KATA PENGANTAR. Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas KaruniaNya. sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas KaruniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.

Karya ilmiah ini disusun berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilaksanakan sebagai salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi pada Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Jurusan Manajemen Hutan.

Penelitian ini dilakukan ± 3 bulan mulai dari bulan Maret sampai Juni 2009 di CV. PARI JAYA MAKMUR, Kec. Long Hubung Kab. Kutai Barat meliputi orientasi lapangan, persiapan alat dan bahan, pengambilan data dan pengolahan data serta penulisan .

Banyak pihak yang telah membantu penulis selama penyusunan Karya Ilmiah ini hingga selesai tepat pada waktunya, tidak lupa pula mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak dan Ibu tercinta dan juga adik-adik yang telah memberikan doa dan restunya serta semangat.

2. Ibu Dwinita Aquastini, S.Hut,MP, selaku Dosen Pembimbing Karya Ilmiah.

3. Bapak Ir. Hasanudin, MP, selaku Ketua Jurusan Manajemen Hutan.

4. Bapak Ir. Suparjo, MP dan Bapak Ilyas Teba, S.Hut, MP selaku Dosen-dosen Penguji Karya Ilmiah.

(6)

5. Bapak Ir. Wartomo, MP, selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

6. Bapak Robertus Ului, selaku Direktur CV. PARI JAYA MAKMUR dan Bapak Akos Kostanan, selaku Kabag Perencanaan.

7. Teman-teman di kampus khususnya angkatan 2006 yang telah memberikan bantuan sarannya dan yang selama ini bersama-sama dalam suka dan duka.

Penulis menyadari bahwa dalam penyajian Karya Ilmiah ini masih banyak terdapat kekurangan, walaupun demikian penulis mengharapkan apa yang telah tersaji dalam Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua orang yang sangat memerlukan sebagai tambahan pengetahuan.

Penulis Kampus Sei Keledang,….. Agustus 2009

(7)

RIWAYAT HIDUP

Santuri lahir pada tanggal 13 November 1988 di Respen Sembuak, merupakan anak pertama dari 4 bersaudara pasangan Bapak Andarias dan Ibu Sundan.

Tahun 1994 memulai masuk Pendidikan Sekolah Dasar Negeri 004 Long Nit Malinau dan memperoleh ijazah pada tahun 2000. Melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 4 Malinau pada tahun 2000 dan lulus tahun 2003. Melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) Pembangunan Malinau tahun 2003 dan memperoleh ijazah pada tahun 2006. Tahun 2006 bulan Agustus memulai Pendidikan Tinggi pada Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan mengambil Jurusan Manajemen Hutan.

Pada tanggal 17 Maret 2009 sampai 09 Juni 2009 melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di CV. PARI JAYA MAKMUR di Kecamatan Long Hubung Kabupaten Kutai Barat Propinsi Kalimanatan Timur.

(8)

RINGKASAN

SANTURI, Studi Tentang Jenis-jenis Bangunan Air Pada CV. PARI JAYA MAKMUR, Kec. Long Hubung Kab. Kutai Barat (Di bawah bimbingan Dwinita Aquastini).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis bangunan air pada areal CV. PARI JAYA MAKMUR, Kec. Long Hubung Kab. Kutai Barat.

Penelitian ini dilakukan ± 3 bulan mulai dari bulan Maret sampai Juni 2009 meliputi orientasi lapangan, persiapan alat dan bahan,

pengambilan dan pengolahan data serta penulisan. Pengambilan data diambil langsung di lapangan, adapun data yang

diambil meliputi jenis-jenis bangunan air yaitu letak jembatan dan gorong-gorong, sifat dan bentuk serta bahan jembatan dan gorong-gorong yang terdapat pada areal eksploitasi. Data penunjang lainnya berupa wawancara dengan devisi yang terkait.

Setelah dilakukan pengamatan maka didapatkan data bahwa bangunan air yang terdapat di areal berupa jembatan dan gorong -gorong sebagai berikut :

1. Jembatan

Jembatan secara menyeluruh merupakan jembatan permanent dan non permanent, terbagi menjadi 2 unit yaitu jembatan besar dan jembatan kecil masing -masing 1 unit.

2. Gorong -gorong

Gorong -gorong yang terdapat 1 unit yaitu gorong-gorong yang terbuat dari kayu Bengkirai.

(9)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……… iii

DAFTAR ISI……….. iv

DAFTAR TABEL……….. v

DAFTAR GAMBAR………..……….. vi

I. PENDAHULUAN………... 1

II. TINJAUAN PUSTAKA……….. 5

A. Bangunan Air………. 5

B. Macam-Macam Bangunan Air……… C. Sifat dan Kegunaan Bangunan Air……… D. Gambaran Umum Mengenai CV. Pari Jaya Makmur…… 7 14 15 III. METODE PENELITIAN………... 22

A. Waktu Dan Lokasi Penelitian………. 22

B. Alat Dan Bahan………... 22

C. Prosedur Penelitian………. 23

D. Pengola han Data……….. 23

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN………... 25

A. Hasil……….... 25

B. Pembahasan………... 27

V. KESIMPULAN DAN SARAN………... 33

A. Kesimpulan……… 33

B. Saran……… 33

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(10)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Lampiran Halaman

1. Tipe-tipe Balok Ulin……….………... 12 2. Gorong -gorong Tipe Beton………..………. 13 3. Gorong -gorong Tipe Plat Lingkaran Baja…….……….. 13 4. Sketsa Konstruksi Jembatan……… 27 5. Jembatan Besar………..………… 29 6. Jembatan Kecil……… 31 7. Gorong -gorong Terbuat dari Kayu Bengkirai…………. 32

DAFTAR TABEL

Nomor Tubuh Utama Halaman

1 Jenis Kayu yang Dipakai Sebagai Konstruksi Jembatan………. 2. Sifat dan Kegunaan dari Jenis Bangunan Air…...…

11 14 3 Luas Areal Berhutan yang Dapat Diproduksi (

Areal efektif) Di CV. PARI JAYA MAKMUR ……… 16 4. Kepadatan Penduduk………. 19 5. Jenis-jenis Bangunan Air yang Terdapat Pada CV.

PARI JAYA MAKMUR ………….……….……… 24 6. Jumlah Bangunan Air………. 25 7. Pengunaan Kayu Pada Jembatan Besar dan

(11)

Lampiran

Nomor Halaman 1. Strukrut Organisasi CV. Pari Jaya

Makmur……..…… 36

2. Peta RKT

2009……… 37

3. Denah Lokasi Jembatan Besar, Jembatan Kecil

(12)

I. PENDAHULUAN

Negara Indonesia adalah negara yang kaya akan aneka sumber daya alamnya. Ragam sumber daya alam yang kita pergunakan sehari-hari untuk kelangsungan hidup manusia, salah satunya bersumber dari hutan. Hutan adalah suatu asosiasi tumbuhan dimana pohon-pohon atau tumbuham berkayu lainnya secara predominan menempati wilayah yang luas dan keadaannya cukup rapat sehingga mampu menciptakan iklim yang berbeda dengan di luarnya.

Indonesia mempunyai luas hutan ± 134 juta hektar dan di antaranya ± 64 juta hektar adalah hutan produksi. Hutan seluas ini merupakan sumber daya alam yang sangat besar dan perlu di manfaatkan untuk kepentingan pembangunan. Hutan tidak hanya memberikan hasil berupa kayu dan non kayu tetapi juga menghasilkan jasa dan kenikmatan dan berupa perlindungan tata air, perlindungan terhadap kesuburan tanah, keindahan alam, ilmu pengetahuan dan sebagainya.

Pengusahaan hutan merupakan salah satu modal pembangunan yang telah menyumbangkan devisa yang cukap besar bagi negara, hal ini terbukti dalam 20 tahun terakhir sektor kehutanan memegang kendali ekspor non migas. Lima belas tahun pertama sebelum kebijakan 8 mei 1981 yang melarang ekspor kayu bulat, Indonesia melaksanakan pemungutan hasil hutan berupa kayu gelondongan tanpa proses nilai tambah. Hal ini harus di pahami karena Pemerintah harus secepatnya

(13)

meningkat pertumbuhan ekonomi, walaupun efek samping timbul merupakan tantangan bagi pengelolaan hutan maupan pihak yang terkait berupa mengoptimalkan manfaat hutan dengan tetap memperlihatkan asas kelestarian hutan (lingkungan).

Hasil hutan terutama kayu baru bermanfaat apabila dapat dikeluarkan dari hutan dan dijual kepada konsumen atau dikerjakan dipabrik-pabrik pengolahan kayu. Hutan alam maupun buatan tidak akan dapat diusahakan secara lestari, tanpa sebelumnya dipenuhi persyaratan pembukaan wilayah Hutan (PWH) yang memadai. Hal ini mengigat PWH secara keseluruhan merupakan persyaratan utama bagi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam produksi hutan dan PWH bertugas menciptakan kondisi yang lebih baik dalam pengelolaan hutan dengan meningkat fungsi sosial dan ekonomi hutan.

Pembukaan Wilayah Hutan (PWH) adalah suatu kegiatan penyediaan prasarana wilayah bagi kegiatan produksi kayu, pembinaan hutan, perlindungan hutan, transportasi sarana kerja, pengawasan kerja dan komunikasi antar pusat kegiatan. Prasarana utamanya berupa jalan hutan dengan berbagai bentuk bangunan penujang lain seperti jembatan, gorong-gorong, parit dan lain-lain yang berkaitan dengan kesiapan dan kemantapan jalan untuk dilalui kendaraan hutan.

Dalam sejarah pengelolaan hutan pada awalnya dilaksanakan pada hutan alam primer. Pada kawasan yang demikian belum ada prasarana

(14)

transportasi yang bersifat artifikal, kalau ada masih berupa prasarana transportasi alam seperti sungai, danau dan udara.

MULYONO (1993), dalam pembangunan jalan hutan harus diusahakan disamping dapat melayani segala kegiatan teknis dilapangan secara optimal, juga harus rasional dalam hal pembiyaannya baik pada saat pembangunan jalan secara menyeluruh maupun pemeliharaannya. Hal ini perlu dipahami karena jalan hutan untuk pengusahaan hutan didominasi oleh fungsi ekonomi daripada fungsi sosial. Lain halnya dengan jalan umum dimana dalam pembangunan jalan umum pertimbangan kepentingan sosial dapat sejajar dengan kepentingan ekonomi. Untuk itu PWH tidak sekedar membangun jalan untuk menghubungkan sesuatu tempat dengan tempat lain saja tetapi jalan hutan yang dibangun harus mampu melayani wilayah hutan yang dikelola dan jaringan jalan, karena di Kalimantan masih sangat jarang sehingga dalam usaha pemanfataan hutan dikawasan tersebut pengangkutan merupakan salah satu masalah yang pokok. Untuk daerah yang tidak dilalui sungai, pengangkutan hanya dapat dilakukan dengan terlebih dahulu membuat ja lan. Keadaan fisik lapangan di daerah tersebut pada umumnya berat baik ditinjau dari segi keadaan tanah, vegetasi maupun topografinya. Oleh karena itu pembuatan jalan angkutan merupakan suatu tahapan kegiatan yang penting dalam eksploitasi huta n, dimana diperlukan adanya penunjang yang mampu memberikan kelancaran

(15)

dalam transportasi seperti adanya jembatan, gorong-gorong, parit dan bangunan air penunjang lainnya.

CV. PARI JAYA MAKMUR merupakan salah satu perusahaan yang masih eksis dalam eksploitasi hutan, dimana terdapat jalan angkutan untuk mengeluarkan hasil eksploitasinya dengan segala penunjangnya. Maksud dan tujuan dari penelitian untuk mengeta hui Jenis-jenis dan bentuk bangunan air yang ada pada areal eksplotasi CV PARI JAYA MAKMUR.

Hasil yang diharapkan pada penelitian ini adalah dapat memberikan informasi tentang jenis-jenis dan bentuk bangunan air yang terdapat pada daerah eksplotasi CV PARI JAYA MAKMUR, yang sebagai dipakai jalan untuk mengatasi hutan topografi sesuai dengan bentuk bangunan air yang digunakan, sebagai penujang kelancaran eksploitasi dalam kegiatan perusahaan.

(16)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Bangunan air 1.Arti Bangunan Air

SURJOKUSUMO (1982), bangunan air terdiri atas drainase badan jalan, gorong-gorong dan jembatan. Drainase badan jalan diperlukan untuk mengalirkan air keluar badan jalan baik yang mengalir di atas permukaan jalan, lereng di atas badan jalan, talud galian maupun air yang ada dalam tanah seperti air rembesan dari permukan tanah, mata air, air tinggi dan air kapiler. Gorong-gorong dan jembatan bertugas sebagai penyeberangan aliran-aliran air.

2.Drainase Badan Jalan

Air akan berpengaruh terhadap keawetan badan jalan dengan berbagai bentuk atau pengaruhnya, misalnya:

? Air yang mengalir di atas permukaan jalan ? Air yang mengalir pada lereng di atas jalan ? Air yang mengalir pada talud

? Air rembesan dan permukaan

Kekokohan badan jalan terutama badan jalan angkutan hasil hutan tergantung pada kondisi sarana pembangunan/pengaliran air dari air hujan maupun air tanah, pengendalian kadar lengas maksimum pada badan jalan.

(17)

Selain memperlemah badan jalan, aliran air dan gena ngan air di permukaan jalan akan menyebabkan erosi/pengikisan, sedangkan kadar lengas yang berlebihan dapat menyebabkan erosi dan timbulnya longsoran.

Untuk melindungi badan jalan dari pengaruh air yang berlebihan ini perlu adanya suatu sistem pembuangan air (drainase) yang sempurna dan efektif.

Beberapa hal untuk memperkecil persoalan-persoalan yang timbul karena drainase dan erosi dalam permukan lokasi jalan adalah:

a. Dipilih lokasi sedemikian sehingga sedikit mungkin mengganggu kestabilan tanah asal, dengan galian dan urugan minimal, dengan perkataan lain pengendalian erosi dan biaya pembuatan trace (grading costs) yang minimal.

b. Diberikan pelandaian yang cukup untuk tanjakan-tanjakan yang panjang untuk memberikan kesempatan air parit dilintaskan melewati pipa-pipa melintang jalan ke tempat yang lebih rendah. c. Saluran-saluran atau sungai -sungai kecil harus dilintaskan

melewati gorong-gorong ditempat yang tepat/sesuai.

d. menghindari atau mencegah timbulnya longsoran, pengemburan tanah karena longsoran dan tempat-tempat kritis lainya, akan menghindarkan persoalan-persoalan yang menyangkut konstruksi dan pemeliharaan.

(18)

e. Usahakan tebang matahari pada kanan dan kiri jalan (50 m) agar jalan cepat kering bila terjadi hujan.

B. Macam-macam Bangunan Air

SURJOKUSUMO (1982), sesuai dengan luas penanpung basah aliran maka dipilih macam-macam bangunan air yang akan digunakan. Bangunan air yang umum digunakan pada jalan angkutan hasil hutan adalah:

1. Jembatan

Jembatan adalah suatu bangunan penyambung jalan pada dua tempat yang terpisah/terputus oleh aliran sungai, parit, sungai, saluran besar, jurang dan laut.

Bangunan untuk persilangan dapat berbentuk jembatan rol, jembatan jalan, jembatan besar, dengan bentang 7 meter atau kurang termasuk gorong-gorong sedangkan jembatan kecil dengan bentang lebih dari 3 meter disebut jembatan kecuali gorong -gorong lengkung yang bentangnya bisa sampai 3 meter.

Untuk lalu lintas yang padat dan berat jembatan dengan bentangan yang besar membutuhkan perencanaan oleh seorang ahli ( konstruktor ) jembatan dengan bentang yang pendek atau sedang seperti yang terdapat dalam hutan dapat di buat dengan perhitungan statis tertentu yang sederhana yang menguna kan ilmu kekuatan bahan (straength of materials) yang mudah

(19)

Pada dasarnya jembatan terdiri dari 3 bagian besar yaitu: bagian atas, bagian bawah dan bagian-bagian tambahan, termasuk dalam bagian atas adalah gelagar-gelagarnya serta la ntai jembatan, sedangkan bagian bawah adalah kepala jembatan,tiang-tiang jembatan dan bangunan pemikul lainya.

Kepala jembatan merupakan pendukung atau penyangga jembatan dan sekaligus merupakan penurapan tanah bagi pertemuan antara badan jalan dengan jembatan. penurapan ini tidak perlu bila kepala jembatan dapat diperkecil bentuk nya diletakkan aiatas rangka tiang-tiang.

Bila bentang sungai cukup lebar dibutuhkan penyangga antara disebut tiang jembatan. kepala dan tiang ini selain harus terpanjang dengan baik juga harus memegang gaya-gaya horizontal yang timbul dan dapat menetralisir pengaruh suhu terhadap konstruksi (untuk jembatan kayu dapat diabaikan).

Bagian atas jembatan merupakan konstruksi jembatan sebenarnya terdiri dari lantai kendaraan gelagar-gelagar terdiri dari gelagar memanjang, gelagar melintang dan gelagar induk.

FELIX (1984) Jembatan adalah bangunan dengan system konstruksi yang lazim dan mempunyai bentang maksimal 7 meter. Pada umumnya jembatan mempunyai konstruksi yang terbuat dari kayu, beton atau plat baja. Pada daerah hutan, bahan utama untuk pembuatan jembatan yang mudah untuk didapatkan adalah kayu.

(20)

ENDANG dkk ( 1991), Pengunaan kayu sebagai bahan konstruksi jembatan mempunyai keuntungan dan kerugian sebagai berikut:

Keuntungan : 1. Mudah dikerjakan.

2. Bahan mudah didapatkan.

3. Biaya pembangunan lebih murah.

4. Mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap pengaruh kimia dan listrik. 5. Penyusunan dan penggantian bagian yang rusak lebih mudah.

6. Pelaksanaan pembangunan cepat tidak memerlukan keahlian yang tinggi.

Kerugian : 1. Kayu bisa terbakar.

2. Dalam keadaan tertentu banyak jenis kayu yang kurang awet.

3. Kayu bersifat kurang homogen dengan cacat alami seperti serat yang berbentuk spiral, diagonal, mata kayu dan sebagainya.

4. Pada pembebanan berjangka panjang, kayu akan mengalami ledutan yang besar.

Faktor yang mempengaruhi mutu dan sifat mekanis kayu antara lain :

1. Berat jenis 2. Kadar lengas

(21)

3. Kecepatan pertumbuhan 4. Mata kayu

5. Retak-retak

6. Kayu mati atau kayu hidup 7. Pengeringan

8. Keawetan

Pada saat pembangunan dan menentukan letak jembatan yang akan dibangun perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Dimana sungai-sungai menyempit agar bentang jembatan minimal, diusahakan agar jembatan menyilang sumbu sungai tegak lurus sehingga bentang minimal tetapi jalan akan berbentuk belokan ”S”. Sumbu jembatan yang menyerong sumbu sungai akan memberikan bentang yang lebih lebar tetapi jalan belokan ”S” dapat dihindari.

2. Dimana terdapat tanah-tanah dasar yang baik untuk pondamen; untuk mendapatkan stabilitas jembatan perlu kepala jembatan dan tiangnya berdiri di atas tanah dasar yang kokoh.

3. Menghindari tempat-tempat dimana dasar sungai labil; yang di maksud dasar sungai labil adalah sungai yang profilnya masih berpindah-pindah biasanya di daerah meander.

ELIAS (1999), Jenis-jenis kayu yang dipakai sebagai bahan konstruksi jembatan dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini,.

(22)

Tabel 1. Jenis-jenis Kayu yang Dipakai Sebagai Bahan Konstruksi Jembatan.

Kita kaya akan hutan, maka pentingnya perkembangan dan perhatian umum akan pengunaan kayu di Indonesia tidak dapat disangkal lagi,hanya sampai saat ini belum dapat dikatakan,hanya kemungkinan dan standarisasi jembatan kayu sudah dilakukan FRICK (1982).

2. Gorong -gorong

ANONIM (1993), Gorong-gorong adalah terowo ngan yang memotong badan jalan, pada umumnya berfungsi untuk jalan air yaitu mengalirkan air dari daerah sebelah jalan yang tinggi ke sebelah jalan yang rendah. Ujung tempat air masuk (tempat yang lebih tinggi) disebut inlet dan ujung tempat air keluar (tempat yang lebih rendah ) disebut outlet.

No. Air tawar Air Asin Di atas Air

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Balau Bengkirai Belian Chengal Giam Keranji Belian Resak Keranji Balau Bengkirai Belian Giam Keranji Kempas Merbau

(23)

ENDANG dkk. (1991), gorong –gorong dibedakan menjadi: a. Gorong-gorong terbuka

Merupakan tipe tradisional yang banyak digunakan di daerah yang bergunung-gunung yang berfungsi untuk drainase dan mengurangui erosi. Gorong-gorong ini dapat disebut juga parit sederhana karena bentuknya yang terbuka seperti parit. Parit sederhana yang memotong badan jalan yang melindungi tanah dasar (sugrade) jalan dari erosi. Gorong -gorong ini diperkuat oleh batang kayu dimana cukup bagus umtuk jalan tanah yang frekuensinya rendah. Beberapa tipe gorong-gorong terbuka seperti tipe batang kayu, tipe papan kayu, tipe beton penguat dan tipe baja. Seperti contoh Gambar 1 di bawah ini.

Tipe Balok Ulin

Gambar 1. Gorong-gorong Tipe Balok Ulin

b. Gorong -gorong tertutup

Element gorong-gorong tertutup biasanya terdiri dari pipa beton dengan diameter 30 – 100 cm dengan panjang 1 m dengan interval 10 cm (biasanya produksi pabrik). Ada juga yang diproduksi secara local tetapi lebih sederhana dalam bentuk maupun pemasangannya.

(24)

b.1. tipe pipa beton untuk ukuran : diameter 60-100 cm, untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Gorong-gorong Tipe Pipa Beton

b.2. Tipe Lingkaran Plat Baja, untuk ukuran: diameter 40 cm, untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Gorong-gorong Tipe Lingkaran Plat Baja

Gorong -gorong dari plat baja mempunyai rentangan yang lebih lebar biasanya mencapai 3 meter tetapi biayanya mahal. bahan-bahan local yang terdapat disekitar biasanya bahan baku utama, misalnya pada daerah hutan maka bahan baku yang dapat dipergunakan adalah kayu, ataupun bahan lain seperti batu.

Kemiringan gorong-gorong atau saluran air dinyatakan dalam persen (%), misalnya kemiringan pemasangan gorong-gorong 5 % dan panjang gorong-gorong 12 m maka kemiringan gorong-gorong tersebut adalah 5 % x 12 m = 0,6 m artinya outlet harus lebih rendah 0,6 m daripada inlet.

(25)

C. Sifat dan Kegunaan Bangunan Air

ANONIM (1998), Sifat adalah rupa dan keadaan yang tampak pada suatu benda melaui ciri khas yang ada. Kegunaan adalah kaedah, manfaat, fungsi dan menyatakan tujuan

Sifat-sifat dan kegunaan dari jenis dan bentuk bangunan air dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Sifat dan Kegunaan Dari Jenis-jenis Bangunan Air

No Jenis Bentuk bangunan Sifat Kegunaan 1 2 Jenis Jembatan Gorong -gorong a.Jembatan Tetap a.Gorong- gorong Terbuka b.Gorong-gorong Tertutup Semi Permanen Permanen Semi Permanen · Penyambung Jalan · Untuk kelancaran Proses Produksi Dan Eksploitasi · Syarat Pembukan PWH · Akses Bilitas · Dll · Mencegah banjir · Darainase · Menguragi debit banjir · Keindahan · Dll

(26)

D. Tinjauan Umum CV. Pari Jaya Makmur

1. Gambaran Perusahaan

I. DATA PERUSAHAAN

a. Nama perusahaan : CV.PARI JAYA MAKMUR b. SK IUPHHK : 89/MENHUT-II/2006

c. Luas Areal : 12.456 Ha

c. Lokasi : Desa Mata Libaq.Kec.Long Hubung Kab.Kutai Barat

d.Alamat Kantor :Jl.Muh.Said GG.Polewali Rt.30 No.36 e.Jatah tebangangan

-SK. RKT : 522.110.1/42/Kpts/RKT/DK-VII/2008 -Tanggal : 03 maret 2008

-Target RKT :12.150 M3

II. MUTASI KAYU BULAT / ATAU KBK SATU TAHUN ANGGARAN a.Persediaan

-Stok opname per 31 maret 2008 : 2.303.66 M3 -Realisasi Produksi : 11.190,30 M3 ____________________________________________ JUMLAH : 13.493,96 M3 b.Pengunaan -Pemakaian Sendiri : - -Dijual Ke IUPHHK : 13.163,72 M3 - kayu tidak di manfaat kan : -

- (rusak atau hilang/afkir) : -

_______________________________________________________ Jumlah : 13.163,72 M3

(27)

Stok Opname Per 31 Desember 2008 : 330,24 M3

III. PELUNASAN PSDH DAN DR

No Status Kewajiban perusahaan PSDH (Rp) DR (USD/Rp) A Persediaaan - 1. SO 31 desember 2007 Kewajiban - - Pelunasan - - Tunggakan - - 2. Realisasi produksi 2008 Kewajiban 976,773,960,00 976,773,960,00 Pelunasan 976,773,960,00 2,413,626,61691 Tunggakan - -

Dari luasan 12.735 ha.tersebut di atas areal hutan yang dapat di produksi/wilayah efektif dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Luas Areal Berhutan yang Dapat Diproduksi (Areal Efektif) Di CV PARI JAYA MAKMUR

No. Jenis Peruntukan Hutan Luas (Ha) 1. Hutan Produksi Terbatas (HPT) 9.014 2. Hutan Produksi Tetap (HP) 2.957

3. Areal Tidak Berhutan 485

(28)

2. Sejarah Pengelolaan Hutan

Sejarah pengelolaan hutan di areal CV. PARI JAYA MAKMUR di mulai dengan di keluarkannya forestry agrement dari deperte men Kehutanan kapada CV PARI JAYA MAKMUR dengan Nomor P.18.MENHUT-II/2007 Pada tanggal 01 januari 2008.

3. Keadaan Areal

a. Keadaan Hutan

Berdasarkan kriteria penafsiran potret udara yang di gunakan untuk menetapkan tipe hutan maka areal CV PARI JAYA MAKMUR termasuk dalam tipe hutan tropis basah dan tipe ekologi sebagai hutan tanah kering.

Hasil analisis vegetasi yang dilakukan terhadap hutan mennunjukkan bahwa hutan diwilayah pengkajian adalah merupakan asosiasi shorea-enderrita jenis yang dominan adalah Kelompok meranti merah dengan INP = 45,24 % jenis ini di sebut dengan nama abang bau,abang bela,kelompok meranti putih dengan INP = 39,15 % dan untuk meranti kuning INP= 12,6 % jenis yang dominan adalah enderita

spektabilis yang dikenal dengan nama baan, medang batu/ kayu kacang

(29)

b. Topografi

Secara umum kondisi topogarfi areal HPH CV. PARI JAYA MAKMUR (PJM) dibentuk oleh marfologi perbukitan, pegununggan lembah dan sungai yang relatif berbentuk ”V” serta beberapa daerah yang nampak berupa daratan ketinggian maksimum ± 1.345 m Dpl yang dapat dijumpai di bagian utara dan ketinggian minimum ± 100 m Dpl di sektar bentuk bentang alam yang bervariasi pada areal HPH akibat dipengaruhi oleh faktor struktur dan resitensi batuan yang berperan aktif dalam proses pembentukan alamnya kelas kemiringan lereng 15 % - 40 % ( ANONIM, 1996 ).

c. Sosial Ekonomi Masyarakat

Penduduk sekitar lokasi CV. PARI JAYA MAKMUR Kacamatan Long Hubung Kabupaten Kutai Barat merupakan masyarakat trasmigrasi atau penduduk lokal dan sebagian besar mata pencarian sebagai petani.

Jumlah penduduk di Kecamatan Long Hubung tahun 1996 berjumlah 7.849 jiwa tediri dari 4.339 laki-laki dan 3510 perempuan dan kepadatan penduduk 1,58 jiwa / km2 serta tingkat pertumbuhan 1,20/thn sedangkan Kecamatan Kayan Hulu berpenduduk 5,304 jiwa terdiri dari 2.711 laki-laki dan 2.593 perempuan dengan kepadatan penduduk 0,91 jiwa /km2 serta tingkat pertumbuhan 0,92 %/thn. Desa yang terletak dalam areal HPH adalah Desa Mata Libaq,1,96 jiwa / km2 Desa Mahak Baru 2,70 jiwa /km2 Desa Dumu Mahak 0,57 jiwa / km2 serta Desa Long

(30)

Top 0,56 jiwa /km2 (ANONIM 1996). Jumlah dan kepadatan penduduk yang terdapat di Kecamatan Long Hubung Kabupaten Kutai Barat dapat lebih jelas terlihat pada tabel 4.

d. Aksebilitas

Sarana perhubungan dari Samarinda menuju Kec.Long Hubung dapat melalui air. Bila menggunakan speed boat 250 Pk 10-12 jam, sedangkan dengan mengunakan kapal memerlukan waktu 2 hari 1 malam, namun apabila musim hujan lalulintas menuju Kec. Long Hubung sangat atau agak lambat karena pengaruh airnya banjir, dan ada juga tembusan ditempuh melalui jalan darat.

Tabel 4. Kepadatan Penduduk Di kecamatan Long Hubung Kabupaten Kutai Barat

No Uraian Satuan Kc,Long Hubung

1 Jumlah Desa Buah 10

2 Luas Wilayah Km2 4,971 3 Jumlah penduduk -Laki-Laki -Perempuan Jiwa Jiwa 4,339 3,510

4 Jumlah Rumah Tangga RT 1,243

5 Anggota Rumah Tangga Orang 6

6 Kepadatan Penduduk Jiwa /km2 1,58

(31)

4. Data Pokok

1. Add.SK RKT Nomor : 522.110.1 /Kpts/RKT/DK-VII/2008 a. Tanggal : 01 Januari 2008

b. Status Permohonan : PMDA

c. Susunan direksi (Sesuai RUPS Tanggl 3.Maret 2008) Dewan Komisaris Komisaris utama : Komisaris utama : Komisaris utama : Komisaris utama : Komisaris utama : Dewan direksi

Direktur utama : Robertuys Hului Wakil Direktur : Antonius Beng d. Alamat perusahaan

-Alamat kantor : Jl.Muh.Said GG.Poliwali Rt.30.No 36 Tlp/Fax/Hp : 081347338242 (Hp)

2. Data keadaan umum : Berdasarkan pemeriksaan citra landsat No : 5.320/VII/pusin/2005

a.Luasa Areal : 12.735 Hektar · Berhutan : 2,957 Ha

· Hutan Sekunder (LOA) : 9014 Ha · Areal Tidak Berhutan : 485 Ha

(32)

· Tertutup Awan : 267 Ha

b. Kelompok hutan : Sungai Oga-sungai Mata Libaq c. letak menurut wilayah pengelolaan

- Dinas Kehutanan Provinsi: Kalimantan Timur - Dinas Kabupaten : Kutai Barat

d. letak menurut anministratip pemerintahan - Provensi : Kalimantan Timur

- Kabupaten : Kutai Barat e. Data Industri

- Memiliki Industri Sendiri: - - jenis Industri : -

-Sebagai Pemegang Saham Daripada Industri : Tidak Ada

(33)

III. METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada km 28 sampai km 29 jalan utama CV. PARI JAYA MAKMUR.

Penelitian ini dilakukan ± 3 bulan mulai dari bulan Maret sampai Juni 2009 di CV. PARI JAYA MAKMUR, Kec, Long Hubung Kab. Kutai Barat, meliputi orientasi lapangan, persiapan alat dan bahan serta pengambilan dan pengolahan data.

B. Alat dan Bahan : 1. Alat :

a. Alat tulis menulis digunakan untuk mencatat data

b. Kamera, digunakan sebagai alat dekomentasi penelitian

c. Meteran untuk menggukur lebar dan panjang bangunan air dan gorong-gorong

2. Bahan :

a. bangunan air yang diamati yaitu : jembatan dan gorong -gorong yang terdapat pada jalan yang telah ditentukan yaitu dari km 28 sampai km 29 pada jalan utama CV. PARI JAYA MAKMUR.

(34)

C. Prosedur Penelitian

Penelitian ini meliputi pekerjaan sebagai berikut :

1. Orientasi lapangan dilakukan untuk mengetahui keadaan lapangan yang akan dijadikan obyek pengamatan di mana terdapat (jembatan dan gorong-gorong) yang akan mene ntukan langkah selanjutnya.

2. Menentukan lokasi yang akan diamati

Langkah pertama yang dilakukan adalah melaksanakan pengamata n dan wawancara dengan bagian perencanaan. Pemilihan lokasi tersebut dapat mewakili dari seluruh jenis atau tipe jembatan dan gorong-gorong yang terdapat pada daerah eksploitasi.

3. Melakukan pengambilan data

pengambilan data dilakukan langsung dilapangan, adapun data yang diambil adalah data primer yaitu data yang diambil langsung dilapangan meliputi letak jembatan ( dijalan utama atau jalan cabang ), sifat ( permanen, semi permanen atau sementara ), bentuk bangunan jembatan ( jembatan besar atau kecil ) dan gorong -orong ( tipe-tipe kayu dan beton).

D. Pengolahan Data

Setelah melakukan pengambilan data, maka data yang didapat dimasukkan ke dalam tabel seperti Tabel 5 di bawah ini.

(35)

Tabel 5. Jenis Bangunan Air yang Terdapat pada Areal CV PARI JAYA MAKMUR.

No Jembatan Gorong -gorong Keterangan 1.

2. 3. 4 Dst.

(36)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Setelah melakukan pengamatan dilapangan maka didapatkan data mengenai jenis-jenis dan bentuk bangunan air yaitu jembatan dan gorong-gorong ) yang dibuat dan digunakan oleh CV PARI JAYA MAKMUR pada areal eksploitasi, seperti yang terlihat pada tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6. Jumlah Bangunan Air ( Jembatan dan Gorong-gorong ) yang Diamati pada Areal Eksploitasi CV PARI JAYA MAKMUR.

BANGUNAN AIR JEMBATAN (Unit) GORONG-GORONG

(Unit) SIFAT Jembatan Besar Jembatan Kecil

Tipe Papan Kayu (Kayu Bengkirai)

Semi Permanen dan Permanen

1 1 1

Pembuatan jembatan dan gorong -gorong tentu memerlukan bahan baku, dimana pada areal ini yang digunakan terdiri dari berbagai macam jenis kayu yaitu Bengkirai, Kapur, Ulin.

Banyaknya batang kayu yang digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan jembatan dan gorong-gorong sebagai bangunan air dapat dilihat pada Tabel 7 di bawah ini :

(37)

Tabel 7. Pengunaan Kayu pada Jembatan Besar dan Kecil.

Bahan yang Dipergunakan

No. Jenis Jembatan Lantai (Batang) Pengaman (Batang) Stick Batang Ribing Lebar Sungai (meter) 1. Jembatan Besar 24 3 0 16 9,30 -16,00 2. Jembatan Kecil 14 3 0 9 7,70 -10,90 Keterangan :

- Jembatan besar dan kecil yang dibangun dapat menahan beban maksimal 70-150 ton.

- Ribing adalah sesuatu konstruksi penahan jembatan pada tanah yang stabil dengan meletakkan batang penyangga sebagai dasar jembatan secara memanjang dan melintang pada bagian atasnya.

- Stick adalah tongkat penyangga jembatan yang terdapat pada bagian bawah jembatan pada sisi kiri dan kanan pada bagian depan dan bagian belakang.

Untuk lebih jelasnya sketsa konstruksi jembatan dapat dilihat pada gambar 4 di bawah ini.

(38)

Gambar 4. Sketsa Konstruksi Jembatan Keterangan : a. Badan Jalan

b. Safety

c. Lantai Dasar d. Ribbing e. Stick

B.Pembahasan

Bangunan air yang terdapat pada CV. PARI JAYA MAKMUR berupa jembatan dan gorong-gorong yang terdiri dari 2 buah unit jembatan yaitu jembatan besar dan jembatan kecil yang terbuat dari katu Kapur dan Ulin, 1 buah unit gorong-gorong yaitu terbuat dari kayu Bengkirai (Tabel 6), dan berupa parit sederhana dimana pembuatannya hanya dilakukan secara manual (mengunakan tenaga manusia) dan secara mekanis (mengunakan tenaga mesin) yang

(39)

dibuat sederhana agar air yang jatuh diatas badan jalan mengalir ke parit sehinga tidak merusak badan jalan

1. Jembatan

Jembatan yang terdapat pada areal CV PARI JAYA MAKMUR terbagi menjadi 2 jenis yaitu :

a. Jembatan besar

Jembatan besar adalah jembatan yang mempunyai panjang bentang 9,30 meter -16 meter. Bentang atau lebar sungai yang dilewati 7 meter sedangkan ketinggian jembatan besar dari dasar sungai sampai atas jembatan yaitu 5,40 meter. Jembatan besar yang terdapat pada derah pengamatan adalah 1 unit terbuat dari kayu Kapur dan Ulin. Jembatan ini terdapat pada jalan utama, dan harus dibangun karena fungsinya sebagai jalan utama yang selalu dilewati oleh berbagai kendaraan terutama kendaraan berat seperti logging.

Jembatan besar ini secara maksimal dapat menahan beban sekitar 70 ton sampai 150 ton. Jembatan yang terletak pada jalan ini dibuat untuk kelancaran eksploitasi karena tidak ada jalur lain yang dapat dilewati lagi (jalan lain). Gambar jembatan besar dapat dilihat dengan lebih jelasnya pada gambar 5.

(40)

Gambar 5. Jembatan Besar

Jembatan ini terdiri dari 47 batang yang diletakkan secara memanjang, beraturan dan menumpuk 13 batang yang pertama di letakan sebagai lantai dasar dan 13 batang yang berikutnya diletakan disela-sela 10 batang yang pertama pada bagaian atas sejajar dengan arah jalan. Pada jembatan ini mempunyai 3 pengaman, batang kayu tersebut diletakan pada sisi jembatan.

Biasanya dari hinga 4 tingkat konstruksi ribbing yang dibuat pada kondisi tanah yang stabil. Tingkat pada konstruksi jembatan tersebut susunan batang yang diatur secara membujur pada bagian atas dan melintang pada bagian bawah. Pada pembuatan konstruksi ribbing memerlukan 7 hingga 13 buah batang. Bahan baku utama dalam pembuatan ribbing ini biasanya terbuat dari ulin. Tujuan

(41)

pembuatan ribbing ini untuk menjaga keadaan tanah agar tidak longsor hingga kekokohan dan keawetan jembatan dapat bertahan dengan baik.

b. Jembatan kecil

Jembatan kecil adalah sesuatu jembatan yang mempunyai panjang bentang 7.70 meter – 10,90 meter. Bentang sungai yang dilewati jembatan ini mempunyai jarak 2.20 meter sedangkan ketinggian jembatan kecil dasar sungai sampai atas jembatan yaitu 3,50 meter. Jembatan kecil ini juga terdapat pada jalan utama. Jembatan yang dibangun ini mutlak dilakukan karena fungsi sebagai jala n utama yang selalu dilewati oleh berbagai kendaraan yang digunakan sebagai kelancaran produksi proses transportasi dan juga merupakan aksesibilitas perusahaan. Ciri khas jembatan kecil ini sama dengan jembatan besar hanya jumlah batang kayu yang digunakan lebih sedikit 17 batang.

Begitu juga dengan lingkaran ribbing yang digunakan lebih sedikit yaitu 4 sampai 6 tingkat ribbing dan tingginya mencapai 3,50 meter.

Bagian yang sama adalah tiang penyangga / stick dan pengaman (safety) berjumlah 2 batang kayu. Untuk lebih jelasnya mengenai bentuk jembatan kecil ini dapat dilihat pada gambar 6 di bawah ini.

(42)

Gambar 6. Jembatan Kecil

Kayu yang digunakan sebagai bahan utama yaitu kayu Ulin dan Bengkirai, kayu yang akan dijadikan bahan untuk pembuatan jembata n selain kayu diatas dapat dipakai jenis kayu lain seperti pada tabel 1 (ELIAS ,1998).

2. Gorong -gorong

gorong-gorong yang terdapat pada areal yang menjadi obyek pengamatan dilokasi CV PARI JAYA MAKMUR adalah sebagai berikut :

a. Gorong -gorong tipe kayu Bengkirai

Gorong -gorong yang terbuat dari kayu Bengkirai dengan diameter 70-80 cm dan panjang 16,50 meter yang didapat dari hutan pada

(43)

areal eksploitasi yang tidak bisa digunakan karena terdapat cacat berupa growong pada bagian tengahnya. Gorong-gorong ini sudah ada sejak 2 tahun yang lalu. Gorong – gorong yang terbuat dari kayu bengkirai ini biayanya tidak terlalu mahal.gorong-gorong terbuat dari kayu bengkirai untuk dalam kualitas memang sangat kuat dan juga tahan lama untuk dipakai. Gorong -gorong yang terbuat dari kayu Bengkirai juga terdapat pada jalan utama yang selalu dilewati oleh berbagai jenis kendaraan yang digunakan untuk kelancaran produksi proses transportasi dan juga merupakan aksesibilitasi perusahaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 7 :

(44)

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil pengamatan maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut :

1. Jenis - jenis dan bentuk bangunan air yang ada berupa jembatan dan gorong - gorong dimana bentuk jembatan terbagi 2 yaitu jembatan besar 1 unit dan jembatan kecil 1 unit sedangkan pada gorong – gorong 1 unit yaitu gorong -gorong yang terbuat dari kayu bengkirai.

2. Pembuatan jembatan dan gorong – gorong sangat diperlukan guna kelancaran dalam pengangkutan hasil eksplotasi sehinga mencapai efektifitas.

B. Saran

Hendaknya pada jangka waktu tertentu diadakan pemeriksaan dan pemeliharaan bangunan air agar bangunan air tersebut dapat berfungsi dengan baik.

(45)

DAFTAR PUSTAKA

ANONIM. (1993), Pedoman Dan Penujuk Teknis TPTI Pada Hutan Alam Daratan Direktorat Jendral Pengusahaan Hutan, Departemen Kehutanan Jakarta.

ENDANG, dkk, 1991, Manajemen Hutan. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Derektorat Jendral Pendidikan Tinggi Universitas Padjadjaran.

ELIAS, 1998, Pembukaan Wilayah Hutan, Penebangan Swadaya, Jakarta FELIX, 1984, Konstruksi Kayu, Bina Cipta Bandung

KAWULUR, 2002, Studi Tentang Jenis-jenis Bangunan Air Pada PT. ITCI KARTIKA UTAMA, Balilikpapan.

MULYONO S, 1993, Diktat Intensitas Pembukaan Wilayah Hutan, Samarinda

SUMARGONO, 1998, Jembatan, Jakarta

SURJOKUSUMO S, 1982, Pedoman Pembuatan Jalan Angkutan Hasil Hutan, Direktorat Jendral Departemen Kehutanan. Jakarta.

Figur

Tabel 1. Jenis-jenis Kayu yang  Dipakai  Sebagai Bahan Konstruksi Jembatan .

Tabel 1.

Jenis-jenis Kayu yang Dipakai Sebagai Bahan Konstruksi Jembatan . p.22
Tabel 2. Sifat dan Kegunaan Dari Jenis-jenis Bangunan Air

Tabel 2.

Sifat dan Kegunaan Dari Jenis-jenis Bangunan Air p.25
Tabel 3.  Luas Areal Berhutan yang Dapat Diproduksi (Areal Efektif) Di CV  PARI JAYA MAKMUR

Tabel 3.

Luas Areal Berhutan yang Dapat Diproduksi (Areal Efektif) Di CV PARI JAYA MAKMUR p.27
Tabel 4. Kepadatan Penduduk Di kecamatan  Long Hubung Kabupaten  Kutai Barat

Tabel 4.

Kepadatan Penduduk Di kecamatan Long Hubung Kabupaten Kutai Barat p.30
Tabel  5. Jenis Bangunan Air yang  Terdapat pada  Areal CV  PARI JAYA  MAKMUR.

Tabel 5.

Jenis Bangunan Air yang Terdapat pada Areal CV PARI JAYA MAKMUR. p.35
Tabel  6.  Jumlah  Bangunan  Air (  Jembatan dan  Gorong-gorong ) yang  Diamati pada Areal Eksploitasi CV PARI JAYA MAKMUR

Tabel 6.

Jumlah Bangunan Air ( Jembatan dan Gorong-gorong ) yang Diamati pada Areal Eksploitasi CV PARI JAYA MAKMUR p.36
Tabel 7. Pengunaan Kayu pada Jembatan Besar dan Kecil.

Tabel 7.

Pengunaan Kayu pada Jembatan Besar dan Kecil. p.37
Gambar 4.  Sketsa Konstruksi Jembatan  Keterangan :  a.  Badan Jalan

Gambar 4.

Sketsa Konstruksi Jembatan Keterangan : a. Badan Jalan p.38
Gambar 5. Jembatan Besar

Gambar 5.

Jembatan Besar p.40
Gambar 6.  Jembatan Kecil

Gambar 6.

Jembatan Kecil p.42
Gambar 7. Gorong-gorong Terbuat dari Kayu Bengkirai

Gambar 7.

Gorong-gorong Terbuat dari Kayu Bengkirai p.43

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :