BABl PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman saat ini, mendorong

Teks penuh

(1)

1.1 La tar Belakang Masalah

Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman saat ini, mendorong perusahaan dan negara untuk memiliki seorang yang mampu beradaptasi dan cakap dalam segala bidang, salah satunya adalah profesi akuntan. Lembaga survey profesional dunia telah melaporkan bahwa ekonomi Indonesia diprediksi akan tumbuh pesat menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia, namun Indonesia masih mengalami kekurangan dalam hal jumlah akuntan yang profesional (Majalah SWA, 05 April 2013). Indonesia adalah negara yang besar, dengan perkembangan ekonomi yang mengesankan dan suber daya alam melimpah, sehingga dibutuhkan banyak akuntan berkualitas. Kebutuhan dunia kerja di Indonesia akan akuntan profesional masih tinggi. Hingga awal tahun 2014, setidaknya 226.000 organisasi di Indonesia yang masih memerlukanjasa akuntan. Dengan asumsi satu organisasi setidaknya butuh mempekerjakan dua orang akuntan, maka akan terbuka peluang bagi 452.000 akuntan profesional. Akuntan profesional yang teregistrasi sebagai anggota IAI hanya sebanyak 15.940 orang. Jumlah ini jauh di bawah akuntan profesional yang ada di negara tetangga. Malaysia memiliki 30.236 akuntan profesional, Filipina mempunyai 19.573 akuntan, Singapura 27.394 akuntan, dan Thailand memiliki 56.125 (Neraca, 30 Januari 2014). Jumlah Akuntan ASEAN tahun 2010 di masing-masing negara yang menjadi anggota TAT hampir 10.000. Hal ini jauh tertingga1 dengan Malaysia

(2)

27.292, Filipina 21.599, Singapura 23.262, dan Thaiand 51.737. Berdasarkan data Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP) Kementerian Keuangan jumlah akuntan publik di Indonesia juga tidak kalah memprihatinkan dibandingkan dengan negara tetangga. Dengan hanya bermodal 1. 000 orang akuntan publik pada tahun 2012, Indonesia tertinggal jauh dengan Malaysia 2.500 akuntan publik, Filipina 4.941 akuntan publik, dan Thailand 6.000 akuntan publik (Ikatan Akuntan Indonesia, 14 Maret 2013 ).

Pada saat ini profesi akuntan tidak hanya sebagai seorang pencatat transaksi, pengolah transaksi, ataupun sekedar penghasil informasi semata. Profesi akuntan pada saat ini dituntut mampu memberikan suatu nilai tambah terhadap entitas di tempat dia bemaung. Profesi akuntan sendiri bertugas untuk membuat infonnasi keuangan yang bermanfaat bagi banyak pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi, hal tersebut menerangkan bahwa betapa pentingnya profesi akuntan dalam dinamika ekonomi global. Profesi akuntan dianggap sebagai suatu urat nadi perekonomian global. Profesi akuntan dinilai sebagai landasan pertumbuhan ekonomi, mengawal pembangunan ekonomi agar semakin efektif dan efisien dengan kekuatan integritas, transparansi, dan akuntabilitas. Infonnasi yang dihasilkan oleh akuntan akan menjadi landasan utama setiap kebijakan ekonomi yang akan diambil oleh pihak yang berkepentingan. Kehandalan dan kompetensi menjadi suatu keharusan yang harus dimiliki seorang akuntan. Khusus untuk profesi akuntan publik, mereka dituntut untuk mampu menjaga kepercayaan publik dan menjalankan kegiatannya dengan maksimal.

(3)

Karir sebagai akuntan publik memberikan kesempatan untuk mengembangkan pekerjaan yang menantang dan bervariasi, karena dapat ditugaskan di berbagai tempat dan berbagai perusahaan yang memiliki ciri dan kondisi yang berbeda. Maka tidak salah jika nminat mahasiswa terhadap jurusan akuntansi masih tinggi. Lulusan akuntansi dari perguruan tinggi di Indonesia pada 2010 mencapai angka 35.304. Jumlah ini meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya, 24.402 lulusan (2009), 25.649 (2008), 27.335 (2007), dan 28.988 (2006) (Neraca, 30 J anuari 2014 ). Data tentang penerimaan pendaftaran SNMPTN 2014 menyatakan bahwa peminat jurusan akuntansi 110.851 orang dan akuntansi adalah jurusan terfavorit nomor 2 setelah manajemen. Di Unair pendaftar prodi akuntansi dinilai terbesar seteleh prodi manajemen yaitu sebesar 3.839 orang (Jawa Pos, 27 Mei 2014).

Hal tersebut mencerminkan jurusan akuntansi masih digemari sebagai pilihan sekolah lanjutan. Karir di bidang akuntansi dinilai masih menjanjikan. Tetapi berdasarkan data peminat dan lulusan akuntansi yang tiap tahun selalu meningkat, jumlah peminat terhadap profesi akuntan khususnya akuntan publik masih sedikit.

Minat adalah salah satu hal yang membuat seseorang berkeinginan kuat untuk memilih dan menetapkan sesuatu. Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah atau keinginan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005). Minat terhadap jurusan profesi akuntan publik yang tinggi menjadi dasar yang kuat bagi mahasiswa dan lulusan akuntansi untuk tetap memilih akuntan publik sebagai pilihan karir.

(4)

Menurut Wheelet (1983) dalam Widyasari (2010), profesi akuntan publik merupakan profesi yang dipandang menjanjikan karena profesi tersebut memberikan tantangan intelektual dan pengalaman belajar yang tidak temilai. Profesi akuntan publik menyediakan peluang kerja yang besar bagi lulusan jurusan akuntansi di Indonesia, tidak mengherankanjika profesi ini diatur oleh pemerintah dari berbagai regulasi yakni Undang-Undang Akuntan Publik.

Pada bulan Mei 2011, pemerintah mengeluarkan UU No. 5 Tahun 2011 tentang profesi akuntan publik yang secara jelas memperbaharui dan merevisi beberapa peraturan kembali tentang profesi akuntan publik. Pada awalnya, mahasiswa jurusan akuntansi adalah mahasiswa yang memiliki kesempatan besar untuk langsung melanjutkan program pendidikan akuntansi. Namun, berdasarkan UU No. 5 Tahun 2011, lulusan sarjana dari berbagai macam jurusan dapat menjadi seorang akuntan, yakni akuntan publik manakala sudah mengikuti ujian CPA (Certified Public Accountant). Undang-undang terbaru tentang akuntan publik sedikit banyak membuat mahasiswa dan lulusan program akuntansi yang semula berminat menjadi akuntan publik berpikir kembali untuk meneruskan karir sebagai akuntan publik atau tidak. Mengingat lebih banyak pesaing dalam ujian CPA. Penelitian yang dilakukan oleh Susilowati (2012) tentang sikap mahasiswa terhadap Undang-Undang akuntan publik, mahasiswa bersikap menerima, menolak, dan netral. Mahasiswa yang menerima berpendapat optimis bahwa lulusan akuntansi tetap bisa bersaing dengan lulusan lainnya karena memiliki kualitas yang bagus. Mahasiswa yang menolak berpikir dengan adanya

(5)

undang-undang tersebut maim kualitas akuntan publik dari lulusan selain akuntansi dipertanyakan.

Dewan Kehormatan Ikatan Akuntansi Publik Indonesia (IAPI), Sukrisno Agoes berpendapat profesi akuntan publik tidak diminati kalangan muda dan fresh graduate (sarjana baru). Faktor yang mempengaruhi sedikitnya minat lulusan mahasiswa akuntansi untuk menjadi akuntan publik yaitu risiko profesi akuntan publik (Kompas 16 Maret 2009). Risiko yang ditanggung sangat besar sedangkan penghasilannya tidak sesuai dengan beban risiko yang ditanggung oleh akuntan publik. Pada akuntan publik terdapat banyak masalah dan tantangan berat, seperti peningkatan risiko dan tanggungjawab, adanya batasan waktu, standard overload, persaingan sesarna KAP, dan teknologi yang semakin canggih yang harus salalu diikuti.

Proses yang harus dilalui untuk menjadi akuntan publik juga panjang dan lama. Hal itu mempengaruhi kurangnya peminat profesi akuntan publik. Karena waktu yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk dapat lulus dari Program Studi Akuntansi Strata 1 adalah lebih kurang empat sampai tujuh tahun. Setelah mahasiswa tersebut lulus dan bergelar Sarjana Ekonomi. Setelah itu harus melanjutkan studi ke Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) untuk mendapatkan gelar Akuntan. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) adalah sekitar 9 sampai 24 bulan. Setelah menyelesaikan PPA, mahasiswa akan mendapatkan gelar Akuntan dan mendapatkan Nomor Register Akuntan dari Kementerian Keuangan yang akan dikeluarkan tiga sarnpai empat bulan sejak lulus dari program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA). Setelah

(6)

memperoleh gelar Akuntan, mahasiswa tersebut berkesempatan untuk mengikuti Indonesia CPA Exam ( Cert~fied Public Accountant) atau biasa disebut Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP). USAP diselenggarakan sebanyak tiga kali dalam satu tahun.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang sudah dilakukan Maltus dan Fowler (2009) tentang Persepsi Akuntansi : Sebuah studi kualitatif di New Zealand. Dilandasi dengan semakin menurunnya jumlah peminat dan lulusan akuntansi ditengah semakin banyaknya lowongan kerja atau kebutuhan terhadap profesi akuntan. Faktor yang ditengarai menimbulkan semakin berkurangnya minat pada jurusan akuntansi adalah persepsi akuntansi (informasi yang salah tentang akuntansi dan apa yang akuntan lakukan), tingkat kesenangan dalam akuntansi, faktor karir intrinsik dan ekstrinsik ( faktor intrinsik adalah yang berhubungan dengan kepuasan kerja dan faktor ekstrinsik seperti pasar kerja, pertimbangan keuangan dan karir, biaya menjadi akuntan publik dan citra yang tergambar di media), pengaruh manusia (lima kelompok yang mungkin: orang tua atau pengasuh, ternan, anggota profesional bisnis, instruktur universitas dan guru SMA atau penasihat karir yang dapat mempengaruhi persepsi siswa untuk memilih akuntansi sebagai karir mereka).

Dalam penelitian tersebut diambil informan siswa SMA kelas akhir, mahasiswa jurusan non akuntansi, siswa SMA yang terdaftar dalam wajib kursus akuntansi serta penasihat karir dan guru disekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sebagian persepsi responden adalah negatif terhadap profesi akuntan. Profesi akuntan dianggap tidak menjanjikan, akuntansi itu kering, kusam, tua dan

(7)

senus. Hanya dari responden siswa SMA yang terdaftar dalam wajib kursus akuntansi yang memiliki persepsi positifterhadap akuntansi.

Dengan banyaknya informasi yang didapatkan dari berbagai media yang menggambarkan sedikitnya jumlah profesi akuntan publik tetapi peminat terhadap akuntansi atau jumlah lulusan jurusan akuntansi yang semakin meningkat di tiap tahunnya maka diperlukan penelitian untuk mengetahuinya.

Penelitian yang akan dilakukan menggunakan mahasiswa jurusan akuntansi strata 2, mahasiswa pendidikan profesi akuntan, praktisi di bidang akuntansi ( akuntan pendidik, akuntan pemerintahan dan akuntan perusahaan).

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang permasalahan di atas maka rumusan masalah yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah: Bagaimana mahasiswa akuntansi, akuntan pendidik, akuntan perusahaan dan akuntan pemerintah menanggapi kurangnya peminat profesi akuntan publik?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kurangnya peminat profesi akuntan publik.

(8)

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah antara lain : 1. Kontribusi praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan memberikan

sumbangan pemikiran empiris untuk memotivasi mahasiswa jurusan akuntansi untuk menjadikan profesi akuntan publik sebagai pilihan karir.

2. Kontribusi teoritis, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan dalam pengembangan teori, terutama tentang kajian profesi akuntan publik.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian diperlukan untuk memberikan batas-batas permasalahan yang akan dibahas, sehingga pembahasan dari judul yang ada tidak meluas. Sesuai dengan judul yang dipilih, maka yang akan dibahas dibatasi menjadi:

1. Informan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan akuntansi mahasiswa jurusan akuntansi strata 2 dan mahasiwa pendidikan profesi akuntan, akuntan pendidik, akuntan pemerintah dan akuntan perusahaan.

2. Faktor yang dianggap menjadi penyebab sedikitnya peminat profesi akuntan publik adalah:

a. Undang-Undang akuntan publik b. Risiko profesi

c. Lamanya proses untuk menjadi akuntan publik

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...