• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH

2.1. Geografis, Administratif dan Kondisi Fisik

Kabupaten Halmahera Utara diresmikan pada tanggal 31 Mei 2003 berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 2003 dengan ibu kota terletak di Tobelo yang dibagi menjadi 9 kecamatan dan 174 Desa.

Selanjutnya berdasarkan PERDA No. 1-2/2006, wilayah kabupaten dimekarkan menjadi 22 kecamatan dan 260 desa. Dan terakhir dengan dibentuknya Kabupaten Pulau Morotai (UU No.53/2008), wilayah kabupaten menjadi 17 kecamatan dan 196 desa. Secara umum Kabupaten Halmahera Utara adalah wilayah kepulauan di selatan Samudera Pasifik yang merupakan konstelasi pulau-pulau besar dan kecil sebanyak 115 pulau.

(2)

2.1.1 Letak Geografis dan Administratif

Secara astronomis kabupaten halmahera utara terletak antara 1057’ Lintang Utara - 3000’ Lintang Selatan dan 127017’ Bujur Timur - 129008’ Bujur Timur, dan secara geografis batas wilayah kabupaten halmahera utara berbatasan dengan:

Sebelah Utara : Samudera Pasifik/Kab. Pulau Morotai

Sebelah Selatan : Kecamatan Jailolo Selatan Kabupaten Halmahera Barat

Sebelah Barat : Kecamatan Loloda, Sahu, Ibu dan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat

Sebelah Timur : Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur dan Laut Halmahera Secara administratif luas keseluruhan wilayah Kabupaten Halmahera Utara adalah 22.507,32 kilometer persegi yang terdiri dari luas Laut kurang lebih 17.555,71 Km2 (78%), sedangkan luas daratan kurang lebih 4.951,61 Km2 (22%). Saat ini Kabupaten Halmahera Utara terdiri dari 17 Kecamatan dan 196 Desa. Luas wilayah administratif berdasarkan kecamatan sebagaimana tabel 1

Tabel 2.1

Luas Wilayah Administratif Kab. Halmahera Utara

Kecamatan District Jumlah Desa Luas Wilayah

(Km2)

Daratan / Land 196 4.951,61 13.82

Lautan / Sea 17.555,71 86.18

(3)

Gambar 2.1

Peta Administratif Kabupaten Halmahera Utara

2.1.2 Kondisi Fisik Wilayah

Topografi Berdasarkan peta eksisting lereng, dapat dilihat bahwa wilayah daratan

(4)

Gambar 2.2

Peta Kemiringan dan Ketinggian Lereng di Kab. Halmahera Utara

Geologi, antara lain terdiri dari: a) Struktur dan karakteristik;

Struktur dan karakteristik tanah di Kabupaten Halmahera Utara antara lain :

 Tanah Litosol terdapat di dataran Galela

 Tanah Rendzina terdapat di dataran Loloda Utara

 Tanah Mediteran terdapat di dataran Loloda dan Gelela

 Tanah Alluvial terdapat di hampir semua kecamatan dalam wilayah Kabupaten Halmahera Utara

 Tanah Regosol terdapat di Kecamatan Loloda Utara, Galela, Kao dan Malifut

(5)

b) Potensi;

Potensi geologi yang ada di Kabupaten Halmahera Utara antara lain :

(1) Emas terdapat di Loloda Utara, Galela dan Kao (2) Mangan terdapat di Loloda Utara dan Galela (3) Nikel terdapat di Galela dan Kao

(4) Pasir besi terdapat di Loloda Utara da Galela (5) Tembaga terdapat di Loloda Utara dan Galela (6) Semen terdapat di Galela

(7) Kaolin terdapat di Galela dan

(8) Batubara terdapat di Loloda Utara, Galela, Kao dan Malifut. Klimatologi, antara lain terdiri dari:

a) Tipe;

Kabupaten Halmahera Utara merupakan daerah kepulauan yang beriklim Tropis

b) Curah hujan;

Data curah hujan pada bulan Juni adalah merupakan bulan dengan curah hujan terendah di tahun 2012 yaitu 3,6 mm dan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret 2012 dengan curah hujan sebesar 553,6 mm. Jumlah hari hujan terendah terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus dengan 17 hari hujan, sementara hari hujan terbanyak jatuh pada bulan Maret dan April dengan jumlah hari hujan sebanyak 25 hari selama satu bulan.

c) Suhu;

Suhu rata-rata kabupaten Halmahera Utara selama tahun 2012 berkisar antara 21˚C – 26,4˚C.

d) Kelembaban

(6)

Tabel 2.2

Temperatur, Penyinaran Matahari dan Tekanan Udara di Kabupaten Halmahera Utara

Tahun 2011

Bulan Month

Temperatur Temperature

(0C)

Penyinaran Matahari Solar Intencity

(%)

Tekanan Udara Air Pressure

(mb) Rata-Rata

Average

Maks Max

Min Min

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Januari 25,8 33,0 20,0 49 1039,4

Februari 23,5 32,4 20,0 40 1006,7

Maret 25,6 32,6 21,0 49 1007,7

April 25,9 32,4 20,2 64 908,3

Mei 26,4 33,4 21,2 53 1008,8

Juni 21,8 32,2 19 43 1008,1

Juli 26 33,2 20 48 1008,0

Agustus 25,8 33,0 19,8 43 1008,0

September 25,9 32,8 19,8 100 1008,0

Oktober 26,0 34,4 18,0 68 1008,0

Nopember 26,3 33,4 20,0 - 1008,4

Desember 23,5 33,0 21,8 32 1007,8

(7)

Tabel 2.3

Curah Hujan, Kelembaban dan Kecepatan Angin

Tahun 2012

Sumber : Stasiun Meteorologi Gamar Malamo Galela 2012

Hidrologi: Kabupaten Halmahera Utara memiliki 61Daerah Aliran Sungai yang terdiri

(8)

2.2. Demografi

Penduduk merupakan sumberdaya yang potensial dalam proses pembangunan suatu bangsa. Hal ini dapat terjadi bila jumlah penduduk yang besar dapat dikembangkan sebagai tenaga kerja yang produktif sehingga berfungsi sebagai pengelola sumber daya alam. Namun penduduk yang besar juga dapat menimbulkan permasalahan sosial dalam proses pembangunan itu sendiri seperti pengangguran, kemiskinan dan sebagainya, bila potensi itu sendiri tidak mendapat perhatian dan penanganan yang serius.

Demografi merupakan gambaran ringkas kondisi kependudukan di tingkat kecamatan, Rumus untuk menghitung proyeksi penduduk 5 tahun:

Pt = Po (1 + r )t

Keterangan:

Pt = jumlah penduduk pada tahun t (2017). Po = jumlah penduduk pada tahun awal (2012) r = angka pertumbuhan penduduk

(9)

Tabel 2.4

Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kab. Halmahera Utara Tahun 2008 - 2012

NO KECAMATAN JUMLAH

DESA

JUMLAH PENDUDUK KEPADATAN

PENDUDUK (JIWA/Km2)

2012

2008* 2009* 2010 2011 2012

1 TOBELO 10

170.061 179.366

29.377 30.036 33.564 1.017

2 TOBELO UTARA 10 9.714 9.932 10.895 109

3 TOBELO TENGAH 9 12.543 12.824 12.704 227

4 TOBELO SELATAN 13 13.054 13.347 13.499 66

5 TOBELO TIMUR 6 6.283 6.424 5.901 49

6 TOBELO BARAT 5 4.358 4.456 4.874 17

7 GALELA 7 7.390 7.556 7.844 57

8 GALELA SELATAN 7 7.491 7.659 7.732 92

9 GALELA BARAT 9 9.283 9.491 8.175 180

10 GALELA UTARA 12 7.053 7.211 7.502 29

11 LOLODA UTARA 18 8.627 8.821 9.673 25

12 LOLODA KEP. 10 5.964 6.098 8.682 137

13 K A O 14 7.513 7.682 8.436 76

14 KAO UTARA 12 10.509 10.745 10.564 82

15 KAO BARAT 21 8.092 8.274 8.678 15

16 KAO TELUK 11 3.590 3.670 4.370 32

17 MALIFUT 22 11.006 11.253 9.559 26

JUMLAH 196 170.061 179.366 161.847 165.479 172.652 55

Sumber : BPS Kab. Halmahera Utara

(10)

Tabel 2.5

Proyeksi Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kab. Halmahera Utara Tahun 2013 - 2017

NO KECAMATAN JUMLAH

DESA

PROYEKSI PENDUDUK KEPADATAN

PENDUDUK (JIWA/Km2)

2012

2013 2014 2015 2016 2017

1 TOBELO 10 34.571 35.578 36.585 37.760 38.934 1.180

2 TOBELO UTARA 10 11.222 11.549 11.876 12.257 12.638 126

3 TOBELO TENGAH 9 13.085 13.466 13.847 14.292 14.737 263

4 TOBELO SELATAN 13 13.904 14.309 14.714 15.186 15.659 77

5 TOBELO TIMUR 6 6.078 6.255 6.432 6.639 6.845 57

6 TOBELO BARAT 5 5.020 5.166 5.313 5.483 5.654 19

7 GALELA 7 8.079 8.315 8.550 8.825 9.099 66

8 GALELA SELATAN 7 7.964 8.196 8.428 8.699 8.969 106

9 GALELA BARAT 9 8.420 8.666 8.911 9.197 9.483 208

10 GALELA UTARA 12 7.727 7.952 8.177 8.440 8.702 34

11 LOLODA UTARA 18 9.963 10.253 10.544 10.882 11.221 29

12 LOLODA KEPULAUAN 10 8.942 9.203 9.463 9.767 10.071 159

13 K A O 14 8.689 8.942 9.195 9.491 9.786 88

14 KAO UTARA 12 10.881 11.198 11.515 11.885 12.254 95

15 KAO BARAT 21 8.938 9.199 9.459 9.763 10.066 17

16 KAO TELUK 11 4.501 4.632 4.763 4.916 5.069 37

17 MALIFUT 22 9.846 10.133 10.419 10.754 11.088 30

(11)

2.3. Keuangan dan Perekonomian Daerah

2.3.1. Kondisi Keuangan Daerah

Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan

Dalam kebijakan fiskal pada sisi Belanja, Pemerintah Pusat tidak melimpahkan kuasa atau kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan yang bersifat pengelolaan sumber – sumber Pendapatan Negara dengan azas otonomi yang seluas – luasnya. Pemerintah Pusat menggunakan instrumen perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah untuk mengatur ketimpangan fiskal secara horizontal, karena sumber – sumber Pendapatan Negara yang tidak merata antar Pemerintah Daerah. Pemusatan penerimaan Pendapatan Negara pada Pemerintah Pusat secara inheren akan menimbulkan ketimpangan fiskal secara vertikal antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah yang menghasilkan Sumber Penerimaan Negara.

Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pengelolaan Pendapatan Negara kepada Pemerintah Daerah, dengan memberikan kewenangan untuk mengelola Pendapatan negara dalam bentuk memungut Pajak dan Retribusi yang disebut dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Basis Pajak Daerah yang diberikan berdasarkan peraturan perundangan – undangan yang berlaku, dengan tidak memberikan ruang untuk dilakukan suatu perluasan Basis Pajak Daerah. Perluasan basis pemungutan Retribusi Daerah dimungkinkan oleh Pemerintah, akan tetapi hal tersebut dapat menimbulkan hambatan berupa ekonomi biaya tinggi serta eksploitasi terhadap sistem pelayanan. Akan menjadi suatu hal yang kontraproduktif jika peningkatan investasi daerah akan menimbulkan beban sosial yang tinggi, apabila fungsi restribusi daerah untuk mengatur kerusakan lingkungan serta peningkatan pelayanan umum dikalahkan oleh kepentingan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Berdasarkan hal tersebut, maka azas umum dalam menyusun APBD yang ditentukan oleh peraturan perundangan - undangan selalu menekankan bahwa Belanja Daerah disusun dengan memperhatikan kemampuan Pendapatan Daerah atau harus didukung dengan adanya kepastian ketersediaan penerimaan daerah dalam jumlah yang cukup. Berdasarkan kondisi inilah Kerangka Anggaran Pembangunan Daerah dibangun, dimana Pemerintah Daerah memiliki otonomi yang luas dalam menyusun rencana kinerja yang akan menimbulkan Belanja Daerah dengan tetap memperhatikan kemampuan Pendapatan Daerah.

(12)

kegiatan yang akan mendukung pencapaian target kinerja, karena sudah memiliki indikator kinerja dengan target yang terukur.

Arah Kebijakan Pendapatan Daerah

Pemerintah Daerah menetapkan kebijakan pendapatan yang akan ditempuh, yaitu sebagai berikut :

Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pendapatan Asli Daerah;

Implementasi Undang-Undang Nomor : 28 tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah;

Mendorong partisipasi masyarakat dalam pencapaian target Pendapatan Daerah melalui kesadaran dan tanggung jawab membayar Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;

Mendorong peningkatan Investasi sumberdaya alam pada sektor Pertambangan , Pertanian dan Perikanan;

Validasi Data untuk proses bargaining DAU, DAK dan Sumber Dana lainnya;

Membangun kemitraan dengan Pihak Ketiga untuk memberikan kontribusi berupa Sumbangan Sukarela tanpa tekanan.

Arah Kebijakan Belanja Daerah

Pemerintah Daerah menetapkan kebijakan belanja yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut : Gaji dan Insentif;

Efektifitas dan Efisiensi Subsidi dan Bansos; Efisiensi kegiatan operasional pemerintahan;

Menjamin ketersediaan Infrastruktur Dasar sebagai pendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat;

Prioritas penuntasan Kegiatan Multiyears; Shearing Dana TP / DAK;

Jaminan Kualitas Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan;

(13)

Tabel 2.6

Rekapitulasi Realisasi APBD Tahun 2010-2013 Kabupaten Halmahera Utara

Jumlah Pendapatan Rp 362.389.279.458 Rp 534.646.216.424 Rp 593.249.115.489 Rp 644.889.695.543

B. Belanja

1 Belanja Tidak Langsung Rp 205.206.231.520 Rp 203.250.101.976 Rp 226.383.348.143 Rp 241.474.888.476

2 Belanja Langsung Rp 175.657.621.507 Rp 349.039.729.141 Rp 406.057.503.204 Rp 404.714.555.529

Jumlah Belanja Rp 380.863.853.027 Rp 552.289.831.118 Rp 632.440.851.347 Rp 646.189.444.005

Surplus/Defisit Anggaran Rp (18.474.573.569) Rp (17.643.614.694) Rp (39.191.735.858) Rp (1.229.748.462)

Sumber : DPPKAD tahun 2013

Gambaran Keuangan Sektor Sanitasi

Dalam tabel 2.7, dapat dilihat struktur belanja pembangunan kabupaten Halmahera Utara di sektor sanitasi menunjukan hal yang cukup positif, hal ini terlihat dari rasio belanja modal sanitasi terhadap total APBD rata-rata di atas 1,00 persen. Sedangkan rasio belanja modal sanitasi per satuan jumlah penduduk juga cukup baik, walaupun masih terjadi fluktuasi.

Tabel 2.7

Rekapitulasi Belanja Sanitasi Per SKPD Tahun 2009-2013 Kabupaten Halmahera Utara

552.289.831.118 631.050.524.347

(14)

Tabel 2.8

Rekapitulasi Belanja Sanitasi Per Satuan Penduduk Tahun 2009-2013 Kabupaten Halmahera Utara

NO DESKRIPSI TAHUN

2009 2010 2011 2012 2013

1 Belanja Modal Sanitasi

(Rp) 7.165.024.972 3.230.798.200 9.591.466.600 8.515.326.500 11.287.809.000

2 Jumlah Penduduk

(Jiwa) 179.366 161.847 165.479 172.652 177.832

3 Belanja Modal Sanitasi

Per Pendududuk (Rp) 39.946 19.962 57.962 49.321 63.475 Sumber: Bappeda , DPKKAD & Olahan Tim Pokja

2.3.2. Perekonomian Daerah

Pada hakekatnya pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup manusia, memperluas lapangan kerja, memeratakan pembagian pendapatan masyarakat, meningkat kan hubungan ekonomi regional dan mengusahakan pergeseran kegiatan ekonomi; dengan kata lain mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik secara mantap dengan pemerataan yang sebaik mungkin.

(15)

Tabel 2.9a

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Manurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan

Kabupaten Halmahera Utara (Jutaan Rp) Tahun 2008 - 2012

No. Sektor/Lapangan

Usaha

TAHUN

2008 2009 2010 2011 2012*

1. Pertanian 135.650 149.830 166.730 180.059 196.959

2. Pertambangan

dan Penggalian 18.329 16.011 17.528 18.823 20.118

3 Industri

Pengolahan 66.981 67.389 68.211 71.682 75.153

4 Listrik, Gas dan

Air Minum 1.031 1.122 1.211 1.304 1.397

5 Konstruksi 2.768 2.696 2.899 3.266 3.633

6

Perdagangan , Hotel dan Restoran

69.369 75.527 79.907 87.034 94.161

7 Pengangkutan

dan Komunikasi 23.629 26.622 28.063 30.440 32.817

8

Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

10.294 11.630 12.782 13.901 15.020

9. Jasa-Jasa 16.218 18.003 19.516 20.972 22.428

(16)

Tabel 2.9.b

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Manurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku

Kabupaten Halmahera Utara (Jutaan Rp) Tahun 2008 - 2012

No. Sektor/Lapangan

Usaha TAHUN

2008 2009 2010 2011 2012*

1. Pertanian 215.107,45 261.950,71 322.835,55 370.559,46 418.283,37

2. Pertambangan dan

Penggalian 28.992,62 35.954,72 53.172,52 60.988,89 68.805,26

3 Industri Pengolahan 87.172,54 117.021,28 123.228,33 134.881,34 146.534,35

4 Listrik, Gas dan Air

Minum 2.410,97 2.989,68 3.962,56 4.383,38 4.804,20

5 Konstruksi 4.779,01 6.532,84 10.129,33 12.612,44 15.095,55

6 Perdagangan , Hotel

dan Restoran 91.222,63 125.387,38 145.845,30 165.614,55 185.383,80

7 Pengangkutan dan

Komunikasi 46.552,03 54.645,62 71.257,65 80.599,46 89.941,27

8

Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

15.938,24 21.374,58 28.550,20 32.311,48 36.072,76

9. Jasa-Jasa 22.080,85 29.688,19 35.732,16 39.671,78 43.611,40

PDRB 514.256,34 655.545,00 794.714 901.623 1.008.532

2.4. Tata Ruang Wilayah

RTRW Kabupaten Halmahera Utara yang ada saat ini, merupakan review RTRW tahun 2006 yang disesuaikan berdasarkan Undang-undang No. 26 Tahun 2007 dan telah ditetapkan lewat PERDA RTRW Kab.Halmahera Utara Nomor: 09 Tahun 2012

Dalam rencana tata ruang wilayah nasional, sistem perkotaan merupakan rencana susunan kota dan kawasan perkotaan dalam suatu wilayah yang menunjukkan keterkaitan fungsi secara serasi yang membentuk hirarki pelayanan sebagai Pusat Kegiayan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN).

(17)

kabupaten tersebut berperan sebagai daerah perkotaan yang mempunyai wilayah pelayanan mencakup beberapa kawasan. Kebijakan pengembangan PKW meliputi:

(1)Penyediaaan prasarana perkotaan dengan pendekatan program pembangunan prasarana kota terpadu;

(2)Peningkatan aksesibilitas ke wilayah belakang yang dilayaninya melalui pengembangan jaringan jalan darat, laut dan udara;

(3)Peningkatan aksesibilitas ke wilayah regional, nasional maupun internasional yang dilayani melalui pengembangan jaringan transportasi laut dan udara, khususnya bagi pusat-pusat pengembangan wilayah di masing-masing Gugus Pulau yang berfungsi sebagai Pintu Jamak (Multy Gate);

(4)Penataan ruang kota melalui perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian tata ruang kota yang berbasis mitigasi bencana.

2.4.1.Tujuan dan Kebijakan Penataan Ruang kabupaten Halmahera Utara

Penataan ruang Kabupaten Halmahera Utara bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah yang aman, nyaman dan produktif melalui pengembangan sektor pertanian, pertambangan, kelautan, industri dan kepariwisataan sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan.

Sedangkan Kebijakan penataan ruang Kabupaten Halmahera Utara terdiri atas :

a. pengembangan kawasan-kawasan perkotaan dalam suatu sistem hirarki kota yang harmonis, nyaman, efisien dalam pengelolaan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan;

b. peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah; c. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup;

d. pengembangan dan perwujudan kegiatan budidaya unggulan (pertanian, pertambangan dan kelautan) yang secara optimal mampu meningkatkan perekonomian Kabupaten dengan tetap memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan; dan

(18)
(19)
(20)

2.5. Sosial dan Budaya

Kondisi sosial budaya menggambarkan keadaan prasarana pendidikan, prasarana kesehatan, dan budaya masyarakat di Kabupaten Halmahera Utara.

Pendidikan

Pendidikan pada hakekatnya merupakan bekal manusia untuk mampu bertahan hidup. Pendidikan dapat diperoleh melalui cara formal maupun informal baik dari lingkungan keluarga dan sekolah.

Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila di segi lain bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan serta cinta tanah air agar dapat menciptakan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Sehubungan dengan itu Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara selalu berupaya untuk meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan di seluruh wilayahnya untuk berbagai jenjang pendidikan.Pada tahun ajaran 2011/2012 jumlah Sekolah Dasar di Halmahera Utara sebanyak 197 sekolah dengan jumlah murid sebanyak 26.391 orang, Sekolah Menengah Pertama sebanyak 46 sekolah dengan jumah murid sebanyak 10.336 orang, Madrasah Tsanawiyah sebanyak 21 sekolah dengan jumlah murid sebanyak 2.610 orang,Sekolah Menengah Atas sebanyak 17 sekolah dengan jumlah murid sebanyak 6.047 orang, Madrasah Aliyah sebanyak 8 sekolah dengan jumlah murid sebanyak 748 orang, Sekolah Menengah Kejuruan sebanyak 14 dengan jumlah murid sebanyak 2.908 orang.

(21)

Tabel 2.9a fasilitas Pendidikan

Sumber : Dinas Pendidikan Kab. Halmahera Utara

Kesehatan

Pembangunan kesehatan sebagai bagian integral dari Pembangunan Nasional bertujuan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.Upaya penyediaan sarana dan prasarana kesehatan merupakan kebutuhan mendasar dalam peningkatan taraf kesehatan masyarakat.

Jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Halmahera Utara sebagaimana sampai dengan tahun 2012 sebagaimana tabel berikut:

Tabel 2.9b

Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kab. Halmahera Utara

Tahun Rumah Sakit

Gambar 4.1 Rekapitulasi Sekolah di Kabupaten Halmahera Utara

Figure 4.1 Recapitulation of Schools in North Halmahera Regency

NEGERI

(22)

Rumah Keluarga Miskin

Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kab. Halmahera Utara

No Nama Kec.

Secara administrasi, sentra sepuluh hoana saat ini berada di Kabupaten Halmahera Utara yaitu mulai dari Teluk Kao sampai Loloda Kepulauan,Penyebaran sepuluh hoana ini sebagai berikut:

a. HOANA MODOLE

(23)

dikenal sebagai komunitas yang menggunakan bahasa dengan dialek sendiri yang belum bercampur dengan dialek bahasa lain. Sehingga dialek mereka disebut dengan dialek Modole. Secara geografis hoana Modole berada di wilayah Kao Barat. Dan saat ini tersebar di kampung Leleseng, Soa Sangaji, Soa Hukum, Tuguis, Parseba, Soamaetek, Pitago, Bailengit dan Kai. Namun pengguna bahasa Modole juga ditemukan di beberapa kampung Selatan Kao Barat seperti Tolabit, Toliwang, Popon, Ngoali, Momodang, dan Gagaapok walaupun dikampung-kampung ini dialek bahasa Modelenya sudah sedikit bercampur dengan dialek bahasa Tobaru dan Pagu. Masih juga ditemukan pengguna dialek bahasa Modole di pedalaman Halmahera Tengah, yakni di wilayah Ake Tayawi dan Payahe.

b. HOANA PAGU

Kata Pagu berasal dari dialek induk bahasa Pagu yang disebut ya paga artinya membatasi. Sehingga bisa disebut juga hoana Pagu adalah hoana pembatas. Dalam berbagai penuturan lisan dari orang-orang yang berada di kampung-kampung Kao Selatan sampai dengan Teluk Dalam, tepatnya di kampung Pasir Putih, mengatakan bahwa komunitas masyarakat yang secara geografis mendiami wilayah Kao Teluk dan sebagian Kao Barat-Selatan mengakui bahwa wilayah yang mereka tempati pertama kali disebut sebagai wilayah dari Sangaji yang bernama Pagu. Sehingga dialek bahasa yang berada di wilayah Sangaji Pagu terdiri dari berbagai macam dialek sesuai dengan asal-usul komunitas masyarakat kampung-kampung tersebut. Misalnya, Kampung Pasir Putih dan Tetewang mereka menggunakan dialek bahasa Tobelo, karena asal-usulnya berasal dari salah satu hoana Tobelo yaitu hoana Boeng. Kemudian kampung Bobane Igo, Dodinga dan Boso menggunakan diaelek bahasa campuran dari bahasa Tobelo, Galela, Ternate, Tidore, bahkan bercampur dengan bahasa Papua, Buton, China dan Arab yang dikenal dengan sebutan bahasa Gorap. Saat ini wilayah Hoana Pagu dapat dikatakan mulai dari Gol-Gol, Dim-Dim, Gayok, Wangeotak, Sosol, Tomabaru menggunakan dialek bahasa Pagu, Ngai Madodera dan Tabobo menggunakan dialek campuran bahasa Galela dan Pagu, Dum-Dum menggunakan dialek campuran bahasa Galela, Tobelo dan Pagu, Akelamo dan Ake Sahu menggunakan dialek campuran bahasa Tobelo, Galela, Pagu dan Ternate. Secara admistrasi saat ini hoana Pagu berada di wilayah Kecamatan Malifut dan Kao Teluk.

c. HOANA BOENG

(24)

d. HOANA TOWILIKO

Towiliko berasal dari kata induk bahasa Tobelo yang artinya saling mengikat. Kata Towiliko sendiri pertama kali disebut pada saat Sangaji Kao bersama tokoh-tokoh masyarakat beberapa kampung sepakat bersama melawan penjajah Jepang. Perlawanan yang heroik itu mengakibatkan tewasnya beberapa tokoh pejuang lintas agama. Sejak saat itu kekerabatan kampung-kampung tersebut sepakat dengan sebutan hoana Towiliko. Yang merupakan bagian dari wilayah hoana Pagu, hoana Modole dan hoana Boeng yang secara administrasi sentranya ada di Kao. Saat ini penyebaran hoana Towiliko meliputi kampung Patang menggunakan dialek bahasa Tobelo dan Modole, Kukumutuk menggunakan dialek bahasa Modole, Sasur menggunakan dialek campuran bahasa Pagu, Tobelo dan Modole, Kusu menggunakan dialek bahasa Tobelo, Jati menggunakan dialek Kao (campuran bahasa Tobelo dan Ternate).

e. HOANA LINA

Lina adalah nama kampung awal di Talaga Lina yang berada di Tobelo dalam, merupakan pemukiman awal dari kampung-kampung Tobelo yang dikenal dengan nama hoana ngimoi (sepuluh hoana). Sejak di pemukiman awal kampung Lina mempunyai tugas dalam kekerabatan kampung-kampung Tobelo di Talaga Lina sebagai hoana magogoana (penjaga kawasan), tugas ini diemban karena orang-orang dari kampung Lina secara turun-temurun bertugas sebagai pengaman teritori dari kampung-kampung yang tersebar di Talaga Lina. Di kampung Lina juga menjadi tempat dilatihnya para muda kaum Tobelo untuk berburu dan berperang melawan musuh. Hoana Lina terbentuk ketika masyarakat kampung Lina eksodus secara bergelombang keluar dari Talaga Lina dan menempati kampung-kampung di pesisir Tobelo Timur samapi Tobelo Utara. Saat ini kampung-kampung hoana Lina mulai dari Paca, Leleoto, Yaro, Mawea, Meti, Katana, Gonga dan Pitu yang menggunakan dialek bahasa Tobelo. Tobe, Talaga Paca, Birinoa, Kusuri, Wangongira dan Wateto menggunakan dialek campuran bahasa Tobelo dan Modole.

f. HOANA HUBOTA

Kata Huboto berasal dari induk bahasa Tobelo yaitu hibo’otoka artinya sudah menyelesaikan pekerjaan. Hoana Huboto berasal dari beberapa kelompok marga yang berada di sekitar kampung-kampung rimba Talaga Lina dengan tugas yang diemban sebagai o wowango madoya atau mengurus kesejahteraan. Karena kebiasaan orang Huboto dengan bercocok tanam sehingga penyebarannya menembus hutan-hutan di Talaga Lina sampai ke pesisir bahkan mengikuti jejak orang-orang dari hoana boeng untuk mengibarkan panji-panji kaum canga dan bercocok tanam di tempat-tempat yang baru didiami. Orang hubuto juga dikenal sebagai penyedia logistik dalam pertarungan kaum canga di samudra. Dalam pembagian tugas orang huboto juga mengurus soal kesejahteraan bersama. Sebut saja kampung-kampung hoana huboto yakni mulai dari kampung Pintatu, Ekor, Minamin, Saolat, Waijoi, Loleba, dan Wasile sebagai kawasan yang subur untuk bercocok tanam. Orang huboto juga bertualang menembus gelombang dan berdiam di Pulau Bacan dan Mandioli serta Pulau Obi. Sebagian lagi bermukim di Pulau Morotai bagian Selatan (Sabatai, Wawama, Juanga dan Pandanga). Saat ini secara adminstrasi setra hoana huboto berada di Tobelo yaitu kampung Wosia, Upa, Gamhoku, Efi-Efi, Tomahalu, Kupa-Kupa dan Pulau Tagalaya yang menggunakan dialek bahasa Tobelo.

g. HOANA MUMULATI

(25)

dari kampung Lina dan pulau Gura yang berada di tengah-tengah Talaga Lina. Kebiasaan orang Mumulati untuk berkomunikasi dengan para pendatang seperti pedagang dari China dan Arab membuat orang Mumulati lebih menguasai system kekerabatan serta mengatur pemerintahan bersama (yo popareta ino). Hoana Mumulati terbentuk setelah masyarakatnya keluar dari Talaga Lina dan menempati pesisir pantai Tobelo. Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki oleh orang Mumulati membuat mereka menjadi mediator pasca perang saudara antara orang Tobelo dan orang Galela yang dikenal dengan rekonsiliasi tragedi Tona Malangi. Sampai saat ini penyebaran hoana Mumulati berada di kampung-kampung mulai dari Gamsungi dan Gosoma di pusat kota Tobelo yang menggunakan dialek bahasa Tobelo, Pulau Tolonou, Gorua, Popilo, Mede, Ruko dan Luari menggunakan diaelek campuran bahasa Tobelo dan Galela, karena merupakan penjaga kawasan rekonsiliasi pasca tragedi Tona Malangi. Dalam berbagai penuturan lisan menyebut bahwa hoana Mumulati tersebar juga sampai ke semenanjung Halmahera Selatan-Barat Pulau Bacan dan Obi, mereka selalu menyebut dengan nama orang Tobelo-Galela. Orang Mumulati juga dalam sejarah perang kesultanan Ternate dan Tidore berada di armada laut sampai ke kepulauan Sula, Mangole dan Taliabo.

h. HOANA GURA

Sebutan Gura identik dengan nama Pulau yang berada di tengah-tengah Talaga Lina. Hoana Gura mempunyai tugas sebagai o niata mangale yaitu melakukan berbagai ritual sesuai dengan kepercayaan orang Tobelo pada waktu berada di kampung-kampung awal Talaga Lina. Seperti ritual gomatere, untuk membuka lahan kebun, panen, membangun rumah sampai pada situasi perang. Kemampuan spiritual dari orang-orang hoana Gura juga selalu membaca tanda-tanda alam seperti musim hujan, kemarau dan bencana lainnya. Hal ini dapat dibuktikan ketika sebelum terjadi gempa tektonik yang menegelamkan pulau Gura, beberapa saat sebelumnya, orang-orang dari pulau Gura telah berpindah ke sebuah tempat dekat talaga Lina yang namanya Kanaba. Di Kanaba itulah dikenal sebagai tempat transit orang-orang dari hoana Gura dan melanjutkan perjalanan mereka ke pesisir Utara setelah menyaksikan pulau Gura Tenggelam karena gempa. Kemudian mereka menuju ke pesisir Utara dan menempati atau berdiam di beberapa Pulau di depan Tobelo. Kemampuan berkomunikasi secara spiritual meyakinkan semangat juang orang-orang hoana Gura bahwa di manapun mereka berada selalu di bawa lindungan Juo Madutu. Spirit ini yang membuat hoana Gura bertualang menuju libuku iata (empat penjuru bumi) mereka juga bermukim diberbagai pulau bersama-sama dengan kaum Tobelo lainnya

i. HOANA MORODINA

(26)

nama soa mogiowo, masing-masing Pune, Towara, Barataku, Toweka, Togawa, Igobula, Ori, Liate, Ngidiho dan Limau. Dari sisi dialek bahasa, maka kampung Togawa, Igobula, Ori, Liate, dan Ngidiho yang berada di pedalaman menggunakan dialek bahasa Galela dan bahasa Tobaru sehingga percampuran dialek bahasa ini disebut dengan dialek kadina. Setelah penjajah Belanda masuk di wilayah Halmahera Utara di mana Portugis dan Spanyol telah menuju ke Ambon, maka kekerabatan masyarakat yang telah terbagi dari kerajaan Moro tetap mempertahankan system kekerabatannya dengan orang-orang Tobaru dan Loloda. Sehingaa dialek kadinanya membuat perbedaan sangat jelas dengan pengguna dialek lain yang berada di pesisir Galela. Hal inilah yang memperkuat sehingga keberadaan mereka identik dengan Morodina. Sebutan morodina memperjelaskan kepada Belanda dan dunia luar bahwa system kekerabatan yang telah terbangun akan tarsus dipertahankan dengan membuka atau membangun kampung-kampung baru yang terdiri dari orang-orang Tobaru, Gamkonora dan Loloda dalam. Dengan demikian maka atas kesepakatan mereka bersama semua kampung-kampung yang berada di pedalaman Galela menyebut kampung-kampung-kampung-kampung mereka dengan nama soa Morodina (Kata soa adalah sebutan Hoana dalam bahasa Galela). Pada saat ini secara geografis Hoana Morodina terdiri dari kampung Seki menggunakan dialek bahasa Galela, Togawa menggunakan dialek campuran bahasa Tobelo, Galela dan Tobaru, Soakonora menggunakan dialek campuran bahasa Galela dan Tobaru, Kampung Igobula menggunakan dialek bahasa Galela, kampung Ori menggunakan dialek bahasa Galela, kampung Soatobaru menggunakan dialek campuran bahasa Galela dan Tobaru, kampung Dokulamo, Gotalamo dan Ngidiho menggunakan dialek bahasa Galela, kampung Roko menggunkan dialek campuran bahasa Galela, Loloda dan Tobaru.

j. HOANA MORODAI

(27)

2.6. Kelembagaan Pemerintah Daerah

Kelembagaan Pemerintah Kabupaten Halmahera Utar dapat dilihat dalam struktur organisasi, sebagaimana Perda Nomor 8 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi, Tugas Pokok Dan Fungsi Sekretariat Daerah Dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Halmahera Utara, Perda Nomor 9 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi, Tugas Pokok dan Fungsi Dinas-dinas daerah kabupaten halmahera utara. Perda Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi, Tugas Pokok Dan Fungsi Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Halmahera Utara.

Bagan struktur organisasi perangkat daerah Kabupaten Halmahera Utara yang terlibat dalam PPSP, selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini

a. Bagan Struktur Organisasai Bappeda Kab. Halmahera Utara

KEPALA BADAN

SEKRETARIS

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

BAGIAN UMUM DAN KEPEGAWAIAN

SUB BAGIAN KEUANGAN

SUB BAGIAN PROGRAM, EVALUASI & PELAPORAN

BIDANG PERENCANAAN BIDANG PENELITIAN & BIDANG

PEMBANGUNAN DAERAH PENGEMBANGAN STATISTIK

SUB BIDANG FISIK PRASARANA & SUB BIDANG PEMERINTAHAN & SUB BIDANG PENDATAAN, PERENCANAAN TATA RUANG

WILAYAH KEUANGAN DAERAH DOKUMENTASI & ICT

SUB BIDANG SUB BIDANG SUB BIDANG NERACA

(28)

b. Bagan Struktur Organisani Dinas Kesehatan Kab. Halmahera Utara

BIDANG BIDANG BIDANG BIDANG

PELAYANAN KESEHATAN

SEKSI SEKSI PENGENDALIAN SEKSI PEMBERDAYAAN

REG

PENYAKIT & AKREDITASI AN & KEFARMASIAN

SEKSI SEKSI KESEHATAN

LINGKUNGAN SEKSI

SEKSI SARAN PERALATAN KESEHATAN KHUSUS WABA & BENCANA PENDIDIKAN & LATIHAN KESEHATAN

c. Bagan Struktur Organisani Dinas Pekerjaan Umum Kab. Halmahera Utara

KEPALA DINAS

BIDANG BIDANG BIDANG BIDANG

BINA MARGA CIPTA KARYA

PENGAIRAN SUMBER DAYA AIR

TATA RUANG & PERALATATAN

SEKSI SEKSI BANGUNAN GEDUNG SEKSI SEKSI

JALAN & JEMBATAN & PERUMAHAN PENGAIRAN & IRIGASI PELAKSANAAN TATA

RUANG

SEKSI SEKSI AIR BERSIH SEKSI SEKSI

OPERASIONAL JALAN & JEMBATAN

& PRASARANA

(29)

d. Bagan Struktur Organisani Dinas Tata Kota & Kebersihan Kab. Halmahera Utara

TATA BANGUNAN PENGELOLAAN KEBERSIHAN PERTAMANAN & PENERANGAN

JALAN

SEKSI SEKSI SEKSI

TATA PERUMAHAN & REG TRANSPORTASI & KEBERSIHAN PENGELOLAAN PEMAKAMAN

e. Bagan Struktur Organisani Badan Lingkungan Hidup Kab. Halmahera Utara

KEPALA BADAN

DAMPAK BIDANG PENGAWASAN, BIDANG BIDANG

LINGKUNGAN

SUB BIDANG SUB BIDANG

PEMANTAUAN & SUB BIDANG SUB BIDANG

PERIZINAN PEMULIHAN KUALITAS

Gambar

Gambar 2.1. Peta Orentasi Wilayah Kab. Halmahera Utara
Tabel 2.1
Gambar  2.1 Peta Administratif Kabupaten Halmahera Utara
Gambar 2.2
+7

Referensi

Dokumen terkait

(3) Mengembangkan akses bagi daerah terisolasi dan pulau-pulau kecil di pesisir barat dan timur Sumatera sebagai sentra produksi perikanan, pariwisata, minyak dan gas bumi ke

Sistem kekerabatan yang digunakan oleh masyarakat jawa adalah kekerabatan yang dilihat berdasarkan prinsip bilateral yaitu memperhitungkan keanggotaan kelompok melalui garis

Kabupaten Alor sebagai salah satu dari 16 Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah wilayah kepulauan dengan 15 pulau yaitu 9 pulau yang telah dihuni dan 6 pulau

Berdasarkan data jumlah penduduk di Wilayah Pesisir Kabupaten Sukabumi tahun 2002-2006, dapat dilihat bahwa pada tahun 2002, Kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak

Kawasan pesisir di Kabupaten Jembrana terbentang dari Gilimanuk di Kecamatan Melaya sampai Desa Pengeragoan di Kecamatan pekutatan memiliki potensi untuk

Jumlah penduduk di Gugus Pulau Kaledupa tersebut mewakili 16,37% dari total jumlah penduduk Kabupaten Wakatobi dengan pertumbuhan penduduk sebesar 1,45% pada tahun 2007.. Tingkat

Festival Miangas berlokasi di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Pulau Miangas adalah pulau terluar di Utara Wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Philiphina

Strategi adaptasi sosial dan ekonomi masyarakat pasca bencana Studi Kasus Masyarakat Kampung Trangkil Baru Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Pasca Bencana