TESIS
Oleh
ERNI ARIYANTI 147011205/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
ERNI ARIYANTI 147011205/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN Anggota : 1. Prof. Dr. Tan Kamello, SH, MS
2. Dr. Edy Ikhsan, SH, MA
3. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum 4. Notaris Dr. Suprayitno, SH, MKn
Nama : ERNI ARIYANTI
Nim : 147011205
Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU
Judul Tesis : WANPRESTASI YANG MENGAKIBATKAN
PERBUATAN MELAWAN HUKUM PADA
PERJANJIAN PENGIKATAN AKTA JUAL BELI
(PPAJB) (STUDI PUTUSAN NOMOR
44/PDT.G/2014/PN.JKT.SEL)
Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan,
Yang membuat Pernyataan
Nama : ERNI ARIYANTI Nim : 147011205
objek sewaan, tetap menguasasi, dan memakainya walaupun perjanjian telah berakhir, kreditur dapat mengajukan gugatan gabungan antara wanprestasi dan perbuatan melawan hukum. Bagaimanakah perbedaan antara perbuatan melawan hukum dan wanprestasi menurut ketentuan hukum yang berlaku dan bagaimanakah pertimbangan hakim yang membedakannya di dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel. Jenis penelitian adalah normatif, sifat penelitian eksplanatif, deskriptif, dan preskriptif. Menggunakan data sekunder, studi pustaka dan analisis kualitatif.
Perbedaan perbuatan melawan hukum dan wanprestasi dapat dilihat dari aspek dasar hukumnya, subjek hukumnya, lingkup cakupannya, dan pelaksanaannya.
Perbuatan yang tidak menyerahkan suatu barang yang bukan haknya kepada pihak lain yang lebih berhak, tidak memberikan kontra apapun atas penggunaan barang tersebut setelah perjanjian berakhir merupakan perbuatan melawan hukum yaitu melawan hak subjektif orang lain dan melawan kewajiban hukumnya sendiri, bukan melanggar perjanjian karena perjanjian tersebut telah berakhir. Pertimbangan majelis hakim yang tidak membedakan perbuatan melawan hukum dan wanprestasi dalam perkara ini melukai rasa keadilan bagi tergugat. Gugatan wanprestasi dan perbuatan melawan hukum tidak boleh diajukan dalam satu gugatan meskipun HIR dan Rbg maupun Rv tidak mengatur hal itu. Tergugat seolah-olah melakukan perbuatan yang tidak termasuk sebagai perbuatan melawan hukum, melainkan perbuatan itu dilakukan pada saat masih berjalannya PPAJB Nomor 38 Tanggal 30 Mei 2011 yang berakhir tanggal 15 Desember 2011.
Agar perbuatan melawan hukum dan wanprestasi dipamahi dari aspek dasar hukumnya, subjek hukumnya, lingkup cakupannya, dan pelaksanaannya. Perluasan makna perbuatan melawan hukum dari sempit menjadi luas, bukan berarti wanprestasi merupakan perbuatan melawan hukum meskipun perjanjian sebagai undang-undang bagi mereka yang berjanji. Agar majelis hakim berlaku adil dalam menjatuhkan putusan, seharusnya dalam perkara ini menyatakan Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum sejak tanggal 16 Desember 2011 karena telah menempati tanah/rumah Penggugat secara tidak sah dan tanpa alas hukum.
Berdasarkan yurisprudensi para hakim pengadilan harus tegas memisahkan gugatan wanprestasi dan gugatan perbuatan melawan hukum, tidak boleh keduanya diajukan dalam satu gugatan, karena melukai rasa keadilan.
Kata Kunci : Perjanjian, Perjanjian Pengikatan Akta Jual Beli, Wanprestasi, dan, Perbuatan Melawan Hukum.
using it in spite of the expiry date, the creditor may file a lawsuit for default and unlawful act at the same time. How to differentiate an unlawful act from default according to the prevailing provisions and how the judge’s consideration in distinguishing these actions in the Ruling No. 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel. This is a normative research. This research is explanative, descriptive and prescriptive. It employed secondary data, library study and qualitative analysis.
The difference between an unlawful act and default act can be seen from aspect of legal ground, subject, scope and implementation. An act of keeping a property which he has no right over it to the more rightful owner, and of not countering anything for using the property while the agreement term has been terminated is an unlawful act i.e. opposing against other person’s subjective rights and his own legal obligation; it is not regarded as violating the agreement because the agreement has been terminated. The consideration of the panel of judges who do not differentiate an unlawful act from a default in this case offends the defendant’s sense of justice. A claim against a default and an unlawful act cannot be filed in a lawsuit even though HIR (Herzeine Inlandsch), Rbg (Rechtsreglement Buitengewesten) and Rv (Rechtvordering) does not regulate it. It looks like what has been done by the defendant is not an unlawful act, since it was done when PPAJB (The Sale and Purchase Deed Agreement) no. 38 dated May 30th, 2011 were still on going while it was terminated on December 15, 2011.
It is suggested that an unlawful act and a default be comprehended from its legal ground, subject, scope and implementation. The meaning of an unlawful act is thus generalized from specific into more general; but, it does not mean that a default is an unlawful act although the agreement is prevailing laws to those who are bound in it. It is also suggested that the panel of Judges be fair in pronouncing the decision;
they should have stated that the Defendant has performed an unlawful act since December 16, 2011 for staying on the land/ in the house illegally and without legal ground. The court judge, according to jurisprudence, has to firmly differentiate a lawsuit against a default from the one against an unlawful act; both acts are not allowed to be filed in one lawsuit as it will offend sense of justice.
Keywords: Agreement, Sale and Purchase Deed Agreement, Default, Unlawful Act
untuk memperolah gelar Magister Kenotariatan di Universitas Sumatera Utara.
Dalam memenuhi tugas ini penulis menyusun dan memilih judul: “Wanprestasi Yang Mengakibatkan Perbuatan Melawan Hukum Dalam Perjanjian Pengikatan Akta Jual Beli (PPAJB) (Studi Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel)”.
Penulis selama penulisan dan penyusunan tesis ini, mendapat bimbingan dan pengarahan serta saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapakan terima kasih dan penghargaan yang tidak ternilai harganya secara khusus kepada Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H., M.S., C.N., selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Prof. Dr. Tan Kamello, S.H., M.S., serta Bapak Dr. Edy Ikhsan, S.H., M.A., masing-masing selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberi masukan dan bimbingan kepada penulis selama dalam masa penulisan tesis ini. Kepada Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, S.H., C.N., M.Hum, dan Notaris Dr. Suprayitno, S.H., M.Kn, selaku dosen penguji yang telah banyak memberi kritikan, saran serta masukan dalam penulisan tesis ini.
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak/Ibu:
1. Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. T. Keizerina Devi A, S.H., C.N., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.
4. Dr. Edy Iksan, S.H., M.A., selaku Sekertaris Program Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu Guru Besar dan Staf Pengajar dan Pegawai Biro Administrasi pada Program Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.
Muhammad Ilham Rizky, S. Abis yang senantiasa menemani, membantu, serta mendoakan penulis dalam penyelesaian tesis ini, terlebih buat si jantung hati anak kami Aufar Kenzie El Rizky yang sangat memberikan spirit luar biasa kepada penulis juga motivator terbesar dalam hidup penulis.
8. Terimakasih buat teman-teman rekan seperjuangan angkatan 2014 Reguler Khusus atas kebersamaan, do’a, dukungan, semangat, dan semoga pertemanan kita tidak terlupakan.
Penulis juga menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan penulis, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dalam penulisan kedepan . Akhir kata, penulis berharap agar tesis ini bermanfaat bagi penulis dan bagi berbagai pihak khususnya yang berkaitan dengan bidang kenotariatan.
Medan, Januari 2018 Penulis
Erni Ariyanti
Tempat dan Tanggal Lahir : Rantau Prapat, 5 Oktober 1990
Alamat : Jl. Karya Wisata Perumahan Taman Johor Baru Blok A1 no.2 Medan
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 27 Tahun
Status : Menikah
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Nama Bapak : H. Kharuddinsyah Sitorus, S.E.
Nama Ibu : Hj. Ely Zarwati
Nama Suami : Muhammad Ilham Rizky, S. Abis Nama Anak : Aufar Kenzie El Rizky
II. PENDIDIKAN
SD : 1996-2002 SD Panglima Polem Rantau
Prapat
SMP : 2002-2005 SMP Al-Azhar Medan
SMA : 2005-2008 SMA Negri 2 Medan
S1 Universitas : 2010-2014 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan
S2 Universitas : 2018 Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI... vi
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 16
C. Tujuan Penelitian ... 17
D. Manfaat Penelitian ... 17
E. Keaslian Penelitian... 18
F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional... 19
1. Kerangka Teori ... 19
2. Landasan Konsepsional... 32
G. Metode Penelitian... 34
1. Jenis Penelitian... 34
2. Sifat Penelitian ... 34
3. Sumber Data... 36
4. Teknik Pengumpulan Data... 36
5. Analisis Data ... 37
BAB II PERBUATAN MELAWAN HUKUM DAN WANPRESTASI MENURUT KETENTUAN HUKUM YANG BERLAKU DI BIDANG HUKUM PERDATA... 39
A. Perjanjian Sebagai Awal Dari Perikatan ... 39
B. Wanprestasi ... 51
C. Perbuatan Melawan Hukum... 61
1. Dasar hukumnya ... 80
4. Subjek hukumnya... 82
5. Lingkup cakupannya ... 82
6. Pelaksanaannya ... 85
BAB III PERTIMBANGAN HAKIM MEMBEDAKAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM DAN WANPRESTASI DALAM PUTUSAN NOMOR 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel... 93
A. Kasus Posisi ... 93
1. Para Pihak ... 93
2. Kronologis Perkara ... 94
3. Gugatan Penggugat ... 96
4. Jawaban Tergugat ... 102
5. Putusan Majelis Hakim ... 111
B. Pertimbangan Hakim Membedakan Perbuatan Melawan Hukum dan Wanprestasi Dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel. ... 112
C. Analisis Pertimbangan Hakim... 116
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ... 132
A. Kesimpulan ... 132
B. Saran... 134
DAFTAR PUSTAKA ... 135
Perbuatan Melawan Hukum (PMH) adalah perbuatan yang melawan hak orang lain, bertentangan dengan hak orang lain, baik hak alamiah maupun hak yang lahir karena dilindungi undang-undang, sedangkan wanprestasi adalah perbuatan yang juga dikatakan melawan hukum, melawan hak orang lain, tetapi timbul karena adanya hak-hak dan kewajiban yang ditentukan dan disepekati oleh para pihak di dalam suatu perjanjian (kontrak).
Perjanjian dibuat oleh para pihak dengan syarat di dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Apabila perjanjian tidak memenuhi syarat objektif, maka perjanjian itu batal demi hukum. Suatu perjanjian batal demi hukum berarti semua realisasi dari isi perjanjian itu menjadi batal dan kembali seperti semula sebelum perjanjian itu ada.
Jika terdapat perbuatan lain yang melanggar hak, setelah perjanjian itu batal demi hukum, maka terhadap pelanggar bukan lagi disebut wanprestasi, tetapi perbuatan melawan hukum karena melawan hak orang lain, bertentangan dengan hak orang lain yang dilindungi oleh hukum.
Ketika membicarkan tentang wanprestasi, maka kajian normatifnya tidak bisa dilepaskan dari konsep hukum perjanjian, wanprestasi masuk dalam satu bahasan tentang hukum perjanjian. Pihak yang tidak melaksanakan perjanjian lebih tepatnya disebut wanprestasi, sebagai bentuk pengingkaran perjanjian. Wanprestasi menunjuk
pada suatu keadaan tidak terlaksananya prestasi oleh debitur. Bentuk wujud wanprestasi adalah:1
1. Debitur sama sekali tidak melaksanakan kewajibannya.
2. Debitur tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana mestinya atau melaksanakan kewajibannya tetapi tidak sebagaimana mestinya.
3. Debitur tidak melaksanakan kewajibannya pada waktunya.
4. Debitur melaksanakan sesuatu yang tidak diperbolehkan.
Wanprestasi bisa terjadi karena debitur sengaja tidak melaksanakan atau lalai.2 Wanprestasi karena tidak berprestasi sama sekali atau berprestasi tetapi tidak bermanfaat lagi atau tidak dapat diperbaiki. Wanprestasi terlambat memenuhi prestasi. Debitur memenuhi prestasi tetapi secara tidak baik atau tidak sebagaimana mestinya. Debitur melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan.3
Debitur tidak melaksanakan prestasi sama sekali, melaksanakan prestasi tetapi tidak sebagaimana mestinya, melaksanakan prestasi tetapi tidak tepat pada waktunya, dan melaksanakan perbuatan yang dilarang di dalam perjanjian, merupakan perbuatan yang termasuk sebagai wanprestasi.4Wanprestasi dapat dilihat dari kesengajaan atau kelalaian debitur melakukan prestasi dan/atau karena keadaan memaksa.5Keadaan di
1 Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis Memahami Prinsip Keterbukaan Dalam Hukum Perdata, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), hal. 356.
2Ibid., hal. 357.
3Handri Raharjo, Hukum Perjanjian di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2009), hal.
80.
4 Muhammad Syaifuddin, hukum Kontrak, Memahami Kontral Dalam Perspektif Filsafat, Teori, Dogmatik, dan Praktik Hukum (Seri Pengayaan Hukum Perikatan), (Bandung: Mandar Maju, 2012), hal. 338.
5Handri Raharjo, Op. cit., hal. 81.
mana debitur tidak memenuhi janjinya atau tidak memenuhi sebagaimana mestinya, kesemuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya.6
Debitur tidak melaksanakan prestasinya karena lalai atau karena keadaan memaksa.7Dipersyaratkan ada tiga aspek penting dalam wanprestasi sekaligus harus dibuktikan yaitu karena sengaja, lalai, atau karena kondisi memaksa. Cidera janji padanan kata dari wanprestasi. Cidera janji merupakan pembelokan dari isi perjanjian, sehingga menimbulkan kerugian bagi satu pihak atau kedua belah pihak.8
Masalahnya adalah apakah wanprestasi termasuk sebagai perbuatan melawan hukum (onrechtmatig daad) atau berbeda? Untuk itu harus pula diketahui apa yang menjadi syarat Perbuatan Melawan Hukum (PMH). PMH adalah:9
1. Melanggar hak subjektif orang lain.
2. Melanggar kewajiban hukum sebagaimana dirumuskan dalam undang- undang.
3. Melanggar etika pergaulan hidup (goede zeden).
4. Melanggar kewajiban sebagai anggota masyarakat dalam pergaulan hidup.
Menurut J. Satrio wanprestasi termasuk PMH. Antara keduanya tidak ada perbedaan yang prinsipil. Wanprestasi sama dengan PMH yang dilakukan oleh pihak dalam kedudukannya sebagai debitur.10 Pemaknaan ini didasari pada perkembangan
6M. Marwan dan Jimmy P., Kamus Hukum, (Surabaya: Reality Publisher, 2009), hal. 643.
7P.N.H. Simanjuntak, Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 2007), hal. 340.
8 Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), Buku Kedua, (Bandung: Citra Adtya Baktu, 2001), hal. 87.
9J. Satrio, Wanprestasi Menurut KUH Perdata, Doktrin, dan Yurisprudensi, (Bandung: Citra Adtya Bakti, 2012), hal. 4. Perbuatan melawan hukum tersebut di atas telah dianut dalam doktrin maupun dalam yurisprudensi setelah peristiwa perkara Lindenbaum melawan Cohen (HR 31 Januari 1919, N.J. 1919, 161).
10Ibid., hal. 4-5.
yang memperluas makna PMH dari arti sempit (dalam undang-undang) menjadi lebih luas termasuk di luar undang-undang yang menyangkut asas-asas.
Perluasan makna PMH tersebut berimplikasi pada terkategorinya perbuatan seseorang yang tidak saja hanya melanggar isi perjanjian tetapi juga melanggar asas kepatutan, asas kepantasan, asas kehati-hatian, dan asas kesusilaan dalam hubungan antar sesama warga masyarakat. Debitur dikatakan melawan hukum berdasarkan asas kepatutan dan kewajaran karena ia tidak mau menyerahkan suatu barang yang bukan haknya kepada yang lebih berhak, bahkan ia tidak memberikan kontra apapun atas penggunaan barang dimaksud.11
Perbuatan yang tidak mau menyerahkan suatu barang yang bukan haknya kepada yang lebih berhak, tidak memberikan kontra apapun atas penggunaan barang tersebut merupakan PMH yaitu melawan hak subjektif orang lain dan melawan kewajiban hukumnya sendiri. Tidak patut jika seseorang tidak mau menyerahkan barang yang bukan miliknya kepada orang lain yang lebih berhak. Tidak patut jika seseorang berkuasa atas harta milik orang lain, tidak patut jika seseorang mengubah bentuk barang dengan sesuka hati tanpa izin dari yang berhak.
Semula makna PMH sempit sebagaimana dalam Pasal 1365 KUH Perdata, namun setelah Hoge Raad dalam kasus Lindenbaum melawan Cohen di Belanda telah memperluas makna PMH bukan saja hanya dalam Pasal 1365 KUH Perdata (dalam undang-undang), tetapi juga setiap perbuatan yang melanggar asas kepatutan, asas
11Suharnoko, Hukum Perjanjian Teori dan Analisis Kasus, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004), hal. 73.
asas kepantasan, asas kehati-hatian, dan asas kesusilaan dalam hubungan antar sesama warga masyarakat dan.12
Kadang-kadang bisa ada situasi yang membingungkan, apakah perbuatan itu termasuk sebagai wanprestasi atau PMH. Misalnya dalam pengakhiran perjanjian sewa-menyewa, jika si penyewa tidak mengembalikan objek sewaannya dan tetap menguasasi dan memakainya walaupun perjanjian telah berakhir, maka apa yang seharusnya dikenakan kepada si penyewa itu, apakah wanprestasi atau PMH.13
Timbul pertanyaan bukankah sesudah masa perjanjian sewa-menyewa berakhir berarti sudah tidak ada lagi hubungan hukum sewa-menyewa. Bukankah kalau tidak ada hubungan perjanjian mestinya dasar gugatannya adalah PMH.
Bukankah si penyewa tadi telah memenuhi prestasinya berdasarkan hubungan dalam perjanjian sewa-menyewa. Dengan tegas dikatakan bahwa perbuatan yang tidak mau mengosongkan rumah sewa setelah perjanjian berakhir adalah PMH.14
Masalah selanjutnya apakah seseorang boleh menggugat ganti rugi atas dasar wanprestasi dengan menggunakan Pasal 1365 KUH Perdata. Wanprestasi sekalipun diterima sebagai bagian dari PMH, namun karena doktrin dan yurisprudensi berpendapat bahwa karena wanprestasi sudah diatur di dalam Bab I Buku III KUH Perdata dan PMH di dalam Bab III Buku III KUH Perdata, maka seseorang tidak
12Ibid., hal. 121.
13J. Satrio, Wanprestasi Menuruti….Op. cit., hal. 6. Lihat juga: Suharnoko, Op. cit., hal. 73.
14Ibid.
dibenarkan untuk mengajukan gugatan wanprestasi dengan mendasarkan pada ketentuan PMH yang diatur di Pasal 1365 KUH Perdata.15
Secara praktik dan perkembangan hukum serta yurisprudensi, wanprestasi sama dengan PMH, tetapi secara normatif dalam KUH Perdata keduanya adalah berbeda, karena dasar pengaturannya juga berbeda. Wanprestasi memiliki akibat hukum, antara lain bagi debitur yaitu: mengganti kerugian, dan objek perjanjian menjadi tanggung jawab debitur.16 Sedangkan bagi kreditur (Pasal 1267 KUH Perdata) dapat menuntut: pemenuhan perjanjian yang telah disepakati, menerima ganti rugi (Pasal 1243-1252 KUH Perdata) atas segala biaya-biaya termasuk bunga, dan meminta pembatalan perjanjian, serta peralihan resiko.17
Wanprestasi menimbulkan akibat hukum yang paling utama adalah ganti kerugian (Pasal 1236 KUH Perdata untuk prestasi memberikan sesuatu dan Pasal 1243 KUH Perdata untuk prestasi berbuat sesuatu).18 Sama halnya PMH juga menimbulkan akibat hukum yang paling utama adalah ganti kerugian. Wanprestasi dan PMH sama-sama didasarkan atas kesengajaan, kelalaian, dan keadaan memaksa.
Kesalahan (sengaja dan lalai) dalam hukum pidana sama-sama dapat menimbulkan akibat hukum yaitu yang salah memperoleh sanksi.19 Hal itu juga berlaku dalam konsep hukum perdata. Akan tetapi keadaan memaksa (overmacht)
15Ibid., hal. 6-7.
16Handri Raharjo, Op. cit., hal. 81.
17Ibid.
18Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian, Asas Proporsionalitas Dalam Kontrak Komersil, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 261.
19E.Y. Kanter & S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta: Alumni AHM-PTHM, 1982), hal. 170.
dalam hukum pidana dan keadaan sulit (hardship) dalam hukum perdata tidak menimbulkan akibat hukum untuk memperoleh sanksi.
Kesalahan dalam wanprestasi hanya mengenal kelalaian dan tidak mengenal kesengajaan. Kesalahan dalam melaksanakan perjanjian menurut Buku III KUH Perdata yang diterjemahkan para ahli hukum adalah kelalaian bukan kesengajaan.20 Debitur dinyatakan lalai, jika tidak memenuhi prestasi, terlambat memenuhi prestasi, atau berprestasi tetapi tidak sebagaimana mestinya.21
Debitur wanprestasi jika telah ada pernyataan lalai (in mora stelling, ingebereke stelling) dari kreditur yang disebut dengan peringatan (somatie) tertulis (vide: Pasal 1238 KUH Perdata junto Pasal 1243 KUH Perdata), bukan pernyataan sengaja. Tujuannya agar debitur menetapkan tenggang waktu untuk memenuhi prestasinya.22
Berdasarkan Pasal 1238 KUH Perdata debitur dikatakan lalai jika setelah lewat tenggang waktu yang ditentukan dalam perjanjian untuk melaksanakan isi perjanjian tidak tercapai target sesuai dengan yang disepakati. Ketentuan ini bukan bersifat absolut, melainkan harus pula dikaitkan dengan Pasal 1243 KUH Perdata.23
Pasal 1243 KUH Perdata menentukan syarat kelalaian mengakibatkan wanprestasi debitur. Pasal ini juga menentukan tenggang waktu debitur, jika dalam
20J. Satrio, Wanprestasi Menuruti….Op. cit., hal. 26-35.
21Agus Yudha Hernoko, Op. cit., hal. 261.
22Ibid.
23Muhammad Syaifuddin, Op. cit., hal. 340.
tenggang waktu itu, debitur tidak juga melakukannya setelah kreditur memberikan beberapa kali somasi, barulah kreditur berhak mengajukan gugatan ganti rugi.24
Kelalaian melakukan prestasi berakibat hukum yaitu ganti rugi, tetapi berbeda dengan keadaan mamaksa (force majeure / overmacht) dan keadaan sulit (hardship), wanprestasi karena keadaan memaksa dan keadaan sulit, tidak menimbulkan akibat hukum bagi debitur untuk melakukan ganti rugi jika debitur dapat membuktikan bahwa kondisi tersebut benar-benar terjadi saat perjanjian sedang berlangsung.25
Syarat untuk meniadakan hak menuntut kepada debitur yang wanprestasi jika terjadi force majeure (overmacht) maupun hardship.26Keadaan sulit misalnya karena kondisi krisis perekonomian sehingga mengakibatkan kesulitan melaksanakan perjanjian.27 Kondisi sulit tersebut menurut ketentuan The International Institute for the Unification of Private Law (Unidroit)28 harus dibuktikan dan telah dilakukan langkah-langkah pencegahan tetapi kesulitan itu tetap terjadi.29
24Ibid., hal. 341-344.
25Agus Yudha Hernoko, Op. cit., hal. 270. Keadaan memaksa (force majeure atau overmacht) telah diatur dalam Buku III KUH Perdata yang pengaturannya bersifat fragmentaris (tersebar) dalam beberapa pasal, yaitu Bagian IV tentang Pembagian Biaya, Rugi dan Bunga karena tidak terpenuhinya perikatan (Pasal 1244-1245 KUH Perdata) dan Bagian VII tentang Musnahnya Barang yang Terutang (Pasal 1444-1445 KUH Perdata).
26Ibid.
27Ibid., hal. 281.
28 Sanwani Nasution dan Mahmul Siregar, Hukum Perdagangan Internasional, Modul (Medan: Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, tanpa tahun), hal. 41. Unidroit adalah sebuah lembaga atau organisasi antara Pemerintah negara-negara di dunia yang sifatnya independen. Prinsip-prinsip kontrak perdagangan internasional dalam Pasal 6.2.1.
Unidroit sebagai lembaga internasional yang bertugas untuk penyeragaman undang-undang perdata, menentukan pada Pasal 6.2.1: “apabila pelaksanaan sebuah kontrak terjadi lebih memberatkan salah satu pihak, pihak tersebut tetap terikat untuk melaksanakan kewajibannya dengan tunduk pada ketentuan-ketentuan tentang kesulitan tersebut”.
29Ningrum Natasya Sirait, Transaksi Bisnis Internasional, (Medan: Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana USU, 2005).
Perbuatan melawan hukum dan wanprestasi atas penguasaan tanah dan rumah telah diputuskan (inkrah) dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel., atas Akta Perjanjian Pengikatan Akta Jual Beli (PPAJB) bukanlah disebabkan karena terjadinya force majeure / overmacht maupun hardship yang dialami oleh Tergugat. Tergugat wanprestasi karena lalai melaksanakan janjinya kepada Penggugat. Tergugat melakukan PMH karena tetap menempati tanah dan rumah milik Penggugat secara tidak sah dan tanpa alas hukum, tidak membayar apapun, merubah bentuk rumah, menahan sertifikat asli, dan menghalang-halangi calon pembeli, meskipun perjanjian mereka telah berakhir (batal demi hukum).
Pihak Penggugat dalam perkara ini adalah Iqbal Faruqi anak kandung dari Hidayat Achyar, sedangkan pihak Tergugat adalah Yusril Ihza Mahendra (YIM).
Tergugat YIM telah lama berteman dengan Hidayat Achyar (Ayah Penggugat) sejak mereka masih sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1976 dan sama-sama tinggal di asrama mahasiswa yang sama. Ayah Penggugat adalah pegawai Tergugat di kantor Law Firm IHZA and IHZA dari tahun 2001 sampai Desember 2013.
Hakim dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Selatan Tanggal 22 Agustus 2014 menyatakan Tergugat (YIM) telah melakukan wanprestasi terhadap Perjanjian Pengikatan Akta Jual Beli (PPAJB) Nomor 38 Tanggal 30 Mei 2011 dan menyatakan PPAJB tersebut batal demi hukum sejak tanggal 15 Desember 2011.
Perkara ini menarik dikaji karena perbuatan Tergugat setelah PPAJB batal demi hukum seharusnya mengandung PMH bukan wanprestasi, sebab Tergugat maupun
keluarganya masih tetap menempati, menduduki, menguasai tanah beserta rumah tersebut secara tidak sah dan tanpa alas hukum, tidak membayar apapun, bahkan merubah bentuk rumah, menahan sertifikat asli, dan menghalang-halangi calon pembeli yang ditawarkan oleh Penggugat.
Ada dua perbuatan hukum yang dilakukan Tergugat di dalam gugatan ini, yaitu wanprestasi dan PMH. Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan terhadap kedua-duanya, padahal secara hukum perbuatan Tergugat tidak mengandung wanprestasi terhadap PPAJB Nomor 38 Tanggal 30 Mei 2011 karena sesuai Pasal 2 dan Pasal 3 PPAJB tersebut perjanjian berakhir bila Tergugat (pihak kedua) tidak melakukan pembayaran angsuran dan uang sejumlah Rp.3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) maka dianggap sebagai uang sewa Tergugat mulai tahun 2006 s/d tahun 2011.
Tergugat selain dinyatakan wanprestasi, hakim juga menyatakan Tergugat melakukan PMH sejak tanggal 16 Desember 2011 karena telah menempati tanah dan rumah Penggugat secara tidak sah dan tanpa alas hukum, tidak membayar apapun, merubah bentuk rumah, menahan sertifikat asli tanah dan rumah, menghalang-halangi calon pembeli untuk melihat atau membeli rumah Penggugat.
Tergugat dulunya adalah Pejabat Tinggi Negara, tiga kali menjadi Menteri Kehakiman, dan sekali menjadi Menteri Sekretaris Negara hingga tahun 2007.
Penggugat sebagai anak dari Hidayat Achyar pemilik sah tanah seluas 492m2 yang diatasnya terdapat bangunan rumah seluas ± 650m2(rumah dua lantai) yang terletak di Jalan Karang Asem Utara Blok C Nomor 32 Jakarta Selatan dengan Sertifikat Hak Milik Nomor 249 ditempati oleh Tergugat.
Tergugat saat masih menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) dan menempati rumah dinasnya di Komplek Widya Candra Jakarta, resmi bercerai dengan istri pertamanya tanggal 4 April 2006 kemudian menghibahkan sebagian besar tanah dan rumah termasuk rumah mewahnya seluas ± 1,8 hektar yang berada di Kp. Gunung Utara, RT/RW 005/011, Cireundeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan.
Tergugat menikah lagi dengan seorang wanita warga negara Philipina bernama Rika Kato pada tanggal 16 September 2006.
Tergugat kemudian meminjam rumah Penggugat dan berjanji secara lisan kepada Ayah Penggugat dalam waktu dekat di tahun 2006 itu juga akan membeli dengan harga pasaran yang wajar dalam Akta Jual Beli (AJB). Tergugat mulai menguasai rumah “Penggugat tanpa perjanjian apapun dengan Penggugat pada bulan Oktober 2006”. Tergugat melakukan renovasi-renovasi dan mengubah posisi kamar- kamar, posisi tangga, kamar mandi, kolam ikan, kamar lantai dua dan lain-lain sesuka-sukanya dengan seleranya sendiri sehingga berbeda dengan gambar semula, semua itu tanpa seizin Penggugat dan tanpa IMB dari pemerintah DKI Jakarta.
Sepanjang tahun 2006 berjalan dan selesai, ternyata selama tahun 2006 tersebut, Tergugat tidak juga melakukan Akta Jual beli (AJB) yang ia janjikan.
Tergugat pada tanggal 9 Mei 2007 Tergugat diberhentikan dari jabatan Mensesneg.
Pemberhentian Tergugat dari Mensegneg berdampak buruk bagi perekonomiannya.
Selama tahun 2007 Tergugat belum juga melakukan transaksi AJB, hingga tahun 2008, 2009 dan 2010 masih tetap menempati, menduduki, serta menikmati rumah tersebut bersama keluarganya.
Tergugat kemudian di bulan September 2010 memenangkan gugatan terhadap Jaksa Agung Hendarman Supanji di Mahkamah Konstitusi membuat usaha Advokatnya kembali diperhitungkan dan perekonomiannya semakin membaik bahkan semakin kaya. Meskipun Tergugat kaya dan sudah mampu untuk melakukan AJB, namun ia lupa dengan janjinya di tahun 2006 kepada Ayah Penggugat untuk melakukan AJB atas tanah dan rumah tersebut.
Sekitar bulan Maret, April sampai Mei tahun 2011 (lima tahun setelah menempati dan menikmati tanah dan rumah), Tergugat selalu mendesak Ayah Penggugat untuk melakukan AJB, namun ternyata di tanggal 30 Mei 2011 yang dibuat justru bukan AJB di depan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), akan tetapi hanya PPAJB Nomor 38 Tanggal 30 Mei 2011 yang dibuat di hadapan Notaris Hadijah. PPAJB tersebut terpaksa Penggugat tanda tangani karena menghormati keputusan Ayah Penggugat, bukan keinginan murni Penggugat sebagai Penjual.
Harga yang ditentukan di dalam PPAJB tersebut diberi keringanan oleh Ayah Penggugat dengan harga yang sangat rendah yaitu sebesar Rp.12.000.000.000,- (dua belas milyar rupiah) dan juga diberi keringanan dengan cara mengangsur. Sebanyak Rp.3.000.000.000,- (tiga milyar lima ratus juta rupiah) dibayar Tergugat sebelum dan saat PPAJB ditandatangani kedua belah pihak, sedangkan sisanya Rp.9.000.000.000,- (sembilan milyar rupiah) akan dibayar oleh Tergugat kepada Ayah Penggugat secara mengangsur selambat-lambatnya tanggal 15 Desember 2011.30
30Pasal 2 PPJB menentukan sebagai berikut:
Ayah Penggugat telah memberikan keringanan kepada Tergugat, dan sudah sangat baik hati dengan memberi keringanan harga sebesar Rp.12.000.000.000,- (dua belas milyar rupiah),31lagi pula pembayarannya secara angsuran.32Tergugat dengan keringanan yang sudah diberikan itu, tidak juga melunasi sesuai kesepakatan dalam PPAJB, hingga PPAJB menjadi batal demi hukum, dan harga Rp.3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) dianggap sebagai ganti rugi atau kompensansi atau sebagai uang sewa Tergugat mulai tahun 2006 sampai tahun 2011.
Berdasarkan Pasal 3 PPAJB, perjanjian tersebut menjadi batal demi hukum.33 Oleh karena PPAJB sudah batal demi hukum, maka ketentuan ini harus dipatuhi oleh
Harga penjualan dan pembelian dari tanah dan bangunan yang akan dilakukan jual belinya itu kelak di kemudian hari antara kedua belah pihak ditetapkan sekarang ini untuk di kemudian hari oleh kedua belah pihak sebesar Rp.12.000.000.000,- (dua belas milyar rupiah) dari jumlah uang tersebut:
a. Sebesar Rp.1.500.000.000,- (satu milyar lima ratus juta rupiah) telah dibayar oleh pihak kedua kepada pihak pertama sebelum penandatanganan akta ini, dan untuk penerimaan sejumlah uang tersebut pihak pertama telah memberikan kwitansi tersendiri di luar akta ini;
b. Sebesar Rp.1.500.000.000,- (satu milyar lima ratus juta rupiah) dibayar oleh pihak kedua kepada pihak pertama pada saat penandatanganan akta ini, dan untuk penerimaan sejumlah uang tersebut pihak pertama menerangkan akta ini berlaku juga sebagai tanda penerima (kwitansinya) yang sah;
c. Sisanya sebesar Rp.9.000.000.000,- (sembilan milyar rupiah) akan dibayar oleh pihak kedua kepada pihak pertama secara mengangsur, selambat-lambatnya sampai dengan tanggal 15 Desember 2011 dan untuk penerimaan sejumlah uang tersebut pihak pertama akan memberikan kwitansi tersendiri di luar akta ini.
31 Harga Rp.12.000.000.000,- (dua belas milyar rupiah) yang terpaksa Penggugat setujui tersebut sudah sangat murah padahal taksiran Appraisal Independen atas tanah dan rumah tersebut di tahun 2011 adalah sebesar Rp.25.000.000.000,- (dua puluh lima milyar rupiah) sampai dengan Rp.28.000.000.000,- (dua puluh delapan milyar rupiah).
32Sebanyak Rp.3.000.000.000,- (tiga milyar lima ratus juta rupiah) dibayar Tergugat sebelum dan saat PPJB ditandatangani kedua belah pihak, sisanya Rp.9.000.000.000,- (sembilan milyar rupiah) akan dibayar oleh Tergugat kepada Ayah Penggugat secara mengangsur selambat-lambatnya tanggal 15 Desember 2011.
33Pasal 3 PPJB menentukan:
Apabila pihak kedua tidak dapat melunaskan harga pembelian tanah dan bangunan sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 sub c tersebut di atas, maka uang yang telah diterima oleh pihak pertama dari pihak kedua tetap menjadi milik pihak pertama sepenuhnya, sebagai kompensasi atas kelalaian pihak kedua dan uang sejumlah tersebut dianggap sebagai uang sewa selama pihak kedua menempati tanah dan bangunan tersebut dengan harga sewa yang
Tergugat maupun Penggugat. Sebagaimana Pasal 1338 KUH Perdata menentukan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Suatu perjanjian yang dilaksanakan dengan itikad baik tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.
Meskipun PPAJB telah batal demi hukum dan harga Rp.3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) dianggap sebagai uang sewa Tergugat mulai tahun 2006 s/d tahun 2011, namun Tergugat masih tetap menempati tanah dan rumah milik Penggugat, tidak ada kepastian hukum dari Tergugat untuk membeli tanah dan rumah Penggugat.
Tergugat hanya mementingkan dirinya sendiri dan keluarganya sendiri, sementara pihak Penggugat sangat memerlukan uang untuk menjual rumah tersebut.
PPAJB tersebut telah batal demi hukum, sehingga penempatan rumah milik Penggugat oleh Tergugat sejak tanggal 16 Desember 2011 hingga saat diajukannya gugatan ini dan seterusnya, Tergugat tanpa alas hak, melawan hukum dan tidak sah, masih tetap menempati tanah dan rumah milik Penggugat. Tergugat juga ternyata tidak membayar Notaris dalam pembuatan PPAJB, juga tidak membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) objek perkara sejak tahun 2006 s/d 2013, sehingga Penggugat harus melunasi sendiri semua kewajiban tersebut.
PMH yang juga dilakukan Tergugat adalah menahan (menyandra) atau menggelapkan sertifikat asli rumah milik Penggugat dengan maksud untuk
disepakati antara pihak pertama dan pihak kedua, dan perjanjian ini menjadi batal demi hukum.
menguasai, memiliki secara tidak sah dengan tujuan agar Penggugat tidak dapat menjual rumah Penggugat kepada pihak lain. Calon pembeli selalu dihalang-halangi masuk oleh pihak Tergugat, padahal Penggugat adalah pemilik sah atas rumah yang masih ditempati dan dikuasai oleh Tergugat.
Penggugat pernah menjaminkan sertifikat rumah tersebut kepada pihak ketiga dengan nilai Rp.15.000.000.000,- (lima belas milyar rupiah) sehubungan karena PPAJB telah batal demi hukum. Begitu Tergugat mengetahui sertifikat rumah tersebut dijaminkan kepada pihak ketiga, Tergugat menyuruh anaknya yaitu Yuri Kemal Mahendra untuk menebus sebesar Rp.9.000.000.000 (sembilan milyar rupiah) kemudian menahan sertifikat asli rumah Penggugat dengan maksud untuk menguasai, memiliki secara tidak sah dengan tujuan agar Penggugat tidak dapat menjual rumah Penggugat kepada pihak lain.
Perbuatan Tergugat yang menghuni menempati tanah dan rumah setelah PPAJB batal demi hukum merupakan perbuatan yang tidak sah menurut hukum, penyandraan sertifikat asli tanah dan rumah, pelarangan para calon pembeli tanah dan rumah yang direkomendasikan oleh Penggugat untuk melihat kondisi rumah, termasuk penghunian atau penempatan tanah dan rumah tanpa alas hak, tanpa membayar sama sekali, itu semua merupakan PMH.
Berdasarkan uraian tersebut di atas menarik untuk dilakukan pengkajian terhadap perkara ini sebab ada dua perbuatan hukum yang dilakukan Tergugat, yaitu wanprestasi dan PMH. Padahal secara hukum perbuatan Tergugat tidak mengandung wanprestasi terhadap PPAJB Nomor 38 Tanggal 30 Mei 2011 karena sesuai Pasal 2
dan Pasal 3 PPAJB tersebut perjanjian berakhir bila Tergugat (pihak kedua) tidak melakukan pembayaran angsuran dan uang sejumlah Rp.3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) dianggap sebagai uang sewa Tergugat mulai tahun 2006 s/d tahun 2011.
Perbuatan Tergugat seharusnya mengandung PMH bukan wanprestasi. Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili perkara ini dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel., menyatakan Tergugat wanprestasi terhadap PPAJB Nomor 38 Tanggal 30 Mei 2011 dan menyatakan PPAJB tersebut batal demi hukum sejak tanggal 15 Desember 2011.
Hakim juga menyatakan Tergugat melakukan PMH sejak tanggal 16 Desember 2011 karena telah menempati tanah dan rumah Penggugat secara tidak sah dan tanpa alas hukum, tidak membayar apapun, merubah bentuk rumah, menyandera sertifikat asli tanah dan rumah, menghalang-halangi calon pembeli untuk melihat atau membeli rumah Penggugat.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas menjadi alasan-alasan untuk melakukan pengkajian dalam penelitian ilmiah, sehingga dirumuskan permasalahan yang akan dibahas adalah:
1. Bagaimanakah kontruksi perbuatan melawan hukum dan wanprestasi menurut ketentuan hukum yang berlaku di bidang hukum perdata?
2. Bagaimanakah pertimbangan hakim atas makna perbuatan melawan hukum dan wanprestasi dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel.?
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini dilakukan adalah:
1. Untuk menjelaskan kontruksi perbuatan melawan hukum dan wanprestasi menurut ketentuan hukum yang berlaku di bidang hukum perdata.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hakim atas makna perbuatan melawan hukum dan wanprestasi dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun manfaat praktis, manfaat tersebut adalah:
1. Secara teoretis penelitian ini bermanfaat membuka paradigma berfikir dalam memahami permasalahan mengenai wanprestasi terkait PPAJB dan perbuatan melawan hukum atas penguasaan tanah dan rumah sekaligus mampu membedakannya. Bermanfaat bagi kalangan akademisi, dan dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian.
2. Secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi masyarakat khususnya bagi orang perorangan maupun badan hukum yang menghadapi perkara yang mirip dengan perkara ini. Bermanfaat bagi advokat/pengacara menambah wawasan terkait dengan perjanjian, wanprestasi, dan PMH, bermanfaat bagi hakim-hakim pengadilan dalam memeriksa, mengadili, dan memutus perkara yang berkenaan dengan wanprestasi dan PMH.
E. Keaslian Penelitian
Sebelumnya telah dilakukan penelusuran terhadap karya-karya ilmiah milik orang lain di perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) dan di perpustakaan Pascasarjana Magister Ilmu Hukum USU, bertujuan agar terhindar dari perbuatan menduplikasi (plagiat) terhadap karya ilmiah (tesis) milik orang lain. Berdasarkan hasil dari penelusuran ditemukan judul dan permasalahan tesis sebagai berikut:
1. Nurhayati, NIM: 097011046, judul: “Wanprestasi Dalam Perjanjian Pemborongan Kerja Milik Pemerintah Antara CV Dina Utama Dengan Dinas Penataan Ruang dan Pemukiman Provinsi Sumatera Utara”. Fokus kajian dalam penelitian ini membahas mengenai wanprestasi dalam perjanjian saja.
2. Hanna Mandela, NIM: 137011003, judul: “Pertanggungjawaban Notaris/PPAT Terhadap Akta Jual Beli Tanah Yang Mengandung Cacat Hukum Materil Ditinjau Dari Hukum Pidana (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 126/Pid/B/PN.Dumai). Fokus kajian dalam penelitian ini membahas tanggung jawab notaris yang membuat AJB.
3. Sugirhot Marbun, NIM: 127005027, judul: “Perbedaan Antara Wanprestasi dan Delik Penipuan Dalam Hubungan Perjanjian”. Fokus kajian perbedaan antara wanprestasi dengan perbuatan pidana dalam perjanjian yakni penipuan dalam perjanjian.
Berdasarkan penelitian yang ditemukan di atas tidak satupun yang memiliki kemiripan judul maupun permasalahan di dalam penelitian ini. Judul penelitian ini adalah “Wanprestasi Atas Dalam Perjanjian Pengikatan Akta Jual Beli (PPAJB)
(Studi Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel.)”, dengan permasalahan yang dibahas adalah tentang:
1. Bagaimanakah kontruksi perbuatan melawan hukum dan wanprestasi menurut ketentuan hukum yang berlaku di bidang hukum perdata?
2. Bagaimanakah pertimbangan hakim atas makna perbuatan melawan hukum dan wanprestasi dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel.?
Berdasarkan rumusan permasalahan tersebut jelas tampak perbedaannya dengan penelitian terdahulu dimana fokus penelitian ini membahas tentang perbedaan antara perbuatan melawan hukum dan wanprestasi serta penerapannya di dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Selatan.
Oleh karena terdapat perbedaan judul maupun permasahalan dari penelitian- penelitian terdahulu dan tidak mengandung kesamaan (identik) dengan judul dan permasalahan dengan fokus kajian ini, maka penelitian ini adalah asli (original), bukan plagiat. Baik judul maupun rumusan masalah dalam penelitian ini tidak memiliki kemiripan dengan judul dan permasalahan penelitian sebelumnya, sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan originalisasi substantifnya.
F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori yang digunakan untuk menganalisis permasalahan di dalam penelitian ini adalah teori perjanjian dan teori PMH. Teori perjanjian digunakan untuk menganalisis perbuatan wanprestasi yang dilakukan oleh Tergugat, sedangkan teori
PMH digunakan untuk menganalisis bentuk-bentuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Tergugat.
a. Teori perjanjian
Perjanjian menurut R. Wirjono Prodjodikoro adalah hubungan hukum antara dua orang atau lebih yang didasarkan pada kata sepakat mengenai suatu hal dengan tujuan untuk menimbulkan akibat hukum.34Perjanjian memiliki unsur:35
1) Hubungan hukum antara kedua belah pihak.
2) Adanya subjek hukum.
3) Hubungan hukum didasarkan pada kata sepakat.
4) Harus ada objek yang harus diperjanjikan.
5) Tujuannya menimbulkan akibat hukum.
Perjanjian memiliki hubungan hukum di bidang harta kekayaan yang didasari kata sepakat antara subjek hukum yang satu dengan yang lain, dan di antara mereka (para pihak/subjek hukum) saling mengikatkan dirinya sehingga subjek hukum yang satu berhak atas prestasi dan begitu juga dengan subjek hukum yang lain berkewajiban melaksanakan prestasinya sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati para pihak tersebut serta menimbulkan akibat hukum.36
Pihak yang satu menawarkan (offeror) dan pihak yang lain yang menerima (acceptance) penawaran disebut offeree. Penawaran dan penerimaan terjadi pada saat
34R. Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Perjanjian, (Bandung: Mandar Maju, 2011), hal. 7. Lihat juga: Handri Raharjo, Op. cit., hal. 42.
35Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata Dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta: Kencana, 2008), hal. 222.
36Handri Raharjo, Op. cit., hal. 42.
momentum kesepakatan terbentuk atas objek yang diperjanjikan sehingga melahirkan hak dan kewajiban yang mengikat bagi para pihak.37
Hak dan kewajiban tersebut memberikan suatu kepastian untuk menjalankan isi perjanjian. Apabila salah satu pihak tidak menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan isi perjanjian, maka pihak yang tidak menjalankan disebut wanprestasi.38 Hal ini berbeda dengan PMH yang dilahirkan bukan karena pelanggaran terhadap hak dan kewajiban dalam perjanjian/kontrak melainkan tidak melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh undang-undang atau putusan pengadilan.
Pembentukan kontrak/perjanjian diawali dengan adanya penawaran (offer) dari pihak yang menawarkan (offeror) berjanji untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan tertentu bila pihak yang lain (offeree) bersedia untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan tertentu tersebut.39 Tidak akan tercipta suatu perjanjian/kontrak apabila penawaran (offer) tidak bisa diterima. Dengan demikian proses kontrak melalui suatu proses para pihak antara pihak yang menawarkan (offeror) dan pihak yang ditawari (offeree), kemudian disusul dengan diterimanya penawaran oleh yang ditawari sehingga terbentuklah kesepakatan.40
Suatu perjanjian akan mengikat keinginan para pihak yang menginginkannya bila terjadi kesepakatan. Para pihak sendirilah yang menyatakan kehendaknya untuk
37Munir Fuady, Hukum Kontrak…Op. cit., hal. 49.
38Titik Triwulan Tutik, Op. cit., hal. 223.
39Bayu Seto Hardjowahono, Naskah Akademik Rancangan Undang Undang Hukum Kontrak, (Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI, 2013), hal. 19.
40Sri Soesilowati Mahdi, Surini Ahlan Sjarif, dan Akhmad Budi Cahyono, Hukum Perdata (Suatu Pengantar), (Jakarta: Gitama Jaya, Jakarta, 2005), hal. 150.
mengikatkan diri.41 Kata sepakat antara subjek terjadi secara disadari, sehingga masing-masing subjek hukum berhak atas prestasi dan sama-sama berkewajiban untuk melaksanakan prestasi sesuai kesepakatan para pihak.42
Bilamana seseorang berjanji akan melaksanakan sesuatu, maka janji itu secara hukum ditujukan kepada orang lain.43 Terdapatnya hubungan hukum antara orang- orang dalam kesepakatan tersebut.44 Kehendak itu harus diberitahukan pada pihak lain, baik secara lisan maupun tertulis, bahkan dengan bahasa isyarat sekalipun atau dengan cara membisu tetap dapat terjadi kesepakatan.45
Berjanji sesuatu berarti mengikatkan diri secara membebankan pada diri sendiri suatu kewajiban untuk melaksanakan sesuatu.46 Berarti perjanjian menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pihak. Perikatan yang lahir dari perjanjian memang dikehendaki oleh dua orang atau lebih yang membuat suatu perjanjian.47 Terbentuknya hak dan kewajiban dalam suatu kesepakatan merupakan kehendak dan pilihan bebas dari para pihak untuk menentukannya.
41 Huala Adolf, Dasar-dasar Hukum Kontrak Internasional, (Bandung: Refika Aditama, 2007), hal. 18.
42 Hardijan Rusli, Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law, Cet. Kedua, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1996), hal. 41-42.
43R. Wirjono Prodjodikoro, Op. cit, hal. 7-8.
44Pemenuhan kewajiban atas suatu kesepakatan, misalnya contoh seorang A dan seorang B membuat perjanjian jual-beli bilamana A adalah penjual dan B adalah pembeli serta barang yang dibeli adalah lemari tertentu yang berada di dalam rumah penjual A. Harga pembelian sudah dibayar, tetapi sebelum lemari diserahkan kepada B, ada pencuri yang mengambil lemari tersebut, sehingga lemari tersebut berada di tangan seorang C. Dalam contoh ini B tetap berhak menuntut kewajiban A untuk menyerahkan lemari itu kepada B, dan A tidak dapat beralasan tidak bisa menyerahkannya karena lemari tersebut dicuri oleh C kepada B, kecuali sesuatu hal yang disebabkan oleh kejadian alam yang tak terduga oleh kemampuan berfikir manusia.
45Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, (Yogyakarta: Liberty, 2004), hal. 98.
46Ibid., hal. 42.
47R. Subekti, Hukum Perjanjian, (Bandung: Intermasa, 1979), hal. 3.
Teori perjanjian berkarakter menekankan pentingnya kepastian hukum (legal certainty) dan prediksi (predictability).48 Fungsi utama perjanjian memberikan kepastian hukum bagi para pihak. Kepastian harus sesuai perumusan norma dan prinsip-prinsip hukum, dan kepastian dalam melaksanakan norma-norma dan prinsip- prinsip hukum tersebut.49
Teori perjanjian modern justru cenderung mengabaikan formalitas kepastian hukum demi tercapainya keadilan yang substansial.50 Akan tetapi mengecualikan keberlakuan doktrin consideration dan penerapan doktrin promissory estoppel serta asas itikad baik merupakan contoh dari teori perjanjian modern. Doktrin consideration adalah kesepakatan berupa prestasi atau janji dalam suatu perjanjian / kontrak yang dapat mengakibatkan suatu kontrak tidak dapat dituntut pemenuhannya secara hukum karena alasan yang sifatnya teknis.51
Doktrin promissory estoppel adalah doktrin untuk yang melarang seseorang sekaligus mencegah seseorang pemberi janji (promisor) untuk menarik kembali janjinya setelah mereka membuat consideration (kesepakatan). Penerima janji (promisee) karena telah percaya pada janji tersebut, akan melakukan sesuatu perbuatan atau tidak berbuat sesuatu, sehingga promisee akan menderita kerugian jika promisor diperkenankan untuk menarik janjinya.52
48Suharnoko, Op. cit., hal. 23.
49Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia, (Bandung: Alumni, 2004), hal. 117.
50Suharnoko, Loc. cit.
51Ibid.
52Ibid., hal. 13.
Pengadilan di Inggris dan Amerika Serikat membuat doktrin promissory estoppel untuk memberi kekuatan terhadap doktrin consideration.53 Consideration dan promissory estoppel merupakan dua prinsip dasar hukum perjanjian dalam tradisi common law. Suatu janji tanpa consideration tidak mengikat dan tidak dapat dituntut pelaksanaannya. Suatu janji untuk memberikan sesuatu secara cuma-cuma seperti hibah tidak mengikat karena tidak ada consideration sebagai kontra prestasi berupa janji, harga, atau perbuatan. Penerapan doktrin consideration dapat berakibat suatu janji tidak dapat dituntut pemenuhannya secara hukum karena alasan yang sifatnya teknis.54
Pasal 1313 KUH Perdata menentukan perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Pengikatan dalam suatu janji menurut perspektif hukum perdata dikenal dengan istilah verbintenis, yang meliputi tiga terjemahan yaitu perikatan, perutangan, dan perjanjian. Sedangkan overeenskomst mengandung dua terjemahan yaitu perjanjian dan persetujuan. Overeenskomst inilah yang diterjemahkan sebagai perjanjian.55
Syarat-syarat sahnya suatu perjanjian dirumuskan secara normatif di dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Sahnya suatu perjanjian harus memenuhi kata sepakat bagi mereka yang mengikatkan diri, kecakapan untuk membuat perjanjian, sesuatu hal tertentu, dan sesuatu sebab yang diperbolehkan oleh hukum. Syarat pertama dan
53Ibid.
54Ibid.
55Handri Raharjo, Op. Cit., hal. 41.
kedua merupakan syarat subjektif sedangkan dua syarat yang terakhir merupakan syarat objektif.56
Jika tidak terpenuhi syarat subjektif, maka perjanjian itu dapat dibatalkan. Jika tidak terpenuhi syarat objektif, maka perjanjian batal demi hukum.57 Kecakapan merupakan unsur subjektif sahnya perjanjian. Orang dewasa dan sehat akalnya merupakan orang yang cakap menurut hukum.58
Teori kesepakatan melahirkan sebuah asas terpenting yaitu asas kebebasan berkontrak (freedom of contract) dari para pihak untuk menentukan apa saja yang akan disepakati ditentukan secara bebas untuk membuat perjanjian dengan bentuk dan format apapun serta substansinya sesuai kehendak para pihak.59
Asas kebebasan berkontrak dilatarbelakangi oleh paham individualisme yang secara embrional lahir di zaman Yunani, diteruskan oleh kaum Epicuristen dan berkembang pesat di zaman renaissance melalui ajaran-ajaran Hugo de Grecht, Thomas Hobbes, John Locke dan J.J. Rosseau.60 Mencapai puncaknya setelah revolusi Perancis muncul bersamaan dengan lahirnya paham ekonomi klasik yang menggunakan persaingan bebas (laissez faire).61
Segala sesuatu yang telah disepakati, disetujui oleh para pihak harus dilaksanakan mereka sebagaimana telah dikehendakinya. Jika salah satu pihak
56 Yahman, Karakteristik Wanprestasi & Tindak Pidana Penipuan Yang Lahir Dari hubungan Kontraktual, (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2011), hal. 31.
57Ibid., hal. 32.
58Subekti, Op. cit., hal. 17.
59Agus Yudha Hernoko, Op. Cit., hal. 110.
60Salim H.S., Hukum Kontrak: Teori & Teknik Penyusunan Kontrak, Cet. II, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), hal. 9.
61Agus Yudha Hernoko, Op. cit., hal. 108.
melakukan wanprestasi (ingkar janji), maka pihak lain berhak untuk melakukan gugatan atau tuntutan untuk memeroleh haknya melalui mekanisme dan jalur hukum yang berlaku.62
Jika prestasi tidak dilaksanakan maka ia disebut ingkar janji (wanprestasi) dan bagi pihak yang melanggar memperoleh sanksi sebagai akibat pelanggaran itu berupa ganti rugi yang dialami mitranya sebagai akibat dari wanpretasi.63Perjanjian menjadi jembatan bagi para pihak dalam aktivitas dagang / bisnis. Oleh karena itu, perjanjian menjadi suatu sumber hukum yang penting dalam pembangunan hukum.64
Kadang-kadang wanprestasi dalam suatu perjanjian bisa mengarah pada perbuatan melawan hukum dan bahkan bisa diajukan gugatannya secara bersamaan di sidang pengadilan. Gugatan wanprestasi dikabulkan oleh hakim pengadilan dan gugatan PMH juga dikabulkan.
Wanprestasi dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel., terkait dengan adanya ingkar janji atas PPAJB padahal ketentuan di Pasal 2 dan Pasal 3 PPAJB tersebut telah menentukan perjanjian itu batal demi hukum jika pihak kedua (Tergugat) tidak dapat melaksanakan kewajibannya. Sedangkan PMH dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel., terkait dengan perbuatan Tergugat yang menempati tanah dan rumah milik Penggugat secara tidak sah dan tanpa alas hukum,
62 Gunawan Widjaja & Kartini Muljadi, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, (Jakarta:
RajaGrafinda Persada, 2003), hal. 59.
63Pasal 1243 KUH Perdata, wanprestasi atau lalai dalam melaksanakan kewajiban (prestasi) yang telah disepakati dalam perjanjian.
64 Ricardo Simanjuntak, “Asas-Asas Utama Hukum Kontrak Dalam Kontrak Dagang Internasional: Sebuah Tinjauan Hukum”, Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 27, No. 24, Tahun 2008, hal. 43.
tidak membayar apapun, merubah bentuk rumah, menyandera sertifikat asli, dan menghalang-halangi calon pembeli.
b. Teori perbuatan melawan hukum
Alasan menggunakan teori Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dalam kajian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan dalam perkara a quo. Tergugat dinyatakan melakukan PMH sejak tanggal 16 Desember 2011 karena telah menempati tanah dan rumah Penggugat secara tidak sah dan tanpa alas hukum, tidak membayar apapun, merubah bentuk rumah, menyandera sertifikat asli tanah dan rumah, menghalang-halangi calon pembeli untuk melihat atau membeli rumah Penggugat. Akan dijelaskan tentang apa yang dimaksud dengan PMH dari sudut pandang teoritisi dan doktrin-doktrin para ahli, termasuk asas-asas hukum dan prinsip-prinsip hukum serta norma-norma hukum.
PMH dalam hukum perdata disebut dengan istilah onrechtmatige daad. Dasar hukumnya adalah Pasal 1365 KUH Perdata. Onrechtmatige daad sebenarnya sudah dikenal sejak menusia mengenal hukum dan telah dimuat dalam kitab hukum tertua yang pernah dikenal dalam sejarah Kitab Hukum Hammurabi. Dalam kitab tersebut diatur mengenai akibat hukum sesorang yang melakukan perbuatan tertentu yang sebenarnya tergolong dalam perbuatan melawan hukum.
Perkembangan onrechtmatige daad mengalami perubahan dalam tiga periode.65 Perkembangannya di Belanda memengaruhi di lndonesia karena kaidah
65Ujang Abdullah, “Perbuatan Melawan Hukum Oleh Penguasa”, Makalah yang disampaikan dalam Bimbingan Teknis Peradilan Tata Usaha Negara Pemerintah Propinsi Lampung, Tanggal 13-
hukum Belanda berlaku bagi negeri jajahannya berdasarkan asas konkordansi di Indonesia. Makna onrechtmatige daad didasarkan pada perkembangan yang memperluas maknanya dari arti sempit (dalan undang-undang) menjadi arti lebih luas (di luar undang-undang yang menyangkut asas-asas). PMH yang diperluas telah dianut dalam doktrin maupun dalam yurisprudensi setelah peristiwa perkara Lindenbaum melawan Cohen (HR 31 Januari 1919, N.J. 1919, 161).66
Konsep onrechtmatig daad meliputi perbuatan yang melanggar hak subjektif orang lain, melanggar kewajiban hukumnya sendiri (sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang), melanggar etika pergaulan hidup (goede zeden), dan melanggar kewajibannya sebagai anggota masyarakat dalam pergaulan hidup.67 Konsep onrechtmatig daad menyangkut perbuatan melawan undang-undang dan perbuatan yang melanggar norma-norma atau asas-asas yang berlaku dan dijunjung tinggi dalam
14 Juli 2005, hal. 1-2. Dalam perkembangannya pengertian onrechtmatige daad mengalami perubahan dalam tiga periode berikut:
a. Periode sebelum tahun 1838. Pada periode ini di negeri Belanda belum terbentuk kodifikasi Burgerlijk Wetboek (BW), sehingga pelaksanaan perlindungan hukum terhadap perbuatan melawan hukum belum jelas dan belum terarah.
b. Periode antara tahun 1838 -1919. Pada periode ini di negeri Belanda telah terbentuk kodifikasi BW, sehingga berlakulah ketentuan pasal 1401 BW yang sama dengan ketentuan 1365 KUH Perdata mengenai onrechtmatige daad yang ditafsirkan sebagai berbuat sesuatu (aktif) maupunn tidak berbuat sesuatu (pasif) yang merugikan orang lain baik yang disengaja maupun yang merupakan kelalaian sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Pasal 1366 KUH Perdata.
c. Periode setelah tahun 1919. Pada periode ini merupakan dasar dan permulaan pengertian baru onrechtmatige daad dan sekaligus merupakan koreksi terhadap paham kodifikasi yang sempit dan ajaran legisme yang hanya memandang aturan tertulis atau kebiasaan yang diakui tertulis sebagai hukum. Perubahan yang terjadi adalah dengan diterimanya penafsiran luas tentang pengertian perbuatan melawan hukum oleh Hoge Raad (Mahkamah Agung) di Belanda terhadap kasus Lindenbaum Versus Cohen.
66J. Satrio, Wanprestasi Menuruti….Loc. cit.
67Ibid.
pergaulan hidup dalam masyarakat. Melanggar asas kepatutan dan kesusialaan yang ada di masyarakat dalam pergaulan hidup juga termasuk sebagai PMH.
Semula pengertian onrechtmatige daad menurut Suharnoko diartikan secara sempit sebagaimana dalam Pasal 1365 KUH Perdata, namun setelah Hoge Raad dalam kasus yang terkenal yaitu Lindenbaum melawan Cohen memperluas makna onrechtmatige daad bukan saja hanya dalam Pasal 1365 KUH Perdata (dalam undang-undang), tetapi juga setiap perbuatan yang melanggar asas kepatutan, asas kehati-hatian, dan asas kesusilaan dalam hubungan antar sesama warga masyarakat dan terhadap benda milik orang lain.68
Kasus Lindenbaum vs. Cohen menyangkut persaingan tidak sehat dalam dunia bisnis, di mana perusahaan Lindenbaum dan Perusahaan Cohen saling bersaing di bidang percetakan. Perusahaan Cohen dengan maksud menarik pelanggan Lindenbaum memberikan berbagai macam hadiah kepada pegawai Lindenbaum agar pegawainya memberitahukan kepada perusanaan Cohen salinan dari penawaran- penawaran yang dilakukan Lindenbaum kepada masyarakat serta memberitahu nama orang-orang yang mengajukan order kepadanya, strategi ini kemudian diketahui dan Lindenbaum mengajukan gugatan ke Pengadilan Amsterdam.69
Pengadilan Amsterdam yang memeriksa memutuskan perbuatan perusahaan Cohen merupakan PMH. Meskipun di tingkat banding perusahaan Cohen menang karena tidak ada satu pasal pun dari peraturan perundang-undangan yang berlaku
68Suharnoko, Op. Cit., hal. 121.
69Ujang Abdullah, Loc. cit.
dilanggar perusahaan Cohen, akan tetapi ditingkat kasasi Hoge Raad perusahaan Cohen dinyatakan melakukan PMH, karena PMH bukan hanya melakukan pelanggaran undang-undang tertulis tetapi juga meliputi perbuatan yang melanggar hak orang lain yang dijamin hukum, bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku, bertentangan dengan kesusilaan, dan bertentangan dengan sikap yang baik dalam kehidupan masyarakat untuk memperhatikan kepentingan orang lain.70
Sejak putusan Hege Raad di Belanda terkait kasus Lindenbaum vs. Cohen, menjadi yurisprudensi di Belanda dan membawa dampak perluasan pengertian PMH dalam konteks onrechtmatige daad tidak lagi hanya meliputi perbuatan yang bertentangan dengan pasal-pasal yang ada di dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku tetapi PMH juga termasuk perbuatan yang melanggar asas kepatutan, asas kehati-hatian, dan asas kesusilaan dalam hubungan antar sesama warga masyarakat dan terhadap benda milik orang lain.
Hak milik sama dengan property yang berarti milik, harta benda, dan kekayaan. Hak milik adalah hak manusia tertinggi untuk memiliki sesuatu (the highest right men have anything) Hak milik sebagai hak eksklusif untuk mengontrol barang ekonomi yang baik (an exclusive right to control an economic good).71
Hak milik merupakan atribut pribadi (property can mean either object- property, what Radin calls fungible property or it can mean atribute property, what
70Ibid., hal. 3.
71LB. Curzon, Land Law, (Great Britain: Pearson Education Limited, 1999), hal. 8.
she calls personal or constitutive property). Hak milik hanya dibagi dan dipergunakan untuk pemiliknya (right also for the ownership of a wide variety).72
Teori hak milik menghendaki penggunaan akan suatu barang miliknya hanya boleh digunakan oleh dirinya sendiri, kecuali ada transaksi lain atau kuasa dari pemilik. Semakin tinggi nilai hak suatu hak milik atau benda maka semakin tinggi pula penghargaan yang diberikan terhadap benda tersebut.73
Asas penting dalam kepemilikan hak menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat mengalihkan atau memberikan sesuatu kepada orang lain melebihi hak miliknya atau apa yang dia punyai (nemo plus juris transfere potest quam ipse habet).
Asas ini menegaskan pula bahwa tidak seorang pun bisa mengubah milik orang lain bagi dirinya atau kepentingan pihaknya sendiri, melainkan tujuan dari penggunaan objek miliknya (nemo sibi ipse causam possessionis mutare potest).74
Hakim dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel., menyatakan Tergugat melakukan PMH sejak tanggal 16 Desember 2011 karena telah menempati tanah dan rumah Penggugat secara tidak sah dan tanpa alas hukum, tidak membayar apapun, merubah bentuk rumah, menyandera sertifikat asli tanah dan rumah, menghalang-halangi calon pembeli untuk melihat atau membeli rumah Penggugat.
Perbuatan-perbuatan demikian ini adalah pelanggaran hak orang lain.
72 Adrian Sutedi, Peralihan Hak Atas Tanah dan Pendaftarannya, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 6-7.
73Ibid., hal. 7.
74 Ridwan Halim, Bendera Mimbar Filsafat Hukum Indonesia, (Jakarta: Angky Pelita Studyways, 2001), hal. 170.
Pelanggaran terhadap hak milik orang lain, menempati tanah dan rumah seseorang secara tidak sah dan tanpa alas hukum, tidak membayar apapun kewajibannya, merubah bentuk rumah yang ia tempati tanpa izin yang pemilik, menyandera sertifikat asli tanah dan rumah milik orang lain, menghalang-halangi calon pembeli untuk melihat atau membeli rumah yang bukan miliknya adalah contoh perbuatan-perbuatan pelanggaran hak orang lain sebagai PMH.
2. Landasan Konsepsi
Landasan konsepsi ini digunakan untuk menghindari penafsiran dan pemahaman yang berbeda-beda dalam menafsirkan istilah-istilah yang dipergunakan di dalam penelitian ini. Istilah-istilah yang digunakan adalah:
a. Perbuatan melawan hukum disingkat PMH (onrechtmatige daad) adalah perbuatan yang melanggar bukan saja yang dilarang di dalam undang-undang, tetapi perbuatan itu juga melanggar asas kepatutan, asas kepantasan, asas kehati-hatian, dan asas kesusilaan dalam hubungan antar sesama warga masyarakat.75PMH yang melanggar hak orang lain, dalam konteks ini adalah Tergugat menempati tanah dan rumah Penggugat secara tidak sah dan tanpa alas hukum, Tergugat tidak membayar PBB, Tergugat merubah bentuk rumah yang ia tempati tanpa izin pemilik (Penggugat), menyandera sertifikat asli
75J. Satrio, Wanprestasi Menuruti…Loc. cit.