i
GEO INDUSTRI
“
Analisis Perkembangan Industri Indonesia
“
Oleh :
Kelompok
1.
NOVFIRMAN
18494/2010
2.
YOPPIE ELIMBRA O.
18487/2010
3.
ULUL AZMI
18481/2010
4.
JANUARMAN
18478/2010
JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
i
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya kepada penulis sehingga penulis dapat
meyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini berjudul “Perkembangan Industri Indonesia”.
Terima kasih penulis ucapkan kepada dosen pembimbing mata kuliah dan rekan-rekan serta seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam pembuatan makalah ini baik itu berupa dorongan moral maupun spiritual.
Penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini mungkin jauh
dari kesempurnaan, sebagaimana kata pepetah mengatakan bahwa “tak ada gading yang tak retak” yang maksudnya adalah tak ada sesuatu yang tidak memiliki
kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran-saran dan kritikan yang bersifat membangun sehingga dapat menjadi masukan bagi penulis pada masa yang akan datang. Atas saran dan kritikannya penulis mengucapkan terima kasih.
Padang, April 2013
ii DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Daftar isi ... ii
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Balakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penulisan ... 2
1.4 Manfaat Penulisan ... 2
BAB II : PEMBAHASAN ... 3
2.1. Perkembangan Industri Indonesia ... 3
2.2. Aglomerasi dan Cluster perkembangan Industri Indonesia ... 6
2.3. Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja Indonesia ... 8
BAB III : PENUTUP ... 11
5.1. Kesimpulan ... 11
Daftar Pustaka ... 12
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setelah Indonesia merdeka, beberapa usaha dilakukan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Beberapa pusat penelitian yang telah adapun, sejak pemerintahan kolonial masih ada dan terus dikembangkan, antara lain : Sekolah Tinggi Teknik (THS) di Bandung, Sekolah pertanian (LHS) di Bogor, Sekolah Tinggi Hukum (RHS) di Jakarta, dan lain-lain. Sekolah-sekolah tersebut dibentuk guna tujuan merumuskan, mengganti, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan riset dan pengembangan IPTEK di Indonesia. Hal itu guna menunjang industri di Indonesia.
Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Dengan demikian, industri merupakan bagian dari proses produksi. Bahan-bahan industri diambil secara langsung maupun tidak langsung, kemudian diolah, sehingga menghasilkan barang yang bernilai lebih bagi masyarakat. Kegiatan proses produksi dalam industri itu disebut dengan perindustrian.
Sebagai negara agraris, peranan industri dalam perekonomian Indonesia dengan sejarah perkembangannya tidaklah begitu amat berarti. Di zaman dahulu, kalaupun beberapa penduduk menggunakan industri kerajinan sebagai salah satu mata pencaharian. Peranannya hanya sekedar untuk tambahan penghasilan atau pekerjaan sambilan. Biasanya malah lebih berupa kerajinan yang bertendensi artistik daripada kewiraswastaan; atau lebih berupa aspek kerja budaya daripada komersial.
2
seharusnyalah kita tidak mengesampingkan peran pertanian di Indonesia. Apalagi lahan di Indonesiapun terpampang luas di seluruh Nusantara.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana Perkembangan Industri di Indonesia?
1.2.2. Bagaimana Aglomerasi dan Cluster perkembangan Industri Indonesia?
1.2.3. Bagaimana perkembangan jumlah tenaga kerja di Indonesia.
1.3. Tujuan Penulisan
1.2.1. Menganalisis Perkembangan Industri di Indonesia.
1.2.2. Mengetahui bentuk Aglomerasi dan Cluster perkembangan Industri Indonesia.
1.2.3. Mengetahui perkembangan jumlah tenaga kerja di Indonesia.
1.4. Manfaat penulisan
1.3.1. Mengetahui bahan materi perkuliahan. 1.3.2. Bahan referensi informasi perkuliahan. 1.3.3. Tugas mata kuliah.
3 BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengaruh Industri Terhadap Lingkungan.
Selama 20 tahun terakhir Pembangunan ekonomi Indonesia mengarah kepada industrialisasi. Tidak kurang terdapat 30.000 industri yang beroperasi di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Peningkatan jumlah ini menimbulkan dampak ikutan dari industrialisasi ini yaitu terjadinya peningkatan pencemaran yang dihasilkan dari proses produksi industri. Pencemaran air, udara, tanah dan pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) merupakan persoalan yang harus dihadapi oleh komunitas-komunitas yang tinggal di sekitar kawasan industri.
Gejala umum pencemaran lingkungan akibat limbah industri (jangka pendek) :
1. Air sungai atau air sumur sekitar lokasi industri pencemar, yang semula berwarna jernih, berubah menjadi keruh berbuih dan terbau
busuk, sehingga tidak layak dipergunakan lagi oleh warga
masyarakat sekitar untuk mandi, mencuci, apalagi untuk bahan baku
air minum.
2. Ditinjau dari segi kesehatan. kesehatan warga masyarakat sekitar dapat timbul penyakit dari yang ringan seperti gatal-gatal pada kulit
sampai yang berat berupa cacat genetic pada anak cucu dan generasi
berikut.
3. Terjadinya penurunan kualitas air permukaan di sekitar daerah-daerah industri.
4. Kelangkaan air tawar semakin terasa, khususnya di musim kemarau, sedangkan di musim penghujan cenderung terjadi banjir yang
melanda banyak daerah yang berakibat merugikan akibat kondisi
4
5. Temperatur udara maksimal dan minimal sering berubah-ubah, bahkan temperatur tertinggi di beberapa kola seperti Jakarta sudah
mencapai 37 derajat celcius.
6. Terjadi peningkatan konsentrasi pencemaran udara seperti CO, NO2r S02, dan debu.
Gejala umum pencemaran lingkungan akibat limbah industri (jangka panjang) :
Penyakit akibat pencemaran ada yang baru muncul sekian tahun kemudian
setelah cukup lama bahan pencemar terkontaminasi dalam bahan makanan
menurut daur ulang ekologik, seperti yang terjadi pada kasus penyakit minaimata
sekitar 1956 di Jepang. terdapat lebih dari 100 orang meninggal atau cacat karena
mengkonsumsi ikan yang berasal dari Teluk Minamata. Teluk ini tercemar
merkuri yang berasal dari sebuah pabrik plastik. Bila merkuri masuk ke dalam
tubuh manusia melalui saluran pencernaan, dapat menyebabkan kerusakan akut
pada ginjal sedangkan pada anak-anak dapat menyebabkan Pink Disease/
acrodynia, alergi kulit dan kawasaki disease/mucocutaneous lymph node
syndrome.
Contoh Kasus Pencemaran Lingkungan oleh Industri :
1. Di Kalimantan Selatan, Pembuangan limbah industri ke aliran Sungai
oleh PT Galuh Cempaka.
2. Kalimantan Tengah; Tiga sungai besar di Kalimantan Tengah masih tercemar air raksa (merkurium) akibat penambangan emas di sepanjang
daerah aliran sungai (DAS) Barito, Kahayan, dan Kapuas. Pencemaran
itu melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.
3. perusahaan tambang yang menerapkan pembuangan limbah tailingnya ke laut (Sub Marine Tailing Disposal). Pertama, adalah Newmont
Minahasa Raya (NMR) sejak 1996 di Kabupaten Minahasa, Sulawesi
Utara, dan kemudian menyusul PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) di
Sumbawa-Nusa Tenggara Barat sejak 1999. Setiap harinya 2.000 metrik
5
120.000 metrik ton di Teluk Senunu, Sumbawa. Pada akhirnya dari
proses ini terjadi berbagai dampak yang berujung kepada turunnya
kualitas lingkungan hidup dan kualitas hidup manusia.
4. Papua; PT. Freeport beroperasi dari tahun 1967 telah menimbulkan dampak Hancurnya Gunung Grasberg, Tercemarnya Sungai Aigwa,
Meluapnya air danau Wanagon, Tailing mengkontaminasi : 35.820
hektar daratan dan 84.158 hektar Laut Arafura
5. Di Jawa, Pembuangan limbah pabrik-pabrik di Sungai Cikijing selama puluhan tahun (Jawa Barat), pembuangan limbah oleh beberapa pabrik
ke Kali Surabaya, dan sederetan kasus pencemaran industri yang telah
nyata-nyata menimbulkan korban.
6. Berdasarkan hasil studi empiris yang pernah dilakukan oleh Magrath dan Arens pada tahun 1987 (Prasetiantono, di dalam Sudjana dan
Burhan (ed.), 1996: 95), diperkirakan bahwa akibat erosi tanah yang
terjadi di Jawa nilai kerugian yang ditimbulkannya telah mencapai 0,5
% dari GDP, dan lebih besar lagi jika diperhitungkan kerusakan
lingkungan di Kalimantan akibat kebakaran hutan, polusi di Jawa, dan
terkurasnya kandungan sumber daya tanah di Jawa.
Mengapa Kasus-Kasus tersebut Bisa Terjadi
1. Lemahnya pemahaman aparat penegak hukum seperti kepolisian dan
pengadilan mengenai peraturan perundangan lingkungan hidup.
2. Lemahnya penegakkan hukum di Indonesia mengenai pencemaran
lingkungan
3. tindakan tegas dari pemerintah untuk melarang pembuangan limbah tailing
ke laut Indonesia. Patut diketahui bahwa metode pembuangan limbah
tailing dengan model ini sudah dilarang dinegara-negara lain di dunia.
Bahkan Kanada, negara yang pertamakali menggunakan metode ini,
kapok dan tidak lagi menggunakan metode STD mengingat masa
6
memberikan ijin bagi praktek pembuangan limbah tailing dengan metode
STD ini.
4. Negara menutup akses rakyat atas informasi yang terkait dengan industri
dan termasuk limbah industri.
5. Tidak dilibatkannya masyarakat secara maksimal dalam pengelolaan
lingkungan sehingga seolah-olah urusan lingkungan hanya menjadi urusan
pemerintah dan perusahaan tidak menjadi urusan publik sebagai pihak
yang banyak menggunakan jasa lingkungan.
Upaya-upaya yang Perlu Kita Lakukan untuk Selamatkan Lingkungan Hidup
1. Wajib bagi kita semua untuk mengetahui pengetahuan tentang hubungan
antara jenis lingkunganHal ini sangat penting agar dapat menanggulangi
permasalahan lingkungan secara terpadu dan tuntas.
2. Para aparat penegak hukum perlu diberi pengetahuan sebesar-besarnya
tentang permasalahan pencemaran lingkungan ini.
3. Membuat dan melaksanakan dengan baik peranturan UU tentang
Lingkungan Hidup.
4. Jagalah Lingkungan Mulai dari diri sendiri, Hal yang kecil, dan sekarang
juga
2.2. Orientasi Industri
Industri yang cenderung ditempatkan di lokasi bahan baku
Pertimbangan yang digunakan untuk menempatkan industri yang berorientasi
pada bahan baku, di antaranya adalah:
Industri yang mengolah bahan baku yang cepat rusak atau busuk, misalnya: industri daging, industri ikan, industri bunga, dan industri
susu.
Industri yang mengolah bahan baku dalam jumlah besar atau barang curahan (bulk goods) dan biaya angkutannya cukup mahal,
7
Industri kelompok ini memiliki perbandingan kehilangan berat
(weight loss) mencapai 75% atau lebih.
Memiliki ketersedian bahan mentah yang cukup besar.
Biaya pengangkutan bahan mentah lebih mahal daripada biaya pengangkutan barang jadi.
Volume produksi lebih kecil dari bahan mentah karena adanya penyusutan.
Industri yang cenderung ditempatkan di daerah pemasaran
Pertimbangan yang digunakan untuk menempatkan industri yang berorientasi
pada daerah pemasaran, di antaranya adalah:
1) Jika dalam pembuatan barang industri, perbandingan kehilangan
(susut) berat mencapai nol persen, biaya angkut untuk barang jadi lebih
mahal dari pada biaya angkut untuk barang mentah. Misalnya: industri
roti karena setelah diolah beratnya tidak berbeda dengan bahan
mentahnya.
2) Jika bahan mentah/baku mudah diperoleh. Misalnya: industri air
mineral, karena air bersih dianggap mudah diperoleh.
3) Jika barang yang dihasilkan memerlukan ongkos tinggi karena
ukurannya relatif lebih besar. Misalnya: industri peti dan industri
mebel.
4) Jika barang yang dihasilkan selalu mengalami perubahan yang cepat
karena kaitannya dengan model dan mode yang sedang berkembang.
Misalnya industri konveksi.
5) Jika biaya angkut barang jadi lebih mahal dari pada biaya angkut
bahan mentah/baku.
6) Jika produksi yang dihasilkan mudah rusak dan tidak tahan lama.
7) Jika barang yang dihasilkan memerlukan pemasaran yang luas.
8
Industri yang cenderung ditempatkan di pusat-pusat konsentrasi penduduk
Industri yang cenderung ditempatkan di pusat-pusat konsentrasi penduduk, yaitu
industri yang memerlukan tenaga kerja yang banyak. Industri ini bersifat padat
karya, misalnya: industri elektronika dan garmen. Industri ini biasanya berlokasi
di tempat pemusatan tenaga kerja, terutama tenaga kerja yang murah dan terampil.
Adapun industri yang memerlukan tenaga kerja dengan keahlian yang khusus
dalam jumlah yang banyak di antaranya industri kain batik dan industri kain
bordir.
Industri yang cenderung ditempatkan di lokasi sumber tenaga/energi
Industri yang cenderung ditempatkan di lokasi sumber tenaga/energi adalah
industri yang banyak memerlukan sumber tenaga (listrik, minyak bumi, batubara,
gas, dan air). Misalnya: industri peleburan baja/besi, industri pembangkit listrik
tenaga air (PLTA), dan industri pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Industri yang cenderung ditempatkan dengan orientasi pada biaya
pengangkutan adalah industri yang memerlukan sarana atau jaringan transportasi
yang mudah dan baik, sehingga tidak mengganggu jalur pemasaran. Industri ini
biasanya industri yang memerlukan bahan mentah, pengolahan, dan pemasaran
pada satu tempat yang sama. Misalnya: industri air kemasan atau air karbonasi.
Industri yang berorientasi pada modal adalah industri yang biasanya
memiliki produksi yang besar dan sangat vital secara ekonomis, dan memiliki
pasar yang luas serta strategis untuk menarik modal asing. Misalnya: industri
farmasi dan alat-alat kesehatan.
Industri yang berorientasi pada teknologi adalah industri yang
membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus dan terdidik, serta telah
menerapkan teknologi adaptif. Misalnya: industri pertanian, industri perikanan,
industri pariwisata, dan industri perhotelan.
Industri yang berorientasi pada peraturan dan perundang-undangan adalah
industri yang memerlukan kemudahan dalam perizinan dan sistem perpajakan.
Industri yang berorientasi pada lingkungan adalah industri yang tidak
9
yang ramah lingkungan. Cirinya hemat bahan baku dan sumber energi, serta tidak
mencemari lingkungan, tetapi memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
2.3. Perkembangan Industri Di Indonesia.
Perkembangan industri melibatkan berbagai penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di Indonesia, kegiatan pembangunan ditunjang oleh tumbuhnya berbagai jenis industri dengan berbagai jenis kegiatan
a) Aneka Industri
Bidang ini mempunyai peranan yang cukup besar dalam pembangunan industri secara keseluruhan, yakni dapat menjadi penghubung antara industri hulu dan industri hilir. Industri hulu adalah industri yang memproduksi bahan baku dan bahan penolong untuk keperluan industri lainnya. Contohnya : industri besi, baja, pemintalan, dan lain-lain. Sedangkan industri hilir adalah industri yang memakai bahan dasar dari hasil industri hulu untuk memproduksi baran yang siap dipakai konsumen.
Di Indonesia, aneka industri memanfaatkan teknologi yang lebih sederhana dan memperluas kesempatan kerja, sehingga disini dapat menyerap tenaga kerja. Jadi, dengan aneka industri, pembangunan Indonesia dapat maju bahkan berghasil memproduksi barang ekspor.
b) Industri Logam Dasar
Perkembangan industri ini berkembang pesat. Kenyataan ini menyebabkan industri dasar mempunyai peran yang cukup besar dalam proses industrialisasi.
c) Industri Non Manufakturing
10
perekonomian negara. Namun, banyak negara juga tidak memiliki potensi ini. Di Indonesia pertambangan dan pertanian menjadi sub terpenting mengingat mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani (negara agraris). Itulah yang menyebabkan industri di Indonesia semakin beragam. Sekarang ini, banyak negara-negara di dunia terus berupaya untuk menumbuhkan ekonominya. Langkah yang diambil yaitu dalam masalah industri. Industri memang menjadi faktor fenomenal untuk menunjang perdagangan. Mereka saling bersaing untuk mendapatkan tempat di pasar global. Karena di dalam pasar global itu sendiri terjadi perdagangan bebas dari dan tentang suatu negara. Salah satu hal yang mendukung ialah sektor industrialisasi.
Globalisasi dirasa lebih menguntungkan negara-negara maju. Karena di negara-negara majulah berbaai bidang termasuk industri mengalami kemajuan, berbeda dengan di negara berkembang. Mungkin dari segi kualitas dan kuantitas hasil produksinya saja jauh lebih baik dari negara maju. Menurut Robert Hutton, ia mengatakan industri adalah bagian terpenting bagi perekonomian di Eropa. Jepang misalnya, produksi otomotif dan elektroniknya mampu menembus pasaran dunia, begitu juga Korea dan Cina. Mereka berkembang menjadi negara industri.
Dalam perkembangan selanjutnya, negara-negara berkembang mulai mengikutsertakan diri dalam aspek tersebut. Tidak hanya ekonomi yang dibangun dari sektor non industri, tapi mereka telah jauh melangkah mengupayakan terciptanya industri yang fleksibel. Dalam arti mampu meningkatkan daya saing di pasaran. Sehingga negara berkembang pun tidak dengan mudah mengikuti arus global saja. Namun, mereka mampu berkompetisi dengan baik.
11
Saat ini adalah masa-masa sulit bagi bangsa kita untuk melepaskan dari keterpurukan ekonomi. Globalisasi semakin membuka kebebasan negara asing dalam memperluas jangkauan ekonominya di Indonesia, sehingga bila bangsa kita tidak tanggap dan merespon positif, maka justru akan memperparah situasi ekonomi dan industri dalam negeri.
Sejauh ini pengembangan sektor industri makin marak, itu sebenarnya tuntutan globalisasi itu sendiri. Di Indonesia, kota-kota industri mulai berkembang dan menghasilkan barang-barang produksi yang bermutu. Namun, ada banyak industri pula di Indonesia yang sebagian sahamnya adalah ahasil investasi asing, bahkan ada juga perusahaan dan industri yang secara mutlak berdiri dan beroperasi di Indonesia. Mereka (investor), hanya akan menuai keuntungan dari modal yang ditanamkan. Sehingga, disini dijelaskan bahwa yang menjalankan dan pengelolaan industri itu ditangani pihak pribumi, mengapa bisa demikian? Karena bila melihat dari sudut pandang terhadap keuangan negara atau swasta dalam negeri lemah, yaitu dalam arti kekurangan biaya pengembangan untuk industri (defisit).
Sebagai contoh saja, industri otomotif sepertai Astra, Indomobil, New Armada. Pada dasarnya perusahaan-perusahaan itu hanya merakit dan kemudian menjualnya ke masyarakat. Berarti hal itu dapat dikatakan bukan hasil karya anak negeri, melainkan modal asing yang ada di Indonesia.
Untuk itulah, seharusnya bangsa ini lebih dalam untuk meningkatkan sumber daya manusianya. Dengan demikian dapat disimpulkan ilmu pengetahuan dan teknologi ialah sarana dalam mengembangkan SDM termasuk menumbuhkembangkan industrialisasi dan menjalankan perekonomian bangsa dengan baik.
12
baku dan barang penolong karena industri Indonesia sebagian besar masih menggunakan bahan baku dan penolong impor.
Dan juga harus di sadari bahwa pertumbuhan industri Indonesia juga adanya campur tangan atau penanaman modal asing yang mau menginvestasikan modal nya dalam negara ini. Penopang pertumbuhan investasi di dalam negeri diantaranya dari sektor Industri logam, mesin dan elektronik naik sebesar 761.8 %.
Dukungan dan moral bangsa Indonesia sangat mendukung atas perkembangan industri - industri Indonesia agar di tahun 2013 target dari pemerintahan tercapai dengan dukungan investasi dari penanam modal asing yang percaya terhadap sektor Industri Indonesia
2.2 Aglomerasi dan Cluster perkembangan Industri Indonesia
Agomerasi adalah gabungan, kumpulan dua atau lebih pusat kegiatan, tempat pengelompokan berbagai macam kegiatan dalam satu lokasi atau kawasan tertentu, dapat berupa kawasan industri, permukiman, perdagangan, dan lain-lain (yang dapat saja tumbuh melewati batas administrasi kawasan masing-masing, sehingga membentuk wilayah baru yang tidak terencana secara sempurna ) Terdapat beberapa teori yang berusaha mengupas tentang masalah aglomerasi.
Istilah aglomerasi muncul pada dasarnya berawal dari ide Marshall tentang penghematan aglomerasi (agglomeration economies) atau dalam istilah Marshall disebut sebagai industri yang terlokalisir (localized industries). Agglomeration economies atau localized industries menurut Marshall muncul ketika sebuah industri memilih lokasi untuk kegiatan produksinya yang memungkinkan dapat berlangsung dalam jangka panjang sehingga masyarakat akan banyak memperoleh keuntungan apabila mengikuti tindakan mendirikan usaha disekitar lokasi tersebut.
13
sebagai penghematan akibat adanya lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosiasikan dengan pengelompokan perusahaan, tenaga kerja, dan konsumen secara spasial untuk meminimisasi biaya-biaya seperti biaya transportasi, informasi dan komunikasi. Sementara markusen menyatakan bahwa aglomerasi merupakan suatu lokasi yang tidah mudah berubah akibat adanya penghematan eksternal (pengurangan biaya yang terjadi akibat aktivitas di luar lingkup perusahaan/ pabrik yaitu dengan beraglomerasi secara spasial) yang terbuka bagi semua perusahaan yang letaknya berdekatan dengan perusahaan lain dan penyedia jasa-jasa; dan bukan akibat kalkulasi perusahaan atau para pekerja secara individual. Dengan beraglomerasi secara spasial maka penghematan biaya terjadi berkat adanya perusahaan-perusahaan dalam industri yang sama bersaing satu sama lain dalam memperoleh pasar atau konsumen. Penghematan juga terjadi karena adanya tenaga terampil dan perusahaan.
Suatu aglomerasi tidak lebih dari sekumpulan kluster. Aglomerasi berbeda dengan kluster, terutama dilihat dari sisi skala, keanekaragaman, dan spesialisasi. Aglomerasi dapat dilihat melalui teori klasik, pada teori ini aglomerasi dianggap sebagai proses yang menghasilkan kota . kendati demikian, setiap aglomerasi tidak selalu memunculkan suatu kota. Perbedaan antara aglomerasi dan kota
terletak terutama pada perbedaan antara “kesederhanaan” (simplicity) dan
14
2.3. Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja Indonesia
Subsektor 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
1 Makanan dan Minuman 732,945 636,625 784,129 748,155 721,457 714,824 715,648
2 Tembakau 258,678 272,343 316,991 334,194 346,042 331,590 327,865
3 Tekstil 545,507 567,042 572,710 558,766 484,732 498,005 525,470
4 Pakaian jadi 444,904 451,975 583,634 523,118 495,518 464,777 481,470
5 Kulit dan barang dari kulit 222,932 208,723 237,626 210,854 219,792 219,071 225,481
6 Kayu, barang dari kayu,
dan anyaman 347,962 312,193 299,278 279,622 241,226 214,991 219,641
7 Kertas dan barang dari
kertas 117,871 119,469 126,430 134,305 126,883 120,001 126,379
8 Penerbitan, percetakan, dan
dari bahan kimia 204,234 208,621 208,406 213,095 199,990 211,667 216,433
11 Karet dan barang-barang
dari plastik 339,546 334,345 348,405 343,155 360,181 339,297 363,490
12 Barang galian selain logam 165,352 165,056 190,630 177,304 176,459 175,127 171,313
13 Logam dasar 59,044 56,411 65,069 64,233 64,099 60,632 64,643
14 Barang-barang dari logam
dan peralatannya 126,523 123,349 111,388 129,577 147,330 126,921 142,885
15 Mesin dan
perlengkapannya 77,268 78,847 106,321 83,714 87,192 71,276 74,751
16 Peralatan kantor, akuntansi,
dan pengolahan data 2,619 3,698 1,477 3,427 3,009 2,892 2,908
17 Mesin listrik lainnya dan
perlengkapannya 77,233 81,251 79,996 82,764 77,094 80,529 80,611
18 Radio, televisi, dan
peralatan komunikasi 133,082 139,715 141,672 147,283 117,274 130,173 134,414
19
pengolahan lainnya 263,008 260,766 325,362 326,785 313,656 322,741 362,437
23 Daur ulang 3,036 2,743 5,950 8,496 7,071 5,908 2,247
Jumlah 4,324,979 4,226,572 4,755,703 4,624,937 4,457,932 4,345,174 4,501,145 Sumber : BPS Online
15
Indonesia sebagai Negara yang besar tentunya memiliki angkatan kerja yang sangat besar. Lalu,struktur pasar tenaga kerja di Indonesia pun berubah relatif cepat. Mari kita bahas bersama mengenai keadaan pasar kerja Indonesia dan karakteristik pekerja Indonesia. Secara umum pasar kerja Indonesia ditandai oleh lapangan kerja yang dualistik yaitu lapangan kerja formal dan informal; tingkat pengangguran yang tinggi dan kualitas tenaga kerja yang rendah.
Dalam table 1, Anda bisa melihat karakteristik dasar tenaga kerja Indonesia sejak tahun 1997 hingga 2010.
Table 1. Karakteristik Dasar Ketenagakerjaan Indonesia (1997 – 2010)
Populasi & Angkatan Kerja 1997 2001 2004 2007 2010
Pendudukan ≥ 15 Thn (jutaan) 135,07 144,03 153,92 164,12 172,07
Angkatan Kerja (jutaan) 89,60 98,81 103,97 109,94 116,53
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
66,3% 68,6% 67,6% 67% 67,7%
Bekerja (jutaan) 85,41 90,81 93,72 99,93 108,21
Tingkat Partisipasi Kerja (TPK) 95,3% 91,9% 90,1% 90,9% 92,9%
Pengangguran Terbuka (jutaan) 4,19 8,00 10,25 10,01 8,32
16
disebabkan oleh pertumbuhan penduduk. Sedang pertumbuhan penduduk yang bekerja selama periode tersebut mencapai sekitar 23,2% dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 1,78% /tahunnya.
Tingkat partisipasi kerja tahun 1996, setahun sebelum krisis ekonomi mencapai 94,9%, sedang tingkat pengangguran mencapai 5,1%. Saat krisis ekonomi berlangsung, tingkat partisipasi kerja terus mengalami penurunan hingga mencapai 88,8%, sebaliknya tingkat penggangguran terbuka meningkat mencapai 11,2% tahun 2005. Untuk lebih jelasnya, kita bisa melihat table dibawah ini.
Table 2. Trend Pengangguran 2000 – 2010 (juta)
Secara perlahan tingkat partisipasi kerja kemudian kembali meningkat hingga mencapai 92,86% seiring menurunnya tingkat pengangguran terbuka yang mencapai 7,1% pada tahun 2010.
17 BAB III PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Sejarah kata Industri berawal dari masa - masa terdahulu. Pada jaman terdahulu mata pencaharian manusia masih berpindah - pindah hidupnya mulai dari berburu, nelayan, dan memetik hasil - hasil bumi. Pada akhirnya manusia mulai hidup menetap ( tidak lagi berpindah - pindah ) dengan melakukan berbagai macam aktifitas seperti membangun rumah, berkebun, beternak, bertani. Tahun - demi tahun bahwa manusia menyadari arti pentingnya suatu alat penunjang untuk membantu meringankan perkerjaan mereka dalam hal bertani, membangun rumah dan lain - lain. Mulai abad ke 18 M dan 19 M mulailah berkembang pertumbuhan indsutri -industri.
Pemerintah Indonesia mentargetkan pertumbuhan industri Indonesia di tahun 2012 sebesar 7.1 % dengan menggunakan asumsi pertumbuhan industri Indonesia di tahun 2011 sebesar 6.5 % dan menurut Badan Pusat Statistik bahwa pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan impor, terutama impor produk bahan baku dan barang penolong karena industri Indonesia sebagian besar masih menggunakan bahan baku dan penolong impor.
18
DAFTAR PUSTAKA
http://sundriesofworld.blogspot.com/2012/01/perkembangan-industri-di-indonesia.html
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=09¬ab =11
http://slametteguh.blogspot.com/2009/02/aglomerasi.html
http://www.gajimu.com/main/tips-karir/kiat-pekerja/karakteristik-tenaga-kerja-indonesia
google.com wikipedia bps online
19