BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Data hasil penelitian ini diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan pada

25  33  Download (0)

Teks penuh

(1)

53 4.1 Hasil Penelitian

Data hasil penelitian ini diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan pada tanggal 28 Maret 2016 dan pengembaliannya pada tanggal 11 April 2016. Dari seluruh populasi yang berjumlah 49 responden ternyata dilapangan hanya terdapat 31 responden yang dapat dijadikan sampel dalam penelitian ini. Kuesioner disebarkan langsung oleh peneliti kepada responden yang menjadi sampel. Jumlah kuesioner yang disebarkan sebanyak 35 set. Dari jumlah kuesioner tersebut hanya 31 set kuesioner yang kembali utuh, dan seluruh kuesioner dapat dipergunakan. Berikut adalah data pendistribusian sampel penelitian:

Tabel 4.1

Data Distribusi Sampel Penelitian

No Nama kantor Akuntan Publik Kuesioner Dikirim

Kuesioner Dikembalikan 1 KAP Drs. Abror Ak, CPA & Rekan

(Cabang)

2 -

2 KAP Bambang Sutjipto Ngumar & Rekan 5 5 3 KAP Griselda, Wisnu & Arum (Cabang) 4 3

4 KAP Hadibroto & Rekan - -

5 KAP Drs. Hardi & Rekan - -

6 KAP Drs. Katio & Rekan (Cabang) 12 12

7 KAP Khairul 3 3

8 KAP Dra. Martha.Ng, Ak. 3 3

9 KAP Drs. Selamat Sinuraya & Rekan (Cabang)

6 5

Total 35 31

(2)

4.1.1 Analisis Responden

Penjelasan demografi responden memberikan gambaran mengenai karakteristik responden yang menunjukkan besarnya frekuensi absolut dan presentase mengenai jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, lamanya bekerja sebagai auditor. Data demografi responden secara lebih jelas disajikan dalam tabel 4.2 berikut ini:

Tabel 4.2 Demografi Responden

Jumlah sampel Frekuensi Persentase

31 100 %

Jenis Kelamin Pria Wanita 20 11 64,5% 35,48% Usia 20 - 30 Tahun 31 - 40 Tahun >40 Tahun 20 8 3 64,6% 25,80% 9,67% Pendidikan terakhir D3 S1 S2 S3 10 21 - - 32,25% 67,74% - - Lama Bekerja Sebagai Auditor 1 - 3 Tahun 2 - 5 Tahun >5 Tahun 10 8 13 32,25% 25,80% 41,93% Sumber : Data olahan 2016

4.1.2 Analisis Data

Analisis data yang dilakukan adalah dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS (Statistical For Social Science) versi 17.

4.1.2.1 Uji Statistik Deskriptif

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi locus of control, komitmen organisasi, kinerja, turnover intention, dan etika profesi

(3)

diuji secara statistik deskriptif yang akan menunjukkan angka rata-rata, median, kisaran, dan standar deviasi seperti yang terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.3

Hasil Uji Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Disfungsonal Audit (Y) 31 47 60 54,39 4,193 Locus of control X1 31 46 65 58,61 5,777 Komitmen organisasi (X2) 31 36 45 40,58 3,096 (Kinerja) (X3) 31 27 35 30,97 2,763 Tutnover intention (X4) 31 14 20 17,77 1,927 Etika profesi (X5) 31 30 40 36,35 2,690 Valid N (listwise) 31 Sumber: Data Olahan 2016

Tabel 4.3 menjelaskan bahwa pada variabel disfungsional audit jawaban minimum responden sebesar 47 dan maksimum sebesar 60, dengan rata-rata total jawaban 54,39 dan standar deviasi sebesar 4,193. Variabel locus of control jawaban minimum responden sebesar 46 dan maksimum sebesar 65, dengan rata-rata total jawaban 58,61 dan standar deviasi sebesar 5,77. Variabel komitmen organisasi jawaban minimum responden sebesar 36 dan maksimum sebesar 45, dengan rata-rata total jawaban 40,58 dan standar deviasi sebesar 3,096. Variabel kinerja jawaban minimum responden sebesar 27 dan maksimum sebesar 35, dengan rata-rata total jawaban 30,97 dan standar deviasi sebesar 2,763. Pada variabel turnover intention minimum jawaban responden sebesar 14 dan maksimum sebesar 20, dengan rata-rata total jawaban 17,77 dan

(4)

standar deviasi sebesar 1,927. Sedangkan, pada variabel etika profesi jawaban minimum responden sebesar 30 dan maksimum sebesar 40, dengan rata-rata total jawaban 36,35 dan standar deviasi sebesar 2,690.

4.1.3 Uji Kualitas Data 4.1.3.1 Hasil Uji Validitas

Pengujian dilakukan pada variabel-variabel penelitian yang meliputi locus of control, komitmen organisasi, kinerja, turnover intention, dan etika profesi terhadap penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior). Uji validitas digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu kuesioner dan ditentukan oleh proses pengukuran yang akurat dan kuat. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan Pearson Corelation, pedoman suatu model dikatakan valid jika tingkat signifikansinya dibawah 0,05. Tabel berikut ini menunjukkan hasil uji validitas dari 6 variabel.

Hasil pengujian validitas untuk variabel locus of control ditunjukan dalam tabel berikut:

Tabel 4.4

Hasil Uji Validitas Variabel Locus of Control

Pertanyaan Pearson Correlation Sig (2-Tailed) Keterangan

1 0,575 0,001 Valid 2 0,521 0,003 Valid 3 0,483 0,006 Valid 4 0,694 0,000 Valid 5 0,476 0,007 Valid 6 0,639 0,000 Valid 7 0,545 0,002 Valid 8 0,687 0,000 Valid 9 0,531 0,002 Valid 10 0,775 0,000 Valid 11 0,683 0,000 Valid 12 0,755 0,000 Valid 13 0,687 0,000 Valid

(5)

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa variabel locus of control terdiri atas 13 (tiga belas) butir pertanyaan, dan dari 13 (tiga belas) butir pertanyaan adalah valid karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa butir pertanyaan untuk variabel locus of control adalah valid dan layak digunakan untuk penelitian.

Hasil pengujian validitas untuk variabel komitmen organisasi ditunjukan dalam tabel berikut:

Tabel 4.5

Hasil Uji Validitas Variabel Komitmen Orgaisasi

Pertanyaan Pearson Correlation Sig (2-Tailed) Keterangan

1 0,488 0,005 Valid 2 0,521 0,003 Valid 3 0,530 0,002 Valid 4 0,530 0,002 Valid 5 0,504 0,004 Valid 6 0,538 0,002 Valid 7 0,533 0,002 Valid 8 0,534 0,002 Valid 9 0,532 0,002 Valid

Sumber : Data olahan 2016

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa variabel komitmen organisasi terdiri atas 9 (sembilan) butir pertanyaan, dan dari 9 (sembilan) butir pertanyaan adalah valid karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa butir pertanyaan untuk variabel komitmen organisai adalah valid dan layak digunakan untuk penelitian.

Hasil pengujian validitas untuk variabel kinerja ditunjukan dalam tabel berikut:

(6)

Tabel 4.6

Hasil Uji Validitas Variabel Kinerja

Pertanyaan Pearson Correlation Sig (2-Tailed) Keterangan

1 0,597 0,000 Valid 2 0,549 0,001 Valid 3 0,613 0,000 Valid 4 0,519 0,003 Valid 5 0,691 0,000 Valid 6 0,526 0,002 Valid 7 0,543 0,002 Valid

Sumber : Data olahan 2016

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa variabel kinerja terdiri atas 7 (tujuh) butir pertanyaan, dan dari 7 (tujuh) butir pertanyaan adalah valid karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa butir pertanyaan untuk variabel kinerja adalah valid dan layak digunakan untuk penelitian.

Hasil pengujian validitas untuk variabel turnover intention ditunjukan dalam tabel berikut:

Tabel 4.7

Hasil Uji Validitas Variabel Turnover Intention

Pertanyaan Pearson Correlation Sig (2-Tailed) Keterangan

1 0,689 0,000 Valid

2 0,777 0,000 Valid

3 0,770 0,000 Valid

4 0,582 0,001 Valid

Sumber : Data olahan 2016

Tabel 4.7 menunjukkan bahwa variabel turnover intention terdiri atas 4 (empat) butir pertanyaan, dan dari 4 (empat) butir pertanyaan adalah valid karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa

(7)

butir pertanyaan untuk variabel turnover intention adalah valid dan layak digunakan untuk penelitian.

Hasil pengujian validitas untuk variabel etika profesi ditunjukan dalam tabel berikut:

Tabel 4.8

Hasil Uji Validitas Variabel Etika Profesi

Pertanyaan Pearson Correlation Sig (2-Tailed) Keterangan

1 0,551 0,001 Valid 2 0,763 0,000 Valid 3 0,590 0,000 Valid 4 0,532 0,002 Valid 5 0,606 0,000 Valid 6 0,594 0,000 Valid 7 0,497 0,004 Valid 8 0,636 0,000 Valid

Sumber : Data olahan 2016

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa variabel etika profesi terdiri atas 8 (delapan) butir pertanyaan, dan dari 8 (delapan) butir pertanyaan adalah valid karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa butir pertanyaan untuk variabel etika profesi adalah valid dan layak digunakan untuk penelitian.

Hasil pengujian validitas untuk variabel penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) ditunjukan dalam tabel berikut:

(8)

Tabel 4.9

Hasil Uji Validitas Variabel

Penyimpangan Perilaku Dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior) Pertanyaan Pearson Correlation Sig (2-Tailed) Keterangan

1 0,574 0,001 Valid 2 0,615 0,000 Valid 3 0,502 0,004 Valid 4 0,509 0,003 Valid 5 0,510 0,003 Valid 6 0,592 0,000 Valid 7 0,509 0,003 Valid 8 0,487 0,005 Valid 9 0,488 0,005 Valid 10 0,521 0,003 Valid 11 0,472 0,007 Valid 12 0,473 0,007 Valid

Sumber : Data olahan 2016

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa variabel penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) terdiri atas 12 (dua belas) butir pertanyaan, dan dari 12 (dua belas) butir pertanyaan adalah valid karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa butir pertanyaan untuk variabel penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) adalah valid dan layak digunakan untuk penelitian.

4.1.3.2 Uji Reliabilitas

Setelah dilakukan uji validitas terhadap tiap variabel, peneliti melakukan pengujian reliabilitas. Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap akurat dan konsisten atau stabil dari waktu ke waktu agar dapat dipercaya hasilnya. Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan uji statistik Cronbach Alpha dari

(9)

masing-masing instrumen dalam satu variabel. Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60 (Ghozali, 2006). Hasil pengujian reliabilitas dalam penelitian ini disajikan dalam table berikut ini:

Tabel 4.10 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Cronbach’s

Alpha

Jumlah Butir

Pertanyaan Keterangan

Locus of Control 0,858 13 Reliabel

Komitmen Organisasi 0,659 9 Reliabel

Kinerja 0,669 7 Reliabel

Turnover Intention 0,661 4 Reliabel

Etika Profesi 0,741 8 Reliabel

Penyimpangan Perilaku dalam Audit

(Dysfunctional Audit Behavior)

0,740 12 Reliabel

Sumber : Data olahan 2016

Tabel 4.10 menunjukkan bahwa instrumen untuk setiap variabel penelitian adalah reliabel, karena α hitung > 0,5. Pada variable locus of control memiliki nilai Cronbach Alpha (α) sebesar 0,858, variabel komitmen organisasi memiliki nilai Cronbach Alpha (α) sebesar 0,659, variabel kinerja memiliki nilai Cronbach Alpha (α) sebesar 0,669, variabel turnover intention memiliki nilai Cronbach Alpha (α) sebesar 0,661, variabel etika profesi memiliki nilai Cronbach Alpha (α) 0,741, dan variabel penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) memiliki nilai Cronbach Alpha (α) 0,740.

(10)

4.1.4 Uji Asumsi Klasik 4.1.4.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah analisis dalam model regresi variabel penganggu atau residual memiliki distribusi normal. Normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Jika data (titik) menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka menunjukkan pola distribusi normal yang mengindikasikan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas. Jika data (titik) menyebar menjauh dari diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal maka tidak menunjukkan pola distribusi normal yang mengindikasikan bahwa model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.Berikut ini hasil uji normalitas.

(11)

Tabel 4.11

Hasil Uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual N 31 Normal Parametersa,b Mean ,0000000 Std. Deviation 2,10621310 Most Extreme Differences Absolute ,133 Positive ,133 Negative -,090 Kolmogorov-Smirnov Z ,742

Asymp. Sig. (2-tailed) ,641

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Sumber : Data olahan 2016

Dari gambar Normal PP Plot diatas terlihat data menyebar disekitar dan mengikuti garis diagonal. Dan berdasarkan uji Kolmogorov smirnov diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,641> 0,05. Dapat diartikan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas.

4.1.4.2 Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas model regresi adalah dengan melihat nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Model regresi yang bebas multikolinearitas nilai VIF berkisar pada angka 1 hingga 10 dan mempunyai angka tolerance mendekati 1 (Ghozali, 2013:105)

(12)

Tabel 4.12

Hasil Uji Multikolonieritas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) -9,511 8,013 Locus of control ,339 ,084 ,467 ,757 1,320 Komitmen Organisasi ,300 ,189 ,222 ,517 1,935 Kinerja ,457 ,174 ,301 ,765 1,308 Turnover Intention -,160 ,260 -,074 ,709 1,410 Etika Profesi ,565 ,202 ,363 ,600 1,667 a. Dependent Variable: Y

Sumber : Data olahan 2016

Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada tabel diatas. Nilai Tolerance dari semua variabel besar dari 0,10 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) untuk setiap variabel kecil dari 10, yang ditunjukkan dengan nilai tolerance untuk locus of control sebesar 0,757, komitmen organisasi sebesar 0,517, kinerja sebesar 0,765, turnover intention sebesar 0,709, dan etika profesi sebesar 0,600. Selain itu nilai VIF untuk locus of control sebesar 1,320, komitmen organisasi sebesar 1,935, kinerja sebesar 1,308, turnover intention sebesar 1,410 dan etika profesi sebesar 1,667. Suatu model regresi dikatakan bebas dari problem multikolinearitas apabila memiliki nilai VIF kurang dari 10 dan besar dari 0,10. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data-data diatas lolos dari uji asumsi klasik dan uji kualitas data dan dapat digunakan pada pengujian hipotesis.

(13)

4.1.4.3 Uji Heteroskedastisitas

Pengujian heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED, yang diperlihatkan pada gambar berikut:

Gambar 4.2

Hasil Uji Heteroskedastisitas

Dari gambar Scatterplot diatas terlihat tidak membentuk pola tertentu dan menyebar secara acak diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y. Dapat diartikan tidak terdapat heterokedastisitas dalam model regresi penelitian ini.

(14)

4.1.5 Uji Analisis Regresi Linear Berganda Tabel 4.13

Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients B Std. Error Beta 1 (Constant) -9,511 8,013 Locus of control (X1) ,339 ,084 ,467 Komitmen organisasi (X2) ,300 ,189 ,222 Kinerja (X3) ,457 ,174 ,301 Turnover intention (X4) -,160 ,260 -,074 Etika profesi (X5) ,565 ,202 ,363

a. Dependent Variable: Disfungsional audit (Y) Dari output didapatkan model persamaan regresi: Y = α+ β1 X1 + β2 X2 + β3 X3+ β4X4+ β5X5+ e

Y = -9,551+0,339X1+0,300 X2+0,457X3-0,160 X4+0,565 X5+e Persamaan regresi tersebut diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Konstanta sebesar -9.511; artinya jika pengaruh yang diperoleh dari locus of control (X1), komitmen organisasi (X2), kinerja (X3), turnover intention (X4) dan etika profesi (X5) nilainya adalah 0, maka penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) (Y) nilainya -9,511

b. Koefisien regresi variabel locus of control (X1) sebesar 0,339; artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan pengaruh locus of control naik 1%, maka penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0,339. Koefisien bernilai positif, artinya terjadi hubungan yang positif antara locus of control

(15)

dengan penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior).

c. Koefisien regresi variabel komitmen organisasi (X2) sebesar 0,300; artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan pengaruh komitmen organisasi naik 1%, maka penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) (Y) akan mengalami kenaikkan sebesar 0,300. Koefisien bernilai positif, artinya terjadi hubungan yang positif antara komitmen organisasi penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior)

d. Koefisien regresi variabel kinerja (X3) sebesar 0,457; artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan pengaruh kinerja naik 1%, maka penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0,457. Koefisien bernilai positif, artinya terjadi hubungan yang positif antara kinerja dengan penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior).

e. Koefisien regresi variabel turnover intention (X4) sebesar -0,160; artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan pengaruh turnover intention turun 1%, maka penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) (Y) akan mengalami penurunan sebesar -0,160. Koefisien bernilai negatif, artinya terjadi hubungan yang negatif antara turnover intention dengan penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior)

f. Koefisien regresi variabel etika profesi (X5) sebesar 0,565; artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan pengaruh etika profesi naik

(16)

1%, maka penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0,565. Koefisien bernilai positif, artinya terjadi hubungan yang positif antara etika profesi dengan penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior.

g. Standar error (e) merupakan variabel acak dan mempunyai distribusi probabilitas yang mewakili semua faktor yang mempunyai pengaruh terhadap Y tetapi tidak dimasukan dalam persamaan.

4.1.6 Pengujian Hipotesis

4.1.6.1 Uji Koefisien Regresi Secara Parsial (Uji t)

Hasil uji t dapat dilihat pada tabel 4.14, jika nilai probability lebih kecil dari 0.05 maka Ha diterima dan menolak H0, sedangkan jika nilai probability t lebih besar dari 0.05 maka H0 diterima dan menolak Ha.

Tabel 4.14

Uji Koefisien Regresi Secara Parsial (Uji t) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleran ce VIF 1 (Constan t) -9,511 8,013 -1,187 ,246 X1 ,339 ,084 ,467 4,045 ,000 ,757 1,320 X2 ,300 ,189 ,222 1,587 ,125 ,517 1,935 X3 ,457 ,174 ,301 2,619 ,015 ,765 1,308 X4 -,160 ,260 -,074 -,616 ,543 ,709 1,410 X5 ,565 ,202 ,363 2,795 ,010 ,600 1,667 a. Dependent Variable: Y Sumber : Data olahan 2016

Diketahui nilai t tabel pada taraf signifikansi 5 % (2-tailed) dengan Persamaan berikut:

(17)

t tabel = n – k – 1: alpha/ 2 = 31– 5 – 1: 0,05/ 2 = 25 : 0,025

= ‒2,060 / 2,060 keterangan: n : jumlah

k : jumlah variabel bebas.

Berdasarkan output di atas, pengujian hipotesis dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut dengan nilai t tabel pada taraf signifikan 5% adalah 2,060

a. Locus of control. Diketahui t hitung (4,045) > t tabel (2,060) dan Sig.(0,000) < 0,05. Artinya variabel Locus of Control berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior).

b. Komitmen Organisasi. Diketahui t hitung (1,578) < t tabel (2,060) dan Sig.(0,125) > 0,05. Artinya variabel Komitmen Organisasi tidak berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior).

c. Kinerja. Diketahui t hitung (2,619) > t tabel (2,060) dan Sig.(0,015) < 0,05. Artinya variabel Kinerja berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior)..

d. Turnover Intention. Diketahui t hitung (-0,616) < t tabel (2,060) dan Sig.(0,543) > 0,05. Artinya variabel Turnover Intention tidak

(18)

berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior).

e. Etika Profesi. Diketahui t hitung (2,795) > t tabel (2,060) dan Sig.(0,010) < 0,05. Artinya variabel Etika Profesi berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior).

4.1.6.2 Uji Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji F)

Hasil uji F dapat dilihat pada tabel 4.15, jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0.05 maka Ha diterima dan menolak H0, sedangkan jika nilai probabilitas lebih besar dari 0.05 maka H0 diterima dan menolak Ha.

Tabel 4.15

Uji Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji F) ANOVAa Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 394,271 5 78,854 14,813 ,000b Residual 133,084 25 5,323 Total 527,355 30 a. Dependent Variable: Y b. Predictors: (Constant), X5, X3, X1, X4, X2 Sumber : Data olahan 2016

Diketahui F hitung sebesar 14,813 dengan signifikansi 0,000. F tabel dapat diperoleh sebagai berikut:

F tabel = df2 ; df1 = n – k – 1 ; k

=31 – 5 – 1 ;5

(19)

= 2,60

Keterangan n : jumlah sampel

k : jumlah variabel bebas

1 : konstan

Dengan demikian diketahui F hitung (14,813) > F tabel (2,60) dengan Sig. (0,000) < 0,05. Artinya adalah bahwa locus of control, komitmen organisasi, kinerja, turnover intention, dan etika profesi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior).

4.1.6.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi (R²) dalam regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel independen (X) secara serentak terhadap variabel dependen (Y). Semakin besar koefisien determinasinya, maka semakin baik variabel independen dalam menjelaskan variabel dependennya. Berikut ini disajikan hasil uji koefisien determinasi untuk variabel Y, X1, X2, X3, X4, dan X5.

Tabel 4.16

Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) Variabel Y, X1, X2, X3,X4, dan X5 Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,865a ,748 ,697 2,307 a. Predictors: (Constant), X5, X3, X1, X4, X2 b. Dependent Variable: Y

(20)

Tabel 4.16 menunjukkan nilai R sebesar 0,865 atau 86,5%. Hal ini berarti bahwa hubungan atau korelasi antara penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) dengan locus of control, komitmen organisasi, kinerja, turnover intention dan etika profesi adalah kuat karena berada diatas 0,60. Variasi variabel independen yang digunakan dalam model sebesar 86,5% variabel dependen (penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior)). Sedangkan sisanya sebesar 13,5% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.

Diketahui nilai Adjusted R Square sebesar 0,697. Artinya adalah bahwa sumbangan pengaruh locus of control, komitmen organisasi, kinerja, turnover intention, dan etika profesi terhadap penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) sebesar 69,7%. Sedangkan sisanya 30,3% dipengaruhi oleh variabel lain yan tidak dimasukkan dalam model regresi ini.

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini menguji pengaruh locus of control, komitmen organisai, kinerja, turnover intention, dan etika profesi terhadap penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior) pada auditor di Kantor Akuntan Publik di Pekanbaru.

4.2.1 Pengaruh locus of control terhadap penyimpangan perilaku dalam audit

(21)

Diketahui t hitung (4,045) > t tabel (2,060) dan Sig.(0,000) < 0,05. Artinya variabel Locus of Control berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior).

Hasil yang sama didapat dalam penelitian yang dilakukan oleh (Basudewa dan Lely Aryani, 2015). Hasil uji hipotesis Locus of Control berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi locus of control yang dimiliki oleh seorang auditor maka akan semakin tinggi pula perilaku menyimpang yang dilakukan oleh seorang auditor. Pada saat individu merasa bahwa kemampuannya tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan, maka individu tersebut cenderung melakukan perilaku disfungsional untuk mempertahankan kedudukannya. Locus of control merupakan persepsi atau cara pandang seseorang terhadap sumber-sumber yang mengendalikan peristiwa-peristiwa baik atau buruk dalam hidupnya.

4.2.2 Pengaruh komitmen organisasi terhadap penyimpangan perilaki dalam audit

Hasil uji hipotesis 2 dapat dilihat pada tabel 4.13, Komitmen Organisasi. Diketahui t hitung (1,578) < t tabel (2,060) dan Sig.(0,125) > 0,05. Artinya variabel Komitmen Organisasi tidak berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pujaningrum dan Sabeni (2012). Hasil penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa auditor yang memiliki komitmen organisasi yang tinggi maka auditor tersebut tidak menunjukkan kecenderungan untuk menerima perilaku penyimpangan audit

(22)

sebagaimana yang dihipotesiskan. karyawan yang mempunyai komitmen lebih tinggi akan menunjukkan loyalitas yang besar kepada perusahaan dimana mereka bekerja dibanding karyawan yang memiliki komitmen yang lebih rendah, sehingga ada kecenderungan pula bahwa auditor yang memiliki komitmen yang tinggi pada KAP akan menerima saran-saran yang diberikan oleh atasan meskipun atasan dapat mendorong terjadinya penyimpangan perilaku dalam audit. Secara teoritis komitmen organisasi terdiri dari 3 bentuk komitmen yaitu komitmen afektif, normative dan kontinyu. Berkaitan dengan perilaku negative fungsi seperti perilaku penerimaan disfungsional audit dalam hal ini nampaknya terdapat kondisi yang tidak searah antar komitmen kontinyu dan komitmen afektif dan normative. Dalam komitmen kontinyu terkandung makna bahwa keinginan auditor untuk bekerja di dalam perusahaan audit (KAP) dapat mendorong mereka untuk menerima perilaku disfungsional, namun di sisi lain komitmen afektif yang merupakan cerminan perasaan dari auditor untuk menjunjung tinggi nama KAP justru dapat menolak untuk menerima perilaku disfungsional dengan pertimbangan bahwa KAP sebagai organisasi harus profesional. Dengan kata lain komitmen organisasi (afektif) yang tinggi akan menciptakan keinginan untuk meningkatkan kinerja KAP, sedangkan kualitas KAP dapat ditunjukkan dengan pelaksanaan prosedur yang benar yang dilakukan oleh auditornya.

4.2.3 Pengaruh kinerja terhadap penyimpangan perilaku dalam audit Hasil uji hipotesis 3 dapat dilihat pada tabel 4.13, Kinerja. Diketahui t hitung (2,619) > t tabel (2,060) dan Sig.(0,015) < 0,05. Artinya variabel Kinerja berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit

(23)

Behavior).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Chairunnisa, 2014), Hal ini menunjukkan bahwa auditor yang memiliki kinerja yang baik cenderung melakukan tugas dengan baik. Sedangkan auditor dengan tingkat kinerja dibawah harapan pimpinannya memiliki kemungkinan yang lebih besar terlibat perilaku menyimpang dalam audit karena menganggap dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk bertahan dalam organisasi melalui usahanya sendiri. Jadi, semakin rendah kinerja seorang auditor, semakin tinggi kemungkinan auditor tersebut melakukan tindakan perilaku menyimpang dalam audit. Individu yang tingkat kinerjanya berada dibawah harapan supervisor memiliki kemungkinan yang lebih besar terlibat dalam perilaku menyimpang dalam audit karena menganggap dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk bertahan dalam organisasi melalui usahanya sendiri.

4.2.4 Pengaruh turnover intention terhadap penyimpangan perilaku dalam audit

Hasil uji hipotesis 4 dapat dilihat pada tabel 4.13, Turnover Intention. Diketahui t hitung (-0,616) < t tabel (2,0560) dan Sig.(0,543) > 0,05. Artinya variabel Turnover Intention tidak berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior).

Hasil penelitian ini sama dengan yang ditemukan oleh Harini, dkk (2010), dan Wahyudi (2013). Dimana bahwa turnover intention tidak berhubungan dengan penerimaan dysfunctional audit behavior. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam fakta di lapangan, tidak terdapat pengaruh antara auditor yang memiliki

(24)

keinginan tinggi untuk berpindah tempat kerja dengan penerimaan dysfunctional audit behavior. Semakin tinggi keinginan untuk berpindah kerja tidak berhubungan dengan terjadinya dysfunctional audit behavior yang semakin tinggi pula. Maka, dapat disimpulkan bahwa turnover intention tidak mempunyai dampak yang signifikan terhadap dysfunctional audit behavior.

4.2.5 Pengaruh etika profesi terhadap penyimpangan perilaku dalam audit Hasil uji hipotesis 5 dapat dilihat pada tabel 4.13, Etika Profesi. Diketahui t hitung (2,795) > t tabel (2,060) dan Sig.(0,010) < 0,05. Artinya variabel Etika Profesi berpengaruh terhadap Penyimpangan Perilaku dalam Audit (Dysfunctional Audit Behavior).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Helniyoman (2014) Etika profesi seorang auditor dapat memengaruhi perilakunya, penting bagi seorang auditor untuk memperhatikan etika profesi dalam menjalankan tanggung jawab sebagai auditor. Etika memiliki peran yang penting dalam tindakan seseorang. Hal ini telah ditegaskan AICPA (American Institute of Certified Public Accountant) dimana mensyaratkan auditor untuk melatih sensitivitas professional dan pertimbangan moral dalam semua aktivitasnya. Kesadaran etis serta kepedulian pada etika profesi yang merupakan faktor pembentuk ketaatan pada etika hendaknya terus dipelihara dan diingatkan oleh setiap auditor di Kantor Akuntan Publik, sebagai bekal dalam mempertahankan kredibilitas profesi. Independensi merupakan salah satu nilai etis yang dijabarkan secara tertulis bagi seorang auditor sebagai panduan agar dapat selalu berperilaku etis.

(25)

4.2.6 Pengaruh locus of control, komitmen organisasi, kinerja, turnover intention, dan etika profesi terhadap penyimpangan perilaku dalam audit

Hasil uji hipotesis 5 dapat dilihat pada tabel 4.14 nilai F diperoleh sebesar 14,813 dengan tingkat signifikansi 0.000. Karena tingkat signifikansi lebih kecil dari 0.05 maka Ha5 diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa locus of control, komitmen organisasi, kinerja, turnover intention, dan etika profesi berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap penyimpangan perilaku dalam audit (dysfunctional audit behavior). Auditor yang mempunyai locus of control, komitmen organisasi, kinerja, turnover intention, dan etika profesi yang rendah akan memungkinkan seorang auditor dalam melakukan penyimpangan dalam setiap pekerjaannya.

Figur

Tabel 4.2  Demografi Responden

Tabel 4.2

Demografi Responden p.2
Tabel  4.4  menunjukkan  bahwa  variabel  locus  of  control terdiri  atas  13  (tiga  belas)  butir  pertanyaan,  dan  dari  13  (tiga  belas)  butir  pertanyaan  adalah  valid  karena  nilai  signifikansi  lebih  kecil  dari  0,05

Tabel 4.4

menunjukkan bahwa variabel locus of control terdiri atas 13 (tiga belas) butir pertanyaan, dan dari 13 (tiga belas) butir pertanyaan adalah valid karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 p.5
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa variabel kinerja terdiri atas 7 (tujuh)  butir  pertanyaan,  dan  dari  7  (tujuh)  butir  pertanyaan  adalah  valid  karena  nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05

Tabel 4.6

menunjukkan bahwa variabel kinerja terdiri atas 7 (tujuh) butir pertanyaan, dan dari 7 (tujuh) butir pertanyaan adalah valid karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 p.6
Tabel 4.10  Hasil Uji Reliabilitas  Variabel  Cronbach’s

Tabel 4.10

Hasil Uji Reliabilitas Variabel Cronbach’s p.9

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :