Peraturan Pemerintah Pasal 1 butir 4 Undang-Undang Nomor 38 Tahun Tentang sampai menyatakan bahwa jalan adalah prasarana transportasi darat yang

Teks penuh

(1)

xcv 

Peraturan Pemerintah Pasal 1 butir 4 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang sampai menyatakan bahwa jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan pelengkapannya yang diperuntukkan bagi lalulintas, berada pada permukaan tanah diatas permukaan tanah, dibawah permukaan tanah dan/atu air, serta diatas permukaan air.

2. Pembangunan Sarana Pendidikan

Pembangunan sarana pendidikan dapat dilihat dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2007 dalam Pasal 8 ayat 6 yang menjelaskan dan menerangkan bahwa setiap penduduk yang memiliki kelainan fifik, kejiwaan dan atau hambatan sosial tidak berhak masuk di sekolah yang berkelas internasional

Pembangunan pendidikan merupakan suatu kegiatan yang terencana dan sistematis dalam peningkatan kualtas sumber daya manusia yang memiliki kemandirian dalam menyikapi persoalan hidup dan kehidupan sesuai denagan peraturan pemerintah tentang wajib belajar 9 tahun. Pembangunan pendidikan merupakan arahan kebijaksanaan yang dijabarkan kedalam berbagai bentuk dan jenis, pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat (swasta) yang berorientasi meningkatkan keterampilan sumber daya manusia yang berkualitas. Namun masalah mendasar yang dihadapi adalah masih terbatasnya pemerataan memperoleh pendidikan, rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan dan lemahnya menajemen pendidikan.

(2)

xcvi 

Pembangunan sarana kesehatan merupakan upaya memenuhi salah satu hak dasar rakyat yaitu untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28H Ayat (1) dan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 23 Tahun1992 Tentang kesehatan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai salah satu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, antara lain diukur dengan indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Peraturan Paerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2008 Tentang kesehatan Pasal 1 ayat 1 menjelaskan bahwa dalam menjalankan pengobatan kesehatan masyarakat tidak diperbolehkan untuk mempercayai hal-hal yang belum bisa diilmiahkan oleh kedokteran

4. Kendala-kendala yuridis dalam pelaksanaan fungsi pelayanan adalah : a) Dibidang Pembangunan Jalan

Kendala yang urgen dalam penyediaan infrastruktur adalah sumber daya manusia yang masih belum bisa menerima keadaan riil diarea Pemerintah Kota Jayapura sehingga mengakibatkan kemunduran walaupun secara defakto terlihat jelas dan mapan

b) Dibidang Pembangunan Pendidikan

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Disini merupakan letak perbedaan antara peserta didik yang asli papua dengan pendatang, jika pendatang akan diminta sumbangan dan dikelompokkan pada kelas tertentu sedangkan penduduk asli Papua akan ditempatkan pada kelas tertentu pula

(3)

xcvii 

Masyarakat masih lebih percaya dengan pengobatan tradisional yang dianggap mujarap atau mampu menyembuhkan penyakut dengan spontanitas sehingga masyarakat lebih memilih pengobatan tradisional dari pada pengobatan medis yang telah disiapkan oleh pemerintah.

5. Upaya-upaya yang telah dilaksanakan Pemerintah Daerah untuk mengatasi kendala-kendala tersebut diatas, yaitu :

a. Pembangunan pada dasarnya merupakan salah satu wujud dari tugas pelayanan yang dilaksanakan oleh Pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat umum, ini berarti bahwa pembangunan merupakan implementasi dari tugas pelayanan yang seharusnya efektif. Secara langsung dapat dilihat dari bagaimana masyarakat dapat menikmati hasil-hasil pembangunan dengan mudah, seperti listrik, air bersih, sarana dan prasarana perhubungan/transportasi dan sebagainya

b. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Jayapura adalah berusaha untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).Biasanya dana-dana peningkatan ini pemanfaatannya langsung kepada masyarakat yang sudah ada petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan mengenai penggunaan dana tersebut, dengan harapan bisa meringankan beban pendidikan anak usia produktif atau dengan jalan membebaskan SPP anak

c. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah yaitu Pemeintah Kota Jayapura harus mampu untuk melakukan interaksi dengan masyarakat secara langsung dengan mensosialisasikan bahwa dengan dunia kedokteran berbagai macam penyakit dapat dideteksi secara ilmiah. Tentunya didasari dengan bukti temuan-temuan yang harus disaksikan oleh masyarakat

(4)

xcviii  B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dirumuskan oleh penulis maka penulis memberikan saran terhadap Pemerintah Kota Jayapura, sebagai berikut :

1. Dalam rangka pelaksanaan fungsi pelayanan menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 maka Pemerintah harus cepat memutuskan kebijakan demi mewujudkan fungsi pelayanan terhadap masyarakat

2. Pemerintah harus transparan dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat baik dibidang pendidikan, kesehatan dan jalan sehingga terwujud kesejahteraan yang merata.

(5)

xcix 

PEMERINTAH KOTA JAYAPURA

PERATURAN DAERAH KOTA JAYAPURA NOMOR 13 TAHUN 2007

T E N T A N G

RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lampiran : 3 (tiga)

WALIKOTA JAYAPURA,

Menimbang   :  a.  bahwa dengan ditetapkannya Undang‐undang Republik Indonesia  Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang ‐ Undang  Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pajak Daerah dan  Retribusi Daerah, maka Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 3 Tahun  2000 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan perlu disesuaikan;      b.  bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada huruf  a di atas, maka perlu menetapkan Peraturan Daerah Kota Jayapura  tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan. 

(6)

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Propinsi Otonom Irian Barat dan kabupaten-kabupaten Otonom di Propinsi Irian Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2907);

2. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);

3. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2495);

4. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kotamadya daerah Tingkat II Jayapura (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3533);

5. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4151);

6. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi Papua (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 135, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Negara 4151);

7. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53);

8. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);

9. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

(7)

ci 

10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139);

11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165);

12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom;

Dengan Persetujuan Bersama :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA JAYAPURA dan WALIKOTA JAYAPURA M E M U T U S K A N :

Menetapkan   :  PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI 

PELAYANAN KESEHATAN 

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Daerah Kota Jayapura;

2. Pemerintah adalah Pemerintah Daerah Kota Jayapura; 3. Walikota ialah Walikota Jayapura;

4. Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang retribusi Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

(8)

cii 

5. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan, atau organisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya;

6. Pelayanan Kesehatan adalah segala kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada seseorang dalam rangka observasi, diagnosis, pengobatan atau pelayanan kesehatan lainnya;

7. Pelayanan Rawat Jalan adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan pelayanan kesehatan lainnya tanpa tinggal dirawat inap;

8. Pelayanan Rawat Inap adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi, perawatan, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan atau pelayanan kesehatan lainnya dengan menempati tempat tidur; 9. Pelayanan Rawat Darurat adalah pelayanan kesehatan tingkat lanjutan yang harus diberikan secepatnya

untuk mencegah/menanggulangi resiko kematian atau cacat;

10. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya dapat disingkat Puskesmas adalah instansi kesehatan Daerah yang mempunyai kunjungan rawat jalan dan atau rawat inap;

11. Puskesmas Keliling adalah pelayanan kesehatan oleh Puskesmas dengan mempergunakan kendaraan roda 4 (eempat), kendaraan roda 2 (dua) atau transportasi lainnya di lokasi yang jauh dari sarana pelayanan yang ada;

12. Puskesmas Pembantu yang selanjutnya PUSTU adalah unit pelaksanan pembangunan kesehatan di Wilayah Kelurahan

13. Poliklinik Kampung yang selanjutnya disingkat POLIKAMP adalah unit pelaksana pembangunan kesehatan di wilayah Kelurahan atau kampung dengan titik berat pelayanan pada ibu dan anak.

14. Pos Pelayanan Terpadu yang selanjutnya disingkat POSYANDU adalah bentuk upaya pelayanan kesehatan bersumber daya masyarakat dengan pembinaan oleh tenaga kesehatan dengan titik berat pelayanan pada ibu, bayi dan balita

15. Asuransi Kesehatan Miskin yang selanjutnya disingkat ASKESKIN adalah salah satu bentuk asuransi kesehatan berupa jaminan pelayanan kesehatan yang diperuntukan bagi masyarakat miskin.

16. Retribusi Jasa Umum adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan atau kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan; 17. Retribusi Pelayanan Kesehatan yang selanjutnya dapat disebut retribusi adalah pembayaran atas

pelayanan kesehatan di Puskesmas/Balai Pengobatan, Puskesmas Keliling, Rumah sakit Umum Daerah, tidak termasuk pelayanan pendaftaran;

18. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi;

19. Surat Pendaftaran Obyek Retribusi Daerah, yang selanjutnya dapat disingkat SPdORD, adalah surat yang digunakan oleh Wajib Retribusi untuk melaporkan data obyek retribusi dan wajib retribusi sebagai dasar perhitungan dan pembayaran retribusi yang terutang menurut peraturan perundang-undangan retribusi Daerah;

20. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnya dapat disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang;

21. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan, yang selanjutnya dapat disingkat SKRDKBT, adalah surat keputusan yang dapat menentukan tambahan atas jumlah retribusi yang telah ditetapkan; 22. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya dapat disingkat SKRDLB, adalah surat

keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar dari pada retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang;

23. Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya dapat disingkat STRD, adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda;

24. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT dan SKRDLB yang diajukan oleh wajib retribusi;

25. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi berdasarkan peraturan perundang-undangan retribusi Daerah;

26. Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Retribusi Daerah adalah Serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dapat disebut penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang retribusi Daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.

(9)
(10)

civ  BAB II

NAMA, OBJEK DAN SUBJEK RETRIBUSI

Pasal 2

Dengan nama Retribusi Pelayanan Kesehatan dipungut Retribusi sebagai Pembayaran atas Pelayanan Kesehatan di Puskesmas, Puskesmas Rawat Inap, Puskesmas Keliling dan Rumah Sakit.

Pasal 3

(1) Objek Retribusi adalah pelayanan kesehatan yang meliputi: a. Pelayanan Kesehatan di Puskesmas;

b. Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Rawat Inap; c. Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Keliling; dan d. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit..

(2) Tidak termasuk Objek Retribusi, adalah: a. Pelayanan Pendaftaran; dan

b. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dan Pihak Swasta.

Pasal 4

Subjek Retribusi adalah Orang Pribadi atau Badan yang mendapatkan Pelayanan Kesehatan dari Puskesmas, Puskesmas Rawat Inap, Puskesmas Keliling dan Rumah Sakit.

BAB III

GOLONGAN RETRIBUSI

Pasal 5

Retribusi Pelayanan Kesehatan digolongkan sebagai Retribusi Jasa Umum.

(11)

cv 

CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA

Pasal 6

Tingkat Penggunaan Jasa dihitung berdasarkan Frekuensi Pelayanan Kesehatan.

BAB V

PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF

Pasal 7

(1) Prinsip dan Sasaran dalam Penetapan Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi dimaksudkan untuk Menutup Biaya Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan dengan mempertimbangkan kemampuan Masyarakat dan Aspek Keadilan.

(2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk Biaya Investasi Prasarana, Biaya Operasional dan Pemeliharaan.

(3) Prinsip dan Sasaran dalam Penetapan Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah sebagai berikut: :

a. Pelayanan Rawat Jalan Kesehatan Dasar dan Pelayanan Rawat Jalan Rujukan Puskesmas, adalah untuk membiayai sebagian Biaya Penyelenggaraan Pelayanan sesuai dengan kemampuan Masyarakat;

b. Pelayanan Rawat Jalan Tindakan Khusus :

1) Perawatan Sederhana adalah untuk membiayai sebagian dari biaya penyelenggaraan pelayanan sesuai kemampuan masyarakat;

2) Perawatan sedang untuk membiayai separuh dari Biaya Perawatan; dan

3) Perawatan besar didasarkan pada tujuan untuk membiayai sepertiga dari Biaya Perawatan dengan memperhatikan kemampuan Masyarakat.

c. Rawat Inap di Puskesmas Perawatan:

1) Kelas III B, adalah untuk membiayai 50% (lima puluh) persen dari Biaya Penyediaan Jasa Rawat Inap sesuai dengan kemampuan Masyarakat luas; dan

2) Kelas III A, adalah untuk membiayai 100% (seratus) persen dari Biaya Penyediaan Jasa Rawat Inap.

BAB VI

(12)

cvi  Pasal 8

(1) Struktur Tarif Digolongkan berdasarkan Jenis Pelayanan Kesehatan.

(2) Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pelayanan Kesehatan di Puskesmas, Puskesmas Rawat Inap, Puskesmas Keliling dan Rumah Sakit, tercantum dalam Lampiran I, Lampiran II dan Lampiran III, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

BAB VII

WILAYAH PEMUNGUTAN

Pasal 9

Retribusi yang terutang dipungut di Wilayah Daerah Tempat Pelayanan Kesehatan diberikan.

BAB VIII

SAAT RETRIBUSI TERUTANG

Pasal 10

Saat Retribusi Terutang adalah pada saat diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

BAB IX

SURAT PENDAFTARAN

Pasal 11

(13)

cvii 

(2) SPdORD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Retribusi atau Kuasanya.

(3) Bentuk, Isi serta Tata Cara Pengisian dan Penyampaian SPdORD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan oleh Walikota.

(14)

cviii  BAB X

PENETAPAN RETRIBUSI

Pasal 12

(1) Berdasarkan SPdORD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1), ditetapkan Retribusi Terutang dengan menerbitkan SKRD atau Dokumen lain yang dipersamakan.

(2) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dan ditemukan data baru dan atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah retribusi yang terutang maka dikeluarkan SKRDKBT.

(3) Bentuk, Isi dan Tata Cara Penerbitan SKRD atau Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan SKRDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan oleh Walikota.

BAB XI

TATA CARA PEMUNGUTAN

Pasal 13

(1) Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan.

(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan dan SKRDKBT.

BAB XII 

SANKSI ADMINISTRASI

Pasal 14

Dalam hal wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan Sanksi Administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua Persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan DTRD.

(15)

cix 

TATA CARA PEMBAYARAN

Pasal 15

(1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus.

(2) Retribusi yang terutang dilunasi selambat-lambatnya 15 (lima belas) Hari sejak diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT dan STRD.

(3) Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran retribusi diatur dengan Keputusan Walikota.

BAB XIV

TATA CARA PENAGIHAN

Pasal 16

(1) Retribusi terutang berdasarkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT, STRD dan Surat Keputusan Keberatan yang menyebabkan jumlah retribusi yang harus dibayar bertambah, yang tidak atau kurang dibayar oleh wajib retribusi dapat ditagih melalui Badan Usaha Piutang dan Lelang Negara (BUPLN).

(2) Penagihan Retribusi melalui BUPLN dilaksanakan berdasarkan Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.

BAB XV K E B E R A T A N

Pasal 17

(1) Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Walikota atau Pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT dan SKRDLB.

(2) Keberatan diajukan secara tertulis denngan Bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas.

(3) Dalam hal Wajib Retribusi mengajukan Keberatan atas Ketetapan Retribusi, Wajib Retribusi harus dapat membuktikan ketidakbenaran Ketetapan Retribusi tersebut.

(16)

cx 

(4) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT, SKRDLB diterbitkan, kecuali apabila Wajib Retribusi tertentu dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.

(5) Keberatan tidak dapat memenuhi Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) tidak dianggap sebagai Surat Keberatan, sehingga tidak dipertimbangkan.

(6) Pengajuan Keberatan tidak menunda kewajiban Membayar Retribusi dan pelaksanaan Penagihan Retribusi.

Pasal 18 

(1) Walikota dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) Bulan sejak Tanggal Surat Keberatan diterima harus memberi Keputusan atas Keberatan yang diajukan.

(2) Keputusan Walikota atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya retribusi yang terutang.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), telah lewat dan Walikota tidak memberikan suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.

BAB XVI

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN

Pasal 19

(1) Atas kelebihan pembayaran retribusi, Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Walikota.

(2) Walikota dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Kepala Daerah tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengembalian kelebihan retribusi dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.

(4) Apabila Wajib Retribusi mempunyai Utang Retribusi lainnya, kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang retribusi tersebut.

(17)

cxi 

(5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB.

(6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran retribusi dilakukan setelah lewat jangka waktu 2 (dua) bulan, Walikota memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan retribusi.

Pasal 20 

(1) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi diajukan secara tertulis kepada Walikota dengan sekurang-kurangnya menyebutkan:

a. Nama dan alamat Wajib Retribusi; b. Masa retribusi;

c. Besarnya kelebihan pembayaran; d. Alasan yang singkat dan jelas.

(2) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi disampaikan secara langsung atau melalui pos tercatat.

(3) Bukti penerimaan oleh Pejabat Daerah atau bukti pengiriman pos tercatat merupakan bukti saat permohonan diterima oleh Walikota.

Pasal 21 

(1) Pengembalian kelebihan retribusi dilakukan dengan menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Retribusi.

(2) Apabila kelebihan pembayaran retribusi diperhitungkan dengan utang retribusi lainnya, sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat (4), pembayaran dilakukan dengan cara pemindahbukuan dan bukti pemindahbukuan juga berlaku sebagai bukti pembayaran.

BAB XVII

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAB RETRIBUSI

Pasal 22

(18)

cxii 

(2) Pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan kemampuan Wajib Retribusi antara lain untuk mengangsur.

(3) Pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain diberikan kepada masyarakat yang ditimpa bencana alam dan atau kerusuhan.

(19)

cxiii  BAB XVIII

KEDALUWARSA PENAGIHAN

Pasal 23

(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi, kedaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila Wajib Retribusi melakukan tindak pidana di bidang retribusi.

(2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh apabila: a. Diterbitkan Surat Teguran; atau

b. Ada pengakuan utang retribusi dan Wajib Retribusi baik langsung maupun tidak langsung.

BAB XIX PEMBIAYAAN

Pasal 24

(1) Penyelenggaraan Kesehatan dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Jayapura.

(2) Retribusi Pelayanan Kesehatan disetor langsung ke Kas Daerah.

(3) Jasa Medik disetor langsung ke Kas Daerah dengan persentasi sebagai berikut : a. 20 % (dua puluh persen) untuk Pendapatan Asli Daerah;

b. 70 % (tujuh puluh persen) untuk Jasa Medik;

c. 10 % (sepuluh persen) untuk Puskesmas atau Rumah Sakit.

BAB XX

KETENTUAN PENYIDIKAN  

Pasal 25 

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah.

(20)

cxiv 

(2) Kewenangan Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:

a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas; b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang

kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana retribusi Daerah;

c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi Daerah;

d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi Daerah;

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;

g. Menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf c.

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi Daerah;

i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; j. Menghentikan penyidikan;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Polri, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XXI

KETENTUAN PIDANA  

Pasal 26

(1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah retribusi terutang.

(2) Tindak pidana yang dimaksud pada ayat (1), adalah Pelanggaran.

BAB XXII KETENTUAN PENUTUP

(21)

cxv 

(1) Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 3 Tahun 2000 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan (Lembaran Daerah Kota Jayapura Tahun 2000 Nomor 68), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

(2) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Jayapura.

Ditetapkan di Jayapura pada tanggal 22 Oktober 2007

WALIKOTA JAYAPURA, TTD Drs. M. R. KAMBU, M.Si   Diundangkan di Jayapura  pada tanggal 22 Oktober 2007    SEKRETARIS DAERAH KOTA JAYAPURA,    TTD  Drs. JESAYA UDAM  PEMBINA UTAMA MUDA  NIP. 640009209   

(22)

cxvi 

(23)

cxvii 

PENJELASAN ATAS 

PERATURAN DAERAH KOTA JAYAPURA 

NOMOR  13 TAHUN 2007 

 

TENTANG 

RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN 

I. UMUM 

Pembangunan Kesehatan diarahkan untuk mempertinggi Derajat Kesehatan Masyarakat, yang mempunyai arti yang penting bagi Pembangunan dan Pembinaan Sumber Daya Manusia. Kesehatan merupakan Modal bagi Pelaksanaan Pembangunan Daerah yang pada hakekatnya adalah Pembangunan Manusia seutuhnya dan Pembangunan bagi seluruh Masyarakat.

Dengan semakin meningkatnya Kepadatan Penduduk serta semakin berkembangnya Dunia Kedokteran sebagai tuntutan akan Pengobatan yang memadai, Pemerintah Daerah telah menyiapkan fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan dukungan Tenaga Medis untuk melakukan Pelayanan Kesehatan kepada Masyarakat. Untuk kepentingan kesinambungan dan Kualitas Pelayanan Kesehatan, maka diperlukan upaya untuk pengaturan terhadap penggunaan Jasa Pelayanan Kesehatan di Kota Jayapura.

II. PASAL DEMI PASAL   Pasal 1 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas. Pasal 3 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas.

(24)

cxviii  Pasal 4 Cukup Jelas. Pasal 5 Cukup Jelas. Pasal 6 Cukup Jelas. Pasal 7 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3) Cukup Jelas. Pasal 8 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Pasal 9 Cukup Jelas. Pasal 10 Cukup Jelas. Pasal 11 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3)

(25)

cxix  Cukup Jelas. Pasal 12 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3) Cukup Jelas. Pasal 13 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Pasal 14 Cukup Jelas. Pasal 15 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3) Cukup Jelas. Pasal 16 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Pasal 17

(26)

cxx  Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3) Cukup Jelas. Ayat (4) Cukup Jelas. Ayat (5) Cukup Jelas. Ayat (6) Cukup Jelas. Pasal 18 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3) Cukup Jelas. Pasal 19 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3) Cukup Jelas. Ayat (4) Cukup Jelas.

(27)

cxxi  Ayat (5) Cukup Jelas. Ayat (6) Cukup Jelas. Pasal 20 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3) Cukup Jelas. Pasal 21 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Pasal 22 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3) Cukup Jelas. Ayat (4) Cukup Jelas. Pasal 23 Ayat (1) Cukup Jelas.

(28)

cxxii  Ayat (2) Cukup Jelas. Pasal 24 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3) Cukup Jelas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas. Ayat (3) Cukup Jelas. Pasal 26 Ayat (1) Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup Jelas.

(29)

cxxiii 

Lampiran I : Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor : 13 Tahun 2007 Tanggal : 24 Oktober 2007.

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS

No

Jenis Pelayanan  Tarif

1

Pertolongan Pertama pada Kecelakaan  ‰ Debri Demen luka

‰ Minor Surgeri ringan

‰ pelayanan kesehatan biasa (pengobatan rawat jalan) ‰ Keluarga baru untuk memiliki kartu berobat

Rp. 5.000,- Rp. 30.000,- Rp. 2.500,- Rp. 5.000,- 2 Pertolongan Persalinan   ‰ Persalinan Normal ‰ Persalinan di rumah ‰ Persalinan dengan penyulit ‰ Perawatan Ibu dan Anak

Rp. 100.000,- Rp. 150.000,- Rp. 200.000,- Rp. 30.000,- 3 Tindakan Medik Ringan  ‰ Tindik Daun Telingan ‰ Sunat/Sirkumsisi Pria ‰ Insisi

‰ Jahitan Luka 1 s/d 5 Jahitan ‰ Jahitan luka 6 keatas

Rp. 4.000,- Rp. 50.000,- Rp. 10.000,- Rp. 15.000,- Rp. 30.000,-

4 Tindakan Medik Sedang (Puskesmas Rawatan) Rp. 15.000,-

5

Perawatan Gigi  

‰ Pembersihan Karang Gigi ‰ Radang Gigi

‰ Tambal Gigi/tumpatan ‰ Pencabutan Gigi

‰ Pencabutan dengan komplikasi ‰ Tambal Gigi tertanam

‰ Pengobatan Urat Syaraf

Rp. 15.000,- Rp. 5.000,- Rp. 15.000,- Rp. 5.000,- Rp. 10.000,-

(30)

cxxiv  SEKRETARIS DAERAH KOTA JAYAPURA,      TTD  Rp. 20.000,- Rp . 5.000,- 6 Rawat Inap   

‰ Rawat Inap/hari (dengan makan) Rp. 50.000,-

7 Unit Gawat Darurat    Ruang Bedah :   ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik Bedah Ringan: ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik Bedah Sedang: ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik Rp. 10.000,- Rp. 25.000,- Rp. 15.000,- Rp. 30.000,- Rp. 30.000,- Rp. 50.000,- 8 Tindakan Laboratorium   ‰ Golongan Darah

‰ Pemeriksaan Laju Endap darah ‰ Pemeriksaan HB

‰ Pemeriksaan Darah Malaria

Rp. 7.500,- Rp. 15.000,- Rp. 5.000,- Rp. 5.000,- 9 Oxygen  

‰ Pemberian Oxygen per Jam Rp. 10.000,-

10

Pengujian Kesehatan    ‰ Kesehatan Pelajar

‰ Kesehatan Melamar Kerja/SIM ‰ Kesehatan Haji

‰ Kesehatan Karyawan/i Perusahaan, lampiran IV point 2

Rp. 5.000,- Rp. 7.500,- Rp. 20.000,- Rp. 50.000,- WALIKOTA JAYAPURA, TTD Drs. M. R. KAMBU, M.Si

(31)

cxxv 

Lampiran II : Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor : 13 Tahun 2007 Tanggal : 24 Oktober 2007.

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS KELILING

No Jenis Pelayanan Tarif

1 Pertolongan Pertama pada Kecelakaan 

‰ Debri Demen Luka ‰ Minor Surgeri Ringan

‰ Pelayanan Kesehatan Biasa (Pengobatan Rawat Jalan)

Rp. 5.000,- Rp. 30.000,- Rp. 2.500,- 2 Pertolongan Persalinan ‰ Persalinan Normal Rp. 100.000,- 3 Tindakan Medik Ringan 

‰ Tindik Daun Telingan ‰ Sunat/Sirkumsisi Pria ‰ Insisi ‰ Jahitan Luka Rp. 4.000,- Rp. 50.000,- Rp. 10.000,- Rp. 20.000,- 4 Tindakan Medik Sedang   ‰ Puskesmas Rawatan Rp. 15.000,- 5 Tindakan Laboratorium  

(32)

cxxvi  ‰ Golongan Darah

‰ Pemeriksaan Laju Endap darah ‰ Pemeriksaan HB

‰ Pemeriksaan Darah Malaria

Rp. 7.500,- Rp. 15.000,- Rp. 5.000,- Rp. 5.000,-

6 OXYGEN 

‰ Pemberian Oxygen per Jam

Rp. 10.000,- WALIKOTA JAYAPURA, TTD Drs. M. R. KAMBU, M.Si   SEKRETARIS DAERAH KOTA JAYAPURA,      TTD  Drs. JESAYA UDAM  PEMBINA UTAMA MUDA  NIP. 640009209   

(33)
(34)

cxxviii 

Lampiran III : Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor : 13 Tahun 2007 Tanggal : 24 Oktober 2007.

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN RAWAT INAP

No Jenis Pelayanan Tarif

I RAWAT JALAN 

A. Pelayanan Konsultasi

1. Dokter Umum (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

2. Dokter Umum (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

3. Dokter Spesialis (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

4. Dokter Spesialis (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

5. Dokter Gigi (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

6. Dokter Gigi (tanpa rujukan) ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 7. Status Baru ‰ Retribusi 8. Gizi ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 9. Fisioterapi ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

B. Tindakan Medik & Terapi Poliklinik Gigi 1. Tambal, Cabut 1 (satu) Gigi

‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

2. Pembersihan Karang Gigi per Kuadrant ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik Rp. 5.000,- Rp. 10.000,- Rp. 5.000,- Rp. 15.000,- Rp. 5.000,- Rp. 25.000,- Rp. 5.000,- Rp. 25.000,- Rp. 5.000,- Rp. 10.000,- Rp. 5.000,-

(35)

cxxix  3. Kontrol Orthodontie ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 4. Insisi Abses ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

5. Tambalan Gigi Anterior 1 (satu) Gigi dengan komposit ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik 6. Tindakan operatif kecil

‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

7. Tindakan operatif sedang ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

8. Rehabilitasi protesa 1 (satu) gigi ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

9. Rehabilitasi protesa tiap gigi ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

10. Protase penuh satu rahang ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

11. Orthodontie satu rahang ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

C. Tindakan Poliklinik THT

1. Tampon telinga (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

2. Tampon telinga (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

3. Ekstraksi serumen (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

4. Ekstraksi serumen (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

5. Ekstraksi benda asing (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

6. Ekstraksi benda asing (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

7. Tampon anterior rongga hidung (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

8. Tampon anterior rongga hidung (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

9. Tampon pasterior rongga hidung (dengan rujukan)

Rp. 15.000,- Rp. 7.500,- Rp. 5.000,- Rp. 7.000,- Rp. 25.000,- Rp. 20.000,- Rp. 7.500,- Rp. 7.500,- Rp. 15.000,- Rp. 30.000,- Rp. 15.000,- Rp. 30.000,- Rp. 7.500,- Rp. 20.000,- Rp. 15.000,- Rp. 10.000,- Rp. 40.000,-

(36)

cxxx  ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

10. Tampon pasterior rongga hidung (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

11. Tampon kapas rongga hidung (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

12. Tampon kapas rongga hidung (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

D. Poliklinik Kulit dan Kelamin

1. Elektrofulgurasi (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

2. Elektrofulgurasi (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

3. Komedo ekstraksi (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

4. Komedo ekstraksi (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

5. Enukleasi (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

6. Enukleasi (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

7. Pemberian injeksi (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

8. Pemberian injeksi (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

9. Ganti verban atau kompres (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

10. Ganti verban atau kompres (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

11. Pemasangan tampon (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

12. Pemasangan tampon (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik 13. Eksisi (dengan rujukan)

‰ Retribusi ‰ Jasa Medik Rp. 150.000,- Rp. 75.000,- Rp. 200.000,- Rp. 20.000,- Rp. 75.000,- Rp. 10.000,- Rp. 20.000,- Rp. 400.000,- Rp. 750.000,- Rp. 250.000,- Rp. 500.000,- Rp. 5.000,- Rp. 10.000,- Rp. 5.000,- Rp. 12.000,- Rp. 3.000,- Rp. 10.000,-

(37)

cxxxi  14. Eksisi (tanpa rujukan)

‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

15. Biopsi kulit (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

16. Biopsi kulit (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

17. Angkat jahitan (dengan rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

18. Angkat jahitan (tanpa rujukan) ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

E. Unit Gawat Darurat 1. Non Bedah ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 2. Bedah a. Ringan ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik b. Sedang ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

F. Tindakan poliklinik kebidanan dan Penyakit Kandungan 1. Perawatan luka operasi

‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 2. Vaginal toilet ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 3. Pasng/buka pesarium ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 4. Pap smear ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 5. Pasang/ekstraksi IUD ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 6. Pasang/ekstraksi Implat ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik Rp. 5.000,- Rp. 12.000,- Rp. 3.000,- Rp. 10.000,- Rp. 5.000,- Rp. 20.000,- Rp. 10.000,- Rp. 20.000,- Rp. 10.000,- Rp. 25.000,- Rp. 25.000,- Rp. 50.000,- Rp. 25.000,- Rp. 50.000,- Rp. 3.000,- Rp. 10.000,- Rp. 5.000,- Rp. 12.000,-

(38)

cxxxii  Rp. 20.000,- Rp. 15.000,- Rp. 20.000,- Rp. 20.000,- Rp. 12.000,- Rp. 10.000,- Rp. 20.000,- Rp. 15.000,- Rp. 12.000,- Rp. 12.000,- Rp. 12.000,- Rp. 10.000,- Rp. 12.000,- Rp. 12.000,- Rp. 7.500,- Rp. 5.000,- Rp. 12.000,- Rp. 5.000,-

(39)

cxxxiii  Rp. 12.000,- Rp. 10.000,- Rp. 20.000,- Rp. 12.000,- Rp. 20.000,- Rp. 15.000,- Rp. 30.000,- Rp. 20.000,- Rp. 30.000,- Rp. 30.000,- Rp. 20.000,- Rp. 15.000,- Rp. 20.000,- Rp. 20.000,- Rp. 10.000,- Rp. 5.000,- Rp. 10.000,- Rp. 7.500,-

(40)

cxxxiv  Rp. 10.000,- Rp. 25.000,- Rp. 15.000,- Rp. 30.000,- Rp. 30.000,- Rp. 50.000,- Rp. 5.000,- Rp. 10.000,- Rp. 5.000,- Rp. 20.000,- Rp. 5.000,- Rp. 20.000,- Rp. 5.000,- Rp. 25.000,- Rp. 5.000,- Rp. 20.000,-

(41)

cxxxv  Rp. 10.000,- Rp. 25.000,- II RAWAT INAP   A. Perawatan 1. Kelas III B ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 2. Kelas III A ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 3. Kelas II ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 4. Kelas I ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 5. Kelas Utama ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 6. Rawat Intensif (ICU)

7. Perinatologi

8. Rawat isolasi

9. Bayi Rawat Gabung

B. Tindakan Khusus 1. Kelas III B ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 2. Kelas III A ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 3. Kelas II ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 4. Kelas I ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 5. Kelas Utama ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik NIHIL NIHIL Rp. 15.000,- Rp. 35.000,- Rp. 20.000,- Rp. 60.000,- Rp. 25.000,- Rp. 75.000,- Rp. 50.000,- Rp. 150.000,- 2x kelas asal 2x kelas asal 2x kelas asal

(42)

cxxxvi  C. Tindakan khusus mencakup:

1. Katerisasi tali pusat (bayi baru lahir) 2. Pemasangan pipa endhotrakheal

3. Punksi cairan (spinal, pleural, abdo-Minal, dll) 4. Biopsy

5. Resusitasi 6. Vena seksi 7. Inhalasi

8. Perawatan dengan pemakaian pipa maso-gastrik

½ x kls Rawat Ibu NIHIL NIHIL Rp. 20.000,- Rp. 25.000,- Rp. 30.000,- Rp. 20.000,- Rp. 50.000,- Rp. 30.000,- Rp. 100.000,- Rp. 150.000,- III PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK 

A. Pemeriksaan Laboratorium Klinik

1. Kategori Pemeriksaan Sederhana Rawat Jalan Setara dengan Kelas IIIA a. Kelas III B ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik b. Kelas III A ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik c. Kelas II ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik d. Kelas I ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik e. Kelas Utama ‰ Retribusi NIHIL NIHIL Rp. 5.000,-

(43)

cxxxvii  ‰ Jasa Medik

2. Kategori pemeriksaan sedang rawat jalan a. Kelas III B ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik b. Kelas III A ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik c. Kelas II ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik d. Kelas I ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik e. Kelas Utama ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik B. Radiomedik

1. Rawat jalan dan Rawat Inap Kelas III B

‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

2. Rawat jalan dan Rawat Inap Kelas IIIA a. Pemeriksaan Sederhana 1) Film besar : ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 2) Film sedang : ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 3) Film gigi : ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

b. Pemeriksaan sedang termasuk USG ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

c. Pemeriksaan canggih dengan kontras ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

d. Pemeriksaan khusus kerja Tim ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 3. Kelas II a. Pemeriksaan Sederhana 1) Film besar : ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 2) Film sedang : ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik Rp. 10.000,- Rp. 5.000,- Rp. 15.000,- Rp. 7.500,- Rp. 20.000,- Rp. 10.000,- Rp. 25.000,- NIHIL NIHIL Rp. 30.000,- Rp. 20.000,- Rp. 40.000,- Rp. 25.000,- Rp. 50.500,- Rp. 30.000,- Rp. 100.000,- Rp. 25.000,-

(44)

cxxxviii  3) Film gigi :

‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

b. Pemeriksaan sedang termasuk USG ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

c. Pemeriksaan canggih dengan kontras ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

d. Pemeriksaan khusus kerja Tim ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik 4. Kelas I dan VIP

a. Pemeriksaan Sederhana 1) Film besar : ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 2) Film sedang : ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 3) Film gigi : ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

b. Pemeriksaan sedang termasuk USG ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

c. Pemeriksaan canggih dengan kontras ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

d. Pemeriksaan khusus kerja Tim ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik

C. Pemeriksaan Elektrokardiograf (EKG) ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik NIHIL NIHIL Rp. 20.000,- Rp. 12.500,- Rp. 13.000,- Rp. 7.500,- Rp. 7.000,- Rp. 3.000,- Rp. 35.000,- Rp. 22.500,- Rp. 100.000,- Rp. 37.500,- Rp. 100.000,- Rp. 75.000,-

(45)

cxxxix  Rp. 27.500,- Rp. 22.500,- Rp. 27.500,- Rp. 15.000,- Rp. 10.000,- Rp. 5.000,- Rp. 60.000,- Rp. 30.000,- Rp. 115.000,- Rp. 60.000,- Rp. 115.000,- Rp. 100.000,- Rp. 45.000,- Rp. 22.500,- Rp. 35.000,- Rp. 25.500,- Rp. 11.000,- Rp. 7.000,-

(46)

cxl  Rp. 80.000,- Rp. 45.000,- Rp. 130.000,- Rp. 75.000,- Rp. 130.000,- Rp. 150.000,- Rp. 13.000,- Rp. 22.500,-

(47)

cxli   

IV TINDAKAN KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN A. Pertolongan Persalinan Normal

1. Kelas III B ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 2. Kelas III A ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 3. Kelas II ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 4. Kelas I ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 5. Kelas Utama ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

B. Pertolongan Persalinan dengan penyulit 1. Kelas III B ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 2. Kelas III A ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 3. Kelas II ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 4. Kelas I ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik 5. Kelas Utama ‰ Retribusi ‰ Jasa Medik

C. Tindakan Khusus (Kuretasi, Pengambilan Alat Kontrasepsi Sulit, dll) 1. Kelas III B ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 2. Kelas III A ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 3. Kelas II ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi NIHIL NIHIL Rp. 40.000,- Rp. 60.000,- Rp. 60.000,- Rp. 150.000,- Rp. 60.000,- Rp. 250.000,- Rp. 60.000,- Rp. 500.000,- NIHIL NIHIL Rp. 40.000,- Rp. 75.000,-

(48)

cxlii  4. Kelas I ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 5. Kelas Utama ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi Rp. 60.000,- Rp. 200.000,- Rp. 90.000,- Rp. 300.000,- Rp. 150.000,- Rp. 750.000,- NIHIL NIHIL NIHIL Rp. 40.000,- Rp. 75.000,- Rp. 30.000,- Rp. 60.000,- Rp. 150.000,- Rp. 60.000,- Rp. 60.000,- Rp. 300.000,- Rp. 100.000,- Rp. 60.000,-

(49)

cxliii  Rp. 750.000,- Rp. 120.000,- V TINDAKAN OPERASI A. Operasi Sedang 1. Kelas III B ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 2. Kelas III A ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 3. Kelas II ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 4. Kelas I ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 5. Kelas Utama ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi B. Operasi Berat 1. Kelas III B ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 2. Kelas III A ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 3. Kelas II ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 4. Kelas I ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 5. Kelas Utama ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi NIHIL NIHIL NIHIL Rp. 100.000,- Rp. 120.000,- Rp. 60.000,- Rp. 140.000,- Rp. 310.000,- Rp. 130.000,- Rp. 270.000,- Rp. 520.000,- Rp. 270.000,- Rp. 310.000,- Rp. 750.000,- Rp. 310.000,-

(50)

cxliv  C. Operasi Khusus 1. Kelas III B ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 2. Kelas III A ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 3. Kelas II ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 4. Kelas I ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi 5. Kelas Utama ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik ‰ Jasa Anastesi

D. Tindakan Segera / CITO

NIHIL NIHIL NIHIL Rp. 150.000,- Rp. 175.000,- Rp. 100.000,- Rp. 280.000,- Rp. 520.000,- Rp. 200.000,- Rp. 410.000,- Rp. 750.000,- Rp. 210.000,- Rp. 410.000,- Rp. 920.000,- Rp. 420.000,- NIHIL NIHIL NIHIL Rp. 150.000,-

(51)

cxlv  Rp. 175.000,- Rp. 50.000,- Rp. 280.000,- Rp. 620.000,- Rp. 200.000,- Rp. 410.000,- Rp. 750.000,- Rp. 210.000,- Rp. 410.000,- Rp.1.010.000,- Rp. 450.000,- Rp. + 25% VI PENGUJIAN KESEHATAN 1. Keperluan pendidikan ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik 2. Keperluan lainnya ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik Rp. 4.000,- Rp. 4.000,- Rp. 7.500,- Rp. 7.500,-

VII PEMULASARAN JENAZAH 1. Perawatan

(52)

cxlvi  ‰ Jasa Perawatan

2. Pengawetan jenazah dengan formalin ‰ Retribusi

‰ Jasa Medik 3. Pembedahan jenazah

a. Untuk keperluan penyidikan ‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik

(biaya atas beban Pemda Cq. Anggaran RSUD) b. Atas biaya pihak ke III

‰ Retribusi bahan/alat ‰ Jasa Medik Rp. 20.000,- Rp. 60.000,- Rp. 130.000,- Rp. 130.000,- Rp. 65.000,- Rp. 130.000,- Rp. 65.000,- Rp. 210.000,- VIII PEMAKAIAN MOBIL AMBULANS/JENAZAH  1. Distrik Abepura (0-10 Km) ‰ Retribusi ‰ Jasa Pengemudi

2. Luar Distrik > 10 Km, untuk tiap Km : ‰ Retribusi ‰ Jasa Pengemudi Rp. 50.000,- Rp. 25.000,- Rp. 5.000,- Rp. 2.500,-

IX PEMAKAIAN GAS OKSIGEN PER JAM Rp. 10.000,-

X PEMAKAIAN SINAR UNTUK TERAPI PER JAM 1. Kelas IIIB 2. Kelas IIIA 3. Kelas II 4. Kelas I NIHIL Rp. 5.000,-

(53)

cxlvii 

5. Kelas Utama Rp. 20.000,-

Rp. 25.000,- Rp. 30.000,-

(54)

cxlviii   

No Jenis Pelayanan Tarif

XI PENGELOLAAN PENERIMAAN RUMAH SAKIT

a. Penerimaan dari biaya karcis harian, Akomodasi perawatan, obat, retribusi, Penggunaan mobil ambulans dan mobil Jenazah, asrama seluruhnya disetor ke Kas Daerah.

b. Penerimaan dari jasa medik, anestesi, sopir Disetor ke Kas Daerah dan 100% dari jumlah dimaksud dikembalikan ke Rumah Sakit

c. Penggunaan jasa medik dan anestesi tersebut huruf b diatas ditetapkan sbb : 1. Tenaga medik

2. Tenaga paramedik/non medik 3. Biaya umum

d. Penerimaan ASKES, ASTEK dan Transmigrasi dapat dikelola sesuai SK bersama Menteri Kesehatan 50 % 45 % 5 %     WALIKOTA JAYAPURA, TTD Drs. M. R. KAMBU, M.Si   SEKRETARIS DAERAH KOTA JAYAPURA,    TTD  Drs. JESAYA UDAM  PEMBINA UTAMA MUDA 

(55)

cxlix  NIP. 640009209 

     

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA

NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG

PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR PROVINSI PAPUA,

Menimbang : a. Bahwa Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi

Khusus bagi Provinsi Papua memberikan kewenangan kepada Pemerintah Provinsi Papua untuk menyelenggarakan Pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis di Provinsi Papua;

b. Bahwa penyelenggaraan Pendidikan di Provinsi Papua sebagai sub sistem dari sistem Pendidikan Nasional, dilaksanakan dengan menonjolkan kekhususan sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 21 Tahun 20001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua;

c. Bahwa pembinaan, pengembangan, dan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu adalah merupakan tanggung jawab keluarga, pemerintah, dan masyarakat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas;

d. Bahwa pendidikan yang selama ini dilaksanakan di Provinsi Papua belum menunjukan hasil yang maksimal, mengakibatkan Provinsi Papua tertinggal dan kurang dapat bersaing dengan daerah lainnya di Indonesia;

e. Bahwa untuk meningkatkan dan mengejar ketertinggalan pembangunan di Provinsi Papua dalam berbagai aspek, sangat diperlukan sumber daya manusia yang bermutu melalui pendidikan yang bermutu pula, sehingga perlu melaksanakan pendidikan di Provinsi Papua;

f. Bahwa untuk maksud tersebut huruf a, huruf b, huruf c, huruf d dan huruf e perlu ditetapkan Peraturan Daerah Provinsi Papua.

PA P U A

(56)

cl 

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Provinsi Otonom Irian Barat danKabupaten-Kabupaten Otonom di Provinsi Irian Barat (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2097);

2. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4151);

3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidkan Nasional (Lembaran Negara Nomor 78 Tahun 2003, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301 Tahun 2003);

4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara 4389);

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun2005 (Lembaran Negara Tahun2005 Nomor 108, Tambahan, Lembaran NegaraNomor 4548); 6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang PeriMbangan

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 35 Tmbahan Lembaran Negara Nomor 3411);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3412);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3414);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3460);

(57)

cli 

12. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3461) ;

13. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 68 , Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peranserta Masyarakat Dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3485);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3859) ;

16. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri Sebagai Badan Hukum (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 116,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3860);

17. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Dan Kewenangan Pemerintah Provinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);

18. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0151/K/1994, tentang Pembebasan Siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri dari Kewajiban ikut Menanggung Biaya Penyelenggaraan Pendidikan.

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI PAPUA dan

GUBERNUR PROVINSI PAPUA MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROVINSI TENTANG

PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI PROVINSI PAPUA

(58)

clii  BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah Provinsi ini yang di maksud dengan: 1. Provinsi adalah Provinsi Papua;

2. Pemerintah Provinsi Papua adalah Gubernur beserta perangkat lain sebagai badan eksekutif;

3. Gubernur adalah Gubernur Provinsi Papua;

4. Dewan Perwakilan Rakyat Papua, yang selanjutnya disebut DPRP, adalah Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua sebagai Badan Legislatif;

5. Majelis Rakyat Papua, yang selanjutnya disebut MRP, adalah representasi kultural orang asli Pupua yang memiliki wewenang tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli Papua dengan berlandaskan penghormatan terhadap adat atau budaya, pemberdayaan perempuan dan pemantapan kerukunan hidup umat beragama;

6. Pemerintah Kabupaten/Kota adalah pemerintah kabupaten/Kota di Provinsi Papua; 7. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota se

Papua;

8. Bupati/Walikota adalah Bupati/Walikota di Provinsi Papua;

9. Masyarakat adalah orang perorangan dan atau badan hukum yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan yang mencakup yayasan, gereja, lembaga swadaya masyarakat, keluarga dan dunia usaha;

10. Orang asli Papua adalah orang yang berasal dari rumpun ras dan/atau orang yang diterima dan diakui sebagai orang asli Papua oleh masyarakat adat Papua;

11. Penduduk Provinsi Papua yang selanjutnya disebut penduduk adalah semua orang yang menurut ketentuan yang berlaku terdaftar dan bertempat tinggal di Provinsi Papua;

12. Pembangunan pendidikan adalah pembangunan yang meiliputi penyiapan sumber daya manusia dan infra struktur pendidikan yang berkualitas di Tanah Papua;

13. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki akhlak mulia, kepribadian luhur, kecerdasan, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara;

14. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan;

(59)

cliii 

15. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan;

16. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan;

17. Pendidikan swasta adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh dan atas inisiatif serta prakarsa masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

18. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu;

19. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan;

20. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang terpanggil untuk mendidik, mengajar dan melatih, serta berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, atau sebutan lain yang sesuai dengan keahliannya;

21. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu;

22. Kurikulum lokal adalah kurikulum yang memuat dan mengatur isi dan bahan pelajaran yang disesuaikan dengan lingkungan sosial-budaya, lingkungan alam, dan kebutuhan pembangunan;

23. Pola pendidikan ponvensional adalah pendidikan yang sudah dibakukan secara nasioanal yang berlaku pada semua jalur, jenjang dan jenis;

24. Pola pendidikan khusus adalah bentuk pendidikan yang dikelola dan dibina sesuai dengan visi, misi dan tujuan satuan pendidikan;

25. Kelas khusus adalah kelas yang dikelola secara khusus oleh satuan pendidikan untuk kelompok peserta didik tertentu agar mencapai taraf dan mutu penguasaan ilmu,pengetahuan,teknologi,dan seni dalam kurun waktu tertentu;

26. Pendidikan Jarak Jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi,informasi,dan media lainnya;

27. Sumber daya pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana, sarana dan prasarana.

28. Subsidi pendidikan adalah pemberian sumber daya dan pelimpahan kewenangan oleh pemerintah Provinsi dan atau Kabupaten/Kota kepada lembaga pendidikan swasta yang memenuhi syarat sesuai peraturan perundangan;

(60)

cliv 

29. Bantuan adalah pemberian yang bersifat insidental oleh pemerintah, swasta, masyrakat dan atau perorangan kepada lembaga dan atau satuan pendidikan dalam bentuk dana, tenaga, sarana dan prasarana;

30. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi;

31. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang;

32. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan;

33. Lembaga penyelenggara pendidikan swasta adalah lembaga penyelenggara pendidikan swasta nasional dan yayasan seperti yang tercantum dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 yang memenuhi persyaratan dan memiliki izin untuk menyelenggarakan pendidikan di Tanah Papua;

34. Dewan Pendidikan Anak Papua untuk akselerasi yang selanjutnya disingkat D-PAPUA adalah suatu badan yang terdiri atas para ahli pendidikan yang berfungsi memikirkan, menilai dan menentukan arah kebijakan, serta mengupayakan sumber daya pendukung bagi pembangunan pendidikan di Tanah Papua;

35. Kebudayaan asli Papua adalah kebudayaan yang hidup, tumbuh dan berkembang di lingkungan suku-suku asli rumpun ras Melanesia di Provinsi Papua;

36. Kolese pendidikan adalah program pendidikan guru yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan khusus dalam pembangunan pendidikan di Papua;

37. Communitty college adalah suatu lembaga yang melaksanakan program pendidikan profesi.

BAB II T U J U A N

Pasal 2

Pembangunan pendidikan bertujuan membangun dan menyiapkan orang asli Papua serta penduduk Papua yang berkualitas dalam ilmu dan iman, serta cakap, kreatif, mandiri, sehat, demokratis, berbudi pekerti luhur dan bertanggung jawab.

BAB III

PRINSIP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN Pasal 3

(1) Pendidikan di Provinsi Papua diselenggarakan dengan memberikan prioritas kepada orang asli Papua, secara khusus peserta didik didaerah-daerah yang terisolasi, terpencil dan terabaikan.

(61)

clv 

(2) Pendidikan di Provinsi Papua diselenggarakan dengan beban masyarakat serendah-rendahnya, dengan memperhatikan kemampuan orang tua.

(3) Pendidikan di Provinsi Papua dilaksanakan untuk membebaskan orang asli Papua dari kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan dan penindasan.

BAB IV

KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB Pasal 4

(1) Pemerintah Provinsi Papua berkewenangan :

a. Mengelola penyelenggaraan pendidikan menengah umum dan kejuruan;

b. Membina dan menjaga standar mutu penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah;

c. Menetapkan dan mengatur pedoman penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah;

d. Mengangkat, memberhentikan, dan mengelola tenaga pendidik dan kependidikan pada jenjang pendidikan menengah umum dan kejuruan;

e. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk mengelurkan perizinan penyelenggaraan perguruan tinggi;

f. Mengawasi penyelenggaraan perguruan tinggi;

g. Memperoleh laporan penyelenggaraan dan pertanggung jawaban pendidikan tinggi; h. Melarang dan menutup aktifitas penyelenggaran pendidikan menengah umum dan

kejuruan yang melanggar peraturan perundang-undangan;

i. Melarang dan menutup aktifitas perguruan tinggi yang tidak memenuhi ketentuan perundang-perundangan.

(2) Pemerintah Kabupaten/Kota berkewenangan : a. menyelenggarakan pendidikan dasar;

b. mengeluarkan izin operasional pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan dasar; c. mengangkat, memberhentikan dan mengelola pendidik dan tenaga kependidikan

untuk jenjang pendidikan dasar;

(62)

clvi 

e. melarang dan menutup aktifitas penyelenggaraan pendidikan dasar yang melanggar peraturan perundang-undangan.

Pasal 5 (1) Pemerintah Daerah bertanggung jawab :

a. menyelenggarakan pendidikan yang bermutu bagi setiap penduduk;

b. menyediakan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan pada setiap satuan pendidikan;

c. menyediakan sarana dan prasarana penunjang penyelenggaraan pendidikan;

d. menyediakan dana bagi penyelenggaraan pendidikan di setiap jalur,jenis dan jenjang pendidikan; dan

e. meningkatkan kemampuan profesional tenaga pendidik dan kependidikan pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan.

(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan dalam anggaran Pemerintah Daerah setiap tahun.

Pasal 6

(1) Pemerintah Daerah dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf d dan ayat (2) huruf c dapat mendelegasikan kewenangan kepada yayasan penyelenggara pendidikan dalam hal penempatan, pembinaan dan pemutasian tenaga pendidik dan kependidikan.

(2) Pemerintah Provinsi Papua dalam melaksanakan kewengan dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 membentuk Dewan Pendidikan Anak D-PAPUA.

(3) Pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Gubernur.

(63)

clvii  BAB V

HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu

Hak dan Kewajiban Penduduk

Pasal 7

(1) Setiap penduduk Provinsi berhak memperoleh pendidikan dan pelatihan yang bermutu sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan yang dimilikinya, sampai pada tingkat pendidikan tinggi.

(2) Setiap orang asli Papua, baik laki-laki maupun perempuan berhak memperoleh prioritas pelayanan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Setiap penduduk, khususnya orang asli Papua yang berusia tujuh sampai dengan delapan belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.

(4) Pelaksanaan hak orang asli Papua sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Gubernur.

Pasal 8

Setiap penduduk Provinsi yang memiliki kelainan fisik,kejiwaan,dan atau hambatan sosial berhak memperoleh pendidikan khusus yang diselenggarakan Pemerintah Daerah.

Pasal 9

Setiap orang asli Papua yang bermukim di daerah terisolasi terpencil dan terabaikan berhak memperoleh pendidikan dengan pola khusus.

Pasal 10

Setiap penduduk Provinsi berkewajiban menciptakan kondisi aman dan damai,menjaga dan memelihara sarana pendidikan, serta memberikan dukungan dan perlindungan kepada peserta didik, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya

Bagian Kedua

Hak dan Kewajiban Keluarga Pasal 11

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :