Ketersediaan
Rumah Sakit
berdasarkan
Kepemilikan di
Indonesia
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kebijakan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan
Universitas Gadjah Mada
Penulis
Elisabeth Listyani Relmbuss Biljers Fanda
1. Data
Nasional
RS di Indonesia terdiri dari rumah sakit publik dan rumah sakit privat dengan jumlah total 2,826. Pertumbuhan RS publik selama 7 tahun terakhir tidak sepesat pertumbuhan RS privat. Pertumbuhan RS publik cenderung menurun sebesar -0.06%, karena adanya kecenderungan penurunan jumlah RS swasta non-profit, di sisi lain pertumbuhan RS privat sebesar 13.5%.
1,540 1,562 1,601 1,594 1,612 1,561 1,530 1,532 543 666 807 896 989 1,215 1,283 1,294 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Jul-19
Grafik 1. Perbandingan Pertumbuhan RS Publik dan RS Privat di Indonesia
1. Data
Nasional
Jumlah RS swasta dibandingkan RS pemerintah lebih banyak, dengan rata-rata
pertumbuhan sebesar 6%. Sedangkan pertumbuhan RS pemerintah hanya sebesar 2%. 888 905 931 950 974 1,009 1,026 1,036 1,195 1,323 1,477 1,540 1,627 1,767 1,787 1,790 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 2,000 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Jul-19
Grafik 2. Perbandingan Pertumbuhan RS Pemerintah dan RS Swasta di Indonesia
1. Data
Nasional
Berdasarkan kepemilikan, pertumbuhan RS swasta profit lebih agresif dibandingkan jenis RS lainnya. Rata-rata pertumbuhan sebesar 15.4%. RS publik milik Pemprov hanya sebesar 6.92%, dan RS lain pertumbuhannya tidak terlalu signifikan. Hal yang perlu diperhatikan adalah penurunan jumlah RS swasta nonprofit rata-rata sebesar -4.0% dan peningkatan jumlah rumah sakit swasta profit yang sampai dengan Juli 2019.
200 400 600 800 1,000 1,200 1,400
Kemkes Pemprov Pemkab Pemkot Kementerian lain
TNI POLRI Swasta non profit
Swasta / lainnya
BUMN
Grafik 3. Trend Jumlah RS di Indonesia Berdasarkan Kepemilikan
1. Data
Nasional
Sampai dengan 2018, jumlah TT RS pemerintah memang lebih banyak dibanding RS swasta, namun pertumbuhan TT RS swasta lebih tinggi sebesar rata 5.32%, dibandingkan TT RS publik yang rata-rata sebesar 0.04%. Penurunan jumlah TT pada Juli 2019 dapat disebabkan adanya RS yang belum melakukan update data.
145,382 157,995 166,445 172,089 174,939 179,330 187,091 144,423 92,991 120,455 128,528 137,194 144,620 159,173 165,045 123,908 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000 160,000 180,000 200,000 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Jul-19
Grafik 4. Perbandingan Pertumbuhan Temapat Tidur RS Pemerintah dan RS Swasta di Indonesia
RS Pemerintah RS Swasta
2. Pertumbuhan RS Publik
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
RS publik menunjukkan kecenderungan penurunan terutama di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Sulawesi Selatan karena penurunan RS Swasta non for profit yang cukup signifikan.
0 50 100 150 200 250 NAD Sum ut Sum ba r Ria u Ja m bi Sum sel B engkulu Lampu ng Ke p. Ba bel Ke pri DKI J ak arta Jaba r Ja teng DI Y Ja ti m B ant en Bali NTB NTT Kal ba r Kal te ng Kal sel Kal ti m Kal tar a Sul ut Sul teng Sulsel Sul tr a Gor on ta lo Sul ba r Ma lu ku Ma lu t Pa pua B ar at Papua
Grafik 5. Sebaran Pertumbuhan RS Publik Berdasarkan Provinsi
2. Pertumbuhan RS Publik
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Jumlah RS publik di regional 1 menunjukkan kecenderungan penurunan karena ada pergeseran RS swasta non for profit menjadi RS for profit. Di lain sisi perlu diperhatikan pertumbuhan RS di regional 4 dan 5 sebesar 2% - 5% walaupun jumlah RS tidak sebanyak di regional lainnya. Hal tersebut karena adanya penambahan jumlah RS milik kabupaten terutama RS D Pratama.
0 100 200 300 400 500 600 700 800
Regional 1 Regional 2 Regional 3 Regional 4 Regional 5
Grafik 6. Sebaran Pertumbuhan RS Publik Berdasarkan Regional di Indonesia
2.1. Pertumbuhan RS Kementerian Kesehatan
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
RS milik Kementerian Kesehatan dapat dikatakan tidak banyak penambahan di semua provinsi.
0 2 4 6 8 10 12 NAD Sum ut Sum ba r Ria u Ja m bi Sum sel B engkulu Lampu ng Ke p. Ba bel Ke pri D KI J ak ar ta Ja ba r Ja teng DI Y Ja ti m B ant en Bali NTB NTT Kal ba r Kal te ng Kal sel Kal ti m Kal tar a Sul ut Sul
teng Sulsel
Sul tr a Gor ont alo Sulba r Ma lu ku Ma lu t Pa pua B ar at Papua
Grafik 7. Sebaran Pertumbuhan RS Kementerian Kesehatan
2.1. Pertumbuhan RS Kementerian Kesehatan
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Ketersediaan RS milik Kementerian Kesehatan hanya ada di Regional 1, 2, dan 3, sedangkan di Regional 4 dan 5 RS ini tidak tersedia.
0 5 10 15 20 25
Regional 1 Regional 2 Regional 3 Regional 4 Regional 5
Grafik 8. Sebaran Pertumbuhan RS Kementerian Kesehatan Berdasarkan Regional
2.2. Pertumbuhan RS Provinsi
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Penambahan jumlah RS milik provinsi di DKI Jakarta hampir 5x lipat dari tahun 2012, sebelumnya berjumlah 4 RS menjadi 31 RS sampai dengan Juli 2019. Namun di wilayah lain seperti Sumatera Utara, Kepri, dan Kalimantan Tengah terjadi penurunan jumlah RS milik provinsi.
0 5 10 15 20 25 30 35 NA D Sum ut Sum ba r Ria u Ja m bi Sum sel B engkulu Lampu ng Ke p. Ba bel Ke pri DKI J ak arta Jaba r Ja teng DI Y Ja ti m B ant en Bali NTB NTT Kal ba r Kal te ng Kal sel Kal ti m Kal tar a Sul ut Sul
teng Sulsel
Sul tr a Gor ont alo Sul ba r Ma lu ku Ma lu t Pa pua B ar at Papua
Grafik 9. Sebaran Pertumbuhan RS Pemerintah Provinsi Berdasarkan Provinsi di Indonesia
2.2. Pertumbuhan RS Provinsi
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Pertumbuhan RS milik pemerintah provinsi lebih banyak di Regional 1 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 13%. Demikian pula di Regional 2 sebesar 9%. Regional 5 menunjukkan penambahan jumlah RS milik pemprov terutama di Maluku dan Maluku Utara.
0 10 20 30 40 50 60 70
Regional 1 Regional 2 Regional 3 Regional 4 Regional 5
Grafik 10. Sebaran Pertumbuhan RS Pemerintah Provinsi Berdasarkan Regional di Indonesia
2.3. Pertumbuhan RS Pemerintah Kabupaten / Kota
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Pertumbuhan RS milik pemerintah kabupaten / kota lebih banyak di Pulau Jawa yaitu Jawa Timur dan untuk wilayah Indonesia Timur, pertumbuhan RS tersebut lebih banyak di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Papua. 0 10 20 30 40 50 60 NAD Sum ut Sum ba r Ria u Ja m bi Sum sel B engk ul u La mpu ng Ke p. Ba bel Ke pri DKI J ak arta Jaba r Ja teng DI Y Ja ti m B ant en Bali NT B NT T Ka lba r Kal te ng Kal sel Kal ti m Kal tar a Su lut Sul
teng Sulsel
Sul tr a Gor ont alo Sul ba r Ma lu ku M alu t P apu a Ba ra t Papua
Grafik 11. Sebaran Pertumbuhan RS Pemerintah Kab/Kota Berdasarkan Provinsi di Indonesia
2.3. Pertumbuhan RS Kabupaten / Kota
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Jumlah RS pemerintah kabupaten / kota lebih didominasi di Regional 1 dan Regional 3 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2 - 3%. Meskipun jumlah RS pemerintah kabuten / kota di regional 2, 4, dan 5 tidak sebanyak regional 1 dan 3, namun perlu dipertimbangkan pula bahwa peningkatan jumlah RS tersebut berkisar rata-rata 2% - 5%. 0 50 100 150 200 250
Regional 1 Regional 2 Regional 3 Regional 4 Regional 5
Grafik 12. Sebaran Pertumbuhan RS Pemerintah Kab/Kota Berdasarkan Regional di Indonesia
2.4. Pertumbuhan RS Kementerian Lain
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
0 0.51 1.52 2.53 3.54 4.5 NAD Sum ut Sum ba r Ria u Ja m bi Sum sel B engkulu La mpu ng Ke p. Ba bel Ke pri DKI J ak arta Ja ba r Ja teng DI Y Ja ti m B ant en Bali NTB NTT Kal ba r Kal te ng Ka lsel Kal ti m Kal tar a Sul ut Sul
teng Sulsel
Sul tr a Gor on ta lo Sul ba r Ma lu ku Ma lu t Pa pua B ar at Papua
Grafik 13 . Sebaran Pertumbuhan RS Kementerian Lain Berdasarkan Provinsi di Indonesia
2.4. Pertumbuhan RS Kementerian Lain
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Pertumbuhan RS milik kementerian lain terdapat di Regional 1 yaitu DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Regional 3 di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
0 2 4 6 8 10 12
Regional 1 Regional 2 Regional 3 Regional 4 Regional 5
Grafik 14 . Sebaran Pertumbuhan RS Kementerian Lain Berdasarkan Regional di Indonesia
2.5. Pertumbuhan RS TNI / POLRI
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
RS milik TNI / Polri menunjukkan jumlah yang cenderung stagnan di berbagai provinsi, bahkan di Jawa Timur jumlahnya semakin menurun. 0 5 10 15 20 25 30 35 NAD Sum ut Sum ba r Ria u Ja m bi Sum se l B engkulu La mpu ng Ke p. Ba bel Ke pri DKI J ak arta Jaba r Ja teng DIY Jati m B ant en Bali NTB NTT Kal ba r Kal te ng Kal sel Kal ti m Kal tar a Sul ut Sul
teng Sulsel
Sul tr a Goront al o Sul ba r Ma lu ku Ma lu t Pa pua B ar at Papua
Grafik 15 . Sebaran Pertumbuhan RS TNI / Polri Berdasarkan Provinsi di Indonesia
2.5. Pertumbuhan RS TNI / POLRI
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Pertumbuhan RS milik TNI / Polri cenderung stagnan, bahkan jumlahnya menurun di regional 1.
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Regional 1 Regional 2 Regional 3 Regional 4 Regional 5
Grafik 16 . Sebaran Pertumbuhan RS TNI / Polri Berdasarkan Regional di Indonesia
2.6. Pertumbuhan RS Swasta Non for Profit
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Jumlah RS swasta non profit di berbagai provinsi menunjukkan pengurangan terutama di Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Selatan. Hal ini dapat disebabkan karena rumah sakit tersebut tidak beroperasional atau menunjukkan adanya pergeseran jenis kepemilikan dari bentuk yayasan ke PT (komersial). Di sisi lain kecenderungan peningkatan terlihat di Sulawesi Tenggara. 0 20 40 60 80 100 120 140 160 NAD Sum ut Sum ba r Riau Ja m bi Sum sel B engkulu La mpu ng Ke p. Ba bel Ke pri D KI J ak art a Ja ba r Ja teng DI Y Ja ti m B ant en Bali NTB NTT Kal ba r Kal te ng Ka lsel Kal ti m Kal tar a Sul ut Sul
teng Sulsel
Sul tr a Gor ont alo Sul ba r Ma lu ku Ma lu t Pa pua B ar at Papua
Grafik 17 . Sebaran Pertumbuhan RS Swasta Non for Profit Berdasarkan Provinsi di Indonesia
3.6. Pertumbuhan RS Swasta Non for Profit
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Pertumbuhan RS swasta non for profit menunjukkan kecenderungan menurun hampir di semua regional, terutama regional 1 dan 3 dikarenakan adanya pergeseran menjadi RS Swasta for profit dan ada pula RS yang sudah tidak beroperasional lagi.
0 100 200 300 400 500
Regional 1 Regional 2 Regional 3 Regional 4 Regional 5
Grafik 18. Sebaran Pertumbuhan RS Swasta Non for Profit Berdasarkan Regional di Indonesia
3. Pertumbuhan RS Privat
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Rata-rata di setiap provinsi terdapat kenaikan jumlah RS Privat. Pertumbuhan agresif selama tahun 2012 – 2019 terlihat terutama di di Jawa Barat naik hampir 2x lipat atau 32%, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan DIY naik 2x lipat atau rata-rata sebesar 7% - 15%. Provinsi Jawa Timur juga menunjukkan pertumbuhan RS yang signifikan sebesar rata-rata 17%. Pertumbuhan RS ini dapat disebabkan adanya pergeseran RS non profit menjadi RS profit.
0 50 100 150 200 250 300 NAD Sum ut Sum ba r Ria u Ja m bi Sum sel B engk ul u La mpu ng Ke p. Ba bel Ke pri DKI J ak arta Jaba r Ja teng DI Y Ja ti m B ant en Bali NTB NTT Kalba r Kal te ng Kal sel Kal ti m Kal tar a Sul ut Sul
teng Sulsel
Sul tr a Gor ont alo Sul ba r Ma lu ku Ma lu t Pap ua Bar at Papua
Grafik 19 . Sebaran Pertumbuhan Pertumbuhan RS Privat Berdasarkan Provinsi di Indonesia
3. Pertumbuhan RS Privat
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Pertumbuhan jumlah RS privat di setiap regional menunjukkan peningkatan terutama di regional 1, 2, dan 3 untuk rs swasta for profit. Di sisi lain ada kecenderungan penurunan jumlah RS BUMN.
0 200 400 600 800 1000
Regional 1 Regional 2 Regional 3 Regional 4 Regional 5
Grafik 20. Sebaran Pertumbuhan Pertumbuhan RS Privat Berdasarkan Regional di Indonesia
3.1. Pertumbuhan RS Swasta for Profit
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
RS Privat dikategorikan menjadi RS Swasta profit dan RS BUMN. Namun yang lebih menarik untuk dicermati adalah pertumbuhan RS swasta profit yang meningkat signifikan. Di setiap provinsi terdapat kenaikan jumlah RS Swasta Profit selama tahun 2012 – 2019. Pertumbuhan RS swasta profit yang paling agresif ditunjukkan di Jawa Barat (16%) dan Jawa Timur (20%).
0 50 100 150 200 250 NAD Sum ut Sum ba r Ria u Ja m bi Sum sel B engkulu Lampu ng Ke p. Ba bel Ke pri DKI J ak arta Jaba r Ja teng DI Y Ja ti m B ant en Bali NTB NTT Kal ba r Kal te ng Kal sel Kal ti m Kal tar a Sul ut Sul
teng Sulsel
Sul tr a Gor ont alo Sul ba r Ma lu ku Ma lu t Pa pua B ar at Papua
Grafik 21. Sebaran Pertumbuhan Pertumbuhan RS Swasta for Profit Berdasarkan Provinsi di
Indonesia
3.1. Pertumbuhan RS Swasta for Profit
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
RS swasta profit di semua regional menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sebesar rata-rata 15% atau naik 3x lipat. 0 200 400 600 800
Regional 1 Regional 2 Regional 3 Regional 4 Regional 5
Grafik 22. Sebaran Pertumbuhan Pertumbuhan RS Swasta for Profit Berdasarkan Provinsi di Indonesia
3.2. Pertumbuhan RS BUMN
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
Pertumbuhan RS BUMN dapat dikatakan stagnan bahkan ada beberapa pengurangan jumlah di beberapa provinsi seperti di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
0 5 10 15 20 NA D Sum ut Sum ba r Ria u Ja m bi Sum sel B engkulu La mpu ng Ke p. B abel Kepri DKI J ak arta Ja ba r Ja teng DI Y Ja ti m B ant en Bali NTB NTT Kal ba r Kal te ng Kalsel Kalti m Ka lt ar a Sul ut Sul
teng Sulsel
Sul tr a Gor ont alo Sul ba r Ma lu ku Malu t Pa pua B ar at Papua
Grafik 23. Sebaran Pertumbuhan Pertumbuhan RS BUMN Berdasarkan Provinsi di Indonesia
3.2. Pertumbuhan RS BUMN
Catatan : Data Kep. Riau 2014 dan 2015 kosong.
RS BUMN di semua regional menunjukkan pertumbuhan yang stagnan bahkan terdapat kecenderungan penurunan jumlah RS tersebut.
0 5 10 15 20 25 30 35
Regional 1 Regional 2 Regional 3 Regional 4 Regional 5
Grafik 24. Sebaran Pertumbuhan Pertumbuhan RS BUMN Berdasarkan Regional di Indonesia