Korelasi antara Luas dan Kualitas Taman Kota
IB Ilham Malik
Direktur CV Malik Consultant, S3 di Kitakyushu University, Jepang
Selama beberapa tahun ini, banyak kota di Indonesia mendapatkan tekanan dari warganya agar memiliki taman kota. Sayangnya tekanan moral ini tidak mendapatkan respon yang memadai dari para pemangku kepentingan. Meskipun demikian, sesungguhnya kota-kota di Indonesia terus menerus menganggarkan peremajaan tanaman taman dan juga pemeliharaan taman yang sudah ada. Dan hal itu dianggarkan melalui APBD yang disahkan oleh DPRD setempat. Hal ini menandakan bahwa ada kebutuhan yang lebih besar lagi dari warga kota terkait dengan taman kota yang ada ditempatnya. Dan sudah seharusnya pemda setempat mengupayakan berbagai hal agar kebutuhan warga terhadap taman dapat dipenuhi.
Setiapkali saya bertemu dengan beberapa pihak dan juga membaca di media massa, banyak pemkot dan pemda ketika bicara tentang taman kota mereka mengatakan bahwa mereka belum memiliki taman yang baik karena daerahnya masih kekurangan lahan untuk membangun taman. Sehingga, mereka berharap agar ada dana yang lebih besar yang dapat dianggarkan untuk membeli lahan yang nantinya diperuntukkan menjadi taman kota.
Sayangnya penganggaran untuk pembelian lahan baru atau pelebaran taman yang sudah ada itu tidak juga kunjung datang. Penyebabnya adalah keterbatasan anggaran pemerintah untuk dialokasikan ke pembelian lahan baru. Sebab dana yang ada tersedot oleh penganggaran dibidang lain. Terutama soal pembangunan infrastruktur (transportasi, jalan dan jembatan) yang sampai saat ini tidak kunjung dapat terpenuhi. Akibat adanya prioritas pembangunan infrastruktur tersebut, penganggaran terkait dengan pertamanan menjadi tidak terpenuhi.
Dan hal ini berlangsung bertahun-tahun. Seolah-olah tidak ada yang bisa dilakukan terkait dengan pertamanan akibat ketiadaan lahan yang memadai. Akhirnya, hingga saat ini, kota-kota di beberapa daerah, termasuk juga ibukota kabupaten, tidak memiliki taman yang representative.
Karena lahan tersebut berada dekat dengan taman yang sudah ada dan harganya pasti tinggi sebab sangat strategis. Jadi wajar jika pemilik lahan menjualnya dengan harga yang tinggi. Apalagi jika NJOP juga tinggi. Sejak pemerintah menentukan harga pembelian lahan mengacu pada NJOP, pemilik lahan akhirnya menyesuaikan NJOP nya dan mereka harus membayar mahal kestrategisan lahannya. Akibatnya, ketika pemerintah ingin membeli lahan itu, mereka akan bersikeras menjual dengan harga yang tinggi. Apalagi jika ada unsur peluang menjual dengan mengikuti harga pasar yang sudah ada. Tentu harganya menjadi mahal dan dapat membebani anggaran daerah.
Untuk itu kita perlu melakukan penelitian tentang taman-taman terbaik yang ada di seluruh dunia. Pada Tabel 1 dapat kita lihat daftar 10 taman terbaik di dunia. Kita mengambil sepuluh taman terbaik dunia ini sebagai acuan kita apakah luas lahan menjadi parameter penting dalam menciptakan atau menyediakan sebuah taman indah yang diapresiasi warga setempat dan bahkan warga dunia.
Taman terbaik pertama adalah Taman Versailles di Perancis. Lahannya seluas 800 hektar. Memang sangat luas. Tapi coba lihat taman terbaik nomor 9 yang berada di China yaitu Master of The Net Garden yang hanya memiliki luas 1,5 hektar. Dengan luas yang sangat kecil dibandingkan dengan luas taman lainnya, ia tetap mendapatkan predikat sebagai salah satu dari 10 taman terbaik dunia.
Table 1. 10 taman terbaik dunia versi Citi.IO
Ran
k Name Location
Area (ha)
1 Gardens of Versailles Versailles, France 800 2 Royal Botanic Garden Surrey, England 131 3 Powerscourt estate Ireland 19 4 Butchart Garden Vancouver Island, British Columbia 22 5 Villa dEste Tivoli, Italy 11 6 Dumbarton Oakd Gardens Washington DC 11
7
Garden of Villa Ephrussi de
Rothschild St Jean Cap Ferrat 101 8 Stourhead Wiltshire, England 1072 9 Master of the Nets Garden Suzhou, China 1.5 10 The Sanssouci Park Postdam, Berlin 287
terbaik dunia ini adalah 2455,5 hektar. Dan Taman Master of the Net hanya 0,06% dari total luas yang ada. Lihat Grafik 1. Dan bahkan, delapan taman terbaik dunia yang tersebut diatas hanya memiliki luas lahan sebesar 23,76% dari total luas lahan 10 taman terbaik dunia. Hal ini menandakan bahwa luas lahan tidak menjadi factor penting dalam membangun sebuah taman. Sebab, elemen lain dalam pembangunan taman kota yang sangat jarang dan bahkan diabaikan oleh pemda dan pemkot adalah elemen kualitas. Dan pihak yang memahami kualitas kota itu adalah para ahli perencana taman yang akan melakukan penelahaan disemua hal termasuk menggali dari lingkungan sekitar dan warga kota.
Grafik 1. Persentase luas lahan terbaik dunia dari total luas lahannya.
Untuk itu, pemerintah perlu melibatkan para ahli dibidangnya untuk membangun sebuah taman kota. Adapun reason yang selama ini dikemukakan bahwa pemerintah belum membangun taman akibat lahannya yang masih belum ada atau lahan yang ada saat ini dianggap belum luas, perlu disisihkan. Sebab, elemen luas lahan tidak menjadi elemen penting bagi sebuah kota untuk membangun taman yang baik. Elemen yang paling penting adalah elemen kualitas taman.