• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BIREUEN TAHUN 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BIREUEN TAHUN 2013"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL KESEHATAN

KABUPATEN BIREUEN

(2)

Profil Kesehatan Kabupaten Bireuen 2012

Page i

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT ,akhirnya

buku “ Profil Kesehatan Kabupaten Bireuen tahun 2013 telah dapat diterbitkan

dengan baik dari rangkaian penyajian data dan informasi yang diperoleh dari

unit pelayanan kesehatan yaitu Semua Bidang Pada Dinas Kesehatan ,

Puskesmas dan instansi terkait lainya .Profil kesehatan Kabupaten Bireuen

tahun 2013 diterbitkan secara berkala dan setiap tahun dengan harapan dapat

digunakan sebagai bahan dan salah satu sumber informasi dari pelaksanaan

program kesehatan,yang sekaligus juga dapat digunakan sebagai bahan untuk

merencanakan program-progran kesehatan kedepan.

Profil kesehatan Kabupaten Bireuen tahun 2013 ini di disajikan dan

dihimpun berdasarkan data 2013 yang diambil dari laporan 18 Puskesmas

dalam wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen.

Akhirnya kepada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan

tenaga serta telah berpatisipasi dalam penyusunan buku profil Kesehatan

(3)

Profil Kesehatan Kabupaten Bireuen 2012

Page ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...

i

DAFTAR ISI ...

ii

BAB

I

PENDAHULUAN

...

1

BAB

II

GAMBARAN UMUM

...

3

KONDISI GEOGRAFIS

...

3

1. Kependudukan ...

4

BAB

III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

...

6

A.

MORTALITAS ...

6

1. Angka Kematian Bayi ...

6

2. Kematian Ibu Maternal...

7

B. MORBIDITAS...

7

1. Penyakit Menular ...

8

2. Penyakit Potensi KLB/ Wabah ... 11

C. Status Gizi ... 14

BAB

IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

... 16

1.Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi ... 16

3. Perbaikan Gizi Masyarakat ... 19

4. Pelayanan Immunisasi ... 20

5. Kunjungan rawat jalan ... 21

BAB

V

SUMBER DAYA KESEHATAN ... 25

a.Sarana dan prasarana kesehatan ... 25

RESUME PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BIREUEN

TABEL PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BIREUEN

(4)
(5)

1

BAB I

PENDAHULUAN

a.

LATAR BELAKANG

Pada saat ini masyarakat semakin peduli dengan situasi dan hasil

pembangunan kesehatan yang telah dilakukan oleh pemerintah terutama

terhadap permasalahan kesehatan yang berhubungan langsung dengan

masyarakat. Oleh karena itu diperlukan suatu produk informasi yang dikemas

dengan sederhana dan informatif agar dapat dibaca masyarakat. Profil

kesehatan merupakan salah satu produk Informasi Kesehatan yang berisi

tentang gambaran kesehatan di Kabupaten Bireuen yang memuat tentang

berbagai data dan situasi hasil pembangunan kesehatan selama satu tahun

dan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Data dan informasi yang

tersajikan meliputi gambaran umum, derajat kesehatan, upaya kesehatan,

sarana kesehatan dan data-data pendukung lainnya yang berhubungan

dengan kesehatan.

Selain untuk penyajian informasi kesehatan, profil juga dapat

dimanfaatkan untuk mendukung proses pengambilan keputusan bagi

pimpinan bidang kesehatan di berbagai jenjang administrasi serta merupakan

salah satu sarana untuk memantau dan mengevaluasi keberhasilan

pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat .

Metodelogi penyusunan profil Kesehatan Bireuen dilakukan dengan

proses pengumpulan data ditingkat Kecamatan , kemudian dilakukan validasi ,

Analisis Korelasi antar table dan Chek and balance sehingga dapat menimalisir

angka-angka yang tidak inkonsisten satu sama lain.

(6)

2

Dalam Proses Pengumpulan dan Penyusunan Profil Kesehatan juga

dilakukan verifikasi data dengan instansi lain seperti Badan Pusat Statistik,

BPMPKS , BAPPEDA dan Disdukcapil serta informasi dari intansi terkait lainya.

Profil Kesehatan Kabupaten Bireuen Tahun 2013 terdiri dari 5 ( lima ) Bab

terdiri dari :

Bab I = Pendahuluan.

Bab ini menyajikan tentang latar belakang diterbitkannya profil kesehatan

Kabupaten Bireuen tahun 2013 didalamnya terdapat sistematika penyajian

profil.

Bab II = Situasi umum dan perilaku penduduk.

Bab ini menyajikan tentang gambaran umum yaitu meliputi : Topografi,

Kependudukan, perekonomian, pendidikan dan lingkungan fisik serta perilaku

yang terkait dengan kesehatan.

Bab III = Situasi Derajat Kesehatan.

Bab ini berisi uraian tentang hasil-hasil pembangunan kesehatan dimana

mencakup tentang angka kematian , umur harapan hidup, angka kesakitan

dan status gizi masyarakat.

Bab IV = Situasi Upaya kesehatan.

Bab ini menyajikan tentang upaya –upaya kesehatan yang telah dilaksanakan

oleh masing – masing bidang kesehatan sampai tahun 2013. Untuk melihat

Gambaran

tentang

tercapainya

dan

berhasilnya

program-program

(7)

3

Bab V = Situasi Sumber daya Kesehatan.

Bab ini menyajikan tentang sumber daya pembangunan kesehatan dimana

mencakup tentang keadaan tenaga, sarana kesehatan dan pembiayaan

kesehatan.

(8)

4

BAB II

GAMBARAN UMUM

KONDISI GEOGRAFIS

Kabupaten Bireuen merupakan salah satu dari 23 Kabupaten/Kota yang

ada dalam wilayah kerja Pemerintah Aceh. Kabupaten Bireuen memiliki luas

wilayah 1.901,21 km

2

( 1.901,2 Ha ) yang terdiri dari 17 Kecamatan, 18

Puskesmas , 75 Pemukiman, dan 609 Gampong.

( Sumber Bappeda Bireuen 2013)

Secara Giografis Kabupaten Bireuen terletak dibagian pantai timur

Sumatera dengan letak koordinat pada garis 4º - 54º-5º.21’ menit Lintang

Utara dan 96º. 20º - 97º. 21º Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Bireuen

berbatasan dengan 4 ( empat ) Kabupaten Tetangga dengan batas-batas

wilayah :

-

Sebelah Utara dengan Selat Malaka

-

Sebelah Selatan dengan Kabupaten Bener Meriah/ Aceh Tengah

-

Sebelah Timur dengan Kabupaten Aceh Utara

-

Sebelah Barat dengan Kabupaten Pidie Jaya

Topografi Kabupaten Bireuen terdiri dari pantai/ dataran rendah di

sebelah utara dan daerah pegunungan di sebelah selatan.

(9)

5

Gambaran Kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Bireuen :

P e u s a n g a n S i b l a h K r u e n g P e u s a n g a n S e l a t a n P lim b a n g

KEPENDUDUKAN

Jumlah penduduk di Kabupaten Bireuen tahun 2013 berdasarkan hasil

proyeksi BPS Kabupaten Bireuen sebanyak : 413.817 jiwa dengan jumlah

penduduk berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak : 204.080 jiwa dan

Perempuan sebanyak : 209.737 jiwa tingkat kepadatan penduduk Kabupaten

Bireuen rata-rata 218 jiwa . Berikut ini adalah jumlah penduduk Kabupaten

Bireuen menurut jenis kelamin dan kelompok umur pada Tahun 2013.

(10)

6

Tabel 2.I

Piramida Penduduk Kabupaten Bireuen

menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

Tahun 2013

Kepadatan dan penyebaran penduduk dengan luas wilayah Kabupaten

Bireuen sekitar 1.901,21 km2, yang dihuni oleh 413.817 jiwa penduduk,

maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Bireuen adalah

sebesar 218 jiwa/km2. Berdasarkan hasil proyeksi Badan statistik Bireuen

Pada Tahun 2013 Kecamatan Peusangan merupakan Kecamatan dengan

jumlah penduduk paling besar yaitu 50.481 jiwa

dengan tingkat kepadatan

penduduk yaitu 412 jiwa/km2,

sedangkan untuk Kecamatan yang paling

padat penduduk adalah Kota juang dengan jumlah penduduk : 47.419 jiwa

0 - 4

5 - 9

10 - 14

15 - 19

20 - 24

25 - 29

30 - 34

35 - 39

40 - 44

45 - 49

50 - 54

55 - 59

60 - 64

65 - 69

70 - 74

75+

21.176

21.309

22.000

21.590

20.092

18.021

15.691

4.352

12.247

10.051

8.442

6.600

4.716

3.454

2.237

2.102

19,706

19,986

20,276

21,400

20,842

18,705

16,637

15,161

12,776

11,141

8,975

7,056

5,732

4,389

3,298

3,657

Laki

Perempuan

(11)

7

dan rata-rata yaitu 1.503 jiwa/km2. Kepadatan penduduk Kabupaten Bireuen

menurut Kecamatan pada tahun 2013 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel II.2

Kepadatan Dan Penyebaran Penduduk Menurut Kecamatan di

Kabupaten Bireuen Tahun 2013

No

Kecamatan

Kepadatan

penduduk

1

Samalanga

185

2

Simpang Mamplam

119

3

Pandrah

91

4

Jeunieb

207

5

Plimbang

170

6

Peudada

65

7

Jeumpa

493

8

Kota Juang

1.503

9

Juli

144

10

Kuala

725

11

Peusangan

412

12

Peusangan Siblah Krueng

145

13

Peusangan Selatan

131

14

Jangka

336

15

Kuta Blang

523

16

Makmur

222

17

Gandapura

614

Rata Rata Kabupaten

218

Dari tabel tesebut diatas menunjukan bahwa tingkat penyebaran dan

kepadatan penduduk dipengaruhi oleh besarnya wilayah pada masing-masing

(12)

8

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan

kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang

agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal sesuai dengan

Undang-undang no. 36 tahun 2009. Untuk mengetahui gambaran derajat

kesehatan masyarakat dapat diukur dari indikator-indikator yang digunakan

antara lain angka kematian, Umur Harapan Hidup, angka kesakitan serta

status gizi. Indikator tersebut dapat diperoleh melalui laporan dari fasilitas

kesehatan (fasility based) dan data yang dikumpulkan dari masyarakat

(community based).

A. MORTALITAS (Angka Kematian)

Kejadian kematian dalam masyarakat seringkali digunakan sebagai

indikator dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dan program

pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat

dihitung dengan melakukan berbagai survei dan penelitian.

1. Angka kematian bayi (AKB)

Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infan Mortality Rate (IMR) merupakan

indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan

masyarakat,

sehingga

program-program

kesehatan

banyak

yang

menitikberatkan pada upaya penurunan AKB, dimana AKB merujuk pada

jumlah bayi yang meninggal antara fase kelahiran hingga bayi umur < 1 tahun

per 1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan laporan dari Bidang Pelayanan

Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen pada tahun 2013 tercatat 95

(13)

9

kelahiran lahir mati dari 8326 kelahiran atau sebesar 11,4 % jumlah Lahir

mati, jumlah kematian neonatal sebanyak 104 jiwa, jumlah kematian bayi

sebanyak 134 jiwa, jumlah kematian anak balita sebanyak 10 jiwa dan

kematian Balita sebaesar 144 jiwa. Masih tingginya jumlah kematian di

Kabupaten Bireuen merupakan tugas yang sangat berat dan ini perlu

perhatian semua pihak dalam menekan jumlah kematian di Kabupaten

Bireuen.

2. Kematian Ibu Maternal

Kematian ibu maternal adalah kematian ibu karena kehamilan,

melahirkan atau selama nifas. Menurut laporan dari Bidang Pelayanan

Kesehatan Dasar, pada tahun 2012 terjadi 17 jiwa kematian di Kabupaten

Bireuen dengan penyebab terbanyak yaitu perdarahan 5 kasus (29,4 %),

hipertensi dalam kehamilan 4 kasus (23,5 %) dan 2 kasus infeksi (11,7 %)

serta ada 6 kasus karena sebab lain-lain (35,2 %). Sedangkan pada tahun

2013 jumlah kematian ibu sebanyak 13 jiwa . Untuk jumlah kematian ibu

pada tahun 2013 cendrung menurun ini merupakan hasil kerja yang baik

dari semua pihak dalam menurunkan kasus kematian ibu di Kabupaten

Bireuen. Adapun kasus kematian pada tahun 2013 antara lain adalah : Kasus

eklamsi : 4 kasus, Pendarahan : 2 Perdarahan & Anemia : 1 kasus, emboli air

ketuban: 2 kasus , Plasenta previa : 1 kasus, Abortus 1 kasus , TB Paru Aktif

(14)

10

B . MORBIDITAS (ANGKA KESAKITAN)

Angka kesakitan pada penduduk di peroleh dari data yang berasal dari

masyarakat (community Base data) melalui pengamatan (surveilans) dan data

yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan (fasilitas Base data) melalui

sistem pencatatan dan pelaporan rutin dan insidentil.

1.

Penyakit Menular :

a.

Penyakit TB Paru

Penyakit Tuberculosis atau TBC disebabkan oleh bakteri mycobacterium

Tuberculosis yang ditularkan melalui percikan dahak penderitanya. Penyakit

ini seringkali menjadi penyebab kematian di masyarakat, sehingga Millenium

Development Goals (MDGs) menjadikan penyakit TB Paru sebagai salah satu

penyakit yang menjadi target untuk diturunkan. 8 Strategi penanganan TB

paru yang digunakan sampai saat ini adalah Directly Observed Treatment

Shortcourse (DOTS) yaitu pengobatan TB paru dengan pengawasan langsung

menelan obat setiap hari oleh seorang pengawas minum obat (PMO) yang

mulai diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1995. Berdasarkan laporan dari

Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen,

pada tahun 2012 jumlah penderita baru TB BTA+ yang diobati sebanyak 284

orang dan yang sudah dinyatakan sembuh sebanyak 266 orang (93,66%).

Cakupan kesembuhan tersebut sudah hampir memenuhi target Standar

Pelayanan Minimal 2010 sebesar 100 %. Sedangkan pada tahun 2013 jumlah

penderita TB BTA + diobati sebanyak 306 orang dan yang sudah dikatakan

sembuh sebanyak 282 orang atau sebesar 92,16 %. Dimana cakupan

kesembuhan juga hampir mendekati target Standar pelayanan minimal tahun

2010.

(15)

11

b. Penyakit HIV/AIDS dan IMS

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan

gejala penyakit akibat menurunnya kekebalan tubuh karena diserang virus

HIV (Human Immuno Deficiency Virus). Keberadaan penderita HIV/AIDS

bagaikan fenomena gunung es, dimana jumlah penderita yang ditemukan jauh

lebih sedikit dibandingkan penduduk yang terinfeksi. Kondisi tersebut tak

dapat dipungkiri bertalian erat dengan mobilitas penduduk yang meningkat

pesat disertai peningkatan perilaku seksual yang tidak aman serta

penggunaan NAPZA suntik yang semakin meluas.

Tahun 2012 jumlah kasus

HIV/AIDS yang dilaporkan oleh 18 Puskesmas sebanyak 6 kasus dengan

kasus terbanyak di Kecamatan Peusangan dan 2 kasus meninggal.

Berdasarkan laporan Bidang Pengendalian masalah kesehatan pada tahun

2013 jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bireuen sebanyak 11 Kasus

dimana 1 kasus HIV dan 10 Kasus AIDS. Untuk Kasus terbanyak terjadi pada

rentan umur 30 s/d 39 tahun. Berbagai Upaya pencegahan dan

penanggulangan telah dilakukan melalui penyuluhan ke masyarakat,

pembentukan klinik IMS dan VCT di Puskesmas

.

pengobatan dan pemeriksaan

berkala penyakit menular seksual (IMS), pengamanan darah donor dan

kegiatan lain yang menunjang pemberantasan penyakit HIV/AIDS. sementara

dari pemeriksaan pada kelompok resiko tinggi diketahui jumlah pengidap

penyakit infeksi menular seksual di Kabupaten Bireuen .

b.

Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut)

ISPA seringkali menjadi penyebab utama kematian pada bayi dan balita,

dimana pneumonia diduga sebagai faktor utama penyebabnya. ISPA juga

merupakan salah satu penyebab utama kunjungan berobat pasien di

(16)

12

Puskesmas dan di Rumah Sakit. Berdasarkan laporan Puskesmas perkiraan

kasus pneumonia tahun 2012 adalah : 3.902 kasus sedangkan kasus

pneumonia yang di temukan dan yang ditangani sebanyak : 208 sedangkan

untuk tahun 2013 jumlah perkiraan kasusn pneumonia adalah: 40.469 kasus

dan penderita Pneumonia yang ditemukan dan ditangani sebanyak: 234 orang

dimana penemuan kasus adalah pada balita .

c.

Penyakit Kusta

Penyakit Kusta atau sering disebut penyakit Lepra adalah penyakit

infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae yang

menyerang syaraf tepi dan jaringan tubuh lainnya., namun sampai saat ini

penyakit Kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di

Indonesia, sementara itu di Kabupaten Bireuen penyakit kusta masih tinggi

terdapat diwilayah Kecamatan Peusanga, Kota Juang dan Juli . Penyakit kusta

menurut jenis penyakitnya dibedakan menjadi 2 yaitu kusta PB (Pausi

Basiler) dan kusta MB (Multi Basiler) dan pengobatannya disesuaikan dengan

klasifikasi jenisnya. Berdasarkan laporan dari Wasor TB-Kusta pada Bidang

Pengendalian Masalah Kesehatan

penderita Kusta PB Di Kabupaten Bireuen

yang selesai pengobatan (RTF) sampai tahun 2011 sebanyak 7 kasus

( 100 %), sementara dari penderita kusta MB yang telah menyelesaikan

pengobatan sampai tahun 2012 ada 29 kasus ( 78 %). Pada tahun 2012 di

Kabupaten Bireuen angka kecacatan tingkat II sebesar 24,49 % atau

sebanyak 12 Kasus .Sedangkan pada tahun 2013 jumlah penderita Kusta MB

sebanyak 28 Kasus dan RFT MB sebanayak 52 Kasus. Kondisi ini

menggambarkan masih berlanjutnya penularan dan kurangnya kesadaran

masyarakat mengenali gejala dini penyakit kusta sehingga penderita kusta

(17)

13

yang ditemukan sudah dalam keadaan cacat. Upaya pencegahan dan

pemberantasan dilakukan dengan penyuluhan kepada masyarakat melalui

media massa agar penderita dapat ditemukan dalam stadium dini dan tidak

sampai menimbulkan kecacatan, pengobatan penderita kusta untuk

mencegah infeksi sekunder.

2.

Penyakit potensi KLB (Kejadian Luar Biasa) / Wabah

a.

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit

menular yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat

dan sering muncul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) sehingga sering

menimbulkan kepanikan di masyarakat karena penyebarannya yang cepat dan

berpotensi menimbulkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue

yang penularannya melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes

Albopictus yang hidup digenangan air bersih di sekitar rumah. Umumnya

kasus ini mulai meningkat saat musim hujan. Jumlah kasus DBD yang

dilaporkan pada tahun 2012 sebanyak 316 orang, dengan angka kesakitan

(Insiden rate) sebesar 79,4 per 100.000 penduduk dengan kasus terbanyak di

Kecamatan Kota Juang 104 kasus. Untuk tahun 2013 jumlah kasus DBD di

Kabupaten Bireuen berkurang dengan jumlah kasus sebanyak 173 Kasus atau

dengan angka insiden Rate sebesar 41,8 per 100.000 penduduk.

Hal ini antara

lain karena adanya kesadaran masyarakat dan petugas kesehatan untuk

berperan lebih aktif dalam pemberantasan sarang nyamuk melalui

gerakan ”3M PLUS” (menguras – mengubur - menutup tempat penampungan

air) dan upaya lain yaitu melakukan pemantauan rumah/bangunan bebas

(18)

14

jentik serta melakukan pengenalan dini gejala DBD dan penanganannya di

rumah.

b.

Diare

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan,

dimana sarana air bersih dan BAB serta perilaku manusia yang tidak sehat

merupakan faktor dominan penyebab penyakit tersebut. Kasus diare dapat

menyebabkan kematian terutama pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB). Pada

tahun 2012 di Kabupaten Bireuen terdapat 9.950 kasus diare dengan

proporsi kejadian pada balita sebesar 36, 95 % (3.677 kasus) dan pada tahun

2013 jumlah perkiraan kasus diare sebanyak 8.856 dan kasus diare yang

ditemukan dan ditangani sebanyak 10.374 Kasus. Kasus diare dapat

dikorelasikan dengan perbaikan hygiene sanitasi dan perilaku hidup bersih

dan sehat, karena secara umum penyakit diare sangat berkaitan dengan

kedua faktor tersebut. Upaya penanggulangan diare dapat dilakukan dengan

pemberian oralit dan penggunaan infus pada penderita, penyuluhan kepada

masyarakat agar meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam

kehidupan sehari-hari serta melibatkan peran serta kader dalam tatalaksana

diare karena dengan penanganan yang tepat dan cepat ditingkat rumah tangga

maka diharapkan dapat mencegah terjadinya kasus dehidrasi berat yang

dapat mengakibatkan kematian.

c.

Filariasis (penyakit kaki gajah)

Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit infeksi menahun (kronis)

yang disebabkan oleh cacing filaria. Penyakit ini ditularkan oleh berbagai jenis

nyamuk yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening yang dapat

menimbulkan cacat menetap (seumur hidup) berupa pembesaran kaki, lengan

(19)

15

dan alat kelamin sehingga dapat menimbulkan stigma sosial. Sementara di

Kabupaten Bireuen jumlah penderita filariasis berdasarkan laporan Bidang

Penanggulangan Masalah Kesehatan ada 27 kasus yang tersebar di 5

Kecamatan. Penderita terbanyak di Kecamatan Peusangan Selatan sebanyak :

8 orang dan Pada Tahun 2013 tidak ada ditemukan kasus Filariasis . Upaya

pencegahan dan pemberantasan dilakukan dengan memutus rantai penularan

dan mengobati penderita untuk mencegah infeksi sekunder.

3.

Penyakit Menular yg dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I)

Beberapa penyakit dapat menular dengan cepat sehingga berpotensi

menimbulkan kejadian luar biasa, namun diantara penyakit-penyakit tersebut

ada yang dapat dicegah dengan imunisasi atau biasa disingkat dengan PD3I

(Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) antara lain yaitu :

a.

Difteri

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium

diptheriae, yang ditandai dengan gejala panas tinggi disertai pseudo membran

(selaput tipis) putih keabu-abuan pada tenggorok yang tak mudah lepas dan

mudah berdarah. Penyakit ini sering kali menjadi penyebab kematian pada

anak - anak, namun penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi

DPT1, DPT2 dan DPT3. Menurut Sumber Bidang Pengendalian Masalah

Kesehatan Pada tahun 2012 dan tahun 2013 Tidak ada yang laporan

mengenai kasus difteri di Kabupaten Bireuen .

b.

Tetanus dan Tetanus Neonatorum

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh Clostridium tetani, terdiri dari

Tetanus Neonatorum yaitu tetanus pada bayi dan tetanus dengan riwayat luka.

Berdasarkan laporan dari Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Kabupaten

(20)

16

Bireuen , pada tahun 2012 dan tahun 2013 tidak terdapat kasus tetanus dan

kasus tetanus neonatorum. Kejadian kasus tetanus Neonatorum sebenarnya

dapat dicegah dengan upaya pertolongan persalinan yang higienis ditunjang

dengan imunisasi tetanus Toxoid (TT) pada ibu hamil.

c.

Campak

Penyakit Campak merupakan penyakit akut yang disebabkan virus

measles yang disebarkan melalui bersin/batuk dengan gejala awal yaitu

demam, bercak kemerahan, batuk-pilek lalu timbul ruam di seluruh tubuh.

Penyakit Campak sering menyebabkan kejadian luar biasa (KLB), dimana

kematian akibat campak pada umumnya disebabkan komplikasi dengan

penyakit lain seperti meningitis. Pada tahun 2013 ada 50 kasus campak yang

dilaporkan oleh 18 Puskesmas dan kasus terbanyak di Kecamatan Juli Dua

sebanyak 27 kasus dan Puskesmas Juli sebanyak 14 Kasus.Sedangkan Pada

Tahun 2013 Kasus campak terdapat 91 Kasus, dan pada tahun 2013 terjadi

Peningkatan kasus campak dan ini merupakan tanggung jawab kita bersama.

Adapun jumlah penyebaran kasus campak terbanyak terdapat di beberapa

kecamatan antara lain : Kecamatan Juli 18 kasus, Kecamatan Juli Dua 17

kasus dan Kota Juang sebanyak 15 kasus.

d.

Hepatitis B

Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Hepatitis B yang

dapat merusak hati. Penyebaran penyakit tersebut bisa melalui suntikan yang

tidak aman, dari ibu ke bayi selama proses persalinan dan melalui hubungan

seksual. Infeksi pada anak-anak biasanya tidak menimbulkan gejala dan

kalaupun ada biasanya adalah gangguan pada perut, lemah dan urine menjadi

kuning. Penyakit ini bisa menjadi kronis dan menimbulkan cirrhosis

(21)

17

hepatis(kanker hati) dan dapat menimbulkan kematian. Di Kabupaten Bireuen

Tidak ada laporan mengenai kasus hepatitis B pada tahun 2012 dan tahun

2013 berdasarkan Laporan dari Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan.

e.

Pertusis

Pertusis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bardetella

pertusis yang ditandai dengan gejala batuk beruntun dan disertai tarikan

nafas hup yang khas serta disertai muntah. Lama batuk bisa sampai 1-3

bulan sehingga sering disebut batuk 100 hari. Serangan batuk lebih sering

pada malam hari. Pada tahun 2012 ada 18 Puskesmas yang melapokan

namum kasus pertusis Cuma terdapat di 2 Puskesmas yaitu Puskesmas Cot

Glungku dengan jumlah 36 Kasus dan Puskesmas Juli dengan jumlah 14

Kasus dimana keseluruhan kasus sebanyak 62 kasus.Pada tahun 2013 belum

ada laporan mengenai kasus pertusis di Kabupaten Bireuin

STATUS GIZI

1.

Status Gizi bayi

Masalah status gizi ibu hamil akan berpengaruh terhadap kesehatan

janin yang dikandungnya dan akan berdampak pada berat badan bayi yang

dilahirkan serta juga akan berpengaruh pada perkembangan otak dan

pertumbuhan fisik bayi.

a.

Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)

BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram,

merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian

perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori : BBLR karena

premature (usia kandungan < 37 minggu) dan BBLR karena intrauterine

growth retardation (IUGR) yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat

(22)

18

badannya kurang dimana BBLR karena IUGR umumnya disebabkan karena

status gizi ibu hamil yang buruk atau menderita sakit yang memperberat

kehamilan. Berdasarkan laporan Bidang Pelayanan Kesehatan dasar pada

tahun 2012 diketahui dari 8.496 jumlah bayi lahir hidup ada 78 bayi yang

BBLR (0,9 % )dan pada tahun 2013 dimana jumlah bayi lahir hidup sebanyak

8.231 bayi dimana jumlah bayi lahir rendah ( BBLR ) sebanyak 166 bayi atau

2,2 % bayi. Jumlah bayi BBLR tersebut dapat dipengaruhi oleh status gizi ibu

hamil atau adanya penyakit pada ibu yang memperberat kehamilannya.

Namun seluruh BBLR yang dilaporkan telah memperoleh penanganan sesuai

prosedur. Untuk menekan angka BBLR dibutuhkan penanganan terpadu

dengan lintas program dan lintas sektor karena timbulnya masalah penyakit

dan status gizi berkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

2.

Status gizi balita

Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah dengan pengukuran

antropometri yang menggunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U)

dan dikategorikan dalam ”gizi lebih, gizi baik, gizi kurang dan gizi buruk”.

Berdasarkan laporan Bidang Pelayanan Kesehatan Dasar

,

pada tahun 2012

diketahui dari hasil penimbangan pada 6.598 balita terdapat 5.397 balita

(81,80 %) yang gizi baik , 710 balita Balita Gizi Kurang (10,76%) dan 187 balita

gizi buruk (2,83%) . Pada tahun 2013 di Kabupaten Bireuen terdapat 17.896

jumlah Baduta dimana yang ditimbang sebanyak : 13.289 baduta dan yang

BGM sebanyak 189 baduta atau sebesar 1,4 % baduta sedangkan jumlah

anak Balita sebanyak 36.192 balita , ditimbang 24.433, Mendapat pelayanan

Kesehatan minimal 8 kali sebanyak : 26.182 atau 72,3 % , Balita yang BGM

(23)

19

sebanyak 420 orang atau 1,7 % Balita sedangkan untuk balita Gizi Buruk

sebanyak 149 balita dan telah mendapat perawatan sebanyak 149 balita juga

atau 100 % dan semua balita gizi buruk yang dilaporkan telah ditangani

sesuai prosedur.

(24)

20

BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan yaitu

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya

pelayanan kesehatan masyarakat. Berikut ini diuraikan gambaran situasi

upaya kesehatan yang telah dilakukan di Kabupaten Bireuen Pada tahun

2013

A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR

Pelayanan Kesehatan Dasar merupakan langkah awal yang sangat

penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan

pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan

sebagian besar masalah kesehatan dapat diatasi. Berbagai pelayanan

kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan dan

jaringannya adalah sebagai berikut :

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi

Seorang ibu mempunyai peran besar didalam pertumbuhan bayi dan

perkembangan anak. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu yang

sedang hamil bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan

hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi/anaknya. Pelayanan kesehatan

bagi ibu dan bayi antara lain pelayanan antenatal, persalinan, nifas dan

perawatan bayi baru lahir yang diberikan di sarana kesehatan mulai Posyandu

sampai rumah sakit.

(25)

21

a. Pelayanan Antenatal (K 1 dan K 4)

Pelayanan Antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga

kesehatan professional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter

umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil sesuai pedoman.Kegiatan

pelayanan antenatal meliputi pengukuran berat badan dan tekanan darah,

pemeriksaan tinggi fundus uteri, imunisasi Tetanus Toxoid (TT) serta

pemberian tablet besi pada ibu hamil selama masa kehamilannya. Titik berat

kegiatan adalah promotif dan preventif dan hasilnya terlihat dari cakupan K1

dan K4 . Cakupan K1 untuk mengukur akses pelayanan ibu hamil,

menggambarkan besaran ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama ke

fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Indikator ini

digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal dan

kemampuan program dalam menggerakan masyarakat. Cakupan K1 di

Kabupaten Bireuen tahun 2012 sebesar 99,8%, dan Cakupan K4 sebesar

93,9 % , sedangkan pada tahun 2013 Cakupan KI sebesar 92 % dan cakupan

K4 sebanyak 83 % . Ini adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah

mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar, minimal empat kali

kunjungan selama masa kehamilannya (sekali di trimester pertama, sekali di

trimester kedua dan dua kali di trimester ketiga). Indikator ini berfungsi untuk

menggambarkan tingkat perlindungan dan kualitas pelayanan kesehatan pada

ibu hamil.

(26)

22

b.

Pertolongan Persalinan

Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian

besar terjadi pada masa disekitar persalinan, hal ini antara lain disebabkan

pertolongan persalinan tidak dilakukan tenaga kesehatan yang punya

kompetensi kebidanan (profesionalisme). Dari laporan Bidang Pelayanan

Kesehatan Dasar pada tahun 2012 jumlah ibu bersalin yang ditolong oleh

tenaga kesehatan (linakes) sebesar 92,6 % atau sebanyak 8.521 ibu bersalin.

Pada Tahun 2013 jumlah ibu bersalin yang ditolong tenaga kesehatan

sebanyak : 8.256 ibu atau 84,7 % dimana terjadi penurunan jumlah ibu

bersalin yang ditolong tenaga kesehatan dan ini merupakan peran Bidan Desa

untuk lebih aktif lagi dalam mengkampanyekan agar ibu melahirkan di sarana

kesehatan dan tenaga kesehatan .

c. Ibu Hamil Resiko Tinggi (Risti)/komplikasi yang ditangani

Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di desa dan

Puskesmas, sekitar 20% diantara ibu hamil yang ditemui dan diperiksa

tergolong dalam kasus resiko tinggi/komplikasi yang membutuhkan rujukan.

Kasus resiko tinggi/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal

yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi

meliputi Hb< 8 g%, tekanan darah tinggi (sistole >140 mmHg, diastole >90

mmHg), oedema nyata, eklampsia, ketuban pecah dini, perdarahan

pervaginam, letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang

pada primigravida, infeksi berat/sepsis dan persalinan prematur. Berdasarkan

laporan Bidang Pelayanan Kesehatan Dasar, jumlah perkiraan ibu hamil

resiko tinggi Kebidanan di Kabupaten Bireuen tahun 2013 sebanyak 2.043.

(27)

23

orang dimana 1.271 orang diantaranya mendapat penanganan Komplikasi

Kebidanan sesuai prosedur.

c.

Pelayanan Nifas

Masa nifas adalah masa 6-8 minggu setelah persalinan dimana organ

reproduksi mulai mengalami masa pemulihan untuk kembali normal, walau

pada umumnya organ reproduksi akan kembali normal dalam waktu 3 bulan

pasca persalinan.Dalam masa nifas, ibu seharusnya memperoleh pelayanan

kesehatan yang meliputi pemeriksaan kondisi umum, payudara, dinding perut,

perineum, kandung kemih dan organ kandungan. Karena dengan perawatan

nifas yang tepat akan memperkecil resiko kelainan bahkan kematian ibu nifas.

Pada tahun 2012 jumlah sasaran ibu bersalin di Kabupaten Bireuen

sebanyak : 9.199 ibu dan sebanyak 8.533 ibu nifas (92,8%) sedangkan

pada tahun 2013 terdapat sasaran ibu bersalin sebanyak : 9.753 orang dan

7.904 , diantaranya telah mendapat pelayanan nifas sesuai standar.

d.

Kunjungan Neonatus (KN2)

Kunjungan neonatus adalah bayi usia 0-28 hari yang kontak dengan

tenaga kesehatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan minimal tiga kali

yaitu dua kali pada umur 0 -7 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari (KN2).

Adapun pelayanan kesehatan yang diberikan adalah pelayanan kesehatan

neonatal dasar yang meliputi tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia,

pemberian ASI dini dan ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata,

tali pusat, kulit dan pemberian imunisasi, pemberian vitamin K, manajemen

terpadu balita muda (MTBM) dan konseling untuk ibunya tentang perawatan

neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA. Dari laporan Bidang

(28)

24

Pelayanan Kesehatan Dasar tahun 2013 diketahui jumlah neonatus yang

melakukan kunjungan KN Lengkap sebanyak 7.758 atau ( 86,1 % ) .

e.

Neonatal Resiko tinggi (risti) /komplikasi

Pada saat memberi pelayanan kesehatan pada neonatus, sekitar 15%

diantara neonatus yang diperiksa dan ditemui tergolong dalam kasus resiko

tinggi yang butuh pelayanan rujukan. Neonatal risti/ komplikasi yaitu bayi

usia 0-28 hari dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan

kesakitan dan kematian seperti asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma

lahir, BBLR (berat badan < 2.500 gram), sindroma gangguan pernafasan dan

kelainan neonatal. Berdasarkan laporan Bidang Pelayanan Kesehatan Dasar

tahun 2013, jumlah perkiraan neonatal risti di Kabupaten Bireuen sebanyak

1.235 orang neonatal risti yang membutuhkan pelayanan rujukan dan semua

telah memperoleh penanganan sesuai prosedur

.

3.

Perbaikan gizi masyarakat

Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan melalui distribusi tablet besi

(Fe) pada ibu hamil dan distribusi Vitamin A pada balita .

a.

Pemberian Tablet Besi (Fe) pada ibu hamil

Pada saat periksa kehamilan di sarana kesehatan, ibu hamil akan

mendapatkan tablet Fe yang bertujuan untuk mengatasi dan mencegah

terjadinya kasus anemia serta meminimalkan dampak buruk akibat

kekurangan Fe, karena kekurangan Fe pada ibu hamil dapat mengakibatkan

terjadinya abortus, kecacatan bayi atau bayi lahir dengan berat badan rendah

(BBLR). Cakupan ibu hamil yang mendapatkan Fe-1 (30 tablet) tahun 2012

sebesar 99,76 % dan cakupan Fe-3 sebesar 93,87% dan telah memenuhi

(29)

25

target Indonesia sehat 2010 sebesar 80%. Sedangkan pada tahun 2013

jumlah ibu hamil yang mendapat Tablet FE-1 sebanyak 9.445 ibu atau 92,48%

dan Tablet FE-3 sebanyak 8.474 orang atau 82,97% . Walaupun capaian telah

melampaui target namun petugas kesehatan tetap harus memotivasi ibu hamil

agar meminum tablet besi tersebut guna mencegah terjadinya anemia ibu

hamil.

b.

Pemberian Kapsul Vitamin A pada balita

Vitamin A adalah salah satu zat gizi yang diperlukan tubuh dan berguna

untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan mata. Bila seorang

anak yang menderita kekurangan vitamin A terserang campak, diare atau

penyakit infeksi lainnya maka penyakit tersebut akan bertambah parah dan

dapat mengakibatkan kematian, karena infeksi tersebut menghambat

kemampuan tubuh untuk menyerap zat-zat gizi dan pada saat yang sama

akan mengikis simpanan vitamin A dalam tubuh. Selain

itu kekurangan vitamin A dalam waktu lama dapat mengakibatkan gangguan

pada mata bahkan dapat mengakibatkan kebutaan. Sasaran pemberian

kapsul Vitamin A adalah bayi usia 6-11 bulan dan balita (1-4 tahun)

sebanyak 2 kali dalam setahun (Februari dan Agustus) serta ibu nifas satu

kali. Cakupan balita yang mendapat vitamin A pada tahun 2012 sebesar

65,8%. Sedangkan cakupan pemberian cakupan Vitamin A pada ibu nifas

pada tahun 2013 sebanyak 8.313 orang atau 85,2 % .

4.

Pelayanan Imunisasi

Imunisasi merupakan bagian dari upaya pencegahan dan pemutusan

mata rantai penularan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan

imunisasi (PD3I). Kegiatan imunisasi dibedakan rutin dan tambahan. Kegiatan

(30)

26

imunisasi rutin meliputi imunisasi untuk bayi umur 0-1 tahun (BCG, DPT,

Polio, Campak, HB), imunisasi untuk Wanita Usia Subur/ibu hamil (TT) dan

imunisasi untuk anak sekolah SD ( kelas 1: DT, kelas

2-3: TT). Sementara kegiatan imunisasi tambahan dilakukan atas dasar

penemuan masalah seperti desa non UCI, potensial KLB, dugaan adanya virus

polio liar/ kegiatan lain berdasarkan kebijakan teknis. Indikator yang

digunakan untuk menilai keberhasilan program imunisasi secara nasional

adalah angka UCI (Universal Child Immunization) pada wilayah

desa/kelurahan. Pada awalnya indicator perhitungan UCI adalah tercapainya

cakupan imunisasi lengkap pada bayi minimal 80% untuk tiga jenis antigen

yaitu DPT3, polio dan campak, namun sejak tahun 2003 indikator

perhitungan UCI menjadi cakupan imunisasi lengkap pada bayi >80% untuk

semua jenis antigen. Sehingga bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan

wilayah tertentu maka dapat menggambarkan besarnya tingkat kekebalan

masyarakat atau bayi terhadap penularan PD3I di wilayah tersebut.

Pencapaian UCI desa tahun 2012 sebesar 62,7% dan pada tahun 2013 sebesar

72,2 % dan terjadi peningkatan sebesar 10 % dari tahun sebelumya dan

belum dapat memenuhi target Indonesia Sehat 2010 sebesar 90%, sehingga

perlu diwaspadai munculnya kasuskasus PD3I karena masih banyak desa

yang belum mencapai UCI. Ada 2 Kecamatan di Kabupaten Bireuen dengan

pencapaian UCI desa mencapai 100 % yaitu kecamatan Kota Juang dan Kuala.

5.

Kunjungan Rawat jalan dan rawat inap

Pada tahun 2012 jumlah kunjungan rawat jalan yang terdiri dari

kunjungan baru dan lama di Puskesmas dalam Kabupaten Bireuen sebanyak

(31)

27

284.554 . Pada Tahun 2013 jumlah kunjungan pasien Rawat Jalan di

Puskesmas Sebanyak : 242.893 pasien , Jumlah Kunjungan rawat inap

sebanyak : 80.967 orang serta jumlah kunjungan Gangguan Jiwa sebanyak :

7.814 orang yang meliputi kunjungan pasien di Puskesmas.

B. PERILAKU MASYARAKAT

Banyaknya penyakit yang ada saat ini tidak bisa dilepaskan dari

perilaku yang tidak sehat. Dimana untuk mengubah perilaku masyarakat

merupakan sesuatu yang tidak mudah namun mutlak diperlukan untuk

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sehingga diperlukan upaya

penyuluhan kesehatan yang terus menerus guna mendorong masyarakat

berperilaku hidup bersih dan sehat. Untuk menggambarkan keadaan perilaku

masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat.

1.

Rumah tangga sehat (ber-PHBS)

Rumah tangga sehat/berPHBS adalah rumah tangga yang seluruh

anggota keluarganya telah berperilaku hidup bersih dan sehat yang meliputi

10 indikator. Dari laporan Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan, pada

tahun 2012 telah dilakukan pengkajian PHBS pada 88.974 rumah tangga dan

15.216 rumah tangga diantaranya (40,4%) sudah ber PHBS. Sedangkan pada

tahun 2013 jumlah rumah tangga yang dipantau sebanyak : 38.252 unit dan

Rumah Tangga yang ber PHBS sebanyak 20.435 atau 53,4 % . Cakupan ini

masih di bawah dari target Indonesia Sehat 2010 sebesar 65%, oleh karena

itu perlu adanya intervensi dari berbagai komponen baik lintas program, lintas

sektor, LSM, swasta dan tokoh masyarakat untuk berperan aktif dalam

membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat.

(32)

28

Air susu ibu (ASI) Ekslusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sejak lahir

sampai berusia 6 bulan dalam rangka mencukupi kebutuhan gizi yang

diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI merupakan

makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur gizi

yg dibutuhkan bayi guna pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal.

Oleh sebab itu ASI diberikan secara ekslusif hingga 6 bulan, dapat diteruskan

sampai usia 2 tahun. Dari laporan Bidang Pelayanan Kesehatan diketahui

cakupan ASI ekslusif di Kabupaten Bireuen tahun 2012 sebesar 23%. Pada

Tahun 2013 jumlah bayi yang diberi ASI Ekslusif terjadi peningkatan dimana

jumlah bayi 7.082 orang dan yang mendapat ASI Esklusif sebanyak 3.510

atau sekita 49,6 % dari jumlah bayi. Namun cakupan tersebut masih belum

mencapai target Indonesia Sehat 2010 sebesar 80%. Berbagai faktor yang

menyebabkan rendahnya cakupan ASI ekslusif antara lain faktor ibu bekerja

(saat ini semakin banyak ibu yang bekerja dalam rangka membantu

perekonomian keluarga), faktor budaya (masih ada masyarakat yang

memberikan pisang, madu, air selain ASI kepada bayinya) dan faktor lainnya

yang tidak mendukung pemberian ASI Ekslusif. Karena itu dibutuhkan

penyuluhan yang lebih intensif baik kepada perorangan maupun institusi

pemberi pelayanan kesehatan tentang keunggulan ASI Ekslusif.

C.

KEADAAN LINGKUNGAN

Kegiatan upaya penyehatan lingkungan lebih diarahkan pada

peningkatan kualitas lingkungan melalui kegiatan yang bersifat promotif dan

preventif. Adapun pelaksanaannya bersama masyarakat diharapkan mampu

memberikan kontribusi bermakna terhadap kesehatan masyarakat karena

(33)

29

kondisi lingkungan yang sehat merupakan salah satu pilar utama dalam

pencapaian Indonesia sehat 2010. Untuk memperkecil risiko terjadinya

penyakit atau gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan yang kurang

sehat, telah dilakukan berbagai upaya peningkatan kualitas lingkungan

antara lain :

1.

Rumah Sehat

Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi

sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga. Rumah dikategorikan

sehat jika memenuhi syarat kesehatan yaitu memiliki jamban sehat, sarana

air bersih, tempat pembuangan sampah, pembuangan air limbah, ventilasi

baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak

terbuat dari tanah. Jumlah rumah di Kabupaten Bireuen tahun 2013

berdasarkan laporan Bidang Pengendalian masalah kesehatan sebanyak

87.488 rumah dan 12.581 rumah dibina memenuhi syarat kesehatan dan

rumah yang telah memenuhi syarat kesehatan sebanyak : 61.435 atau

(70,22%) dinyatakan memenuhi syarat kesehatan. Capaian tersebut masih

dibawah target Indonesia Sehat sebesar 80%, hal ini tentunya harus

ditindaklanjuti dengan upaya pembinaan yang lebih intensif kepada

masyarakat agar memperhatikan kesehatan rumahnya karena rumah yang

sehat dan nyaman akan berdampak bagi penghuninya .

2.

Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat

Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) merupakan sarana

yang dikunjungi banyak orang sehingga dikhawatirkan berpotensi menjadi

tempat penyebaran penyakit. Yang termasuk TUPM antara lain hotel,

restoran/rumah makan, pasar dan lain-lain. Adapun TUPM yang

(34)

30

dikategorikan sehat adalah TUPM yang memenuhi akses sanitasi dasar (air

bersih, jamban, limbah dan sampah), ventilasi dan pencahayaan sesuai

kriteria dan luas ruangan sesuai dengan banyaknya pengunjung.

3.

Sarana Sanitasi Dasar

Upaya peningkatan kualitas air bersih akan berdampak positif apabila

diikuti oleh upaya perbaikan sanitasi yang meliputi kepemilikan jamban,

pembuangan air limbah dan sampah di lingkungan sekitar kita, karena

pembuangan kotoran baik sampah, air limbah maupun tinja yang tidak

memenuhi syarat kesehatan dapat menyebabkan rendahnya kualitas air serta

dapat menimbulkan penyakit menular di masyarakat. Saluran Pembuangan

air limbah (SPAL) adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang

air buangan dari kamar mandi, tempat cuci, dapur dan yang lainnya dan

bukan dari jamban, dimana SPAL yang sehat hendaknya memenuhi

persyaratan antara lain : tidak mencemari sumber air bersih, tidak

menimbulkan genangan air yang dapat digunakan untuk sarang nyamuk,

tidak menimbulkan bau dan tidak menimbulkan becek.

(35)

31

BAB V

SUMBER DAYA KESEHATAN

A.

Sarana dan prasarana Kesehatan

Pesatnya pembangunan bidang kesehatan, salah satunya ditandai oleh

makin meningkatnya peran pemerintah dan swasta dalam penyediaan sarana

dan prasarana kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat. Pada bab ini akan diuraikan mengenai sarana dan

prasarana kesehatan, diantaranya Puskesmas dan jaringannya, Rumah Sakit,

Sarana kesehatan lain, Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)

serta tenaga kesehatan

1.

Puskesmas dan jaringannya

Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dari Dinas kesehatan

Kabupaten yang berada di wilayah kecamatan yg melaksanakan tugas-tugas

operasional pembangunan kesehatan. Pada tahun 2012 jumlah Puskesmas di

Kabupaten Bireuen sebanyak 18 Puskesmas yang terdiri dari 13 puskesmas

perawatan (puskesmas dengan tempat tidur) dan 5 puskemas non perawatan.

Untuk memperluas jangkauan pelayanan Puskesmas ke masyarakat, setiap

Puskesmas telah dibantu oleh Puskesmas Pembantu (Pustu) yang pada saat

ini telah berjumlah 44 buah . Puskesmas juga dibantu oleh sarana puskesmas

keliling roda 4 (Pusling) yang berguna untuk membantu pelayanan kesehatan

di luar gedung sehingga dapat menjangkau seluruh daerah di wilayah

Kabupaten Bireuen. Pada tahun 2012 jumlah Pusling di Bireuen sebanyak 18

dan berarti semua puskesmas telah memiliki Pusling .Untuk tahun 2013

jumlah Puskesmas masih 18 unit Puskesmas, ( Pkm Rawat Inap Poned

sebanyak 8 unit , Rawat inap 5 unit dan Rawat jalan 5 unit ) Pustu 46 unit,

(36)

32

Poskesdes/Polindes sebanyak 241 unit dan Puskesmas Keliling sebanyak 24

unit.

2.

Rumah sakit :

Jumlah rumah sakit di Kabupaten Bireuen tahun 2013 sebanyak 5

rumah sakit yang terdiri dari 1 rumah sakit umum pemerintah, 4 rumah sakit

Swasta.

3.

Sarana kesehatan lainnya :

Selain Puskesmas dan rumah sakit keberadaan sarana kesehatan yang

lain sangat membantu terwujudnya peningkatan derajat kesehatan

masyarakat di Kabupaten Bireuen. Sarana kesehatan lainnya yang ada di

Kabupaten Bireuen meliputi : Rumah bersalin , Balai pengobatan/ Klinik ,

Praktek dokter perorangan , Praktek pengobatan tradisional , Apotik , Toko

obat , Industri obat tradisional .

4.

Upaya Kesehatan Bersumber masyarakat (UKBM)

Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada

masyarakat berbagai upaya telah dikembangkan termasuk dengan

memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang ada di masyarakat melalui

posyandu, polindes, poskesdes maupun pembentukan desa siaga.

a.

Posyandu

Posyandu

merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal oleh

masyarakat. Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas yaitu

kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi dan

penanggulangan diare. Menurut stratanya Posyandu dibagi dalam 4 kelompok

(37)

33

yaitu Pratama, Madya, Purnama dan Mandiri. Pada tahun 2012 dan 2013

jumlah Posyandu di Kabupaten Bireuen sebanyak 609 buah.

b.

Desa siaga

Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan

sumberdaya serta kemauan dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi

masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri.

Tujuan dibentuknya desa siaga adalah mewujudkan masyarakat yang mandiri

untuk sehat serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di

wilayahnya. Pada tahun 2012 jumlah desa/kelurahan siaga yang telah

dibentuk di Kabupaten Bireuen sebanyak 609 buah sedangkan yang aktif

sebanyak 74 buah ( 12,15% ) dan pada tahun 2013 jumlah desa siaga

sebanyak : 145 desa atau (23, 81 %) dan masih dibawah target Standar

pelayanan minimal.

(38)

34

BAB VI

PENUTUP

Data dan informasi merupakan sumber daya yang strategis bagi

pimpinan dan organisasi dalam pelaksanaan manajemen, maka penyediaan

data dan informasi yang berkualitas sangat diperlukan sebagai masukan

dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu penyajian data dan informasi

yang berkualitas sangat dibutuhkan baik oleh jajaran kesehatan , lintas sektor

maupun masyarakat. Dibidang kesehatan, data dan informasi ini diperoleh

melalui penyelenggaraan sistem informasi kesehatan. Namun sangat disadari,

sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih belum dapat memenuhi

kebutuhan data dan informasi kesehatan secara optimal, apalagi dalam era

desentralisasi pengumpulan data dan informasi dari Kecamatan menjadi relatif

lebih sulit . Hal ini berimplikasi pada kualitas data dan informasi yang

disajikan dalam Profil Kesehatan Kabupaten yang diterbitkan saat ini belum

sesuai dengan harapan. Walaupun demikian, diharapkan Profil Kesehatan

Kabupaten Bireuen dapat memberikan gambaran secara garis besar dan

menyeluruh tentang seberapa jauh keadaan kesehatan masyarakat yang telah

dicapai. Walaupun Profil Kesehatan Kabupaten sering kali belum

mendapatkan apresiasi yang memadai, karena belum dapat menyajikan data

dan informasi yang sesuai dengan harapan, namun ini merupakan salah satu

publikasi data dan informasi yang meliputi data capaian Standar Pelayanan

Minimal (SPM) dan Indikator Indonesia Sehat 2010. Oleh karena itu dalam

rangka meningkatkan kualitas Profil Kesehatan Kabupaten, perlu dicari

terobosan dalam mekanisme pengumpulan data dan informasi secara cepat

untuk mengisi kekosongan data sehingga kualitas data menjadi lebih baik.

(39)
(40)

KABUPATEN BIREUEN

TAHUN 2013

L

P

L + P

Satuan

A. GAMBARAN UMUM

1 Luas Wilayah

190,121

Km

2

Tabel 1

2 Jumlah Desa/Kelurahan

684 Desa/Kel

Tabel 1

3 Jumlah Penduduk

204,080

209,737

413,817

Jiwa

Tabel 2

4 Rata-rata jiwa/rumah tangga

4.3

Jiwa

Tabel 1

5 Kepadatan Penduduk /Km

2

2.2 Jiwa/Km

2

Tabel 1

6 Rasio Beban Tanggungan

53.1 per 100 penduduk produktif

Tabel 2

7 Rasio Jenis Kelamin

97.3

Tabel 2

8 Penduduk 10 tahun ke atas melek huruf

#VALUE!

#VALUE!

#DIV/0! %

Tabel 3

9 Penduduk 10 tahun yang memiliki ijazah tertinggi

a. SMP/ MTs

-

-

0.00 %

Tabel 3

b. SMA/ SMK/ MA

-

-

0.00 %

Tabel 3

c. Sekolah menengah kejuruan

-

-

0.00 %

Tabel 3

d. Diploma I/Diploma II

-

-

0.00 %

Tabel 3

e. Akademi/Diploma III

-

-

0.00 %

Tabel 3

f. Universitas/Diploma IV

-

-

0.00 %

Tabel 3

g. S2/S3 (Master/Doktor)

-

-

0.00 %

Tabel 3

B. DERAJAT KESEHATAN

B.1 Angka Kematian

10 Jumlah Lahir Hidup

4,233

3,998

8,231

Tabel 4

11 Angka Lahir Mati (dilaporkan)

12

11

11 per 1.000 Kelahiran Hidup

Tabel 4

12 Jumlah Kematian Neonatal

67

37

104

neonatal

Tabel 5

13 Angka Kematian Neonatal (dilaporkan)

16

9

13 per 1.000 Kelahiran Hidup

Tabel 5

14 Jumlah Bayi Mati

84

50

134

bayi

Tabel 5

15 Angka Kematian Bayi (dilaporkan)

20

13

16 per 1.000 Kelahiran Hidup

Tabel 5

16 Jumlah Balita Mati

88

56

144 Balita

Tabel 5

17 Angka Kematian Balita (dilaporkan)

21

14

17 per 1.000 Kelahiran Hidup

Tabel 5

18 Kematian Ibu

Jumlah Kematian Ibu

13

Ibu

Tabel 6

Angka Kematian Ibu (dilaporkan)

158

per 100.000 Kelahiran Hidup

Tabel 6

RESUME PROFIL KESEHATAN

ANGKA/NILAI

(41)

L

P

L + P

Satuan

ANGKA/NILAI

NO

INDIKATOR

No. Lampiran

B.2 Angka Kesakitan

19 Tuberkulosis

Jumlah kasus baru TB BTA+

309

0

309 Kasus

Tabel 7

Proporsi kasus baru TB BTA+

100.00

0.00

%

Tabel 7

CNR kasus baru BTA+

74.67

0.00

74.67 per 100.000 penduduk

Tabel 7

Jumlah seluruh kasus TB

309

0

309 Kasus

Tabel 7

CNR seluruh kasus TB

74.67

0.00

74.67 per 100.000 penduduk

Tabel 7

Kasus TB anak 0-14 tahun

0.00 %

Tabel 7

Persentase BTA+ terhadap suspek

6.62

#DIV/0!

6.62

%

Tabel 8

Angka kesembuhan BTA+

92.16

#DIV/0!

92.16 %

Tabel 9

Angka pengobatan lengkap BTA+

2.94

#DIV/0!

2.94 %

Tabel 9

Angka keberhasilan pengobatan

(Success Rate)

BTA+

95.10

#DIV/0!

95.10

%

Tabel 9

Angka kematian selama pengobatan

0.00

0.00

0.00 per 100.000 penduduk

Tabel 9

20 Pneumonia Balita ditemukan dan ditangani

1.19

0.00

0.58 %

Tabel 10

21 Jumlah Kasus Baru HIV

0

1

1 Kasus

Tabel 11

22 Jumlah Kasus Baru AIDS

7

3

10 Kasus

Tabel 11

23 Jumlah Infeksi Menular Seksual Lainnya

1

0

1 Kasus

Tabel 11

24 Jumlah Kematian karena AIDS

4

1

5 Jiwa

Tabel 11

25 Donor darah diskrining positif HIV

#DIV/0!

#DIV/0!

#DIV/0!

%

Tabel 12

26 Persentase Diare ditemukan dan ditangani

0.00

0.00

0.00 %

Tabel 13

27 Kusta

Jumlah Kasus Baru Kusta (PB+MB)

29

15

44 Kasus

Tabel 14

Angka penemuan kasus baru kusta (NCDR)

7.01

3.62

10.63 per 100.000 penduduk

Tabel 14

Persentase Kasus Baru Kusta 0-14 Tahun

20.45 %

Tabel 15

Persentase Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta

25.00 %

Tabel 15

Angka Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta

2.66 per 100.000 penduduk

Tabel 15

Angka Prevalensi Kusta

0.94

0.00

0.94 per 10.000 Penduduk

Tabel 16

Penderita Kusta PB Selesai Berobat (RFT PB)

100.00

100.00

100.00 %

Tabel 17

Penderita Kusta MB Selesai Berobat (RFT MB)

82.35

88.89

85.25 %

Tabel 17

28 Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi

AFP Rate (non polio) < 15 th

7.23

per 100.000 penduduk <15 tahun

Tabel 18

Jumlah Kasus Difteri

0

0

0 Kasus

Tabel 19

Case Fatality Rate Difteri

#DIV/0! %

Tabel 19

Jumlah Kasus Pertusis

0

0

0 Kasus

Tabel 19

Jumlah Kasus Tetanus (non neonatorum)

0

0

0 Kasus

Tabel 19

Case Fatality Rate Tetanus (non neonatorum)

#DIV/0! %

Tabel 19

Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum

0

0

0 Kasus

Tabel 19

Gambar

Tabel  II.2
TABEL 9 KABUPATEN BIREUEN TAHUN  2013 L P L + P JUMLA H % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % L P L+P L P L+P 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
TABEL  11 KABUPATEN BIREUEN TAHUN  2013 L P L+P PROPORSI  KELOMPOK  UMUR L P L+P PROPORSI  KELOMPOK UMUR L P L+P PROPORSI  KELOMPOK UMUR L P L+P 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 1 &lt; 1 TAHUN 0 0 0 0.00 0 0 0 0.00 0 0 0 0.00 0 0 0 2 1 - 4 TAHUN 0
TABEL  15 KABUPATEN BIREUEN TAHUN  2013 L P L+P JUMLAH % JUMLAH % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 SAMALANGA SAMALANGA                         -                         1                         1                         - 0.00 1 100 2 SIMPANG MAMPLAN SIMPANG MAMPLA
+7

Referensi

Dokumen terkait

Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo tahun 2014 (data 2013) ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mendukung sistem manajemen kesehatan yang lebih

Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Ngawi Tahun 2013 ini merupakan salah satu Sarana untuk memberikan gambaran dari berbagai hasil Program Kesehatan yang

Profil Kesehatan ini merupakan sarana untuk memantau dan mengevaluasi pencapaian pembangunan kesehatan di Kabupaten Kepulauan Yapen pada tahun 2013, termasuk kinerja dari

Profil Kesehatan Bener Meriah Tahun 2013 35 dilakukan dengan mendeteksi bayi yang mendapat imunisasi DPT1-. HB1 tetapi tidak terdeteksi pada pemberian imunisasi campak

Profil Kesehatan Kabupaten ini pada intinya berisi berbagai data/informasi yang menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Gianyar Tahun

Dalam Profil Kesehatan Kabupaten Pesawaran Tahun 2012 dapat diperoleh data dan informasi indikator kesehatan dan indikator yang terkait kesehatan yang meliputi antara lain :

Dari hasil kompilasi data profil kesehatan Puskesmas tahun 2013, cakupan kunjungan bayi di Kabupaten Pulang Pisau sebanyak 1.967 Kunjungan (minimal 4 kali kunjungan) Untuk

Tugas di Kab.. Profil Kesehatan Kabupaten Poso adalah gambaran situasi Kesehatan Masyarakat di Kabupaten Poso yang diterbitkan setiap tahunnya. Dalam setiap terbitan