PERBEDAAN KECEMASAN SISWA DALAM MENGHADAPI PELAJARAN MATEMATIKA ANTARA SISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SKRIPSI

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh:

CICILIA SISKA KRISMAWARTI NIM : 069114019

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv Hidupmu ada di kedua tanganmu

untuk menentukan pilihanmu (John Kehoe)

Kebanggaan terbesar kita bukan karena tidak pernah gagal, tetapi kemauan kita untuk bangkit setiap kali

kita gagal.

(Ralph Waldo Emerson)

Memang sakit kalau gagal, tetapi lebih buruk lagi kalau tidak pernah berusaha untuk berhasil

(5)

v

(6)
(7)

vii ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan menghadapi mata pelajaran matematika antara siswa kali-laki dan perempuan. Kecemasan merupakan suatu perasaan khawatir, tidak menyenangkan dan mengganggu yang dialami oleh individu dimana obyeknya tidak jelas. Aspek kecemasan meliputi kognitif, perilaku dan fisik. Hipotesis yang diajukan adalah kecemasan siswa perempuan lebih tinggi dari siswa laki-laki dalam menghadapi pelajaran matematika. Subjek dari penelitian ini adalah 43 siswa laki-laki dan 43 siswa perempuan dengan batasan usia 16 sampai 18 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran skala kecemasan. Koefisien reliabilitas dari skala kecemasan adalah 0,950. Hasil analisis menunjukkan nilai t sebesar 1,928 dengan nilai p sebesar 0,057 (p > 0,05), artinya hipotesis yang menyatakan kecemasan siswa perempuan lebih tinggi dari siswa laki-laki ditolak. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kecemasan menghadapi pelajaran matematika antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. Hasil penelitian juga menghasilkan mean empiris siswa perempuan 116.09 dan mean empiris siswa laki-laki 124.42. Berdasarkan hasil uji tambahan diperoleh pula mean teoritis yakni 135 dengan p siswa sebesar 0,000. Hal ini berarti bahwa keseluruhan subyek di SMA memiliki kecemasan yang rendah dalam menghadapi pelajaran matematika.

(8)

viii

(9)
(10)

x

skripsi yang berjudul “Perbedaan Kecemasan Siswa Dalam Menghadapi Pelajaran Matematika Antara Siswa Laki-Laki Dan Perempuan” dapat diselesaikan.

Penulis juga menyadari bahwa banyak pihak yang telah memberikan informasi, waktu, tenaga, pikiran dan nasihat serta dukungan yang tiada henti dalam penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih setulusnya kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus, atas kekuatan, berkat, kasih, cinta, kesetiaan dan campur tanganNya dalam kehidupanku, aku percaya apa yang telah aku kerjakan tidak akan sia-sia, Amin.

2. Bapak dan Ibu yang sangat penulis sayangi. Terima kasih atas cinta, kasih sayang, pengorbanan, pengertian, semangat dan doa yang selalu diberikan kepada penulis.

3. Dr. Siwi Handayani selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyusun skripsi ini dan memberikan dukungan kepada penulis.

4. Sylvia CMYM, S.Psi., M.Si. selaku Kaprodi Fakultas Psikologi yang telah membantu kelancaran penyusunan skripsi ini.

5. Y. Heri Widodo, M.Psi. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran dan kritik yang bermanfaat bagi penulis. Terima kasih juga atas kesabaran dan ketulusannya selama membimbing penulis.

6. Prof. Dr. A. Supratiknya selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa memberikan dorongan agar penulis dapat segera menyelesaikan studi.

(11)

xi menyusul dan bertemu di wisuda !!!

10. Asrama syantikara, khususnya unit St. Pieter, tanpa dukungan dan semangat kalian aku tak akan mungkin sampai tahap ini… terima kasih teman.

11. Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu dan telah membantu sampai dengan selesainya skripsi ini.

Penulis banyak menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Sehingga, untuk dapat berevolusi menuju kebaikkan, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun. Semoga karya tulis yang sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Tuhan Yesus Memberkati.

Yogyakarta, Mei 2010

(12)

xii

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT... viii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR LAMPIRAN... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

(13)

xiii

2. Aspek Kecemasan ... 10

3. Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan... 12

4. Penyebab Kecemasan... 14

5. Proses Terjadinya Kecemasan Dalam Menghadapi Pelajaran Matematika... 15

6. Kecemasan Dalam Menghadapi Pelajaran Matematika... 16

B. Remaja 1. Definisi Remaja... 16

2. Perbedaan Remaja Laki-laki dan Perempuan ... 18

3. Perbedaan Kecemasan Antara Siswa Laki-laki dan Perempuan dalam Menghadapi pelajaran Matematika ... 20

4. Hipotesis... 23

BAB III METODE PENELITIAN... 24

A. Jenis Penelitian... 24

B. Identifikasi Variabel Penelitian... 24

C. Definisi Operasional Variabel Penelitian... 24

D. Subyek Penelitian... 25

E. Metode dan Alat pengumpulan Data... 26

F. Alat Ukur ... 27

(14)

xiv

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 31

A. Pelaksanaan Penelitian ... 31

B. Deskripsi Data Penelitian... 31

1. Deskripsi Subyek ... 31

2. Kategori Data ... 32

3. Hasil Tambahan ... 33

C. Uji Asumsi ... 34

1. Uji Normalitas... 34

2. Uji Homogenitas ... 35

D. Hasil ... 35

1. Uji Hipotesis ... 35

2. Pembahasan... 36

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 39

A. Kesimpulan ... 39

B. Saran... 39

(15)

xv

Tabel 1. Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan... 26

Tabel 2. Pemberian Skor Skala Kecemasan Menghadapi Pelajaran Matematika ... 27

Tabel 3. Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan Setelah Uji coba ... 29

Tabel 4. Kategorisasi Skor Kecemasan... 32

(16)

xvi

Lampiran 1. Skala Kecemasan... 43

Lampiran 2. Uji Reliabilitas dan Seleksi item ... 49

Lampiran 3. Uji Normalitas ... 65

Lampiran 4. Uji Hipotesis ... 66

Lampiran 5. Tabel Statistik Deskriptif... 67

Lampiran 6.One Sample t-test... 70

(17)

1 A. Latar Belakang

Pada zaman sekarang matematika merupakan mata pelajaran yang penting dan mendasar. Matematika penting karena matematika merupakan ilmu pengetahuan dasar yang melandasi semua disiplin ilmu, baik ilmu eksakta maupun ilmu sosial. Oleh karena itu, matematika tetap menjadi tinjauan yang aktual dalam setiap perubahan masyarakat dan dunia pendidikan khususnya (Wahjoetomo, 1992).

(18)

Belakangan ini, peran matematika dalam kehidupan manusia sudah tidak dapat diragukan lagi. Tanpa bantuan matematika tampaknya tidak mungkin dicapai kemajuan yang begitu pesat dalam bidang ilmu pengetahuan alam, teknologi, komputer, dan berbagai bidang yang lain. Dari sini tampak bahwa matematika sangat berperan bagi kehidupan manusia dan setiap orang yang mempunyai pengetahuan matematika akan mendapatkan keuntungan dari padanya (Sujono dalam Wijayanti, 2000).

Dilihat dari pentingnya matematika tampaknya masih banyak siswa yang belum menguasai matematika. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang mengeluh ketika mempelajari matematika di bangku sekolah formal. Matematika adalah sesuatu yang bisa membuat muka pucat, sakit perut atau badan gemetar dan berkeringat dingin. Matematika dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan (Setyono, 2008). Sampai sekarang masih banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit, untuk mempelajarinya diperlukan kemauan dan kemampuan. Akibatnya, banyak siswa yang takut terhadap matematika dan sejauh mungkin akan berusaha menghindari bilangan dan operasi bilangan. Bukan hal yang aneh lagi jika mata pelajaran matematika menjadi mata pelajaran yang menakutkan dan seringkali dianggap pelajaran momok bagi para siswa SLTA. Hal ini pada akhirnya membuat siswa merasa cemas ketika akan menghadapi mata pelajaran matematika.

(19)

kepada siswa kelas 3A SLTPN 26, “Materi pelajaran apa yang paling adik-adik takuti?” secara serentak para siswa menjawab “Matematika Pak.” Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nawangsari (2001) mengatakan bahwa siswa yang mengalami kecemasan matematika menunjukkan sikap enggan belajar, merasa rendah diri, merasa tidak ada artinya belajar matematika, kebingungan, gugup, gelisah, khawatir serta mengalami gangguan fisiologis. Kecemasan matematika muncul dari rasa takut siswa terhadap tugas-tugas, ujian atau pada saat pelajaran matematika karena merasa akan gagal, tidak mampu mengikuti dan ketakutan mendapat nilai yang jelek.

(20)

rasa kurang percaya diri, merasa rendah diri dan perasaan tidak mampu menghadapi masalah (Hurlock, 1980).

Sriyanto (wawancara subyek 1, 2010) yang merupakan guru matematika di SMA Kolese De Brito mengungkapkan bahwa seringkali matematika dianggap sebagai momok, dipersepsi sebagai pelajaran yang sulit oleh sebagian siswa sekolah. Anak merasa deg-degan, cemas dan takut setiap kali mengikuti pelajaran matematika di sekolah. Bahkan ada anak yang karena begitu takutnya terhadap matematika, sampai “mandi keringat” ketika diminta untuk mengerjakan soal di papan tulis. Matematika bagi sebagian anak telah menimbulkan kecemasan tersendiri. Menurut Hudojo (1996) beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecemasan tertinggi dialami siswa pada saat siswa belajar matematika dibandingkan dengan belajar lainnya.

(21)

kecemasannya. Lingkungan sosial yaitu tempat tinggal, sekolah, kampus, keluarga, pergaulan dengan teman, sedangkan lingkungan budaya yaitu daerah tempat asal, adat istiadat dan budaya setempat.

Selain faktor usia dan faktor lingkungan sosial budaya, kecemasan juga disebabkan oleh faktor jenis kelamin. Jenis kelamin sangat mempengaruhi kecemasan seseorang terhadap objek tertentu. DalamNational Assessment of Educational remaja laki-laki berprestasi lebih baik dan lebih unggul daripada remaja perempuan dalam matematika. Dikatakan juga bahwa remaja laki-laki lebih aktif, eksploratif dan lebih rileks sedangkan remaja perempuan lebih sensitif (Santrock, 2009).

Remaja perempuan ketika berada di kelas lebih banyak diam, sehingga kurangnya respon siswa terhadap pelajaran matematika akan menghambat proses pembelajaran. Berbeda dengan remaja perempuan, remaja laki-laki lebih banyak berinteraksi dan mempunyai kesempatan mencoba menjawab lebih banyak (Santrock, 2009). Berawal dari hal-hal tersebut maka kecemasan antara remaja laki-laki dan remaja perempuan menjadi berbeda. Kecemasan yang dialami oleh remaja perempuan ternyata karena ketidakmampuannya. Sementara remaja laki-laki lebih rileks, sehingga menjadikan remaja laki-laki tidak lebih cemas dari remaja perempuan.

(22)

tentang kecemasan yang berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin, perempuan lebih cemas akan ketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki (Myers, 1983).

Menurut Gunarsa (1991), perempuan memiliki aspek-aspek emosionalitas, rasio dan suasana hati yang terintegrasi menjadi suatu kesatuan, sehingga logika berpikirnya lebih dikuasai oleh kesatuan tersebut. Oleh sebab itu ketika perempuan berpikir, cenderung mengikutsertakan perasaan dan suasana hatinya. Dengan demikian, ketika kebanyakan perempuan mengalami kesulitan maka pikirannya cenderung terhambat dan sulit untuk menyelesaikan persoalannya. Hal ini berbeda dengan kebanyakan laki-laki, mereka lebih menunjukkan adanya pembagian antara pikiran, rasio dan emosionalitas. Jalan pikiran laki-laki cenderung tidak dikuasai oleh emosi, perasaan, maupun suasana hati, sehingga kebanyakan laki-laki lebih banyak untuk berinisiatif, keras dan tegas. Dari penjelasan di atas dapat terlihat bahwa perempuan cenderung lebih sulit menyelesaikan persoalannya ketika mengalami kesulitan, sehingga perempuan lebih cemas karena tidak dapat segera menyelesaikan persoalan yang dimilikinya. Disisi lain, laki-laki lebih banyak berinisiatif ketika mengalami kesulitan atau memiliki masalah, sehingga pria tidak mudah cemas karena jalan pikiran laki-laki tidak dikuasai oleh emosi, namun cenderung dikuasai oleh pikiran dan rasio.

(23)

matematika antara siswa laki-laki dan perempuan kelas II SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang akan diselidiki dalam penelitian ini adalah apakah siswa perempuan lebih cemas dari siswa laki-laki dalam menghadapi pelajaran matematika?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini untuk menguji perbedaan kecemasan menghadapi mata pelajaran matematika antara siswa laki-laki dan perempuan.

D. Manfaat Penelitian

1. Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kajian teoritis di bidang psikologi pendidikan, khususnya tentang kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika antara siswa laki-laki dan perempuan.

2. Praktis

(24)
(25)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kecemasan

1. Definisi Kecemasan

Kecemasan adalah suatu keadaan khawatir pada seseorang yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi (Nevid, Rathus, dan Greene, 2005). Selain itu, kecemasan adalah suatu perasaan yang dialami oleh individu pada saat mengalami ketakutan (Byrne, 1991).

Kecemasan sebagai proses emosi yang bercampur baur sehingga individu merasa terganggu akibat adanya kondisi yang mengancam meskipun masih bersifat kabur dan tidak jelas apa yang menjadi penyebabnya (Hall dan Lindzey, 1993; Daradjat, 1996)

Fuhrmann (1990) mengungkapkan bahwa kecemasan seperti bagian dari rasa sakit yang tidak mampu ditoleransi dalam waktu yang lama. Hal lain juga diungkapkan oleh Clerq (1994) bahwa kecemasan adalah keadaan emosi yang tidak menyenangkan yang meliputi: interpretasi subjektif dan rangsangan fisiologis.

Santrock (2003) menambahkan pengertian gangguan kecemasan sebagai gangguan psikologis yang dicirikan dengan ketegangan motorik (seperti: gelisah, gemetar, dan ketidakmampuan untuk rileks) dan hiperaktivitas, seperti: pusing, jantung berdebar-debar, berkeringat, pikiran serta harapan yang mencemaskan.

(26)

Berdasarkan uraian dari pendapat beberapa ahli, dapat disimpulkan kecemasan merupakan suatu perasaan khawatir, tidak menyenangkan dan mengganggu yang dialami oleh individu, dimana obyeknya tidak jelas.

2. Aspek Kecemasan

Kecemasan terdiri dari begitu banyak ciri fisik, afeksi, perilaku dan kognisi (Nevid, dkk. 2005). Ciri-ciri tersebut terdiri atas:

a. Fisik, meliputi: kegelisahan; kegugupan; tangan anggota tubuh yang bergetar atau gemetar; sensasi dari pita ketat yang mengikat di sekitar dahi; kekencangan pada pori-pori kulit perut atau dada; banyak berkeringat; telapak tangan yang berkeringat; pening atau pingsan; mulut atau kerongkongan terasa kering; sulit berbicara; sulit bernafas; bernafas pendek; jantung yang berdebar keras atau berdetak kencang; suara yang bergetar; jari-jari atau anggota tubuh yang menjadi dingin; pusing; merasa lemas atau mati rasa; sulit menelan; kerongkongan terasa tersekat; leher atau punggung terasa kaku; sensasi seperti tercekik atau tertahan; tangan yang dingin dan lembab; terdapat gangguan sakit perut atau mual; panas dingin; sering buang air kecil; wajah terasa memerah; diare; dan merasa sensitif atau “mudah marah”. b. Behavioral(perilaku), meliputi: perilaku menghindar; perilaku melekat

dan dependen; dan perilaku terguncang.

(27)

ada penjelasan yang jelas; terpaku pada sensasi ketubuhan; merasa terancam oleh orang atau peristiwa yang normalnya hanya sedikit atau tidak mendapat perhatian; ketakutan akan kehilangan kontrol; ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah; berpikir bahwa dunia mengalami keruntuhan; berpikir bahwa semuanya terasa sangat membingungkan tanpa bisa diatasi; khawatir terhadap hal-hal yang sepele; berpikir tentang hal mengganggu yang sama secara berulang-ulang; berpikir bahwa harus bisa kabur dari keramaian, kalau tidak pasti akan pingsan; pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan; tidak mampu menghilangkan pikiran-pikiran terganggu; berpikir akan segera mati, meskipun dokter tidak menemukan sesuatu yang salah secara medis; khawatir akan ditinggal sendirian; dan sulit berkonsentrasi atau memfokuskan pikiran.

Supratiknya (1995), mengungkapkan beberapa hal yang merupakan simptom-simptom (gejala-gejala) kecemasan. Simptom-simptom tersebut terdiri atas:

a. Senantiasa diliputi ketegangan, rasa was-was dan keresahan yang bersifat tak menentu (diffuse uneasiness)

b. Terlalu peka (mudah tersinggung) dalam pergaulan, sering merasa tidak mampu, minder, depresi, dan serba sedih.

c. Sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan serta serba takut salah. d. Rasa tegang menjadikan yang bersangkutan selalu bersikap

(28)

secara tiba-tiba atau yang tak diharapkan, dan selalu melakukan gerakan-gerakan neurotik tertentu, seperti: mematah-matahkan buku jari, mendehem dan sebagainya.

e. Sering mengeluh bahwa ototnya tegang, khususnya pada leher dan sekitar bagian atas bahu, mengalami diare ringan yang kronik, sering buang air kecil, dan menderita gangguan tidur berupa insomnia dan mimpi buruk.

f. Mengeluarkan banyak keringat dan telapak tangannya sering basah. g. Sering berdebar-debar dan tekanan darahnya tinggi.

h. Sering mengalami gangguan pernafasan dan berdebar-debar tanpa sebab yang jelas.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kecemasan meliputi aspek fisik, perilaku dan kognitif. Semua kondisi tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain dan akan mempengaruhi kondisi mental dan psikis seseorang.

3. Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan

Menurut Daradjat (1996), faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah:

(29)

b. Usia, usia seseorang sangat mempengaruhi tingkat kecemasan seseorang karena kecemasan yang berlebihan pada masa kanak-kanak dan remaja dianggap mempunyai resiko berkembangnya gangguan kecemasan umum pada saat dewasa. Gangguan kecemasan banyak dialami oleh individu yang memasuki masa dewasa dini yaitu rata-rata timbul pada usia 21 tahun (antara 16-26 tahun).

c. Lingkungan sosial budaya yaitu: individu bila dihadapkan pada situasi dan kondisi lingkungan sosial dan budaya yang mengancam akan sangat mempengaruhi kecemasannya. Lingkungan sosial yaitu tempat tinggal, kampus/sekolah, keluarga, pergaulan dengan teman. Sedangkan lingkungan budaya yaitu daerah/tempat asal, adat-istiadat/budaya setempat.

Greist, Martens & Sharkey (dalam Gunarsa, 1991) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan, antara lain:

a. Tuntutan sosial yang berlebihan, yang belum atau tidak dapat dipenuhi seseorang, dan tuntutan ini dapat merupakan perasaan subyektif dari individu yang mungkin tidak dirasakan orang lain.

b. Adanya standar keberhasilan yang terlalu tinggi bagi kemampuan yang dimiliki individu sehingga menimbulkan rasa rendah diri.

c. Individu kurang siap dalam menghadapi suatu situasi atau keadaan yang tidak diharapkan atau diperkirakan olehnya.

(30)

Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kecemasan antara lain: jenis kelamin, usia, lingkungan sosial budaya, tuntutan sosial dan standar keberhasilan.

4. Penyebab kecemasan

Timbulnya kecemasan menurut Collins (“Faktor-faktor penyebab”, 2009) karena adanya:

a. Threat (ancaman) baik ancaman terhadap tubuh, jiwa atau psikisnya (seperti kehilangan kemerdekaan, kehilangan arti kehidupan) maupun ancaman terhadap eksistensinya (seperti kehilangan hak).

b. Conflict (pertentangan) yaitu karena adanya dua keinginan yang keadaannya bertolak belakang, hampir setiap dua konflik, dua alternatif atau lebih yang masing-masing yang mempunyai sifat approachdanavoidance.

c. Fear (ketakutan) kecemasan sering timbul karena ketakutan akan sesuatu, ketakutan akan kegagalan menimbulkan kecemasan, misalnya ketakutan akan kegagalan dalam menghadapi ujian atau ketakutan akan penolakan menimbulkan kecemasan setiap kali harus berhadapan dengan orang baru.

(31)

Menurut Kresch & Qrutch (dalam Hartanti dan Dwijayanti, 1997) penyebab kecemasan terdiri dari dua faktor, yaitu:

a. Faktor internal

Kecemasan berasal dari dalam individu, misalnya: perasaan tidak mampu, tidak percaya diri, perasaan bersalah dan rendah diri. Faktor internal ini pada umumnya sangat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran negatif dan tidak rasional.

b. Faktor eksternal

Kecemasan berasal dari luar individu, dapat berupa: penolakan sosial, kritikan dari orang lain, beban tugas atau kerja yang berlebihan, maupun hal-hal yang dianggap mengancam.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab kecemasan yakni faktor internal dan faktor eksternal.

5. Proses Terjadinya Kecemasan Dalam Menghadapi Pelajaran

Matematika

(32)

Dari peristiwa tersebut dapat muncul berbagai macam perasaan, salah satunya adalah kecemasan.

6. Kecemasan Dalam Menghadapi Pelajaran Matematika

Kecemasan adalah suatu keadaan khawatir pada seseorang pada saat mengalami ketakutan (Nevid, Rathus, dan Greene, 2005; Byrne, 1961), sehingga kecemasan menghadapi pelajaran matematika merupakan suatu keadaan khawatir pada seseorang pada saat mengalami ketakutan menghadapi pengetahuan eksak dan terorganisasi secara sistematik, penalaran yang logik dan masalah-masalah yang berhubungan dengan bilangan, kualitas dan ruang (Sujono, 1988).

Matematika dipersepsi sebagai pelajaran yang sulit oleh sebagian siswa sekolah. Anak merasa deg-degan, cemas dan takut setiap kali mengikuti pelajaran matematika di sekolah (Hudojo, 1996). Kecemasan dalam menghadapi pelajaran matematika disebabkan oleh rasa takut siswa terhadap tugas-tugas, ujian atau pada saat pelajaran matematika karena merasa akan gagal, tidak mampu mengikuti dan ketakutan mendapat nilai yang jelek (Nawangsari, 2001).

B. Remaja

1. Definisi remaja

(33)

adolescence mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1999).

Hurlock (1990), menyatakan bahwa usia remaja merupakan tahap perkembangan yang amat penting dalam sepanjang rentang kehidupan manusia. Dalam tahap ini terjadi proses pembentukan jati diri dan kepribadian individu, karena itu masa remaja dikatakan sebagai masa pencapaian identitas diri. Pada usia remaja seseorang mulai menyadari perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya dalam menghadapi berbagai situasi. Dengan kata lain remaja ingin meninggalkan perilaku, nilai, dan sifatnya di masa kanak-kanak untuk mencapai otonomi atas dirinya sendiri.

Masa remaja adalah masa peralihan dari usia anak-anak menuju usia dewasa, bukan hanya dalam artian psikologis, tetapi juga dalam artian fisik. Bahkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja, sedangkan perubahan-perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan fisik tersebut (Sarwono, 2002). Santrock (2002) mengatakan, masa remaja adalah masa transisi perkembangan dari masa anak-anak hingga masa awal dewasa yang dimulai pada usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun.

(34)

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan pengertian remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa dimana terjadi proses pembentukan jati diri dan kepribadian individu, sehingga masa remaja merupakan masa yang sulit dan kompleks.

2. Perbedaan remaja laki-laki dan perempuan

Menurut Gunarsa (1991) banyak sifat dan ciri-ciri khas perempuan dan laki-laki yang membedakan antara kedua jenis ini, yaitu perbedaan kekhususan laki-laki dan perempuan sesuai dengan tujuan peranan masing-masing dan yang memberi makna kehidupan dan kegairahan hidup. Perbedaan khusus tersebut dapat dilihat dari segi psikis dan biologis, yaitu:

a. Segi psikis

Segi psikis dapat disimpulkan dari seluruh tindak tanduk, ucapan, dan sikap yang tercakup dalam istilah kepribadian. Kepribadian seorang perempuan merupakan suatu kesatuan yang terintegrasikan antara aspek-aspek emosionalitas, rasio, dan suasana hati. Biasanya kesatuan ini pada wanita adalah kuat dan menyebabkan logika berpikirnya dikuasai oleh kesatuan tersebut.

(35)

sama lain menyebabkan kaum wanita cepat mengambil tindakan atas dasar emosinya.

Sifat perempuan berbeda dengan laki-laki. Kepribadian seorang laki-laki menunjukkan adanya pembagian dan pembatasan yang jelas antara pikiran, rasio dan emosionalitas. Jalan pikirannya tidak dikuasai oleh emosi, perasaan, maupun suasana hati. Perhatiannya lebih banyak tertuju pada pekerjaan dengan kecenderungan mementingkan keseluruhannya dan kurang memperhatikan hal yang kecil.

Pria dalam aktivitasnya lebih agresif, lebih aktif dan tidak sabar. Oleh karena itu, sifat-sifat pria lebih cenderung untuk tidak mau menunggu, kurang tekun dan kurang tabah dalam menghadapi kesulitan hidup dan lekas putus asa. Pria cenderung lebih banyak untuk berinisiatif, keras dan tegas. Segala hal yang masuk akal lebih dipentingkan daripada yang tidak nyata (Gunarsa, 1991).

b. Segi biologis

Tubuh perempuan dan laki-laki memiliki ciri-ciri khas yang jelas dibedakan antara keduanya. Sifat masing-masing individu merupakan perpaduan dari sifat yang ditentukan oleh pembawa sifat yakni kromosom dari ayah dan ibunya. Tulang pinggul perempuan lebih kuat dan lebih besar. Sedangkan laki-laki, dadanya lebih besar dan bidang.

(36)

dengan orang lain, sedangkan laki-laki cenderung mementingkan pada tercapainya apa yang menjadi tujuan dan sasaran mereka ketika berhubungan dengan orang lain (Buss, 1995).

Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan baik dalam hal psikis maupun biologis. Laki-laki cenderung agresif, tegas, kuat, dan mudah membuat keputusan. Lain halnya dengan perempuan yang cenderung lembut, emosional, halus, dan sulit memperoleh penyelesaian masalah.

C. Perbedaan kecemasan antara siswa laki-laki dan perempuan dalam

menghadapi pelajaran matematika.

Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisasi secara sistematik, penalaran yang logik dan masalah-masalah yang berhubungan dengan bilangan, kualitas dan ruang. Selain itu, matematika merupakan bagian pengetahuan manusia tentang bilangan dan kalkulasi. Matematika membantu orang dalam menginterpretasikan secara tepat berbagai ide dan kesimpulan (Sujono, 1988). Menurut Crow dan Crow (dalam Tanaya, dkk., 1999) matematika adalah sesuatu bidang studi di sekolah yang mempelajari bilangan dan hitungan, yang memuat masalah-masalah konkret sampai dengan abstrak sebagai salah satu cara untuk menemukan solusi masalah manusia.

(37)

2001). Sehingga, banyak orang tua yang beranggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang penting bagi anak-anaknya (Suparmi, 2002).

Pembelajaran matematika di sekolah lebih sering membahas teori dari buku, kemudian memberikan rumus-rumusnya lalu memberikan contoh soal dan latihan. Akibatnya matematika terreduksi menjadi hal yang rumit dan siswa hanya dapat membayangkan saja. Hal itulah yang memunculkan banyak anggapan negatif dari siswa tentang matematika. Beberapa hal yang membuat siswa merasa cemas dan enggan mempelajari matematika yakni karena matematika itu sendiri menuntut banyak analisa dan berbagai perhitungan yang rumit (Winda, 2010)

Kecemasan yang dialami oleh siswa dalam menghadapi pelajaran matematika dipengaruhi oleh keyakinan akan kemampuannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi keyakinan dan kemampuan tersebut adalah jenis kelamin, karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan yang tidak hanya dilihat dari segi fisik.

(38)

banyak untuk berinisiatif dan rileks, sehingga mempunyai jalan keluar tentang apa yang akan dilakukan dalam menyelesaikan soal matematika dan menjadi kurang cemas.

Secara tipikal laki-laki mempunyai skor yang tinggi pada kemampuan spasial-visual dan matematik (mulai sekolah menengah), sedang remaja perempuan memiliki skor unggul pada pengukuran verbal (Weyther, 1997). Hal ini membuat siswa laki-laki yang memiliki potensi dalam matematika akan menjadi kurang cemas dan akan menikmati pelajaran matematika. Berbeda dengan siswa perempuan yang lebih unggul dalam kemampuan verbal, sehingga kurang mampu dalam matematika dan akan menjadi cemas serta menunjukkan sikap menghindar.

Oleh karena itu, perempuan cenderung lebih cemas dibandingkan laki-laki. Hal ini juga didukung oleh Maccoby and Jacklin (1974), yang menyatakan bahwa perempuan cenderung lebih mudah cemas dibandingkan laki-laki. Siswa yang mengalami kecemasan ketika menghadapi pelajaran matematika, tampak ketika mereka menunjukkan sikap enggan belajar, merasa rendah diri dan merasa tidak ada artinya belajar matematika.

(39)

Kecemasan Siswa Dalam Menghadapi Pelajaran Matematika

D. Hipotesis

Siswa perempuan lebih cemas dari siswa laki-laki dalam menghadapi pelajaran matematika.

Pelajaran Matematika

penalaran yang logik

berhubungan dengan hitungan, bilangan, kualitas dan ruang Perempuan

Memiliki keunggulan dalam kompetensi verbal

Laki-laki

Memiliki keunggulan dalam kompetensi spasial, visual dan

matematik

Menuntut banyak analisa Perhitungan yang rumit

(40)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini berjudul perbedaan kecemasan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan dalam menghadapi pelajaran matematika. Penelitian ini merupakan studi perbandingan. Peneliti ingin mencari perbedaan tingkat kecemasan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.

B. Identifikasi Variable Penelitian

Variabel bebas : Jenis kelamin Variabel tergantung : Kecemasan

C. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah variabel jenis kelamin dan kecemasan:

1. Jenis Kelamin

Jenis kelamin adalah ciri fisik yang dimiliki seseorang yang akan mengelompokkan individu dalam kelompok laki-laki atau perempuan. Pengelompokan jenis kelamin diperoleh dari identitas subyek penelitian yang diisikan pada bagian identitas skala kecemasan yang diberikan.

(41)

2. Kecemasan

Kecemasan adalah suatu keadaan khawatir pada seseorang pada saat mengalami ketakutan (Nevid, Rathus, dan Greene, 2005; Byrne, 1991). Pada penelitian ini kecemasan yang diteliti adalah kecemasan pada siswa SMA dalam menghadapi pelajaran matematika. Kecemasan ini akan diungkap dengan menggunakan skala kecemasan yang disusun sendiri oleh peneliti. Adapun aspek yang diukur meliputi: kognitif, fisik dan perilaku. Skor tinggi menunjukkan kecemasan yang dialami dalam menghadapi pelajaran matematika tinggi, sedangkan skor rendah menunjukkan kecemasan yang dialami dalam menghadapi pelajaran matematika rendah.

D. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah sumber utama data penelitian, yaitu yang memiliki data mengenai variabel yang diteliti. Subyek penelitian pada dasarnya adalah yang akan dikenai kesimpulan hasil penelitian (Azwar, 2000). Subyek yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas 2 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dengan jumlah subyek 86 siswa. Peneliti memilih SMA Pangudi Luhur Yogyakarta karena alasan praktis, yakni perijinan sudah diperoleh di SMA tersebut.

(42)

pendidikan. Subyek adalah individu dengan usia 16 sampai 18 tahun, dan duduk di kelas XI (2 SMA).

E. Metode dan Alat pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah penyebaran skala, yaitu: skala kecemasan dalam menghadapi mata pelajaran matematika. Skala kecemasan dalam menghadapi mata pelajaran matematika ini terdiri dari 90 item, yang terdiri dari 45 item favorabel dan 45 item unfavorabel. Skala ini disusun berdasarkan aspek dalam kecemasan, meliputi: aspek fisik, aspek perilaku dan aspek kognitif.

Tabel 1

Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan

No Aspek Favorabel Unfavorabel Total

1 Kognitif 1,7,13,19,25,31,37,43,49,55,61,67,

Jumlah 45 item 45 item 90 item

(43)

dari angka 1 sampai 4 untuk item yang favorabel, sedangkan untuk item yang unfavorable pemberian skor dimulai dari angka 4 sampai 1. Dibawah ini adalah table pemberian skor skala kecemasan dalam menghadapi pelajaran matematika:

Tabel 2

Pemberian Skor Skala Kecemasan Menghadapi Pelajaran Matematika

Jawaban Pernyataan

Favorabel Unfavorabel

Sangat sering 4 1

Sering 3 2

Jarang 2 3

Tidak Pernah 1 4

(Azwar, 2000)

F. Alat Ukur

1. Estimasi Validitas

Tujuan dari uji validitas adalah untuk mengetahui dan menentukan apakah item yang tersusun layak untuk diuji cobakan dan mampu memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian. Pada penelitian ini, validitas yang diuji adalah validitas isi. Validitas isi yaitu validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi dengan skala dan analisis rasional atau professional judgment. Validitas isi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana item-item dalam alat ukur tersebut mencakup seluruh kawasan isi obyek yang hendak diukur (Azwar, 2000).

2. Seleksi Item

(44)

seleksi item pada skala ini mengacu pada criteria dari korelasi item total yaitu item yang sahih memiliki batasan≥0,3. Item yang memiliki korelasi kurang dari 0,3 dinyatakan gugur karena indeks daya beda item tersebut rendah (Azwar, 2007).

Pengujian ini menggunakan taraf signifikasi 5% dengan N=86. Item yang dianggap valid adalah item yang memiliki rxy≥ 0,3. Dari hasil perhitungan, diperoleh koefisien korelasi item total berkisar antara 0,318 – 0,655. Hasil pengujian dari 90 item terdapat 29 item yang gugur dengan perbandingan jumlah item di masing-masing aspek sebagai berikut:

a. Aspek kognitif : 25 item b. Aspek perilaku : 18 item c. Aspek fisik : 18 item

(45)

Tabel 3

Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan Setelah Uji Coba

Estimasi reliabilitas dilakukan untuk mengukur keajegan hasil pengukuran. Dengan kata lain uji reliabilitas diperlukan untuk melihat sejauh mana pengukuran itu dapat memberikan hasil yang relatif sama jika dilakukan pengukuran kembali dengan alat ukur yang sama.

(46)

Estimasi reliabilitas skala kecemasan para siswa yang dihitung menggunakan pendekatan koefisien reliabilitas Alpha. Penghitungan reliabilitas Alpha ini menggunakan SPSS for windows versi 16,0. Koefisien reliabilitas yang diperoleh sebesar 0,950 (dapat dilihat pada Lampiran), sehingga reliabilitasnya memuaskan.

4. Uji hipotesis

(47)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 4 Maret 2010 dan pada hari Sabtu tanggal 6 Maret 2010. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa laki-laki dan siswa perempuan yang duduk di kelas 2 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta, yang berjumlah 86 orang. Dengan rincian 43 siswa laki-laki dan 43 siswa perempuan.

Penelitian ini menggunakan skala terpakai, mengingat kondisi yang tidak mendukung untuk dilakukan penelitian pendahuluan (try out). Hal ini disebabkan karena terlalu padatnya kegiatan di sekolah, sehingga peneliti hanya berkesempatan sekali untuk melakukan penelitian.

Penelitian ini dilakukan dengan memberikan skala pada subyek penelitian sebanyak 86 eksemplar. Setelah dilakukan proses seleksi ternyata semua skala memenuhi kriteria sehingga semua skala dapat diikutsertakan dalam analisis data.

B. Deskripsi Data Penelitian

1. Deskripsi subyek

Subyek dalam penelitian ini berjumlah 86 orang, dengan perbandingan siswa laki-laki sebanyak 43 orang dan siswa perempuan sebanyak 43 orang. Usia subyek penelitian berkisar antara 16 – 18 tahun, dengan kriteria tingkat pendidikan yang sama yaitu siswa kelas 2 SMA

(48)

Pangudi Luhur Yogyakarta dan sudah mampu beradaptasi dengan situasi di sekolah.

2. Kategorisasi Data

Penentuan kategorisasi skor skala kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika dilakukan dengan kategori jenjang berdasarkan standar deviasi dan mean teoritik. Penggunaan kategori jenjang bertujuan menempatkan subyek ke dalam kelompok terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasarkan atribut yang diukur. Kontinum jenjang yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga kategori, yaitu: rendah, sedang dan tinggi (Azwar, 2007). Adapun normanya adalah sebagai berikut:

Tabel 4

Kategorisasi Skor Kecemasan

Keterangan Norma kategorisasi Rentang

Tinggi ( + 1,0 ) X 189 X

Sedang ( – 1,0 ) X < ( + 1,0 ) 135 X < 189 Rendah X < ( – 1,0 ) X < 135

(49)

Tabel 5

Deskripsi Kategori Subyek

Subyek Mean Kategori

Keseluruhan 135 Sedang

Laki-laki 124,42 Rendah

Perempuan 116,09 Rendah

Berdasarkan tabel 5 di atas, keseluruhan subyek memiliki tingkat kecemasan sedang. Untuk subyek laki-laki dan perempuan memiliki kecemasan yang rendah. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa subyek laki-laki dan perempuan memiliki kecemasan yang rendah dalam mnghadapi pelajaran matematika.

3. Hasil tambahan

Uji tambahan dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah keseluruhan subyek di SMA memiliki kecemasan yang tinggi ketika menghadapi pelajaran matematika yakni dengan membandingkan antara Mean Empiris siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA (ME) dengan Mean Teoritis (MT). Jika ME > MT, maka keseluruhan subyek di SMA memiliki kecemasan yang tinggi ketika menghadapi pelajaran matematika. Untuk mengetahui besar MT digunakan rumus sebagai berikut:

MT=

(50)

MT =

MT = = 135 MT = 135

Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh Mean Empiris Siswa laki-laki dan siswa perempuan (ME), sebagai berikut :

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa

ME < MT

ME siswa perempuan 116,09 < 135 ME siswa laki-laki 124,42 < 135

Hal ini berarti bahwa keseluruhan subyek di SMA memiliki kecemasan yang rendah ketika menghadapi pelajaran matematika.

Hasil penelitian juga menghasilkan p siswa sebesar 0.000. hal ini berarti keseluruhan subyek di SMA memiliki kecemasan yang redah ketika menghadapi pelajaran matematika.

C. Uji Asumsi

1. Uji Normalitas

Berdasarkan hasil uji normalitas, diketahui bahwa nilai probabilitas pada siswa laki-laki adalah 0,829 (dapat dilihat pada Lampiran), sehingga p > 0,05 atau 0,829 > 0,05. Dengan demikian sebaran skor pada siswa JK N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Laki-laki 43 124.42 23.748 3.622

SKOR

(51)

laki-laki dinyatakan normal. Begitu pula pada siswa perempuan, nilai probabilitasnya adalah 0,905 (dapat dilihat pada Lampiran), sehingga p > 0,05 atau 0,905 > 0,05. Dengan demikian sebaran skor pada siswa perempuan dinyatakan normal.

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah sampel penelitian berasal dari populasi dengan varian yang sama. Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16.0 for windows yaitu melalui Levene’s Test for Equality Variance. Pengambilan keputusan didasarkan

jika p > 0,05 maka dinyatakan data berasal dari populasi yang mempunyai varians sama, tetapi jika p < 0,05 maka dinyatakan data berasal dari populasi yang mempunyai varians yang tidak sama.

Berdasarkan hasil uji homogenitas, diketahui bahwa nilai probabilitas adalah 0,019 (dapat dilihat pada Lampiran), sehingga p < 0,05 atau 0,019 < 0,05 maka data kecemasan memiliki varians yang tidak homogen.

D. Hasil

1. Uji Hipotesis

(52)

Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik uji Independent Sample t-test(uji-t) tanpa menghitung homogenitas. Hal ini didukung oleh Howel (1982) yang menyatakan bahwa dalam prakteknya asumsi normalitas dan homogenitas dapat seringkali dilanggar dengan memberikan efek yang relatif kecil jika jumlah n antar kelompok sama.

2. Pembahasan

Hasil analisis menunjukkan nilai t sebesar 1,928 dan p sebesar 0,057 lebih besar dari 0,05 (0,057 > 0,05), sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti tidak ada perbedaan kecemasan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan dalam menghadapi pelajaran matematika.

(53)

pelajaran. Hal ini membuat siswa laki-laki tidak menguasai materi yang diajarkan.

Berbeda dengan siswa laki-laki, menurut Weyther (1997) siswa perempuan lebih unggul dalam kemampuan verbal sehingga kurang mampu dalam matematika dan akan menunjukkan sikap menghindar. Namun, siswa perempuan cenderung lebih rajin mencatat dan memperhatikan ketika berada di kelas meskipun siswa perempuan tidak memiliki potensi di bidang spasial-visual dan matematik. Hal ini membuat siswa perempuan merasa tenang ketika menghadapi pelajaran matematika. Hal ini didukung oleh pendapat Santrock (2009) yang mengatakan bahwa anak perempuan lebih patuh dan penurut, sedangkan anak laki-laki tidak dapat atau sulit dikendalikan. Selain itu, perempuan lebih terlibat dalam materi akademis, penuh perhatian di kelas, mengerahkan lebih banyak upaya akademis dan lebih banyak berpartisipasi di dalam kelas daripada laki-laki. Di sisi lain, anak perempuan lebih mematuhi, mengikuti peraturan, serta trampil rapi dan teratur di dalam kelas (Dezolt & Hull dalam Santrock, 2009).

(54)

mengkomunikasikan sikap positif mengenai matematika kepada siswa dan menghindari mengatakan sesuatu yang membuat siswa merasa gugup. Selain itu, beberapa program untuk meningkatkan ketrampilan siswa mengikuti pelajaran matematika, yakni dengan membuat matematika menjadi realistis dan menarik (Santrock, 2009).

Salah satu cara yang dilakukan oleh guru matematika untuk menyiapkan diri siswa dalam menghadapi pelajaran matematika yakni dengan mencoba berbagai metode mengajar. Salah satu metode yang digunakan yakni serius tapi santai, hal ini dilakukan agar para siswa dapat memperhatikan pelajaran dengan merasa rileks dan tidak tegang ketika mengikuti pelajaran matematika.

Selain metode mengajar, guru matematika juga memberikan latihan secara terus-menerus. Hal ini dilakukan untuk melatih para siswa menjadi trampil dan semakin memahami berbagai soal yang diberikan karena sering latihan. Cara ini dapat membuat siswa mudah dalam mengingat cara menjawab dengan berbagai tipe soal yang diberikan, sehingga para siswa menjadi lebih santai ketika akan menghadapi pelajaran matematika.

(55)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa p sebesar 0,057 lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kecemasan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan dalam menghadapi pelajaran matematika.

B. Saran

Penelitian ini masih jauh dari sempurna dan memiliki beberapa kelemahan yang ada, peneliti mengajukan beberapa saran yang dapat dijadikan evaluasi dan perbaikan:

1. Bagi Siswa

Berdasarkan deskripsi data penelitian diketahui bahwa tingkat kecemasan siswa secara keseluruhan adalah rendah, sehingga baik siswa laki-laki dan siswa perempuan diharapkan untuk tetap mempertahankan kondisi tersebut ketika mengikuti pelajaran matematika.

2. Bagi pengajar

Penulis menyarankan kepada guru untuk tidak perlu membedakan metode mengajar antara siswa laki-laki dan siswa perempuan.

(56)

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. (2007).Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2000).Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Banyak siswa takut pelajaran matematika. (2003, 20 Mei).Suara Merdeka.

Burns, D.D. (1980). Terapi kognitif: pendekatan baru bagi penanganan depresi. Jakarta : Erlangga.

Buss, A. H. (1995).Personality: temperament, social behavior and the self.USA: Allyn & Bacon.

Byrne, D. (1961). An Introduction to Personality: A Reseacrh Approach. Pretice Hall, Inc, Englewood Cliff New York.

Calhoun, J. F and Accocella, J. R. (1990).Psychology Of Adjustment and Human Relationship.New York: Mc. Graw Hill.

Clerq. (1994). Tingkah laku abnormal dari sudut pandang perkembangan. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Daradjat, Z. 1996.Kesehatan mental. Jakarta: gunung agung.

Fuhrmann, B. J. (1990). Theories of personality(ed. Ke-4). USA: Brown Higher Education.

Gunarsa, S. D. & Gunarsa, Y. S. D. (1991).Psikologi Untuk Muda-Mudi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Hall, C.S. & Lindzey, G. (1993). Teori-teori psikodinamik klinis (terjemahan Supratiknya). Yogyakarta: Kanisius.

Hartanti & Dwijayanti. Hubungan Antara Konsep Diri Dan Kecemasan Menghadapi Masa Depan Dengan Penyesuaian Sosial Anak-anak Madura; JurnalAnima, 8, 46.

Hudojo, H. (1996). Pembelajaran konstruktivis pada matematika. Makalah Seminar Nasional. IKIP Malang.

Hurlock, E. B. (1990).Psikologi Perkembangan I. Jakarta: Erlangga .

(57)

Hurlock, E. B. (1999). Psikologi perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Maccoby, E.M. dan Jacklyn, C.N. (1974). The psychology of sex differences. California: Standford University Press.

Monks, F.J., Knoers, A.M.P. & Haditono, S.R. 1989. Psikologi perkembangan pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: UGM Press.

Myers, E. G. (1983).Social psychology. Tokyo: Mc Graww Hill.

Nawangsari, N. A. F. (2001). Pengaruh self-eficacy dan expectancy-value terhadap kecemasan menghadapi pelajaran matematika; Jurnal INSAN Media Psikologi, 3, 75-88.

Nevid J. S, Rathus S. A, & Greene B. (2005).Psikologi abnormal,Edisi 5 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Santrock, J. W. (2002).Perkembangan masa hidup (life span development).Edisi 5 buku 1. Jakarta: Erlangga

Santrock, J. W. (2003).Adolescence perkembangan remaja.Jakarta: Erlangga. Santrock, J. W. (2009). Psikologi pendidikan (educational psychology). Edisi 3

buku 1. Jakarta: Salemba Humanika.

Santrock, J. W. (2009). Psikologi pendidikan (educational psychology). Edisi 3 buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.

Sarwono, S. W. 2007.Psikologi remaja. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Setyono, A. (2008). Mathemagics, cara jenius belajar matematika. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Sujono. (1988). Pengajaran matematika untuk sekolah menengah. Jakarta : Depdikbud.

Suparmi & Hastuti, L.W. Perbedaan Persepsi Anak Pada Pelajaran Matematika Ditinjau Dari Keikutsertaan Dalam Kursus Sempoa; Psikodimensia, 2002, 3, 22-30.

Supratiknya, A. (1995).Mengenal perilaku abnormal.Yogyakarta : Kanisius. Tanaya, R. H., Hartanti, & Kartika, A. (1999). Perbedaan prestasi belajar

(58)

Wahjoetomo. Matematika, memang sulit tapi juga mengasyikan. (1992, 4 Oktober)Harian Merdeka.

Wangmuba, (2009, 13 Februari). Faktor-faktor penyebab kecemasan. Diunduh tanggal 16 April 2010 dari http://wangmuba.com/2009/02/13/faktor-faktor-penyebab-kecemasan/.

Wijayanti, M. (2000). Tingkat kecemasan dalam menghadapi pelajaran matematika dan hubungannya dengan prestasi belajar matematika dan tingkat keadaan ekonomi orang tua, serta perbedaan tingkat kecemasan dalam menghadapi pelajaran matematika antara siswa putra dan putri di kalangan para siswa kelas 1 SMUN 1 jatianom klaten tahun ajaran 1998/1999. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : FKIP Sanata Dharma. Winda, K. (2010, 15 Januari). Ada apa dengan matematika. Diunduh tanggal 30

(59)
(60)

Lampiran 1.

Skala Kecemasan

Nama :

Jenis Kelamin : L / P Kelas/No.absen :

Apa sich yang kamu rasain di saat menghadapi pelajaran

matematika????

(61)

Petunjuk Pengerjaan

Isilah data diri di bagian identitas dengan lengkap, coret yang tidak perlu. Pilihlah salah satu pilihan jawaban yang tersedia dengan memberikan tanda silang (X) pada masing-masing pernyataan.

Keterangan pilihan jawaban: TP : Tidak pernah JR : Jarang

S : Sering

SS : Sangat sering

Isilah semua soal yang ada sesuai dengan kondisi diri anda yang sebenarnya, karena dalam soal initidak ada jawaban yang benar atau salah.

(62)

Saat menghadapi pelajaran matematika:

Pilihan Jawaban

No Pernyataan

TP JR S SS

1 Pikiran saya menjadi tidak tenang 2 Jantung saya berdebar keras 3 Saya sering pergi ke toilet

4 Saya yakin bahwa hasil hitung saya benar meskipun tidak mencocokan dengan teman.

5 Saya merasa rileks dalam menghitung angka 6 Saya mudah mengingat semua rumus matematika 7 Saya menjadi sulit berkonsentrasi

8 Perut saya tiba-tiba mual

9 Saya sering meninggalkan kelas

10 Adanya orang lain di dekat saya membuat tidak dapat menghitung dengan benar

11 Tubuh saya tetap segar

12 Saya mudah memusatkan perhatian 13 Pikiran saya menjadi kacau

14 Saya sering merasa ingin buang air 15 Saya pura-pura sakit di UKS 16 Saya tidak perlu pendamping 17 Saya menjadi tidak selera makan

18 Saya duduk berdekatan dengan teman yang pintar 19 Pikiran saya menjadi kacau

20 Tenggorokan saya terasa sangat kering 21 Saya akan mencontek pekerjaan teman

22 Saya dapat mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi 23 Nafsu makan saya tetap seperti biasa

(63)

26 Tubuh saya terasa dingin

27 Saya tidak mampu menyelesaikan soal sendirian 28 Saya mampu mengerjakan soal itu sendiri 29 Badan saya tetap segar

30 Saya mudah menghafal beberapa rumus 31 Saya merasa sulit memahami materi 32 Tiba-tiba nafsu makan saya menjadi hilang

33 Saya butuh teman untuk membantu mengerjakan soal yang rumit

34 Saya lebih yakin mengerjakan soal sendiri daripada melihat pekerjaan milik teman

35 Saya dapat bernafas dengan lega 36 Saya mudah memfokuskan pikiran 37 Pikiran saya menjadi terganggu 38 Wajah saya terasa memerah

39 Saya akan berdiri mematung ketika tidak menemukan penyelesaian soal

40 Saya dapat duduk dengan siapa saja 41 Porsi makan saya tetap seperti biasa 42 Saya tidak pernah merasa bingung 43 saya tidak dapat berpikir jernih 44 Saya merasa gelisah

45 Saya sering pergi diam-diam 46 Saya mempelajari materi sendiri 47 Saya tidak mengalami sakit kepala 48 Saya mampu mengingat beberapa rumus 49 Pikiran saya menjadi tegang

50 Tiba-tiba saya merasa pening 51 Saya sering bersembunyi di kantin

(64)

53 Suhu tubuh saya tetap normal

54 Saya yakin mampu menyelesaikan soal 55 Saya sulit memusatkan perhatian 56 Punggung saya terasa kaku

57 saya tidak mampu mengerjakan soal bila tidak ditemani

58 Saya selalu mengerjakan tugas sendiri 59 Saya jarang buang air

60 Pikiran saya menjadi tenang 61 Saya menjadi kurang teliti 62 Saya merasa lemas

63 Saya menjadi tidak berdaya

64 Saya tidak akan meninggalkan kelas 65 Saya merasa perut saya normal 66 Saya tetap dapat berkonsentrasi

67 Daya kreatifitas berpikir saya terhambat 68 Saya merasa gugup

69 Saya dapat menyelesaikan soal dengan bantuan orang lain

70 Saya jarang pergi ke toilet 71 Jantung saya berdetak normal 72 Saya mampu mengendalikan pikiran 73 Punggung saya terasa nyaman 74 Pikiran saya menjadi lebih fokus

75 Saya berpikir panjang dalam mengerjakan beberapa soal

76 Saya banyak mengeluarkan keringat 77 Saya sering kabur ke kantin

(65)

80 Saya tetap mampu berpikir jernih 81 Pikiran saya menjadi tidak menentu 82 Kepala saya mendadak pusing

83 Jika dimungkinkan, saya memilih membolos 84 Berada di kelas lebih bermanfaat bagi saya

85 Saya dapat menyelesaikan semua soal dengan tenang 86 Pikiran saya tetap tenang

87 Seketika saya menjadi bingung mengerjakan soal yang berbeda

88 Saya akan berusaha menyelesaikan soal tanpa bantuan orang lain

(66)

Lampiran 2.

Uji reliabilitas dan seleksi item

Penghitungan Pertama Reliability Statistics

Cronbach’s

Alpha N of Items

.936 90

aitem1 197.5059 646.682 .616 .934

aitem2 197.7529 643.188 .659 .934

aitem3 198.1059 667.024 .201 .936

aitem4 197.0588 656.056 .501 .935

aitem5 196.9765 651.571 .570 .934

aitem6 196.9294 658.066 .471 .935

aitem7 197.4706 658.681 .459 .935

aitem8 198.4000 661.957 .361 .935

aitem9 198.3765 665.357 .284 .935

aitem10 196.3412 680.251 -.167 .937

aitem11 197.5882 657.293 .435 .935

aitem12 197.2588 664.551 .263 .936

aitem13 197.7059 655.496 .479 .935

aitem14 198.1647 663.973 .291 .935

aitem15 198.6118 663.240 .443 .935

aitem16 196.5294 673.109 .018 .937

aitem17 198.4471 662.369 .326 .935

(67)

aitem19 197.7765 650.699 .556 .934

aitem20 198.1059 670.096 .117 .936

aitem21 197.4000 659.148 .391 .935

aitem22 197.1059 658.739 .440 .935

aitem23 198.0588 666.723 .187 .936

aitem24 196.8706 659.209 .494 .935

aitem25 197.4941 660.515 .468 .935

aitem26 198.1529 665.798 .200 .936

aitem27 197.4000 659.529 .447 .935

aitem28 197.1059 659.262 .516 .935

aitem29 197.6118 657.764 .393 .935

aitem30 197.2824 655.324 .567 .934

aitem31 197.3882 659.836 .466 .935

aitem32 198.4471 664.488 .274 .935

aitem33 196.7059 664.496 .244 .936

aitem34 196.9294 660.376 .391 .935

aitem35 197.5647 654.082 .482 .935

aitem36 197.2000 662.114 .387 .935

aitem37 197.8706 652.471 .517 .934

aitem38 198.4353 664.511 .345 .935

aitem39 198.0118 662.869 .287 .935

aitem40 197.8941 659.739 .355 .935

aitem41 197.9765 664.118 .233 .936

aitem42 196.9882 673.821 .005 .937

aitem43 197.7059 651.710 .592 .934

aitem44 197.7294 643.128 .671 .934

aitem45 198.3529 661.279 .377 .935

aitem46 196.8588 664.266 .237 .936

aitem47 197.1529 668.703 .088 .937

aitem48 197.3176 658.434 .459 .935

aitem49 197.7176 651.419 .568 .934

aitem50 198.0118 648.678 .622 .934

(68)

aitem52 197.1176 654.462 .534 .934

aitem53 197.8471 661.941 .326 .935

aitem54 197.2588 655.337 .535 .934

aitem55 197.6000 662.076 .391 .935

aitem56 198.1765 660.361 .341 .935

aitem57 197.6118 653.502 .509 .934

aitem58 197.0706 658.043 .512 .935

aitem59 196.8588 677.480 -.089 .937

aitem60 197.2353 658.539 .432 .935

aitem61 197.2000 665.471 .206 .936

aitem62 198.0118 655.274 .476 .935

aitem63 198.0824 653.529 .453 .935

aitem64 197.2235 669.557 .068 .937

aitem65 197.7647 657.039 .391 .935

aitem66 197.4706 653.109 .552 .934

aitem67 197.7059 650.162 .649 .934

aitem68 197.7529 646.831 .607 .934

aitem69 197.0588 658.818 .377 .935

aitem70 196.9647 677.701 -.091 .937

aitem71 197.8353 655.639 .441 .935

aitem72 197.5529 656.417 .449 .935

aitem73 197.5294 657.681 .403 .935

aitem74 197.2588 657.551 .448 .935

aitem75 197.1412 684.004 -.242 .938

aitem76 197.9412 659.508 .365 .935

aitem77 198.5412 667.680 .267 .935

aitem78 197.0235 661.904 .375 .935

aitem79 197.2118 666.169 .151 .936

aitem80 197.4235 663.628 .274 .936

aitem81 197.7765 655.580 .455 .935

aitem82 198.1176 651.486 .522 .934

aitem83 198.1765 655.195 .377 .935

(69)

aitem85 197.0588 655.437 .547 .934

aitem86 197.3294 657.200 .437 .935

aitem87 197.1412 654.980 .482 .935

aitem88 197.2471 653.879 .502 .934

aitem89 197.3176 657.838 .365 .935

(70)

Penghitungan Kedua Reliability Statistics

Cronbach’s

Alpha N of Items

.951 65

aitem1 140.0824 524.053 .608 .949

aitem2 140.3294 521.224 .643 .949

aitem4 139.6353 530.973 .539 .950

aitem5 139.5529 528.060 .572 .949

aitem6 139.5059 533.420 .489 .950

aitem7 140.0471 534.331 .465 .950

aitem8 140.9765 538.214 .336 .950

aitem11 140.1647 532.354 .462 .950

aitem13 140.2824 531.729 .477 .950

aitem15 141.1882 539.250 .416 .950

aitem17 141.0235 538.999 .289 .951

aitem19 140.3529 526.993 .565 .949

aitem21 139.9765 534.142 .414 .950

aitem22 139.6824 533.862 .463 .950

aitem24 139.4471 534.298 .521 .950

aitem25 140.0706 535.947 .477 .950

aitem27 139.9765 535.047 .456 .950

aitem28 139.6824 534.862 .523 .950

aitem29 140.1882 533.250 .405 .950

aitem30 139.8588 531.480 .568 .949

aitem31 139.9647 535.106 .483 .950

(71)

aitem35 140.1412 530.123 .489 .950

aitem36 139.7765 537.485 .392 .950

aitem37 140.4471 528.988 .515 .950

aitem38 141.0118 540.607 .312 .950

aitem40 140.4706 535.776 .346 .950

aitem43 140.2824 527.634 .611 .949

aitem44 140.3059 521.143 .656 .949

aitem45 140.9294 536.995 .372 .950

aitem48 139.8941 534.167 .464 .950

aitem49 140.2941 527.472 .582 .949

aitem50 140.5882 526.245 .601 .949

aitem51 141.1529 542.536 .305 .950

aitem52 139.6941 529.453 .573 .949

aitem53 140.4235 538.795 .285 .951

aitem54 139.8353 530.234 .577 .949

aitem55 140.1765 537.266 .403 .950

aitem56 140.7529 536.283 .334 .950

aitem57 140.1882 529.917 .507 .950

aitem58 139.6471 532.969 .547 .950

aitem60 139.8118 533.821 .450 .950

aitem62 140.5882 532.507 .446 .950

aitem63 140.6588 529.346 .466 .950

aitem65 140.3412 533.513 .378 .950

aitem66 140.0471 529.426 .554 .949

aitem67 140.2824 526.705 .654 .949

aitem68 140.3294 523.224 .623 .949

aitem69 139.6353 534.996 .367 .950

aitem71 140.4118 532.412 .424 .950

aitem72 140.1294 532.709 .442 .950

aitem73 140.1059 534.905 .367 .950

aitem74 139.8353 532.854 .467 .950

aitem76 140.5176 535.253 .365 .950

(72)

aitem81 140.3529 531.303 .467 .950

aitem82 140.6941 528.382 .513 .950

aitem83 140.7529 531.117 .383 .950

aitem84 140.3176 533.791 .378 .950

aitem85 139.6353 530.830 .573 .949

aitem86 139.9059 532.301 .463 .950

aitem87 139.7176 531.943 .460 .950

aitem88 139.8235 529.147 .532 .950

aitem89 139.8941 533.643 .367 .950

(73)

Penghitungan Ketiga Reliability Statistics

Cronbach’s

Alpha N of Items

.951 63

aitem1 136.8235 504.980 .607 .949

aitem2 137.0706 502.400 .638 .949

aitem4 136.3765 511.476 .548 .950

aitem5 136.2941 508.591 .581 .949

aitem6 136.2471 513.855 .499 .950

aitem7 136.7882 514.955 .469 .950

aitem8 137.7176 519.110 .328 .950

aitem11 136.9059 513.110 .462 .950

aitem13 137.0235 512.690 .471 .950

aitem15 137.9294 519.900 .416 .950

aitem19 137.0941 507.801 .567 .949

aitem21 136.7176 514.634 .421 .950

aitem22 136.4235 514.223 .475 .950

aitem24 136.1882 514.774 .530 .950

aitem25 136.8118 516.607 .479 .950

aitem27 136.7176 515.396 .469 .950

aitem28 136.4235 515.509 .526 .950

aitem29 136.9294 514.495 .391 .950

aitem30 136.6000 512.076 .574 .949

aitem31 136.7059 515.567 .492 .950

aitem34 136.2471 515.974 .416 .950

aitem35 136.8824 511.319 .478 .950

(74)

aitem37 137.1882 510.107 .507 .950

aitem38 137.7529 521.522 .301 .950

aitem40 137.2118 516.621 .342 .950

aitem43 137.0235 508.476 .611 .949

aitem44 137.0471 502.141 .655 .949

aitem45 137.6706 518.200 .355 .950

aitem48 136.6353 514.615 .473 .950

aitem49 137.0353 508.344 .582 .949

aitem50 137.3294 507.319 .596 .949

aitem51 137.8941 523.382 .292 .950

aitem52 136.4353 510.082 .579 .949

aitem54 136.5765 510.699 .588 .949

aitem55 136.9176 517.481 .420 .950

aitem56 137.4941 517.062 .331 .950

aitem57 136.9294 510.543 .512 .950

aitem58 136.3882 513.621 .551 .950

aitem60 136.5529 514.203 .461 .950

aitem62 137.3294 513.819 .430 .950

aitem63 137.4000 510.267 .464 .950

aitem65 137.0824 514.600 .369 .950

aitem66 136.7882 510.193 .556 .949

aitem67 137.0235 507.595 .654 .949

aitem68 137.0706 504.185 .622 .949

aitem69 136.3765 515.452 .374 .950

aitem71 137.1529 513.583 .413 .950

aitem72 136.8706 513.590 .439 .950

aitem73 136.8471 515.774 .363 .950

aitem74 136.5765 513.604 .468 .950

aitem76 137.2588 516.075 .362 .950

aitem78 136.3412 517.894 .382 .950

aitem81 137.0941 512.491 .455 .950

aitem82 137.4353 509.534 .504 .950

(75)

aitem84 137.0588 514.675 .374 .950

aitem85 136.3765 511.261 .585 .949

aitem86 136.6471 513.017 .465 .950

aitem87 136.4588 512.751 .459 .950

aitem88 136.5647 509.939 .533 .950

aitem89 136.6353 514.163 .373 .950

(76)

Penghitungan Keempat Reliability Statistics

Cronbach’s

Alpha N of Items

.950 62

aitem1 135.6235 499.071 .610 .949

aitem2 135.8706 496.566 .639 .949

aitem4 135.1765 505.623 .548 .949

aitem5 135.0941 502.777 .581 .949

aitem6 135.0471 507.926 .502 .950

aitem7 135.5882 509.102 .469 .950

aitem8 136.5176 513.324 .325 .950

aitem11 135.7059 507.210 .463 .950

aitem13 135.8235 506.790 .473 .950

aitem15 136.7294 514.176 .409 .950

aitem19 135.8941 501.929 .568 .949

aitem21 135.5176 508.896 .418 .950

aitem22 135.2235 508.318 .477 .950

aitem24 134.9882 508.964 .528 .950

aitem25 135.6118 510.764 .478 .950

aitem27 135.5176 509.491 .470 .950

aitem28 135.2235 509.580 .529 .950

aitem29 135.7294 508.700 .389 .950

aitem30 135.4000 506.314 .571 .949

aitem31 135.5059 509.562 .497 .950

aitem34 135.0471 510.045 .418 .950

aitem35 135.6824 505.481 .478 .950

(77)

aitem37 135.9882 504.274 .507 .950

aitem38 136.5529 515.726 .296 .950

aitem40 136.0118 510.750 .342 .950

aitem43 135.8235 502.623 .612 .949

aitem44 135.8471 496.322 .656 .949

aitem45 136.4706 512.419 .351 .950

aitem48 135.4353 508.725 .474 .950

aitem49 135.8353 502.449 .584 .949

aitem50 136.1294 501.543 .594 .949

aitem52 135.2353 504.301 .577 .949

aitem54 135.3765 504.833 .589 .949

aitem55 135.7176 511.491 .424 .950

aitem56 136.2941 511.139 .332 .950

aitem57 135.7294 504.581 .516 .949

aitem58 135.1882 507.869 .547 .949

aitem60 135.3529 508.255 .464 .950

aitem62 136.1294 508.043 .427 .950

aitem63 136.2000 504.424 .464 .950

aitem65 135.8824 508.819 .367 .950

aitem66 135.5882 504.436 .553 .949

aitem67 135.8235 501.766 .654 .949

aitem68 135.8706 498.352 .623 .949

aitem69 135.1765 509.480 .377 .950

aitem71 135.9529 507.783 .411 .950

aitem72 135.6706 507.747 .438 .950

aitem73 135.6471 509.874 .363 .950

aitem74 135.3765 507.785 .467 .950

aitem76 136.0588 510.175 .363 .950

aitem78 135.1412 511.980 .383 .950

aitem81 135.8941 506.643 .455 .950

aitem82 136.2353 503.754 .503 .950

aitem83 136.2941 506.591 .370 .950

(78)

aitem85 135.1765 505.385 .586 .949

aitem86 135.4471 507.060 .468 .950

aitem87 135.2588 506.861 .460 .950

aitem88 135.3647 504.092 .533 .949

aitem89 135.4353 508.225 .375 .950

(79)

Penghitungan Kelima Reliability Statistics

Cronbach’s

Alpha N of Items

.950 61

aitem1 134.2824 491.610 .610 .949

aitem2 134.5294 489.252 .635 .949

aitem4 133.8353 497.949 .553 .949

aitem5 133.7529 495.141 .585 .949

aitem6 133.7059 500.162 .509 .949

aitem7 134.2471 501.569 .468 .950

aitem8 135.1765 505.933 .318 .950

aitem11 134.3647 499.592 .466 .950

aitem13 134.4824 499.205 .474 .950

aitem15 135.3882 506.693 .404 .950

aitem19 134.5529 494.393 .569 .949

aitem21 134.1765 501.218 .422 .950

aitem22 133.8824 500.557 .484 .950

aitem24 133.6471 501.350 .531 .949

aitem25 134.2706 503.200 .478 .950

aitem27 134.1765 501.790 .475 .950

aitem28 133.8824 501.843 .536 .949

aitem29 134.3882 501.217 .387 .950

aitem30 134.0588 498.651 .576 .949

aitem31 134.1647 501.925 .500 .949

aitem34 133.7059 502.401 .421 .950

aitem35 134.3412 498.061 .475 .950

(80)

aitem37 134.6471 496.803 .505 .949

aitem40 134.6706 503.200 .342 .950

aitem43 134.4824 495.062 .614 .949

aitem44 134.5059 488.896 .655 .949

aitem45 135.1294 505.066 .344 .950

aitem48 134.0941 501.062 .478 .950

aitem49 134.4941 495.039 .581 .949

aitem50 134.7882 494.264 .588 .949

aitem52 133.8941 496.715 .579 .949

aitem54 134.0353 497.225 .592 .949

aitem55 134.3765 503.880 .426 .950

aitem56 134.9529 503.783 .326 .950

aitem57 134.3882 497.002 .518 .949

aitem58 133.8471 500.226 .551 .949

aitem60 134.0118 500.678 .465 .950

aitem62 134.7882 500.645 .423 .950

aitem63 134.8588 496.956 .463 .950

aitem65 134.5412 501.394 .363 .950

aitem66 134.2471 496.903 .554 .949

aitem67 134.4824 494.396 .650 .949

aitem68 134.5294 491.038 .619 .949

aitem69 133.8353 501.806 .380 .950

aitem71 134.6118 500.359 .408 .950

aitem72 134.3294 500.224 .438 .950

aitem73 134.3059 502.429 .360 .950

aitem74 134.0353 500.225 .467 .950

aitem76 134.7176 502.753 .359 .950

aitem78 133.8000 504.329 .386 .950

aitem81 134.5529 499.226 .452 .950

aitem82 134.8941 496.524 .495 .949

aitem83 134.9529 499.093 .369 .950

aitem84 134.5176 501.419 .370 .950

(81)

aitem86 134.1059 499.501 .468 .950

aitem87 133.9176 499.315 .460 .950

aitem88 134.0235 496.428 .537 .949

aitem89 134.0941 500.729 .374 .950

(82)

Lampiran 3.

Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Laki2 Perempuan

N 43 43

Mean 124.42 116.09

Normal Parametersa

Std. Deviation 23.748 15.410

Absolute .095 .086

Positive .095 .086

Most Extreme Differences

Negative -.067 -.040

Kolmogorov-Smirnov Z .626 .567

Asymp. Sig. (2-tailed) .829 .905

(83)

Lampiran 4.

Uji Hipotesis

Independent Samples Test

Levene's Test for

Equality of Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence

Interval of the

Difference

F Sig. t df

Sig.

(2-tailed)

Mean

Difference

Std. Error

Difference Lower Upper

Equal variances assumed 5.717 .019 1.928 84 .057 8.326 4.317 -.260 16.911 SKOR

Equal variances not

(84)

Lampiran 5

Tabel Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Sum Mean Std. Deviation

(85)
(86)
(87)

Lampiran 6

One-Sample Test

Test Value = 0

95% Confidence Interval of the

Difference

t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Lower Upper

(88)

Lampiran 7

Hasil wawancara

Subyek 1 (Hj. Sriyanto merupakan Guru matematika SMA Kolese Debrito) Wawancara melalui telepon pada tanggal 27 Januari 2010, Pukul 17.25

Sisil : Pak saya ingin tau bagaimana sikap para murid ketika mengikuti pelajaran matematika?

Joyo : sikap mereka macam-macam yah, saat pelajaran saya ada anak yang begitu takutnya terhadap matematika, sampai mandi keringat ketika diminta untuk mengerjakan soal di papan tulis. Ada yang memperhatikan sehingga sikapnya biasa saja.

Sisil : Apakah mereka pernah merasa cemas ketika mengikuti pelajaran matematika?

Joyo : iya, seringkali mereka merasa deg-degan, cemas dan takut saat pelajaran saya.

Sisil : Hal apa yang membuat mereka cemas?

Figur

Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan
Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan. View in document p.42
Tabel 2
Tabel 2. View in document p.43
Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan
Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan. View in document p.45
Tabel 4
Tabel 4. View in document p.48
Tabel 5
Tabel 5. View in document p.49
Tabel Statistik Deskriptif
Tabel Statistik Deskriptif. View in document p.84

Referensi

Memperbarui...