ASPEK TEKNIS PERSEKTOR
Pembangunan Infrastruktur bidang Cipta Karya mencakup 4 (empat) sektor, yaitu pengembangan permukiman, penataan bangunan dan lingkungan,
pengembangan air minum serta pengembangan penyehatan lingkungan permukiman yang terdiri dari air limbah, persampahan dan drainase.
S
SEEKKTTOORR PPEENNGGEEMMBBAANNGGAANN PPEERRMMUUKKIIMMAANN 6
6..11
Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, permukiman didefinisikan sebagai bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau
perdesaan.
Kegiatan pengembangan permukiman terdiri dari pengembangan permukiman kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan permukiman kawasan perkotaan terdiri dari pengembangan kawasan baru dan peningkatan kualitas
permukiman kumuh, sedangkan untuk pengembangan kawasan perdesaan terdiri dari pengembangan kawasan permukiman perdesaan, kawasan pusat pertumbuhan serta desa tertinggal.
Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan 6.1.1
IIssuu SSttrraatteeggiiss PPeennggeemmbbaannggaann PPeerrmmuukkiimmaann
Berbagai iissuu ssttrraatteeggiiss nnaassiioonnaall yang berpengaruh terhadap pengembangan permukiman saat ini adalah:
Mengimplementasikan konsepsi pembangunan berkelanjutan serta mitigasi dan
adaptasi terhadap perubahan iklim.
Percepatan pencapaian target MDGs 2020 yaitu penurunan proporsi rumah
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 22 Perlunya dukungan terhadap pelaksanaan Program-Program
Directive Presiden
yang tertuang dalam MP3EI dan MP3KI.
Percepatan pembangunan di wilayah timur Indonesia (Provinsi NTT, Provinsi
Papua, dan Provinsi Papua Barat) untuk mengatasi kesenjangan. Meminimalisir penyebab dan dampak bencana sekecil mungkin.
Meningkatnya urbanisasi yang berimplikasi terhadap proporsi penduduk
perkotaan
yang bertambah, tingginya kemiskinan penduduk perkotaan, dan bertambahnya kawasan kumuh.
Belum optimalnya pemanfaatan Infrastruktur Permukiman yang sudah
dibangun.
Perlunya kerjasama lintas sektor untuk mendukung sinergitas dalam
pengembangan kawasan permukiman.
Belum optimalnya peran pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan
permukiman. Ditopang oleh belum optimalnya kapasitas kelembagaan dan kualitas sumber daya manusia serta perangkat organisasi penyelenggara dalam memenuhi standar pelayanan minimal di bidang pembangunan perumahan dan permukiman.
Isu-isu strategis di atas merupakan isu terkait pengembangan permukiman yang terangkum secara nasional. Namun, di masing-masing kabupaten/kota terdapat isu- isu yang bersifat lokal dan spesifik yang belum tentu dijumpai di kabupaten/kota lain. Penjabaran isu-isu strategis pengembangan permukiman yang bersifat lokal perlu dijabarkan sebagai informasi awal dalam perencanaan. Penjabaran isu-isu strategis lokal ini dapat difokuskan untuk terkait pada bidang keciptakaryaan, seperti kawasan kumuh di perkotaan, dan mengenai kondisi infrastruktur di perdesaan. Setiap
kabupaten/kota perlu melakukan identifikasi isu-isu strategis di setiap
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 33 Tabel 6.1 Isu-Isu Strategis Sektor Pengembangan Permukiman Kabupaten Musi
Banyuasin
No Isu Strategis
1
2
3
Masih kurangnya jumlah perumahan yang diperuntukkan bagi masyarakat golongan bawah terutama untuk sektor informal.
Belum mencukupinya sarana dan prasarana permukiman
Masih belum terkoordinasinya penanganan pembangunan dan pengembangan perumahan dan permukiman
Sumber : SPPIP Kabupaten Musi Banyuasin
b
b.. KKoonnddiissii EEkkssiissttiinngg PPeennggeemmbbaannggaann PPeerrmmuukkiimmaann
Kondisi eksisting pengembangan permukiman hingga tahun 2012 pada tingkat nasional mencakup 180 dokumen SPPIP, 108 dokumen RPKPP, untuk di perkotaan meliputi 500 kawasan kumuh di perkotaan yang tertangani, 385 unit RSH yang terbangun, 158 TB unit Rusunawa terbangun. Sedangkan di perdesaan adalah 416 kawasan perdesaan potensial yang terbangun infrastrukturnya, 29 kawasan rawan bencana di perdesaan yang terbangun infrastrukturnya, 108 kawasan perbatasan dan pulau kecil di perdesaan yang terbangun infrastrukturnya, 237 desa dengan komoditas unggulan yang tertangani infrastrukturnya, dan 15.362 desa tertinggal yang tertangani infrastrukturnya.
Kondisi eksisting pengembangan permukiman terkait dengan capaian suatu kota/ kabupaten dalam menyediakan kawasan permukiman yang layak huni. Terlebih dahulu perlu diketahui peraturan perundangan di tingkat kabupaten/kota (meliputi peraturan daerah, peraturan gubernur, peraturan walikota/bupati, maupun peraturan lainya) yang mendukung seluruh tahapan proses perencanaan, pembangunan, dan pemanfaatan pembangunan permukiman.
Tabel 6.2 Peraturan Daerah/Peraturan Gubernur/Peraturan Walikota/Peraturan Bupati/ peraturan lainnya terkait Pengembangan Permukiman
No Perda / Peraturan Gubernur / Peraturan Walikota/ Peraturan Lainnya
No. Peraturan Perihal Tahun
1
2
PERDA No
PERDA No 9
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palembang (RTRW)
Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Tahun 2004
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 44
3
4
Tahun 2008
PERDA No. 4 Tahun 2012
Draft PERDA
RTRW
Daerah (RPJPD) Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2005-2025.
Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJPD) Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2012 - 2017.
Draft Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palembang (RTRW) Tahun 2013 - 2033
Tahun 2012
Selain itu data yang dibutuhkan untuk kondisi eksisting adalah mengenai kawasan kumuh, jumlah RSH terbangun, dan Rusunawa terbangun di perkotaan. Data yang dibutuhkan adalah data untuk kondisi eksisting lima tahun terakhir.
C
C.. PPeerrmmaassaallaahhaann ddaann TTaannttaannggaann PPeennggeemmbbaannggaann PPeerrmmuukkiimmaann
P
Peerrmmaassaallaahhaann ppeennggeemmbbaannggaann ppeerrmmuukkiimmaann ddiiaannttaarraannyyaa::
Masih luasnya kawasan kumuh sebagai permukiman tidak layak huni sehingga a.
dapat menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan, dan pelayanan infrastrukturyang masih terbatas.
Masih terbatasnya prasarana sarana dasar pada daerah tertinggal, pulau b.
kecil,daerah terpencil, dan kawasan perbatasan. Belum berkembangnya Kawasan Perdesaan Potensial c.
TTaannttaannggaann ppeennggeemmbbaannggaann ppeerrmmuukkiimmaann ddiiaannttaarraannyyaa ::
Percepatan peningkatan pelayanan kepada masyarakat a.
Pencapaian target/sasaran pembangunan dalam Rencana Strategis Ditjen Cipta b.
Karya sektor Pengembangan Permukiman.
Pencapaian target MDG ’s 2015, termasuk didalamnya pencapaian Program- c.
Program Pro Rakyat (Direktif Presiden)
Perhatian pemerintah daerah terhadap pembangunan bidang Cipta Karya d.
khususnya kegiatan Pengembangan Permukiman yang masih rendah
Memberikan pemahaman kepada pemerintah daerah bahwa pembangunan e.
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 55 Penguatan Sinergi SPPIP/RPKPP dalam Penyusunan RPIJM Kab./Kota
f.
Permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman di atas adalah yang terangkum secara nasional. Namun sebagaimana isu strategis, di masing-masing kabupaten/kota terdapat permasalahan dan tantangan pengembangan yang bersifat lokal dan spesifik serta belum tentu djumpai di kabupaten/kota lain.
Penjabaran permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman yang bersifat lokal perlu dijabarkan sebagai informasi awal dalam perencanaan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman di Kabupaten/Kota yang bersangkutan serta merumuskan alternatif pemecahan dan rekomendasi dari permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman yang ada di wilayah Kabupaten/Kota bersangkutan. Bagi kabupaten/kota yang telah
menyusun SPPIP dapat mengadopsi rumusan permasalahan dan tantangan di da lam SPPIP ke dalam isian tabel 6.3.
Tabel 6.3 Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Permukiman Kabupaten Musi Banyuasin hunian yang berimbang sesuai dengan peraturan pemerintah
Arah kebijakan perlu disusun dalam Cipta Karya di Kabupaten Musi
Banyuasin
peningkatan
kualitas SDM
Peningkatan pendidikan formal para aparatur, kursus singkat, pelatihan dll masih sangat
R perlu diefektifkan seperti mempermudah akses kredit kepada perbankan terutama untuk
masyarakat
berpenghasilan rendah, pemberian pinjaman dengan bunga sangat lumak serta pemberian subsidi
4 Aspek Peran Serta Masyarakat / yang sehat, aman, serasi dan produktif tanpa merusak peraturan terkait agar peran serta masyarakat dalam seluruh proses penyelenggaraan 5 Aspek Lingkungan
Permukiman focus pada fungsi
tempat tinggal
Penataan bangunan dan lingkungan secara
berkelanjutan serta pengembangan kawasan siap bangun (Kasiba) dan lingkungan siap bangun (lisiba) sesuai dengan RTRW
A
Annaalliissiiss KKeebbuuttuuhhaann PPeennggeemmbbaannggaann PPeerrmmuukkiimmaann 4
4..11..33
Analisis kebutuhan merupakan tahapan selanjutnya dari identifikasi kondisi eksisting. Analisis kebutuhan mengaitkan kondisi eksisting dengan target kebutuhan yang harus di capai. Terdapat arahan kebijakan yang menjadi acuan penetapan target.
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 77 baik di tingkat Pusat maupun di tingkat kabupaten/kota. Di tingkat Pusat acuan
kebijakan meliputi RPJMN 2010-2014, MDGs 2015 (target tahun 2020 untuk
pengurangan proporsi rumah tangga kumuh), Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pengurangan luasan kawasan kumuh tahun 2014 sebesar 10%, arahan MP3EI dan MP3KI, percepatan pembangunan Papua dan Papua Barat, arahan Direktif Presiden untuk program pro-rakyat, serta Renstra Ditjen Cipta Karya 2010-2014. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota meliputi target RPJMD, RTRW Kabupaten/Kota, maupun Renstra SKPD. Acuan kebijakan tersebut hendaknya menjadi dasar pada tahapan analisis kebutuhan pengembangan permukiman.
Analisis kebutuhan dan target pencapaian daerah pengembangan permukiman dapat diuraikan pada tabel berikut. Bagi kabupaten/kota yang telah menyusun SPPIP dapat mengadopsi rumusan analisis Implikasi Penerapan Strategi Pembangunan yang telah tertuang di dalam SPPIP untuk lima tahun pertama ke dalam isian tabel 6.4 :
Tabel 6.4 Analisis Implikasi Penerapan Strategi Pembangunan K Non Fisik Perlu adanya
R Non Fisik Dibutuhkan
dokumen Non Fisik Perlu dilakukan
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 99 peruntukan kawasan fungsi
peruntukan Fisik Perlu dilakukan
perencanaan detail dan teknis pembangunan Fisik Perlu dilakukan
perencanaan detail dan teknis pembangunan Fisik Perlu dilakukan
perencanaan detail dan teknis pembangunan detail dan teknis pembangunan
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 1100
Non Fisik Perlu dilakukan perencanaan teknis dan detail infrastruktur Non Fisik Perlu dilakukan
perencanaan teknis pengendali
kebakaran Non Fisik Perlu dilakukan
R Fisik Perlu dilakukan
perencanaan Fisik Perlu dilakukan
perencanaan
Drraaiinnaassee Non Fisik Perlu dilakukan
perencanaan
Non Fisik Perlu dilakukan
outline drainase Sosial Perlu dilakukan
R Non Fisik Perlu
Perencanaan detail & design kolam retensi Fisik Perlunya sistem
pengendali banjir
Pembanguna •
n kolam retensi di Kec. Sekayu
Fisik Perlunya sistem
pengendali banjir
Fisik Perlunya kajian pembangunan n situ (Retensi Skala Besar) Non Fisik Perlu
Perencanaan detail & design
kawasan situ Fisik Perlunya sistem
pengendali banjir
Koonnsseerrvvaassii S
Suunnggaaii Fisik Perlu penataan
kawasan
R Fisik Perlu dilakukan
perencanaan teknis sistem air
limbah Fisik Perlu dilakukan
perencanaan
Fisik Perlunya kajian pengembangan
Fisik Perlunya analisis lingkungan
Fisik Perlu dilakukan perencanaan detail sistem air
limbah
Penyusunan •
DED IPLT S. Lilin
Fisik Perlunya
Fisik Perlu dilakukan perencanaan teknis sistem air limbah kawasan
Fisik Perlunya kajian pengembangan Fisik Perlunya analisis
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 1144
Fisik Perlu dilakukan perencanaan detail sistem air limbah Fisik Perlu dilakukan
pengembangan Fisik Perlu dilakukan
pengembangan Sosial Perlu dilakukan
sosialisasi Fisik Perlu dilakukan
perencanaan
detail MCK++
Penyusunan •
DED MCK ++ Fisik Perlu dilakukan
pengembangan
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 1155
Sosial Perlu dilakukan perencanaan teknis
pengembangan data dan informasi
lingkungan hidup
Fisik Perlu dilakukan perencanaan
Fisik Perlu dilakukan informasi PHBS kepada Sosial Perlu dilakukan
teknis pelatihan Fisik Perlu dilakukan
perencanaan Fisik Perlu peningkatan
pengembangan
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 1166 n TPA/TPS yang
ramah lingkungan
Fisik Perlu perencanan teknis dan detail
TPST 3R
Pembanguna •
n TPST 3R Fisik Perlu pengadaan
bak sampah Fisik Perlu pengadaan
bak sampah di Fisik Perlu dilakukan
perencanaan
Fisik Perlu adanya penataan dan Fisik Perlu adanya
R Fisik Perlu peningkatan
Jalan lingkungan dan layak huni serta Sosial Perlu peran serta
masyarakat dalam Fisik Perlu adanya
upaya untuk Sosial Perlu adanya
upaya undtuk
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 1188
Sosial Diperlukan kesadaran
Sosial Diperlukan sosialisasi kepada Fisik Perlu dilakukan
R
kuuaalliittaass iinnffrraassttrruukkttuurr p
peerrmmuukkiimmaann Fisik Perlunya
perencanaan teknis dan detail infrastruktur IInnffrraassttrruukkttuurr Fisik Perlunya layak, sehat dan
berkualitas Fisik Perlunya kajian
perencanaan
R tidak layak huni menuju
kuuaalliittaass iinnffrraassttrruukkttuurr p
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 2211
dalam
membangun rumah
sehat bagi MBR
di tingkat masyarakat dalam pembanguna n rumah sehat dan layak huni serta peningkatan kerjasama dalam pembanguna n rumah bagi MBR
Kelembag aan
Perlunya
pengembangan lembaga pengelola
IPAL Komunal
Pembentukan •
lembaga dan pelatihan pengelola IPAL Komunal
P
Prrooggrraamm--PPrrooggrraamm SSeekkttoorr PPeennggeemmbbaannggaann PPeerrmmuukkiimmaann 4
4..11..44
Kegiatan pengembangan permukiman terdiri dari pengembangan permukiman kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan permukiman kawasan p
peerrkkoottaaaann terdiri dari :
pengembangan kawasan permukiman baru dalam bentuk pembangunan 1.
Rusunawa serta
peningkatan kualitas permukiman kumuh dan RSH 2.
Sedangkan untuk pengembangan kawasan ppeerrddeessaaaann terdiri dari :
pengembangan kawasan permukiman perdesaan untuk kawasan potensial 1.
(Agropolitan dan Minapolitan), rawan bencana, serta perbatasan dan pulau kecil,
pengembangan kawasan pusat pertumbuhan dengan program PISEW (RISE), 2.
desa tertinggal dengan program PPIP dan RIS PNPM 3.
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 2222 P
Peennggeemmbbaannggaann KKaawwaassaann PPeerrmmuukkiimmaann PPeerrkkoottaaaann
Infrastruktur kawasan permukiman kumuh
Infrastruktur permukiman RSH
Rusunawa beserta infrastruktur pendukungnya
P
Peennggeemmbbaannggaann KKaawwaassaann PPeerrmmuukkiimmaann PPeerrddeessaaaann
Infrastruktur kawasan permukiman perdesaan potensial
(Agropolitan/Minapolitan)
Infrastruktur kawasan permukiman rawan bencana
Infrastruktur kawasan permukiman perbatasan dan pulau kecil
Infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi dan sosial (PISEW)
Infrastruktur perdesaan PPIP
Infrastruktur perdesaan RIS PNPM
S
SEEKKTTOORR PPEENNAATTAAAANN BBAANNGGUUNNAANN DDAANN LLIINNGGKKUUNNGGAANN 6
6..22
Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan 6.2.1
IIssuu SSttrraatteeggiiss A
A..
Untuk dapat merumuskan isu strategis Bidang PBL, maka dapat melihat dari Agenda Nasional dan Agenda Internasional yang mempengaruhi sektor PBL. Untuk Agenda Nasional, salah satunya adalah Program PNPM Mandiri, yaitu Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, sebagai wujud kerangka kebijakan yang menjadi dasar acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Agenda nasional lainnya adalah pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, khususnya untuk sektor PBL yang mengamanatkan terlayaninya masyarakat dalam pengurusan IMB di kabupaten/kota dan tersedianya pedoman Harga Standar Bangunan Gedung Negara (HSBGN) di kabupaten/kota.
Agenda internasional yang terkait diantaranya adalah pencapaian MDG ’s 2015, khususnya tujuan 7 yaitu memastikan kelestarian lingkungan hidup. Target MDGs yang terkait bidang Cipta Karya adalah target 7C, yaitu menurunkan hingga
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 2233 layak pada 2015, serta target 7D, yaitu mencapai peningkatan yang signifikan dalam
kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020.
Agenda internasional lainnya adalah isu Pemanasan Global (
Global Warming).
Pemanasan global yang disebabkan bertambahnya karbondioksida (CO2) sebagai akibat konsumsi energi yang berlebihan mengakibatkan naiknya suhu permukaan global hingga 6.4 °C antara tahun 1990 dan 2100, serta meningkatnnya tinggi muka laut di seluruh dunia hingga mencapai 10-25 cm selama abad ke-20. Kondisi ini memberikan dampak bagi kawasan-kawasan yang berada di pesisir pantai, yaitu munculnya bencana alam seperti banjir, kebakaran serta dampak sosial lainnya.Agenda Habitat juga merupakan salah satu Agenda Internasional yang juga mempengaruhi isu strategis sektor PBL. Konferensi Habitat yang telah diselenggarakan di Vancouver, Canada, pada 31 Mei-11 Juni 1976, sebagai dasar terbentuknya UN Habitat pada tahun 1978, yaitu sebagai lembaga PBB yang mengurusi permasalahan perumahan dan permukiman serta pembangunan perkotaan. Konferensi Habitat II yang dilaksanakan di lstanbul, Turki, pada 3 - 14 Juni 1996 dengan dua tema pokok, yaitu "Adequate Shelter for All" dan "Sustainable Human Settlements Development in an
Urbanizing World", sebagai kerangka dalam penyediaan perumahan dan permukiman
yang layak bagi masyarakat.
Dari agenda-agenda tersebut maka isu strategis tingkat nasional untuk bidang PBL dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :
P
Peennaattaaaann LLiinnggkkuunnggaann PPeerrmmuukkiimmaann 1
1..
a. Pengendalian pemanfaatan ruang melalui RTBL;
b. PBL mengatasi tingginya frekuensi kejadian kebakaran di perkotaan;
c. Pemenuhan kebutuhan ruang terbuka publik dan ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan;
d. Revitalisasi dan pelestarian lingkungan permukiman tradisional dan bangunan bersejarah berpotensi wisata untuk menunjang tumbuh kembangnya ekonomi lokal;
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 2244 f. Pelibatan pemerintah daerah dan swasta serta masyarakat dalam penataan
bangunan dan lingkungan.
P
Peennyyeelleennggggaarraaaann BBaanngguunnaann GGeedduunngg ddaann RRuummaahh NNeeggaarraa 2
2..
a. Tertib pembangunan dan keandalan bangunan gedung (keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan);
b. Pengendalian penyelenggaraan bangunan gedung dengan perda bangunan gedung di kab/kota;
c. Tantangan untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional, tertib, andal dan mengacu pada isu lingkungan/ berkelanjutan;
d. Tertib dalam penyelenggaraan dan pengelolaan aset gedung dan rumah negara;
e. Peningkatan kualitas pelayanan publik dalam pengelolaan gedung dan rumah Negara
P
Peemmbbeerrddaayyaaaann KKoommuunniittaass ddaallaamm PPeennaanngggguullaannggaann KKeemmiisskkiinnaann 3
3..
a. Jumlah masyarakat miskin pada tahun 2012 sebesar 29,13 juta orang atau sekitar 11,96% dari total penduduk Indonesia;
b. Realisasi DDUB tidak sesuai dengan komitmen awal termasuk sharing in-cash sesuai MoU PAKET;
c. Keberlanjutan dan sinergi program bersama pemerintah daerah dalam penanggulangan kemiskinan.
Isu strategis PBL ini terkait dengan dokumen-dokumen seperti RTR, scenario pembangunan daerah, RTBL yang disusun berdasar skala prioritas dan manfaat dari rencana tindak yang meliputi a) Revitalisasi, b) RTH, c) Bangunan Tradisional/bersejarah dan d) penanggulangan kebakaran bagi pencapaian terwujudnya pembangunan lingkungan permukiman yang layak huni, berjati diri, produktif dan berkelanjutan.
Tabel 6.5 Isu Strategis sektor PBL di Kabupaten Musi Banyuasin
No Kegiatan Sektor PBL Isu Strategis Sektor PBL
1
Penataan Lingkungan Permukiman Peningkatan kualitas lingkungan permukiman kumuh
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 2255 belum focus, terpadu dan
komprehensif
2 Penyelenggaraan Bangunan Gedung
dan Rumah Negara
Masih banyaknya bangunan
gedung Negara yang belum memenuhi persyaratan aturan keselamatan bangunan gedung
Masih ada penyelenggaraan
bangunan gedung dan rumah Negara yang kurang tertib dan tidak efisien
3 Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
Belum optimalnya pembinaan
dan penanganan komunitas Rendahnya tingkat partisipasi
angkatan kerja
K
Koonnddiissii EEkkssiissttiinngg B
B..
Untuk tahun 2012 capaian nasional dalam pelaksanaan program direktorat PBL adalah dengan jumlah kelurahan/desa yang telah mendapatkan fasilitasi berupa peningkatan kualitas infrastruktur permukiman perdesaan/kumuh/nelayan melalui program P2KP/PNPM adalah sejumlah 10.925 kelurahan/desa. Untuk jumlah
Kabupaten/Kota yang telah menyusun Perda Bangunan Gedung (BG) hingga tahun 2012 adalah sebanyak 106 Kabupaten/Kota. Untuk RTBL yang sudah tersusun berupa Peraturan Bupati/Walikota adalah sebanyak 2 Kabupaten/Kota, 9 Kabupaten/Kota dengan perjanjian bersama, dan 32 Kabupaten/Kota dengan kesepakatan bersama.
Setiap Kabupaten/Kota diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi eksisting di daerah masing-masing, yang mencakup kondisi terkait peraturan daerah, kegiatan penataan lingkungan permukiman, kegiatan penyelenggaraan bangunan gedung dan rumah negara, serta capaian dalam pemberdayaan komunitas dalam penanggulangan kemiskinan.
Untuk data kondisi eksisting terkait dengan Peraturan Daerah yang telah disusun mencakup Raperda dan Perda Bangunan Gedung, Perda RTBL, Perda RISPK, SK
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 2266 Untuk kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara Kabupaten
dapat digambarkan kondisi eksistingnya seperti tabel 6.6
Tabel 6.6 Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
No Kawasan
Jumlah bangunan Gedung
berdasarkan fungsi
Status Kepemilika
n
Kondisi
Bangunan
Ketersedi aan Utilitas
BG
1 Fungsi Hunian :
Fungsi Keagamaan : Fungsi Usaha :
Fungsi Sosbud : Fungsi Khusus :
*Dalam Proses Pendataan
Untuk kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
Kabupaten Musi Banyuasin dapat menggambarkan kondisi eksisting nya dengan acuan seperti table 6.7.
Tabel 6.7 Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
No Kab / Kota Kegiatan PNPM
Mandiri
Kegiatan Lainnya
P
Peerrmmaassaallaahhaann ddaann TTaannttaannggaann C
C..
Dalam kegiatan penataan bangunan dan lingkungan terdapat beberapa permasalahan dan tantangan yang dihadapi, antara lain :
P
Peennaattaaaann LLiinnggkkuunnggaann PPeerrmmuukkiimmaann ::
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 2277 permukiman yang diindikasikan dengan masih kecilnya alokasi anggaran daerah untuk
peningkatan kualitas lingkungan dalam rangka pemenuhan SPM.
P
Peennyyeelleennggggaarraaaann BBaanngguunnaann GGeedduunngg ddaann RRuummaahh NNeeggaarraa ::
Masih adanya kelembagaan bangunan gedung yang belum berfungsi efektif dan efisien dalam pengelolaan Bangunan Gedung dan Rumah Negara; Masih
kurangnya perda bangunan gedung untuk kota metropolitan, besar, sedang, kecil di seluruh Indonesia; Meningkatnya kebutuhan NSPM terutama yang berkaitan dengan pengelolaan dan penyelenggaraan bangunan gedung (keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan); Kurang ditegakkannya aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan Bangunan Gedung termasuk pada daerah-daerah rawan bencana; Prasarana dan sarana hidran kebakaran banyak yang tidak berfungsi dan kurang mendapat perhatian; Lemahnya pengaturan penyelenggaraan Bangunan Gedung di daerah serta rendahnya kualitas pelayanan publik dan perijinan;
Banyaknya Bangunan Gedung Negara yang belum memenuhi persyaratan
keselamatan, keamanan dan kenyamanan; Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara kurang tertib dan efisien; Masih banyaknya aset negara yang tidak teradministrasikan dengan baik
P
Peennyyeelleennggggaarraaaann SSiisstteemm TTeerrppaadduu RRuuaanngg TTeerrbbuukkaa HHiijjaauu::
Masih kurang diperhatikannya kebutuhan sarana lingkungan hijau/terbuka, sarana olah raga.
K
Kaappaassiittaass KKeelleemmbbaaggaaaann DDaaeerraahh::
Masih terbatasnya kesadaran aparatur dan SDM pelaksana dalam pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung termasuk pengawasan; Masih adanya tuntutan reformasi peraturan perundang-undangan dan peningkatan pelaksanaan otonomi dan desentralisasi. Masih perlunya peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan gedung di daerah dalam fasilitasi penyediaan perangkat pengaturan.
Di dalam RPIJM hendaknya diggambarkan hasil identifikasi permasalahan dan tantangan sektor PBL yang ada di setiap kabupaten/kota sesuai dengan karakteristik masing-masing dengan acuan seperti tabel 6.8.
R
I. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
1. Aspek Teknis rencana tata ruang dan peraturan Cipta Karya diKota
R yang tersebar di wilayah perkotaan dengan kondisi rumah yang tidak layak huni
Pembangunan disertai dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai
II Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
R peranan lembaga terkait
penyelenggaraan bangunan gedung
Mewujudkan sistem institusi/organisasi yang efektif dan efisien dalam
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 3311 Tanah anggaran untuk
pengadaan tanah dan rumah Negara sehingga dapat layak huni yang menjadi handal, aman dan
berkualitas
Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
1. Aspek Teknis yang ada untuk meningkatkan sosial budaya, politik
R seperti rumah yang tidak terjangkau atau dunia usaha (swasta)
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 3333 Analisis kebutuhan Program dan Kegiatan untuk sektor PBL oleh Kab/Kota, hendaknya
mengacu pada Lingkup Tugas DJCK untuk sektor PBL yang dinyatakan pada Permen PU No. 8 Tahun 2010.
Pada Permen PU No.8 tahun 2010, dijabarkan kegiatan dari Direktorat PBL meliputi :
K
Keeggiiaattaann PPeennaattaaaann LLiinnggkkuunnggaann PPeerrmmuukkiimmaann
Dengan kegiatan yang terkait adalah penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK)
pembangunan prasarana dan sarana lingkungan permukiman tradisional dan bersejarah, pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), dan pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan.
R
RTTBBLL ((RReennccaannaa TTaattaa BBaanngguunnaann ddaann LLiinnggkkuunnggaann))
RTBL berdasarkan Permen PU No. 6 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan didefinisikan sebagai panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan. Materi pokok dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan meliputi :
Program Bangunan dan Lingkungan;
Rencana Umum dan Panduan Rancangan;
Rencana Investasi;
Ketentuan Pengendalian Rencana;
Pedoman Pengendalian Pelaksanaan
R
RIISSPPKK aattaauu RReennccaannaa IInndduukk SSiisstteemm PPrrootteekkssii KKeebbaakkaarraann
RISPK atau Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran seperti yang dinyatakan dalam Permen PU No. 26 tahun 2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, bahwa Sistem Proteksi
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 3344 bangunan yang digunakan baik untuk tujuan sistem proteksi aktif, sistem proteksi pasif
maupun cara-cara pengelolaan dalam rangka melindungi bangunan dan lingkungannya terhadap bahaya kebakaran.
Penyelenggaraan sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan meliputi proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungannya.
RISPK terdiri dari Rencana Sistem Pencegahan Kebakaran dan Rencana Sistem Penanggulangan Kebakaran di Kabupaten/Kota untuk kurun waktu 10 tahun. RISPK memuat rencana kegiatan pencegahan kebakaran yang terdiri dari kegiatan inspeksi terhadap ancaman bahaya kebakaran pada kota, lingkungan bangunan dan
bangunan gedung, serta kegiatan edukasi pencegahan kebakaran kepada
masyarakat dan kegiatan penegakan Norma, Standar, Pedoman dan Manual (NSPM). RISPK juga memuat rencana tentang penanggulangan kebakaran yang terdiri dari rencana kegiatan pemadaman kebakaran serta penyelamatan jiwa dan harta benda.
P
Peennaattaaaann LLiinnggkkuunnggaann PPeerrmmuukkiimmaann TTrraaddiissiioonnaall//BBeerrsseejjaarraahh
Pendekatan yang dilakukan dalam melaksanakan Penataan Lingkungan Permukiman Tradisional adalah :
Koordinasi dan sinkronisasi dengan Pemerintah Daerah;
Pendekatan Tridaya sebagai upaya pemberdayaan terhadap aspek manusia,
lingkungan dan kegiatan ekonomi masyarakat setempat;
Azas "berkelanjutan" sebagai salah satu pertimbangan penting untuk menjamin
kelangsungan kegiatan;
Rembug warga dalam upaya menggali sebanyak mungkin aspirasi masyarakat,
selain itu juga melakukan pelatihan keterampilan teknis dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
S
Sttaannddaarr PPeellaayyaannaann MMiinniimmaall ((SSPPMM))
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 3355 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang. Khusus untuk sektor PBL, SPM juga terkait dengan SPM Penataan Ruang dikarenakan kegiatan penataan lingkungan permukiman yang salah satunya melakukan pengelolaan kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan. Standar SPM terkait dengan sektor PBL s ebagaimana terlihat pada tabel 6.9 , yang dapat dijadikan acuan bagi Kabupaten/Kota untuk menyusun kebutuhan akan sector Penataan Bangunan dan Lingkungan.
Tabel 6.9 SPM Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
No Jenis Pelayanan Dasar Standar Pelayanan
Minimal
Waktu
Pencapaian Keterangan
Indikator Nilai
1 Penataan
Bangunan dan
Lingkungan
Izin
Mendirikan Bangunan (IMB)
Terlayaninya masyarakat dalam
pengurusan IMB di
kabupaten/kota.
60 % 2019 Dinas yang
membidangi Perijinan (IMB).
2 Penataan
Ruang
Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Publik
Tersedianya luasan RTH publik sebesar 20% dari
luas wilayah
kota/ kawasan
50% 2014 Dinas/SKPD
yang
membidangi Penataan Ruang.
K
Keeggiiaattaann PPeennyyeelleennggggaarraaaann BBaanngguunnaann GGeedduunngg ddaann RRuummaahh NNeeggaarraa
Kegiatan penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara meliputi
Menguraikan kondisi bangunan gedung negara yang belum memenuhi
persyaratan keandalan yang mencakup (keselamatan keamanan kenyamanan dan kemudahan )
Menguraikan kondisi Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara;
Menguraikan aset negara dari segi administrasi pemeliharaan
Untuk dapat melakukan pendataan terhadap kondisi bangunan gedung dan
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 3366 K
Keeggiiaattaann PPeemmbbeerrddaayyaaaann KKoommuunniittaass ddaallaamm PPeennaanngggguullaannggaann KKeemmiisskkiinnaann
Program yang mencakup pemberdayaan komunitas dalam penanggulangan
kemiskinan adalah PNPM Mandiri, yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan). P2KP merupakan program pemerintah yang secara substansi berupaya menanggulangi kemiskinan melalui pemberdayaaan masyarakat dan pelaku pembangunan lokal lainnya, termasuk Pemerintah Daerah dan kelompok peduli setempat.
Bagi setiap Kabupaten/Kota disarankan dapat mengidentifikasi kebutuhan
sector Penataan Bangunan dan Lingkungan untuk jangka waktu 5 tahun ke depan dengan mengacu pada program dan capaian Renstra Nasional dan RPJMD, sebagaimana tergambarkan pada tabel 6.10
Tabel 6.10 Kebutuhan Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
No Uraian Satuan
Kebutuhan
Ket Tahun
I
Tahun II
Tahun III
Tahun IV
Tahun V I Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
1. Ruang Terbuka
Hijau (RTH)
M2 100 200 - - 200
2. Ruang Terbuka M2 100 100 100 100 100
3. PSD unit 4 7 5 7 6
4. PS Lingkungan unit - - - -
-5. HSBGN laporan - - - -
-6. Pelatihan Teknis
Tenaga
Pendata HSBGN
laporan - - - -
-7. RTBL laporan 7 5 3 -
-II Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
1. Bangunan Fungsi
Hunian
unit - - - -
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 3377 Keagamaan
3. Bangunan Fungsi
Usaha
unit
4. Bangunan Fungsi
Sosial
Budaya
unit
5. Bangunan Fungsi
Khusus
unit
6. Bintek
pembangunan
Gedung Negara
laporan
7. Lainnya
III. Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
1. P2KP
2. Lainnya
*Dalam Proses Pendataan
Usulan Program dan Pembiayaan 6.2.3
Program-Program Penataan Bangunan dan Lingkungan, terdiri dari: a. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman;
b. Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara; c. Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
Untuk penyelenggaraan program-program pada sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL) maka dibutuhkan Kriteria Kesiapan (
Readiness Criteria
) yang mencakup antara lain rencana kegiatan rinci, indikator kinerja, komitmen Pemda dalam mendukung pelaksanaan kegiatan melalui penyiapan dana pendamping, pengadaan lahan jika diperlukan, serta pembentukan kelembagaan yang akan menangani pelaksanaan proyek serta mengelola aset proyek setelah infrastruktur dibangun.K
Krriitteerriiaa KKeessiiaappaann untuk sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan adalah :
F
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 3388 K
Krriitteerriiaa KKhhuussuuss::
Kabupaten/kota yang belum difasilitasi penyusunan ranperda o
Bangunann Gedung;
Komitmen Pemda untuk menindaklanjuti hasil fasilitasi Ranperda BG o
P
Peennyyuussuunnaann RReennccaannaa PPeennaattaaaann LLiinnggkkuunnggaann PPeerrmmuukkiimmaann BBeerrbbaassiiss
K
Koommuunniittaass
K
Krriitteerriiaa KKhhuussuuss
Fasilitasi Penyusunan Rencana Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas :
Kawasan di perkotaan yang memiliki lokasi PNPM-Mandiri Perkotaan; o
Pembulatan penanganan infrastruktur di lokasi-lokasi yang sudah ada o
PJM Pronangkis-nya;
Bagian dari rencana pembangunan wilayah/kota; o
Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan o
masyarakat;
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat o
P
Peennyyuussuunnaann RReennccaannaa TTaattaa BBaanngguunnaann DDaann LLiinnggkkuunnggaann ((RRTTBBLL))
K
Krriitteerriiaa LLookkaassii ::
Sesuai dengan kriteria dalam Permen PU No.6 Tahun 2006; o
Kawasan terbangun yang memerlukan penataan; o
Kawasan yang dilestarikan/heritage; o
Kawasan rawan bencana; o
Kawasan gabungan atau campuran (fungsi hunian, fungsi usaha, fungsi o
sosial/
budaya dan/atau keagamaan serta fungsi khusus, kawasan sentra niaga (central business district);
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 3399 Komitmen Pemda dalam rencana pengembangan dan investasi
o
Pemerintah daerah, swasta, masyarakat yang terintegrasi dengan rencana tata ruang dan/atau pengembangan wilayahnya.
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat; o
Pekerjaan dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat o
P
Peennyyuussuunnaann RReennccaannaa TTiinnddaakk RReevviittaalliissaassii KKaawwaassaann,, RRuuaanngg TTeerrbbuukkaa HHiijjaauu ((RRTTHH)) ddaann
P
Peerrmmuukkiimmaann TTrraaddiissiioonnaall//BBeerrsseejjaarraahh
Rencana Tindak berisikan program bangunan dan lingkungan termasuk elemen kawasan, program/rencana investasi, arahan pengendalian rencana dan pelaksanaan serta DAED/DED.
K
Krriitteerriiaa UUmmuumm ::
Sudah memiliki RTBL atau merupakan turunan dari lokasi perencanaan o
RTBL (jika luas kws perencanaan > 5 Ha) atau;
Turunan dari Tata Ruang atau masuk dlm skenario pengembangan o
wilayah (jika luas perencanaan < 5 Ha);
Komitmen pemda dalam rencana pengembangan dan investasi o
Pemerintah daerah, swasta, masyarakat yang terintegrasi dengan Rencana Tata Ruang dan/atau pengembangan wilayahnya; Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat
o
K
Krriitteerriiaa KKhhuussuuss Fasilitasi Penyusunan Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi kawasan :
Kawasan diperkotaan yang memiliki potensi dan nilai strategis; o
Terjadi penurunan fungsi, ekonomi dan/atau penurunan kualitas; o
Bagian dari rencana pengembangan wilayah/kota; o
Ada rencana pengembangan dan investasi pemda, swasta, dan o
masyarakat;
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 4400 K
Krriitteerriiaa KKhhuussuuss Fasilitasi Penyusunan Rencana Tindak Ruang Terbuka Hijau :
Ruang publik tempat terjadi interaksi langsung antara manusia dengan o
taman (RTH Publik);
Area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya o
bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman baik alamiah maupun ditanam (UU No. 26/2007 tentang Tata ruang);
Dalam rangka membantu Pemda mewujudkan RTH publik minimal 20% o
dari luas wilayah kota;
Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, masyarakat; o
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat o
K
Krriitteerriiaa FFaassiilliittaassii PPeennyyuussuunnaann RReennccaannaa IInndduukk SSiisstteemm PPrrootteekkssii KKeebbaakkaarraann ((RRIISSPPKK))::
Ada Perda Bangunan Gedung; o
Kota/Kabupaten dengan jumlah penduduk > 500.000 orang; o
Tingginya intensitas kebakaran per tahun dengan potensi resiko tinggi o
Kawasan perkotaan nasional PKN, PKW, PKSN, sesuai PP No.26/2008 ttg o
Tata Ruang;
Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan o
masyarakat;
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat o
K
Krriitteerriiaa dduukkuunnggaann PPSSDD UUnnttuukk RReevviittaalliissaassii KKaawwaassaann,, RRTTHH DDaann
P
PeerrmmuukkiimmaannTTrraaddiissiioonnaall//GGeedd BBeerrsseejjaarraahh
Mempunyai dokumen Rencana Tindak PRK/RTH/Permukiman Tradisional-o
Bersejarah;
Prioritas pembangunan berdasarkan program investasinya;Ada DDUB; o
Dukungan Pemerintah Pusat maksimum selama 3 tahun anggaran; o
Khusus dukungan Sarana dan Prasarana untuk permukiman tradisional, o
diutamakan pada fasilitas umum/sosial, ruang-ruang publik yang menjadi prioritas masyarakat yang menyentuh unsur tradisionalnya;
Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan o
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 4411 Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat
o
K
Krriitteerriiaa dduukkuunnggaann PPrraassaarraannaa ddaann SSaarraannaa SSiisstteemm PPrrootteekkssii KKeebbaakkaarraann
Memiliki dokumen RISPK yang telah disahkan oleh Kepala Daerah o
(minimal SK/peraturan bupati/walikota);
Memiliki Perda BG (minimal Raperda BG dalam tahap pembahasan o
dengan DPRD);
Memiliki DED untuk komponen fisik yang akan dibangun; o
Ada lahan yg disediakan Pemda o
Ada rencana pengembangan dan investasi Pemda, swasta, dan o
masyarakat;
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat o
K
Krriitteerriiaa DDuukkuunnggaann AAkksseessiibbiilliittaass PPaaddaa BBaanngguunnaann GGeedduunngg DDaann LLiinnggkkuunnggaann
Bangunan gedung negara/kantor pemerintahan; o
Bangunan gedung pelayanan umum (puskesmas, hotel, tempat o
peribadatan, terminal, stasiun, bandara);
Ruang publik atau ruang terbuka tempat bertemunya aktifitas sosial o
masyarakat (taman, alun-alun);
Kesiapan pengelolaan oleh stakeholder setempat o
S
SEEKKTTOORR PPEENNGGEEMMBBAANNGGAANN SSIISSTTEEMM PPEENNYYEEDDIIAAAANN AAIIRR MMIINNUUMM 6
6..33
Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan 6.3.1
Terdapat isu-isu strategis yang diperkirakan akan mempengaruhi upaya Indonesia untuk mencapai target pembangunan di bidang air minum. Isu ini didapatkan melalui serangkaian konsultasi dan diskusi dalam lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum khususnya Direktorat Jenderal Cipta Karya. Isu-isu strategis tersebut adalah :
Peningkatan Akses Aman Air Minum 1.
Pengembangan Pendanaan 2.
Peningkatan Kapasitas Kelembagaan 3.
Pengembangan dan Penerapan Peraturan Perundang-undangan 4.
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 4422 Peningkatan Peran dan Kemitraan Badan Usaha dan Masyarakat
6.
Penyelenggaraan Pengembangan SPAM yang Sesuai dengan Kaidah Teknis dan 7.
Penerapan Inovasi Teknologi
Setiap kabupaten/kota perlu melakukan identifikasi isu strategis yang ada di daerah masing-masing mengingat isu strategis ini akan menjadi dasar dalam pengembangan infrastruktur, prasarana dan sarana dasar di daerah, serta akan menjadi landasan penyusunan program dan kegiatan dalam Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) yang diharapkan dapat mempercepat pencapaian cita-cita pembangunan nasional.
K
Koonnddiissii EEkkssiissttiinngg PPeennggeemmbbaannggaann SSPPAAMM A
A..
Pembahasan yang perlu diperhatikan terkait dengan Kondisi Eksisting Pengembangan
Sistem Penyediaan Air Minum di kabupaten/kota secara umum adalah:
ii.. A
Assp
pe
ekk TTe
ekkn
niiss
Berisi hal-hal yang berkaitan dengan jenis dan jumlah sistem jaringan yang terdapat di dalam kota/kabupaten, tingkat pelayanan, sumber air baku yang digunakan, serta kondisi pelanggan, sistem pengolahan air, dan jam pelayanan. Di dalam aspek teknis ini perlu juga dimunculkan besarnya unit konsumsi air minum (liter/orang/hari) untuk jaringan perpipaan dan bukan perpipaan.
iiii.. A
Assp
pe
ekk P
Pe
en
nd
da
an
na
aa
an
n
Berisi uraian umum pembiayaan pengelolaan air minum baik sistem jaringan perpipaan maupun jaringan bukan perpipaan, kemampuan masyarakat dalam pembiayaan air minum, pencapaian target pembayaran rekening air, prosentase besaran tunggakan rekening. Disebutkan pula tarif dasar air dan harga dasar air serta struktur pelanggan.
iiiiii.. K
Ke
elle
em
mb
ba
ag
ga
aa
an
n
Berisi penjelasan dan uraian mengenai kondisi organisasi pengelola system penyediaan air minum baik jaringan perpipaan maupun non perpipaan yang perlu disampaikan terkait kondisi eksisting kelembagaan SPAM adalah:
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 4433 maupun bukan perpipaan;
Sumber daya manusia penyelenggara SPAM; 2.
Rencana Kerja Kelembagaan; dan 3.
Monitoring dan Evaluasi Pengkajian Kelembagaan SPAM 4.
iiv
v.. P
Pe
erra
attu
urra
an
n P
Pe
erru
un
nd
da
an
ng
ga
an
n
Berisi peraturan-perundangan (perda, SK walikota/kabupaten, SK Direktur PDAM dll) yang berkaitan dengan pengelolaan air minum di kota/kabupaten serta
permasalahan terkait dengan pelaksanaan/implementasi peraturan/perundangan tersebut.
v
v.. P
Pe
erra
an
n SSe
errtta
a M
Ma
assy
ya
arra
akka
att
Berisi peran serta masyarakat dalam pengelolaan air minum terkait dengan kepatuhan membayar retribusi air, inisiatif masyarakat mengembangan SPAM di
wilayah mereka, peran serta masyarakat memelihara kuantitas dan kualitas sumber air. Diuraikan pula permasalahan yang dihadapi terkait dengan peran negative
masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber air, jaringan yang ada dll. Kondisi eksisting Pengembangan SPAM sebagaimana diuraikan di atas ditampilkan dalam tabel 4.11.
B
B.. PPeerrmmaassaallaahhaann ddaann TTaannttaannggaann PPeennggeemmbbaannggaann SSPPAAMM
ii..
P
Pe
errm
ma
assa
alla
ah
ha
an
n P
Pe
en
ng
ge
em
mb
ba
an
ng
ga
an
n SSP
PA
AM
M
Pada bagian ini, perlu dijabarkan digambarkan permasalahan pengembangan SPAM sesuai dengan kondisi daerah masing-masing Adapun beberapa
permasalahan pengembangan SPAM pada tingkat nasional antara lain :
P
Pe
en
niin
ng
gkka
atta
an
n C
Ca
akku
up
pa
an
n d
da
an
n K
Ku
ua
alliitta
ass
1.Tingkat pertumbuhan cakupan pelayanan air minum sistem perpipaan belum o
seimbang dengan tingkat perkembangan penduduk
Perkembangan pesat SPAM non-perpipaan terlindungi masih memerlukan o
pembinaan.
Tingkat kehilangan air pada sistem perpipaan cukup besar dan tekanan air o
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 4444 Pelayanan air minum melalui perpipaan masih terbatas dan harus membayar
o
lebih mahal
Ketersediaan data yang akurat terhadap cakupan dan akses air minum o
masyarakat belum memadai
Sebagian air yang diproduksi PDAM telah memenuhi kriteria layak minum namun o
kontaminasi terjadi pada jaringan distribusi
Masih tingginya angka prevalensi penyakit yang disebabkan buruknya akses air o
minum yang aman
P
Pe
en
nd
da
an
na
aa
an
n
2.Penyelenggaraan SPAM mengalami kesulitan dalam masalah pendanaan untuk o
pengembangan, maupun operasional dan pemeliharaan.
Investasi untuk pengembangan SPAM selama ini lebih tergantung dari pinjaman o
luar negeri.
Komitmen dan prioritas pendanaan dari pemerintah daerah dalam o
Sistem
Jaringan
Daerah Pelayanan Tingkat
Pelayanan Sumber Air Ket
WP Luas WP
(Km²)
Jumlah Penduduk
WP
Jumlah Penduduk
Terlayani
% Pendud
uk
% Wilaya
h
Lokasi Debit Perkotaan
Prinsip pengusahaan belum sepenuhnya diterapkan oleh penyelenggara o
SPAM (PDAM).
Pemekaran wilayah di beberapa kabupaten/kota mendorong pemekaran o
badan pengelola SPAM di daerah
A
Aiirr B
Ba
akku
u
4.Kapasitas daya dukung air baku di berbagai lokasi semakin terbatas. o
Kualitas sumber air baku semakin menurun o
Adanya peraturan perijinan penggunaan air baku di beberapa daerah yang o
tidak selaras dengan peraturan yang lebih tinggi.
Belum mantapnya alokasi penggunaan air baku sehingga menimbulkan o
konflik kepentingan di tingkat pengguna o
P
Pe
erra
an
n M
Ma
assy
ya
arra
akka
att
5.Air masih dipandang sebagai benda sosial meskipun pengolahan air baku o
menjadi air minum memerlukan biaya relatif besar dan masih dianggap sebagai urusan pemerintah.
Potensi yang ada pada masyarakat dan dunia usaha belum sepenuhnya o
diberdayakan oleh Pemerintah.
Fungsi pembinaan belum sepenuhnya menyentuh masyarakat yang o
mencukupi kebutuhannya sendiri
Setiap kabupaten/kota perlu melakukan identifikasi permasalahan yang ada di
kabupaten/kota masing-masing sebagaimana digambarkan seperti tabel 6.12 sampai dengan tabel 6.19 berikut ini :
Tabel 6.12 Identifikasi Permasalahan Pengembangan SPAM Aspek Kelembagaan
No Aspek Pengelolaan Air
Minum
Permasalahan
yang di hadapi Tindakan
Yang sdh
dilakukan
Yang sedang dilakukan A Kelembagaan /
Perundangan
1 Organisasi SPAM - -
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 4477 line
3 SDM Produktivitas
masih rendah
- Peningkatan
produktivitas SDM melalui
No Aspek Pengelolaan Air
Minum
Permasalahan Yang
Dihadapi
Tindakan
Yang Sudah
dilakukan
Yang Sedang Dilakukan
B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.
Teknis Operasional: Sumber Air Baku Bangunan Intake IPA
Reservoir dan Pompa Distribusi
Jaringan Transmisi Jaringan Distribusi Sambungan Rumah Meter Pelanggan
Kualitas cenderung menurun
-Kinerja Hidrolis menurun Volume reservoir kurang
-Masih ada jaringan pipa tua
-Pengamanan air baku
-Melakukan evaluasi
Membangun reservoir baru
-Rehabilitasi pipa secara bertahap
Tabel 6.14 Identifikasi Permasalahan Pengembangan SPAM Aspek Pembiayaan No Aspek Pengelolaan Air Minum Permasalahan yang
dihadapi
Tindakan
Yang sudah dilakukan Yang sedang dilakukan C
C.. PPeemmbbiiaayyaaaann:: - Sumber-sumber pembiayaan - Tarif Retribusi
- Mekanisme penarikan retribusi
- Realisasi penerimaan
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 4499 Tabel 6.15 Identifikasi Permasalahan Pengembangan SPAM Aspek Peran Serta Masyarakat
No Aspek Pengelolaan Air Minum Permasalahan yang
dihadapi
Tindakan
Yang sudah dilakukan Yang sedang dilakukan C
C.. PPeerraann sseerrttaa MMaassyyaarraakkaatt - Penyuluhan
- Kemampuan membayar retribusi
- Kemauan berpartisipasi
Tabel 6 .16 Analisis Permasalahan melalui Perbandingan Alternatif Pemecahan Masalah Pengembangan SPAM Aspek Kelembagaan
N
Noo PPaarraammeetteerr yyaanngg
diperbandingkan AAlltteerrnnaattiiff––11 AlltteA errnnaattiiff -- 22 AAlltteerrnnaattiiff -- 33
tteekknniiss MMaannffaaaatt BiiaBayyaa TTeekknniiss MMaannffaaaatt BBiiaayyaa TTeekknniiss MMaannffaaaatt BBiiaayyaa A
A.. 1. 2.. 3.
K
Keelleemmbbaaggaaaann Organisasi SPAM Tata Laksana (SOP,
Koordinasi, dll) SDM
*Dalam Proses Pendataan
Kolom (3), (6) dan (9) diisi dengan bentuk dan teknik yang diperbandingkan.
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 5500
Tabel 6.17 Analisis Permasalahan melalui Perbandingan Alternatif Pemecahan Masalah Pengembangan SPAM Aspek Teknis
N
Noo PPaarraammeetteerr yyaanngg
diperbandingkan AAlltteerrnnaattiiff––11 AlltteA errnnaattiiff -- 22 AAlltteerrnnaattiiff -- 33 tteekknniiss MMaannffaaaatt BBiiaayyaa TTeekknniiss MMaannffaaaa
t
B
Biiaayyaa TTeekknniiss MaMannffaaaatt BBiiaayyaa
B B.. a) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.
TTeekknniiss OOppeerraassiioonnaall:: Pembangunan baru:
Sumber Air Baku Bangunan Intake IPA
Reservoir dan Pompa Distribusi
Jaringan Transmisi Jaringan Distribusi Sambungan Rumah Meter Pelanggan b)
1. 2. 3.
Rehabilitasi dan Peningkatan Kapasitas: Sumber Air Baku Bangunan Intake IPA
4. 5. 6. 7. 8. c)
Reservoir dan Pompa Distribusi
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 5511
*Dalam Proses Pendataan
Tabel 6.18 Analisis Permasalahan melalui Perbandingan Alternatif Pemecahan Masalah Pengembangan SPAM Aspek Pembiayaan
No Parameter yang
diperbandingkan Alternatif – 1 Alternatif - 2 Alternatif - 3
teknis Manfaat Biaya Teknis Manfaat Biaya Teknis Manfaat Biaya
C Pembiayaan: - Sumber pembiayaan - Tarif Retribusi
*Dalam Proses Pendataan
Tabel 6.19 Analisis Permasalahan melalui Perbandingan Alternatif Pemecahan Masalah Pengembangan SPAM Aspek Peran Serta Masyarakat
No Parameter yang
diperbandingkan Alternatif – 1 Alternatif - 2 Alternatif - 3
teknis Manfaat Biaya Teknis Manfaat Biaya Teknis Manfaat Biaya
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 5522
- Kemampuan membayar retribusi - Kemauan berpartisipasi
Beberapa tantangan dalam pengembangan SPAM yang cukup besar ke depan,
agar dapat digambarkan, misalnya :
1
1)) TTa
an
ntta
an
ng
ga
an
n IIn
ntte
errn
na
all::
Tantangan dalam peningkatan cakupan kualitas air minum saat ini adalah a.
mempertimbangkan masih banyaknya masyarakat yang belum memiliki akses air minum yang aman yang tercermin pada tingginya angka prevalensi penyakit yang berkaitan dengan air Tantangan lainnya dalam pengembangan SPAM adalah adanya tuntutan PP 16/2005 untuk memenuhi kualitas air minum sesuai kriteria yang telah disyaratkan
Banyak potensi dalam hal pendanaan pengembangan SPAM yang belum b.
dioptimalkan. Sedangkan adanya tuntutan penerapan tarif dengan prinsip
full cost
recovery merupakan tantangan besar dalam pengembangan SPAM.
Adanya tuntutan untuk penyelenggaraan SPAM yang profesional merupakan c.
tantangan dalam pengembangan SPAM di masa depan.
Adanya tuntutan penjaminan pemenuhan standar pelayanan minimal d.
sebagaimana disebutkan dalam PP No. 16/2005 serta tuntutan kualitas air baku untuk memenuhi standar yang diperlukan.
Adanya potensi masyarakat dan swasta dalam pengembangan SPAM yang belum e.
diberdayakan
2
2)) TTa
an
ntta
an
ng
ga
an
n E
Ekksstte
errn
na
all
Tuntutan pembangunan yang berkelanjutan dengan pilar pembangunan ekonomi, a.
sosial, dan lingkungan hidup.
Tuntutan penerapan
Good Governance
melalui demokratisasi yang menuntut b.pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan.
Komitmen terhadap kesepakatan Millennium Development Goals (MDGs) 2015 dan
c.
Protocol Kyoto
danHabitat
, dimana pembangunan perkotaan harus berimbang dengan pembangunan perdesaan.Tuntutan peningkatan ekonomi dengan pemberdayaan potensi lokal dan d.
masyarakat, serta peningkatan peran serta dunia usaha, swasta
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 5544 A
Annaalliissiiss KKeebbuuttuuhhaann SSiisstteemm PPeennyyeeddiiaaaann AAiirr MMiinnuumm 6.3.2
Kebutuhan sistem penyediaan air minum terjadi karena adanya gap antara kondisi yang ada saat ini dengan target yang akan dicapai pada kurun waktu tertentu. Kondisi pelayanan air minum secara nasional sebesar 47, 71%, dilihat dari proporsi
penduduk terhadap sumber air minum terlindungi (akses aman) yang mencakup 49,82% di perkotaan dan 45,72 di perdesaan. Setiap kabupaten/kota perlu melakukan analisis kebutuhan sistem penyediaan air minum di masing-masing kabupaten/kota sesuai dengan arahan dibawah ini :
A
A.. AAnnaalliissiiss KKeebbuuttuuhhaann PPeennggeemmbbaannggaann SSPPAAMM KKaabbuuppaatteenn//KKoottaa
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis kebutuhan Sistem Penyediaan Air Minum, baik sistem perpipaan maupun bukan perpipaan adalah menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi sistem penyediaan air minum. Melakukan analisis atas dasar besarnya kebutuhan penyediaan air minum, baik itu untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat
(basic need)
maupun kebutuhan pengembangan kota(development need)
Pada bagian ini sudah harus diuraikan penetapan kawasan/daerah yang memerlukan penanganan dari komponen penyediaan air minum baik sistem perpipaan maupun bukan perpipaan, serta diperlihatkan arahan struktur pengembangan prasarana kota yang telah disepakati.Analisis kebutuhan Pengembangan SPAM merupakan hasil rangkaian analisis diantaranya adalah analisis hasil survey kebutuhan nyata (real demand survey), analisis kebutuhan dasar air minum, analisis kebutuhan program pengembangan, analisis kualitas dan tingkat pelayanan serta analisis ekonomi. Hasil analisis keb utuhan dituangkan dalam tabel 6.20 dan 6.21.
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 5555
N
Noo.. UUrraaiiaann KKoonnddiissii E Ekkssiissttiinngg
K Ekkssiissttiinngg
TTaahhuunn
b. Cakupan Pelayanan Penduduk (%) 89,19 90 92 94 96 98
c. Kebutuhan air (liter/org/hari) 200 210 220 230 240 250
2
2.. SSiisstteemm BBuukkaann PPeerrppiippaaaann
a. Kebocoran (%)
b. Cakupan Pelayanan Penduduk (%) -c. Kebutuhan air (liter/org/hari) -3
3.. SSiisstteemm PPeerrppiippaaaann NNoonn PPDDAAMM
a. Kebocoran (%)
b. Cakupan Pelayanan Penduduk (%) -c. Kebutuhan air (liter/org/hari) -4
4.. KKeebbooccoorraann TToottaall
*Dalam Proses Pendataan
4.21 Analisis Kualitas Dan Tingkat Pelayanan Serta Analisis Ekonomi
N
Ekkssiissttiinngg TTaahhuunn
II
a. Proporsi Sambungan Langsung 100% 100% 100% 100% 100% 100%
b. Proporsi Sambungan Umum - - -
-c. Jumlah Sambungan Langsung 200.285 201.000 202.000 203.000 204.000 205.000 d. Jumlah Sambungan Umum
6
6.. UUnniitt KKoonnssuummssii a. Sambungan Langsung, SL b. Sambungan Umum, SU
c. Non Domestic
7
7.. KKeebbuuttuuhhaann AAiirr
a. Kebutuhan Air Domestik 58.503.73460.000.00062.000.00064.000.00066.000.00068.000.000 b. Kebutuhan Air Non Domestik 13.233.00915.000.00016.000.00017.000.00018.000.00019.000.000 c. Sub Total Kebutuhan Air 71.736.74375.000.00078.000.00081.000.00084.000.00087.000.000 8
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 5566 DJCK tahun 2010-2014 khususnya dalam Kegiatan: Pengaturan, Pembinaan,
Pengawasan, Pengembangan Sumber Pembiayaan Dan Pola Investasi, Dan Penyelenggaraan Serta Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.
Setiap kabupaten/kota perlu menggambarkan realisasi dan target pengembangan sistem penyediaan air minum di masing-masing kabupaten/kota sesuai dengan table 6.22.
Program SPAM yang dikembangkan oleh Pemerintah Pusat sebagai berikut:
A
A.. P
Prro
og
grra
am
m SSP
PA
AM
M IIK
KK
K
Kriteria Program SPAM IKK adalah S
Saassaarraann :: IKK yang belum memiliki SPAM
K
Keeggiiaattaann ::
Pembangunan SPAM (unit air baku, unit produksi dan unit distribusi
utama)
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 5577
N
Noo.. OOUUTTPPUUTT SSAATTUUAANN KKeebbuuttuuhhaann
N
Noo.. OOUUTTPPUUTT SSAATTUUAANN TTaahhuunn
II
TTaahhuunn
IIII
TTaahhuunn
IIIIII
TTaahhuunn
IIVV
TTaahhuunn
V V 1 Layanan Perkantoran
2 Peraturan Pengembangan Sistem
3 Laporan Pembinaan Pelaksanaan
a. RISPAM b. NSPK SPAM
4 Laporan Pengawasan Pelaksanaan
5 Percontohan Re-Use dan Daur
a. Kampanye hemat air
b. Aktivitas reuse & daur ulang 6. Penyelenggaraan SPAM
a. PDAM yang memperoleh
b. Pengelola air minum non
PDAM yang memperoleh c. Laporan pra-studi
kelayakan
d. PDAM terfasilitasi untuk
e. Studi Alternatif Pembiayaan 7. SPAM Regional
8. SPAM Di kawasan MBR
9. SPAM di Ibu kota Kecamatan 10. SPAM Perdesaan
a. PS Air Minum Perdesaan b. Pro Rakyat PDT
11. SPAM Kawasan Khusus a. Kawasan pulau terluar,
b. Kawasan pemekaran, c. Pelabuhan perikanan dan Pro
i. Pelabuhan perikanan ii. Pro Rakyat KKP
*Dalam Proses Pendataan
Jaringan distribusi untuk maksimal 40% target Sambungan Rumah (SR) Total.
IInnddiikkaattoorr::
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 5588 Penambahan jumlah kawasan/IKK yang terlayani SPAM
B
B.. P
Prro
og
grra
am
m M
Ma
assy
ya
arra
akka
att B
Be
errp
pe
en
ng
gh
ha
assiilla
an
n R
Re
en
nd
da
ah
h ((M
MB
BR
R))
Kriteria Program Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) adalah :
S
Saassaarraann:: Optimalisasi SPAM IKK
K
Keeggiiaattaann:: Stimulan jaringan pipa distribusi maksimal 40% dari target total SR untuk
MBR IInnddiikkaattoorr::
Peningkatan kapasitas (liter/detik)
Penambahan jumlah kawasan kumuh/nelayan yang terlayani SPAM
C
C.. P
Prro
og
grra
am
m P
Pe
errd
de
essa
aa
an
n P
Po
olla
a P
Pa
am
mssiim
ma
ass
Kriteria Program Perdesaan Pola Pamsimas adalah:
S
Saassaarraann:: IKK yang belum memiliki SPAM
KKeeggiiaattaann::
Pembangunan SPAM (unit air baku, unit produksi dan unit distribusi
utama)
Jaringan distribusi untuk maksimal 40% target Sambungan Rumah (SR) total
IInnddiikkaattoorr::
Peningkatan kapasitas (liter/detik)
Penambahan jumlah kawasan/IKK yang terlayani SPAM
D
D.. P
Prro
og
grra
am
m D
De
essa
a R
Ra
aw
wa
an
n A
Aiirr//TTe
errp
pe
en
nc
ciill
Kriteria Program SPAM IKK adalah
S
R
REENNCCAANNAA TTEERRPPAADDUU DDAANN PPRROOGGRRAAMM IINNVVEESSTTAASSII IINNFFRRAASSTTRRUUKKTTUURR JJAANNGGKKAA MMEENNEENNGGAAHH ((RRPPII22--JJMM)) 66 -- 5599 sulit)
K
Keeggiiaattaann:: Pembangunan unit air baku, unit produksi dan unit distribusi utama
IInnddiikkaattoorr:: Penambahan jumlah desa yang terlayani SPAM
Selanjutnya pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) mengacu pada
Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) yang disusun berdasarkan:
1. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota;
2. Rencana pengelolaan Sumber Daya Air;
3. Kebijakan dan Strategi Pengembangan SPAM;
4. Kondisi Lingkungan, Sosial, Ekonomi, dan Budaya Masyarakat;
5. Kondisi Kota dan Rencana Pengembangan SPAM
Tabel 6.23 Lingkup Penyusunan RISPAM
Kegiatan Wilayah Administrasi
Kab/Kota
Wilayah Pelayanan
Kegiatan Wilayah Administrasi
Kab/Kota
Satu Wilayah Lintas Kab./Kota Lintas Provinsi
Penyusun Pemda Penyelenggara di Kab./Kota
Penyelenggara Regional
Penyelenggara Regional
Acuan RTRW RTRW & RISPAM
Kab./Kota
RTRW & RISPAM Kab./Kota Terkait
RTRW Provinsi, RTRW & RISPAM Kab./Kota Terkait
Penetapan Bupati/ Walikota
Bupati/ Walikota Gubernur setelah berkonsultasi dengan Bupati/Walikota Terkait.
Menteri setelah berkonsultasi dengan Gubernur dan
Bupati/Walikota Terkait.
Konsultasi Publik
Pemda Penyelenggara dengan Fasilitasi dari Pemda
Penyelenggara dengan
fasilitasi dari Pemda terkait dan Gubernur
Penyelenggara dengan fasilitasi dari Pemda terkait, Gubernur, dan menteri.
Pelaksanaan Penyusunan
Penyedia Jasa/ Sendiri
Penyedia Jasa/ Sendiri
Penyedia Jasa/ Sendiri Penyedia Jasa/ Sendiri
U
Ussuullaann PPrrooggrraamm ddaann PPeemmbbiiaayyaaaann 6