KOMUNIKASI PUBLIK UNTUK
GERMAS DI DAERAH
DAFTAR ISI
Singkatan ... iii
PENGANTAR ... 1
LATAR BELAKANG ... 2
Analisis Situasi Umum GERMAS ... 2
Kesenjangan Persepsi Tentang GERMAS ... 3
Tantangan Penerapan GERMAS ... 3
Kerangka Kerja Advokasi dan Komunikasi GERMAS di Daerah ... 4
MODUL MEMBANGUN KEMITRAAN UNTUK ADVOKASI dan KOMUNIKASI GERMAS di DAERAH ... 8
Kompetensi ... 8
Tujuan Khusus ... 8
Ruang Lingkup Pembahasan ... 9
MEMBANGUN KEMITRAAN UNTUK ADVOKASI DAN KOMUNIKASI GERMAS DI DAERAH ... 10
Pengertian Kemitraan... 10
Pentingnya Membangun Kemitraan ... 10
Posisi Kemitraan dalam Kesinambungan Penyelenggaraan Advokasi dan Komunikasi GERMAS ... 11
Tujuan Membangun Kemitraan untuk Advokasi dan Komunikasi GERMAS di Daerah ... 11
Prinsip dalam Membangun Kemitraan ... 11
Strategi Membangun Kemitraan ... 13
Pola Kemitraan ... 14
Langkah-langkah Membangun Kemitraan untuk Kegiatan Advokasi dan Komunikasi GERMAS di Daerah ... 15
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kerangka Kerja Advokasi dan Komunikasi GERMAS di Daerah ... 6 Tabel 2. Pola Kemitraan ... 15
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A.
Lampiran B.
SINGKATAN
AKKOPSI = Asosiasi Kabupaten dan Kota Peduli Sanitasi APEKSI = Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia APKASI = Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia APBN = Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
BAPPEDA = Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah BAPPENAS = Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional BPS = Badan Pusat Statistik
Dinkes = Dinas Kesehatan
DLH = Dinas Lingkungan Hidup
GERMAS = Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Kemendagri = Kementerian Dalam Negeri
Kemenkes = Kementerian Kesehatan
KIE = Komunikasi, Informasi dan Edukasi OPD = Organisasi Perangkat Daerah Pemda = Pemerintah Daerah
Pokja = Kelompok Kerja
PP = Peraturan Pemerintah
RPJMN = Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional SDGs = Sustainable Development Goals
STBM = Sanitasi Total Berbasis Mayarakat UNFPA = United Nations Population Fund
PENGANTAR
Tingginya penduduk generasi milenial Indonesia yang mencapai 25,87% dan generasi Z 27,94% yang berusia 8 hingga 39 tahun(BPS, 2020), dari 270,20 juta penduduk Indonesia di tahun 2020, menjadikan Indonesia akan menikmati era bonus demografi pada tahun 2030-2045. Proyeksi penduduk usia produktif antara 15-46 tahun, pada tahun 2045 akan mencapai grafik tertinggi yaitu sebanyak 206 hingga 208 juta jiwa atau 65% sampai 66% dari total jumlah penduduk Indonesia (BPS, Bappenas, UNFPA, 2020). Bonus demografi tersebut justru akan menjadi beban negara apabila tidak tersedia Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing. Terutama saat ini Indonesia masih mengalami double burden disease yaitu penyakit menular (PM) yang masih perlu diturunkan, dan penyakit tidak menular (PTM) yang meningkat tinggi (Rencana Aksi Nasional Pembudayaan GERMAS, Kementerian Kesehatan, 2021).
Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS), yang dicanangkan dengan dasar Inpres No. 1 tahun 2017 serta PerMen PPN no. 11 tahun 2017 mengamanatkan semangat kerja sama menyeluruh dengan segala pihak meningkatkan derajat kesehatan masyarakat termasuk untuk menurunkan angka penyakit tidak menular itu.
Dengan Health in All Policy (HiAP), pendekatan kolaboratif dilakukan melalui upaya mengintegrasikan dan mengartikulasikan pertimbangan kesehatan ke dalam pembuatan kebijakan lintas sektor untuk meningkatkan kesehatan semua komunitas dan masyarakat. Untuk dapat merealisasikan kolaborasi tersebut diperlukan kegiatan advokasi dan komunikasi di tingkat nasional dan sub-nasional. Modul sederhana ini merupakan bagian dari upaya agar pemerintah daerah dapat melakukan kegiatan advokasi dan komunikasi guna meningkatkan kolaborasi dalam membudayakan 5 pilar GERMAS di masyarakat.
LATAR BELAKANG
Analisis Situasi Umum GERMAS
Hingga tahun 2020, baru 33% kabupaten/kota menerapkan kebijakan GERMAS.
Meski ada kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, masih ada 8 provinsi yang sama sekali belum menerapkan kebijakan GERMAS. Jawa Barat dan Kalimantan Selatan merupakan 2 dari 34 provinsi di Indonesia yang telah 100% menerapkan kebijakan GERMAS, namun demikian perlu lebih ditingkatkan lagi dalam kualitas pelaksanaan kebijakannya.
Persentase Kabupaten/Kota Menerapkan Kebijakan GERMAS Tahun 2020
Kesadaran dan perilaku masyarakat masih rendah dalam penerapan GERMAS. Hal tersebut ditandai dengan: 1. Masih tingginya kebiasaan merokok sebanyak 23,21%1; 2. Total pengeluaran masyarakat untuk buah dan sayur hanya sebesar 11,41%2 dari total pengeluaran untuk makanan, atau hanya 1,5%
dari total pendapatan setiap bulan; 3. Obesitas yang salah satu penyebabnya adalah kurang aktivitas fisik meningkat signifikan yang pada 2007 sebanyak 19,1% menjadi 35,4%3 pada 2018; 4. Meski konsumsi alkohol penduduk usia 15 tahun ke atas menurun dari 0,41 liter perkapita pada tahun 2018 menjadi 0,41 liter perkapita pada tahun 2019 dan pada tahun 2020 tercatat menurun lagi, namun masih tergolong tinggi, menjadi 0,39 liter perkapita. Lebih jauh dilihat berdasarkan wilayah, konsumsi alkohol penduduk pedesaan lebih tinggi
1 Badan Pusat Statistik (BPS), 31 Desember 2020 2 Badan Pusat Statistik (BPS), Susenas 2019 3 Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 2018.
daripada di perkotaan yang mencapai 0,61 liter perkapita4 pada tahun 2020;
5. Meski belum ditemukan data kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala masih tergolong rendah, umumnya masyarakat memeriksakan kesehatan hanya jika sakit; 6. Pengelolaan sampah sebagai indikator menjaga kebersihan lingkungan, masih menjadi persoalan yang diakibatkan minimnya kesadaran masyarakat. 7. Sebanyak 7% penduduk atau sekitar 25 juta jiwa penduduk Indonesia masih buang air besar sembarangan, dan sebagian besar masih menggunakan sarana dan prasarana yang tidak aman.
Kesenjangan Persepsi Tentang GERMAS
GERMAS dianggap sebagai urusan instansi kesehatan saja. Berdasarkan FGD dan hasil pemetaan, pendekatan kolaboratif lintas sektor dalam mengintegrasikan dan mengartikulasikan pertimbangan kesehatan dalam pembuatan kebijakan lintas sektor belum terlaksana atau setidaknya belum terlaksana secara optimum.
Penganggaran responsif GERMAS dianggap tidak perlu. Belum adanya mekanisme monitoring dan evaluasi penganggaran yang responsif GERMAS di mana program dan kegiatan maupun sub-kegiatan OPD dapat didata sedemikian rupa sehingga dapat terlihat capaian alokasi anggaran yang mendukung pelaksanaan GERMAS. Padahal dari pengamatan, banyak kegiatan yang dilakukan oleh instansi pemerintah telah memenuhi unsur yang dapat diakui sebagai responsif GERMAS.
Tantangan Penerapan GERMAS
Dukungan lingkungan pendukung belum cukup untuk mendukung secara optimum pelaksanaan GERMAS. Secara regulasi, saat ini baru ada 3 dokumen dari 15 dokumen pedoman/ regulasi/ rekomendasi dari kementerian dan lembaga yang dibutuhkan untuk operasionalisasi GERMAS di tingkat nasional dan sub-nasional. Sementara itu hingga 2020, baru ada 33% atau 169 dari 514 kabupaten/ kota yang menerapkan kebijakan GERMAS.
(nanti ada grafis tentang pentingnya lingkungan yang medukung)
4 Badan Pusat Statistik (BPS), 2020.
Keterlibatan OPD dan multipihak masih terbatas. Keterlibatan lintas OPD berperan penting dalam pembudayaan GERMAS di daerah. Peran dimaksud terutama dalam pelaksanaan kebijakan kepala daerah, penganggaran yang menggerakkan pendanaan multipihak, serta pemantauan dan evaluasi. Hal ini tidak terkecuali oleh pemerintah daerah yang telah memiliki regulasi dan lembaga/ tim penggerak/ Pokja GERMAS terkait pelaksanaan GERMAS. Oleh karenanya perlu adanya keputusan setingkat menteri yang mengatur secara jelas peran tiap OPD termasuk pemangku kepentingan lain dalam pelaksanaan pembudayaan GERMAS di daerah.
Penganggaran GERMAS terintegrasi di lintas OPD. Ketika penganggaran pelaksanaan kegiatan yang mendukung pembudayaan GERMAS di lintas OPD yang integratif, maka diperlukan perangkat untuk dapat mengidentifikasinya.
Pengarusutamaan GERMAS dalam penganggaran yang terintegrasi dengan sub-kegiatan OPD misalnya dengan menyediakan konsumsi rapat yang memenuhi standar kesehatan.
Kerangka Kerja Advokasi dan Komunikasi GERMAS di Daerah
Fokus pada masyarakat agar mau dan mampu melakukan pilar-pilar GERMAS dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat mewujudkannya kegiatan advokasi dan komunikasi juga perlu mengarah pada terbentuknya lingkungan yang mendukung, penyediaan sarana prasarana, selain tentu saja peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penerapan GERMAS.
Komunikasi dan advokasi yang efektif perlu berlandaskan prinsip komunikasi dan advokasi, yang dijadikan acuan untuk penyusunan strategi, program dan kegiatan yang menyeluruh, serta pelaksanaan yang terukur dengan pemantauan yang tanpa henti. Hal tersebut dilakukan karena kegiatan komunikasi dan advokasi harus senantiasa menyesuaikan diri pada perkembangan situasi dan kondisi. Oleh karena itu, prinsip komunikasi dan advokasi yang diterapkan dalam penyusunan kerangka kerja ini adalah:
• Pesan positif dan jelas, adalah pesan yang memberi kejelasan atau setidaknya mengurangi ketidakpastian, mudah dipahami dan memberi energi tinggi seperti riang, gembira, sukses, atau cinta, bergetar dengan getaran lebih tinggi dan cepat.5
• Bertarget strategis, adalah pemilihan sasaran berupa capaian dan individu atau komunitas dengan mempertimbangkan faktor efektivitas dan efisiensi dukungan komunikasi dan advokasi.
• Sistematis, adalah upaya menguraikan dan merumuskan dengan tepat, teratur dan logis sehingga mudah disepakati.
• Kolaborasi, adalah bentuk interaksi, diskusi, dan kerja sama beberapa pihak, baik secara langsung atau tidak langsung.
• Berbasis bukti, adalah berlandaskan pada fakta, data dan informasi akurat.
• Dibangun di atas inisiatif yang sudah ada, adalah tindak lanjut dan pengembangan berdasarkan evaluasi dari program dan kegiatan komunikasi dan advokasi yang telah lalu dan saat ini.
• Melibatkan pembawa pesan, maksudnya kegiatan komunikasi dan advokasi tidak dapat dilakukan sendiri, tapi memerlukan banyak individu dan lembaga yang mampu secara efektif menyampaikan pesan pada target yang dituju.
Pembawa pesan diajak pula untuk memahami pesan yang dibawa.
• Berani, maksudnya dalam kegiatan advokasi kadang diperlukan keberanian untuk mendesak terjadinya kebijakan publik. Kendati demikian harus didasari dengan perhitungan yang matang dengan mempertimbangkan keberlanjutan yang akan terjadi.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2015 tentang Upaya Peningkatan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit, strategi peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit ditempuh dengan proses memberdayakan masyarakat melalui kegiatan menginformasikan, mempengaruhi, dan
5 Oswald, Y. (2009). Keajaiban Kata-Kata: Ubahlah Hidup Anda dengan Kata-Kata yang Positif. Jakarta: PT GramediaPustaka Utama.
membantu masyarakat agar berperan aktif untuk mendukung perubahan perilaku dan lingkungan serta menjaga dan meningkatkan kesehatan menuju derajat kesehatan yang optimum.6
Tabel 1. Kerangka Kerja Advokasi dan Komunikasi GERMAS di Daerah
Kegiatan Keterangan
1 Kemitraaan/Koordinasi/Kolaborasi
Deskripsi Membangun kemitraan untuk advokasi dan komunikasi GERMAS di daerah ini dilakukan oleh pemerintah daerah kepada segenap pemangku kepentingan untuk kegiatan advokasi dan komunikasi serta monitoring dan evaluasi yang disepakati.
Taktik Diawali dengan pertemuan membahas tentang kebijakan spesifik yang sedang dan akan dilakukan dalam membudayakan GERMAS. Kemudian kesepakatan dan dilaksanakan rencana tindak selama 1 tahun anggaran dan dimonitoring melalui rapat periodik secara berkala dan pada saat sebelum dan setelah kegiatan.
Target Dinas Kesehatan dan OPD teknis terkait lainnya.
Berdasarkan pemetaan pemangku kepentingan, dari sejumlah calon mitra yang mau dan mampu menyelenggarakan program untuk dan/atau terkait GERMAS di antaranya perayaan hari-hari besar nasional.
Juga kegiatan-kegiatan dalam rangka perayaan hari- hari penting di daerah terkait yang dapat dikaitkan dengan GERMAS.
Keluaran Kesepakatan dalam kegiatan advokasi dan komunikasi serta monitoring dan evaluasi secara terorganisir.
Memastikan ketersediaan sekaligus keberlanjutan pendanaan/pembiayaan kegiatan.
Kesepakatan bersama untuk mempromosikan secara lebih intensif untuk meningkatkan pengetahuan dan menggerakkan dukungan pengambil keputusan pemerintah daerah, dunia usaha, tokoh masyarakat dan agama, serta individu dan masyarakat tentang GERMAS.
6 Rencana Aksi Kegiatan Promosi Kesehatandan Pemberdayaan Masyarakat 2020-2024, Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI
Kegiatan Keterangan Potensi
Kolaborasi
LSM, Perguruan Tinggi, Swasta, dll.
Koordinator Sekretaris Daerah dan Bappeda Linimasa 2 Semester
Saluran Rapat dan bahan tayang Materi Berbasis bukti
2. Komunikasi Publik
Deskripsi Kesadaran masyarakat ditingkatkan melalui kegiatan kampanye publik terutama melalui aktivitas digital serta media masa (radio, surat kabar dan televisi) yang dikelola oleh pemerintah daerah dan mitra.
Taktik Mengoptimumkan website dan akun sosial media yang dikoordinasi sebagai hub untuk kegiatan advokasi dan komunikasi GERMAS.
Oleh sebab itu di sini memerlukan tenaga content creator, tim produksi dan ahli IT. Serta membangun kemitraan untuk saling menyebarkan konten digital yang diproduksi.
Target Masyarakat umum
Keluaran Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang GERMAS.
Potensi Kolaborasi
Media masa lokal baik pemerintah maupun swasta, creator konten termasuk blogger, dll.
Pelaksana Bappeda, Dinas Kesehatan, dan Diskoimfo atau yang sejenis.
Linimasa 2 semester (bigbang promotion dan reminder)
Materi Iklan Layanan Masyarakat, berita, artikel, foto, video, kartun, komik, infografis, talkshow media massa, podcast, lagu, dll.
Kegiatan Keterangan 3. Advokasi Pengambil Keputusan
Deskripsi Komitmen pengambil keputusan ditingkatkan melalui advokasi tatap muka, dan serangkaian kegiatan skala kabupaten/kota, serta publikasi lewat bauran media cetak, elekronik dan media digital. Agenda indikatif selama satu tahun disusun untuk kehadiran kepala daerah agar lebih menggerakkan pembudayaan GERMAS di masyarakat.
Taktik Proses persiapan, pelaksanaan dan pelaporan kegiatan merupakan momentum advokasi langsung pengambil keputusan.
Target Eksekutif dan Legislatif
Keluaran Pengambil kebijakan setuju bahwa perlu regulasi, kelembagaan dan penganggaran yang “Responsif GERMAS”.
Potensi Kolaborasi
LSM, Media Masa, Perguruan Tinggi, dll.
Pelaksana Bappeda
Saluran Antar pribadi dan publikasi media Linimasa 2 Semester
Materi Telaah staf (policy brief) berbasis data, draf/template perkada, draf/teplate SE kepala daerah dan sejenisnya.
Kegiatan Keterangan 4. Komunikasi Antar Pribadi dan Mobilisasi Masyarakat
Deskripsi Menggunakan pendekatan partisipatif dengan memfasilitasi masyarakat untuk mau dan mampu mengikuti program GERMAS.
Taktik Memastikan pendekatan partisipatif tidak hanya mendorong masyarakat berperilaku GERMAS tapi juga mendukung pihak lain melakukannya.
Target Kelompok masyarakat prioritas; pemuda, perokok, wanita, manula, anak-anak, ibu-ibu, dan kelompok yang penting sesuai kondisi daerah.
Keluaran Kelompok masyarakat prioritas memahami dan mau melakukan GERMAS.
Potensi Kolaborasi
LSM, kader posyandu, sanitarian, tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Pelaksana Dinas Kesehatan
Saluran Antar pribadil dan publikasi komitmen bersama Linimasa 2 Semester
Materi Alat peraga dan alat bantu.
Berdasarkan kerangka kerja dan prinsip advokasi dan komunikasi itulah disusun modul tentang kemitraan, komunikasi publik, advokasi dan komunikasi antar pribadi untuk mendukung pelaksanaan kegiatan advokasi dan komunikasi di daerah.
MODUL KOMUNIKASI PUBLIK UNTUK GERMAS DI DAERAH
Kompetensi
Pemerintah daaerah memiliki pengetahuan dan kemampuan standar melakukan komunikasi publik yang efektif untuk GERMAS dengan berbagai pihak sesuai karakteristik dan kondisi daerahnya.
Tujuan Khusus
1. Memahami pengertian komunikasi publik
2. Memiliki kesadaran akan pentingnya komunikasi publik yang efektif 3. Memetakan posisi komunikasi publik dalam kesinambungan GERMAS di
daerah
4. Memahami tujuan komunikasi publik untuk GERMAS di daerah 5. Memahami prinsip komunikasi publik
6. Menerapkan strategi komunikasi publik
7. Menguasai pola komunikasi publik untuk GERMAS di daerah
Ruang Lingkup Pembahasan
1. Pengertian Komunikasi Publik
2. Pentingnya Komunikasi Publik yang Efektif
3. Posisi Komunikasi Publik dalam Kesinambungan GERMAS di Daerah 4. Tujuan Komunikasi Publik untuk GERMAS di Daerah
5. Prinsip Komunikasi Publik GERMAS di Daerah 6. Strategi Komunikasi Publik GERMAS di Daerah 7. Pola Komunikasi Publik untuk GERMAS di Daerah
8. Langkah-Langkah Komunikasi Publik untuk GERMAS di Daerah
KOMUNIKASI PUBLIK UNTUK GERMAS DI DAERAH
Pengertian Komunikasi Publik
Komunikasi publik adalah pertukaran pesan dengan sejumlah orang yang berada dalam sebuah organisasi atau yang di luar organisasi, secara tatap muka atau melalui media. Tipe komunikasi publik ini sebagai monolog karena hanya seorang yang biasanya terlibat dalam mengirimkan pesan kepada publik. Organisasi menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi masyarakat, dengan cara menghadirkan pesan tersebut secara serentak kepada khalayak luas yang beragam. Saluran yang digunakan dapat berupa saluran milik organisasi sendiri maupun menggunakan pihak lain seperti perusahaan media massa. Pada komunikasi publik, pihak sumber pesan lebih dominan dibandingkan pihak penerima pesan.
Sebagaimana dalam Rencana Aksi Kegiatan Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat 2020-2024, penyelenggaraan promosi kesehatan harus didukung dengan metode dan media yang tepat, data dan informasi yang valid/akurat, serta sumber daya yang optimal termasuk sumber daya manusia yang profesional.7
Pentingnya Komunikasi Publik yang Efektif
Komunikasi publik sejalan dengan strategi Promosi Kesehatan dalam Strategi Regional (SEARO) dalam Penanggulangan Penyakit Tidak Menular yang menjadi salah satu prinsip dasar GERMAS. Strategi Promosi Kesehatan yang meliputi pembudayaan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ditujukan untuk mengembangkan intervensi pada masyarakat dalam meminimalisasi faktor- faktor risiko utama penyakit. Promosi kesehatan juga mencakup diberikannya pendidikan kesehatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuannya dalam mencegah faktor risiko penyakit tidak menular secara mandiri. 8
7 Rencana Aksi Kegiatan Promosi Kesehatandan Pemberdayaan Masyarakat 2020-2024, Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI
8 Rencana Aksi Nasional Pembudayaan GERMAS, Kementerian Kesehatan RI, 2021
Komunikasi publik juga merupakan bagian dari strategi pembudayaan GERMAS, yang mencakup advokasi lintas sektor, kemitraan, pemberdayaan masyarakat, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE). Komunikasi publik sangat penting dalam strategi advokasi kepada para penentu kebijakan.
Untuk membangun kemitraan, komunikasi publik juga penting sebagai upaya menyamakan persepsi para pihak. Dalam strategi pemberdayaan masyarakat, komunikasi publik menjadi krusial dalam mempengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat tentang GERMAS.
Strategi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dalam pembudayaan GERMAS ditujukan untuk mempromosikan luaran perilaku yang diharapkan untuk mencapai tujuan GERMAS di masyarakat. KIE menjadi elemen penting terutama dalam mendukung upaya pemberdayaan masyarakat secara komprehensif untuk mencapai kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan secara mandiri. Pada tataran masyarakat, KIE umumnya dikembangkan dalam beragam media seperti poster, flyer, leaflet, brosur, booklet, pesan broadcast melalui radio, iklan televisi, atau media sosial. Pelaksanaan KIE secara efektif perlu berdasar kepada tujuan yang jelas, target audiens spesifik, menyebut masalah spesifik, dan dilakukan dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai luaran hasil yang diinginkan.
Posisi Komunikasi Publik dalam Kesinambungan Penyelenggaraan GERMAS di Daerah
Komunikasi publik yang efektif perlu dilakukan secara terencana, terpadu dan berkelanjutan. Komunikasi publik yang positif dan tepat sasaran, tepat pesan, dan tepat saluran akan mendorong partisipasi semua pihak dalam menyelenggarakan GERMAS, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pengetahuan lalu persetujuan dan dukungan dari segenap pemangku kepentingan sehingga meningkatkan perilaku hidup sehat masyarakat Indonesia.
Tujuan Komunikasi Publik untuk GERMAS di Daerah
Tujuan umum dari komunikasi publik GERMAS adalah untuk memberikan informasi kepada khalayak mengenai GERMAS sehingga mereka mau menjalankan semua pesan tentang hidup sehat yang menjadi pilar GERMAS.
Selain itu, komunikasi publik memiliki tujuan khusus menjalin dan mengeratkan hubungan antara penyelenggara GERMAS dengan masyarakat dan stakeholders;
mendukung upaya membangun kemitraan dan advokasi GERMAS; serta menggerakkan semua pihak untuk menjalankan pola hidup sehat.
Komunikasi publik GERMAS tidak lepas dari tujuan pembangunan kesehatan, yaitu meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis (pasal 3 UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan).
Prinsip Komunikasi Publik GERMAS
• Pesan positif dan jelas, adalah pesan yang memberi kejelasan atau setidaknya mengurangi ketidakpastian, mudah dipahami dan memberi energi tinggi seperti riang, gembira, sukses, atau cinta, bergetar dengan getaran lebih tinggi dan cepat.9
• Bertarget strategis, adalah pemilihan sasaran berupa capaian dan individu atau komunitas dengan mempertimbangkan faktor efektivitas dan efisiensi dukungan komunikasi dan advokasi.
• Sistematis, adalah upaya menguraikan dan merumuskan dengan tepat, teratur dan logis sehingga mudah disepakati.
• Kolaborasi, adalah bentuk interaksi, diskusi, dan kerja sama beberapa pihak, baik secara langsung atau tidak langsung.
• Berbasis bukti, adalah berlandaskan pada fakta, data dan informasi akurat.
• Dibangun di atas inisiatif yang sudah ada, adalah tindak lanjut dan pengembangan berdasarkan evaluasi dari program dan kegiatan komunikasi dan advokasi yang telah lalu dan saat ini.
• Melibatkan pembawa pesan, maksudnya kegiatan komunikasi dan advokasi tidak dapat dilakukan sendiri, tapi memerlukan banyak individu dan lembaga yang mampu secara efektif menyampaikan pesan pada target yang dituju.
Pembawa pesan diajak pula untuk memahami pesan yang dibawa.
• Berani, maksudnya dalam kegiatan advokasi kadang diperlukan keberanian untuk mendesak terjadinya kebijakan publik. Kendati demikian harus didasari dengan perhitungan yang matang dengan mempertimbangkan keberlanjutan yang akan terjadi.
9 Oswald, Y. (2009). Keajaiban Kata-Kata: Ubahlah Hidup Anda dengan Kata-Kata yang Positif. Jakarta: PT GramediaPustaka Utama.
Contoh poster yang digunakan dalam komunikasi publik GERMAS
Contoh poster tentang imunisasi.
Strategi Komunikasi Publik GERMAS di Daerah
Pada periode 2020-2024 ini, promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat diarahkan untuk mencapai tujuan strategis yaitu pembudayaan masyarakat hidup sehat melalui pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berwawasan kesehatan. Sasaran strategisnya adalah meningkatnya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dengan indikator pembinaan posyandu aktif 100%; serta meningkatnya advokasi kesehatan dan aksi lintas sektor dengan indikator kabupaten/kota yang menerapkan kebijakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) sebesar 50%.10
Strategi komunikasi publik GERMAS dibagi menurut strategi konten / isi pesan yang akan disampaikan, strategi media / saluran yang akan digunakan, dan strategi khalayak sasaran yang spesifik dan durasi waktu pelaksanaan komunikasi publik.
Strategi konten / isi pesan berfokus pada bagaimana isi pesan dibuat dan dikemas lalu disalurkan. Substansi pesan harus mengikuti kaidah berorientasi pada khalayak sasaran (kondisi, tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku, karakter), fokus pada pesan tunggal yang paling strategis, singkat dan padat, menggunakan narasi dan visualisasi yang mudah dipahami khalayak, serta memperhatikan nilai-nilai, aspek budaya dan tradisi khalayak sasaran. Syarat pesan yang efektif adalah informatif, edukatif, persuasif, inspiratif dan promotif.
Efek yang diharapkan dari penyebaran pesan adalah terjadi peningkatan pengetahuan, penerimaan / persetujuan, dan partisipasi khalayak sasaran.
Strategi media / saluran berfokus pada pemilihan saluran komunikasi yang dapat menyampaikan isi pesan secara paling efektif. Pilih yang paling efektif di antara enam jenis media komunikasi publik yaitu media cetak, media daring / online, media sosial, media luar ruang, dan tatap muka. Untuk meningkatkan efektivitas media, dapat digunakan bauran media (media mix), yaitu penggunaan dua atau lebih jenis media secara bersama-sama, baik antara media berbayar, media tak berbayar, dan media milik sendiri.
Pola Komunikasi Publik untuk GERMAS di Daerah
Pola komunikasi publik GERMAS di daerah menggunakan pola mediated (tak langsung) dan langsung. Pemilihan pola didasarkan pada khalayak sasaran dan isi pesan yang ingin disampaikan. Pola komunikasi, khalayak sasaran, isi pesan, dan saluran yang digunakan dipetakan dalam tabel berikut, namun tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan di setiap daerah sesuai dengan dinamika yang berkembang.
10 Rencana Aksi Kegiatan Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat 2020-2024, Direktorat
Tabel 2. Pola Komunikasi Publik No.
Pola Komunikasi / komunikator
Saluran
Komunikasi Pesan
1. Langsung / Kepala daerah
Apel / upacara bendera
Kunjungan ke masyarakat
Event yang dihadiri masyarakat, misal
peringatan HUT kota/kabupaten
• Pembudayaan GERMAS
• PHBS (fokus pada perilaku tertentu yang paling relevan)
• 5 Pilar GERMAS (fokus pada salah satu pilar yang paling relevan)
Rapat kedinasan • PHBS adalah lintas sektor, bukan hanya kesehatan
• Pentingnya penerapan GERMAS di semua OPD
• Penetapan prioritas dan alokasi anggaran GERMAS di semua OPD
• Pengembangan program
• Penyediaan kebijakan dan aturan yang mendukung Lomba / festival
tentang PHBS / GERMAS
• Lomba-lomba antar instansi, antar-kampung, antar-sekolah atau untuk umum dengan tema salah satu PHBS / GERMAS (contoh: lomba
No.
Pola Komunikasi / komunikator
Saluran
Komunikasi Pesan
2. Mediated / kepala daerah
Media luar ruang (baligho, banner)
Iklan layanan masyarakat / talk show di TV, radio dan koran lokal
Banner website pemerintah milik daerah
Ajakan salah satu PHBS atau 5 Pilar GERMAS
Misal:
• Ayo makan buah dan sayur setiap hari!
• Sayangi keluarga. STOP merokok sekarang.
• Saya jalan kaki 10.000 langkah setiap hari. Kalau Anda?
• Sudah cek tekanan darah dan kadar gula darah?
• Cuci tangan pakai sabun, tindakan sederhana yang menyelamatkan banyak nyawa.
Media sosial milik daerah
Kegiatan kepala daerah terkait PHBS dan GERMAS. Diposting secara berkala, misal sedang makan buah/sayur, sedang olahraga, sedang menjalani pemeriksaan Kesehatan.
No.
Pola Komunikasi / komunikator
Saluran
Komunikasi Pesan
3. Langsung / Kepala OPD
Apel / upacara bendera
Kunjungan ke masyarakat
Event yang dihadiri masyarakat
• Pembudayaan GERMAS
• PHBS (fokus pada perilaku tertentu yang paling relevan)
• 5 Pilar GERMAS (fokus pada salah satu pilar yang paling relevan)
Rapat kedinasan • Pelaksanaan PHBS adalah kewajiban semua OPD, bukan hanya kesehatan
• Pentingnya penerapan GERMAS di OPD
• Penetapan prioritas dan alokasi anggaran GERMAS di OPD
• Pengembangan program
• Penyediaan kebijakan dan aturan yang mendukung
No.
Pola Komunikasi / komunikator
Saluran
Komunikasi Pesan
4. Mediated / OPD Media luar ruang (baligho, banner)
Iklan layanan masyarakat / talk show di TV, radio dan koran lokal
Banner website pemerintah milik daerah / dinas
• Keterlibatan OPD (meskipun bukan Kesehatan) dalam pelaksanaan GERMAS
• Ajakan salah satu PHBS atau 5 Pilar GERMAS
Misal:
o Ayo makan buah dan sayur setiap hari!
o Sayangi keluarga. STOP merokok sekarang.
o Saya jalan kaki 10.000 langkah setiap hari. Kalau Anda?
o Sudah cek tekanan darah dan kadar gula darah?
o Cuci tangan pakai sabun, tindakan sederhana yang menyelamatkan banyak nyawa.
Media sosial milik daerah / dinas
Kegiatan OPD terkait PHBS dan GERMAS. Diposting secara berkala, misal sedang makan buah/sayur bersama, olahraga bersama, pemeriksaan kesehatan.
5. Langsung / Dinas Kesehatan
Posyandu
PKK
Promkes
UKS
• Manfaat GERMAS terhadap derajat Kesehatan masyarakat
• Kerugian akibat penyakit menular dan tidak menular
• GERMAS sebagai solusi hidup sehat
• PHBS (fokus pada perilaku tertentu yang paling relevan)
• 5 Pilar GERMAS (fokus pada salah satu pilar yang paling relevan)
No.
Pola Komunikasi / komunikator
Saluran
Komunikasi Pesan
6. Mediated / Dinas Kesehatan
Media luar ruang (baligho, banner)
Iklan layanan masyarakat / talk show di TV, radio dan koran lokal
Banner website pemerintah milik daerah / dinas
Ajakan salah satu PHBS atau 5 Pilar GERMAS
Misal:
o Ayo makan buah dan sayur setiap hari!
o Sayangi keluarga. STOP merokok sekarang.
o Saya jalan kaki 10.000 langkah setiap hari. Kalau Anda?
o Sudah cek tekanan darah dan kadar gula darah?
o Cuci tangan pakai sabun, tindakan sederhana yang menyelamatkan banyak nyawa.
Media sosial milik dinas
Kegiatan OPD terkait PHBS dan GERMAS. Diposting secara berkala, misal sedang makan buah/sayur bersama, olahraga bersama, pemeriksaan kesehatan.
7. Mediated / content creator, influencer
Media sosial Komponen PHBS / 5 Pilar sebagai bagian gaya hidup.
Misal:
• Ajakan meningkatkan aktivitas fisik
• Ajakan stop merokok
• Mukbang (eating show) makan buah dan sayur
Langkah-langkah Komunikasi Publik GERMAS di Daerah
Mengacu pada teori komunikasi untuk perubahan perilaku, merancang komunikasi publik dapat dilakukan dalam langkah-langkah. Berikut ini adalah langkah-langkah komunikasi publik GERMAS.
Langkah 1: Tetapkan tujuan spesifik komunikasi publik
Tujuan komunikasi publik tidak terlepas dari tujuan program. Komunikasi publik lebih ditujukan untuk menggugah kesadaran dan mempersuasi khalayak sasaran untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu. Bila tujuan program adalah membuat masyarakat lebih meningkatkan aktivitas fisik, maka tujuan komunikasi publik adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang manfaat aktivitas fisik yang cukup, apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aktivitas fisik, dan mempersuasi mereka untuk melakukan.
Bila tujuan program adalah membuat masyarakat mengurangi kebiasaan merokok, maka tujuan komunikasi publik adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bahaya merokok, manfaat mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok,dan bagaimana cara mengurangi / berhenti merokok, dan mempersuasi mereka untuk mengurangi / berhenti merokok.
Langkah 2: Kenali sifat / karakteristik khalayak sasaran
Ini adalah langkah paling penting dalam komunikasi efektif. Kenali khalayak sasaran sampai kita memahami tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku mereka di bidang PHBS serta perubahan yang diinginkan. Mengkomunikasikan gagasan GERMAS kepada kelompok masyarakat perkotaan perlu cara berbeda dengan masyarakat perdesaan. Isi pesan ajakan berhenti merokok tentu berbeda bila ditujukan langsung kepada perokok atau secara tidak langsung melalui keluarga perokok. Mengkampanyekan pesan kurangi konsumsi alkohol tidak ada gunanya dilakukan di masyarakat yang tidak memiliki budaya minum alkohol. Jadi, selalu kenali dulu karakteristik kelompok sasaran sebelum menentukan isi pesan dan memilih media atau saluran komunikasi.
Identifikasi sifat / karakteristik khalayak sasaran:
o Praktik hidup sehat / tidak sehat di masyarakat. Lakukan survei
secukupnya tentang pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat yang terkait kesehatan, atau dapat menggunakan data sekunder prevalensi penyakit di daerah tersebut. Ini berguna untuk menetapkan prioritas isi pesan yang akan diangkat.
o Tingkat sosial ekonomi masyarakat untuk menentukan strategi penyampaian pesan.
o Tradisi dan budaya masyarakat setempat untuk memilih saluran komunikasi yang tepat.
o Identifikasi tokoh masyarakat dan tokoh agama yang disegani dan dipatuhi oleh masyarakat untuk dijadikan komunikator penyampai isi pesan GERMAS.
Langkah 3: Tetapkan perubahan yang diharapkan
Setelah mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat sasaran terkait kesehatan, tentukan perubahan yang diinginkan. Perlu ditekankan bahwa komunikasi publik bertujuan menggugah kesadaran dan mempersuasi khalayak sasaran. Karena itu perubahan perilaku yang dapat diharapkan dari komunikasi publik GERMAS adalah meningkatnya kesadaran tentang GERMAS dan perubahan pendapat / sikap tentang perilaku hidup sehat yang dikemas dalam pesan-pesan GERMAS.
Langkah 4: Tetapkan isi pesan
GERMAS mengandung banyak informasi dan gagasan yang dapat dikomunikasikan. Meskipun demikian, isi pesan yang efektif adalah yang terfokus pada satu pesan tertentu, dan dikomunikasikan dalam waktu yang cukup.
Dalam satu kegiatan komunikasi, jangan menyampaikan terlalu banyak isi pesan supaya khalayak sasaran tidak bingung. Pilih isi pesan yang paling sesuai dengan kondisi di masyarakat, terkait tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku tentang kesehatan. Bila permasalahan di khalayak adalah penyakit menular, maka isi pesan GERMAS harus isi pilar 4, terkait menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Bila permasalahan utamanya adalah peningkatan penyakit tidak menular, isi pesan GERMAS harus isi pilar 1 terkait deteksi dini faktor risiko.
Selain isinya harus tepat sasaran, sangat penting untuk mengemas pesan secara menarik. Kemasan pesan terdiri atas narasi dan visualisasi. Narasi adalah pilihan kata dan kalimat yang digunakan, yang harus ringkas dan mudah dipahami.
Visualisasi adalah cara menampilkan isi pesan dalam media / saluran yang digunakan.
Bergantung format medianya, maka isi pesan harus memenuhi beberapa kaidah.
• Bila dalam format visual, seperti baligho dan banner, maka harus menonjolkan pesan kunci dan menggunakan kaidah estetika meliputi jenis dan ukuran huruf, komposisi, pemilihan warna, dan gambar ilustrasi pendukung. Baligho berisi ajakan kepala daerah untuk hidup sehat tentu lebih efektif bila foto yang digunakan adalah kepala daerah sedang berolahraga daripada mengenakan pakaian dinas formal.
• Bila menggunakan format audio, seperti iklan layanan masyarakat di radio atau pengumuman, maka harus memperhatikan kejelasan ucapan, penonjolan pesan kunci, dan ilustrasi pendukung seperti musik. Pilih musik yang populer dan sedang disukai khalayak sasaran.
• Bila menggunakan format audiovisual, seperti video iklan layanan masyarakat, maka harus memperhatikan karakter tokoh yang menarik, jalan cerita, dan penonjolan pesan kunci. Menggunakan artis sebagai karakter video memerlukan biaya mahal. Sebagai gantinya, tampilkan sosok orang kebanyakan tetapi tampak sehat dan menarik, misalnya anak-anak yang sehat dan cerita atau lansia yang masih sehat dan produktif.
Contoh pesan kunci GERMAS:
• Berjalan kaki 10.000 langkah sehari dapat mengurangi risiko berbagai penyakit kronis.
• Mencuci tangan dengan sabun menurunkan risiko diare hingga 43%.
• Bersepeda ke kantor lebih sehat dan hemat.
• Periksa tekanan darah secara teratur akan menyelamatkan Anda dari kemungkinan serangan jantung dan stroke.
Isi pesan yang efektif:
o Bersifat positif, tidak menakut-nakuti.
o Bersifat spesifik tentang perilaku tertentu. Pesan “Makan lebih banyak buah dan sayur dapat meningkatkan daya tahan tubuh” lebih efektif dan bermakna daripada pesan “Ayo budayakan GERMAS.”
o Menonjolkan manfaat yang akan diperoleh khalayak sasaran apabila mau mengikuti anjuran isi pesan.
o Temukan pesan-pesan kunci yang paling menjawab kondisi khalayak sasaran.
o Kata kunci harus singkat, padat dan menarik.
o Di satu media hanya berisi satu pesan kunci. Bila ada pesan kunci yang berbeda, gunakan media yang berbeda.
o Mempertimbangkan budaya setempat supaya tidak menyinggung perasaan dan supaya lebih efektif.
Langkah 5: Memilih media / saluran yang tepat
Memilih saluran harus mempertimbangkan kondisi khalayak sasaran dan isi pesan yang ingin disampaikan. Ajakan meningkatkan konsumsi sayur lebih efektif bila disampaikan dalam bentuk booklet kumpulan resep lezat dan praktis berbahan sayur dan buah yang dibagikan kepada ibu-ibu. Banner yang dipasang di kawasan pasar lebih tepat berisi pesan “Jangan lupa belanja buah dan sayur ya, Bu!” dibandingkan berisi ajakan “Ayo berolahraga supaya sehat!”
Demikian juga saat wali kota / bupati berkegiatan di masyarakat yang dihadiri banyak kaum laki-laki, maka isi pesan dapat berupa ajakan mengalihkan uang yang digunakan untuk membeli rokok menjadi tambahan belanja sayur dan buah untuk keluarga.
Bergantung formatnya, media dibedakan menjadi media visual, audio, dan audi visual. Ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan jenis media / saluran supaya efektif.
JENIS MEDIA CONTOH YANG HARUS DIPERHATIKAN PENGGUNAAN 1. VISUAL Baligho
Banner / spanduk
Pesan kunci singkat dan menonjol
Desain sederhana, tidak terlalu
“ramai”
Dipasang di tempat strategis yang memungkinkan terbaca sampai tuntas
Mengajak / mempersuasi.
Poster Gambar ilustrasi menarik dan cukup proporsional dengan tulisan
Pesan kunci singkat dan menonjol, tidak tenggelam oleh gambar ilustrasi
Boleh ada narasi lebih rinci terkait pesan kunci, sifatnya data pendukung
Mencantumkan identitas pengirim pesan, misal logo pemerintah daerah, logo OPD
Dipasang di tempat yang banyak orang diam dan tidak berlalu lalang, misal ruang tunggu puskesmas atau wastafel di toilet.
Pasang setinggi pandangan orang dewasa normal, tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi.
Mengajak / mempersuasi.
Sedikit menjelaskan melalui narasi tambahan dan data pendukung.
Brosur Berisi pesan kunci dan penjelasan lebih lengkap
Gunakan ilustrasi, jangan terlalu padat tulisan
Mencantumkan identitas pengirim pesan, misal logo pemerintah daerah, logo OPD
Beri nomor kontak bila
pembaca ingin mendapatkan informasi lebih lanjut
Memberikan penjelasan, mempersuasi yang mendorong perubahan perilaku.
Brosur jangan hanya dibagikan karena biasanya akan dibuang.
Gunakan sebagai alat untuk menjelaskan.
Misal sedang melakukan sosialisasi tentang penyakit hipertensi, maka brosur tentang hipertensi dijadikan alat untuk menjelaskan.
Dengan cara ini brosur biasanya akan disimpan setelahnya oleh sasaran.
2. AUDIO Lagu Pesan-pesan kunci dapat dijadikan syair lagu
Lagu dapat dibuat khusus maupun menggunakan lagu yang sedang populer dan mengganti syairnya
Dapat dibuat jingle atau ringtone untuk telepon selular
Pilih lagu yang riang, easy listening dan mudah ditirukan
Sebagai pengingat / reminder tentang pesan-pesan GERMAS Lagu dijadikan musik ilustrasi dalam acara- acara pemerintah daerah atau OPD, misalnya sebelum mulai apel atau upacara.
Dapat digunakan sebagai materi lomba menyanyi.
Pengumuman Mengandung satu pesan kunci, misal mengingatkan untuk jaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan mengenakan masker.
Pesan kunci singkat dan padat, disampaikan dengan suara yang tegas namun ramah.
Mengajak, mempersuasi, mengingatkan
Diputar secara berkala di ruang-ruang tunggu pelayanan atau
pemberhentian / lampu merah.
Dijadikan ad lib saat siaran acara-acara menarik di radio lokal.
3. AUDIO VISUAL
Pidato / sambutan pengarahan Kepala daerah
Mengandung pesan kunci terkait pentingnya GERMAS
Penampilan disesuaikan dengan kesempatan, misal mengenakan pakaian
olahraga saat membicarakan GERMAS
Pesan kunci disampaikan dengan contoh langsung perilaku, misal senam bersama, makan buah dan sayur
Mengingatkan, menggerakkan
Video iklan layanan masyarakat Kepala daerah / OPD atau masyarakat (model)
Mengandung satu pesan kunci perilaku sehat
Video singkat, tidak lebih dari 3 menit
Jalan cerita menarik
Tokoh / karakter menarik
Pesan kunci disampaikan secara tegas
Mempersuasi,
mendorong perubahan perilaku
Dapat diputar di ruang- ruang tunggu pelayanan Bekerja sama dengan perusahaan bioskop lokal untuk ditayangkan sebelum pemutaran film
3. AUDIO VISUAL
Video testimonial / referensial Oleh influencer media sosial / vlogger
Pilihlah karakter influencer yang mewakili pelaku hidup bersih dan sehat
Sampaikan pesan kunci yang harus mereka siarkan
Mempersuasi,
mendorong perubahan perilaku
Ditayangkan di semua media sosial milik daerah dan keluarga besar pemerintah daerah diminta memviralkan Event /
perayaan budaya
Sisipkan pesan-pesan hidup sehat dalam perayaan event, misal melalui ad lib oleh pembawa acara, pidato pejabat yang hadir, dan kehadiran stand-stand yang membawa pesan-pesan GERMAS, misalnya stand pameran tumpeng buah atau rangkaian buah dan sayur
Jadikan materi lomba atau permainan / games
Mempersuasi,
mendorong perubahan perilaku
Misalnya di perayaan peringatan hari ulang tahun daerah, panggung-panggung hiburan
Event olah raga
Selain fokus pada kompetisi, selipkan pesan-pesan hidup sehat, baik oleh komentator maupun testimoni para atlet
Selipkan kuis untuk penonton dengan pertanyaan-
pertanyaan seputar pola hidup sehat
Mempersuasi,
mendorong perubahan perilaku
Langkah 6: Monitoring dan evaluasi
Untuk memastikan komunikasi tepat arah dan berhasil, kita harus melakukan pemantauan dan evaluasi. Pemantauan atau monitoring dilakukan sepanjang pelaksanaan kegiatan evaluasi. Sedangkan evaluasi dilakukan setelah rangkaian pelaksanaan kegiatan komunikasi untuk melihat dampak komunikasi publik terhadap progress GERMAS.
Monitoring dapat dilakukan secara sederhana, dengan membuat tabel berisi kegiatan-kegiatan komunikasi yang direncanakan, mencatat realisasinya untuk melihat apakah masih sesuai dengan rencana atau tidak. Monitoring dapat dilakukan secara berkala misalnya setiap minggu, setiap bulan bulan, setiap triwulan, atau setiap milestone.
Berikut ini contoh tabel sederhana monitoring komunikasi publik GERMAS.
Monitoring Kampanye Publik GERMAS Bulan: Oktober 2021
Rencana Kegiatan Target
Realisasi
(per minggu) Total Catatan
1 2 3 4
Pemasangan banner “Jangan lupa belanja buah dan sayur”
di 15 titik pasar kecamatan
15 / bulan
4 3 3 2 12
3 belum terpasang karena kesulitan mencari tempat menempel di lokasi yang ditentukan
Postingan pesan GERMAS di
facebook OPD
2x per minggu (Selasa – Jumat)
1 1 2 2 6
Di minggu pertama dan kedua belum ada penanggung jawab penulisan konten yang ditugasi
Hasil komunikasi publik agak sulit diukur karena biasanya khalayak sasaran bersifat anonim dan heterogen, serta sifat isi pesannya adalah sebatas peningkatan pengetahuan dan kesadaran (awareness). Kalaupun terjadi perubahan perilaku pada khalayak sasaran, biasanya sifatnya perorangan dan tidak tampak langsung. Karena itu strategi komunikasi publik idealnya diikuti komunikasi interpersonal yang lebih memiliki nilai dorong perubahan perilaku.
Strategi komunikasi interpersonal dapat dipelajari pada modul yang lain.
Meskipun demikian, pengaruh komunikasi publik terhadap peningkatan perilaku hidup bersih dapat diukur. Caranya dengan membandingkan fenomena aktivitas masyarakat terkait hidup sehat di tahun sebelumnya dengan di tahun sekarang, misalnya melihat munculnya kelompok-kelompok senam bersama di berbagai lapisan masyarakat, peningkatan konsumsi buah dan sayur dari sensus kesehatan, perubahan kebiasaan merokok, dll.