LAPORAN AKHIR PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNGGULAN UNIVERSITAS LAMPUNG

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNGGULAN UNIVERSITAS LAMPUNG

PENINGKATAN DAYA SAING PELAKU UMKM TAPIS MELALUI PELATIHAN ISASI BISNIS DESA NEGRI KATON

KABUPATEN PESAWARN

OLEH:

Rio Tedi Prayitno Dr. Indah Listiana, SP, M.Si

Rinaldi Bursan, S.E, M.Si Dr Maya Riantini M.Si

JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2021

(2)

Scanned by TapScanner

(3)

PENINGKATAN DAYA SAING PELAKU UMKM TAPIS MELALUI PELATIHAN ISASI BISNIS DESA NEGRI KATON

KABUPATEN PESAWARN

ABSTRAK

Era isasai saat ini, UMKM harus dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan produktifitas usahanya. Baik dari segi produksi maupun dari segi pemasaran. Kondisi UMKM saat ini yang masih memiliki keterbatasan dalam penggunaan teknologi menyebabkan banyak usaha UMKM yang tidak mampu bersaing dengan pelaku usaha lain baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan peningkatan pengatahuan pemanfaatan teknologi untuk memperluas pasar UMKM.

UMKM merupakan salah satu sektor pengungkit utama di masa pandemi Covid-19 untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Dalam pengembangannya, pelaku UMKM diharapkan dapat memanfaatkan teknologi sejalan dengan imbauan pemerintah untuk memaksimalkan transaksi di marketplace dan pembayaran non-tunai untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Lemahnya memperluas akses pasar UMKM menjadi kendala untuk mempromosikan usahanya dan memperluas akses pasarnya sesuai dengan kebutuhan era ekonomi saat ini.

UMKM di Kabupeten Pesawaran dalam memasarkan produknya lebih banyak menggunakan cara-cara tradisional seperti menjual pada toko secara fisik sendiri (44%) pengempul (11%), agen (8%). Cara pemasaran ini menyulitkan UMKM dalam memperluas akses pasarnya. Hanya sebanyak 18% menggunakan sosial media dan marketplace (4%).

Rendahnya pemanfaatan teknologi informasi yang dilakukan oleh UMKM di Kabupaten Pesawaran harus diantisapsi dengan baik agar tidak kalah bersaing dengan pelaku bisnis lainnya. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan agar pengetahuan dan kemampuan UMKM meningkat terutama perluasan pasarnya dengan melalui isasi bisnis dengan memanfaatkan sosial media dan marketplace

Kata kunci: pelatihan digitalisasi, sosial media, market place

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi

Pengalaman pada berbagai krisis ekonomi mengajarkan Indonesia bahwa usaha UMKM berperan sebagai tulang punggung dan penyangga ekonomi Indonesia. Sisi yang kini banyak disorot untuk mendukung UMKM, utamanya di masa pandemi COVID-19 adalah percepatan transformasi. Pelaku UMKM menghadapi tantangan dalam memasuki antara lain: penguasaan teknologi, belum meratanya akses internet, minimnya informasi pembayaran dan mahalnya ongkos logistik. Berdasarkan data baru 9,4 juta UMKM yang masuk ekosistem alias go online, dibandingkan jumlah seluruh pelaku sektor ini yang mencapai 60 juta (Kementrian Koperasi dan UMKM; 2020).

UMKM merupakan salah satu sektor pengungkit utama di masa pandemi Covid- 19 untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Dalam pengembangannya, pelaku UMKM diharapkan dapat memanfaatkan teknologi sejalan dengan imbauan pemerintah untuk memaksimalkan transaksi di marketplace dan pembayaran non-tunai untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Lemahnya memperluas akses pasar UMKM menjadi kendala untuk mempromosikan usahanya dan memperluas akses pasarnya sesuai dengan kebutuhan era ekonomi saat ini.

Jumlah UMKM Kabupaten Pesawaran tahun 2020 sebanyak 8747 meningkat sebanyak 1058 dari tahun 2019. Angka ini menunjukan selama pandemi jumlah UMKM di Pesawaran meningkat sebanyak 21%. Laporan Sumber Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pesawaran (2020) menunjukan bahwa sebagai besar UMKM (73%) di Kabupaten Pesawaran terdampak negatif saat terjadinya pandemi (Grafik 2).

(5)

Grafik 1. Jumlah UMKM Kabupaten Pesawaran (Sumber Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pesawaran; 2020) [6]

Grafik 2. Dampak Pandemi Terhadap UMKM [6]

Salah satu UMKM yang mengalami dampak pendemi adalah UMKM kerajinan tapis. Penurunan omset selama masa pandemi mencapai 70% (Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pesawaran; 2020). Penurunan yang cukup besar ini harus disikapi dengan baik agar UMKM tidak gulung tikar. Salah satu upaya adalah isasi bisnis guna memperluas pasar dengan pemanfaatan sosial media dan market place. Selain itu dengan penggunaan sosial media diharapkan produk kerajinan tapis khususnya dari desa Negri Katon Pesawaran dapat dikenal dan akhirnya dibeli olah masyarakat Indonesia maupun masyarakat dari Negara lain.

(6)

B. Permasalahan Mitra

UMKM di Kabupeten Pesawaran dalam memasarkan produknya lebih banyak menggunakan cara-cara tradisional seperti menjual pada toko secara fisik sendiri (44%) pengempul (11%), agen (8%). Cara pemasaran ini menyulitkan UMKM dalam memperluas akses pasarnya. Hanya sebanyak 18% menggunakan sosial media dan marketplace (4%). Pemanfaatan teknologi informasi yang dilakukan oleh UMKM Kabupaten Pesawaran dalam era juga sangat terbatas. Sebagai besar UMKM melakukan penjualan produknya menggunakan sistem offline (88%) dan hanya 12%

UMKM yang mengkobinasikan penjualannya dengan sistem online dan offline. Cara- cara pemasaran yang dilakukan oleh UMKM terlihat pada Grafik 3 berikut ini:

Grafik 3. Cara Pemasaran UMKM [6]

Rendahnya pemanfaatan teknologi informasi yang dilakukan oleh UMKM di Kabupaten Pesawaran harus diantisapsi dengan baik agar tidak kalah bersaing dengan pelaku bisnis lainnya. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan agar pengetahuan dan kemampuan UMKM meningkat terutama perluasan pasarnya dengan melalui isasi bisnis dengan memanfaatkan sosial media dan marketplace. Pelatihan ini difokuskan

(7)

pada UMKM Kerajinan Tapis di Desa Negri Katon Kabupaten Pesawaran. Perumusan masalah dalam usulan pengabdian ini adalah:

1. Bagaimana memperluas akses pasar UMKM melalui isasi dengan memanfaatkan sosial media dan market place?

2. Bagaimana meningkatkan daya saing dengan memanfaatkan media promosi pada sosial media dan market place?

3. Bagaimana meningkatkan pendapatan UMKM dengan akses pasar yang lebih luas melalui pemanfaatan sosial media dan market place?

C. Tujuan Kegiatan

1. Memberikan solusi bagi UMKM dalam memperluas akses pasarnya melalui isasi bisnis dengan memanfaatkan sosial media dan market place

2. Memberdayakan UMKM dengan memberikan pengetahuan tentang cara pemanfaatkan media promosi pada sosial media dan market place.

3. Mewujudkan UMKM yang mampu memperluas akses pasar dan meningkatkan pendapatannya melalui pemanfaatkan soasil media dan market place.

D. Manfaat Kegiatan

1. Mempercepat proses perluasan pasar bagi UMKM di Kabupaten Pesawaran dengan pemanfaatan sosial media dan marketplace.

2. Memberikan pengetahauan praktis cara berpromosi melalui sosial media dan tata cara mamasarkan produk dengan memanfaatkan market place.

3. Membuka peluang bagi peningkatkan daya daing dan pendapatan UMKM.

(8)

BAB II

SOLUSI DAN TARGET LUARAN

A. Solusi yang Ditawarkan

Jumlah UMKM di Pesawaran selama masa pendemi banyak UMKM yang terdampak negatif (73%). Data lain menunjukan hanya 12% UMKM yang menggunakan pemasaran online bagi produk-produk yang dihasilkan. Hal ini mendorong tim pelaksanaan pengabdian merancang kegaitan memberikan pengetahuan, mempraktekan dan mengubah bisnisnya menjadi dengan memanfaatkan sosial media.

Era isasai saat ini, UMKM harus dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan produktifitas usahanya. Baik dari segi produksi maupun dari segi pemasaran. Kondisi UMKM saat ini yang masih memiliki keterbatasan dalam penggunaan teknologi menyebabkan banyak usaha UMKM yang tidak mampu bersaing dengan pelaku usaha lain baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan peningkatan pengatahuan pemanfaatan teknologi untuk memperluas pasar UMKM.

Pemanfaat teknologi informasi dalam merubah pola bisnis UMKM merupakan hal yang harus dilakukan pada era industry 4.0. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan dan pendampingan pengunaan teknologi infomasi bagi UMKM guna memperluas pasarnya.

Tahapan yang dilakukan adalah pengenalan tekbologi informasi, pengetahuan tentang promosi di sosial media dan pemanfaatan marketplace sebagai perluasan pasar bagi UMKM. Pelatihan ini penting dilakukan agara UMKM memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memasuki marketplace dengan menggunakan teknik pemasaran yang modern dengan basis informasi teknologi sehingga produk yang ditawarkan memiliki tampilan yang baik, informasi yang lengkap dan dengan estetika yang menarik.

Perpaduan semua hal akan mendorong konsumen mengevaluasi produk dan pada akhirnya melakukan pembelian sehingga berdampak pada pendapatan UMKM yang meningkat, Berikut ini gambaran mengenai pemecahan masalah:

(9)

Tabel 1. Kerangka Pemecahan Masalah

Kondisi saat ini Perlakukan yang diberikan Kondisi yang diharapkan Kurangnya pengetahuan

tentang teknologi informasi sebagai sarana untuk memperluas akses pasar

Pelatihan pemanfaatan teknologi informasi sehingga UMKM dapat memperluas

pasarnya dengan

memanfaatkan sosial media dan market place

UMKM menggunakan sosial media dan marketplace untuk memasarkan produkyang dihasilkan

Kurangnya keterampilan

UMKM dalam

mempromosikan

produknya melalui sosial media dan market place

Pelatihan dan praktek cara mempromosikan di media sosial (Instragram), cara

memotret produk,

mendeskripsikan produk dan memposting di sosial media dan market place

UMKM memiliki

kemampuan untuk

mempromosikan dan mengunakan market place sebagai pasar sasaran baru melengkapai pamasaran yang telah dilakukan sebelumnya

Kurangnya pengetahuan merubah bisnis UMKM menjadi bisnis yang berbasis

Pelatihan bagi UMKM mentransformasi bisnisnya menjadi bisnis yang berbasis dengan focus utama pada pemasaran (mendapatkan bahan baku, memperoleh mitra, menghitung stock dan menjual prosuk yang dihasilkan

UMKM mau merubah bisnisnya menjadi berbasis terutama pada pemasaran produk yang dihasilkan

B. Jenis Luaran

Untuk luaran yang akan dihasilkan dari masing-masing solusi di atas ada dua yang utama, yaitu: perluasan akses pasar melalui pemanfaatan sosial media dan market palce dan peningkatan daya saing dan pendapatan bagi UMKM. Dalam kegiatan pengabdian ini, metode yang digunakan adalah cara pelaksanaan kegiatan pelatihan dan praktek pendampingan. Metode yang diterapkan untuk mencapai pemecahkan permasalahan ini adalah metode sistem tindakan dan pembelajaran yang partisipatif yang dikenal sebagai metode PLA (Participatory Learning and Action). Metode pemberdayaan masyarakat ini dikembangkan oleh Linda Mayoux tahun 2000-an (Sadia, dkk 2013).

(10)

C. Luaran dan Ukurannya

Luaran yang diharapkan dari kegiatan pengabdian ini terdapat pada Tabel 2.1 berikut ini

No Uraian Kegiatan Target Tolak ukur

1 Meningkatkan kesadaran pelaku UMKM terhadap penggunaan teknologi di Era Revolusi Industri 4.0 dalam persaingan bisnis yang mereka jalani

10 UMKM Kesadaran pentingnya penggunaan teknologi di era R.I 4.0

2 Meningkatkan teknik pemasaran produk UMKM melalui media elektronik oleh pelaku UMKM dengan memanfaatkan sosial media dan market place

10 UMKM Mampu memasarkan produk secara online

3 Meningkatkan jaringan distribusi barang hasil produksi di market palce

10 UMKM Mampu memperluas jaringan pemasaran produk di market place

D. Rencana Capaian

No Jenis Luaran Indikator Capaian

Luaran Wajib

1 Publikasi ilmiah pada jurnal ber ISSN/ Proseding ber ISBN

Accepted 2 Publikasi pada media cetak/online/repository/PT Ada 3 Peningkatan daya saing (peningkatan kualitas,

kuantitas serta nilai tambah barang dan jasa)

Ada (nilai tambah dan peningkatan pendapatan) 4 Peningkatan penerapan iptek di masyarakat (IT Dan

manajemen)

Ada (penerapan terutama pada pemasaran)

5 Perbaikan tata nilai masyarakat (seni, budaya, sosial, politik, keamanan, ketentraman, pendidikan,

kesehatan)

Ada (budaya dan sosial)

No Jenis Luaran Indikator Capaian

Luaran Tambahan

1 Publikasi di Jurnal Internasional Submit 2 Jasa, rekayasa sosial, metode atau sistem,

produk/barang

Ada (metode/cara pemasaran)

(11)

3 Inovasi baru/TTG Ada (cara pemasaran) 4 Hak kekayaan intelektual (Paten sederhana, Hak

Cipta, Merek Dagang, Desain Produk Industri, Perlindungan Variates Tanaman, Perlindungan Desain Topografi sirkuit terpadu)

Draft

5 Buku ber ISBN Draft

E. Kajian Pustaka

Pemasaran diartikan dengan pemasaran di mana pesan dikirim menggunakan media yang tergantung pada transmisi. Namun sejauh ini, internet merupakan media paling signifikan. (Achar, 2014). Banyak sekali tokoh yang mengemukakan bahwa terjadi perubahan dalam pemasaran yang disebabkan karena perkembangan teknologi, terutama internet. Keuntungan dari marketing menggunakan internet adalah lebih mudah, lebih murah atau lebih cepat untuk berkomunikasi. (Sergey et al, 2020; Kazakov, 2019;

Maseda et al, 2019) Namun pemasaran bukan tentang memahami teknologi yang mendasarinya, melainkan tentang memahami orang, bagaimana mereka menggunakan teknologi itu, dan bagaimana memanfaatkan teknologi untuk terlibat dengan mereka secara lebih efektif, dan harus lebih didorong oleh kualitas komunikasi daripada kuantitasnya (Albar et al, 2019; Jarry et al, 2018). Terdapat berbagai dimensi dari marketing yaitu : website, optimasi mesin pencari, periklanan berbasis klik pencarian berbayar, pemasaran afiliasi dan kemitraan, hubungan masyarakat online, jejaring social, email, manajemen hubungan konsumen (Harry et al, 2018). Media sosial juga merupakan media yang sangat potensial dan paling efektif dalam pemasaran untuk berbicara dengan pelanggan. (Sergey et al, 2020). Diperlukan upaya untuk mencapai hasil dari marketing.

Marketing juga dapat membangun brand awareness, yang dilakukan dengan cara menentukan media sosial yang akan digunakan, perencanaan pesan, dan menentukan teknik bauran promosi yang akan digunakan. (Sergey et al, 2020; Kazakov, 2019) Beberapa upaya telah dilakukan untuk meningkatkan keterampilan pemasar dalam marketing. Pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan pemasar telah memiliki efek positif. Melalui workshop marketing (penyampaian materi, diskusi dan

(12)

praktik) maka pemasar lebih memahami pentingnya penggunaan media internet untuk meningkatkan daya saing usahanya (Mahedy dkk, 2016). Beberapa pelatihan yang dapat dilakukan seperti alih pengetahuan dan teknologi dalam perancangan bisnis online, pemanfaatan E-Commerce yang sudah ada, pemanfaatan transaksi perbankan secara online, penggunaan Social Media dan Search Engine Optimization (SEO) dalam penjualan dan pemasaran secara online. (Jamaludin dkk, 2015)

(13)

BAB III

METODE PELAKSANAAN

A. Metode

Metode Metode yang diterapkan untuk mencapai pemecahkan permasalahan ini adalah metode sistem tindakan dan pembelajaran yang partisipatif yang dikenal sebagai metode PLA (Participatory Learning and Action). Metode pemberdayaan masyarakat ini dikembangkan oleh Linda Mayoux tahun 2000-an (Sadia, dkk 2013). Dengan metode PLA, proses dan evaluasi dilaksanakan secara partisipatif. PLA merupakan bentuk baru dari metoda pemberdayaan masyarakat yang dahulu dikenal sebagai “learning by doing”

atau belajar sambil bekerja. Secara singkat, PLA merupakan metoda pemberdayaan masyarakat yang terdiri dari proses belajar tentang suatu topik, pengolahan, pemeliharaan, dan lain sebagainya setelah itu diikuti aksi atau kegiatan riil yang relevan dengan materi pemberdayaan masyarakat tersebut (Mardikanto, 2013). Sehingga penggunaan metode PLA ini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam: (1) Penggunaan teknologi di Era Revolusi Industri 4.0 dalam persaingan bisnis. (2) mempraktekan teknik pomosi melalui sosial media (3) memasarkan produk UMKM di market place.

B. Deskripsi Hasil Riset/Teknologi yang Akan Didesiminasikan

Teknologi yang dideseminasikan pada masyarakat Desa Negri Katon Kabupaten Pesawaran adalah pengunaan teknologi informasi untuk memperluas akses pasar UMKM dan pemanfaatan sosial media dan market place untuk memasarkan produk- produk yang dihasilkan. Alat-alat yang dibutuhkan dalam desiminasi pengabdian ini adalah smartphone yang saat ini sudah banyak digunakan oleh masyarakat.

Peralatan, sarana dan prasarana yang dibutuhkan adalah:

1. Kamera 2. Smartphone 3. Box studio mini

(14)

4. Jaringan internet 5. Kuota

C. Prosedur Kerja untuk Mendukung Metode yang di tawarkan

D. Pihak-Pihak Terkait yang Terlibat

Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan pengabdian diantaranya

Kegiatan Pelaksana Peserta

Tahap I

1. Persiapan

Tim Pengusul, FP , FEB dan Dinas Koperasi dan

UMKM Kabupaten Pesawaran

Masyarakat/UMKM 2. Penentuan UMKM

sasaran pelatihan Masyarakat/UMKM

3. Penyusunan modul

pelatihan Masyarakat/UMKM

Tahap 3 1. Pemilihan marketplace (bukalapak,

shopee, tokopoedia

2. Pembukaan akun di market place

3. Pendampingan di market place 4. Evaluasi penjualan Tahap 2

1. Pelaksananaan Pelatihan 2. Praktek cara memotret produk

3. Praktek posting di sosial media 4. Praktek mendeskripsikan produk Tahap I

1. Persiapan

2. Penentuan UMKM sasaran pelatihan 3. Penyusunan modul pelatihan

(15)

Kegiatan Pelaksana Peserta Tahap II

1. Pelaksananaan Pelatihan Tim Pengusul, FP , FEB dan Dinas

Koperasi dan UMKM Kabupaten

Pesawaran

Masyarakat/UMKM

2. Praktek cara memotret produk Masyarakat/UMKM

3. Praktek posting di sosial media Masyarakat/UMKM

4. Praktek mendeskripsikan produk

Masyarakat/UMKM Tahap III

1. Pemilihan marketplace (bukalapak, shopee, tokopoedia

Tim Pengusul, FP , FEB dan Dinas

Koperasi dan UMKM Kabupaten

Pesawaran dan Tin dari market place

(bukalapak atau tokopedia)

Masyarakat/UMKM

2. Pembukaan akun di market place Masyarakat/UMKM

3. Pendampingan di market place Masyarakat/UMKM

4. Evaluasi penjualan

Masyarakat/UMKM

D. Partisipasi Mitra

Partisipasi mitra dalam kegiatan ini adalah : (1) menyediakan tempat selama proses pelatihan (2) menyedikan produk-produk yang dihasilkan oleh masing-masing UMKM (3) menyiapkan smartphone yang akan digunakan untuk memotret produk yang akan diposting di sosial media (4) membuat deskripsi tentang bisnis yang dilakukan.

E. Evaluasi Pelaksanaan dan Keberlanjutan Program

Evaluasi yang akan dilakukan pada peserta kegiatan pelatihan ini adalah evaluasi awal (pre test) untuk melihat kemampuan awal yang dimiliki peserta tentang materi yang akan diberikan dilakukan pada setiap sesi melalui kertas kerja dan soal-soal latihan.

Keberhasilan peserta penyuluhan dinyatakan berdasarkan standar penilaian dengan kriteria seperti tersaji pada Tabel 4.

% Perolehan Skor Interprentasi Keberhasilan 85% -100%

75% - 80%

60% -74%

<59%

Baik sekali Baik Cukup Kurang

(16)

Kegiatan evaluasi dilaksanakan setelah kegiatan berlangsung, yaitu setelah pemberian materi dan pendampiangan dilakukan. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan dari seluruh rangkaian kegiatan. Kegiatan ini melibatkan para khalayak sasaran pelakana kegiatan. Kriteria dan indikator pencapaian tujuan dan tolak ukur yang digunakan untuk menjustifikasi tingkat keberhasilan kegiatan dapat dijabarkan sebagai berikut:

Indikator Pencapaian Sumber Data Instrumen Indikator Keberhasilan

 Pengetahun internet (e-commerce) sebagai media sarana

pengembangan usaha

 Kemanfaatan kegiatan

Primer, khalayak

sasaran Wawancara

 Adanya pengetahuan peserta tentang (ecommerce) sebagai media sarana

pengembangan usaha;

 Kegiatan bermanfaat bagi peserta

Keterampilan peserta dalam memanfaatkan internet sebagai media penjualan

Primer Pengamatan

langsung

Terjadinya perubahan Kemampuan dan

keterampilan pada peserta dalam media online sebagai sarana pemasaran Pemanfaatan media

ecommerce/marketplace sebagai sarana penjualan

Primer Pengamatan

langsung

Produk UMKM dijual melalui berbagai media online

Pemasaran melalui ecommerce efektif dan efisien

Primer Pengamatan

langsung

Hasil penilaian e-

commerce mendapatkan nilai baik (rata-rata mendapatkan nilai 3 dari skala 3)

(17)

BAB IV

HASIL PENGABDIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Singkat UMKM Tapis Negri Katon Kabupaten Pesawaran

UMKM Tapis di Negri Katon Kabupaten Pesawaran merupakan himpunan dari ibu-ibu pengrajin kain tapis turun temurun kurang lebih sebanyak 200 pengrajin. Hasil produksi para pengrajin ini di pamerkan di Galeri Tapis Negri Katon Kabupaten Pesawan. Gambar berikut ini adalah contoh beberapa produk yang dihasilkan oleh ibu- ibu pengrajin

Karena usaha ini merupakan kerajinan tangan (handycraft), peralatan yang digunakan masih manual.. Karena peralatan yang masih sederhana, modal yang diperlukan juga tidak terlalu banyak. Modal usaha masih dapat dipenuhi dengan modal pribadi, tanpa mengandalkan modal usaha dari pinjaman pihak luar seperti bank.

(18)

B. Pelaksanaan Kegiatan

Sesuai dengan tujuannya, kegiatan ini dilakukan dengan memberikan materi terkait dengan digitalisasi usaha, dan pendampingan khalayak sasaran (mitra) dalam memasarkan produknya melalui internet (e-commerce) dan sosial media:

1. Pemberian materi

Materi diberikan kepada mitra agar mitra mengetahui dan memahami pengertian dan konsep dasar dari e-commerce. Pemberian materi dilakukans ecara pace to pace (tatap muka) antara pemberi materi dengan mitra. Materi diberikan dengan metode kelas dan diskusi. Pemateri memberikan materi terlebih dahulu kepada mitra, kemudian berdiskusi atau tanya jawab terkait dengan materi yang diberikan. Tujuan pemberian materi dalam kegiatan ini sebagai berikut:

1. memberikan pemahaman kepada mitra tentang pengertian dan konsep e- commerce;

2. mitra mengetahui keunggulan pemasaran melalui e-commerce;

3. agar mitra memahami cara kerja e-commerce (toko online, dan sosial media);

4. mitra mengetahui proses pembuatan e-commerce;

5. mitra mengetahui cara mendaftar pada toko online (marketplace).

Materi yang diberikan dalam sesi pelatihan ini adalah seputar e-commerce, toko online dan sosial media sebagai sarana pemasaran. Materi tersebut meliputi:

a. manfaat e-commerce;

b. dimensi e-commerce;

c. struktur dan klasifikasi e-commerce;

d. model bisnis ecommerce;

e. pengertian marketplace;

f. konsep dasar marketplace;

g. pemanfaatan marketplace sebagai sarana pemasaran yang efektif;

h. pengertian dan macam-macam sosial media; dan

(19)

i. pemanfaatan sosial media sebagai sarana pemasaran produk yang efektif dan efisien.

2. Pendampingan

Pemanfaatan Marketplace dan Sosial Media Setelah materi dasar tentang e-commerce dan sosial media diberikan, selanjutnya mitra dibimbing dalam memasarkan produknya melalui layanan internet. Mitra dibimbing cara memasarkan produknya melalui berbagai marketplace seperti bukalapak.com, tokopedia.com, shopee.com. Juga pemasaran melalui sosial media seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Mitra diajarkan dan dibimbing mulai dari persiapan awal seperti pembuatan akun email, mendaftar pada marketplace, cara membuka toko pada marketplace, dan cara mendaftar (sigh up) pada sosial media. Secara umum pendampingan pada kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi: pembuatan akun email, pendaftaran pada marketplace dan sosial media, pembukaan toko pada marketplace, promosi/pemasaran pada sosial media.

a. Pembuatan Toko Online di Tokopedia

Tokopedia (www.tokopedia.com) merupakan salah satu marketplace atau start up terbesar yang ada di Indonesia. tokopedia menyediakan tempat atau space bagi toko online yang akan memasarkan produknya. Tidak hanya cara mendaftarnya yang mudah, juga diberikan kebebasan kepada para penjual online untuk menjual produknya sepanjang tidak bertentangan secara hukum. Selain itu, keamanan juga dapat terjamin karena disediakan rekening bersama sebagai jembatan transaksi antara penjual dan pembeli. Cara membuka toko online di tokopedia cukup mudah tinggal membuka website-nya yaitu www.tokopedia.com kemudian pilih menu daftar. Terdapat tiga opsi dalam membuka akun pada tokopedia, yaitu mendaftar secara manual yaitu mengisi identitas diri melalui form yang telah disediakan atau juga bisa melalui email gmail, atau melalui facebook. Pada pelaksanaan kegiatan ini, pendaftara pada tokopedia melalui pengisian form (manual). Berikut adalah contoh-contoh toko kerajinan pada tokopedia.

(20)

b. Pembuatan Toko Online di Bukalapak

Selain tokopedia, bukalapak juga merupakan marketplace terbesar di Indonesia secara konsep dan cara kerja bukalapak dan tokopedia tidaklah berbeda.

Perbedaan hanya terletak pada feature tertentu atau hal baru yang ditawarkan oleh masing-masing marketplace. Cara pendaftaran pada bukalapak juga tidak jauh berbeda dengan marketplace lainnya. Pendaftar cukup membuka halaman web www.bukalapak.com dan cari menu daftar. Pada bukalapak ditawarkan tiga cara mendaftar sesuai dengan media yang digunakan. Seperti pada Desktop, pada Mobile App, atau melalui BBM. Pada dasarnya pendaftaran melalui tiga media tersebut relaitif sama. Proses pendaftaran menbutuhkan email atau nomor handphone, jenis kelamin, nama toko, dan password. Pendaftaran akan berhasil setelah melakukan verifikasi email dan kode verifikasi pada handphone. Berikut adalah contoh (ilustrasi) tampilan toko online yang telah siap melakukan penjualan dan transaksi.

(21)

c. Pemasaran Melalui Instagram

Instagram merupakan salah satu media sosial yang populer di Indonesia. Media sosial ini lebih mengedapankan foto dan video dibandingkan dengan narasi semata seperti Facebook. Pada umumnya sosial media ini dimanfaatkan untuk berbagai foto dan video serta mencari teman baru. Namun karakteristik Instagram juga sangat dimungkinkan sebagai sarana pemasaran atau onlineshop.

Tidak sedikit para pelaku usaha yang berhasil meningkatkan penjualannya melalui sosial media Instagram (IG). Keberhasilan pengguna IG dalam memasarkan produknya ditentukan oleh banyaknya follower. Pembuatan akun sebetulnya bisa dilakukan pada desktop (PC) atau laptop. Namun mayoritas pengguna melakukan pendaftaran melalui handphone melalui pengunduhan aplikasinya. Karena sosial media lebih banyak dimanfaatkan melalui handphone dibandingkan dengan PC atau laptop. Pendaftaran akun pada Instagram sangat mudah. Cukup mengisi form yang telah disediakan. Data yang dibutuhkan adalah nama email atau nomor handphone, nama lenkap, nama pengguna, dan password, kemudian daftar. Atau bisa juga mendaftar dengan akun Facebook yang lebih praktis karena tidak diperlukan data pribadi lagi karena menggunakan data pada akun Facebook.

(22)

d. Pemasaran Melalui Facebook Media paling populer di Indonesia saat ini adalah Facebook. Facebook merupakan sosial media dengan pengguna terbanyak selain sosial media lainnya. Facebook juga dimanfaatkan dalam meningkatkan penjualan produk Kerajinan Tapis UMKM Negri Katon Pesawaran. Pendaftaran pada cukup mudah, bisa dilakukan pada Dekstop dengan membuka laman webnya yaitu www.facebook.com atau dengan mengunduh aplikasinya yang terdapat di Playstore untuk digunakan pada handphone. Data yang diminta ketika mendaftar pada akun Facebooka adalah nama depan dan nama belakang, email atau nomor handphone, kata sandi atau password, tanggal lahir dan jenis kelamin.

e. Pemasaran Melalui WhatsApp WhatsApp Messenger atau WhatsApp saja adalah aplikasi pesan untuk ponsel cerdas (smartphone). WhatsApp Messenger [WA]

merupakan aplikasi pesan lintas platform yang memungkinkan kita bertukar pesan tanpa biaya SMS, karena WhatsApp Messenger menggunakan paket data internet yang sama untuk email, browsing web, dan lain-lain. Aplikasi WhatsApp Messenger menggunakan koneksi internet 3G, 4G atau WiFi untuk komunikasi data. Dengan menggunakan WhatsApp, kita dapat melakukan obrolan online, berbagi file, bertukar foto dan lain-lain. Jika sosial pada umumnya lebih terbuka, namun WA lebih tertutup dan personal. Orang lain sulit untuk menjangkau kecuali memiliki nomor handphone yang digunakan pada WA, sebaliknya pengguna juga sulit untuk menjangkau pengguna lain secara bebas. Kelebihan lain WA dari sekedar alat penyampain pesan adalah terdapat menu atau feature grup yang memungkinkan satu kali kirim pesan dapat menjangkau anggota grup yang jumlahnya cukup banyak. Fitur WA ini juga sering digunakan untuk mempromosikan atau memasarkan produk. Aplikasi WA ini juga dimanfaatkan melalui pengabdian masyarkat. Promosi dilakukan dengan memberikan narasi “provokatif” agar para pembaca tertarik.

(23)

B. Hasil Evaluasi

Evaluasi pelaksanaan dilakukan terhadap hasil kegiatan yaitu penilaian atas tampilan dan konten toko online (e-commerce) baik pada marketplace atau pada sosial media. Evaluasi hasil kegiatan atau penilaian atas tampilan dan konten toko online dilakukan oleh masyarakat atau pengguna internet yang sudah biasa membeli produk secara online. Evaluasi atau penilaian hasil kegiatan dilakukan untuk melihat respon atau penilaian responden terhadap e-commerce Pengrajin Tapis Negri Katon Pesawaran yang telah dibuat, baik pada marketplace atau sosial media. Semakin tinggi penilaian e-commerce maka pemasaran atau promosi yang dilakukan efektif dan sesuai harapan. Sebaliknya jika hasil penilaiannya kecil maka perlu dilakukan perbaikan. Berikut adalah identitas responden dan hasil penilaian terhadap e- commerce Pengrajin Tapis Negri Katon Pesawaran.

1. Identitas responden

Identitas responden dilihat dari beberapa karakteristek responden, yaitu jenis kelamin, usia, pendidikan, serta terkait dengan pembelian produk secara online.

Berikut adalah profil atau identitas responden yang melakukan penelitian terhadap ecommerce dengan total responden sebanyak 25 orang, keseluruhan responden adalah perempuan. Responden merupakan peserta pelatihan, sebelum melakukan penilaian, responden diharuskan membuka atau melihat toko online pada marketplace dan pemasaran/promosi yang telah dilakukan pada sosial media.

Rentang usia responden dibagi ke dalam empat klasifikasi. Berdasarkan usianya, responden dengan usia 25 – 30 tahun 19 persen dan total keseluruhan responden.

Responden dengan usia 31 – 40 sebanyak 62 persen. Sementara responden dengan usia 41 – 50 tahun sebanyak 19 persen. Sedangkan responden dengan usia lebih dari 50 tahun tidak ada. Melihat dari karakteristik usia responden, responden dalam penilaian hasil kegiatan ini didominasi oleh anak muda dengan rentang usia 31 sampai dengan 40 tahun.

(24)

Responden dalam menilai e-commerce ini dipastikan sudah memahami atau setidaknya pernah melakukan pembebelin produk secara online. Hasil penyebaran kuesioner menujukkan bahwa responden yang diikutkan dalam penilaian ini pernah melakukan pembelian online dengan pembelian produk secara beragam.

2. Hasil penilaian

Penilaian e-commerce melalui toko online dan sosial dilakukan berdasarkan tiga komponen penilaian, yaitu informatif, persuasif, dan intention. Informatif dinilai untuk melihat seberapa ecommerce yang dibangun memberikan informasi produk yang ditawarkan secara detail dan dipahami oleh konsumen. Penilaian persuasif dimaksudkan untuk menilai seberapa besar ecommerce yang dibangun dapat meyekinkan konsumen. Sementara intention untuk melihat seberapa besar daya tarik produk yang ditawarkan sehingga sehingga konsumen mau atau berkeinginan untuk membeli produk. Skala penilaian menggunakan skal 1 -3. 1 artinya tidak setuju/tidak baik, 2 netral, dan 3 setuju/baik.

a. Informatif

Terdapat empat indikator untuk menilai tingkat informasi yang disampaikan, apakah memberikan informasi yang baik dan dipahami oleh konsumen. Kempat indikator tersbut adalah: Produk yang ditawarkan jelas; Informasi produk detail;

Informasi produk mudah dimengerti; dan Informasi simpel tapi memberikan informasi yang cukup. Berikut adalah hasil penilaian untuk komponen informatif.

(25)

Grafik 4.1 Penilaian Peserta Pelatihan Terhadap Komponen Informatif Pada komponen atau dimensi infomatif, untuk indikator kejelasan produk yang ditawarkan, mayoritas responden setuju atau menilai baik, bahwa produk yang ditawarkan jelas. Responden yang memberikan nilai setuju/baik sebanyak 83 persen dari total keseluruhan responden. Responden yang menilai netral sebanyak 17 persen. Sementara yang responden yang tidak setuju atas kejelasan infomasi produk tidak ada atau 0%. Responden yang menilai informasi produk detail 69 persen.

Sementara responden yang menilai tidak tahu atau netral 31 persen. Tidak ada yang menilai bahwa produk yang ditawarkan tidak memberikan informasi yang detail. Sementara penilaian informasi produk yang dapat atau mudah dimengerti oleh responden dinilai oleh responden sebanyak 83 persen menyatakan setuju.

Responden yang netral sebanyak 14 persen. Sedangkan yang menyatakan tidak setuju sebanyak 3 persen dari total keseluruhan responden.

Sebanyak 73 persen responden menilai bahwa pemasaran produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran pada e-commerce menyatakan informasi yang disampikansimpel tapi memberikan informasi yang cukup. Pada indikator

(26)

yang sama, 23 persen yang menyatakan netral. Sedangkan sisnya yang menyatakan tidak setuju jika informasi simple tapi memberikan informasi yang cukup 3 persen dari total keseluruhan responden. Dari keseluruhan penilaian pada setiap indikator, mayoritas responden atau rata-rata responden (sebanyak 77 persen atau 27 orang) menyatakan setuju bahwa produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran yang ditawarkan melalui e-commerce dapat memberikan infomasi yang baik dan dapat dipahami oleh konsumen.

b. Persuasif

Indikator yang digunakan untuk untuk menilai persuasif atau keyakinan terhadap produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran yang ditawarkan melalaui e-commerce adalah: [1] Kualitas produk yang ditawarkan bagus; [2]

Harga produk relevan/sesuai dg produk yang ditawarkan; dan [3] Tidak akan kecewa jika membeli produk ini. Berikut adalah hasil penilaian indikatorindikator persuasif.

Grafik 4.2 Penilaian Peserta Pelatihan Terhadap Komponen Persuasif (%)

(27)

Mayoritas responden menilai bahwa produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran yang ditawarkan melalui ecommerce memiliki kualitas bagus.

Responden yang setuju atas indikator pertama ini sebanyak 63 persen.

Sementara responden yang netral sebanyak 34 persen. Sedangkan yang menilai tidak setuju atau tidak bagus sebanyak 3 persen dari total keseluruhan responden.

Untuk indikator “harga produk relevan/sesuai dengan produk yang ditawarkan”, sebanyak 76 persen menyatakan setuju. Sedangankan yang tidak memberikan penilaian atau netral, atau biasa saja, 23 persen. Tidak ada yang menyatakan tidak setuju dengan kesuaian produk yang ditawarkan. Responden yang memiliki keyakinan bahwa mereka tidak akan kecewa jika membeli produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran sebagaimana yang ditawarkan sebanyak 83 persen. Responden yang tidak memberikan penilaian atau netral 11 persen. sementara yang tidak setuju sebanyak 6 persen.

c. Intensi

Penilaian intention atau daya tarik terhadap produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran yang ditawarkan dapat dilihat pada Tabel berikut.

Indikator yang digunakan sebanyak tiga indikator, yaitu: [1] Saya tertarik dengan produk yang ditawarkan, [2] Produk yang ditawarkan membuat saya berkeinginan untuk membeli, dan [3] Saya akan menyimpan informasi produk ini. Responden yang tertarik dengan produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran tawarkan melalui e-commerce sebanyak 86 persen. Sedangkan yang netral sebanyak 14 persen. Dengan demikian tidak ada responden yang tidak tertarik dengan produk yang ditawarkan oleh Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran.

Sementara responden yang berkeinginan untuk membeli produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran melalui e-commerce sebanyak 68 persen.

Sedangkan yang netral sebanyak 29 persen. Responden yang tidak memiliki

(28)

keinginan untuk membeli produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran yang ditawarka di e-commerce sebanyak 3 persen dari 25 orang.

Seperti yang terlihat pada Grafik 4.2 berikut:

Grafik 4.3 Penilaian Peserta Pelatihan Terhadap Komponen Intensi (%) Meskipun responden tertarik dan memilili keinginan untuk membeli, namun kadang tercapai karena berbagai faktor. Namun sebagian besar responden bersedia untuk menyimpan informasi produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran yang dipasarkan secara online. Responden yang bersedia menyimpan informasi ini sebanyak sebanyak 83 persen. Responden yang netral sebanyak sebanyak 14 persen. Sedangkan responden yang tidak mau menyimpan informasi produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran sebanyak 3 persen. Dari tiga indikator penelaian pada komponen penialain intension, rata- rata 79 persen responden memiliki daya tarik terhadap produk Kerajinan

(29)

UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran. Sedangkan yang tidak memiliki daya tari sebanyak hanya satu orang. Sedangkan yang netral sebanyak 19 persen.

Responden yang tertarik dengan produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran tawarkan melalui e-commerce sebanyak 86 persen. Sedangkan yang netral sebanyak 14 persen 5 orang. Dengan demikian tidak ada responden yang tidak tertarik dengan produk yang ditawarkan oleh Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran. Sementara responden yang berkeinginan untuk membeli produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran melalui e- commerce sebanyak 68 persen. Sedangkan yang netral sebanyak 29 persen.

Responden yang tidak memiliki keinginan untuk membeli produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran yang ditawarka di e-commerce sebanyak 3 persen dari 25 orang. Meskipun responden tertarik dan memilili keinginan untuk membeli, namun kadang tercapai karena berbagai faktor. Namun sebagian besar responden bersedia untuk menyimpan informasi produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran yang dipasarkan secara online. Responden yang bersedia menyimpan informasi ini sebanyak 83 persen. Responden yang netral sebanyak 5 orang atau sebanyak 14 persen. Sedangkan responden yang tidak mau menyimpan informasi produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran sebanyak 3 persen. Dari tiga indikator penelaian pada komponen penilain intension, rata-rata 79 persen responden memiliki daya tarik terhadap produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran. Sedangkan yang tidak memiliki daya tari sebanyak hanya satu orang. Sedangkan yang netral sebanyak 19 persen.

(30)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil pengabdian masyarakat terhadap Produk Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran, dapat disimpulkan bahwa: (1) pengabdian masyarakat telah memberikan pemahaman kepada mitra tentang pemasaran melalui e-commerce; (2) mitra mampu membuat toko online dan promosi melalui sosial media secara mandiri;

(3) produk mitra dipasarkan dibeberapa marketplace dan sosial media; dan (4) hasil penilaian konsumen menyatakan bahwa pemasaran produk mitra melalui e-commerce memiliki nilai informatif, persuasif (meyakinkan), dan intention (memiliki daya tarik) yang tinggi. Bagi Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran, agar menjaga kepercayaan pelanggan dengan cara menjaga mutu produk dan service yang baik.

Pelanggan yang puas akan memberikan testimoni tingkat kepuasan yang tinggi sehingga menjadi salah satu indikator untuk menambah pelanggan baru.

B. Saran

Pengabdian yang telah dilakukan terbatas hanya menyelesaian satu persolan saja, yaitu permasalahan pemasaran. Kedepan diharapkan ada kegiatan lain untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh Kerajinan UMKM Tapis Negri Katon Pesawaran seperti permasalahan permodalan dan pendampingan pembuatan laporan keuangan usaha. Kegiatan pengabdian ini dapat dijadikan bahan referensi untuk kegiatan pengabdian lain dengan permasalahan dan solusi yang sama. Perlu juga melibatkan dan bekerja sama dengan provider penyedia jaringan internet agar jaringan internet handal.

(31)

Daftar Pustaka

Ahyuna, Hamzah, M., D., dan Najib, M., 2013. Pemanfaatan Internet Sebagai Media Promosi Pemasaran Produk Lokal Oleh Kalangan Usaha Di Kota Makassar.

Jurnal Komunikasi KAREBA Vol. 2, No.1 Januari – Maret 2013, 30-40

Jamaludin, A., Arifin, Z., dan Hidayat, K., 2015. Pengaruh Promosi Online Dan Persepsi Harga Terhadap Keputusan Pembelian (Survei Pada Pelanggan Aryka Shop di Kota Malang). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), Vol. 21 No. 1 April 2015.

Mahedy, K., S., Parmawati, P., T., dan Ernanda, K., Y., 2016. Pelatihan Pemanfaatan Media Online Sebagai Sarana Pemasaran Hasil Produksi Bagi Asosiasi Pengrajin Industri Kecil (APIK) Kabupaten Buleleng. Fakultas Teknik Dan Kejuruan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.

Swasta, I., B., J., Karyasa,I., W., Rai, I.,W., dan Suardika, I., P., 2011. Implementasi Program Ipteks Bagi Wilayah Di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng Tahun 2010. Majalah Aplikasi Ipteks Ngayah, 2(2), 2011, Hal. 12-21.

Sergey Kazakov Jose L. Ruiz-Alba and Maria M. Munoz (2020) The impact of information and communication technology and internal market orientation blending on organisational performance in small and medium enterprises ~ European Journal of Management and Business Economics Emerald Publishing Limited l 2020

Achar, A. (2013), “Evaluation of training and development practices in SMEs: an empirical study”, Prabandhan: Indian Journal of Management, Vol. 6 No. 4, p. 19.

Kazakov, S. (2019), “Revisiting internal market orientation in family firms”, European Journal of Family Business, Vol. 9 No. 1, pp. 5-20.

Maseda, A., Iturralde, T., Aparicio, G., Boulkeroua, L. and Cooper, S. (2019), “Family board ownership, generational involvement and performance in family SMEs”, European Journal of Management and Business Economics, Vol. 28 No. 3, pp.

285-300

Harry Bouwman, Shahrokh Nikou, Francisco J. Molina-Castillo, Mark de Reuver, (2018) "The impact of ization on business models", Policy, Regulation and Governance, Vol. 20 Issue: 2, pp.105-124, https://doi.org/10.1108/ DPRG-07- 2017-0039

AlBar, A.M. and Hoque, M.R. (2019), “Factors affecting the adoption of information and communication technology in small and medium enterprises: a perspective from rural Saudi Arabia”, Information Technology for Development, Vol. 25 No.

4, pp. 715-738.

(32)

Lampiran 1. Justifikasi AnggaranBiaya Pengabdian Kepada Masyarakat 1. Biaya Pengadaan Alat dan Bahan

No Uraian Jumlah Satuan Harga

satuan (Rp)

Jumlah (Rp) 1 Kuesioner @ 20 halaman 75 Eksemplar 4.000 300.000

2 Kertas kerja 75 Paket 10.000 750.000

3 Buku Materi Pelatihan 5 Paket 2.00.000 1.000.000

4 Sewa LCD 5 Paket 250.000 1.250.000

5 Kartu-Kartu Indek 75 Paket 10.000 750.000

6 Spidol Warna 12 Kotak 25.000 300.000

7 Map Plastik 75 Buah 10.000 750.000

8 White Board 1 Paket 250.000 250.000

9 Double tape 15 Buah 10.000 150.000

10 Selotip 15 Buah 8.000 120.000

11 Kertas Warna 75 Lembar 4.000 300.000

12 Tali 40 Gulung 5.000 200.000

13 Kertas gulung 30 Gulung 4.000 120.000

Sub total 1

5.240.000 II .Biaya Travel Expenditure

No Uraian Jumlah Satuan Harga

satuan (Rp)

Jumlah (Rp) 1 Survei Awal ke Lokasi 1 Paket 500.000 500.000

2 Kegiatan Pelatihan 4 Paket 1.000.000 4.000.000

3 Kunjungan Lapang 2 Paket 750.000 1.500.000

Sub Total II

6.000.000 III. Biaya Alat Tulis Kantor (ATK/BHP)

No Nama ATK Jumlah Satuan Harga

Satuan (Rp)

Jumlah (Rp)

1 Ballpoint 12 Kotak 25.000 300.000

2 Pensil 12 Kotak 20.000 240.000

3 Kertas A4 10 Rim 30.000 300.000

4 Cartridge BC-24Black 2 Buah 200.000 400.000

5 Cartridge BC-24Color 2 Buah 250.000 500.000

6 CD kosong 2 Box 50.000 100.000

7 Flash Disk 8 GB 1 Buah 100.000 100.000

8 Memory card 1 Buah 200.000 200.000

9 Penggaris 18 Buah 5.000 90.000

10 Eraser 16 Buah 5.000 80.000

11 Pulsa 4 Paket 100.000 400.000

Sub Total 2.710.000

IV. Biaya Laporan/Diseminasi/Publikasi

(33)

No Keperlua n

Jumlah Satuan Harga satuan(Rp )

Jumlah(Rp)

1 Seminar 2 Paket 1.500.000 3.000.000

2 Perbanyakan laporan kemajuan dan laporan akhir

1 Paket 750.000 750.000

3 Dokumentasi 1 Paket 300.000 300.000

4 Publikasi di Jurnal 2 Paket 2.000.000 2.000.000

Sub Total 6.050.000

Total (Sub total I+II+II+IV) 20.000.000

(34)

1 Digitalisasi dan Daya Saing UMKM

Oleh

Rinaldi Bursan, S.E., M.Si1

Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk membantu agar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak kolaps digerus resesi akibat imbas pandemi virus korona Covid-19. Pemerintah bukan saja berkomitmen untuk membelanjakan dana Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekitar Rp 35 triliun untuk membeli berbagai program UMKM, melainkan juga mendorong pengembangan digitalisasi sektor UMKM.

Data Kementerian Koperasi dan UKM RI menyebutkan, diprediksi sekurang-kurangnya sekitar 37 ribu pelaku UMKM telah terkena efek domino dari pandemi Covid-19.

Secara keseluruhan, diperkirakan sekitar 116 juta orang atau sekitar 97,02% dari total jumlah pekerja di Tanah Air bekerja di sektor UMKM. Kalau imbas pandemi tidak segera tertangani, bukan tidak mungkin jumlah pelaku UMKM yang terancam kolaps akan terus bertambah.

Hasil survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) terhadap pelaku UMKM di Jabodetabek pada medio Juni 2020 lalu, misalnya, menemukan hanya sekitar 5,9% jumlah UMKM di Indonesia yang mampu memetik untung di tengah situasi pandemi. Sebagian besar pelaku UMKM atau sekitar 82,9% terkena dampak negatif pandemi. Bahkan sebesar 63,9% mengalami penurunan omzet lebih dari 30% dari pendapatan normal. Untuk membantu proses revitalisasi UMKM, digitalisasi dan upaya memperkenalkan UMKM agar melek digital diyakini pemerintah merupakan solusi yang efektif. Upaya ini bertujuan untuk mencegah agar produktivitas UMKM dapat tetap terjaga.

Harus diakui bahwa pandemi Covid-19 telah membuat menurunya daya beli masyarakat. Dikarenakan publik telah mengurangi interaksi diluar ruangan untuk menekan persebaran pandemi. Dengan demikian, banyak konsumen yang kemudian menjaga jarak dan mengalihkan pembelian secara digital. Dampaknya banyak UMKM yang harus menutup usahanya karena menurunya pembelian dan masih tergantung pada penjualan secara luar jaringan (offline). Sehingga beberapa sektor UMKM yang belum beradaptasi secara digital pada akhirnya sangat terdampak hingga menutup gerainya.

Meski begitu pandemi Covid-19 secara tidak langsung telah mendorong perubahan baru

1 Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung dan makalah disampaikan pada pelatihan digitalisasi dan e-commerce UMKM di Kabupaten Pesawaran

(35)

2 dalam langgam bisnis Indoneia. Perubahan tersebut yaitu beralihnya bisnis offline menuju bisnis digital yang dikenal juga sebagai fenomena kewirausahan digital. Media sosial dan market place (perantara) dapat menjadi sebuah konsep untuk mempermudah pelaku UMKM mendapatkan akses pemasaran yang lebih luas (Purnomo, 2019).

Perlu diketahui bahwa UMKM di Indonesia telah menjadi pilar terpenting bagi ekosistem ekonomi. Apalagi diketahui bahwa 99% pelaku usaha di Indonesia adalah sektor UMKM. Peran UMKM ini telah berkontribusi 60% terhadap produk domestik bruto nasional dan 97% terhadap penyerapan tenaga kerja yang terdampak pandemi.

Sedangkan dari UMKM yang ada saat ini ternyata baru 16 persen yang telah masuk dalam ekosistem ekonomi digital. Dalam konteks Indonesia, sektor UMKM merupakan salah satu pilar utama dari fundamental ekonomi Indonesia. Bahkan, di saat terjadinya krisis ekonomi 1998, ternyata sektor UMKM sangat berkontribusi positif dalam menyelamatkan ekosistem ekonomi Indonesia kala itu. Hal yang sama juga terjadi selama pandemi Covid19, yang mana sektor UMKM dapat berpotensi besar untuk menjadi akselerator pemulihan ekonomi nasional. Oleh karena itu diperlukan modOleh karena itu diperlukan model kewirausahaan yang bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Hal inilah yang kemudian melahirkan model kewirausahaan digital. Model bisnis ini berasal dari kombinasi teknologi digital dan kewirausahaan yang kemudian menghasilkan fenomena karakteristik baru dalam hal bisnis (Giones, & Brem, 2017).

Dalam hal ini peran teknologi digital memiliki pengaruh yang signifikan terhadap unit bisnis baru yang dibuat. Paradigma teknologi yang muncul memanfaatkan potensi kolaborasi dan kecerdasan kolektif untuk merancang dan meluncurkan inisitiaf kewirausahan yang lebih kuat serta berkelanjutan. Meski begitu ada empat dimensi yang terkait dengan kewirausahaan digital yaitu aktor digital (siapa), aktivitas digital (apa), motivasi digital (mengapa) dan organisasi digital (bagaimana) (Elia, et al, 2020).

Akan tetapi menurut catatan Kementerian Koperasi dan UKM, saat ini terdapat 10,25 juta pelaku UMKM yang telah terhubung dengan platform digital. Dengan kata lain sudah ada 16 persen atau sekitar 10,25 pelaku UMKM yang terhubung ke ekosistem digital (Merdeka.com, 2020). Hal ini disebabkan dari banyaknya program digitalisasi UMKM yang terus digelar oleh Kementerian UKM dan Koperasi. Perlu diketahui bahwa program digitalisasi merupakan bagian terpenting dari program transformasi Kementerian UMKM dan koperasi. Apalagi pola konsumsi masyarakat telah berubah sebagai akibat dari pandemi global. Eksesnya tren digitalisasi UMKM telah menjadi kebiasaan baru masyarakat hingga di masa mendatang. Meski begitu pada saat pandemi

(36)

3 Covid 19, penggunaan platform digital oleh pelaku UMKM di Indonesia sudah cukup meningkat. Terdapat 42 persen UMKM Indonesia yang sudah menggunakan media sosial.

Dengan kata lain media sosial merupakan sarana perkembangan kewirausahawanan dan keberlangsungan UMKM (Purwana, et al, 2017). Sedangkan berdasarkan data McKinsey penjualan e-commerce telah mengalami peningkatan sebesar 26 persen dengan jumlah 3,1 juta transaksi per hari (Kompas.com, 2020). Bahkan selama pandemi Covid-19 telah mendorong penggunaan media sosial yang lebih tinggi yang tentunya berkorelasi pada meningkatnya transaksi penjualan para UMKM. Dengan kata lain, pelaku UMKM yang telah berhasil melakukan transaksi penjualan selama pandemi ini adalah yang berhasil memanfaatkan platform digital dan media sosial. Selain itu dengan pengembangan digitalisasi UMKM akan membuat ekonomi digital di Indonesia pada 2025 akan menjadi terbesar di Asia Tenggara.

Meski begitu ada tiga kendala yang dihadapi oleh UMKM yaitu; Pertama, pelaku UMKM masih terkendala pada kapasitas produksi barang. Bahkan banyak UMKM yang gagal dipasar digital, karena tidak memenuhi permintaan pasar digital. Kedua, kualitas daya tahan pelaku UMKM yang belum merata. Dikarenakan di pasar digital ini para pelaku harus dapat bersaing dengan perusahaan besar yang selama pandemi juga beralih menggunakan platform digital. Ketiga, diperlukan penguatan edukasi literasi digital dan penguatan sumber daya manusia para pelaku usaha UMKM (Suwarni, et al, 2019). Sebab selama ini literasi digital dan kualitas sumber daya manusia para pelaku UMKM sangat minim, sehingga berdampak pada kurang maksimalnya dalam memproduksi produk unggulan masing-masing. Padahal, mayorutas pelaku usaha UMKM ingin mempraktikan bisnis digital dalam pengembangan usahanya (Susanti, 2020).

Lebih lanjut, dalam upaya pengembangan UMKM digital perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya, yaitu kualitas produksi, kapasitas produksi, dan literasi digital. Ketiga hal ini harus di perhatikan oleh UMKM agar usaha yang dibuka di ranah digital bisa bertahan lama. Lebih lanjut, dalam upaya pengembangan UMKM digital diperlukan sinergisitas dengan warganet yang notabene adalah para generasi milenial. Para warganet ini dapat didorong untuk bisa ikut mengambangkan UMKM digital dengan teknik reseller. Dalam konteks ini para warganet yang dapat diajak untuk bersinergi terutama para generasi milenial dan generasi Z yang tersebar dibeberapa klasifikasi yaitu buzzer, influencer dan follower (Arianto, 2020). Lebih lanjut program

(37)

4 pengembangan UMKM digital sangat bergantung pada dukungan pemerintah yaitu dengan kemudahan perizinan.

Pertumbuhan platform digital seperti e-commerce, ride hailing, dan pembayaran digital telah membawa Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar dan tercepat di ASEAN. Potensi ini harus dimanfaatkan oleh pelaku UMKM agar unit usahanya bisa kian berkembang di kancah internasional. Apalagi pada tahun 2025, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan bisa mencapai lebih dari US$130 miliar (Cnnindonesia.com, 2020). Potensi besar ini harus dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dengan berupaya fokus dan memperluas akses pasar digital guna memperbaiki kesenjangan digital antarwilayah terutama untuk usaha mikro di berbagai daerah (Mediaindonesia.com, 2020).

Kendala

Secara teoritis, harus diakui ada berbagai keuntungan yang bisa dipetik dari keterlibatan pelaku UMKM pada format ekonomi digital. Selain dapat mendongkrak keuntungan finansial melalui peningkatan penjualan secara daring dan memberikan keuntungan bagi pembeli dengan peluang menghemat 11%-25% dari harga ritel, yang tak kalah penting digitalisasi UMKM juga akan membuka ruang-ruang baru yang dapat mencegah pelaku UMKM kolaps diterpa krisis ekonomi.

Dari aspek manajemen bisnis, digitalisasi UMKM memang menjadi jalan keluar yang menjanjikan. Tetapi, untuk mempersiapkan dan memastikan para pelaku UMKM dapat terlibat dalam proses digitalisasi harus diakui tidaklah mudah. Membiasakan pelaku UMKM terbiasa masuk dalam ekosistem digital, bukan tidak mungkin akan menemui berbagai kendala.

Pertama, berkaitan dengan kemampuan para pelaku UMKM yang masih banyak yang gagap dalam penggunaan teknologi informasi untuk pemasaran. Dari sekian banyak pelaku UMKM, yang familier dengan teknologi informasi dalam mengembangkan kegiatan usahanya hanya sekitar 17% saja. Diperkirakan, para pelaku UMKM yang memahami digitalisasi bisnis hanya sekitar 3,97 juta pelaku usaha. Ini berarti hanya sebagian kecil pelaku UMKM yang dapat terlibat dalam transaksi bisnis secara online.

Menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM), tingkat kesuksesan UMKM di Indonesia dalam menjual produknya melalui platform digital masih sangat rendah, yakni hanya 4%-10%. Kegagapan pelaku UMKM

(38)

5 beradaptasi dan mengadopsi platform bisnis secara online dan proses digitalisasi membuat para pelaku UMKM makin terpuruk. Diperkirakan sekitar separuh dari jumlah pelaku UMKM di Indonesia akan gulung tikar pada September 2020 ini.

Kedua, berkaitan dengan banyaknya pelaku UMKM yang belum memiliki infrastruktur dasar untuk terlibat dalam ekosistem digital. Di berbagai daerah, sudah bukan rahasia lagi bahwa sebagian besar pelaku UMKM umumnya masih belum memiliki smartphone yang layak, dan tidak memiliki atau belum menggunakan komputer untuk memasarkan produk yang mereka hasilkan.

Akibat keterbatasan dana yang dimiliki tidak banyak pula pelaku UMKM yang mampu menyediakan paket pulsa atau akses pada internet. Dengan kata lain ada kondisi-kondisi struktural yang membuat para pelaku UMKM mengidap berbagai keterbatasan untuk terlibat dalam proses digitalisasi UMKM.

Ketiga, berkaitan dengan kondisi geografis yang tidak memungkinkan pelaku UMKM memanfaatkan teknologi informasi dan internet untuk memasarkan produk yang mereka hasilkan. Para pelaku UMKM yang tinggal di daerah-daerah terpencil dan tidak terjangkau oleh internet untuk kepentingan pemasaran produk, tentu sulit diharapkan dapat terlibat dalam proses digitalisasi bisnis UMKM.

Di berbagai daerah sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sebagian besar pelaku UMKM umumnya masih mengandalkan pada proses penjualan produk secara offline karena kondisi geografis yang tidak memungkinkan serta keterbatasan infrastruktur maupun konektivitas. Seluruh aktivitas usaha yang dikembangkan pelaku UMKM, mulai dari proses pembelian, penjualan, pemasaran, hingga pembayaran bahan baku maupun pemasaran produk masih sangat bergantung pada interaksi fisik secara offline.

Tantangan UMKM Dimasa Mendatang

Selama masa pandemi Covid-19 merambah ke berbagai daerah, salah satu perubahan yang tidak terhindarkan adalah terjadinya pergeseran perilaku konsumsi masyarakat dalam berbelanja yang dulunya dominan menggunakan offline beralih ke dalam sistem online.

Bagi pelaku UMKM, pergeseran pola perilaku konsumsi masyarkat dan konsumen seperti ini tentu harus disikapi dengan kreatif. Agar para pelaku UMKM dapat

(39)

6 tetap survive, bahkan mampu berkembang di era new normal, maka mau tidak mau para pelaku UMKM harus belajar mengenal dan mempraktikkan diri di ekosistem digital, Bekerja sama dengan berbagai platform dagang-elektronik, dalam kacamata pemerintah diharapkan mampu menjadi solusi bagi pelaku UMKM. Strategi ini bertujuan menyelamatkan bisnis di tengah masa pandemi virus korona Covid-19.

Lebih dari sekadar membiasakan diri terlibat dalam proses digitalisasi di bidang pemasaran, bagi pelaku UMKM yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai keterlibatan mereka dalam ekonomi digital justru mempercepat proses kematian UMKM. Ini bisa terjadi karena UMKM tidak kuat bersaing di jalur dunia maya yang sangat kompetitif.

Kelambanan dalam beradaptasi dan mengadopsi digitalisasi ekonomi memang akan membuat para pelaku UMKM berisiko terpuruk dan kolaps di era new normal. Tetapi, memaksa pelaku UMKM masuk dalam ekosistem digital tanpa fondasi literasi digital yang memadai bukan berarti tanpa resiko.

Dengan kemampuan dan tidak didukung oleh literasi digital yang memadai, bisa saja kelangsungan UMKM justru akan lebih rentan kolaps. Inilah dilema yang dihadapi oleh pemerintah ketika ingin membantu para pelaku UMKM, khususnya menghadapi efek dari pandemi Covid-19.

Referensi

Anggia, M. N., & Shihab, M. R. (2018). Strategi Media Sosial Untuk Pengembangan Umkm. Jurnal Terapan Teknologi Informasi, 2(2), 159-170.

Amelia, M. N., Prasetyo, Y. E., & Maharani, I. (2017). E-UMKM: Aplikasi Pemasaran Produk UMKM Berbasis Android Sebagai Strategi Meningkatkan Perekonomian Indonesia. Prosiding SNATIF, 11-16.

Kominfo.go.id. (2020). https://kominfo.go.id/content/detail/27898/siaran-pers- no84hmkominfo072020-tentang-peluncuran-gerakan-nasional-bangga-buatanindonesia- kitabelakitabeli/0/siaran_pers

Kompas.com. (2020). https://money.kompas.com/read/2020/12/03/192200426/minta- umkmpercepat-adopsi-digital-menteri-teten-jangan-sampai-pasar-kita

(40)

7 Kumparan.com. (2020). https://kumparan.com/kumparanbisnis/teten-masdukidorong- umkm-go-digital-potensinya-capai-rp-1-800-triliun-di-2025- 1ui1OxCRHHt L

Liputan6.com. (2020).

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4346449/banyakkeuntungan-bagi-umkm-jika-go- digital-apa-saja

Lipi.go.id. (2020). http://lipi.go.id/siaranpress/membangkitkan-umkm-di-masapandemi- dengan-inovasi-dan-teknologi/22212

Mediaindonesia.com. (2020). https://mediaindonesia.com/ekonomi/368463/pemerintah- targetkan-30-jutaumkm-masuk-platform-digital-2. (2020).

https://mediaindonesia.com/ekonomi/366150/42-umkm-gunakanmedsos-dan-platform- digital-saat-pandemi

Merdeka.com (2020). https://www.merdeka.com/uang/menkop-teten-sebut-1025- juta- umkm-telah-bergabung-ke-platform-digital.html

Mubiroh, S., & Ruscitasari, Z. (2019). Implementasi SAK EMKM Dan Pengaruhnya Terhadap Penerimaan Kredit UMKM. Berkala Akuntansi dan Keuangan Indonesia, 4(2), 1-15.

Nambisan, S. (2017). Digital entrepreneurship: Toward a digital technology perspective of entrepreneurship. Entrepreneurship Theory and Practice, 41(6), 1029-1055.

Permadi, D., Shabrina, F., & Rahyaputra, V. (2018). Menyongsong Kewirausahaan Digital Indonesia. UGM PRESS. Purnomo, F. (2019). Program Ladit (Lapak Digital):

Optimalisasi Media Digital sebagai Wadah dalam Pengembangan Umkm di Madura.

Jurnal Studi Manajemen Dan Bisnis, 6(2), 89-95.

(41)

E-Commerce

Dr Indah Listiana, SP, M.Si

(42)

E-Business

• Bisnis elektronik (electronic business atau e- business) adalah proses bisnis yang

memanfaatkan penggunaan teknologi digital dan internet dalam operasional utamanya.

• E-business meliputi aktivitas pengelolaan internal suatu perusahaan serta kegiatan

koordinasi dengan supplier dan rekan bisnis

lainnya (Laudon & Traver, 2018)

(43)

E-Commerce

• E-commerce (electronic commerce) adalah bagian dari e-business (electronic business) yang berhubungan dengan kegiatan jual-beli barang/jasa melalui Internet.

• E-commerce juga meliputi aktivitas yang mendukung transaksi tersebut, seperti

periklanan, pemasaran, dukungan konsumen, keamanan, pengiriman, dan pembayaran

(Laudon & Traver, 2018)

(44)

Klasifikasi E-commerce (1)

• Business to Consumer (B2C) E-Commerce.

Business to consumer dilakukan oleh pelaku bisnis dan konsumen.

• Transaksi e-commerce ini terjadi layaknya jual-

beli biasa, melibatkan pengeceran produk dan

jasa ke konsumen individu.

(45)

Klasifikasi E-commerce (2)

• Business to Business (B2B) E-Commerce. Bisnis e-commerce ini melibatkan penjualan barang dan jasa di antara bisnis-bisnis.

• Transaksi dilakukan oleh dua belah pihak yang

sama-sama memiliki kepentingan bisnis.

(46)

Klasifikasi E-commerce (3)

• Consumer to Consumer (C2C) E-Commerce. Bisnis e- commerce berbentuk C2C melibatkan konsumen yang menjual secara langsung kepada konsumen.

• Umumnya transaksi ini dilakukan secara online melalui pihak ketiga yang menyediakan platform online atau marketplace untuk melakukan transaksi tersebut

• Tugas 1 : ……. Jelaskan perbedaan antara 3 kategori

e-commerce dan berikan contohnya di Indonesia

(47)

Mengapa e-commerce?

• Ada dimana-mana (Borderless dan Timeless)

• Jangkauan global

• Standar universal

• Kaya manfaat

• Interaktif

• Kaya informasi

• Personalisasi dan kustomisas

• Terkoneksi sosial media

(48)

Model Bisnis E-Commerce

Sumber : Laudon & Traver, 2018

(49)

Peran e-commerce bagi Perekonomian

• Peningkatan akses pasar

• Penyerapan tenaga kerja

• Peningkatan daya saing negara

• Peningkatan perekonomian negara

(50)

Konsep E-Commerce

1. Automation

Otomasi bisnis proses sebagai pengganti proses manual (konsep

“enterprise resource planning”) 2. Streamlining / Integration

Proses yang terintegrasi untuk mencapai hasil yang efisien dan efektif (konsep “just in time”).

3. Publishing

Kemudahan berkomunikasi dan berpromosi untuk produk dan jasa yang diperdagangkan (konsep “electronic cataloging”)

4. Interaction

Pertukaran informasi/data antar pelaku bisnis dengan meminimalisasikan human error (konsep “electronic data interchange”)

5. Transaction

Kesepakatan dua pelaku bisnis untuk bertransaksi dengan melibatkan

institusi lain sebagai fungsi pembayar (konsep “electronic payment”)

(51)

4C’ E-Commerce

• Content

• Context

• Creativity

• Connectivity

(52)

E-Commerce di Indonesia

(53)

Penguna E-Commerce

(54)

Sekian dan Terima Kasih

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :