I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Semen ionomer kaca banyak dipilih untuk perawatan restoratif terutama

Download (0)

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Semen ionomer kaca banyak dipilih untuk perawatan restoratif terutama restorasi pada daerah yang tidak mendapat tekanan besar (Zoergibel dan Illie, 2012). Terlepas dari kekuatannya yang rendah semen ionomer kaca mempunyai sifat khusus yang diunggulkan sehingga digunakan pada hampir 60% restorasi (Anusavice dkk, 2013). Keunggulan tersebut, yaitu kemampuan untuk berikatan dengan enamel dan dentin tanpa memerlukan material adesif, sifat antikariogenik dengan pelepasan fluor jangka panjang, biokompatibel dan koefisien termal rendah (Zoergibel dan Illie, 2012).

Ionomer kaca merupakan nama generik untuk kelompok material berbasis reaksi serbuk silicate glass dan asam poliakrilik. Semen ionomer kaca digunakan untuk restorasi kavitas kelas III dan kavitas kelas V. Semen ionomer kaca mempunyai sifat berikatan dengan struktur gigi dan mempunyai kemampuan mencegah karies sehingga digunakan juga sebagai material luting, bahan adesif untuk braket ortodontik, bahan pengisi pit dan fisur, liner dan base serta untuk core buildups (Anusavice dkk, 2013).

Proses pengerasan semen ionomer kaca dimulai ketika serbuk dan cairan dicampur membentuk pasta. Asam mengetsa permukaan partikel glass dan mengakibatkan lepasnya ion kalsium, ion alumunium, ion sodium, dan ion fluor ke dalam media cair. Ion kalsum berikatan silang dengan rantai asam poliakrilat membentuk matriks poliakrilat. Ion kalsium akan digantikan oleh ion alumunium

(2)

setelah 24 jam. Ion sodium dan ion fluor tidak ikut serta dalam cross-linking semen ionomer kaca. Ion sodium akan menggantikan ion hidrogen di gugus karboksilat sedangkan sisa ion tersebar merata dalam material bersama dengan ion fluor. Bagian dari partikel glass yang tidak bereaksi diselubungi oleh silica gel yang berkembang selama pelepasan kation dari permukaan partikel. Material semen ionomer kaca terdiri dari gumpalan partikel serbuk yang tidak bereaksi dikelilingi oleh gel silica pada matriks anmorphus dengan kalsium dan alumunium polysalt terhidrasi (Anusavice dkk, 2013).

Reaksi pengerasan semen ionomer kaca konvensional membutuhkan air untuk membentuk matriks poliakrilat. Tahap awal dari reaksi pengerasan terjadi pada 10 menit pertama setelah pengadukan. Tahap kedua adalah lepasnya kation kalsium dan aluminium ke dalam matriks, reaksi asam basa berlanjut selama 24 jam.

Selama tahap pertama, material sangat sensitif dengan penyerapan air sedangkan pada tahap kedua material sangat rentan terhadap dehidrasi (Bonifácio, 2012).

Semen ionomer kaca yang baru diinsersikan ke dalam kavitas apabila terpapar lingkungan rongga mulut tanpa dilapisi bahan pelindung permukaan akan hancur dan lebih retan karena terjadi kekeringan. Kontaminasi air pada proses pengerasan menyebabkan larutnya kation dan anion pembentuk matriks ke saliva. Semen ionomer kaca harus diberi pelindung untuk bertahan dari kekeringan dan perubahan air selama proses pengerasan sampai beberapa minggu (Anusavice dkk, 2013). Aplikasi bahan pelindung permukaan untuk menjaga keseimbangan air di dalam material. Keuntungan lain penggunaan pelindung permukaan, yaitu pelindung permukaan mampu mengisi celah kecil di permukaan restorasi dan

(3)

membantu memunculkan warna asli restorasi dengan mengurangi penyerapan zat warna (Ninawe dkk, 2014).

Suatu restorasi akan menua sejalan dengan berjalannya waktu (Chandra dkk., 2007). Penuaan restorasi merupakan suatu proses yang kompleks. Perubahan suhu, makanan, minuman, saliva, dan biofilm mengakibatkan degradasi pada restorasi. Perubahan suhu intraoral disebabkan karena makanan, minuman dan bernafas menghasilkan celah pada restorasi atau kebocoran tepi (Gale dan Darvell, 1999). Rongga mulut mengandung berbagai macam spesies bakteri yang bersifat komensal (Anggraeni dkk, 2005). Selama gigi dan restorasi terekspos oleh saliva akan selalu terbentuk biofilm. Biofilm akan menciptakan lingkungan bersifat asam yang mampu mendegradasi gigi dan restorasi (Jokstad, 2015). Salah satu bakteri utama dalam biofilm adalah Streptococcus mutans yang bersifat kariogenik dan merupakan penyebab utama karies gigi. Ciri dari bakteri ini salah satunya adalah mempunyai kemampuan untuk menempel pada semua permukaan keras di rongga mulut (Angraeni dkk, 2005)

Kebocoran tepi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan material restoratif dalam rongga mulut. Kebocoran tepi merupakan suatu celah yang terdapat antara dinding kavitas dengan restorasi yang terjadi akibat kontraksi bahan restorasi. Kebocoran tepi dapat menjadi tempat masuknya bakteri, asam, enzim, cairan dan ion-ion. Kebocoran tepi pada restorasi dapat menyebabkan terjadinya karies sekunder, postoperatif sensitivity dan iritasi pulpa. Postoperatif sensitivity disebabkan oleh cairan dan bakteri yang bergerak keluar masuk melalui celah antara pertemuan gigi dan restorasi. Apabila pulpa teriritasi oleh pergerakan

(4)

cairan atau sisa metabolisme bakteri (asam) tersebut maka akan timbul rasa sakit/nyeri. Kebocoran tepi juga dapat menyebabkan staining/perubahan warna pada daerah margin restorasi. Masalah lain yang diakibatkan oleh terjadinya kebocoran tepi adalah adanya aliran cairan pada celah restorasi dan akhirnya restorasi dapat lepas dari gigi (Aviandani dkk., 2012).

Bahan restorasi seharusnya mampu mengisi tepi restorasi secara sempurna untuk mencegah kebocoran tepi. Sifat bahan restorasi seperti sifat material untuk mengalir, elastis, kemampuan untuk larut dalam saliva, dan resisten terhadap tekanan memberikan kontribusi minor terhadap terjadinya kebocoran tepi sedangkan koefisien ekspansi termal, pengerutan saat proses pengerasan dan adhesi memberikan kontribusi mayor terhadap kebocoran tepi. (Chandra dkk, 2007). Penurunan daya adhesi semen ionomer kaca terhadap jaringan keras gigi terjadi karena kontaminasi air selama proses pengerasan yang mengakibatkan larutnya ion-ion pembentuk semen ionomer kaca (Aviandani dkk., 2012)

Kebocoran tepi dapat dicegah dengan aplikasi bahan pelindung (Chandra dkk, 2007). Aplikasi bahan pelindung permukaan bertujuan memberikan keseimbangan air dalam semen ionomer kaca. Aplikasi bahan pelindung (varnish, petroleum jelly, cocoa butter atau light-cured resin) pada permukaan semen ionomer kaca

selama initial setting disarankan untuk mengatasi masalah sensitivitas terhadap kelembaban dan dehidrasi sehingga proses pengerasan semen ionomer kaca tidak terganggu. Diantara jenis-jenis material bahan pelindung, yaitu light-polymerized resin memberikan perlindungan paling baik selama pengerasan semen (Lohbauer, 2010).

(5)

Bahan pelindung nano-filled self adhesive light cured sebagai pelindung permukaan restorasi semen ionomer kaca, resin komposit dan restorasi sementara.

Bahan pelindung nano-filled self adhesive light cured yang diaplikasikan pada permukaan restorasi kemudian disinar dengan light cure mampu menghalangi pergerakan air pada permukaan semen selama proses pengerasan. Komponen nanofil di dalamnya akan melindungi restorasi melawan gaya abrasive. Bahan pelindung nano-filled self adhesive light cured bertindak sebagai pelapis, selanjutnya meningkatkan estetik dari restorasi (Lohbauer, 2010).

Cocoa butter digunakan di pabrik coklat, medikal, farmasi dan produksi

perlengkapan mandi (Asimah, 2007). Cocoa butter dalam produk coklat ditemukan untuk melapisi gigi. Cocoa butter mampu melawan zat kariogenik merupakan efek dari kandungan gula yang tinggi sehingga mencegah karies gigi (Wilson dan Hurst, 2012). Cocoa butter di kedokteran gigi juga digunakan untuk melapisi semen ionomer kaca setelah diaplikasikan untuk mencegah kontaminasi air dan dehidrasi selama initial setting (Lohbauer, 2010).

Bahan pelindung nano-filled self adhesive light cured memberikan perlindungan lebih optimal daripada bahan pelindung lainnya. Bahan pelindung nano-filled self adhesive light cured memberikan kombinasi antara sifat hidrofilik

tinggi dan viskositas sangat rendah membuat bahan pelindung nano-filled self adhesive light cured mampu melapisi permukaan semen ionomer kaca secara

sempurna. Bahan pelindung nano-filled self adhesive light cured mengkilatkan permukaan semen ionomer kaca sehingga dapat meningkatkan estetik semen ionomer kaca. Bahan pelindung nano-filled self adhesive light cured dapat

(6)

melindungi semen ionomer kaca dari gesekan sedangkan cocoa butter setelah diaplikasikan di semen ionomer kaca lama kelamaan akan hilang karena gesekan pengunyahan gigi (Lohbauer, 2010).

Dari uraian diatas kebocoran tepi harus dihindari pada restorasi, salah satunya dengan aplikasi coating agent pada permukaan semen ionomer kaca setelah diaplikasikan. Penelitian mengenai perbedaan tingkat kebocoran tepi pada semen ionomer kaca yang dilapisi oleh cocoa butter dan bahan pelindung nano-filled self adhesive light cured pada perendaman dengan Streptococcus mutans belum

pernah dilakukan sehingga penelitian ini penting untuk dilakukan untuk mengurangi tingkat kebocoran tepi pada restorasi semen ionomer kaca di masa depan.

B. Perumusan Masalah

Dari uraian dalam latar belakang maka didapat rumusan masalah apakah terdapat perbedaan antara nano-filled self adhesive light cure protective coating dan cocoa butter terhadap kebocoran tepi semen ionomer kaca tipe II pada perendaman dengan suspensi bakteri Streptococcus mutans?

C. Keaslian Penelitian

Sepengetahuan penulis belum ada penelitian mengenai perbedaan tingkat kebocoran tepi pada semen ionomer kaca konvensional tipe II setelah pemberian bahan pelindung berupa nano-filled self adhesive light cure protective coating dan cocoa Butter. Penelitian mengenai kebocoran tepi pada semen ionomer kaca pernah dilakukan oleh Aviandani dkk yang berjudul “Perbedaan Kebocoran Tepi

(7)

Tumpatan Semen Ionomer Kaca dengan Pengadukan Secara Mekanik Elektrik dan Manual”. Penelitian yang akan dilakukan oleh penulis dan yang telah dilakukan oleh Aviandani dkk berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Aviandani dkk. melihat tingkat kebocoran mikro pada semen ionomer kaca dengan 2 cara pengadukan yang berbeda sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis melihat perbedaan tingkat kebocoran tepi pada penggunaan 2 bahan pelindung yang berbeda setelah direndam dalam suspensi Streptococcus mutans.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kebocoran tepi pada semen ionomer kaca konvensional tipe II yang dilapisi dengan menggunakan bahan pelindung nano-filled self adhesive light cure dan cocoa butter setelah direndam dalam suspensi bakteri Streptococcus mutans.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini antara lain untuk mengetahui perbedaan penggunaan bahan pelindung nano-filled self adhesive light cure dan cocoa butter terhadap kebocoran tepi restorasi semen ionomer kaca konvensional tipe II serta memberikan informasi kepada klinisi mengenai bahan pelindung yang memberikan perlindungan lebih optimal untuk mencegah kebocoran tepi yang diakibatkan oleh kontaminasi cairan dan bakteri Streptococcus mutans.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di