BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini bangsa Indonesia sedang giat melaksanakan pembangunan di

136  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Dewasa ini bangsa Indonesia sedang giat melaksanakan pembangunan di segala bidang. Komponen pembangunan tersebut meliputi sumber daya alam, tenaga kerja dan modal dimana satu sama lainnya saling mendukung sebagai satu kesatuan. Dengan demikian perlu dilaksanakan pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan dengan berlandaskan demokrasi ekonomi dan prinsip kebersamaan. Salah satu sumber dana dalam pembagunan ekonomi nasional negara adalah dengan mengundang investor (penanam modal) terutama asing agar bersedia menanamkan modalnya.

Keterbatasan permodalan dan penguasaan teknologi merupakan kendala yang umum dihadapai oleh hampir setiap negara berkembang. Dalam rangka pembangunan ekonomi nasional yang bersifat multi kompleks, Indonesia sebagai salah satu negara berkembang juga menghadapi masalah tersebut. Salah satu alternatif pemecahan masalah adalah dengan mendatangkan dana bantuan luar negeri baik berupa pinjaman luar negeri maupun penanaman modal asing.1

Di Indonesia investasi asing meski sudah ada sejak beberapa dekade tetap saja merupakan hal yang kontraversial. Secara konstitusional Pasal 33 Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya ditulis UUD 45) telah menentukan bahwa perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial

1

Sumartono, 1984, Bunga Rampai Permasalahan Penanaman Modal dan Pasar Modal, Bina Cipta, Bandung, hal. 129.

(2)

adalah untuk mewujudkan kesejahteraan umum. Berkaitan dengan hal tersebut, penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional, mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kehadiran penanaman modal terutama penanaman modal asing tidak serta merta dapat mengatasi problem pembangunan apabila : pertama, tidak ada aturan hukum penanaman modal yang kuat dan rezim yang berjuang untuk mengundang para pemodal; kedua, kegagalan legalitas, hal ini disebabkan Indonesia hanya bisa meniru saja sistem hukum yang berlaku di negara maju dalam menghasilkan kekayaan untuk kemajuan masyarakat pada umumnya tetapi gagal menerapkannya; ketiga, perizinan sengaja dibuat berbelit - belit sehingga banyak investor asing maupun dalam negeri melakukan cara illegal dalam melakukan aktivitas bisnisnya; keempat, belum ada pembakuan prinsip – prinsip hukum yang mengatur tentang penanaman modal asing.2 Mengingat penanaman modal mempunyai arti yang penting bagi pembangunan ekonomi nasional sebagaimana tujuan yang hendak dicapai, untuk itu di undangkanlah Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (selanjutnya ditulis UUPM) yang bertujuan untuk memperbaiki kelemahan aturan – aturan hukum terdahulu yang mengatur penanaman modal seperti Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1967 jo

2

Lusiana, 2012, Usaha Penanaman Modal di Indonesia, Cet.I, Raja Grafindo, Jakarta, hal. 5.

(3)

Undang – Undang Nomor 11 Tahun 1970 dan Undang – Undang Nomor 6 Tahun 1968 jo Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1970 dinyatakan tidak berlaku berdasarkan Pasal 38 UUPM.

Istilah investasi atau penanaman modal merupakan istilah yang dikenal dalam kegiatan bisnis sehari-hari maupun dalam bahasa perundang – undangan. Istilah investasi merupakan istilah yang popular dalam dunia usaha, sedangkan istilah penanaman modal lazim digunakan dalam perundang – undangan. Namun pada dasarnya kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama, sehingga kadangkala digunakan secara interchangeable.3 Secara umum investasi atau penanaman modal dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukam baik oleh orang pribadi (natural person) maupun badan hukum (yuridical person). Dalam upaya meningkatkan dan/atau mempertahankan nilai modalnya, baik yang berbentuk uang tunai (cash money), peralatan (equipment), asset tidak bergerak, hak atas kekayaan intelektual, maupun keahlian.

Pasal 1 angka 1 UUPM menyebutkan bahwa :”penanaman modal diartikan sebagai segala bentuk kegiatan penanaman modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia”. Mengenai bentuk badan usaha bagi penanaman modal di Indonesia berdasarkan ketentuan UUPM dalam Bab IV Pasal 5 adalah sebagai berikut :

1. Penanaman modal dalam negeri dapat dilakukan dalam bentuk badan usaha yang berbentuk badan hukum, tidak berbadan hukum atau usaha perseorangan sesuai dengan peraturan perundang – undangan.

3

Ida Bagus Rachmadi Supancana, 2006, Kerangka Hukum & Kebijakan Investasi langsung di Indonesia, Cet I, Ghalia, Jakarta, hal. 1.

(4)

2. Penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan terbatas berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di wilayah negara Republik Indonesia, kecuali ditentukan lain oleh undang – undang.

3. Penanaman modal dalam negeri maupun asing yang melakukan penanaman modal dalam bentuk perseroan terbatas dilakukan dengan :

a. Mengambil bagian saham pada saat pendirian perseroan terbatas; b. Membeli saham;

c. Melakukan cara lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan.

Penanaman modal asing (selanjutnya ditulis PMA) di Indonesia menjadi sesuatu yang sifatnya tidak dapat dihindarkan, bahkan mempunyai sifat yang sangat penting dan strategis dalam menunjang pelaksanaan pembanguanan nasional. Penyebabnya adalah pembangunan nasional Indonesia memerlukan pendanaan yang sangat besar untuk dapat menunjang tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.

Kebutuhan pendanaan tersebut tidak hanya diperoleh dari sumber – sumber pendanaan dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Hal ini yang menjadikan PMA menjadi salah satu sumber pendanaan luar negeri yang strategis dalam menunjang pembangunan nasional, khususnya dalam pengembangan sektor riil yang pada giliranya diharapkan akan berdampak pada pembukaan lapangan kerja secara luas.

Pentingnya peranan PMA dalam pembangunan ekonomi Indonesia juga terefleksi dalam tujuan yang tertera dalam UUPM, sebagai landasan hukum positif bagi kegiatan penanaman modal di Indonesia. Dalam UUPM tujuan penyelenggaraan penanaman modal disebutkan antara lain:

1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional; 2. Menciptakan lapangan kerja;

3. Meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan;

(5)

5. Meningkatka kapasitas dan kemampuan teknologi nasional; 6. Mendorong pembanguanan ekonomi kerakyatan;

7. Mengolah ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil dengan menggunakan dana yang berasal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri;

8. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

PMA berbeda dengan penanaman modal dalam negeri yang dapat dilakukan dalam bentuk lain di luar Perseroan Terbatas (selanjutnya ditulis PT). Badan usaha yang berstatus sebagai PMA oleh pembentuk undang – undang mensyaratkan badan usaha berbadan hukum PT. Ketentuan UUPM Pasal 5 ayat (2) menyatakan :“Penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan terbatas berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di wilayah Negara Republik Indonesia, kecuali ditentukan lain oleh undang – undang”. Dengan demikian investor asing termasuk perusahaan – perusahaan multi nasional (multinational enterprises atau MNE), yang ingin berinvestasi di Indonesia harus membentuk suatu PT sebagaimana diatur dalam Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang PT (selanjutnya ditulis UUPT) dengan status sebagai perusahaan PMA. Namun demikian PMA yang tidak berbentuk PT dalam yurisdiksi Indonesia dimungkinkan apabila ditentukan lain dalam undang – undang.

Ditinjau dari Pasal 5 ayat (2) UUPM ketentuan pengesampingan tersebut hanya dapat dilakukan berdasarkan peraturan perundang – undangan dalam bentuk undang – undang. Dengan demikian perusahaan PMA merupakan suatu PT yang didirikan berdasarkan UUPT di Indonesia, dimana di dalamnya terdapat unsur modal asing. Dalam hal ini dirasakan betapa pentingnya harmonisasi antara suatu peraturan dengan peraturan yang lain agar tidak saling berbenturan. Barangkali beralasan, jika semula berbagai pihak mengharapkan UUPM dijadikan

(6)

sebagai ketentuan hukum yang bersifat khusus (lex spesialis) dalam bidang investasi.4 Definisi PT menurut UUPT Pasal 1 angka 1, berbunyi:

Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut (“Perseroan”) adalah Badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.

Menurut UUPT Pasal 7 ayat (1) bahwa “perseroan dapat didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia”. Dari pasal tersebut yang dimaksud dengan “orang” adalah orang perseorangan, baik warga negara Indonesia maupun asing atau badan hukum Indonesia atau asing”. Ketentuan dalam pasal ini menegaskan prinsip yang berlaku berdasarkan undang-undang ini, bahwa pada dasarnya sebagai badan hukum, perseroan didirikan berdasarkan perjanjian, karena itu mempunyai lebih 1 (satu) orang pemegang saham.

PT pada hakekatnya merupakan persekutuan modal hal ini membawa dampak pengertian, sebagai asosiasi modal PT dimiliki oleh lebih dari 1 (satu) orang. Secara a contrario apabila modal dimiliki oleh satu orang terjadi kecenderungan menonjolnya sifat subyektivitas yang dapat menyebabkan percampuran harta kekayaan PT dengan harta kekayaan pribadi pemegang saham.5

4

Sentosa Sembiring, 2007, Hukum Investasi, Cet I, Nuansa Aulia, Bandung, (selanjutnya ditulis Sentosa Sembiring I) hal. 201.

5

Rudhi Prasetya, 1995, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 11.

(7)

Adanya unsur pemegang saham dalam perseroan merupakan salah satu syarat utama dalam mendirikan dan menjalankan suatu PT. Selain dimiliki langsung oleh pemegang saham, kepemilikan saham dalam perseroan juga sering dilakukan dalam bentuk nominee (orang atau badan hukum yang dipinjam dan dipakai namanya sebagai pemegang saham oleh beneficiary). Ada banyak alasan mengapa beneficiary menggunakan nominee sebagai perpanjangan tangan mereka dalam perseroan, salah satunya adalah keinginan untuk menguasai 100% kepemilikan saham PT dalam hal ini dilarang oleh UUPT. UUPT mensyaratkan agar pemegang saham minimal 2 (dua) orang bila tidak, maka menjadi pemegang saham tunggal akan mengakibatkan tanggung jawab tidak terbatas atau tanggung jawab pribadi.

Ketentuan kepemilikan saham secara nominee tidak diatur dalam UUPT namun demikian dalam prakteknya sering dijumpai dan tidak jarang timbul sengketa dari praktek nominee tersebut. Hal tersebut terjadi karena salah satunya nominee tidak mau mengembalikan saham yang dimilikinya tersebut kepada beneficiary. Apabila terjadi sengketa seperti itu kesulitan yang akan dihadapi adalah masalah pembuktian kepemilikan saham serta mengenai tanggung jawab secara hukum kepada pihak ketiga. Secara de jure saham nominee tersebut adalah mutlak milik nominee sebab nama nominee yang tercatat dalam daftar pemegang saham PT, namun secara de facto saham tersebut adalah milik beneficiary. Salah satu cara yang dilakukan beneficiary untuk melindungi sahamnya adalah dengan membuat perjanjian nominee yaitu dengan akta notaris maupun dengan akta bawah tangan. Dalam UUPT tidak dijelaskan untuk memenuhi minimal 2 (dua)

(8)

orang pemegang saham ini bagaimana mekanismenya apabila hanya 1 (satu) orang yang mempunyai saham. Dalam UUPT juga tidak melarang penggunaan nominee saham dan perjanjian nominee saham atau adanya kekosongan norma dalam UUPT. Karena hal tersebut, maka banyak para investor baik investor lokal maupun investor asing yang menggunakan nominee saham dengan membuat perjanjian nominee saham, dimana salah satunya untuk memenuhi syarat berdirinya PT. Selain alasan sebagai syarat untuk memenuhi berdirinya PT penggunaan nominee juga terjadi karena bidang usaha yang dibatasi terutama untuk PMA. Praktek nominee banyak terjadi antara warga negara asing atau investor asing yaitu sebagai beneficiary dan warga negara Indonesia sebagai nominee baik dalam PT lokal maupun PT. PMA.

Nominee adalah orang atau individu yang ditunjuk untuk khusus bertindak atas nama orang yang menujuknya untuk melakukan suatu perbuatan atau tindakan hukum tertentu. Nominee dapat ditunjuk untuk melakukan tindakan – tindakan hukum antara lain sebagai pemilik property atau tanah, sebagai direktur, sebagai kuasa, sebagai pemegang saham dan lain – lain.6

Nominee Arrangement (pinjam nama) dalam praktek sehari-hari adalah penggunaan nama seseorang warga Negara Indonesia sebagai pemegang saham suatu PT atau sebagai salah seorang persero dalam suatu Perseroan Komanditer atau lebih jauh lagi, penggunaan nama tersebut sebagai salah satu pemilik tanah dengan status Hak Milik atau Hak Guna Bangunan di Indonesia. Jadi praktek

6Nella Hasibuan, 2012 “Perjanjian Nominee Yang Dibuat Untuk Penguasaan Tanah Hak Milik Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing” Desertasi, Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, hal. 68.

(9)

nominee arrangement tersebut tidak hanya berkaitan dengan penggunaan nama sebagai pemegang saham dalam PT, melainkan sampai dengan penggunaan nama dalam pemilikan suatu property di Indonesia, yang sangat marak terjadi terutama di Bali.7

Dalam penulisan tesis ini yang dimaksud dengan beneficiary adalah pihakyang mempunyai saham sebenarnya dan yang mempunyai kuasa untuk megendalikan nominee, beneficiary melakukan pengurusan dan mendapatkan manfaat dari saham tersebut. Nominee adalah pihak yang meminjamkan namanya untuk kepemilikan saham, nominee ditunjuk oleh beneficiary hanya sebagai pemilik terdaftar dari suatu benda dan pemilik sebenarnya yaitu beneficiary yang megendalikan dan mengurus serta mendapatkan manfaat dari saham tersebut. Dalam nominee shareholder keberadaan seseorang atau suatu pihak tertentu yang dijadikan sebagai pemegang saham nominee atau lebih tepatnya pemilik terdaftar dari jumlah saham tertentu, seorang nominee tidaklah melakukan kegiatan apapun juga selain sebagai pemilik terdaftar, bahkan lebih jauh lagi seorang nominee hanya melakukan kegiatan berdasarkan pada kehendak dan atau perintah dari beneficiary.

Perjanjian Nominee saham dalam hukum perjanjian di Indonesia dikategorikan sebagai perjanjian innominaat (perjanjian tidak bernama). Perjanjian ini belum diatur dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata (selanjutnya ditulis KUHPerdata) namun dalam prakteknya tumbuh dan

7

http://irmadevita.com/2011/konsekwensi-penggunaan-nama-orang-Lain-nominee-arrangement-untuk-pt-ataupun-property-di-indonesia,data diakses pada tanggal 25 Desember 2013.

(10)

berkembang dalam masyarakat. Para pihak yaitu beneficiary dan nominee membuat seperangkat perjanjian untuk dijadikan suatu back up bagi beneficiary atas saham yang diatasnamakan nominee tersebut. Perjanjian tersebut dibuat sebelum berdirinya perusahaan dan sesudah berdirinya perusahaan. Hal yang paling penting yang harus diperhatikan dalam perjanjian nominee saham adalah kekuatan hukum dari perjanjian nominee saham tersebut, apabila dianalisis dari berbagai peraturan dan beberapa aspek hukum. Seiring diperlukannya nominee saham dan perjanjian nominee saham dalam berinvestasi maka kiranya perlu suatu analisis tentang kekuatan hukum dari perjanjian nominee saham terhadap PT.PMA. Sehingga para para investor dalam berinvestasi di Indonesia mendapatkan kepastian dan perlindungan hukum. Untuk melindungi para pihak dalam pembuatan perjanjian nominee saham, maka perjanjian tersebut harus sah dibuat oleh para pihak sehingga bisa menjadi proses penentu hubungan hukum selanjutnya oleh para pihak.

Menyikapi tuntutan tersebut, pembuat undang – undang telah menyiapkan seperangkat aturan hukum sebagai tolak ukur bagi para pihak untuk menguji standar keabsahan dari perjanjian termasuk didalamnya perjanjian nominee saham sebagai perjanjian innominaat. Berdasarkan Pasal 1319 KUHPerdata, perjanjian semacam ini tetap tunduk pada peraturan – peraturan umum yang termuat dalam Buku III KUHPerdata, sehingga asas – asas dalam KUHPerdata dalam hukum perjanjian menjadi tetap berlaku dalam perjanjian innominaat.8

8

Salim H.S., 2008, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta (selanjutnya ditulis Salim H.S I), hal. 4-5.

(11)

Negara Indonesia merupakan Negara hukum, berdasarkan Pasal 1 angka 3 UUD 1945. Negara Indonesia adalah negara hukum hal ini mengandung arti bahwa Negara Republik Indonesia menjunjung tinggi kepastian hukum. Hal ini kembali diperkuat dengan adanya norma-norma yang hidup dan tumbuh di dalam masyarakat, oleh karena itu pemerintah menerapkan aturan di setiap aspek kehidupan bermasyarakat.

Dalam UUPT tidak mengatur tentang perjanjian nominee. Dalam UUPM pada Pasal 33 ayat (1) yang menyebutkan : “Penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing yang melakukan penanaman modal dalam bentuk perseroan terbatas dilarang membuat perjanjian dan/atau pernyataan yang menegaskan bahwa kepemilikan saham dalam perseroan terbatas untuk dan atas nama orang lain”. Dalam UUPM tersebut jelas melarang penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing membuat perjanjian dan/atau pernyataan yang menegaskan bahwa kepemilikan saham dalam PT untuk dan atas nama orang lain.

Dalam UUPM Pasal 33 ayat (2) yang menyebutkan : “Dalam hal penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing membuat perjanjian dan/atau pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), perjanjian dan/atau pernyataan itu dinyatakan batal demi hukum”. Jika ada perjanjian semacam itu yaitu salah satunya perjanjian nominee maka perjanjian tersebut dinyatakan batal demi hukum. Sangat jelas bahwa perjanjian nominee dilarang dalam UUPM tetapi dalam mendirikan PMA harus membuat badan usaha berbadan hukum PT yang mensyaratkan pendirian PT oleh 2 (dua) orang atau lebih dan tidak mengatur mengenai persyaratan untuk menjadi pemegang saham. Dalam UUPT tidak

(12)

mengatur atau melarang penggunaan nominee saham maupun perjanjian nominee saham, sehingga pelarangan perjanjian nominee saham dalam UUPM menjadi tidak efisien karena pengaturan perjanjian nominee saham terdapat dalam ruang lingkup yang lebih sempit yaitu hanya dalam bidang penanaman modal.

Perjanjian nominee dapat dikatakan sebagai suatu penyelundupan hukum yang biasa digunakan dalam rangka penanaman modal langsung oleh pihak asing. Adapun tujuan dari pelarangan mengenai perjanjian nominee pada awalnya adalah untuk melakukan suatu penguasaan terhadap bentuk penanaman modal, yang pada akhirnya bertolak belakang dengan keinginan undang – undang untuk melindungi kepentingan Negara.

Uraian di atas memberikan gambaran bahwa adanya norma kosong dalam UUPT yaitu tidak mengatur mengenai nominee dan perjanjian nominee. Sehingga dalam dunia investasi banyak digunakan konsep nominee yang salah satunya untuk memenuhi persyaratan berdirinya PT yang mensyaratkan 2 (dua) orang atau lebih dan pembatasan bidang usaha oleh pemerintah. Penelitian menjadi penting untuk dilakukan, dalam penelitian ini penulis telah membandingkan dengan beberapa penelitian yang sebelumnyajuga membahas tentang nominee. Adapun penelitian yang terkait dengan penelitian ini yaitu :

1. Penelitian dari Miggi Sahabati, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Program Pascasarjana, Jakarta, 2011, dengan judul ”Perjanjian nominee dalam kaitanya dengan kepastian hukum bagi pihak pemberi kuasa ditinjau dari Undang - Undang Pokok Agraria, Undang – Undang Penanaman Modal dan

(13)

Undang – Undang Kewarganegaraan”, rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini yaitu :

a. Bagaimana pengaturan mengenai perjanjian nominee saat ini yang berlaku di Indonesia?

b. Bagaimana pihak pemberi kuasa dapat terlindungi haknya apabila terjadi wanprestasi?

c. Apakah keberadaan perjanjian nominee dapat menjadi alternatif yang menguntungkan dalam pengembangan investasi di Indonesia?

2. Penelitian dari Agus Permana Putra, Program studi Magister Kenotariatan, Program Pascasajana, Universitas Diponegoro, Semarang, 2010, dengan judul ”wanprestasi dalam pengunaan nominee pada perjanjian yang dibuat dibawah tangan berkaitan dengan kepemilikan tanah di Bali”, rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini yaitu :

a.Apakah penggunaan nominee pada perjanjian dibawah tangan sah bila ditinjau dari Undang-undang Pokok Agraria ?

b.Bagaimana akibat hukum apabila Warga Negara Indonesia wanprestasi dalam penggunaan nominee pada perjanjian yang dibuat dibawah tangan ? 3. Penelitian dari Sugondo,Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara, Medan, 2013, dengan judul” Analisa Terhadap Batasan Tanggung Jawab Direktur Nominee Dalam Perseroan Terbatas”, rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini yaitu :

a. Apakah yang menjadi dasar hukum dan alasan-alasan eksistensi/keberadaan Direktur nominee dalam pengelolaan PT?

(14)

b. Bagaimana batasan-batasan terhadap tanggung jawab dan kewajiban Direktur nominee dalam pengelolaan PT?

c. Apa akibat hukum yang mungkin timbul dalam pengelolaan PT yang dilakukan oleh Direktur nominee?

Dari penelusuran originalitas penelitian yang telah dilakukan, penulis tidak menemukan adanya kesamaan dalam hal isi maupun substansi karya tulis yang telah dimuat sebelumnya, sehingga tingkat orisinalitas penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan keasliannya. Berdasarkan paparan di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Kekuatan Hukum Perjanjian Nominee Saham Dalam Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT.PMA)”.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam tesis ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah kekuatan hukum perjanjian nominee saham dalam Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT. PMA)?

2. Apa akibat hukum terhadap Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT. PMA) yang menggunakan perjanjian nominee saham?

(15)

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini dapat dikualifikasikan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:

1.3.1 Tujuan umum.

Secara umum penelitian atas permasalahan di atas adalah untuk menganalisis kekuatan hukum dalam perjanjian nominee saham terhadap Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT.PMA) dalam perkembanganya hingga saat ini.

1.3.2 Tujuan khusus.

Dalam penelitian ini, tujuan khusus yang ingin dicapai sesuai dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yakni :

1. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis kekuatan hukum dalam perjanjian nominee saham terhadap Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT. PMA).

2. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis akibat hukum terhadap Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT. PMA) yang mengunakan perjanjian nominee saham.

1.4Manfaat Penelitian

Penulis berharap penelitian ini dapat memberi kontribusi atau manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya serta memiliki kegunaan praktis pada khususnya sehingga penelitian ini bermanfaat secara teoritis dan praktis.

(16)

1.4.1 Manfaat Teoritis.

Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan kontribusi, teoritik, konsep dan pemikiran terhadap perkembangan ilmu hukum khususnya hukum perjanjian dan hukum perusahaan.

1.4.2Manfaat Praktis.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para investor, baik investor asing maupun investor lokal, pembuat kebijakan di bidang hukum perjanjian dan hukum perusahaan, masyarakat dan peneliti sendiri. Adapun manfaat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Bagi para investor, baik investor asing maupun investor lokal, hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman berkenaan dengan kekuatan hukum perjanjian nominee saham dalam Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT. PMA) dan akibat hukum yang ditimbulkan terhadap Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT. PMA) yang menggunakan perjanjian nominee saham.

2. Bagi masyarakat, dapat memberikan sumbangan pengetahuan di bidang hukum, khususnya di bidang hukum perjanjian dan hukum perusahaan mengenai kekuatan hukum dalam perjanjian nominee saham terhadap Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT.PMA) dan akibat hukum yang ditimbulkan terhadap Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT. PMA) yang menggunakan perjanjian nominee saham.

3. Pembuat kebijakan dibidang hukum perjanjian dan hukum perusahaan, diharapkan agar hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan evaluasi dan lebih

(17)

memperjelas pengaturan mengenai persyaratan untuk menjadi pemegang saham, nominee saham dan perjanjian nominee saham dalam Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT. PMA).

4. Bagi peneliti, disamping untuk kepentingan penyelesaian studi juga untuk menambah pengetahuan serta wawasan di bidang hukum perjanjian dan hukum perusahaan khususnya mengenai pengaturan persyaratan untuk menjadi pemegang saham, nominee saham dan perjanjian nominee saham dalam Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT. PMA).

I.5 Landasan Teoritis

Teori berasal dari kata theoria dalam bahasa Latin yang berarti perenungan, dan kata theoria itu sendiri berasal dari kata thea yang dalam bahasa Yunani berarti cara atau hasil pandang.9 Dalam penelitian hukum, adanya kerangka konsep dan kerangka teoritik menjadi syarat yang sangat penting. Dalam kerangka konsep diungkapkan beberapa konsepsi atau pengertian yang akan dipergunakan sebagai dasar penelitian hukum, dan dalam landasan/kerangka teoritis diuraikan segala sesuatu yang terdapat dalam teori-teori sebagai suatu system aneka “theore’ma atau ajaran (leerstelling).10 Adapun teori-teori dan konsep – konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

9

Soetandyo Wignyosoebroto, 2001, Hukum-Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya, Elsam dan Huma, Jakarta, hal. 184.

10

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2001, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 7.

(18)

1.5.1 Teori Tentang Badan Hukum

Ilmu hukum mengenal 2 (dua) macam subjek hukum, yaitu subjek hukum pribadi (orang – perorangan) dan subjek hukum berupa badan hukum. Terhadap masing – masing subjek hukum tersebut berlaku ketentuan hukum yang berbeda satu sama lainnya, meskipun dalam hal – hal tertentu terhadap keduanya dapat diterapkan suatu aturan yang berlaku umum. Salah satu ciri khas yang membedakan subjek hukum pribadi dengan subjek hukum berupa badan bukum adalah saat lahirnya subjek hukum tersebut, yang pada akhirnya akan menentukan saat lahirnya hak – hak dan kewajiban bagi masing – masing subjek hukum tersebut.

Pada subjek hukum pribadi, status subjek hukum dianggap telah ada bahkan pada saat pribadi orang perorangan tersebut berada dalam kandungan Pasal 1 ayat (2) KUHPerdata. Sedangkan pada badan hukum, keberadaan status badan hukumnya baru diperoleh setelah memperoleh pengesahan dari pejabat yang berwenang, yang memberikan hak – hak, kewajiban dan harta kekayaan sendiri bagi badan hukum tersebut, terlepas dari hak –hak, kewajiban dan harta kekayaan para pendiri, pemegang saham, maupun para pengurusnya.

Rumusan Pasal 1 angka 1 UUPT secara tegas menyatakan bahwa Perseroan Terbatas adalah badan hukum, rumusan ini tentunya membawa kosekuensi bahwa sebagai badan hukum PT memiliki karakteristik dan kemampuan bertindak sebagai layaknya suatu badan hukum. Peraturan perundang - undangan negara Republik Indonesia yang berlaku saat ini, meskipun cukup

(19)

banyak menyebutkan atau mempergunakan istilah badan hukum, namun tidak ada satupun juga memberikan pengertian atau definisi badan hukum.

Pengertian dan definisi badan hukum lahir dari doktrin ilmu hukum yang dikembangkan oleh para ahli, berdasarkan pada praktek hukum dan dunia usaha. Hal ini pada akhirnya melahirkan banyak teori tentang badan hukum dari waktu kewaktu. Dalam kepustakaan Belanda, istilah badan hukum dikenal dengan sebutan rechtsperson dan dalam kepustakaan common law seringkali disebut dengan istilah - istilah legal entity, jurictic person atau artificial person.

C.S.T Kansil dan Christine S.T Kansil, mengemukakan beberapa pandangan atau pendapat mengenai teori badan hukum yaitu:11

a. Teori Fiksi

Menurut Fiedrich Carl von Savigny, CW Ozoomer da Houwing, teori ini mengemukakan bahwa badan hukum itu pengaturanya oleh negara dan badan hukum itu sebenarnya tidak ada, hanya orang –orang menghidupkan bayanganya untuk menerangkan sesuatu dan terjadi pada manusia yang membuat berdasarkan hukum atau dengan kata lain merupakan orang buatan hukum atau persona ficti. b. Teori Harta Karena Jabatan

Teori ini disebut juga teori Van Het Ambtelijk Vermogen yang diajarkan oleh Holder dan Binder. Menurut teori ini badan hukum yang mempunyai harta yang berdiri sendiri yang dimiliki oleh badan hukum itu tetapi oleh pengurusnya dan karena jabatanya ia diserahkan tugas untuk mengurus harta tersebut.

11

C.S.T Kansil dan Christine S.T Kansil, 2000, Modul Hukum Perdata Termasuk Asas- Asas Hukum Perdata, PT Pradnya Paramita, Cet III, Jakarta (selanjutnya disingkat C.S.T Kansil, Christine S.T Kansil I), hal. 89-90.

(20)

c. Teori Harta Bertujuan

Teori ini disebut juga teori Zweck Vermogen yang diajarkan oleh A Brinz dan E.J.J van der Heyden. Menurut teori ini hanya manusia yang menjadi subyek hukum dan badan hukum adalah untuk melayani kepentingan tertentu.

d. Teori Milik Bersama

Teori ini disebut juga Propriele Collective yang diajarkan oleh W.L.P.A Molengraaff dan Mrcel Planiol. Teori ini mengemukakan badan hukum adalah harta yang tidak dapat dibagi-bagi dari anggota-anggotanya secara bersama-sama. e. Teori Kenyataan

Teori ini disebut juga teori peralatan atau organ theorie yang diajarkan oleh Otto van Gierke. Menurut teori ini badan hukum bukanlah sesuatu yang fiksi tetapi merupakan mahkluk yang sunguh – sunguh secara abstrak dan konstruksi yuridis.

1.5.2 Asas Kepastian Hukum.

Asas kepastian hukum ini digunakan untuk menganalisis permasalahan pertama dan permasalahan kedua. Bagi investor asing, hukum dan undang – undang menjadi salah satu tolak ukur untuk menentukan kondusif tidaknya iklim investasi di suatu negara. Hukum bagi mereka memberikan keamanan, kepastian dan predictability atas investasi mereka. Semakin baik kondisi, hukum dan undang – undang yang melindungi investasi mereka semakin dianggap kondusif iklim investasi dari negara tersebut. Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Nilai ketertiban bertitik tolak pada keterikatan sedangkan

(21)

nilai ketentraman bertitik tolak dari kebebasan.12 Untuk mencapai ketertiban hukum diperlukan adanya keteraturan dalam masyarakat.

M.Yahya Harahap mengungkapkan bahwa Kepastian hukum dalam masyarakat dibutuhkan demi tegaknya ketertiban dan keadilan. Ketidakpastian hukum akan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan masyarakat, dan setiap anggota masyarakat akan saling berbuat sesuka hati serta bertindak main hakim sendiri. Keberadaan seperti ini menjadikan kehidupan berada dalam suasana kekacauan sosial.13 Tuntutan kehidupan yang semakin kompleks dan modern memaksa setiap individu dalam masyarakat mau tidak mau, suka atau tidak suka menginginkan adanya kepastian hukum, sehingga setiap individu dapat menentukan hak dan kewajibannya dengan jelas dan terstruktur.14 Beberapa pendapat para ahli tentang kepastian hukum antara lain :

1. Kepastian Hukum menurut Gustav Radbruch seperti yang dikutip oleh Theo Huijbers berpendapat bahwa: Dalam pengertian hukum dapat dibedakan tiga (3) aspek, yang ketiga-tiganya diperlukan untuk sampai pada pengertian hukum yang memadai. Aspek yang pertama adalah keadilan dalam arti sempit. Keadilan ini berarti kesamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Aspek yang kedua ialah tujuan keadilan atau finalitas. Aspek ini menentukan isi hukum, sebab isi hukum memang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Aspek yang ketiga ialah kepastian hukum atau legalitas. Aspek itu menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati.15

2. Peter Mahmud Marzuki mengemukakan, kepastian hukum mengandung dua pengertian, yaitu adanya aturan yang bersifat umum yang membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan.

12

Soerjono Soekanto, 2011, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Cet. X, Rajawali Press, Jakarta, hal. 6.

13

M.Yahya Harahap, 2006, Pembahasan, Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Sinar Grafika Edisi Kedua, Jakarta, hal. 76.

14

Moh.Mahfud.MD, 2006, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, LP3S, Jakarta, hal. 63.

15

Theo Huijber, 2011, Filsafat Hukum dalam lintas Sejarah, Cet. XVIII, Yogyakarta, hal.163.

(22)

Kedua berupa keamanan hukum bagi individu bagi kesewenangan pemerintah, karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang, melainkan adanya konsistensi dalam putusan hakim, antara putusan hakim yang satu dengan putusan hakim yang lainnya untuk kasus serupa yang telah diputuskan.16

3. Menurut J.M. OTTO yang dikutip oleh Sri Djatmiati, kepastian (rechtszekerheid) memiliki unsur sebagai berikut:

a. Adanya aturan yang konsisten dan dapat diterapkan yang ditetapkan negara.

b. Aparat pemerintah menerapkan aturan hukum tersebut secara konsisten dan berpegang pada aturan hukum.

c. Pada dasarnya tunduk pada hukum.

d. Hakim yang bebas dan tidak memihak secara konsisten menerapkan aturan hukum tersebut.

e. Putusan hakim dilaksanakan secara nyata.17

Kepastian hukum mengandung arti bahwa hukum bertugas menjamin adanya kepastian hukum dalam pergaulan manusia. Kepastian hukum sangat dibutuhkan oleh investor sebab dalam melakukan investasi selain tunduk kepada ketentuan hukum investasi juga ketentuan hukum lain yang terkait dan tidak bisa dilepaskan begitu saja.18

1.5.3 Asas Perjanjian

Asas perjanjian ini digunakan untuk menganalisis kekuatan hukum perjanjian nominee saham dalam PT.PMA dan akibat hukum terhadap PT. PMA yang didirikan berdasarkan perjanjian nominee saham. Pasal 1 angka 1 UUPT menyatakan bahwa PT didirikan berdasarkan perjanjian dan dalam Pasal 7 ayat

16

Peter Mahmud Marzuki, 2008, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, hal.158.

17Tatiek Sri Djatmiati, 2002, “Prinsip Izin Usaha Industri Di Indonesia” Disertasi Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga, Surabaya, hal. 18.

18

Sentosa Sembiring, 2007, Hukum Investasi Pembahasan Dilengkapi Dengan Undang – UndangNomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, Nuansa Aulia, Bandung (selanjutnya disingakatSentosa Sembiring I), hal 32-33.

(23)

(1) menyatakan bahwa PT didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih. Teori perjanjian ini juga dipakai dalam menganalisis perjanjian nominee saham yang dipergunakan dalam mendirikan PT. PMA, dimana ini banyak ditemui dalam praktek karena tidak ada pengaturan yang jelas dalam UUPT mengenai nominee saham dan perjanjian nominee saham, sehingga dalam praktek tumbuh dan berkembang didalam masyarakat. Perjanjian nominee saham yang dibuat oleh para pihak yang dibuat dengan akta notaris atau bawah tangan dengan tujuan bahwa saham dari beneficiary dapat terlindungi dan nominee tidak bisa melakukan perbuatan hukum apapun atas saham yang dimilikinya.

Perjanjian nominee saham yang dibuat dihadapan notaris atau bawah tangan merupakan perjanjian yang diangkat dan dibuat dari konsepsi KUHPerdata, yang didasarkan pada kesepakatan para pihak mengenai hak dan kewajiban yang dibuat berdasarkan Pasal 1320 jo Pasal 1338 KUHPerdata sehingga dapat memberikan kepastian hukum dan mengikat bagi para pihak yang membuatnya. Teori Perjanjian mengajarkan bahwa yang menjadi dasar hukum mengikatnya suatu perjanjian adalah apabila dilakukan dengan sah.

Perjanjian diatur dalam Buku III KUHPerdata tentang perikatan yaitu Pasal 1313 KUHPerdata menyatakan bahwa: “Perjanjian adalah suatu perbuatan hukum dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”. Artinya bahwa apabila antara dua orang atau lebih tercapai suatu persesuaian kehendak untuk mengadakan suatu ikatan, maka terjadilah antara mereka suatu persetujuan. Selanjutnya Subekti mengatakan bahwa suatu

(24)

perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seorang yang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.19

Sucitthra Vasu mengatakan bahwa The purpose of setting down the terms of contract are; firstly, it stipulates the rights and obligations of the parties. Secondly, in the event of a dispute between parties, it enables the court to decide which is the defaulting party so that the dispute can be resolved.20 Maksudnya bahwa perjanjian atau kontrak bertujuan, pertama dengan kontrak akan dapat menunjukkan hak dan kewajiban masing-masing pihak, kedua suatu saat nanti ada perselisihan antara pihak kontrak ini dapat memutuskan yang mana pihak yang menyalahi kontrak, sehingga perselisihan itu dapat dipecahkan.

Perjanjian menerbitkan suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya. O.W Holmes berpendapat bahwa The duty on keep contract in common law means a prediction that you must pay damages if you do not keep it, if you commit a tort, you are liable to pay compesatory.21 Maksudnya bahwa kewajiban untuk menjaga suatu perjanjian dalam hukum masyarakat diartikan sebagai prediksi bahwa kamu harus membayar kerusakan-kerusakan, akan tetapi kalau kamu tidak menjaganya, apabila kamu komit dengan gugatan tersebut, maka kamu bertanggung jawab untuk membayar kompensasi tersebut.

Proses dari pembuatan perjanjian adalah just a drafting is the process of converting the underlying intention of the party or parties into a written

19

R.Subekti, 2001, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta (selanjutnya disingkat R.Subekti I), hal. 45.

20

Sucitthra Vasu, 2006, Contract Law For Business People, Rank Books, Singapore, page. 1.

21

M.P Golding, The Nature of Law Readings in Legal Philosophy, Columbia University, Random House, New York, page. 180.

(25)

document, construction is the process od derinving the tru intention of the party or parties from the document.22 Terjemahan bebas: membuat kontrak merupakan proses konversi niat yang mendasari pihak-pihak yang membuat kontrak menjadi dokumen tertulis konstruksinnya adalah proses menuangkan niat dari pihak-pihak ke dokumen yang dibuat.

Setiap perjanjian yang sah dibuat tanpa adanya paksaan dari pihak manapun juga. Perjanjian yang sah artinya perjanjian memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang sehingga diakui oleh hukum, akibatnya yang timbul dari perjanjian tersebut dapat menimbulkan akibat hukum. Undang-undang yang mengatur tentang sahnya suatu perjanjian yaitu KUHPerdata khususnya dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang menyatakan bahwa: Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat, yaitu:23

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya

Suatu perjanjian harus dianggap lahir pada waktu tercapainya suatu kesepakatan antara kedua belah pihak. Orang yang hendak membuat perjanjian harus menyatakan kehendaknya dan kesediaannya untuk mengikatkan dirinya.

2. Cakap untuk membuat suatu perikatan

Kedua belah pihak yang membuat perjanjian harus cakap menurut hukum untuk bertindak sendiri. Sebagaimana telah diterangkan, beberapa golongan orang oleh undang-undang dinyatakan tidak cakap untuk

22

Ros Macdonald & Denise McGrill, 2008, Drafting Second Edition Lexix Nexis Butterworths, Australia, page.3.

23

Abdulkadir Muhammad, 1982, Hukum Perjanjian Alumni, Bandung (selanjutnya disingkat Abdulkadir Muhammad I), hal. 77.

(26)

melakukan sendiri perbuatan-perbuatan hukum. Mereka itu, seperti orang di bawah umur, orang di bawah pengawasan (Curatele), dan perempuan yang telah kawin sebagaimana dimaksud dala Pasal 1330 KUHPerdata. 3. Suatu hal tertentu

Obyek yang diperjanjikan dalam suatu perjanjian, haruslah suatu hal atau suatu barang yang cukup jelas atau tertentu.

4. Suatu sebab yang halal.

Adapun suatu hal tertentu yang diperjuangkan tersebut adalah hal yang tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan atau ketertiban umum.

1.5.4 Konsep Nominee

Konsep nominee pada dasarnya tidak dikenal dalam system hukum Eropa Kontinental atau Anglo Saxon yang berlaku di Indonesia. Hukum di Indonesia baru mengenal konsep nominee dan sering menggunakanya dalam beberapa transaksi hukum sejak bertambahnya jumlah investasi pihak asing disekitar tahun 90-an. Para investor asing tertarik melakukan investasi di Indonesia berdasarkan pertimbangan ada beberapa keuntungan yang diperoleh antara lain kekayaan alam yang melimpah dan upah tenaga kerja relatif murah. Pengertian nominee berdasarkan oxford dictionary of law adalah sebagai berikut : “Nominee is a party who holds legal title to proverty for benefit of other (s) but who has no real duties to perform, except very, limited ones upon the direction of the beneficiaries“24 (Nominee adalah Pihak yang memegang hak hukum yang bertindak untuk

24

Elizabeth A Martin and Jonathan Law, 2006, A Dictionary of law, Sixth Edition, Oxford University Press, New York Amerika, hal. 356.

(27)

kepentingan pihak – pihak lain, tetapi sebenarnya bukan merupakan tugas atau tanggung jawabnya, kecuali hanya untuk tugas – tugas tertentu saja sebatas dengan apa yang ditentukan oleh si pemberi tugas atau beneficiaries).

Pengertian nominee menurut Black‟s Law Dictionary menedefinisikan mengenai nominee, bahwa :

1. A person who is proposed for an office, membership, award, or like title status 2. A person designated to act in place of another, use in a vey limited way.

3. A party who hold bare legal title for the benefit of othera or who receives and distributes funds for the benefit of others.25

Pernyataan diatas dapat diterjemahkan secara bebas sebagai berikut :

1. Orang yang ditunjuk untuk maksud – maksud kantor, anggota, hadiah atau status tertentu.

2. Nominee juga adalah orang yang ditunjuk untuk bertindak menggantikan kedudukan orang lain untuk tindakan – tindakan yang terbatas

3. Lebih jauh lagi nominee adalah orang yang memegang hak hukum untuk kepentingan orang lain atau yang menerima dan menyalurkan dana untuk kepentingan orang lain.

1.6 Metode Penelitian

Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan

25Bryan A Garner, 2004, Black’s Law Dictionary, Eight Edition, Thomson West, United States of Amerika, page. 1078.

(28)

pengetahuan yang disebut ilmu.26 Penelitian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu “research” yang berasal dari kata “re” (kembali) dan to “search” (mencari). Apabila digabung berarti mencari kembali.27 Jadi metode penelitian adalah sebagai suatu aktifitas yang mengandung prosedur tertentu berupa serangkaian cara atau langkah yang disusun secara terarah, sistematis dan teratur.28

Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sitematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisisnya. Selain itu juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul dalam gejala yang bersangkutan.29

1.6.1 Jenis Penelitian

Penelitian tesis ini adalah penelitan hukum normatif karena penelitian ini beranjak dari adanya kekosongan norma dalam UUPT. Penelitian hukum normatif yang mengacu pada bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder serta bahan hukum tertier. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat secara umum (perundang-undangan) atau mempunyai kekuatan mengikat bagi pihak-pihak berkepentingan (kontrak, konvensi, dokumen hukum, dan putusan hakim). Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang

26

Bambang Sunggono, 1977, Metodologi Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal.44.

27

Ibid, hal.27. 28

Bahder Johan Nasution, 2008, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung, hal. 3.

29

Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, hal. 43.

(29)

memberi penjelasan terhadap bahan hukum primer (buku ilmu hukum, jurnal hukum, laporan hukum, dan media cetak atau elektronik). Sedangkan bahan hukum tertier adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder (rancangan undang-undang, kamus hukum, dan ensiklopedi).30

1.6.2Jenis pendekatan.

Dalam penelitian hukum normatif, terdapat beberapa jenis pendekatan yang dipergunakan. Pendekatan-pendekatan yang digunakan di dalam penelitian hukum adalah: pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konsep (conceptual approach), pendekatan analisis (analytical approach), pendekatan perbandingan (comparative approach), pendekatan sejarah (historical approach), pendekatan filsafat (philosophical approach) dan pendekatan kasus (case approach). Pendekatan yang digunakan dalam tesis ini adalah:

1. Pendekatan perundang - undangan (statute approach) dilakukan dengan menelaah semua undang - undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.31 Pendekatan undang-undang (statute approach), pendekatan perundang - undangan dalam tesis ini dilakukan dengan menelaah peraturan perundang-undangan dan regulasi yang terkait dengan pengaturan perjanjian nominee saham Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT.PMA), yakni dilakukan untuk meneliti peraturan perundang-

30

Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Cet.I, Citra Aditya Bakti, Bandung (selanjutnya disingkat Abdulkadir Muhammad II), hal.82.

31

(30)

undangan, khusunya UUPT dan UUPMA, serta peraturan perundang -undangan lainnya.

2. Pendekatan konseptual (conceptual approach) beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin - doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum.32 Pendekatan konseptual (conseptual approach), digunakan untuk mengkaji konsep akibat hukum dari PT. PMA yang didirikan berdasarkan perjanjian nominee.

1.6.3 Sumber bahan hukum.

Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, maka sumber bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder maupun bahan hukum tertier.

a. Bahan hukum primer dalam penelitian ini, mencakup : 1. Undang – Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945

2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) Diindonesiakan oleh R.Subekti dan Tjitrosudibio;

3. Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4432);

4. Undang –Undang Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2007 Tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724);

32

(31)

5. Undang – Undang Nomor 40 tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756);

6. Undang - Undang Nomor 2 tahun 2014 Tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Tahun 2014 Nomor 03, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5491). 7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2010 tentang

Daftar Bidang Usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dan persyaratan dibidang penanaman modal.

b. Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini, mencakup :

Buku–buku literature, jurnal, makalah dan bahan–bahan hukum tertulis lainnya yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.

c.Bahan hukum tertier dalam penelitian ini, mencakup :

Kamus hukum dan kamus bahasa Indonesia serta bahan hukum tertier lainnya yang dapat memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

1.6.4 Teknik pengumpulan bahan hukum.

Teknik pengumpulan bahan hukum dalam penelitian tesis ini adalah melalui teknik telaah kepustakaan (studi dokumen). Telaah kepustakaan dilakukan dengan cara memahami isi dari masing – masing informasi yang diperoleh dari bahan hukum primer, sekunder maupun tertier.

(32)

1.6.5 Teknik analisis bahan hukum.

Analisis bahan hukum adalah bagaimana memanfaatkan sumber – sumber bahan hukum yang telah terkumpul untuk digunakan dalam memecahkan permasalahan dalam penelitian. Setelah semua bahan hukum terkumpul kemudian diklasifikasikan secara kualitatif sesuai dengan rumusan masalah. Bahan hukum tersebut dianalisis dengan teori, asas dan konsep yang relevan kemudian ditarik kesimpulan untuk menjawab masalah. Teknik analisis bahan hukum yang digunakan adalah teknik interpretasi, teknik evaluasi dan teknik argumentasi. Setelah analisis bahan hukum selesai maka hasilnya akan disajikan secara deskriptif analitis.

(33)

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG PERSEROAN TERBATAS, PENANAMANMODAL ASING DAN PERJANJIAN

2.1 Tinjauan Umum Tentang Perseroan Terbatas 2.1.1 Pengertian Perseroan Terbatas

Dalam praktek sangat banyak dijumpai perusahaan berbentuk PT terutama untuk bisnis yang serius atau bisnis yang besar, merupakan model berbisnis yang lazim dilakukan, sehingga dapat dipastikan bahwa jumlah dari PT di Indonesia jauh melebihi jumlah bentuk bisnis lain, seperti Firma, Perusahaan Komanditer, Koperasi dan lain-lain.33 Menurut Sri Rejeki Hartono :

Bentuk badan usaha perseroan terbatas sangat diminati oleh masyarakat karena pada umumnya perseroan terbatas mempunyai kemampuan untuk mengembangkan diri, mampu mengadakan kapitalisasi modal dan sebagai wahana yang potensial untuk memperoleh keuntungan baik bagi instansinya sendiri maupun bagi para pendukungnya (pemegang saham).34

Istilah PT dahulu disebut juga Naamloze Vennootschaap (NV), adalah suatu persekutuan untuk menjalankan usaha yang memiliki modal terdiri dari saham-saham, yang pemiliknya memiliki bagian sebanyak saham yang dimilikinya. Karena modalnya terdiri dari saham-saham yang dapat diperjual

33

Munir Fuady, 2003, Perseroan Terbatas Paradigma Baru, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 1.

34

Agus Budiarto, 2002, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas, Ghalia Indonesia, Ghalia Indonesia, hal. 13.

(34)

belikan, perubahan kepemilikan perusahaan dapat dilakukan tanpa perlu membubarkan perusahaan.35

Ketentuan – ketentuan dalam Pasal 36, Pasal 40, Pasal 42, Pasal 45 Kitab Undang – Undang Hukum Dagang (selanjutnya ditulis KUHD) akan didapati unsur-unsur yang dapat membentuk badan usaha menjadi PT. Hal ini terlihat terjadi pemisahan antara harta dan tanggung jawab bagi perseroan maupun bagi para pengurus dan pemegang saham, sehingga PT tersebut berdiri layaknya pribadi (persoon). PT merupakan badan hukum (legal entity) yaitu badan hukum mandiri (persona standy in judicio) yang mempunyai sifat dan ciri kualitas yang berbeda dari bentuk usaha yang lain, yang dikenal sebagai karakteristik suatu PT yaitu sebagai berikut :

1. Sebagai asosiasi modal;

2. Kekayaan dan utang PT adalah terpisah dari utang dan kekayaan pemegang saham;

3. Pemegang saham yang dimana memiliki peran sebagai berikut :

a. bertanggung jawab hanya pada apa yang disetorkan, atau tanggung jawab (limited liability);

b. tidak bertanggung jawab atas kerugian perseroan (PT) melebihi nilai saham yang telah diambilnya;

c. tidak bertanggung jawab pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan;

35

Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia; Perseroan Terbatas, http://id.wikipedia.org/wiki, terakhir diakses pada tanggal l2 April 2014

(35)

4. Adanya pemisahan fungsi antara pemegang saham, pengurus atau direksi; 5. Memiliki komisaris yang berfungsi sebagai pengawas;

6. Kekuasaan tertinggi berada pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).36 Digunakan istilah PT telah menjadi baku didalam masyarakat bahkan telah dibakukan didalam peraturan perundang – undangan misalnya UUPT dan UUPM. Istilah PT terdiri dari dua kata yaitu perseroan dan terbatas. Perseroan merujuk pada modal PT yang terdiri atas sero – sero atau saham – saham, adapun kata terbatas yang merujuk pada tanggung jawab pemegang saham yang luasnya hanya terbatas pada nilai nominal semua saham yang dimilikinya. Pengertian PT berdasarkan Pasal 1 angka 1 UUPT bahwa : “Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi dalam persyaratan yang ditetapkan dalam Undang – undang ini serta peraturan pelaksanaannya”.

Menurut Ahmad Yani dan Gunawan Widjaya bahwa dari batasan yang diberikan tersebut di atas ada 5 (lima) hal pokok yaitu:

1. Perseroan terbatas merupakan suatu badan hukum ; 2. Didirikan berdasarkan perjanjian ;

3. Menjalankan usaha tertentu ;

4. Memiliki modal yang terbagi dalam saham - saham; 5. Memenuhi persyaratan undang - undang.37

36

I.G Rai Widjaya, 2007, Hukum Perusahaan, CetVII, Kesaint Blanc, Bekasi, hal. 51.

(36)

Pasal 1 angka 1 UUPT merupakan dasar pemikiran bahwa modal PT terdiri dari sero - sero atau saham - saham. Pasal 3 UUPT yang menentukan bahwa: “Pemegang saham perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian perseroan melebihi nilai saham yang telah dimiliki”, merupakan dasar pemikiran terbatasnya tanggung jawab pemegang saham.

Makna terbatas dalam PT sekaligus mengandung arti keterbatasan baik dari sudut PT maupun dari sudut penanam modal, artinya dengan pertanggung jawaban terbatas bila terjadi hutang atau kerugian - kerugian maka hutang itu akan semata - mata dibayar secukupnya dari harta kekayaan yang tersedia dalam PT dan sebaliknya pemegang saham secara pasti tidak akan memikul kerugian hutang itu lebih dari harta kekayaanya yang tertanam dalam PT.38 Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 3 ayat (2) UUPT juga mengatakan bahwa tanggung jawab terbatas pemegang saham saham sebesar setoran atas seluruh saham yang dimilikinya kemungkinan hapus apabila terjadi hal – hal tertentu yang terdiri dari: a. Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi. Pada

saat ini proses dan prosedur memperoleh status pengesahan perseroan sebagai badan hukum sangat dipermudah, namun demikian apabila gagal memenuhi syarat dan prosedur secara hati – hati, bisa terlambat perseroan mendapat status pengesahan sebagai badan hukum, yang berakibat sebagai pendiri dan

37

Ahmad Yani & Gunawan Widjaya, 2000, Seri Hukum Bisnis Perseroan Terbatas, Raja Grafindo Persada, Jakarta,hal.7.

38

(37)

pemegang saham bertanggung jawab secara ribadi (personal liability) terhadap segala tindakan perseroan.

b. Pemegang saham yang bersangkutan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan perseroan untuk kepentingan pribadi. Pemegang saham yang bersangkutan dominan atau berkuasa mengatur atau mengontrol perseroan untuk tujuan yang tidak wajar. Perseroan hanya merupakan alat atau wakil perseroan lain atau holding atau individu pemegang saham.

c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan perseroan. Pemegang saham terlibat atau bersengkokol dengan perseroan melakukan perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian kepada pihak lain.

d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara hukum menggunakan kekayaan perseroan yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan.

Dari batasan yang diberikan oleh Pasal 1 angka 1 UUPT tersebut yakni bahwa perseroan adalah persekutuan modal yang oleh undang – undang diberi status badan hukum, maka sesungguhnya perseroan adalah badan hukum dan sekaligus sebagai wadah perwujudan kerjasama para pemegang saham. Badan hukum sendiri pada dasarnya adalah suatu badan yang dapat memiliki hak-hak dan kewajiban untuk melakukan suatu perbuatan seperti manusia, memiliki kekayaan sendiri dan digugat dan menggugat dimuka pengadian. PT adalah suatu badan hukum, artinya bahwa ia dapat mengikatkan diri dan melakukan perbuatan

(38)

- perbuatan hukum seperti orang pribadi (natuurlijk person) dan dapat mempunyai kekayaan atau hutang.39

Adapun maksud dari persekutuan modal adalah bahwa modal dasar perseroan terbagi dalam sejumlah saham – saham yang pada dasarnya dapat dipindahtangankan (transferable shares). Sekalipun semua saham dimiliki oleh 1 (satu) orang, persekutuan modal tetap valid karena perseroan tidak menjadi bubar melainkan tetap berlangsung sebagai subyek hukum. Hal tersebut dipertegas sebagai ketentuan dimaksud dala Pasal 7 ayat (7) UUPT yang mengatur bahwa seluruh saham persero dapat dimilki oleh negara dan perusahaan yang mengelola bursa efek, lembaga kliring dan penjamin, lembaga penyimpanan dan penyelesaian. Artinya bahwa pendirian hukum perseroan berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (7) tersebut diatas dapat didirikan oleh 1 (satu) orang saja.

Berdasarkan pengertian PT menurut UUPT, disebutkan juga bahwa perseroan didirikan berdasarkan perjanjian hal ini menunjukan sebagai suatu perkumpulan dari orang-orang yang bersepakat mendirikan sebuah badan usaha yang berbentuk PT. Pada pendirian PT pernyataan para pendiri tertuju pada satu tujuan yang sama, pernyataan mereka seakan - akan berjalan sejajar.40 Bahwa kesepakatan mendirikan PT adalah pernyataan yang sama bunyinya seakan – akan mereka melakukan hal yang sama. PT didirikan berdasarkan perjanjian maka tidak dapat dilepaskan dari syarat-syarat yang ditetapkan dalam Pasal 1320 KUHPerdata dan asas – asas perjanjian lainnya.

39

Rochmat Soemitro, 1993, Hukum Perseroan Terbatas, Yayasan dan Wakaf, PT. Eresco, Bandung, hal. 2.

40

(39)

Setiap perusahaan melakukan kegiatan usaha artinya menjalankan perusahaan yaitu kegiatan dalam bidang perekonomian yang bertujuan mendapat keuntungan atau laba. Supaya kegiatan usaha itu sah harus mendapat izin usaha dari pihak yang berwenang dan didaftarkan dalam daftar perusahaan menurut undang – undang yang berlaku.

Mengenai modal dasar perusahaan yang disebutkan terbagi dalam saham artinya bahwa modalnya dipecah menjadi beberapa atau sejumlah saham yang harus dimiliki oleh beberapa orang. Makna terbatas ini sekaligus mengandung arti keterbatasan baik dari sudut PT maupun dari sudut penanam modal, artinya dengan pertanggungjawaban terbatas bila terjadi hutang atau kerugian - kerugian maka hutang itu akan semata - mata dibayar secukupnya dari harta kekayaan yang tersedia dalam PT. Sebaliknya pemegang saham secara pasti tidak akan memikul kerugian hutang itu lebih dari harta kekayaanya yang tertanam dalam PT.41

PT merupakan badan hukum dan besarnya modal perseroan tercantum dalam anggaran dasar. Kekayaan perusahaan terpisah dari kekayaan pribadi pemilik perusahaan hingga memiliki harta kekayaan sendiri. Setiap orang dapat memiliki lebih dari satu saham yang menjadi bukti pemilikan perusahaan. Pemilik saham mempunyai tanggung jawab yang terbatas, yaitu sebanyak saham yang dimiliki. Apabila utang perusahaan melebihi kekayaan perusahaan, maka kelebihan utang tersebut tidak menjadi tanggung jawab para pemegang saham. Apabila perusahaan mendapat keuntungan maka keuntungan tersebut dibagikan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Pemilik saham akan memperoleh bagian

41

(40)

keuntungan yang disebut dividen yang besarnya tergantung pada besar-kecilnya keuntungan yang diperoleh oleh PT.

2.1.2 Saham Perseroan Terbatas

PT adalah persekutuan yang berbentuk badan hukum, perseroan pada PT menunjuk pada cara penentuan modal pada badan hukum tersebut, dimana modal PT terdiri dari saham-saham. Sebagai suatu bentuk peseroan yang didirikan untuk menjalanan suatu perusahaan dengan modal tertentu yang terbagi atas saham - saham. Para pemegang saham PT tersebut dalam melakukan perbuatan hukum yang dibuat atas nama perseroan dan pemegang saham tidak bertanggung jawab sendiri untuk perbuatan – perbuatan hukum perseroan itu. Hal ini berarti bahwa para pemegang saham mempunyai tanggung jawab yang terbatas pada modal yang disetorkan pada perseroan.

Saham merupakan modal perseroan yag memiliki nilai nominal, setiap pemegang saham diberi bukti pemilikan saham untuk saham yang dimilikinya. Pengaturan bentuk bukti pemilikan saham ditetapkan dalam anggaran dasar sesuai dengan kebutuhan.

Dalam UUPT tidak ditemuai pengertian tentang saham, dalam UUPT Pasal 31 ayat (1) menyatakan : “Bahwa modal dasar perseroan terdiri atas nilai nominal saham”. Pasal 60 ayat (1) UUPT menyatakan : “Saham merupakan benda bergerak dan memberikan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 kepada pemiliknya. Pengertian saham dalam kamus besar Bahasa Indonesia, dilihat dari sudut pandang ekonomi saham berarti surat bukti bagian modal PT yang memberi hak atas deviden dan lain - lain menurut besar kecilnya modal yang disetor.

(41)

Saham adalah hak - hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagi didalam kepemilikan dan pengawasan. A Abdurrachman memberikan arti bahwa saham adalah :

Suatu bagian atau porsi daripada sesuatu seperti kepentingan menurut perbandingan didalam suatu badan usaha, lebih khusus adalah sehelai surat keterangan atau sertifikat yang mewakili suatu pemilikan sebagian dari suatu korporasi atau perseroan dengan andil dan kepentingan menurut perbandingan dalam keuntungan dan kekayaan dari badan usaha itu.42

Sedangkan saham menurut Gunawan Widjaja “saham adalah bukti telah dilakukannya penyetoran penuh modal yang diambil bagian oleh para pemegang saham perseroan terbatas, yang juga berarti saham menunjukkan bagian kepemilikan bersama dari seluruh pemegang saham dalam suatu perseroan terbatas”.43 Saham menurut IG Ray Widjaja saham adalah “bagian pemegang saham di dalam perusahaan, yang dinyatakan dengan angka dan bilangan tertulis pada surat saham yang dikeluarkan oleh perseroan”.44

Saham perseroan dikeluarkan atas nama pemiliknya, persyaratan kepemilikan dapat ditetapkan dalam anggaran dasar dengan memperhatikan persyaratan - persyaratan yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan. Jika persyaratan kepemilikan saham telah ditetapkan, tetapi tidak dipenuhi, pihak yang memperoleh

42

AAbdurrachman, 1991, Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan, Cet VI, PT Pradnya Paramita, Jakarta, hal. 981.

43

Gunawan Widjaja, 2008, Hak Individu dan Kolektif Para Pemegang Saham, Forum Sahabat, Jakarta, hal. 1.

44

(42)

kepemilikan saham tersebut tidak dapat menjalankan hak selaku pemegang saham dan saham tersebut tidak diperhitungkan dalam kuorum yang harus dicapai.

Pasal 49 ayat (1) UUPT menyatakan bahwa “nilai saham harus dicantumkan dalam mata uang rupiah”. Pasal 49 ayat (2) menyatakan “saham yang tanpa nilai nominal tidak dapat dikeluarkan”. Pencantuman nominal ini memiliki arti penting sebab saham merupakan pecahan dari modal dasar. Tanpa mencantumkan nominal, saham tidak bisa dipergunakan untuk menjadi faktor pembagi modal dasar. Ketentuan ini tidak menutup kemungkinan diaturnya pengeluaran saham tanpa nilai nominal dalam peraturan perundang – undangan di bidang pasar modal.

Bagi pemegang saham, saham merupakan bukti kepemilikan yang melahirkan hak kontrol terhadap perseroan. Sementara bagi perseroan saham merupakan bukti eksistensi. Berkenaan dengan pentingnya arti saham maka direksi perseroan wajib mengadakan dan menyimpan daftar pemegang saham yang memuat :

1. Nama dan alamat pemegang saham;

2. Jumlah nomor, tanggal perolehan, dan klasifikasinya dalam hal dikeluarkan lebih dari satu klasifikasi saham.

3. Jumlah yang disetor atas setiap saham;

4. Nama dan alamat dari orang perseorangan atau badan hukum yang mempunyai hak gadai atas saham atau sebagai penerima jaminan fidusia saham dan tanggal perolehan hak gadai atau tanggal pendaftaran jaminan fidusia tersebut;

(43)

5. Keterangan penyetoran saham dalam bentuk lain.

Bukti bahwa seseorang memiliki saham adalah sertifikat saham yang diterbitkan oleh perseroan, dengan menjadi pemegang saham (shareholder atau stockholder) maka yang bersangkutan menjadi bagian pemilik perusahaan. Namun demikian memiliki saham tidak serta merta memberikan hak perseroan (misalnya: tanah, gedung dan lain - lain) sebagai miliknya. Selain itu kepemilikan saham juga tidak secara langsung memberikan hak kepada pemegangnya untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja direksi sehari-hari dan kebijakan perseroan secara menyeluruh. Dalam UUPT keberadaaan saham diatur dalam Pasal 48 sampai dengan Pasal 62. Saham yang syarat kepemilikannya sesuai dengan peraturan perundangan-undangan dan atau anggaran dasar memberikan hak tertentu kepada pemiliknya, namun apabila syarat kepemilikan tersebut tidak dipenuhi, maka saham tidak memberikan hak tertentu terhadap pemegang saham.Ini berarti pembuat undang-undang menganut teori bahwa lahirnya hak dikaitkan dengan keabsahan perolehan saham.45

Pemegang saham diberikan bukti kepemilikan saham yang saham tersebut memberikan hak kepada pemiliknya untuk menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS, menerima pembayaran deviden dan sisa kekayaan hasil likuidasi. Ketentuan ini berlaku setelah saham dicatat dalam daftar pemegang saham atas nama pemiliknya. Setiap saham memberikan kepada pemiliknya hak yang tidak dapat dibagi. Jika satu saham dimiliki oleh lebih dari satu orang, hak yang timbul

45

Tri Budiyono, 2011, Hukum Perusahaan, Cet I, Griya Media, Salatiga, hal. 90.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :