• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETERPADUAN STRATEGI PENGEMBANGAN KABUPATEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KETERPADUAN STRATEGI PENGEMBANGAN KABUPATEN"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

|

1

BAB V

KETERPADUAN STRATEGI PENGEMBANGAN KABUPATEN

5.1 SKENARIO PENGEMBANGAN WILAYAH

KABUPATEN JEMBER BERDASARKAN RTRW

5.1.1 Kondisi Struktur dan Pola Ruang

Berdasarkan kondisi dan potensi masing-masing wilayah dan sekaligus telah ditentukannya hirarki seluruh kabupaten/kota tersebut maka pada akhirnya dapat dibuat rasionalisasi SWP dan pusatnya beserta prioritas pengembangan dan fungsi kawasan. Lokasi Kabupaten Jember termasuk dalam SWP Jember dan sekitarnya, meliputi: Jember, Bondowoso dan Situbondo, dengan Pusat di Jember.

Fungsi kawasan adalah :

 Kawasan pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,

peternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan, pendidikan, kesehatan dan pariwisata

Struktur pusat permukiman perkotaan :

Perkembangan struktur ruang wilayah Jember dipengaruhi oleh kebijakan pengembangan infrastruktur dan kegiatan fungsional lainnya yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan. Pengembangan permukiman perkotaan Jember adalah sebagai berikut :

a. Pengembangan permukiman perkotaan di wilayah selatan

Pengembangan perkotaan yang relatif tidak terlalu besar berupa permukiman dan perdagangan skala lokal terjadi di Kecamatan Puger, Tanggul dan Kencong. Pengembangan tersebut dipengaruhi oleh adanya pengembangan Jalan Lintas Selatan (JLS) dan jalan sirip lintas selatan. Khusus untuk wilayah

(2)

BAB V

|

2

Puger selain disebabkan karena faktor tersebut diatas, juga disebabkan oleh adanya pengembangan pelabuhan nelayan nusantara.

b. Pengembangan pusat permukiman di wilayah utara

Pengembangan yang terjadi disebelah utara disebabkan karena adanya kegiatan yang cukup potensial mempengaruhi perkembangan wilayah Jember, meliputi:

 Pengembangan Bandar Udara di Kecamatan Balungsari

 Perkembangan perkotaan yang cenderung terjadi berupa permukiman serta perdagangan dan jasa penunjang kegiatan pengembangan bandara. Ukuran perkembangan yang terjadi relatif tidak terlalu besar karena merupakan bandara perintis dengan skala penerbangan yang terbatas.

 Pengembangan perkebunan tembakau di Jelbuk, Sukowono serta

Sumberjambe

 Perkembangan perkotaan cenderung berupa permukiman pedesaan yang bersifat mengelompok.

Pengembangan sistem kegiatan

Skala kota dan pelayanan Kota Jember sebagai pusat SWP dengan Kota Situbondo dan Bondowoso sebagai sub pusatnya diarahkan agar masing-masing kota berkembang secara seimbang.

Wilayah Kabupaten Jember diarahkan sebagai kegiatan perkebunan, konservasi, perdagangan, pariwisata, pertanian, permukiman dan bandar udara Perintis. Sedangkan wilayah Kabupaten Situbondo dan Bondowoso terutama diarahkan pengembangan kegiatan pertanian, perkebunan, pariwisata, perikanan dan konservasi.

Perkembangan Kota Situbondo dan Bondowoso beserta pelayanan dan infrastrukturnya diharapkan dapat mendukung kegiatan perekonomian wilayah sekitarnya. Keberadaan jalan rencana Tol di Utara dan jalur lintas selatan diharapkan dapat mendorong pengembangan kegiatan SWP Jember. Secara skematis konsep pengembangan fungsi kegiatan Jember disajikan pada gambar 5.1 dan diagram 5.2.

(3)

BAB V

|

3

GAMBAR 5.2 KONSEPSI RENCANA STRUKTUR KEGIATAN SWP JEMBER DAN

SEKITARNYA

(4)

BAB V

|

4

5.1.2 Rencana Struktur dan Pola Ruang

5.1.2.1 Rencana pengembangan fungsi wilayah Kabupaten

Perwilayahan Jember direncanakan dalam Wilayah Pengembangan (WP) dengan kedalaman penataan struktur pusat permukiman perkotaan, merupakan upaya untuk mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan yang berkembang cenderung terus membesar dan berpotensi mendorong perkembangan mega urban di pusat kota, menyeimbangkan perkembangan perkotaan lain di wilayah Jember dan mengendalikan perkembangan kawasan terbangun di perkotaan sesuai daya dukung dan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Penataan Satuan Wilayah Pengembangan dengan kedalaman hingga penataan struktur pusat permukiman perkotaan, khususnya perkotaan di WP selain WP Jember Tengah, adalah upaya untuk mendorong perkembangan perkotaan yang serasi dengan kawasan perdesaan secara optimal dan berkelanjutan.

Pengembangan fungsi kota-kota di Kabupaten Jember pada dasarnya bergantung pada hirarki kota tersebut, dilihat dari ukuran jumlah penduduknya (hirarki penduduk), maupun hirarki fungsionalnya. Dalam kaitan ini kota-kota yang dikembangkan secara umum mempunyai fungsi utama sebagai berikut: 1. Sebagai pusat kegiatan yang membentuk suatu wilayah pelayanan tertentu. 2. Sebagai simpul jasa perhubungan, yang mencakup kegiatan pengumpulan,

produksi maupun pemasaran.

3. Sebagai tempat fungsi tertentu yang didasarkan pada suatu kegiatan dominan. Selain itu, pengembangan fungsi kota-kota perlu pula mempertimbangkan adanya sektor-sektor strategis pada kota dan wilayah pelayanannya. Sektor-sektor yang dipandang strategis pengembangannya telah diidentifikasi dan kepentingan penataan ruangnya telah dirumuskan dalam sub bab terdahulu.

Didalam pengembangan fungsi dan peranan Kabupaten Jember mencakup Bidang-Bidang yang strategis dan berkaitan dengan kawasan yang strategis. Hal ini digunakan untuk menentukan penataan ruang wilayah Kabupaten Jember.

(5)

BAB V

|

5

Pengembangan fungsi kota-kota di Kabupaten Jember tergantung pada hirarki kota-kota tersebut yang berdasarkan hirarki jumlah penduduk dan hirarki fungsional serta potensi sektoral.

Rencana pemantapan struktur kota-kota dalam jangka panjang, ditentukan oleh proporsi jumlah penduduk di masa yang akan datang, dimana hirarki ukuran jumlah penduduk mempunyai bobot lebih tinggi dari hirarki fungsional kota-kota tersebut. Dengan demikian kota-kota yang hirarki jumlah penduduknya lebih tinggi dari hirarki fungsional akan mempunyai urutan lebih tinggi, karena semakin besar, jumlah penduduk akan diimbangi oleh kelengkapan fasilitas kabupaten. Adapun rencana pengembangan fungsi dan peranan Kabupaten Jember secara garis besar adalah sebagai berikut :

1. Sebagai pusat kegiatan yang membentuk suatu wilayah pelayanan tertentu (regional beberapa kecamatan atau kecamatan) sesuai dengan struktur kabupaten.

2. Sebagai simpul jasa distribusi yang mencakup kegiatan perhubungan dan komunikasi, pemasaran dan perdagangan (sistem koleksi dan distribusi). 3. Sebagai tempat fungsi tertentu berdasarkan kegiatan intensif yaitu kegiatan

sekunder dan kegiatan tersier.

4. Pemanfaatan fungsi kabupaten yang mendukung pengembangan kegiatan yang ada di wilayah hinterlandnya.

Selain ditinjau dari jumlah penduduk, pengembangan fungsi dan peranan masing-masing wilayah kecamatan di Kabupaten Jember disesuaikan dengan struktur tata ruang Kabupaten Jember dan persebaran lokasinya sehingga perkembangan Kabupaten Jember dapat lebih merata di seluruh wilayah kabupaten.

Secara umum, arahan pengembangan fungsi wilayah Kabupaten Jember ini dalam kaitannya dengan sistem perwilayahan pembangunan yang berkelanjutan sesuai dengan kondisi potensi ekonomi dan arahan pengembangan Propinsi Jawa Timur antara lain :

(6)

BAB V

|

6

1. Sebagai pusat pertumbuhan wilayah propinsi dalam SWP Jember dan sekitarnya yang mendukung perkembangan pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan, transportasi;

2. Mengendalikan kawasan hutan lindung dengan tetap mempertahankan fungsi lindungnya;

3. Mengendalikan konversi kawasan pertanian beririgasi teknis menjadi kawasan permukiman dan perkotaan;

4. Mengembangkan pusat sentra agribis/hortikultura serta mengembangkan aksesnya menuju titik distribusi wilayah;

5. Mengendalikan pertumbuhan kota secara ekspansif yang tidak terkendali (urban sprawl) dan pertumbuhan menerus (konurbasi) melalui pengembangan jalur hijau yang membatasi fisik kota;

6. Meningkatkan aksesbilitas Kota khususnya untuk Jember – Situbondo – Bondowoso dengan meningkatkan prasarana jalan; dan

Meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan utilitas kota (jalan, persampahan, air bersih, drainase) sesuai standar nasional.

5.1.2.2 Rencana struktur hirarki kegiatan

Penentuan struktur tata ruang/hirarki kota-kota di Kabupaten Jember didasarkan pada jalur upaya pemantapan-pemantapan fungsi kabupaten dalam kerangka strategi dan kebijaksanaan pengembangan peta struktur tata ruang wilayah Kabupaten Jember. Dengan demikian struktur kota-kota ini diarahkan pada tujuan keseimbangan pembangunan antar wilayah. Artinya, adanya keseimbangan pembangunan antara perkembangan wilayah pusat, wilayah transisi, dan wilayah belakang sehingga wilayah sekitar dapat ikut berkembang akibat multiplier effect dari sistem kegiatan ekonomi pada pusat-pusat pengembangan. Untuk menciptakan kondisi ini, maka struktur ekonomi yang mantap dan seimbang diperlukan diantara sektor primer, sekunder, dan sektor tersier.

(7)

BAB V

|

7

Pemantapan struktur kota-kota di Kabupaten Jember pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari jalur upaya pemantapan-pemantapan fungsi kota dalam kerangka strategi pengembangan pola tata ruang Kabupaten Jember. Dalam kaitannya dalam jalur upaya ini, struktur kota-kota diarahkan untuk mencapai tujuan keseimbangan perkembangan ruang kota dan wilayah belakangnya.

Berdasarkan analisis terhadap struktur kota-kota yang telah ada di Kabupaten Jember, dengan mempertimbangkan:

1. Status administrasi kota

2. Hierarkhi Penduduk (ukuran jumlah penduduk)

3. Hirarkhi fungsional (kelengkapan fasilitas perkotaan), maka untuk masa yang akan datang perlu adanya pemantapan terhadap orde kota.

Hasil analisis lebih jauh terhadap wilayah perkotaan Kabupaten Jember, dapat dilakukan dengan meninjau skala pelayanan tiap kota tersebut sesuai dengan fungsinya. Ini berarti kota dipandang sebagai kosentrasi kegiatan atau fungsi tertentu dengan cakupan wilayah tertentu yang berorientasi terhadapnya.

Dalam kaitannya dengan perwilayahan pembangunan yang akan diterapkan di Kabupaten Jember (telah diuraikan di Bab V buku Fakta dan Analisa), tentu saja adanya pusat-pusat Wilayah Pembangunan tersebut perlu dipertimbangkan. Kota-kota sebagai pusat pelayanan di atas lebih didasarkan pada aspek pelayanan fungsionalnya sekarang. Kondisi yang diharapkan adalah berimpitnya kota-kota sebagai pusat pelayanan (regional, sub-regional atau lokal) serta wilayah yang dilayaninya dengan kota-kota yang akan dikembangkan sebagai pusat sub-wilayah pembangunan. Berdasarkan hasil analisis terhadap hirarki fungsional kota-kota yang ada di kabupaten Jember dengan mempertimbangkan tiga aspek utama yaitu status administrasi; ukuran kota (jumlah penduduk); dan urutan kelengkapan fungsi pelayanannya, maka dapatlah ditentukan struktur kota-kota sesuai dengan peranannya sebagai pusat-pusat pelayanan.

Sistem kota - perkotaan di Kabupaten Jember direncanakan secara berhirarki sesuai ukuran perkotaan yang disebutkan dalam orde kota – perkotaan.

(8)

BAB V

|

8

Sehubungan dengan adanya penentuan struktur kota-kota dalam propinsi Jawa Timur yang menempatkan Kota Jember sebagai kota orde IIB, maka berarti struktur kota-kota lainnya di Kabupaten Jember akan mengikuti hirarki tersebut (kota orde III, IV dan V). Sesuai dengan ketentuan mengenai orde-orde kota, pusat Kota Jember yang terdiri dari 3 kecamatan memiliki orde tertinggi, yaitu II. Kota - Perkotaan lain yang memiliki fungsi utama sebagai penunjang sistem perkotaan dan sebagai pusat pertumbuhan wilayah dikembangkan sebagai kota – perkotaan dengan orde III, sedangkan ibukota kecamatan yang lain, dikembangkan sebagai kota – perkotaan dengan orde IV dan V.

Tabel 5.1 Struktur Tata Ruang serta Fungsi dan Peranan Kabupaten Jember Hingga Tahun 2028

Hierarki

Wilayah Kecamatan Fungsi dan Peranan

Orde II Kaliwates Sebagai pusat utama sistem pelayanan berskala regional (perdagangan dan jasa, perkantoran, pendidikan, kesehatan)

Sumbersari Patrang

Orde III Tanggul Sebagai sub pusat utama sistem pelayanan berskala lokal (perdagangan dan jasa, pendidikan, kesehatan), memiliki daerah pelayanan beberapa wilayah kecamatan di sekitarnya.

Ambulu Kalisat Balung

Orde IV Kencong Sebagai sub sub pusat sistem pelayanan berskala lokal (perdagangan dan jasa, pendidikan), memiliki daerah pelayanan beberapa wilayah kecamatan di sekitarnya

Rambipuji Mayang Arjasa

Orde V Gumuk Mas  Memiliki sistem pelayanan berskala lokal yang meliputi beberapa sarana pendukung kegiatan masyarakat setempat (perdagangan dan jasa, Puger

Wuluhan Tempurejo

(9)

BAB V

|

9

Silo pendidikan dasar dan menengah, serta kesehatan)

 Memiliki daerah pelayanan hanya satu kecamatan itu sendiri Mumbulsari Jenggawang Ajung Umbulsari Semboro Jombang Sumberbaru Bangalsari Panti Sukorambi Pakusari Ledokombo Sumberjambe Sukowono Jelbuk

Sumber : Hasil Rencana, 2008

Arahan pengembangan dan pengelolaan struktur hirarki kegiatan berdasarkan struktur perwilayahan Kabupaten Jember hingga akhir tahun 2028 adalah sebagai berikut :

I. WP Jember Tengah

Perkembangan pusat kota Jember yang berada di WP Jember Tengah yang cepat diharapkan mampu menarik wilayah sekitarnya dalam pemerataan pembangunan. Kondisi tersebut yang membuat perkotaan Jember memiliki hirarki/orde IIB di Jawa Timur setelah Surabaya dan Malang. Kota Jember tidak saja berfungsi sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga pusat pendidikan, kesehatan, pedagangan, jasa dan perhubungan.

Perkotaan Jember yang terdiri dari tiga kecamatan, yaitu Kaliwates, Sumbersari dan Patrang mempunyai kecenderungan kegiatannya berkembang ke arah sektor perdagangan dan jasa yang berkembang berkelompok di

(10)

BAB V

|

10

kawasan perkotaan. Dengan demikian, pada wilayah ini perlu dibangun pusat pertumbuhan baru untuk mendorong pertumbuhan di wilayah sekitarnya. Jenis kegiatan yang perlu dikembangkan pada daerah hinterland adalah perdagangan, perumahan dan pariwisata.

Arahan pengembanga kawasan perkotaan pada wilayah pengembangan Jember Tengah meliputi :

a. Diarahkan sebagai pusat pertumbuhan wilayah propinsi yang mendukung perkembangan sektor pertanian pangan dan hortikultura, perkebunan tahunan dan semusim, serta pariwisata.

b. Diarahkan untuk meningkatkan spesialisasi fungsi jasa keuangan, perdagangan, teknologi sistem informasi, pendidikan, kesehatan dan pengangkutan udara.

c. Meningkatkan kualitas pelayanan pemerintahan yang mendukung terjaganya minat investasi pasar modal.

d. Mengendalikan konversi kawasan pertanian beririgasi teknis menjadi kawasan permukiman dan perkotaan.

e. Mengendalikan pertumbuhan kota secara ekspansif yang tidak terkendali

(urban sprawl) dan pertumbuhan menerus (konurbasi) melalui pengembangan jalur hijau yang membatasi fisik kota.

f. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang menjamin kesejahteraan dan kreatifitas masyarakat kota.

g. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan utilitas kota (jalan, persampahan, air bersih, listrik, telekomunikasi dan drainase kota).

h. Memantapkan aksesibilitas pusat kota Jember ke ibukota-ibukota kecamatan di Kabupaten Jember dan wilayah provinsi dan kabupaten/kota lainnya, melalui peningkatan kualitas sistem jaringan transportasi darat, laut dan udara.

II. WP Jember Utara Barat

Wilayah Jember Utara Barat merupakan daerah yang mempunyai potensi tinggi di sektor pertanian dan perkebunan. Oleh karena itu, peningkatan

(11)

BAB V

|

11

produksi pertanian perlu didorong dan dikembangkan dengan peningkatan nilai tambah dari hasil-hasil pertanian dan perkebunan (agroindustri).

Tingkat pertumbuhan ekonomi yang seimbang antara kecamatan Tanggul dan kecamatan lainnya di WP Jember Utara Barat perlu diusahakan agar tidak terjadi ketimpangan kemajuan diantara kecamatan-kecamatan tersebut. Perkotaan Tanggul tetap menjadi pusat WP yang diarahkan pada kegitana perdagangan, jasa, pendidikan dan permukiman. Sedangkan wilayah hinterlandnya diarahkan pada kegiatan pertanian, perkebunan, agrowisata di kawasan perkebunan dan pemenuhan fasilitas rekreasi.

Arahan pengembangan kawasan perkotaan pada wilayah pengembangan Jember Utara Barat meliputi :

a. Diarahkan sebagai pusat pertumbuhan wilayah kabupaten yang mendukung perkembangan sektor pertanian pangan dan hortikultura, perkebunan tahunan dan semusim, serta pariwisata.

b. Mengendalikan konversi kawasan pertanian beririgasi teknis menjadi kawasan permukiman dan perkotaan.

c. Mengendalikan pengelolaan kawasan hutan lindung dengan tetap mempertahankan fungsi lindungnya.

d. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang menjamin kesejahteraan dan kreatifitas masyarakat kota.

e. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan utilitas kota (jalan, persampahan, air bersih, listrik, telekomunikasi dan drainase kota).

III.WP Jember Utara Timur

Perkotaan Kalisat merupakan salah satu pusat kegiatan ekonomi Jember di bagian Utara, maka WP Jember Utara Timur diharapkan dapat menjadi kekuatan ekonomi Jember di wilayah tersebut. Namun harus tetap diperhatikan adanya pertumbuhan ekonomi yang seimbang antara Kecamatan Kalisat dengan kecamatan-kecanmatan lainnya di wilayah ini, mengingat beberapa kecamatan merupakan kantong kemiskinan. Dengan pemenuhan

(12)

BAB V

|

12

prasarana dan sarana yang merata akan merangsang pertumbuhan ekonomi wilayah secara bersama-sama.

Dilihat dari kondisi eksisting, pengembangan wilayah Jember Utara Timur sangat dipengaruhi oleh kondisi geologi dan potensi wilayah sehingga kegiatan yang didorong untuk dikembangkan meliputi perdagangan, peternakan (besar, kecil, unggas) dan pertambangan galian C.

Arahan pengembangan kawasan perkotaan pada wilayah pengembangan Jember Utara Timur meliputi :

a. Diarahkan sebagai pusat pertumbuhan wilayah kabupaten yang mendukung perkembangan sektor pertanian, peternakan dan pertambangan.

b. Mengendalikan konversi kawasan pertanian beririgasi teknis menjadi kawasan permukiman dan perkotaan serta meningkatkan budidaya tanaman lahan kering.

c. Mengendalikan pengelolaan kawasan hutan lindung dengan tetap mempertahankan fungsi lindungnya.

d. Mengembangkan sentra penggalian batu piring serta mengembangkan aksesnya menuju titik distribusi wilayah.

e. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang menjamin kesejahteraan dan kreatifitas masyarakat kota.

f. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan utilitas kota (jalan, persampahan, air bersih, listrik, telekomunikasi dan drainase kota).

IV.WP Jember Selatan Timur

Sesuai dengan kondisi dan potensi sumberdaya, pengembangan wilayah Jember Selatan Timur diprioritaskan pada sektor pertanian, perikanan, peternakan dan pariwisata. Pengembangan sektor pertanian terutama produksi tanaman jagung dan pengembangan ternak seperti sapi, domba dan kambing. Sedangkan kegiatan pariwisata dikembangkan pada wisata pantai di Watu Ulo, Papuma dan Bande Alit.

Dalam upaya mendukung kegiatan pembangunan pada WP Jember Selatan Timur, maka dikembangkan fasilitas umum dan jaringan infrastruktur

(13)

BAB V

|

13

yang dapat menjangkau seluruh wilayah. Dengan adanya rencana pembangunan Jalan Lintas Selatan beserta jalan-jalan siripnya, maka kegiatan-kegiatan yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dapat diwujudkan.

Arahan pengelolaan kawasan perkotaan pada wilayah pengembangan Jember Selatan Timur meliputi :

a. Diarahkan sebagai pusat pertumbuhan wilayah kabupaten yang mendukung perkembangan sektor pertanian, perikanan dan pariwisata.

b. Mengendalikan konversi kawasan pertanian beririgasi teknis menjadi kawasan permukiman dan perkotaan.

c. Mengendalikan pengelolaan kawasan hutan lindung dengan tetap mempertahankan fungsi lindungnya.

d. Mengembangkan obyek wisata bahari dengan berbagai paket wisata terpadu.

e. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang menjamin kesejahteraan dan kreatifitas masyarakat kota.

f. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan utilitas kota (jalan, persampahan, air bersih, listrik, telekomunikasi dan drainase kota).

V. WP Jember Selatan Barat

Pengembangan WP Jember Selatan Barat diarahkan pada kegiatan pertanian, perikanan dan pertambangan. Potensi sumberdaya perikanan air laut dan perikanan air tawar diharapkan dapat mendongkrak perekonomian masyarakat. Pelabuhan perikanan Puger diarahkan pada industri pengolahan barbasis perikanan.

Untuk sektor pertanian ditekankan pada pengembangan tanaman jagung. Sedangkan kegiatan pariwisata diarahkan pada wisata bahari yang didukung oleh industri kerajinan rakyat berbasis kelautan.

Arahan pengelolaan kawasan perkotaan pada wilayah pengembangan Jember Selatan Barat meliputi :

(14)

BAB V

|

14

a. Diarahkan sebagai pusat pertumbuhan wilayah kabupaten yang mendukung

perkembangan sektor pertanian, perikanan, pertambangan dan pariwisata. b. Mengendalikan konversi kawasan pertanian beririgasi teknis menjadi

kawasan permukiman dan perkotaan.

c. Mengendalikan pengelolaan kawasan hutan lindung dengan tetap mempertahankan fungsi lindungnya.

d. Mengembangkan industri pertambangan dan industri perikanan.

e. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang menjamin kesejahteraan dan kreatifitas masyarakat kota.

f. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan utilitas kota (jalan, persampahan, air bersih, listrik, telekomunikasi dan drainase kota)

Gambar 5.1 Struktur Hirarki Kegiatan WP Jember Tengah PER DA GAN GAN PEM ERIN TAH AN PARI WI SATA PEN DIDI KAN KES E HAT AN KALIWAT ES PER DA GAN GAN JASA PARI WI SAT A PEN DIDI KAN KES E HAT AN PATRANG PER DA GAN GAN PEM ERIN TAH AN JASA PARI WI SATA PEN DIDI KAN SUMBERSARI PER DA GAN GAN PER TA NIAN PARI WI SATA BAN BAR UDA RA PER KE BUN AN AJUNG PER DA GAN GAN KEH U TAN AN INDU S TRI TER M KAR GO TER MINA L DRY POR T RAMBIPUJI PER DA GAN GAN PER KE BUN AN PARI WI SATA KEH U TAN AN PER TA NIAN PANTI PER DA GAN GAN PER KE BUN AN PARI WI SATA KEH U TAN AN PER TA NIAN PET ER NAK AN SUKORAMBI PER DA GAN GAN PER TA NIAN INDU S TRI T P A PEN G GALI AN PAKUSARI PER DA GAN GAN PER KE BUN AN PER TA NIAN PARI WI SATA KEH U TAN AN ARJASA PEM ERIN TAH AN PU SAT TER MINA L PU SAT KES E HAT AN PU SAT TER MINA L PU SAT PU SAT PU SAT PU SAT JASA PU SAT PU SAT PUSAT KOTA

(15)

BAB V

|

15

Gambar 5.2 Struktur Hirarki Kegiatan WP Jember Utara Barat

Gambar 5.3 Struktur Hirarki Kegiatan WP Jember Utara Timur PERDA GANGA N PERTA NIAN PARIWI SATA PERI KANAN PERKE BUNAN SEMBORO PERDA GANGAN KEHU TANAN PERKE BUNAN PERTA NIAN PETER

NAKAN PARIWI SATA

SUMBERBAR U

PERDA GANGA N &

JASA NTAHAN PEMERI PARIWI

SATA

KEHU

TANAN PERTA NIAN

TANGGUL PERDA GANGA N KEHU TANAN INDUS TRI PERKE BUNAN PERTA

NIAN PETER NAKAN

BANGSALSARI PUSA T PUSAT PETER NAKAN PUSA T PUSA T PERD A GANG AN PERT A NIAN KESE HATA N PERK E BUNA N KALISAT PERD A GANG AN PETE R NAKA N PARI WI SATA KEHU TANA N PERT A NIAN SUKOWONO PERD A GANG AN PERK E BUNA N PERT A NIAN KEHU TANA N PARI WI SATA JELBUK PERD A GANG AN PERK E BUNA N PERT A NIAN KEHU TANA N PETE R NAKA N SUMBERJAMBE PUS AT PUSAT PERD A GANG AN PERT A NIAN PENG GALIA N KEHU TANA N PERK E BUNA N MAYANG PUS AT PUSA T PERT AM BANG AN JASA PERD A GANG AN PERT A NIAN PETE R NAKA N PERK E BUNA N SILO PARI WI SATA KEHU TANA N PUS AT CLUSTER KALISAT CLUSTER MAYANG

(16)

BAB V

|

16

Gambar 5.4 Struktur Hirarki Kegiatan WP Jember Selatan Timur

Gambar 5.5 Struktur Hirarki Kegiatan WP Jember Selatan Barat JENGGAWAH PERDA GANGA N KEHU TANAN PERKE BUNAN PERTA NIAN PERI KANAN PARIWI SATA WULUHAN PERKE BUNAN PARIWI SATA KEHU TANAN PERTA NIAN AMBULU PERDA GANGA N TANAN KEHU PERKE BUNAN PERI KANAN PERTA

NIAN PETER NAKAN

TEMPUREJO PUS AT PUSAT PERI KANAN PERDA GANGA N PERTA NIAN PARIWI SATA KEHU TANAN PERKE BUNAN PERDA GANGAN KEHU TANAN PARI WISATA PERKE BUNAN PERTA NIAN PETER NAKAN MUMBULSARI PUSAT PERDA GANGA N & JASA PUSA T PUSA T JOMBANG PETER NAKAN PARIW I SATA KEHU

TANAN PERTA NIAN

GUMUKMAS PERDA GANG AN JASA PERKE BUNAN PERTA

NIAN PETER NAKAN

BALUNG PERI KANAN PERDA GANG AN PERTA NIAN PERI

KANAN BUNAN PERKE

PERDA GANG AN KEHU TANAN PERI KANAN PERKE BUNAN PERTA NIAN UMBULSARI KEHU TANAN PERTA M BANG AN PERI KANAN PERTA

NIAN INDUS TRI

PUGER KESE HATAN PERDA GANG AN PUS AT PERKE BUNAN PERTA NIAN PERI KANAN PARIW I SATA KENCONG PERDA GANG AN PUS AT PERDA GANG AN PUS AT PUS AT PUS AT PUS AT CLUSTER BALUNG CLUSTER KENCONG CLUSTER PUGER

(17)
(18)

BAB V

|

18

5.1.2.3 Rencana sistem pusat pelayanan

Rencana pengembangan sistem pusat pelayanan di Kabupaten Jember dilakukan sebagai usaha pemerataan penyebaran pembangunan, Kabupaten Jember. Pembagian sistem pusat pelayanan ini sangat penting mengingat berdasarkan kebijaksanaan perwilayahan Jawa Timur, Kabupaten Jember merupakan pusat dari SWP Jember dan sekitarnya yang membawahi daerah hinterland Situbondo dan Bondowoso.

Bidang kegiatan Satuan Wilayah Pembangunan Jember dan sekitarnya ini diarahkan sebagai kawasan pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan, pendidikan, kesehatan dan pariwisata. Kabupaten Jember sebagai pusat pengembangan, diharapkan mampu menunjang perkembangan Wilayah Hinterland pada khususnya dan pengembangan wilayah Jawa Timur pada umumnya.

Untuk menunjang kebijaksanaan pusat Satuan Wilayah Pembangunan (SWP), maka kebijaksanaan spasial Kabupaten Jember dibagi menjadi 5 (lima) Wilayah Pengembangan (WP) dengan masing-masing memiliki prioritas pembangunan. Adapun penetuan pusat dari masing-masing WP tersebut didasarkan atas potensi yang telah dimiliki oleh wilayah tersebut serta potensi yang nantinya memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk dikembangkan. Potensi yang dimaksud disini terutama adalah adanya fasilitas-fasilitas pelayanan sosial yang cukup seperti misalnya sarana kesehatan, pendidikan, transportasi, dan sebagainya. Kelengkapan fasilitas yang dimiliki ini diharapkan dapat menjadi pemacu perkembangan masing-masing WP di masa yang akan datang.

Sesuai dengan pola dasar pembangunan, adanya kebijaksanaan tata ruang dimaksudkan untuk menjamin laju perkembangan dan pertumbuhan daerah, serta memelihara keseimbangan dan kesinambungan pelaksanaannya secara menyeluruh, terarah dan terpadu. Dalam kerangka ini, untuk penyebarluasan kegiatan pembangunan diseluruh wilayah Kabupaten Jember, perlu adanya

(19)

BAB V

|

19

penentuan Wilayah Pembangunan (WP). Kebijaksanaan tata ruang Kabupaten Jember yang tertuang dalam bentuk perwilayahan pembangunan bertujuan:

1. Mengusahakan pemerataan pembangunan yang serasi didalam dan antar wilayah serta sub wilayah pembangunan, agar perbedaan pembangunan antar wilayah (yang maju dan terbelakang) dapat diperkecil. 2. Mengusahakan dan mengarahkan kegiatan pembangunan wilayah sesuai dengan potensi, kondisi, serta fungsi yang terdapat di setiap wilayah dan Wilayah Pembangunan.

3. Mengembangkan hubungan ekonomi antar wilayah dan Wilayah Pembangunan secara saling menguntungkan demi terjalinnya interaksi yang harmonis dalam kegiatan ekonomi, sosial budaya, dan polkam, sehingga terwujudnya ekonomi daerah yang kuat dan mampu menunjang serta memperkokoh perkembangan regional dan nasional.

4. Mempertajam prioritas pembangunan pada daerah rawan, daerah terbelakang dan melalui program khusus dengan tetap memperhatikan sepenuhnya upaya penyelamatan sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Kebijaksanaan tata ruang melalui perwilayahan pembangunan ini dilakukan dengan memperhatikan:

1. Hambatan antara daerah pusat dan daerah belakang 2. Homogenitas atau kesamaan karakteristik wilayah.

3. Kesamaan lingkungan yang membutuhkan penanganan lingkungan dalam bentuk terpadu.

Perwilayahan di Kabupaten Jember direncanakan dengan fungsi di masing-masing WP dan pusat pengembangannya. Pusat Pengembangan WP merupakan pusat permukiman kota atau perkotaan. Sesuai dengan potensi pusat pengembangan atau pusat permukiman kota – perkotaan di setiap WP, maka perlu ditetapkan fungsi pusat permukiman perkotaan tersebut. Struktur Pusat Permukiman Perkotaan di setiap WP dibagi lagi menjadi beberapa satuan wilayah yang lebih kecil, untuk mengendalikan perkembangan kawasan permukiman

(20)

BAB V

|

20

perkotaan dalam skala besar yang berpotensi tidak terkendali. Fungsi masing-masing WP serta fungsi pusat permukiman perkotaan sebagai berikut :

Tabel 5.2 Rencana Sistem Pusat Pelayanan Kabupaten Jember Hingga Tahun 2028

Wilayah

Pengembangan Pusat WP Fungsi Pelayanan WP Fungsi Pelayanan Pusat WP WP Jember Tengah

Kaliwates Kaliwates Kawasan pendidikan, kesehatan, pemerintahan, perdagangan, perumahan, perhubungan dan aneka industri dan jasa

Pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan dan perhubungan Sumbersari Patrang Panti Sukorambi Rambipuji Ajung Arjasa Pakusari

WP Jember Utara Barat

Tanggul Tanggul Kawasan pendidikan, kesehatan, perumahan, pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perdagangan dan industri kecil

Pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, industri kecil dan pariwisata. Sumberbaru

Semboro Bangsalsari

WP Jember Utara Timur

Kalisat Kalisat Kawasan pendidikan, kesehatan, perumahan, pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan industri kecil

Pusat pemerintahan, perdagangan, kesehatan dan pertambangan. Jelbuk Sukowono Sumberjambe Ledokombo Mayang Silo

WP Jember Selatan Timur

Ambulu Ambulu Kawasan pendidikan, kesehatan, perumahan, perdagangan, pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan,

peternakan, perikanan, pariwisata dan industri kecil

Pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, perikanan dan pariwisata Wuluhan Jenggawah Mumbulsari Tempurejo

WP Jember Selatan Barat

Balung Balung Kawasan pendidikan, kesehatan, perumahan, pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, industri, pertambangan,

peternakan, perikanan dan pariwisata Pusat pusat pemerintahan, perdagangan dan kesehatan. Puger Gumuk Mas Kencong Jombang Umbulsari

(21)
(22)

BAB V

|

22

5.1.3 Deliniasi Zonasi

5.1.3.1 Rencana Wilayah yang Tidak Boleh Dibangun

Rencana wilayah yang tidak boleh dibangun yang ada di wilayah Kabupaten Jember adalah kawasan di pinggiran sungai. Kawasan di pinggiran sungai ini seharusnya merupakan kawasan konservasi sehingga untuk menjaga kelestarian dan upaya perlindungan terhadap kawasan ini terutama keberadaan sungai yang ada maka perkembangan kawasan terbangun di pinggir sungai perlu dibatasi dan bila perlu dilakukan upaya relokasi bila kondisi bangunan yang ada sangat rawan. Selain itu juga dengan melakukan pendekatan pada manusia dengan cara membuat pengumuman misalnya tentang penggunaan tanah sepanjang sungai dapat dikenakan sanksi/hukuman.

Yang termasuk ke dalam kawasan perlindungan bawahan adalah hutan lindung dan kawasan resapan air. Hutan Lindung merupakan kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna pembangunan berkelanjutan.

Kawasan tersebut bersifat khas yang mampu memberikan perlindungan kawasan sekitarnya dan bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah erosi dan banjir yang mutlak fungsinya sebagai penyangga kehidupan tidak dapat dialihkan perutukannya. Hutan lindung di Kabupaten Jember tersebar di Kecamatan Sumberbaru, Tanggul, Bangsalsari, Panti, Sukorambi, Jelbuk, Arjasa, Sukowono, Sumberjambe, Silo dan Tempurejo. Pada wilayah dengan kelerengan 25% – 40% yang tersebar di Jember banyak yang telah berubah menjadi kawasan budidaya pertanian yang tidak memiliki kemampuan fungsi lindung, sehingga membawa dampak kerusakan lingkungan yang menimbulkan bencana alam seperti di Kecamatan Panti. Kawasan ini harus dikembalikan fungsinya menjadi kawasan hutan lindung.

Kawasan resapan air pada dasarnya memiliki fungsi sebagai kawasan lindung terbatas atau sebagai kawasan lindung lainnya. Kawasan resapan air ini

(23)

BAB V

|

23

dapat berupa perkebunan tanaman tahunan ataupun hutan. Kawasan ini dapat dikembangkan sebagai areal perkebunan tanaman keras yang dimanfaatkan adalah hasil buah bukan kayunya, sehingga masih tetap memiliki fungsi lindung. Kawasan ini masih sangat kurang, sehingga diperlukan penambahan kawasan resapan air. Kawasan ini diarahkan pada wilayah yang memiliki kelerengan 25% – 40%, dan diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai kawasan perlindungan bawahannya. Jenis tanaman dapat dikembangkan adalah tanaman buah-buahan. Masing-masing wilayah diarahkan memiliki pengembangan sendiri sejauh sesuai dengan karakter tanah dan potensi ekonomi masing–masing wilayah. Kawasan resapan air dapat dikembangkan di seluruh kecamatan sekaligus membantu persediaan dan meningkatkan volume air tanah.

5.1.3.2 Rencana Wilayah yang Didorong Pengembangannya

Rencana wilayah yang didorong pengembangannya adalah kawasan yang sesuai dengan kawasan strategis di Kabupaten Jember yang terdiri dari Kawasan Strategis Pengembangan Perekonomian, Kawasan Strategis Pengembangan Sosial Budaya, Kawasan Strategis Perlindungan dan Pelastarian Lingkungan Hidup. 1. Kawasan Hutan Produksi

Pengembangan budidaya jenis pohon yang tidak dimanfaatkan batangnya akan tetapi lebih difokuskan pada hasil buahnya yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah kepada masyarakat sekitar. Penanaman pohon jenis ini diarahkan pada kawasan antara hutan produksi dengan wilayah permukiman, yang juga bisa berfungsi sebagai zona batas. Dalam pengembangan hutan produksi maka dimungkinkan adanya pertukaran lahan untuk pemanfaatan ruang lainnya dengan penggantian lahan yang lebih potensial untuk hutan produksi di lokasi yang sesuai ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

(24)

BAB V

|

24

2. Kawasan Pertanian

Pengembangan lahan pertanian tanaman semusim ini dikembangkan sesuai dengan kondisi irigasi. Secara umum Kabupaten Jember yang memiliki potensi sebagai salah satu lumbung padi, merupakan wilayah penghasil tanaman pangan dengan berbagai komoditas unggul, wilayah penghasil tanaman hortikultura dengan kualitas ekspor, sebagai pengembangan budidaya tanaman dengan sistem tumpangsari.

3. Kawasan Perikanan

Pengembangan perikanan baik di darat maupun laut pada dasarnya sangat potensial untuk dikembangkan sebab didukung oleh letak Jember di pantai selatan yang sangat potensial akan kekayan ikan. Upaya pengembangan kawasan perikanan budidaya air payau dan air tawar adalah didukung dengan mengembangkan industri pengolahan ikan, coldstorage dan pengembangan utama komoditi perikanan budidaya air tawar.

4. Kawasan Perkebunan

Kawasan perkebunan memiliki prospek sebagai penyumbang ekonomi Jember, dan potensi ini akan lebih berkembang dengan dukungan masyarakat, diantaranya melalui kimbun. Pengembangan perkebunan ini diarahkan untuk meningkatkan peran serta, efisiensi, produktivitas dan keberlajutan, dengan mengembangkan kawasan industri masyarakat perkebunan yang dikembangkan di setiap lokasi pengembangan dan sentra produksi yang diselenggarakan dengan kebersamaan ekonomi dan berwawasan lingkungan. 5. Kawasan Peternakan

Pengembangan ternak dapat dikembangkan di berbagai wilayah di Jember. Beberapa prospek yang bisa dikembangkan antara lain adalah industri pengolahan susu, penyamakan kulit dan telur asin.

6. Kawasan Pariwisata

Pengembangan pariwisata Jember antara lain adalah perlu adanya perintisan pengembangan jalan baru yang dapat dengan mudah ditempuh oleh berbagai

(25)

BAB V

|

25

jenis kendaraan bermotor, sehingga menunjang obyek wisata alam disertai juga dengan pengembangan jaringan utilitas yang memadai. Peningkatan akomodasi dengan peningkatan jasa pelayanan baik di hotel/losmen maupun kenyamanan dalam perjalanan wisata dan peningkatan kualitas produk andalan wisata dapat dilakukan. Pemasaran obyek wisata dengan mengembangkan promosi wisata, kurangnya jasa pelayanan yang dikemas melalui paket perjalanan wisata dan peningkatan produksi kerajinan rakyat yang dapat menunjang pengembangan wisata sebagai cinderamata ciri khas di lokasi wisata tersebut. Prospek pengembangan lainnya adalah dengan mengembangkan studi tentang prospek dan cara pengembangan pariwisata, sehingga akan terbentuk suatu rencana induk pengembangan wisata.

7. Kawasan Permukiman

Pengembangan permukiman perdesan dan perkotaan yang terintegrasi dapat mendorong terjadinya keseimbangan perkembangan wilayah sekaligus mendorong pertumbuhan secara lebih merata. Kawasan permukiman dikembangkan sesuai potensi masing-masing akan dapat mempercepat pengembangan kawasan perkotaan dan perdesaan serta wilayah sekitarnya. 8. Kawasan Industri

Pengembangan kawasan industri baru di Jember sangat besar terutama di wilayah sepanjang jalan utama. Meski demikian beberapa wilayah lain juga potensial untuk mengembangkan kawasan industri terutama wilayah yang memiliki aksesibilitas laut dan udara. Berbagai industri pengolahan hasil alam lebih cenderung ke wilayah selatan dan timur Jember, diantaranya pengembangan kawasan industri perikanan Puger dan Watu Ulo, pengembangan industri batu kapur dan industri rokok dan tembakau.

9. Kawasan Pertambangan

Dengan memperhatikan kaidah lingkungan, maka tambang di Jember dapat dikembangkan dalam skala besar dan memberi dampak ekonomi yang besar pula. Berbagai mekanisme kerjasama dalam pengelolaan dan pengembangan

(26)

BAB V

|

26

investasi pertambangan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah berdasarkan pertambangan.

10.Kawasan Perdagangan

Pengembangan kawasan perdagangan dilakukan dengan penyediaan fasilitas berskala regional akan dapat mendorong perkembangan ekonomi wilayah Jember

5.1.3.3 Rencana Wilayah yang Dikendalikan Pengembangannya

Rencana wilayah yang dikendalikan pengembangannya adalah kawasan lindung yang meliputi kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, kawasan perlindungan bawahan, kawasan perlindungan setempat dan kawasan rawan bencana alam.

1. Kawasan suaka alam

Fungsi kawasan suaka alam yang meliputi cagar alam dan suaka margasatwa adalah melindungi kawasan bawahannya, melestarikan keanekaragaman flora dan fauna serta menjaga kelestarian tanaman kanopi. Sedangkan potensi suaka margasatwa adalah untuk pengembangan wisata alam dan pengembangan ilmu pengetahuan yang tetap mempertahankan kelestarian lingkungan.

2. Kawasan pelestarian alam

Taman Nasional dan taman wisata alam di Jember memiliki potensi sebagai kawasan hutan dengan komunitas tumbuhan dan satwa langka beserta ekosistemnya. Taman Nasional Meru Betiri merupakan hutan tropik paling lengkap mulai hutan pantai sampai hutan pegunungan. Secara khusus kawasan ini dapat melindungi tanah dari erosi dan berfungsi sebagai kawasan resapan air. Potensi lain yang dipertahankan adalah aneka flora langka, antara lain 362 spesies flora serta satwa langka Harimau Jawa, Banteng, dan Penyu Laut.

(27)
(28)

BAB V

|

28

3. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan

Jember memiliki peninggalan budaya dan ilmu pengetahuan yang sangat penting. Peninggalan pada masa penjajahan dan pada masa perjuangan kemerdekaan berpotensi menjadi sumber ilmu pengetahuan dan sejarah. Peninggalan-peninggalan Belanda seperti Museum Kereta Api, Pabrik Gula, dan kegiatan sejenis merupakan potensi yang dapat digali untuk pengembangan wilayah. Keberadaan situs Arjasa dan candi juga menjadi potensi yang bisa dikembangkan. Budaya masyarakat yang sebagian masih mengkultuskan hal-hal berbau mistis seperti kunjungan ke makam-makam orang yang dianggap suci dan sebagainya dapat menjadi potensi wisata yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

4. Kawasan perlindungan bawahannya

Kawasan perlindungan bawahan di Kabupaten Jember memiliki potensi untuk melindungi/memperkecil bahaya tanah longsor atau banjir menuju kawasan bawahannya, melalui peresapan air ke dalam tanah dapat meningkatkan volume air tanah, dan melindungi flora dan fauna yang masih berkembang untuk menghindari kepunahan.

5. Kawasan perlindungan setempat

Kawasan perlindungan setempat terdiri dari perlindungan kawasan sekitar mata air, kawasan sekitar waduk/danau, kawasan sekitar sempadan sungai, pantai, kawasan sekitar sempadan sungai di kawasan permukiman, kawasan pantai berhutan bakau/mangrove dan kawasan terbuka hijau kota. Pengamanan terhadap kawasan sekitar mata air akan memberikan jaminan terhadap penyediaan air jangka panjang. Pengamanan kawasan sekitar waduk/danau akan menjaga kualitas air waduk/danau. Pengamanan sekitar sempadan sungai, pantai dan hutan bakau di sepanjang pantai akan mengurangi erosi dan abrasi yang apabila didiamkan akan menimbulkan bencana bagi wilayah tersebut. Pengembangan dan pengamanan hutan kota

(29)

BAB V

|

29

akan menjaga suhu kota untuk tetap sejuk di samping juga dapat mengurangi kadar polusi yang terjadi di setiap wilayah.

6. Kawasan rawan bencana

Bencana alam di daerah rawan sering terjadi akibat kurang memperhatikan wawasan lingkungan, potensi bencana di area kawasan lindung seperti terjadinya banjir atau longor berlokasi di kawasan dengan kelerengan 40% yang seharusnya merupakan kawasan konservasi namun telah berubah fungsi menjadi areal budidaya. Tipologi kawasan tersebut banyak terdapat di bagian utara dan bagian timur Jember.

5.2 SKENARIO PENGEMBANGAN SEKTOR BIDANG

PU/CIPTA KARYA

5.2.1 Pengembangan Permukiman

Lahan yang dapat dikembangkan sebagai kawasan permukiman adalah lahan yang memiliki kriteria sebagai berikut:

1. Kelerengan < 40%

2. Tidak terletak pada kawasan lindung

3. Terlayani oleh utilitas dan sarana penunjang

4. Sudah terdapat jaringan jalan dan terlayani sistem transportasi

Keterbatasan lahan membuat masyarakat cenderung menempati lahan-lahan yang berada disekitar jaringan jalan utama kota yang mempunyai akses yang baik ke pusat kegiatan perdagangan dan kawasan aktivitas lainnya. Secara keseluruhan pola perkembangan perumahan di Kabupaten Jember masih mengikuti pola pekembangan jaringan jalan, dalam kecenderungan perkembangan ruang terbangun (built-up area) berpola pita (ribon pattern).

Pola perkembangan ruang terbangun ini pada satu sisi akan mendekatkan masyarakat pada aksesibilitas pelayanan tertinggi. Namun di sisi lain apabila tingkat intensitas bangunan pada sepanjang jaringan jalan menjadi tidak

(30)

BAB V

|

30

terkendali, pada giliran berikutnya ruang terbangun tersebut akan menjadi beban bagi pelayanan jaringan jalan tersebut.

(31)
(32)

BAB V

|

32

Permukiman merupakan salah satu kebutuhan utama penduduk untuk bertempat tinggal. Dengan adanya jumlah penduduk yang terus meningkat maka kebutuhan akan permukiman juga meningkat pula sejalan dengan perkembangan penduduknya.

Lahan yang difungsikan sebagai kawasan permukiman memiliki kriteria kondisi lahan sebagai berikut:

1. Tidak termasuk wilayah yang dilarang adanya peralihan penggunaan tanah dari pertanian ke bukan pertanian, yang umumnya terdiri atas sawah 2 x panen setahun, sawah 1 x panen padi dan 2 x panen palawija, sawah tidak ditanami padi tapi palawija 2 x panen dan perkebunan

2. Tidak termasuk kawasan yang peralihan penggunaan tanahnya diarahkan untuk tanaman keras atau hutan produksi, yaitu : tanah kering dengan lereng > 15 % dan dengan kelerengan < 15 % yang tidak mungkin untuk diusahakan tanaman semusim, seperti tanah berbatu, berpasir kwarsa, padat lahar dan bekas penambangan atau galian

3. Kawasan yang tanah pertaniannya dapat dialihkan ke bukan pertanian, misal tanah kering dan sawah tadah hujan dengan kelerengan ± 15 % Pengaturan dan pengendalian kepadatan permukiman diterapkan dengan memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan kondisi kawasan terbangun serta diorientasikan pada upaya peningkatan kualitas lingkungan setempat. Untuk itu dalam menetapkan arahan permukiman dipakai standar sebagai berikut :

1. Kepadatan rendah : 0 – 30 rumah/ha 2. Kepadatan sedang : 30 – 60 rumah/ha 3. Kepadatan tinggi : 60 – 120 rumah/ha

Untuk memberi kesempatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, agar mampu memenuhi kebutuhan rumah, khususnya dalam hal penyediaan tanah, perlu adanya pengendalian terhadap penguasaan dan perkembangan harga tanah terutama pada kawasan - kawasan yang potensial bagi pembangunan permukiman.

(33)

BAB V

|

33

Dalam pengembangannya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah antara lain :

1. Ditekankan pada daerah tertentu yang menjadi arahan persebaran penduduk hingga tahun 2028.

2. Adanya usaha kontrol/ pengendalian terhadap peningkatan jumlah rumah non permanen ataupun tidak layak huni oleh pemukim liar ataupun bagi penduduk kota yang tergolong tunawisma khususnya untuk pusat kota yang daerahnya sudah cukup padat.

3. Arahan persebaran pemukiman akan dibuat tersebar merata sebagai usaha untuk mencegah terjadinya pemusatan penduduk, dengan memperhatikan pula faktor aksesibilitas, faktor kesesuaian lahan (jenis dan topografi tanah), dan ketersediaan fasilitas yang memadai. Akan tetapi tetap harus dikontrol agar dalam perkembangannya, persebaran pemukiman tidak menimbulkan permasalahan tata guna lahan.

Berdasarkan pada kriteria dan peraturan di atas maka kawsan permukiman di Kabupaten Jember berada di Wilayah:

1. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk permukiman yang aman dari bahaya bencana alam.

2. Sehat dan mempunyai akses untuk kesempatan berusaha serta dapat memberikan manfaat bagi peningkatan ketersediaan permukiman, mendayagunakan fasilitas yang ada di sekitarnya dan meningkatkan perkembangan kegiatan sektor ekonomi yang ada.

3. Perlu adanya pengaturan terhadap luas lahan terbangun dengan tak terbangun pada kawasan pengembangan permukiman.

4. Perlu adanya penegasan batas kawasan terhadap kawasan non permukiman.

5. Perlu adanya penetapan tinggi bangunan pada kawasan pengembangan permukiman.

Secara umum kawasan permukiman di Jember berdasarkan penyediaan wilayah permukimannya dapat dibedakan menjadi :

(34)

BAB V

|

34

1. Permukiman perdesaan, meliputi :

a. Permukiman pusat perdesaan b. Permukiman desa

c. Permukiman pada pusat perdusunan 2. Permukiman perkotaan, meliputi :

a. Permukiman perkotaan besar b. Permukiman perkotaan menengah c. Permukiman perkotaan kecil

3. Permukiman perkotaan besar didukung oleh kota inti dan perumahan baru skala besar. Di Jember, wilayah yang telah mapan adalah pusat kota sekaligus sebagai kota inti maupun sebagai pusat pelayanan. Sedangkan perumahan baru skala besar dikembangkan di sekitar pusat kota, seperti Kecamatan Arjasa, Pakusari, Ajung, Sukorambi dan Panti. Perumahan baru ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas sosial dan fasilitas umum kota, serta peluang kerja. Antara kota inti dengan perumahan baru memiliki hubungan atau aksesibilitas yang tinggi, setidaknya oleh sistem komuting. 4. Permukiman perkotaan menengah, merupakan permukiman di perkotaan

yang memiliki fungsi sebagai pusat pelayanan WP. Pengembangan permukiman tersebut dapat dikembangkan di Perkotaan Tanggul, Perkotaan Kalisat, Perkotaan Ambulu dan Perkotaan Balung. Dengan berkembangnya kawasan permukiman tersebut akan membentuk pusat pertumbuhan skala wilayah/regional. Berkembangnya area terbagun tersebut akan berdampak terhadap skala pelayanan di tingkat kabupaten bahkan akan dapat menghubungkan atau berinteraksi dengan besar dan perkotaan kecil lainnya.

5. Permukiman perkotaan kecil, merupakan permukiman di perkotaan yang memiliki fungsi sebagai:

a. Pusat pelayanan perkotaan kecamatan. b. Pusat pertumbuhan skala kecamatan. 6. Permukiman pada kawasan khusus, meliputi :

(35)

BAB V

|

35

a. Sebagai tempat peristirahatan pada kawasan pariwisata

b. Kawasan permukiman yang timbul akibat perkembangan infrastruktur

c. Permukiman yang timbul akibat kegiatan sentra ekonomi dan pariwisata

5.2.2 Penataan Bangunan dan Lingkungan

Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan sebagai bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk mewujudkan lingkungan binaan, baik diperkotaan maupun diperdesaan, khususnya wujud fisik bangunan gedung dan lingkungannya.

Visi penataan bangunan dan lingkungan adalah terwujudnya bangunan gedung dan lingkungan yang layak huni dan berjati diri, sedangkan misinya adalah : (1) Memberdayakan masyarakat dalam penyelenggaraan bangunan gedung yang tertib, layak huni, berjati diri, serasi dan selaras, dan (2) Memberdayakan masyarakat agar mandiri dalam penataan lingkungan yang produktif dan berkelanjutan.

5.2.3 Penyehatan Lingkungan Permukiman

5.2.3.1 Sub Sektor Air Limbah

Beban air limbah perlu pula diketahui untuk memperkirakan jumlah air buangan yang melalui saluran drainase di wilayah studi. Untuk mengetahui besarnya beban air limbah di wilayah studi, diperlukan data-data:

1. Jumlah Penduduk. Meliputi jumlah penduduk pada tahun sekarang, dan proyeksi jumlah penduduk 20 tahun mendatang.

2. Sistem Pengelolaan. Sistem pengelolaan air limbah dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan beban air limbah yang dihasilkan di suatu kota (Qpengelolaan (Lt/hari) = jumlah penduduk x Qair limbah)

(36)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Bidang PU/Cipta Karya

Kabupaten Jember Tahun 2014 – 2018

BAB V

|

36

kawasan RSH Tidar Kecamatan Kaliwates  Penyediaan Infrastruktur kawasan RSH Kebon Agung  Penyediaan Infrastruktur kawasan RSH Bedadung Indah  Penyediaan Infrastruktur kawasan RSH Mangli

Program Pemberdayaan Komunitas Perumahan

 Penyediaan Infrastruktur perdesaan kawasan sentra jeruk

 Kec. Umbulsari

 Kec. Sukoreno

 Kec. Semboro

 Penyediaan Infrastruktur perdesaan kawasan wisata/Agroindustri

 Kec. Silo

 Kec. Sumber Baru

 Kec. Arjasa

 Kec. Tempurejo

 Penyediaan Infrastruktur perdesaan kawasan agrobisnis dan industry (durian dan kerajinan)

 Kec. Sukowono

 Kec. Sumberjambe

 Kec. Arjasa

 Penyediaan Infrastruktur perdesaan kawasan tertinggal / daerah perbatasan

 Kec. Jelbuk

 Kec. Sumber baru

 Kec. Jombang

 Kec. Kencong Dukungan PSD Kawasan Kumuh

 Pembuatan PSD kawasan Kota Jember

 Pembuatan PSD kawasan Kota IKK Ambulu

 Pembuatan PSD kawasan Kota IKK Balung

 Pembuatan PSD kawasan Kota IKK Rambipuji

 Pembuatan PSD kawasan Kota IKK Tanggul

 Pembuatan PSD kawasan Kota IKK Kalisat

 Pembuatan PSD kawasan Kota IKK Kencong

 Pembuatan PSD kawasan Kota IKK Mayang Dukungan PSD Kawasan Nelayan

(37)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Bidang PU/Cipta Karya

Kabupaten Jember Tahun 2014 – 2018

BAB V

|

37

 Program PPIP Lokasi 15 Kecamatan 60 Desa

 Perbaikan rumah kurang layak huni 400 unit

(38)

BAB V

|

38

Sedangkan perhitungan standar untuk Proyeksi buangan air limbah adalah sebagai berikut:

1. Buangan limbah (jumlah penduduk x 80% x kebutuhan air bersih rata-rata) 2. Buangan industri (27% x buangan limbah)

3. Buangan perumahan (33% x buangan limbah) 4. Buangan sosial-ekonomi (40% x buangan limbah)

5. Total buangan (jumlah buangan (industri + perum+ sos-ekonomi)

5.2.3.2 Sub Sektor Persampahan

Sistem pengolahan sampah di kabupaten Jember menggunakan sistem Sanitary Landfill. Berdasarkan hasil survey di Kabupatern Jember terdapat 1 (satu) buah TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yaitu TPA Pakusari dengan kapasitas 600 m3 / hari atau setara dengan 600.000 Liter / hari. Jenis sampah yang ditampung berupa sampah organik yang berasal dari sisa kegiatan rumah tangga dan perdagangan.

Proses perngolahan sampah terdiri dari sistem pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, dan pengolahan. Untuk sistem penwadahan sendiri berupa pewadahan individual maupun komunal. Begitu juga dengan sistem pengumpulannya. Selanjutnya sampah – sampah yang berasal dari rumah tangga diangkut dengan gerobak sampah oleh pasukan kuning dengan kapasitas masing – masaing gerobak 1 m3 dan dibawa menuju TPS. Jenis TPS di Kabupaten Jember ada 2, yaitu sistem transfer depo dan kontainer dengan kapasitas masing – masing TPS 15 m3 / hari.

5.2.3.3 Sub Sektor Drainase

Saluran drainase di Kabupaten Jember terdiri dari saluran primer, saluran sekunder, dan saluran tersier atau saluran-saluran pada pemukiman. Untuk saluran sekunder yang terdapat di Kabupaten Jember dapat dibedakan menjadi

(39)

BAB V

|

39

dua, yaitu saluran terbuka dan tertutup. Untuk saluran sekunder, baik yang terbuka maupun tertutup serta saluran tersier atau saluran-saluran yang ada pada pemukiman penduduk, banyak yang kondisinya kurang layak dalam arti lebar, kedalaman, maupun bentuk fisiknya untuk pelayanan drainase. Pemerintah Kabupaten Jember telah berusaha mengatasi hal tersebut dengan cara memperbesar saluran drainase yang sudah ada.

Tabel

Jaringan Drainase Kabupaten Jember Tahun 2007

No Jenis Bangunan Volume Satuan

1 Bendung Bendungan Gerak 3 Buah

Bendungan Tetap 245 Buah

Pengambilan Bebas 151 Buah

Pengambilan dengan pompa 9 Buah

2 Saluran Saluran Primer 80.789 Meter

Saluran Sekunder 498.911 Meter

Saluran Tersier 59.530 Meter

Saluran Suplessi 13.653 Meter

Saluran Gendong 4.165 Meter

Saluran Pembuang 739.544 Meter

3 Bangunan Bangunan Bagi 419 Buah

Bangunan Bagi Sadap 261 Buah

Bangunan Sadap 369 Buah

4 Bangunan Pelengkap Bangunan Gorong-gorong 318 Buah

Bangunan Talang 48 Buah

Bangunan Terjun 163 Buah

Bangunan Pelimpah Samping 72 Buah

Bangunan Lain-lain Buah

5 Lain-lain Jembatan 471 Buah

Syphon 8 Buah

Kantong Lumpur 4 Buah

Pintu Penguras / Pembilas 2.038 Buah

Fre Intake Buah

Sumber: Kabupaten Jember Dalam Angka Tahun 2008

5.2.4 Pengembangan Air Minum

Kebutuhan akan air bersih penduduk di Kabupaten Jember terutama diperoleh dari sumur, baik sumur gali maupun sumur pompa, jaringan pipa air dari PDAM. Dari kebutuhan air bersih di Kabupaten Jember masih banyak yang memanfaatkan air sumur daripada air PDAM. Hal ini disebabkan karena belum seluruhnya jaringan pipa PDAM dapat menjangkau wilayah Kabupaten Jember.

(40)

BAB V

|

40

Tabel

Jumlah Pelanggan PDAM Kabupaten Jember Tahun 2007

No Jenis Pelanggan Pelanggan

1 Rumah Tangga 20.408

2 Niaga Dan Industri 2.586

3 Sosial 398

4 Hidran Umum / Kran Umum 34

5 Instansi Pemerintah 207

Jumlah 23.633

Sumber: Kabupaten Jember Dalam Angka Tahun 2008

Tabel

Jumlah Produksi Air Bersih PDAM Kabupaten Jember Tahun 2007

No Bulan Produksi (M3) 1 Januari 710.028 2 Februari 705.128 3 Maret 676.902 4 April 711.448 5 Mei 710557 6 Juni 732.165 7 Juli 713.597 8 Agustus 713.578 9 September 690.158 10 Oktober 652.043 11 Nopember 720.686 12 Desember 732.976 Jumlah 8.469.266

(41)
(42)

BAB V

|

42

5.3 Logical Framework Rencana Investasi Berdasarkan Skenario Pengembangan Wilayah

dan Sektor

MATRIK LOGICAL FRAMEWOK RENCANA INVESTASI PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN KABUPATEN JEMBER

NO KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PERMUKIMAN POTENSI ISU/ PERMASALAHAN KAWASAN TUJUAN /SASARAN PENDEKATAN /STRATEGI PEMBANGUNAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PROGRAM RUANG LINGKUP KEGIATAN OUTPUT /OUTCOME PERFORMANCE INDICATOR KENDALA PROGRAM Pengembangan perumahan baru skala besar dikembangkan di sekitar pusat kota, seperti Kecamatan Arjasa, Pakusari, Ajung, Sukorambi dan Panti. Permukiman perkotaan menengah, merupakan permukiman di perkotaan yang memiliki fungsi Memiliki fasilitas sosial dan fasilitas umum kota, serta peluang kerja. Antara kota inti dengan perumahan baru memiliki hubungan atau aksesibilitas yang tinggi, setidaknya oleh sistem komuting. Keterbatasan lahan membuat masyarakat cenderung menempati lahan-lahan yang berada disekitar jaringan jalan utama kota yang mempunyai akses yang baik

ke pusat kegiatan perdagangan dan kawasan aktivitas lainnya. Secara keseluruhan pola Persebaran pemukiman akan dibuat tersebar merata sebagai usaha untuk mencegah terjadinya pemusatan penduduk Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk permukiman yang aman dari bahaya bencana alam. Sehat dan mempunyai akses untuk kesempatan berusaha serta dapat memberikan manfaat bagi peningkatan Perlu adanya pengaturan terhadap luas lahan terbangun dengan tak terbangun pada kawasan pengembangan permukiman. Perlu adanya penegasan batas kawasan terhadap kawasan non permukiman. Perlu adanya Program Penyediaan prasarana dasar kawasan Rumah Susun Sederhana Program Pembanguna n rumah susun sederhana sewa Program Peningkatan infrastruktur Prasarana Dasar RSH Prasarana Dasar permukiman kumuh Prasarana Dasar permukiman nelayan Infrastruktur kawasan permukiman OUTPUT: Tersusunny a studi Penyediaan prasarana dasar kawasan Rumah Susun Sederhana Tersusunny a studi Pembangun an rumah susun sederhana sewa Efisiensi dan efektifitas penyediaan fasilitas permukiman Persetuju an program dari legislatif dan eksekutif

(43)

BAB V

|

43

sebagai pusat pelayanan WP. Pengembangan permukiman tersebut dapat dikembangkan di Perkotaan Tanggul, Perkotaan Kalisat, Perkotaan Ambulu dan Perkotaan Balung perkembangan perumahan di Kabupaten Jember masih mengikuti pola pekembangan jaringan jalan, dalam kecenderungan perkembangan ruang terbangun (built-up area) berpola pita (ribon pattern) ketersediaan permukiman, mendayagunakan fasilitas yang ada di sekitarnya dan meningkatkan perkembangan kegiatan sektor ekonomi yang ada penetapan tinggi bangunan pada kawasan pengembangan permukiman skala kawasan Program Dukungan prasarana dasar kawasan kumuh Program Dukungan prasarana dasar kawasan nelayan Tersusunny a studi Peningkatan infrastruktur skala kawasan Tersusunny a studi Dukungan prasarana dasar kawasan kumuh Tersusunny a studi Dukungan prasarana dasar kawasan nelayan OUTCOME: Dasar kebijakan pengemban gan permukiman

(44)

BAB V

|

44

MATRIK LOGICAL FRAMEWOK RENCANA INVESTASI

PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN KABUPATEN JEMBER

NO KEBIJAKAN PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN POTENSI ISU/ PERMASALAHAN KAWASAN TUJUAN /SASARAN PENDEKATAN /STRATEGI PEMBANGUNAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PROGRAM RUANG LINGKUP KEGIATAN OUTPUT /OUTCOME PERFORMANCE INDICATOR KENDALA PROGRAM Kebijakan dan strategi penyediaan dan pemanfaatan RTH di Kabupaten Jember adalah untuk kelestarian keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan yang meliputi unsur lingkungan sosial dan budaya

Salah satu ciri khas penataan ruang Kabupaten Jember adalah keberadaan ruang terbuka/taman kota, seperti Alun-alun Kota Jember, Alun-alun Kota Tanggul, dan berbagai ruang terbuka yang tersedia hampir diseluruh kantor kecamatan di Kabupaten Jember Perencanaan ruang terbuka hijau ini didukung oleh aneka ragam tumbuhan yang tumbuh subur

serta udara yang sejuk sepanjang tahun Pada setiap wilayah perkotaan perlu ditetapkan kawasan RTH sesuai dengan tata guna lahan dan sektor tertentu, dalam rangka penyelenggar aan RTH kota secara menyeluruh Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) memiliki fungsi penting yaitu ekologis dan sosial-ekonomi Mengisi dan memelihara taman-taman kota yang sudah ada, sebaik-baiknya dan berdasar pada prinsip fungsi pokok RTH (identifikasi dan keindahan) masing-masing lokasi Program percontohan ruang terbuka hijau Ruang Terbuka Hijau Alun-alun Kota Jember, Alun-alun Kota Tanggul, dan berbagai ruang terbuka yang tersedia hampir diseluruh kantor kecamatan OUTPUT: program percontohan ruang terbuka hijau yang terdapat di Kecamatan Jenggawah OUTCOME: Terciptanya suasana teduh, nyaman, bersih dan indah Tersedianya sarana rekreasi dan wisata kota  Keterbat asan dana  Kebijakan Pengemba ngan Kota

(45)

BAB V

|

45

MATRIK LOGICAL FRAMEWOK RENCANA INVESTASI

PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN SUB SEKTOR AIR LIMBAH KABUPATEN JEMBER

NO KEBIJAKAN PENYEHATAN LINGKUNGAN DAN PERMUKIMAN POTENSI ISU/ PERMASALAHAN KAWASAN TUJUAN /SASARAN PENDEKATAN /STRATEGI PEMBANGUNAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PROGRAM RUANG LINGKUP KEGIATAN OUTPUT /OUTCOME PERFORMANCE INDICATOR KENDALA PROGRAM Sesuai RTRW Kab. Jember sampai dengan tahun 2016, penanganan air limbah lebih ditekankan pada pengoptimalan sistem yang

sudah ada, dan mengembangkan sistem individual dan komunal yang sudah diarahkan pada sistem publik

Sampai saat ini pembuangan air kotor di Kabupaten Jember lebih banyak menggunakan sistem setempat atau individual daripada sistem terpusat atau sistem publik Untuk saluran sekunder, baik yang terbuka maupun tertutup serta saluran tersier atau saluran-saluran yang ada pada pemukiman penduduk,

banyak yang

kondisinya

kurang layak

dalam arti lebar, kedalaman, maupun bentuk fisiknya untuk pelayanan drainase Pengamanan pencemaran sumberdaya air dengan memberi peringatan dan sanksi hukum pada kegiatan-kegiatan (terutama kegiatan industri) yang membuang air limbah sehingga mengakibatka n pencemaran sumberdaya air Pengelolaan penanganan air limbah dari kegiatan industri, rumah sakit, hotel, restoran dan rumah tangga pengembangan kinerja pengelolaan air limbah Program pengembang an kinerja pengelolaan air limbah

Air limbah OUTPUT:

Lingkungan sehat OUTCOME: Masyarakat sejahtera Peningkatan kesehatan masyarakat  Keterbat asan dana  Kebijakan Pengemba ngan Kota  Kesadar an masyaraka t untuk hidup sehat yang masih kurang

(46)

BAB V

|

46

MATRIK LOGICAL FRAMEWOK RENCANA INVESTASI

PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN SUB SEKTOR PERSAMPAHAN KABUPATEN JEMBER

NO KEBIJAKAN PENYEHATAN LINGKUNGAN DAN PERMUKIMAN POTENSI ISU/ PERMASALAHAN KAWASAN TUJUAN /SASARAN PENDEKATAN /STRATEGI PEMBANGUNAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PROGRAM RUANG LINGKUP KEGIATAN OUTPUT /OUTCOME PERFORMANCE INDICATOR KENDALA PROGRAM  Pengembangan pengelolaan sampah dengan system reduce- reuse-recycle-replace  Penyediaan lokasi pembuangan akhir untuk masing-masing WP Kabupaten Jember memiliki 1 TPA eksisting yaitu TPA Pakusari, dan ada pengembangan TPA Jelbuk di Kec. Jelbuk Kurang tepat dalam pemilihan lokasi TPA di samping tata cara pengelolaan operasional yang tidak berjalan dengan baik Peningkatan pelayanan pengelolaan TPA Peningkatan kapasitas dan kualitas pengelolaan persampahan di TPA Pengembangan kebijakan pengelolaan TPA Program pengembang an kinerja pengelolaan persampahan Peningkatan kapasitas TPA dengan penambahan luas area TPA dan peningkatan sistem pengelolaan sampah OUTPUT: Pembangun an TPA OUTCOME: Pelayanan TPA yang memadai

TPA lebih luas dan pengelolaan sampah  Keterbat asan dana  Kebijakan Pengemba ngan Kota

(47)

BAB V

|

47

MATRIK LOGICAL FRAMEWOK RENCANA INVESTASI PENGEMBANGAN AIR MINUM KABUPATEN JEMBER

NO KEBIJAKAN PENGEMBANGAN AIR MINUM POTENSI ISU/ PERMASALAHAN KAWASAN TUJUAN /SASARAN PENDEKATAN /STRATEGI PEMBANGUNAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PROGRAM RUANG LINGKUP KEGIATAN OUTPUT /OUTCOME PERFORMANCE INDICATOR KENDALA PROGRAM peningkatan pelayanan jaringan yang ada dengan

pembuatan jaringan baru.

Pengembangan sumber air bersih agar meningkatkan produksi dan pengendalian tingkat kebocoran Tersedianya sumber air baku yang berpotensi sebagai sumber air bersih Jumlah SR PDAM yang cukup banyak  Sumberdaya air banyak mengalami penyusutan dan pada tempat tertentu malah tidak dapat dikendalikan yang mengakibatka n timbulnya banjir  Pengadaan air baku di Jember sebagian besar dari air permukaan, dan pemanfaatan air tanah digunakan untuk memenuhi kekurangan air permukaan. Ketersediaann ya cenderung tetap atau menurun, sedangkan kebutuhan air baku relatif Peningkatan pelayanan air minum yang mandiri Optimalisasi intake dan sistem perpipaan yang tidak sesuai dengan standar tknis untuk melayani kebutuhan air di wilayah perkotaan Peningkatan pelayanan jaringan yang ada dengan pembuatan jaringan baru. Pengembangan sumber air bersih agar meningkatkan produksi dan pengendalian tingkat kebocoran  Pengaman an dan pengendalia n daerah resapan air di sekitar sumber air baku (mata air).  Pengemba ngan sistem pipa transmisi dan distribusi dan pengendalia n kebocoran air.  Pengemba ngan SPAM di desa rawan air, pesisir dan terpencil.  Penyediaa n prasarana air minum kawasan RSH/RUSU NAWA.  Penyediaa n prasarana air minum  DED &  pembenaha n jaringan transmisi dan distribusi OUTPUT: Jaringan transmisi dan distribusi OUTCOME: Masyarakat sejahetra Pelayanan kebutuhan air minum meningkat  Keterbat asan dana  Kebijakan Pengemba ngan Kota

(48)

BAB V

|

48

meningkat.  Perubahan bantaran sungai menjadi permukiman ini juga mengakibatka n berkurangnya kapasitas tampung, berubahnya kawasan karena gejala alam, penurunan kualitas air yang diakibatkan oleh sumber-sumber pencemar yang masuk ke badan sungai kawasan kumuh/nela yan.

Gambar

GAMBAR 5.1  PEMANFAATAN LAHAN PERKOTAAN JEMBER
Gambar 5.1 Struktur Hirarki Kegiatan WP Jember Tengah
Gambar 5.4 Struktur Hirarki Kegiatan WP Jember Selatan Timur
Tabel 5.2  Rencana Sistem Pusat Pelayanan Kabupaten Jember Hingga Tahun 2028

Referensi

Dokumen terkait

Penataan Bangunan dan Lingkungan adalah Kegiatan Penataan Bangunan dan Lingkungan adalah kegiatan yang bertujuan mengendalikan pemanfaatan ruang dan

kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan pemantapan Kawasan Perkotaan Gianyar sebagai perkotaan di sekitar kawasan perkotaan inti dari PKN Kawasan Perkotaan

Bangunan-bangunan di Kota Madiun secara umum saat ini diarahkan kepada penataan sesuai dengan fungsi kaw asan yang telah direncanakan, baik untuk kegiatan

Beberapa desa dalam satu kecamatan memiliki pusat kegiatan yang hirarkinya di.. bawah perkotaan kecamatan yakni sebagai Desa Pusat

yang terbangun pada kawasan yang tidak sesuai dengan fungsinya Penataan Bangunan dan Lingkungan RTBL KSK Kawasan Permukiman Prioritas Kota Maros. Menata kawasan pasar

Berdasarkan hasil analisis, kawasan yang sesuai untuk permukiman di wilayah Kabupaten Paser terdapat di bagian timur wilayah yang meliputi wilayah Kecamatan Long

permukiman dan pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya pada kawasan prioritas

kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan pemantapan Kawasan Perkotaan Gianyar sebagai perkotaan di sekitar kawasan perkotaan inti dari PKN Kawasan Perkotaan