1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setelah dilaksanakan konfrensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang lingkungan hidup di Stockholm Swedia pada 5 Juni 1972, yang kemudian disepakati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia,1 kerusakan lingkungan hidup2 mendapatkan perhatian besar. Dua tahun sebelumnya, 22 April 1970, Masyarakat sipil Amerika memprakarsai pencanangan peringatan Hari Bumi. Gagasan ini merupakan refleksi keprihatinan seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, terhadap semakin menurunnya kualitas lingkungan hidup.3 Peringatan Hari Bumi atau Hari Lingkungan Hidup versi masyarakat sipil kini telah menjadi peristiwa yang mendunia dan diperingati setiap tahun di seluruh dunia.4 Kemudian, berita-berita tentang lingkungan hidup mulai ramai diperbincangkan di media massa, terutama koran dan majalah.
Oleh karena berita-berita tersebut berasal dari dunia Barat, maka yang menjadi sorotan utama adalah masalah pencemaran. Dalam perkembangan selanjutnya, permasalahan lingkungan tampaknya sudah mulai meluas, tidak hanya terkait pencemaran semata, tetapi juga menyangkut hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidup.
Sebagai ilustrasi, muncul kebijakan dari negara-negara industri Barat untuk memindahkan
―cerobong asap industri‖ yang penuh polusi ke negara-negara sedang berkembang. Pemindahan ini membawa konsekuensi berupa transfer biaya eksternalitas dari negara industri maju ke negara sedang berkembang yang berlangsung melalui proses relokasi industri.5
1Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Jakarta, 1983, h. 1
2Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (Pasal 1 ayat 1 UU No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup), dalam Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Gajah Mada University Press, 1999, h. 554. Dalam tulisan ini, Lingkungan Hidup dibatasi hanya pada lingkungan fisik alamiah (natural environment) saja.
3Meskipun Presiden Richard Nixon kurang merestui gagasan tersebut, tetapi Gaylord Nelson, dalam pidatonya di Seattle 1969, mendesak agar isu kontroversial lingkungan hidup dimasukkan ke dalam kurikulum resmi di sekolah- sekolah dan perguruan tinggi. Gagasan ini didukung oleh tidak kurang dari 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah di Amerika Serikat. Hal ini terbukti ketika peringatan Hari Bumi yang pertama, sekitar 20 juta orang turun ke jalan di seluruh Amerika (Gerakan Moral di Hari Bumi 2000, dalam Harian Kompas, Sabtu, 22 April 2000).
4 Gerakan Moral di Hari Bumi 2000 dalam Harian Kompas, Sabtu 22 April, 2000.
5Biaya eksternalitas adalah sebuah terminologi yang mengacu kepada sejumlah implikasi yang ditimbulkan proses produksi terhadap kerusakan lingkungan hidup. Kenaikan tingkat produksi, menurut teori, selalu mengakibatkan peningkatan biaya eksternalitas yakni pencemaran dan degradasi lingkungan hidup (Indra Ismawan, Risiko Ekologis di Balik Pertumbuhan Ekonomi, Media Pressindo, Yogyakarta, 1999, h. 10); Cf. Priono Tjiptoherianto, Dampak
2 Isu terakhir terkait keprihatinan menyeluruh akan pentingnya perhatian terhadap aspek lingkungan dalam proses produksi dan perdagangan adalah penerapan labelisasi-ekologis (eco- labelling) yaitu label ramah lingkungan terhadap setiap produk yang akan dilempar ke pasaran.
Produk hijau dengan semboyan renewable resource, recycleable, dan biodegradable,6 kini membanjiri pasar dunia. Bahkan isu terhangat dalam konteks keindonesiaan terkait kesadaran pelestraian lingkungan, muncullah gerakan anti kantong plastik ketika berbelanja (plastik berbayar), dimana plastik ditengarai sebagai benda yang sulit diurai dalam tanah. Terlepas dari adanya intrik dikotomis antara negara maju dan negara berkembang (dalam persoalan produk hijau ini), dari sisi lingkungan, pesan moral yang ingin disampaikan adalah mengajak seluruh masyarakat untuk tidak membeli produk yang tidak ramah lingkungan sebagai bentuk kongkrit kepedulian terhadap lingkungan.
Upaya kepedulian lingkungan selama kurang lebih tiga dasawarsa terakhir ini alih-alih membawa keadaan lingkungan membaik, malah membuat lingkungan tambah memprihatinkan7 seperti di negara maju, apalagi di negara berkembang.
Krisis lingkungan ini boleh jadi disebabkan oleh penggunaan teknologi modern menggunakan mesin-mesin dengan kemampuan tinggi yang cenderung ekspansif dan eksploitatif, yang dalam operasionalnya menghasilkan limbah dari proses pengolahan industri ataupun disebabkan pengrusakan dan pengurasan sumberdaya alam (natural resources) secara sangat cepat, jauh melampaui daya lenting (resilience)8 sumber daya alam yang bersangkutan.
Permasalahan di atas secara teknis mulai dapat dikendalikan melalui penciptaan teknologi pengolahan sumberdaya alam dan limbah ramah lingkungan. Namun ternyata masalahnya tidak hanya pada teknologi, tetapi juga pada masalah ekonomi. Pertimbangan ekonomi yang menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran dan kemudian tak terkendali.
Hal ini dilakukan karena besarnya permintaan pasar, seiring dengan semakin besarnya pertambahan jumlah penduduk,9 dan makin meningkatnya kebutuhan masyarakat seiring dengan peningkatan kemajuannya.10
(Lingkungan) pada Ekonomi, (Makalah), Kursus Dasar-dasar Analisis Dampak Lingkungan, X, Mei 1985, PPSML UI – Kantor Meneg KLH, Jakarta, h. 2-6.
6Majalah Bulanan Lingkungan Hidup, Ozon, Vol. 2, No. 3, November 2000, h. 9-16
7Pidato Sekjen PBB, Kofi Annan dalam Sambutannya Memperingati Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia, 5 Juni 1999, dengan tema ―Our Earth, Our Future---Just Save It dalam Harian Umum Republika, 5 Juni 1999.
8 Daya lenting (resilience) ialah kemampuan untuk pulih dari suatu gangguan.
9Jumlah penduduk yang terus bertambah akan memberikan tekanan yang lebih besar terhadap degradasi lingkungan.
Hasil studi Worldwatch Institute menunjukkan, bahwa setidaknya ada dua puluh dua masalah yang terkait dengan
3 Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya krisis lingkungan, terletak pada sikap yang mendasari hubungan manusia dengan alam yang tidak tepat. Pola pendekatan manusia terhadap alam yang teknokratis,11 dalam arti manusia sekedar mau menguasai alam untuk memenuhi kebutuhannya. Alam dilihat sebagai tumpukan kekayaan dan energi untuk dimanfaatkan. Bahwa alam bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karenanya perlu dipelihara tidak dipedulikan dalam wawasan teknokratis. Teknokratis adalah sikap merampas dan membuang. Maksudnya, alam dibongkar untuk diambil apa saja yang diperlukan, dan apa yang tidak diperlukan berupa limbah dibuang sembarangan.12
Dampak dari pendekatan di atas ternyata sangat besar terhadap kelestarian biosfer dan ancaman terhadap umat manusia. Setiap kerusakan dan peracunan wilayah yang tidak dapat dipulihkan kembali, berarti menggerogoti dasar-dasar alamiah kehidupan generasi-generasi yang akan datang.13 Untuk mengatasi krisis lingkungan yang ada, dirasakan tidak cukup dengan teknologi dan perundang-undangan (sekuler) saja, tetapi diperlukan panduan moral dan etika.14 Bahkan pendekatan moral dan etika saja belum cukup, tetapi harus disertai dengan penegakan hukum. Memberikan panduan moral dan etika disertai dengan penegakan hukum, diharapkan dapat lebih efektif15 dalam mencegah krisis lingkungan.
Dalam pada itu, Al Gore, Wakil Presiden Amerika Serikat ke-45, yang dikenal sangat peduli terhadap lingkungan hidup, menyatakan bahwa lebih dalam saya menggali akar krisis lingkungan yang melanda dunia, lebih mantap pula keyakinan saya bahwa krisis ini tidak lain adalah suatu manifestasi nyata dari krisis spritual manusia.16
Demikian pula Seyyed Hossein Nasr mengatakan, bahwa krisis lingkungan yang kini terjadi bukanlah melulu soal ekonomi dan teknologi, tetapi krisis lingkungan merupakan refleksi pertumbuhan penduduk, 15 di antaranya terkait langsung dengan masalah degradasi lingkungan (Lihat Lester R.
Brown et al., Twenty-Two Dimensions of the Population Problem, Worldwatch Institute, Washington, 1976).
10Peningkatan taraf hidup jauh lebih besar benturannya terhadap sumberdaya alam dibandingkan dengan benturan yang diakibatkan oleh peningkatan jumlah penduduk semata-mata (Lihat Nathan Keifitz,―World Resources and the World Middle Class,‖ dalam Scientific America, Juli 1976, h. 12.
11Teknokratis, dari kata Yunani tekne (keterampilan) dan kratein (menguasai). Artinya manusia sekadar mau menguasai alam (Frans Magniz Suseno et al., Etika Sosial, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996, h. 147).
12 Theo Huijbers, Manusia Merenungkan Dunia, Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1986, h. 35-37.
13Lester R. Brown et al., Dunia Penuh Ancaman, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1987, h. 22-36, 168-261.
14 Eka Budianta, Eksekutif Bijak Lingkungan, Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara, Jakarta, 1997, h. 1-12.
15A. Qadir Gassing, Etika Lingkungan Menurut Ajaran Islam, (Laporan Penelitian), Pusat Penelitian IAIN Alauddin, Ujung Pandang, 1996/1997, h. 57-58
16 Al Gore, Earth in the Balance: Ecology and the Human Spirit, Houghton Mifflin Company, Boston, 1990, h. 229- 336. Ia menjabat sebagai wakil presiden ke-45 pada masa Bill Clinton dari tahun 1993-2001, lihat Wikipedia dalam id.m.wikipedia.org
4 dari krisis spritual yang paling dalam dari umat manusia. Karena menangnya humanisme yang memutlakkan manusia bumi, sehingga alam dan lingkungan diperkosa atas nama hak-hak manusia.17 Lebih lanjut, ia berpendapat tidak cukup dengan moral-etika saja, tetapi harus disertai dengan hukum yang membawa implikasi penekan. Ia menandaskan pentingnya mengembangkan kesadaran akan ajaran-ajaran agama mengenai perlakuan secara etis terhadap lingkungan alam, dan harus diperluas aplikasinya sejalan dengan prinsip agama itu sendiri. Di sini, hukum-hukum tentang lingkungan yang berdiri di atas landasan tauhid dan moral-etis harus diresapi signifikansinya.18
Terkait krisis lingkungan di atas, kawasan hutan gunung Lemongan di kecamatan Klakah kabupaten Lumajang mengalami kerusakan yang memprihatinkan. Menurut data yang ada, seluas 2000 ha. hutan gundul akibat illegal logging (pembalakan liar) pada tahun 2000, yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tujuan pembalakan hutan di wilayah ini, untuk selanjutnya ditanami tanaman sengon yang memiliki nilai ekonomi untuk dipanen setelah lima tahun dan dijual kepada pihak industri sebagai bahan baku triplek. Akibat hutan yang gundul ini sejumlah ranu di kawasan ini mengalami penyusutan debit air bahkan ada yang mengalami kekeringan. Apabila hal ini dibiarkan, maka dapat terjadi bahaya longsor di Gunung Lemongan pada musim hujan yang tidak saja merusak pemukiman dan mengancam jiwa masyarakat yang tinggal di sekitar lereng gunung, tetapi juga berdampak pada kekeringan sumber mata air di musim kemarau yang menyusahkan kehidupan masyarakat sekitarnya.19
Rusaknya lingkungan hutan gunung Lemongan ini membuat prihatin A‗ak Abdullah al- Kuddus (pendiri komunitas Laskar Hijau)—seorang pemuda yang pernah dinobatkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup mendapatkan piala Kalpataru sebagai tokoh pelestari lingkungan—untuk bergerak melakukan upaya penyelamatan hutan gundul Gunung Lemongan dengan menanami pepohonan sebagai upaya menghijaukan kembali kawasan ini.20 Gerakan yang dilakukan A‗ak Abdullah al-Kuddus menurut pengakuannya diilhami oleh adanya teks-teks agama baik yang bersumber dari ayat al-Qur‘an maupun Hadis Nabi saw.21 ketika ia dihadapkan
17 Seyyed Hossein Nasr, ―Islam and the Environmental Crisis‖ dalam The Islamic Quarterly, Vol. XXXIV, No. 4 tahun 1990, h. 217-234.
18 Ibid.
19 Wawancara dengan Ilal Hakim, aktifis Laskar Hijau di Posko Laskar Hijau Gunung Lemongan, Rabu, 16 Juni 2021, pukul 10.00 wib.
20 CNN Indonesia …
21 Wawancara dengan A‘ak Abdullah al-Kuddus, pendiri Laskar Hijau di sekretariat Laskar Hijau Linduboyo Lumajang, Rabu, 16 Juni 2021, pukul 14.00 wib.
5 pada permasalahan di lapangan. Kembali ia menuturkan bahwa pada mulanya konservasi Gunung Lemongan ini merupakan wacana bersama dari konsorsium Gus Durian wilayah Lumajang yang terdiri dari 20 orang. Namun dalam prosesnya, masing-masing dari personelnya meninggalkan gagasan ini karena beratnya ―perjuanngan sulit‖ yang dihadapi.22 Sehingga kondisi ini menjadikan Gus A‘ak berjuang sendiri melanjutkan kegiatan konservasi hutan ini.
Fenomena di atas mendorong peneliti untuk meneliti lebih dalam terkait peran ajaran agama dalam gerakan konservasi hutan Gunung Lemongan yang dilakukan komunitas Laskar Hijau.
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Permasalahan yang dapat didentifikasi dari latar belakang di atas adalah:
1. Ajaran-ajaran agama mana saja yang mengilhami gerakan komunitas Laskar Hijau dalam melaksanakan konservasi hutan Gunung Lemongan?
2. Bagaimana peran ajaran-ajaran agama tersebut terhadap gerakan komunitas Laskar Hijau dalam melaksanakan konservasi hutan Gunung Lemongan?
3. Bagaimana problematika yang dihadapi oleh gerakan konservasi hutan ini dalam menanamkan kesadaran masyarakat turut peduli lingkungan?
4. Bagaimana strategi komunitas Laskar Hijau dalam menyadarkan masyarakat sekitar hutan untuk ikut peduli konservasi hutan Gunung Lemongan?
5. Bagaimana bentuk pelestarian lingkungan yang dilakukan komunitas Laskar Hijau dalam mencegah kerusakan hutan yang semakin luas?
6. Bagaimana dampak konservasi yang dilakukan komunitas Laskar Hijau terhadap hutan Gunung Lemongan?
Dari banyaknya permasalahan yang dapat diidentifikasi di atas, peneliti membatasi masalah penelitian pada:
1. Ajaran agama serta perannya dalam mengilhami gerakan komunitas Laskar Hijau dalam pelestarian hutan Gunung Lemongan;
2. Problem yang dihadapi gerakan komunitas Laskar Hijau dalam pelestarian hutan Gunung Lemongan.
22 Perjuangan sulit yang dimaksudkan adalah adanya teror dari oknum perhutani, pengusaha, aparat penegak hukum yang ―mendapatkan keuntungan‖ dari bisnis pengelolaan hutan Gunung Lemongan., ibid.
6 3. Dampak konservasi yang telah dilakukan komunitas Laskar Hijau terhadap pelestarian
hutan Gunung Lemongan.
C. Rumusan Masalah
Dari identifikasi dan batasan masalah di atas, rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ialah:
1) Apa saja ajaran agama dan perannya yang mendorong gerakan komunitas Laskar Hijau melaksanakan konservasi hutan Gunung Lemongan?
2) Bagaimana problem yang dihadapi komunitas Laskar Hijau dan strategi yang dilaksanakan untuk konservasi hutan Gunung Lemongan?
3) Bagaimana dampak konservasi yang dilakukan komunitas Laskar Hijau terhadap hutan Gunung Lemongan?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1) Mengidentifikasi ajaran agama mana saja yang menjadi landasan ecoteologis serta perannya yang mendorong gerakan komunitas Laskar Hijau melaksanakan konservasi hutan Gunung Lemongan
2) Mengetahui problematika yang dihadapi komunitas Laskar Hijau serta strategi yang dilakukan dalam melaksanakan konservasi
3) Mengetahui dampak konservasi yang dilakukan komunitas Laskar Hijau terhadap hutan Gunung Lemongan
E. Kajian Terdahulu
Pengkajian masalah lingkungan dari sudut pandang Islam masih agak langka. Tulisan tulisan lepas dan makalah-makalah ilmiah, berkaitan dengan lingkungan hidup, kebanyakannya ditulis untuk kepentingan-kepentingan tertentu, dan karena itu pembahasannya hanya meliputi aspek tertentu saja dari banyak aspek lingkungan hidup.
Pembahasan yang agak lebih komprehensif tentang lingkungan hidup, sejauh yang dapat dijumpai, dilakukan antara lain oleh Hossein Nasr, Mujiyono Abdillah, dan Iris Shafwat. Seyyed Hossein Nasr, sejak tahun 1966, telah menyampaikan serangkaian kuliah di Universitas Chicago
7 mengenai akar-akar intelektual dan metafisis dari krisis lingkungan. Dalam kuliahnya ia menyerukan agar prinsip-prinsip kearifan tradisional dimasukkan kembali ke dalam segala aspek kehidupan modern, terutama sains. Kuliah-kuliahnya itu kemudian diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul: Man and Nature : Spritual Crisis of Modern Man, yang terbit pada tahun 1967. Bukunya yang lain adalah An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines.23 Dalam buku ini diuraikan konsep-konsep kosmologi dan kaitannya dengan ajaran Islam serta metode yang digunakan dalam pengkajiannya.
Terhadap kosmologi, Nasr menulis bahwa pandangan Islam tentang tatanan dan lingkungan alam, sebagaimana semua hal yang islami, berakar dalam al-Qur‗an. Al-Qur‗an tidak menarik garis pemisah yang jelas, baik antara yang natural dan supernatural maupun antara dunia manusia dan dunia alam. Jiwa yang telah ditumbuhkan dan dipelihara al-Qur‗an, tidak memandang dunia alam sebagai musuh alamiahnya yang harus ditaklukkan dan ditundukkan, melainkan sebagai bagian integral dari jagad religius manusia yang bersama-sama mewarisi kehidupan duniawi ini dan bahkan–dalam satu pengertian—takdirnya yang tertinggi.24
Pada tulisannya yang lain, Islam and the Environmental Crisis, Nasr mengemukakan, bahwa selama berabad-abad, dimensi kosmis al-Qur‗an telah dielaborasi oleh orang-orang bijak di kalangan kaum muslim. Mereka merujuk kepada al-Qur‗an yang kosmis atau ontologis (al- Qur‟an al-Takwini). Pada wajah setiap makhluk, mereka temukan huruf-huruf dan kata-kata dari halaman-halaman al-Qur‗an yang kosmis, yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang bijak.
Mereka selalu sadar sepenuhnya akan kenyataan, bahwa al-Qur‗an merujuk kepada fenomena- fenomena alam dan peristiwa-peristiwa dalam jiwa manusia sebagai ayat (secara harfiah berarti tanda-tanda atau simbol-simbol), suatu istilah yang juga digunakan untuk menunjukkan ayat-ayat al-Qur‗an. Mereka membaca buku kosmos, surat-surat dan ayat-ayatnya, dan memandang fenomena alam sebagai ―tanda-tanda‖ Sang Pengarang kitab kosmis. Bagi mereka, bentuk- bentuk alam secara harfiah merupakan ayat Allah (tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah), suatu konsep yang sebelumnya dikenal dengan pasti dalam tradisi Barat sebelum—dengan merebaknya rasionalisme—simbol-simbol diubah menjadi tidak lebih dari fakta-fakta kasar, dan
23Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, diterbitkan pertama kali pada tahun 1964 oleh the President and Fellows of Harvard College. Yang banyak beredar sekarang, termasuk yang digunakan dalam tulisan ini adalah edisi revisi, terbit pada 1978 oleh Shambhala Publications Inc., Boulder Colorado, Amerika Serikat.
24Ibid., h. 71
8 sebelum Barat modern "kesasar" menciptakan ilmu pengetahuan yang digunakan lebih untuk menguasai alam daripada mendapatkan kearifan berdasarkan perenungan atas bentuk- bentuknya.25
Dalam pengertian lebih mendalam, dapat dikatakan bahwa dalam perspektif Islam, Tuhan sendiri adalah lingkungan paling agung yang mengelilingi dan meliputi manusia. Sangat penting untuk diingat, bahwa dalam al-Qur‗an, Tuhan disebut sebagai Yang Maha Meliputi (al-Muhith), seperti tertera dalam QS. al-Nisa‗, 4:126 (terjemahnya): ―Kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan Allah Maha Meliputi (al-Muhith) segala sesuatu‖; dan bahwa istilah muhith juga berarti lingkungan. Dalam kenyataannya, manusia memang terbenam dalam muhith Tuhan, hanya saja ia tidak menyadarinya lantaran kelalaian dan kealpaannya (ghaflah).
Inilah yang menyebabkan kotornya jiwa manusia, dan membersihkannya adalah dengan cara mengingat (dzikr) Tuhan. Mengingat Tuhan adalah melihat-Nya di mana saja dan mengalami realitas-Nya sebagai al-Muhith.26
Dalam kaitan dengan krisis lingkungan yang dialami dunia dewasa ini, Nasr menyatakan, bahwa sebenarnya hal itu disebabkan oleh penolakan manusia untuk melihat Tuhan sebagai
―lingkungan‖ yang nyata, yang mengelilingi manusia dan memelihara kehidupannya. Kerusakan lingkungan adalah akibat dari upaya manusia modern yang memandang lingkungan alam sebagai sebuah tatanan realitas yang secara ontologis berdiri sendiri terpisah dari lingkungan Ilahiah yang tanpa berkah pembebasan-Nya, lingkungan menjadi sekarat dan mati. Mengingat Tuhan sebagai al-Muhith, berarti tetap menyadari kualitas alam yang suci, realitas fenomena alam sebagai tanda- tanda (ayat) Tuhan dan kehadiran lingkungan alam sebagai sebuah atmosfir yang diserapi oleh kehadiran Ilahiah dalam realitas tersebut, yang Dia sendiri merupakan―lingkungan‖ tertinggi yang darinya kita bermula dan kepadanya kita kembali.27
Sementara itu. Mujiyono Abdillah, dalam bukunya Agama Ramah Lingkungan, Perspektif al-Qur‟an, menyoroti lingkungan hidup dari segi teologi.28 Ia memfokuskan pembahasannya pada tiga masalah yaitu konseptualisasi teologi lingkungan, konsep teologis hubungan Tuhan dengan lingkungan, dan konsep teologis hubungan manusia dengan lingkungan. Ketika membahas konseptualisasi teologi lingkungan, ia mengemukakan beberapa permasalahan
25 Seyyed Hossein Nasr, ―Islam …, loc. cit.
26Ibid.
27Ibid.
28Judul asli dari disertasi yang kemudian diterbitkan menjadi buku itu adalah ―Teologi Lingkungan Islam.‖ Lih.
Mujiyono Abdillah, Agama Ramah Lingkungan, Perspektif al-Qur‟an, Paramadina, Jakarta, 2001, h. 21.
9 lingkungan dikaitkan dengan teologi. Di sini diuraikan antara lain tentang teologi energi, teologi banjir, dan teologi pemanasan global.29 Pada pembahasan konsep teologis hubungan Tuhan dengan lingkungan, ia meninjaunya dari perspektif ekologis dan dari perspektif Islam. Sedangkan ketika membahas konsep teologis hubungan manusia dengan lingkungan, ia menguraikan hubungan struktural dan hubungan fungsional. Di akhir pembahasannya, ia mengemukakan kesimpulan. Salah satu di antara kesimpulannya yang menarik adalah bahwa pelestarian lingkungan diyakini sebagai perilaku religius, sebaliknya perusakan lingkungan diyakini sebagai perilaku kufur ekologis.30 Pada akhir kesimpulannya ia menyarankan perlunya dibangun etika lingkungan dan fiqih lingkungan. Etika lingkungan diperlukan untuk memperkokoh bangunan konsep ekoteologi Islam, sedangkan fiqih lingkungan perlu dikembangkan lebih lanjut untuk dijadikan panduan perilaku lahiriah dalam mengelola lingkungan.31 Dari uraian di atas terlihat bahwa Hossein Nasr dan Mujiyono Abdillah, setelah membahas masalah lingkungan dari sisi filosofis dan teologis, keduanya merasakan perlunya dikembangkan etika lingkungan dan fiqih lingkungan. Yang pertama, etika lingkungan, sedikit banyak telah disinggung oleh kedua pakar ini, walaupun belum tampak jelas bentuknya. Sedangkan yang kedua, fiqih lingkungan, kelihatannya belum dibahas sama secara memadai.
Sementara itu, Iris Shafwat dalam tulisannya yang berjudul Al-Islam wa al-Muhafazhatu
„ala al-Bi‟ah,32 mengemukakan beberapa hal tentang lingkungan hidup. Sebagaimana Nasr dan Mujiyono, Shafwat juga menyoroti hubungan antara manusia dengan lingkungan. Menurutnya, hubungan antara manusia dengan lingkungan, dalam al-Qur‗an, dikemukakan dengan kata sakhkhara yang tidak diartikan menundukkan atau menjadikan sasaran (eksploitasi), tetapi lebih pada makna menggunakan dengan penuh perhitungan.33
Hal lain yang disinggung oleh Shafwat adalah eksploitasi lingkungan yang dilakukan dengan penuh ketamakan dan egoisme, yang akhirnya membawa pada krisis lingkungan. Krisis ini lebih dipercepat lagi oleh penggunaan teknologi maju yang pada kenyataannya mampu menyelesaikan masalah manusia, tetapi pada saat yang bersamaan teknologi juga menjadi
29 Ibid., h. 51-64, 77-97.
30Ibid., h. 224.
31Ibid.
32´Iris Shafwat, ―Al-Islam wa al-Muhafazhatu „ala al-Bi‟ah,‖ dalam Al-Islam al-Yawm, Majalah ISESCO, No. 11, 1994/1404, h. 87-96
33 Ibid., h. 88.
11 penyebab kerusakan lingkungan.34 Ketamakan dan egoisme seperti yang disinggung Shafwat di atas, dapat menjadi salah satu prinsip etika lingkungan, sebagaimana halnya dengan hubungan manusia dan lingkungan yang diikat dengan kalimat sakhkhara.
Dari uraian di atas terlihat, bahwa yang menjadi fokus pembahasan dalam penelitian ini tidak sama dengan kajian yang telah dibahas penulis terdahulu. Tetapi para penulis di atas telah meletakkan dasar-dasar untuk pengkajian lebih lanjut tentang permasalahan lingkungan hidup.
Hossein Nasr, Mujiyono, dan Shafwat telah membahas konsep kosmologi dalam Islam, dan telah menunjukkan bagaimana hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Demikian juga tentang pengelolaan lingkungan (yang negatif), yang oleh Shafwat disebut sebagai biangnya krisis lingkungan, yaitu ketamakan dan egoisme.
F. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah:
1. Teridentifikasi prinsip-prinsip dasar dari ajaran agama yang dapat menjadi landasan ecoteologis dalam menanamkan kesadaran pelestarian lingkungan dan merumuskan prinsip- prinsip moral lingkungan yang dapat menjadi bingkai rujukan dalam menetapkan pelestarian lingkungan.
2. Terpotret problem yang dihadapi serta strategi yang ditempuh oleh komunitas Laskar Hijau dalam menyadarkan masyarakat sekitar hutan gunung Lemongan untuk peduli lingkungan.
3. Terdeskripsikan dampak pelestarian hutan gunung Lemongan yang dilakukan komunitas Laskar Hijau terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Dengan demikian dari temuan penelitian terkait gerakan pelestarian hutan gunung Lemongan oleh komunitas Laskar Hijau ini dapat menjadi salah satu role model bagi upaya konservasi lingkungan dimanapun di wilayah nusantara untuk mencapai kemaslahatan alam semesta dan umat manusia sendiri.
G. Rencana Pembahasan
Rencana pembahasan dalam penelitian ini terdiri lima bab. Bab pertama, berisi pendahuluan, dikemukakan latar belakang munculnya permasalahan lingkungan, rumusan masalah, tujuan penelitian, kajian terdahulu, teori yang relevan, hipotesis penelitian, serta rencana
34 Ibid.
11 pembahasan.
Bab kedua dibahas kajian teori terkait lingkungan yang disampaikan oleh para ahli yang dijadikan pijakan dalam penelitian ini.
Bab ketiga berisi metode penelitian. Di sini dijelaskan bagaimana cara dan prosedur penelitian ini dilakukan.
Bab keempat disajikan hasil penelitian dan analisis. Di sini akan disajikan data-data dan analisis terhadap ajaran-ajaran al-Qur‗an dan Hadis yang mendorong komunitas Laskar Hijau dan perannya dalam melestarikan hutan Gunung Lemongan; dijelaskan problem yang dihadapi dan strategi pelestarian hutan Gunung Lemongan yang diimplementasikan komunitas Laskar Hijau, juga akan dijelaskan bagaimana dampak kegiatan komunitas Laskar Hijau dalam pelestarian hutan gunung Lemongan.
Bab kelima, penutup. Di sini dikemukakan kesimpulan dan implikasi penelitian.
12 BAB II
KAJIAN TEORI
A. Lingkungan Hidup
Inti problem lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi. Oleh karena itu problem lingkungan hidup pada hakekatnya adalah problem ekologi.
Istilah ekologi pertama kali digunakan oleh Haeckel, seorang ahli ilmu hayat, dalam pertengahan dasawarsa 1860-an. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu oicos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu. Karena itu secara harfiah ekologi berarti ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya, atau dapat diartikan juga sebagai ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup.35 Jadi yang menjadi fokus perhatian adalah hubungan antara makhluk hidup (salah satunya adalah manusia) dengan lingkungan fisik dan lingkungan biotiknya.36 Ada juga yang mengartikan ekologi dengan studi mengenai hubungan antara organisme-organisme hidup (biotik) dengan lingkungan fisiknya (abiotik). Umumnya, ekologi diartikan sebagai studi tentang organisme di dalam lingkungan alamiahnya.37 Jadi, lingkup studi ekologi mencakup interaksi antara organisme, populasi, komunitas, ekosistem, dan ekosfer, termasuk atmosfer, hidrosfer, dan litosfer.38
Salah satu konsep inti dalam ekologi adalah ekosistem, yaitu suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.39 Menurut pengertian, suatu sistem terdiri atas komponen-komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup dan takhidup di suatu tempat yang
35Otto Soemarwoto, Ekologi lIngkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Jakarta, 1989, h. 14; Robert E.
Ricklefs, Ecology, Chiron Press,, New York & Concord,, 1973, h. 11; Charles H. Southwicck, Ecology and the Quality of Our Environment, D.Van Nostrand Company, New York-Toronto, Melbourne, 1976, h. xvi.
36Lingkungan fisik adalah bagian dari lingkungan hidup yang terdiri atas unsur-unsur yang tidak hidup (unsur-unsur abiotik) seperti gunung, sungai, iklim, dan sebagainya. Sedangkan lingkungan biotik adalah bagian dari lingkungan hidup yang terdiri atas unsur-unsur hidup yaitu flora, fauna dan populasi manusia.
37Mary Antonette A. Beroya, A People‟s Guide Book to the Environment, Documentation for Action Groups in Asia (DAGA), Hongkong, 1995, h. 4.
38Ibid.; Organisme adalah semua bentuk hidup – tumbuhan atau binatang, atau biasa diartikan suatu benda hidup, jasad hidup atau makhluk hidup; Populasi adalah kelompok organisme sejenis yang hidup di kawasan tertentu;
Komunitas adalah populasi spesies yang berbeda, yang hidup dan berinteraksi di suatu kawasan tertentu;;
39Alan Gilpin, (Ed.), Dictionary of Environmental Terms, University of Queensland Press, Australia, 1980, h. 49.
13 berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan itu terjadi oleh adanya arus materi dan energi yang terkendalikan oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem itu.
Masing-masing komponen itu mempunyai fungsi dan relung. Selama masing-masing komponen itu melakukan fungsinya dan bekerjasama dengan baik, keteraturan ekosistem itupun terjaga.
Keteraturan ekosistem itu menunjukkan, bahwa ekosistem tersebut ada dalam suatu keseimbangan tertentu. Keseimbangan itu tidaklah bersifat statis, melainkan dinamis. Ia selalu berubah-ubah. Kadang-kadang perubahan itu besar, kadang-kadang kecil. Perubahan itu dapat terjadi secara alamiah, maupun sebagai perbuatan manusia.40 Sebagai contoh, dapat diambil batas ekosistem yang kecil atau besar. Sebuah akuarium, misalnya, dapat disebut suatu ekosistem.
Sebuah hutan yang luasnya beratus hektar merupakan juga suatu ekosistem. Demikian pula seluruh bumi ini dapat dianggap sebagai ekosistem yang besar.
Dengan adanya konsep ekosistem itu, maka unsur-unsur dalam lingkungan hidup dilihat tidak secara tersendiri, melainkan secara terintegrasi sebagai komponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Pendekatan ini disebut pendekatan ekosistem atau pendekatan holistik. Hubungan fungsional antara komponen yang mengikat mereka dalam kesatuan yang teratur merupakan perhatian utama dalam pendekatan ekosistem.
Dalam pengelolaan lingkungan, pandangan manusia bersifat antroposentris, yaitu melihat problemnya dari sudut kepentingan manusia. Walaupun tumbuhan, hewan, dan unsur takhidup diperhatikan, namun perhatian itu secara eksplisit atau implisit dihubungkan dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan, misalnya, dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan itu dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik materil, misalnya sebagai bahan makanan, maupun non-materil, misalnya nilai ilmiah dan estetisnya.
Dapat juga tumbuhan dan hewan itu dipandang sebagai sumberdaya genetis yang merupakan bank simpanan gen untuk keperluan hari depan manusia. Oleh karena itu, dalam pengelolaan lingkungan, ekologi yang dibutuhkan adalah ekologi manusia, yaitu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidupnya.41 Atau ilmu yang mempelajari bagaimana ekosistem dipengaruhi dan mempengaruhi kehidupan manusia.42 Menurut Soerjani, batasan terakhir ini cukup netral. Batasan yang bermakna lebih subyektif atau
40Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan ..., h. 13-14
41Alan Gilpin, (Ed.), op.cit., h. 46.
42Mohamad Soerjani, Ekologi, Ekologi Manusia dan Ilmu Lingkungan, (Makalah), Kursus Dasar ANDAL V, Universitas Indonesia, Jakarta, 1984, h. 1.
14 menyiratkan suatu tujuan, misalnya, ilmu yang mempelajari tempat dan peranan manusia dalam ekosistem. Defenisi ini sudah dekat dengan ilmu lingkungan, yaitu ilmu yang mempelajari kenyataan tentang lingkungan hidup dan bagaimana mengelolanya untuk menjaga kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.43 Sedangkan lingkungan hidup, dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah: ―kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain‖ (Pasal 1 ayat 1).44
Perbedaan antara ekologi dan ilmu lingkungan atau lingkungan hidup dapat dilihat antara lain dengan pertimbangan moral dan pendekatan interaksi antar komponen. Melalui pertimbangan moral, ekologi adalah ilmu yang bersifat netral, tidak bermoral (moral manusia), sedangkan ilmu lingkungan berpijak pada moral. Jadi mempunyai ukuran benar dan salah, sehingga tidak netral.
Alam dalam ekologi tidak mengenal konsep benar atau salah, karena alam adalah amoral.45 Seekor harimau yang memangsa manusia, tidaklah berdosa karena berbuat salah.
Teman-teman harimaunya tidak akan menangkap lalu mengadilinya. Tak ada bedanya dengan seorang manusia yang hanyut dan meninggal oleh banjir bandang.
Dalam ilmu lingkungan ada ukuran moral, benar dan salah. Apabila suatu tindakan manusia menimbulkan manfaat bagi manusia lain ataupun makhluk hidup lain, maka hal itu mempunyai moralitas benar. Tetapi kalau tindakannya itu menimbulkan kerugian, maka secara moral menjadi salah.46 Di sinilah makna kata ‗kesejahteraan‘ dalam defenisi lingkungan hidup yang diberikan oleh UU 23/1997 itu. Kesejahteraan di sini bukan hanya khusus bagi manusia, tetapi juga bagi makhluk hidup lainnya.
43Ibid.
44Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, Cet. XIV, 1999, h. 554.
45A.D. Hincley, Applied Ecology, A Non-Technical Approach, Mc.Millan, New York, 1976, h. 12.
46Mohamad Soerjani, Ekologi Manusia, (Bahan Kuliah Program S-2 Ilmu Lingkungan-Human Ecology), Universitas Indonesia, Jakarta, 1984; Lihat juga makalahnya dengan judul yang sama, disampaikan pada Kursus Dasar ANDAL III, UI, Jakarta, 1983, h.8.
15 Lingkungan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal. Di antaranya ada yang membaginya berdasarkan tipe biom, ada pula berdasarkan biotik dan abiotik, dan lain sebagainya.47
Berikut diuraikan klasifikasi lingkungan berdasarkan abiotik dan biotik. Lingkungan abiotik atau sering juga disebut lingkungan fisik dimaksudkan: (1) Lingkungan litosfer, yaitu segala sesuatu yang menyangkut bumi, dalam arti aspek geologik bagian mantel bumi bagian luar (yang tebalnya k.l. 600 km) dan kerak bumi di sebelah luarnya, yang terdiri dari kerak kontinental (setebal k.l. 40 km) dan kerak samudera (setebal 5 km). Lingkungan hidup litosfer terbatas pada proses-proses yang terjadi pada kerak bumi, seperti proses gerakan atau pergeseran antara berbagai kerak kontinental dan antara kerak kontinental terhadap kerak samudra.
Dinamika ini menghasilkan sejumlah fenomena yang tidak asing lagi, yaitu gempa bumi, kegiatan gunung berapi, dan lain-lain. (2) Lingkungan hidrosfer, yaitu lingkungan air.
Lingkungan ini terbagi dalam berbagai ‗gudang‘ air yaitu : samudera dengan 97,2% total air di bumi; tudung es dan gletser yang mengandung 2,15% air di bumi; air pada bawah permukaan tanah, dengan 0,625% air yang ada di bumi; air pada permukaan tanah (sungai, telaga) yang mengandung 0,0017% air yang ada di bumi; dan air pada atmosfer yang mewakili hanya 0,0001% dari total air yang ada di bumi. (3) Lingkungan atmosfer, yang merupakan selimut udara atau gas, dengan segala unsur di dalamnya seperti partikel-partikel debu dan es (awan), serta proses iklim dan cuaca. Atmosfer dibagi dalam homosfer dan heterosfer. Yang pertama terdiri atas troposfer yang mengandung 80% masa atmosfer dan dengan ketinggian sampai k.l. 11 km di atas bumi, merupakan lingkungan hidup utama manusia. Di atas troposfer masih terdapat stratosfer di dalam ruang lingkup homosfer. Stratosfer mencapai ketinggian k.l. 69 km di atas troposfer dan merupakan daerah absorbsi sinar ultraviolet yang berbahaya untuk organisme.
Bagian atmosfer yang kedua yaitu heterosfer terbagi dalam ionosfer dan eksosfer.
Keseluruhannya mencapai ketinggian 8.000 sampai sekitar 10.000 km di atas homosfer. Gejala- gejala seperti refleksi gelombang radiasi, awan bersinar (aurora) dan menyalanya meteor, terjadi pada ionosfer. Dari segi lingkungan hidup, troposferlah yang paling penting, sebab di sinilah
47Lihat A. Adi Sukadana, Antropo-Ekologi, Airlangga University Press,, Surabaya, 1983, h. 5-11. Selain dua yang telah disebutkan,, klassifikasi juga didasarkan pada lingkungan fisik dan sosial,; Lingkungan geografik, operasional, perseptual dan perilaku; serta lingkungan ekstern dan intern.
16 manusia terutama beroperasi dan disitulah manusia paling banyak dan sering terkena pengaruh iklim dan cuaca.48
Sebagai lawan dari lingkungan hidup abiotik, yang telah diuraikan di atas, adalah lingkungan hidup biotik, yang terdiri atas tiga unsur utama, yaitu flora, fauna, dan manusia.
Lingkungan hidup ini sering juga disebut lingkungan hidup organik. 49
Tingkatan organisasi dari lingkungan hidup, menurut Miller, adalah sebagai berikut:
Protoplasma adalah zat hidup dalam sel dan terdiri atas senyawa organik yang kompleks seperti lemak, protein, dan sebangsanya. Sel adalah satuan dasar suatu organisme dan terdiri atas protoplasma dan inti yang terkandung dalam membran. Di alam bebas, membran itu sendiri menjadi pemisah dari satuan dasar lainnya. Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi sama, misalnya jaringan otot. Organ atau alat tubuh, merupakan bagian dari suatu organisasi yang mempunyai fungsi tertentu, misalnya kaki atau telinga pada hewan, daun atau akar pada tumbuhan. Sistem organ adalah kerjasama antara struktur dan fungsi yang harmonis, umpamanya, kerjasama antara mata dan telinga, mata dan tangan dalam suatu tubuh. Organisme adalah suatu benda hidup, jasad hidup atau makhluk hidup. Populasi adalah kelompok organisme yang sejenis yang hidup dan berbiak pada suatu daerah tertentu. Misalnya, populasi badak di Ujung Kulon, atau populasi manusia di Jakarta. Komunitas adalah semua populasi dari berbagai jenis yang menempati suatu daerah tertentu. Di daerah itu tiap populasi berinteraksi satu dengan lainnya. Misalnya populasi ikan mas berinteraksi dengan ikan mujair dan sebagainya.
Ekosistem50 adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Dalam ekosistem terjadi hubungan timbal balik yang kompleks antara organisme dan lingkungannya, baik yang hidup (biotik) maupun takhidup (abiotik), yang secara bersama-sama membentuk suatu sistem ekologi. Biosfer adalah lapisan bumi tempat ekosistem beroperasi. Lapisan biosfer tipis sekali, yaitu sampai k.l. 9.000 meter di atas permukaan bumi, beberapa meter di bawah permukaan tanah, dan beberapa ribu meter di bawah permukaan laut. Biosfer merupakan organisasi hayati yang paling kompleks.
48A.Adi Sukadana, op.cit., h. 7.
49Ibid.
50Lihat uraian yang lalu.
17 Menurut hasil penelitian antariksa mutakhir, dalam tatasurya matahari yang memiliki sembilan planet, hanya bumi ini saja yang memiliki biosfer. Planet yang lebih dekat ke matahari terlalu panas, sedangkan planet yang lebih jauh terlalu dingin untuk mengemban kehidupan.51
Manusia hidup di bumi tidak sendirian, melainkan bersama makhluk lain, yaitu tumbuhan, hewan, dan jasad renik. Makhluk hidup yang lain itu bukanlah sekedar kawan hidup yang hidup bersama secara netral atau pasif terhadap manusia, melainkan hidup manusia itu terkait erat pada mereka. Tanpa mereka manusia tidaklah dapat hidup. Kenyataan ini dengan mudah dapat dilihat dengan mengandaikan di bumi ini tidak ada tumbuhan dan hewan. Dari manakah manusia mendapatkan oksigen dan makanan? Sebaliknya, seandainya tidak ada manusia, maka tumbuhan, hewan dan jasad renik akan dapat melangsungkan kehidupannya, seperti terlihat dari sejarah bumi sebelum ada manusia.
Manusia bersama tumbuhan, hewan, dan jasad renik menempati suatu ruang tertentu.
Kecuali makhluk hidup, dalam ruang itu terdapat juga benda takhidup, seperti misalnya udara yang terdiri atas bermacam gas, air dalam bentuk uap, cair dan padat, tanah dan batu. Ruang yang ditempati suatu makhluk hidup bersama dengan benda hidup dan takhidup di dalamnya disebut lingkungan hidup makhluk tersebut.52 Secara khusus orang dapat berbicara tentang lingkungan hidup manusia, tetapi dapat juga berbicara tentang lingkungan hidup harimau, atau lingkungan hidup ikan paus. Ruang lingkup peninjauan tentang lingkungan hidup dapat sempit, misalnya sebuah rumah dengan pekarangannya. Tetapi dapat juga luas, misalnya Pulau Irian (satu pulau).
Lapisan bumi dan udara yang ada makhluknya, dapat juga dianggap sebagai suatu lingkungan hidup yang besar, yaitu biosfer. Bahkan tatasurya, atau malahan seluruh alam semesta dapat menjadi obyek tinjauan.
Berdasarkan uraian di atas, maka lingkungan hidup dalam tulisan ini akan dibatasi pada lapisan bumi dan udara yang ada makhluk hidupnya saja, atau yang biasa disebut biosfer, kecuali bila disebutkan lain.
B. Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pada awalnya pengelolaan lingkungan hidup merupakan respon atau adaptasi ekologis manusia terhadap alam lingkungan di sekitarnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
51Suyud, Dasar-Dasar Ekologi, (Makalah), Kursus Dasar-Dasar ANDAL XXXI, PPSML-UI, Jakarta, 1990, h. 3-4.
52Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan …., h. 42-43.
18 Secara historis, organisasi ekologis diperkirakan pertama-tama terpusat pada basis keluarga atau kekerabatan, kemudian terintegrasi pada basis politik dan teritorial. Dilihat dari sudut waktu, organisasi ekologis manusia, dapat dibagi dalam empat tipe besar, yaitu : collectional and nomadic (mengumpul-berburu dan mengembara); horticultural and pastoral (bertani dan menggembala ternak); settled village and town (menetap di desa dan di kota); metropolitan (kota besar).53
Dalam istilah lain, Adi Sukadana menyebutnya dengan stadia ekologis, yaitu perkembangan komunitas organisme di suatu lingkungan hidup tertentu melalui sejumlah stadium, mulai dari stadium pertama atau stadium pioner sampai stadium akhir atau stadium klimaks.54 Urutan stadia ekologik ini disebut ―sere‖ dan konsep ini dalam antropo-ekologi disebut antroposere. Sukadana membedakan enam tingkatan antroposere pada manusia, yaitu:
Antroposere I, gathering, yakni kegiatan penghidupan yang terdiri atas usaha mengumpulkan bahan makanan dari alam, seperti umbi, daun-daun, buah-buahan, telur, kerang dan lain-lain.
Antroposere II, hunting and fishing yakni kegiatan penghidupan berburu dan menagkap ikan.
Antroposere III, herding yakni kegiatan penghidupan dengan corak utama menggembala.
Antroposere IV, agriculture yakni kegiatan penghidupan pada tingkatan agraris. Antroposere V, industry yakni kehidupan industri dengan segala kegiatan yang menunjang industri itu. Dan antroposere VI, urbanization atau urbanisasi sebagai stadium klimaks, yaitu kehidupan manusia di lingkungan perkotaan.55
Dari enam stadium antroposere yang telah dikemukakan, tiga yang pertama, hampir dapat dipastikan tidak akan merusak lingkungan, karena nyaris tidak terjadi ―pembangunan.‖
Sementara itu, tiga yang terakhir, yaitu pertanian, industri dan urbanisasi, jelas terlihat banyak kaitannya dengan problem lingkungan karena akan menyebabkan terjadinya perubahan kualitas lingkungan, antara lain dengan rusak dan terkurasnya sumberdaya alam dan terjadinya pencemaran.
Sehubungan dengan perkembangan kebudayaan manusia, dalam kaitan dengan lingkungan hidup, Miller (1979) juga mengemukakan tahap-tahap perkembangan, sebagaimana telah dikemukakan (oleh yang lain), tetapi Miller menyebutkan posisi manusia terhadap alam dan
53A. Mattulada, Lingkungan Hidup Manusia, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1994, h.33.
54A. Adi Sukadana, Antropo-Ekologi..., h.47.
55Frederick Sargent II, ―Nature and Scope of Human Ecology‖ dalam Frederick Sargent II, Human Ecology, North Holland Publication Co, 1974, h. 1-25.
19 kemungkinan implikasinya terhadap lingkungan. Tahap-tahap itu adalah: Tahap I, kelompok pemburu-pengumpul pemula, dengan ciri: manusia dalam alam, dan manusia dikendalikan oleh lingkungan hidup sekitar. Tahap II, kelompok pemburu-pengumpul maju, dengan ciri: manusia dalam alam, dan manusia mempengaruhi lingkungan hidup secara terbatas, tetapi tidak sampai mengendalikannya. Tahap III, masyarakat pertanian, dengan ciri : manusia melawan alam, dan manusia semakin banyak penguasaan terhadap lingkungan dan karena itu terjadi kenaikan dampak terhadap lingkungan. Tahap IV, masyarakat industri, dengan ciri : manusia melawan alam, dan penguasaan manusia terhadap alam semakin meningkat, dampaknya terhadap lingkungan tidak hanya bersifat lokal dan regional tetapi sudah global. Tahap V, masyarakat manusia-bumi (earthmanship society), dengan ciri : manusia dengan alam, pengendalian selektif berdasarkan kesadaran ekologi dan kerjasama global dengan alam, untuk menjaga kualitas dan kemampuan lingkungan hidup dalam menunjang peri-kehidupan yang berkesinambungan.56
Lima tahap yang dikemukakan Miller ini memiliki banyak persamaan dengan yang telah diungkapkan pakar lain, seperti yang telah dikemukakan di atas. Perbedaannya ialah karena Miller menambah satu tahap yang ia sebut dengan masyarakat manusia-bumi atau earthmanship society. Melihat cirinya, yaitu posisi manusia tidak lagi di dalam atau melawan alam, tetapi bersama dengan alam, dan masyarakatnya bertindak berdasarkan kesadaran ekologi, maka mungkin tahap ini belum tercapai secara keseluruhan, di negara maju sekalipun.
Kembali kepada pengelolaan lingkungan hidup, maka berdasarkan prinsip ekologi, lingkungan hidup harus dilihat sebagai suatu satuan sistem yang utuh yang disebut ekosistem, sehingga akan ditumbuhkan sikap sadar memelihara lingkungan. Ada dua bentuk ekosistem yang penting diperhatikan yaitu: ekosistem alamiah (natural ecosystem) dan ekosistem buatan (artificial ecosystem). Ekosistem buatan adalah suatu bentuk lingkungan hidup tertentu sebagai hasil kerja manusia terhadap ekosistemnya, sehubungan dengan kemampuan manusia yang luar biasa untuk mengolah materi-materi yang ada di sekitarnya.
Pada zaman manusia masih ‗primitif‘, lingkungan buatan ini hampir dapat dinyatakan tidak ada. Keseluruhan ekosistem di planet ini dapat dikatakan murni alamiah, yakni dalam bentuk proses kehidupan seperti di hutan-hutan belantara atau di lautan luas. Pada kehidupan semacam itu, kualitas lingkungan termasuk penghuninya akan tetap stabil dan terjadi interaksi ekologis yang harmonis tanpa kerusakan dan eksploitasi. Hutan belantara di Amazon, misalnya,
56G.T. Miller Jr., Living in the Environment, Wadsworth, t.tp., t.th., h. 470.
21 kondisinya akan tetap stabil dari masa ke masa, sepanjang tidak terjadi pengrusakan dan eksploitasi berlebihan.
Dengan kemajuan proses berpikir, maka pada masyarakat manusia modern, bentuk lingkungan alamiah berubah. Dalam lingkungan ini kemudian akan terbentuk ekosistem baru, yang bersifat ‗kurang beraneka ragam‘ karena selalu diselaraskan dengan kebutuhan atau keinginan satu makhluk hidup saja yaitu manusia. Dengan menggunakan alat-alat berat yang digerakkan oleh satu atau beberapa orang tenaga kerja, manusia mengolah sebuah hutan yang berisi beribu-ribu spesies tanaman dan binatang, menjadi sawah yang hanya ditanami satu macam tanaman misalnya padi, dan beberapa jenis binatang seperti ternak, ikan dan semacamnya.
Keadaan baru ini jelas amat berbeda bila dibandingkan dengan keadaan semula, yakni hutan belantara. Maka dalam lingkungan semacam ini, interaksi ekologis yang harmonis menjadi rusak sehingga kestabilan kehidupan secara menyeluruh dari ekosistem tersebut, menjadi terganggu.
Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa bagi suatu ekosistem yang heterogenitasnya berkurang ini, perlu mendapat tambahan sumber energi baru yang diberikan secara terarah, agar bentuk kehidupan di situ bisa tetap bertahan. Sebagai contoh, apabila asal sawah tadi dari sebuah hutan yang semula berisi beraneka ragam tanaman serta binatang, maka (di dalam hutan) kehidupan alamiah dan tumbuh-tumbuhannya adalah berasal dari penguraian bangkai binatang yang telah mati atau kotoran serta sampah yang dihasilkan oleh komunitas biotik yang ada di sana. Namun setelah hutan tadi diubah menjadi sawah dengan keterbatasan macam populasi yang di-‗isi‘-kan di sana, misalnya hanya ditanami padi, maka tanaman ini lama kelamaan akan kehabisan makanan alamiah akibat siklus makanan yang ada menjadi terputus dengan lenyapnya bermacam- macam isi hutan semula. Akibatnya, jika dibiarkan tanaman padi akan menjadi kurus dan bahkan mati. Untuk tetap bisa menjaga kelangsungan atau kesuburan hidupnya, maka tanaman tersebut perlu diberi zat makanan tambahan oleh manusia yang menanamnya, misalnya pupuk yang sesuai dengan kebutuhan hidup padi yang bersangkutan. Hal serupa terjadi juga pada sapi yang dipelihara. Sapi ini tidak lagi akan memperoleh makanan secara alamiah, karena rumput yang semula tumbuh subur di dalam hutan, telah dibasmi manusia agar tidak mengganggu padi. Maka sapi tadi perlu diberi makanan (sapi) buatan yang juga harus diusahakan manusianya. Tambahan sumber energi yang disiapkan oleh manusia untuk lingkungan buatannya tersebut, dinamakan subsidi energi atau energi bantuan.
21 Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa dalam ekosistem alamiah terdapat heterogenitas yang tinggi dari organisme yang hidup di sana, sehingga mampu mempertahankan proses kehidupan di dalamnya dengan sendirinya. Sedangkan ekosistem buatan berciri kurang heterogen. Dengan demikian bersifat labil dan memerlukan bantuan energi dari luar yang harus diusahakan oleh manusianya, yaitu usaha perawatan terhadap ekosistem buatan tersebut. Besarnya energi bantuan, sangat tergantung kepada bentuk ekosistem buatan. Makin kompleks perubahan lingkungan yang dibuat manusia, maka makin banyak energi bantuan yang harus diberikan. Sifat dari pemberian energi bantuan ini adalah terus menerus, selama manusia ingin mempertahankan ekosistem buatannya. Apabila energi bantuan tidak diberikan, maka ekosistem buatan tersebut cenderung berubah, dan dalam waktu tertentu, cenderung berubah dan kembali mengarah pada ekosistem alamiah dengan ciri heterogenitas tinggi dan stabilitas menjadi terjamin dengan sendirinya. Misalkan suatu kota metropolitan mulai ditinggalkan oleh penghuninya, katakanlah karena kalah perang. Maka pada kota itu dapat diramalkan akan tumbuh rumput-rumputan secara liar, serangga berkembang dengan subur, hewan-hewan liar mulai mendatangi bekas kota tersebut, pohon-pohon besar mulai tumbuh, dan akhirnya jadilah kota itu suatu bentuk ekosistem alamiah yang baru. Alternatif lain yang mungkin bisa terjadi ialah bekas kota itu menjadi gersang, ditumbuhi padang ilalang yang luas, karena telah miskinnya tanah di sana akan sumber mineral yang penting buat tanaman-tanaman besar.
Subsidi energi yang dibawa manusia ke dalam lingkungan buatannya bertambah lama bertambah kompleks. Dalam dunia pertanian, misalnya, dimulai dengan pupuk kandang, meningkat kepada pupuk ZA, kemudian pupuk posfat, dan seterusnya berkembang sesuai dengan kebutuhan tanah garapannya. Di samping pupuk untuk menyuburkan tanah pertanian, muncul pula problem baru yakni hama tanaman. Hama padi misalnya, mulai dari hama burung, walang, sampai yang sulit diatasi yakni hama wereng. Terhadap hama-hama ini, manusia memberantasnya demi menjaga produksi padi agar dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia.
Maka subsidi energi baru selain pupuk adalah pemberian obat-obatan anti hama, mulai dari DDT sampai racun hama termodern seperti malathion dan sebagainya. Ternyata subsidi energi yang dibawa manusia ke lingkungan buatannya menimbulkan rentetan dampak yang di luar dugaan manusia. Pencemaran pestisida dan DDT, misalnya, telah membawa problem serius di Amerika Serikat sejak tahun 60-an. Sementara dalam problem pupuk, misalnya, pengadaannya membutuhkan pabrik. Dalam proses pembuatannya, pabrik pupuk tidak hanya menghasilkan
22 pupuk (dampak yang direncanakan), tetapi ia juga menghasilkan dampak yang tidak direncanakan berupa asap pabrik (sebagai hasil pembakaran), dan limbah (kotoran pabrik/waste product) akibat proses entropi.57 Pada suatu saat asap ataupun limbah cair tersebut dapat mengandung zat dalam kadar tertentu yang dapat mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan masyarakat di sekitar pabrik itu, atau juga mengganggu kualitas lingkungan lainnya, seperti ikan yang mati, sawah yang kurus, dan semacamnya. Peristiwa-peristiwa seperti inilah yang kemudian dikenal dengan peristiwa pencemaran lingkungan.
Fuad Amsyari memberikan batasan kapan suatu peristiwa dapat disebut pencemaran, yakni: (a) bila lingkungan yang terkena adalah lingkungan hidup manusia; (b) bila yang terkena akibat negatif adalah manusianya; dan (c) bila di dalam lingkungan tersebut terdapat bahan berbahaya yang juga disebabkan oleh aktivitas manusia.58
Dari ketiga komponen pokok inilah konsep pencemaran lingkungan akan berbunyi:
―pencemaran akan terjadi apabila dalam lingkungan hidup manusia (baik lingkungan fisik, biologik, dan sosial) terdapat suatu bahan dalam konsentrasi sedemikian besar, dihasilkan oleh proses aktivitas kehidupan manusia sendiri, yang akhirnya merugikan kualitas kehidupan manusia juga.59
Pada awalnya, yang termasuk kategori bahan pencemar (pollutan) hanyalah bahan ‗baru‘
dalam kehidupan manusia, seperti plastik, kaleng, dan sebagainya. Namun dalam perkembangan berikutnya, konsep bahan pencemar itu tidak perlu bersifat baru, bahan ‗lama‘ pun (dalam arti sudah ada sejak kehidupan manusia), dapat digolongkan sebagai bahan pencemar jika konsentrasinya menjadi demikian besar sehingga mengakibatkan kerugian pada manusia.
57Entropi (entropy) ialah bagian energi total yang tidak dapat digunakan untuk melakukan kerja (Alan Gilpin, op.cit., h. 51. Dalam ekologi, hal ini berkaitan dengan apa yang disebut hukum termodinamika, yaitu hukum alam tentang energi. Ada dua hukum termodinamika yaitu hukum termodinamika I dan hukum termodinamika II. Hukum termodinamika I menyatakan, bahwa jumlah energi dalam alam semesta adalah konstan. Artinya, jumlah energi itu tidak dapat bertambah atau berkurang. Jadi, energi tidak dapat dibuat atau dimusnahkan. Bila di suatu tempat ada jumlah energi yang bertambah, energi itu harus datang dari tempat lain. Sedangkan hukum termodinamika II menyatakan, bahwa energi yang ada itu tidak seluruhnya dapat dipakai untuk melakukan kerja. Karena itu, waktu menggunakan energi untuk melakukan kerja, tidak mungkin mencapai efisiensi 100%. Bagian energi yang tidak dapat dipakai untuk melakukan kerja inilah yang disebut entropi, dan karenanya setiap proses kerja, dengan menggunakan energi, selalu menimbulkan limbah.(Cf. Soemarwoto, op.cit., h. 31-32).
58Fuad Amsyari, Dasar-Dasar dan Metode Perencanaan Lingkungan dalam Pembangunan Nasional, Widya Medika, Jakarta, 1995, h. 5.
59Ibid., h. 6. Bandingkan dengan batasan yang diberikan dalam UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, bahwa pencemaran lingkungan hidup adalah : masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya (pasal 1 ayat 12) (Koesnadi Hardjasoemantri, op.cit., h. 555).
23 Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa dalam lingkungan manusia terjadi suatu siklus yang berputar, yakni manusia selalu berusaha untuk tetap hidup ‗layak‘, karena itu manusia mengolah lingkungan alamiahnya menjadi lingkungan buatan yang penuh dengan kreasi barunya.
Perubahan-perubahan yang dilakukan, menghasilkan berbagai dampak, baik yang positif maupun yang negatif. Yang positif adalah terpenuhinya kebutuhan dan kesenangan hidup. Sedangkan yang negatif, antara lain adalah pencemaran lingkungan dan pengrusakan sumberdaya alam.
C. Problem Lingkungan Hidup dan Kesadaran Melestarikan
Problem lingkungan yang dihadapi pada hakekatnya adalah problem yang dipandang dari sudut kepentingan manusia. Problem itu timbul karena adanya perubahan lingkungan, sehingga lingkungan itu tidak atau kurang sesuai lagi untuk mendukung kehidupan manusia dan mengganggu kesejahteraannya.
Problem lingkungan yang dipersoalkan adalah perubahan yang diakibatkan oleh perbuatan manusia. Dengan makin besarnya jumlah manusia disertai dengan kebutuhan individu yang makin meningkat dan makin meningkatnya kemampuan manusia untuk melakukan intervensi terhadap alam, baik alam abiotik maupun alam biotik, maka perubahan yang terjadi pada lingkungan makin besar pula. Perubahan yang makin besar itu telah mengganggu proses alam sehingga banyak fungsi ekologi alam terganggu pula. Dampak gangguan fungsi ekologi alam terhadap kesejahteraan manusia makin terasa pula, baik secara nyata maupun secara potensial.60
Dalam sejarah diketahui, bahwa problem lingkungan memang muncul akibat aktifitas manusia dalam mengelola alam lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan hidupnya, dan itu dilakukan dalam rangka pembangunan. Itulah sebabnya, seringkali disebutkan bahwa problem lingkungan muncul sebagai akibat dari pembangunan.
Menurut Zen, ada empat problem yang saling terkait menyangkut problem pokok lingkungan, yaitu dinamika kependudukan, pengembangan sumberdaya alam dan energi, pertumbuhan ekonomi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta benturan terhadap tata lingkungan.61
60Otto Soemarwoto, Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992, h. 1- 2.
61M. T. Zen, Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup, Gramedia, Jakarta, 1981, h. 2-3.
24 Koesnadi Hardjasoemantri memetakan problem lingkungan hidup dalam empat perkembangan, yaitu perkembangan penduduk dan masyarakat, perkembangan sumber alam dan lingkungan, perkembangan teknologi dan kebudayaan, dan perkembangan ruang lingkup internasional.62
Jumlah penduduk yang besar jelas memberikan tekanan yang berat terhadap sumberdaya alam dan hasil-hasil pembangunan lainnya, sesuai kebutuhan manusia. Perkembangan teknologi dan kebudayaan ikut mempercepat pencapaian tujuan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Tetapi di sisi lain ia juga menguras sumberdaya alam dan merusaknya serta menghasilkan pengotoran lingkungan atau pencemaran. Terdapat suatu problem yang unik dalam hal ini, yaitu bahwa barang yang erat kaitannya dengan problem lingkungan, misalnya udara, air, sungai, laut, danau, hutan berikut isinya, tidak dimiliki orang perorang, dan karenanya sering dianggap tersedia secara gratis di alam tanpa harga.
Teknologi produksi dan pola konsumsi tumbuh berkembang dengan tidak memperhitungkan pengaruhnya terhadap lingkungan. Mekanisme pasar bekerja tanpa pertimbangan lingkungan hidup. Modal pembangunan melalui mekanisme pasar juga mengabaikan peranan barang dan sumber alam yang memiliki kegunaannya untuk waktu sekarang. Sedangkan lingkungan hidup penuh berisi tumbuh-tumbuhan, binatang, zat dan benda yang belum diketahui manfaat dan kegunaannya bagi manusia di masa sekarang ini. Karena kegunaannya tidak jelas, maka ia dianggap tidak memiliki nilai sehingga luput dari perhitungan ekonomi pembangunan dan kemusnahannya tidak dirasakan sebagai kerugian. Sejalan dengan itu, pengelolaan alam tidak disertai dengan keharusan memperbaruinya. Begitu pula hasil sampingan berupa sampah, kotoran, pencemaran, limbah sebagai hasil kegiatan industri, tidak masuk perhitungan biaya perusahaan. Semua sampah dan kotoran dibuang ke dalam alam yang—
sekali lagi dianggap—tersedia secara gratis di bumi ini.63 Singkatnya, bahwa dengan pola pembangunan yang diterapkan di mana-mana, dan berlaku selama dua abad ini, telah menghasilkan kemajuan, tetapi dalam waktu yang bersamaan juga telah mengakibatkan terjadinya krisis lingkungan.
Di antara krisis lingkungan yang paling dominan mendapat perhatian dalam kajian akademik adalah kerusakan dan penghabisan sumber daya alam serta problem pencemaran. Dari
62Koesnadi Hardjasoemantri, op.cit., h. 49-52.
63 Ibid.
25 kedua problem ini muncul problem lain yang menjadi ikutannya (multiplier effects). Franz Magniz Suseno, misalnya, menyebut tujuh problem lingkungan, yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, dapat menghancurkan lingkungan, bila tidak segera diatasi.64 Ketujuh problem itu adalah (1) penghabisan kekayaan alam; (2) perusakan lingkungan (pengotoran dan peracunan lingkungan alamiah); (3) pemanasan atmosfer; (4) lapisan ozon di stratosfer sedang hancur; (5) padang gurun meluas terus; (6) problem air tawar; dan (7) hama yang semakin resisten.65
Penghabisan kekayaan alam, misalnya penebangan hutan, pembakaran biomassanya, dan konversi ke tata guna lahan lain, pada gilirannya dapat berdampak pada kerusakan hidrologi, kepunahan jenis, pemanasan global, dan lubang ozon. Sementara dampak ikutan (atau dampak berantainya) dari pemanasan global, lubang ozon, dan hujan asam diperkirakan dapat mengakibatkan kepunahan jenis, penurunan produksi pertanian, peternakan, perikanan, dan kesehatan. Adapun dampak dari pembakaran bahan bakar fosil (BBF), baik yang terpakai di bidang transportasi maupun di pabrik-pabrik atau industri besar dan kecil, serta pemakaian lainnya, akan menaikkan kadar gas rumah kaca dan hujan asam dengan seluruh dampak ikutannya yang terkadang tidak diperhitungkan.
Seperti diketahui bahwa pemicu awal dari problem lingkungan ini adalah limbah industri dan pertambangan serta penggunaan pestisida (dalam pertanian) yang tidak proporsional di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Kini dengan kemajuan teknologi produksi untuk memenuhi kebutuhan manusia, banyak produk yang dihasilkan dengan menggunakan zat atau materi yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Salah satunya adalah klorofluorokarbon (CFC)66 yang dipastikan berpengaruh terhadap kerusakan lapisan ozon dan pemanasan global.
Demikianlah, zat atau bahan pencemar lama atau baru, makin hari makin memenuhi lingkungan. Bahan pencemar ini secara sendiri-sendiri atau bersama-sama (secara kumulatif), memberikan dampak yang menimbulkan berbagai problem lingkungan yang kini dihadapi oleh warga bumi tanpa kecuali. Di antara berbagai problem lingkungan yang kini dihadapi dunia, beberapa di antaranya: Pertama, problem air (tawar). Air adalah sumberdaya alam yang bersifat
64Franz Magniz-Suseno, Kuasa dan Moral, Gramedia, Jakarta, 1986, h. 138-140.
65Ibid.
66Klorofluorokarbon ialah segolongan zat kimia yang terdiri atas tiga jenis unsur, yaitu : klor (C), fluor (F), dan karbon (C). Singkatan umum untuk klorofluorokarbon ialah CFC. Zat yang tidak ditemukan di alam secara alamiah ini, merupakan hasil rekayasa manusia yang ditemukan sejak tahun 1920-an. Pada tahun 1974, Molina dan Rowland, berdasarkan hasil penelitiannya menemukan, bahwa CFC dapat merusak ozon (Otto Soemarwoto, Indonesia …, op.cit., h. 11-12, 261-265).