FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMAUAN UNTUK MEMBAYAR PAJAK WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG MELAKUKAN PEKERJAAN BEBAS

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMAUAN

UNTUK MEMBAYAR PAJAK WAJIB PAJAK ORANG

PRIBADI YANG MELAKUKAN PEKERJAAN BEBAS

( Studi Kasus Pada KPP Pratama Kabupaten Boyolali)

NASKAH PUBLIKASI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Surakarta. Disusun Oleh:

NITA NUR RATNA NIM. B200090279

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013

(2)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMAUAN UNTUK MEMBAYAR PAJAK WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG

MELAKUKAN PEKERJAAN BEBAS

(Studi Kasus Pada KPP Pratama Kabupaten Boyolali)

NITA NUR RATNA NIM. B200090279

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ABSTRAKSI

Tujuan Penelitian ini untuk menguji pengaruh pelayanan informasi perpajakan, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, dan kesadaran membayar pajak terhadap kemauan membayar pajak.

Penelitian dilakukan dengan metode survei kuesioner pada KPP Pratama Boyolali. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada responden. Kuesioner dibagikan kepada 90 responden, tetapi hanya 47 responden yang mengisi kuesioner tersebut dengan lengkap. Teknik pengambilan

sampel penelitian ini dengan menggunakan metode convenience sampling dengan

alat analisis yang digunakan adalah regresi berganda. Data diolah dengan bantuan

software SPSS 16.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pelayanan informasi perpajakan tidak berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak; 2) pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak; 3) kesadaran membayar pajak berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak; 4) pelayanan informasi perpajakan, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, serta kesadaran membayar pajak mempunyai pengaruh secara bersama-sama dan signifikan

terhadap kemauan membayar pajak.

Kata Kunci : pelayanan informasi, pengetahuan perpajakan, kesadaran membayar pajak, kemauan membayar pajak.

(3)

sluslg uep ruouo{g selln>l€c u€{o( rnq€laEueIAI ('tS'ru'y'z1t u1u4u,(ng'srq)

j\W

eureln Eulqrulqure6 EI0Z

Iunf

'epulerng 'erurJollp {n1un 1e:e(s iqnueueu qelol lnqesrel Ise>l{qnd qe{s€N E^\t{"q ledepuedreq uuueEuelepu€ued 617,060 002

fl

ffi

: qelo sml1p Suua Bru*r*rd

64y

upeel snsux

pnrs)

svnf,n

Nvvru;j;j'1"trffiT;

)NYA

IOV8IUd

SNYUO

XYfYd

gIfY/tA.

XYfYd

l[YAYflWgI

I

XNINN

NYOYI{trX

IHNUYSNSdIAISW

CNYA UOIXY.{-uOIXV.{"

:ppnI ue8uap rse>[rlqnd qe>lseN €cequreru q€lol

Iq

qe r€q rp ue8uel epueileq Euel NYHYSg$Ngd

(4)

A.

PENDAHULUAN

Pajak merupakan penerimaan terbesar suatu Negara, khususnya Negara Indonesia. Hampir 75% penerimaan negara saat ini bersumber dari pajak. Dominasi pajak sebagai sumber penerimaan merupakan satu hal yang sangat wajar, ketika sumber daya alam, khususnya minyak bumi tidak bisa lagi diandalkan. Penerimaan dari sumber daya alam mempunyai umur relatif terbatas yang suatu saat akan habis dan tidak bisa diperbaharui lagi. Hal ini berbeda dengan pajak, sumber penerimaan ini mempunyai umur tidak terbatas, apalagi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka akan semakin besar pula penerimaan Negara dari sektor pajak.

Pembayaran pajak merupakan perwujudan dari kewajiban

kenegaraan dan peran serta masyarakat mengumpulkan dana untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional. Pajak yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat melalui perbaikan dan penambahan pelayanan publik, mengalokasikan pajak tidak hanya untuk rakyat pembayaran pajak juga untuk kepentingan rakyat yang tidak wajib membayar pajak.

Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) dari tahun ke tahun, senantiasa memberikan tugas kepada Direktorat Jendral Pajak untuk menaikan penerimaan pajak kepada negara. Namun pada kenyataannya rasio antara jumlah wajib pajak dengan jumlah penduduk serta jumlah usaha masih sangat kecil, dan disamping itu, tahun-tahun yang akan datang pajak

(5)

mandiri (Soeprapto, Kedaulatan Rakyat, 4 Agustus 2001:8) dalam Wulandari (2012). Hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena pada dasarnya membayar pajak akan menciptakan bangsa yang mandiri, dimana dengan pajak ini, laju pembangunan negara dapat ditopang tanpa harus menggantungkan diri terhadap pinjaman luar negeri.

Usaha ekstensifikasi dan intensifikasi pajak merupakan aksi yang telah dicanangkan oleh Direktorat Jendral Pajak dalam rangka meningkatkan penerimaan pajak, yaitu dengan memperluas subjek dan objek pajak atau dengan menjaring wajib pajak baru. Dilain pihak pengembangan usaha-usaha kecil dan menengah yang demikian dinamis barangkali jauh meningkatkan jangkauan pajak. Meskipun jaring pengamanan bagi wajib pajak (berupa NPWP) agar melaksanakan kewajiban perpajakannya sudah dipasang, terutama bagi usaha-usaha kecil menengah yang lepas dari jeratan pajak. Sebenarnya masih banyak wajib pajak potensial yang belum terdaftar sebagai wajib pajak aktual. Ketidaktaatan dalam membayar pajak tidak hanya terjadi pada lapisan pengusaha saja tetapi telah menjadi rahasia umum bahwa para pekerja profesional lainnya juga tidak taat membayar pajak.

Kemauan wajib pajak membayar pajak merupakan hal penting dalam pemungutan pajak. Penyebab kurangnya kemauan membayar pajak tersebut adalah karena azas perpajakan, yaitu bahwa hasil pemungutan pajak tidak langsung dinikmati oleh wajib pajak. Harus disadari bahwa jalan-jalan yang halus, pusat-pusat kesehatan masyarakat, pembangunan sekolah-sekolah negeri, irigasi yang baik, dan fasilitas-fasilitas publik lainnya yang dapat

(6)

dinikmati oleh masyarakat merupakan hasil dari pembayaran pajak. Namun pada kenyataannya masyarakat tidak suka membayar pajak. Hal ini disebabkan masyarakat tidak pernah tahu wujud konkret imbalan dari uang yang dikeluarkan untuk membayar pajak.

Keinginan pemerintah untuk meningkatkan jumlah wajib pajak dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah penerimaan negara dari pajak, bukanlah pekerjaan yang ringan. Upaya pendidikan, penyuluhan dan sebagainya, tidak akan berarti banyak dalam membangun kesadaran wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya, jika masyarakat tidak merasakan manfaat dari kepatuhannya membayar pajak. Disisi lain ancaman, hukuman, serta sanksi dalam Undang-undang yang kurang diterapkan terhadap wajib pajak yang bandel juga menyebabkan wajib pajak banyak yang cenderung untuk mengabaikan perpajakannya.

Undang-undang perpajakan dengan jelas mencantumkan kewajiban para wajib pajak membayar pajak, jika tidak memenuhi kewajiban tersebut maka sanksi yang dikenakan jelas. Tetapi dilapangan dapat terjadi seorang wajib pajak berskala besar dapat melakukan kesepakatan dengan oknum petugas pajak untuk melakukan pengurangan jumlah nominal pajak sang wajib pajak. Pihak yang diuntungkan adalah wajib pajak dan oknum petugas pajak, sedangkan yang dirugikan adalah pihak pemerintah. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran tentang perpajakan baik dari pihak wajib pajak dan petugas pajak.

(7)

Akan sangat relevan apabila menempatkan kesadaran dalam membayar pajak dari para wajib pajak bukan hanya sekedar sebagai wacana tetapi lebih dari itu, kita seharusnya juga memandang dalam membayar pajak sebagai objek sorotan secara efektif bahkan mendekati kebenaran dalam mensukseskan program yang dicanangkan Direktorat Jendral Pajak tersebut. Perlakuan tersebut bukan berarti akan menempatkan wajib pajak di pihak yang lebih baik, tetapi harus diakui secara jujur, masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pajak dikarenakan masih sangat minimnya pengetahuan masyarakat mengenai perpajakan. Ditambah lagi sikap apatis masyarakat terhadap pajak makin membuat ekstensifikasi dan intensifikasi pajak semakin sulit untuk dilaksanakan. Disamping itu, berhasil atau tidaknya pemerintah menghimpun dana dari sektor pajak tidak semata-mata tergantung pada aparat perpajakan saja tetapi tergantung pada kemauan dari wajib pajak terhadap kewajiban perpajakannya.

penelitian ini menguji pengaruh pelayanan informasi perpajakan, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, dan kesadaran membayar pajak terhadap kemauan membayar pajak.

B. TINJAUAN PUSTAKA

Kemauan Membayar Pajak

Kemauan membayar merupakan suatu nilai dimana seseorang rela untuk membayar, mengorbankan atau menukarkan sesuatu untuk

(8)

memperoleh barang atau jasa (Widaningrum, 2007) dalam Widayati dan Nurlis (2010).

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat dikembangkan suatu

definisi untuk kemauan membayar pajak (willingness to pay tax). Kemauan

membayar pajak dapat diartikan sebagai suatu nilai yang rela dikontribusikan oleh seseorang (yang ditetapkan dengan peraturan) yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum negara dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi) secara langsung (Vanesa dan Hari, 2009).

Pelayanan Informasi Perpajakan

Pelayanan informasi perpajakan merupakan suatu hal yang penting bagi wajib pajak karena dengan pelayanan informasi wajib pajak mendapatkan penjelasan mengenai pembayaran pajak. Kualitas pelayanan yang baik akan mendorong wajib pajak untuk sadar dan patuh dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Menurut Nugroho (2005) dalam Cholifah (2012) implikasi positif dari hasil penelitiannya bahwa dengan meningkatkan kualitas pelayanan akan menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat dalam membayar pajak.

Pelayanan yang berkualitas adalah pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan dan tetap dalam batas memenuhi standar pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan serta harus dilakukan secara terus-menerus (Ni Luh Supadmi, 2009).

(9)

Penelitian Gunadi (2010) dalam Cholifah (2012) mengungkapkan terbinanya hubungan yang baik antara aparatur pajak dan wajib pajak akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak yaitu pada satu sisi memberikan keuntungan dana segar untuk membangun dapat dipenuhi, disisi lain berbagai fasilitas yang diperlukan masyarakat dapat dinikmati, kondisi yang demikian itu sangat menguntungkan.

Pengetahuan Dan Pemahaman Tentang Peraturan Perpajakan

Pengetahuan adalah hasil kerja fikir ( penalaran ) yang merubah tidak tahu menjadi tahu dan menghilangkan keraguan terhadap suatu perkara (Widayati dan Nurlis, 2010).

Pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, meliputi kepemilikan NPWP; hak dan kewajiban sebagai wajib pajak; sanksi perpajakan; PTKP, PKP dan tarif pajak; wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan perpajakan melalui sosialisasi; wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan pajak melalui training.

Kesadaran Membayar Pajak

Kesadaran merupakan unsur dalam manusia dalam memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas. Kesadaran yang dimiliki oleh manusia kesadaran dalam diri, akan diri sesama, masa silam, dan kemungkinan masa depannya (Widayati dan Nurlis, 2010).

Irianto (2005) dalam Vanesa dan Hari (2009) menguraikan beberapa bentuk kesadaran membayar pajak yang mendorong wajib pajak untuk

(10)

membayar pajak. Terdapat tiga bentuk kesadaran utama terkait pembayaran pajak, yaitu: (1) kesadaran bahwa pajak merupakan bentuk partisipasi dalam menunjang pembangunan Negara. (2) kesadaran bahwa penundaan pembayaran pajak dan pengurangan beban pajak sangat merugikan negara. (3) kesadaran bahwa pajak ditetapkan dengan undang-undang dan dapat dipaksakan.

Hipotesis

Hipotesis 1(H1) : pelayanan informasi perpajakan berpengaruh terhadap

kemauan membayar pajak.

Hipotesis 2 (H2) : pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan

perpajakan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak.

Hipotesis 3 (H3) : kesadaran membayar pajak berpengaruh terhadap

(11)

C. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Penelitian ini mengumpulkan data dengan cara menyebar kuesioner. Penyebaran kuesioner dilakukan personal survey yaitu peneliti mendatangi secara langsung wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Boyolali yang dijadikan sampel penelitian.

Populasi Dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah wajib pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas terdaftar di KPP Pratama Kabupaten Boyolali dengan jumlah wajib pajak pekerja bebas berjumlah 1.710 (Database KPP Pratama Boyolali).

Pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan teknik

convenience sampling teknik ini mempermudah peneliti dalam pengambilan sampel karena dalam pengambilan sampel dilakukan secara bebas tanpa menentukan status, kriteria atau keadaan dari responden.

Metode pengumpulan data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung dari sumber asli (tanpa perantara). Metode yang digunakan dalam data ini merupakan metode survei kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2010:199).

(12)

Metode analisis data

1. Uji Kualitas Data

Uji Validitas

Uji validitas berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid.

Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2010:172). Teknik yang digunakan untuk menguji

reabilitas dalam penelitian ini adalah teknik cronbach’s alpha.

2. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi, variabel pengganggu atau residual mempunyai distribusi

normal (Ghozali, 2011:160).

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen (Ghozali, 2011: 105).

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah

(13)

3. Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi ganda digunakan peneliti, bila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen (kriterium), bila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor prediktor di manipulasi (di naik turunkan nilainya) (Sugiyono, 2010:277). Persamaan yang dapat dirumuskan berdasarkan hipotesis yang dikembangkan adalah sebagai berikut.

Y = α + βX1 + βX2 + βX3 + ε

dimana,

Y = Kemauan Membayar Pajak (Willingness to Pay Tax)

α = Konstanta

β = Koefisien Regresi

X = Faktor-Faktor Kemauan Membayar Pajak (Willingness to Pay Tax)

(14)

4. Uji Hipotesis a. Uji t (t-test)

Uji t digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali,2005:84).

b. Uji F

Uji ini untuk menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2005:84).

c. Uji R2

Nilai koefisien Determinasi (R2) merupakan angka yang

mengukur persentase total variasi dalam variabel dependen yang dijelaskan oleh variabel independen dalam model (Ghozali, 2011).

D. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Hasil Uji t

Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui hasil uji t seperti tampak pada tabel berikut:

Tabel 1 Hasil Uji t

Variabel thitung ttabel Sign Keterangan

Pelayanan Informasi

Perpajakan

Pengetahuan dan Pemahaman tentang Peraturan Perpajakan

-0,897 2,292 2,021 2,021 0,376 0,028 H1 ditolak H2 diterima

(15)

Dari hasil tabel tersebut dapat diketahui hasil uji t untuk variabel pelayanan informasi perpajakan, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan serta kesadaran membayar pajak terhadap kemauan membayar pajak.

1) Hasil Uji Hipotesis Pertama

Variabel pelayanan informasi perpajakan diketahui nilai thitung

(-0,897) lebih kecil daripada ttabel (2,021) atau dapat dilihat dari nilai

signifikansi 0,376> = 0,05. Oleh karena itu, H1 ditolak berarti tidak

mendukung secara statistika, artinya pelayanan informasi perpajakan tidak berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

2) Hasil Uji Hipotesis kedua

Variabel pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan

perpajakan diketahui nilai thitung (2,292) lebih besar daripada ttabel (2,021)

atau dapat dilihat dari nilai signifikansi 0,028 < = 0,05. Oleh karena itu,

H2 diterima berarti mendukung secara statistika, artinya pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

3) Hasil Uji Hipotesis ketiga

Variabel kesadaran membayar pajak diketahui nilai thitung (2,788)

lebih besar daripada ttabel (2,021) atau dapat dilihat dari nilai signifikansi

0,009 < = 0,05. Oleh karena itu, H3 diterima berarti mendukung secara

statistika, artinya kesadaran membayar pajak berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

(16)

Hasil Uji F

Pengujian ini dimaksudkan untuk menguji apakah model regresi dengan variabel dependen dan variabel independen mempunyai pengaruh secara statistik. Hasil uji F didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 2 Hasil Uji F

Fhitung Ftabel p-value Keterangan

5,252 3,23 0,004 Ho ditolak

Sumber : Data Primer Diolah 2013

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa Fhitung > Ftabel yaitu 5,252 >

3,23 dan nilai signifikansi = 0,004 < = 0,05. Hal ini berarti Ho ditolak,

sehingga variabel pelayanan informasi perpajakan, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan serta kesadaran membayar pajak mempunyai pengaruh secara bersama-sama dan signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

Hasil Uji R2

Berdasarkan hasil analisis Uji koefisien determinasi (R2) dapat

dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3 Hasil Uji R2

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 .563a .317 .256 1.18522

(17)

dengan adjusted-R2 sebesar 0,256. Hal ini berarti bahwa 25,6% variasi variabel kemauan membayar pajak dapat dijelaskan oleh pelayanan informasi perpajakan, pengetahuan dan pemahaman serta kesadaran membayar pajak, sedangkan sisanya yaitu74,4% dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar model yang diteliti.

Pembahasan

Variabel pelayanan informasi perpajakan diketahui nilai thitung

(-0,897) lebih kecil daripada ttabel (2,021) atau dapat dilihat dari nilai

signifikansi 0,376 >  = 0,05. Oleh karena itu, H1 ditolak berarti tidak

mendukung secara statistika, artinya pelayanan informasi perpajakan tidak berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

Variabel pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak. Hasil analisis regresi

berganda menunjukkan bahwa nilai thitung (2,292) lebih besar daripada ttabel

(2,021) atau dapat dilihat dari nilai signifikansi 0,028 <  = 0,05. Oleh

karena itu, H2 diterima berarti mendukung secara statistika, artinya pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

Variabel kesadaran membayar pajak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak. Hasil hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa

nilai thitung (2,788) lebih besar daripada ttabel (2,021) atau dapat dilihat dari

(18)

mendukung secara statistika, artinya kesadaran membayar pajak berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

E. PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan pada hasil analisis data dan pembahasan sebelumnya, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel pelayanan informasi perpajakan tidak berpengaruh signifikan

terhadap kemauan membayar pajak. Hasil analisis regresi berganda

menunjukkan bahwa nilai thitung (-0,897) lebih kecil daripada ttabel (2,021)

atau dapat dilihat dari nilai signifikansi 0,376> = 0,05. Oleh karena itu,

H1 ditolak berarti tidak mendukung secara statistika, artinya pelayanan informasi perpajakan tidak berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

2. Variabel pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan

berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak. Hasil

analisis regresi berganda menunjukkan bahwa nilai thitung (2,292) lebih

besar daripada ttabel (2,021) atau dapat dilihat dari nilai signifikansi 0,028

< = 0,05. Oleh karena itu, H2 diterima berarti mendukung secara

statistika, artinya pengetahuan dna pemahaman tentang peraturan perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

(19)

dilihat dari nilai signifikansi 0,009 < = 0,05. Oleh karena itu, H3 diterima berarti mendukung secara statistika, artinya kesadaran membayar pajak berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

Keterbatasan

Dalam pelaksanaan penelitian ini tentunya terdapat keterbatasan yang dialami oleh penulis, namun diharapkan keterbatasan ini tidak mengurangi manfaat yang ingin dicapai. Keterbatasan tersebut antara lain :

1. Penelitian ini hanya terbatas pada wajib pajak orang pribadi yang

melakukan pekerjaan bebas.

2. Penelitian ini hanya terbatas di KPP Pratama Boyolali.

3. Keterbatasan penelitian ini hanya tiga faktor yaitu pelayanan informasi

perpajakan, pengetahuan dan pemahaman tentang Peraturan Perpajakan, dan kesadaran membayar pajak.

Saran-Saran

Dari hasil penelitian ini saran yang dapat disampaikan penulis adalah sebagai berikut:

1. Sebaiknya untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah

variabel-variabel lain.

2. Sebaiknya bagi peneliti yang akan datang supaya menambahkan objek

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Aini, Anindita Nur. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemauan Bagi

Wajib Pajak Orang Pribadi yang Melakukan Pekerjaan Bebas Untuk Membayar pajak di Kabupaten Blora. Surakarta. Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tidak Dipublikasikan.

Cholifah, Muftiana. 2012. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi kepatuhan

Wajib Pajak Orang Pribadi dalam Membayar Pajak Penghasilan (studi Kasus Pada Wajib Pajak Orang Pribadi yang Terdaftar di KPP Surakarta). Surakarta. Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tidak Dipublikasikan.

Ghozali, Imam. 2005. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS”.

Badan Penerbit UNDIP. Semarang.

Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS

19.UNDIP: Semarang.

Jogiyanto. 2004. Metode Penelitian Bisnis (Salah Kaprah Dan

Pengalaman-Pengalaman). Yogyakarta: BPFE.

Khairunnisa. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemauan Membayar

Pajak pada UMKM di Surakarta (studi Kasus pada Usaha Batik di Kampoeng Laweyan Surakarta). Surakarta. Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tidak Dipublikasikan.

Mardiasmo. 2004. Perpajakan (Edisi Revisi). Yogyakarta: ANDI.

Mujiyati dan M. Abdul Aris. 2010. Perpajakan (Pendekatan Teori dan Soal).

Surakarta: muhammadiyah University Press.

Pancawati Hardiningsih dan Nila Yulianawati. 2011. Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Kemauan Membayar Pajak. Dinamika Keuangan dan Perbankan Vol. 3 No. 1.

Pradana, Angga Satria. 2012. Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi

Kemauan Wajib Pajak Untuk Membayar Pajak Penghasilan (Studi Kasus Pada Wajib Pajak Orang Pribadi Yang Terdaftar di KPP Surakarta).

Surakarta. Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tidak Dipublikasikan.

Sekaran, Uma. 2000. “Bisnis, Metodelogi Penelitian”. Jhon Willey dan Sons.

(21)

Setyonugroho, Haryadi. 2012. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kemauan Untuk Membayar Pajak Pada Wajib Pajak Orang Pribadi Di KPP Pratama Surabaya Tegalsari. Surabaya. Artikel Ilmiah: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi PERBANAS.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Supadmi, Ni Luh. 2009. Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Melalui Kualitas

Pelayanan. (http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/4209214219.pdf diunduh 5 januari 2013)

Tatiana Vanessa Rantung dan Priyo Hari Adi. 2009. Dampak Sunset Policy

Terhadap Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemauan Membayar Pajak. Makalah simposium nasional perpajakan II.

Umar, Husein, 1999. “Metode Penelitian Aplikasi Dalam Pemasaran”. PT

Gramedia Pustaka Utama , Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan

Umum Dan Tata Cara Perpajakan.

http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&page=show&id=12761 diunduh

Desember 2012

Widayati Dan Nurlis. 2010. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemauan Untuk

Membayar Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi Yang Melakukan Pekerjaan Bebas (Studi Kasus Pada KPP Pratama Gambir Tiga). Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XIII, Purwokerto.

Winda Kurnia Fikriningrum Dan Muchamad Syafruddin. 2012. Analisis

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Memenuhi Kewajiban Membayar Pajak (Studi Kasus Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Candisari). Diponegoro journal of accounting vol. 1 no. 2.

Wirawan B. Ilyas dan Richard Burton. 2007. Hukum Pajak. Jakarta: Salemba

Empat.

Wulandari, Isna Puspa. 2012. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Kemauan Membayar Pajak Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Yang Melakukan Pekerjaan Bebas (Studi Kasus Pada KPP Pratama Karanganyar). Surakarta. Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tidak Dipublikasikan.

Figur

Tabel 1  Hasil Uji t

Tabel 1

Hasil Uji t p.14
Tabel 3  Hasil Uji R 2

Tabel 3

Hasil Uji R 2 p.16
Tabel 2  Hasil Uji F

Tabel 2

Hasil Uji F p.16