• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUMBANGAN SUPERVISI BERBASIS WORK SHOP DALAM PENINGKATAN KINERJA GURU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SUMBANGAN SUPERVISI BERBASIS WORK SHOP DALAM PENINGKATAN KINERJA GURU"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Penelitian Tindakan Sekolah dan Kepengawasan

Vol. 1, No. 1, Juni 2014. Edisi Khusus ISSN 2355-9683

SUMBANGAN SUPERVISI BERBASIS WORK SHOP DALAM PENINGKATAN KINERJA GURU

Suratin

SD Negeri Kupu 02 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes Abstrak

Tujuan yang akan dicapai secara umum dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah untuk mengetahui efektifias tindakan yaitu meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran setelah diadakan supervisi berbasis work shop oleh kepala sekolah di SD Negeri Kupu 02 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes. Prosedur penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observasing) , dan refleksi (reflecting).

Manfaat penelitian ini memberi masukan kepada guru untuk meningkatkan kinerjanya sesuai dengan harapan peneliti, dan untuk membuktikan hipotesis tersebut diadakan suatu penelitian pada guru dengan sampel 8 guru untuk mengadakan pengisian angket yang diberikan pada guru dengan melalui 2 siklus. Adapun hasil isian angket memperoleh angka lebih dari 85% yang berkatagori baik sekali. Kinerja guru dalam kegiatan belajar mengajar dapat meningkat dengan memperhatikan langkah-langkah pembelajaran serta memilih metode pembelajaran yang tepat sehingga suasana proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan sehingga hasil belajar siswa mengalami peningkatan.

© 2014 Jurnal Penelitian Tindakan Sekolah dan Kepengawasan Kata Kunci: kunci : kinerja guru, supervisi , work shop

PENDAHULUAN

Guru dipandang oleh masyarakat adalah sebagai orang yang serba bisa, mumpuni dibi- dang apa saja, oleh karena itu guru harus mampu menunjukkan cara pandang atau berfikir cer- das, berkepribadian mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku jujur, dan memiliki rasa sosial yang nyata. Pada dasarnya peran guru adalah sebagai penentu keberhasilan. Seperti apa yang disam- paikan oleh Robert L. Mathis dan John H Jackson (2001; 4) “Sumber daya manusia dipandang semakin besar peranannya bagi kesuksesan organisasi, maka banyak organisasi kini menyadari bahwa unsur manusia dalam organisasi dapat memberikan keunggulan bersaing”.

Pada lembaga pendidikan kualitas atau mutu sekolah tidak hanya dipandang dari output atau hasil pembelajaran, tetapi juga dilihat dari proses dan input sehingga kapan saja kinerja yang terlibat didalamnya selalu dimonitoring dan dievaluasi, namun kenyataannya kinerja pada lembaga pendidikan masih dipandang belum maksimal untuk dapat menunjukkan kinerja yang baik.

Pemerintah telah berupaya meningkatkan mutu pendidikan dengan berbagai strategi, ter- masuk pemberian sertifikasi terhadap guru. Pemberian sertifikasi tersebut terkandung makna peningkatan mutu pendidikan dan juga kesejahteraan bagi guru karena guru merupakan kom- ponen sumberdaya manusia yang sangat penting dalam pembelajaran. Seperti yang disampaikan Tilaar (1999)

“guru merupakan komponen sumber daya manusia yang memilikiperanan sangat penting dalam mencapai keberhasilan proses belajar mengajar dan pendidikan secara umum di sekolah.

Dan seberapa besar peranan guru tersebut dapat ditunjukkan melalui kinerjanya (Tilaar;1999)”.

(2)

Pendapat yang sama juga disampaikan Usman (2002) menyatakan bahwa upaya pening- katan profesionalisme dan kinerja guru perlu terus dilakukan karena guru adalah sumber daya manusia utama yang merupakan komponen strategis yang memiliki peran sangat penting dalam menentukan gerak maju kehidupan suatu bangsa, bahkan keberadaan guru merupakan factor condisio sine quanon yang tidak mungkindigantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu hingga sekarang.

Berdasarkan pendapat diatas, maka peningkatan kinerja guru merupakan variabel yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, terutama kepala sekolah sebagai atasan langsung dan pengawas sekolah yang bertugas melakukan pembinaan dan penilaian melalui su- pervise pembelajaran di sekolah binaannya.

Asumsi diatas dapat dipahami sebab gurulah yang menjadi penanggungjawab kegiatan pembelajaran di kelas, sekaligus berperan sentral sebagai fasilitator dan sumber belajar bagi siswa sehingga peningkatan kualitas pendidikan tidak terlepas dari kinerjanya.

Harapan semua pihak guru seharusnya senantiasa berupaya memperbaiki dan mening- katkan kinerjanya sehingga pembelajaran yang dilakukannya menarik, efektif, menyenangkan, dan mengaktifkan siswa. Selain itu guru juga harus mengetahui kewajibannya sebagai pendidik seperti yang diuraikan pada UU No 20 Tahun 2003 Pasal 40 (2) yaitu (1) Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis, (2) Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, (3) Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan.

Kenyataannya berdasarkan hasil supervisi kunjungan kelas oleh pengawas Sekolah Dasar, menyatakan lebih 50% guru pada umumnya belum melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan harapan. Mereka belummemahami bagaimana membuat sendiri silabus dan RPP dengan benar. Silabus dan RPP yang mereka miliki pada umumnya hasil copypaste (menyalin tanpa per- baikan), bahkan fotocopy dari model RPP dan silabus sekolah lain yang ditandai dengan adanya nama sekolahnya tidak sesuai dengan sekolah tempat tugas. Hasil supervisi kepala sekolah 90%

RPP yang dibuat guru menggunakan copypaste yang dapat diamati lewat RPP yang dibuatnya tidak ada perubahan-perubahan dari tahun ke tahun. Pelaksanaan pembelajaran belum me- manfaatkan alat dan media pembelajaran yang tersedia di sekolah. Mereka masih menggunakan

“medikem” dan metode ceramah yang konvensional. Mereka juga belum menunjukkan adanya upaya yang sungguh-sungguh dalam meningkatkan mutu PBM-nya melalui penggunaan alat dan media pembelajaran sehingga proses pembelajaran yang mereka lakukan masih jauh dari standar yang diharapkan.

Kejadian tersebut juga dialami SD Negeri Kupu 02 kecamatan Wanasari kabupaten Brebes.

Hasil supervisi penulis selaku Kepala Sekolah terhadap kinerja guru dalam kegiatan pembelaja- ran.

Berdasarkan fenomena di atas, agar kinerja guru meningkat diperlukan adanya pembinaan profesionalisme guru dari berbagai pihak baik dari kepala sekolah, pejabat struktual maupun pengawas sekolah. Sebagai kepala sekolah, penulis mengadakan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang berjudul “Peningkatan Kinerja Guru melalui Supervisi Berbasis Work Shop Kepala SD Negeri Kupu 02 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes”.

Judul tersebut penulis angkat dengan alasan : 1)Supervisi sebagai sarana bantuan untuk meningkatkan kinerja guru. Pembinaan oleh kepala sekolah dapat dilakukan melalui berbagai cara satu diantaranya melalui supervisi pengajaran secara terprogram. Supervisi pengajaran ter- program adalah serangkaian kegiatan membantu guru untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengelola proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pengajaran (Madyo,2003:9). Mel- alui supervisi pengajaran yang efektif dan profesional diduga akan meningkatkan kinerja guru karena pengawas bersama-sama guru dapat memperbaiki, mengembangkan, dan meningkatkan mutu pembelajaran sehingga kondisi belajar siswa lebih baik.2)Peningkatan kinerja guru ber- peran dalam peningkatan mutu pendidikan

(3)

02 memiliki potensi tetapi mutu di sekolah itu masih rendah sehingga perlu diadakan penelitian tindakan untuk meningkatkan kinerja guru. Kondisi tersebut peneliti ketahui melalui supervisi kunjungan kelas ternyata secara empiris masih banyak guru yang kurang terampil menggunkan media dan metode yang variatif sehingga suasana pembelajaran tidak menarik dan akibatnya siswa enjadi pasif serta kurang semangat dalam belajar. Selain itu, ada juga guru yang berang- gapan bahwa tugas melaksanakan proses pembelajaran itu pekerjaan rutin sehingga tidak perlu membuat silabus dan perencanaan pembelajaran trlebih dahulu. Anggapan keliru seperti ini harus segera diluruskan melalui pembinaan pengawas melalui supervisi pengajaran secara ter- program sehingga pelaksanaan pembelajaran akan teraran atau terprogram dan terlaksana sesuai standar proses. 3)Meningkatkan efektifitas kinerja kepala sekolah. Pelaksanaan supervisi penga- jaran yang dilakukan kepala sekolah selama ini juga masih belum efektif, sebab supervisi penga- jaran yang dilakukan oleh kepala sekolah saat itu masih bersifat administrative dan evaluative.

Hal itu mengakibatkan kehadiran kepala sekolah di kelas akhirnya kurang mendapat sambutan yang positif.

Kondisi seperti disebutkan di atas menurut Mantja (1998: 5) disebabkan oleh faktor inter- nal Kepala Sekolah selaku supervisor itu sendiri maupun oleh factor yang berasal dari pihak yang disupervisi. Factor yang berasal dari supervisor antara lain (1) frekuensi kunjungan kurang sesuai dengan kebutuhan, (2) kemampuan supervisor rendah, (3) pendekatan yang digunakan kurang tepat, (4) tidak menguasai mata pelajaran tertentu, dan (5) kurang memiliki kompetensi seperti supervisor. Sedang dari yang disupervisi merasa tidak senang disupervisi, karena supervisi di- maknai sebagai: (1) pengawasan, (2) memata-matai, (3) mencari kelemahan dan kesalahan, dan (4) pemecatan.

Asumsi diatas muncul karena supervisi dipahami sebagai suatu pengawasan yang bukan bersifat membantu, melayani atau menolong guru-guru agar dapat mengatasi hambatannya un- tuk bias bekerja lebih baik, melainkan untuk menemukan penyimpangan dan kesalahan yang pada akhirnya hasil yang diharapkan tidak efektif. Untuk itu penelitian tindakan sekolah ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru di SD Negeri Kupu 02 Kecamatan Wanasari Kabu- paten Brebes meningkat baik sampai 85%.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana efektifitas pelaksanaan supervisi terprogram oleh kepala sekolah untuk menin- gkatkan kinerja guru di SD Kupu 02 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes? Rumusan tersebut dapat dirinci dalam rumusan masalah sebagai berikut; 1)Apakah pelaksanaan supervisi berbasis work shop dapat meningkatkan kinerja guru SD Negeri Kupu 02 Kecamatan Wanasari Kabu- paten Brebes? 2)Apakah supervisi berbasis work shop oleh kepala sekolah dapat meningkatkaan motivasi guru di SD Negeri Kupu 02 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes?

METODE PENELITIAN

Subyek penelitian ini adalah seluruh guru yang mengajar di SD Negeri Kupu 02 Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 8 orang guru yang terdiri dari 3 orang guru laki-laki dan 5 orang guru perempuan.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 selama 4 bulan yaitu pada bulan September 2013 sampai bulan Desember 2013 tahun 2013. Siklus 1 dilaksana- kan pada tanggal 28 September 2013 dan siklus II dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2013.

Tempat penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Kupu 02 Tahun Pelajaran 2013/2014.

Prosedur penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), menga- mati (observasing), dan refleksi (reflecting).

Menurut Hartono dan Edi Legowo (2003: 4) tahap dalam tindakan yang akan dilaksanakan di gambaarkan sebagai berikut:

(4)

Gambar 1. Penelitian Tindakan Sekolah Model Kurt Lewis

Penelitian ini dilaksanakan melalui 3 tahapan, yaitu (1) Perencanaan, yang meliputi pem- buatan rancangan penelitian untuk dikonsultasikan kepada pembimbing, (2) Pelaksanaan peneli- tian dengan 2 siklus, dan (3) Penyusunan laporan.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah seba- gai berikut: 1)Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini meliputi teknik tes dan non tes, namun demikian untuk memudahkan dalam pengolahan data, maka teknik yang digunakan hanya teknik yang berbentuk tes. 2)Jenis data yang akan digunakan adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang diperoleh dari hasil observasi pada saat supervisi berbasis work shop berlangsung, sedangkan data kualitatif adalah nilai tugas dalam penelitian ini yaitu kegiatan pelaksanaan pembelajaran. 3)Teknik dan pengam- bilan dan pengumpulan data pada penelitian tindakan sekolah ini dilakukan dengan cara berikut ini: a)Metode pemberian tugas atau tes

Data prestasi diperoleh dengan memberikan tes sebagai alat evaluasi kepada guru. Tes atau tugas individu ini diberikan pada siklus I dan siklus II; b)Metode angket

Metode ini digunakan peneliti untuk memperoleh informasi tentang masalah yang diha- dapi guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran; c)Metode dokumentasi dilaksanakan dengan mencatat dan mengabadikan kegiatan guru dalam penyususnan RPP, hsil evaluasi pembelajaran, program perbaikan dan pengayaan serta pengembangan profesi guru yang meliputi: pembuatan media pembelajaran, menyusun modul,menulis artikel dan mengadakan penelitian tindakan ke- las.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara keseluruhan bahwa proses penelitian telah dilakukan secara bertahap dari siklus I dan siklus II. Perkembangan yang dicapai telah menunjukkan hasil yang sangat signifikan, baik yang berhubungan dengan aktivitas guru maupun aktivitas siswa. Keadaan tersebut menunjuk- kan bahwa proses pembelajaran sangat dinamis dan senantiasaa berusaha untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi, baik yang dialami guru maupun siswa.

Untuk aktivitas kinerja guru dalam mengajar yang dilakukan oleh guru mengalami peru- bahan yang sangat signifikan dirasakan dari kualitas pembelajaran dari cukup menjadi baik dan akhirnya menjadi baik sekali, ini berdasarkan prosentase yang terus berkembang dari penga- matan pembelajaran. Demikian pula dalam ketuntasan belajar siswa mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dengan demikian secara keseluruhan kita dapat mengetahui perpedaan antara siklus I dan siklus II. Dengan melaluin penelitian dengan judul” Meningkatkan Kinerja Guru Melalui Supervisi Berbasis Work Shop Kepala SD Negeri Kupu 02 Kecamatan Wanasari Kabu-

(5)

Berdasarkan tabel dan grafik di bawah ini, dapat diketahui bahwa perbedaan antara siklus I dan siklus II mempunyai perbedaan yang berarti dan mempunyai perubahan yang sangat sig- nifikan.

Tabel .1 Kinerja guru pada pra siklus

No Pernyataan Pra siklus

A B C D E JM

1 Rekap kuesioner Guru 12,5 50 37,5 100

2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 12,5 50 37,5 100

3 Pelaksanaan Pembelajaran 12,5 75 12,5 100

4 Pelaksannaan Evaluasi 25 75 100

5 Pelaksanaan Perbaikan 12,5 50 37,5 100

6 Pelaksanaan Pengayaan 25 50 25 100

7 Nilai Kinerja Guru 25 50 25 100

Rata-rata 17,86 57,14 25 100

Kriteria :A:SangatBaik;B:Baik;C:Cukup;D:KurangBaik;E:Tidak Melaksanakan

Tabel .2 Kinerja guru pada siklus I

No Pernyataan Siklus I

A B C D E JM

1 Rekap kuesioner Guru 12,5 37,5 50 100

2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 50 37,5 12,5 100

3 Pelaksanaan Pembelajaran 75 12,5 12,5 100

4 Pelaksannaan Evaluasi 87,5 12,5 100

5 Pelaksanaan Perbaikan 75 12,5 12,5 100

6 Pelaksanaan Pengayaan 75 12,5 12,5 100

7 Nilai Kinerja Guru 12,5 75 12,5 100

Rata-rata 3,57 67,86 21,43 7,14 100

Tabel .3 Kinerja guru pada siklus II

No Pernyataan Siklus II

A B C D E JM

1 Rekap kuesioner Guru 50 50 100

2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 25 62,5 12,5 100

3 Pelaksanaan Pembelajaran 50 37,5 12,5 100

4 Pelaksannaan Evaluasi 50 50 100

5 Pelaksanaan Perbaikan 25 75 100

6 Pelaksanaan Pengayaan 25 62,5 12,5 100

7 Nilai Kinerja Guru 25 75 100

Rata-rata 35,7 58,9 5,4 100

(6)

Gambar 2. Grafik Kinerja Guru dari siklus ke siklus PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian, analisis dan penafsiran data tentang pelaksanaan supervisi berbasis work shop dalam upaya peningkatan kinerja guru di SD Negeri Kupu 02 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes, maka dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut :

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1) Supervisi berbasis work shop dapat meningkatkan kinerja guru pada aspek penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran. 2)Supervisi berbasis work shop dapat meningkatkan motivasi guru pada aspek penilaian; 3)Supervisi berbasis workshop dapat meningkakan aktifitas kinerja guru di SD Negeri Kupu 02 Kecamatan Wanasari Kabupaen Brebes.

Berdasarkan kesimpulan diatas, saran yang dapat diajukan sebagai berikut: 1)Kepala Se- kolah : supervisi berbasis work shop merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan ket- rampilan guru dalam menyelesaikan administrasi terutama dalam penyusunan rencana pelak- sanaan pembelajaran (RPP) yang standar, oleh karena itu Kepala Sekolah hendaknya melakukan pembinaan secara kontinue; 2)Pengawaas : hendaknya mau menerapkan supervisi berbasis work shop dalam melaksanakan supervisi di sekolah-sekolah guna meningkatkan kemampuan guru terutama dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). 3)Peneliti sejawat : karena keterbatasan waktu dalam melaksanakan penelitian ini, maka peneliti sejawat untuk bisa melan- jutkan penelitian ini lebih mendalam agar hasilnya lebih baik sesuai dengan apa yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Supervisi Pendidikan. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Menengah Pertama.

Lovell, J. T., ^ Wiles, K. 1982, Supervsion for Batter Scohool Englewood Cliffts, NJ : Prentice-Hall-INC.

Mantja, Willem. 2000. Bahan Ajar Model Peningkatan Mutu Supervisi Pendidikan. Malang : PPS Manaje- men Pendidikan UM.

(7)

Mulyasa. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Dalam konteks Menyukseskan MBS dan KBK. Bandung:

PT Remaja Rosdakarya.

Natawidjaja, R. 1994. Profesionalisasi Guru. Makalah pada Seminar Pendidikan Profesional Tenaga Kependid- ikan. Bandung : FPS.

Olivia, Peter F. 1984. Supervision for Todays Schools. New York & London : Longman.

Peraturan Menteri Negara Pendayaguanaan Aparatur Negara Nomor 84/1993, tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Purwanto, Ngalim. 1987. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja Karya

Suhertian, Piet A. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta : Rineka Cipta

Suratin, 2013.Peningkatan Kinerja Guru Melalui Supervisi Berbasis Work Shop di SD Negeri Kupu 02 Ke- camatan Wanasari Brebes.Brebes. (tidak dipublikasikan)

Referensi

Dokumen terkait

Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi menerima pengajuan penerbitan NUPTK dari sekolah dalam aplikasi verval PTK dengan melakukan pemeriksaan berkas persyaratan

Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel bebas yang terdiri dari PDB riil per kapita negara tujuan ekspor, daya saing kakao olahan, harga riil ekspor kakao olahan, jumlah penduduk

chi square dapat diketahui bahawa nilai p =0,62, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi pelancar absorbsi zat

Simon sebagai alat analisis dalam penelitian ini adalah gambaran sistem pengambilan keputusan pemberian kredit yang direkomendasikan oleh peneliti pada sistem

gelanggang herediter kanan jika setiap ideal kanan dari R merupakan modul projektif atas R, dengan kata lain modul R R merupakan

Setelah Kerajaan Tumapel memiliki raja yang dipimpin oleh Ken Arok, Perang antara Kerajaan Kediri dengan Kerajaan Tumapel pun terjadi.. Perang antara kedua

Pada sediaan parenteral volume besar umumnya digunakan pembawa air tetapi dapat juga dipakai emulsi lemak intravena yang diberikan sendiri atau dikombinasi dengan

Jika dijamin bahwa dalam waktu yang bersamaan, jumlah komputer yang dapat menggunakan printer berbeda secara acak adalah kurang dari atau sama dengan , maka