• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI EFEK DIURETIK EKSTRAK ETANOL 70% HERBA SELASIH (Ocimum basilicum L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN BERDASARKAN VOLUME URIN DAN JUMLAH NATRIUM DALAM URIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI EFEK DIURETIK EKSTRAK ETANOL 70% HERBA SELASIH (Ocimum basilicum L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN BERDASARKAN VOLUME URIN DAN JUMLAH NATRIUM DALAM URIN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

UJI EFEK DIURETIK EKSTRAK ETANOL 70% HERBA SELASIH (Ocimum basilicum L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN BERDASARKAN VOLUME URIN DAN JUMLAH

NATRIUM DALAM URIN

TEST DIURETIC EFFECT 70% ETHANOL EXTRACT BASIL HERB (Ocimum basilicum L.) THE WHITE MALE RATS BY VOLUME OF URINE AND SODIUM AMOUNT IN

URINE (1)

Yusi Rachmadhiya, H. Priyanto, Almawati Situmorang

Abstrak

Herba selasih (Ocimum basilicum L.) merupakan tanaman obat tradisional yang secara empiris dapat digunakan sebagai diuretik. Pada penelitian sebelumnya infus herba selasih dengan konsentrasi 10, 20, 30% b/v memberikan efek diuretik pada mencit. Pemberian sediaan dilakukan per oral sebanyak 1 ml/20 g BB mencit. Infus herba selasih 30% b/v memberikan efek diuretik yang sama dengan efek furosemid 0,013% b/v. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek diuretik ekstrak etanol 70% herba selasih (Ocimum basilicum L.) pada tikus putih jantan galur wistar yang diinduksi NaCl 9% b/v. Ekstrak herba selasih dibuat dengan menggunakan metode maserasi. Pada penelitian ini tikus dikelompokkan menjadi 5 kelompok hewan percobaan terdiri dari kelompok I yaitu kelompok kontrol negatif (suspensi Na.CMC), kelompok II adalah kelompok kontrol positif (furosemid), sedangkan kelompok III, IV, V adalah kelompok ekstrak etanol 70% herba selasih dosis 195 mg/200 g BB tikus, 390 mg/200 g BB tikus dan 780 mg/200 g BB tikus, masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih jantan. Setiap tikus diberi zat pembeban NaCl 9% b/v sebanyak 2 ml. Pengujian efek diuretik dilakukan dengan mengukur volume urin dan jumlah natrium dalam urin menggunakan metode AAS (Atomic Absorbansi Spectrofotometri). Analisa data diuji secara statistik dengan ANOVA menunjukkan nilai p = 0,000 < sig 0,05 hal ini menunjukkan ada pengaruh perlakuan antar kelompok. Efek diuretik ekstrak etanol 70% herba selasih (Ocimum basilicum L.) diperoleh pada dosis 195 mg/200 g BB tikus dan 390 mg/200 g BB tikus yang diinduksi NaCl 9% b/v. Kata kunci : diuretik, herba selasih, ekstrak, AAS.

Abstract

Basil herb (Ocimum basilicum L.) is a traditional medicinal plant that can be used empirically as a diuretic. In previous studies basil herb infusion concentrations of 10, 20, 30% w/v had diuretic effect in mice. Oral administration done by 1 ml/20 g BW mice. Basil herb infusion 30% w/v had diuretic effect same as to the effect of furosemide 0.013% w/v. This study aimed at determining the effects of 70% ethanol extract diuretic basil herb (Ocimum basilicum L.) in white male rats wistar NaCl 9% w/v induced. Basil herb extracts prepared by maceration method. The study used 5 groups of test animals, the animals were wistar white male rats, 5 rats each group. Group I was negative control, group II was positive control (furosemide), whereas group III, IV, V is 70% ethanol extract of the basil herb dose of 195 mg/200 g BW rat, 390 mg/200 g BW and 780 mg/200 BW rats. Each rats inducing NaCl 9% w/v oral administration as much as 2 ml. The parameter used measuring the diuretic effect of urine volume and the amount sodium in the urine using AAS method (Atomic Absorbance Spectrofotometri). Analysis of the data were statistically tested by ANOVA showed p = 0.000 < 0.05 result showed that effect of treatment statiticaly has significant different between groups. Diuretic effect of ethanol extract 70% basil herb (Ocimum basilicum L.) have result at dose of 195 mg/200 g BW and 390 mg/200 g BW rats induced NaCl 9%w/v.

(2)

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang terkenal akan kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah. Beraneka ragam jenis tanaman dapat ditemukan di Indonesia. Hal tersebut didukung oleh iklim tropis dan posisi strategis Indonesia yang dilewati oleh garis katulistiwa. Kekayaan flora yang dimiliki tersebut kemudian banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan hidup sehari-hari diantaranya sebagai tanaman obat.

Masyarakat Indonesia sejak dahulu kala telah melakukan serangkaian upaya penanggulangan penyakit menggunakan bahan-bahan dari alam sebagai pengobatan tradisional. Menurut Departemen Kesehatan RI, tanaman obat yaitu tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu, tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai formula bahan baku obat, atau bagian tanaman yang diekstraksikan untuk digunakan sebagai obat(1).

Salah satu jenis tumbuhan tersebut yaitu herba selasih (Ocimum basilicum L.). Tanaman selasih berasa pedas, hangat dan wangi. Tanaman ini digunakan untuk penambah nafsu makan, peluruh keringat, peluruh kencing, pelancar peredaran darah, menghilangkan rasa sakit dan penurun panas. Bijinya berasa manis, pedas dan sejuk, berfungsi sebagai obat radang mata dan bercak putih pada selaput bening mata (corneal opacity). Daun selasih mengandung minyak atsiri, saponin, flavonoida, tanin sedangkan bijinya mengandung saponin, flavonoida dan polifenol(2).

Pada penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa infus herba selasih dengan konsentrasi 10, 20, 30% b/v memberikan efek diuretik pada mencit, yang diberikan per oral sebanyak 1 ml/20 g BB mencit. Infus herba selasih dengan konsentrasi 30% b/v memberikan efek diuretik yang sama dengan furosemid 0,013% b/v(3).

Furosemid merupakan kelompok diuretik kuat yang telah teruji secara ilmiah. Sebagai diuretik kuat, furosemid merupakan obat yang paling sering digunakan di Indonesia, yaitu sekitar 60% dibandingkan dengan diuretik kuat yang lain. Hal ini terjadi karena mula kerja, waktu paruh, dan waktu kerja relatif singkat sehingga efek diuretiknya cepat timbul dan sangat sesuai digunakan untuk keadaan akut. Namun sangat disayangkan pemakaian furosemid dapat menimbulkan efek samping gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, terutama ion natrium dan kalium. Kedua ion ini banyak yang diekskresikan, sehingga bisa menimbulkan hiponatremia dan hipokalemia(4).

Berdasarkan uraian di atas maka akan dilakukan penelitian lanjutan uji efek diuretik ekstrak etanol 70% herba selasih (Ocimum basilicum L.) berdasarkan volume urin dan jumlah natrium dalam urin tikus putih jantan galur wistar, yang diinduksi NaCl 9% b/v per oral. Pengukuran jumlah natrium dalam urin tikus dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS). Ekstraksi herba selasih (Ocimum basilicum L.) dilakukan dengan metode maserasi.

METODOLOGI Alat

Alat yang digunakan adalah tabung maserasi, kertas saring, neraca analitik, vacum rotary evaporator, oven, botol timbang, batang pengaduk, labu ukur, labu erlemeyer, cawan petri, gelas ukur, gelas beker, vial, sonde, pipet mikro, lemari asam, hot plate, kandang hewan uji, kandang metabolisme, timbangan hewan, AAS, dan spidol warna.

Bahan uji

Bahan yang akan diujikan adalah herba selasih (Ocimum basilicum L.) yang diperoleh dari Balitro, Bogor dan dideterminasi di Herbarium Bogoriense, Pusat penelitian Biologi LIPI Cibinong, etanol 70%, Na. CMC, HNO3 (pekat), furosemid, aquadest steril.

(3)

Hewan uji

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih jantan galur wistar berumur 3-4 bulan dengan bobot 200-300 gram, sebanyak 25 ekor yang diperoleh dari Laboraturium Departemen Kesehatan Universitas Indonesia, Jakarta.

Pembuatan ekstrak etanol herba selasih

Herba selasih segar 4 kg dikumpulkan, dibersihkan dari kotoran yang melekat kemudian dicuci dengan air, selanjutnya ditiriskan dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan sampai kering lalu diserbuk dengan bantuan blender kemudian diayak dengan ayakan mesh 20. Serbuk herba selasih dimasukkan ke dalam wadah maserasi dan diberi etanol 70% sebanyak 2 liter. Maserasi dilakukan selama 3 hari dengan 3 kali pengulangan sambil diaduk, kemudian disaring untuk mendapatkan maserat. Maserat diuapkan menggunakan vacum rotary evaporator pada suhu 50°C sampai diperoleh ekstrak kental.

Perhitungan dosis Dosis herba selasih

Berdasarkan data penelitian sebelumnya, infus herba selasih dengan konsentrasi 10, 20, 30% b/v yang diberikan sebanyak 1 ml/20 g BB mencit memberikan efek diuretik pada mencit. Infus herba selasih pada konsentrasi 30% b/v memberikan efek diuretik dengan furosemid dosis 0,013% b/v.

Dosis ekstrak herba selasih yang digunakan pada penelitian ini dihitung berdasarkan perhitungan rendemen yaitu 390 mg/200 g BB tikus. Untuk mengetahui dosis yang efektif sebagai diuretik pada tikus putih jantan maka digunakan 3 dosis yang berbeda yaitu 195 mg/200 g BB tikus, 390 mg/200 g BB tikus dan 780 mg/200 g BB tikus.

Dosis Furosemid

Dosis lazim furosemid pada manusia adalah 40 mg 1 kali sehari. Dosis untuk tikus harus dikalikan faktor konversinya yaitu 0,018 (berdasarkan tabel Paget dan Barners)(20). Sebagai pembanding digunakan dosis 40 mg, apabila dikalikan faktor konversinya pada tikus menjadi 40 mg x 0,018 = 0,72 mg/200 g BB tikus.

Perlakuan pada hewan coba

Percobaan terdiri dari dua tahap, yaitu tahap adaptasi dan tahap perlakuan. Pada tahap adaptasi dilakukan selama 1 minggu. Pada masa adaptasi tikus diberi makan standar dan air minum secukupnya. Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap keadaan umum dan penimbangan berat badan setiap hari agar diperoleh tikus yang sehat dan memiliki berat badan 200 – 300 gram.

Pada tahap perlakuan, sebelum diberikan perlakuan tikus dipuasakan selama 18 jam dan tetap diberi minum. Setiap tikus diberi larutan NaCl 9% b/v sebanyak 2 ml. Setelah diberi larutan NaCl 9% b/v tikus didiamkan selama 30 menit. Lalu masing – masing kelompok diberi perlakuan dan dimasukkan ke dalam kandang metabolisme. Diamati selama 4 jam urin yang dikeluarkan pada masing – masing tikus.

Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima kelompok perlakuan yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih jantan. Perlakuan selama 1 hari. Kelompok I (kontrol negatif), kelompok II (kontrol positif), kelompok III, IV, V (ekstrak etanol 70% herba selasih dosis 195 mg/200 g BB tikus, 390 mg/200 g BB tikus dan dosis 780 mg/200 g BB tikus). Kemudian data dianalisa menggunakan ANOVA satu arah.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengukuran Volume urin

Volume urin tikus putih jantan setelah pemberian ekstrak etanol 70% herba selasih (Ocimum basilicum L.) pada masing-masing perlakuan selama 4 jam dan diagram batang volume urin rata-rata disajikan pada tabel I dan II.

Determinasi merupakan langkah awal dalam penelitian untuk mendapatkan identitas yang benar dari tanaman yang akan diteliti, sehingga dapat memberikan kepastian tentang kebenaran tanaman tersebut. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan terhadap tanaman

(4)

yang akan digunakan. Berdasarkan hasil determinasi tanaman yang akan digunakan sebagai bahan utama dalam penelitian ini adalah benar-benar herba selasih (Ocimum basilicum L.)

Tabel I. jumlah dan volume urine selama 4 jam Ulangan

Tikus

Jumlah volume urin selama 4 jam (ml)

I II III IV V 1 5,20 ml 8,20 ml 6,20 ml 7,80 ml 4,70 ml 2 5,50 ml 6,80 ml 6,90 ml 6,10 ml 2,20 ml 3 4,30 ml 7,30 ml 7,80 ml 8,20 ml 6,80 ml 4 5,10 ml 7,40 ml 7,60 ml 8,40 ml 5,10 ml 5 4,20 ml 8,50 ml 6,40 ml 8,50 ml 5,20 ml ൈഥ 4,86 ml 7,64 ml 6,98 ml 7,80 ml 4,80 ml Keterangan : I = kontrol negatif II = kontrol positif

III = dosis uji I (195 mg/200 g BB tikus) IV = dosis uji II (390 mg/200 g BB tikus) V = dosis uji III (780 mg/200 g BB tikus)

Tabel II. Kadar natrium dari urine

Keterangan : I = kontrol negatif II = kontrol positif

III = dosis uji I (195 mg/200 g BB tikus) IV = dosis uji II (390 mg/200 g BB tikus) V = dosis uji III (780 mg/200 g BB tikus)

Herba selasih yang telah diserbukkan, diekstraksi dengan pelarut etanol 70%. Alasan pemilihan pelarut etanol 70% adalah karena pelarut ini lebih selektif menarik senyawa yang diduga berkhasiat, tidak beracun, netral, kapang dan kuman sulit tumbuh, absorbsinya baik, panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih kecil.

Metode ektraksi yang digunakan adalah metode maserasi. Metode maserasi bertujuan untuk menarik zat-zat berkhasiat baik yang tahan panas maupun yang tidak tahan pemanasan. Keuntungan metode ini adalah pengerjaan dan peralatan maserasi mudah dilakukan. Ekstrak yang diperoleh kemudian diuapkan dengan vacum rotary evaporator sampai kental kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 50oC selama beberapa hari sampai didapatkan bobot yang konstan.

Dalam melakukan penelitian ini, hewan percobaan yang digunakan tikus putih galur wistar dengan jenis kelamin jantan, kondisi lingkungan dan umur yang seragam untuk mengurangi variasi perbedaan dalam aktivitas biologisnya. Sebelum digunakan tikus diadaptasikan terlebih dahulu dengan kondisi lingkungan selama 7 hari kemudian tikus dipuasakan selama 18 jam dan tetap diberi minum, puasa dilakukan dengan tujuan agar bahan percobaan yang diberikan tidak dipengaruhi oleh makanan. Pada penelitian ini tikus dikelompokkan menjadi 5 kelompok hewan percobaan, masing-masing kelompok terdiri dari 5

Ulangan Tikus Kadar Natrium (mg) I II III IV V 1 16,69 mg 46,33 mg 25,92 mg 42,04 mg 21,90 mg 2 17,32 mg 43,31 mg 38,57 mg 38,12 mg 8,88 mg 3 14,40 mg 48,54 mg 41,73 mg 51,41 mg 23,94 mg 4 16,73 mg 48,98 mg 42,03 mg 53,84 mg 15,86 mg 5 13,02 mg 55,93 mg 26,82 mg 48,70 mg 16,90 mg ൈഥ 15,63 mg 48,62 mg 35,01 mg 46,82 mg 17,50 mg

(5)

ekor tikus putih jantan. Setiap tikus diberi zat pembeban yaitu larutan NaCl 9% b/v sebanyak 2 ml, pemberian larutan NaCl 9% b/v bertujuan untuk mengkondisikan tikus agar kandungan natrium di dalam tubuh tikus menjadi tinggi dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Pada percobaan ini kelompok I adalah kelompok kontrol negatif (suspensi Na.CMC), kelompok II adalah kelompok kontrol positif (furosemid) sedangkan kelompok III, IV, V adalah kelompok ekstrak etanol 70% herba selasih dengan dosis 195 mg/200 g BB tikus, 390 mg/200 g BB tikus dan 780 mg/200 g BB tikus. Masing-masing kelompok diberi sediaan uji sebanyak 3 ml untuk 200 g BB tikus. Pemberian sediaan dilakukan secara oral dan volume yang diberikan disesuaikan dengan berat badan hewan percobaan.

Setelah diberi perlakuan masing-masing hewan dimasukkan ke dalam kandang metabolisme yang telah dilengkapi dengan gelas ukur untuk menampung urin. Penampungan urin dilakukan selama 4 jam. Pengujian efek diuretik dilakukan dengan mengukur volume urin dan menghitung jumlah natrium dalam urin. Jumlah natrium dalam urin dapat diketahui dengan mengalikan volume urin yang ditampung dengan jumlah natrium yang didapat. Dalam penelitian ini menggunakan pembanding furosemid, dikarenakan obat tersebut secara klinis dapat meningkatkan ekskresi natrium dalam urin.

Hasil data diuji secara statistik berdasarkan analisa varian satu arah untuk mengetahui apakah ada pengaruh perlakuan atau tidak pada setiap kelompok. Hasil analisa data statistik volume urin menunjukkan bahwa kelompok positif, dosis I, dosis II terdapat perbedaan bermakna terhadap kontrol negatif (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa kelompok positif, dosis I, dosis II memiliki efek diuretik dalam meningkatkan volume urin pada tikus putih jantan galur wistar yang diinduksi NaCl 9% b/v. Sedangkan kelompok dosis III tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap kontrol negatif. Sedangkan kelompok dosis I, dosis II tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap kontrol positif hal ini menunjukkan bahwa kelompok dosis I dan dosis II memiliki efek diuretik yang sama dengan kontrol positif yaitu furosemid, sedangkan dosis III terdapat perbedaan bermakna terhadap kontrol positif.

Pengukuran jumlah urin bermanfaat untuk ikut menentukan adanya gangguan faal ginjal dan kelainan dalam keseimbangan cairan tubuh. Volume urin berkaitan erat dengan penggunaan diuretik karena dapat menyebabkan terjadinya diuresis. Diuretik adalah senyawa atau obat yang dapat meningkatkan volume urin, yang dimaksud dengan diuresis yaitu menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan menunjukkan jumlah pengeluaran zat-zat terlarut dalam urin(22). Peningkatan volume urin yang terjadi sesuai dengan prinsip dari diuretik yaitu obat yang dapat meningkatkan kecepatan pembentukan urin(23).

Hasil analisa data statistik natrium dalam urin berdasarkan analisa varian satu arah menunjukkan bahwa kelompok positif, dosis I, dan dosis II terdapat perbedaan bermakna terhadap kontrol negatif (p < 0,05). Sedangkan kelompok dosis III tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap kontrol negatif.

Hasil data statistik natrium dalam urin menunjukkan bahwa kelompok dosis II tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap kontrol positif hal ini menunjukkan bahwa kelompok dosis II memiliki efek diuretik sama dengan kontrol positif yaitu furosemid, sedangkan dosis I dan dosis III terdapat perbedaan bermakna terhadap kontrol positif .

Na+ difiltrasi dalam jumlah besar tetapi akan mengalami transpor secara aktif disemua bagian nefron kecuali pada bagian ansa henle yang tipis. Dalam keadaan normal 96% sampai 99% Na+ yang difiltrasi akan direabsorpsi. Sebagian besar Na+ akan direabsorpsi bersama-sama dengan klorida (Cl-) tetapi sejumlah kecil akan direabsorpsi secara aktif dalam hubungannya dengan sekresi K+. Klorida dikeluarkan dalam bentuk NaCl dan hampir seluruhnya berasal dari NaCl makanan, jadi pengeluarannya tergantung pada banyaknya NaCl yang masuk. Furosemid dapat menyebabkan terjadinya peningkatan ekskresi natrium dalam urin tikus putih jantan pada 4 jam pengamatan akibat adanya hambatan reabsorpsi Na+ dan Cl- pada tubulus ginjal. Hal ini akan meningkatkan jumlah Na+ yang diekskresikan lewat urin bersama Cl- dalam bentuk NaCl.

Kelompok uji dosis III tidak menunjukkan peningkatan pada tingkat pengeluaran urin selama 4 jam terhadap furosemid sebagai kontrol positif maupun perlakuan lain. Hal ini membuktikan bahwa beberapa tanaman mempunyai ambang batas dosis yang dapat memberikan

(6)

khasiat jika mengkonsumsi suatu tanaman obat dengan jumlah yang banyak tanpa memperhitungkan dosis yang optimal tidak memberikan suatu manfaat yang diinginkan akan tetapi dapat membahayakan tubuh pengkonsumsi(24). Ketepatan ukuran dosis sangat penting, terutama untuk obat tradisional yang diekstrak.

KESIMPULAN

Ekstrak etanol 70% herba selasih (Ocimum basilicum L.) mempunyai efek diuretik pada dosis 195 mg/200 g BB tikus dan dosis 390 mg/200 g BB tikus putih galur wistar yang diinduksi NaCl 9% b/v berdasarkan peningkatan volume urin dan ekskresi natrium dalam urin.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Tanaman Obat Indonesia. http://www.iptek.net.id/ind/tanaman- obat-indonesia/alpokat.htm

Kardinan A. 2003. Selasih Tanaman Keramat Multimanfaat. PT. Argo Media Pustaka. Bogor.

Ahmad T, Jumain, Erniati. 2007. Uji Efek Diuretik Infus Herba Selasih pada Mencit Galur DDY Dengan Metode Frekuensi diuresis dan Volume Urin. Dalam : Majalah Farmasi dan Farmakologi Universitas Hasanuddin Makassar. ISSN, Makassar. 68-71.

Ganiswarna, SG. 2007. Farmakologi dan Terapi Ed 5. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Hal 389-392.

Hutapea, JR. 1994. Inventaris Tanaman Obat Indonesia (1) Jilid II. Departemen

Kesehatan RI Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat. Jakarta. Hal : 179-180.

Anonim. 2002. Buku Panduan Teknologi Ekstrak. Direktorat Jendral Badan Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Hal : 11-15.

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia, Ed III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Anonim. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan Direktorat Pengawasan Obat Tradisional Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Hal : 3-20.

Harbone, JB. 1978. Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Penerbit ITB Bandung. Hal : 6-8.

Priyanto. 2008. Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa Keperawatan &an Farmasi. Penerbit Leskonfi (Lembaga Studi dan Konsultasi Farmakologi). Hal : 130-133. Soekarjo, B dan siswandono. 2008. Kimia Medisinal. Ed II. Airlangga University Press,

Surabaya. Bandung. Hal 208-222.

Tjay, Tan Hoan dan Rahardja,K. 2003. Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya, Ed V. Jakarta : PT. Elexmedia Komputindo Kelompok Gramedia. Hal : 371-382.

Benson, H.J., S.E. Gunstream, A. Talaro dan K.P. Talaro. 1988. Anatomy and Physiology Labolatory text book. 4th ed. USA : w.C.B. Publiser, Hal 215.

(7)

Guyton, A. C. 1997. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit Ed III. Penerjemah : Andrianto, P. Jakarta : EGC. Hal : 287-321.

Anonim. 2002. Penuntun Praktikum Kimia Analisa Instrumentasi. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia.

Markham, K.R. Cara Identifikasi Flavonoid. Diterjemahkan oleh Koesasih Padmawina. Penerbit ITB Bandung. Hal : 10, 24-38.

Robinson, T.K. 1999. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi VI. Diterjemahkan oleh Koesasih Padmawina. Penerbit ITB Bandung. Hal: 193-200.

Anonim. 1995. Materia Medika Indonesia, jilid 6. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Hal. 195-199, 333-337.

Anonim. 1995. Materia Medika Indonesia, jilid 7. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Hal. 338.

Bacharach dan Lawrence. F.R. Domer. 1971. Animal Experiment in Pharmacological Approach. WB. Saunders Company Publisher. Springfield. Hal : 437-495, 569.

Anonim. 2001. Handbook of Pharmaceutical Excipient Third Edition : Washington DC: American Pharmaceutical Association. Hal : 91-93.

Gandasoebrata, R. 1992. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : PT. Dian Rakyat. Hal. 48-52.

Ganong, W. F. 1998. Fisiologi Kedokteran. Ed XVI. Penerjemah : Widjajakusuma, M. D. Jakarta : EGC. Hal. 255.

Duryatmo, S. 2003. Aneka Ramuan Berkhasiat dari Temu-Temuan Rahasia Kesehatan dari Alam. Jakarta : Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.

Gambar

Tabel II. Kadar natrium dari urine

Referensi

Dokumen terkait

EFEK DIURETIK EKSTRAK ETANOL 70% DAUN WORTEL (Daucus carota L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN

dosis ekstrak etanol 70% daun tapak liman (Elephantopus scaber L) yang dapat.. memberikan

STANDARDISASI EKSTRAK ETANOL HERBA KEMANGI ( Ocimum basilicum var. album) merupakan salah satu tumbuhan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional dan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek diuretik dari ekstrak etanol daun senduduk dengan parametervolume urin, kadar natrium dan kadar kalium dalam urin tikus

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek diuretik ekstrak etanol daun senduduk (EEDS) dengan parameter volume urin, kadar natrium dan kadar kalium dalam urin tikus

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek diuretik ekstrak etanol daun senduduk (EEDS) dengan parameter volume urin, kadar natrium dan kadar kalium dalam urin tikus

Berdasarkan hipotesis di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek diuretik dari crude ekstrak etanol herba pecut kuda dengan

Mengetahui dosis ekstrak etanol 70% daun wortel yang menunjukkan efek diuretik pada tikus putih jantan galur Wistar.. Sistematika tanaman