BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sepakbola telah menjadi cabang olahraga yang paling multikultural. Syarif

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sepakbola telah menjadi cabang olahraga yang paling multikultural. Syarif (2013) berpendapat, “sepakbola sukses melepaskan sekat-sekat sosial, etnis, agama, kultural, ideologi, dan negara”. Sepak bola tidak bisa berjalan sendiri, terdapat beberapa elemen-elemen yang terkait di dalamnya. Elemen-elemen tersebut antara lain pemain, pelatih, federasi, perangkat pertandingan, pihak keamanan, suporter, dan lain-lain.

Suporter dan sepakbola adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Di era modern, suporter merupakan bagian terpenting dalam industri sepakbola.

Sepakbola telah menjadi hiburan bagi masyarakat, bahkan sampai tingkat yang paling mengerikan apabila sepakbola sudah mencakup sebuah identitas dan fanatisme yang berlebihan.

Sebagai kiblat sepakbola modern, Inggris terkenal memiliki suporter sepakbola yang fanatik. Seperti Liverpool yang memiliki suporter dengan julukan Liverpudlian, Chelsea memiliki suporter bernama True Blue, serta Arsenal yang memiliki suporter berjuluk The Gooners.

Sedangkan di Indonesia organisasi-organisasi suporter mulai marak di era 90‟an. Klub-klub dari kota besar memiliki basis suporter yang sangat besar.

(2)

2 Misalkan saja di Jawa Timur yang memiliki beberapa tim profesional seperti Persebaya Surabaya dengan basis suporter bernama Bonek serta Arema Malang dengan Aremanianya. Di Jawa Barat basis suporter berpusat pada Bobotoh (Persib Bandung), sedangkan di Ibu Kota memiliki basis kelompok suporter terbesar yang bernama The Jak Mania (Persija Jakarta).

Menurut mantan wartawan Tabloid Bola Sigit Nugroho (wawancara, 23 April 2014), di era sepakbola modern saat ini suporter memiliki tiga fungsi, yaitu:

pertama sebagai salah satu sumber pendapatan klub yang bersifat direct (langsung) lewat penjualan tiket pertandingan dan merchandise. Kedua, sebagai salah satu sumber pendapatan klub yang bersifat indirect (tidak langsung) berupa peningkatan citra klub sebagai salah satu market bagi produk-produk sponsor agar mengucurkan dana untuk klub. Ketiga, sebagai penyemangat tim saat berlaga di lapangan maupun di luar lapangan.

Selain ketiga fungsi menurut Sigit, suporter juga memiliki sisi negatif dalam bentuk fanatisme. Fanatisme yang berlebihan akan menciptakkan hal-hal yang bersifat anarkis. Komunitas suporter yang fanatismenya berlebihan akan mengapresiasikan dukungannya dengan lebih ekstrim, bahkan sering kali menjurus pada tindakan kerusuhan (Handoko, 2008: 38).

Walaupun tidak semaju klub-klub sepakbola di dunia dalam hal pengelolahan suporter, Indonesia lambat laun mulai menata sepakbolanya menuju industri. Fungsi suporter tidak lagi hanya untuk datang menyaksikan pertandingan, tapi suporter dapat menjadi sumber pemasukan bagi klub untuk menjalani kompetisi satu musim penuh.

(3)

3 Kerusuhan suporter bukan hal yang baru dalam dunia persepakbolaan.

Gengsi dan harga diri dipertaruhkan ketika klub kesayangan berlaga. Semua usaha dilakukan untuk mendukung klub kesayangan dengan bernyanyi, beratraksi, dan menari. Namun, fanatisme yang berlebihan seperti ini yang dapat menimbulkan gesekan antar suporter. Hal yang tidak bisa dilupakan oleh publik Inggris bahkan dunia adalah tragedi Heysel pada tahun 1985. Dalam artikel yang berjudul “28 Mei 1985: Tragedi Heysel Renggut 39 Nyawa” di duniasoccer.com, tragedi Heysel terjadi saat Liverpool menjamu Juventus dalam lanjutan Liga Eropa. Saat itu suporter Liverpool yang terkenal sebagai holigans merangsek masuk ke tribun yang berisi suporter Juventus, akibatnya tembok stadion rubuh dan memakan korban jiwa sebanyak 39 jiwa. Tragedi ini sendiri menjadi catatan kelam persepakbolaan di Inggris.

Di Indonesia, anarkisme suporter bahkan sudah menjangkit di setiap daerah-daerah. Syarif (2013) berpendapat, “pemicu anarkisme cukup kompleks, antara lain: fanatisme berlebihan kepada klub, soal wasit, kinerja panitia pertandingan, hingga minimnya sarana ekspresi suporter”. Berbeda dengan tragedi di Inggris, Indonesia terkenal dengan perseteruan empat elemen suporter, Viking (Persib) dengan The Jak Mania (Persija) dan Bonek (Persebaya) dengan Aremania (Arema). Menurut mantan wartawan Tabloid Bola, Sigit Nugroho (wawancara, 28 April 2014) imbas dari gesekan antar suporter tersebut sangat merugikan klub, karena klub akan sulit mendapatkan izin pertandingan dari pihak kepolisian.

Hal ini tentunya memancing keluhan dari organisasi terhadap prilaku suporter yang sudah keluar dari jalur tujuan awal, yaitu menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola. Imbasnya, organisasi akan mendapatkan hukuman

(4)

4 hingga larangan mendampingi klub kecintaan mereka berlaga. Tidak hanya organisasi, klub juga harus menanggung beban biaya atas sangsi yang dikeluarkan oleh asosiasi tertinggi.

Menurut Wahyudi dalam Febriani (2011: 245), sepak bola merusuh atau holiganisme pada awalnya merupakan stereotip suporter sepak bola Inggris, tapi kemudian menjadi fenomena global.

Febriani (2011: 245) mengungkapkan, “di Eropa Holigan telah menjadi objek penelitian utama, terdapat berbagai penelitian yang membahas seputar suporter yang menimbulkan kekerasan”.

Menurut Hall dalam Roberts dan Benjamin (2000: 171) dalam Febriani (2011: 245), peran media pada umumnya memperkuat penyimpangan suporter sepak bola, dan studi pengamatan menunjukkan bahwa publisitas kekerasan memiliki konsekuensi tingkat tertentu pada pendukung sepak bola. Hal tersebut dikarenakan media di Eropa lebih banyak mengekspos perilaku kekerasan suporter (Febriani, 2011: 245).

Sedangkan di Indonesia, perilaku para suporter sepak bola yang tampil tidak tertib menjadi berita menarik yang dimuat oleh media. Headline pemberitaan suporter sepak bola di Indonesia baik cetak maupun online tidak jauh dari tawuran, kerusuhan, dan perusakan. Tak hanya sekadar headline bahkan gambar-gambar yang ditampilkan pun memperlihatkan adegan kekerasan baik dari pemain hingga penonton.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi pemberitaan yang menyimpang dari fakta sebenarnya, munculah yang namanya media komunitas suporter. Sementara

(5)

5 itu, menurut artikel yang berjudul “Media Komunitas Ala Suporter Sepakbola”

dalam Bulaksumur Online milik Universitas Gajah Mada, media komunitas suporter sepak bola telah lama eksis di Inggris. Mereka menamakan diri mereka sebagai Fanzine yaitu gabungan kata dari Fans and Magazine.

Fanzine yang pertama muncul adalah When Saturday Comes, terinspirasi

hari yang dinanti-nanti para penggemar sepak bola. Media ini terbit Maret 1986 sebanyak 200 eksemplar oleh penggemar liga Inggris.

Sejak kemunculan When Saturday Comes, setiap komunitas suporter suatu klub biasanya memiliki satu atau dua fanzine. Ini tidak hanya di Inggris, tetapi juga di sebagian negara Eropa. Di antaranya yang terkenal adalah Red Action (Manchester United), Commandos (AC Milan) dan Paper Tiger (Glasgow Rangers).

Di Indonesia sendiri media komunitas suporter belum begitu marak.

Hanya beberapa kelompok suporter yang memiliki media komunitas, seperti Bobotoh Persib yang memiliki stasiun radio bernama Bobotoh FM, ada pula Slemania pendukung setia PSS Sleman yang memiliki website bernama slemania.or.id, lalu ada pula Aremania (Arema) dengan Ongisnade.wordpress.com, dan tidak ketinggalan suporter tim ibu kota The Jak

Mania (Persija Jakarta) dengan Jakonline.asia. Namun, seiring munculnya media sosial, para komunitas suporter di Indonesia mulai marak menggunakan media sosial seperti Facebook dan Twitter sebagai alat komunikasi mereka dengan para anggota suporter mereka.

(6)

6 Dari semua media komunitas yang dimiliki suporter, Jak Online merupakan media komunitas yang aktif mengikuti perkembangan klub Persija Jakarta dan membagi informasi kepada suportenya yaitu The Jak Mania.

Berdasarkan wawancara penulis dengan Adzani Alwianto (Ketua Bidang Broadcast Jak Online), Jak Online berdiri pada tahun 2000. Berawal dari kumpulan foto-foto yang disajikan dalam tripod_jakonline.com. Pada tahun 2003 domain mereka berubah menjadi Jakonline.org setelah sempat mengalami perubahan sebelumnya menjadi Jakonline.net. Seiring berjalannya waktu, di 2005 Jak Online sempat mengalami vakum. Di tahun 2007 Jak Online kembali aktif dengan kepengurusan yang baru. Pada 2010 Jak Online mencoba untuk „Go Asia‟

seiring dengan peluang Persija untuk mengikuti AFC Cup namun kandas di tangan Arema ketika itu. Hingga saat ini Jakonline.asia menjadi website utama.

Tujuan dibentuknya domain Asia adalah agar Persija dan The Jak Mania semakin dikenal oleh masyarakat dunia. Pada tahun 2009, Jak Online membentuk akun twitter @JakOnline dengan tujuan untuk berinteraksi secara cepat dengan para anggota The Jak Mania. Hingga saat ini followers (pengikut) akun twitter

@JakOnline telah mencapai 150.000 lebih. Di tahun 2013, Jak Online

meluncurkan siaran radio yang bekerjasama dengan Radio Republik Indonesia (RRI).

Sebagai media komunitas, Jak Online mengikuti aturan-aturan atau pedoman dasar media. Jak Online mendeklarasikan diri mereka sebagai media independen yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapa pun atas informasi yang mereka sampaikan. Oleh karena itu, Jak Online tidak bernaung langsung di bawah

(7)

7 keorganisasian pengurus pusat The Jak Mania, akan tetapi para pengurus Jak Online sebagian besar terdaftar sebagai anggota resmi The Jak Mania.

Oleh karena itu yang menjadi fokus penelitian penulis adalah media komunitas suporter dalam hal ini Jak Online. Penulis lebih memfokuskan lagi pada peran dan manfaat dari informasi yang disajikan oleh website dan akun Twitter yang dimiliki Jak Online yaitu Jakonline.asia dan @JakOnline.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, permasalahan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana peran Jak Online sebagai media komunitas untuk pengedukasian suporter The Jak Mania?

2. Apakah informasi yang disampaikan oleh akun Twitter @JakOnline dapat bermanfaat pada suporter di lapangan ketika pertandingan berlangsung?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui peran Jak Online sebagai media pengedukasian untuk suporter The Jak Mania.

2. Untuk mengetahui apakah informasi yang disampaikan oleh akun Twitter @JakOnline dapat bermanfaat pada suporter di lapangan ketika pertandingan berlangsung.

(8)

8

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi peneliti khususnya mengenai media komunitas yang di miliki oleh suporter The Jak Mania sebagai media edukasi kelompok suporter Thr Jak Mania.

1.4.2 Kegunaan Praktis

Secara praktis, penelitian ini akan menjadi masukan berharga bagi seluruh komunitas suporter sepak bola di Indonesia, khususnya media komunitas Jak Online milik The Jak Mania. Penelitian ini menggambarkan betapa pentingnya edukasi dalam komunitas suporter sepak bola agar dapat berperilaku positif dan menjadikan sepak bola Indonesia menjadi lebih baik.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :