• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran arang sekam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran arang sekam"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBUATAN ASAP CAIR DENGAN PEMANFAATAN ASAP PEMBAKARAN ARANG SEKAM

PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN

RHEZANDA DWIKI FAHMIANTO NIRM 04.01.18.109

POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN MALANG BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN

KEMENTERIAN PERTANIAN 2022

(2)

PEMBUATAN ASAP CAIR DENGAN PEMANFAATAN ASAP PEMBAKARAN ARANG SEKAM

Diajukan sebagai syarat

Untuk memperoleh gelar Sarjana Terapan (S.Tr.P)

PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN

RHEZANDA DWIKI FAHMIANTO NIRM 04.01.18.109

POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN MALANG BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN

KEMENTERIAN PERTANIAN 2022

i

(3)

Ucapan Terimakasih

Dengan Rahmat Allah Yang Maha Pengasih lagi maha penyayang, dengan ini saya mempersembahkan tugas akhir ini untuk :

1. Ayahanda (Djoko Sumianto, SP, M.Agr) dan ibunda (Tri Sunar) terimakasih atas limpahan doa dan motivasi yang telah diberikan.

2. Kakak saya (Satrio Ari F, S.Kom) dan adek saya (Nazwa Triska) terimakasih atas kasih sayang, doa, dan dukungan sampai sejauh ini.

3. Dosen pembimbing dan penguji (Bapak Ir. Dwi Purnomo, MM, Bapak Dr.

Acep Hariri, SST, M.Si, dan Bapak Dr. Ferdianto Budi S. SP, M.Si.) terimakasih banyak, sudah sabar membimbing, menasehati, dan mengajari saya selama ini.

4. Bapak Muslimin, S.P, Bapak Hasan Basori, S.P dan Bapak Ibu PPL BPP Pakis terimakasih telah mendampingi dan membimbing dengan sabar selama dilapangan.

5. Sahabat seperjuangan yang telah memberikan semangat dan motivasi hidup

yang sangat luar biasa selama proses belajar menuju dewasa. Terimakasih telah membantu penulis di setiap keadaan selama masa perkuliahan (Ferri, Bryan, Alfiano, Bagus, Komang, Kaharudin, Rafi, Dzaky).

6. Teman-temanku kelas pertanian C yang tak bisa saya sebutkan satu- persatu, terimakasih banyak sudah menjadi teman, saudara dan keluarga selama saya belajar di kampus Polbangtan Malang dan semoga kalian semua sukses.

Semua pihak yang yang membantu secara langsung ataupun tidak langsung selama proses penyusunan tugas akhir.

ii

(4)

PERNYATAAN

ORISINALITAS TUGAS AKHIR

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa sepanjang pengetahuan saya, didalam naskah Tugas Akhir ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain sebagai Tugas Akhir atau untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan Tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

Apalagi ternyata di dalam naskah Tugas Akhir ini dibuktikan terdapat unsur- unsur PLAGIASI, saya bersedia Tugas Akhir ini digugurkan dan gelas vokasi yang telah saya peroleh (S.Tr.P) dibatalkan, serta diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Malang, Juli 2022 Mahasiswa,

Rhezanda Dwiki F NIRM : 04.01.18.109

iii

(5)

Pembimbing I,

Ir. Dwi Purnomo, MM NIP.19610515 198603 1001

Pembimbing II,

Dr. Acep Hariri, SST, M.Si NIP.19841007 200604 1002 LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING

TUGAS AKHIR

PEMBUATAN ASAP CAIR DENGAN PEMANFAATAN ASAP PEMBAKARAN ARANG SEKAM

RHEZANDA DWIKI FAHMIANTO 04.01.18.109

Malang, Juli 2022 Mengetahui,

Mengetahui,

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Dr. Setya Budhi Udrayana, S.Pt, M.Si NIP. 19690511 199602 1 001

iv

(6)

PEMBUATAN ASAP CAIR DENGAN PEMANFAATAN ASAP PEMBAKARAN ARANG SEKAM

RHEZANDA DWIKI FAHMIANTO 04.01.18.109

Telah dipertahankan di depan penguji Pada tanggal Juli 2022 Dinyatakan telah memenuhi syarat

Mengetahui,

Penguji I,

Ir. Dwi Purnomo, MM NIP 19610515 198603 1001

Penguji II,

Dr. Acep Hariri, SST, M.Si NIP 19841007 200604 1002

Penguji III

Dr. Ferdianto Budi S, SP, M.Si NIP 19810211 200501 1 002

v

(7)

Rhezanda Dwiki Fahmianto, NIRM 04.01.18.109, Pembuatan Pupuk Asap Cair Dengan Pemanfaatan Asap Pembakaran Arang Sekam. Sebagai Pembimbing pertama Bapak Ir. Dwi Purnomo, MM, dan Pembimbing kedua Bapak Dr. Acep Hariri, SST, M.Si.

Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui cara memanfaatkan asap yang terbuang pada pembakaran arang sekam, (2) Mengetahui pengaruh antara besar ukuran lubang pembakaran terhadap produksi asap cair, (3) Mengetahui peningkatan pengetahuan kelompok tani mengenai pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran pembuatan arang sekam. Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakis.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancang bangun yaitu karena menggunakan perlakuan besar lubang pipa pembakaran pada pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran arang sekam.

Selanjutnya dilakukan Analisis of variance (ANOVA) dan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Sampel penyuluhan menggunakan metode sampel jenuh kepada 20 anggota Kelompok Tani Dewi Ratih 1.

Hasil penelitian menunjukkan perlakuan ukuran lubang pipa pembakaran yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi salibu adalah dengan lubang berdiameter 10 mm. Berdasarkan parameter pengamatan, hasil terbaik adalah perlakuan ukuran lubang dengan diameter 10 mm, pada pengamatan jumlah hasil volume asap cair, dan pengaruh antara besar ukuran lubang pembakaran sekam terhadap produksi asap cair.

Rancangan penyuluhan terdiri dari tujuan yaitu adanya perubahan perilaku yakni peningkatan pengetahuan mengenai pengetahuan kelompok tani mengenai pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran pembuatan arang sekam. Sasaran yang digunakan yaitu Kelompok Tani Dewi Ratih Desa Sukoanyar dengan materi yang disajikan telah disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan dari sasaran penyuluhan serta dikemas dengan desain dan bahasa yang mudah dimengerti menggunakan media folder dan benda sesungguhnya. Metode yang digunakan yakni ceramah dan diskusi. Pelaksanaan penyuluhan dilakukan pada tanggal 1 Juli 2022 dengan jumlah peserta yang hadir sebanyak 20 orang. Hasil dari penyuluhan. Hasil pelaksanaan evaluasi diperoleh nilai Test awal (Pre-Test) ialah 59% dan nilai Test akhir (Post-Test) mencapai 92%. Sehingga terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 33%. Serta adanya perhitungan Efektifitas Peningkatan Pengetahuan (EPP) sebesar 80%, maka berdasarkan kategori efektifitas peningkatan pengetahuan menurut Ginting (1991) dinyatakan “Efektif”

vi

(8)

Puji syukur penulis kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyusun laporan tugas akhir dengan judul

“Pembuatan Asap Cair Dengan Pemanfaatan Asap Pembakaran Arang Sekam”.

Laporan ini disusun untuk memenuhi pedoman dalam penyusunan tugas akhir guna memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Politeknik Pembangunan Pertanian Malang.

Ucapan terimakasih penulis ucapkan kepada berbagai pihak yang membantu dalam penyusunan laporan tugas akhir ini terutama kepada :

1. Ir. Dwi Purnomo, MM, selaku dosen pembimbing I yang telah membimbing penulis dalam penyusunan laporan tugas akhir ini.

2. Dr. Acep Hariri, SST, M.Si, selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing penulis dalam penyusunan laporan tugas akhir ini.

3. Dr. Eny Wahyuning P., SP, MP, selaku ketua Jurusan dan ketua Program studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan.

4. Dr. Setya Budhi Udrayana, SPt, M.Si selaku Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

5. Keluarga saya serta seluruh pihak yang terkait dan rekan – rekan yang telah membantu dalam penyusunan laporan tugas akhir ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu diperlukan kritik serta saran agar penulis bisa berbuat yang lebih baik lagi.

Malang, Juli 2022

Penulis

vii

(9)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... iv

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan ... 4

1.4 Manfaat ... 5

1.4.1 Manfaat Bagi Mahasiswa ... 5

1.4.2 Manfaat Bagi Politeknik Pembangunan Pertanian Malang ... 5

1.4.3 Manfaat Bagi Petani ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Penelitian Terdahulu ... 6

2.2 Landasan Teori (Aspek Teknis) ... 9

2.2.1 Tinjauan Umum Asap cair ... 9

2.2.2 Pirolisis ... 11

2.2.3 Tinjauan Umum Arang Sekam ... 12

2.3 Aspek Penyuluhan ... 13

2.3.1 Identifikasi Potensi Wilayah (IPW) ... 13

2.3.2 Pengertian Penyuluhan ... 15

2.3.3 Tujuan Penyuluhan ... 16

2.3.4 Sasaran Penyuluhan ... 17

2.3.5 Metode Penyuluhan ... 17

2.3.6 Materi Penyuluhan ... 19

2.3.7 Media Penyuluhan ... 20

2.3.8 Evaluasi Penyuluhan ... 20

2.4 Kerangka Pikir ... 22

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 23

3.1 Lokasi Penelitian ... 23

3.2 Metode Kajian ... 23

3.2.1 Rancangan Kajian ... 24

3.2.2 Alat Dan Bahan ... 25

viii 3.2.3 Prosedur Pelaksanaan ... 25

(10)

3.2.4 Parameter Pengamatan ... 26

3.2.5 Analisis Data ... 26

3.3 Metode Rancangan Penyuluhan ... 27

3.3.1 Penetapan Tujuan ... 27

3.3.2 Penetapan Sasaran ... 28

3.3.3 Penentuan Materi Penyuluhan ... 29

3.3.4 Penetapan Metode Penyuluhan ... 29

3.3.5 Penentuan Media Penyuluhan ... 29

3.4 Metode Implementasi/Uji Coba Rancangan ... 30

3.4.1 Persiapan Penyuluhan ... 30

3.4.2 Pelaksanaan Penyuluhan ... 31

3.4.3 Metode Evaluasi ... 31

3.4.4 Skala Pengukuran Evaluasi ... 32

3.4.5 Teknik Pengumpulan Data ... 32

3.4.6 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 32

3.4.7 Analisis Data Evaluasi ... 33

BAB IV HASIL KAJIAN ... 34

4.1 Hasil Kajian ... 34

4.1.1 Volume hasil asap cair ... 34

4.1.2 Kecepatan waktu menjadi arang ... 35

BAB V PERANCANGAN DAN UJI COBA ... 37

5.1 Identifikasi potensi wilayah ... 37

5.1.1 Kondisi Geografis ... 37

5.1.2 Luas Tanah Penggunaan ... 37

5.1.3 Luas Tanaman Padi dan Realisasi Panen ... 38

5.1.4 Karakteristik Sasaran Penyuluhan ... 38

5.2 Pelaksanaan Penyuluhan ... 39

5.2.1 Tujuan Penyuluhan ... 39

5.2.2 Sasaran Penyuluhan ... 40

5.2.3 Materi Penyuluhan ... 41

5.2.4 Metode dan Teknik Penyuluhan ... 42

5.2.5 Media Penyuluhan ... 42

5.2.6 Evaluasi Penyuluhan ... 43

5.3 Implementasi ... 43

5.3.1 Lokasi dan Waktu Penyuluhan ... 43

ix 5.3.2 Persiapan Penyuluhan ... 43

(11)

5.3.3 Pelaksanaan Penyuluhan ... 45

5.4 Evaluasi Penyuluhan ... 45

5.4.1 Analisis Data Evaluasi ... 45

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN ... 50

6.1 Pembahasan Hasil Implementasi dan Evaluasi Penyuluhan ... 50

6.2 Rencana Tindak Lanjut ... 53

BAB VII PENUTUP ... 54

7.1 Kesimpulan ... 54

7.2 Saran ... 55

DAFTAR PUSTAKA ... 56

LAMPIRAN ... 58

x

(12)

Gambar 2.1 Kerangka Pikir ... 22 Gambar 3.1 Rancangan Kajian ... 24

xi

(13)

Tabel 1 Hasil Volume Asap Cair ... 34

Tabel 2 Kecepatan Waktu Menjadi Arang ... 35

Tabel 3 Luas Tanah ... 37

Tabel 4 Luas Tanaman Padi Dan Luas Panen ... 38

Tabel 5 Klasifikasi Usia Responden ... 40

Tabel 6 Klasifikasi Pendidikan Responden ... 41

Tabel 7 Hasil Skoring Evaluasi ... 51

xii

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Indonesia merupakan negara agraris dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Menurut (Ishaq dkk., 2017). Produksi padi Indonesia sebesar 70,85 juta ton gabah kering giling (GKG). Gabah menghasilkan limbah kering yaitu sekam. Sekam dihasilkan dari kulit terluar gabah kering. Berat sekam padi yang dihasilkan adalah 22% dari berat gabah kering giling. Berdasarkan data dari (google Trends) peminat pemanfaatan sekam di Indonesia dari tahun 2017 sampai tahun 2021 mengalami peningkatan dengan persentase pada tahun 2017 sebesar 51%, pada tahun 2018 dengan persentase 26%, pada tahun 2019 sebesar 29%, pada tahun 2020 sebesar 50%, pada tahun 2021 sebesar 62%.

Saat ini pemanfaatan sekam di Indonesia saat ini masih sangat terbatas antara lain untuk media tanaman hias, pembakaran bata merah, atau sebagai pelindung balok es. Selain itu, sekam juga dimanfaatkan sebagai media pupuk, serta inkubasi ayam. Tetapi upaya tersebut belum cukup signifikan untuk mereduksi timbunan sekam, yang seolah menjadi pemandangan biasa di sekitar penggilingan padi. Sehingga cara tersebut dapat meningkatkan daya saing produktivitas dan nilai tambah.

Peningkatan daya saing, produktivitas, nilai tambah, dan kemandirian dilakukan antara lain dengan praktik usaha pertanian yang baik (Good Agricultural Practices (GAP))( Agustina., dkk., 2017). Menurut (Yekti, G. I. A., dkk., 2017) Good Agricultural Practices (GAP) merupakan salah satu program penjaminan mutu terhadap keamanan pangan yang diterapkan pada lahan pertanian. GAP adalah penerapan sistem sertifikasi proses produksi pertanian yang menggunakan teknologi maju,ramah lingkungan,dan berkelanjutan. sedangkan

1

(15)

menurut Permentan 48/2006 Pedoman GAP Tanaman Pangan merupakan panduan cara (tatalaksana) pengelolaan budidaya, mulai dari kegiatan pra panen hingga penanganan pasca panen dengan maksud untuk menjadi pedoman umum dalam melaksanakan budidaya tanaman pangan secara benar dan tepat, sehingga diperoleh produktivitas tinggi, mutu produk yang baik, keuntungan maksimal, ramah lingkungan dan memperhatikan aspek keamanan, kesehatan dan kesejahteraan petani, serta usaha produksi yang berkelanjutan. Salah satu insektisida organik dapat diperoleh dari limbah sekam padi berupa produk asap cair.

Jaya, dkk., (2016), melakukan penelitian tentang pemanfaatan limbah sekam padi sebagai bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk tanaman hidroponik yang diperoleh melalui metode pirolisis yang nantinya akan menghasilkan asap cair. Proses optimasi pirolisis memperlihatkan bahwa perlakuan A (Suhu 250 ⁰C dan waktu 3 jam) menghasilkan rendemen asap lebih tinggi sebesar 2,54% dibandingkan dengan perlakuan B (Suhu 150oC dan waktu 2 jam) menghasilkan rendemen asap cair sebesar 0,273%. Hal ini menunjukan bahwa parameter suhu dan waktu berpengaruh pada rendemen hasil akhir pirolisis.

Asap cair adalah hasil kondensasi dari uap hasil pembakaran secara langsung atau tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung karbon serta senyawa-senyawa lain seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin (Ratnaning, 2020). Asap cair sekam padi memiliki kandungan fenol 5,13%, karbonil 13,28%,dan asam 11,39% (Jaya dkk., 2016). Asap cair diperoleh dengan metode pirolisis dengan cara menguraikan senyawa organik yang terdapat pada sekam padi. Asap cair sekam padi memiliki banyak manfaat dalam dunia pertanian.

Manfaat asap cair sekam padi antara lain sebagai pengusir hama, pengusir lalat, penghilang bau tak sedap dan pupuk. Saat ini Asap cair sekam padi masih jarang

(16)

digunakan secara optimal oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang alat yang digunakan dan cara pembuatannya.

Pemanfaatan arang sekam tidak hanya sebagai sumber energi bahan bakar tetapi arangnya juga dapat dijadikan sebagai bahan pembenah tanah (perbaikan sifat-sifat tanah) dalam upaya rehabilitasi lahan dan memperbaiki partumbuhan tanaman. Arang sekam juga dapat menambah hara tanah walaupun dalam jumlah sedikit. Oleh karena itu, pemanfaatan arang sekam menjadi sangat penting dengan banyaknya tanah terbuka/lahan marginal akibat degradasi lahan yang hanya menyisakan subsoil (Supriyanto dan Fiona 2010) juga dapat memperbaiki kualitas lahan pertanian dengan meningkatkan kandungan C organik tanah dan peningkatan produk tivitas padi (Karyaningsih 2012).

Hal ini dibuktikan dari hasil survei yang telah dilakukan di Kecamatan Pakis pada salah satu desa yaitu di Desa Sukoanyar ditemukan masyarakat yang bergerak di bidang budidaya padi dan pada desa tersebut memiliki 3 tempat penggilingan padi, sehingga dalam produksinya menimbulkan limbah yang saat ini belum dimanfaatkan. Desa sukoanyar memiliki gabungan kelompok tani yang Bernama Dewi Ratih, dan dibagi menjadi dua kelompok tani yaitu Dewi Ratih 1 dan Dewi Ratih 2, yang dibina langsung oleh BPP Kecamatan Pakis. Gapoktan Dewi Ratih memiliki fasilitas berupa rumah kompos yang di dalamnya memproduksi pupuk organik, agensi hayati dan pestisida nabati, Adapun misi dari gapoktan dari dewi ratih adalah bisa mengembangkan produk-produk organik tersebut sehingga bisa dipasarkan, tujuannya adalah mengajak para petani untuk beralih ke pertanian ramah lingkungan.

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik dengan kegiatan pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran arang sekam di Desa Sukoanyar. Serta menganalisis manfaat asap cair dan pengaruhnya.

(17)

Dengan harap kajian ini mampu mengetahui peningkatan anggota kelompok tani Dewi Ratih dalam pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran arang sekam di Desa Sukoanyar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dirumuskan rumusan masalahnya sebagai berikut :

1. Bagaimana cara memanfaatkan asap yang terbuang pada pembakaran arang sekam?

2. Bagaimana pengaruh antara besar ukuran lubang pembakaran sekam terhadap produksi asap cair?

3. Bagaimana peningkatan pengetahuan kelompok tani mengenai pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran pembuatan arang sekam?

1.3 Tujuan

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui cara memanfaatkan asap yang terbuang pada pembakaran arang sekam.

2. Mengetahui pengaruh antara besar ukuran lubang pembakaran terhadap produksi asap cair.

3. Mengetahui peningkatan pengetahuan kelompok tani mengenai pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran pembuatan arang sekam.

(18)

1.4 Manfaat

1.4.1 Manfaat Bagi Mahasiswa

1. Sebagai syarat kelulusan untuk meraih gelar sarjana terapan di Politeknik Pembangunan Pertanian Malang.

2. Sebagai penambah pengalaman dan wawasan dalam melakukan pengkajian terkait pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran pembuatan arang sekam.

1.4.2 Manfaat Bagi Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

1. Meningkatkan peran Politeknik Pembangunan Pertanian Malang pada bidang penyuluhan pertanian melalui pengabdian masyarakat.

1.4.3 Manfaat Bagi Petani

1. Peningkatan pengetahuan petani mengenai pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran pembuatan arang sekam.

2. Harapan dari hasil penelitian ini adalah dapat menjadi solusi pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran pembuatan arang sekam.

(19)

BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu adalah cara peneliti yang dilakukan dalam kajian dengan membandingkan dari penelitian terdahulu dan mencari perbedaannya serta selanjutnya untuk referensi peneliti guna menunjukkan orisinalitas dari penelitian. Dalam penelitian ini dengan penelitian sebelumnya peneliti tidak menemukan kesamaan judul, tempat, dan waktu.

Sari, dkk., (2015) melakukan penelitian tentang rendemen arang sekam dan kualitas asap cair sekam padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rendemen arang sekam padi yang dihasilkan dari sekam padi kering dan sekam padi basah, selain itu juga untuk menguji kualitas asap cair sekam padi yang dihasilkan pada perlakuan yang berbeda berdasarkan pada standar mutu kualitas asap cair asal Jepang. Kajian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rendemen rata-rata pada perlakuan A (sekam padi kering) 46.25% dan rendemen rata-rata pada perlakuan B (sekam padi basah) 49.67%. Kualitas asap cair yang dihasilkan dari sekam padi hanya pada kadar asam saja yang memenuhi standar kualitas asap cair asal Jepang sedangkan parameter lainnya masih belum memenuhi standar kualitas asap cair asal Jepang.

Jaya, dkk., (2016), melakukan penelitian tentang pemanfaatan limbah sekam padi sebagai bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk tanaman hidroponik yang diperoleh melalui metode pirolisis yang nantinya akan menghasilkan asap cair. Proses optimasi pirolisis memperlihatkan bahwa perlakuan A (Suhu 250 ⁰C dan waktu 3 jam) menghasilkan rendemen asap lebih tinggi sebesar 2,54% dibandingkan dengan perlakuan B (Suhu 150 ⁰C dan waktu

6

(20)

2 jam) menghasilkan rendemen asap cair sebesar 0,273%. Hal ini menunjukan bahwa parameter suhu dan waktu berpengaruh pada rendemen hasil akhir pirolisis. Pada pengaplikasian asap cair sebagai pupuk cair tanaman hidroponik dilakukan dengan 5 (lima) perlakuan, yatu P1, P2, P3, P4, dan P5. Pengaplikasian asap cair ke tanaman hidroponik (kangkung) sebagai pupuk cair, dapat dilihat bahwa pH asap cair yang sudah diencerkan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Pada tanaman yang diberi air dengan pH asam tidak dapat bertahan lama (cepat mati).

Istiqomah, dkk (2020), melakukan penelitian tentang potensi asap cair dari sekam untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi asap cair dari sekam terhadap pertumbuhan dan produksi padi. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) berfaktor tunggal yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan dilakukan pada beberapa konsentrasi asap cair yaitu konsentrasi 0% (kontrol), 0.5%, 1%, 2%, dan 3% (v/v). Hasil dari pemberian asap cair sekam pada berbagai konsentrasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi. Peningkatan terbesar pada tinggi padi, jumlah anakan, jumlah gabah per malai, dan berat 1000 butir dihasilkan oleh perlakuan asap cair sekam 2%. Konsentrasi asap cair sekam 3% justru menghasilkan penurunan pertumbuhan dan produksi padi dibandingkan asap cair 2%. Konsentrasi asap cair sekam yang efektif dan efisien dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi adalah 2%.

Putri, dkk (2015), melakukan penelitian tentang pengembangan alat penghasil asap cair dari sekam padi untuk menghasilkan insektisida organik.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persentase asap cair yang dihasilkan setiap kilogram sekam padi, melakukan pengujian asap cair sebagai insektisida organik, dan mengetahui pengaruh variasi waktu pirolisa. Metode yang digunakan

(21)

dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Penelitian ini dilakukan dengan perlakuan lama pirolisa yaitu 1 jam, 1,5 jam, dan 2 jam. Setiap perlakuan dilakukan dengan tiga kali ulangan dengan bahan baku sekam padi yang telah dijemur.

Setelah itu sekam padi dimasukkan ke dalam tabung pirolisator seberat 2 kg setiap ulangan dan ditutup rapat. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa rata-rata volume asap cair yang dihasilkan 25,83 ml pada lama pirolisa 2 jam. Asap cair yang dihasilkan dari proses pirolisa sekam padi bisa digunakan sebagai insektisida organik, dimana pengujiannya disemprotkan kepada serangga yang ada pada pohon kakao. Dari hasil pengamatan serangga yang ada pada pohon kakao mati. Senyawa fenol yang terdapat pada asap cair memberi bau menyengat dan sebagai antioksidan. Variasi waktu pirolisa mempengaruhi volume asap cair yang dihasilkan, sekam padi setelah pirolisa, komponen yang hilang, dan kinerja alat. Semakin lama waktu pirolisa maka asap cair yang dihasilkan semakin banyak.

Widiastuti, dkk (2020), melakukan penelitian tentang peningkatan kapasitas kelompok tani jaya makmur kurik merauke melalui pelatihan pembuatan asap cair sekam padi sebagai biopestisida organik. Tujuan penelitian ini adalah memberikan pengetahuan pembuatan asap cair dari limbah pertanian sekam padi sebagai biopestisida organik pengganti pestisida kimia bagi kelompok tani di Kampung Jaya Makmur, Kabupaten Merauke. Metode pelaksanaan kegiatan adalah dengan pelatihan dan pendampingan proses pembuatan asap cair dan desiminasi kepada petani untuk membantu proses pembuatan dan pemasaran produk asap cair. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu peningkatan kapasitas kepada masyarakat melalui pelatihan pembuatan asap cair dari limbah sekam padi menjadi biopestisida telah dilakukan kepada 2 kelompok tani di Kampung Jaya Makmur. Alat pembuat asap cair telah dibuat dari modifikasi kiln drum biochar dengan menambahkan drum pendingin dan pipa kondensor yang dapat

(22)

menangkap asap dan mengubahnya menjadi asap cair. Cara pembuatan asap cair, prinsip kerja alat dan pengoperasian alat telah diinformasikan dan dilatih kepada kelompok tani dan kelompok sentra produksi biochar. Cara aplikasi biopestisida pada tanaman padi dan manfaatnya juga telah diinformasikan kepada kelompok tani. Peserta pelatihan juga telah melihat langsung cara pembuatan asap cair dan mengenali biopestisida dari asap cair sekam. Stimulasi bantuan berupa satu unit instalasi alat pembuat biochar dan asap cair, kemasan dan label telah diberikan kepada kelompok sentra produksi biochar. Pendampingan terus dilakukan kepada kelompok sentra produksi biochar agar dapat memproduksi asap cair secara rutin. Pengetahuan peserta pelatihan mengenai asap cair, biochar dan biopestisida meningkat sebesar 57% sebelum pelatihan dilakukan.

2.2 Landasan Teori (Aspek Teknis) 2.2.1 Tinjauan Umum Asap cair

Asap cair merupakan komoditas yang relatif baru berkembang, sehingga masyarakat belum banyak mengenalnya. Pemanfaatan asap cair umumnya pada sektor pertanian antara lain dapat membuat tanaman menjadi sehat, mereduksi jumlah insektisida dan parasit tanaman, sedangkan pencampurannya dengan nutrisi pupuk dapat membuat tanaman tumbuh lebih baik, sebagai growth promotor dan pupuk alam dapat menggantikan pupuk kimia, mereduksi bau dari kompos dan pupuk kandang serta menyempurnakan kualitasnya. Asap cair merupakan suatu komponen organik dengan kandungan beberapa senyawa penting yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan antara lain perkebunan, pengawetan makanan dan pengobatan. Sebagai bahan pengawet pada makanan, asap cair dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur, sehingga memperpanjang umur simpan. Asap cair terdiri dari beberapa jenis atau sering disebut dengan Grade, pengelompokan asap cair sesuai dengan kualitas dan

(23)

kejernihan pada asap cair, Grade pada asap cair yaitu terdiri dari Grade 1,2 dan 3 dan pemanfaatanya berbeda-beda sesuai dengan Grade dari masing-masing asap cair. Grade 3 biasanya banyak digunakan orang sebagai desinfektan pengusir serangga. Sedangkan grade 2 banyak digunakan untuk pengawet makanan seperti ikan bakar. Warna asap cair jenis ini bening kekuningan dan sudah tidak mengandung tar. Adapun grade 1 memiliki warna lebih bening. Jenis ini banyak dipakai sebagai pengawet makanan seperti mie dan bakso.

Salah satu manfaat asap cair adalah untuk insektisida organik yang dapat diperoleh dari limbah sekam padi berupa produk asap cair. Asap cair adalah hasil kondensasi dari uap hasil pembakaran secara langsung atau tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung karbon serta senyawa-senyawa lain seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Asap cair diperoleh dari pengembunan asap hasil penguraian senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam sekam padi sewaktu proses pirolisa. Pirolisa merupakan proses penguraian yang tidak teratur dari bahan-bahan organik atau senyawa kompleks menjadi zat dalam tiga bentuk yaitu padatan, cairan dan gas yang disebabkan oleh adanya pemanasan tanpa berhubungan dengan udara luar pada suhu yang cukup tinggi, pada proses pirolisa diperlukan sistem peralatan yang terdiri dari pirolisator, pemanas, pipa penyalur asap, kolom kondensasi dan penampung asap cair. (Istiqomah dan Kusumawati, 2020:24). Asap cair sekam padi memiliki kandungan fenol 5,13%, karbonil 13,28%,dan asam 11,39% (Jaya dkk., 2016:4)

Hasil penelitian Ariyani dkk.(2015:24) menyatakan bahwa asap cair yang dihasilkan dari sekam padi memiliki senyawa yang lengkap, diantaranya yaitu fenol, karbonil, dan asam. Tiga kandungan unsur dalam asap cair sekam ini bermanfaat sebagai pemicu pertumbuhan tanaman namun perlu diteliti lebih lanjut pengaruhnya terhadap tanaman padi.

(24)

Asap cair sekam padi memiliki banyak manfaat dalam dunia pertanian.

Manfaat asap cair sekam padi antara lain sebagai pengusir hama, pengusir lalat, penghilang bau tak sedap dan pupuk. Saat ini Asap cair sekam padi masih jarang digunakan secara optimal oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang alat yang digunakan dan cara pembuatannya.

Asap cair memiliki pengaruh positif bagi tanaman yaitu meningkatkan kualitas tanah dan menetralisir keasaman tanah, menangkal serangan hama dan patogen tanaman, sebagai stimulan pertumbuhan tanaman pada akar, batang, umbi, daun, bunga, dan buah (Istiqomah dan Kusumawati, 2020:23)

2.2.2 Pirolisis

Pirolisis adalah proses dekomposisi suatu bahan pada suhu tinggi tanpa adanya udara atau dengan udara terbatas pirolisis biomassa umumnya berlangsung pada rentang suhu 300 ºC sampai dengan 600 ºC. Namun keadaan ini sangat bergantung pada bahan baku dan cara pembuatannya. Suhu pirolisis untuk mereduksi biomassa dicapai secara optimal pada 300°C. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pirolisis yaitu kadar air, ukuran partikel, temperatur, waktu, bahan, dan tipe pirolisis. Hasil pirolisis berupa tiga jenis produk yaitu padatan (charcoal/ arang), gas (fuel gas) dan cairan (bio-oil). Proses pirolisis ini mengakibatkan terjadinya penguraian senyawa organik yang menyusun struktur bahan membentuk alkohol, tar, dan hidrokarbon, serta uap-uap asam asetat . Proses pembakaran biomassa dengan menambahkan jumlah pipa udara di dalam reaktor merupakan metode pembakaran dengan memanaskan biomassa melalui pipa udara di dalam reaktor sehingga udara panas yang berasal dari burner pembakaran masuk melalui pipa dan membakar biomassa. Pembakaran dengan metode ini dimaksudkan untuk lebih optimalnya panas dan suplai udara yang tercukupi pada reaktor, sehingga proses pemanasan berlangsung merata dan diharapkan mempersingkat waktu pembakaran bahan baku. Keuntungan dari

(25)

proses ini adalah proses pembakaran dapat berlangsung secara cepat karena suplai oksigen dapat masuk melalui pipa udara sesuai dengan kebutuhan pembakaran pirolisis. dengan variasi jumlah pipa udara (Khusaini dkk., 2021) 2.2.3 Tinjauan Umum Arang Sekam

Arang sekam adalah pembakaran tak sempurna atau pembakaran parsial sekam padi. Sekam padi adalah sisa penggilingan gabah yang belum termanfaatkan secara optimal. Kondisi ini menyebabkan jumlahnya melimpah dan mengganggu kebersihan lingkungan. Sekam termasuk jenis limbah organik yang sukar dikomposkan. Hal ini dikarenakan teksturnya yang tidak lunak dan tidak gampang terurai. Penanganan efektif untuk limbah sekam adalah dengan cara pengarangan (pirolisis) yang menghasilkan arang dan asap cair. Pengolahan limbah organik menjadi arang dan asap cair memberi banyak manfaat diantaranya dapat menekan volume timbunan limbah dan juga dapat dimanfaatkan sebagai pembangun kesuburan tanah.

Kadar Air Sekam Padi Rata-rata kadar air awal sekam padi adalah 10,00

%. Kadar air bahan baku yang baik untuk proses pirolisa asap cair dianjurkan tidak melebihi 8 %. Kenaikan kadar air pada bahan akan menurunkan kandungan fenol, asam-asam dan formaldehid dalam asap. Sedangkan jumlah kadar air yang meningkat selain menyebabkan kadar fenol yang rendah juga meningkatkan kadar senyawa karbonil dan flavor produknya lebih asam (Putri dkk., 2015:32).

Pemilihan sekam padi sebagai bahan baku asap cair karena tidak mudah terbakar, dan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap penetrasi cairan dan dekomposisi yang disebabkan oleh jamur (Wibowo, dkk., 2008:28). Sekam padi merupakan lapisan keras yang membungkus kariopsis butir gabah, terdiri dari dua belahan yaitu lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan gabah, sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah pertanian. Selain itu, berbeda dengan dedak dan bekatul yang masih mempunyai

(26)

nilai ekonomis dan umumnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau ikan, sekam dianggap limbah penggilingan padi (Lestari dkk., 2020:675).

Pemanfaatan arang sekam tidak hanya sebagai sumber energi bahan bakar tetapi arangnya juga dapat dijadikan sebagai bahan pembenah tanah (perbaikan sifat-sifat tanah) dalam upaya rehabilitasi lahan dan memperbaiki partumbuhan tanaman. Arang sekam juga dapat menambah hara tanah walaupun dalam jumlah sedikit. Oleh karena itu, pemanfaatan arang sekam menjadi sangat penting dengan banyaknya tanah terbuka/lahan marginal akibat degradasi lahan yang hanya menyisakan subsoil (Supriyanto dan Fiona 2010) juga dapat memperbaiki kualitas lahan pertanian dengan meningkatkan kandungan C organik tanah dan peningkatan produk tivitas padi (Karyaningsih 2012).

2.3 Aspek Penyuluhan

2.3.1 Identifikasi Potensi Wilayah (IPW)

Kegiatan identifikasi adalah sesuatu penggambaran kenyataan yang bisa diolah dan mempunyai arti. Identifikasi dilakukan untuk menyatakan kenyataan sehingga bisa memberikan gambaran tentang potensi yang terdapat. Potensi tersebut bisa berupa kondisi ataupun peluang yang bisa dikembangkan (Rahmi.

dkk., 2017:2).

Identifikasi Potensi Wilayah tidak hanya untuk menggali data pada daerah, juga dapat menggali data tentang kasus yang ada. Data yang diperoleh umumnya adalah data primer dan data sekunder. Data primer bisa diperoleh di lapangan baik dari petani ataupun warga yang terkait, sedangkan monografi Desa/Kecamatan/BPP dan sumber lain adalah data sekunder.

(27)

a. Manfaat Identifikasi Potensi Wilayah (IPW)

Menurut Rahmi. dkk.(2017:3), manfaat dari Identifikasi Potensi Wilayah sebagai berikut:

1. Tersedianya informasi dan data yang memberikan gambaran akurat mengenai potensi daerah dalam pengembangan agribisnis komoditas unggulan.

2. Tersedianya informasi dan data yang dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan baik untuk pengembangan usaha ataupun perancangan aktivitas yang lain di waktu yang akan datang.

3. Untuk memberikan saran pengembangan pola agribisnis yang cocok dengan karakteristik lokasi.

4. Tersedianya data dan informasi dalam penyusunan programa penyuluhan pertanian.

b. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian dapat diartikan sebagai subjek dari mana informasi bisa diperoleh. Penelitian yang memakai kuesioner ataupun wawancara sumber datanya disebut responden. Responden adalah orang yang menanggapi dan merespon persoalan peneliti. Apabila peneliti memakai teknik observasi, sumber datanya bisa berbentuk benda, gerak ataupun proses tertentu. (Suhaidi Achmad, 2014:73).

c. Metode Pengambilan data

Menurut Suhaidi Achmad (2014:75), metode pengumpulan data yang tepat dan banyak digunakan dalam penelitian sosial dan keagamaan. Metode-metode tersebut meliputi: wawancara, observasi, survei kuesioner dan penggalian data dari sumber sekunder sebagai berikut :

1. Observasi

Observasi adalah metode pengumpulan data yang sangat alami yang telah banyak digunakan dalam komunitas ilmiah, tetapi juga dalam berbagai

(28)

aktivitas kehidupan. Umumnya, observasi berarti penglihatan, atau pengamatan.

Sedangkan secara khusus, dalam dunia penelitian, observasi adalah mendengar dan mengamati dalam rangka menguasai, mencari jawaban, mencari fakta terhadap fenomena sosial keagamaan (sikap, kejadian, kondisi, benda, dan simbol tertentu) tanpa mempengaruhi fenomena yang diamati, dengan mencatat, merekam, dan foto fenomena tersebut untuk analisis dan penemuan data.

2. Wawancara

Wawancara adalah obrolan langsung dan tatap muka dengan tujuan tertentu. Wawancara dilakukan oleh dua pihak atau lebih dengan tugas yang berbeda. Wawancara terdiri dari pewawancara yaitu orang yang memberikan, mengajukan soal berupa pertanyaan dan orang yang diwawancarai yaitu orang yang memberi jawaban dari persoalan pewawancara. Tujuan dari adanya wawancara untuk menggali data informasi yang dibutuhkan untuk penelitian.

2.3.2 Pengertian Penyuluhan

Penyuluhan adalah kegiatan pembelajaran untuk petani maupun pengusaha agar mereka mampu mengakses teknologi, informasi sebagai upaya peningkatan produksi, pendapatan, dan lain-lain. Sistem penyuluhan pertanian berikutnya disebut sistem penyuluhan pertanian yang meningkatkan keahlian, pengetahuan, serta sikap pelaku utama dan pelaku usaha (UU SP3K Nomor. 16, 2006:2).

Penyuluhan pertanian adalah suatu proses perubahan sosial, ekonomi dan politik untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan masyarakat melalui proses belajar bersama yang partisipatif, agar terjadi perubahan perilaku pada diri semua stakeholders (individu, kelompok, kelembagaan) yang terlibat dalam proses pembangunan, demi terwujudnya kehidupan yang berdaya, mandiri dan partisipatif yang semakin sejahtera dan berkelanjutan (Mardikanto, 2009:38).

(29)

2.3.3 Tujuan Penyuluhan

Penyuluhan pertanian bertujuan untuk memperkuat pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan modern yang maju dalam sistem pembangunan yang berkelanjutan. Memperhatikan petani dan pengusaha, serta berupaya meningkatkan kemampuan pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan (UU No. 16 Tahun 2006:5).

Secara umum, tujuan penundaan dibagi menjadi dua jenis, yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek dari rencana penyuluhan adalah untuk mendorong perubahan pertanian yang lebih terencana, termasuk: mengubah pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan tindakan petani dan keluarganya dengan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku.

Dengan mengubah sikap petani dan keluarganya diharapkan dapat mengelola usahatani secara efisien dan efektif. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petani. Petani, hal ini tercermin dalam melakukan perubahan pertanian yang lebih baik (Hasiholan, 2018:38).

Dalam (UU Nomor 16 Tahun 2006:24) menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan sebagai berikut:

1. Audience (khalayak sasaran), yaitu tujuan ditetapkan harus mengarah khalayak sasaran penyuluhan.

2. Behaviour (perubahan perilaku yang dikehendaki), yaitu tujuan yang ditetapkan harus pada perubahan perilaku yang dikehendaki.

3. Condition (kondisi yang akan dicapai), yaitu tujuan yang ditetapkan harus disesuaikan dengan kondisi yang akan dicapai.

4. Degree (derajat kondisi yang akan dicapai), yaitu tujuan ditetapkan berdasarkan derajat kondisi yang akan dicapai.

(30)

2.3.4 Sasaran Penyuluhan

Sasaran penyuluhan pertanian adalah petani. Tujuan dari kegiatan penyuluhan adalah untuk meningkatkan pengetahuan, dan sikap sasaran, sehingga mereka mau memanfaatkan peluang yang ada. Undang-Undang SP3K Bab III Pasal 5 menjelaskan sasaran penyuluhan pertanian adalah:

1. bagian yang paling diuntungkan dari penyuluhan meliputi tujuan utama dan tujuan antara,

2. sasaran utama penyuluhan adalah pelaku utama (petani) dan pelaku usaha (pengusaha),

3. sasaran antara penyuluhan adalah kelompok atau lembaga penting yang memperhatikan pertanian, perikanan, dan kehutanan (UU No. 16, 2006:6)

Kegiatan penyuluhan pertanian harus memperhatikan karakteristik penerima atau objek penyuluh. Karakteristik objek penyuluhan pertanian meliputi pemilihan dan penentuan bahan penyuluhan, metode, waktu, lokasi, dan peralatan. Karakteristik sasaran penyuluhan yang harus dicermati menurut Mardikanto (2009:50) adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik pribadi seperti jenis kelamin, usia, suku, dan agama.

2. Status sosial ekonomi, yang meliputi tingkat pendidikan, pendapatan dan dan partisipasi dalam kelompok/organisasi kemasyarakatan.

3. Perilaku inovasi yang dibagi menjadi perintis (inovator), pelopor (early adopter), panganut dini (early majority), penganut lambat (late majority) dan kelompok yang tidak bersedia berubah (laggard) (Rogers, dalam Mardikanto, 2009:50).

4. Moral ekonomi dibagi menjadi moral subsistensi dan moral rasionalitas.

2.3.5 Metode Penyuluhan

Metode Penyuluhan adalah cara menyampaikan pesan kepada sasaran agar tujuan tercapai. Metode penyuluhan harus berdasarkan pada aspek ataupun

(31)

tujuan yang ingin dicapai seperti aspek pengertian, sikap, dan.Jika tujuan yang akan dicapai adalah aspek pengertian, pesan cukup disampaikan dengan lisan atau disampaikan melalui tulisan. Jika tujuannya untuk mengembangkan sikap positif, maka sasaran harus menyaksikan langsung peristiwa tersebut, melalui film, slide, atau foto (Maulana, 2007: 143).

Menurut Mardikanto (2009:187), jenis metode penyuluhan meliputi:

a. Anjangsana

Anjangsana adalah kegiatan perluasan yang dilakukan dengan mengunjungi atau bertemu sasaran. Biasanya, kunjungan dilakukan dengan pendekatan pribadi ke tempat sasaran seperti lahan atau rumah berupa pendekatan perseorangan.

b. Demonstrasi

Demonstrasi adalah kegiatan lanjutan yang menunjukkan hal-hal baru atau inovasi untuk tujuan tertentu. Demonstrasi dibagi menjadi empat kategori berdasarkan bentuknya yaitu demonstrasi plot, demonstrasi farming, demonstrasi area dan demonstrasi unit.

c. Pertemuan Petani

Pertemuan petani adalah kegiatan berdiskusi antara kelompok tani dengan penyuluh untuk membahas atau menyampaikan informasi. Pertemuan dibagi dalam empat yaitu temu wicara, temu usaha, temu karya, dan temu lapang.

d. Pemeran

Pameran adalah metode penyuluhan yang dilakukan dengan pendekatan secara massal, dimana pengunjungnya bukan hanya pada kalangan petani saja melainkan yang juga bukan petani.

(32)

e. Kursus Tani

Kursus tani adalah metode yang dilakukan dengan cara belajar mengajar pada kelompok tani dalam waktu yang ditentukan, dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan. Contoh kursus tani yaitu mimbar sarasehan.

f. Ceramah dan Diskusi

Ceramah merupakan salah satu cara penyuluhan pertanian, melalui penyampaian materi secara langsung kepada petani, sehingga petani dapat memahami materi atau informasi yang disampaikan.

Sedangkan diskusi adalah metode penyuluhan yang menekankan pada interaksi antara petani dengan petani, penyuluh dengan petani untuk menghasilkan umpan balik yang diinginkan.

Materi penyuluhan adalah pesan atau informasi yang bermanfaat dan ingin disampaikan oleh penyuluh untuk petani dan masyarakat. Pesan ataupun informasi tersebut dibuat berdasarkan pada kebutuhan petani dan masyarakat, serta pengusaha untuk memberikan manfaat yang berguna untuk melestarikan sumber daya. Materi penyuluhan berisi pengembangan sumber daya dan peningkatan modal serta pemberitahuan pengetahuan (UU No. 16, 2006: 15).

2.3.6 Materi Penyuluhan

Materi penyuluhan yang dipilih harus berdasarkan kebutuhan sasaran, namun pada kenyataannya penyuluh kesulitan untuk memberikan materi sesuai kebutuhan sasaran karena pada saat penggalian data responden tidak menjawab persoalan dengan situasi yang ada. Pendalaman kepada kebutuhan sasaran adalah salah satu kunci ketepatan pemilihan materi penyuluhan. Sumber materi penyuluhan pertanian dapat dibagi menjadi beberapa kategori sebagai berikut:

a. Sumber resmi dari instansi pemerintah, seperti:

1. Kementerian/dinas-dinas terkait.

(33)

2. Lembaga kajian dan pengembangan.

3. Pusat-pusat pengkajian.

4. Pusat-pusat informasi.

5. Pengujian lokal yang dilaksanakan oleh penyuluh.

b. Sumber resmi dari lembaga swasta/lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang kajian, penyebaran informasi dan pengkajian.

c. Pengalaman petani, berdasarkan pengalaman usahataninya sendiri ataupun hasil dari pengalaman dilakukan secara khusus ataupun tanpa sengaja.

d. Sumber lain yang dapat dipercaya, misalnya: informasi pasar dari para pedagang, perguruan tinggi dan lain-lain (Mardikanto, 2009:285).

2.3.7 Media Penyuluhan

Media berasal dari kata latin, merupakan bentuk jamak dari kata medius artinya adalah kata perantara atau pengantar. Media penyuluhan adalah alat perantara yang berfungsi sebagai pengantar informasi dari sumber dan penerima.

Media penyuluhan diantaranya televisi, film, foto, radio, cetakan dan sejenisnya.

Apabila media tersebut membawa pesan pengajaran maka media tersebut bisa dikatakan media pengajaran (Henich dalam Prastowo, 2017: 295).

Fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar juga mempengaruhi, memotivasi, kondisi, dan lingkungan belajar (Hamalik, Oemar di dalam Falahuddin, 2014: 104).

2.3.8 Evaluasi Penyuluhan

Evaluasi penyuluhan adalah cara penilaian terhadap suatu program yang telah direncanakan dan dilaksanakan apakah hasilnya sesuai dengan rencana yang diharapkan. Evaluasi dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah program atau kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai rencana dan tujuan yang diharapkan. Menurut Arikunto.dkk., (2010:17) agar lebih mudah menentukan

(34)

tujuan evaluasi program, kita harus memperhatikan unsur-unsur dalam kegiatan atau penggarapannya.

Dalam melakukan evaluasi penyuluhan perlu ditentukan metode evaluasi, menentukan populasi dan sampel, serta melakukan pembuatan kuesioner.

Metode evaluasi adalah metode yang akan digunakan dalam suatu kegiatan evaluasi. Metode evaluasi penyuluhan dapat menggunakan berbagai macam metode yaitu metode kualitatif, metode kuantitatif dan metode campuran. Populasi adalah wilayah umum yang terdiri dari objek atauapun subjek yang mempunyai karakteristik dan kuantitas tertentu sehingga peneliti dapat mempelajari dan menarik kesimpulan, sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi (Sugiono, 2016:19).

Pre-Test dan Post-Test adalah bentuk evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh pemateri kepada peserta didik. Kedua bentuk evaluasi ini digunakan untuk mengukur kompetensi awal dan kompetensi akhir dari peserta didik. Kompetensi awal merupakan tingkat pemahaman peserta didik sebelum menerima pembelajaran, sedangkan kompetensi akhir merupakan tingkat penguasaan materi peserta didik setelah menerima pembelajaran(Susanto, 2021:8).

Menurut Notoatmodjo (2005:50), pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata).

(35)

Uji DMRT

2.4 Kerangka Pikir

Gambar 2. 1 Kerangka Pikir

(36)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian

Pelaksanaan kajian ini dilaksanakan di Bengkel ALSINTAN Polbangtan Malang, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang dengan waktu pelaksanaan kajian dimulai pada tanggal 1 Maret sampai dengan tanggal 02 Mei 2022.

Kemudian lokasi yang ditetapkan sebagai tempat penyuluhan adalah di Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2022.

Alasan pemilihan lokasi tersebut adalah :

1. Mengangkat potensi yang ada di Desa Sukoanyar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.

2. Desa tersebut memiliki penggilingan padi yang masih kurang dalam pengelolaan limbahnya berupa sekam.

3. Memiliki sasaran yang sesuai dengan permasalahan di kelompok berdasarkan hasil observasi.

3.2 Metode Kajian

Kajian ini menggunakan metode eksperimental karena menggunakan perlakuan besar lubang pipa pembakaran pada pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran arang sekam. Dengan melakukan perlakuan besar lubang pembakaran, dapat berpengaruh terhadap pembakaran sekam dan produktivitas pupuk asap cair. Metode penelitian eksperimen digunakan ketika ingin mengetahui pengaruh sebab akibat antar variabel independen (perlakuan) dan dependen (hasil).

23

(37)

8 mm

12 mm 10 mm

3.2.1 Rancangan Kajian

Penelitian menggunakan Rancang Bangun dengan melakukan perlakuan jumlah lubang dan ukuran diameter pipa pembakaran. Pada perlakuan yang dilakukan yaitu pipa dengan jumlah lubang 80 dan diameter lubang 8 mm, 10 mm, 12 mm. Dalam penelitian ini gambaran rancangan alat tersaji dalam gambar 3.1.

Gambar 3.1 Rancangan Kajian

(38)

Menurut Hanafiah (2009), rumus penentuan jumlah ulangan sebagai berikut : (t-1) (r-1) > 15

Keterangan :

t : Treatment / Perlakuan r : Replikasi / Ulangan

Dengan demikian dari jumlah 3 (tiga) perlakuan dan 3 (tiga) ulangan yang dilaksanakan maka diperoleh 9 (sembilan) unit percobaan.

3.2.2 Alat Dan Bahan

Alat dan bahan adalah suatu sarana yang dibutuhkan dan digunakan dalam menunjang suatu kegiatan penelitian. Alat yang dibutuhkan dalam proses kegiatan penelitian ini adalah :

1. Pipa besi ukuran 4 dim 1,2 m 2. Pipa besi ukuran 2 dim 2m 3. Besi beton 1,5m

4. Tabung pipa besi berukuran 2,5 dim bervolume 2l sebagai pendingin asap.

Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam proses kegiatan penelitian ini adalah sekam kering.

Dalam kegiatan penyuluhan alat yang digunakan yaitu folder, video, dan benda sesungguhnya, lembar persiapan menyuluh (LPM), daftar hadir, kuesioner, sinopsis, alat tulis, berita acara dan alat dokumentasi. Kemudian untuk bahan yang digunakan dalam penyuluhan yaitu hasil asap cair dan arang sekam yang sudah diproduksi sebelumnya sebagai benda sesungguhnya.

3.2.3 Prosedur Pelaksanaan

1. Penyediaan alat untuk pembuatan asap cair dan arang sekam

Penyediaan alat dimulai dengan pembuatan lubang pembakaran dengan panjang 1,1m, pemotongan pipa besi 2 dim dengan panjang 1m dan 1m untuk pipa

(39)

pembuangan asap, selanjutnya besi beton dirangkai membulat seukuran pipa pembakaran sebagai penahan pipa pembakaran agar bisa berdiri tegak. Lalu susun rangkaian alat terdiri dari pipa pembakaran, dan pipa pembuangan asap.

2. Pembakaran sekam

Tuang sekam sebanyak 10kg atau satu karung di sekitar pipa pembakaran, untuk awalan pembakaran beri bahan yang mudah terbakar agar dapat menyebar ke sekam. Lalu beberapa menit kemudian asap mulai keluar dan asap cair mulai menetes.

3.2.4 Parameter Pengamatan 1. Volume hasil asap cair.

Kegiatan pengukuran volume dilakukan pada masing-masing perlakuan.

Pengukuran volume hasil asap cair menggunakan gelas ukur dengan satuan ml (mililiter).

2. Kecepatan waktu menjadi arang.

Kegiatan penghitungan waktu dilakukan pada masing-masing perlakuan.

Penghitungan kecepatan waktu menjadi arang menggunakan stopwatch dengan satuan menit.

3.2.5 Analisis Data

Analisis of variance atau ANOVA merupakan salah satu teknik analisis multivariate yang berfungsi untuk membedakan rerata lebih dari dua kelompok data dengan cara membandingkan variansinya. Analisis varian termasuk dalam kategori statistik parametrik. Sebagai alat statistika parametrik, maka untuk dapat menggunakan rumus ANOVA harus terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi meliputi normalitas, heteroskedastisitas dan random sampling (Ghozali, 2009:11) Data yang diperoleh dari pengamatan parameter yang telah diamati akan dianalisis dengan analisis sidik ragam atau analisis ANOVA (Analisis of Variens) dengan taraf signifikan 5%. Apabila terdapat perbedaan nyata akan dilanjutkan

(40)

dengan menggunakan uji analisis Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf 5%. Sehingga dapat menemukan hasil kajian terbaik dari penggunaan ukuran lubang pipa pembakaran terhadap hasil asap cair yang dihasilkan.

3.3 Metode Rancangan Penyuluhan

Rancangan penyuluhan disusun berdasarkan hasili kajian penelitian tentang pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran arang sekam. Penelitian ini dijadikan sebagai pedoman dalam menyusun rancangan penyuluhan berupa materi, metode, dan media yang digunakan dalam penyuluhan, maka harus mempertimbangkan kondisi sasaran penyuluhan, maka harus mempertimbangkan kondisi sasaran penyuluhan, lingkungan sasaran, dan tujuan yang akan dicapai dalam penyuluhan serta penetapan materi penyuluhan.

Penyuluhan akan dilaksanakan pada bulan Juli tahun 2022 3.3.1 Penetapan Tujuan

Tujuan pada perancangan penyuluhan penelitian ini adalah untuk menambah wawasan serta memberikan informasi kepada petani untuk mengetahui peningkatan pengetahuan kelompok tani Dewi Ratih 1 tentang pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran arang sekam.

Langkah-langkah dalam menetapkan tujuan penyuluhan yaitu :

1. Melakukan kegiatan identifikasi potensi wilayah (IPW) di Desa Sukoanyar untuk mendapatkan data primer maupun data sekunder,

2. Mengidentifikasi potensi serta permasalahan yang ada di Desa Sukoanyar sesuai dengan kajian yang akan dilaksanakan,

3. Menetapkan tujuan penyuluhan berdasarkan prinsip SMART (Spesific, Measurable, Actionary, Realistic, Time Frame)

Adapun Arti dari prinsip SMART yaitu 1. Specific (Khusus) materi yang diambil adalah suatu pembahasan yang dipilih dari prioritas utama, 2. Measurable (dapat

(41)

diukur) pelaksanaan penyuluhan yang dilakukan dapat dijadikan tolak ukur untuk suatu tujuan yang ingin dicapai, 3. Actionary (dapat dilakukan/dikerjakan) tujuan dari penyuluhan yang dilakukan dapat dikerjakan dan diterapkan oleh sasaran penyuluhan 4. Realistic (realistis) penyuluhan yang dilakukan masuk akal dan dapat merubah tingkat pengetahuan sasaran dalam mengkomunikasikan usaha taninya. 5. Time Frame (Deadline Waktu) dapat direalisasikan dalam selang waktu yang ditentukan dari pemberian materi sampai penyebaran kuesioner penyuluhan.

3.3.2 Penetapan Sasaran

Sasaran utama penyuluhan adalah pelaku utama dan pelaku usaha.

Sasaran utama pemangku lainya meliputi kelompok atau lembaga pemerhati pertanian generasi muda serta tokoh masyarakat. Sasaran penyuluhan pada penelitian ini adalah petani dari kelompok tani Dewi Ratih 1 di Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pemilihan sasaran tersebut karena di desa tersebut terdapat 3 penggilingan padi dan limbahnya berupa sekam masih kurang dimanfaatkan, hanya untuk alas ternak, dan bahan pembakaran batu bata. Sedangkan jika dimanfaatkan dengan pembuatan asap cair dengan pembakaran arang sekam akan lebih bermanfaat.

Dasar pengambilan keputusan sasaran adalah sebagai berikut :

1. Sasaran penyuluhan merupakan pihak yang paling berhak memperoleh manfaat dari kegiatan penyuluhan, sasaran penyuluhan yaitu sasaran utama dan sasaran usaha.

2. Sasaran penyuluhan yaitu kelompok atau lembaga pemerhati potensi pertanian yang ada di wilayah penelitian.

3. Sasaran utama penyuluhan yaitu pelaku utama dan pelaku usaha dalam kegiatan pertanian yang dilakukan di lokasi kajian.

(42)

3.3.3 Penentuan Materi Penyuluhan

Materi penyuluhan ditetapkan dari hasil penelitian sosial yang telah dilakukan dan disesuaikan dengan kebutuhan sasaran penyuluhan. Judul materi yang telah dipertimbangkan yaitu “Pembuatan Asap Cair Dengan Pemanfaatan Asap Pembakaran Arang Sekam”. Sehingga materi dapat diterima, mudah dipahami, dan diimplementasikan dalan berkegiatan.

Penetapan materi dengan mempetimbangkan aspek-aspek kajian yang telah dilakukan seperti:

1. Keadaan yang sedang terjadi di lapangan 2. Permasalahan yang sedang dilalui oleh sasaran

3. Mempetimabangkan potensi yang ada dan penghambat potensi yang sedang berlangsung

3.3.4 Penetapan Metode Penyuluhan

Metode yang ditetapkan disesuaikan dengan karakteristik sasaran yang terdapat dari hasil identifikasi potensi wilayah, penetapan metode penyuluhan berdasarkan form kontekstualisasi keadaan lapangan, dilengkapi dengan uraian materi dalam bentuk sinopsis dan Lembar Persiapan Menyuluh (LMP). Metode yang telah dipilih yaitu dengan metode ceramah dan diskusi. Tahapan dalam penentuan metode penyuluhan antara lain :

1. Identifikasi potensi wilayah

2. Mengetahui karakteristik sasaran penyuluhan

3. Mengetahui kondisi sekitar lokasi sasaran penyuluhan

4. Menetapkan metode dengan matrik dan prototype sesuai karakteristik penyuluhan

3.3.5 Penentuan Media Penyuluhan

Media penyuluhan merupakan alat bantu yang diperlukan sebagai memperlancar dalam menyampaikan materi pada kegiatan penyuluhan.

(43)

Penetapan media berdasarkan pertimbangan dari karakteristik sasaran dan keadaan lingkungan agar informasi mudah tersampaikan dengan baik. Media yang dipilih yaitu folder, dan benda sesungguhnya.

Penentuan media diambil berdasarkan matrik pengambilan keputusan.

Langkah-langkah dalam menetapkan media penyuluhan yaitu sebagai berikut:

1. Melakukan kegiatan identifikasi potensi wilayah (IPW) di Desa Sukoanyar, 2. Menetapkan metode penyuluhan yang digunakan,

3. Menetapkan pendekatan penyuluhan,

4. Menetapkan jangkauan media yang ingin dicapai dengan mengukur seberapa jauh atau dekat media yang dibuat dapat menjadi penghubung atau penyalur dalam kegiatan penyampaian materi penyuluhan,

5. Menetapkan media penyuluhan yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan sesuai dengan karakteristik sasaran dan metode yang digunakan. media penyuluhan.

3.4 Metode Implementasi/Uji Coba Rancangan 3.4.1 Persiapan Penyuluhan

Pada implementasi rancangan perlu berkoordinasi dengan koordinator Balai Penyuluhan dan aparat setempat mengenai persiapan-persiapan kegiatan penyuluhan. Kemudian menyiapkan media penyuluhan, Lembar Persiapan Menyuluh (LPM), sinopsis, absensi kehadiran sasaran dan berita acara penyuluhan. Namun sebelum dilakukan penyuluhan, membuat instrumen evaluasi penyuluhan berupa kuesioner yang nantinya akan dilakukan uji validitas dan reabilitas instrumen dengan menggunakan SPSS 25. Langkah-langkah yang dilakukan sebelum melakukan penyuluhan adalah :

1. Menyusun sinopsis penyuluhan yang berisi materi yang akan disuluhkan

(44)

2. Menyusun LPM (lembar persiapan Menyuluh) dan berita acara yang berisi waktu penyuluhan, sasaran penyuluhan, materi penyuluhan, media penyuluhan dan metode penyuluhan secara mendetail.

3. Menyebar undangan kepada sasaran yang akan disuluhkan 3.4.2 Pelaksanaan Penyuluhan

Pelaksanaan penyuluhan dilaksanakan di tempat yang biasa dilakukan oleh sasaran dalam sebuah kegiatan. Pelaksanaan penyuluhan juga mempertimbangkan keadaan yang ada di lapangan dan sasaran penyuluhan.

Seperti halnya pelaksanaan harus memperhatikan norma serta adat istiadat yang berlaku di lingkungan lokasi sasaran. Pelaksanaan penyuluhan yang dilakukan diakhiri dengan evaluasi hasil penyuluhan yang telah dilaksanakan..

Tahapan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan yaitu sebagai berikut:

1. Mengumpulkan sasaran penyuluhan di tempat yang telah disediakan,

2. Memberikan daftar hadir kegiatan penyuluhan agar diisi oleh sasaran penyuluhan,

3. Melaksanakan penyuluhan sesuai dengan Lembar Persiapan Menyuluh (LPM) yang telah dibuat.

3.4.3 Metode Evaluasi

Metode evaluasi penyuluhan pertanian yang digunakan yaitu metode evaluasi hasil penyuluhan atau dapat disebut evaluasi sumatif dan termasuk dalam pendekatan kuantitatif. Dengan metode evaluasi sumatif dapat mengevaluasi dan melihat seberapa jauh peningkatan pengetahuan petani sesudah dilaksanakannya penyuluhan terhadap tingkat pencapaian tujuan penyuluhan yang dilakukan terhadap materi yang telah disampaikan dengan menggunakan instrumen kuesioner yang valid dan reliabel. Skala yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan menggunakan skala guttman untuk memperoleh jawaban yang tegas. Sedangkan skala yang digunakan untuk mengukur sikap menggunakan

(45)

skala likert untuk mengetahui sikap dari penerima manfaat penyuluhan. Analisi data hasil evaluasi menggunakan Analisa Skoring untuk mengetahui nilai yang diperoleh setelah dilakukannya pelaksanaan penyuluhan.

3.4.4 Skala Pengukuran Evaluasi

Berdasarkan tujuan evaluasi penyuluhan pertanian yaitu ,melihat peningkatan pengetahuan petani setelah dilakukan penyuluhan. Skala pengukur yang digunakan dalam evaluasi rancangan ini adalah skala Guttman untuk pengukuran aspek pengetahuan, skala Guttman ini memberikan alternatif pilihan jawaban benar dan salah sehingga jawaban akan lebih relevan dan efisien.

Skala pengukuran pada aspek pengukuran adalah menggunakan skala Guttman dengan memberikan jawaban yang tegas sehingga kelompok tani Dewi Ratih 1 dapat menjawab dalam “Benar” atau “Salah”. Penjaringan skala Guttman kemudian di intervalkan menjadi 3 kategori “Baik” “Cukup” “Kurang” Astuti (2008;

27-29)

3.4.5 Teknik Pengumpulan Data

Kegiatan evaluasi yang akan dilakukan dengan pengumpulan data primer berupa nilai pada kuesioner yang diisi oleh sasaran langsung yaitu oleh petani dalam kelompok tani Dewi Ratih 1 di Desa Sukoanyar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.

3.4.6 Uji Validitas dan Reliabilitas

Instrumen yang digunakan pada evaluasi penyuluhan ini berupa kuesioner yang sudah valid dan reliabel. Sasaran uji validitas dan reliabilitas pada petani di Desa Sukoanyar, pengujian dibantu program SPSS (Statical Product and Service Solution) 20 dengan menggunakan teknik uji validitas product moment dan uji reliabilitas dengan teknik Alpha Cronbach.

Pada uji validitas instrumen dikatakan valid apabila nilai R Hitung > nilai R tabel, sedangkan apabila nilai R Hitung < R tabel maka dapat dipastikan instrument

(46)

yang digunaka tidak valid. Uji reliabilitas instrumen adalah hasil dari pengukuran yang dapat dipercaya. Suatu instrumen dapat dikatakan reliabel Ketika Cronbach's Alpha > R Tabel, sebaliknya jika Cronbach's Alpha < R Tabel maka suatu instrument bisa dipastikan tidak reliable.

3.4.7 Analisis Data Evaluasi

Analisis data evaluasi rancangan menggunakan perhitungan data garis kontinu menggunakan analisis perhitungan respon rata-rata menggunakan skoring. Mengumpulkan data dan informasi tentang keefektifan desain yang dibuat dan menganalisis serta menginterpretasikan data yang diperoleh secara deskriptif.

Analisis data evaluasi menggunakan analisis skoring, “skoring adalah teknik analisis untuk memberikan nilai pada masing-masing karakteristik parameter agar dapat dihitung nilainya dan dapat ditentukan urutanya” Gunawan (2014; 98). Selain itu analisis skoring juga difungsikan sebagai pemetaan kategori peningkatan pengetahuan kelompok tani Dewi Ratih 1 di Desa Sukoanyar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.

(47)

BAB IV HASIL KAJIAN

4.1 Hasil Kajian

Hasil kajian pembuatan asap cair dengan pemanfaatan asap pembakaran arang sekam dengan 2 parameter yaitu : volume hasil asap cair dan kecepatan waktu menjadi arang. Hasil kajian ini dianalisis menggunakan analisis ANOVA (Analisis of Variens) dengan taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji analisis DMRT (Duncan Multiple Range Test) apabila terdapat signifikan pada setiap perlakuan.

4.1.1 Volume hasil asap cair

Parameter volume hasil asap cair ini diukur menggunakan alat ukur berupa gelas ukur. Pengukuran dilakukan dari hasil asap cair yang dihasilkan.

Pengulangan mengenai hasil asap cair ini dilakukan 9 kali. Pada uji ANOVA jika nilai sig, >0,05 artinya terdapat beda nyata antara hasil asap cair yang. Adapun hasil uji ANOVA, DMRT, dan rata-rata terbaik pada tabel berikut :

Tabel 1 Hasil Volume Asap Cair

Perlakuan Volume Hasil Asap Cair (ml)

Ukuran lubang 8 mm 140 a

Ukuran lubang 12 mm 210 b

Ukuran lubang 10mm 420 c

Pada tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan ukuran lubang 10 mm mempunyai hasil yang lebih baik dari pada perlakuan lainya. Sedangkan pada ukuran lubang 8 mm dan ukuran lubang 12 mm mempunyai hasil yang tidak berbeda banyak. Hal tersebut dikarenakan pada ukuran lubang 10 mm dapat menghasilkan bara api yang lebih lama karena mendapat suplai oksigen yang sesuai serta menghasilkan asap yang lebih banyak dan dapat menghasilkan asap cair sebanyak 420 ml. Berbeda dengan ukuran lubang 8 mm yang kurang menghasilkan asap sedikit dikarenakan suplai oksigen terlalu minim yang menyebabkan bara api tidak dapat bertahan lama yang hanya menghasilkan asap

34

(48)

cair sebanyak 140 ml, dan ukuran lubang 12 mm menghasilkan asap banyak namun asap cenderung keluar dari lubang pembakaran karena rongga lubang yang besar serta berpengaruh juga terhadap hasil asap cair hanya dapat menghasilkan 210 ml. Hal ini sependapat dengan Fajar pada tahun 2021 proses pembakaran biomassa dengan menambahkan jumlah pipa udara di alam reaktor merupakan metode pembakaran dengan memanaskan biomassa melalui pipa udara di dalam reactor sehingga udara panas yang berasal dari burner pembakaran masuk melalui pipa dan membakar biomassa. Pembakaran dengan metode ini dimaksudkan untuk lebih optimalnya panas dan suplai udara yang tercukupi pada reaktor, sehingga proses pemanasan berlangsung merata dan menghasilkan asap cenderung lebih banyak. Keuntungan dari proses ini adalah proses pembakaran dapat berlangsung secara cepat karena suplai oksigen dapat masuk melalui pipa udara sesuai dengan kebutuhan pembakaran pirolisis.

4.1.2 Kecepatan waktu menjadi arang

Parameter kecepatan waktu menjadi arang diukur menggunakan alat ukur berupa stopwatch. Pada uji ANOVA jika nilai sig, >0,05 artinya terdapat beda nyata antara kecepatan waktu menjadi arang. Adapun hasil uji ANOVA, DMRT, dan rata- rata terbaik pada tabel berikut:

Tabel 2 Kecepatan Waktu Menjadi Arang

Perlakuan Kecepatan Waktu Menjadi Arang (menit)

Ukuran lubang 12 mm 90 a

Ukuran lubang 10 mm 120 b

Ukuran lubang 8 mm 150 c

Pada tabel 2 dapat dilihat kecepatan waktu menjadi arang terbaik terdapat pada ukuran lubang berukuran 12 mm dengan waktu 90 menit, lalu lubang ukuran lubang 10 mm dengan waktu 120 menit, dan ukuran lubang 8 mm dengan waktu 150 menit. Perbedaan tersebut dikarenakan semakin besar lubang maka kontak bara api dengan sekam lebih besar dan suplai oksigen semakin banyak sehingga

(49)

berpengaruh pada kecepatan waktu menjadi arang, namun tidak di imbangi dengan hasil asap cair yang dihasilkan dikarenakan sebagian asap keluar melalui rongga lubang pembakaran karena lubang pembakaran terlalu besar.

Hasil terbaik menurut saya ada pada ukuran lubang 10 mm dengan waktu yang tidak terlalu lama dan tidak secepat ukuran lubang 12 mm tetapi memiliki hasil asap cair yang paling banyak dengan jumlah 420 ml. Hal ini sependapat dengan Rizky pada tahun 2019 dalam penelitiannya variasi jumlah lubang udara yang diterapkan 20, lubang udara 30, dan lubang udara 40 serta variasi kecepatan aliran udara primer memberikan pengaruh pada kinerja reaktor, semakin banyak jumlah lubang maka semakin besar nilai laju kalor, efisiensi termal dan laju konsumsi bahan bakar. Rata-rata ditiap variasi jumlah lubang udara, semakin tinggi kecepatan aliran udara yang diberikan maka semakin besar nilai laju kalor, efisiensi termal dan laju konsumsi bahan bakar

Referensi

Dokumen terkait

Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian dipadatkan dengan benda-benda yang berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai

Sebagai contohnya adalah bawang merah.Meskipun saat ini desa Duwel telah dielu-elukan oleh orang-orang sebagai desa paling potensial dalam pemasokan Bawang merah unggul

Di samping itu, penurunan kelarutan pati garut butirat dengan derajat substitusi yang lebih tinggi di duga karena ter­ jadi komplek antara amilosa dengan gugus su bstituen dengan

Penelitian gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Desa Tanak Beak Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat Provinsi NTB menunjukkan bahwa tingkat

Walaupun penggambaran tersebut sebagai bentuk pemaknaan, tetapi penggambaran tersebut sangat menarik jika dapat ditelusuri bentuk asli perahu yang masih memberikan

Sebaiknya, dinas pendapatan pengelolaan keuangan dan asset daerah kota Tomohon melakukan koordinasi yang lebih baik lagi dengan semua SKPD selaku pengguna/pihak

Penelitian mengenai distribusi radionuklida alam sampel lingkungan tanah, air dan tamanan di sekitar PLTU Rembang telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui konsentrasi

Diagnosis Gangguan Cemas Menyeluruh (DSM-IV halaman 435, 300.02) ditegakkan bila terdapat kecemasan kronis yang lebih berat (berlangsung lebih dari 6 bulan; biasanya tahunan