FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

Teks penuh

(1)

commit to user

HUBUNGAN PENGUASAAN BAHASA (ORAL DAN ISYARAT)

TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA

KELAS I SEKOLAH DASAR SLB N KOTA MAGELANG

TAHUN AJARAN 2011/2012

Oleh:

GIGIH WICAKSONO K 5104019

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

HUBUNGAN PENGUASAAN BAHASA (ORAL DAN ISYARAT)

(2)

commit to user

TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS I SEKOLAH DASAR SLB N KOTA MAGELANG

TAHUN AJARAN 2011/2012

oleh :

GIGIH WICAKSONO K 5104019

Skripsi

Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Luar Biasa

Jurusan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2012

(3)
(4)

commit to user

(5)

commit to user

ABSTRAK

Gigih Wicaksono. K 5104019 . HUBUNGAN PENGUASAAN BAHASA (ORAL DAN ISYARAT) TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS I SEKOLAH DASAR SLB N KOTA

MAGELANG TAHUN AJARAN 2011/2012. Skripsi, Surakarta: Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, April 2012. Tujuan penelitian ini adalah untuk : 1) mengetahui hubungan pemahaman bahasa oral dengan kemampuan membaca permulaan; 2) mengetahui hubungan pemahaman bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan; dan 3) mengetahui hubungan pemahaman bahasa oral dan bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan.Bentuk penelitian ini adalah kuantitatif. Strategi penelitian yang digunakan adalah strategi deskriptif korelasi. Sumber data penelitian ini berupa dokumen nilai tes oral, tes isyarat, dan tes membaca permulaan.. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi dan tes. Validitas data diperoleh melalui validitas tes dan realibilitas tes. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis Spearman Rank Order.

Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan: 1) ada hubungan yang positif antara penguasaan bahasa oral dengan kemampuan membaca permulaan siswa kelas 1 Sekolah Dasar di SLB N Kota Magelang tahun ajaran 2011/2012" dapat diterima kebenarannya (tO0,941 > tt 0,833); 2) ada hubungan yang positif antara

penguasaan bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan siswa kelas 1 Sekolah Dasar di SLB N Kota Magelang tahun ajaran 2011/2012" dapat diterima kebenarannya (tO 0,958 > tt 0.833); 3) ada hubungan yang positif antara

penguasaan bahasa oral dan penguasaan bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan siswa kelas 1 Sekolah Dasar di SLB N Kota Magelang tahun ajaran 2011/2012 " dapat diterima kebenarannya. (F0 = 28.885> Ft 5% =

(6)

commit to user

ABSTRACT

Gigih Wicaksono. K 5104019. CONNECTION ABOUT LANGUAGE ABILITY (ORAL AND SIGNALING) PRIMARY READING SKILLS OF STUDENTS CLASS I CITY ELEMENTARY SCHOOL SLB MAGELANG

ACADEMIC YEAR 2011/2012. Thesis, Surakarta: Faculty of Teacher and

Education. Sebelas Maret University of Surakarta, April 2012. . ………..

The purpose of this study were to: 1) determine the relationship of oral language comprehension with beginning reading skills, 2) determine the relationship of sign language comprehension with beginning reading skills, and 3) determine the relationship of oral language comprehension and the ability to read sign Primary Reading. Research this study is quantitative. Research strategy used is descriptive correlation strategy. Source of research data in the form of documents oral test scores, the test signal, and start reading tests .. The data was collected and the test documentation. The validity of the data obtained through test validity and reliability tests.The data collected were analyzed using Spearman Rank Order analysis techniques. Based on data analysis can be concluded: 1) there is a positive relationship between mastery of oral language with the ability to read the beginning of grade 1 students in special-ed Elementary School Magelang academic year 2011/2012 "can be accepted as true (tO 0,941 > tt 0,833); 2)

there positive relationship between mastery of sign language with the ability to read the beginning of grade 1 students in special schools Primary School Magelang academic year 2011/2012 can be accepted as true (tO0,958 > tt 0.833);

3) there is a positive relationship between oral language acquisition and mastery sign language with the ability to read the beginning of first grade elementary school students in special schools Magelang school year 2011/2012 "can be accepted as true. (F0 = 28.885> Ft 5% = 5,79).

(7)

commit to user

MOTTO

Imajinasi adalah Harapan dan kekuatan (Gigih Wicaksono)

(8)

commit to user

PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan kepada:

1. Ibu dan Bapakku yang bekerja lebih keras dan konsisten dengan idealisme;

2. Peni Tri Hastuti yang telah mengajarkan aku tentang dedikasi, sabar, dan mawas diri; 3. Para dhuafa yang hidup dalam kekurangan

dan senantiasa bekerja sangat keras menafkahi diri dan keluarganya; dan 4. Teman-teman di gedung E FKIP UNS

(9)

commit to user

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, skripsi ini dapat peneliti selesaikan. Skripsi ini peneliti tulis dan ajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Banyak hambatan dalam penyelesaian skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak, akhirnya kesulitan-kesulitan tersebut dapat teratasi. Untuk itu, peneliti menyampaikan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin penyusunan skripsi ini;

2. Drs. R. Indianto, M. Pd. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan persetujuan penyusunan skripsi ini;

3. Drs. Hermawan, M. Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Luar Biasa Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang juga telah memberikan persetujuan penyusunan skripsi ini;

4. Drs. Hermawan, M. Si. selaku Pembimbing Akademik yang senantiasa memantau kegiatan akademik dan memberikan nasihat, saran, dan bimbingan kepada peneliti selama kuliah;

5. Drs. Gunarhadi, MA, Ph. D. selaku Pembimbing I dan Priyono S.Pd, M.Si selaku Pembimbing II atas bimbingan yang diberikan;

6. Dra. Siti Asnah. Selaku kepala sekolah SLB Negeri Kota Magelang.

7. Keluargaku (Bapak, Ibu, dan adikku) yang menjadi naungan dan pelarianku; 8. Perpustakaan di lingkup UNS, bapak Arif bagian pendidikan FKIP;

9. Berbagai pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini, namun tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.

(10)

commit to user

Semoga kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan balasan terbaik dari Tuhan yang Maha Esa.

Surakarta, April 2012

Penulis

(11)

commit to user

DAFTAR ISI Halaman JUDUL ... i PENGAJUAN ... ii PERSETUJUAN ... iii PENGESAHAN ... iv ABSTRAK ... v MOTTO ... vii PERSEMBAHAN ... viii KATA PENGANTAR ... ix DAFTAR ISI ... xi BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Perumusan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian……….. 7

F. Manfaat Penelitian……….. 7

BAB II LANDASAN TEORI ... 8

A. Tinjauan Pustaka ... 8

1. Tinjauan Tentang Metode Oral ... 8

a. Pengertian Metode Oral ... 8

b. Jenis-jenis Metode Oral ... 10

c. Kelebihan dan Kekurangan Metode Oral ... 10

2. Tinjauan Tentang Metode Isyarat ... 11

a. Pengertian Metode Isyarat ... 11

b. Tujuan Bahasa Isyarat Pada anak tunarungu……….. 12

c. Jenis Bahasa Isyarat……… 12

d. Kelebihan dan Kekurangan bahasa Isyarat ... 14

3. Tinjauan Tentang anak Tunarungu………. 15

(12)

commit to user

b. Klasifikasi Anak Tunarungu………... 6

c. Karakteristik Pembelajaran Bagi anak Tunarungu………. 21

4. Proses Pembelajaran Membaca Permulaan……… 22

a. Penyusunan Program Pengajaran………... 2

b. Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Permulaan……….. 5

c. Metode Pembelajaran Membaca Permulaan……….. 5

B. Kerangka Berpikir ... 0

C. Perumusan Hipotesis……… 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 32

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 32

B. Metode Penelitian ... 32

C. Populasi dan Sampel ... 33

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 33

E. Penentuan Validitas dan Rehabilitas……… 34

F. Analisis Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN………... 38

A. Deskripsi Data ... 38

1. Penguasaan Bahasa Oral ... 38

2. Penguasaan Bahasa Isyarat ... 40

3. Kemampuan Membaca Permulaan ... 41

B. Pengujian Hipotesis ... 42

1. Hasil Uji Hipotesis Kesatu, Kedua ... 42

2. Hasil Uji Hipotesis Ketiga ... 43

3. Kesimpulan Pengujian Hipotesis ... 47

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 52 LAMPIRAN

(13)

commit to user

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional tentang Hak dan Kewajiban Warga Negara Pasal 5 ayat (1 dan 2)” (1) Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, (2) Warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.

Berdasarkan undang-undang di atas, maka setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan, termasuk juga anak tunarungu. Permanarian Somad & Tati Hernawati, (1996: 14) berpendapat bahwa “Pemerintah mempunyai peranan yang sangat penting dalam pelayanan pendidikan, karena pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap semua warganya.

Mereka juga menerangkan bahwa “Pendidikan anak tunarungu di Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai kendala diantaranya yaitu kesulitan dalam pengadaan sarana dan prasarana, terutama kebutuhannya dalam upaya rehabilitasi kelainannya. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat terus berusaha meningkatkan pendidikan anak tunarungu”.

Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran. Sastrawinata (1977: 10) menyebutkan secara medis ketunarunguan berarti kekurangan/kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan seluruh alat pendengaran. Secara pedagogis ketunarunguan mengakibatkan hambatan dalam perkembangan sehingga memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus baik metode, media yang digunakan, maupun sistem penilaiannya.

Seseorang dikatakan tunarungu jika orang tersebut mengalami kelainan dalam pendengarannya. Akibat dari kelainan pendengaran dapat menghambat perkembangan bahasanya. Perkembangan bahasa anak tunarungu mengalami hambatan karena kurang berfungsinya atau bahkan tidak berfungsinya indra

(14)

commit to user

pendengaran. Indra pendengaran sebagai media auditif berfungsi sebagai salah satu saluran dalam perkembangan bahasa.

Perkembangan bahasa anak tunarungu wicara terhenti saat sampai pada fase merespon suara dari lingkungan sekitar. Pada awalnya, anak tunarungu yang tidak disertai ketunaan lain mampu mengikuti irama perkembangan bicara dan bahasa sama seperti pada anak yang mampu mendengar. Anak tunarungu sejak lahir sama seperti bayi normal, mengeluarkan bunyi-bunyi reflek, tak beraturan, dan tak bermakna. Pada anak normal hal ini terus berlanjut, anak normal senang mendengar suaranya sendiri sehingga ia mengulangi terus-menerus apa yang diucapkannya. Selanjutnya, hal ini berkembang saat ia mulai merespon suara-suara dari lingkungan sekitar. Dari lingkungan ini, anak normal mulai belajar menirukan suara-suara yang didengarnya. Dari situlah anak normal mulai berlatih berbicara dengan menirukan suara yang didengarnya. Pada anak tunarungu, tahap menirukan suara yang ada di sekitarnya tidak dapat dilakukan karena suara-suara tersebut tidak dapat atau kurang dapat didengar secara sempurna. Anak tunarungu tidak bereaksi terhadap suara dan tidak dapat menirukan suara-suara yang ada di sekitarnya. Ketidakmampuan mendengar ini menyebabkan perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu menjadi terhambat.

Anak tunarungu kehilangan salah satu media yang sangat penting untuk mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasa. Kemampuan bicara dan bahasa merupakan media utama untuk mengadakan interaksi dengan lingkungannya. Selain itu, bahasa merupakan kunci utama untuk mengikuti pendidikan. Tanpa pemahaman yang cukup tentang bahasa, sulit untuk memahami pelajaran yang disampaikan.

Keterkaitan yang erat antara bahasa sebagai sarana berpikir dan alat penyampai pengetahuan dalam pendidikan menyebabkan bahasa mau tidak mau harus dikuasai oleh setiap peserta didik, tak terkecuali anak tunarungu wicara. Salah satu upaya membelajarkan bahasa bagi anak tunarungu adalah menjadikan bahasa Indonesia sebagai materi wajib di sekolah luar biasa. Dengan menjadikan bahasa Indonesia sebagai materi pembelajaran di SLB B, diharapkan dapat meningkatkan kualitas berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.

(15)

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat aspek keterampilan berbahasa. Keempat aspek itu adalah keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Setiap aspek keterampilan mendukung keterampilan lainnya. Pembelajaran bahasa Indonesia di kelas rendah, yaitu di kelas I dan II Sekolah Dasar dikatakan sebagai pembelajaran tahap permulaan. Pada tahap ini siswa diperkenalkan pada kemampuan dasar berbahasa sebagai dasar bagi pembelajaran di kelas selanjutnya. Salah satu pembelajaran bahasa yang bersifat permulaan di kelas rendah adalah pembelajaran membaca yang dikenal dengan pembelajaran membaca permulaan.

Kedudukan membaca permulaan menjadi sangat penting karena sebagai landasan bagi kemampuan membaca pada tingkat lanjut. Landasan yang kuat akan mempermudah siswa dalam tingkat pendidikan selanjutnya. Sebaliknya, jika kemampuan dasar tidak kuat, akan sangat terasa pengaruhnya, baik bagi siswa maupun bagi guru. Jelaslah di sini bahwa kemampuan dasar membaca melalui pembelajaran membaca permulaan memegang peranan yang penting.

Pembelajaran membaca permulaan lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan dasar membaca. Siswa dituntut untuk dapat “menyuarakan” kalimat-kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan. Dengan kata lain, siswa dituntut untuk mampu menerjemahkan bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan. Dalam hal ini tercakup aspek kelancaran membaca. Siswa harus dapat membaca wacana dengan lancar, bukan hanya membaca kata-kata ataupun mengenali huruf-huruf yang tertulis (Sabarti Akhadiah M. K, 1992: 11).

Terkait dengan pembelajaran membaca permulaan bagi anak tunarungu di SLB B, terdapat beberapa permasalahan dalam proses pengajarannya. Seperti telah disebutkan di atas, anak tunarungu memiliki ketunaan dalam pendengarannya. Akibat dari ketunaannya ini, anak tunarungu mengalami gangguan dalam berbahasa karena berkurangnya atau hilangnya fungsi indra pendengaran sebagai salah salah satu input dalam perkembangan bahasa. Gangguan bahasa ini menyebabkan kompetensi bahasa anak tunarungu menjadi rendah.

(16)

commit to user

Guna membantu mengatasi hambatan kemampuan komunikasi kaum tunarungu sejak 300 tahun yang lalu sampai sekarang, telah dikembangkan dan digunakan berbagai metode, yaitu “metode oral” yang menggunakan kemampuan membaca ujaran sebagai sarana penerimaan, serta bicara sebagai cara pengungkapan diri dan “metode manual” yang menggunakan “isyarat” serta “ejaan jari” untuk sarana penerimaan dan pengungkapan diri. Untuk jelasnya dikemukakan pendapat tokoh mengenai Bahasa oral dan bahasa isyarat.

Salah satu metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah metode oral. Menurut Lani Bunawan (1989: 1) “Metode oral aural yaitu metode dimana anak diharapkan agar dapat mengungkapkan diri dengan bicara dan menangkap pesan orang lain lewat membaca ujaran serta memanfaatkan sisa pendengarannya”.

Menurut Corrow (1996: 374) “ Oralism is the combined use of amplification, auditory training speech, lip reading, and written language in the instructional approach “, yaitu kurang lebih menyatakan metode oral adalah

gabungan dari penerapan latihan mendengar, bicara, membaca ujaran dan bahasa tulisan di dalam proses pembelajaran.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode oral merupakan salah satu cara untuk melatih anak tunarungu dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan lingkungan orang mendengar. Agar anak tunarungu mampu bicara dituntut adanya partisipasi dari orang-orang di sekelilingnya, yaitu dengan melibatkan anak tunarungu bicara secara lisan dalam setiap kesempatan.

Selain metode oral, digunakan juga metode isyarat. pengertian metode isyarat “Yaitu suatu cara mengajar atau melatih anak tunarungu berkomunikasi dengan isyarat yang biasanya disertai dengan ejaan jari”. Bahasa manual atau isyarat mempunyai unsur gesti atau gerakan tangan yang ditangkap melalui atau suatu bahasa yang menggunakan modalitas gesti-visual. Metode isyarat dapat membantu komunikasi sesama anak tunarungu ataupun komunikasi sesama kaum tunarungu dalam masyarakat luas. Dengan metode isyarat anak dapat menerima penjelasan sehingga memperoleh kebahagiaan dan bukan membuat anak tunarungu sebagai tiruan dari anak normal.

(17)

Salah satu upaya mengatasi gangguan bahasa anak tunarungu adalah melalui pendidikan. Dalam pembelajaran, digunakan metode oral dan isyarat. Melalui kedua metode ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan kemampuan berkomunukasi bagi anak tunarungu.

Selain kemampuan berkomunikasi yang meningkat, yang tidak kalah penting dari metode oral dan isyarat ini adalah peningkatan kompetensi bahasa yang memadai. Dengan kompetensi bahasa yang memadai, kemampuan berkomunikasi akan meningkat, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan anak dalam pembelajaran membaca permulaan.

Bertolak dari hal di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penguasaan bahasa oral terhadap kemampuan membaca permulaan, hubungan antara penguasaan bahasa isyarat terhadap kemampuan membaca permulaan, dan penguasaan bahasa oral dan bahasa isyarat terhadap kemampuan membaca permulaan.

B. Identifikasi masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Anak tunarungu adalah anak yang kehilangan kemampuan pendengaran. Akibat dari Ketidakmampuan mendengar ini menyebabkan perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu menjadi terhambat.

2. Akibat dari ketunaannya, kompetensi bahasa anak tunarungu menjadi rendah.. 3. Tanpa pemahaman yang cukup tentang bahasa, maka anak tunarungu akan

sulit untuk memahami pelajaran yang disampaikan.

4. Pembelajaran membaca permulaan, Siswa dituntut untuk dapat “menyuarakan” kalimat-kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan. Padahal anak tunarungu telah mengalami keterbatasan dalam kemampuan komunikasi dan bahasanya.

5. Pendekatan komunikasi di SLB B hanya menggunakan metode oral saja, sehingga hasil pengajaran bahasanya tidak maksimal.

(18)

commit to user

6. Bahasa isyarat adalah bahasa yang identik dengan dunia anak tunarungu, namun kenyataannya bahasa isyarat kurang efisien, karena banyak isyarat yang harus dipelajari dan tidak semua pengerian dapat diisyaratkan.

C. Pembatasan Masalah

Untuk mengarahkan kegiatan penelitian yang akan dilakukan, maka permasalahan perlu dibatasi. Masalah yang akan diteliti hanya terbatas pada masalah berikut ini:

1. Obyek Penelitian

a. Pengajaran membaca permulaan Kelas I Sekolah Dasar semester 1 tentang berbicara dan berisyarat dalam memperkenalkan diri sendiri, dan fungsi anggota tubuh serta benda-benda di sekitar.

b.Bahasa oral meliputi kemampuan ekspresif (berbicara) maupun reseptif (membaca ujaran) dalam proses pembelajaran membaca permulaan anak tunarungu sekolah dasar.

c.Bahasa isyarat meliputi kemampuan ekspresif (berisyarat) dan reseptif (membaca isyarat) dalam proses pembelajaran membaca permulaan anak tunarungu sekolah dasar.

2. Subyek Penelitian

Siswa kelas I Sekolah Dasar di SLB N Magelang tahun ajaran 2011/2012

D. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah ada hubungan antara penguasaan bahasa oral dengan kemampuan membaca permulaan?

2. Apakah ada hubungan antara penguasaan bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan?

3. Apakah ada hubungan antara penguasaan bahasa oral dan pemahaman bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan?

(19)

E. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui hubungan pemahaman bahasa oral dengan kemampuan membaca permulaan.

2. Mengetahui hubungan pemahaman bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan.

3. Mengetahui hubungan pemahaman bahasa oral dan bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik manfaat teoretis maupun manfaat praktis sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Menambah wawasan bagi peneliti tentang metode pengajaran bahasa bagi anak tunarungu.

b. Memperkenalkan penggunaan bahasa oral dan isyarat bagi pembelajaran anak tuna rungu terkait dengan kemampuan membaca permulaan.

2. Manfaat Praktis

Menyelenggarakn pembelajaran yang memadukan bahasa oral dan isyarat untuk kepentingan peningkatan kemampuan membaca permulaan di SLB Negeri Magelang.

(20)

commit to user

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Tinjauan tentang Metode Oral

a. Pengertian Metode Oral

Metode oral yang dipelopori Samuel Heinicke di Jerman. Metode ini bertitik tolak dari pandangan bahwa “Anak tuli memiliki potensi untuk berbicara, dan dapat diajar dengan baik” (Sardjono & Samsidar, 1990: 35). Pandangan ini didukung adanya kebutuhan anak tuli (tunarungu berat) untuk:

1) Diakui sebagai anggota masyarakat seperti halnya anak-anak normal 2) Mendapat kesempatan berpribadi (memperoleh pengakuan harga diri) 3) Menyesuaikan diri dalam sosial dan vocational (Sardjono, 2000: 3)

Kata “oral” berasal dari bahasa Inggris yang artinya sama dengan lisan (Wojowasito & Purwadarminta, 1991: 131). Menurut Lani Bunawan (1989:1) “Metode oral aural yaitu metode dimana anak diharapkan agar dapat mengungkapkan diri dengan bicara dan menangkap pesan orang lain lewat membaca ujaran serta memanfaatkan sisa pendengarannya”.

Menurut Corrow (1996:374) “ Oralism is the combined use of amplification, auditory training speech, lip reading, and written language in the instructional approach “, yaitu kurang lebih menyatakan metode oral adalah

gabungan dari penerapan latihan mendengar, bicara, membaca ujaran dan bahasa tulisan didalam proses pembelajaran.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode oral merupakan salah satu cara untuk melatih anak tunarungu dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan lingkungan orang mendengar. Agar anak tunarungu mampu bicara dituntut adanya partisipasi dari orang-orang di sekelilingnya, yaitu dengan melibatkan anak tunarungu bicara secara lisan dalam setiap kesempatan. b. Syarat-syarat Penunjang keberhasilan penerapan metode oral

Menurut Lani Bunawan (1989: 23) “Berhasil atau tidaknya penerapan suatu metode bukan semata-mata tergantung dari faktor anak didiknya tetapi dapat

(21)

pula dari guru dan atau keadaan lingkungan”. Adapun syarat-syarat yang dapat menunjang keberhasilan penerapan metode oral yaitu:

1) Terselenggaranya kegiatan diagnosa secara menyeluruh untuk mendapatkan gambaran kemampuan serta ketidakmampuan.

2) Terlaksananya pengukuran/ penilaian secara rutin dan berkesinambungan terhadap siswa terutama mengenai keterampilan, membaca, ujaran, bicara, perkembangan kosakata, kemampuan membaca dan sebagainya.

3) Tersedianya guru dan pendidik yang memenuhi persyaratan. Pendidik seperti pengasuh asramapun memerlukan bimbingan agar dapat menangani anak tunarungu dengan benar, terutama yang menyangkut perkembangan bahasa anak.

4) Terselenggaranya pelayanan pendidikan yang terpisah antara berbagai siswa tunarungu sesuai kebutuhannya.

5) Terlaksananya program bimbingan orang tua siswa yang terutama dapat menunjang perkembangan bahasa anak.

6) Tersedianya program bimbingan diri sehingga anak sejak usia balita telah menggunakan alat bantu mendengar, dilatih cara bicara dan ketrampilan baca ujarannya dan pihak keluarga belum sempat mengembangkan suatu sistem isyarat yang hanya dimengerti dalam lingkungan terbatas.

7) Terlaksananya pelayanan pendidikan yang bercirikan hal-hal sebagai berikut: a) Di seluruh SLB-B diterapkan metode pengajaran bahasa yang homogen

berdasarkan percakapan oral sejak program bimbingan dini sampai tingkat lanjutan.

b) Setiap hari siswa diberikan latihan bicara dengan sasaran agar siswa berbicara dengan kecepatan dan irama yang wajar.

c) Terselenggaranya bina persepsi bunyi dan irama secara berkesinambungan.

d) Tersedianya peralatan elektronik yang digunakan secara efektif serta dirawat dan dipelihara secara teratur.

(22)

commit to user

c. Jenis-jenis Metode Oral

Metode oral dapat juga dibedakan dalam beberapa kategori:

1) Metode oral dengan menggunakan pendekatan kinestetis, yaitu metode oral dengan mengandalkan membaca ujaran, peniruan melalui penglihatan, serta rangsangan perabaan dan kinestetis tanpa pemanfaatan sisa pendengaran. 2) Metode oral dengan menggunakan pendekatan unisensory atau akupedik, yaitu

metode komunikasi yang memberikan penekanan pada pemberian Alat Bantu Dengar (ABD) yang bermutu tinggi serta latihan mendengar serta menomorduakan bahasa ujaran terutama pada tahap permulaan pendidikan anak.

3) Metode oral dengan menggunakan pendekatan oral grafik (Graphic-oral) yaitu

metode komunikasi dengan menggunakan tulisan sebagai sarana guna mengembangkan kemampuan komunikasi oral (Permanarian Somad & Tati hernawati, 1995:47)

d. Kelebihan dan Kekurangan Metode Oral

Walaupun metode oral banyak digunakan orang dan paling disukai oleh orang tua anak tunarungu, tetapi dalam kenyataannya masih ditemui kekurangan-kekurangan disamping memiliki kelebihan.

Menurut Sardjono (2003: 3-4) kelebihan dan kekurangan metode oral pada sistem komunikasi oral adalah sebagai berikut:

1) Kelebihan-kelebihan metode oral

Beberapa kelebihan atau keunggulan metode oral diantaranya sebagai berikut:

a) Dengan latihan berbicara akan memberikan penjelasan yang lebih mudah ke dunia sekitarnya, sehingga memperoleh penyesuaian dan sekaligus menghindarkan anak tuli (tunarungu) dari perasaan terisolir dan tekanan batin.

b) Bicara merupakan media komunikasi yang bersifat universal.

c) Pergaulan anak tuli (tunarungu) tidak terbatas pada dunia anak tuli (tunarungu) yang berisyarat saja.

(23)

d) Anak normalpun akan lebih mudah bergaul dengan anak tuli (tunarungu) yang berbicara.

e) Oralisme menitikberatkan pada kebutuhan berpartisipasi dalam kehidupan normal.

2) Kekurangan-kekurangan metode oral

a) Banyak ucapan yang bentuknya dalam bibir hampir sama tetapi memiliki makna yang berbeda, sehingga menyulitkan anak tunarungu untuk mendapatkan makna.

b) Sulit menerima anak tunarungu jika diucapkan pada jarak jauh (tidak terjangkau pandangan)

c) Apabila yang berbicara berkumis tebal, maka akan sulit ditangkap makna ucapannya karena gerak bibir tertutup kumis.

d) Merupakan pemaksaan bagi anak tunarungu jika metode oral digunakan karena bukan dunianya.

“Kelemahan utama disini adalah terletak pada keterbatasan kemampuan anak tunarungu dalam menangkap dan mengeluarkan bahasa lisan, lebih-lebih lagi pada tunarungu wicara yang disertai kelainan atau double handicapped

(Sardjono & Samsidar, 1990: 36).

2. Tinjauan tentang Metode Isyarat a. Pengertian Metode Isyarat

Metode isyarat merupakan suatu metode komunikasi untuk menyampaikan dan menerima pesan, gagasan, pikiran, isi kandungan jiwa mengenai bahasa isyarat (sign language), dan ejaan jari (finger spelling) atau gesti atau panto

mimik, atau anggota badan lainnya. Melalui isyarat anak tunarungu akan belajar memahami bahasa lewat membaca isyarat yaitu dengan melihat gerakan –gerakan tangan yang merupakan pengisyaratan dari tiap kata atau kalimat.

Tokoh terbesar di antara pengembang metode manual/isyarat adalah CM de L’EPEE. Menurut CM de L’EPEE yang dikutip Sardjono “bahasa isyarat merupakan bahasa alamiah bagi penyandang tunarungu”.

(24)

commit to user

Secara harfiah menurut A. Van Uden yang dikutip Bunawan (1989: 11) “bahasa isyarat artinya bahasa dengan menggunakan tangan walaupun dalam kenyataan, ekspresi muka dan lengan juga digunakan atau berperan”.

“Isyarat (signal) adalah bunyi atau gerakan yang mengandung arti alamiah atau biologis “(Haviland, 1995: 161).

b. Tujuan Bahasa Isyarat Pada Anak Tunarungu

Menurut aliran Manualisme yang dikutip oleh Sardjono (1991: 55) dalam bukunya Orthopedagogik-B menyebutkan bahwa :

“Anak tunarungu-wicara mempunyai dunia kepribadian dan bahasa tersendiri, yaitu bahasa isyarat. Supaya mereka dapat hidup bahagia dan sempurna kalau mereka dididik menurut kodratnya, yaitu memakai metode manual bahasa yang memakai gerakan dan isyarat sebagai alat komunikasi”.

Selanjutnya aliran ini juga berpendapat bahwa tujuan bahasa isyarat bagi anak tunarungu adalah “untuk melahirka pikiran, perasaan, dan kemauannya. Baik untuk melukiskan benda dan bentuk pikiran lainnya.” Jadi menurut aliran manualisme bahasa isyarat merupakan alat komunikasi yang utama bagi anak tunarungu. Oleh karenanya mereka harus dididik dan diajar dengan bahasa isyarat.

c. Jenis Metode Isyarat

Menurut Lani Bunawan (1989: 12-14) terdapat beberapa jenis metode isyarat yang digunakan di dalam dunia pendidikan anak tunarungu. Jenis-jenis metode isyarat sebagai berikut:

1) Bahasa isyarat dapat diartikan sebagai dactilogy atau “bahasa jari” atau juga

lebih dikenal dengan sebutan abjad jari (finger spelling). Sistem ini masih

pula dibedakan antara lain:

(25)

b) gerak/posisi jari yang menggambarkan bunyi bahasa

2) Istilah isyarat juga sering digunakan untuk menunjukkan bahasa tubuh atau

body language. Bahasa tubuh meliputi keseluruhan ekspresi tubuh, seperti

sikap tubuh, ekspresi muka, pantomimic, dan gesti/gerak (gesture) yang

dilakukan oleh seseorang secara wajar dan alami. Menurut Hirsch yang dikemukakan Bunawan (1989: 13)” seorang guru anak tunarungu pernah mengadakan suatu inventerisasi mengenai gesti yang dilakukan orang Jerman dan menyimpulkan bahwa jumlahnya mencapai 853 gesti diantaranya telah dikenal dan digunakan anak sejak usia balita”. Gesti ini ternyata tidak sama untuk setiap masyarakat atau kebudayaan. Bahasa tubuh ini tidak bisa digolongkan sebagai suatu bahasa dalam arti sesungguhnya walaupun gerak/isyaratnya berfungsi sebagai media komunikasi.

3) Bahasa isyarat Alami/Asli

Suatu isyarat sebagaimana digunakan anak tunarungu berbeda dari bahasa tubuh, merupakan ungkapan manual (dengan tangan) yang disepakati bersama antara pemakai (konvensional) dikenal secara terbatas dalam kelompok tertentu (esetoris)dan merupakan pengganti kata. Istilah bahasa isyarat juga digunakan untuk menunjukkan tiga maksud, yaitu:

a) Bahasa isyarat yang berkembang secara alami di antara kaum tunarungu dan terbatas pengenalan serta penggunaannya dalam artinya, dikenal dan digunakan dalam lingkungan keluarga tertentu, lingkungan Sekolah Luar Biasa atau daerah tertentu seperti dialek (isyarat lokal), isyarat seperti ini tidak diajarkan secara resmi.

b) Di Negara yang menerapkan metode manual berkembang suatu bahasa isyarat yang terdiri dari kumpulan isyarat yang sudah dikenal dan digunakan serta merupakan bahasa pengantar resmi di SLB B yang menggunakan metode tersebut.

(26)

commit to user

4) Bahasa Isyarat Formal

Dalam mengatasi kelemahan bahasa isyarat konseptual, sejak tahun 1970 makin banyak diusahakan pengembangan bahasa isyarat yang memiliki struktur yang sama dengan bahasa lisan masyarakat atau disebut dengan bahasa isyarat formal.

d. Kelebihan dan Kekurangan Metode Isyarat

Menurut Emon Sastrawinata (1976: 32) “ Keuntungan metode isyarat ialah sesuai dengan dunia anak tunarungu yaitu dunia tanpa suara, sesuai dengan kemampuan anak tunarungu menerima dan mengeluarkan pikiran-pikiran melalui lambing visual sesuai dengan bahasa ibunya.”

Menurut Sardjono & Samsidar (1990: 34), kelebihan dan kekurangan metode isyarat antara lain:

1) Keuntungan Metode Isyarat

a) penggunaan isyarat lebih mudah daripada bahasa lisan

b) anak tuli yang organ bicaranya berlainan akan mengalami kesulitan dalam membuat bunyi bicara

c) anak tuli lebih menyukai berkomunikasi dengan anak tuli lain sehingga tidak perlu dapat berbicar lisan

d) tujuan yang diutamakan adalah anak dapat menerima pelajaran sehingga memperoleh kebahagiaan dan bukan membuat anak tuli sebagai tiruan anak normal

2) Kekurangan metode isyarat

a) Kurang efisien, karena banyak isyarat yang harus dipelajari

b) Tidak semua pengertian dapat diisyaratkan, lebih-lebih pengertian yang abstrak

c) Menyiapkan orang-orang normal untuk dapat menangkap isyarat d) Kurang praktis bagi anak yang sedang membawa barang

(27)

3. Tinjauan Tentang Anak Tuna Rungu

a. Pengertian Anak Tuna Rungu

Biasanya orang mendengar kata anak tuna rungu asumsinya adalah anak yang tidak dapat bicara dan tidak dapat mendengar. Anggapan ini sebenarnya salah, sebab anak tuna rungu wicara dengan sisa-sisa pendengarannya, mereka masih mampu mendengar walaupun tidak sebaik pendengaran mereka yang tergolomg normal. Oleh karena itu perhatian dan pemberian layanan bimbingan terhadap anak tuna rungu wicara sangat diperlukan untuk mengembangkan sisa potensi yang ada pada mereka baik berupa pendengaran maupun kemampuan bicaranya.

Orang tuli adalah seseorang yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu mendengar, yang meliputi keseluruhan kesulitan mendengar. Sedangkan seseorang yang kurang dengar adalah seseorang yang biasanya dengan menggunakan alat bantu mendengar, sisa pendengarannya cukup memungkinkan keberhasilan proses informasi bahasa melalui pendengaran (Permanarian Somad & Tati Hernawati, 1996: 26).

Andreas Dwidjosumarto (dalam Permanarian Somad & Tati Hernawati, 1996: 27) menyatakan bahwa tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai perangsang terutama melalui indra pendengaran.

Menurut Sardjono dan Samsidar (1988 : 6) menyatakan bahwa: “Anak tuna rungu wicara adalah mereka yang sejak lahir kurang pendengarannya sehingga memustahilkan mereka dapat belajar bahasa dan bicara dengan cara cara normal atau mereka yang sekalipun lahir dengan pendengaran normal tetapi sebelum dapat berbicara mendapat hambatan tarap berat pada pendengarannya dan atau mereka yang sekalipun sudah mulai dapat berbicara, tetapi saat terjangkitnya gangguan pendengaran sebelum umur kira kira 2 tahun, maka kesan-kesan yang diterima mengenai suara dan bahasa seolah-olah hilang”

(28)

commit to user

Sedangkan pengertian anak tuna rungu wicara menurut Departemen Pendidikan dan kebudayaan (1994 : 3) adalah:

“Tuna rungu wicara adalah istilah yang menggambarkan keadaan kemampuan dengar yang kurang atau tidak berfungsi secara normal sehingga tidak mungkin lagi diandalkan untuk belajar bahasa dan wicara tanpa bantuan metode dan peralatan khusus”.

Dari pendapat-pendapat tersebut di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa anak tuna rungu wicara adalah anak yang kehilangan sebagian atau seluruh daya pendengarannya, sehingga mengalami kesulitan dalam melakukan komunikasi dan hal ini dapat mengakibatkan hambatan dalam perkembangannya, maka anak tuna rungu wicara memerlukan bimbingan sosial atau pendidikan khusus.

b. klasifikasi anak tunarungu

Selain beberapa pendapat mengenai anak tunarungu di atas, ada beberapa klasifikasi anak tunarungu yang diklasifikasikan oleh beberapa ahli. Klasifikasi anak tunarungu menurut Samuel A. Kirk (dalam Permanarian Somad & Tati Hernawati, 1996: 29) antara lain sebagai berikut:

1) 0 dB : menunjukkan pendengaran yang optimal

2) 0-26 dB : menunjukkan seseorang masih mempunyai pendengaran yang normal

3) 27-40 dB : mempunyai kesulitan mendengar bunyi-bunyi yang jauh, membutuhkan tempat duduk yang strategis letaknya dan memerlukan terapi bicara (tergolong tunarungu ringan)

4) 41-55 dB : mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi bicara (tergolong tunarungu sedang)

5) 56-70 dB : hanya bisa mendengar suara dari jarak yang dekat, masih mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan menggunakan alat bantu mendengar serta dengan cara yang khusus (tergolong tunarungu agak berat)

(29)

6) 71-90 dB : hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang-kadang dianggap tuli, membutuhkan pendidikan luar biasa yang intensif, membutuhkan alat bantu dengar dan latihan bicara secara khusus (tergolong tunarungu berat)

7) 91 dB ke atas : mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak bergantung pada penglihatan daripada pendengaran untuk proses menerima informasi, dan yang bersangkutan dianggap tuli (tergolong tunarungu berat sekali) (Permanarian Somad & Tati Hernawati, 1996: 29).

Klasifikasi menurut Streng (dalam Permanarian Somad & Tati Hernawati, 1996: 29-32), antara lain sebagai berikut:

1) kehilangan kemampuan mendengar 20-30 deciBell atau dB (Mild Losses)

mempunyai ciri-ciri:

a) sukar mendengar percakapan yang lemah, percakapan melalui pendengaran, tidak mendapat kesukaran mendengar dalam suasana kelas biasa asalkan tempat duduk diperhatikan

b) mereka menuntut sedikit perhatian dari sistem sekolah dan kesadaran dari pihak guru tentang kesulitannya

c) tidak mempunyai kelainan bicara

d) kebutuhan dalam pendidikan perlu latihan membaca ujaran, perlu diperhatikan mengenai perkembangan penguasaan perbendaharaan kata e) jika kehilangan pendengaran melebihi 20 dB da mendekati 30 dB, perlu

alat bantu dengar

2) kehilangan kemampuan mendengar 30-40 deciBell atau dB (Marginal Losses)

mempunyai ciri-ciri:

a) mereka mengerti percakapan biasa pada jarak satu meter. Mereka sulit menangkap percakapan dengan pendengaran pada jarak normal dan kadang-kadang mereka mendapat kesulitan dalam menangkap percakapan kelompok

b) percakapan lemah hanya bisa ditangkap 50%, dan bila si pembicara tidak terlihat yang ditangkap akan lebih sedikit atau di bawah 50%

(30)

commit to user

c) mereka akan mengalami sedikit kelainan dalam bicara dan perbendaharaan kata terbatas

d) kebutuhan dalam program pendidikan antara lain membaca ujaran, latihan mendengar, penggunaan alat bantu dengar, latihan bicara, latihan artikulasi, dan perhatian dalam perkembangan perbendaharaan kata

e) bila kecerdasannya di atas rata-rata, dapat ditempatkan di kelas biasa asalkan tempat duduk diperhatikan. Bagi yang kecerdasannya kurang memerlukan kelas khusus

3) kehilangan kemampuan mendengar 40-60 deciBell atau dB (ModeratLosses)

mempunyai ciri-ciri:

a) mereka mempunyai pendengaran yang cukup untuk mempelajari bahasa dan percakapan, memerlukan alat bantu mendengar

b) mereka mengerti percakapan yang keras pada jarak satu meter

c) mereka sering salah paham, mengalami kesukaran-kesukaran di sekolah umum, mempunyai kelainan bicara

d) perbendaharaan kata terbatas

e) dalam program pendidikan mereka memerlukan alat bantu dengar untuk menguatkan sisa pendengaran dan menambah alat-alat bantu pengajaran yang sifatnya visual, perlu latihan artikulasi dan membaca ujaran serta perlu pertolongan khusus dalam bahasa

f) mereka perlu masuk SLB B

4) kehilangan kemampuan mendengar 60-70 deciBell atau dB (Severe Losses)

mempunyai ciri-ciri:

a) mereka mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan alat bantu mendengar dan dengan alat khusus

b) karena mereka tidak belajar bahasa dan percakapan secara spontan pada usia muda, kadang-kadang mereka disebut tuli secara pendidikan (educationally deaf), yang berarti mereka dididik seperti orang yang

sungguh-sungguh tuli

c) mereka diajar dalam suatu kelas khusus untuk anak-anak tunarungu, karena sisa pendengaran mereka tidak cukup untuk belajar bahasa dan

(31)

bicara melalui telinga, walaupun masih mempunyai sisa pendengaran yang digunakan dalam pendidikan

d) kadang-kadang mereka dapat dilatih untuk mendengar dengan alat bantu dengar dan selanjutnya dapat digolongkan kelompok kurang dengar

e) mereka masih bisa mendengar suara yang keras dari jarak dekat, misalnya mesin pesawat terbang, klakson mobil, dan lolongan anjing

f) karena masih mempunyai sisa pendengaran, mereka dapat dilatih melalui latihan pendengaran (Auditory tranning)

g) mereka dapat membedakan huruf hidup tetapi tidak dapat membedakan bunyi-bunyi huruf konsonan

h) diperlukan latihan membaca ujaran dan pelajaran yang dapat mengembangkan bahasa dan bicara dari guru khusus, karena itu mereka harus dimasukkan ke SLB B, kecuali bagi anak jenius dapat mengikuti kelas normal

5) kehilangan kemampuan mendengar 57 deciBell atau dB ke atas (Profound Losses) mempunyai ciri-ciri

a) mereka dapat mendengar suara yang keras dari jarak satu inci (2, 54 cm) atau sama sekali tidak mendengar

b) mereka tidak sadar akan bunyi-bunyi keras, tetapi mungkin ada reaksi kalau dekat dengan telinga, meskipun menggunakan pengeras suara mereka tidak dapat menggunakan pendengarannya untuk menangkap dan memahami bahasa

c) mereka tidak belajar bahasa dan bicara melalui pendengaran, walaupun menggunakan alat bantu dengar

d) mereka memerlukan pengajaran khusus yang intensif di segala bidang, tanpa menggunakan mayoritas indra pendengaran

e) yang perlu mendapat perhatian khusus dalam pendidikan ialah membaca ujaran, latihan mendengar, fungsinya untuk mempertahankan sisa pendengaran yang masih ada, meskipun hanya sedikit

(32)

commit to user

f) diperlukan teknik khusus untuk mengembangkan bicara dengan metode visual, taktil, kinestetik, serta semua hal yang dapat membantu terhadap perkembangan bicara dan bahasanya

Selain itu, ketunarunguan diklasifikasikan secara fisiologis, antara lain (Permanarian Somad & Tati Hernawati, 1996: 32):

1) tunarungu hantaran (konduksi) : ketunarunguan disebabkan kerusakan atau tidak berfungsinya alat-alat penghantar getaran suara pada telinga bagian tengah.

2) Tunarungu syaraf (Sensorineural): tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan

atau tidak berfungsinya alat-alat pendengaran bagian dalam syaraf pendengaran yang menyalurkan getaran ke pusat pendengaran.

3) Tunarungu campuran: kelainan pendengaran yang disebabkan kerusakan pada penghantar suara dan kerusakan pada syaraf pendengaran.

Klasifikasi tingkat ketunarunguan ini merupakan pedoman untuk melaksanakan pembelajaran bahasa yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan kemampuan individu anak tunarungu. Pelayanan pendidikan bagi anak tunarungu tidak dapat disamaratakan. Kondisi anak harus dipahami secara individual, agar apa yang dibutuhkan anak dapat tepat diberikan.

Menurut Totok Bintoro (2008), karakteristik kognisi dan karakteristik bahasa anak tunarungu antara lain:

1) kognisi anak tunarungu

a) kemampuan verbal (verbal IQ) anak tunarungu lebih rendah dibandingkan kemampuan verbal anak mendengar

b) performance IQ anak tunarungu sama dengan anak mendengar

c) daya ingat jangka pendek anak tunarungu lebih rendah daripada anak dengar terutama pada informasi yang bersifat suksesi/berurutan

d) pada informasi serempak antara anak tunarungu dan anak mendengar tidak ada perbedaan

e) daya ingat jangka panjang hampir tidak ada perbedaan, walaupun prestasi akhir biasanya tetap lebih rendah

(33)

a) miskin dalam kosakata b) terganggu bicaranya

c) dalam berbicara dipengaruhi emosional/visual order (apa yang dirasakan dan apa yang dilihat)

d) tunarungu cenderung pemata

e) bahasa merupakan hasil interaksi mereka dengan hal-hal yang konkret c. Karakteristik Pembelajaran Bagi Anak Tunarungu

Anak luar biasa mengalami kelainan dalam pertumbuhan dan perkembangan baik fisik, mental, sosial maupun emosinya bila dibandingkan dengan anak normal yang sebaya. Sehingga dalam memberikan bimbingan bagi anak yang mengalami kelainan harus memperhatikan dasar-dasar bimbingan khusus. Menurut Sardjono dan Samsidar ( 1998 : 22 ) dasar-dasar bimbingan khusus bagi anak luar biasa meliputi :

1) Dasar psikologis

Tiap-tiap anak mempunyai pola-pola perkembangan yang berbeda. Jarak perbedaan pola perkembangan tersebut semakin besar kalau anak didik mengalami gangguan atau kelainan dalam segi psikis maupun fisik. 2) Dasar didaktis

Dalam mengajar anak guru wajib memperhatikan perbedaan pola-pola perkembangan yang bersifat personal.

3) Dasar paedagogik

Dari dasar-dasar pendidikan khusus jelas bahwa anak tunarungu wicara mempunyai kelainan pendengaran dan bicaranya sehingga guru dalam memberikan bimbingan harus memperhatikan keterbatasan masing-masing individu.

Membaca permulaan diberikan di kelas I dan kelas II Sekolah Dasar Sabarti Akhadiah et al ( 1992: 31). Pembelajaran membaca di kelas I dan II merupakan pembelajaran membaca tahap awal. Kemampuan membaca yang diperoleh siswa di kelas I dan II tersebut akan menjadi dasar pembelajaran membaca di kelas berikutnya (Darmiyati Zuchdi dan Budiasih, 2001: 57).

(34)

commit to user

Pembelajaran membaca di SD/MI yang dilaksanakan pada jenjang kelas I dan kelas II merupakan pembelajaran membaca tahap awal atau disebut membaca permulaan (Winihasih, 2005)

Pengajaran membaca permulaan lebih ditekankan pada menggambarkan kemampuan dasar membaca (Sabarti Akhadiah M. K, Maidar C. Arsjad, Sakura H. Ridwan, Zulfahnur Z.F., Mukti U. S. 1992: 11). Lebih lanjut dikemukakan bahwa dalam pembelajaran membaca permulaan siswa dituntut untuk dapat “menyuarakan” kalimat-kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan. Dengan kata lain siswa dituntut untuk mampu menerjemahkan bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan. Dalam hal ini, tercakup pula aspek kelancaran membaca. Siswa harus dapat membaca wacana dengan lancar, bukan hanya membaca kata-kata ataupun mengenali huruf-huruf yang tertulis.

Pengajaran membaca permulaan bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk membaca bahasa Indonesia. Pengajaran diarahkan untuk memperkuat kemampuan berbahasa lisan siswa (Supriyadi, dkk, 1996: 180). Pengajaran membaca permulaan berlangsung selama dua tahun. Tujuan pengajaran membaca permulaan ialah agar siswa mampu memahami dan menyuarakan kalimat sederhana yang ditulis dengan intonasi yang wajar Sabarti Akhadiah et al ( 1992: 33).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca permulaan adalah membaca tahap awal yang diajarkan di kelas rendah, yaitu pada kelas I dan II Sekolah Dasar. Sedangkan pembelajaran membaca permulaan bertujuan agar siswa mampu memahami dan menyuarakan kalimat sederhana yang ditulis dengan intonasi yang wajar.

1. Proses Pembelajaran Membaca Permulaan

Di dalam proses pembelajaran membaca permulaan ini meliputi: (1) penyusunan program pengajaran; (2) pelaksanaan pembelajaran; (3) evaluasi dan (4) peran guru dalam pembelajaran.

a. Penyusunan Program Pengajaran

Program pengajaran adalah persiapan mengajar yang dibuat guru (dalam bentuk tertulis) sebelum mengajar. Dalam program itu harus termuat judul/topik/pokok bahasan, tujuan, sarana dan alat bantu belajar mengajar,

(35)

kegiatan inti, kegiatan tindak lanjut dan evaluasi (penilaian) (Muchlisoh 1996: 83). Selanjutnya, Muchlisoh mengemukakan program mengajar atau persiapan mengajar yang baik adalah yang terurai, yang menjabarkan langkah kegiatan inti guru satu persatu. Di dalamnya tersaji pula cara pengorganisasian kelas (untuk belajar kelompok, pasangan, individual, atau klasikal), metode mengajar, dan sarana serta sumber belajar.

Dalam konteks pengajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan dan metode pengajaran, dan penilaian dalam alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan Abdul Majid (2007: 17).

Perencanaan pengajaran tercakup dalam penyusunan program pengajaran. Menurut Abdul Majid (2007: 17-18), perencanaan pengajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain:

1) perencanaan pengajaran sebagai teknologi adalah suatu perencanaan yang mendorong teknik-teknik yang dapat mengembangkan tingkah laku kognitif dan teori-teori konstruktif terhadap solusi dan problem-problem pengajaran, 2) perencanaan pengajaran sebagai suatu sistem adalah sebuah susunan dari

sumber-sumber dan prosedur-prosedur untuk menggerakkan pembelajaran. Pengembangan sistem pengajaran melalui proses sistemik selanjutnya diimplementasikan dengan mengacu pada sistem perencanaan itu,

3) perencanaan pengajaran sebagai sebuah disiplin adalah cabang dari cabang pengetahuan yang senantiasa memperhatikan hasil-hasil penelitian dan teori tentang strategi pengajaran dan implementasinya terhadap strategi tersebut, 4) perencanaan pengajaran sebagai sains (science) adalah mengkreasi secara

detail spesifikasi dari pengembangan, implementasi, evaluasi, dan pemeliharaan akan situasi maupun fasilitas pembelajaran terhadap unit-unit yang luas maupun yang lebih sempit dari materi pelajaran dengan segala tingkat kompleksitasnya,

5) perencanaan pengajaran sebagai proses adalah pengembangan pengajaran secara sistemik yang digunakan secara khusus atas dasar teori-teori pembelajaran dan pengajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran. Dalam

(36)

commit to user

perencanaan ini dilakukan analisis kebutuhan dari proses belajar dengan alur yang sistematik untuk mncapai tujuan pembelajaran. Termasuk di dalamnya melakuka evaluasi terhadap materi pelajaran dan aktivitas-akivitas pengajaran, 6) perencanaan pengajaran sebagai sebuah realitas adalah ide pengajaran

dikembangkan dengan memberikan hubungan pengajaran dari waktu ke waktu dalam suatu proses yang dikerjakan perencana dengan mengecek secara cermat bahwa semua kegiatan telah sesuai dengan tuntutan sains dan dilaksanakan secara sistematik.

Rencana/program ini akan menjadi acuan (pedoman) untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Dengan adanya perencanaan yang baik guru dapat bekerja dengan teratur, langkah demi langkah, dan sesuai rencana (target) yang telah ditentukan sehingga guru akan dapat mengetahui rencana/program yang belum dan yang sudah dikerjakan (Muchlisoh 1996: 83).

Menurut PP NO 19 Tahun 2005 pasal 20 yang menjadi landasan rencana pelaksanaan pembelajaran disebutkan bahwa perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran,metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (Departemen Pendidikan Nasional, 2007: 141).

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. Lingkup rencana pembelajaran paling luas mencakup satu kompetensi dasar yang terdiri atas satu atau beberapa indikator untuk satu kali pertemuan atau lebih (Departemen Pendidikan Nasional, 2007: 142).

Dari beberapa pendapat mengenai penyusunan program pengajaran dapat dikatakan bahwa kegiatan program penyusunan ini dilakukan oleh guru, berdasarkan pada kurikulum yang berlaku. Program pembelajaran ini disusun dalam bentuk silabus, setelah adanya pemetaan kompetensi kurikulum. Selanjutnya, program pengajaran bahasa pada tiap kali pertemuan secara rinci tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun oleh guru.

(37)

Kegiatan pembelajaran di dalam kelas dilaksanakan berdasar pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun guru.

b. Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Permulaan

1) Materi Pembelajaran Membaca Permulaan

Pemilihan bahan pengajaran membaca permulaan harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa prinsip Sabarti Akhadiah et al ( 1992: 15) antara lain: (1) bahan bacaan harus disesuaikan dengan kesiapan siswa; (2) tujuan pengajaran membaca ialah mengembangkan berbagai aspek kemampuan siswa; (3) kondisi di sekolah dan lingkungan masyarakat perlu diperhatikan.

a) keadaan siswa

Siswa yang dihadapi guru beragam, baik latar belakang sosial, perhatian, taraf kemampuan. Guru harus mampu memilih bahan bacaan yang mencakup berbagai bidang perhatian, dan mencakup berbagai taraf kesulitan b) tujuan pengajaran membaca

Pengajaran harus dapat membimbing siswa sehingga akhirnya dapat memahami bahan bacaan yang diperlukan untuk pengembangan dirinya alam berbagai bidang secara cepat dan mandiri.

c) kondisi sekolah dan lingkungan

Sekolah adalah bagian suatu lingkungan masyarakat. Bahan pengajaran khususnya bahan bacaan hendaknya dipilih sesuai dengan kondisi lingkungan.

Materi pembelajaran membaca permulaan ditujukan untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah digariskan dalam kurikulum. Standar Kompetensi membaca permulaan pada kelas I Sekolah Dasar semester pertama adalah membaca nyaring suku kata, kata, dan kalimat sederhana. Pada semester kedua, standar kompetensi membaca permulaan adalah membaca lancar dan membaca puisi anak (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006: 315-316).

2) Metode Pembelajaran Membaca Permulaan

Metode mencakup beberapa faktor, yaitu penentuan bahan, penentuan urutan bahan, cara-cara penyajian bahan. Metode pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah apa yang dimaksud oleh tujuan pembelajaran itu sendiri.

(38)

commit to user

Semua aspek dalam situasi pembelajaran yaitu pemilihan bahan, peningkatan bahan, cara-cara penyajian materi pembelajaran serta cara-cara pengulangan materi tersebut (Sri Hastuti, 1996: 72).

Dalam pembelajaran membaca permulaan, ada beberapa metode yang dapat digunakan, antara lain: (1) metode abjad; (2) metode bunyi; (3) metode kupas rangkai suku kata; (4) metode kata lembaga; (5) metode global; dan (6) metode struktural analitik sintetik (SAS) Sabarti Akhadiah et al ( 1992: 32-34). a) Metode Abjad dan Metode Bunyi

Metode abjad dan metode bunyi, menurut Akhaidah merupakan metode-metode yang sudah sangat tua. Dalam penerapannya, kedua metode-metode tersebut sering menggunakan kata-kata lepas. Misalnya:

(1)Metode abjad: bo-bo — bobo la-ri — lari (2)Metode Bunyi: na-na — nana

lu-pa — lupa

Beda antara metode abjad dan metode bunyi terletak pada pengucapan huruf. Pada metode abjad, huruf diucapkan sebagai abjad (“a”, ”be”, “ce”, dst), sedangkan pada metode bunyi, huruf diucapkan sesuai dengan bunyinya [m], [n], [a], dan seterusnya.

b) Metode Kupas Rangkai Suku Kata dan Metode Kata Lembaga

Metode kupas rangkai suku kata dan metode kata lembaga dalam penerapannya menggunakan cara mengurai dan merangkaikan.

Misalnya:

c) Metode kupas rangkai suku kata: ma ta — ma-ta pa pa — pa-pa

Untuk memperkenalkan huruf kepada siswa, suku kata yang sudah dikenal oleh siswa diuraikan menjadi huruf, kemudian huruf dirangkaikan lagi menjadi suku kata.

Misalnya: Nina — ni-na — ni-na — nina d) Metode Kata Lembaga:

(39)

bola — bo-la — b-o-l-a — b-o--l-a — bola bola — — bo – la — — b-o- — — l-a

— — bo – la — — bola

Kepada siswa disajikan kata-kata: salah satu diantaranya merupakan kata lembaga, yaitu kata yang sudah dikenal oleh siswa. Kata tersebut diuraikan menjadi suku kata, suku kata diuraikan menjadi huruf. Setelah itu huruf dirangkai lagi menjadi suku kata, dan suku kata dirangkaikan menjadi kata.

e) Metode Global

Metode global timbul sebagai akibat adanya pengaruh aliran psikologi gestalt, yang berpendapat bahwa suatu kebulatan atau kesatuan akan lebih bermakna daripada jumlah bagian-bagiannya.

Dalam penerapannya, metode ini memperkenalkan kepada siswa beberapa kalimat, untuk dibaca. Sesudah siswa dapat membaca kalimat-kalimat itu, salah satu diantaranya dipisahkan untuk dikaji, dengan cara menguraikannya atas kata, suku kata, huruf-huruf. Sesudah siswa dapat membaca huruf-huruf itu, kemudian huruf-huruf dirangkaikan lagi sehingga terbentuk suku kata, suku-suku menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat lagi.

f) Metode SAS

Dalam pelaksanannya, metode ini dibagi dalam dua tahap, yakni: (1) tanpa buku, (2) menggunakan buku. Mengenai hal itu Momo (1979) dalam Darmiyati Zuchdi dan Budiasih (2001: 63-66) mengemukakan beberapa cara. Pada tahap tanpa buku, pembelajaran dilaksanakan dengan cara-cara sebagai berikut:

(1) Merekam bahasa siswa

Bahasa yang digunakan oleh siswa di dalam percakapan mereka, direkam untuk digunakan sebagai bahan bacaan. Karena bahasa yang digunakan sebagai bahan bacaan adalah bahasa siswa sendiri maka siswa tidak akan mengalami kesulitan.

(2) Menampilkan gambar sambil bercerita

Dalam hal ini, guru memperlihatkan gambar kepada siswa, sambil bercerita sesuai dengan gambar tersebut. Kalimat-kalimat yang digunakan guru dalam bercerita itu digunakan sebagai pola dasar bahan membaca.

(40)

commit to user

Contoh : Guru memperlihatkan gambar seorang anak yang sedang menulis, sambil bercerita.

Kalimat-kalimat guru tersebut di tulis di papan tulis, dan digunakan sebagai bahan bacaan.

(3) Membaca Gambar

Contoh: Guru Memperlihatkan gambar seorang ibu yang sedang memegang sapu, sambil mengucapkan kalimat, “ini Ibu” Siswa melanjutkan membaca gambar tersebut dengan bimbingan guru.

(4) Membaca gambar dengan kartu kalimat

Setelah siswa dapat membaca gambar dengan lancar, guru menempatkan kartu kalimat di bawah gambar. Untuk memudahkan pelaksanaannya dapat digunakan media berupa papan selip atau papan flanel, kartu kalimat, kartu kata, kartu huruf, dan kartu gambar. Dengan menggunakan kartu-kartu dan papan selip atau papan flanel, untuk menguraikan dan menggabungkan kembali akan lebih mudah.

(5) Membaca kalimat secara struktural

Setelah siswa mulai dapat membaca tulisan di bawah gambar, sedikit demi sedikit gambar dikurangi sehingga akhirnya mereka dapat membaca tanpa dibantu gambar. Dalam kegiatan ini yang digunakan kartu-kartu kalimat serta papan selip atau papan flanel. Dengan dihilangkannya gambar maka yang dibaca siswa adalah kalimat:

Misalnya: Ini bola

Ini bola adi

Ini bola ali

Ini bola tuti

dst.

(6) Proses analitik (A)

Sesudah siswa dapat membaca kalimat, mulailah menganalisis kalimat itu menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf.

(41)

Ini bola ini bola ini bola i ni bo la i n i b o l a (7) Proses sintetik (S)

Setelah siswa mengenal huruf dalam kalimat yang digunakan, huruf-huruf itu dirangkaikan lagi menjadi suku kata, dan kata menjadi kalimat seperti semula.

i n i b o l a i ni bo la ini bola i n i b o l a

Secara utuh, proses SAS tersebut sebagai berikut:

Ini bola ini bola i ni bo la i n i b o l a i ni bo la ini bola

(42)

commit to user

B. Kerangka Berpikir

Anak Tunarungu adalah anak yang mempunyai hambatan dalam berkomunikasi karena disebabkan oleh hilangnya sebagian atau seluruh dari pendengarannya. Bahasa oral adalah merupakan salah satu cara untuk melatih anak tunarungu dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan lingkungan orang mendengar. Bahasa isyarat adalah bahasa asli dari anak tunarungu, atau isyarat merupakan suatu metode komunikasi untuk menyampaikan dan menerima pesan, gagasan, pikiran, isi kandungan jiwa mengenai bahasa isyarat (sign language), dan ejaan jari (finger spelling) atau gesti atau panto mimik, atau

anggota badan lainnya. Melalui isyarat anak tunarungu akan belajar memahami bahasa lewat membaca isyarat yaitu dengan melihat gerakan –gerakan tangan yang merupakan pengisyaratan dari tiap kata atau kalimat .Sehingga dengan penguasaan bahasa oral dan bahasa isyarat yang baik, maka diharapkan mampu membantu anak tunarungu dalam pembelajaran membaca permulaan. Karena membaca permulaan adalah dasar dari pebelajaran bahasa di sekolah dasar.

Penguasaan Bahasa Oral Kemampuan Membaca Permulaan Penguasaan Bahasa Isyarat

(43)

C. Perumusan Hipotesis

Berdasar kerangka berpikir diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

1. “ Ada hubungan yang signifikan antara penguasaan bahasa oral dengan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I Sekolah Dasar SLB N Kota Magelang Tahun Ajaran 2011/2012”.

2. “ Ada hubungan yang signifikan antara penguasaan bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I Sekolah Dasar SLB N Kota Magelang Tahun Ajaran 2011/2012”.

3. “ Ada hubungan yang signifikan antara penguasaan bahasa oral dan bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I Sekolah Dasar SLB N Kota Magelang Tahun Ajaran 2011/2012”.

(44)

commit to user

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di SLB N Kota Magelang. Adapun kelas yang akan menjadi populasi dan sampel adalah siswa kelas I Sekolah Dasar di SLB N Kota Magelang tahun ajaran 2011/2012.

2. Waktu Penelitian

Tabel. 1 Rincian jadwal kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut: Waktu

kegiatan penelitian

Bulan September 2011 – Pebruari 2012

September Oktober Nopember Desember Januari Pebruari 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. persiapan awal sampai penyusunan proposal X X X X 2. seleksi informan, penyiapan instrumen X X X 3.pengumpulan data X X X X X X 4. analisis data X X X X X X X X 5. penyusunan laporan X X X X B. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dasar dimana peneliti ingin mengetahui hubungan penguasaan bahasa oral dengan kemampuan membaca permulaan dan ingin mengetahui hubungan penguasaan bahasa isyarat dengan kemampuan membaca permulaan serta ingin mengetahui hubungan penguasaan

(45)

bahasa isyarat dan penguasaan bahasa isyarat terhadap kemampuan membaca permulaan. Sehingga menggunakan metode korelasional dengan bahasa oral dan bahasa isyarat sebagai variabel bebas dan kemampuan membaca permulaan sebagai variabel terikat.

C. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas I Sekolah Dasar di SLB N Kota Magelang tahun ajaran 2011/2012, dimana sampel penelitian ini adalah seluruh populasi yaitu sejumlah 8 orang dengan 5 laki-laki dan 3 perempuan.

D. Teknik Pengumpulan Data

Suatu penelitian akan membutuhkan data-data yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti. Untuk memperoleh data-data tersebut dipergunakan teknik-teknik pengumpulan data.

Dalam menyelesaikan penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Dokumentasi

Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 206) metode dokumentasi adalah “Mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, ledger, agenda dan sebagainya”. Dari pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa teknik dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data dengan menggunakan catatan atau dokumen tertulis yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

Di dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang identitas siswa dan nilai raport siswa I Sekolah Dasar di SLB N Kota Magelang tahun ajaran 2011/2012.

(46)

commit to user

b. Tes

Metode tes digunakan untuk mengumpulkan data pada penguasaan bahasa oral, penguasaan bahasa isyarat dan kemampuan membaca permulaan.

Tes ini meliputi

1. tes berbicara 2. membaca ujaran, 3. tes berisyarat 4. membaca isyarat.

E. Penentuan Validitas dan Rehabilitas

Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 57), sebuah tes yang dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki:

a Validitas, artinya dapat mengukur apa yang hendak diukur.

b. Reabilitas, artinya tes yang mempunyai keajegan, maksudnya taraf sejauh mana tes itu sama dengan dirinya sendiri, artinya bahwa hasil pengukuran dengan tes itu adalah relatif sama.

c. Obyektifitas artinya tes yang mampu menyingkirkan faktor subyektif pada individu-individu yang bersangkutan degan tes itu.

d. Praktisibilitas, artinya tes itu bersifat praktis, mudah

pengadministrasiannya.

Tes yang praktis itu adalah tes yang: 1) Mudah dilaksanakan

2) Mudah pemeriksaannya

3) Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan oleh orang lain.

e. Ekonomis, artinya bahwa pelaksaannya tes tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.

(47)

a) Validitas Tes

Untuk perbaikan instrumen penelitian adalah dengan uji validitas tiap-tiap item. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah item tersebut mampu mengukur keadaan siswa yang sebenarnya dengan cepat. Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 144), "Mengatakan bahwa validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen".

Suharsimi Arikunto ( 1996:158 ) menyatakan bahwa "instrumen atau alat ukur dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan." Sesuai dengan cara pengujiannya validitas ada dua macam yaitu :

1). Validitas Eksternal

Yaitu validitas yang berasal dari luar tes yang kita selidiki. 2). Validitas internal

Validitas yang berasal dari dalam tes yang kita selidiki validitasnya, yang berupa total skor daripada tes tersebut.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa validitas menunjukkan sejauh mana instrumen alat pengukur mampu mengukur apa yang diukur. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data baru yang teliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel.

Untuk menguji tiap-tiap tes peneliti menggunakan teknik analisa korelasi product moment dengan program SPSS

b) Realibilitas Tes

Menurut Sumadi Suryabrata (1984:29)," Reliabilitas adalah keajegan suatu tes". Beberapa pendekatan dalam menguji reliabilitas suatu tes yaitu:

1) Pendekatan Reliabilitas Bentuk Paralel

Reliabilitas bentuk paralel ini dilakukan dengan menyusun dua tes berdasarkan kisi-kisi dan spesifikasi yang sama. Penyusunan dua bentuk paralel tidaklah mudah dan bila dapat dilakukan bentuk paralel ini merupakan bentuk yang sangat mendekati konsep reliabilitas,

(48)

commit to user

2) Pendekatan Ulang

Pendekatan reliabilitas dengan teknik ulang ini disebut juga dengan teknik tesretest reliability. Pendekatan disini dilakukan dengan cara memberikan tes yang akan dicari reliabilitasnya kepada sekelompok subyek, kemudian untuk selang beberapa waktu kita berikan kembali lagi tes itu kepada subyek yang sama. Hasil dari pelaksanaan dua kali pengukiiran tersebut kemudian dilakukan penghitungan korelasinya.

3) Pendekatan Belah Dua

Pendekatan reliabilitas dengan teknik belah dua ini sering disebut dengan teknik gasal-genap, kareiia pembelahan item tes dilakukan dengan membagi tes bernomor gasal sebagai tes kedua

Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini, digunakan teknik belah dua; dengan membagi soal berdasarkan nomor gasal dan nomor genap. Untuk menguji reliabilitas tes digunakan teknik belah dua dengan rumus Spearman-Brown dengan program SPSS 19

F. Teknik Analisis Data

Untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis penelitian yang diajukan, maka setelah data terkumpul diadakan tabulasi data. Selanjutnya diadakan pengolahan data baru kemudian dapat disimpulkan hasilnya.

Teknik analisis data yang penulis pergunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik non parameterik Spearman Rank Order. Menurut Anton Sukarno

(2003 : 82) rumusnya sebagai berikut :

1 6 ∑ d²

n n 1

Keterangan:

rs : koefisien korelasi

Σ d² : deviasi skor Y dan X = Yr - Xr

(49)

Adapun langkah-langkah sebagai berikut : 1. Merumuskan hipotesis

0 = t = 0 (tak ada hubungari antara X dan Y) 0 = 1≠0 (ada hubungan antara X dan Y) 2. Menentukan taraf signifikan '

Taraf signifikansi yang dipilih untuk kedua hipotesis tersebut adalah 5% untuk masing-masing pihak.

3. Menentukan statistik uji.

Menggunakan Spearman Rank Order

4. Merubah skor mentah menjadi skor ordinal 5. Menghitung deviasi

6. Menghitung nilai rho 7. Keputusan uji

Analisis untuk menguji hipotesis ketiga adalah dengan uji F dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Uji korelasi ganda (multiple product moment correlation) adalah suatu analisis untuk menguji korelasi linear antara satu variable terikat (Y) dengan sekelompok variable bebas (X) sebagai satu kesatruan variabel. Rumus yang digunakan untuk menghitung korelasi ganda antara variabel terikat (Y) dengan 2 variabel bebas (x1 dan x2) adalah sebagai berikut:

Ry.12 = . ² . ² . . ² . .

Keterangan :

ry.12 = Korelasi antara X1 dan X2 dengan y

r1.y = korelasi antara x1 dengan y

r2.y = korelasi antara x2 dengan y

r1. 2 = korelasi antara x1 dengan x2

Figur

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Skor Penguasaan Bahasa Oral  Skor  Frekuensi  Prosentase  Frekuensi  Kumulatif  Prosentase Kumulatif  51-60  3  37.5  3  37.5  61-70  4  50.0  7  87.5  71-80  1  12.5  8  100.0  81-90  0  0  0  0  81-90  0  0  0  0  91-100  0  0  0  0  Total  8  100.0  -  -

Tabel 2.

Distribusi Frekuensi Skor Penguasaan Bahasa Oral Skor Frekuensi Prosentase Frekuensi Kumulatif Prosentase Kumulatif 51-60 3 37.5 3 37.5 61-70 4 50.0 7 87.5 71-80 1 12.5 8 100.0 81-90 0 0 0 0 81-90 0 0 0 0 91-100 0 0 0 0 Total 8 100.0 - - p.51
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Skor Penguasaan bahasa isyarat  Skor  Frekuensi  Prosentase  Frekuensi

Tabel 4.

Distribusi Frekuensi Skor Penguasaan bahasa isyarat Skor Frekuensi Prosentase Frekuensi p.53

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :
Outline : Tinjauan Pustaka