TESIS
Diajukan Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Magister Bidang Pendidikan Agama Islam
Program Studi: Pendidikan Agama Islam
Oleh : ALI MUSLIM NIM. 18001729
PROGRAM PASCASARJANA (PPs)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO 1441 H/2020 M
KONTRIBUSI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DALAM MENUNJANG KEBERLANGSUNGAN PENDIDIKAN SISWA KURANG
MAMPU DI DESA BRAJA FAJAR WAY JEPARA LAMPUNG TIMUR
TESIS
Diajukan Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Magister dalam Bidang Pendidikan Agama Islam
Program Studi: Pendidikan Agama Islam
Oleh : ALI MUSLIM NIM. 18001729
Pembimbing I: Dr. H. Zainal Abidin, M.Ag Pembimbing II: Dr. Wahyudin, M.Phil
PROGRAM PASCASARJANA (PPs)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO 1441 H/2020 M
ABSTRAK
Kontribusi Program Keluarga Harapan (PKH) Dalam Menunjang Keberlangsungan Pendidikan Siswa Kurang Mampu Di Desa Braja Fajar
Way Jepara Lampung Timur Oleh :
Ali Muslim
Kemiskinan merupakan kesejanjangan sosial, ada sebagian KPM menerima bantuan Program Keluarga Harapan sering salah sasaran yaitu dibelanjakan untuk kebutuhan pokok, dan juga masyarakat malas bekerja dan sangat berharap pada bantuan Program Keluarga Harapan. Selain itu permasalahan yang muncul adalah anak melanjutkan ke jenjang lebih atas masih rendah, orang tua kurang memperhatikan pendidikan untuk anak-anaknya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan KPM terhadap PKH, kontribusi program Keluarga Harapan dalam menunjang pendidikan siswa kurang mampu dan dampak Program Keluarga Harapan dalam menunjang pendidikan siswa kurang mampu di Desa Braja Fajar Way Jepara.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, adalah field research (penelitian lapangan), maka sifat penelitian ini adalah bersifat deskriptif kualitatif. Tekhnik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan objek kajian pada permasalahan Kelurga Penerima Manfaat (KPM) terhadap Program Keluarga Harapan (PKH) dalam menunjang pendidikan siswa kurang mampu di Desa Braja Fajar Way Jepara Lampung Timur.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan KPM terhadap telah mengetahui pengertian, tujuan dan kepesertaan. kontribusi Program Keluarga Harapan (PKH) dalam menunjang pendidikan siswa kurang mampu di desa Braja Fajar Way Jepara adalah pendampingan dan pemberian uang tunai kepada peserta Program Keluarga Harapan (PKH) untuk biaya pendidikan.
Dampak Program Keluarga Harapan (PKH) dalam menunjang pendidikan siswa kurang mampu di desa Braja Fajar Way Jepara adalah, dampak positif yaitu meringankan beban pengeluaran bagi KPM, dan dapat menyelesaikan program pendidikan dasar 12 tahun. Selain itu juga meningkatkan motivasi belajar para peserta penerima PKH. Sedangkan dampak negatifnya yaitu, bantuan Program Keluarga Harapan sering kali salah sasaran, yang akibatnya menimbulkan kecemburuan sosial. Adapun bantuan ini disalahgunakan, seperti dibelanjakan untuk kebutuhan pokok, dan juga masyarakat malas bekerja dan sangat berharap pada bantuan Program Keluarga Harapan.
Kata kunci : Kontribusi, Pendidikan, dan PKH
ABSTRACT
Contribution of the Family of Hope Program (PKH) in Supporting the Continuity of Education of Underprivileged Students in Braja Fajar Village,
Way Jepara, East Lampung By:
Ali Muslim
Poverty is a social continuity, there are some KPM who receive assistance from the Hope Family Program, often misdirected, namely spent on basic needs, and also people are lazy to work and really hope for the assistance of the Hope Family Program. In addition, the problems that arise are that children continue to the upper level and are still low, parents do not pay attention to education for their children.
This study aims to determine the knowledge of KPM on PKH, the contribution of the Hope Family program in supporting the education of underprivileged students and the impact of the Hope Family Program in supporting the education of underprivileged students in the village of Braja Fajar Way Jepara.
The type of research used in this research is field research, so the nature of this research is descriptive qualitative in nature. Data collection techniques used were observation, interviews, and documentation. With the object of study on the problem of Beneficiary Families (KPM) of the Hope Family Program (PKH) in supporting the education of underprivileged students in Braja Fajar Village Way Jepara, East Lampung.
The results showed that the knowledge of the KPM had already known the meaning, objectives and participation. The contribution of the Hope Family Program (PKH) in supporting the education of underprivileged students in the village of Braja Fajar Way Jepara is assistance and giving cash to participants of the Hope Family Program (PKH) for education costs. The impact of the Hope Family Program (PKH) in supporting the education of underprivileged students in the village of Braja Fajar Way Jepara is a positive impact, namely reducing the burden on expenses for KPM and being able to complete the 12 year basic education program. In addition, it also increases the learning motivation of PKH recipient participants. Meanwhile, the negative impact was that assistance from the Hope Family Program was often misdirected, which resulted in social jealousy. This assistance was misused, such as being spent on basic needs, and the community was lazy to work and really hoped for the assistance from the Hope Family Program.
Keywords: Contribution, Education, and PKH
PEDOMAN TRANSLITERASI
1) Huruf Arab dan Latin
Huruf Arab Huruf Latin Huruf Arab Huruf Latin
ﺍ Tidak dilambangkan ﻃ ṭ
ﺏ B ﻅ ẓ
ﺕ T ﻉ `
ﺙ Ś ﻍ Ġ
ﺝ J ﻑ F
ﺡ ḥ ﻕ Q
ﺥ Kh ﻙ K
ﺩ D ﻝ L
ﺫ Ż ﻡ M
ﺭ R ﻥ N
ﺯ Z ﻭ W
ﺱ S ﻩ H
ﺵ Sy ﺀ `
ﺹ ṣ ﯽﯾ Y
ﺽ ḍ
2) Maddah atau vokal panjang
Harakat dan Huruf Huruf dan Tanda
ﯽ ︠– ﺍ ︠– Â
ﻲ ̱– Î
ﻭ – Û
Pedoman transliterasi ini dimodifikasi dari : Pedoman Transliterasi arab-Latin, Program Pascasarjana Metro, 2013
PERSEMBAHAN
Karya tulis ini dipersembahkan untuk:
1. Kedua Orangtuaku Bapak Neyek dan Ibu Hasanah dan ibu Mertua Saripah dan Bapak mertua Hasan (Alm) yang telah mendoakan untuk keberhasilanku dalam menuntut ilmu.
2. Istri Titin Fitriani dan Anakku Nabilla Miqaila Azzahra yang sudah ikut memberikan dukungan dan doa demi keberhasilanku
3. Rektor IAIN Metro Prof.Dr.Hj. Enizar, M.Ag, Direktur Pascasarjana IAIN Metro Ibu Dr. Hj. Tobibatussa‟adah, M.Ag, dan Bapak Dr.Hi, Zainal Abidin, M.Ag dan Dr. Wahyudin, M, Phil, selaku pembimbing dalam penyelesaian tesis ini
4. Rekan-rekan SDM PKH Kabupaten Lampung Timur 5. Almamater IAIN Metro Program Pascasarjana 6. Warga Pergerakan PMII
DAFTAR ISI
SAMPUL DEPAN ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
ABSTRACT ... iii
ABSTRAK ... iv
PERSETUJUAN TESIS ... v
PENGESAHAN ... vi
PERNYATAAN ORISINILITAS PENELITIAN ... vii
PEDOMAN TRANSLITERASI ... viii
PERSEMBAHAN ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pernyataan Penelitian ... 12
C. Tujuan Penelitian ... 12
D. Manfaat Penelitian ... 12
E. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 13
F. Kerangka konsep Penelitian ... 15
BAB II. LANDASAN TEORI ... 17
A. Kemiskinan ... 17
1. Pengertian Kemiskinan ... 17
2. Ciri-Ciri Kemiskinan ... 21
3. Pembinaan Keluarga Miskin dalam Pandangan Islam ... 24
B. Pemberdayaan Masyarakat ... 28
C. Konsep Keluarga Harapan (PKH) ... 32
D. Dasar dan Tujuan Program Keluarga Harapan ... 39
E. Ketentuan Peserta Program Keluarga Harapan ... 41
F. Peran PKH Sebagai Pemberi Pelayanan Pendidikan ... 45
BAB III. METODE PENELITIAN ... 49
A. Jenis dan Sifat Penelitian... 49
1. Jenis Penelitian ... 49
2. Sifat Penelitain ... 50
B. Sumber Data ... 50
C. Teknik Pengumpulan Data ... 52
D. Teknik Analisis Data ... 54
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 58
A. Gambaran Umum Desa Braja Fajar Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur ... 58
1. Sejarah Berdirinya Desa Braja Fajar Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur ... 58
2. Sejarah Berdirinya Pemerintahan Braja Fajar Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur ... 59
B. Pengetahuan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) terhadap Program Keluarga Harapan (PKH) dalam Menunjang Pendidikan 70 1. Memahami Makna Program Keluarga Harapan Dari Para Informan ... 70
2. Memahami Tujuan Program Keluarga Harapan (PKH) di Bidang Pendidikan ... 71
C. Kontribusi Program Keluarga Harapan Terhadap Pendidikan Siswa Kurang Mampu di Desa Braja Fajar Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur ... 73
D. Dampak Program Keluarga Harapan (PKH) dalam Menunjang Pendidikan Siswa Kurang Mampu di Desa Braja Fajar Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur ... 75
1. Dampak Positif ... 75
2. Dampak Negatif... 78
BAB V. PENUTUP ... 82
A. Kesimpulan ... 82
B. Saran ... 83 LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR ISTILAH
Aslut Asistensi Lanjut Usia Terlantar
ASPDB Asistensi Sosial Penyandang Disabilitas Berat BPNT Bantuan Pangan Non Tunai
BPS Badan Pusat Statistik BSM Bantuan Siswa Miskin CCT Conditional Cash Transfers DAPODIK Data Pokok Pendididikan DISABILITAS Cacat
FDS Famil Development Session
Fe Ferrum
HB Hepatitis B
ILO International Labour Organization
IPM Indek Pembangunan Manusia
Jampersal Jaminan Persalinan
JKN Jaminan Kesehatan Nasional KIA Kesehatan Ibu dan Anak KIP Kesehatan Indonesia Pintar KIS Kartu Indonesia Sehat
KK Kartu Keluarga
KKS Kartu Keluarga Sejahtera
KM Keluarga Miskin
KPM Keluarga Penerima Manfaat
P2KP Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga
PA Pertemuan Awal
PBI Penerimaan Bantuan Iuran PDB Penyandang Disabilitas Berat PIP Program Indonesia Pintar PIS Program Indonesia Sehat
PKH Program Keluarga Harapan
PPK Pemberian Pelayanan Kesehatan
PPLS Pendataan Program Perlindungan Sosial PSKS Program Simpanan Keluarga Sejahtera PSM Pekerja Sosial Masyarakat
RTM Rumah Tangga Miskin
RTSM Rumah Tangga Sangat Miskin RUTILAHU Rumah Tangga Layak Huni
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemiskinan merupakan masalah global yang dialami oleh semua negara di dunia. Masalah kemiskinan menjadi masalah yang sangat rumit sehingga suatu negara tidak dapat memiliki kemampuan untuk menghapus kemiskinan secara sendirian.Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak dan dengan jumlah penduduk yang banyak, kemiskinan pun tidak dapat dihindari. Masalah kemiskinan bukan hal asing di negeri ini.
Pada umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena pangan yang ada masih kurang tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi.
Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern.
Dalam Al-qur‟an di jelaskan Q.S. Al-Isra ayat 26 yaitu:
Artinya: Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Q.S. Al- Isra: 26)
Kemiskinan tidak dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi
1
seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar diakui secara umum antara lain meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan dan perumahan.
Masalah sosial yang ada di Indonesia merupakan masalah yang senantiasa relevan untuk dikaji terus menerus. Masalah kemiskinan telah hadir sejak lama dan masih ada di tengah-tengah masyarakat saat ini, gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia. Hal ini juga dikarenakan Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang dengan jumlah penduduk yang terus meningkat setiap tahun, sehingga tingkat kesejahteraan rakyatnya masih jauh dibawah tingkat kesejahteraan negara-negara maju.
Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan dan pengembangan sistem jaminan sosial, mulai tahun 2007 Pemerintah Indonesia melaksanakan Program Keluarga Harapan (PKH).
Tujuan utama PKH adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia terutama bidang pendidikan dan kesehatan pada kelompok Keluarga Penerima Manfaat (KPM). PKH merupakan salah satu strategi penanggulangan kemiskinan yang dirancang untuk membantu KPM pada sisi beban pengeluaran khususnya terkait dengan upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk jangka pendek dan memperbaiki pola pikir serta mengubah perilaku yang dapat membawa pada pemutusan rantai kemiskinan rumah tangga tersebut untuk jangka yang lebih panjang.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017 masih terdapat angka putus sekolah pada semua jenjang sekolah dasar dan menengah, tingginya angka putus sekolah menyebabkan peringkat indeks pembangunan rendah. Oleh karena itu mendorong anak untuk tetap bersekolah pada usia remaja menjadi hal mendasasr. Keikutsertaan mereka yang berada di luar sistem sekolah pun harus menjadi perhatian utama.
Tanpa perhatian khusus pemerintah anak putus sekolah rentan menjadi korban eksploitasi, termasuk perdagangan anak. Bahkan mereka rentan pula terhadap pelenggaran hukum dari penyalahgunaan obat terlarang sampai dengan kriminalitas. Putus sekolah juga berdampak pada minimnya wawasan pengetahuan yang dimiliki oleh anak, masa depan anak tidak jelas, menyebabkan banyaknya pengangguran di masa mendatang, dan di masa mendatang anak ini cenderung berpikiran lebih mementingkan adat/budaya dari pada pendidikan, seperti halnya orang tuanya.
Program pemerintah untuk mengurangi jumlah putus sekolah pada tingkat sekolah dasar cukup berhasil. Hal itu dapat dilihat pada data pendidikan dan kebudayaan pusat dan statistik pendidikan dan kebudayaan kemendikbud tahun 2017 jumlah siswa putus sekolah tingkat sekolah dasar menunjukkan penurunan sejak tahun ajaran 2015 sampai dengan 2018. Hal yang sama terjadi pada tingkat sekolah menegah atas. Perkembangan jumlah putus sekolah yang harus menjadi perhatian ada pada tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah kejuruan.
Tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 terjadi peningkatan target manfaat dan alokasi budget PKH, melampaui baseline target perencanaan, pelaksanaan PKH tahun 2016 sebanyak 6 juta keluarga penerima manfaat dengan anggaran sebesar 10 triliun, pelaksanaan PKH tahun 2017 sebanyak 6.228.810 penerima manfaat dengan anggaran sebesar 11,5 triliun dan tahun 2018 penerima PKH sebanyak 10 juta, dengan anggaran 19,4 triliun.
Masalah kemiskinan yang ada di Indonesia merupakan masalah sosial yang senantiasa dikaji secara terus menerus, bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama dan masih hadir di tengah-tengah kita saat ini, tetapi karena gejalanya kini semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi bangsa Indonesia, dikarenakan Indonesia merupakan salah satu Negara yang sedang berkembang dengan jumlah penduduk yang terus menerus meningkat di setiap tahunnya. Tingkat kesejahteraan rakyatnya masih jauh di bawah tingkat kesejahteraan negara- negara maju.Kemiskinan seyogyanya digambarkan dengan kondisi seseorang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan dan papan.
Salah satu jalan yang ditetapkan Al-Qur‟an untuk menolong orang miskin ialah menjadikan pertolongan itu sebagai ganti dari perintah agama (ibadah) yang tidak dapat ditunaikan karena alasan-alasan tertentu.1
Sebagaimana perintah Allah SWT. dalam QS. Al-Ma‟un Ayat 1-3 tentang anjuran mengasihi anak yatim dan memberi makan orang miskin
1 Hamdar Arraiyayah, Meneropong Fenomena Kemiskinan Telaah Perspektif Al-Qur’an, (Pustaka Pelajar; Jakarta: 2007), h. 106.
yang juga dijadikan sebagai salah satu landasan pembinaan keluarga miskin, sebagai berikut:
Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama, itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. (QS. Al-Maun: 1-3)2
Ayat-ayat Al-Qur‟an tentang kemiskinan menimbulkan berbagai interpretasi di kalangan umat Islam. Salah satu interpretasi yang mucul ialah pengakuan bahwa adanya kaya dan miskin merupakan kodrat hidup, termasuk sunatullah, kaya dan miskin merupakan pasangan keadaan yang bersifat langgeng, akan selalu ada dalam kehidupan manusia. Pembicaraan tentang kaya dan miskin dalam Al-Qur‟an dapat pula dipahami bahwa Al-Qur‟an mengakui adanya penggolongan sosial atau stratifikasi sosial dari sudut pandang ekonomi. Hanya saja perlu ditelusuri lebih jauh ialah bagaimana eksistensi masing-masing golongan itu dan pola hubungan yang dikehendaki di antara keduanya.3
Definisi kemiskinan dengan menggunakan pendekatan kebutuhan dasar seperti ini diterapkan oleh Depsos, terutama dalam mendefinisikan fakir miskin. Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dalam memenuhi
2 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. (PT.Sygma Examedia Arkanleema; Bandung: 2009), h.602.
3 Hamdar Arrayyah, Meneropong Fenomena Kemiskinan Telaah Perspektif Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), h.6.
kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak. Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan.4
David Cox membagi kemiskinan ke dalam beberapa dimensi: 1).
Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi. Globalisasi menghasilkan pemenang dan yang kalah. Pemenang umumnya adalah negara-negara maju sedangkan negara-negara berkembang seringkali semakin terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan pasar globalisasi, 2) Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan, kemiskinan subsistem (kemiskinan akibat rendahnya pembangunan), kemiskinan pedesaan (kemiskinan akibat peminggiran pedesaan dalam proses pembangunan), kemiskinan perkotaan (kemiskinan yang disebabkan oleh hakekat dan kecepatan pertumbuhan dan perkotaan), 3) Kemiskinan sosial. kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anak-anak dan kelompok minoritas, 4) Kemiskinan konsekuensial, kemiskinan yang terjadi akibat kejadian-kejadian lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin, seperti konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan dan tingginya jumlah penduduk.5
Kurangnya pendapatan mengakibatkan seseorang memiliki kualitas hidup yang rendah, disebabkan orang miskin tidak memiliki biaya untuk mengakses berbagai layanan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kemiskinan telah membatasi hak rakyat untuk mendapatkan pendidikan yang layak,
4 BPS/Badan Pusat Statistik dan Depsos/Departemen Sosial (2002), Penduduk Fakir Miskin Indonesia 2002, Jakarta: BPS.
5 Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. (Bandung: PT.Refika Aditama, 2014), h. 132-133.
mendapatkan pekerjaan yang memadai, mengakses kesehatan yang terjamin dan kemiskinan menjadi alasan rendahnya indeks pembangunan manusia di Indonesia.
Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai inspirasi dasar dan perjuangan akan kemerdekaan bangsa, serta memotivasi fundamental dari cita-cita untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Perlu disadari bahwa tidak semua rakyat bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas. Lapisan masyarakat menengah ke bawah banyak yang tidak bisa mengenyam pendidikan. Hal tersebut disebabkan karena mereka tidak memiliki biaya untuk mengakses pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan di Indonesia mengakibatkan keluarga miskin dengan terpaksa tidak menyekolahkan anakanaknya, banyak anak yang putus sekolah dan memilih untuk mencari pekerjaan untuk menopang kondisi keuangan keluarga demi kelangsungan hidup kedepannya.Untuk meminimalisir permasalahan kesejahteraan sosial, khususnya kemiskinan yang terus bertambah dari hari ke hari maka pemerintah Indonesia melalui kementrian sosial mengeluarkan Program Keluarga Harapan (PKH). Program ini dilaksanakan oleh Dinas Sosial yang merupakan salah satu instansi pemerintahan yang bergerak di bidang sosial6. Program ini berupaya untuk mengembangkan system perlindungan sosial terhadap warga miskin di Indonesia. Program ini memberikan bantuan tunai kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan catatan mengikuti persyaratan yang diwajibkan.
6Dedy Utomo, et.al. Pelaksanaan Program Keluarga Harapan Dalam MeningkatkanKualitas Hidup Rumah Tangga Miskin, Jurnal Adaministrasi Publik (JAP) Vol 2, No.1. h.29
Persyaratan itu terkait dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yaitu kesehatan dan pendidikan. Sasaran dari program yaitu ibu hamil, ibu menyusui, memiliki anak balita dan anak usia sekolah setingkat SD-SMP dan SMA. Penerima bantuan ini adalah ibu atau wanita dewasa yang mengurus anak pada rumah tangga yang bersangkutan.
Untuk meminimalisir kemiskinan maka pemerintah melalui kementrian sosial mengeluarkan program-program untuk pengentasan kemiskinan serta perlindungan sosial. Program-program yang dilaksanakan dalam upaya pengentasan kemiskinan selama ini belum mampu memberikan dampak besar sehingga sampai saat ini tujuan dari pembanguanan nasional terkait dengan masalah pemerataan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat masih menjadi masalah yang berkepanjangan.7 Program-program pendidikan pada umumnya menampung keinginan atau kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Pasalnya pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia karena dengan berpendidikan terciptalah manusia yang berkualitas, berintelektual dan terhindar dari kebodohan. Pada gilirannya, tersedia manusia inovatif serta lembaga-lembaga yang kondusif untuk meningkatkan mutu kehidupan, kedua-duannya menjadi faktor penentu petumbuhan ekonomi.8 Oleh karena itu dalam rangka penanggulangan kemiskinan berbasis rumah tangga, Pemerintah meluncurkan program khusus yang diberi nama Program Keluarga Harapan (PKH).
7Dedy Utomo, et.al. Pelaksanaan Program Keluarga Harapan Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Rumah Tangga Miskin, Jurnal Adaministrasi Publik (JAP) Vol 2, No.1
8 H.A.R Tilaar, Perubahan Sosial Dan Pendidikan, (Jakarta: PT. Renika Cipta, 2012), h.405
Ketika PKH diluncurkan pada tahun 2007, penerima manfaat program yang dipilih merupakan rumah tangga yang sangat miskin yaitu mereka yang berada di bawah 80 persen garis kemiskinan resmi saat itu. Karena program ini merupakan program rintisan, cakupan awalnya pun sangat rendah. Hingga tahun 2012, program ini hanya menjangkau 1,5 juta keluarga, dibanding total 60 juta keluarga miskin di Indonesia serta sekitar 6,5 juta keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan. PKH diharapkan mampu menjangkau lebih banyak rumah tangga miskin di tahun-tahun selanjutnya.9
Salah satu tujuan akhir PKH adalah meningkatkan angka partisipasi sekolah anak bagi anak-anak KPM. Angka Partisipasi Sekolah (APS) adalah Proporsi dari semua anak yang masih sekolah pada suatu kelompok umur tertentu terhadap penduduk dengan kelompok umur yang sesuai. Angka partisipasi sekolah (APS) terdiri dari dua jenis pengukuran yaitu angka partisipasi murni (APM) dan angka partisipasi kasar (APK). Perbedaan dari kedua hal tersebut yaitu bila APM mengukur perbandingan antara Proporsi penduduk pada kelompok umur jenjang pendidikan tertentu yang masih bersekolah terhadap penduduk pada kelompok umur tersebut. Sedangkan APK mengukur Proporsi anak sekolah pada suatu jenjang tertentu terhadap penduduk pada kelompok usia tertentu.
Pada studi ini data partisipasi sekolah yang digunakan adalah data APK agar mencakup secara keseluruhan penduduk yang berpartisipasi pada tingkat pendidikan dasar (SD, SMP, dan SMA sederajat). APK menunjukkan tingkat
9 Suahasil Nazara, Sri Kusumastuti Rahayu, Program Keluarga Harapan, TNP2K, Oktober, 2013, h.1
partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. APK juga merupakan salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan bagi penduduk untuk mengenyam pendidikan.10
Pengetahuan KPM terhadap PKH bahwa Keluarga Penerima Manfaat telah mengetahui pengertian, tujuan dan kepesertaan PKH, kontribusi Program Keluarga Harapan (PKH) dalam menunjang pendidikan siswa kurang mampu di Desa Braja Fajar Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur adalah pemberian uang tunai kepada peserta, Program Keluarga Harapan (PKH) untuk biaya pendidikan anak-anak Keluarga Penerima Manfaat (KPM), dampak Program Keluarga Harapan (PKH) dalam menunjang pendidikan siswa kurang mampu di desa Braja Fajar adalah meringankan beban pengeluaran bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM), dan anak-anak Keluarga Penerima Manfaat dapat menyelesaikan program pendidikan dua belas tahun, dan peningkatan kehadiran siswa di sekolah, masih ada sebagian KPM menerima bantuan Program Keluarga Harapan sering salah sasaran yaitu dibelanjakan untuk kebutuhan pokok, dan juga masyarakat malas bekerja dan sangat berharap pada bantuan Program Keluarga Harapan, permasalahan yang muncul adalah anak melanjutkan ke jenjang lebih atas masih rendah, orangtua kurang memperhatikan pendidikan
10 Niken Ajeng Lestari, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengatuhi Angka Partisipasi Sekolah Serta Angka Putus Sekolah Tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah”. (Tesis Program Magister Sains Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 2014). h.5-6
anak-anaknya dalam berakhlak yang mulia. Program Penerima manfaat Kelurga Harapan di desa Braja Fajar adalah 143 Kelurga Penerima Manfaat (KPM)11. Orangtua penerima program PKH seharusnya bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi peran orangtua dalam pendidikan yang efektif di keluarga sangat penting untuk dihadirkan seperti pembinan akhlak dalam keluarga penerima manfaat program keluarga harapan (PKH) khususnya di Desa Braja Fajar Way Jepara Lampung Timur.
Dari uraian di atas penulis berpendapat bahwa kemiskinan merupakan kesejanjangan sosial, ada sebagian KPM menerima bantuan Program Keluarga Harapan sering salah sasaran yaitu dibelanjakan untuk kebutuhan pokok, dan juga masyarakat malas bekerja dan sangat berharap pada bantuan Program Keluarga Harapan, permasalahan yang muncul adalah anak melanjutkan ke jenjang lebih atas masih rendah, orangtua kurang memperhatikan pendidikan anak-anaknya dalam berakhlak yang mulia.
Dari beberapa uraian dan permasalahan di atas penulis akan mengkaji lebih lanjut tentang judul proposal tesis yang berkaitan dengan “Kontribusi Program Keluarga Harapan Dalam Menunjang Pendidikan Siswa Kurang Mampu Di Desa Braja Fajar Way Jepara Lampung Timur”.
11 Wawancara dengan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Bapak Mustajab, tanggal 01 Desember 2019
B. Pertanyaan Penulisan
Dengan adanya kesenjangan masalah yang ada, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengetahuan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) terhadap Program Keluarga Harapan (PKH) dalam menunjang pendidikan siswa kurang mampu di Desa Braja Fajar Way Jepara Lampung Timur?
2. Apa kontribusi Program Keluarga Harapan dan dampaknya terhadap pendidikan siswa kurang mampu di Desa Braja Fajar Way Jepara Lampung Timur?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengetahuan KPM terhadap PKH dalam menunjang pendidikan siswa kurang mampu di Desa Braja Fajar Way Jepara
2. Untuk mengetahui kontribusi dan dampak Program Keluarga Harapan terhadap pendidika siswa kurang mampu di Desa Desa Braja Fajar Way Jepara
D. Manfaat Penulisan
Penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1. Secara Teoritis, melalui penulisan ini diharapkan dapat menghasilkan temuan-temuan baru yang akan berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang pengaruh Program Keluarga Harapan terhadap Pendidikan siswa kurang mampu di Desa Braja Fajar Way Jepara Lampung Timur.
2. Secara Praktis, bagi penerima KPM, agar bisa melanjutkan pendidikan dan memahami pentingnya sebuah pendidikan, bagi orang tua, supaya bisa melanjutkan pendidikan anak-anaknya dan meringankan beban bagi KPM.
Dan bagi pemerintah setempat, dapat memberikan masukan positif bagi pemerintah Lampung Timur dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan Program Keluarga Harapan, dapat pula dijadikan sebagai masukan bagi pihak Dinas Sosial Kabupaten Lampung Timur.
E. Penulisan Terdahulu yang Relevan
Banyak di kalangan mahasiswa atau para aktifis yang mengangkat permasalahan tentang Program Keluarga Harapan (PKH) untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Ada beberapa penulisan yang telah lalu, namun ada perbedaan tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing penulis. Penulisan yang terkait diantaranya :
Penulisan Munawwarah (2016), dengan judul “Pengaruh Kebijakan Program Keluarga Harapan (PKH) Terhadap Penanggulangan Kemiskinan”
menyimpulkan bahwa pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) berjalan dengan sangat baik, dan sesuai denangan prinsi keadilan. 12
Penulisan Slamet Riyadi (2016), Analisis Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) terhadap Keluarga Sangat Miskin (KSM) Penerima Bantuan, menyimpulkan bahwa kwalitas Program Keluarga Harapan (PKH) dinilai
12 Munawwarah, Pengaruh Kebijakan Program Keluarga Harapan (PKH) terhadap penanggulangan Kemiskinan”, UIN Alaudin Makasar, Tesis, 2016
lebih baik jika dibandingkan dengan varian bantuan langsung tunai seperti PSKS dan BLSM.13
Penulisan Nurul Aini (2018), dengan judul “Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) dalam Pemberdayaan Masyarakat Miskin Kota Di Kelurahan Way Dadi Kecamatan Sukarame Kota Bandar Lampung”
perbedaan dengan penulisan yang ditulis dalam review adalah dalam pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan perencanaan dan teori dimana adanya stimulus respon antara Keluarga Penerima Manfaat dan Program .Hasil penulisan ini diketahui bahwa PKH Way Dadi melalui kegiatan, dimana dalam program memiliki komponen yang harus saling berkaitan antara satu dengan yang lain, baik itu input, proses, output yaitu perubahan prilaku KPM menjadi lebih mandiri dan outcome berhasil menurunkan angka kemiskinan yang ada di Way Dadi.14
Nurfahira Syamsir (2014), dengan judul Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) Bidang Pendidikan, hasil penulisan menunjukkan bahwa pendamping selalu melakukan pertemuan kelompok, pemutakhiran data, verifikasi komitmen, dan pembayaran bantuan kepada peserta PKH. Dari faktor isi dan konteks kebijakan, dimana isi kebijakan terdiri dari kepentingan yang mempengaruhi, manfaat, derajat perubahan yang ingin dicapai, pelaksanaan program dan sumber daya yang digunakan. Setelah diadakan penulisan maka dapat disimpulkan bahwa PKH bidang pendidikan ini sudah
13 Slamet Riyadi, Analisis Implementasi PKH terhadap Keluarga Sangat Miskin (KSM) penerima Bantuan.Unila, Tesis, 2016
14 Nurul Aini, “Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) dalam Pemberdayaan Masyarakat Miskin Kota Di Kelurahan Way Dadi Kecamatan Sukarame Kota Bandar Lampung”,Tesis, UIN Lampung, 2018.
berjalan dengan lancar walau masih terdapat kekurangan dalam pengimplementasian.15
Sedangkan penulis akan melakukan penulisan yang berkaitan tentang
“Kontribusi Program Keluarga Harapan dalam Menunjang Pendidikan Siswa Kurang Mampu di Desa Braja Fajar Way Jepara Lampung Timur“. Dengan demikian, penulisan yang penulis lakukan ini berbeda dengan penulisan- penulisan sebelumnya, penulisan ini memerlukan kajian yang lebih komprehensif untuk dapat mengetahui kontribusi PKH terhadap pendidikan siswa kurang mampu di Braja Fajar“, dan mengetahui dampak dari PKH dalam menunjang siswa kurang mampu di Desa Braja Fajar Lampung Timur.
F. Kerangka Konsep Penulisan
Kerangka konsep penulisan pada dasarnya adalah formulasi atau simplikasi kerangka hubungan antara teori atau konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penulisan-penulisan yang akan dilakukan.
Dengan kata lain kerangka konsep merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting terhadap masalah penulisan.
Program Keluarga Harapan (PKH) dapat dimaknai sebagai upaya pemerintah memberikan bantuan berupa uang tunai kepada Keluarga Penerima Manfaat dengan tujuan mengurangi kemiskinan yang salah satunya difokuskan pada
15 Nurfahira Syamsir, Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) Bidang Pendidikan, Tesis, Universitas Hasanudi, 2014
bidang pendidikan anak usia 7-18 tahun (SD–SMP dan SMA).Berdasarkan kerangka konsep diatas maka dapat digambarkan bagan sebagai berikut:
Bagan 1 Kerangka Konsep Kontribusi PKH
yaitu uang tunai untuk biaya
pendidikan siswa
Siswa Kurang Mampu Program
Keluarga Harapan (PKH)
Dampak yang ditimbulkan dari
PKH
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kemiskinan
1. Pengertian Kemiskinan
Miskin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu tidak berharta, serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah).1
Kemiskinan merupakan masalah global yang dialami oleh semua negara di dunia. Masalah kemiskinan menjadi masalah yang sangat rumit sehingga suatu negara tidak dapat memiliki kemampuan untuk menghapus kemiskinan secara sendirian.Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak dan dengan jumlah penduduk yang banyak, kemiskinan pun tidak dapat di hindari. Masalah kemiskinan bukan hal asing di negeri ini. Pada umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena pangan yang ada masih kurang tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern.
Kemiskinan tidak dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara
1 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008).
17
bermartabat. Hak-hak dasar diakui secara umum antara lain meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan dan perumahan.
Masalah sosial yang ada di Indonesia merupakan masalah yang senantiasa relevan untuk dikaji terus menerus. Masalah kemiskinan telah hadir sejak lama dan masih ada di tengah-tengah masyarakat saat ini, gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia. Hal ini juga dikarenakan Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang dengan jumlah penduduk yang terus meningkat setiap tahun, sehingga tingkat kesejahteraan rakyatnya masih jauh di bawah tingkat kesejahteraan negara- negara maju.
Kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir di tengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Kemiskinan senantiasa menarik perhatian berbagai kalangan, baik para akademisi maupun para praktisi. Berbagai teori, konsep dan pendekatan terus dikembangkan untuk memberantas kemiskinan ini. Di Indonesia, masalah sosial merupakan masalah yang senantiasa relevan untuk dikaji terus menerus. Ini bukan saja karena kemiskinan telah ada sejak lama dan masih hadir di tengah-tengah kita saat ini, melainkan pula karena kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh Bangsa Indonesia.
Kemiskinan pada umumnya didefinisikan dari segi ekonomi, khususnya pendapatan dalam bentuk uang ditambah dengan keuntungan-
keuntungan non material yang diterima oleh seseorang. Namun demikian, secara luas kemiskinan juga kerap didefinisikan sebagai kondisi yang ditandai oleh serba kekurangan; kekurangan pendidikan, keadaan kesehatan yang buruk dan kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kemiskinan adalah ketidak mampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak. Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan2.
Data formal yang digunakan untuk menunjukkan angka kemiskinan adalah menggunakan metode kemiskinan yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kriteria keluarga miskin dengan metode BPS menggunakan pendekatan basic needs (dasar keinginan), hal ini dikarenakan kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan yang bersifat mendasar. Batas kecukupan pangan dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan untuk makanan yang memenuhi kebutuhan minimum energi 2100 kalori perkapita perhari. Batas kecukupan non makanan dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan untuk non makanan yang memenuhi kebutuhan minimum seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi, dll.
David Cox membagi kemiskinan ke dalam beberapa dimensi; 1) kemiskinan yang diakibatkan globalisasi. Globalisasi menghasilkan
2 BPS/Badan Pusat Statistik dan Depsos/Departemen Sosial (2002), penduduk Fakir Miskin Indonesia 2002, Jakarta: BPS.
pemenang dan yang kalah. Pemenang umumnya adalah negara-negara maju sedangkan negara-negara berkembang seringkali semakin terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan pasar globalisasi, 2) kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan.
Kemiskinan subsistem (kemiskinan akibat rendahnya pembangunan), kemiskinan pedesaan (kemiskinan akibat peminggiran pedesaan dalam proses pembangunan), kemiskinan perkotaan (kemiskinan yang disebabkan oleh hakekat dan kecepatan pertumbuhan dan perkotaan), 3) kemiskinan sosial. Kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anak-anak dan kelompok minoritas, 4) kemiskinan konsekuensial. Kemiskinan yang terjadi akibat kejadian-kejadian lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin, seperti konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan dan tingginya jumlah penduduk.3
Dapat diuraikan bahwa adapun ciri sekaligus penyebab kemiskinan yakni : Kemiskinan alamiah, kemiskinan yang timbul sebagai akibat sumber daya yang langka jumlahnya, atau karena perkembangan tingkat tehnologi yang sangat rendah. Termasuk didalamnya adalah kemiskinan akibat jumlah penduduk yang melaju dengan pesat di tengah- tengah sumber daya alam yang tetap. Adapun, kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial sedemikian rupa, sehingga masyarakat itu tidak dapat menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Kemiskinan struktural
3 Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. (Bandung: PT.Refika Aditama, 2014), h. 132-133.
ini terjadi karena kelembagaan yang ada membuat anggota atau kelompok masyarakat tidak menguasai sarana ekonomi dan fasilitas- fasilitas secara merata. Kemudian, kemiskinan yang muncul karena tuntutan tradisi / adat yang membebani ekonomi masyarakat, seperti upacara perkawinan, kematian atau pesta pesta adat lainnya.termasuk juga dalam hal ini sikap mentalitas penduduk yang lamban, malas, konsumtif serta kurang berorientasi ke masa depan.
Dari uraian di atas penulis menyimpulkan baha kemiskinan Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang dan papan) dan ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi air bersih dan transportasi).
2. Ciri-Ciri Kemiskinan
Kemiskinan merupakan konsep dan fenomena yang senantiasa hadir ditengah-tengah masyarakat. Misalnya, menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki beberapa ciri;
a. Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang dan papan).
b. Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi air bersih dan transportasi).
c. Ketiadaan jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
d. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massal.
e. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam.
f. Ketidak terlibatan dalam kegiatan sosial masyarakat.
g. Ketiadaan akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
h. Ketidak mampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
i. Ketidak mampuan dan ketidak beruntungan sosial (anak terlantar, wanita korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil)4.
Badan Pusat Statisik menetapkan 14 indikator kemiskinan dan rumah tangga miskin,yaitu;
1) Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang.
2) Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
3) Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa plester.
4) Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain.
5) Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
4 Edi Suharto, Masalah Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial di Indonesia:
Kecenderungan dan Isu (Bandung: Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, 2004), h.7-8.
6) Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan.
7) Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah.
8) Hanya mengkonsumsi daging/ayam/susu satu kali dalam seminggu.
9) Hanya membeli 1 (satu) stel pakaian baru dalam setahun.
10) Hanya sanggup makan sebanyak 1 (satu) atau 2 (dua) kali dalam sehari.
11) Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di Puskesmas/Poliklinik.
12) Dasar (SD) atau hanya SD.
13) Tidak memiliki tabungan Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan dengan 0,5 ha, buruh tani, nelayan, buruh perkebunan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000 per bulan.
14) Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga; tidak sekolah/tidak tamat Sekolah /barang yang mudah dijual dengan nilai Rp 500.000,- seperti sepeda motor (kredit/nonkredit5
Berdasarkan indikator kemiskinan tersebut, maka kemiskinan dibagi menjadi tiga, yaitu;
a) Hampir Miskin
5 Badan Pusat Statistik (BPS), RI, 2017
Seseorang atau rumah tangga yang masuk kategori hampir miskin apabila memenuhi 6-9 indikator.
b) Miskin
Seseorang atau rumah tangga yang masuk kategori miskin apabila memenuhi 9-12 indikator
c) Sangat Miskin/Fakir Miskin
Seseorang atau rumah tangga yang masuk kategori sangat miskin atau fakir miskin apabila memenuhi 12-14 indikator.6
Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa ciri kemiskinan Ketidak mampuan dan ketidak beruntungan sosial (anak terlantar, wanita korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil).
3. Pembinaan Keluarga Miskin dalam Pandangan Islam
Salah satu jalan yang ditetapkan Al-Qur‟an untuk menolong orang miskin ialah menjadikan pertolongan itu sebagai ganti dari perintah agama (ibadah) yang tidak dapat ditunaikan karena alasan-alasan tertentu.7
Sebagaimana perintah Allah SWT. dalam QS. Al-Ma‟un Ayat 1-3 tentang anjuran mengasihi anak yatim dan memberi makan orang miskin yang juga dijadikan sebagai salah satu landasan pembinaan keluarga miskin, sebagai berikut:
6 Suradi, Mujiyadi., Pemberdayaan Masyarakat Miskin, (P3KS; Jakarta: 2009), h. 10-12.
7 Hamdar Arraiyayah, Meneropong Fenomena Kemiskinan Telaah Perspektif Al-Qur’an, (Pustaka Pelajar; Jakarta: 2007), h. 106
Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin, maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya. (Q.S Al-Maun, 1-6)
Riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
Ayat-ayat Al-Qur‟an tentang kemiskinan menimbulkan berbagai interpretasi di kalangan umat Islam. Salah satu interpretasi yang mucul ialah pengakuan bahwa adanya kaya dan miskin merupakan kodrat hidup, termasuk sunatullah.8 Artinya, kaya dan miskin merupakan pasangan keadaan yang bersifat langgeng, akan selalu ada dalam kehidupan manusia.
Pembicaraan tentang kaya dan miskin dalam Al-Qur‟an dapat pula dipahami bahwa Al-Qur‟an mengakui adanya penggolongan sosial atau stratifikasi sosial dari sudut pandang ekonomi. Hanya saja perlu
8 Yusuf al-Qardhawiy, Musykilat al-Faqr wa Kaifa ‘Alajahaal-Islam (Kairo: Maktabat Wahbat, 1986)
ditelusuri lebih jauh ialah bagaimana eksistensi masing-masing golongan itu dan pola hubungan yang dikehendaki di antara keduanya.9
Pekerjaan sosial adalah aktivitas kemanusiaan sejak kelahirannya sekian abad lalu telah memiliki perhatian yang mendalam pada pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat yang lemah dan kurang beruntung (disadvantaged groups), seperti orang miskin, Orang Dengan Kecacatan (ODK), Komunitas Adat Terpencil (KAT). Prinsip-prinsip pekerjaan sosial, seperti “menolong orang agar mampu menolong dirinya sendiri” (to help people to thelp themselves), “penentuan nasib sendiri”
(self determination), “bekerja dengan masyarakat” (working for people), menunjukkan betapa pekerjaan sosial memiliki komitmen yang kuat terhadap pemberdayaan masyarakat.
Dalam pembinaan diperlukan tahapan seperti berikut:
a. Meluruskan Niat
Mengadakan pembinaan, pemberdayaan fakir miskin diharapkan antara Pembina dan yang dibina mempunyai tujuan yang sama antara lain;
1) Diharapkan fakir miskin dalam memenuhi kebutuhan hidupnya mampu menjaga diri untuk tidak meminta-minta.
2) Tidak menghalalkan segala cara untuk mengambil yang bukan hak miliknya.
9 Hamdar Arrayyah, Meneropong Fenomena Kemiskinan Telaah Perspektif Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), h.6.
3) Dalam usaha pemberdayaan supaya mengikuti aturan-aturan yang ada.
4) Setiap fakir miskin dalam mengikuti kegiatan pemberdayaan tidak melakukan kegiatan yang dilarang oleh agama atau aturan hukum negara.
b. Memberikan Motivasi Usaha.
Pemberdayaan fakir miskin diharapkan mengikuti rambu-rambu yang ada, yang telah diatur dalam berbagai aturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Diharapkan jangan sampai mengerjakan usaha yang sama yang menjadikan usaha mereka jadi tidak memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan usaha yang berbeda- beda diharapkan pemenuhan keperluan masyarakat dapat terpenuhi secara seimbang dan adil.
c. Memerhatikan Nilai-nilai Illahiyah
Memenuhi kehidupan para fakir miskin diharapkan mencari rezeki dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan modal dasar pendidikan, pengetahuan, pengalaman, pelatihan dan permodalan yang ada. Di samping itu tidak boleh dalam kegiatan pemberdayaan tersebut melupakan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlaq mulia.
d. Selalu Ingat Pada Allah Swt
Allah Swt adalah yang menciptakan makhluk-Nya termasuk manusia. Allah Swt menjamin kehidupan makhluk-Nya. Namun dalam memenuhi kehidupannya setiap manusia diwajibkan untuk berusaha
dengan yakin dan bersungguh-sungguh. Mengingat datangnya suatu rezeki bagi setiap manusia tidak ada seorang pun yang tahu (ghaib).
Apabila setiap individu gigih dan yakin pada-Nya, maka apapun yang menjadi harapannya akan menjadi kenyataa8
Dari pengertian tentang pembinaan masyarakat miskin di atas penulis menguraiakan bahwa mengadakan pembinaan pemberdayaan fakir miskin diperlukan adanya pembinaan secara individual agar mereka menjadi fakir miskin yang baik. Dengan bekal individual fakir miskin yang baik sangat mudah untuk mengadakan pembinaan mental dan spiritual karena sesuai dengan ajaran mereka bahwa berusaha mencari rezeki yang halal termasuk ibadah.
B. Pemberdayaan Masyarakat
Secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment), berasal dari kata „power‟ (kekuasaan atau keberdayaan).
Karenanya, ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka.
Proses pemberdayaan sangat tergantung pada dua hal yaitu:
1. Bahwa kekuasaan dapat berubah. Jika kekuasaan tidak dapat berubah, pemberdayaan tidak mungkin terjadi dengan cara apapun.
8 Departemen Agama RI, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Direktorat Pemberdayaan Zakat, Pedoman Pemberdayaan Masyarakat Miskin, (Jakarta: 2009), h. 44-48.
2. Bahwa kekuasaan dapat diperluas. Konsep ini menekankan pada pengertian kekuasaan yang tidak statis, melainkan dinamis.
Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam;
1. Memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja bebas mengemukaan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan.
2. Menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa- jasa yang mereka perlukan; dan
3. Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.9
Pemberdayaan memuat dua pengertian kunci, yakni kekuasaan dan kelompok lemah. Kekuasaan di sini diartikan bukan hanya menyangkut kekuasaan politik dalam arti sempit, melainkan kekuasaan atau penguasaan klien atas;
1. Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan hidup: kemampuan dalam membuat keputusan-keputusan mengenai gaya hidup, tempat tinggal, pekerjaan.
2. Pendefinisian kebutuhan: kemampuan menentukan kebutuhan selaras dengan aspirasi dan keinginannya.
9 Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. (Bandung: PT. Refika Meditama, 2014), h. 57-58.
3. Ide atau gagasan: kemampuan mengekspresikan dan menyumbangkan gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara bebas dan tanpa tekanan.
4. Lembaga-lembaga: kemampuan menjangkau, menggunakan dan memengaruhi pranata-pranata masyarakat, seperti lembaga kesejahteraan sosial, pendidikan dan kesehatan.
5. Sumber-sumber: kemampuan memobilisasi sumber-sumber formal, informal dan kemasyarakatan.
6. Aktivitas ekonomi: kemampuan memanfaatkan dan mengelola mekanisme produksi, distribusi dan pertukaran barang serta jasa.
7. Reproduksi: kemampuan dalam kaitannya dengan proses kelahiran, perawatan anak, pendidikan dan sosialisasi.10
Dengan demikian, pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan.
Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan.
Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak, dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Kemandirian masyarakat ditandai dengan kemampuan masyarakat untuk memikirkan, memutuskan, serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah
10 Jim Ife, Community Development: Creating Community Alternatives, Vision, Analysis an Practice. (Australia: Longman, 1995), h. 61-64.
yang dihadapi dengan mempergunakan daya kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik, afektif, dengan mengarahkan sumber daya yang dimiliki oleh lingkungan internal masyarakat tersebut.1
Sedangkan masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu individu yang berada dalam kelompok tersebut. Atau dengan kata lain, masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat engan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk memampukan desa dalam melakukan tindakan bersama sebagai suatu kesatuan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan ditingkat pemerintah, masyarakat, maupun pihak lain untuk mendorong partisipasi dan mendayagunakan kemampuan masyarakat dalam proses pembangunan, menyusun perencanaan pembangunan yang berpihak pada kelompok miskin, serta meningkatkan kapasitas dan kualitas sumberdaya manusia.
1 Ambar Teguh, Kemitraan Dan Model-Model Pemberdayaan, (Yogyakarta: Gavia Media, 2017), h.80-81
C. Konsep Program Keluarga Harapan (PKH)
1. Pengertian dan Tujuan Program Keluarga Harapan (PKH)
Program menurut kamus umum bahasa indonesia adalah rancangan mengenai asas-asas serta dengan usaha-usaha (dalam ketata negaraan, dan perekonomian, dsb) yang akan dijalankan.11
Program adalah kata, ekspresi, atau pernyataan yang disusun dan dirangkai menjadi satu kesatuan prosedur atau rancangan, yang berupa urutan langkah, untuk menyelesaikan masalah yang kemudian diimplementasikan dengan dengan tindakan.
Sedangkan definisi keluarga menurut Hanson dan Boyd dikutip Rika Damayanti, keluarga adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan dihubungkan oleh kasih sayang, tanggung jawab bersama dalam jangka waktu tertentu yang dikarakteristikkan melalui komitmen, membuat keputusan bersama dan mencapai tujuan bersama.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang tersusun atas kepala keluarga (berperan sebagai suami dan ayah) dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal bersama pada suatau tempat di bawah satu atap dalam kondisi yang saling membutuhkan / ketergantungan.
Harapan berasal dari kata harap yaitu keinginan supaya sesuatu terjadi atau suatu yang belum terwujud. Harapan adalah suatu keadaan mental yang positif tentang kemampuan mencapai tujuan dimasa depan
11 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, (Jakarta:Balai Pustaka, 2003), h. 911
dengan dua komponen saling melengkapi dan timbal balik untuk mempertahankan dan mencapai tujuan yang invidu inginkan untuk dibuat dan dilakukan.
Dari pengertian diatas yang di maksud dari Program Keluarga Harapan adalah program yang memberikan bantuan tunai kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Sebagai imbalannya KPM diwajibkan memenuhi persyaratan yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), yaitu pendidikan dan kesehatan.
Landasan Hukum Pemberian PKH
a. Undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang sistem Jaminan Sosial Nasional.
b. Undang-undang nomor 13 tahun 2011 tentang penanganan Fakir Miskin.
c. Peraturan Presiden nomor 15 tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
d. Inpres nomor 3 tahun 2010 tentang Program Pembagunan yang Berkeadilan poin lampiran ke 1 tentang Penyempurna Pelaksanaan Program Keluarga Harapan.
e. Inpres nomor 1 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi poin lampiran ke 46 tentang Pelaksanaan Transparansi Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Bersyarat Bagi Keluarga Sangat Miskin (KSM) sebagai peserta Program Keluarga Harapan (PKH)
Dasar Pelaksanaan
a. Keputusan Mentri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat selaku ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan, no:
31/KEP/MENKO/-KESRA/IX/2007 tentang “Tim Pengendali Program Keluarga Harapan” tanggal 21 september 2007.
b. Keputusan Mentri Sosial Republik Indonesia No. 02A/HUK/2008 tentang “ Tim Pelaksana Program Keluarga Harpan (PKH) tahun 2008”
tanggal 08 januari 2008.
c. Keputusan Gubernur tentang “Tim Koordinasi Teknis Program Keluarga Harapan (PKH) Provinsi/TKPKD”.
d. Keputusan Bupati/Walikota tentang “Tim Koordinasi Teknis Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten/Kota/TKPKD”.
e. Surat Kesepakatan Bupati untuk Berpartisipasi dalam Program Keluarga Harapan (PKH). 12.
Tujuan umum yang tertuang dalam buku pedoman PKH adalah untuk mengurangi angka dan memutus rantai kemiskinan, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, serta merubah perilaku KPM yang relatif kurang mendukung peningkatan kesejahteraan. Tujuan tersebut sekaligus sebagai upaya mempercepat pencapaian target Millennium Development Goals (MDGs). Secara khusus, tujuan PKH terdiri atas: meningkatkan status sosial ekonomi KPM, meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu nifas, anak balita dan anak usia 5-7 tahun yang belum masuk sekolah dasar dari KPM, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan, khususnya bagi anak-anak KPM, meningkatkan taraf pendidikan anak-anak KPM.13
12 Direktorat Jendral, Anggaran Kementrian Keuangan, Kajian Program Keluarga Harapan, 2015, h. 5-6
13 Pedoman umum program keluarga harapan (PKH), Op.Cit, h.6
2. Kreterian dan Kewajiban Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan (PKH)
Sejak tahun 2012, untuk memperbaiki sasaran penerima PKH, data awal untuk penerima manfaat PKH diambil dari basis data terpadu.14 Hasil PPLS 2011, yang dikelola oleh TNP2K. Sampai dengan tahun 2014, ditargetkan cakupan PKH adalah sebesar 3,2 juta keluarga. Sasaran PKH yang sebelumnya berbasis rumah tangga, terhitung sejak saat tersebut berubah menjadi berbasis Keluarga. Perubahan ini untuk mengakomodasi prinsip bahwa keluarga (yaitu orang tua, ayah, ibu dan anak) adalah satu orang tua memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan masa depan anak. Karena itu keluarga adalah unit yang sangat relevan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam upaya memutus rantai kemiskinan antar generasi.
Beberapa keluarga dapat berkumpul dalam satu rumah tangga yang mencerminkan satu kesatuan pengeluaran konsumsi (yang dioperasionalkan dalam bentuk satu dapur). PKH diberikan kepada Keluarga Sangat Miskin (KSM). Data keluarga yang dapat menjadi peserta PKH didapatkan dari basis data terpadu dan memenuhi sedikitnya satu kriteria kepesertaan program.
PKH diberikan kepada keluarga sangat miskin (KSM). Data keluarga yang dapat menjadi peserta PKH didapatkan dari basis data
14 Basis Data Terpadu adalah sebuah sistem yang dapat digunakan untuk perencanaan program dan mengidentifikasi nama & alamat penerima bantuan sosial, baik rumah tangga keluarga maupun individu penerima berdasarkan kriteria sosial-ekonomi yang ditetapkan oleh pelaksana program. Dikutip dari TNP2K, Kumpulan Tanya Jawab Program-Program Penanggulangan Kemiskinan, (Jakarta Pusat: TNP2K, 2012), h.13
terpadu dan memenuhi sedikitnya satu kriteria kepesertaan program berikut, yaitu:
1. Memiliki ibu hamil/nifas/anak balita.
2. Memiliki anak usia 5-7 tahun yang belum masuk pendidikan dasar (anak pra sekolah
3. Anak usia SD/MI/Paket A/SDLB (usia 7-12 tahun), 4. Anak SLTP/MTs/Paket B/SMLB (Usia 12-15),
5. Anak 15-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar termasuk anak dengan disabilitas.
Seluruh keluarga di dalam suatu rumah tangga berhak menerima bantuan tunai apabila memenuhi kriteria kepesertaan program dan memenuhi kewajibannya.15 Kewajiban Peserta Program Keluarga Harapan (PKH) Kewajiban menurut KBBI merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan, sesuatu yang diwajibkan serta keharusan. Sehingga peserta PKH yang mendapatkan bantuan haruslah melaksanakan kewajibannya.
Peserta PKH diwajibkan memenuhi persyaratan dan komitmen untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan pendidikan anak dan kesehatan keluarga, terutama ibu dan anak.
15 TNP2K, Kumpulan Tanya Jawab Program-Program Penanggulangan Kemiskinan, (Jakarta Pusat: TNP2K, 2012), h.27