Penetrasi Kebudayaan pada Era Globalisasi Ditulis oleh: Mutiara Putri Masyitha
“Orang bijak menggunakan hatinya seperti cermin. Ia membiarkan hal yang pergi untuk pergi, dan membiarkan hal yang datang untuk datang. Menerima dan tidak
menyembunyikannya.” Kata Zhuangzi, seorang filsuf dari zaman negara berperang di Tiongkok.
Penetrasi kebudayaan merupakan masuknya pengaruh asing suatu budaya ke dalam budaya lain. Hal ini sangat dikhawatirkan karena dapat merubah isi dari budaya tersebut, yang awalnya berisikan A - A lalu dimasukinya budaya lan yang dapat merubah isi menjadi A - B ataupun dapat berubah total menjadi B - B. Unsur-unsur asing secara paksa dapat merubah bahkan merusak budaya lama. Jika budaya asing dapat berjalan seimbang dengan budaya lama, maka budaya tersebut akan baik-baik saja.
“Sejarah menjadi berarti saat membuat kita menyadari bahwa keberadaan kita tidaklah berkepanjangan.” Kutipan lain saya ambil dari seorang filsuf Prancis yakni Michel Foucault.
Masuknya budaya asing dapat dilakukan dengan dua cara yakni jalan damai dan jalan paksa.
Hasil dari jalan damai tidak menyebabkan kerusakan kebudayaan asli yang dimiliki nusantara.
Saya ambil contoh masuknya Islam di nusantara, dalam hal ini nusantara menyikapinya dengan lapang dada karena kebudayaan yang masuk memiliki hal yang positif yang bahkan dapat membantu untuk memperkaya khazanah nusantara. Budaya Islam yang masuk tidak
menyebabkan porak-porandanya budaya nusantara melainkan memperkaya khazanah budaya.
Di lain cerita dengan penetrasi kebudayaan lewat jalan paksa, dalam hal ini menyebabkan goncangan untuk penduduk nusantara. Saya ambil contoh pada masuknya budaya barat ke Indonesia pada zaman penjajahan. Belanda menjajah Indonesia dengan 346 tahun lamanya, bertujuan untuk menguasai rempah-rempah yang tumbuh di Indonesia. Kebijakan cultuurstelsel atau biasa disebut dengan tanam paksa, sistem ini benar-benar memeras tenaga masyarakat juga mengeruk habis kekayaan alam di nusantara. Penetrasi kebudayaan ini yang dapat merusak kebudayaan asli nusantara. Penyebaran dengan jalan damai yang menghasilkan Akulturasi, Asimilasi atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis
adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang benar-benar berbeda dengan kebudayaan asli.
Sejauh ini kita hidup di era globalisasi yang mana semua orang menginginkan perubahan baik pada dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Kata globalisasi yang berarti proses mendunia.
Pada era ini, dapat dengan mudah masuknya budaya asing. Sosial budaya yang termasuk memiliki banyak pengaruh yang terjadi, perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan budaya yang dipengaruhi moderenisasi sehingga menimbulkan gejala sosial. Kebudayaan mencakup banyak hal bukan hanya soal kesenian namun segala aspek kehidupan masyarakat nusantara. Derasnya alur globalisasi menuntun kita untuk merasakan budaya asing yang dengan begitu saja mengalir setiap harinya. Dalam bidang sosial budaya terdapat silang budaya antar negara yang terbawa arus globalisasi, tentu saja terdapat dampak positif juga negatif di dalamnya. Saya ambil contoh dampak positif yakni pada era globalisasi semakin mendorong penyetaraan gender. Semua dunia tau jika gender menjadi masalah utama yang bergelut pada kehidupan seseorang. Di Indonesia sendiri banyak sekali orang yang meremehkan makna wanita. Apalagi gender wanita yang selalu dianggap kosong oleh dunia dan selalu direndahkan derajatnya di mata dunia namun pada era globalisasi ini pemikiran tersebut perlahan hilang. Wanita tidak lagi dianggap sebelah mata apalagi direndahkan derajatnya oleh dunia, bahkan posisi untuk peran wanita dan laki-laki sekarang sama, tidak ada lagi posisi yang khusus untuk laki-laki. Dunia membuka mata orang untuk memberi posisi sama pada setiap gender dan ini adalah dampak baik dari penetrasi kebudayaan. Penetrasi kebudayaan kali ini dapat diterima dengan lapang dada oleh masyarakat karena kebudayaan yang bercampur di nusantara memiliki sisi baik untuk diterapkan. Di sisi lain kita juga harus membuka mata untuk dampak negatif yang terjadi. Kali ini saya mengambil contoh pudarnya nilai-nilai budaya lokal. Banyak sekali budaya lokal yang mulai pudar karena masyarakat terlalu focus pada arus budaya asing yang terbawa di nusantara. Tata karma dan sopan santun yang mulai banyak pudar padahal hal ini sangat penting untuk dimiliki. Rusaknya tata karma diperlihatkan dengan mudah di internet, banyak masyarakat mengikui gaya hidup asing yang tidak patut untuk dicontoh. Selain itu, mulai pudar juga ciri khas adat nusantara, jarang orang memilih untuk memakai baju adat nusantara karena beranggapan itu kuno dan lebih memilih untuk mengikuti fashion yang masuk di nusantara. Hal tersebut sangat
disayangkan, baju adat menjadi salah satu ciri khas utama yang harus dijaga juga dilestarikan agar anak cucu kita dapat mengetahui budaya tersebut.
Kita sebagai masyarakat yang paham betul mana yang baik dan buruk untuk diterima maka dari itu kita harus banyak memilah budaya asing yang masuk pada saat ini. Kita telah banyak
menerima perubahan era globalisasi dan kita sebagai penerus nusantara harus menjaga isi
ataupun ciri khasnya dengan murni tanpa bercampur aduk sengan budaya asing yang masuk.
Untuk penutup saya akan beri sedikit kutipan dari Siddharta Gautama,
“Kita harus mengamati dengan waspada gejala yang muncul di tubuh kita, kita harus
mengamati dengan waspada gejala yang hilang dari tubuh kita. Kita harus mengamati dengan waspada gejala yang muncul dan menghilang di tubuh kita. Sama seperti itu, kita juga harus mengamati semua yang berhadapan dengan perasaan dan hati.”
Akhir kata dari saya, semoga artikel ini membawa manfaat untuk banyak orang.