• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. Abstrak. Abstract

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. Abstrak. Abstract"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF

DENGAN MODEL

LUTHER

DALAM MATA PELAJARAN IPS

PADA SISWA KELAS VIII SEMESTER GENAP

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

DI SMP NEGERI 5 NEGARA

Ni Kadek Tina Pirgayanti

1

, A. A. Gede Agung

2

, Luh Putu Putrini Mahadewi

3 1,2,3

JurusanTeknologi Pendidikan

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Sampai saat ini hasil belajar IPS pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Negara belum memuaskan. Salah satu indikasinya adalah capaian rerata hasil belajar IPS sebesar 67 yang masih di bawah angka nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) nasional yang ditetapkan sebesar 75%. Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab belum memuaskan hasil belajar tersebut adalah masih relative minimnya sumber belajar multimedia yang tersedia di sekolah tersebut. Atas dasar kondisi tersebut, maka dilakukan penelitian pengembangan multimedia pembelajaran interaktif dengan harapan agar hasil belajar mata pelajaran IPS lebih meningkat. Bertitik tolak dari hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan desain pengembangan multimedia pembelajaran interaktif, (2) mengetahui kualitas produk multimedia pembelajaran interaktif mata pelajaran IPS, (3) mengetahui efektivitas penggunaan multimedia pembelajaran interaktif dalam mata pelajaran IPS pada siswa kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian pengembangan ini menggunakan model Luther. Metode pengumpulan data yang digunakan ialah metode pencatatan dokumen,kuesioner, dan tes. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah pencatatan dokumen, angket, dan perangkat tes/ soal.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, deskriptif kuantitatif dan statistik inferensial (uji-t). Hasil penelitian menemukan bahwa (1) desain pengembangan multimedia interaktif yang menghasilkan flowchart dan storyboard; (2) kualitas validitas multimedia pemebalajaran interaktif menurut review ahli isi mata pelajaran adalah 98%,review ahli desain pembelajaranadalah 88%, review ahli media pembelajaran adalah 81,25%, uji coba perorangan adalah 82%, uji coba kelompok kecil adalah 88,5%, dan uji coba lapangan adalah 99%, sehingga secara umum multimedia pembelajaran interaktif yang dihasilkan dalam penelitian ini dikategorikan baik atau valid; (3) hipotesis penelitian menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1diterima. Oleh karena itu, multimedia interaktif yang dihasilkan dalam penelitian dinyatakan efektif meningkatkan hasil belajar IPS di SMP Negeri 5 Negara dengan perolehan thitung=16,05>ttabel = 1,993. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa

multimedia pembelajaran interaktif yang dikembangkan dinyatakan valid dan efektif dalam pembelajaran mata pelajaran IPS untuk siswa kelas VIII semester genap di SMP Negeri 5 Negara, Jembrana Bali.

Kata kunci: pengembangan, multimedia, model Luther, IPS Abstract

The learning outcomes of the VIII grade students at SMP Negeri 5 Negara especially in social science subject were not yet satisfactory. One of the indications that show this phenomenon was avarege of the students social science learning outcomes wich

(2)

was 67 that still under the National Minimum Completeness Standard (KKM) which was 75%. One factor that suspected as the cause of this problem was the availability of multimedia learning sources which were still minimal at SMP Negeri 5 Negara. On the basis of that problem, the researcher conducted a research in developing an interactive learning multimedia in order to be able to increased students social science learning outcomes. furthemore, this research was inteded to (1) describe the design of the interactive learning multimedia development, (2) find out the quality of the social science interactive learning multimedia product, (3) recognize the efectivity of the use of the social science interactive learning multimedia for the VIII grade even semester students in the academic year 2013/2014. This research was using Luther model. Methods of data collection used in this study were document study, questionnaire, and test. The intruments of the data collection were document study, questionnaire, and test. Technigues of data analysis were descriptive qualitative analysis, descrivtive quantitative and statistic inferential analysis (t-test). The result of the study showed that (1) the disgn of the interactive multimedia develovnment which resulted in flowchart and storyboard, (2) the quality on the validity of the interactive learning multimedia accordiing to the review of the subject content expert was 98%, the review of the learning design expert was 88%, the review of the learning media expert was 81,25%, individual tryout was 82%, the small groups tryout was 88,5%, and the field tryout was 99%. Based on these result, the interactive learning multimedia was chategorized as good or valid in general, (3) Research shows that the hypothesis Ho denied and H1 received. Therefore, the interactive learning multimedia which develoved was effectively increasad the students social science learning outcomes in SMP Negeri 5 Negara with tcount = 16,05 >ttable = 1,993. According to the result of the

study, it can be concluded that the interactive learning multimedia developed on this study was valid and effective to be taught to the students especially to teach social science subject for the VIII grade even semester students in SMP Negeri 5 Negara, Jembrana Bali.

Keywords: Development, multimedia, Luther model, social science.

PENDAHULUAN

Media merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting untuk menjembatani penyampaian materi dalam proses pembelajaran. Tegeh (2010:3) media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa, sehingga proses belajar dapat terjadi.

Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa.Proses

pembelajaran mengandung lima

komponen komunikasi yaitu guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran (Tegeh, 2010:5). Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan berupa materi

pembelajaran, sehingga dapat

merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Lebih lanjut, Gerlach dan Ely (dalam Arsyad, 2006) mengatakan bahwa media adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap.

Penggunaan media yang beragam diharapkan mampu memberikan dampak positif untuk peningkatan kualitas belajar siswa dan nantinya akan mampu meningkatkan prestasi belajarnya. Salah satu media pembelajaran yang cukup banyak digunakan saat ini adalah multimedia.Istilah multimedia didefinisikan oleh Gayeski (dalam Munir, 2013:2), “sebagai kumpulan media berbasis komputer dan sistem komunikasi yang memiliki peran untuk membangun,

(3)

menerima informasi dalam bentuk teks, grafik, audio, video dan sebagainya”. Dalam multimedia, terdapat istilah interaktif. Pengertian interaktif dalam hal ini berterkaitan dengan komunikasi dua arah atau lebih dari komponen-komponen komunikasi. “Komponen komunikasi dalam multimedia interaktif (berbasis komputer) adalah hubungan antara manusia (sebagai user atau pengguna produk) dan komputer (software/aplikasi/produk dalam

formatfile tertentu, biasanya dalam bentuk CD)” (Munir, 2013: 110). Produk (CD atau aplikasi) yang diharapkan memiliki hubungan dua arah atau timbal balik antara software atau aplikasi dengan

usernya. Dari paparan tersebut dapat disimpulkan multimedia interaktif adalah suatu media yang berupa teks, gambar, grafik, sound, animasi, video, interaksi dan sebagainya yang telah dikemas menjadi

file digital (komputerisasi) diperuntukkan memberikan informasi kepada masyarakat atau user dan dapat dikemas ke dalam format Compact Disk (CD).

Media pembelajaran khususnya multimedia interaktif tentunya memiliki tujuan yaitu untuk menunjang proses pembelajaran dan berkontribusi besar untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Makna hasil belajar itu sendiri adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar (Susanto, 2013:5). Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana diuraikan diatas dipertegas lagi oleh Nawawi & K. Brahim (dalam Susanto, 2013:5) yang menyatakan “hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu”. Pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

Tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, pengembangan media pembelajaran hendaknya perlu dilakukan. Berdasarkan beberapa pandangan dari

beberapa ahli, dapat dikatakan bahwa pengembangan itu merupakan suatu usaha untuk menghasilkan sebuah produk atau media yang dapat digunakan oleh para pendidik dalam pembelajaran yang dikemas dalam bentuk fisik, sehingga apa yang disampaikan pendidik lebih mudah untuk dipahami oleh peserta didik. Dalam

menggembangkan suatu media

pembelajaran, pengembangan hendaknya diperhatikan empat karakteristik meliputi: masalah yang ingin dipecahkan,

pengembangan model, proses

pengembangan produk, dan proses pengembangan model.

Salah satu model pengembangan yang cukup efektif untuk mendukung

terpecahkannya masalah dalam

penyediaan media pembelajaran yang sesuai untuk menunjang proses pembelajaran adalah model Luther. Model Luther merupakan model yang disusun secara sistematis dalam upaya pemecahan masalah belajar yang berkaitan dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Model ini terdiri dari enam tahap kegiatan, yakni: a). Concept, b). Design, c). Collecting Materials, d). Assembly, e). Test Drive, f). Distribution.

Beberapa teori yang mendasari bahwa media pembelajaran sangatlah penting dalam proses pembelajaran khususnya dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, peneliti melakukan observasi untuk melihat secara langsung permasalahan yang dihadapi para guru dan siswa khususnya dalam proses belajar mengajar menggunakan media pembelajaran tertentu. Hasil observasi yang dilakukan di SMP Negeri 5 Negara dengan mewawancarai Guru mata pelajaran IPS Drs. I Ketut Suparta mengatakan bahwa nilai dari siswa kelas khususnya kelas VIII C dan Dbelum memenuhi dari KKM yakni 70. Beberapa masalah yang menyebabkan masih kurangnya hasil belajar bidang studi pelajaran IPS antara lain, minimnya sumber bacaan yang relevan dengan materi pelajaran, serta padatnya materi pelajaran dan keterbatasan media. Sangat

disayangkan kurangnya media

(4)

Negara menyebabkan belum tuntasnya nilai mata pelajaran IPS karena guru kurang ahli membuat media pembelajaran interaktif berbantuan komputer.

Penggunaan media sederhana

(gambar/caption) dirasakan sudah tidak menarik lagi dan kurang efektif. Hal ini berpengaruh terhadap minat dan motivasi siswa untuk belajar. Siswa sangat mengharapkan guru merancang media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa, sehingga siswa dapat lebih mudah menyerap materi pelajaran.

Terkait dengan uraian diatas, maka teridentifikasi bahwa di SMP Negeri 5 Negara kurang tersedia media pembelajaran berbantuan komputer yang sesuai dengan materi pelajaran IPS. Berdasarkan pengamatan di SMP Negeri 5 Negara fasilitas media seperti LCD maupun komputer sudah tersedia, namun kurang dimanfaatkan secara maksimal oleh guru.Hal ini dapat menyebabkan minat, motivasi serta gairah siswa untuk belajar IPS menjadi sangat rendah, sehingga berdampak pada nilai hasil belajar.Maka dari itu, guru dan siswa di

SMP Negeri 5 Negara sangat

membutuhkan media dan bahan

pembelajaran yang sesuai. Media pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran IPS merupakan media yang belum ada dan perlu dikembangkan di

SMP Negeri 5 Negara. Media

pembelajaran interaktif yang

dikembangkan diharapkan sesuai dengan karakteristik dan tujuan pembelajaran, agar siswa lebih termotivasi untuk belajar serta mudah untuk menyerap materi pelajaran.

Berdasarkan pemaparan diatas, sebagai salah satu solusi yang ditawarkan agar nilai hasil belajar siswa SMP Negeri 5 Negara meningkat pada mata pelajaran IPS adalah mengembangkan media pembelajaran untuk mata pelajaran IPS.Berpandangan dari hasil observasi di SMP Negeri 5 Negara, maka melalui kesempatan ini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pengembangan media pembelajaran untuk kelas VIIIdi SMP Negeri 5 Negara dengan judul “Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif Dengan Model Luther Dalam

Mata Pelajaran IPS Pada Siswa Kelas VIII Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014 Di SMP Negeri 5 Negara”.

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka perumusan permasalahan yang dijadikan fokus dalam penelitian pengembangan ini adalah sebagai berikut. 1). Bagaimanakah desain pengembangan produk multimedia pembelajaran interaktif dengan model Luther pada siswa kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2013/2014 di SMP Negeri 5 Negara?; 2). Bagaimanakah kualitas hasil pengembangan multimedia pembelajaran interaktif dengan model Luther pada siswa kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2013/2014 di SMP Negeri 5 Negara menurut review para ahli

dan uji coba produk?; 3). Bagaimanakah

efektivitas penggunaan produk multimedia pembelajaran interaktif terhadap peningkatan hasil belajar IPS pada siswa VIII semester genap tahun pelajaran 2013/2014 di SMP Negeri 5 Negara?

Berdasarkan perumusan masalah di atas, adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut. 1). Untuk mendeskripsikan desain pengembangan produk multimedia pembelajaran interaktif dengan model Luther pada siswa kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2013/2014 di SMP Negeri 5 Negara. 2). Untuk menguji kualitas hasil pengembangan multimedia pembelajaran interaktif dengan model Luther pada siswa kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2013/2014 di SMP Negeri 5 Negara

menurut review para ahli dan uji coba

produk. 3). Untuk mengetahui efektivitas

penggunaan produk multimedia

pembelajaran interaktif terhadap peningkatan hasil belajar IPS pada siswa VIII semester genap tahun pelajaran 2013/2014 di SMP Negeri 5 Negara.

METODE

Penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan multimedia interaktif adalah model pengembangan untuk produk Computer Asissted Intruction- CAI, atau Computer

(5)

assisted Learning-CAL (Pembelajaran

Berbantuan Komputer) yang

dikembangkan oleh Luther (dalam Sutopo, 2003:32). Pemilihan model ini didasari atas pertimbangan bahwa model ini dikembangkan secara terprogram dengan urutan kegiatan yang sistematis dalam upaya pemecahan masalah belajar yang berkaitan dengan media belajar yang

sesuai dengan kebutuhan dan

karakteristik siswa. Model ini terdiri dari enam tahap kegiatan, yakni: (1) konsep (Concept),(2) perancangan (Design), (3) pengumpulan bahan (Collecting Materials), (4) pembuatan (Assembly), (5) uji coba (Testing), dan (6) distribusi (Distribution).

Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian pengembangan multimedia interaktif ini terdiri dari metode pencatatan dokumen, metode kuesioner/angket, metode tes. 1). Metode pencatatan dokumen digunakan dalam penelitian untuk mengumpulkan data serta mendeskripsikan laporan desain perkembangan produk media interaktif. 2). Metode kuesioner/angket. Kuesioner ini digunakan oleh review dari ahli isi mata pelajaran, ahli desain pembelajaran, ahli media pembelajaran dan uji coba siswa.3). Metode tes yang digunakan pada penelitian ini ialah tes hasil belajar yaitu tes objektif atau pilihan ganda.Tes objektif atau pilihan ganda ini digunakan pada uji efektifitas hasil belajar siswa.Adapun pembahasan uji coba instrumen tes hasil belajar adalah sebagai berikut. (1) Uji validitas instrumen.

instrumen akan diuji cobakan pada 30 orang responden yaitu siswa kelas VIII A di SMP Negeri 5 Negara karena tingkat kemampuan intelektual siswa tersebut setara dengan subyek penelitian.Dalam penelitian ini jumlah responden dalam uji coba tes hasil belajar IPS adalah 30 orang, sehingga diperoleh rpbi(tabel) untuk N=30 adalah 0,361. Jumlah butir soal tes hasil belajar IPS yang diujicobakan adalah sebanyak 30 butir. (2) Uji reliabilitas instrument. Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui apakah Instrumen yang akan digunakan valid atau tidak jika digunakan kembali di kemudian hari.Dari hasil perhitungan yang dilakukan dapat

disimpulkan bahwa Instrumen memiliki reliabilitas KR-20 sebesar 0,71. Hasil tersebut jika dimasukan ke dalam derajat reliabiltas tes yang dikemukakan oleh Guilford (dalam Candiasa, 2010:107) termasuk ke dalam kategori tes tinggi.(3) Uji taraf kesukaran tes. Uji taraf kesukaran dilakukan untuk mengklasifikasikan tingkat kesukaran Instrumen yang memiliki kategori sukar, sedang, dan mudah. Dari 24 butir soal yang diuji, terdapat dua soal dengan taraf kesukaran “sukar”, enam belas soal dengan taraf kesukaran “sedang” dan enam soal dengan taraf kesukaran “mudah”. Hasil tersebut kemudian digunakan sebagai Instrumen dalam uji efektivitas. (4) Uji daya beda instrumen. Daya beda digunakan untuk mengetahui apakah Instrumen yang digunakan tersebut memiliki kemampuan untuk membedakan antara sampel yang pandai dengan sampel yang kurang pandai.Hasil dari uji daya beda didapatkan bahwa terdapat dua soal memililki kategori daya beda baik, dua belas soal memiliki kategori daya beda sangat baik dan sembilan soal memiliki kategori kurang baik. Dari hasil perhitungan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Instrumen memiliki daya beda perangkat tes sebesar 0,202. Hasil tersebut jika dimasukan kedalam kreteria daya pembeda yang dikemukakan oleh Fernandes (dalam Koyan, 2011:141) termasuk ke dalam kriteria baik.

Penelitian pengembangan ini digunakan juga teknik analisis data, yaitu teknik analisis deskriptif kualitatif, analisis

deskriptif kuantitatif dan analisis statistik

Inferensial. Teknik analisis deskriptif kualitatif ini digunakan untuk mengolah data hasil review ahli isi bidang studi atau mata pelajaran, ahli desain pembelajaran, ahli media pembelajaran, siswa dan guru mata pelajaran. Teknik analisis data ini dilakukan dengan mengelompokkan informasi-informasi dari data kualitatif yang berupa masukan, tanggapan, kritik, dan saran perbaikan yang terdapat pada angket dan hasil wawancara. Hasil analisis ini kemudian digunakan untuk merevisi produk yang dikembangkan. Teknik analisis ini digunakan untuk

(6)

mengolah data yang diperoleh melalui angket dalam bentuk deskriptif persentase. Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase dari masing-masing subyek adalah sebagai berikut.

𝑃𝑟𝑜𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒

= 𝐽𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 × 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑝𝑖𝑙𝑖ℎ𝑎𝑛 𝑛 × 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 × 100%

(Tegeh dan Kirna, 2010:101) Keterangan:

∑ = jumlah

n = jumlah seluruh item angket

Selanjutnya, untuk menghitung prosentase keseluruhan subjek digunakan rumus:

𝑃𝑟𝑜𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 = 𝐹

𝑁 × 100%

(Tegeh dan Kirna, 2010:101) Keterangan:F= jumlah prosentase

keseluruhan subjek N = banyak subjek

Untuk dapat memberikan makna dan pengambilan keputusan digunakan ketetapan sebagai berikut.

Analisis ini digunakan untuk mengetahui tingkat efektivitas produk terhadap hasil belajar siswa kelas VIII D di SMP Negeri 5 Negara sebelum dan

sesudah menggunakan produk

pengembangan multimedia pembelajaran interaktif. Data uji coba kelompok sasaran dikumpulkan dengan menggunakan pre-test dan post-test terhadap materi pokok yang diuji cobakan. Hasil pre-test dan

post-test kemudian dianalisis menggunakan uji-t untuk mengetahui

perbedan antara hasil pre-test dan post-test.

Pengujian hipotesis digunakan uji-t berkorelasi dengan bantuan program

komputer Microsoft Office Excel 2007 dan pemutahiran hasil dengan penghitungan manual. Sebelum melakukan uji hipotesis (uji-t berkorelasi) dilakukan uji prasyarat (normalitas dan homogenitas). Rumus untuk menghitung uji prasyarat dan uji hipotesis (uji-t berkorelasi) sebagai berikut. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran skor pada setiap variabel berdistribusi normal atau tidak, untuk itu dapat digunakan rumus Chi-Kuadrat yaitu sebagai berikut:

fe

fe

fo

2 2

(Sumber: Koyan, 2012:90) Keterangan : x2 = chi – kuadrat fo = frekuensi observasi fe = frekuensi harapan

Kriteria pengujian : data berdistribusi normal jika

2hitung

2tabel pada

taraf signifikansi α = 0,05 dengan derajat kebebasan k-1.

Tabel. 1 Konversi Tingkat Pencapaian dengan Skala 5 (Sumber: Tegeh & Kirna, 2010: 101)

Tingkat Pencapaian (%)

Nilai Angka Nilai Huruf Predikat Keterangan

90 – 100 4 A Sangat baik Tidak perlu direvisi

80 – 89 3 B Baik Sedikit direvisi

65 – 79 2 C Cukup Direvisi secukupnya

55 – 64 1 D Kurang Banyak hal yang direvisi

(7)

Uji homogenitas varians dilakukan untuk mencari tingkat kehomogenan hasil uji free-test dan post-test dengan menggunakan rumus uji Fisher (F), yaitu sebagai berikut.

F =𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙

(Koyan, 2012:34)

Kriteria pengujian H0 diterima jika Fhitung< Ftabel yang berarti sample homogen. Uji dilakukan pada taraf signifikan 5% dengan derajat kebebasan untuk pembilang n1 – 1 dan derajat kebebasan untuk penyebut n2 – 1.

Uji Hipotesis, Metode analisis statistik inferensial adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menerapkan rumus-rumus statistik inferensial untuk menguji suatu hipotesis penelitian yang diajukan peneliti, dan kesimpulan ditarik berdasarkan hasil pengujian terhadap hipotesis. Dalam penelitian ini, statistik inferensial yang digunakan adalah uji beda. Uji beda (uji-t) dilakukan untuk menguji perbedaan nilai rata-rata hitung antara dua kelompok sampel yang berkorelasi. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

2 2 1 1 2 2 2 1 2 1 2 1

2

n

s

n

s

r

n

s

n

s

X

X

t

(Sumber: Koyan 2012:29) Keterangan: 1

X = rata-rata sampel 1 (sebelum

menggunakan media)

2

X = rata-rata sampel 2 (sesudah

menggunakan media)

S1 = simpangan baku sampel 1 (sebelum menggunakan media)

S2 = simpangan baku sampel 2 (sesudah menggunakan media)

S12 = varians sampel 1 S22 = varians sampel 2

r = korelasi antara dua sampel Hasil uji coba dibandingkan ttabel dengan taraf signifikan 0,05 (5%) untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara

sebelum dan sesudah menggunakan produk multimedia pembelajaran interaktif.

.

H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan (5%) antara sebelum dan sesudah menggunakan multimedia pembelajaran interaktif.

H1 : Ada perbedaan yang signifikan (5%)

antara sebelum dan sesudah

menggunakan multimedia pembelajaran interaktif.. Hipotesis Statistiknya: H0: μ1 = μ2 H1: μ1 ≠μ2 (Koyan, 2012:29) Keputusan:

Bila thitung ≥ t ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima

Bila thitung ≤ dari ttabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini, dilakukan untuk menjawab tiga pertanyaan yang berkaitan dengan pemanfaatan multimedia interaktif dalam proses pembelajaran khususnya untuk perannya dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun pembahasan hasil penelitian sebagai berikut. Fokus pertama penelitian ini adalah desain dari multimedia pembelajaran. Pada desain multimedia pembelajaran interaktif, judul diletakkan pada bagian atas. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran awal pada pembaca tentang multimedia pembelajaran interaktif. Pilihan menu utama diletakkan pada bagian bawah judul agar setelah melihat judul, pengguna langsung dapat melihat ke bagian pilihan menu utama. Tombol kontrol musik terletak pada bagian kanan dibawah tombol menu, agar mudah terlihat oleh pengguna.Tombol kontrol tampilan layar diletakkan pada pojok kanan atas dengan pertimbangan untuk menyesuaikan dengan software komputer pada umumnya.

Pada judul media, ukuran teks yang digunakan yaitu 32 point. Ini dilakukan agar mata tertuju pada judul media terlebih dahulu sehingga dipilih ukuran teks yang lebih besar. Hal ini didukung dengan teori menurut Angela & Cheung

(8)

(dalam Sudatha dan Tegeh, 2009) tentang pemilihan jenis huruf dalam desain multimedia pembelajaran. Pada layar atau frame halaman, ukuran teks yang digunakan tidak kurang dari 12 point agar teks mudah dibaca. Ukuran teks yang terlalu kecil dapat mempersulit pengguna media untuk membaca teks tersebut.

Warna pada latar belakang (background) dipilih gradasi putih, karena warna putih merupakan warna yang dirasa cocok untuk menggambarkan konten secara umum multimedia yaitu mengenai keadaan suatu daerah. Pada judul, warna huruf yang dipilih adalah kuning, sebab warna latar belakangnya adalah putih.Pada pilihan menu utama, desain dibuat dengan latar belakang merah bata, dan tulisan pada pilihan menu dipilih warna putih dan kuning. Pada isi sajian konten, warna latar belakang adalah putih, sehingga warna huruf yang digunakan yaitu dominan warna hitam.

Animasi yang digunakan pada multimedia pembelajaran interaktif ini yaitu animasi teks pada judul dan animasi tombol pada sound. Animasi tombol pada

sound digunakan agar tombol terkesan lebih menarik.

Fokus peneliti yang kedua adalah

kelayakan hasil pengembangan

multimedia pembelajaran. Terdapat 4 aspek yang harus dipenuhi untuk mencapai tingkat kelayakan yang ditentukan, diantaranya: 1). Kualitas multimedia pembelajaran dilihat dari aspek isi mata pelajaran berada pada kategori sangat baik, dengan persentase 98%. 2). Kualitas multimedia pembelajaran dilihat dari aspek desain pembelajaran berada pada predikat sangat baik, dengan persentase 88%. Perolehan kualitas multimedia pembelajaran dengan predikat sangat baik dikarenakan mudahnya pengoperasian multimedia pembelajaran. 3). Kualitas multimedia pembelajaran dilihat dari aspek media pembelajaran berada pada predikat baik, dengan persentase 81,25%sehingga multimedia pembelajaran interaktif tidak perlu direvisi. 4). Kualitas multimedia pembelajaran pada uji coba perorangan berada pada predikat baik, kelompok kecil berada dan lapangan berada pada predikat sangat baik. Dilihat

dari persentase, uji coba perorangan mencapai tingkat persentase 82%, pada aspek uji kelompok kecil mencapai tingkat persentase 88,5% dan pada aspek uji coba lapangan mencapai tingkat persentase 91%.

Fokus peneliti yang terakhir adalah pengujian tentang keefektivitasan multimedia pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun pembahasan tentang hasilnya adalah sebagai berikut. Efektivitas multimedia pembelajaran dalam penelitian ini diukur dengan melakukan tahap eksperimen dengan menggunakan pretest dan

posttest terhadap siswa kelas VIII D di SMP Negeri 5 Negara. Hasil dari pretest

dan posttest setelah dilakukan penghitungan secara manual dengan uji t menunjukkan bahwa harga thitung>ttable :16,05> 1,993; ini berarti H1 diterima dan H0 ditolak, jadi terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum menggunakan multimedia pembelajaran interaktif dan sesudah menggunakan multimedia pembelajaran interaktif. Hal ini

menunjukkan bahwa penggunaan

multimedia pembelajaran interaktif yang telah dikembangkan berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar IPS pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Negara.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indrawan (2013) dari hasil penelitiannya bahwa hasil nilai posttest lebih besar dari hasil nilai

pretest setelah menggunakan multimedia interaktif inkuiri. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan Budiyasa (2012) dari hasil penelitiannya bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajarsiswa sebelum dan sesudah menggunakan bahan ajar online dan

assesment alternatif online. Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar merupakan tolak ukur keefektifan produk yang dikembangkan. Hasil tes menunjukan nilai rata-rata pre-tes < nilai rata-rata post-test. Melihat nilai rerata tersebut, maka dapat diketahui bahwa multimedia interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Faktor yang menyebabkan multimedia pembelajaran interaktif

(9)

dinyatakan efektif dalam proses pembelajaran yaitu adanya perbedaan antara skor rata-rata hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan multimedia pembelajaran interaktif. Perbedaan skor tersebut karena dalam proses pembelajaran menerapkan multimedia, sehingga siswa lebih termotivasi dan meningkatkan minat belajar siswa yang nantinya akan berdampak pada hasil

belajar dibandingkan dengan

menggunakan metode konvensional yang berpusat pada guru.

Menurut Asyhar (2012) multimedia pembelajaran interaktif merupakan salah satu aspek media yang diunggulkan dan mampu meningkatkan hasil belajar. Hal itu dikarenakan multimedia pembelajaran interaktif yang digunakan dapat menyalurkan pesan pembelajaran serta dapat merangsang kemauan dan perhatian siswa, sehingga secara sengaja proses belajar dapat terjadi. Pada pembelajaran IPS siswa dituntut untuk mampu memahami dengan baik semua materi yang telah disampaikan oleh guru. Pada kenyataannya mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang minim akan praktek dan didominasi dengan penjabaran teori.

Berpandangan dari hal tersebut diharapkan dalam penyampaian materi dalam pembelajaran IPS dapat dikemas

dalam suasana belajar yang

menyenangkan dengan media bantu yang mampu menarik perhatian siswa. Salah satu media yang mampu menarik perhatian siswa yaitu menggunakan multimedia pembelajaran interaktif. Dalam menerapkan multimedia pembelajaran interaktif dalam penyampaian materi, akan membantu dalam menarik minat siswa untuk lebih memperhatikan pembelajaran, sebab pesan atau materi disajikan dalam bentuk teks, gambar, dan video, sehingga materi yang abstrak akan lebih jelas dan siswa lebih mudah memahami materi dengan baik.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dalam penerapan multimedia pembelajaran interaktif pada proses pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan

hasil belajar siswa. Memiliki peranan yang sangat penting karena sudah tentu rata-rata hasil belajar siswa setelah menggunakan multimedia pembelajaran interaktif lebih tinggi dibandingkan rata-rata hasil belajar siswa sebelum menggunakan multimedia pembelajaran interaktif.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan rumusan masalah, hasil analisis data dan pembahasan pada penelitian ini, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut yaitu sebagai berikut. (1) Bahwa desain Pengembangan multimedia pembelajaran interaktif sangat perlu dilakukan untuk mengetahui alur navigasi dari produk yang dikembangkan dari tahap awal hingga akhir, sehingga pada tahap ini menghasilkan flowchart dan storyboard. Konsep dari flowchart dan

storyboard ini dijadikan acuan dalam

mengembangkan multimedia

pembelajaran interaktif. (2) Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, dapat diketahui tingkat validitas multimedia pembelajaran interaktif adalah pertama menurut review/validasi ahli isi mata pelajaran IPS Terpadu terhadap multimedia pembelajaran interaktif adalah 98% dengan kualifikasi sangat baik, kemudiankedua menurut review ahli desain pembelajaran terhadap multimedia pembelajaran interaktif adalah 88% dengan kualifikasi baik, ketiga menurut

review ahli media pembelajaran terhadap multimedia pembelajaran interaktif adalah 81,25% dengan kualifikasi baik. Selanjutnya yang keempat berdasarkan uji coba perorangan terhadap multimedia pembelajaran interaktif adalah 82% dengan kualifikasi baik, kelima berdasarkan uji coba kelompok kecil terhadap multimedia pembelajaran interaktif adalah 88,5% dengan kualifikasi sangat baik, dan yang keenam berdasarkan uji coba lapangan terhadap multimedia pembelajaran interaktif adalah 99% dengan kualifikasi sangat baik. Secara umum multimedia pembelajaran interaktif ini tingkat kualifikasinya tergolong baik, sehingga perlu direvisi sedikit.Telah dilakukan revisi sesuai saran yang

(10)

diberikan oleh ahli desain dan media pembelajaran, sehingga dinyatakan valid dan layak digunakan untuk tahap penelitian selanjutnya yaitu tahap efektivitas produk. (3) Berdasarkan analisis data, dapat diketahui bahwa penggunaan multimedia pembelajaran interaktif ini efektif pada proses pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian menunjukan bahwa harga thitung> ttable yaitu 16,05 > 1,993. Hal ini menunjukkan bahwa multimedia interaktif efektif meningkatkan hasil belajar IPS di SMP Negeri 5 Negara.

Saran yang disampaikan

berkenaan dengan pengembangan multimedia pembelajaran interaktif ini dikelompokkan menjadi empat, yaitu: (1). Siswa, Multimedia pembelajaran interaktif yang dikembangkan telah teruji validitas dan efektivitasnya, maka disarankan bagi siswa untuk menggunakan multimedia interaktif ini sebagai salah satu sumber belajar dan dapat memiliki secara mandiri

oleh siswa, sehingga dapat

mempelajarinya setiap saat.Hal ini diharapkan untuk dapat lebih meningkatkan dan mengoptimalkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. (2). Guru, tersedianya produk multimedia pembelajaran interaktif yang telah teruji validitas dan keefektifan ini disarankan untuk guru agar dapat menjadikan produk ini sebagai salah satu alternatif yang digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga dapat memudahkan siswa dalam

memahami materi yang hendak

disampaikan serta dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. (3). Kepala Sekolah, saran untuk kepala sekolah yaitu agar multimedia pembelajaran interaktif ini dapat disimpan dengan baik di sekolah dan dijadikan sebagai media tambahan dalam proses pembelajaran. Selain itu, diharapkan dapat melakukan pengadaan multimedia pembelajaran interaktif sejenis pada mata pelajaran lainnya guna menunjang proses pembelajaran dan juga dapat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa. (4). Peneliti Lain, saran bagi peneliti lain adalah agar hasil pengembangan multimedia pembelajaran interaktif dengan model Luther ini dapat dijadikan referensi

dalam pengembangan produk sejenis yang dapat diterapkan pada mata pelajaran IPS dengan bahasan yang berbeda maupun pada mata pelajaran lainnya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam proses pembuatan skripsi ini, begitu banyak bantuan yang diperoleh dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini diucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan setulus-tulusnya kepada yang terhormat: Drs. I Ketut Pudjawan, M.Pd., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan atas berbagai kebijakannya sehingga studi ini dapat terselesaikan dengan lancar. Drs. I Dewa Kade Tastra, M.Pd., sebagai Ketua Jurusan Teknologi Pendidikan atas arahan dan bimbingan sehingga studi ini dapat terselesaikan dengan lancar. Prof. Dr. A. A. Gede Agung, M.Pd., sebagai Pembimbing I yang telah banyak memberikan arahan, motivasi dan petunjuk-petunjuk serta bimbingan yang sangat bermanfaat selama penyusunan skripsi ini. Luh Putu Putrini Mahadewi, S.Pd., M.S., sebagai Pembimbing II yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan petunjuk-petunjuk yang sangat bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini. Dr.I Made Tegeh, S.Pd.,M.Pd.,

sebagai ahli desain pembelajaran dan I Kadek Suartama, S.Pd., M.Pd., sebagai ahli media pembelajaran yang telah membantu memvalidasi e-learning yang dikembangkan.Ketut Sunarianta, S.Pd, M.Pd., sebagai Kepala sekolah SMP Negeri 5 Negara yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini. Drs. Ketut Suparta, sebagai ahli isi mata pelajaran dan narasumber serta memfasilitasi pelaksanaan penelitian ini. Siswa-siswi Kelas VIII A, VIII C, VIII D dan OSIS kelas VIII yang telah dengan tekun berpartisipasi dan mengikuti secara langsung penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Agung, A. A. Gede. 2012. Buku AjarMetodologi Penelitian

(11)

Arsyad, Azhar. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Budiyasa, I Made. 2012. Pengembangan Bahan Ajar dan Assessment Alternatif Online Mata Pelajaran IPA Tingkat SMP dengan Model Dick & Carey.Tesis (tidak diterbitkan). Program Studi

Teknologi Pembelajaran,

Undiksha Singaraja.

Indrawan, I Made. 2013. Pengembangan Multimedia Interaktif Berbasis Inkuiri untuk Pembelajaran Komputer Grafis Bagi Siswa Kelas X Desain Komunikasi Visual SMK Negeri 1 Sukawati. Tesis (tidak diterbitkan). Program Studi Teknologi Pembelajaran, Undiksha Singaraja.

Koyan, I Wayan. 2011. Asesmen dalam Pendidikan. Singaraja: Undiksha.

Koyan, I Wayan 2012. Statistik Pendidikan. Singaraja: Undiksha.

Munir. 2010. Kurikulum Berbasis Teknologi Pendidikan. Bandung: CV.Alfabeta.

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Sutopo, Ariesto Hadi. 2003. Multimedia Interaktif dengan Flash. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tegeh, I Made & I Made Kirna. 2010.

Metode Penelitian Pengembangan Pendidikan. Singaraja: Undiksha.

Referensi

Dokumen terkait

Pemanfaatan teknologi hormon dengan konsentrasi dan dosis yang tepat dapat merangsang perubahan jenis kelamin, meningkatkan perkembangan gonad dan pertumbuhan

Penulis bertujuan membangun Sistem Informasi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak untuk membantu pengolahan data laporan polisi pada Polres Madiun Kota dan

- Tujuan pelaksanaan EITI Daerah yaitu : Meningkatkan kerjasama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam upaya transparansi penerimaan negara dari

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan dalam penelitian ini, persepsi masyarakat terhadap dampak pengembangan migas dari kegiatan migas menunjukkan bahwa adanya kegiatan migas

dilakukan oleh para remaja yang berada di tempat wisata pantai Dalegan. Perilaku yang ditujukan kepada orang lain bukan perilakuyang

Dimana tindakan sosial merupakan proses aktor terlibat dalam pengambilan- pengambilan keputusan subjektif tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan tertentu

Terbentuk pengakuan dan penghargaan terhadap praktek-praktek cerdas dan karya-karya terbaik dalam program-program pembangunan yang berorientasi MDGs, yang akan menjadi insentif

Penelitian ini bertujuan untuk; 1) mengetahui strategi yang dipakai dalam mengembangkan objek wisata bahari oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan