BAB I PENDAHULUAN. Dunia bisnis di Indonesia saat ini berkembang dengan pesat. Bidang

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia bisnis di Indonesia saat ini berkembang dengan pesat. Bidang usahaatau jenis bisnis mencakup bidang yang luas, baik barang maupun jasa. Salah satuvariasi bisnis yang sedang berkembang adalah bisnis Multi Level Marketing(selanjutnya disebut MLM). Meskipun belum mencapai puncak kejayaan seperti di negara-negara lain, paling tidak MLM sudah berjalan di Indonesia. Artinya adalah bahwa ada orang-orang Indonesia yang ‘welcome’ terhadap bisnis MLM. MLM adalah sistem penjualan berkelompok melalui keanggotaan yang berbentuk tim pemasaran secara bertingkat. Sistem MLM ini lebih mengutamakan kebersamaan dalam mencapai tingkat omset penjualan perusahaan. Seorang anggota yang dapat memimpin timnya dalam memasarkan produk perusahaan akan diberikan komisi atau bonus sesuai dengan sistem yang berlaku pada masing-masing perusahaan MLM tersebut.1

MLM termasuk kepada penjualan langsung (direct selling) dimana penjualan langsung adalah metode penjualan barang dan/atau jasa tertentu melalui jaringan pemasaran yang dikembangkan oleh mitra usaha yang bekerja atas dasar komisi

1Muhammad Fachrur Rozi, Budaya Industri Pemasaran Jaringan di Indonesia, (Yogyakarta: Netbooks Press, 2003), hal. 4.

(2)

dan/atau bonus berdasarkan hasil penjualan kepada konsumen di luar lokasi eceran tetap.2

1. Single Level Marketing (Pemasaran Satu Tingkat), maksudnya adalah metode pemasaran barang dan/atau jasa dari sistem penjualan langsung melalui program pemasaran berbentuk satu tingkat dimana, mitra usaha mendapatkan komisi penjualan dan bonus penjualan dari hasil penjualan barang dan/atau jasa yang dilakukannya sendiri; dan

Penjualan langsung terdiri dari 2 (dua) sistem, yaitu :

2. Multi Level Marketing (Pemasaran Multi Tingkat), maksudnya adalah metode pemasaran barang dan/atau jasa dari sistem penjualan langsung melalui program pemasaran berbentuk lebih dari satu tingkat, dimana mitra usaha mendapatkan komisi penjualan dan bonus penjualan dari hasil penjualan barang dan/atau jasa yang dilakukannya sendiri dan anggota jaringan di dalam kelompoknya.3

Menurut Robert T. Kiyosaki, bisnis MLM berpotensi melahirkan orang yang ultra kaya. Kalau menurut majalah Forbes, ultra-kaya adalah orang-orang yang berpenghasilan lebih dari 1 juta US Dollar per bulan. Misalnya 1 USD adalah Rp. 8.500,- maka sebulan orang tersebut berpenghasilan Rp. 8,5 miliar. Dan bisnis ini dapat melahirkan sekitar 20% dari 500 jutawan di Amerika, dari 100 (seratus)

2 Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 32/M-DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Perdagangan Dengan Sistem Penjualan Langsung.

3 Lihat : Pasal 1 angka 1 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 73/MPP/Kep/3/2000 tentang Ketentuan Kegiatan Usaha Penjualan Berjenjang, yang menyatakan bahwa : “Penjualan berjenjang adalah suatu cara atau metode penjualan secara berjenjang kepada konsumen melalui jaringan pemasaran yang dikembangkan oleh perorangan atau badan usaha yang memperkenalkan barang dan/atau jasa tertentu kepada sejumlah perorangan atau badan usaha lainnya secara berturut-turut yang bekerja berdasarkan komisi atau iuran keanggotaan yang wajar”.

(3)

perusahaan terbesar di Amerika, 37 persennya berjalan di bidang MLM. Menurut John Naitsbitt, dalam buku Mega Trend yang diterbitkan tahun 2000, menyatakan bahwa : “Dalam pasaran Asia tahun 1990-2000, hanya ada tiga jenis bisnis yang berkuasa, yaitu telekomunikasi, komputer, dan produksi obat-obatan yang berasaskan MLM. Di Malaysia, 35 persen jutawannya merupakan jutawan MLM. Diperkirakan akan ada peningkatan besar-besaran pada abad ke-21. Hanya saja bisnis ini bisa dijalankan sebagai bisnis sampingan dulu dengan memanfaatkan waktu luang. Inilah keistimewaan bisnis ini. Jadi, kalau sebagai pekerja atau memiliki bisnis konvensional, bisa saja untuk sementara waktu bisnis MLM dapat dijadikan sebagai bisnis sampingan.4

Network Marketing atau lebih dikenal dengan Multi Level Marketing adalah bisnis yang pernah booming di Indonesia. Sampai saat ini, member di Indonesia mencapai lebih dari 5 juta orang. Prinsip yang digunakan oleh network marketing adalah membantu orang lain untuk sukses guna meraih kesuksesan yang lebih lagi.5

Di Indonesia terdapat lebih dari 100 (seratus) perusahaan yang berkecimpung dalam industri bisnis MLM. Pertumbuhannya pada tahun 2011 yang lalu diperkirakan mencapai 20%. Menurut Helmi Attamimi, Ketua Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) menyatakan bahwa “Permohonan Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (izin khusus penyelenggaraan usaha MLM) di BKPM selalu ada”.6

4 Mohd. Rozani Pawan Chek, Mind Therapy for MLM : Sukses Merangkai Gurita Bisnis

Paling Luas dan Menguntungkan, Cet. I, (Jakarta : Hikmah, 2007), hal. 4. 5

Bong Chandra, Unlimited Wealth : Habis dibaca Dalam 10 Menit, Cet. Ke-VIII, (Jakarta : Gramedia, 2011), hal. 69.

6 Website Detik Finance, ”Bisnis MLM Asing Makin Deras Masuk RI”, 10 Januari 2012.

(4)

Pada tahun 1986, di Indonesia terdapat perusahaan pertama yang memasarkan produknya dengan cara MLM, yaitu PT. Nusantara Sun Chlorella, yang dikenal dengan nama CNI. Kemudian diikuti pula oleh Amway masuk ke Indonesia, dan perusahaan-perusahaan lain seperti Sunrider, Daxen, Sophie Martin, Herbalife, dan lain sebagainya. Sayangnya perjalanan panjang perusahaan MLM di Indonesia menjadi terseok-seok, akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab mendirikan perusahaan yang memakai sistem money game.7

Praktek bisnis yang dijalankan berkedok MLM ini biasanya perusahaan menjalankan sistem money game. Perusahaan money game yang berkedok MLM bukanlah termasuk MLM. Sebagai contoh, pada tahun 1996, perusahaan BMA (Banyumas Mulia Abadi) adalah bisnis yang paling jelas-jelas menipu masyarakat. Dimana seseorang belanja 1 paket kaos dan jean senilai Rp. 1,5 juta maka 21 hari kemudian dijanjikan bonus sebesar Rp. 2,5 juta sehingga orang tertarik bukan pada paket produknya melainkan pada janji bonusnya. Contoh selanjutnya adalah PT. Permata Nusantara, yang didirikan pada tahun yang sama, New Era 21 pada tahun 1999, CKSS (Citra Keluarga Sejahtera Sentosa pada tahun 1999, PT. MLM (Mekar Langsung Mandiri) pada tahun 1999, PT. Media Laksana Mandiri pada tahun 1999, PT. Inter Jasa Perkasa pada tahun 1999, dan Higam Net (Hidup Gembira Awet Muda Network) pada tahun 1999. Konsep yang dipakai perusahaan seperti tersebut sebelumnya adalah produk dijual setinggi langit namun yang menjadi nilai jual

7

(5)

(selling point) adalah pengembalian modal (return of investment) hingga minimal 1,5 – 2 x lipat dari modal awal bergabung.8

Perkembangan kriminalitas yang berkaitan dengan bidang ekonomi khususnya di bidang penyelenggaran usaha MLM yang memanfaatkan produk-produk layanannya baik pemanfaatan teknologi maupun informasi dalam transaksi bisinisnya telah mengalami perkembangan yang cukup mengkhawatirkan.9 Hal ini ditandai dengan pelaku kejahatan bukan saja orang-perseorangan yang dapat diminta pertanggungjawaban atas kesalahan10

8

“Beberapa Jenis Kasus Bisnis Money Game”,

berupa tindak pidana yang dilakukan, melainkan juga telah berkembang kepada suatu kejahatan yang berdimensi ekonomi dengan melibatkan jaringan yang terorganisir dalam melakukan modus operandi kejahatan.

5 November 2011.

9 Lihat : Agus Raharjo, Cyber Crime Pemahaman Dan Upaya Pencegahan Kejahatan

Berteknologi, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002), hal. 1, yang menyatakan bahwa : ”Teknologi informasi oleh negara-negara yang tergabung dalam kelompok G-8 dipandang sebagai hal yang amat vital dalam pertumbuhan ekonomi dunia ke delapan, perluasan kesempatan belajar serta perolehan informasi masyarakat di dunia. Salah satu pasal dari Deklarasi Okinawa tentang masyarakat informasi global menyatakan kegagalan negara-negara berkembang dalam mengikuti akselerasi teknologi informasi akan membuat mereka tidak mempunyai kesempatan berpartisipasi penuh di dalam masyarakat informasi dan masyarakat ekonomi dunia”.

10 Sudarto, Hukum Pidana I, Badan Penyediaan Bahan-bahan Kuliah FH UNDIP, (Semarang, 1987/1988), hal. 85, yang mengatakan bahwa : ”Dipidananya seseorang tidaklah cukup apabila orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Jadi meskipun perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan (an objective vreach of a penal provision), namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. Untuk pemindanaan perlu adanya syarat untuk penjatuhan pidana. Untuk pemindanaan masih perlu adanya syarat, bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt). Dengan kata lain, orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya baru dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut”.

Bandingkan dengan : Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana, (Bandung : Mandar Maju, 2000), hal. 67, yang menyatakan bahwa : ”Pertanggungjawaban pidana pada dasarnya dapat persyaratan yakni, ada suatu tindakan (commission atau ommission) oleh si pelaku, yang memenuhi rumusan-rumusan delik dalam undang-undang, dan tindakan itu bersifat “melawan hukum” atau

(6)

Bisnis MLM merupakan bisnis yang bergerak di sektor perdaganganbarang dan/atau jasa yang menggunakan sistem MLM sebagai strategi bisnisnya.Adapun sistem MLM itu sendiri adalah metode yang digunakan sebuah indukperusahaan dalam memasarkan produknya kepada konsumen melalui suatujaringan orang-orang bisnis yang independen.11Perkembangan Industri bisnis MLM di Indonesia memberi dampak positifbagi kemajuan perekonomian nasional. Masyarakat Indonesia yang memperolehsumber penghidupan melalui industri ini sekurang-kurangnya berjumlah 4,5 jutajiwa dan masih akan bertambah lagi. Prestasi ini sayangnya sering kali kurangmendapat apresiasi yang positif di masyarakat. Kurangnya apresiasi tersebutdisebabkan karena maraknya praktek ilegal yang telah merugikan banyak orangdengan mengatasnamakan MLM sebagai kedok usahanya, sehingga mencorengnama baik dari industri MLM itu sendiri.12

“Bahwa korban merasa ditipu dan digelapkan haknya berupa reward dan bonus dari PT Latanza, menurut korban pelaku penipuan dan penggelapan adalah direktur utama dan direktur marketting merangkap pimpinan cabang medan. Produk yang diperdagangkan pt latanza adalah alat kesehatan yang ber merk “neopiko” dengan harga @ Rp.1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah) dan bila masuk dalam jaringan multilevel diberikan “id” dan “passw” untuk dapat mengakses ke situs perusahaan

Praktek ilegal dengan mengatasnamakan MLM sebagai kedok usahanya dapat dilihat dalam penanganan kasus di Polresta Medan berdasarkan Laporan Polisi No. LP/1673/VI/2011/SU/Resta Medan dan Laporan Polisi No. LP/1268/V/201/SU/Resta Medan, dapat dideskripsikan sebagai berikut :

multi level marketing yang dijalankan adalah dengan menyediakan brosur

11 David Roller, Menjadi Kaya dengan Multi-Level Marketing, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995), hal. 3.

12 Edy Zaqeus (editor), “Jalan Panjang Menuju UU Anti Piramid Telah Dimulai”, INFO APLI Edisi XIV (Nov, 2002), hal. 1.

(7)

yang berisi penawaran menarik, pada brosur tertera marketting plan perusahaan yaitu apabila member mencari atau mendapatkan member lain untuk menjadi anggota maka berhak mendapatkan bonus sponsor sebesar Rp.100.000,- bonus pasangan Rp.100.000,- bonus royalti sebesar 25% dari setiap member baru yang didapatkan, serta bonus atas reward dengan level 600 kiri dan kanan sebesar Rp.150.000.000,- Korban sudah mencapai level yg tertera dalam brosur namun sampai pada saat ini tidak mendapatkan reward sesuai yang dijanjikan dan korban mengetahui ada beberapa orang lainnya yang menjadi korban dari kegiatan ini”.

Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan Saksi yang dilakukan Penyidik Polresta Medan terhadap Wakil Ketua Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) dikemukakan bahwa PT. TVI Express dan PT. Latanza Global Interlink bukan merupakan anggota dari APLI, syarat untuk menjadi anggota APLI harus memiliki Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL) yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) atas rekomendasi dari Deperindag. Mengetahui bahwa PT TVI Express berdiri sejak tahun 2010 dengan modus operandi mirip dengan MLM namun bukan merupakan MLM karena kegiatan PT. TVI Express ada unsur rekrutmen dan kegiatan rekrutmen tersebut menghasilkan uang sedangkan kegiatan tersebut merupakan suatu perbuatan yg dilarang sesuai dengan Permendag RI Nomor 32/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perizinan Penjualan Langsung, Pasal 1 angka 12 yang berbunyi sebagai berikut : “Jaringan pemasaran terlarang adalah kegiatan usaha dengan nama atau istilah apapun dimana keikutsertaan mitra usaha berdasarkan pertimbangan adanya peluang untuk memperoleh imbalan yang berasal atau didapatkan terutama dari hasil partisipasi orang lain yang bergabung kemudian atau sesudah bergabungnya mitra usaha tersebut, bukan dari hasil kegian penjualan barang atau jasa. Oleh karenanya menurut wakil ketua APLI kegiatan PT. TVI Express dan PT. Latanza merupakan usaha money game yang berkedok MLM”.

Adapun ciri-ciri usaha money game yakni: Pertama, menjanjikan untung besar dalam waktu singkat. Kedua, penekanan utama pada perekrutan, bukan pada penjualan. Ketiga, bonus dibayarkan apabila ada perekrutan. Keempat, bila ada barang hanya sebagai kedok, kualitas barang tidak sebanding dengan harga barang tersebut. Kelima, ada dua indikasi usaha, akan ambruk yaitu bila menunda pembayaran bonus dan menaikkan biaya pendaftaran”.

Masyarakat yang menjadi korban akibat dari praktek-praktek ilegal tersebutdiperkirakan sudah mencapai puluhan ribu jiwa dengan total kerugian

(8)

mencapaipuluhan triliun rupiah.13

Bisnis berkedok MLM di Indonesia hingga saat ini belum secara tegasdilarang dalam suatu Undang-Undang yang khusus, sehingga penanggulangannyatidak berjalan dengan efektif. Penanggulangannya hanya sebatas memidanakanpara pelaku apabila korban mengadukannya ke pihak yang berwenang, samasekali belum menyentuh sisi preventifnya. Disamping itu, sosialisasi pemerintahdalam mengedukasi masyarakat tentang seluk-beluk dan bahaya bisnis berkedokMLM juga sangat minim. Kedua hal inilah yang terus menjadi pemicu maraknyapraktek bisnis berkedok MLM di Indonesia.

Para korban maupun masyarakat yang hanya mengetahuiberita-berita terungkapnya kasus penipuan berkedok MLM melalui media massaumumnya tidak mengetahui perbedaan antara bisnis MLM dengan bisnisberkedok MLM.

14

13

“Beberapa Jenis Kasus Money Game”, http://bravo9682.wordpress.com/2008/08/07/beberapa-jenis-kasus-money-game, diakses tanggal 27

Juni 2014.

14 Edy Zaqeus (editor), “Mengapa Orang ‘Mau Jadi Korban’ Money Game atau Skema

Piramid?”, INFO APLI Edisi XXXIV (Okt-Des, 2006), hal. 11.

Maraknya bisnis berkedok MLM juga telah berpengaruh buruk bagi citraindustri bisnis MLM murni. Ada beberapausaha MLM yang diakui keabsahannya. Beberapa usaha MLM yang dikenal baikseperti CNI, Amway, Oriflame, Sophie Martin, Prime & First New, Herbalife, dan lain-lain diyakini sebagai bisnis yang legal karena usahanya telah berlangsung selamabertahun-tahun dan produk-produknya pun memang sangat diterima dimasyarakat, namun demikian, nama baik yang telah dibangun dengan bersusahpayah selama bertahun-tahun tersebut dapat saja menurun dalam waktu

(9)

singkatakibat ulah praktek-praktek ilegal yang mengatasnamakan MLM sebagai kedokusahanya.15

Maraknya praktek bisnis berkedok MLM di Indonesia harus segeraditanggulangi dengan upaya-upaya yang lebih konkrit yakni penegakan hukum pidana yang dilakukan oleh Polri secara terintegrasi. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa Modus operandi kejahatan praktek bisnis berkedok MLM mempunyai sifat spesifik dibandingkan dengan kejahatan konvensional baik yang dilakukan oleh orang perseorangan ataupun melibatkan pihak-pihak yang terkait sebagai organization crime. Pencegahan tindak pidana ini dapat dilakukan dengan pendekatan sistem termasuk sebagai sub-sistem adalah peranan Polri dalam pemberantasan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM dengan tujuan yakni dapat dipidananya perbuatan pelaku (de strafbaarheid van het feit atau het verboden zijr van het feit) dengan menggunakan perangkat hukum yang diatur KUHP,16

15 “Akan Jenuhkah Bisnis MLM?”, http://bravo9682.wordpress.com/category/mlm/page/3/, diakses pada 14 April 2012.

16 Mulyanto dalam Faisal Salam, Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: Pustaka, 2004), hal. 87, yang menyatakan bahwa : “KUHP adalah merupakan suatu kodifikasi hukum pidana yang tidak semua tindak pidana dimasukkan dalam kodifikasi tersebut. Tetapi hal ini tidak mungkin karena selalu timbul perbuatan-perbuatan yang karena perkembangan masyarakat yang tadinya bukan merupakan tindak pidana lalu menjadi tindak pidana. Sebagaimana diketahui dalam KUHP terdapat suatu bagian yang memuat aturan umum yaitu buku kesatu, yang memuat asas-asas hukum pidana pada umumnya dan defenisi-defenisinya yang berlaku bagi seluruh bidang hukum pidana positif, baik yang dimuat dalam KUHP maupun yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan lainnya. Aturan penutup dari buku kesatu KUHP (Pasal 103) menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan dalam Bab I sampai dengan Bab VIII dari buku kesatu juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan-ketentuan perundang-undangan lainnya diancam dengan pidana, kecuali jika oleh undang-undang yang bersangkutan ditentukan lain. Jadi semua tindak pidana di luar KUHP harus tunduk pada aturan-aturan umum yang dimuat dalam buku kesatu KUHP itu, kecuali apabila secara khusus diatur oleh peraturan perundang-undangan itu sendiri. Peraturan perundang-undangan yang memuat tindak pidana di luar KUHP itu, berbeda dengan KUHP. Sebab pada umumnya selain mengatur tentang segi-segi hukum pidana materiil (perumusan tindak pidana, macam-macam pidana dan lain-lain), juga mengatur secara khusus tentang segi-segi hukum pidana formal, yaitu bagaimana cara melaksanakan hukum pidana materiil itu, misalnya pengusutan, penuntutan, mengadili perkara dan lain-lain”.

artinya bahwa penggunaan KUHP merupakan penjabaran dari asas legalitas yang dianut dalam hukum pidana

(10)

yakni “nullum delictum, nulla poena, sine pravia lege poenali”. Penggunaan KUHP dalam meminta pertanggungjawaban pelaku adalah mengkonstrusikan Pasal 378 Jo.Pasal 372 Jo.Pasal 55 KUHP tentang Penipuan, Penggelapan dan Turut Serta.

Penanggulangan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM secara represif dengan menggunakan kerangka KUHP merupakan tindakan pemberantasan dan sekaligus penumpasan terhadap kejahatan oleh aparat penegak hukum dalam sistem peradilan pidana (crimal justice system). Penegakan hukum penanggulangan kejahatan melalui tindakan represif dimulai dari tindakan pihak kepolisian yang menempatkan Polri sebagai penyidik merupakan salah satu suatu proses dari penegakan hukum pidana dalam sistem peradilan pidana, hal tersebut telah dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bahwa penyidikan yang dilakukan oleh pihak penyidik kepolisian adalah merupakan : “Serangkaian tindakan penyidikan dalam hal dan menurut tata cara yang telah diatur dalam undang-undang untuk itu perbuatan berupa mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti tersebut dapat membuat terang tindak pidana yang terjadi guna menemukan tersangkanya”. Dalam rangka menjerat pelaku kejahatan praktek bisnis berkedok MLM mengharuskan terlebih dahulu penyidik dapat membuktikan adanya unsur kesalahan, pembuktian yang menyatakan bersalah atau tidaknya seseorang tidak dapat dipisahkan dari perbuatan pidana yang

(11)

dilakukannya, kesalahan adalah pertanggungjawaban dalam hukum (schuld is de veranttwoordelijkheid rechtens).17

Kebijakan penanggulangan kejahatan tetap dilakukan secara integral yang berarti segala usaha yang bersifat rasional dilakukan untuk menanggulangi kejahatan harus merupakan satu kesatuan secara terpadu dengan menggunakan sanksi pidana.18 Berkaitan dengan sistem pertanggungjawaban pidana pelaku kejahatan maka prinsip utama yang berlaku adalah harus adanya kesalahan (schuld) pada pelaku yang mempunyai tiga tanda, yakni19

1. “Kemampuan bertanggung jawab dari orang yang melakukan perbuatan (toerekeningsvatbaarheid van de daderi).

:

2. Hubungan batin tertentu dari orang yang melakukan perbuatannya itu dapat berupa kesengajaan atau kealpaan.

3. Tidak terdapat dasar alasan yang menghapuskan pertangungjawaban bagi si pembuat atas perbuatannya itu”.

Penegakan hukum secara represif menempatkan Polri20

17 Azas yang termuat dalam hukum pidana materil yaitu bahwa pidana hanya diberikan kepada orang yang bersalah (azas “culpibiltas” tidak ada pidana tanpa kesalahan). Lihat : Sheldon Glueck, Principles of a Rational Code. Dalam buku : Stanley E. Grupp, Theories of Punishment, Prison and the Public, 1971. P:287-288. Sebagaimana dikutip : Yesmil Anwar & Adang, Pembaruan Hukum Pidana, (Jakarta : Grasindo, 2008), hal. 37-38.

18

Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-konsep Hukum dan Pembangunan, (Bandung: Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan Bekerjasama dengan Alumni, 2002), hal. 13 dan 74.

19 Dwidja Priyatno, Kebijakan Legislatif Tentang Sistem Pertanggungjawaban Pidana

Korporasi di Indonesia, (Bandung: Utomo, 2004), hal. 34.

20 Lihat : Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, menyangkut tentang peran Polri adalah beberapa tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia, yakni : Pertama, memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Kedua, menegakkan hukum. Ketiga, memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat”.

sebagai sub-sistem dari sistem peradilan pidana dalam penanganan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM pada hakekatnya merupakan tujuan dari penyelenggaraan sistem peradilan

(12)

pidana seperti diamanatkan oleh Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana21

1. Bagaimana penentuan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM dalam kegiatan penyelenggara penjualan langsung Indonesia?

adalah untuk mencari kebenaran materiil (substantial truth) dan melindungi Hak-hak Asasi Manusia (protection of human rights). Tujuan ini merupakan tujuan besar dan utama dari proses Sistem Peradilan Pidana. Penyelenggaraan kegiatan mencari kebenaran materiil meskipun bermuara di dalam pemeriksaan sidang Pengadilan, hendaknya proses kegiatan ini dimulai dari pemeriksaan di tingkat penyidikan oleh sub sistem kepolisian, sebab sub kepolisian ini merupakan pintu gerbang yang dapat menentukan suatu dugaan terjadinya tindak pidana itu dapat dipertanggungjawabkan atau tidaknya bagi pelaku yang diperiksa dapat di identifikasikan.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka perlu untuk dilakukan penelitian

dengan judul : “

PERAN POLRI DALAM PENYIDIKAN TINDAK

PIDANA

YANG TERKAIT DENGAN

MULTI LEVEL

MARKETING”.

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka permasalahan (problem) yang dapat dirumuskan untuk dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

21 Pasal 285 UU No. 8 Tahun 1981 selengkapnya berbunyi Undang-undang ini disebut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

(13)

2. Bagaimana sistem pertanggungjawaban pelaku kejahatan praktek bisnis berkedok MLM?

3. Bagaimana peran Polri dalam penyidikankejahatan praktek bisnis berkedok MLM pada kegiatan penyelenggara penjualan langsung Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Berangkat dari rumusan permasalahan yang akan dikaji, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui penentuan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM dalam kegiatan penyelenggara penjualan langsung Indonesia.

2. Untuk mengetahui sistem pertanggungjawaban pelaku kejahatan praktek bisnis berkedok MLM.

3. Untuk mengetahui peran Polri dalam penyidikan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM pada kegiatan penyelenggara penjualan langsung Indonesia.

D. Manfaat Penelitian

Adapun hasil penelitian ini nantinya akan dapat memberikan manfaat kepada Penyidik Polri, Akademisi, Praktisi Hukum dan Masyarakat serta dapat memperkaya literatur di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara. Ada 2 (dua) manfaat yang terdapat dalam penelitian ini, yaitu :

(14)

a. Sebagai bahan masukan untuk penelitian lebih lanjut terhadap peran Polri dalam menangani tindak pidana praktek bisnis berkedok MLM;dan

b. Memperkaya literatur di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara; 2. Secara Praktis

a. Sebagai bahan masukan bagi aparat penegak hukum khususnya Penyidik Polri untuk menangani dan menjerat pelaku tindak pidana praktek bisnis berkedok MLM;

b. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat ingin menginvestasikan uangnya kepada bisnis MLM agar terhindar dari tipu muslihat pengusaha pebisnis berkedok MLM;

c. Sebagai bahan masukan bagi Praktisi Hukum dalam menangani perkara terkait bisnis berkedok MLM yang dapat merugikan masyarakat.

E. Keaslian Penulisan

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan hasil penelitian yang telah dilakukan, penelitian yang berjudul “PERAN POLRI DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA YANG TERKAIT DENGAN MULTI LEVEL MARKETING” khususnya di Lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Program Studi Magister Ilmu Hukum, belum pernah dilakukan. Dengan demikian penelitian ini merupakan hal yang baru dan asli karena sesuai dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional, objektif dan terbuka. Sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan

(15)

kebenarannya secara ilmiah dan terbuka untuk kritikan-kritikan yang sifatnya membangun terkait dengan topik dan permasalahan dlam penelitian ini.

Namun, ada juga beberapa penelitian yang membahas permasalahan yang berbeda, yaitu : “ANALISIS YURIDIS PENEGAKAN HUKUM PIDANA DI INDONESIA DALAM MENANGGULANGI PRAKTEK BISNIS BERKEDOK MULTI LEVEL MARKETING”, ditulis oleh Susfani Kesuma Maharani. Penelitian ini membahas mengenai22

1. Legalitas bisnis MLM di Indonesia serta kaitannya terhadap bisnis berkedok MLM; dan

:

2. Penegakan hukum pidana di Indonesia dalam menanggulangi praktek bisnis berkedok MLM.

Terhadap penelitian tersebut di atas merupakan penelitian yang dibuat dalam bentuk skripsi, dan mengenai permasalahan yang diangkat juga berbeda dengan penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, apabila ada ditemukan plagiat ataupun duplikasi dari penelitian lain di kemudian hari. Selanjutnya, penelitian ini juga dapat disebut asli sesuai dengan asas-asas keilmuan, sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

22 Website Resmi Perpustakaan USU, “USU Institutional Repository”,

(16)

F. Kerangka Teori dan Konsep 1. Kerangka Teori

Pencapaian kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan pembangunan nasional harus di dukung oleh perangkat hukum berupa peraturan perundang-undangan, oleh karenanya pembangunan di bidang hukum yang berorientasi pada pembentukan peraturan perundang-undangan sebagai sarana perwujudan proses penegakan hukum harus ditempatkan sebagai sarana perioritas dan penunjang pembangunan nasional tersebut, salah satu prosesnya adalah menempatkan kriminalisasi kejahatan penipuan dengan menggunakan alat transaksi perbankan dalam menjalankan aksi kejahatan.

Kriminalisasi23

23 Muladi, Pembaharuan Hukum Pidana Yang Berkualitas Indonesia, (Semarang: Makalah dalam rangka HUT FH UNDIP, tanggal 11 Januari 1988), hal. 22-23, yang menyatakan bahwa : ”Syarat kriminalisasi pada umumnya meliputi adanya korban, kriminalisasi bukan semata-mata ditujukan untuk pembalasan, harus berdasarkan asas ratio principle; dan adanya kesepakatan social (public support). Kriminalisasi termasuk salah satu masalah pokok dalam hukum pidana. Menganalisis syarat kriminal tidak mungkin lepas dari konsepsi integral antara kebijakan kriminal dan kebijakan sosial. Berkaitan dengan itu terdapat syarat kriminalisasi yang harus didahului oleh pertimbangan-pertimbangan : Pertama, penggunaan hukum pidana harus memperhatikan tujuan pembangunan nasional. Kedua, penggunaan hukum pidana bertujuan untuk menanggulangi kejahatan dan mengadakan pengugeran terhadap tindakan penanggulangan itu sendiri, demi kesejahteraan dan pengayoman masyarakat. Ketiga, perbuatan yang diusahakan untuk dicegah atau ditanggulangi harus merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki karena perbuatan mendatangkan kerugian bagi masyarakat. Keempat, penggunaan hukum pidana harus pula memperhitungkan prinsip biaya dan hasil (cost and benefit principle)”.

ini harus didasarkan pada perangkat peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tindak pidana penipuan dan penggunaan sarana transaksi perbankan. Perkembangan kriminalitas yang berkaitan dengan bidang ekonomi dewasa ini telah mengalami perkembangan yang cukup mengkhawatirkan, oleh karena itu setidak-tidaknya ada dua unsur kualitas dari hukum yang harus dipenuhi supaya sistem kriminalisasi kejahatan ekonomi berfungsi yakni: Pertama, stabilitas (stability) dimana hukum berpotensi untuk menjaga keseimbangan dan

(17)

mengakomodasi kepentingan-kepentingan yang saling bersaing. Kedua, meramalkan (predictability) yang berfungsi untuk meramalkan akibat dari suatu langkah-langkah yang diambil khususnya penting bagi negeri yang sebagaian rakyatnya untuk pertama kali memasuki hubungan-hubungan ekonomi melampaui lingkungan sosial dan tradisional.24 Kriminalisasi kejahatan ini di bidang ekonomi ini lazim dikategorikan sebagai white collar crime.25

Peran Polri sebagai penyidik pada criminal justice systemterhadap kejahatan praktek bisnis berkedok MLM pada hakikatnya merupakan fungsionalisasi hukum pidana,26

24

Leonard dalam Bismar Nasution, Pengkajian Ulang Hukum Sebagai Landasan Pembangunan Ekonomi, (Medan: Pidato diucapkan pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Ilmu Hukum Ekonomi Pada Fakultas Hukum Univesitas Sumatera Utara di Hadapan Rapat Terbuka Senat Universitas Sumatera Utara di Gelanggang Mahasiswa USU, Sabtu 17 April 2004), hal. 12, selanjutnya dikatakan bahwa diantara kedua unsur itu penting pula diperhatikan aspek keadilan (fairness) seperti perlakuan sama dan standar pola tingkah laku pemerintah yang diperlukan untuk menjaga mekanisme pasar dan menjegah birokrasi yang berlebihan.

25 Suherland dalam Bismar Nasution, Rezim Anti Money Laundering Untuk Memberantas

Kejahatan Di Bidang Kehutanan, (Medan: Disampaikan Pada Seminar, Pemberantasan Kejahatan Hutan Melalui Penerapan Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang, yang diselenggarakan atas kerjasama Program Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dengan Pusat Pelapor dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), tanggal 6 Mei 2004), yang menyatakan bahwa : Konsep white collar crime adalah suatu “crime committed by a person respectability and high school status in the course of his occupation”.

26 Barda Nawawi Arief, Kebijakan Kriminal, Makalah disampaikan pada Seminar Krimonologi VI, Semarang, Tanggal 16-18 September 1991, hal. 2, bahwa Salah satu upaya menanggulangi kejahatan dengan menggunakan sarana hukum termasuk hukum pidana merupakan bidang kebijakan penegakan hukum yang bertujuan untuk pencapaian kesejahteraan masyarakat. Upaya penanggulangan kejahatan pada hakekatnya merupakan bagian integral dari upaya perlindungan masyarakat (social wefare). Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa tujuan utama dari politik kriminal adalah perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

artinya fungsionalisasi memegang peranan penting dalam suatu penegakan hukum, Barda Nawawi Arief menyatakan bahwa fungsionalisasi hukum pidana dapat berfungsi, beroperasi atau bekerja dan terwujud secara nyata. Fungsionalisasi hukum pidana identik dengan operasionalisasi atau konkretitasi hukum pidana, yang

(18)

hakikatnya sama dengan penegakan hukum.27 Fungsionalisasi hukum pidana dapat diartikan sebagai upaya untuk membuat hukum pidana dapat berfungsi, beroperasi atau bekerja dan terwujud secara nyata. Fungsionalisasi hukum pidana identik dengan operasionalisasi atau konkretisasi hukum pidana, yang hakikatnya sama dengan penegakan hukum. Dalam fungsionalisasi ini terdapat tiga tahapan kebijakan yaitu tahap kebijakan formulatif sebagai suatu tahap perumusan hukum pidana oleh pihak pembuat perundang-undangan. tahap kebijakan aplikatif sebagai tahap penerapan hukum pidana oleh penegak hukum, tahap kebijakan administratif, yaitu merupakan tahap pelaksanaan oleh aparat eksekusi hukum.28

Hakekat dari fungsi kepolisian terlihat bahwa Polri mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu, preemtif, preventif dan represif. Dimana yang dimaksud pre-emtif adalah mencari dan menemukan akar permasalahan yang ada di masyarakat yang bersifat lintas sektoral (etnis, sosial, budaya, politik), preventif adalah tindakan pencegahan yang berorientasi kepada hasil akhir berupa kegiatan deteksi dini (early warning) sebagai landasan pengambilan kebijakan langkah antisipasi, sedangkan Hakekat fungsi kepolisian dalam suatu negara yang berdasar hukum seperti Indonesia maka Polri adalah aparatur penegak hukum sesuai Pasal 2 UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang berbunyi: “Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerinatahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, penganyoman, dan pelayanan kepada masyarakat”.

27 Barda Nawawi Arief, Teori-teori Kebijakan Pidana, (Bandung: Alumni, 1994), hal. 157. 28 Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum

(19)

represif adalah suatu bentuk kegiatan penegakan hukum. Dalam hal fungsi represif penegakan hukum yang dilaksanakan oleh aparat Polri terhadap pelaku kejahatan.

Masalah pokok daripada penegakan hukum pada umumnya dan penegakan hukum kejahatan praktek bisnis berkedok MLM untuk mengukur profesionalisme penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum dikatakan Soerjono Soekanto terdiri dari29

1. “Faktor hukumnya sendiri yang dalam hal ini dibatasi pada Undang-Undang saja.

:

2. Faktor penegakan hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.

3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.

4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.

5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan masyarakat”.

Kelima faktor tersebut di atas saling berkaitan dengan eratnya, oleh karena merupakan esensi dari penegakan hukum, serta juga merupakan tolok ukur daripada efektivitas penegakan hukum yang terpadu. hubungan kerja sama tersebut di atas akan dapat mendekatkan pendirian masing-masing instansi penegak hukum dan akan memberikan citra positif untuk semua pihak khususnya sinkronisasi antara sub-sub sistem yang satu terhadap sub sistem peradilan pidana lainnya, sebab keberhasilan satu pihak dalam penyelenggaraan peradilan pidana mempunyai arti keberhasilan semua pihak.

29

(20)

Untuk menjawab seluruh permasalahan pada rumusan masalah di atas digunakanlah teori pertanggungjawaban pidana. Pertanggungjawaban pidana dalam bahasa asing disebut sebagai “toereken-baarheid”, “criminal responsibility”, “criminal liability”, pertanggungjawaban pidana disini untuk menentukan apakah seseorang tersebut dapat dipertanggungjawabkan atasnya pidana atau tidak terhadap tindakan yang dilakukannya itu.30

Pertanggungjawaban atau yang dikenal dengan konsep “liability” dalam segi falsafah hukum, seorang filosof besar abad ke-20, Roscoe Pound, menyatakan bahwa: “I … Use simple word ‘liability’ for the situation whereby one may exact legally and other is legally subjeced to the exaction”.31

Dikaitkan dengan penelitian ini, maka untuk menjawab rumusan masalah pada permasalahan tetang penentuan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM dalam kegiatan penyelenggara penjualan langsung di Indonesia adalah bagi pelaku bisnis berkedok MLM harus bertanggungjawab terhadap perbuatannya yang telah merugikan orang lain. Akan tetapi, harus dibuktikan terdahulu apakah perbuatan

Pertanggungjawaban pidana diartikan Pound adalah sebagai suatu kewajiban untuk membayar pembalasan yang akan diterima pelaku dari seseorang yang telah dirugikan, menurutnya juga bahwa pertanggungjawaban yang dilakukan tersebut tidak hanya menyangkut masalah hukum semata akan tetapi menyangkut pula masalah nilai-nilai moral ataupun kesusilaan yang ada dalam suatu masyarakat.

30 SR. Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana Indonesia dan Penerapannya, Cet-IV, (Jakarta : Alumni Ahaem-Peteheam, 1996), hal. 245.

31 Roscoe Pound, Introduction to The Philosophy of Law, dalam Romli Atmasasmita,

(21)

pelaku bisnis tersebut menyebabkan orang lain merugi. Kerugian dalam bentuk apakah dalam bentuk materil atau immateril.

Dalam konsep KUHP tahun 1982 – 1983, pada Pasal 27 menyatakan bahwa : “Pertanggungjawaban pidana adalah diteruskannya celaan yang objektif ada pada tindak pidana berdasarkan hukum yang berlaku, secara objektif kepada pembuat yang memenuhi syarat-syarat undang-undang untuk dapat dikenai pidana karena perbuatannya”.32

Menurut Roeslan Saleh, dalam pengertian perbuatan pidana tidak termasuk pertanggungjawaban. Perbuatan pidana menurut Roeslan Saleh, menyatakan bahwa : “Orang yang melakukan perbuatan pidana dan memang mempunyai kesalahan merupakan dasar adanya pertanggungjawaban pidana”. Asas yang tidak tertulis mengatakan “Tidak ada pidana jika tidak ada kesalahan”, merupakan dasar dari pada dipidananya si pembuat/pelaku.33

32 Djoko Prakoso, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Edisi Pertama, (Yogjakarta : Liberty, 1987), hal. 75.

33

Ibid.

Oleh karena itu, untuk mengetahui seseorang pelaku bisnis berkedok MLM bersalah atau tidak maka harus diuji unsur kesalahannya. Apakah terpenuhi unsur pasal yang dipersangkakan atau tidak. Dalam kaitannya dengan praktek bisnis berkedok MLM, maka ketentuan hukum yang dapat dipersangkakan kepada pelaku kejahatan tersebut adalah Pasal 372 Jo. 379 KUHP yaitu Penipuan dan atau Penggelapan.

(22)

Seseorang melakukan kesalahan, menurut Prodjohamidjojo, jika pada waktu melakukan delict, dilihat dari segi masyarakat patut dicela. Dengan demikian, menurut seseorang mendapatkan pidana tergantung pada dua hal, yaitu34

1. “Harus ada perbuatan yang bertentangan dengan hukum, atau dengan kata lain, harus ada unsur melawan hukum, jadi harus ada unsur objektif; dan

:

2. Terhadap pelakunya ada unsur kesalahan dalam bentuk kesengajaan dan atau kealpaan, sehingga perbuatan yang melawan hukum tersebut dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, jadi ada unsur subjektif”.

Perbuatan yang bertentangan dengan hukum dalam kaitannya dengan praktek bisnis berkedok MLM adalah apakah seorang pelaku bisnis berkedok MLM tersebut telah memenuhi unsur pasal yang persangkakan kepadanya atau tidak. Sebagai contoh: Sebuah MLM yang memberikan janji-janji palsu kepada nasabah-nasabahnya akan keuntungan yang menggiurkan, maka terhadap pelaku bisnis berkedok MLM tersebut dapat dipersangkakan telah melanggar ketentuan Pasal 378 KUHP yaitu Penipuan. Selanjutnya apabila perbuatannya sudah dapat dikualifisir merupakan perbuatan melawan hukum, maka unsur kesalahan selanjutnya yang harus dibuktikan adalah adanya unsur kesalahan kepada pelaku praktek bisnis berkedok MLM tersebut.

Berkaitan dengan sistem pertanggungjawaban pidana pelaku kejahatan maka prinsip utama yang berlaku adalah harus adanya kesalahan (schuld) pada pelaku yang mempunyai tiga tanda, yakni35

1. “Kemampuan bertanggung jawab dari orang yang melakukan perbuatan (toerekeningsvatbaarheid van de daderi).

:

34 Martiman Prodjohamidjojo, Memahami Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Jakarta : Pradnya Paramita, 1997), hal. 31.

35

(23)

2. Hubungan batin tertentu dari orang yang melakukan perbuatannya itu dapat berupa kesengajaan atau kealpaan.

3. Tidak terdapat dasar alasan yang menghapuskan pertangungjawaban bagi si pembuat atas perbuatannya itu”.

Telah dimaklumi bahwa perbuatan pidana memiliki konsekuensi pertanggungjawaban serta penjatuhan pidana, maka setidaknya ada 2 (dua) alasan mengenai hakikat kejahatan, yaitu36

1. “Pendekatan yang melihat kejahatan sebagai dosa atau perbuatan yang tidak senonoh yang dilakukan manusia lainnya;

:

2. Pendekatan yang melihat kejahatan sebagai perwujudan dari sikap dan pribadi pelaku yang tidak normal sehingga ia berbuat jahat”.

Kedua pendekatan ini berkembang sedemikian rupa bahkan diyakini mewakili pandangan-pandangan yang ada seputar pidana dan pemidanaan. Dari sinilah kemudian berbagai perbuatan pidana dapat dilihat sebagai perbuatan yang tidak muncul begitu saja, melainkan adalah hasil dari refleksi dan kesadaran manusia hanya saja perbuatan tersebut telah menimbulkan kegoncangan sosial di masyarakat.

Di dalam hal kemampuan bertanggung jawab bila dilihat dari keadaan bathin orang yang melakukan perbuatan pidana merupakan masalah kemampuan bertanggungjawab dan menjadi dasar yang penting untuk menentukan adanya kesalahan, yang mana keadaan jiwa orang yang melakukan perbuatan pidana haruslah sedemikian rupa sehingga dapat dikatakan normal, sebab karena orang yang normal,

36 Andi Matalatta, “Santunan Bagi Korban” dalam JE. Sahetapy (Ed.), Victimology Sebuah

(24)

sehat inilah yang dapat mengatur tingkah lakunya sesuai dengan ukuran-ukuran yang dianggap baik oleh masyarakat.37

Mengenai kemampuan bertanggungjawab sebenarnya tidak secara terperinci ditegaskan oleh Pasal 44 KUHP. Hanya ditemukan beberapa pandangan para sarjana, misalnya Van Hammel yang mengatakan bahwa

Sementara bagi orang yang jiwanya tidak sehat dan normal, maka ukuran-ukuran tersebut tidak berlaku baginya tidak ada gunanya untuk diadakan pertanggungjawaban, sebagaimana ditegaskan dalam ketentuan Bab III Pasal 4 KUHP, yang menyatakan bahwa :

“1. Barang siapa mengerjakan sesuatu perbuatan, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya karena kurang sempurna akalnya atau karena sakit berubah akal tidak boleh dihukum.

2. Jika nyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya karena kurang sempurna akalnya karena sakit berubah akal maka hakim boleh memerintahkan menepatkan di rumah sakit gila selama-lamanya satu tahun untuk diperiksa.

3. Yang ditemukannya dalam ayat di atas ini, hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri”.

38

37 I Gusti Bagus Sutrisna, “Peranan Keterangan Ahli Dalam Perkara Pidana (Tinjauan Terhadap Pasal 44 KUHP)”, dalam Andi Hamzah (Ed.), Bunga Rampai Hukum Pidana Dan Acara Pidana, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1986), hal. 78.

38

I Gusti Bagus Sutrisna, dalam Andi Hamzah, Op.cit., hal. 79.

:

“Orang yang mampu bertanggungjawab harus memenuhi setidak-tidaknya 3 (tiga) syarat, yaitu :

1. Dapat menginsafi (mengerti) makna perbuatannya dalam alam kejahatan;

2. Dapat menginsafi bahwa perbuatannya dipandang tidak patut dalam pergaulan masyarakat;

3. Mampu untuk menentukan niat atau kehendaknya terhadap perbuatan tadi”.

(25)

Sementara itu, secara lebih tegas, Simmons mengatakan bahwa mampu bertanggungjawab adalah mampu menginsafi sifat melawan hukumnya perbuatan dan sesuai dengan keinsafan itu menentukan kehendaknya.39 Adapun menurut Sutrisna, untuk adanya kemampuan bertanggungjawab maka harus ada 2 (dua) unsur, yaitu40

Menurut Jonkers, ketidakmampuan bertanggungjawab dengan alasan masih muda usia tidak bisa didasarkan pada Pasal 44 KUHP, yang disebutkan tidak mampu bertanggungjawab adalah alasan penghapusan pidana yang umum yang dapat disalurkan dari alasan-alasan khusus seperti tersebut dalam Pasal 44, 48, 49, 50 dan 51. Jadi, bagi Jonkers, orang yang tidak mampu bertanggungjawab itu bukan saja : “1. Kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan

buruk, yang sesuai dengan hukum dan yang melawan hukum;

2. Kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsafan tentang baik dan buruknya perbuatan tadi”.

Dengan kata lain, bahwa kemampuan bertanggungjawab berkaitan dengan 2 (dua) faktor terpenting, yaitu :

1. Faktor akal untuk membedakan antara perbuatan yang diperbolehkan dan yang dilarang atau melanggar hukum; dan

2. Faktor perasaan atau kehendak yang menentukan kehendaknya dengan menyesuaikan tingkah lakunya dengan penuh kesadaran.

39Ibid. 40

(26)

karena pertumbuhan jiwanya yang cacat atau karena gangguan penyakit, tetapi juga karena umurnya masih muda, terkena hipnotis dan sebagainya.41

2. Kerangka Konsep

Guna menghindari kesalahpahaman atas berbagai istilah yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka berikut akan dijelaskan maksud dari istilah-istilah tersebut, sebagai berikut:

1. Multi Level Marketing (MLM) merupakan bisnis yang bergerak di sektor perdagangan barang dan/atau jasa sebagai strategi bisnisnya. Adapun sistem MLM itu sendiri adalah metode yang digunakan sebuah induk perusahaan dalam memasarkan produknya kepada konsumen melalui suatu jaringan orang-orang bisnis yang independen.42

2. Praktek bisnis berkedok MLM dapat dilihat dari cara maupun modus operandinya,yaitu43

a. “Menjanjikan untung besar dalam waktu singkat; :

b. Penekanan utama pada perekrutan, bukan pada penjualan; c. Bonus dibayarkan apabila ada perekrutan;

d. Bila ada barang hanya sebagai kedok, kualitas barang tidak sebanding dengan harga barang tersebut;.

e. Ada dua indikasi usaha, akan ambruk yaitu bila menunda pembayaran bonus dan menaikkan biaya pendaftaran”.

41

Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana Dua Pengertian Dalam Hukum Pidana, (Jakarta : Aksara Baru, 1983), hal. 83.

42 David Roller, Op.cit., hal. 3.

43 Berita Acara Pemeriksaan Saksi Wakil Ketua Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI), Verheyen Koenraad Martin I.M.J, dalam Laporan Polisi No. LP/1268/V/201/SU/Resta Medan.

(27)

3. Penanggulangan adalah upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur penal yang lebih menitiberatkan pada sifat represif (penindakan / pemberantasan / penumpasan) sesudah kejahatan terjadi, sedangkan jalur non-penal lebih menitiberatkan sifat preventif (pencegahan / penangkalan / pengendalian) sebelum kejahatan terjadi.44 Penanggulangan terkait dengan fungsi kepolisian terlihat bahwa Polri mempunyai 3 (tiga) fungsi utama, yaitu : preemtif, preventif dan represif. Dimana yang dimaksud pre-emtif adalah mencari dan menemukan akar permasalahan yang ada di masyarakat yang bersifat lintas sektoral (etnis, sosial, budaya, politik), preventif adalah tindakan pencegahan yang berorientasi kepada hasil akhir berupa kegiatan deteksi dini (early warning) sebagai landasan pengambilan kebijakan langkah antisipasi, sedangkan represif adalah suatu bentuk kegiatan penegakan hukum. Dalam hal fungsi represif penegakan hukum yang dilaksanakan oleh aparat Polri terhadap pelaku kejahatan. Secara garis besar kebijakan kriminal dapat ditempuh melalui 2 (dua) cara, yaitu45

a. “Upaya Penal, merupakan upaya penanggulangan kejahatan yang lebih menitikberatkan pada upaya-upaya yang sifatnya represive (penindasan/pemberantasan/penumpasan) dengan menggunakan sarana penal (hukum penal);

:

b. Upaya Non-Penal, merupakan upaya penanggulangan kejahatan yang lebih menitikberatkan pada upaya-upaya yang sifatnya preventif (pencegahan/penangkalan/pengendalian) sebelum kejahatan tersebut terjadi. Sasaran utama dari kejahatan ini adalah menangani faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan”.

44 Barda Nawawi Arief, Upaya Non Penal Dalam Kebijakan Penanggulangan Kejahatan, Makalah disampaikan pada Seminar Krimonologi VI, Semarang, Tanggal 16-18 September 1991, hal. 2.

45

(28)

4. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.46

5. Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.47

6. Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melanggar larangan tersebut, selanjutnya beliau menyatakan menurut wujudnya atau sifatnya, tindak pidana itu adalah perbuatan-perbuatan yang melawan hukum dan juga merugikan masyarakat dalam arti bertentangan dengan atau menghambat akan terlaksananya tata dalam pergaulan masyarakat yang dianggap baik dan adil. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu perbuatan akan menjadi suatu tindak pidana, apabila perbuatan itu48

a. “Melawan hukum;

:

b. Merugikan masyarakat; c. Dilarang oleh aturan pidana;

d. Pelakunya diancam dengan pidana”.

46 Pasal 1 angka 2 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. 47 Pasal 1 angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. 48

(29)

7. Kejahatan adalah perbuatan jahat (strafrechtelijk misdaadsbegrip) sebagaimana terwujud in abstracto dalam peraturan-peraturan pidana. Perbuatan yang dapat dipidana dibagi menjadi49

a. “Perbuatan yang dilarang oleh undang-undang; dan :

b. Orang yang melanggar larangan itu”.

8. Polri adalah segala hal ikhwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan, fungsi kepolisian dimaksud sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.50

G. Metode Penelitian

Metode penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif.51

49 Sudarto, Op.cit., hal. 38

50 Pasal 1 angka (1) dan Pasal 2 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi konsep dan

asas-51 Penelitian hukum normatif (yuridis normatif) adalah metode penelitian hukum yang dilakukan dengan meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka. Mengenai istilah penelitian hukum normatif, tidak terdapat keseragaman di antara para ahli hukum. Diantara pendapat beberapa ahli hukum dimaksud, yakni : Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, menyebutkan dengan istilah metode penelitian hukum normatif atau metode penelitian hukum kepustakaan; Soetandyo Wignjosoebroto, menyebutkan dengan istilah metode penelitian hukum doktrinal; Sunaryati Hartono, menyebutkan dengan istilah metode penelitian hukum normatif; dan Ronny Hanitjo Soemitro, menyebutkan dengan istilah metode penelitian hukum yang normatif atau metode penelitian hukum yang doktrinal. Sumber : Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta : Rajawali Pers, 2001), hal. 13-14; Soetandyo Wignjosoebroto, Ifdhal Kasim et.al. (Editor), Hukum : Paradigma Metode dan Dinamika Masalahnya, (Jakarta : Elsam dan Huma, 2002), hal. 147; C.F.G. Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad

(30)

asas serta prinsip-prinsip hukum untuk mengatur pemidanaan bagi pelaku kejahatan dalam praktek bisnis berkedok MLM.

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif analisis. Penelitian yang bersifat deskriptif analisis merupakan suatu penelitian yang menggambarkan, menelaah, menjelaskan, dan menganalisis suatu peraturan hukum.52Penelitian ini mempergunakan metode yuridis normatif, dengan pendekatan yang bersifat kualitatif. Metode penelitian yuridis normatif adalah metode penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan.53 Dalam penelitian yuridis normatif yang dipergunakan adalah merujuk pada sumber bahan hukum, yakni penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam berbagai perangkat hukum.

Sifat penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan dengan tepat, akurat, dan sistematis terkait gejala-gejala hukum mengenai penanggulangan kejahatan dalam praktek bisnis berkedok MLM yang merugikan masyarakat.

ke-20, (Bandung : Alumni, 1994), hal. 139; Ronny Hanitjo Soemitro, Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri, Cetakan ke-V, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1994), hal. 10.

52 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum,(Jakarta: UI Press,1986), hal.63.

53 Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hal.14.

(31)

2. Sumber Data

Adapun data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) bertujuan untuk mendapatkan konsep-konsep, teori-teori dan informasi-informasi serta pemikiran konseptual dari peneliti pendahulu baik berupa peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya. Data sekunder Penelitian yang digunakan terdiri dari54

1) Bahan hukum primer yakni bahan hukum yang terdiri dari aturan hukum yang terdapat pada berbagai perangkat hukum atau peraturan perundang-undangan berkaitan dengan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM dan peranan Polri, yaitu :

:

a. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht); b. Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang

Hukum Acara Pidana;

c. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

2) Bahan hukum sekunder, digunakan untuk membantu memahami berbagai konsep hukum dalam bahan hukum primer, analisis bahan hukum primer dibantu oleh bahan hukum sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber baik jurnal, buku-buku, berita, dan ulasan media, dan sumber-sumber lain yang relevan.

54 Jhonny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya: Bayumedia, 2006), hal.192.

(32)

3) Bahan hukum tertier diperlukan dipergunakan untuk berbagai hal dalam hal penjelasan makna-makna kata dari bahan hukum sekunder dan bahan hukum primer, khususnya kamus-kamus hukum dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kamus hukum yang digunakan adalah Black’s Law Dictionary.

3. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitan tesis ini menggunakan teknik studi dokumen, artinya data yang diperoleh melalui penelurusan kepustakaan berupa data sekunder ditabulasi yang kemudian disistematisasikan dengan memilih perangkat-perangkat hukum yang relevan dengan objek penelitian. Selain itu, untuk melengkapi data pustaka, juga dilakukan analisis terhadap beberapa penanganan kasus praktek illegal MLM yang dilakukan oleh jajaran Polresta Medan dan juga data dari pelaku praktek bisnis berkedok MLM serta dari korban kejahatan tersebut. Dengan kerangka teoritis merupakan alat untuk menganalisis data yang diperoleh baik berupa bahan hukum sekunder, pendapat-pendapat atau tulisan para ahli atau pihak lain berupa informasi baik dalam bentuk formal maupun melalui naskah resmi yang dijadikan sebagai landasan teoritis.

Wawancara juga dilakukan sebagai alat pengumpulan data penunjang selain bahan hukum yang dikumpulkan melalui perpustakaan. Wawancara dilakukan dengan sejumlah informan yang dipandang relevan dengan menggunakan metode wawancara

(33)

mendalam (indepth interview).55

Seluruh data yang sudah diperoleh dan dikumpulkan selanjutnya akan ditelaah dan dianalisis. Analisis untuk data kualitatif dilakukan dengan cara pemilihan pasal-pasal yang berisi kaidah-kaidah hukum yang mengatur tentang kejahatan praktek bisnis berkedok MLM serta menyalahgunakan perangkat hukum yang telah tersedia, kemudian membuat sistematikan dari pasal-pasal tersebut sehingga akan menghasilkan klasifikasi tertentu sesuai dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini. Data yang dianalisis secara kualitatif akan dikemukakan dalam bentuk uraian yang sistematis dengan menjelaskan hubungan antara berbagai jenis data, selanjutnya semua data diseleksi dan diolah kemudian dianalisis secara deskriptif sehingga selain menggambarkan dan mengungkapkan jawaban terhadap

Adapun para informan yang diwawancarai dalam penelitian ini, yaitu :

1. Penyidik Polri pada Satuan Reskrim Polresta Medan 2. Pihak Korban

3. Pelaku Usaha MLM

4. Analisa Data

55Indepth Interview atau wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara mendalam adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan. Seperti yang dikemukakan oleh Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta : Kencana, 2009), hal. 108.

(34)

permasalahan yang dikemukakan diharapkan akan memberikan solusi atas permasalahan dalam penelitian ini.56

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif – induktif yaitu dilakukan dengan teori yang digunakan dijadikan sebagai titik tolak untuk melakukan penelitian. Deduktif artinya menggunakan teori sebagai alat, ukuran dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga secara tidak langsung akan menggunakan teori sebagai pisau analisis dalam melihat masalah dalam peran polri dalam penanggulangan kejahatan praktek bisnis berkedok MLM. Teorisasi induktif adalah menggunakan data sebagai awal pijakan melakukan penelitian, bahkan dalam format induktif tidak mengenal teorisasi sama sekali artinya teori dan teorisasi bukan hal yang penting untuk dilakukan. Maka deduktif – induktif adalah penarikan kesimpulan didasarkan pada teori yang digunakan pada awal penelitian dan data-data yang didapat sebagai tunjangan pembuktian teori tersebut apakah57

1. “Hasil-hasil penelitian ternyata mendukung teori tersebut sehingga hasil penelitian dapat memperkuat teori yang ada;

:

2. Apakah teori dalam posisi dapat dikritik karena telah mengalami perubahan-perubahan disebabkan karena waktu yang berbeda, lingkungan yang berbeda, atau fenomena yang telah berubah, untuk itu perlu dikritik dan direvisi teori yang digunakan tadi;

3. Apakah membantah teori yang digunakan untuk penelitian berdasarkan hasil penelitian, maka semua aspek teori tidak dapat dipertahankan karena waktu,

56 Dilihat dari tujuan analisis, maka ada 2 (dua) hal yang ingin dicapai dalam analisis data kualitatif, yaitu : 1) Menganalisis proses berlangsungnya suatu fenomena hukum dan memperoleh suatu gambaran yang tuntas terhadap proses tersebut; dan 2) Menganalisis makna yang ada di balik informasi, data, dan proses suatu fenomena. Sumber : Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Op.cit., hal. 153.

57

(35)

lingkungan, dan fenomena yang berbeda, dengan demikian teori tidak dapat dipertahankan atau direvisi lagi, karena itu teori tersebut harus ditolak kebenarannya dengan menggunakan teori baru”.

H. Sistematika Penulisan

Sebagai karya ilmiah, penelitian ini memiliki sistematika yang teratur, terperinci di dalam penulisannya agar dimengerti dan dipahami maksud dan tujuannya. Sistematika penulisan dalam penelitian ini mengikuti dengan apa yang telah ditetapkan oleh Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Tulisan ini terdiri dari 5 (lima) bab yang akan diperinci lagi dalam sub bab, adapun kelima bab itu terdiri dari :

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis menguraikan tentang latar belakang mengapa judul penelitian tersebut diangkat dengan materi yang ditelilti dalam bentuk tesis, permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan, dilanjutkan dengan kerangka teori dan konsep, metode penelitian, keaslian penelitian serta sistematika penulisan penelitian ini.

BAB II : PENENTUAN KEJAHATAN PRAKTEK BISNIS

BERKEDOK MULTI LEVEL MARKETING (MLM) DALAM

KEGIATAN PENYELENGGARA PENJUALAN LANGSUNG INDONESIA

(36)

Bab ini berisikan uraian mengenai bagaimana kualifikasi kejahatan praktek bisnis berkedok MLM, dan bagaimana pula menentukan suatu MLM tersebut hanya kedok belaka dalam kegiatan penyelengara penjualan langsung di Indonesia.

BABIII : SISTEM PERTANGGUNGJAWABAN PELAKU

KEJAHATAN PRAKTEK BISNIS BERKEDOK MLM

Pada bab ini diuraikan secara teoritis mengenai sistem pertanggungjawaban pelaku kejahatan praktek bisnis berkedok MLM dan bagaimana kualifikasi pelaku kejahatan tersebut.

BAB IV : PERAN POLRI DALAM PENYIDIKAN KEJAHATAN

PRAKTEK BISNIS BERKEDOK MLM PADA KEGIATAN PENYELENGGARAAN PENJUALAN LANGSUNG DI INDONESIA

Bab ini merupakan pembahasan dari permasalahan yang ada dalam penelitian ini, khususnya permasalahan nomor 3 (tiga), yaitu tentang peran Polri selaku Penyidik dalam melakukan penyidikan terhadap kejahatan praktek bisnis berkedok MLM.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini adalah bab terakhir yang merupakan kesimpulan dan saran dari penulisan tesis ini. Dimana dalam bab ini ditemukan jawaban atas permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :
Outline : Metode Penelitian