i
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN METODE STUDENT FACILITATOR AND
EXPLAINING (SFE) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA
KELAS IV SEKOLAH DASAR Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Disusun Oleh:
Nurhasanah (11150183000028)
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
TAHUN 2020
i
i
ii
i ABSTRAK
Nurhasanah (11150183000028), Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Student Facilitator and Explaining (SFE) dalam Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematis Siswa Kelas IV Sekolah Dasar
.
Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif dengan menerapkan metode student facilitator and explaining (SFE). Penelitian ini dilaksanakan di SD Islam Ruhama tahun ajaran 2019/2020 pada bulan November 2019. Adapun metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus di mana masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan. Instrumen yang digunakan adalah berupa tes uraian, lembar observasi aktivitas guru dan siswa, dan lembar hasil wawancara dengan wali kelas.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif dengan menerapkan metode student facilitator and explaining (SFE) dapat meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan adanya peningkatan dari skor rata-rata siklus I yang hanya mendapatkan sebesar 68,79% kemudian meningkat pada siklus II menjadi 76,32%. Adapun indikator yang diukur adalah kemampuan representasi visual, kemampuan representasi persamaan matematika, dan kemampuan representasi teks. Selain itu, keberhasilan penelitian ini juga dibuktikan dengan adanya peningkatan pada aktivitas guru dan siswa. Hasil penilaian akhir aktivitas guru mendapatkan skor sebesar 90 sedangkan skor akhir untuk aktivitas siswa yaitu 92.
Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif, Metode Student Facilitator and Explaining (SFE), Kemampuan Representasi Matematis.
ii
The learning model used in this study is a cooperative learning model by applying the student facilitator and explaining (SFE) method. This research was conducted at Ruhama Islamic Elementary School in 2019/2020 in November 2019. The research method used by researchers was Classroom Action Research (CAR) which consisted of two cycles in which each cycle consisted of three meetings. The instrument used such the form of a description test, an observation sheet of teacher and student activities, and an interview result sheet with the homeroom teacher.
The results revealed that the application of the cooperative learning model by applying the student facilitator and explaining (SFE) method can improve students' mathematical representation abilities. This can be seen based on an increase in the average score of the first cycle which only got 68.79% then increased in the second cycle to 76.32%. The indicators measured are the ability of visual representation, the ability to represent mathematical equations, and the ability of text representation. In addition, the success of this study is also evidenced by an increase in teacher and student activities. The results of the final assessment of teacher activities got a score of 90 while the final score for student activities is 92.
Keywords: Cooperative Learning Model, Student Facilitator and Explaining (SFE) Method, Mathematis Representation Ability.
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah yang telah memberikan iman dan islam kepada kita, atas segala rahmat dan karunia-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul: PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN METODE STUDENT
FACILITATOR AND EXPLAINING (SFE) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR
.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Baginda Nabiyyuna Muhammad saw sebagai rahmatan lil alamin.Selama menyelesaikan skripsi ini, bahwa sepenuhnya kemampuan dan pengetahuan penulis sangatlah terbatas, dan tentunya mengalami berbagai kesulitan dan hambatan. Namun, berkat kerja keras dan kesungguhan serta doa dan dukungan dari berbagai pihak yang selalu membantu, maka penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh sebab itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Sururin, M.Ag. Sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Bapak Asep Ediana Latip, M.Pd, sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan arahan, nasehat, dan motivasi selama proses perkuliahan.
3. Ibu Dra. Zikri Neni Iska, M.Psi, selaku Dosen Pembimbing yang selalu memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dengan penuh kesabaran selama proses penulisan skripsi ini.
4. Seluruh dosen Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya kepada penulis selama mengikuti perkuliahan, semoga Bapak dan Ibu dosen selalu mendapatkan keberkahan dari Allah SWT atas ilmu dan bimbingan yang telah diberikan.
iv
5. Staf Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah dan Staf Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu dalam administrasi.
6. Bapak Nurhaidin Akbar, S.Pd, Kepala SD Islam Ruhama yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.
7. Seluruh guru SD Islam Ruhama khusunya Ibu Muniroh S.Pd, selaku Wali Kelas IV B yang telah membantu penulis sealam melaksanakan penelitian.
8. Seluruh siswa SD Islam Ruhama, khususnya kelas IV B yang telah membantu dengan mengikuti proses pembelajaran selama penelitian.
9. Keluarga tercinta, Bapak Rustam dan Ibu Darmah yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan serta motivasi kepada penulis. Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan dan kebahagian di dunia maupun di akhirat.
10. Teman-teman seperjuangan Jurusan Pendidikan Guru Madarash Ibtidaiyah Angkatan 2015 yang selalu mendukung dan membantu selama proses perkuliahan dan penyusunan skripsi.
11. Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya atas segala dukungan, motivasi dan doa yang telah diberikan kepada penulis.
Demikian skripsi ini disusun dengan sebaik-baiknya. Namun penulis menyadari tentunya masih ditemui banyak kesalahan dan kekeliruan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis memohon saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Semoga, penyusunan skripsi ini dapat memberikan manfaat baik untuk penulis maupun pembaca.
Jakarta, 10 Agustus 2020
Nurhasanah
v
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ...vii
DAFTAR GAMBAR ...viii
DAFTAR LAMPIRAN ...ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Identifikasi Masalah ...7
C. Pembatasan Fokus Penelitian ...7
D. Perumusan Masalah Penelitian ...7
E. Tujuan Penelitian ...8
F. Kegunaan Penelitian ...8
BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL INTERVENSI TINDAKAN A. Kajian Teoritik ...8
B. Hasil Penelitian yang Relevan ...35
C. Kerangka Teoritik ...37
D. Hipotesis Tindakan ...38
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat, Waktu, dan Subjek Penelitian ...35
B. Metode Penelitian ...36
C. Prosedur Penelitian ...40
D. Data dan Sumber Data ...42
E. Teknik Pengumpulan Data ...42
vi
F. Instrumen Penelitian ...43
G. Validasi Data ...48
H. Analisis Data ...51
I. Kriteria Keberhasilan Tindakan ...52
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ...50
B. Analisis Data ...85
C. Pembahasan Hasil Penelitian ...88
D. Keterbatasan Penelitian ...90
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ...91
B. Saran ...91
DAFTAR PUSTAKA ...92
LAMPIRAN-LAMPIRAN ...97
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Indikator Kemampuan Representasi Villegas ... 13
Tabel 2.2 Bentuk-Bentuk Operasional Representasi Matematik ... 15
Tabel 2.3 Langkah-Langkah Metode SFE ... 28
Tabel 2.4 Perbandingan Metode SFE dengan Metode Konvensional ... 34
Tabel 3.1 Kisi-Kisi Instrumen Peningkatan Kemampuan Representasi Matematis ... 48
Tabel 3.2 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Representasi Matematis... 50
Tabel 3.3 Interpretasi Tingkat Reliabilitas Instrumen ... 54
Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Observasi Guru Siklus I ... 67
Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Observasi Siswa Siklus I ... 67
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Hasil Tes Kemampuan Representasi Matematik Siswa Siklus I ... 68
Tabel 4.4 Persentase Skor Masing-Masing Indikator Kemampuan Representasi Matematik Siswa Siklus I... 69
Tabel 4.5 Kekurangan dan Rencana Perbaikan Siklus I ... 76
Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus II ... 83
Tabel 4.7 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II ... 84
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Hasil Tes Kemampuan Representasi Matematik Siswa Siklus ... 84
Tabel 4.9 Persentase Skor Masing-Masing Indikator Kemampuan Representasi Matematik Siswa Siklus II ... 86
Tabel 4.10 Perbandingan Persentase Indikator Kemampuan Representasi Matematik Siswa Kelas IV B ... 92
Tabel 4.11 Perbandingan Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I dan Siklus II ... 93
Tabel 4.12 Perbandingan Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II ... 93
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Tipe Sistem Representasi Villegas ... 11
Gambar 2.2 Tipe Sistem Representasi Lesh ... 12
Gambar 2.3 Kerangka Teoritik Penelitian Kemampuan Representasi Matematis 38 Gambar 3.1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas ... 42
Gambar 4.1 Jawaban Soal No 2 Siklus I ... 70
Gambar 4.2 Jawaban Soal No 3 Siklus I ... 71
Gambar 4.3 Jawaban Soal No 4 Siklus I ... 72
Gambar 4.4 Jawaban Soal No 5 Siklus I ... 73
Gambar 4.5 Jawaban Soal No 1 Siklus I ... 74
Gambar 4.6 Jawaban Soal No 1 Siklus II ... 86
Gambar 4.7 Jawaban Soal No 3 Siklus II ... 87
Gambar 4.8 Jawaban Soal No 2 Siklus II ... 88
Gambar 4.9 Jawaban Soal No 4 Siklus II ... 89
Gambar 4.10 Jawaban Soal No 5 Siklus II ... 90
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I dan Siklus II ... 104
Lampiran 2 Lembar Kerja Siswa Siklus I dan Siklus II ... 128
Lampiran 3 Instrumen Tes Kemampuan Representasi Matematis ... 142
Lampiran 4 Soal Tes Kemampuan Representasi Matematis Siklus I ... 150
Lampiran 5 Soal Tes Kemampuan Representasi Matematis Siklus II ... 152
Lampiran 6 Kisi-Kisi Instrumen Kemampuan Representasi Matematis Siklus I . 154 Lampiran 7 Kisi-Kisi Instrumen Kemampuan Representasi Matematis Siklus II 155 Lampiran 8 Kunci Jawaban Soal Tes Kemampuan Representasi Matematis ... 156
Lampiran 9 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Representasi Matematis ... 161
Lampiran 10 Hasil Uji Coba Instrumen Tes Kemampuan Representasi Matematis Siswa ... 163
Lampiran 11 Hasil Tes Kemampuan Representasi Matematis Siklus I ... 171
Lampiran 12 Hasil Tes Kemampuan Representasi Matematis Siklus II ... 172
Lampiran 13 Lembar Observasi Kegiatan Guru ... 173
Lampiran 14 Lembar Observasi Kegiatan Guru ... 174
Lampiran 15 Dokumentasi ... 175
Lampiran 16 Hasil Wawancara Guru Kelas IV B SD Islam Ruhama... 176
Lampiran 17 Surat Permohonan Izin Penelitian ... 177
Lampiran 18 Permohonan Surat Bimbingan Skripsi ... 179
Lampiran 19 Surat Bimbingan Skripsi ... 180
Lampiran 20 Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian ... 181
Lampiran 21 Uji Referensi ... 182
Lampiran 22 Biografi Penulis ... 187
1
BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Belajar adalah suatu aktifitas di mana terdapat sebuah proses yang akan menjadikan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Belajar merupakan suatu kegiatan yang sangat penting bagi kehidupan dan kesuksesan hidup manusia, baik di dunia maupun kehidupannya di akhirat kelak. Bahkan dalam ayatnya Allah Swt.
berfirman:
ريِبَخ َنوُلَمْعَ ت اَِبِ ُهَّللاَو ٍتاَجَرَد َمْلِعْلا اوُتوُأ َنيِذَّلاَو ْمُكْنِم اوُنَمآ َنيِذَّلا ُهَّللا ِعَفْرَ ي
Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadalah:
11)
Oleh karena itu, pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dan melekat pada diri manusia. Melalui proses pendidikan, maka segala kegiatan transformasi dan aktualisasi pengetahuan akan mudah diwujudkan. Dengan demikian islam sangat menganjurkan bahkan mewajibkan bagi setiap ummat manusia untuk belajar, tidak hanya ilmu agama saja yang islam anjurkan, namun ilmu duniapun sangat dianjurkan.
Sungguh begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia.
Banyak ayat al Qur’an dan hadits yang menganjurkan manusia untuk menuntut ilmu, bahkan ayat yang pertama kali diturunkan memerintahkan untuk membaca. Begitu juga dalam QS. Al Ghasiyah ayat 17-20 dijelaskan bahwa: “Tidakkah mereka perhatikan bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, gunung ditegakkan dan bumi dihamparkan”.
Ayat tersebut jika diresapi secara mendalam, maka maknanya mengandung perintah dan anjuran untuk menggali ilmu seluas-luasnya
2
2
bahkan dengan melakukan sebuah penelitian terhadap alam semesta. Oleh karenanya, sebagai makhluk yang diberi akal manusia melakukan penelitian terhadap sesuatu. Kemudian hasil pengamatan tersebut diolah sehingga menjadi ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan tersebut dirumuskannya ilmu baru yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menjangk jauh di luar kemampuan fisiknya.1 Berbagai contoh peristiwa alam dan benda-benda yang ada di dunia ini, tidak dapat dipikirkan dan diolah oleh manusia untuk kepentingan hidupnya dan untuk memperkuat imannya, kecuali oleh orang yang berilmu yang menggunakan ilmunya.2
Matematika merupakan salah satu ilmu yang sangat dianjurkan untuk dipelajari. Islam sangat menekankan ummatnya untuk belajar matematika. Dalam al Qur’an misalnya disebutkan bahwa langit yang diciptakan Allah berjumlah tujuh. Penciptaan tujuh langit ini apabila dikorelasikan dengan peristiwa-peristiwa besar kenabian seperti turunnya wahyu dan isra’ mi’raj, ternyata memiliki rahasia matematis.3 Oleh sebab itu, islam menganjurkan umatnya untuk belajar ilmu matematika. Sebab, disadari ataupun tidak matematika memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari manusia. Seseorang tidak dapat terlepas dari matematika, walaupun dalam mempelajarinya banyak orang yang menganggap bahwa matematika merupakan ilmu yang amat berat dan sulit.
Salah satu kompetensi yang harus dimiliki dalam belajar matematika adalah kemampuan representasi. Hal ini senada dengan penjelasan salah satu ayat al Qur’an sebagai berikut yang artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
1 Nur Uhbiyati, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Islam, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2002), h. 3.
2 Mualimul Huda, Mengenal Matematika dalam Perspektif Islam (Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan), Vol. 2. No. 02, Desember 2017, h. 183, diakses pada tanggal 10 Agustus 2019 pukul 01.00 WIB.
3 Ibid., h. 186.
kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:
“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang- orang yang benar!”.4
Menurut Quraish Shihab, ayat tersebut menginformasikan bahwa manusia diaugerahi oleh Allah swt suatu potensi untuk mengetahui nama- nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda. Selain itu, manusia juga diberikan kemampuan berbahasa.5 Senada dengan penjelasan tersebut, Ramayulis menyatakan bahwa Allah telah mengajarkan berbagai konsep dan mengenalkan kepada Nabi Adam nama-nama benda yang ada di alam semesta yang dapat diungkapkan dengan bahasa. Setelah Allah mengajarkan Nabi Adam untuk menangkap konsep kemudian Allah memerintahkannya untuk memaparkan kepada pihak yang lain. Dengan demikian pada saat itu, Nabi Adam telah menguasai simbol sebagai sarana berfikir (termasuk menganalisis), dan melalui simbol tersebut ia dapat berkomunikasi, merepresentasi, menerima transformasi pengetahuan, ilmu, internalisasi nilai dan sekaligus melakukan telaah ilmiah.6
Selama ini pelaksanaan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar dirasa masih sedikit sekolah yang memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengkomunikasikan atau merepresentasikan ide dan gagasannya. Sehingga siswapun merasa kesulitan dalam memberikan penjelasan yang benar dan logis dalam menjawab suatu permasalahan.
Maka dari itu, proses pendidikan di sekolah memiliki andil atau peranan yang sangat pokok dan penting. Sebab, berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan banyak bergantung terhadap bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.7
4 QS. Al Baqarah: 31
5 Quraish Shihab,Tafsir al-Mishbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Ciputat:
Lentera Hati, 2010), vol. 1, h. 176-177.
6 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 21.
7 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 1.
4
Pentingnya memiliki kemampuan representasi matematis juga telah dijelaskan dalam Peraturan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional RI No. 22 Tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006, sebagai berikut:
Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar isi pada lampirannya menegaskan bahwa tujuan pembelajaran matematika adalah: 1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; 2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; 3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; 4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; 5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006:
417).8
Dalam Permendiknas no 22 tahun 2006 telah dituliskan bahwa tujuan dari mempelajari matematika adalah agar siswa dapat memiliki kemampuan memahami konsep matematika serta mengaplikasikannya dalam penyelesaian masalah, mampu menggunakan penalaran untuk mengungkapkan gagasan matematika, memecahkan masalah yang meliputi menyelesaikan dan menafsirkan solusi yang didapat, mengkomunikasikan gagasan matematika, dan memiliki sikap menghargai pentingnya manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari.9 Dengan demikian, dalam permasalahan matematika yang berbentuk abstrak dibutuhkan suatu penalaran agar menjadi bentuk konkret melalui suatu kemampuan yang disebut dengan representasi matematis.
8 Supinah, Pembelajaran Matematika SD dengan Pendekatan Kontekstual dalam Melaksanakan KTSP, (Yogyakarta: Pusat Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika, 2008), h. 32.
9 Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, (Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006), h. 140.
Selain itu, menurut National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) pada tahun 2000 terdapat lima standar kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dalam mempelajari matematika yaitu kemampuan problem solving, reasoning and proof, communication, connection, dan representation.10 Berdasarkan standar kemampuan tersebut, representasi merupakan salah satu kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap siswa.
Maksud dari kemampuan representasi matematis adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menyajikan kembali gagasan atau ide tentang materi matematika yang telah dipelajarinya ke dalam bentuk lain seperti tabel, simbol, gambar, teks, dan sebagainya.
Manfaat dari kemampuan representasi matematis siswa yaitu agar peserta didik dapat meningkatkan dan mengkonstruksikan pengetahuan matematika serta dapat membantu menyelesaikan permasalahan matematika dengan lebih mudah.
Sebagaimana hasil observasi terhadap kemampuan representasi matematis siswa kelas IV di SD Islam Ruhama yang telah peneliti lakukan pada tanggal 4 November 2019 dengan memberikan siswa soal-soal pecahan sebanyak enam soal yang meliputi indikator-indikator representasi sesuai dengan instrumen yang telah ditetapkan oleh peneliti.
Berdasarkan hasil observasi tersebut, diperoleh nilai rata-rata sebesar 45,93. Adapun nilai perindikator representasi visual sebesar 40,15.
Mayoritas siswa keliru dalam menyelesaikan soal membandingkan pecahan berdasarkan gambar pecahan. Nilai rata-rata indikator representasi persamaan atau ekspresi matematika adalah 65,15 dan nilai rata-rata indikator representasi kata-kata atau teks adalah 37,87. Dengan demikian hasil tersebut menunjukan bahwa tingkat kemampuan
10 NCTM, Principle and Standards for School Mathematics, (Reston: NCTM, 2000), h.
29.
6
representasi matematis siswa masih rendah terutama pada indikator representasi visual dan representasi kata-kata atau teks.
Sejalan dengan hasil observasi dan wawancara terhadap proses belajar mengajar di SD Islam Ruhama, guru masih menerapkan pendekatan pembelajaran konvensional. Pada pembelajaran tersebut, guru hanya terfokus untuk menyampaikan materi, memberikan contoh soal dan soal-soal latihan. Hal tersebut menjadikan guru lebih mendominasi kelas (teacher-centered) dan menjadikan siswa kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran yang dikembangkan oleh guru di kelas memberikan pengaruh besar terhadap kemampuan representasi matematis siswa.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan representasi matematis siswa kelas IV di SD Islam Ruhama masih tergolong rendah. Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha yang lebih kreatif untuk mendesain proses pembelajaran yang menekankan pada keaktifan siswa di dalam kelas. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah menerapkan suatu pendekatan model pembelajaran, yaitu model pembelajaran kooperatif dengan metode student facilitator and explaining. Hal ini senada dengan kurikulum 2013 yang menuntut guru untuk mengaplikasikan proses belajar student centered (berpusat pada siswa) dan tidak lagi berpusat pada gurunya.
Maka dari itu, dalam upaya mengatasi masalah tersebut peneliti berinisiatif untuk melalukan inovasi pada kegiatan belajar siswa dengan menggunakan suatu model pembelajaran yang kooperatif melalui metode Student Facilitator and Explaining (SFE) di mana model pembelajaran ini menempatkan siswa sebagai pusat belajar. Sehingga diharapakan dengan model SFE tersebut siswa akan lebih aktif dalam mengembangkan ide dan gagasan masing-masing. Oleh karenanya, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif dengan Metode Student Facilitator and Explaining (SFE) dalam Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematis Siswa Kelas IV Sekolah Dasar”
B. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan sebelumnya dan luasnya area penelitian pada pengembangan representasi, maka yang menjadi fokus dalam penelitian ini hanyalah peningkatan representasi matematis. Penelitian tindakan ini dibatasi pada masalah representasi matematis pada kelas IV di SD Islam Ruhama dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif melalui metode Student Facilitator and Explaining (SFE).
C. Pembatasan Fokus Penelitian
Agar Penelitian ini dapat dilakukan dengan lebih fokus dan mendalam, maka penulis membatasi variabel penelitian yang akan diteliti. Dengan demikian, fokus variabel penelitian hanya “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Student Facilitator And Explaining (SFE) dalam Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematis Siswa Kelas IV Sekolah Dasar”
D. Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah penelitian ini: “Bagaimana Model Pembelajaran Kooperatif dengan metode Student Facilitator and Explaining dapat meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa kelas IV SD Islam Ruhama?”
8
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari implementasi model pembelajaran kooperatif dengan metode Student Facilitator and Explaining di kelas IV SD Islam Ruhama dalam meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa.
F. Kegunanaan Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Dalam rangka pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan berikutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan tentang pengaruh model Student Facilitator and Explaining (SFE) terhadap kemampuan representasi matematis siswa.
2. SD Islam Ruhama
Setelah mengetahui pengaruh model Student Facilitator and Explaining (SFE) terhadap kemampuan representasi matematis siswa kelas IV, maka diharapkan dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam rangka meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa kelas IV di SD Islam Ruhama.
3. Guru
Sebagai masukan dalam mengelola strategi belajar mengajar mata pelajaran matematika. Dengan mengetahui pola belajar siswa, diharapakn guru akan semakin meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa.
4. Siswa
Bagi siswa, untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran matematika.
5. Masyarakat
Dapat menambah wawasan tentang pentingnya penggunaan model pembelajaran dalam membantu belajar siswa.
8
BAB II
KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL INTERVENSI TINDAKAN
A. Kajian Teoritik Representasi Matematis dan Model Pembelajaran Kooperatif
1.
Kemampuan Representasi Matematis
a. Definisi Representasi
Kemampuan representasi merupakan salah satu standar yang patut dimiliki oleh siswa dalam mempelajari matematika. Salah satu cara agar mengetahui seberapa jauh pemahaman yang telah dicapai oleh siswa adalah adanya representasi yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Dengan adanya kemampuan representasi siswa dapat mengkomunikasikan gagasan atau jawaban suatu permasalahan matematis. Sehingga melalui representasi tersebut, guru dapat mengetahui batas kemampuan masing- masing siswa. Menurut Janvier, pada dasarnya representasi adalah salah satu konsep psikologi yang digunakan dalam pendidikan matematika untuk menjelaskan beberapa fenomena penting tentang cara berpikir siswa.
Definisi tentang representasi bisa jadi berbeda-beda pada setiap konteks atau bidang. Hwang menyatakan bahwa representasi dalam dunia psikologi merupakan suatu proses memodelkan benda-benda konkret yang ada di dunia nyata menjadi konsep-konsep abstrak atau simbol-simbol.
Sedangkan dalam ilmu psikologi matematika representasi adalah deskripsi atau gambaran dari hubungan antara objek dan simbol.11
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata representasi memiliki arti; 1.perbuatan mewakili; 2.keadaan diwakili; 3.apa yang mewakili; perwakilan. Sehingga dari ketiga makna tersebut dapat
11 Wu Yuin Hwang, Multiple Representation Skill and Creativity Effects on Mathematical Problem Solving Using a Multimedia Whiteboard System, Educational Technologi & Society, 10:2,2007, h. 193.
9
disimpulkan bahwa representasi adalah kata benda yang mengandung arti mewakili sesuatu.
Sedangkan para ahli mengartikan istilah representasi dengan makna yang berbeda-beda. Diantararnya menurut Hutagol, representasi adalah bentuk gambaran mental yang ada dalam diri seseorang dari proses belajar. Proses belajar terjadi saat berpikir dengan informasi yang ada.
Kemudian Informasi yang diperoleh akan diolah dalam pikiran, sehingga menghasilkan suatu pengertian yang merupakan bentuk dari representasi internal, dan akan tercermin dalam wujud berupa kata-kata, gambar, grafik, tabel, model, matematika, simbol, dan lain-lain sebagai bentuk representasi eksternal.12
Menurut Goldin representasi adalah suatu konfigurasi yang bisa merepresentasikan sesuatu yang lain dalam beberapa cara. Contohnya adalah suatu kata bisa merepresentasikan objek dalam kehidupan nyata, sebuah angka dapat merepresentasikan ukuran berat badan seseorang, atau angka yang sama dapat merepresentasikan posisi pada garis bilangan.13
Adapun menurut Sabirin, representasi merupakan bentuk interpretasi pemikiran terhadap suatu persoalan yang dihadapi siswa.
Representasi dimanfaatkan sebagai alat bantu mencari jalan keluar dari persoalan tersebut baik dengan menggunakan cara kata-kata, tulisan, gambar, tabel, grafik, benda konkrit, simbol matematika dan sebagainya.14
Dari beberapa pengertian representasi menurut para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa representasi merupakan salah satu konsep psikologi yang digunakan dalam pendidikan matematika untuk menjelaskan dan menggambarkan informasi dan masalah penting terkait
12 Kartini Hutagol, Multi Representasi dalam Pembelajaran Matematika, Prosiding Konferensi Nasional Pendidikan Matematika v, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, 2013, h. 132.
13 F.S. Syafri, Kemampuan Representasi Matematis dan Kemampuan Pembuktian Matematika, Jurnal Edumath: ISSN Online: 2356-2056.
14 Muhammad Sabirin, Representasi dalam Pembelajaran Matematika, Jurnal JMP IAIN Antasari, Vol. 1, 2014, h. 33.
angka, tabel, grafik, dan simbol-simbol matematika lainnya sesuai dengan cara berpikir siswa serta dalam bentuk yang baru.
Adapun menurut Jones, terdapat beberapa alasan mengapa siswa perlu memiliki kemampuan representasi, yaitu agar memberi kelancaran dalam membangun suatu konsep dan berpikir matematis serta dapat memiliki kemampuan konsep yang kuat dan fleksibel yang dibangun oleh guru melalui representasi matematis.15
Menurut Rangkuti, representasi matematis merupakan salah satu ragam bentuk upaya yang dilakukan oleh siswa untuk menemukan penyelesaian dari permasalahan yang mereka hadapi kemudian ditampilkan kembali dengan berupa penggambaran, penerjemahan, pengungkapan, pelambangan atau pemodelan dari suatu ide, gagasan, konsep matematik, dan ikatan yang di antaranya menjadi bagian suatu konstruksi, atau keadaan permasalahan yang telah ditentukan.16
b. Macam-Macam Kemampuan Representasi
Menurut Villegas, Casto, dan Guiterrez dalam jurnal pendidikan matematikanya menyebutkan bahwa representasi matematis eksternal dibagi ke dalam tiga bentuk, yaitu:
a. Representasi verbal, yaitu representasi dalam bentuk teks tulisan atau ucapan;
b. Representasi pictorial, yaitu representasi berupa gambar, diagram, grafik, dan lainnya;
c. Dan representasi simbolik, yaitu representasi dalam bentuk angka, operasi matematika, simbol aljabar, relasi, dan lainnya.17
15 Ahmad Nizar Rangkuti, Representasi Matematis, Forum Pedagogik, Vol. VI. IAIN Padangsidimpuan, 2014, h. 112.
16Ibid.
17 Jose L Vilegas, et al, Representation in Problem Solving: A Case Study in Optimization Problem, Electronic Journal of Research in Educational Psychology, no. 17, Vol. 7 (1), 2009, p.
287.
11
Gambar 2.1
Tipe Sistem Representasi Villegas
Dari gambar di atas dapat dilhat bahwa ketiga tipe representasi tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Adapun Lesh, Cramer, Doerr, Post, dan Zawosjewki membagi representasi menjadi lima bentuk, yaitu representasi situasi dunia nyata (real-life contexts), representasi model manipulasi (manipulative models), representasi gambar (pictures), representasi simbol tertulis (writtwn symbols), dan representasi bahasa (oral language).18 Gambaran dari pembagian bentuk representasi ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini:
18 John Van De Walle, dkk., Elementary and Middle School Mathematics: Teaching Developmentally, (New Jersey: Pearson Education, 2013), Cet. 8, h. 4.
Verbal
Pictorial Simbolic
Gambar 2.2
Tipe Sistem Representasi Lesh
Pada gambar di atas, menurut Cramer teori representasi Lesh adalah perluasan dari teori representasi Bruner. Lesh menambahkan dua representasi lainnya yaitu representasi situasi dunia nyata dan representasi bahasa lisan.19
Lebih jelasnya, NCTM menuturkan bahwa; 1) proses representasi melibatkan penterjemahan masalah atau ide ke dalam bentuk baru; 2) proses representasi termasuk pengubahan diagram atau model fisik ke dalam simbol-simbol atau kata-kata; dan 3) proses representasi dapat digunakan dalam penterjemahan atau penganalisisan masalah verbal untuk membuat maknanya menjadi jelas. Jelasnya standar indikator kemampuan representasi matematis menurut NCTM, diantaranya:
1) Membuat dan menggunakan representasi untuk mengorganisasikan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide-ide matematika
19 Khatleen Cramer, Using a Translation Model for Curriculum Development and Classroom Instruction dalam Richard Lesh dan Helen M. Doerr (ed), Beyond Constructivism:
Models and Modeling Perspectives on Mathematics Problem Solving, Learning, and Teaching, (New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, 2003), h. 450.
Pictures
Manipulati ve Models
Written Symbols
Real-World Situations
Oral Language
13
2) Memilih, mengaplikasikan, dan menterjemahkan representasi matematika untuk menyelesaikan masalah
3) Menggunakan representasi untuk memodelkan atau menginterpretasikan fenomena fisika, sosial, dan matematika.20 Adapun bentuk-bentuk indikator dari aspek representasi menurut Villegas yang dibagi menjadi tiga yaitu verbal, pictorial, dan simbolik, adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1
Indikator Kemampuan Representasi Matematik Menurut Villegas
No Aspek Representasi Indikator
1
Representasi Verbal, yaitu menyajikan kembali suatu masalah dalam bentuk kata-kata yang dinyatakan secara lisan atau teks tulisan
1. Menyajikan masalah yang diberikan dengan menggunakan bahasa sendiri
2. Menjelaskan langkah yang digunakan dalam menyelesaikan masalah dengan menggunakan kata-kata
3. Menyelesaikan masalah menggunakan kata-kata
2
Representasi Pictorial, yaitu menyajikan kembali dalam bentuk diagram atau grafik dari masalah yang diberikan
Menyajikan kembali suatu persoalan yang diberikan ke dalam bentuk grafik, gambar, atau diagram
3 Representasi Simbolik, yaitu menyajikan bentuk model
1. Menyajikan kembali suatu persoalan ke dalam
20 NCTM, op.cit., h. 67.
matematis dari suatu persoalan. bentuk model matematika seperti operasi aljabar 2. Menyelesaikan masalah
berdasarkan model matematika yang sudah dibuat.
Sedangkan menurut Goldin dan Shteingold, terdapat dua bentuk representasi, yaitu representasi eksternal dan internal. Representasi eksternal adalah hasil pemikiran tentang ide matematis yang kemudian dikomunikasikan dalam bentuk gambar, konkret, bahasa lain, serta simbol tulisan, representasi ini dikembangkan dari bentuk konvensional sistem simbolik matematis menuju lingkup pembelajaran seperti bentuk manipulasi konkret. Sedangkan representasi internal yaitu berpikir mengenai ide matematis yang dimiliki oleh seseorang sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan pekerjaan berdasarkan ide tersebut yang tidak dapat diamati secara langsung.21
Selain para ahli yang membagi macam-macam representasi, NCTM juga telah menetapkan bahwa standar proses kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa sejak pra taman kanak-kanak sampai kelas 12 dalam program pembelajaran matematika, yaitu:
1) Mengorganisasikan, membuat catatan, dan mengkomunikasikan ide-ide matematika dengan menciptakan suatu bentuk representasi dan menggunakan representasi.
2) Memecahkan suatu permasalahan dengan cara memilih, menerapkan, dan menterjemahkan bentuk representasi matematis.
21 Gerald Goldin and Nina Shteingold, In C Richadr Feynman, The Roles of Representation in School Mathematics, (National Council of Teachers of Mathematics, 2000), p. 2.
15
3) Memodelkan dan menginterpretasikan suatu fenomena yang ada baik dalam bentuk fisik, sosial, atau matematika dengan menggunakan berbagai bentuk representasi.22
Menurut Kartini, terdapat tingkat kemampuan representasi dimana tingkat kemampuan memecahkan masalahnya lebih tinggi, yaitu representasi bahasa atua verbal, representasi gambar atau grafik, dan refresentasi sombol aritmatika.23 Senada dengan pendapat menurut Kartini, Mudzakkir pada tahun 2006 telah mengelompokkan representasi matematis ke dalam tiga aspek, yaitu representasi visual (diagram, tabel, atau grafik, dan gambar), representasi persamaan atau ekspresi matematis, dan representasi kata-kata atau teks tertulis. Berikut adalah indikator kemampuan representasi matematis menurut Mudzakkir:24
Tabel 2.2
Indikator Kemampuan Representasi Matematik Menurut Mudzakkir
No Representasi Bentuk-Bentuk Operasional
(Indikator)
1
Representasi Visual:
a. Diagram, grafik, dan tabel
Menyajikan kembali data atau informasi dari suatu
representasi ke representasi diagram, grafik, atau tabel
Menggunakan representasi visual untuk menyelesaikan masalah
b. Gambar Membuat gambar pola-pola
Membuat gambar untuk
22 NCTM, Principles and Standars for School Mathematics, (Reston: NCTM, 2000), h. 7.
23 Kartini, “Peranan Representasi dalam Pembelajaran Matematika”, Prosiding Seminar Nasional Matematika dan pendidikan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 2009, h. 366.
24 H. S. Mudzakkir, “Strategi Pembelajaran Think-Talk-Write untuk Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematik Beragam Siswa SMP”, Tesis, Bandung: UPI Bandung.
memperjelas masalah dan memfasilitasi penyelesaiannya
2 Persamaan atau ekspresi matematik
Membuat persamaan atau model matematika dari
representasi lain yang diberikan
Membuat konjektur dari suatu pola bilangan
Penyelesaian masalah dengan melibatkan ekspresi matematika
3 Kata-kata atau teks tertulis
Membuat situasi masalah berdasarkan data atau representasi yang diberikan
Menuliskan interpretasi dari suatu representasi
Menuliskan langkah-langkah penyelesaian masalah
matematika dengan kata-kata
Menyusun cerita yang sesuai dengan representasi yang disajikan
Menjawab soal dengan menggunakan kata-kata atau teks tertulis
Adapun peneliti sependapat dengan aspek dan indikator kemampuan representasi matematis yang telah dijabarkan oleh Mudzakkir.
Hal tersebut dikarenakan pendapat yang dipaparkannya sesuai dengan pendapat ahli yang lain, bahkan sudah diperjelas melalui indikator- indikator yang dijelaskannya. Sehingga dalam penelitian ini, peneliti menggunakan indikator-indikator yang telah dijelaskan oleh Mudzakkir.
Penelitian ini, akan dilakukan pada materi pembulatan. Oleh karena itu,
17
indikator-indikator kemampuan representasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Representasi visual yang meliputi:
a) Menyajikan kembali data informasi dari suatu soal pembulatan ke dalam representasi lain seperti tabel yang sesuai dengan ide atau gagasannya sendiri.
b) Menggambarkan penyelesaian masalah dari soal pembulatan.
2) Representasi persamaan atau ekspresi matematis yang meliputi:
a) Membuat bentuk soal pembulatan dari suatu permasalahan matematis.
b) Memecahkan masalah matematis pada soal pembulatan dalam bentuk cerita.
3) Representasi kata-kata atau teks yang meliputi:
a) Membuat penyelesaian dari masalah pembulatan dengan kata-kata dari ide atau gagasan masing-masing siswa.
Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran matematika, maka siswa harus dapat menguasai konsep-konsep matematikanya terlebih dahulu ke dalam berbagai cara atau yang biasa disebut dengan merepresentasikan. Karena kemampuan representasi merupakan salah satu kemampuan yang harus dicapai dalam tujuan pembelajaran matematika.
Kemampuan matematis yang terdapat dalam tujuan pembelajaran matematika sendiri yaitu kemampuan pemecahan masalah, komunikasi, koneksi, penalaran, dan representasi. Oleh karenanya, dalam penelitian ini penulis mencoba mengembangkan aspek kemampuan representasi sesuai dengan indikator yang telah dibuat.
2.
Model Pembelajaran Kooperatif a.
Pengertian Model Pembelajaran KooperatifPada kenyataannya, manusia tidak dapat terlepas dari sebuah aktivitas yang disebut belajar, bahkan manusia dituntut untuk belajar dari lahir sampai akhir hayatnya. Manusia selalu melakukan kegiatan belajar baik disadari ataupun tidak. Dalam belajarpun, manusia tidak menuntut kemungkinkan bahwa ia akan belajar bersama orang-orang di sekitarnya.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Oleh karenanya, berhasil atau tidaknya suatu pendidikan bergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa.25 Belajar merupakan proses orang memperoleh kecakapan, keterampilan, dan sikap.26 Menurut Gage belajar adalah suatu proses dimana organisma berubah perilakunya diakibatkan pengalaman. Sedangkan menurut Harold Spear, belajar terdiri dari pengalaman, pendengaran, membaca, dan meniru.27
Dari beberapa definisi tentang belajar di atas, maka dapat diketahui bahwa belajar adalah suatu proses yang menjadikan pelakunya mengalami perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dan perubahan tingkah laku akibat pengalaman yang dilaluinya melalui pengamatan, pendengaran, membaca, dan meniru.
Sedangkan model pembelajaran menurut Arends adalah “The terms teaching model refers to a particular approach to instruction that includes its goals, syntax, environment, and management system.”
Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran,
25 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), h.
87.
26 Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2004), cet. Ke-2, h. 97.
27 Ibid., h. 99.
19
tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.28 Adapun menurut Joyce, model pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau pola yang digunakan dalam merencanakan pembelajaran guna membantu siswa mencapai tujuan belajar.29
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan suatu perencanaan yang digunakan guru dalam menciptakan suatu proses kegiatan belajar mengajar yang efektif sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena pentingnya model pembelajaran, maka keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru dalam memilih atau mengembangkan model-model pembelajaran yang sesuai.
Dalam kegiatan belajar tentunya akan terjadi sebuah interaksi antar individu yang memungkinkan bagi setiap individu tersebut dapat memperoleh ilmu pengetahuan baru atau pengalaman baru. Hal tersebut sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Jerome Brunner bahwa “belajar adalah suatu proses aktif di mana siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah dimilikinya”.30 Oleh karenanya dalam pembelajaran terdapat suatu model pembelajaran yang disebut model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif berasal dari bahasa Inggris Cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau tim.31
Sedangkan menurut para ahli diantaranya menurut Slavin pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang merujuk terhadap beberapa macam metode pengajaran dimana siswa belajar dalam
28 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), cet. 1, h. 54
29 Ibid.
30 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif, (Jakarta: Kencana, 2009), cet ke-1, h. 15.
31 Isjoni, Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok, (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 15.
kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi yang diajarkan.32
Adapun Wena mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sistem pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat sebagai sumber belajar, di samping guru dan sumber belajar lainnya.33 Kemudian Trianto mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memerlukan kerjasama antar siswa dan saling ketergantungan dalam struktur pencapaian tugas, tujuan, dan penghargaan.34
Pendapat lain menurut Johnson & Johnson tentang pembelajaran kooperatif mengemukakan bahwa cooperative learning adalah mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.35
Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat diketahui bahwa prinsip dasar pembelajaran kooperatif adalah siswa membentuk kelompok kecil dan saling mengajar sesamanya untuk mencapai tujuan bersama.36 Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok yang menuntut siswa untuk saling bekerjasama satu sama lain dalam memahami materi pelajaran dimana mereka bisa belajar dari teman-teman sebagai sumber belajar, selain guru maupun sumber belajar yang lainnya.
32 Robert E. Slavin, Cooperative Learning-Teori, Riset, dan Praktik, (Bandung: Nusa Media, 2005), h. 4.
33 Made Wena, strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 189.
34 Trianto,op.cit., h. 66.
35 Isjoni, op.cit., h. 17.
36 Made Wena, op.cit., h. 189.
21
Slavin, Abrani, dan Chambers berpendapat bahwa adanya pembelajaran kooperatif dapat menjelaskan beberapa teori atau perspektif, yaitu:
1) Perspektif motivasi, artinya bahwa penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu untuk memperjuangkan keberhasilan kelompoknya.
2) Perspektif sosial, artinya bahwa melalui pembelajaran kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan.
3) Perspektif kognitif, yang artinya bahwa dengan adanya pembelajaran kooperatif maka akan terjadi sebuah interaksi antar anggota kelompok yang dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi.
4) Perspektif elaborasi kognitif, artinya adalah setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan menimba informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya.37
b. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif tidak hanya sekedar belajar kelompok saja, namun pembelajaran kooperatif merupakan sebuah metode pembelajaran yang memiliki sistem terstruktur. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Lundgren bahwa agar pembelajaran kooperatif berjalan efektif, maka perlunya memiliki unsur-unsur dasar yang harus ditanamkan pada setiap siswa yaitu:
1) Para siswa harus memiliki persepsi bahawa mereka “tenggelam atau berenang bersama”
37 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), Cet. II, h. 242.
2) Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lainnya dalam kelompoknya, di samping tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang diajarkan.
3) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya mereka memiliki tujuan yang sama
4) Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara anggota kelompok
5) Para siswa akan diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok
6) Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerjasama selama belajar
7) Para siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.38 Pada umumnya, pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) setiap anggota memiliki peran;
2) terjadi hubungan interaksi langsung antar siswa;
3) setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas belajarnya sendiri dan atas teman-teman kelompoknya;
4) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok;
5) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.39 Pada dasarnya pembelajaran kooperatif tidak jauh beda dengan kerja kelompok yang sudah biasa diterapkan di sekolah-sekolah.
walaupun terlihat sama dengan kerja kelompok, namun terdapat perbedaan antara keduanya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Banet
38 Isjoni, op.cit.., h. 13-14.
39 Isjoni, op.cit.., h. 20.
23
mengungkapkan bahwa terdapat lima unsur dasar yang dapat membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok, yaitu:
“1) Positive Independence, yaitu hubungan timbal balik yang disadari adanya kepentingan yang sama, atau perasaan diantara anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain pula dan sebaliknya; 2) Interaction Face to Face, yaitu interaksi yang langsung terjadi antar siswa tanpa adanya perantara. Setiap anggota berhadapan langsung sehingga adanya hubungan timbal balik yang bersifat politik; 3) adanya tanggungjawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok; 4) membutuhkan keluwesan, yaitu menciptakan hubungan antar pribadi, mengembangkan kemampuan kelompok, dan memelihara hubungan kerja yang efektif; 5) meningkatkan keterampilan bekerjasama dalam memecahkan masalah (proses kelompok)”.40
Dengan memperhatikan unsur-unsur pembelajaran kooperatif di atas, maka dapat diketahui bahwa dalam proses pembelajaran melalui kooperatif setiap siswa harus saling menjalin komunikasi dan saling menjaga kekompakan dengan baik antar sesama anggota. Selain itu, dalam prosesnya setiap anggota kelompok diberi kesempatan untuk mengemukakan ide atau gagasan pikirannya untuk dibagi kepada anggota kelompoknya yang lain.
c. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Adapun langkah-langkah dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1) Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dicapai pada kegiatan belajar dan menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi siswa belajar
2) Guru menyajikan informasi atau materi kepada siswa dengan jalan demonstrasi
3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar
40 Isjoni, op.cit.., h. 41-44.
5) Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
6) Memberikan penghargaan41
Dalam mengembangkan model pembelajaran kooperatif, maka seorang guru harus selalu memperhatikan kemampuan masing-masing siswa dan kapasitas kelas yang digunakan. Oleh karenanya, model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Kelompok dibentuk dengan siswa berdasarkan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
2) Siswa dalam kelompok sehidup semati, dengan maksud harus sama tujuannya.
3) Siswa melihat semua anggota mempunyai tujuan yang sama.
4) Membagi tugas dan tanggung jawab sama.
5) Akan dievaluasi untuk semua anggota.
6) Berbagi kepemimpinan dan keterampilan untuk bekerja bersama.
7) Diminta mempertanggung jawabkan secara individual setiap materi yang ditangani.42
Selain itu, terdapat pula empat tahapan keterampilan dalam model pembelajaran kooperatif yang harus ada dalam prosesnya, yaitu:
1) Forming (pembentukan), yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk membentuk kelompok dan membentuk sikap yang sesuai dengan norma
2) Functioning (pengaturan), yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola aktivitas kelompok dalam menyelesaikan
41 Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), h. 211.
42 Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran sebagai Referensi bgai Pendidikan dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas, (Jakarta: Kencana, 2009), cet. 1, h. 270.
25
tugas dan menjaga hubungan kerjasama antar anggota kelompok
3) Formulating (perumusan), merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang dipelajari, merangsang penggunaan strategi-strategi penalaran tingkat tinggi, dan menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang diberikan
4) Fermenting (pengembangan), merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif, mencari lebih banyak informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran untuk memperoleh kesimpulan.43
Dalam menerapkan suatu model pembelajaran tentunya terdapat manfaat dan kegunaan masing-masing, begitu juga dengan implementasi model pembelajaran kooperatif. Diantara keunggulan dari model pembelajaran kooperatif adalah:
1) Peserta didik dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2) Melalui pembelajaran kooperatif, maka dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3) Dapat membantu siswa untuk peduli pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4) Pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5) Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang cukup ampuh dalam meningkatkan prestasi akademik sekaligus
43 Johnson and Johnson, Colaborative Learning, (Bandung: Nusa Media, 2010), Cet. I, h.
113.
keterampilan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri dan hubungan interpersonal positif dengan orang lain.
6) Interaksi selama pembelajaran berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir.44
3.
Metode Student Facilitator and Explaining (SFE)
a. Pengertian Metode Student Facilitator and Explaining (SFE) Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika diperlukan adanya suatu model pembelajaran yang efektif, salah satunya melalui model pembelajaran kooperatif. Dalam mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif harus dengan suatu metode diantaranya yaitu dengan metode Student Facilitator and Explaining.
Metode pembelajaran sendiri memiliki beberapa definisi, diantaranya menurut Uno pengertian metode yaitu cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.45 Menurut Yaumi metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.46 Sedangkan menurut Sanjaya metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan.47 Kemudian menurut Neumann and Koper mengatakan bahwa instructional method is defined by learners and learning supporters (metode pembelajaran didefinisikan sebagai seperangkat aktifitas yang mengarah pada hasil belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan pendukung pembelajaran).48
44 Wina Sanjaya, op.cit., h. 248.
45 Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), cet. 4, h 2.
46 Muhammad Yaumi, Prinsi-Prinsip Desain Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2013), cet. Ke-2, h. 205.
47 Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), cet. 3, h. 187.
48 Muhammad Yaumi, op.cit., h. 224.
27
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode adalah sebuah cara yang digunakan sebagai perantara untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan. Metode pembelajaran tentunya sangat beragam yang digunakan pada dunia pendidikan, diantaranya adalah metode student facilitator and explaining.
Metode student facilitator and explaining merupakan suatu metode dimana siswa mempresentasikan ide atau pendapat pada siswa lainnya.49 Metode student facilitator and explaining merupakan salah satu dari tipe model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan beranggotakan 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok. Metode pembelajaran SFE merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa untuk aktif di dalam kelas. Metode SFE menuntut guru untuk mampu menyajikan materi dan mendemonstrasikannya kepada peserta didik dan memberikan kesempatan agar mereka memahami materi yang diajarkan dengan baik. Peserta didik diberikan kesempatan untuk menjelaskan kembali kepada peserta didik lainnya berdasarkan kesimpulan dari hasil demonstrasi yang dilakukan oleh guru.50
Menurut Istarani dan Muhammad Ridwan, metode Student Facilittaor and Explaining (SFE) adalah penyampaian materi ajar dengan terlebih dahulu guru memberikan informasi kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa, kemudian menyajikan materi ajar dengan sejelas-jelasnya dilanjutkan dengan diskusi antara siswa di mana siswa saling menjelaskan satu sama lain ide atau gagasannya
49 Agus Suprijono, Cooperatif Learning Teori & Aplikasi Paikem, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 128.
50 Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), h. 228.
sesuai dengan materi yang telah diajarkan dan diakhiri dengan evaluasi yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui tingkat kemampuan dan pemahaman siswa dalam memahami materi ajar.51
Jadi metode Student Facilittaor and Explaining (SFE) merupakan suatu metode dimana setiap siswa diberikan kesempatan untuk menjelaskan ide atau gagasan kepada teman- temannya sesuai dengan materi yang telah disampaikan oleh gurunya. Penerapan metode ini memberikan siswa kesempatan untuk bertindak sebagai seorang pengajar atau penjelas materi karena menjelaskan kepada siswa lainnya.
b. Langkah-Langkah Metode Student Facilitator and Explaining (SFE)
Dalam implementasi metode Student Facilitator and Explaining (SFE) memiliki beberapa tahapan, diantara langkah- langkah penerapan metode SFE sebagai berikut: 52
Tabel 2.3
Langkah-Langkah Penerapan Metode SFE
No Langkah-Langkah Penjelasan
1 Informasi Kompetensi Guru menjelaskan kepada siswa tujuan pembelajaran dan kompetensi apa sajakah yang harus dimiliki setelah mempelajari materi hari itu.
2 Sajian materi Guru menyampaikan materi saat itu dan siswa memperhatikan.
Setelah menjelaskan materi, guru
51 Istarani & Muhammad Ridwan, 50 Tipe Pembelajaran Kooperatif, (Medan, Media Persada, 2014), h. 114.
52 Yatim Riyanto, op.cit., h. 283.
29
membagi siswa ke dalam beberapa kelompok kecil.
3 Memberikan
kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya
Pada tahap ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan ide atau gagasannya berdasarkan materi yang telah diajarkan kepada teman satu kelompoknya. Kemudian masing-
masing kelompok
mendelegasikan perwakilannya untuk maju ke depan mempresentasikan hasil diskusinya.
4 Kesimpulan Setelah beberapa perwakilan kelompok maju ke depan menjelaskan materi kepada teman-temannya, guru mencatat poin-poin penting untuk dijelaskan kembali kepada siswa terkait informasi yang kurang tepat.
5 Evaluasi Guru memberikan soal kepada siswa sebagai evaluasi dari pembelajaran
6 Refleksi Pada tahapan ini, guru
menjelaskan secara keseluruhan dari materi yang diajarkan dan meluruskan ketidaktepatan atau kekurangan dari presentasi perwakilan kelompok yang telah