serta pencemaran, usia para petani anggota subak rata-rata di atas 40 tahun, beban finansial yang dipikul petani sangat berat, tidak jelasnya regulasi ditingkat nasional sejak dicabutnya UU 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air berserta peraturan pelaksanaannya. Langkah strategis yang harus dilakukan dalam menjaga keberlanjutan subak antara lain: nama dan fungsi sedahan dan dan sedahan agung sebagai wadah koordinasi pengelola subak dari unsur pemerintah perlu dikembalikan melalui peraturan daerah, dukungan pemerintah masih terus diperlukan dalam upaya meringankan beban finansial subak, fasilitasi kemitraan antara subak dengan stakeholders lain, alternatif komuditas diluar padi yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, mencegah dan memperbaiki kerusakan kawasan hulu (kawasan hutan dan kawasan budidaya) serta mengendalikan pencemaran sumber daya air, pembentukan wadah koordinasi penelolaan sumber daya air baik ditingkat provinsi, kabupaten/kota maupun pada tingkat daerah aliran sungai, membangun sistem informasi subak yang ada di seluruh Bali, menyediakan mekanisme pembinaan lembaga subak dan mendorong para akademisi untuk menjadikan subak sebagai tempat untuk melakukan aktivitas pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.

Kata kunci: subak, warisan dunia, pelestarian, tantangan, langkah strategis.

1.

PENDAHULUAN

(4)

Lanskap Budaya Provinsi Bali: Sistem Subak sebagai sebuah manifestasi filosofi Tri Hita Karana). Subak mencerminkan konsep filosofis Tri Hita Karana, yang menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lainnya serta manusia dengan alam sekitarnya. Filosofi ini lahir dari pertukaran budaya antara Bali dan India selama 2.000 tahun dan telah membentuk lanskap Bali. Pengelolaan air yang telah berjalan secara demokratis untuk irigasi (sawah) dalam waktu yang sangat lama telah menjadikan Pulau Bali sebagai salah satu pulau penghasil beras di Indonesia, walaupun dalam kenyataannya bahwa Pulau Bali mempunyai penduduk yang sangat padat. Walaupun subak sangat dikenal di Indonesia bahkan di dunia dalam hal pengeloaan sistem irigasi dan keindahan alamnya yang sangat baik, namun beberapa pengamat dan peneliti tentang subak sangat mengkhawatirkan akan keberlanjutan dan keberadaan subak yang ada saat ini, diantaranya Finlayson dan Paramita (2013) yang mengutif pernyataan Stave Lansing yang merupakan peneliti subak sejak tahun 1974 yang menyatakan bahwa akibat berkurangnya luas lahan subak yang cukup besar dari tahun ketahun akibat alih fungsi, maka akan memberikan tekanan bagi sistem subak yang telah dikelola secara terpadu dan akan memberikan beban bagi sistem subak yang ada. Apabila tidak ada langkah yang dilakukan, sementara laju alih fungsi lahan subak berlangsung secara terus menerus maka akan dikhawatirkan subak akan mengalami kehancuran. Sementara Sukita (2014) yang mengutif pernyataan Prof. Dr. I Wayan Windia yang merupakan Kepala Pusat Studi Subak Universitas Udayana, yang tidak jauh berbeda dengan pendapat Stave Lansing, menguraikan bahwa menyusutnya lahan pada wilayah subak akibat tingginya penjualan oleh para pemiliknya, hal ini merupakan konsekuensi dari pengaruh globalisasi yang dicirikan oleh komersialisme, materialisme serta kapitalisme. Akibat dari penyusutan lahan sawah secara terus menerus Prof Windia mengkhawatirkan apakah "Subak dan sistem pertanian yang merupakan landasan dan bagian integral dari kebudayaan Bali, jika subak, pertanian, dan sawah sudah hancur (tidak ada), apakah kebudayaan Bali masih akan tersisa? Dengan begitu cepatnya perubahan yang terjadi dalam sistem subak dalam beberapa dekade belakangan ini, makalah ini mencoba untuk menelaah tantangan dan beberapa langkah yang perlu dilakukan saat ini dan dimasa yang akan datang agar subak sebagai situs warisan dunia sedapat mungkin dapat dipertahankan keberlanjutannya.

2.

KONSISI SUBAK SAAT INI

Sebagai satu sistem irigasi, walaupun subak merupakan sistem irigasi tradisional yang pengelolaannya telah ada secara turun temurun, hingga saat ini subak sebagai pengelola irigasi di Bali secara umum masih berjalan dengan baik, termasuk di wilayah perkotaan seperti Kota Denpasar, walaupun kenyataannya luas lahan perwasahan yang merupakan wilayah subak terus terjadi penyusutan. Beberapa hal berkaitan dengan kondisi subak saat secara umum dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Jaringan dan Bangunan Air.

Walaupun subak merupakan sistem irigasi tradisional, namun jaringan dan bangunan air pada sistem subak tidak jauh berbeda dengan sistem irigasi teknis yang ada saat ini, menurut Sumarta, 1992, dalam Suputra (2008), jaringan pada sistem subak meliputi:

Empelan atau sering juga disebut dam merupakan bangunan peninggi muka air (bendung), bungas

(intake/bangunan pengambilan). Telabah (saluran) yang terdiri atas: telabah gede (saluran primer), telabah pemaron (saluran sekunder), telabah cerik (saluran tersier), talikunda (saluran kuarter/cacing), pengutangan (saluran pembuangan), telabah dapat berupa aungan (terowongan) apabila saluran menembus perbukitan.

Tembuku (bangunan bagi) terdiri dari: tembuku aya (bangunan bagi primer), tembuku pemaron (bangunan

bagi sekunder) dan tembuku cerik (bangunan bagi tersier). Bangunan pelengkap terdiri dari: abangan (talang), pekiuh (bangunan pelimpah samping), petaku (bangunan terjun), jengkuwung (gorong-gorong), keluwung (urung-urung), titi (jembatan) dan telepus (syphon). Subak juga diengkapi dengan parahyangan (tempat ibadah) antara lain: pura bedugul/pura subak umumnya pada setiap subak, pura ulun empelan pada bangunan bendung (empelan).

a. Kondisi Jaringan dan Bangunan Air.

(5)

b. Pemeliharaan Jaringan dan Bangunan.

Pemeliharaan jaringan dan bangunan irigasi dilakukan oleh pemerintah dan partisipasi masyarakat petani para naggota subak. Semasa berlakunya Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2006 yang merupakan turunan dari Undang Undang 7 tahun 2004 tetntang Sumber Daya Air yang telah dicabut pada Februari 2015, menjelaskan tentang wewenangan dan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan ketentuan : Daerah Irigasi dengan luas diatas 3000 ha menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah, Daerah Irigasi antara 1000 ha – 3000 ha kewenangan Pemerintah Provinsi dan Daerah Irigasi lebih kecil dari 1000 ha sepenuhnya menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten, sedangkan jika berada pada lintas kabupaten maka menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi. Jaringan tersier sepenuhnya merupakan tanggung jawab organisasi petani (P3A) dalam hal ini adalah masyarakat petani (Wahyudi, dkk, 2015). Pada masa berlakunya PP tersebut operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi subak, terutama yang mempunyai tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota cukup berat, karena luas irigasi subak sebagian besar kurang dari 1000 hektar, sementara kemampuan pemerintah untuk menyediakan biaya pemeliharaan sangat kecil. Selanjutnya Wahyudi dkk (2015) menguraikan berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 32/PRT/M/2007 tentang Pedoman Pengoperasian dan pemeliharaan Jaringan Irigasi, partisipasi Pemerintah meliputi: pemeliharaan rutin dengan merawat seluruh bangunan irigasi guna mempertahankan kondisi sarana dan prasarana Jaringan Irigasi yang dilaksanakan secara terus berkelanjutan tanpa ada bagian konstruksi yang diubah atau diganti, serta pemeliharaan berkala adalah kegiatan merawat dan memperbaiki sarana dan prasarana jaringan irigasi yang dilaksanakan secara berkala dan telah direncanakan oleh dinas yang membidangi Irigasi dan dapat bekerja sama dengan Subak secara swakelola berdasarkan kemampuan masing – masing dan dapat pula dilaksanakan secara kontraktual. Pada kenyataannya pemerintah telah melakukan tanggungjawab sesuai dengan kewenangannya namun karena keterbatasan dana maka sebagian jaringan dan bangunan irigasi belum sepenuhnya mampu dipelihara denga baik. Yuswari (2010) menguraikan pemerintah daerah harus mengupayakan penyediaan dana pengelolaan irigasi di tingkat Kabupaten /Kota (DPIK), bahwa pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban memberi dukungan dan bantuan DPIK kepada lembaga pengelola irigasi (subak) dalam rangka mendukung kebijakan ketahanan pangan nasional. Sejauh ini pemerintah provinsi Bali memang telah memberikan bantuan pendanaan kepada subak di Bali secara rutin setiap tahunnya, namun pemanfaatan dana bantuan tersebut perlu diawasi sesuai dengan peruntukannya. Oleh karena itu perlu ada kebijakan yang mengatur masalah besarnya bantuan pendanaan, penetapan subak penerima bantuan, mekanisme distrbusi, alokasi peruntukan dan sebagainya sehingga bantuan pendanaan ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan bagi para petani secara adil, merata dan berkelanjutan. Sementara para anggota subak melakukan pemeliharaan jaringan irigasi subak melalui gotong royong, mengeluarkan iuran serta usaha lain serperti pembutkan koperasi, pungutan pemelihara itik untuk bisa melakukan kegiatan pemeliharaan seperlunya (Norken dkk, 2012 dan Norken dkk, 2015).

2) Organisasi.

Subak pada umumnya juga mempunyai struktur organisasi, walaupun sederhana tetapi cukup efektif dalam mengatur kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para petani anggota subak atau disebut kerama subak dan pengurus disebut prajuru. Pitana (1993) menguraikan, untuk subak yang kecil cukup hanya dipimpin oleh seorang ketua yang disebut kelihan subak atau pekaseh. Sedangkan untuk subak lebih besar maka prajuru terdiri dari: Pekaseh (ketua). Petajuh (wakil ketua), tidak semua subak dilengkapi dengan wakil ketua. Penyarikan atau juru tulis (sekretaris). Patengen atau juru raksa (bendahara). Kasinoman atau juru arah (penyalur informasi) dan Saya (pembantu khusus), biasanya dipilih berkitan dengan kegiatan keagamaan. Untuk subak yang sangat besar disebut subak gede, biasanya dilengkapi pekaseh gede dan wakil pekaseh gede. Sementara organisasi subak yang mencakup seluruh dalam satu daerah aliras sungai (DAS) disebut Subak Agung dan dipimpin oleh Pekaseh Subak Agung. Subak juga dapat dibagi-bagi lagi dengan bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut tempek dan dipimpin oleh kelihan tempek, kelihan tempek berada dibawah pekaseh. Dimasa lalu pembinaan subak dilakukan oleh yang disebut Sedahan Yeh pada tingkat kecamatan yang juga merupakan petugas pemungut pajak (dulu dinamakan IPEDA), sedangkan ditingkat kabupaten pembinaan dilakukan oleh Sedahan Agung dan merupakan pembina teringgi dari subak, biasanya langsung dijabat oleh Kepala Dinas Pendapatan Kabupaten. Salah satu peran yang paling menonjol dari

Sedahan dan Sedahan Agung adalah dalam mengatur pendistribusian air antar subak maupun antar

(6)

3) Regulasi.

Regulasi atau peraturan yang mengatur subak secara internal disebut awig awig. Awig-awig adalah peraturan yang mengatur berbagai kegiatan, organisasi, hak dan kewajiban anggota para subak tersebut. Awig awig dapat diperluas dan ditambahkan dengan aturan tambahan , disebut pasuara (aturan tambahan. Pasuara biasanya dilakukan untuk beradaptasi dengan perubahan yang mungkin terjadi untuk memenuhi tuntutan para petani sebagai anggota subak. Sebagai aturan, awig awig terdiri dari Bab disebut Sarga dan Bagian disebut Palet, dan Pasal disebut Pawos. Cakupan Awig Awig dari Subak meliputi: nama dan tempat, prinsip-prinsip dasar, aturan keanggotaan, aturan aspek keagamaan, aturan aspek irigasi (persubakan), pengaturan denda,perubahan awig awig dan bab penutup. Awig awig biasanya dijelaskan dan ditulis dalam bahasa dan huruf Bali , meskipun belakangan ada evolusi awig awig ditulis dalam huruf Bali dan huruf Latin dan disahkan oleh Unsur Pemerintah sebagai Pembina Subak di tingkat Pemerintah kabupaten/Kota. Awig awig dapat ditambah dengan aturan tambahan yang disebut pasuara, sebagai tambahan aturan dalam menyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. Tidak semua awig awig subak dibuat secara tertulis dan disahkan oleh pihak berwenang, sebagian subak mencatat awig-awig secara sederhana atau bahkan tidak tertulis, namun demikian awig-awig subak sesalu dihormati dan diikuti oleh para anggota subak (Norken dkk, 2015). Selain awig-awig yang mengatur secara internal, pemerintah juga mengeluarkan peraturan berkaitan dengan subak berupa Peraturan Daerah (Perda), seperti: Peraturan Daerah Provinsi Bali No.02/PD/DPRD/1972 tentang Irigasi Daerah Provinsi Bali yang kemudian diperbaharui melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2012 tentang Subak. Ditingkat nasional lembaga subak juga mendapat pengakuan melalui Peraturan Pemerintah (PP) 20 tahun 2006 tentang Irigasi yang saat ini sudah tidak berlaku dan belum mempunyai pengganti. Sementara di tingkat internasional, UNESCO mengakui subak sebagai salah satu Situs Warisan dunia pada 29 Juni tahun 2012. Dengan demikian subak sudah bukan saja milik masyarakat Bali, namun juga mendapat pengakuan luas baik secara nasional maupun internasional.

4) Pembagian dan Pengelolaan Air.

(7)

penanaman padi secara serempak pada saat musim hujan (kerta masa), sedangkan pada musim kemarau saat air berkurang dilakukan dengan mengatur jadwal penanaman (nyorog atau nugel bumbung) atau dengan sistem bergilir (gadon). Organisasi subak mengatur jadwal dan pola tanam secara rinci, melalui limit waktu mulai menyemai benih padi (ngurit), limit waktu mulai menanam padi (nandur) sampai batas akhirnya, termasuk jenis padi yang boleh ditatam, padi berumur panjang/padi Bali (tebak/tebek taun) atau padi dengan umur pendek (tebak/tebek cicih). Pengaturan pola tanam ini dituangkan dalam awig-awig atau dengan kesepakatan (perarem) setelah dilakukan melalui rapat anggota (paruman) yang dilakukan sebelum penanaman padi dilakukan, apabila ini dilanggar maka petani bersangkutan akan dikenai sangsi berupa denda sesuai dengan yang diatur dalam awig-awig atau dalam perarem (Norken dkk, 2015). Dalam hal pengelolaan sumber daya air pada subak, pengaturan air dilakukan oleh para pengurus subak dalam wilayah subak atau antar wilayah subak melalui kesepakatan. Apabila terjadi ketidak sepakatan diantara pengurus subak atau antar wilayah subak, maka Sedahan dan Sedahan Agung sebagai pembina subak mempunyai peranan yang sangat penting dalam koordinasi pengaturan dan pemanfaatan air antar subak (Norken dkk, 2010).

5) Ritual Tradisi Religius.

Rangkaian ritual dalam subak merupakan upacara keagamaan yang dilandasi dengan agama Hindu di Bali yang tujuannya adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dipresentasikan sebagai Dewa Wisnu (Pemelihara Kehidupan dalam wujud air) dan Dewi Sri sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa sebagai Dewi Kesuburan), agar diberikan karunia dan hasil panen yang melimpah, serta rasa syukur selama dalam masa tanam yang dilaksanakan, dan merupakan perwujudan dari pelaksanaan unsur Parahyangan dari Tri Hita Karana (Pitana, 1993). jenis dan rangkaian upacara/ritual yang dilakukan oleh subak meliputi:

a. Upacara bersama, yang meliputi:

Mapag/mendak toya adalah upacara yang dilakukaan saat mulai mengalirkan air dari sumber air kesaluran irigasi. Magurupiduka adalah upacara yang hanya dilakukan apabila terjadi adanya orang meninggal disawah atau saluran irigasi. Pangwiwit adalah upacara bersama saat mulai menanam padi.

Mebalik Sumpah (manca sanak) adalah upacara yang dilakukan apabila terjadi atau ada pelanggaran

besar. Merebu adalah upacara membersihkan atau mensucikan alam sementa dan manusia secara nyata (sekala) maupun tidak nyata (niskala). Marekang toya atau nabdab toya adalah upacara membagi air sesuai dengan kesepakatan bersama. Ngerestiti adalah upacara yang dilakukan saat padi berumur 1 bulan dan berumur 2 bulan. Ngusaba adalah upacara menjelang dilakukannya panen padi, upacara ngusaba bisa besar ataupun kecil tergantung masa tanam. Nangluk Merana adalah upacara ini sebagai ritual untuk mengusir hama. Pakelem adalah upacara yang dilakukan secara bersama-sama dengan seluruh pekaseh yang dilakukan di Pura Ulun Danu. Odalan adalah upacara yang dilakukan kadang-kadang saja yang juga dilakukan saat ngusaba nini atau ngusaba bersama sama dengan subak lain di pura Ulun Danu.

b. Upacara individu, meliputi:

Ngendagin adalah upacara saat air pertama kali mengalirkan dari saluran irigasi ke petak sawah. Ngerasakin adalah upacara saat selesai membajak sawah sebelum menyemai bibit padi (ngurit). Mewinih adalah upacara saat membuat petak penyemaian atau tempat penebaran benih padi. Ngurit adalah upacara saat penyemaian atau penebaran benih padi. Pengwiwit adalah upacara individu (pemilik sawah) yang ditunjuk menjelang mulai menanam padi. Nuansen adalah upacara individu (pemilik sawah) yang ditunjuk mulai menanam padi pada hari yang baik (dewasa). Ngeroras adalah upacara dilakukan setelah padi berumur 12 hari. Mebalik sumpah adalah upacara dilakukan setelah padi berumur dua minggu. Mubuhin adalah upacara yang diselenggarakan pada saat padi berumur 15 hari. Ngulapin adalah upacara yang dilakukan setelah membersihkan hama tumbuhan yang menggangu padi. Neduh adalah upacara pada saat padi berumur satu bulan (35 hari). Ngekambuhin, yaitu upacara meminta keselamatan anak padi yang baru tumbuh yang dilakukan pada saat padi berumur 38 hari. Pamungkah, yaitu upacara memohon keselamatan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Nyiwa seraya adalah upacara yang diselenggarakan pada saat padi mulai berbunga. Ngiseh/ biukukung adalah upacara saat padi mulai berbuah. Nyaeb/mecaru adalah upacara dilakukan agar padi tidak diserang hama penyakit. Nyungsung adalah upacara untuk mengusir hama/penyakit padi (mirip dengan

nangluk merana). Nyangket/mebanten manyi/nuduk dewa/merebu adalah upacara sebelum/menjelang

panen dengan membuat Nini (seikat kecil bulir padi yang disucikan dan melambangkan Dewi Sri/Dewi Padi/manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan) yang akan disimpan di lumbung. Mantenin adalah upacara setelah padi disimpan di lumbung. Rsi Gana adalah upacara apabila terjadi malapetaka atau berbagai masalah pada sawah seseorang.

(8)

masing-masing areal subak, Pura Ulun Empelan di dekat bangunan pengambilan air atau sumber air, Pura Ulunsuwi atau Pura Masceti untuk subak besar (subak gede) atau beberapa subak yang sumber airnya dari sumber yang sama dan terletak dibagian hulu dari subak-subak yang dinaungi. Selain itu ada pura yang terkait dengan subak seperti: Pura Ulun Danu Batur, Pura Ulun Danu Beratan, Ulun Danu Tamblingan, Pura Pekendungan, Pura Tanah Lot dan sebagainya yang merupakan pura tempat melakukan upacara ngerestiti bagi pengurus subak untuk mohon kepada Dewa Wisnu representasi Tuhan Yang Maha Esa sebagai pemelihara dunia yang wujud pisiknya adalah air yang bersumber dari danau, sehingga danau yang ada dianggap sebagai tempat suci yang harus dilestarikan karena merupakan sumber kehidupan (Pitana, 1993, dan Sushila, 1987). Rangkaian upacara ritual keagamaan tersebut hingga saat ini masih terus dilaksanakan oleh para anggota dan prajuru/pengurus subak, walaupun rangkaian, jenis dan besarnya ritual sangat berbeda atara satu subak dengan subak yang lain (Norken, 2015).

3.

TANTANGAN PELESTRAIAN SUBAK.

Tantangan dalam pelestarian subak yang ada saat ini dan akan lebih berat dimasa yang datang meliputi:

1) Penyusutan area subak yang terjadi akibat alih fungsi lahan untuk peruntukan bukan sawah. Alih fungsi lahan sawah belakangan ini hampir mencapai 1000 haktar setiap tahun, dan peluang terjadinya akan terus berlanjut, terutama di daerah perkotaan akibat semakin terdesaknya lahan persawahan oleh pemanfaatan lain, seperti: perumahan, komersial, pariwisata dan lain sebagainya.

2) Kondisi jaringan irigasi dan banguan air pada irigasi subak sebagian dalam kondisi rusak.

3) Kepemilikan lahan petani rata-rata 0.5 hektar atau kurang, sehingga sangat sulit bagi para petani untuk mampu mencapai hidup yang layak bila menggantungkan hidup semata-mata dari pertanian.

4) Menurunnya kuantitas dan kualitas sumber daya air akibat kerusakan hutan dan kawasan hulu serta pencemaran limbah, sehingga menyebabkan kegagalan panen serta konflik pemanfaatan sumber air dengan dengan sektor lain.

5) Usia para petani anggota subak rata-rata di atas 40 tahun, akibat minat menjadi petani bagi pemuda sangat rendah karena dianggap kurang menjanjikan, sehingga kesulitan untuk melakukan inovasi dan meningkatkan produktifitas dalam bertani.

6) Besar beban finansial yang dipikul petani sangat berat mulai dari pajak lahan, biaya penyiapan lahan, biaya pupuk dan sarana produksi lain, iuran perbaikan jaringan irigasi, biaya aktivitas keagamaan dan lain lain, sementara penghasilan dari bertani relatif rendah dan dengan risiko gagal panen cukup tinggi akibat ketersediaan air terbatas, hama dan lain lain.

7) Lemahnya koordinasi dan supervisi dari unsur pemerintah sejak tidak jelasnya keberadaan sedahan dan sedahan agung yang sangat berperan dalam mengkoordinasikan pengelolaan air, tempat konsultasi bagi para pengurus subak, bahkan sebagai mediator dalam menyelesaikan konflik.

8) Tidak jelasnya regulasi ditingkat nasional sejak dicabutnya UU 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air berserta peraturan pelaksanaannya, termasuk PP 20 tahun 2006 tentang Irigasi yang memberikan legalitas tentang keberadaan subak.

4.

LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN.

Oleh karena tantangan dan pemasalahan yang dihadapi oleh sistem subak secara keseluruhan sedemikian berat, terutama dimasa yang kan datang, maka mau tidak mau diperlukan langkah langkah yang bersifat strategis yang harus diambil baik oleh pemerintah maupum stakeholders yang lain agar subak yang sudah dikagumi diseluruh dunia dan diakui sebagai warisan budaya dunia dapat dipertahankan dan dilestarikan di masa yang akan datang. Seperti yang diuraikan oleh Norken dkk ( 2010), Norken dkk, (2012) serta dalam berbagai forum diskusi maupun seminar berkaitan dengan subak dan sumber daya air di Bali, langkah langkah yang perlu dilakukan antara lain:

1) Perlu ditingkatkan dan dikembalikan nama dan fungsi sedahan dan dan sedahan agung sebagai wadah koordinasi pengelola subak dari unsur pemerintah melalui peraturan daerah tingkat kabupaten/kota serta tingkat provinsi, serta didukung oleh peraturan dan perundangan di tingkat nasional. Peranan sedahan dan sedahan agung di atur dalam Perda 02/PD/DPRD/1972 tentang Irigasi Daerah Provinsi Bali, yang merupakan pengatur dan pengawas serta penasehat dalam bidang irigasi/subak di Wilayah Kabupaten, namun dalam Perda 9 tahun 2012 tentang Subak istilah sedahan maupun sedahan agung tidak muncul, yang muncul adalah lembaga yang bernama Majelis Subak. Hal ini sangat tidak sesuai dengan makna serta semangat pelestarian subak, karena sedahan dan sedahan agung mempunya nilai historis yang sangat lama dan telah diakui oleh subak dalam pengelolaan irigasi termasuk dalam penyelesaian konflik.

(9)

3) Pemberian insentif bagi subak dalam upaya menekan alih fungsi lahan seperti keringanan pajak, serta dukungan dan bantuan lain yang berkaitan dengan pelaksanaan ritual keagamaan berkala yang cukup besar, seperti: upacara pakelem, nangluk merana dan lain lain.

4) Perlu fasilitasi kemitraan antara subak dengan stakeholders lain (koperasi, pariwisata, pengusaha lain) untuk bersama-sama bekerjasama yang saling menguntungkan dalam upaya memsejahterakan para petani, misalnya dengan meningkatkan harga jual komoditas hasil pane para petani.

5) Perlu alternatif komuditas diluar padi yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi agar dapat mendorong gairah para petani untuk lebih menekuni sektor pertanian serta lebih menjanjikan.

6) Mencegah dan memperbaiki kerusakan kawasan hulu (kawasan hutan dan kawasan budidaya) serta mengendalikan pencemaran sumber daya air dengan melibatkan berbagai stakeholers lain serta masyarakat untuk memperbaiki tata air (air permukaan dan air tanah) sebagai sumber air untuk irigasi dan untuk keperluan lain.

7) Pemerintah agar mendorong pembentukan wadah koordinasi penelolaan sumber daya air baik ditingkat provinsi, kabupaten/kota maupun pada tingkat daerah aliran sungai yang melibatkan pemerintah, masyarakat, swasta serta stakeholders lainnya untuk bersama-sama meningkatkan pengelolaan sumber daya air serta mencegah konflik dan potensi dalam pemanfaatan sumber daya air.

8) Pemerintah melakukan pendataan dan monitoring terhadap keberadaan dan aktivitas lembaga subak apabila diperlukan dapat dilakukan dengan membangun sistem informasi subak yang ada di seluruh Bali.

9) Pemerintah menyediakan mekanisme pembinaan lembaga subak dan lembaga adat yang lain secara terus menerus dalam upaya melestarikannya, sebagai potensi dan kearifan lokal yang menjadi unggulan masyarakat Bali.

10) Perguruan tinggi agar mendorong para akademisi untuk menjadikan subak sebagai tempat untuk melakukan aktivitas pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, agar subak sebagai sistem irigasi tradisional mampu terus berkembang dan bersaing diera globalisasi ini.

5.

KESMPULAN.

Dari uraian di atas ada beberapa kesimpulan yang dapat disampaikan, antara lain:

1) Subak merupakan sistem irigasi tradisional di Bali, telah dianugerahi status Warisan Budaya Dunia dari UNESCO, namun keberadaannya dan keberlanjutannya sangat mengkhawatirkan.

2) Kondisi subak saat ini sebagian cukup mempihatinkan diantaranya: jaringan dan bangunan sebagian masih dalam keadaan rusak, keterbatasan dalam pemeliharaan baik dari pemerintah maupun petani, organisasi subak masih berjalan cukup baik, namun sejak tahun 2000an, Sedahan maupun Sedahan Agung sebagai aparat pemerintah pembina subak tidak jelas keberadaanya.

3) Tantangan pelestarian subak saat ini dan dimasa yang datang termasuk penyusutan area subak yang terjadi akibat alih fungsi lahan, para petani untuk mampu mencapai hidup yang layak karena kepemilikan lahan yang sempit, menurunnya kuantitas dan kualitas sumber daya air serta pencemaran, usia para petani anggota subak rata-rata di atas 40 tahun, beban finansial yang dipikul petani sangat berat, tidak jelasnya regulasi ditingkat nasional dalam mengatur irigasi.

4) Langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan subak antara lain: sedahan dan dan sedahan agung sebagai wadah koordinasi pengelola subak perlu dikembalikan, dukungan pemerintah masih terus diperlukan dalam meringankan beban finansial, kemitraan antara subak dengan stakeholders lain, alternatif komuditas diluar padi, mencegah dan memperbaiki kerusakan kawasan hulu serta mengendalikan pencemaran, pembentukan wadah koordinasi penelolaan sumber daya air, membangun sistem informasi subak, menyediakan mekanisme pembinaan lembaga subak dan mendorong para akademisi untuk menjadikan subak sebagai tempat untuk melakukan aktivitas pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih yang setulus-tulusnya kepada rekan rekan Anggota Grup Riset Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Daya Air pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Udayana, yang telah memberikan masukan dan dorongan sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (1972) PerdaProvinsi Bali 02/PD/DPRD/1972 tentang Irigasi Daerah Provinsi Bali. Anonim, (2012) PerdaProvinsi Bali 9 tahun 2012 tentang Subak.

(10)

Finlayson, R., dan Enggar Paramita (2013). Subak, Sistem Irigasi Khas Bali, Berada di Ambang Kehancuran (http://worldagroforestry.org/newsroom/press-releases/subak-sistem-irigasi-khas-bali-berada-di-ambang-kehancuran).

Norken I.N., I.K.Suputra, and I.G.N.Kerta Arsana , (2010), The History and Development of Sedahanas A Coordinator Of Water Management for Subak in Bali, Paper pada International Conference, ICID, Yogyakarta, Indonesia.

Norken I.N., I.K.Suputra, dan I.G.N.Kerta Arsana (2012). Partisipasi Anggota Subak Dalam Pemeliharaan Jaringan Irigasi (Studi Kasus Pada Subak Pecelengan Pedukuan Di Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana), , Laporan Penelitian, Program Magister Teknik Sipil, Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar.

Norken I.N., I.K.Suputra, dan I.G.N.Kerta Arsana (2015). Aktivitas Aspek Tradisional Religius Pada Irigasi Subak:Studi Kasus Pada Subak Piling, Desa Biaung, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Laporan Penelitian, Program Magister Teknik Sipil, Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar.

Norken I.N., I.K.Suputra, and I.G.N.Kerta Arsana, (2015), Water Resources Management of Subak Irrigation System in Bali, Jurnal Applied Mechanics and Materials Vol 776 pp 139-144, Trans Tech Publications, Switzerland.

Pitana, I Gde., (1993). Subak, Sistem Irigasi Tradisional Bali (Sebuah Deskripsi Umum), dalam: I Gde Pitana (Editor), Subak Sistem Irigasi Tradisional Bali, Penerbit, Upada Sastra, Denpasar.

Suputra, I Ketut (2008). Efektivitas Pengelolaan Sumber Air Untuk Kebutuhan Air Irigasi Subak di Kota Denpasar, (Tesis), Program Pascasarjana Universitas Udayana.Denpasar.

Sushila, Jelantik., (1987). Ciri-Ciri Khas Dari Subak Sistem Irigasi di Bali, Sub Dinas Pengairan, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Daerah Tingkat I Bali, Denpasar.

Sutika, I Ketut (2014). Kekhawatiran Lenyapnya Sistem Subak Di Bali (http://www.antarabali.com/berita/49575/kekhawatiran-lenyapnya-sistem-subak-di-bali).

Ukirsari, Manggalani (2012). Plakat UNESCO, Pengakuan Subak sebagai Warisan Dunia 2012 (http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/09/plakat-unesco-pengakuan-subak-sebagai-warisan-dunia-2012).

Wahyudhi, I Made Ari, I N. Norken, dan I Ketut Suputra. (2015). Partisipasi Stakeholders Dalam Operasi Dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Pada Daerah Irigasi Unda Di Kabupaten Klungkung , Jurnal Spektran Vol. 3, No. 2, Juli 2015 (pp. 37-46).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...