• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB MAU’IDHAH AL- MUKMINĪN KARYA SYAIKH MUHAMMAD JAMALUDDIN AL-QĀSIMI SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB MAU’IDHAH AL- MUKMINĪN KARYA SYAIKH MUHAMMAD JAMALUDDIN AL-QĀSIMI SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK

DALAM KITAB

MAU’IDHAH AL

- MUKMIN

Ī

N

KARYA SYAIKH MUHAMMAD JAMALUDDIN AL-

QĀSIMI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh:

NIQMATUL ISTIQOMAH

NIM: 111 13 266

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)

MOTTO

“Hai orang-orang yang beriman, apabila ada seorang fasik datang padamu dengan membawa

suatu berita, maka carilah kenyataannya terlebih dahulu (periksalah dengan seksama), supaya kamu tidak sampai mencelakakan suatu kaum dengan tidak diketahui yang sebenarnya.”

(Q.S Al Hujurat: 6)

Berhati-hatilah dalam melangkah

(6)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT, maka skripsi yang telah penulis susun ini dipersembahkan kepada:

Allah SWT yang telah memberikan kesempatan umur sampai detik ini

sebagai wujud kasih sayangNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Bapak (Muhammad Yamin), Ibuk (Hadhiroh) yang telah begitu ikhlas dan

sabar membesarkan dan mendidikku sampai saat ini.

Ahli baitii, terutama kakak (Hadziq Mubarok) dan kedua adikku (Khoirotul

Ummah dan Muhamad Ali Mahsun) yang menjadi semangatku.

 Romo Kyai As’ad Haris Nasution dan Ibunda Nyai Fatihah Ulfah Imam

Fauzi beserta ahlul bait yang dengan sabar dan tulus mendidikku.

Calon suamiku mas Zainul Arifin yang selalu memberikan semangat

sampai terselesaikannya skripsi ini.

Dewan Asatidz wa al-Asatidzah Al-Manar khususnya Ning Latif, mbok

Diyah, kakak Atik, dek Enduutt, dek U, dek enNur, dek Rif’a, dek Umah, dek

Tipeh, dek anggik, dek Robiah, dek Mia, dek Yeyen, dek Eva, dek Uyun, dek Dilla yang telah sudi ikut berjuang bersama penulis. Terima kasih telah memberikan banyak hal, memberikan motivasi, dukungan, baik dukungan secara fisik atau non fisik. Umumnya kepada seluruh keluarga Al-Manar yang telah menjadi keluarga kedua penulis.

Teman sekaligus sahabat penulis, terkhusus buat Mbak Uyul dan Mbak

Qiemta yang telah mendukung, menemani perjuangan penulis hingga saat ini.

(7)

KATA PENGANTAR

ميحّرلا نحمّرلا للها مسب

َرئاصب َرّصبو ،َينِّقتملِل ِةداعّسلا َجهنم َلّهسو ،َينِبلاّطلل َقيرّطلا َحضوأ يِذّلا ِلله ُدملحا

ِناسحلإا َراونأو ِنايملإا َرارسأ مهَحنمو ،ِنيِّدلا في ِماكحلأاو ِمكلحا ِرئاسب َينِقّدصلما

ّلإ هلإ لآ ْنأ ُدهشأو ،ِينقيلاو

ّنأ ُدهشأو ،ُينبلما قلحا َُللما ُهل ََيرش ل َدحو ُللها

ِب ُللها ِدِرُي ْنَم ُلئاقلا ،ُينملا ُدعولا ُقداّصلا هُلوسرو ُدبع اًدممح انَدّيس

ُهْهِّقَفُ ي اًرْ يَخ ِه

ِنيّدلا ِموي َلَإ ٍناسحإب مله ،َينِعباّتلاو هِباحصأو هِلآ ىَلعو ِهيلع ُللها ىّلص ،ِنْيِّدلا ِفي

.

Puji syukur penulis panjatkan kepada Sang Raja alam semesta (Allah

‘Azza wa Jalla). atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini, meskipun dalam wujud yang sederhana dan jauh

dari sempurna. Sholawat dan salam Allah SWT, semoga senantiasa

terlimpahkan kepada Sang Pemimpin hidupmanusia dan yang menjadi

cakrawala rindu para umatnya (nabi Muhammad SAW).

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan dapat

diselesaika tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis

menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. Selaku Rektor Institut Agama Islam

Negeri (IAIN) Salatiga.

2. Bapak Suwardi, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu

Keguruan IAIN Salatiga.

3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag., selaku Ketua Jurusan PAI IAIN Salatiga.

4. Ibu Dra. Ulfah Susilawati, M.SI. Selaku pembimbing yang telah

(8)
(9)

ABSTRAK

Niqmatul Istiqomah. 2017. Nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Mau’idhah al-Mukminīn Karya Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dra. Ulfah Susilawati, M.SI.

Kata kunci: Nilai-nilai Pendidikan Akhlak.

Lingkungan memberikan kontribusi sangat besar dalam kehidupan, dan dapat membentuk suatu kebiasaan terhadap seseorang. Terlebih pada pertumbuhan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Baik buruknya lingkungan akan diikuti oleh mereka. Maka, dengan bekal pendidikan akhlak seseorang akan mengetahui batas mana yang baik dan batas mana yang buruk. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pendidikan akhlak menurut Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi dalam kitab Mau’idhah al

-Mukminīn. Pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah: (1) Apa saja pokok bahasan yang terdapat dalam kitab Mau’idhah al-Mukminīn, (2) Bagaimana model pendidikan akhlak yang terdapat dalam kitab Mau’idhah al -Mukminīn, dan (3) Bagaimana implikasi pendidikan akhlak dalam kitab

Mau’idhah al-Mukminīn dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library

research). Sumber data primer adalah kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, sumber

sekundernya adalah kitab Mau’idhah al-Mukminīn dan terjemahannya serta sumber tersiernya adalah kitab-kitab dan buku-buku lain yang bersangkutan dan relevan dengan penelitian. Adapun teknis analisis data menggunakan metode content analysis dan reflektif thinking.

Temuan penelitian ini, menunjukkan bahwa pokok bahasan yang terdapat dalam kitab Mau’idhah al-Mukminīn karya Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi secara garis besar menjelaskan tentang berbagai hikmah ‘ibadah,

mu’amalat, munakahat serta pendidikan akhlak. Model pendidikan akhlak yang terdapat dalam kitab Mau’idhah al-Mukminīn dikelompokkan menjadi tiga skala besar, yaitu pendidikan terhadap Allah SWT, pendidikan terhadap diri sendiri dan pendidikan terhadap lingkungan. Sedangkan implikasi dalam kehidupan manusia sehari-hari sesuai dengan apa yang di jelaskan dalam kitab Mau’idhah al

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN BERLOGO ... ii

HALAMAN NOTA PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

DEKLARASI ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... ix

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelilitian ... 7

D. Kegunaan Penelitian ... 8

E. Penegasan Istilah ... 8

F. Metode Penelitian ... 10

G. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II. BIOGRAFI A. Sekilas Kitab Mau’idhah al-Mukminīn ... 14

1. Latar Belakang Kitab Mau’idhah al-Mukminīn ... 14

(11)

B. Biografi Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi ... 31

1. Riwayat Hidup Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi ... 31

2. Pendidikan dan Perjuangan Syaikh Muhammad Jamaluddin

al-Qāsimi ... 33

3. Karya-karya Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi ...,... 37

BAB III. DESKRIPSI PEMIKIRAN SYAIKH MUHAMMAD JAMALUDDIN AL-QĀSIMI TENTANG NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB MAU’IDHAH AL-MUKMINĪN

A. Pengertian Pendidikan Akhlak ... 39

1. Pengertian Pendidikan ... 39

2. Pengertian Akhlak ... 41

B. Pemikiran Syeh Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi tentang Nilai

Pendidikan Akhlak dalam Kitab Mau’idhah al-Mukminīn ... 42

BAB IV. ANALISIS NILAI PENDIDIKAN DALAM KITAB

MAU’IDHAH AL-MUKMINĪN

A. Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Mau’idhah al-Mukminīn ... 54

B. Implikasi Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kehidupan Manusia

Sehari-hari ... 88

C. Kelebihan dan Kekurangan Kandungan Kitab Mau’idhah al

-Mukminīn bagi Pendidikan Akhlak ... 94

BAB V. PENUTUP

A. Kesimpulan ... 96

(12)
(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam merupakan agama rahmatan lil’alamin yang dibawa oleh

Rasulullah SAW. Islam sangat memperhatikan segala aspek yang dikerjakan

manusia, mulai dari hal-hal yang terkecil sampai pada hal-hal yang besar.

Baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan manusia. Dalam hal

ini Islam memberikan pendidikan kepada manusia dan sebagai pedoman

hidup untuk manusia seluruh alam. Rasulullah SAW. sebagai utusan yang

menyempurnakan akhlak manusia, karena beliau dalam hidupnya penuh

dengan akhlak-akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang baik. Para sahabat dan

keluarga beliau menjadikan perjalanan Nabi SAW. sebagai pelita untuk

penyiaran agama. Hal ini digambarkan oleh Allah di dalam al-Qur’an:

ميظع قلخ ىلعل َّنإو

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung". (Q.S. Al-Qalam: 4) (http//www.alquran-digital.com).

Pujian Allah tersebut merupakan kepribadian yang terdapat dalam diri

Rasullullah. Yang memang benar-benar dituangkan dalam kehidupan

sehari-hari beliau. Akhlak ditempatkan dalam mata air Islam yang pertama

berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah dan dia itu agama secara keseluruhan.

Jika ada sedikitpun kekurangannya, hubungan suatu umat dengan Allah atau

(14)

berkurang dan akhlaknya akan menurun sebanyak kekuranganya itu

(Masy’ari, 2008: 11).

Agama Islam sangat memperhatikan masalah akhlak, melebihi

perhatiannya dari hal-hal yang lain. Perhatian itu sampai sedemikian rupa,

sehingga akhlak sebagai salah satu pokok tujuan risalah. Akhlak merupakan

lambang kualitas seorang manusia, masyarakat, dan umat. Karena itulah

akhlak yang menentukan eksistensi seorang muslim. Agama Islam

mempunyai tiga cabang yang saling berkaitan, yaitu akidah, syariat, dan

akhlak. Akhlak hendaknya menciptakan manusia sebagai makhluk yang

tinggi dan sempurna, dan membedakannya dengan makhluk-makhluk

lainnya. Akhlak hendak menjadikan orang berakhlak baik, bertindak tanduk

yang baik terhadap manusia, terhadap sesama makhluk, dan terhadap Tuhan

(Masy’ari, 2008: 10).

Saat ini lingkungan pergaulan sudah sangat mengkhawatirkan, karena

sudah sangat banyak hal-hal yang buruk yang dilakukan oleh remaja.

Lingkungan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam kehidupan, dan

dapat membentuk suatu kebiasaan terhadap seseorang (Al-Jaza’iri, tt: 223).

Terlebih pada pertumbuhan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah.

Baik buruknya lingkungan sedikit banyak akan diikuti oleh mereka. Padahal

semua orang telah menyaksikan bagaimana perilaku orang-orang yang berada

di sekelilingnya sangat memprihatinkan. Kemerosotan akhlak pada anak-anak

saat ini dapat dilihat dengan banyaknya tawuran, mabuk, membolos, berani

(15)

1). Hal ini menjadi keprihatinan bersama. Apabila tidak ada cara untuk

membentengi anak-anak (pelajar) dari terjangan lingkungan yang buruk,

maka bisa dipastikan mereka akan terpengaruh oleh lingkungan yang buruk,

dan bukan tidak mungkin mereka juga akan menjadi terbiasa untuk

melakukan perbuatan yang buruk.

Sesungguhnya manusia mereka yang masih janin, bayi, kanak-kanak,

remaja dan lain-lain. Itu nantinya sudah tentu mereka akan menjadi dewasa,

menjadi manusia besar yang akan merupakan generasi baru untuk

menggantikan para orangtua sekarang yang sudah tua-tua. Orangtua pun

secara pasti akan meninggalkan hidup mereka di alam fana ini, melanjutkan

perjuangan dan penghidmatan pendahulunya terhadap bangsa, negara, juga

agama (Al-Ghalayaini, 2000: 313).

Oleh karena itu, orangtua harus lebih memperhatikan anak-anaknya

dalam soal pendidikan, terutama pendidikan tentang akhlak. Supaya mereka

tidak mudah terpengaruh dengan keadaan lingkungan yang buruk seperti saat

ini. Pada masa yang akan datang kelak, mereka akan menjadi pilar-pilar

penerus perjuangan yang memiliki tingkah laku (akhlak) yang baik, menjadi

penerus bangsa negara, dan juga agama.

Pendidikan akhlak merupakan bagian besar dari isi pendidikan Islam,

posisi ini terlihat dari kedudukan al-qur’an sebagai referensi paling penting

tentang akhlak bagi kaum muslimin: individu, keluarga, masyarakat, dan

umat. Akhlak merupakan buah Islam yang bermanfaat bagi manusia dan

(16)

merupakan alat kontrol psihis dan sosial bagi individu dan masyarakat. Tanpa

akhlak, masyarakat manusia tidak akan berbeda dari kumpulan binatang

(Munzier, 2008: 89).

Dengan bekal pendidikan akhlak, seseorang dapat mengetahui batas

mana yang baik dan mana yang buruk. Juga dapat menempatkan sesuatu

sesuai dengan tempatnya. Orang yang berakhlak dapat memperoleh irsyad,

taufik, dan hidayah sehingga dapat bahagia di dunia dan di akhirat.

Kebahagian hidup oleh setiap orang selalu didambakan kehadirannya di

dalam lubuk hati. Hidup bahagia merupakan hidup sejahtera dan mendapat

ridha dari Allah SWT dan selalu disenangi oleh sesama makhluk (FIP-UPI,

2007: 18).

Merespon akan pentingnya pendidikan akhlak yang harus dimiliki

oleh setiap manusia sebagai bekal hidupnya, Muhammad Jamaluddin

al-Qāsimi seorang ulama terkenal dari Syam (Syiria) akhirnya membuat sebuah

ringkasan dari sebuah kitab yang sangat terkenal setelah melakukan

percobaan dalam beberapa tahun. Kitab yang menurut beliau adalah kitab

yang dapat digunakan untuk memberikan nasihat kepada seluruh umat, yaitu

kitab Ihya’ Ulumuddin sebuah karangan dari al-‘Allamah al-Imam Hujjatul

Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali

Ath-Thusi, ‘alaihir rahmah warridhwan. Beliau kemudian memberi nama

ringkasan tersebut dengan sebutan Mau’idhah al-Mukminīn (Bimbingan

(17)

Menurut beberapa pendapat, kitab Ihya’ Ulumuddin merupakan kitab

yang sempurna dalam hal nasihat. Setelah melakukan percobaan dalam

beberapa tahun, al-Qāsimi sendiri berpendapat bahwa “semanfaat-manfaatnya

kitab yang dapat digunakan untuk bahan pemberian nasihat dan pengingat

kepada seluruh kaum muslim dan mukmin adalah judul-judul yang dipilih

dan disaring dari sebuah kitab yang disaring dari sebuah kitab yang bernama

Ihya’ Ulumuddin.

Suatu ketika secara kebetulan al-Qāsimi sempat bertukar pikiran

dengan al-Ustadz Syaikh Muhammad ‘Abduh, seorang mufti Mesir, tepatnya

pada tahun 1321 tentang apa yang beliau maksudkan tersebut, lalu al-Ustadz

Syaikh Muhammad ‘Abduh berkata “memang dalam urusan ini belum ada

suatu naskahpun yang sudah dikarang, tetapi menurut pendapat kami yang

terbaik adalah kitab Ihya’ Ulumuddin, namun harus dibuat sebuah kesimpulan

atau keringkasannya terlebih dahulu.” Ada juga seorang yang terkemuka di

daerah Damsyik yang memberikan sebuah pertimbangan kepada orang-orang

yang meminta pendapatnya tentang bagaimana cara mengajarkan kitab

Ihya’Ulumuddin tersebut, sebab sebelumnya beliau mengajarkan bacaannya

sehuruf demi sehuruf, dengan meneliti benar-benar kaidah nahwu sharafnya,

lalu dia mengadu karena merasa sempit dadanya, harus mengadakan

pembahasan yang sukar dimengerti oleh orang-orang awam dan tidak dapat

diambil manfaatnya, kecuali oleh orang-orang khusus saja. Oleh sebab itu,

(18)

sangat penting dan perlu dimaklumi oleh masyarakat umum (Rathomy, 1975:

12).

Dari beberapa pendapat tersebutlah, kemudian Muhammad

Jamaluddin al-Qāsimi semakin mantap untuk membuat sebuah kitab hasil

ringkasan dari kitab Ihya’ Ulumuddin. Meskipun kitab tersebut hanya sebuah

ringkasan, akan tetapi al-Qāsimi tidak merubah tata letak kesesuaian dengan

kitab asli. Selain itu beliau juga mengikuti cara penerbitan seperti keadaan

semula. Hanya, dalam kitab ringkasan tersebut menggunakan kata yang lebih

sederhana dan dapat dipahami oleh masyarakat pada umumnya.

Dari latar belakang di atas, penulis tertarik untuk menggali Nilai-nilai

Pendidikan Akhlak yang terdapat dalam kitab Mau’idhah al-Mukminīn, yang

memuat ulasan-ulasan pemikiran dari Imam al-Ghazali yang telah diringkas

oleh Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi tentang tata cara dan langkah-langkah

seseorang menempuh jalan kehidupan menuju kebahagiaan dunia akhirat.

Untuk itu, maka dalam penelitian ini penulis memberi judul: NILAI-NILAI

PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB MAU’IDHAH AL-MUKMINĪN

KARYA SYAIKH MUHAMMAD JAMALUDDIN AL-QĀSIMI. Penulis

akan berusaha mengulas nilai-nilai pendidikan akhlak yang ada dalam kitab

Mau’idhah al-Mukminīn. Diharapkan nantinya dapat dijadikan referensi

(19)

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apa saja pokok bahasan yang terdapat dalam kitab Mau’idhah al

-Mukminīn?

2. Bagaimanakah model Pendidikan Akhlak yang terdapat dalam kitab

Mau’idhah al-Mukminīn?

3. Bagaimana implikasi model Pendidikan Akhlak kitab Mau’idhah al

-Mukminīn dalam kehidupan manusia sehari-hari?

4. Apa saja kelebihan dan kekurangan kandungan kitab Mau’idhah al

-Mukminīn bagi pendidikan akhlak?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui pokok bahasan yang terdapat dalam kitab Mau’idhah al

-Mukminīn.

2. Mengetahui bagaimanakah model Pendidikan Akhlak yang terdapat dalam

kitab Mau’idhah al-Mukminīn.

3. Mengetahui implikasi model Pendidikan Akhlak kitab Mau’idhah al

-Mukminīn dalam kehidupan manusia sehari-hari.

4. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan kandungan kitab Mau’idhah

(20)

D. Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini dapat dikemukakan menjadi dua bagian,

yaitu:

1. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis

bagi dunia pendidikan akhlak.

2. Kegunaan Praktis

Sebagai masukan yang membangun guna meningkatkan kualitas

lembaga pendidikan terutama pendidikan Islam. Diharapkan dapat

menjadi bahan pertimbangan untuk diterapkan dalam dunia pendidikan

pada lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia.

E. Penegasan Istilah

Untuk menghindari penafsiran dan kesalah pahaman, maka penulis

kemukakan pengertian dan penegasan judul skripsi ini sebagai berikut:

1. Nilai Pendidikan Akhlak

Nilai adalah sesuatu yang dianggap baik, disukai, dan paling

benar menurut keyakinan seseorang atau kelompok orang sehingga

prefrensinya tercermin dalam perilaku, sikap dan perbuatan-perbuatannya

(Ensiklopedia Pendidikan, 2009: 106).

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik

melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan, bagi

(21)

Akhlak adalah suatu bentuk yang kuat di dalam jiwa sebagai

sumber perbuatan otomatis dengan suka rela, baik atau buruk, indah atau

jelek, sesuai pembawaanya, ia menerima pengaruh pendidikan

kepadanya, baik maupun jelek kepadanya (Al-Jaza’iri, tt: 223).

Dengan demikian Nilai Pendidikan Akhlak adalah sesuatu yang

dianggap baik untuk diusahakan dalam membimbing dan mengarahkan

seseorang supaya mencapai suatu tingkah laku (akhlak) yang terpuji,

serta menjadikannya sebagai suatu kebiasaan dalam kehidupan

sehari-hari.

2.Mau’idhah al-Mukminīn

Mau’idhah al-Mukminīn adalah kitab yang ditulis oleh

Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi hasil ringkasan dari kitab Ihya’

‘Ulumuddin karya Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin

Muhammad bin Muhammad al-Ghazali Ath-thusi. Arti kitab ini

mempunyai pengertian bimbingan untuk mencapai tingkat mukmin.

Sebagaimana judulnya, kitab ini membahas penjelasan berbagai

mau’idhah (nasehat atau bimbingan) tentang usaha yang harus ditempuh

untuk mencapai derajat mukmin yang mengharapkan kebahagian di

dunia dan akhirat. Kitab ini terbagi dalam dua jilid. Pada jilid pertama

terdapat 18 bab pembahasan, dimulai dari kata pengantar, khutbah kitab,

kemudian dilanjutkan bab satu, dua, tiga sampai bab 18 yang di dalam

setiap babnya terdapat beberapa fasal dan diakhiri dengan fahrasat

(22)

dimulai dari bab 19 sampai pada bab 34 yang di dalam setiap babnya

terdiri dari beberapa fasal dan diakhiri dengan fahrasat (daftar isi).

3. Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi

Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi adalah pengarang kitab

Mau’idhah al-Mukminīn. Beliau merupakan ulama’ yang sangat

mencintai ilmu. Seorang ulama’ muhaddits dan mufassir terkenal yang

memiliki kegemaran berziarah ke berbagai situs peninggalan Islam,

berkunjung dari satu tempat menuju tempat lain untuk membagikan

ilmunya. Beliau tumbuh dalam didikan ayahandanya sehingga

memperoleh prinsip-prinsip dasar ilmu agama dari orangtuanya.

Muhammad Rasyid Ridha berkata tentang Syaikh Jamaluddin:

“Dia adalah orang alim dari Syam yang langka, pembaru ilmu-ilmu

keislaman, penghidup sunnah dengan ilmu dan amal dalam pengajaran

dan terpelajar, dalam karya dan termasuk dari lingkaran pertemuan antara

petunjuk salaf dan perkembangan yang dibutuhkan zaman. Ia seorang

ahli Fiqih, Mufassir, ahli Hadits, ahli Sastra, Seniman yang takwa dan

selalu kembali kepada Allah yang memiliki karangan melimpah dan

bahasan yang diterima” (Mahmud, 2006: 234).

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Adapun jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian

(23)

bersumber dari pustaka (Hadi, 1990: 3). Dan yang dijadikan obyek kajian

adalah hasil karya tulis yang merupakan hasil dari pemikiran.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang penulis lakukan dalam penelitian

ini adalah dengan menggunakan metode library research (penelitian

kepustakaan). Maka peneliti menggunakan teknik yang diperoleh dari

perpustakaan dan dikumpulkan dari kitab-kitab dan buku-buku yang

berkaitan dengan objek penelitian. Yang terdiri dari tiga sumber:

a. Sumber Primer, adalah sumber yang langsung berkaitan dengan

permasalahan yang didapat yaitu: kitab Ihya’ ‘Ulumuddin.

b. Sumber Skunder, adalah data yang diperoleh dari sumber pendukung

untuk memperjelas data primer. Yaitu kitab Mau’idhah al

-Mukminīn, terjemahan kitab Mau’idhah al-Mukminīn, Al-Qur’an dan

Hadits.

c. Sumber Tersier, dalam penelitian ini, data tersiernya penulis ambil

dari kitab-kitab, buku-buku, dan media elektronik seperti internet,

yang mendukung objek penelitian.

3. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data yang ada, penulis menggunakan tiga

metode, yaitu:

a. Metode Induktif

Metode induktif yaitu metode yang berangkat dari fakta-fakta

(24)

dan peristiwa yang konkrit ditarik dalam generalisasi yang bersifat

umum (Hadi, 1990:26). Metode ini bertujuan untuk mengetahui

fakta-fakta dan peristiwa-peristiwa yang khusus kemudian ditarik

kesimpulan menjadi umum. Metode ini penulis gunakan untuk

menganalisis data tentang nilai-nilai pendidikan akhlak menurut

Jamaluddin al-Qāsimi, yang tertuang dalam kitab Mau’idhah al

-Mukminīn.

b. Metode Content Analysis

Metode Content Analysis (analisis isi) menurut Weber

sebagaimana dikutip oleh Soejono dalam bukunya yang berjudul:

Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan, adalah:

“metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur

untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku atau

dokumen” (Soejono, 2005: 13). Dengan teknik analisis ini penulis

akan menganalisis terhadap makna atau pun isi yang terkandung

dalam ulasan-ulsan kitab Mau’idhah al-Mukminīn dan kaiatanya

dengan nilai-nilai pendidikan akhlak.

c. Metode Reflektif Thinking

Metode Reflektif thinking yaitu berfikir yang prosesnya

mondar-mandir antara yang empiri dengan yang abstrak. Empiri

yang khusus dapat saja menstimulasi berkembangnya yang abstrak

yang luas, dan menjadikan mampu melihat relevansi empiri pertama

(25)

yang dibangunnya (Muhadjir, 1991: 66-67). Metode ini digunakan

untuk melihat implikasi nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab

Mau’idhah al-Mukminīn dalam kehidupan sehari-hari.

4. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang penulis maksud disini adalah sistematika

penyusunan skripsi dari bab ke bab. Sehingga skripsi ini menjadi satu

kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Hal ini bertujuan agar

tidak ada pemahaman yang menyimpang dari maksud penulisan skripsi ini.

Adapun sistematika penulisan skripsi ini sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan, menguraikan tentang : Latar Belakang Masalah,

Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Metode

Penelitian, Penegasan Istilah, dan Sistematika Penulisan sebagai gambaran

awal dalam memahami skripsi ini.

Bab II: Sekilas tentang kitab Mau’idhah al-Mukminīn dan biografi

Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi.

BAB III: Konsep pemikiran Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi.

BAB IV: Pembahasan, menguraikan pokok bahasan, model

pendidikan akhlak dalam kitab Mau’idhah al-Mukminīn, implikasi dalam

kehidupan manusia sehari-hari serta kelebihan dan kekurangan kandungan

kitab Mau’idhah al-Mukminīn bagi pendidikan akhlak.

(26)

BAB II

BIOGRAFI

A. Sekilas Kitab Mau’idhah al-Mukminīn

1. Latar Belakang Kitab Mau’idhah al-Mukminīn

Mau’idhah al-Mukminīn adalah kitab yang mengupas sebagian

tema yang termuat dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, karya Hujjatul Islam

al-Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. Sebagaimana dikatakan

Syaikh Jamaluddin dalam muqaddimahnya, karya ini terlahir dari sebuah

kegundahan rekan sesama ulama terkemuka di Damaskus, di dalam

memberi pemahaman pengkajian kitab Ihya’ bagi kalangan awam, yang

memang menyukai tema-tema agama yang sederhana namun sulit

dimengerti. Al-Ihya’ seakan hanya dapat memberikan manfaat bagi

segelintir orang yang sudah mapan pengetahuan agamanya.

Walhasil, berangkat dari tujuan mulia ini, yakni membumikan

kitab Ihya’ bagi masyarakat, Syaikh Jamaluddin mulai meringkasnya

pada tahun 1323 H/1905 M. Beliau memilih tema-tema yang sederhana,

dengan mengikuti tertib pasalnya sebagaimana kitab aslinya, hingga

tersusun menjadi dua juz (jilid).

Nyatanya, kitab tersebut tidak hanya bertujuan untuk kemudahan

tersebut, bahkan juga menjadi bahan acuan materi para da’i, di dalam

(27)

salah satu sumbangsih terbesar yang terasa hingga kini dari pengabdian

keilmuan Syaikh Jamaluddin al-Qāsimi.

Pemberian nasihat secara merata kepada masyarakat umum serta

mengusahakan memberikan petunjuk kepada mereka secara menyeluruh

merupakan hal-hal yang sangat penting dan utama, khususnya golongan

umat yang istimewa, yakni para alim ulama, mubaligh dan sebagainya.

Karena golongan mereka inilah yang merupakan orang-orang

kepercayaan syariat, bahkan mereka pulalah yang menjadi cahaya lampu,

pelita-pelita ilmu pengetahuan serta penjaga pagar-pagarnya.

Orang-orang salaf terdahulu selalu menyampaikan apa saja yang

terkandung dalam dada mereka, yaitu segala sesuatu yang telah mereka

ketahui mengenai hal ihwal, zaman atau tempat mereka. Kemudian

setelah pembahasan-pembahasan tersebut meluas di kalangan Islam,

mulailah dihimpunkan berbagai petunjuk yang diterima langsung dari

Nabi SAW untuk diketengahkan kepada seluruh umat manusia.

Selanjutnya demi kekuasaan makin luas dan kemajuan makin besar,

maka mulailah percabangan, pengeluaran hukum dan

pengambilan-pengambilan secara beristinbat dalam segala bidang sesuai dengan

peluapan kesempurnaan yang ada. Dengan demikian, buku-buku dan

naskah-naskah dalam berbagai ilmu pengetahuan dapat terkumpul

bagaikan meluapnya air lautan, sehingga menjadi mudahlah pembahasan

secara besar-besaran bagi siapa saja yang ingin memetiknya. Bahkan

(28)

bahan penyiaran, juga sebagai tempat berlindung untuk mengetahui

hakikat-hakikat sari ilmu pengetahuan yang diselidiki. Akhirnya

beraneka ragamlah ciptaan-ciptaan serta susunan-susunan dalam setiap

jenis ilmu tersebut.

Oleh sebab bermacam-macamnya naskah yang sudah tersusun

sehingga pencari atau penuntut ilmu merasa bingung untuk memilih

mana yang tertinggi mutunya. Penyelidikan untuk meneliti mana yang

terbaik tersebut sampai-sampai menjadi tanda kecerdikan dan mengambil

mana yang paling bermanfaat lalu menjadi suatu bukti kepandaian dan

kemajun.

Memberi nasihat kepada golongan kaum awam, yaitu dengan cara

menunjukkan kepada mereka akan jauharnya agama islam, memberi

tahukan kebaikan-kebaikan agama serta kewajiban-kewajibannya,

sunnah serta haramnya, juga memerintahkan kepada mereka agar berbudi

luhur dan mulia, melarang mereka dari segala macam akhlak yang rendah

dan hina, agar dengan demikian mereka dapat menaiki tingkatan yang

akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan mereka merupakan suatu

hal yang penting dan utama untuk dilaksanakan, bahkan termasuk

sekokoh-kokoh kefardhuan yang harus dikerjakan, karena memang Allah

SWT memang sengaja memberikan kepada golongan para alim ulama

supaya mengajak kepada kebaikan, memerintahkan hal yang ma’ruf dan

melarang hal yang munkar, juga agar orang-orang yang menerima ajakan

(29)

mematuhi apa saja yang diperintah dan dilarang, mau memperhatikan apa

yang dijanjikan dan diancamkan, apa yang digembirakan dan apa yang

ditakut-takuti, maka wajiblah bagi setiap penyiar agama Allah SWT

supaya giat dalam usaha untuk menempuh jalan apa saja dalam menuju

kesempurnaan dakwahnya. Hal ini tentu memerlukan kecerdikan dan

kebijakannya. Oleh karena itu, mereka harus pandai-pandai memilih

karangan-karangan yang paling banyak manfaatnya juga harus meneliti

dari inti dan sari mana yang tertinggi mutu dan nilainya. Maka dari itu,

perlulah dicari dengan secermat-cermatnya, sebab belum tentu yang

paling banyak digunakan untuk bahan pengajaran dalam berbagai majlis

berupa kitab yang kokoh dasarnya atau memberikan banyak faidah

kepada masyarakat umum.

Suatu karangan yang berjudul sebagai peringatan-peringatan atau

nasihat-nasihat untuk masyarakat umum merupakan suatu naskah yang

amat tinggi nilainya. Tidak mungkin dapat dikerjakan melainkan oleh

seorang yang bijak, amat cerdik dan pandai.

Seorang juru pengingat, juru pemberi nasihat atau juru pemberi

petunjuk adalah seorang manusia yang amat tinggi kedudukannya. Dia

adalah seorang manusia yang benar-benar menjaga hukum-hukum dan

ketentuan-ketentuan Allah SWT, bekerja untuk menerangi akal pikiran,

mendidik jiwa, menjernihkan serta memberi kebudayaan hati nurani

dalam taraf yang tinggi, memberi cahaya otak, meluruskan i’tikaf dan

(30)

tutup yang menyelubungi faham-faham yang terkekang dan terbatas

karena daki-daki yang disebabkan oleh kebodohan dan pusaka-pusaka

berupa kesesatan semata.

Juru pengingat merupakan pewaris Nabi Muhammad SAW, yang

berdiri tegak atas dasar-dasar dan tujuan syari’at yang murni serta hikmat

yang tersirat di dalamnya, mengetahui letak masalah yang menjadi

perselisihan atau persesuaian antar ulama.

Selain itu, juru pengingat merupakan pendorong utama dalam

mengeluarkan seluruh umat manusia dari kegelapan kebodohan ke dalam

cahaya ilmu pengetahuan, membebaskan dari perbudakan serta belenggu

kekhurafatan dan kemewahan (kebimbangan).

Sepanjang yang diketahui oleh Syaikh Muhammad Jamaluddin

al-Qāsimi, bahwa dari sekian banyak karangan yang telah disusun

sebagai bahan pengingat untuk masyarakat umum, belum dapat beliau

peroleh, yang sekiranya dapat memenuhi syarat-syarat dengan sempurna,

dapat dimengerti benar-benar apa maksud dan tujuannya, dicapai yang

tersurat dan tersirat di dalamnya, mencukupi kebutuhan, memuaskan

karena kelengkapannya, terhindar dari segala macam persoalan yang

rumit, mudah diambil dan dipahami, sehingga setiap juru pengingat yang

memerlukan dapat meminta pertolongan dari padanya, setiap orang yang

menyelidiki dapat petunjuk dengan menelaahnya, bahkan beliau selalu

(31)

yang kira-kira dapat menenangkan hati, sehingga setelah beliau

mengadakan percobaan dalam beberapa tahun pengajaran dari setiap

kitab yang indah, kemudian beberapa tahun kemudian, beliau

berpendapat bahwa semanfaat-manfaatnya kitab yang dapat digunakan

untuk bahan pemberian nasihat dan pengingat-pengingat kepada seluruh

kaum muslimin dan mukminin adalah judul-judul yang dipilih dan

disaring dari sebuah kitab yang bernama Ihya’ Ulumuddin

(menghidup-hidupkan ilmu-ilmu agama), yaitu sebuah karya besar dari al-‘Allamah

al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin

Muhammad al-Ghazali ath-Thusi ‘alaihir rahmah wa ridhwan.

Suatu ketika secara kebetulan sekali Syaikh Jamaluddin al-Qāsimi

bertukar pikiran dengan yang mulia dan bijaksana, yaitu Ustadz Syaikh

Muhammad ‘Abduh, seorang mufti Mesir. Beliau ingin sekali meminta

pendapat dari Syaikh Muhammad ‘Abduh perihal yang beliau

maksudkan, lalu dengan sangat menyesal al-Ustadz mengemukakan buah

pikirannya dan berkata: “Memang dalam urusan ini belum ada suatu

naskahpun yang sudah dikarang, tetapi menurut pendapat kami yang

terbaik adalah kitab Ihya’ Ulumuddin, namun harus dibuatkan sebagai

kesimpulan atau keringkasan terlebih dahulu.” Pendapat yang demikian

tersebut beliau anggap sebagai suatu yang amat kebetulan. Kemudian

beliau ingat pula bahwa ada seorang yang terkemuka di daerah Damsyik

yang memberikan sebuah pertimbangan kepada orang-orang yang

(32)

tersebut, sebab sebelumnya beliau mengajarkan bacaannya sehuruf demi

sehuruf, dengan meneliti benar-benar kaidah nahwu sharafnya, lalu dia

mengadu karena merasa sempit dadanya, harus mengadakan pembahasan

yang sukar dimengerti oleh orang-orang awam dan tidak dapat diambil

manfaatnya, kecuali oleh orang-orang khusus saja. Oleh sebab itu

dikemukakan pendapatnya agar dipilih saja beberapa fasal yang dianggap

sangat penting dan perlu dimaklumi oleh masyarakat umum (Rathomy,

1975: 12).

Dari beberapa peristiwa tersebutlah, kemudian Syaikh

Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi semakin mantap untuk membuat

sebuah kitab hasil ringkasan dari kitab Ihya’ Ulumuddin. Beliau

memulainya sejak tahun 1323 M yang kemudian diberi nama Mau’idhah

al-Mukminīn yang memiliki arti bimbingan untuk mencapai tingkat

mukmin.

2. Sistematika Penulisan Kitab Mau’idhah al-Mukminīn

Kitab Mau’idhah al-Mukminīn terdiri dari dua jilid yang terdiri

dari 34 bab pembahasan dan pada setiap babnya terdiri dari beberapa

fasal, yang dimulai dengan:

a. Khutbah kitab jilid pertama

b. Bab pertama. Pada bab ini membahas tentang ilmu pengetahuan

yang terdiri dari: keutamaan ilmu pengetahuan, keutamaan belajar,

(33)

c. Bab kedua. Pada bab ini membahas tentang akidah ahli sunnah wal

jama’ah tentang dua kalimah syahadat.

d. Bab ketiga. Pada bab ini menjelaskan tentang rahasia-rahasia

thaharah (bersuci) yang terdiri dari:

1) Menyucikan kotoran atau najis, alat penyucian dan cara

menyucikan.

2) Menyucikan hadats, adab kesopanan membuang hajat, cara

beristinjak, cara berwudhu, yang makruh dalam berwudhu,

anggapan terhadap thaharah, cara mandi dan cara tayamum.

3) Kebersihan, membersihkan kotoran yang tidak najis, kotoran

yang menempel, adab kesopanan di tempat mandi, kotoran yang

tumbuh di badan.

e. Bab keempat. Pada bab ini menjelaskan tentang rahasia-rahasia

shalat dan keutamaannya, yang terdiri dari: keutamaan adzan,

keutamaan shalat-shalat yang diwajibkan, keutamaan

menyempurnakan rukun-rukun shalat, keutamaan berjamaah,

keutamaan sujud, kewajiban khusyu’, keutamaan masjid dan tempat

shalat, perilaku shalat yang lahiriah, bacaan do’a iftitah, alfatihah

dan surat-surat lain, ruku’, sujud, tasyahud, berbagai larangan dalam

shalat, fardhu dan sunnah shalat, syarat-syarat bathiniah (khusyu

dan kehadiran hati), sikap bathiniah yang menjadi keistimewaan

kehidupan shalat, cara memelihara kehadiran hati di waktu shalat,

(34)

atau syarat shalat, imam, keutamaan jum’at dan adab-adabnya, aneka

masalah yang perlu diketahui, ibadat-ibadat sunnah, waktu-waktu

yang dimakruhkan untuk shalat, mengqadha shalat-shalat sunnah.

f. Bab kelima. Pada bab ini menjelaskan tentang rahasia-rahasia zakat

yang meliputi: penunaian zakat dan syarat-syaratnya, rahasia zakat

sebagai salah satu sendi islam, kewajiban orang-orang yang

berzakat, pengeluaran zakat dan orang-orang yang berhak

menerimanya, tugas-tugas penerima zakat, keutamaan tata cara

menerima dan memberikannya sedekah sunnah, sedekah tanpa

diketahui orang.

g. Bab keenam. Pada bab ini menjelaskan tentang rahasia-rahasia puasa

yang meliputi: kewajiban-kewajiban puasa yang lahiriah, hal-hal

yang wajib dilakukan karena rusaknya puasa, hal-hal yang sunnah

dilakukan dalam puasa, macam-macam puasa dan tingkatannya,

rahasia puasa dan syarat bathiniah, puasa sunnah.

h. Bab ketujuh. Pada bab ini menjelaskan tentang rahasia berhaji yang

meliputi: keutamaan berhaji, keutamaan Baitullah, Makkah,

Madinah dan menyiapkan keberangkatan ke masjid-masjid,

syarat-syarat wajibnya haji, syahnya rukun-rukun haji,

kewajiban-kewajiban serta larangan-larangannya, urutan perilaku lahiriah sejak

berangkat hingga kembalinya, perjalanan haji, tata cara ihram dari

Miqat sampai masuk kota Makkah, tata cara waktu memasuki

(35)

sebelumnya, berbagai amalan haji lainnya, sifat ‘umrah dan hal-hal

sesudah itu hingga thawaf wada’, berziarah ke Madinah dan tata

caranya, berbagai sunnah sekembali dari bepergian, tata kesopanan

amalan bathiniah, ajaran yang dapat diambil dari ibadah haji.

i. Bab kedelapan. Pada bab ini menjelaskan tentang tata kesopanan

membaca al-Qur’an yang meliputi: keutamaan al-Qur’an dan

pembacanya serta celaan bagi orang yang melalaikan membacanya,

tata cara lahiriah membaca al-Qur’an, amalan bathiniah dalam

membaca al-Qur’an.

j. Bab kesembilan. Pada bab ini menjelaskan tentang dzikir dan do’a

yang meliputi: keutamaan dzikir, keutamaan majlis dzikir,

keutamaan tahlil, keutamaan bertasbih, bertahmid dan dzikir lainnya,

rahasia keutamaan dzikir, keutamaan berdo’a, tata cara memanjatkan

do’a, keutamaan membaca shalawat Nabi SAW, keutamaan

beristighfar (mohon ampun), tata kesopanan tidur, wirid-wirid bagi

orang-orang yang waktunya melulu digunakan untuk beribadat,

keutamaan bangun shalat malam, sebab-sebab yang memudahkan

untuk bangun malam, kenikmatan bermunajat dari segi akal dan

naqal, petunjuk dalam penggunaan waktu malam.

k. Bab ke 10. Pada bab ini menjelaskan tentang tata kesopanan makan,

mengundang makan dan menghormat tamu yang meliputi: hal-hal

yang harus diperhatikan oleh seseorang yang makan, adab sebelum

(36)

kesopanan makan bersama, keutamaan menghidangkan makanan

pada tamu dan tata caranya, beberapa persoalan, undangan dan

jamuan, keutamaan memberi jamuan, aneka ragam adab kesopanan.

l. Bab ke 11. Pada bab ini menjelaskan tentang tata kesopanan

pernikahan yang meliputi: anjuran melakukan pernikahan, hal-hal

yang harus diperhatikan dalam memilih jodoh, kewajiban wali

wanita, pergaulan suami istri, kewajiban suami, hak-hak suami atas

istrinya, kewajiban orang tua terhadab putrinya.

m. Bab ke 12. Pada bab ini menjelaskan tentang tata kesopanan mencari

kasab dan biaya hidup yang meliputi: keutamaan bekerja dan anjuran

melaksanakannya, melaksanakan keadilan dalam bermu’amalat dan

menjauhi penganiayaan, berlaku baik dalam mu’amalat, sikap dan

perhatian pedagang pada agamanya.

n. Bab ke 13. Pada bab ini menjelaskan tentang halal dan haram yang

meliputi: keutamaan halal dan celanya haram, macam-macam benda

halal dan penggolongannya, tingkat halal dan haram, tingkat

syubhat, suatu peringatan, berbagai pembahasan dan penelitian

tentang halal dan haram, bagaimanakah seseorang dapat bertaubat

dari hasil-hasil keuangan penganiayaan.

o. Bab ke 14. Pada bab ini menjelaskan tentang tata kesopanan hidup

rukun dan bergaul yang meliputi: keutamaan hidup rukun dan

persaudaraan, cinta karena Allah SWT, kupasan kebencian karena

(37)

hak-hak persaudaraan dan persahabatan, tata kesopanan bergaul dengan

seluruh lapisan masyarakat, hak-hak orang islam, keluarga dan

tetangganya, hak-hak orang islam , hak-hak tetangga, hak-hak kaum

kerabat dan keluarga, hak-hak kedua orang tua dan anak.

p. Bab ke 15. Pada bab ini menjelaskan tentang ‘uzlah (menyendiri)

dan mukhalatah (bergaul).

q. Bab ke 16. Pada bab ini menjelaskan tentang tata kesopanan

bepergian yang meliputi: tata kesopanan musafir dan rukhsah

(keringanan hukum) yang perlu dipelajari oleh musafir.

r. Bab ke 17. Pada bab ini menjelaskan tentang amar ma’ruf nahi

munkar yang meliputi: kewajiban beramar ma’ruf, keutamaannya

serta celaannya apabila dilalaikan, syarat-syarat untuk nahi munkar,

tingkat-tingkat nahi munkar, tata kesopanan beramar ma’ruf dan

nahi munkar, kemunkaran yang berlaku dalam kehidupan

sehari-hari.

s. Bab ke 18. Pada bab ini menjelaskan tentang adab kenabian dan

akhlak rasulullah Muhammad SAW yang meliputi: pendidikan Allah

SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan al-Qur’an, berbagai

keluhuran akhlak Rasulullah SAW, akhlak dan adab Rasulullah

SAW, percakapan dan ketawa Rasulullah SAW, akhlak Rasulullah

SAW waktu makan, akhlak Rasulullah SAW dalam berpakaian, sifat

pemaaf Rasulullah SAW, kehalusan perangai Rasulullah SAW,

(38)

tawadhu’nya Rasulullah SAW, keadaan tubuh Rasulullah SAW yang

mulia, berbagai mukjizat Rasulullah SAW.

t. Khutbah kitab jilid kedua

u. Bab ke 19. Pada bab ini menjelaskan tentang latihan mental,

pendidikan akhlak dan pengobatan penyakit hati yang meliputi:

keutamaan budi pekerti yang baik dan celanya budi pekerti yang

jelek, pendapat kaum salaf tentang budi pekerti yang baik, peranan

latihan dalam pembinaan akhlak, dorongan untuk mencapai budi

pekerti yang baik, jalan yang ditempuh bagi pendidikan akhlak,

usaha untuk mengetahui cela diri sendiri, ciri-ciri budi pekerti yang

baik, pembinaan akhlak anak-anak.

v. Bab ke 20. Pada bab ini menjelaskan tentang bahaya lisan yang

berisi uraian tentang afat-afat lisan, seperti: berkata yang tidak

berguna, berlebih-lebihan dalam berkata, bercakap-cakap dalam

kebathilan, berbantah dan bertengkar lidah, permusuhan,

membuat-buat keindahan kata-kata, berkata kotor memaki-maki serta ucapan

yang rendah, melaknat, bernyanyi dan bersajak (bersyair), bersenda

gurau, penghinaan dan ejekan, menyiar-nyiarkan rahasia, janji dusta,

berdusta dalam kata dan sumpah, ghibah (mengumpat), mengadu

domba, ucapan orang yang bermuka dua, memuji,

kesalahan-kesalahan dalam pembicaraan yang pelik-pelik, berbagai masalah

(39)

w. Bab ke 21. Pada bab ini menjelaskan tentang celanya marah, dendam

dan hasud (dengki) yang meliputi: celanya marah, tingkatan manusia

dalam hal marah, peranan latihan dalam menghilangkan marah,

sebab-sebab yang menimbulkan kemarahan, usaha menurunkan

kemarahan yang meluap-luap, keutamaan menahan kemarahan,

keutamaan bersikap sabar, membalas ucapan umpatan, dendam dan

natijahnya, keutamaan memaafkan dan berbuat kebaikan, keutamaan

bersikap lemah lembut, cela dengki (iri hati atau hasud), hakikat dan

hukum hasud, sebab-sebab timbulnya kedengkian, usaha

menghilangkan penyakit dengki dari dalam hati.

x. Bab ke 22. Pada bab ini menjelaskan tentang celanya dunia yang

meliputi: dunia yang tercela dan hakekat dunia.

y. Bab ke 23. Pada bab ini menjelaskan tentang celanya kikir dan harta

yang meliputi: celanya harta dan kecenderungan mencintai harta,

kebaikan harta dan usaha menguasainya, jenis harta dan faedahnya,

celanya loba dan tamak, keutamaan kedermawanan, celanya kikir,

mengalahkan diri sendiri dan keutamaannya, batas dermawan dan

kikir serta hakikat kedu sifat tersebut, mengobati kekikiran.

z. Bab ke 24. Pada bab ini menjelaskan tentang celanya pangkat dan

ria’ (pamer) yang meliputi: batas kepangkatan yang dibolehkan,

sebab-sebab senang dipuji dan benci dicela, mengobati cinta

pangkat, mengobati penyakit gemar dipuji, mengobati benci dicela,

(40)

ria’, hukum ria’, tingkatan ria’, tujuan berbuat ria’, ria’ yang samar,

hubungan ria’ dengan amal kebaikan, mengobati ria’,

memperlihatkan ketaatan atau peribadatan, memperlihatkan amal

kebaikan, mempercakapkan amalan setelah selesai, meninggalkan

ketaatan karena ria’, hal-hal yang perlu diketahui dalam melakukan

kebaikan, orang yang melakukan ‘uzlah (menyendiri).

aa. Bab ke 25. Pada bab ini menjelaskan tentang celanya takabbur dan

bangga akan diri yang meliputi: hakikat takabbur dan bahayanya,

hal-hal yang dapat dijadikan kesombongan, akhlak orang tawadhu’,

mengobati sikap takabbur dan berusaha untuk tawadhu’, amalan

sebagai imtihan (latihan), peranan latihan dalam tawadhu’, celanya

ujub, bahaya ‘ujub, pengobatan ‘ujub, hal yang dapat menimbulkan

ujub dan usaha pengobatannya.

bb. Bab ke 26. Pada bab ini menjelaskan tentang celanya tertipu

(ghurur) yang meliputi: hakekat dan celanya ghurur, bentuk ghurur

yang terhebat, kekeliruan dalam memberi pengertian harapan dan

tertipu, letaknya harapan yang benar dan terpuji, macam-macam

orang yang tertipu, penggolongan ahli ibadat yang tertipu,

penggolongan orang tasawuf yang tertipu, para pemilik harta yang

tertipu, menjaga hati agar jangan tertipu.

cc. Bab ke 27. Pada bab ini menjelaskan tentang attaubah (taubat) yang

meliputi: hakikat taubat, kewajiban taubat dan keutamaannya,

(41)

pasti diterima, dosa yang perlu ditaubati, penggolongan dosa kecil

dan besar, dosa kkecil yang dapat menjadi dosa besar, syarat-syarat

kesempurnaan dan kelangsungan taubat, bertaubat dari dosa yang

berhubungan dengan orang lain, penggolongan manusia menurut

kelangsungan taubatnya, yang harus dilakukan oleh orang yang

bertaubat setelah berbuat dosa, usaha menyembuhkan kelangsungan

berbuat maksiat.

dd. Bab ke 28. Pada bab ini menjelaskan tentang sabar dan syukur yang

meliputi: keutamaan sabar, hakikat sabar dan bagiannya, tempat

yang memerlukan kesabaran, usaha untuk bersabar, keutamaan

syukur, hakikat syukur, bersyukur karena Allah, batas mensyukuri

dan kufur ni’mat, sebab yang membelokkan syukur, hal yang

memerlukan sabar dan syukur.

ee. Bab ke 29. Pada bab ini menjelaskan tentang harapan dan ketakutan

yang meliputi: hakikat pengharapan, hakikat ketakutan (khauf),

usaha memperoleh rasa takut.

ff. Bab ke 30. Pada bab ini menjelaskan tentang kefakiran dan

kezuhudan yang meliputi: keutamaan kefakiran, tata kesopanan

orang fakir dalam kefakirannya, tata kesopanan orang fakir dalam

menerima pemberian yang datang tanpa diminta, hukum dan tata

kesopanan orang meminta, keutamaan zuhud dan hakikatnya.

gg. Bab ke 31. Pada bab ini menjelaskan tentang niat, ikhlas dan benar

(42)

berhubungan dengan niat, keutamaan ikhlas dan hakikatnya,

keutamaan berlaku benar dan tingkatannya.

hh. Bab ke 32. Pada bab ini menjelaskan tentang muhasabah (membuat

perhitungan) dan muraqabah (mengadakan penelitian) yang

meliputi: keharusan muhasabah (membuat perhitungan), syarat

kebersihan diri, keutamaan muraqabah (mengadakan penelitian),

hakikat muraqabah, mengevaluasi diri setelah beramal,

memperolok-olok serta mencerca diri sendiri.

ii. Bab ke 33. Pada bab ini menjelaskan tentang berfikir yang meliputi:

keutamaan berfikir, yang perlu difikirkan, cara memikirkan makhluk

Allah SWT, tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dalam tubuh

manusia, tanda kekuasaan Allah SWT dalam bumi,

tanda-tanda kekuasaan manusia dalam tubuh binatang, tanda-tanda-tanda-tanda

kekuasaan Allah SWT dalam lautan, tanda-tanda kekuasaan Allah

SWT dalam udara, tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dalam langit.

jj. Bab ke 34. Pada bab ini menjelaskan tentang mengingat kematian

yang terjadi sesudah itu yang meliputi: keutamaan mengingat

kematian, keutamaan berangan-angan pendek, menyegerakan

beramal dan bahaya menangguhkannya, sakaratul maut dan teladan

yang diambil dari jenazah serta ziarah kubur, kematian anak,

memikirkan alam barzah dan kesengsaraan di hari kiamat, sifat

(43)

kesengsaraan yang dialami di neraka jahannam, keadaan surga dan

berbagai kenikmatannya.

kk. Penutup kitab

B. Biografi Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi

1. Riwayat Hidup Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi

Nama lengkap beliau adalah Jamal ad-Din bin asy-Syaikh

Muhammad Sa’id ad-Dimasyqi bin asy-Syaikh Muhammad Qāsim

al-Hallaq asy-Syafi’i al-Atsari. Ada juga yang menyebutnya dengan Jamal

ad-din bin Muhammad Sa’id bin Qāsimi al-Hallaq al-Qāsimi. Jamaluddin

al-Qāsimi hidup pada paruh kedua abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M,

yang digambarkan sebagai masa-masa yang berat dalam kehidupan era

kemunduran. Beliau lahir pada waktu dhuha, tepatnya pada hari senin 08

jumadal ula tahun 1283 H/1866 M di sebuah desa kecil, Qāsimi, Syam

(Suriah). Beliau meninggal pada sore hari sabtu 23 jumadal ula tahun

1332 H /18 april 1914 M dalam usia 48 tahun (Ghofur, 2008:158).

Syaikh Jamaluddin biasa dipanggil dengan sebutan al-Qāsimi.

Beliau tumbuh di tengah keluarga yang dikenal takwa dan berilmu. Ayah

beliau adalah seorang ahli fiqih dan juga seorang sastrawan bernama Abu

‘Abdillah Muhammad Sa’id Abi al-Khair. Ayahnya mewarisi

perpustakaan yang berisi banyak literatur keilmuan dari kakeknya. Dan

ayahnyalah yang mewariskan dan mengalirkan berbagai ilmu kepada

al-Qāsimi langsung dari sumbernya, yaitu buku-buku. Perlu diketahui,

(44)

tafsir, hadits, fiqih, bahasa, tasawuf, sastra, sejarah ushul fiqih, sosial

kemasyarakatan, olah raga, hukum, perbandingan, filsafat, dan

perbandingan agama (al-Majid, 1997:35-36).

Karena fasilitas tersebut, al-Qāsimi menjadi seorang yang

mengkaji karya-karya para ahli hadits, ushul fiqih, tasawuf, ilmu kalam,

sastra, baik yang klasik maupun kontemporer. Tidak mengherankan jika

beliau menjadi seorang ilmuan yang mumpuni dalam segala cabang ilmu

pengetahuan. Al-Qāsimi dianugrahi kecerdasan yang luar biasa. Karena

itu, amat wajar jika beliau piawai dalam berbagai keilmuan.

Walaupun beliau lebih banyak belajar secara autodidak lewat

buku-buku yang ada di perpustakaan ayahnya, beliau juga tidak bisa

melepaskan diri dari pengaruh ilmuan lain yang dianggap sebagai

gurunya. Muhammad ‘Abduh merupakan salah satu ulama yang banyak

mempengaruhi perkembangan intelektual beliau. Sejak perkenalan beliau

dengan Muhammad ‘Abduh pada tahun 1904, beliau mengganti gaya

bahasa sajak yang sejak lama digelutinya dengan gaya bahasa prosa

dalam banyak karya tulisnya (al-Majid, 1997:35-36).

Kemudian al-Qāsimi menjadi seorang pakar dari berbagai cabang

ilmu pengetahuan dan seni di Syam. Beliau selalu disibukkan dan sangat

peduli terhadap pendidikan. Beliau juga termasuk orang yang anti taklid

dan menyerukan dibukanya pintu ijtihad. Pemerintah pernah

(45)

mengadakan perjalanan intelektual ke negara Suriah. Sehingga kemudian

beliau melanjtkan perjalanan ke Mesir dan menuju Madinah.

Ketika Syaikh Jamaluddin kembali dari perjalanannya, beliau

dituduh oleh orang-orang yang iri kepadanya dengan tuduhan mendirikan

madzhab agama yang baru, yang diberi nama madzhab al-jamalī. Maka,

pada tahun 1313 H beliau ditangkap oleh pemerintah kemudian

diinterogasi. Akan tetapi, akhirnya beliau dibebaskan kembali. Setelah

peristiwa penangkapan tersebut, al-Qāsimi menetap di Damaskus. Beliau

berdiam diri di rumahnya dan mengkonsentrasikan diri untuk mengarang

berbagai kitab dan mencurahkan perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan

sampai akhir hayatnya.

2. Pendidikan dan Perjuangan Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qāsimi

Dalam hal pendidikan, berbagai lembaga pendidikan islam

banyak yang ditutup dan hilang digerus zaman sehingga tampak

kebodohan dan buta huruf melanda kaum muslimin. Bahkan, hampir saja

orang yang mau belajar membaca jumlahnya tidak lebih dari hitungan

jari. Begitulah kondisi masyarakat ketika Syaikh Jamaluddin hidup.

Zafir al-Qāsimi yakni putra Syaikh Jamaluddin menyebutkan,

Sang ayah hidup pada masa penuh kedhaliman dan orang-orang dhalim

(46)

untuk bangkit dari penjajahan Barat sulit diekspresikan, undang-undang

negara terikat kolonialisme dan mengikat rakyat.

Pendidikan dasar keagamaan diperoleh dari ayahnya. Ketika

beranjak dewasa, barulah beliau berguru kepada sejumlah ulama

terkemuka pada masanya, seperti Syaikh al-Bakri al-Authar dan Syaikh

‘Abdur Raziq al-bithar (Ghofur, 2008: 156).

Syaikh Jamaluddin tumbuh dalam keluarga yang mengutamakan

ilmu dan kemuliaan ilmu. Mulanya beliau belajar mengaji kepada

ayahnya, Syaikh Muhammad Sa’id, ulama yang dikenal sebagai ahli fiqih

dan sastra. Kepada ayahnya, Jamaluddin muda memperoleh ilmu yang

banyak. Kemudian beliau menimba ilmu kepada sekian guru. Beliau

belajar al-Qur’an kepada Syaikh ‘Abdurrahman al-Mishri, serta menulis

dan menekuni kaligrafi kepada Syaikh Mahmud al-Qushi. Selanjutnya

beliau mendalami ilmu tauhid dan ilmu bahasa kepada Syaikh Rasyid

Quzaiha, yang termasyhur dengan panggilan “Syaikh Ibnu Sinan”. Untuk

memperbagus bacaan al-Qur’annya, beliau belajar kepada guru besar

qurra` (para qari, pelantun bacaan al-Qur’an) negeri Syam, Syaikh

Ahmad al-Halwani. Kepada Syaikh Salim al-‘Aththar, beliau mengkaji

berbagai kitab besar, seperti Syarh Syudzur adz-Dzahab, Syarh Ibn Aqil,

Jam’u al-Jawami’, Tafsir al-Baidhawi, Shahih Bukhari,

al-Muwaththa`, Mashabih as-Sunnah, hingga memperoleh semua ijazah

ilmu dan kitab atas garis sanad gurunya pada tahun 1301 H/1884 M,

(47)

Ketika ayahnya wafat pada tahun 1898 M, saat beliau berusia 32

tahun dan mengajar di Universitas Sinan, pihak rektorat memintanya

untuk menggantikan kedudukan ayahnya di Universitas tersebut.

Beliaupun menerimanya. Universitas ini kemudian menjadi tempatnya

menunjukkan kapasitas dan kualitas keulamaannya di kemudian hari.

Satu diantaranya adalah aktivitas menulis yang ditempuhinya selama 12

tahun. Maka terlahirlah karya-karya besar, diantaranya kitab Mau’idhah

al-Mukminīn.

Syaikh Jamaluddin adalah seorang imam dan pendakwah bagi

penduduk Syam. Sebagaimana telah disebutkan, sejak belia beliau

mengajar di berbagai pelosok negeri Syam atas ijin pemerintah, sebelum

akhirnya memilih melakukan rihlah (perjalanan) ilmiah ke Mesir,

Palestina, Makkah, dan Madinah. Beliau merupakan seseorang yang suka

berziarah dan melakukan rihlah ilmiah. Beliau berkunjung ke Mesir,

berziarah ke berbagai situs peninggalan masa islam, memberikan kuliah

umum di al-Azhar asy-Syarif, dan melakukan diskusi dengan para ulama

reformasi Mesir, seperti Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridha. Begitu

juga beliau melakukan muhibah ilmiah ke Baitul Maqdis, Makkah, dan

Madinah.

Sebab berhentinya mengajar konon lantaran tuduhan yang

ditimpakan kepadanya, yakni ingin mendirikan madzhab baru dalam

agama yang dinisbatkan kepada namanya. Madzhab Jamalī. Pemerintah

(48)

akan tetapi pada kenyataannya tuduhan tersebut tidak terbukti sama

sekali.

Selama masa penyegelan aktivitas mengajar tersebut, Syaikh

Jamaluddin tidak patah arang. Beliau menyibukkan dirinya dalam

menulis. Beliau tetap mengajar murid-murid serta masyarakat umum.

Kekangan dakwah dan ta’lim yang dihadapinya tersebut justru

membuatnya semakin kreatif dan produktif menulis. Tak kurang dari 73

penulisan buah buku diselesaikannya dalam tempo singkat. Bahkan ada

yang melansir bahwa karyanya mencapai ratusan buku. Belum lagi

profesinya sebagai kolumnis keagamaan di berbagai majalah dan harian,

yang banyak mengungkap buah pikirannya. Sehingga seorang intelektual

Lebanon bernama George Affandi Haddad memujinya dengan sebuah

syair duka cita saat Syaikh Jamaluddin wafat:

Tidurlah dengan nyenyak

Wahai Jamaluddin

Sesungguhnya zaman

Menanggung apa yang menimpamu

Kelak pastilah

Para generasi penerus akan tahu

(49)

Jika generasi yang kini

Tidak tahu kapasitasmu

Riwayat hidup al-Qāsimi tidak pernah sepi dari pengembaraan

menuntut ilmu. Sejumlah kota besar seperti Mesir, Madinah dan

Damaskus pernah disambanginya dalam rangka memuaskan dahaga

pengetahuan. Di usia tuanya, ia lebih sering menghabiskan waktu di

rumah untuk mengarang dan mengoper ilmu kepada murid-muridnya

hingga akhir hayat. Beliau wafat pada sore hari Sabtu 23 Jumadal Ula

1332 H/18 April 1914 M dalam usia 48 tahun. Singkatnya batas usia

kehidupan Syaikh Jamaluddin bertolak belakang dengan pencapaian

keilmuannya. Karyanya jauh melampaui usia. Umur boleh pendek, tapi

karya dan aktivitasnya berjejer panjang (Ghofur, 2008: 157).

3. Karya-karya SyaikhMuhammad Jamaluddin al-Qāsimi

Syaikh al-Qāsimi adalah seseorang yang ahli dalam bidang tafsir,

ilmu-ilmu keislaman, dan seni. Selain itu beliau juga menghasilkan

beberapa karya dibidang lain. Seperti tauhid, hadits, akhlak, tarikh, dan

ilmu kalam. Selain menulis beberapa buah kitab, al-Qāsimi juga

mempublikasikan buah pikirannya di majalah-majalah dan suhuf-suhuf.

Total karyanya berjumlah 72 kitab (Nawaihadl,1986:128).

Karya terawal ditulisnya pada tahun 1299 H/ 1882 M, pada saat

(50)

orisinilnya dari hasil menelaah tema-tema adab, akhlak, sejarah, syair

dan sebagainya.

Intelektualitas Syaikh Jamaluddin yang begitu cemerlang tampak

pada sejumlah karyanya. Beliau menulis berbagai permasalahan agama.

Hal tersebut menandakan keluasannya dalam ilmu pengetahuan. Diantara

karya-karya beliau diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Al-Ajwibah Gahaliyah fil Mustadililin bi Tsubut sunnah

al-Maghrib al-Qabliyah

b. Irsyad al-Khalq

c. Al-Isra’ wa al-Mi’raj

d. ‘Awamir Muhimmah fi Islah al-Qadha asy-Syar’iyy

e. Faslu al-Kalām fi Haqiqat audi Ruh ilal Mayyit hina al-Kalām

f. Al-Bahtsu fi Jami’i al-Qirā’ati al-Utari ‘alaiha

g. Dalail al-Tauhid

h. Mau’idhah al-Mukminīn

i. Qawaid al-Tahdits fi Funun Mutstalah al-Hadits

j. Madzāhib al-A’rab wa falāsifah al-Islām fī al-Jin

k. Jawami’ al-Adab fi Akhlak al-Anjab

l. Ta’thir al-Masyaam fī Mātsari Dimasyqi al-Syām

m. Syarāf al-Asbath

n. Tarjamah al-Imām al-Bukhārii

o. Mahasin al-Ta’wīl fī Tafsīr al-Qur’an al-Karīm

(51)

BAB III

DESKRIPSI PEMIKIRAN SYAIKH MUHAMMAD JAMALUDDIN

AL-QĀSIMI TENTANG PENDIDIKAN AKHLAK

DALAM KITAB MAU’IDHAH AL-MUKMINĪN

A. Pengertian Pendidikan Akhlak

1. Pengertian Pendidikan

Dalam buku kapita selekta pendidikan Islam, bahwa untuk

memahami pengertian pendidikan dengan benar, pendidikan dapat

dibedakan dari dua pengertian, pengertian yang bersifat filosofis, dan

pengertian yang bersifat pendidikan dalam arti praktis (Nata, 2003:210).

Pengertian pendidikan dalam arti teoritik filosofis adalah

pemikiran manusia terhadap masalah-masalah kependidikan untuk

memecahkan dan menyusun teori-teori baru dengan mendasarkan pada

pemikiran normatif, spekulatif, rasional empirik, nasional filosofis,

maupun historis filosofik (Nata, 2003:210).

Pendidikan dalam arti praktis adalah suatu proses pemindahan

pengetahuan ataupun pengembangan-pengembangan potensi-potensi

yang dimiliki subyek didik untuk mencapai perkembangan secara

optimal serta membudayakan manusia melalui proses transformasi

nilai-nilai utama (Nata, 2003:211).

Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional (UUSPN, bab

(52)

mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,

dan atau latihan, bagi perannya di masa yang akan datang” (Nata,

2003:211).

Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan

tidak hanya memanusiakan manusia tetapi juga agar manusia menyadari

posisinya sebagai khalifah Allah fī al-ardhi, yang pada gilirannya akan

semakin meningkatkan dirinya untuk menjadi manusia yang bertakwa,

beriman, berilmu dan beramal saleh (TPIP FIP-UPI, 2007: ix).

Dikatakan dalam kitab ‘Idhatun Nasyi’in, bahwa anak-anak itu

dikemudian hari akan menjadi generasi, jadi ketika telah terbiasa

berprilaku baik yang bisa meningkatkan derajatnya, dan menghasilkan

ilmu yang manfaat bagi negaranya (Al-Ghulayaini, 2009: 69).

Anak-anak itu akan menjadi pondasi kokoh yang akan menjadi

landasan umat, ketika membiasakan budi pekerti yang baik, dan

meninggalkan ilmu yang dapat merusak negara yang ditempati umat itu

sendiri (Al-Ghulayaini, 2009: 69).

Pendidikan bagi kaum muslimin itu merupakan hal yang wajib,

sebagaimana dikatakan imam Ghazali bahwa, mendidik anak adalah

suatu kewajiban bagi kedua orang tuanya, sebab anak adalah amanah

bagi kedua orang tuanya, hati anak yang bersih itu merupakan hal yang

paling berharga dibanding berlian, karena anak yang dididik dan terbiasa

Referensi

Dokumen terkait

Banyak literatur yang berbicara tentang pendidikan akhlak termasuk juga literatur yang bernuansa sastra, yang dalam hal ini salah satunya adalah kitab Al- Barzanji. Pembacaan kitab

Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Media Group, h.. Untuk itu, di sini pentingnya pembinaan akhlak yang membawa generasi yang akan datang kepada ketinggian

Temuan penelitian ini, menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan akhlak yang ada dalam kitab Risalatul Mu’awanah karya Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad

Pendidikan Akhlak Tasawuf Menurut Syaikh Abdullah Bin Husain Ba‟alawi (Telaah Kitab Sullam Taufiq).. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan akhlak dalam surat al- An‟am ayat 151 -153 terdapat akhlak yang baik dan buruk, diantaranya: tidak berbuat

Pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah : (1) Apa saja pemikiran Syaikh Ibrahim al-Bajuri tentang nilai pendidikan tauhid dalam kitab Kifayatul ‘Awam..

Implementasi pada analisis penelitian ini, Sehubungan dengan hak-hak istri atas suami dapat dijelaskan para suami muslim dituntut untuk memiliki cara yang paling baik

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab, “Muflis menurut kita adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta benda.” Maka Nabi