• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGIDENTIFIKASI PERLOKUSI DARI ILOKUSI DALAM TINDAK TUTUR VERBAL DAN NONVERBAL PADA PROGRAM ACARA HITAM PUTIH PERIODE FEBRUARI-APRIL 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENGIDENTIFIKASI PERLOKUSI DARI ILOKUSI DALAM TINDAK TUTUR VERBAL DAN NONVERBAL PADA PROGRAM ACARA HITAM PUTIH PERIODE FEBRUARI-APRIL 2020"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

i

MENGIDENTIFIKASI PERLOKUSI DARI ILOKUSI DALAM TINDAK TUTUR VERBAL DAN NONVERBAL PADA PROGRAM ACARA

HITAM PUTIH PERIODE FEBRUARI-APRIL 2020

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Oleh:

Dyah Puji Lestari NIM: 161224027

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2020

(2)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya sederhana ini saya persembahkan kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus yang telah mengabulkan doa atas pergumulan selama menyusun skripsi ini.

2. Mama Farida Ulang, terima kasih telah menjaga kesehatan untuk saya dan selalu memberikan motivasi.

3. Keluarga besar dan para kakak yang selalu memberikan semangat dan motivasi selama masa menyusun skripsi ini.

4. Devita Chandra Lucita, Stella Maris Arpra, dan Abigail Stellave Alfa Farra. Kepada ketiga sahabat terkasih, terima kasih sudah mau menemani dan menerima saya dalam suka maupun duka.

5. Teman-teman yang selalu berhasil menyumbang tawa dan semangat.

Cindy Dwika Novandria, S.Pd., Flavia Paretha, Dara Datu Gambitaka, Anggela Eka Herlinda, Lidwina Putri, S.Pd., Geovani Villarba Gamas, S.H., Franky Saverio, S.H., Yosep Randa, S.ST., Andy Von Beleren, S.H., Riya Anggara, S.T., Bertus Calvin, S.H., Rini Hartawati, S.Pd., Julia Krisdayani, S.Pd., Isah, dan Seravina Wanti Ladang.

6. Firnando Sembiring, terima kasih sudah menjadikan saya sebagai wanita tegar saat menghadapi masalah.

(3)

v

MOTTO

“Manusia tak akan tahu kekuatan maksimalnya sampai ia berada dalam kondisi di mana ia dipaksa kuat untuk bisa bertahan”

(Merry Riana)

“Kecepatan dalam mengambil keputusan adalah salah satu kepekaan yang baik dalam sebuah dimensi waktu yang tepat”

(Oei Hui Lan)

“Berdoa tanpa berusaha, omong kosong. Kerja keras tanpa doa sia-sia!”

(Penulis)

(4)

ix

ABSTRAK

Lestari, Dyah Puji. 2020. Mengidentifikasi Perlokusi dari Ilokusi dalam Tindak Tutur Verbal dan Nonverbal pada Program Acara Hitam Putih. Skripsi.

Yogyakarta: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini membahas mengenai wujud ilokusi dan perlokusi dalam tindak tutur verbal dan nonverbal. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan wujud ilokusi dan perlokusi pada program acara Hitam Putih. Subjek penelitian ini adalah tayangan atau video program acar Hitam Putih di Trans7.

Penelitian wujud tindak tutur ilokusi dan perlokusi pada program acara Hitam Putih ini termasuk ke dalam penelitian deskriptif kualitatif, karena berisi tuturan yang ada di dalam dialog interaktif pada program acara Hitam Putih.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan berbekal pemahaman kajian teori pragmatik, yaitu teori tindak tutur. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dengan teknik simak dan mencatat.

Teknik analisis data yang digunakan adalah menemukan data, mengidentifikasi dan melakukan klasifikasi data.

Simpulan dalam penelitian ini, peneliti menemukan lima wujud ilokusi yang digunakan dalam tuturan pada program acara Hitam Putih. Kelima wujud tidak tutur ilokusi itu adalah, tindak tutur (1) deklaratif, (2) representatif, (3) ekspresif, (4) direktif, dan (5) komisif. Kemudian, ditemukan pula empat wujud tindak tutur perlokusi berupa representatif, ekspresif, direktif, dan komisif.

Kata Kunci: Tindak tutur ilokusi, tindak tutur deklaratif, tindak tutur representatif, tindak tutur ekspresif, tindak tutur direktif, tindak tutur komisif, tindak tutur perlokusi

(5)

x

ABSTRACT

Lestari, Dyah Puji. 2020. Identify Perlocutionary Illocution in Verbal and Nonverbal Speech Acts in the Hitam Putih Program. Thesis. Yogyakarta:

Indonesian Language and Literature Education, Department of Language and Arts Education, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University.

This research discusses about the form of illocution and perlocution in verbal and nonverbal speech acts. This research aims to describe the form of illocution and perlocution in the Hitam Putih program. The subject of this study was the program Black-and-White pickled video program on Trans7.

This research about the form of illocutionary speech acts and perlocution in the Hitam Putih program is included in the descriptive-qualitative research, because it contains the speech in the interactive dialogue on the Hitam Putih program. The instrument used in this research was the researcher, whose armed with sense of pragmatic study, that is act of speech theory. The method used to collect data is by listened to and note. The data analysis technique used is finding data, identifying and classifying data.

The conclusions in this research are the researchers found five forms of illocution used in speech in the Hitam Putih program. The five forms of illocutionary speech are, speech acts (1) declarative, (2) representative, (3) expressive, (4) directive, and (5) commissive. Then, there were also found four forms of speech acts of perlocution in the form of pleading, promising, asking, ordering, and affirming.

Keywords: Illocutionary speech acts, declarative speech acts, representative speech acts, expressive speech acts, directive speech acts, commissive speech acts, perlokusi speech acts

(6)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala rahmat, kasih karunia, dan penyertaan-Nya dalam setiap langkah saya selama ini. Atas peyertaan-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Mengidentifikasi Perlokusi dari Ilokusi dalam Tindak Tutur Verbal dan Nonverbal pada Program Acara Hitam Putih” dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Saya menyadari bahwa skripsi ini berhasil disusun berkat adanya bantuan dari berbagai pihak. Bantuan tersebut berupa doa, dukungan, masukan, dan kerja sama. Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus yang telah mengabulkan doa atas pergumulan selama menyusun skripsi ini.

2. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

3. Rishe Purnama Dewi S.Pd., M.Hum. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

4. Prof. Dr. Pranowo, M.Pd. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia meluangkan waktu membimbing saya.

(7)

xi

5. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. selaku triangulator yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memeriksa dan memberikan masukan atas penelitian ini.

6. Theresia Rusmiyati, selaku karyawan sekretariat Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia atas pelayanan administrasi selama ini.

7. Mama tercinta, Farida Ulang yang selalu mendoakan, memberikan motivasi kepada saya dan terima kasih telah menjaga kesehatan untuk saya.

8. Keluarga besar dan para kakak yang selalu memberikan semangat dan motivasi selama masa menyusun skripsi ini.

9. Devita Chandra Lucita, Stella Maris Arpra, dan Abigail Stellave Alfa Farra. Kepada ketiga sahabat terkasih, terima kasih sudah mau menemani dan menerima saya dalam suka maupun duka.

10. Teman-teman yang selalu berhasil menyumbang tawa dan semangat. Cindy Dwika Novandria, S.Pd., Flavia Paretha, Dara Datu Gambitaka, Anggela Eka Herlinda, Lidwina Putri, S.Pd., Geovani Villarba Gamas, S.H., Franky Saverio, S.H., Yosep Randa, S.ST., Andy Von Beleren, S.H., Riya Anggara, S.T., Bertus Calvin, S.H., Rini Hartawati, S.Pd., Julia Krisdayani, S.Pd., Isah, dan Seravina Wanti Ladang.

11. Firnando Sembiring, terima kasih sudah menjadikan saya sebagai wanita yang tegar menghadapi masalah.

(8)

xii

12. Teman-teman mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kelas A dan B angkatan 2016 atas segala kebersamaan, canda, tangis, dan pengalaman yang diberikan kepada saya selama berjuang bersama.

13. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dan tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari para pembaca. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan digunakan sebaik-baiknya.

Yogyakarta, 14 Oktober 2020

Dyah Puji Lestari

(9)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Batasan Ilmiah ... 5

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

2.1 Penelitian yang Relevan ... 7

2.2 Landasan Teori ... 9

2.2.1 Pragmatik ... 8

2.2.2 Tindak Tutur ... 10

2.2.2.1 Tindak Lokusi ... 10

2.2.2.2 Tindak Ilokusi ... 11

2.2.2.3 Tindak Perlokusi ... 14

2.2.2.4 Komunikasi Verbal dan Nonverbal ... 14

2.3 Kerangka Berpikir ... 16

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 17

3.1 Jenis Penelitian ... 17

3.2 Sumber Data ... 17

(10)

xiv

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 18

3.4 Instrumen Penilaian ... 18

3.5 Teknik Analisis Data ... 18

3.6 Triangulasi Data ... 19

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 20

4.1 Deskripsi Data ... 20

4.2 Hasil Analisis Data ... 21

4.2.1 Data Tuturan Tindak Tutur Ilokusi ... 21

a. Data Tuturan Ilokusi Deklaratif ... 21

b. Data Tuturan Ilokusi Representatif ... 25

c. Data Tuturan Ilokusi Ekspresif ... 30

d. Data Tuturan Ilokusi Direktif ... 35

e. Data Tuturan Ilokusi Komisif ... 41

4.2.2 Data Tuturan Tindak Perlokusi ... 47

a. Data Tuturan Perlokusi Representatif ... 48

b. Data Tuturan Perlokusi Ekspresif ... 54

c. Data Tuturan Perlokusi Direktif ... 57

d. Data Tuturan Perlokusi Komisif ... 63

4.3 Pembahasan... 71

BAB V PENUTUP ... 79

DAFTAR PUSTAKA ... 81

LAMPIRAN ... 83

(11)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Masalah di era globalisasi sering berkaitan dengan komunikasi, baik komunikasi jarak jauh maupun langsung. Komunikasi diyakini mampu menjadi suatu jembatan penyalur semua ide, gagasan, dan konsep yang ada di dalam pikiran si penutur kepada mitra tutur. Komunikasi dalam berdialog sangat diperhatikan seperti dialog interaktif antara penutur dengan mitra tutur yang menyimak sebuah percakapan di televisi maupun secara langsung. Komunikasi menurut Cragan dan Shields (dalam Nurhadi, 2015:5)) menjelaskan bahwa hubungan di antara konsep teoretikal yang membantu memberi secara keseluruhan ataupun sebagian saja keterangan, penjelasan, penerangan, penilaian ataupun ramalan tindakan manusia berdasarkan komunikator (dalam hal orangnya) berkomunikasi (meliputi bercakap-cakap, menulis, membaca, mendengar, dan menonton) saat berkomunikasi, seseorang memerlukan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan suatu ide, gagasan, konsep, serta perasaannya. Komunikasi diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional, 2016) menjelaskan bahwa komunikasi sebagai pengiriman serta penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami satu dengan yang lain, contoh komunikasi yang diteliti adalah dialog dalam sebuah program acara televisi yang menayangkan pola percakapan verbal maupun nonverbal. Adanya komunikasi dalam kehidupan sosial sangat membantu seseorang agar dapat menyampaikan tuturannya kepada mitra tutur dan saling dapat memahami pesan yang tersampaikan dengan baik.

Ketika berkomunikasi berarti seseorang sedang melakukan suatu tindak tutur untuk menyampaikan suatu informasi. Chaer (2010:27) menyebutkan bahwa tindak tutur adalah tuturan dari seseorang yang bersifat psikologis dan

(12)

yang dilihat dari makna tindakan dalam tuturan. Black (2011:37) juga menambahkan bahwa tindak wicara (speech act) atau tindak tutur tidaklah merujuk hanya pada tindakan berbicara saja tetapi merujuk pada keseluruhan situasi komunikasi, termasuk di dalamnya konteks dari ucapan dan makna dari interaksi. Pendapat Chaer dan Black ditambahkan oleh Yule (2006) yang mengatakan bahwa dalam usaha mengungkapkan diri mereka, orang-orang tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan struktur- struktur gramatikal saja, tetapi mereka juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan itu. Selain itu, pendapat Austin yang terdapat dalam Cummings (2007:8) mengatakan bahwa tindak tutur merupakan pengujaran kalimat yang dapat digunakan untuk melakukan tindakan. Tindak tutur mengandung tiga tindakan yang saling berhubungan, yaitu lokusi (ungkapan), ilokusi (menangkap makna), dan perlokusi (melakukan suatu tindakan).

Pesan-pesan komunikasi dapat diwujudkan dalam tindak tutur, yaitu melalui percakapan-percakapan yang diujarkan oleh penutur kepada mitra tutur saat berdialog. Ada berbagai cara saat berkomunikasi yang dapat digunakan, baik secara verbal dan nonverbal. Mulyana (2008:3) menjelaskan bahwa komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respon pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol, baik bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk nonverbal (nonkata-kata). Suatu komunikasi selalu berhubungan dengan konteks yang proses komunikasinya menghasilkan tindak tutur (lisan dan tulisan). Bahasa verbal merupakan suatu bentuk penyampaian ide atau gagasan dengan kata-kata. Salah satu tuturan lisan atau bahasa verbal dapat ditemukan di dalam dialog interaktif antara narasumber dengan pembicara saat berdialog. Knapp (dalam Liliweri, 1994:103) mengatakan bahwa komunikasi verbal merupakan ciri yang terpisah-pisah, sedangkan komunikasi nonverbal selalu berkesinambungan.

Komunikasi nonverbal manusia tidak dapat menghentikan gerakan anggota tubuh atas perintah tanda baca, tetapi komunikasi verbal bisa dihentikan atas tanda-tanda baca. Hal ini memperjelas bahwa dalam komunikasi verbal sangat

(13)

memungkinkan terjadi bahasa tubuh atau nonverbal secara tidak sengaja dilakukan saat berkomunikasi.

Fenomena tindak tutur banyak ditemukan dalam program acara televisi.

Media elektronik ini memberikan kemudahan untuk mengakses berita maupun hiburan berupa tayangan yang disajikan dalam bentuk audio dan visual.

Program acara televisi yang dapat diakses ialah seperti talk show, sitkom (sinetron komedi), acara kuis, maupun dialog dengan mengangkat tema motivasi lainnya. Pada program acara yang tersedia, peneliti tertarik untuk mengambil tema motivasi di Trans7 karena dialog yang berlangsung mengandung tindak tutur verbal maupun nonverbal.

Salah satu program acara yang memuat tema motivasi di Trans7 adalah Hitam Putih. Acara tersebut dibawakan oleh Deddy Corbuzier dan Fanny.

Banyak tindak tutur yang terjadi dalam program tersebut. Tindak tutur yang dilakukan adalah tindak tutur verbal dan nonverbal nantinya akan membawa penonton kepada pesan yang ingin disampaikan. Akan tetapi, penonton lebih fokus kepada gestur dan mimik wajah sehingga pesan tersebut tidak tersampaikan dengan baik. Penonton lebih fokus kepada penampilan dari bintang tamu dan candaan mereka, padahal dalam candaan tersebut, terdapat pesan yang penting. Terkadang, penonton lebih fokus pada pemeran sampingan pada acara tersebut daripada pembicara. Penonton menjadi lupa pada esensi dari program acara tersebut.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan di atas, peneliti akan melakukan sebuah studi deskriptif dokumentatif mengenai bagaimana menangkap perlokusi dari ilokusi tindak tutur verbal dan nonverbal pada program acara Hitam Putih di Trans7. Penelitian ini akan mengkaji tentang tindak tutur, baik verbal maupun nonverbal dalam dialog interaktif Hitam Putih di Trans7 dipandu oleh pembawa acara Deddy Corbuzier dan Fanny yang sangat aktif saat sesi tanya jawab dengan gaya bicara yang terkesan santai.

Peneliti ingin membantu minat masyarakat selaku penonton acara tersebut untuk memahami lebih baik mengenai maksud dari percakapan tersebut.

(14)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Ilokusi apa sajakah yang terdapat dalam tindak tutur verbal dan nonverbal pada program acara Hitam Putih di Trans7?

2. Perlokusi apa sajakah yang timbul dari ilokusi dalam tindak tutur verbal dan nonverbal pada program acara Hitam Putih di Trans7?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan beberapa bentuk tindak tutur, yaitu:

1. Menemukan ilokusi yang terdapat dalam tindak tutur verbal dan nonverbal pada program acara Hitam Putih di Trans7.

2. Menemukan perlokusi yang timbul dalam ilokusi tindak tutur verbal dan nonverbal pada program acara Hitam Putih di Trans7.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan agar dapat bermanfaat bagi penulis sendiri, maupun bagi para pembaca dan pihak-pihak lainnya yang memiliki berkepentingan. Manfaat praktis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan masyarakat mengenai perlokusi dan ilokusi. Dengan demikian, masyarakat dapat menangkap makna dan pesan yang ingin disampaikan oleh penutur.

(15)

1.5 Batasan Ilmiah 1. Pragmatik

Menurut Black (2011:2), mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian terhadap bahasa dalam penggunaanya (dengan memperhitungkan unsur-unsur yang tidak dicakup oleh tata bahasa dan semantik). Adapun pendapat Yule (2006:3), mengatakan pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca). Dalam ilmu bahasa ini difokuskan pada analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya.

Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pragmatik ialah studi mengenai makna tuturan yang disampaikan oleh penutur kepada lawan bicaranya.

2. Tindak Tutur

Menurut Black (2011:37), tindak wicara (speech act) atau tindak tutur tidaklah merujuk hanya pada tindakan berbicara saja tetapi merujuk pada keseluruhan situasi komunikasi, termasuk di dalamnya konteks dari ucapan dan makna dari interaksi. Adapun Yule (2006:81) mengatakan bahwa tindak tutur adalah tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan. Tindak tutur terbagi menjadi tiga tindakan yang saling berhubungan, tindakan-tindakan ditampilkan dengan tuturan tidak harus dramatis atau menyakitkan. Ketiga tindakan yang tersebut yaitu lokusi (tuturan dasar), ilokusi (penekanan), perlokusi (tindakan). Kesimpulan dari kedua pendapat ahli ini dapat ditarik simpul bahwa tindak tutur atau speech act merupakan tindakan berbicara yang memiliki makna melalui interaksi komunikasi penutur dengan lawan bicaranya. Tindak tutur memiliki tiga tindakan yang dikenal dengan ilokusi berupa tuturan awal, lokusi berupa penekanan, dak perlokusi perilaku akhir untuk melakukan suatu tindakan akibat dari menangkap ilokusi yang disampaikan oleh penuturnya.

(16)

3. Bahasa Verbal

Mulyana (2008:3) menjelaskan bahwa komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respon pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol, baik bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk nonverbal. Pendapat Mulyana memiliki maksud bahwa setiap manusia yang berkomunikasi akan menyampaikan gagasannya melalui verbal atau kata-kata.

4. Bahasa Nonverbal

Knapp (dalam Liliweri, 1994:103) mengatakan bahwa komunikasi verbal merupakan ciri yang terpisah-pisah, sedangkan komunikasi nonverbal selalu berkesinambungan. Komunikasi nonverbal tidak dapat menghentikan gerakan anggota tubuh atas perintah tanda baca, tetapi komunikasi verbal bisa dihentikan atas tanda-tanda baca. Hal ini memperjelas kesimpulan bahwa dalam komuikasi verbal sangat memungkinkan terjadi bahasa tubuh atau nonverbal secara tidak sengaja dilakukan saat berkomunikasi.

(17)

7

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kajian yang Relevan

Berbicara mengenai tinjauan penelitian sebelumnya sangat diperlukan mengingat pentingnya mengetahui relevansi penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan. Tinjauan inilah yang menjadi pembanding untuk memastikan suatu keaslian penelitian baru yang dilakukan. Peneliti menemukan beberapa penelitian yang memiliki topik relevan dengan judul penelitian yang diteliti.

Peneliti menemukan beberapa hal yang berkaitan dengan topik yang diteliti, di antaranya penelitian dari Andreas Dwi Yulianto (2017), mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Skripsi milik Andreas Dwi Yulianto yang berjudul

“Bentuk Tindak Tutur Ilokusi dalam Program Sentilan Sentilun” ditemukan beberapa hal yang akan diteliti oleh peneliti. Penelitian ini meneliti tentang tindak tutur seperti ilokusi beserta bentuk-bentuk ilokusi dalam program acara Sentilan Sentilun. Kesamaan penelitian yang ditemukan ialah meneliti tentang ilokusi dari penutur satu dengan mitra tuturnya. Perbedaan dengan penelitian yang diteliti ialah pada proses menangkap perlokusi dari ilokusi dalam tindak tutur verbal dan nonverbal pada suatu program acara di televisi.

Penelitian milik mahasiswa Fakultas Sastra dan Seni Universitas Sebelas Maret Surakarta. Skripsi milik Dwi Prasetyo (2009) yang berjudul “Tindak Tutur Ilokusi dalam Sinetron Komedi Cagur Naik Bajaj di Stasiun Televisi ANTV” meneliti tentang beberapa hal yang berhubungan dengan perihal ilokusi. Penelitian terdahulu ini ditemukan beberapa perbedaan di dalamnya yaitu meneliti tentang konteks situasi tutur beserta tindak tutur langsung dan tidak langsung. Kesamaan yang ditemukan dari peneliti terdahulu yaitu

(18)

meneliti tentang tindak tutur dan seluk beluk mengenai ilokusi tindak tutur verbal dan nonverbal pada suatu program acara di televisi.

Lalu, penelitian milik mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Skripsi milik Istijabatis Sanati (2016) ini berjudul “Pola Komuninkasi Verbal dan Nonverbal antara Mahasiswa Asing dengan Mahasiswa Lokal” meneliti tentang beberapa hal yang berhubungan dengan bahasa verbal dan nonverbal. Dalam penelitian ini, beberapa hal menjadi poin berbeda dengan penelitian yang dilakukan adalah tentang pola komunikasi penutur dengan mitra tutur. Kesamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan adalah membahas mengenai bahasa verbal dan nonverbal.

Penelitian selanjutnya berhubungan dengan bahasa noverbal yang digunakan dalam upacara adat pernikahan adat Jawa. Penelitian ini milik Raden Gregorius Agung Aristrimurti Widyadmaka (2018), mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Judul dari penelitian milik Raden Gregorius Agung Aristrimurti Widyadmaka ini adalah “Maksud Bahasa Nonverbal Jenis Kinesik pada Masyarakat Etnis Jawa dalam Upacara Adat Pernikahan di Wonosari”. Persamaan dengan penelitian yang dilakukan adalah membahas mengenai bahasa nonverbal pada suatu tuturan. Adapun perbedaan dari penelitian ini adalah bahasa nonverbal yang ada pada tuturan suatu etnis, sedangkan penelitian yang dilakukan berhubungan dengan bahasa nonverbal pada program acara televisi.

Penelitian milik mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian milik Puji Ayu Lestari (2019) ini berjudul “Ilokusi dan Perlokusi dalam Kegiatan Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 3 Kota Tangerang” membahas mengenai ilokusi dan perlokusi dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Persamaan hal yang diteliti adalah membahas mengenai ilokusi dan perlokusi, sedangkan perbedaannya adalah subjek yang diteliti

(19)

membahas perlokusi dan ilokusi di kelas, sedangkan penelitian yang akan dilakukan mengenai program suatu acara televisi.

Dari kelima penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat kesamaan dengan penelitian yang akan diteliti. Kesamaan yang ditemukan ialah meneliti tentang ilokusi, perlokusi dalam tindak tutur verbal dan nonverbal pada suatu program acara di televisi.

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Pragmatik

Yule (2006:3) menyatakan bahwa pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca). Pengertian pragmatik menurut Black (2011:2), pragmatik adalah kajian terhadap bahasa dalam penggunaanya (dengan memperhitungkan unsur-unsur yang tidak dicakup oleh tata bahasa dan semantik). Ilmu bahasa ini difokuskan pada analisis tentang maksud penutur dengan tuturan-tuturannya. Pragmatik adalah studi tentang maksud penutur. Tipe studi ini melibatkan penafsiran terhadap apa yang dimaksud oleh seorang penutur dalam suatu konteks pembicaraan tersebut, inilah hal penting menjadikan pragmatik sebagai studi yang mempelajari bagaimana pandangan seseorang setelah menerima makna dari tuturan yang disampaikan kemudian dijadikan sebuah tindakan. Dari beberapa definisi yang diutarakan oleh beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pragmatik ialah studi mengenai makna tuturan yang disampaikan oleh penutur kepada lawan bicaranya.

Dunia pragmatik merupakan lahan untuk meneliti tentang pemaknaan suatu tuturan yang diucapkan oleh penutur kepada lawan bicara. Pragmatik juga sering dikaitkan pada bentuk-bentuk linguistik yang berhubungan dengan makna tuturan atau ucapan seseorang setelah diterima oleh mitra tutur. Adapun manfaat mempelajari pragmatik ini adalah memaknai tiap tuturan yang diucapkan kemudian dimaknai dan

(20)

selanjutnya memahami tuturan sebagai bagian dari konteks tuturan tersebut.

2.2.2 Tindak Tutur

Chaer (2010:27) menyebutkan bahwa tindak tutur adalah tuturan dari seseorang yang bersifat psikologis dan yang dilihat dari makna tindakan dalam tuturan. Pendapat Chaer ditambahkan oleh Black (2011:37), bahwa tindak wicara (speech act) atau tindak tutur tidaklah merujuk hanya pada tindakan berbicara saja tetapi merujuk pada keseluruhan situasi komunikasi, termasuk di dalamnya konteks dari ucapan dan makna dari interaksi. Adapun pendapat Yule ( 2006:81), mengatakan bahwa tindak tutur adalah tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan.

Tindak tutur terbagi menjadi tiga tindakan yang saling berhubungan, tindakan-tindakan ditampilkan dengan tuturan tidak harus dramatis atau menyakitkan. Ketiga tindakan yang tersebut yaitu lokusi (tuturan dasar), ilokusi (penekanan), dan perlokusi (tindakan). Kesimpulan dari ketiga pendapat ahli ini dapat ditarik simpul bahwa tindak tutur atau speech act merupakan tindakan berbicara yang memiliki makna melalui interaksi komunikasi penutur dengan lawan bicaranya. Tindak tutur memiliki tiga tindakan yang dikenal dengan ilokusi berupa tuturan awal, lokusi berupa penekanan, dan perlokusi sebagai perilaku akhir untuk melakukan suatu tindakan akibat dari menangkap ilokusi yang disampaikan oleh penuturnya.

a. Lokusi

Menurut Yule (2006:83), tindak tutur lokusi merupakan tindak dasar suatu tuturan. Tindak dasar tuturan ini menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna. Ada nilai positif dan negatif cara menyampaikan suatu tuturan atau sering disebut dengan lokusi ini.

Pertama, sisi positif penyampaian tuturan ini adalah pesan atau

(21)

informasi dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara. Kedua, sisi negatifnya ialah kesulitan pada pembentukan suara dan kata secara benar dalam menyampaikan suatu pesan (kurang jelas pengucapannya) seolah-olah kesulitan mengucakan suatu kalimat.

Contoh 1: Saya baru saja membuat kopi.

Kalimat di atas diutarakan oleh penuturnya untuk memberikan sebuah informasi bahwa telah melakukan suatu tindakan. Dapat diartikan bahwa lokusi merupakan suatu tuturan yang memiliki makna yang bisa diartikan oleh lawan tuturnya.

b. Tindak Ilokusi

Dalam bukunya, Yule (2006:84) mengatakan tindak ilokusi ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan. Tuturan ini berupa pernyataan, tawaran, penjelasan atau maksud-maksud komunikatif lainnya.

Contoh 2: Saya baru saja membuat kopi.

Sebagai contoh kalimat di atas, kalimat tersebut diutarakan oleh penuturnya untuk memberikan sebuah informasi bahwa telah melakukan suatu tindakan, mengajukan tawaran untuk membuat kopi, dan lain sebagainya. Dapat diartikan bahwa ilokusi merupakan suatu tuturan yang memiliki makna berupa pernyataan, tawaran, dan penjelasan yang bisa diartikan oleh lawan tuturnya.

Berkaitan dengan tindak ilokusi, Yule (2006:84) mencantumkan lima macam, yaitu (1) deklaratif (declaratives), (2) representatif (representative), (3) ekspresif (expressives), (4) direktif (directives), dan (5) komisif (commissives). Penjabaran pertama, deklaratif adalah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan untuk mendeklarasikan sesuatu secara tepat.

(22)

Contoh 3: Pastor: Sekarang saya menyebut Anda berdua suami- istri.

Contoh tuturan di atas menggambarkan penutur harus memiliki peran institusional khusus, dalam konteks khusus, untuk menampilkan suatu deklarasi secara tepat saat menggunakan deklarasi, penutur mengubah dunia melalui kata-kata.

Jenis kedua, representatif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan.

Pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian.

Contoh 4: Suatu hari cerah yang hangat.

Pada contoh kalimat tuturan di atas, keadaan tersebut sebagai sesuatu yang diyakini oleh penutur untuk digambarkan dengan kata-kata. Pada waktu menggunakan sebuah representatif, penutur mencocokkan kata-kata dengan fakta yang ada.

Jenis tindak ketiga ialah ekspresif merupakan tindak tutur menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur ini mecerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, atau kesengsaraan.

Contoh 5: Selamat!

Contoh tindak tutur di atas disebabkan oleh sesuatu yang dilakukan oleh penutur atau pendengar, tetapi semuanya menyangkut pengalaman penutur. Pada waktu menggunakan ekspresif, penutur menyesuaikan kata-kata dengan dunia (kenyataan).

Keempat, tindak direktif adalah tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Jenis tindak tutur ini menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur.

(23)

Tindak tutur ini meliputi: perintah, pemesanan, permohonan, dan pemberian saran yang dapat berupa kalimat positif maupun negatif.

Contoh 6: Jangan menyentuh itu!

Contoh di atas merupakan kalimat direktif. Pada waktu menggunakan direktif, penutur berusaha menyesuaikan dunia dengan kata (lewat pendengar).

Jenis tindak tutur terakhir adalah komisif. Jenis tindak tutur ini adalah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengaitkan diri dengan tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Tindak tutur ini menyatakan apa saja yang dimaksudkan oleh penutur. Tindak tutur komisif dapat berupa janji, ancaman, penolakan, dan ikrar.

Contoh 7: Saya akan kembali.

Pada waktu menggunakan kalimat komisif, penutur berusaha untuk menyesuaikan dunia dengan kata-kata yang dituturkan (lewat penutur). Kelima macam tindak tutur beserta sifat-sifat kuncinya ini terangkum dalam tabel di bawah ini.

c. Tindak Perlokusi

Austin (dalam Chaer, 2010:27–29) mengatakan bahwa tindak tutur yang dilakukan dalam kalimat performatif ada tiga buah tindakan berbeda, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi.

Pendapat Chaer ditambahkan oleh Yule (2006:84), menuturkan menciptakan tuturan yang memiliki fungsi bukanlah hal sederhana tanpa memaksudkan tuturan tersebut memiliki akibat.

Tuturan ini bergantung pada suatu keadaan di mana asumsi pendengarnya akan mengenali akibat yang akan ditimbulkan dari tuturan tersebut. Lebih jelas jika dilihat dalam contoh kalimat (1), dengan pernyataan “Saya baru saja membuat kopi.” Tuturan tersebut

(24)

mengajak pendengar untuk bisa menimbulkan akibat setelah mendengar tuturan tersebut. Tuturan dapat dijelaskan secara rinci kepada pendengar tentang aroma, rasa, dan seolah meminta pendengar untuk meminum kopi tersebut.

2.2.3 Bahasa Verbal

Bahasa verbal merupakan suatu bentuk penyampaian ide atau gagasan dengan kata-kata. Salah satu tuturan lisan atau bahasa verbal dapat ditemukan di dalam dialog interaktif antara narasumber dengan pembicara saat berdialog atau berkomunikasi. Suatu komunikasi selalu berhubungan dengan konteks yang proses komunikasinya menghasilkan tindak tutur (lisan dan tulisan). Mulyana (2008:3) menjelaskan bahwa komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respon pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol, baik bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk nonverbal (nonkata- kata). Knapp (dalam Liliweri, 1994:103) mengatakan bahwa komunikasi verbal merupakan ciri yang terpisah-pisah, sedangkan komunikasi nonverbal selalu berkesinambungan. Hal ini memperjelas bahwa dalam komunikasi verbal sangat memungkinkan terjadi bahasa tubuh atau nonverbal secara tidak sengaja dilakukan saat berkomunikasi.

2.2.4 Bahasa Nonverbal

Selain bahasa verbal, ada pula bahasa nonverbal bahasa nonverbal yaitu cara berkomunikasi dengan isyarat dan anggota tubuh tanpa menggunakan kata-kata. Adapun pendapat yang diutarakan oleh Budyatna,

& Ganiem (2011:110), bahwa komunikasi nonverbal adalah informasi atau emosi dikomunikasikan tanpa menggunakan kata-kata atau nonliguistik.

Penuturan dari Budyatna dan Ganiem mengandung pengertian bahwa komunikasi nonverbal ini mengutamakan panca indera untuk melengkapi makna dari sebuat ucapan saat berkomunikasi. Komunikasi nonverbal

(25)

tidak dapat menghentikan gerakan anggota tubuh atas perintah tanda baca, tetapi komunikasi verbal bisa dihentikan atas tanda-tanda baca.

Pada umumnya, komunikasi nonverbal mengutamakan isyarat- isyarat dari penutur kepada mitra tuturnya, komunikasi ini disertai dengan ucapan untuk mengungkapkan makna yang akan disampaikan melalui isyarat tersebut. Hal ini memperjelas kesimpulan bahwa dalam komuikasi verbal sangat memungkinkan terjadi bahasa tubuh atau nonverbal secara tidak sengaja dilakukan saat berkomunikasi.

2.3 Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan dalam penjabaran singkat sebagai berikut:

1. Penelitian ini mendeskripsikan mengenai bentuk-bentuk ilokusi dan perlokusi serta proses menangkap percakapan verbal dan nonverbal dalam dialog interaktif Hitam Putih Trans7 periode Februari-April 2020.

MENANGKAP PERLOKUSI DARI ILOKUSI DALAM TINDAK TUTUR VERBAL DAN NONVERBAL PADA

PROGRAM ACARA HITAM PUTIH

ILOKUSI DALAM PROGRAM ACARA

HITAM PUTIH

PERLOKUSI DALAM PROGRAM ACARA

HITAM PUTIH KAJIAN PRAGMATIK

(26)

2. Landasan teori yang dapat digunakan adalah teori-teori, pragmatik, tindak tutur, komunikasi verbal dan nonverbal, dialog interaktif.

3. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang berdasarkan pada deskripsi data penelitian dengan instrumen penelitian yaitu peneliti itu sendiri dengan berbekal teori-teori, pragmatik, tindak tutur, komunikasi verbal dan nonverbal, dialog interaktif. Berikut skema kerangka berpikir dari penjabaran kerangka berpikir di atas.

(27)

17

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dokumentatif yang berdasarkan deskripsi data penelitian dengan instrumen penelitian yaitu peneliti itu sendiri dengan berbekal teori-teori, pragmatik, tindak tutur, komunikasi verbal dan nonverbal, dialog interaktif. Penelitian deskripsi kualitatif ini mengenai bentuk dan proses menangkap perlokusi dari ilokusi dalam dialog interaktif pada program acara Hitam Putih di Trans7.

Penelitian deskriptif menurut Azwar (2009:5–6), merupakan jenis penelitian yang bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat situasi atau kejadian. Data yang dikumpulkan melalui penelitian ini adalah kalimat yang mendeskripsikan atau menggambarkan suatu situasi atau kejadian yang dilihat oleh peneliti. Penelitian kualitatif merupakan analisis pada proses penyimpulan usaha untuk menjawab suatu pertanyaan dalam sebuah penelitian melalui cara berpikir formal dan argumentatif. Dengan demikian, penelitian deskriptif kulitatif adalah penelitian yang menggambarkan atau mendeskripsikan suatu kejadian atau situasi yang digunakan untuk menyimpulkan jawaban atas pertanyaan pada penelitian.

3.2 Sumber Data dan Data Penelitian

Sumber data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah tayangan atau video dari dialog interaktif dari YouTube yaitu program acara Hitam Putih Trans 7 periode Februari-April 2020. Data penelitiannya adalah tuturan yang diduga mengandung ilokusi dan perlokusi dalam percakapan verbal dan nonverbal.

(28)

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti ialah teknik simak dan catat. Sudaryanto (dalam Mahsun, 2005:92) mengatakan bahwa metode simak adalah cara yang digunakan untuk memperoleh data dengan menyimak penggunaan bahasa. Teknik ini digunakan karena peneliti menggunakan sumber data yang berasal dari tayangan video pada Youtube.

Data berupa video tersebut kemudian disimak dan peneliti sesekali mencatat hal penting yang didapat pada kertas (transkrip).

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Penelitian deskriptif menurut Azwar (2009:5–6), merupakan jenis penelitian yang bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat mengenai situasi atau kejadian.

Dalam penelitian ini, yang menjadi instrumen atau alat untuk meneliti adalah peneliti sendiri. Peneliti dibekali oleh teori tentang pragmatik, tindak tutur, komunikasi verbal dan nonverbal.

3.5 Teknik Analisis Data

Analisis data sangat diperlukan pada proses memilih dari beberapa sumber atau masalah yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Berikut langkah analisis data yang dilakukan:

1. Mengidentifikasi data dengan mencari serta menemukan tayangan yang akan diteliti dan ditranskrip.

2. Mengklasifikasi data dengan memilah dan mengelompokkan data yang diteliti dan ditranskrip sesuai dengan urutan waktu tayang.

3. Menginterpretasi data dengan mencocokkan tafsiran peneliti dengan data yang sudah diteliti.

4. Melaporkan hasil analisis data dengan mendeskripsikan data secara runtut.

(29)

3.6 Triangulasi Data

Triangulasi data diperlukan untuk mengetahui status kelayakan suatu penelitian yang dilakukan megenai proses menangkap perlokusi dari ilokusi dalam tindak tutur verbal dan nonverbal pada suatu program acara di televisi.

Sehubungan dengan triangulasi data, ahli dalam bidang pragmatik yang sesuai adalah dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yakni Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum.

(30)

20

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data

Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan data yang telah diperoleh dari tindak tutur ilokusi dan perlokusi dalam tayangan Hitam Putih di Trans7.

Penelitian ini meneliti tentang tindak tutur ilokusi, perlokusi, serta gerakan- gerakan dihasilkan tubuh (nonverbal) yang dilakukan oleh penutur saat berkomunikasi (verbal) dengan mitra tuturnya. Peneliti memilih program acara Hitam Putih di Trans7 karena acara tersebut menyajikan tayangan berisi motivasi. Tayangan motivasi ini berupa wawancara dengan orang-orang yang memiliki prestasi dan hebat di kehidupan nyata masa kini.

Pada periode bulan tersebut, peneliti mengambil secara acak sembilan video yang dianalisis berdasarkan teori mengenai pelokusi dan ilokusi tindak tutur verbal dan nonverbal. Data diambil selama periode Februari hingga April tahun 2020 yang dipilih dari YouTube kemudian diunduh. Berikut judul tayangan yang dipilih oleh peneliti:

1. Ardha, Bocah Difabel Duet dengan Didi Kempot (10 Februari 2020)

2. Pembuat Bolu Batik Pertama di Dunia (21 Februari 2020) 3. Bocah 9 Tahun Penjual Gorengan Jadi Tulang Punggung

Keluarga (2 Maret 2020)

4. Investigasi Harga Masker (10 Maret 2020)

5. Febby, Gadis Putus Sekolah Viral Karena Lukisan (12 Maret 2020)

6. Video Call dengan Najwa Shihab, Pencetus Donasi Konser

#dirumahaja (2 April 2020)

(31)

7. Viral Kakek yang Memberi Beras dan Uang dengan Mobil Sport (15 April 2020)

8. Fenomena Berjemur (20 April 2020)

9. Anne Evantie dari Kebaya Memproduksi APD (21 April 2020) Peneliti melihat dan menyimak tayangan Hitam Putih ini serta menemukan beberapa tuturan dan gerak nonverbal yang dihasilkan penutur saat berdialog dengan mitra tuturnya.

4.2 Hasil Analisis Data

Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan wujud-wujud ilokusi dan perlokusi melalui tuturan verbal serta nonverbal dalam suatu dialog interaktif.

Terdapat tuturan-tuturan yang diucapkan oleh penutur kepada mitra tutur, kemudian dilengkapi oleh beberapa gerakan tubuh atau nonverbal dalam program acara Hitam Putih di Trans7 ini. Pada penelitian ini, peneliti menemukan 34 data tuturan ilokusi beserta dengan wujud perlokusinya. Data nonverbal berupa gambar gerakan yang diambil dengan gawai menggunakan fitur layar tangkap (screenshot).

4.2.1 Tindak Tutur Ilokusi dalam Program Acara Hitam Putih

Yule (2006:84) mengatakan tindak ilokusi ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan. Tuturan ini berupa pernyataan, tawaran, penjelasan atau maksud-maksud komunikatif lainnya. Pada program acara Hitam Putih di Trans7, terdapat lima tindak tutur ilokusi.

Tindak tutur ilokusi tersebut ada lima macam, yaitu (1) deklaratif (declaratives), (2) representatif (representative), (3) ekspresif (expressives), (4) direktif (directives), dan (5) komisif (commissives).

a.

Deklaratif

Yule (2006:84) menyatakan bahwa deklaratif adalah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan untuk mendeklarasikan sesuatu secara tepat. Tindak tutur ilokusi deklaratif ini bila diucapkan oleh penutur

(32)

akan menghasilkan suatu kondisi yang baru. Pada program acara Hitam Putih di Trans7, terdapat beberapa data wujud tindak tutur ilokusi deklaratif. Peneliti menemukan dua data wujud tindak tutur ilokusi deklaratif. Data tersebut berisi tuturan dari penutur kepada mitra tutur berupa informasi yang mendeklarasikan atau menyatakan sesuatu secara tepat.

1) Tuturan 1 2)

Berdasarkan data (1) di atas, konteks suasana tuturan terkesan santai pada saat acara Hitam Putih berlangsung. Tema acara yang diangkat adalah “Pembuat Bolu Batik Pertama di Dunia”. Tayangan berlangsung pada 21 Februari 2020 ini mengundang Retno sebagai narasumber. Retno adalah pembuat bolu batik pertama di Indonesia bahkan dunia, sebagai pelopor, beliau sudah mengalami gagal dan mencoba pada saat meracik resepnya. Retno sebagai penutur menjelaskan proses awal merintis usahanya kepada Deddy Corbuzier, Fanny, dan penonton sebagai mitra tutur. Retno menyatakan bahwa beliau mencicipi resep kue yang dibuat, jika kurang enak beliau akan mencoba sampai resep tersebut enak. Ketika rasa sudah pas dan enak, beliau akan menjual kuenya. Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut merupakan tuturan deklaratif yang berarti Retno menginginkan Deddy, Fanny, dan penonton untuk berusaha

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Deddy : Masa dicoba enak semua? Pasti tidak semua dong.

Retno : Ya pasti. Aku cicip dulu, kalau gak enak aku try, kalau enak dan aku suka, aku jual.

Konteks: Suasana tuturan santai pada acara Hitam Putih berlangsung saat mengundang Retno. Tayangan tersebut berlangsung pada 21 Februari 2020. Retno sebagai penutur menjelaskan proses awal merintis usahanya kepada Deddy Corbuzier, Fanny, dan penonton sebagai mitra tutur.

(33)

memastikan bahwa kue buatannya enak atau tidak adalah perkara gagal dan berhasil dalam resepnya.

2) Tuturan 2

Berdasarkan data (2) di atas, konteks suasana tuturan pada acara Hitam Putih yang tersambung melalui video call dengan Iis berlangsung secara santai. Tayangan tersebut berlangsung pada 2 April 2020, saat acara ini tayang sedang marak berdonasi beberapa orang mengumpulkan dana untuk membantu masyarakat yang kesusahan selama pandemi. Selaku pemilik usaha konveksi, Iis, sambil terseyum menyatakan bahwa beliau dan tim adalah produsen konveksi yang beralih profesi selama pandemi sebagai sukarelawan pembuat APD sebanyak sepuluh ribu buah. Iis menjawab pertanyaan Fanny terkait mengapa tidak mengumpulkan donasi untuk membuat APD, beliau menyatakan bahwa bahan untuk membuat APD sudah mereka miliki. Beliau hanya membutuhkan konsultasi dari medis agar sesuai dengan sayarat APD. Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah tindak deklaratif yang berarti meyakinkan kepada Deddy, Fanny, dan penonton bahwa Iis sebagai pemilik usaha konveksi menyatakan diri sebagai relawan pembuat sekaligus mendonasikan maksimal sepuluh ribu buah APD untuk tim medis selama masa pandemi ini.

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Fanny : Tapi kenapa mbak gak ngumpulin donasi dari orang-orang?

Iis : Jadi begini, kami berkomitmen memberi apa yang kami punya seperti kain untuk bahan eco-bag ini. Saya sudah berkonsultasi dengan tim medis apakah kain tersebut dapat dipakai atau tidak.

Ternyata bisa dan kami membuat maksimal sepuluh ribu buah APD.

Konteks: Suasana tuturan terjadi secara santai pada acara Hitam Putih yang tersambung melalui video call dengan Iis (pemilik usaha konveksi). Tayangan tersebut berlangsung pada 2 April 2020.

(34)

3) Tuturan 3

Berdasarkan data (3) di atas, konteks suasana tuturan pada acara Hitam Putih bertema “Fenomena Berjemur” yang tersambung dengan Dokter Jaka, berlangsung secara santai. Tayangan tersebut berlangsung pada 20 April 2020. Deddy sebagai pembawa acara HItam Putih membacakan berita terkini yang beredar bahwa pasien yang sudah sembuh dari Covid-19 bisa kembali reaktif di Korea. Deddy menghubungi dr. Jaka selaku spesialis paru-paru, mengenai berita yang beredar tersebut. Pada tayangan ini, dr. Jaka memberi tahu atau mendeklarasikan bahwa pasien yang sembuh dapat kembali reaktif jika terpapar virus baru dari orang lain.

Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah representatif, Deddy selaku pembawa acara memanggil Jaka dengan gelar „dokter‟ untuk meyakinkan bahwa informasi yang diterima penonton berasal dari sumber terpercaya terkait virus Corona.

Ketiga tuturan di atas merupakan wujud tindak tutur ilokusi deklaratif yaitu tuturan yang diucapkan dan menyebabkan suatu pemahaman baru yang diterima oleh mitra tutur. Tindak tutur ilokusi deklaratif ini bila diucapkan oleh penutur akan menghasilkan suatu kondisi yang baru mengenai permasalahan tertentu. Data tuturan (1), (2) dan (3) di atas masuk ke dalam tindak tutur ilokusi deklaratif karena mengungkapkan sebuah pernyataan mengenai permasalahan tertentu dan sedang hangat diperbincangkan. Ketiga tuturan tersebut yang diungkapkan oleh penutur

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Deddy : Ada berita baru yang saya dapatkan, katanya pasien yang sembuh bisa reaktif kembali di Korea. Sekarang saya terhubung dengan dokter Jaka, beliau adalah dokter paru, selamat malam dokter.

dr. Jaka : Ya, selamat malam.

Konteks: Suasana tuturan santai pada tayangan 20 April 2020 dengan tema fenomena berjemur. Deddy mendeklarasikan pendapat dr. Jaka sebagai dokter spesialis paru-paru, pasien yang sembuh bisa reaktif kembali di Korea.

(35)

diharapkan mampu merubah dunia atau kondisi yang baru terkait masalah yang sedang hangat beredar di publik.

b.

Representatif

Representatif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan keyakinan penutur. Pernyataan tersebut berupa fakta, penegasan, kesimpulan, dan mendeskripsikan sesuatu hal. Pada program acara Hitam Putih di Trans7, terdapat beberapa data wujud tindak tutur ilokusi representatif. Data tersebut berisi data tindak tutur representatif yang menyatakan fakta, mendeskripsikan, dan penegasan terhadap suatu informasi.

Menyatakan Fakta 4) Tuturan 4

Berdasarkan data (4) di atas, konteks suasana tuturan pada acara Hitam Putih di atas berlangsung secara santai dan mengundang Ardha (penyanyi cilik campursari) sebagai bintang tamu. Tayangan tersebut berlangsung pada 10 Februari 2020. Deddy sebagai pembawa acara di Hitam Putih menuturkan bahwa Ardha adalah seorang penyanyi yang sedang viral karena berduet dengan Didi Kempot. Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah representatif, Deddy menyatakan fakta kepada penonton bahwa Ardha seorang penyanyi cilik yang viral karena berhasil duet langsung dengan Didi Kempot. Ardha memang masih muda, tetapi kecintaannya terhadap musik tradisional sangatlah besar.

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Deddy : Jadi, Ardha ini viral karena berhasil duet langsung dengan Didi Kempot.

Fanny : Iya, penyanyi aslinya langsung tuh ya, langsung!

Konteks: Suasana pada tayangan 10 Februri 2020 berlangsung secara santai dan akrab. Deddy menyatakan fakta bahwa Ardha viral karena berhasil duet langsung dengan Didi Kempot.

(36)

5) Tuturan 5

Berdasarkan data (5) di atas, konteks suasana tuturan pada tayangan tanggal 12 Maret 2020 berlangsung santai. Narator menyatakan suatu fakta bahwa Febby adalah gadis berusia 17 tahun dan mengalami putus sekolah sejak SMP. Febby pandai berbahasa Inggris dan melukis.

Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah representatif, narator ingin mengenalkan Febby, gadis berusia 17 tahun yang terkenal karena bakat melukis dan kemahiran berbahasa Inggrisnya. Meski masih belia, Febby mampu mengurus sang nenek sembari berjualan kopi, melanjutkan hobi melukis, dan mengasah kemampuan berbahasa Inggris untuk melewati hari-harinya.

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Deddy : Mari kita simak video berikut!

Narator : Menjaga warung kopi dan merawat neneknya, ini dia Febby Lisa Ayu. Semenjak putus sekolah di bangku SMP, meski tak bersekolah, gadis berusia 17 tahun ini pandai berbahasa Inggris dan melukis.

Konteks: Suasana tuturan santai pada tayangan tanggal 12 Maret 2020.

Narator menyatakan suatu fakta bahwa Febby adalah gadis berusia 17 tahun dan mengalami putus sekolah sejak SMP. Febby pandai berbahasa Inggris dan melukis.

(37)

Mendeskripsikan Sesuatu 6) Tuturan 6

Berdasarkan data (6) di atas, konteks suasana tuturan pada acara Hitam Putih di atas berlangsung secara santai dan mengundang Retno sebagai bintang tamu. Tayangan ini berlangsung pada 21 Februari 2020.

Deddy menjelaskan bahwa kue bolu batik buatan Retno berasal dari Indonesia dan menjadi kue yang cukup terkenal di dunia. Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah representatif yang berarti Deddy menjelaskan kepada penonton bahwa kue bolu batik yang dipegangnya adalah buatan orang Indonesia. Kue bolu batik tersebut cukup terkenal di luar negeri dan digemari untuk dijadikan tanda mata seusai berlibur dari Yogyakarta.

7) Tuturan 7

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Deddy : Kue bolu ini dibuat oleh orang Indonesia dan lapisan luarnya dibuat dari motif batik. Cukup terkenal di luar negeri.

Fanny : Benar, sampai ditiru katanya.

Konteks: Suasana tuturan dalam acara ini santai. Tayangan ini berlangsung pada 21 Februari 2020. Deddy mendeskripsikan bahwa kue bolu batik yang dipegangnya adalah buatan orang Indonesia. Kue bolu batik tersebut cukup terkenal di luar negeri.

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Deddy : Bintang tamu kita malam ini adalah seorang anak gadis kecil yang luar biasa, umurnya baru sembilan tahun.

Namanya adalah Ajeng, dan dia harus berjalan 18 kilometer. Dia adalah tulang punggung keluarga karena menggantikan ibunya yang tengah hamil enam bulan.

Fanny : Iya benar sekali, Mas Deddy.

Konteks: Suasana tuturan santai pada acara Hitam Putih tangga 2 Maret 2020. Deddy mendeskripsikan bahwa Ajeng adalah anak gadis penjual gorengan yang berjalan 18 kilo meter setiap hari dan menjadi tulang punggung keluarga.

(38)

Berdasarkan data (7) di atas, konteks suasana tuturan santai ini terjadi pada program acara Hitam Putih tanggal 2 Maret 2020. Deddy mendeskripsikan bahwa Ajeng adalah anak gadis penjual gorengan yang berjalan 18 kilo meter setiap hari dan menjadi tulang punggung keluarga.

Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah representatif, Deddy sebagai pembawa acara Hitam Putih mendeskripsikan bahwa Ajeng adalah anak gadis berusia 9 tahun. Deddy juga memberitahukan kepada penonton bahwa Ajeng adalah penjual gorengan yang berjalan 18 kilo meter setiap hari dan menjadi tulang punggung keluarga.

Penegasan Suatu Informasi 8) Tuturan 8

Berdasarkan data (8) di atas, konteks suasana tuturan terkesan santai dan semi serius karena berbicara mengenai bahaya penyakit TBC.

Tayangan ini berlangsung pada tanggal 10 Maret 2020. Deddy sebagai pembawa acara menegaskan tidak perlu berlebihan membeli masker selama pandemi dan lebih parah dari pandemi corona adalah TBC di Indonesia 11 orang meninggal tiap jam. Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah representatif yang berarti Deddy menegaskan tidak perlu berlebihan membeli masker selama pandemi karena ada yang lebih parah dari pandemi, yaitu TBC di Indonesia 11 orang meninggal setiap

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Deddy : Anyway, lebih parah dari Corona, kalian tau TBC? TBC itu di Indonesia ada 11 orang meninggal tiap jam. Jadi jangan panic-buying pada masker.

Fanny : Iya kita boleh waspada, tapi seperlunya.

Konteks: Suasana tuturan santai dan semi serius karena berbicara mengenai bahaya penyakit TBC. Tayangan ini berlangsung pada tanggal 10 Maret 2020. Deddy menegaskan tidak perlu berlebihan membeli masker selama pandemic dan lebih parah dari pandemi Corona adalah TBC di Indonesia 11 orang meninggal tiap jam.

(39)

jam. Selama pandemi hanya perlu merubah pola hidup bersih dan sehat dan membeli barang secukupnya saja.

9) Tuturan 9

Berdasarkan data (9) di atas, konteks suasana tuturan yang terhubung melalui video call berlangsung secara santai pada tanggal 2 April, 2020. Acara ini mengangkat tema “Konser #dirumahaja” dan mengundang Najwa Shihab sebagai bintang tamu. Deddy sebagai pembawa acara menegaskan bahwa Najwa Shihab, berdonasi dengan konser #dirumahaja. Najwa Shihab menggandeng 18 musisi tanah air untuk konser dari rumah. Donasi yang terkumpul dalam 4 hari mencapai 10 miliar rupiah. Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah representatif yang berarti Deddy menegaskan bahwa Najwa Shihab, berdonasi dengan menggandeng 18 musisi tanah air untuk konser dari rumah.

Data tuturan (4) di atas merupakan tindak tutur ilokusi representatif yang menyatakan fakta mengenai permasalahan yang sedang dialami seseorang dalam waktu terdekat. Data tersebut memiliki fokus pada dua anak yang sedang terkenal karena talenta yang dimiliki serta kemampuan mereka untuk terus berlatih mengasah talenta yang dimiliki. Data tuturan (5) merupakan tindak tutur ilokusi representatif yang menyatakan bahwa Febby adalah gadis berusia 17 tahun dan mengalami putus sekolah sejak SMP. Febby pandai berbahasa Inggris dan melukis.

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Deddy : Najwa Shihab, sahabat saya ini berdonasi dengan menggandeng 18 musisi tanah air untuk konser dari rumah.

Donasi yang terkumpul dalam 4 hari mencapai 10 miliyar.

Konteks: Suasana tuturan santai pada tanggal 2 April 2020 dengan tema konser #dirumahaja. Deddy menegaskan bahwa Najwa Shihab, berdonasi dengan menggandeng 18 musisi tanah air untuk konser dari rumah. Donasi yang terkumpul dalam 4 hari mencapai 10 miliar rupiah.

(40)

Data tuturan (6) merupakan ilokusi representatif karena penutur mendeskripsikan sesuatu hal yang sedang hangat dibicarakan. Sebagai pembawa acara, Deddy mendeskripsikan bahwa kue bolu batik buatan Retno berasal dari Indonesia dan menjadi kue yang cukup terkenal di dunia sambil sesekali memakan kue bolu tersebut. Data tuturan (7) di atas merupakan tindak tutur representatif untuk menjelaskan sesuatu hal yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Deddy mendeskripsikan bahwa Ajeng adalah anak gadis penjual gorengan yang berjalan 18 kilo meter setiap hari dan menjadi tulang punggung keluarga.

Data tuturan (8) merupakan ilokusi representatif karena penutur menegaskan suatu informasi yang sedang hangat dibicarakan. Data tersebut menegaskan bagaimana penonton menjaga kesehatan dan tidak memperburuk suasana dengan berbelanja secara berlebihan. Data tuturan (9) merupakan ilokusi representatif karena penutur menegaskan suatu informasi yang sedang hangat dibicarakan. Dalam data tuturan tersebut, Deddy menegaskan bahwa berdonasi sebenarnya bisa dilakukan dimana saja termasuk dari rumah. Kesimpulan dari enam tuturan di atas adalah tindak tutur ilokusi representatif karena data tersebut berisi data yang menyatakan fakta, mendeskripsikan, dan penegasan terhadap suatu informasi.

c.

Ekspresif

Ekspresif merupakan tindak tutur menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur ini mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan (bahagia), kesulitan, kesedihan, kebencian, kesenangan, haru dan kesengsaraan. Pada program acara Hitam Putih di Trans7, terdapat 7 data tuturan ilokusi ekspresif. Data yang ditemukan oleh peneliti berisi data tuturan ekspresif yang menyatakan kegembiraan, kesedihan, dan rasa haru.

(41)

Ekspresi Kegembiraan (bahagia) 10) Tuturan 10

Berdasarkan data (8) di atas, konteks suasana tuturan pada tayangan tanggal 10 Februari 2020 dibawakan secara santai dan akrab.

Tayangan kali ini mengudang Ardha dengan mengangkat tema “Ardha, Bocah Difabel Berduet dengan Didi Kempot”. Ardha adalah penyandang tuna netra, namun dengan keistimewaanya ia memiliki talenta menyanyi yang luar biasa. Pada tayangan ini, Ardha meyakinkan Deddy dan para penonton bahwa dirinya senang sekali bisa berduet dengan Didi Kempot serta diundang stasiun televisi nasional. Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah ekspresif, Ardha sambil tersenyum bahagia menuturkan bahwa dirinya senang sekali mendapat kesempatan berduet dengan idolanya, yaitu Didi Kempot.

11) Tuturan 11

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Deddy : Pasti senang banget ini karena bisa berduet dengan om Didi Kempot, seneng banget gak?

Ardha : Seneng sekali! (tersenyum)

Konteks: Suasana tuturan santai pada tayangan tanggal 10 Februari 2020. Ardha adalah penyanyi tradisional berbahasa Jawa yang sedang hangat dibicarakan khalayak umum. Ardha meyakinkan Deddy dan para penonton bahwa dirinya senang sekali bisa berduet dengan Didi Kempot.

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Fanny : Seneng sayang?

Febby : Iya, seneng banget! (wajah ceria)

Konteks: Suasana tuturan santai pada tayangan tanggal 12 Maret 2020, pada tayangan ini bintang tamunya adalah Febby. Febby adalah anak remaja yang memiliki kemampuan melukis dan berbahasa Inggris

(42)

Berdasarkan data (9) di atas, konteks suasana tuturan berlangsung santai pada tayangan tanggal 12 Maret 2020. Febby adalah anak remaja yang memiliki kemampuan melukis dan berbahasa Inggris walau putus sekolah sejak SMP. Pada tayangan ini, Febby senang sekali mendapat hadiah dari tim Hitam Putih. Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah ekspresif. Febby dengan ekspresi tersenyum sembari mengatakan bahwa dirinya senang sekali mendapat hadiah dari tim Hitam Putih.

Data tuturan (8) merupakan ilokusi ekspresif, tindak tutur ini mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan (bahagia). Dapat dilihat dari ekspresi tersenyum yang diperlihatkan Ardha sebagai tanda bahwa ia sangat merasa senang atau bahagia. Data tuturan (9) merupakan tindak tutur ilokusi ekspresif, tindak tutur ini mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan (bahagia). Dari tuturan tersebut, dapat dilihat bahwa Febby menuturkan dirinya sangat bahagia karena mendapat hadiah seperangkat alat melukis dari tin Hitam Putih. Jadi, kesimpulan dari tindak tutur ilokusi ekspresif bahagia adalah tindak tutur menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur ini mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan (bahagia), kesulitan, kesedihan, kebencian, kesenangan, haru, dan kesengsaraan.

walau putus sekolah sejak SMP. Pada tayangan ini, Febby tersenyum sembari mengatakan kepada Fanny dan penonton di studio bahwa dirinya senang sekali mendapat hadiah dari tim Hitam Putih.

(43)

Ekspresi Kesedihan 12) Tuturan 12

Berdasarkan data (12) di atas, konteks suasana tuturan pada tayangan tanggal 10 Maret 2020 berlangsung secara santai namun serius.

Pada tayangan ini, Rika terlihat raut kesedihan di wajahnya saat menjelaskan ia terlambat mengetahui bahwa adanya sel kanker pada anaknya. Dari data tuturan di atas, tindak ilokusi tersebut adalah ekspresif.

Rika memperlihatkan raut kesedihan sembari mengernyitkan dahi saat menjelaskan bahwa ia terlambat mengetahui adanya sel kanker pada anaknya.

Gambar nonverbal Bahasa verbal

Deddy : Gimana perasaan pertama kali mengetahui bahwa anak dan suami menderita kanker?

Rika : Kita taunya udah terlambat banget. Anaknya udah tidak bisa duduk sama jalan baru kita tau kalau kanker.

(mengernyitkan dahi)

Konteks: Suasana tuturan santai namun serius pada tayangan tanggal 10 Maret 2020. Pada tayangan ini, Rika terlihat raut kesedihan di wajahnya saat menjelaskan ia terlambat mengetahui bahwa adanya sel kanker pada anaknya.

Gambar

Gambar nonverbal  Bahasa verbal
Gambar nonverbal  Bahasa verbal
Gambar nonverbal  Bahasa verbal
Gambar nonverbal  Bahasa verbal
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecenderungan waktu survival dari 24 responden penderita HIV adalah perempuan lebih cepat mencapai AIDS dari pada laki-laki

Melihat kepada Kristus, Gereja menghadapi mereka yang mengambil bahagian dalam hidupnya dengan cara yang tidak lengkap dengan penuh kasih sayang dan menyedari bahawa rahmat Allah

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh aktivitas melalui TATO terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009-

Perbedaan kajian dari penelitian ini dengan kajian peneliti yaitu strategi yang digunakan tidak hanya dilakukan dengan sesama etnis Minangkabau saja akan tetapi

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0,53; signifikansi (p) sebesar 0,00 (p < 0,01) yang artinya terdapat hubungan positif

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) apakah penjualan arisan berhubungan dengan volume penjualan tahun 2003 sampai tahun 2007. 2) bagaimana prospek

2.5 Membuat Aplikasi Database dengan Menggunakan Visual Basic dan MySQL

bahwa pengetahuan responden tentang skabies dan cara pencegahan dari penularan sudah cuhtp.. baik, rcrapi tidak demiHan dengan pengetahuan responden tentang cara