• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Education and Economics (JEE) ISSN: E-ISSN: X

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Education and Economics (JEE) ISSN: E-ISSN: X"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MATERI MENGIDENTIFIKASI KEGUNAAN ENERGI LISTRIK DAN BERPARTISIPASI DALAM

PENGHEMATANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI MELALUI METODE PROYEK

Suratman

SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah Email: [email protected]

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari melalui metode proyek pada siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019. Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus setiap siklus terdiri dua kali pertemuan, dengan empat tahap penelitian:

perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VI SD Negeri 01 Sanggang Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019. Dengan jumlah 21 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I siswa yang berhasil mendapat nilai KKM, meningkat dari 11 siswa atau 52,38% menjadi 14 siswa atau 66,67% atau terdapat peningkatan sebesar 14,29% dibandingkan kondisi awal. Sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 19 siswa yang mendapat nilai di atas KKM atau 90,48% atau terdapat peningkatan sebesar 23,81% dari sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan metode proyek dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari pada siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019.

Kata Kunci: hasil belajar, IPA, energi listrik, metode proyek

Abstract : This study aims to improve learning outcomes of material science to identify the usefulness of electrical energy and participate in its savings in daily life through project methods in class VI students of SD Negeri 01 Sanggang Semester II Academic Year 2018/2019. The research method uses Class Action Research conducted in two cycles each cycle consisting of two meetings, with four stages of research: planning, implementation, observation and reflection. The subjects of this study were the sixth grade students of SD Sanggang 01 Semester II in 2018/2019 Academic Year. With a total of 21 students. Data collection techniques used were observation, interviews, tests, and documentation. The data analysis used in this research is qualitative descriptive analysis. The results of this study are to improve learning outcomes of material science to identify the use of electrical energy and participate in its savings in everyday life. This is evidenced by the increase in student learning outcomes in the first cycle of students who managed to get the KKM score, increased from 11 students or 52.38% to 14 students or 66.67% or there was an increase of 14.29% compared to the initial

(2)

conditions. While in the second cycle increased to 19 students who scored above the KKM or 90.48% or there was an increase of 23.81% from before. Based on the results of this study, it can be concluded that by applying project methods to improve learning outcomes the material identifies the usefulness of electrical energy and participates in its savings in daily life for class VI students at SD Negeri 01 Sanggang Semester II 2018/2019 Academic Year.

Keywords:learning outcomes, science, electricity, project methods

PENDAHULUAN

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu ilmu yang merupakan tulang punggung teknologi, terutama teknologi manufaktur dan teknologi modern. Teknologi modern seperti teknologi informasi, elektronika, komunikasi, teknologi transportasi, merupakan penguasaan Ilmu Pengetahuan Alam yang cukup mendalam. Tanpa penguasaan Ilmu Pengetahuan Alam yang memadai bekal ilmu sumber daya manusia kita akan kurang kuat untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain di negara kita, apa lagi di negara di sekitar kita (Depdiknas, 2009). Salah satu pembahasan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetauan Alam (IPA) adalah mengenai energi listrik. Energi listrik merupakan suatu energi yang berasal dari muatan listrik yang menimbulkan medan listrik statis atau bergeraknya elektron pada konduktor (Pengantar Listrik) atau ion (positif atau negatif) pada zat cair atau gas. listrik mempunyai satuan ampere yang disimbolkan dengan A dan tegangan listrik yang disimbolkan dengan V dengan satuan Volt. Dengan ketentuan kebutuhan pemakaian daya listrik Watt Yang disimbolkan dengan W.

Energi listrik bisa diciptakan oleh sebuah energi lain dan bahkan sanggup memberikan suatu energi yang nantinya bisa dikonversikan pada energi yang lain (Bitar, 2019). Meski dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak boleh boros begitu saja dalam menggunakan energi listrik dengan semena-mena.

Menurut Srini M. Iskandar (2001:2), IPA adalah pengetahuan manusia yang luas yang didapatkan dengan cara observasi dan eksperimen yang sistematik, serta dijelaskan dengan bantuan aturanaturan, hukum-hukum, prinsip-prinsip teori dan hipotesis-hipotesis.

Berdasarkan pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa IPA adalah sebagai suatu proses upaya manusia untuk memahami berbagai gejala-gejala alam dengan cara yang sistematik dan menghasilkan suatu produk yang telah diuji kebenarannya. Mata Pelajaran IPA di Sekolah Dasar bertujuan agar siswa: memahami konsep-konsep IPA, memiliki keterampilan proses, mempunyai minat mempelajari alam sekitar, bersikap ilmiah, mampu menerapkan konsep-konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, mencintai alam sekitar, serta menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan. Berdasarkan tujuan di atas, maka pembelajaran pendidikan IPA di SD menuntut proses belajar mengajar yang tidak terlalu akademis dan verbalistik. Pentingnya pendidikan Ilmu Pengetauan Alam (IPA) di tingkat sekolah dasar (SD) menuntut guru lebih kreatif dalam proses pembelajaran IPA di lingkungan sekolah dalam menyampaikan materi.

Rendahnya minat siswa terhadap IPA salah satunya karena para siswa menganggap IPA sebagai sesuatu yang sulit dipahami.

Penyelenggaraan pendidikan di sekolah, melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. Hal tersebut diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga

(3)

pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal. Untuk itu perlu disadari oleh guru bahwa dalam melaksanakan pembelajaran perlu pula diupayakan pembelajaran yang bersifat membangun dan memberikan pengalaman terhadap materi-materi yang diberikan.

Keterbatasan waktu yang tersedia menyebabkan guru mengejar target pencapaian kurikulum memilih jalan yang termudah untuk menginformasikan fakta dan konsep, yaitu melalui model ceramah kemudian latihan soal dan siswa memperhatikan penjelasan guru tanpa melakukan aktivitas sehingga siswa pasif. Guru dalam mengajarkan IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari- hari kepada siswa kurang melibatkan siswa secara aktif dalam interaksi belajar mengajar sehingga siswa kurang termotivasi dalam belajar. Guru juga kurang melibatkan lingkungan sebagai media sehingga siswa kurang mengenal lingkungan dan tidak dapat memperoleh pemahaman yang berarti.

Disaat proses belajar mengajar berlangsung, guru kurang menggunakan model pembelajaran yang bervariasi sehingga hal tersebut dapat menyebabkan siswa jenuh dan kurang aktif dalam menerima pelajaran dari guru. Padahal model pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didiknya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh lahir, dkk. Bahwa penggunaan metode pembelajaran yang tepat dapat menjadikan peserta didik atau siswa menjadi lebih mudah dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru (Lahir dkk., 2017). Sehingga hasil pembelajaran yang dilaksanakan akan jauh lebih maksimal jika penggunaan metodenya tepat dan sesuai dengan materi yang disampaikan, termasuk guru memahami karakter dan kemampuan dari para siswanya, dalam hal ini mata pelajaran IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan berbagai macam model atau metode pembelajaran dapat memakan waktu yang lebih lama sementara waktu mengajarnya terbatas. Guru juga jarang sekali menggunakan pendekatan pembelajaran ketika sedang mengajarkan IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari. Terkait belum optimalnya proses pembelajaran IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari di kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019, maka peneliti berupaya untuk menerapkan metode proyek sebagai salah satu alternatif pembelajaran bermakna yang bermuara pada pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari di kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019.

Project Based Learning atau pembelajaran berbasis proyek adalah pendekatan yang memusat pada prinsip dan konsep utama suatu disiplin, melibatkan siswa dalam memecahkan masalah dan tugas penuh makna lainnya, mendorong siswa untuk bekerja mandiri membangun pembelajaran, dan pada akhirnya menghasilkan karya nyata. Bern dan Erickson (Komalasari, 2013: 70). Secara harfiah, proyek mempunyai makna maksud atau rencana.

Metode proyek adalah suatu jenis kegiatan memecahkan masalah dilakukan oleh perseorangan atau kelompok kecil. Berbeda dengan kegiatan problem solving, dalam metode proyek ini biasanya dihasilkan produk seperti peta, maket, model, dan sebagainya yang mempunyai intrinsik bagi anak didik yang menghasilkan. Metode proyek memungkinkan penyaluran minat anak dan anak pun dapat belajar untuk menelaah dan memandang suatu materi pelajaran dalam konteks lebih luas. Pengetahuan yang diperoleh siswa lebih berarti dan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik, karena pengetahuan itu bermanfaat bagi anak untuk lebih mengapresiasikan lingkungannya, memahami serta memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

(4)

Project based learning atau pembelajaran berbasis proyek merupakan pendekatan pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secara kolaboratif, dan pada akhirnya menghasilkan produk kerja yang dapat dipresentasikan kepada orang lain (I wayan eka mahendra, 2007).

Penyusunan suatu proyek pada dasarnya adalah merencanakan suatu masalah pada berbagai bidang studi yang memungkinkan murid melakukan berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan anak-anak dalam memahami berbagai pengetahuan. Pengajaran proyek sangat memberikan kesempatan pada anak untuk aktif, mau bekerja dan secara produktif menemukan berbagai pengetahuan. Hal ini tentunya sangan jauh berbeda dengan metode pengajaran tradisional yang menyajikan bidang studi secara terpisah antara bidang studi satu dengan yang lainnya.

Pengajaran model ini hanya dapat menciptakan pola berpikir parsial pada anak didik dalam memahami berbagai aspek pengetahuan.

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Manfaat tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Bagi Siswa

Meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Bagi guru

Mengembangkan model pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari- hari untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

3. Bagi Sekolah

Melalui penerapan metode proyek dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari pada siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019.

KAJIAN TEORI Hasil Belajar Siswa

Menurut pendapat Arikunto (2001: 117) hasil belajar dibedakan menjadi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, psikomotorik. Ketiga ranah tersebut dibedakan karena ciri-cirinya yang berbeda. Kognitif berhubungan dengan pengembangan kemampuan otak dan penalaran siswa.

18 Afektif berhubungan dengan pengembangan perasaan dan sikap siswa. Sedangakan Psikomotorik berhubungan dengan cara siswa pada waktu mengembangakan kedua hasil belajar tersebut, ketiga hasil belajar adalah saling berkaitan.

M. Sobry Sutikno (2010:35) mengemukakan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Skinner yang dikutip oleh Dimyati dan Mudjiono (2006:93) bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respon yang tercipta melalui proses tingkah laku. Menurut R. Gagne seperti yang dikutip oleh Slameto (2000:78) memberikan dua definisi belajar, yaitu belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.

Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa belajar adalah perubahan serta peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang di berbagai bidang yang terjadi akibat interaksi terus menerus dengan lingkungannya.

Hasil belajar siswa menurut W. Winkel (2004:82) adalah keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni prestasi belajar siswa di sekolah yang mewujudkan dalam bentuk angka. Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi

(5)

dan keterampilan-keterampilan (Suprijono, 2011:5). Hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam bentuk angka atau skor setelah tes hasil belajar pada setiap akhir pembelajaran (Dimyati dan Mujiono, 2006:24).

Hasil belajar yang dicapai oleh siswa di sekolah merupakan salah satu ukuran terhadap penguasaan materi pelajaran yang disampaikan. Peran guru dalam menyampaikan materi pelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa penting sekali untuk diketahui, artinya dalam rangka membantu siswa mencapai hasil belajar yang seoptimal mungkin. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor baik yang bersifat mendorong atau menghambat, demikian pula dalam belajar. Faktor yang mempengaruhi prestasi atau hasil belajar siswa yakni faktor dari dalam diri siswa (interen) dan faktor yang datang dari luar (eksteren). Ahmadi (1998:72) mengemukakan untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern) dan faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor ekstern).

a. Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang tergolong faktor intern adalah kecerdasan, bakat, minat, dan motivasi. Kecerdasan atau intelegensia adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang diadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensia, intelegensia yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Slameto (2000:56) mengatakan bahwa “Tingkat intelegensia yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensia yang rendah.” Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ngalim Purwanto (1986:28) mengemukakan “bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan- kesanggupan tertentu.”

Menurut Syah Muhibbin (1999:136) “bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada pendidikan dan latihan.” Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada diri seseorang sangatlah ditentukan oleh bakat yang dimilikinya. Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenali beberapa kegiatan atau kecenderungan yang mantap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang tertentu.

Siswa yang kurang berminat dalam pelajaran tertentu akan menghambat dalam hasil belajarnya. Menurut Winkel (2004:24) “Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang / hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.” Motivasi adalah dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi dalam belajar adalah faktor penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan kegiatan belajar.Seperti yang dikemukakan oleh Nasution (1995:73) “motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.”

b. Faktor Ekstern

Yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang bersifat dari luar diri siswa, yaitu keadaan keluarga, sekolah dan sekitarnya. Keadaan Keluarga dapat menentukan keberhasilan anak dalam belajar. Adanya rasa aman dan nyaman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang memperoleh belajar. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah pertama kali anak mendapatkan pendidikan dan bimbingan. Faktor Guru, guru sebagai tenaga berpendidikan memiliki tugas menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, membimbing, mengolah, meneliti, dan mengembangkan serta memberikan pelajaran kepada siswa.

Keterampilan guru dalam mengajar, keprofesionalan guru dalam melaksanakan kegiatan

(6)

pembelajaran sangat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Sumber Belajar, merupakan faktor yang menunjang keberhasilan dalam proses belajar dan mengajar.

Sumber belajar yang lengkap dan memadai adalah perangkat yang dapat digunakan siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga hasil belajar dapat meningkat.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

Kata IPA merupakan singkatan dari Ilmu Pengetahuan Alam. Dari segi istilah yang digunakan Ilmu Pengetahuan Alam berarti ilmu tentang pengetahuan alam. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu ilmu yang merupakan tulang punggung teknologi, terutama teknologi manufaktur dan teknologi modern. Teknologi modern seperti teknologi informasi, elektronika, komunikasi, teknologi transportasi, merupakan penguasaan Ilmu Pengetahuan Alam yang cukup mendalam. Tanpa penguasaan Ilmu Pengetahuan Alam yang memadai bekal ilmu sumber daya manusia kita akan kurang kuat untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain di negara kita, apa lagi di negara di sekitar kita (Depdiknas, 2009).

Menurut Srini M. Iskandar (2001:2), IPA adalah pengetahuan manusia yang luas yang didapatkan dengan cara observasi dan eksperimen yang sistematik, serta dijelaskan dengan bantuan aturanaturan, hukum-hukum, prinsip-prinsip teori dan hipotesis-hipotesis.

Berdasarkan pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa IPA adalah sebagai suatu proses upaya manusia untuk memahami berbagai gejala-gejala alam dengan cara yang sistematik dan menghasilkan suatu produk yang telah diuji kebenarannya.

Mata Pelajaran IPA di Sekolah Dasar bertujuan agar siswa: memahami konsep-konsep IPA, memiliki keterampilan proses, mempunyai minat mempelajari alam sekitar, bersikap ilmiah, mampu menerapkan konsep-konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, mencintai alam sekitar, serta menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan. Berdasarkan tujuan di atas, maka pembelajaran pendidikan IPA di SD menuntut proses belajar mengajar yang tidak terlalu akademis dan verbalistik.

Selain itu dalam kondisi ketergantungan hidup manusia akan ilmu dan teknologi yang sangat tinggi, maka pembelajaran IPA di SD harus dijadikan sebagai mata pelajaran dasar dan diarahkan untuk menghasilkan warga Negara yang melek IPA. Rutherford dan Ahlgren (1990: 2-3) dalam kata pengantarnya untuk buku Science for All Americans mengemukakan beberapa alasan mengapa IPA layak dijadikan sebagai mata pelajaran dasar dalam pendidikan: Pertama, IPA dapat memberi seseorang pengetahuan tentang lingkungan biofisik dan perilaku social yang diperlukan untuk pengembangan pemecahan yang efektif bagi masalah-masalah lokal dan global; Kedua, dengan penekanan dan penjelasan akan adanya saling ketergantungan antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang lain beserta lingkungannya, IPA akan membantu mengembangkan sikap berpikir seseorang terhadap lingkungan dan dalam memanfaatkan teknologi; Ketiga,Kebiasaan berpikir ilmiah dapat membantu seseorang dalam setiap kegiatan kehidupan sehingga peka terhadap permasalahan yang seringkali melibatkan sejumlah bukti, pertimbangan kuantitatif, alasan logis, dan ketidak pastian; Keempat, prinsip-prinsip teknologi memberi sesorang dasar yang kuat untuk menilai penggunaan teknologi baru beserta implikasinya bagi lingkungan dan budaya; Kelima, pendidikan IPA dan teknologi secara terus menerus dapat memberikan piranti untuk menentukan sikap terhadap sejumlah masalah dan pengetahuan baru yang penting; Keenam, potensi IPA dan teknologi guna meningkatkan kehidupan tidak akan terealisasikan tanpa didukung oleh pemahaman masyarakat umum terhadap IPA, matematika, dan teknologi, serta kebiasaan berpikir ilmiah.

Carin dan Sund (1989: 16) memberikan petunjuk tentang bagaimana seharusnya IPA diajarkan pada pendidikan dasar. Salah satu diantaranya adalah menanamkan ke dalam diri siswa keingintahuan akan alam sekitar, serta dapat memahami pejelasan-penjelasan ilmiah tentang fenomena alam. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan pendidikan IPA yaitu bahwa

(7)

IPA harus mampu meberikan pengetahuan kepada siswa tentang dunia dimana kita hidup, dan bagaimana kita sebagai makhluk hidup harus bersikap terhadap alam. Secara singkat, Connor (1990:6) mengemukakan, pendidikan IPA di SD harus secara konsisten berorientasi pada (a) pengembangan keterampilan proses, (b) pengembangan konsep, (c) aplikasi, dan (d) isu sosial yang berdasar pada IPA.

Energi Listrik

Menurut Campbell, Reece, dan Mitchell (2003), energi adalah kemampuan untuk mengatur ulang materi. Energi secara singkat adalah kapasitas atau kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan. Energi listrik adalah energi yang saat ini paling banyak digunakan dan dianggap penting oleh penduduk dunia. Energi ini timbul karena adanya perbedaan muatan antara dua titik konduktor. Energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik.

Energi ini dapat diperoleh dari perubahan berbagai sumber energi seperti air, angin, panas, cahaya, dan bahan bakar fosil (bahan kimia).

Energi listrik merupakan suatu energi yang berasal dari muatan listrik yang menimbulkan medan listrik statis atau bergeraknya elektron pada konduktor (Pengantar Listrik) atau ion (positif atau negatif) pada zat cair atau gas. listrik mempunyai satuan ampere yang disimbolkan dengan A dan tegangan listrik yang disimbolkan dengan V dengan satuan Volt. Dengan ketentuan kebutuhan pemakaian daya listrik Watt Yang disimbolkan dengan W.

Energi listrik bisa diciptakan oleh sebuah energi lain dan bahkan sanggup memberikan suatu energi yang nantinya bisa dikonversikan pada energi yang lain (Bitar, 2019).

Banyak sekali manfaat atau kegunaan energi listrik untuk kehidupan ini, berikut ini berbagai macam-macam manfaatnya yang kita rasakan (https://manfaat.co.id/manfaat-energi- listrik):

a. Sebagai Penerangan. Saat malam hari, manfaat energi listrik bisa dijadikan sebagai sumber penerangan. Energi listrik bisa digunakan untuk menyalakan lampu. Dahulu kala saat energi listrik belum masuk ke desa-desa, penerangan hanya dilakukan menggunakan lampu minyak biasa. Saat ini harga minyak bumi mahal harganya, sehingga manfaat minyak bumi atau minyak tanah semakin langka dan semakin mahal.

b. Sumber Energi. Energi listrik dijadikan sebagai sumber energi. Disebut sumber energi karena listrik bisa dijadikan sebagai penghasil energi. Misalnya saja adalah sumber energi untuk menghidupkan berbagai macam peralatan rumah tangga dan juga peralatan elektronik lainnya.

c. Sarana Hiburan. Sarana hiburan bisa menggunakan energi listrik, sebabnya adalah banyak alat-alat dan media hiburan yang menggunakan energi listrik. Misalnya manfaat sosial media dari smartphone, playstation atau game elektronik lainnya yang membutuhkan listrik.

d. Penghasil Panas. Listrik bisa dijadikan sebagai penghasil panas, manfaat energi listrik banyak digunakan berbagai macam keperluan rumah tangga. Listrik bisa dijadikan sebagai sumber panas, karena arus litrik bisa mengalir dengan manfaat nikel atau elemen-elemen pemanas yang bisa menghasilkan panas. Panas yang dihasilkan inilah yang digunakan dan juga dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Energi listrik yang menghasilkan panas bisa digunakan untuk kompor listrik, penanak nasi dan juga digunakan untuk menyetrika.

Semua peralatan tersebut mengubah energi listrik menjadi panas.

e. Penghasil Gerak. Energi listrik yang ada di dalam kehidupan ini juga bisa dihasilkan sebagai penghasil gerak. Banyak kebutuhan rumah tangga yang membutuhkan listrik untuk menggerakkan sesuatu. Misalnya saja energi listrik yang diubah menjadi energi gerak bisa digunakan untuk menggerakkan motor, mobil, kipas angin dan masih banyak lagi lainnya.

Saat mengubah energi gerak dibutuhkan arus listrik untuk menggerakkan alat-alat tersebut.

(8)

Meski dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak boleh boros begitu saja dalam menggunakan energi listrik. Hal itu dikarenakan biaya listrik akan semakin mahal, jika sudah mahal kita sendiri yang akan menanggung akibatnya. Berikut ini beberapa contoh upaya dalam penghematan listrik: a). Tidak menyalakan lampu pada saat siang hari kecuali pada ruang-ruang tertentu yang kurang terang saat digunakan. b). Tidak menggunakan mesin air otomatis, sebab otomatis sedikit-sedikit akan menyala saat airnya berkurang. Oleh sebab itu gunakanlah sanyo yang tidak otomatis, jadi bisa dinyalakan saat air benar-benar telah habis.

Selain itu, mesin air otomatis akan memiliki tarif listrik yang lebih mahal dibandingkan dengan sanyo yang normal. c). Menyalakan peralatan listrik sesuai keperluan saja dan lain- lain.

Model Pembelajaran Proyek (Project Based Learning)

Model merupakan representasi tiga dimensi dari objek riil (Sharon, dkk., 2011). Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajaran dalam tutorial (Trianto, 2012).

Project Based Learning atau pembelajaran berbasis proyek adalah pendekatan yang memusat pada prinsip dan konsep utama suatu disiplin, melibatkan siswa dalam memecahkan masalah dan tugas penuh makna lainnya, mendorong siswa untuk bekerja mandiri membangun pembelajaran, dan pada akhirnya menghasilkan karya nyata. Bern dan Erickson (Komalasari, 2013: 70).

Secara harfiah, proyek mempunyai makna maksud atau rencana. Metode proyek adalah suatu jenis kegiatan memecahkan masalah dilakukan oleh perseorangan atau kelompok kecil.

Berbeda dengan kegiatan problem solving, dalam metode proyek ini biasanya dihasilkan produk seperti peta, maket, model, dan sebagainya yang mempunyai intrinsik bagi anak didik yang menghasilkan. Metode proyek memungkinkan penyaluran minat anak dan anak pun dapat belajar untuk menelaah dan memandang suatu materi pelajaran dalam konteks lebih luas. Pengetahuan yang diperoleh siswa lebih berarti dan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik, karena pengetahuan itu bermanfaat bagi anak untuk lebih mengapresiasikan lingkungannya, memahami serta memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Project based learning atau pembelajaran berbasis proyek merupakan pendekatan pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secara kolaboratif, dan pada akhirnya menghasilkan produk kerja yang dapat dipresentasikan kepada orang lain (I wayan eka mahendra, 2007).

Model pembelajaran berbasis proyek (project based learning) merupakan pembelajaran inovatif yang berpusat pada peserta didik (student centered) dan menetapkan guru sebagai motivator dan fasilitator, dimana peserta didik diberi peluang bekerja secara otonom mengkontruksi belajarnya (Trianto Ibnu Badar Al-Tabany, 2014).

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir, proses pembelajaran yang disajikan secara khas oleh guru untuk mencapai tujuan belajar. Salah satu model pembelajaran adalah model pembelajaran berbasis proyek (Project-based learning).

Model pemebelajaran merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar, dalam hal ini tidak semua karakteristik dari model pembelajaran tersebut cocok dengan karakteristik yang dimiliki peserta didik. Model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), yaitu: Peserta didik sebagai pembuat keputusan, dan membuat kerangka kerja (Zainal Aqib, 2013).

Menurut pemaparan di atas bahwa penerapan pembelajaran didalam kelas bertumpu pada kegiatan belajar aktif dalam bentuk kegiatan (melakukan sesuatu) dari pada kegiatan pasif seperti guru hanya mentransfer ilmu pada tersebut. Pembelajaran ini memberi peluang

(9)

untuk menyampaikan ide, mendengarkan ide orang lain dan memperkenalkan ide sendiri kepada orang lain, adalah suatu bentuk pembelajaran individu. Dari meningkatkan ketrampilan dan memecahkan masalah secara bersama.

METODE

Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus setiap siklus terdiri dua kali pertemuan, dengan empat tahap penelitian: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo semester II Tahun Pelajaran 2018/2019 dengan jumlah 21 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif.

Tabel 1. Jadwal Penelitian Tindakan Kelas

No Kegiatan

Tahun Pelajaran 2018/2019

Januari Februari Maret April 1. Pembuatan Proposal

2. Penyusunan Instrumen 3. Pelaksanaan Siklus I 4. Pelaksanaan Siklus II 5. Analisis Data

6. Penyusunan Laporan

Dari tabel jadwal di atas, dapat diketahui bahwa tahapan kegiatan dalam penelitian ini adalah:

a. Pembuatan dan pengajuan proposal pada bulan Januari 2019.

b. Penyusunan instrumen penelitian pada bulan Januari 2019.

c. Pelaksanaan siklus I pada bulan Februari 2019.

d. Pelaksanaan siklus II pada bulan Maret 2019.

e. Analisis data pada bulan April 2019.

f. Penyusunan laporan hasil penelitian pada bulan April 2019.

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Desa Sanggang, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo semester II Tahun Pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 21 siswa. Sedangkan objek penelitian adalah meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari pada siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo melalui penerapan metode proyek.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes tertulis. Metode tes tertulis digunakan untuk mengetahui data hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari pada siswa kelas VI SD Sanggang, Bulu, Sukoharjo pada siklus I dan siklus II. Selain itu, pengumpulan data juga meliputi: (a) Teknik pengamatan (observasi) yang dilakukan oleh peneliti adalah pengamatan berperan serta secara pasif. Pengamatan tersebut dilakukan terhadap penggunaan media gambar oleh guru dan proses kegiatan diskusi oleh siswa di kelas. Peneliti yang sekaligus sebagai guru mengamati situasi kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. (b) Teknik analisis kritis dilakukan terhadap hasil hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari pada siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo.

(10)

Untuk menguji validitas data, digunakan teknik (a) Trianggulasi sumber data, misalnya data tentang kesulitan-kesulitan guru dan pembelajaran tidak komunikatif disampaikan kepada siswanya; (b) Trianggulasi metode, misalnya data tentang peningkatan prestasi belajar siswa, selain diperoleh melalui observasi langsung (pengamatan), terhadap sikapnya selama pembelajaran juga didapat dari wawancara dan analisis dokumen berupa pekerjaan siswa. (c) Terakhir, review informan, teknik ini digunakan cek kembali kepada informan, apakah data yang diperoleh dari hasil wawancara sudah valid atau belum.

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini dapat dilihat secara umum dengan membandingkan peningkatan nilai hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari siswa dari satu siklus ke siklus berikutnya. Keberhasilan tindakan siklus I diketahui dengan cara membandingkan dengan nilai hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari siswa pada kondisi awal. Sedangkan keberhasilan tindakan pada siklus II diketahui dengan cara membandingkan nilai hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari dengan siklus I.

Sedangkan indikator kerja tindakan dapat dilihat dari kriteria yang telah ditentukan peneliti, sebagai berikut:

a. Adanya peningkatan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari pada siswa kelas VI SD Sanggang, Bulu, Sukoharjo dari kondisi awal ke siklus I, dan dari siklus I ke siklus II.

b. Minimal 80% siswa kelas VI SD Sanggang, Bulu, Sukoharjo mencapai nilai KKM yang ditentukan dalam pelajaran IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu 75.

c. Nilai rata-rata hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari siswa kelas VI SD Sanggang, Bulu, Sukoharjo mencapai nilai KKM 75.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Prestasi Belajar Siswa Kondisi Awal

Gambar 1. Grafik Prestasi Belajar Siswa Kondisi Awal

60

80 70

Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata

Kondisi Awal

Dari data nilai hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari pada kondisi awal di atas, nilai rata-rata siswa kelas VI adalah 70, masih di bawah nilai KKM yang ditetapkan yaitu 75. Nilai tertinggi siswa 80, nilai terendah 60 dan jumlah siswa kelas VI yang mencapai nilai KKM hanya 11 siswa (52,38%) dari total 21 siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang.

Melihat kondisi rendahnya hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi

(11)

listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo tersebut, maka peneliti sebagai guru di kelas VI akan melaksanakan suatu penelitian tindakan kelas melalui penerapan metode proyek.

Hasil Pembelajaran Siklus I

Gambar 2. Grafik Prestasi Belajar Siswa Siklus I

60

90 75

Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata

Siklus I

Pada siklus I guru peneliti sudah menerapkan metode proyek dalam pembelajaran IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai rata-rata hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo adalah 75, nilai tertinggi 90 dan nilai terendah adalah 60. Sedangkan jumlah siswa yang mencapai nilai KKM sebanyak 14 siswa (66,67%) dari total 21 siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang.

Dengan capaian hasil belajar pada siklus I yang belum mencapai indikator kinerja yang ditetapkan dalam penelitian ini, yaitu siswa yang tuntas belum mencapai 80% dari total seluruh siswa kelas VI, maka peneliti memutuskan untuk melanjutkan pada tindakan siklus II dengan tetap menerapkan metode proyek.

Hasil Pembelajaran Siklus II

Gambar 3. Grafik Prestasi Belajar Siswa Siklus II

70

90 85

Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rata-rata

Siklus II

Pada siklus II peneliti menerapkan metode pembelajaran metode proyek. Nilai rata-rata hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo adalah 85, nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 70. Jumlah siswa yang mencapai nilai KKM sebanyak 19 siswa (90,48%) dari total 21 siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang. Peningkatan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari pada siklus II ini sudah mencapai indikator kinerja penelitian. Sehingga peneliti memutuskan untuk menghentikan penelitian tindakan kelas ini.

(12)

Pembahasan

Setelah peneliti melaksanakn tindakan penelitian melalui penerapan metode proyek, secara empiris diperoleh data peningkatan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari- hari siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo semester II Tahun Pelajaran 2018/2019 dari kondisi awal, siklus I dan siklus II sebagai berikut.

Tabel 2. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa

Uraian Kondisi awal Siklus I Siklus II

Tindakan Pembelajaran

Belum menerapkan metode proyek

Sudah menerapkan metode proyek

Sudah menerapkan metode proyek Nilai terendah

Nilai tertinggi Nilai rata-rata KKM

Ketuntasan

60 80 70 75

11 siswa (52,38%)

60 90 75 75

14 siswa (66,67%)

70 90 85 75

19 siswa (90,48%) Melalui penerapan metode proyek dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada kondisi awal peneliti belum metode proyek. Nilai rata-rata siswa kelas VI adalah 70, masih di bawah nilai KKM yang ditetapkan yaitu 75. Nilai tertinggi siswa 80, nilai terendah 60 dan jumlah siswa kelas VI yang mencapai nilai KKM hanya 11 siswa (52,38%) dari total 21 siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang.

Pada siklus I guru peneliti sudah menerapkan metode proyek dalam pembelajaran IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai rata-rata hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo adalah 75, nilai tertinggi 90 dan nilai terendah adalah 60. Sedangkan jumlah siswa yang mencapai nilai KKM sebanyak 14 siswa (66,67%) dari total 21 siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang.

Pada siklus II, nilai rata-rata hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo adalah 85, nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 70. Jumlah siswa yang mencapai nilai KKM sebanyak 19 siswa (90,48%) dari total 21 siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang.

Jadi, melalui penerapan metode proyek dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari dari kondisi awal nilai rata-rata 70 dengan ketuntasan 52,38% ke kondisi akhir pada siklus II nilai rata-rata 85 dengan ketuntasan 90,48% pada siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo semester II Tahun Pelajaran 2018/2019.

Hasil tindakan secara empirik yaitu: melalui penerapan metode proyek dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari dari kondisi awal nilai rata-rata 70 dengan ketuntasan 52,38% ke kondisi akhir pada siklus II nilai rata-rata 85 dengan ketuntasan 90,48% pada siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019.

(13)

SIMPULAN

Hipotesis menyatakan diduga melalui penerapan metode proyek dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari pada siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo semester II Tahun Pelajaran 2018/2019. Dari data empirik menyatakan melalui penerapan metode proyek dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari dari kondisi awal nilai rata-rata 70 dengan ketuntasan 52,38% ke kondisi akhir pada siklus II nilai rata-rata 85 dengan ketuntasan 90,48% pada siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo semester II Tahun Pelajaran 2018/2019. Sehingga dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan metode proyek dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi mengidentidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari pada siswa kelas VI SD Negeri 01 Sanggang, Bulu, Sukoharjo semester II Tahun Pelajaran 2018/2019.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1998. Psikologo Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar - dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Jakarta: Bumi Aksara.

Bitar. 2019. Pengertian, Rumus, dan Satuan Energi Listrik Beserta Contoh Soalnya Lengkap.

https://www.gurupendidikan.co.id diakses tanggal 8 Maret 2019.

Campbell, N.A, J.B. Reece and L.G. Mitchell. 2003. Biologi. Alih Bahasa : L. Rahayu, E.I.M Adil, N Anita, Andri, W.F Wibowo, W. Manalu. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Carin, A. A. & Robert B. Sund. 1989. Teaching Science Through Discovery. Ohio: Merrill Publishing company.

Connor. 1990. Argues, Science Education In Elementary Schools Must be Consistently Oriented to: the development of process skills, concept development, application, and social issues based on science.

Depdiknas. 2009. Panduan Pengembangan Model Pembelajaran IPA Terpadu. Jakarta:

Depdiknas Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta https://manfaat.co.id/manfaat-energi-listrik diakses tanggal 8 Maret 2019.

I wayan eka mahendra, 2007. .Project Based Learning bermuatan etnomatematika dalam pembelajar matematika,jurnal kreatif vol. 6 No 1 P-ISSN: 2303-288X

Jagantara, Adnyana, Widiyanti (2014). Pengaruh model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) terhadap hasil belajar biologi ditinjau dari gaya belajar siswa SMA. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, 4(1).

Komalasari, Kokom. 2013. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung; Refika Aditama

Lahir, S., Ma’ruf, M. H., & Tho’in, M. (2017). Peningkatan Prestasi Belajar Melalui Model Pembelajaran Yang Tepat Pada Sekolah Dasar Sampai Perguruan Tinggi. Jurnal Ilmiah Edunomika, 1(01).

Muhibbin, Syah.1999. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung:PT Remaja Rosdakarya

Mulyadi (2015). Penerapan Model Project Based Learning untuk Meningkatan Kinerja dan Prestasi Belajar Fisika Siswa SMK. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan.

(14)

Munawaroh, Subali & Sopyan (2012). Penerapan Model Project Based Learning Dan Kooperatif Untuk Membangun Empat Pilar Pembelajaran Siswasmp. UPEJ Unnes Physics Education Journal.

M. Sobry Sutikno. 2010. Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum &

Konsep Islami. Refika Aditama: Bandung.

Nasution. 1995. Metode Research. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Ngalim Purwanto. 1986. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rutherford dan Ahlgren. 1990. Science for All Americans

Slameto. 2000. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Rineka Cipta, Jakarta Sharon E. Smaldino, Deboran L Lowther, James D, Russel, 2011. Intrucsional Technilogy &

Media For Learning Teknologi Pembelajaran dan Media untuk Belajar, Jakarta:

Kencana.

Srini M. Iskandar. 2001. Pendidikan IPA. Babdung: Maulana

Trianto, 2012. Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KPS). Jakarta: Bumi Aksara.

Trianto Ibnu Badar Al-Tabany, 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif dan Kontekstual: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada kurikulum 2013(

kurikulum tematik Integratif), Jakarta: Kencana.

Winkel, W. S. 2004. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Zainal Aqib, 2013. Model-Model, Media dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (inovatif), Bandung: CV Yrama Widya.

Gambar

Tabel 1. Jadwal Penelitian Tindakan Kelas
Gambar 1. Grafik Prestasi Belajar Siswa Kondisi Awal
Gambar 2. Grafik Prestasi Belajar Siswa Siklus I
Tabel 2. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa

Referensi

Dokumen terkait

Bank Kustodian akan menerbitkan Surat Konfirmasi Transaksi Unit Penyertaan yang menyatakan antara lain jumlah Unit Penyertaan yang dijual kembali dan dimiliki serta Nilai

• Potensi cendana pada lahan masyarakat 11 desa yang disurvei di Kabupaten Timor Tengah Selatan adalah sebanyak : 76 pohon; 188 tiang; 255 sapihan dan.

Dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor ibu dengan kemampuan kognitif anak dan dalam rangka seleksi variabel kandidat untuk analisis multivariat Analisis

Meningkatkan tata kelola pemerintahan daerah yang baik, melalui pelayanan prima sesuai dengan prinsip-prinsip good governance, dengan indikator kinerja sebagai berikut

Dilihat pada hasil penelitian bahwa dengan pola asuh autoritatif ini tidak memiliki anak dengan kemandirian rendah yang diperkuat oleh teori Baumrind (dalam

Malpresentasi sendiri sudah merupakan sebuah penyulit obstetri yang penting diperhatikan dalam memilih jenis persalinan yang akan dijalani, dimana dalam kasus ini,

Faktor ± faktor produksi yang mempengaruhi produksi usahatani jagung tanpa melihat jenis lahan (lahan sawah + lahan kering) menunjukkan variabel pupuk Urea berpengaruh

Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan memberikan pembelajaran ekonomi materi tentang uang dengan menggunakan media pembelajaran berbasis video scribe sedangkan