BAB I PENDAHULUAN. Sebagai salah satu rukun Islam, zakat adalah fardlu ain dan

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai salah satu rukun Islam, zakat adalah fardlu ‘ain dan merupakan kewajiban yang bersifat ta’abbudi. Dalam al-Qur’an perintah zakat sama pentingnya dengan perintah shalat. Namun demikian, dalam kenyataannya, rukun Islam yang ketiga itu belum berjalan sesuai dengan harapan. Pengelolaan zakat di masyarakat masih memerlukan bimbingan dari segi syari’ah maupun perkembangan zaman. Pendekatan kepada masyarakat Islam masih memerlukan tuntunan serta metode yang tepat dan mantap.1

Ibadah zakat merupakan ibadah maliyah yang harus dikerjakan oleh setiap muslim, oleh karena itu barang siapa yang terkena kewajiban zakat dan telah mengeluarkanya, ia tidak boleh menunda-nunda pembayarannya, bila seseorang tidak bersedia membayar zakat yang telah jelas wajibnya, karena tidak mengakui zakat sebagai suatu kewajiban, maka ia menjadi kafir karenanya dan dibunuh atas kekafirannya. Ia dianggap kafir karena dengan mengingkari kewajiban zakat itu berarti dia telah mendustakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Akan tetapi, jika ia tidak membayar zakat namun tetap mengakui kewajibannya, maka zakat itu diambil dengan kekerasan, kemudian ia dikenai

takzir. Jika orang yang tidak membayar zakat itu mempertahankan hartanya

(2)

dengan kekerasan, maka imam (pemerintah) dapat memerangi mereka seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar as-Shidiq, atas para pembangkang zakat dizamannya.2

Zakat pada dasarnya adalah pajak yang seharusnya dikelola oleh penguasa, baik dalam pengumpulan, pembagian dan pengambilannya dari orang yang telah wajib mengeluarkan dan yang diambil secara paksa bagi yang tidak mau mengeluarkan dengan sukarela. Marilah kita ingat bahwa zakat yang kita bayarkan adalah sepenuhnya menjadi hak penerima zakat. Apakah zakat yang diterima itu akan digunakan untuk membeli makanan yang lebih bergizi agar tidak pucat pasi, atau untuk membayar SPP anaknya, atau untuk membeli selembar pakaian baru, atau untuk kebutuhan hidup lain yang mendesak. Semua itu hak penerima zakat.3

Zakat mengembangkan arti hidup bergotong-royong. Dengan harta itu kita dapat memenuhi keperluan orang-orang yang berhutang, dapat kita berikan persinggahan kepada orang perantauan, dapat membantu orang-orang yang berjihad di jalan Allah, dapat menolong orang-orang yang lemah dan mengobati orang yang sakit.4

2 Lahmudin Nasution, Fiqih I, Logos, t.th, hlm. 147 3 M.Amin Rais, Tauhid Sosial, Mizan, hlm.134.

4 Muhammad Hasbi Ash-Shidieqi, Pedoman Zakat, Pustaka Rizqi Putra, cet.ke-2.1997.

hlm.308. .

(3)

Telah kita lihat bahwa lembaga zakat mengandung potensi luar biasa untuk mengurangi penderitaan umat manusia yang terhina. Negara Islam modern harus mengerahkan sumber daya domestik mereka melalui zakat untuk membiayai berbagai program pembangunan dalam sektor pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, dan kesejahteraan sosial. Karena itu setiap usaha harus dilakukan tidak hanya dalam pemungutan zakat oleh negara tetapi juga dalam penyelidikan pada lembaga zakat itu sendiri.5

Pembagian zakat merupakan masalah yang rawan. Karenanya, dalam prakteknya membutuhkan perhatian yang jeli, teliti, dan hati-hati. Mengingat tidak jarang dijumpai dalam masyarakat, kebijaksanaan yang diambil oleh panitia zakat ternyata bertentangan dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh agama.

Dalam agama Islam, secara jelas telah disebutkan, golongan yang berhak menerima zakat. Golongan tersebut dalam istilah fiqih disebut al -mustahiqqun (orang yang berhak menerima zakat). Jumlah golongan ini, sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an terbatas pada delapan golongan (al asnaf al tsamaniyyah), yang secara syar’i layak disebut sebagai orang yang benar-benar membutuhkan.6

Firman Allah:

!"#

$

$

% &

' ( )

$*

'

!&+

5 M.A. Manan,Islamic Econimics (Teori and Practice),Terj.M. Sonhaji,”Teori dan Praktek

Ekonomi Islam”,Yogyakarta: Dana Bakti Primayasa,1997,hlm.296.

(4)

Artinya: Sesungguhnya zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir miskin, amil zakat, para mu’alaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan budak), orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.7

Para ulama fiqih berbeda pendapat mengenahi pembagian zakat apakah zakat itu harus dibagikan secara merata di antara para asnafnya ?

Imam Syafi`i dalam kitab al-Umm berpendapat: bahwasanya zakat wajib dibagikan secara merata di antara para asnaf zakat.8 Ashab Syafi`i telah berpegang teguh, bahwa Allah s.w.t. menyandarkan zakat dengan lam (li) yang menunjukan pada pemilikan (lil fuqara wal masaakiin) terhadap mustahiknya, sehingga menunjukan kebolehan adanya pemilikan dengan cara berserikat; itu merupakan penjelasan terhadap mustahik.

Imam Malik, Abu Hanifah dan golonganya telah berbeda pendapat dengan Imam Syafi’i, mereka tidak mewajibkan pembagian zakat kepada semua sasaran. Mereka berkata: “Sesungguhnya lam (li) pada ayat itu bukan

lam tamlik, akan tetapi lamul ajli (lam menunjukan karena sesuatu)9

Dari sekian pendapat fuqaha tersebut, penulis tertarik mengkaji satu teori mazhab Imam Syafi’i tentang penyamarataan dalam pendistribusian zakat dalam kitab al-Umm.

7 Departemen Agama RI, Al-Qu’an dan terjemahnya, Semarang: CV Adi Grafika, 1994,

hlm.228

8 Al. Syafi’i, Al-Umm Juz II, Bairut Libanon : Dar Al Kutub Al Ilmiyah, t.th. hlm. 94 9 Yusuf Qardawi, Hukum Zakat : Studi Komperatif Mengenahi Status dan Filsafat Zakat

Berdasarkan Qur’an dan Hadis, terj. Salman Harun, Didin Hafidhudin dan Hasanudin, Pustaka Litera Antar Nusa, 1996, hlm. 665

(5)

Dari pendapat Imam Syafi’i tersebut sangat menarik, karena bertentangan dengan ulama yang lain mengenahi pendistribusian zakat.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis memandang perlu untuk mengkaji dan menganalisis pendapat Imam Syafi’i tersebut, dengan harapan hasilnya dapat memperkaya khasanah fiqih Islam. Penulis bermaksud menganalisis pendapat Imam Syafi’i tersebut dalam bentuk skripsi dengan

judul: “STUDI ANALISIS PENDAPAT IMAM SYAFI’I TENTANG

PENYAMARATAAN DALAM PENDISTRIBUSIAN ZAKAT KEPADA MUSTAHIK ”

B. Pokok Permasalahan

Berdasarkan uraian di atas maka penulis menitikberatkan permasalahan sebagai berikut:

Mengapa Imam Syafi’i mengharuskan meratakan pendistribusian zakat kepada mustahik dan bagaimana Istimbath hukum yang digunakan Imam Syafi’i dalam menjelaskan tentang penyamarataan dalam pendistribusian zakat?

C. Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini ada beberapa tujuan yang hendak dicapai penulis, antara lain sebagai berikut :

(6)

Untuk memenuhi kewajiban akademik serta melengkapi syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam ilmu hukum Islam pada fakultas syari’ah IAIN Walisongo.

Tujuan Fungsional

Untuk mengetahui pendapat dan penjelasan Imam Syafi’i tentang penyamarataan pendistribusian zakat kepada mustahik.

Untuk mengetahui metode istimbath hukum Imam Syafi’i tentang penyamarataan pendistribusian zakat kepada mustahik.

D. Telaah Pustaka

Dalam telaah pustaka ini penulis akan menguraikan kitab maupun buku yang membahas permasalahan yang berkaitan dengan judul skripsi ini diantaranya:

Dalam fiqih Syafi’i sistematis II dijelaskan, bahwa zakat dibagikan kepada golongan-golongan yang ada dengan sama-rata, sekalipun hajat mereka berbeda-beda, selain bagian untuk para ‘amil. Mereka hanya diberi upah, sebagaimana telah diterangkan, sebelum terjadi. Dan tidak dipersyaratkan harus sama-rata di antara sesama warga satu golongan, tapi boleh yang satu melebihi yang lain.10

Dalam Fiqih Sunnah 3 karangan Sayyid Sabiq mengutarakan bahwa: berkata Ibrahim an-Nakha’i: Jika harta banyak, dan bisa dibagikan kepada semua golongan, hendaklah dibagikan, dan jika hanya sedikit, boleh dikhususkan bagi satu golongan saja.

10 Musthafa al-akhin, et al., Fiqih Syafi’i Sistimatis II, Darulqalam Damsik, 1987, Cet.

(7)

Dalam hal ini Ahmad bin Hambal mengemukakan: bahwa lebih utama dibagikan, tetapi memberikannya pada satu golongan saja memadahi.

Dalam kitab Fikih al Ibadah dijelaskan bahwa tidak wajib membagikan zakat secara merata bahkan boleh diberikan pada satu orang dari salah satu asnaf zakat. Dan di sunahkan memberikan kepada seorang yang sangat membutuhkan.

Dan Imam Malik mengemukakan: Hendaklah ia berijtihad dan menyelidiki golongan yang amat membutuhkan dan mendahulukan mereka.11

Dan juga Imam Abu Hanifah berpendapat dalam kitab Fathul Qadir:

Bahwa zakat boleh di berikan kepada seorang saja dari salah satu golongan. 12

Terdapat pula satu riwayat dari Imam Ahmad yang sesuai dengan pendapat mazhab Syafi’i. Bahwa wajib menyamaratakan dan mempersamakan pembagian zakat itu di antara semua golongan, dan hendaknya setiap golongan itu tiga orang atau lebih, karena jumlah tiga adalah minimal jumlah jamak (banyak), kecuali petugas, karena apa yang diambil merupakan upah bagianya, sehingga diperbolehkan walaupun seorang saja. Dan apabila pemilik langsung yang membagikan zakat, maka hilanglah bagian petugas. Inilah pendapat yang dipilih Abu Bakr dari mazhab Hambali.

Buku Hukum Zakat, karangan Yusuf Qardawi menjelaskan: Imam Ushbug dari mazhab Maliki setuju dengan pendapat mazhab Syafi’i dalam menyamaratakan semua golongan, sehingga tidak perlu penjelasan lagi dalam

11 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 3, alih bahasa, Mahyudin Syaf, PT Al-Ma’arif, Bandung

1997, Cet. Ke-2. hlm. 103

12 Kamaluddin, Fathul Qadir juz III, Bairut Libanon: Dar al Kutub al Ilmiah, 1995, Cet I,

(8)

memberikan bagian pada mereka; dan karena dengan itu, akan tercakup semua kemaslahatan yang bermacam-macam, seperti untuk menutupi kekurangan membayar hutang dan lain sebagainya. Dan karena itu akan menyebabkan adanya doa dari semua sasaran. 13

Sedangkan dalam bentuk skripsi penulis menemukan beberapa skripsi yang behubungan dengan zakat antara lain:

“Analisis pemikiran M. Dawam Rahardjo tentang Pembedayaan Zakat Guna mengentaskan Kemiskinan”. Oleh Ahmad Nur Mustofa, S. Ag. yang didalamnya membahas tentang langkah praktis pengembangan zakas dan bazis sebagai lembaga masyarakat guna mengentaskan kemiskinan

“Analisis Pendapat Imam Hanafi tentang Pemberian Zakat Fitrah Kepada Orang Fakir yang Kafir Dzimmi”. Ditulis oleh Zaenal Abidin (2196157)

Kesimpulan dari skripsi ini yaitu bahwa menurut Imam Hanafi zakat fitrah dapat diberikan kepada orang fakir yang kafir dzimmi. Ini disandarkan pada keumuman surat Al Mumtahanah ayat 8 yang dijadikan dasar istimbat hukum oleh Imam Hanafi.

“Analisis Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Pemberian Zakat Kepada Keluarga”. Ditulis oleh Siti Qomariyah (2198153)

Kesimpulan dari skripsi tersebut yaitu meskipun banyak ulama yang tidak membolehkan zakat diberikan kepada kedua orang tua dan anak, akan tetapi apabila kondisinya seperti yang digambarkan oleh Ibnu Taimiyyah

(9)

dengan beberapa istimbat yang relevan, maka menurut penulis boleh memberikan kepada orang tua dan anak.

Dengan adanya perbedaan dari kalangan ulama’ tentang pembagian zakat kepada mustahik, disamping itu masalah ini sering terjadi di dalam masyarakat sekitar kita, mungkin dikarenakan kurangnya pengetahuan mereka khususnya dalam masalah ini, oleh karea itu penulis merasa termotifasi untuk membahas judul tersebut dalam bentuk skripsi, dengan harapan hasilnya dapat memperkaya khasanah fiqih Islam pada umumnya dan menambah wawasan bagi penulis khususnya.

E. Metode Penulisan Skripsi

Metode penulisan skripsi merupakan suatu pendekatan yang akan dicapai sebagai metodologi dalam mencari penjelasan masalah. Dan dalam penelitian ini, jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan (Library Research), karena sumber datanya berasal dari buku-buku maupun kitab-kitab yang berkaitan secara langsung maupun tidak dengan obyek yang sedang penulis teliti, dalam hal ini sumber pokok penelitian, yang penulis gunakan adalah kitab al-Umm dan al-Risalah karya Imam Syafi`i.

Dalam penulisan skripsi ini akan mengunakan beberapa metode. Hal ini dimaksudkan agar penulisan ini sistematis dan dapat mencapai tujuan sesuai dengan judul skripsi.

1. Sumber Data.

Sumber data Primer. Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah kitab al-Umm dan al-Risalah karangan Imam Syafi`i.

(10)

Sedangkan sumber data sekunder adalah kitab al-Majmu` karangan Imam Nawawi dan juga kitag al Wajiz karangan Abi Hamid dan sebagainya 2. Metode Analisis Data

Setelah data terkumpul dan tersaji kemudian penulis meneruskan langkah dengan menganalisa data-data tersebut digunakan metode analisis kualitatif yaitu menggunakan pola sebagai berikut:

a. Metode Deskriptif Analisis

Metode ini merupakan pembahasan dengan memaparkan data-data yang diperoleh dari pustaka tentang gambaran umum zakat. Kemudian data-data yang diperoleh tersebut akan dianalisis dengan metode analisis deskriptif dalam bab III dan bab IV.

b. pendekatan Maslahah Mursalah

Maslahah mursalah mempunyai arti mutlak, dalam istilah ushul yaitu kemaslahatan yang tidak di syari`atkan oleh syari` untuk ditetapkan. Dinamakan mutlak karena tidak ada dalil yang mengungkapkan (menerangkan) maupun dalil yang membatalkan.14 Teori ini terkait pada konsep bahwa syari`ah ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan berfungsi untuk menghindari kemadhorotan.15

Metode ini dapat diterima apabila dapat memperlihatkan bahwa kepentingan umum yang diadopsi dalam sebuah masalah adalah relevan baik dengan prinsip universal hukum maupun bagian tertentu dan bukti

14 Abd. Wahab Kholaf, Ilmu Ushul Fiqih, Jakarta : Rineka Cipta, Cet. 3, 1995, hlm. 98 15 M. Muslihuddin, Filsafat Hukum Islam dan Pemikiran Orentalis (Studi Perbandingan

(11)

tekstual. Karena itu relevansi merupakan syarat penting bagi kesimpulan yang sah dari maslahah mursalah.16

Dengan demikian pendekatan maslahah mursalah ini penulis mencoba menganalisis pendapat Imam Syafi`i tentang penyamarataan pendistribusian zakat kepada mustahik.

F. Sistematika Penulisan Skipsi.

Uraian dalam skripsi ini akan disusun dalam lima bab, yang semuanya merupakan uraian yang saling berkolerasi, uraian dimulai dari hal yang bersifat luas, kemudian diarahkan pada pokok masalah sehingga menghasilkan pembahasan terfokus secara sistematis. Sistematika pembagianya adalah sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Terdiri atas latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, telaah pustaka, metode penulisan, sistematika penulisan

Bab II Ketentuan Umum Tentang Zakat

Dalam bab ini akan dijelaskan tentang: pengertian zakat dan dasar hukumnya, rukun dan syarat zakat, maqashidu syari’ah pemberian zakat

Bab III Pendapat Imam Syafi’i Tentang Penyamarataan Pendistribusian Zakat Kepada Mustahik

Dalam bab ini membahas tentang biografi Imam Syafi`i, konsep penyamarataan pendistribusian zakat kepada mustahik menurut Imam Syafi’i,

16 Wael B. Hallaq, Sejarah Teori Hukum Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.

(12)

istimbat hukum Imam Syafi`i, tentang penyamarataan pendistribusian zakat kepada mustahik.

Bab IV Analisis Terhadap Pendapat Imam Syafi`i Tentang Penyamarataan Pendistribusian Zakat Kepada Mustahik

Berisi tentang analisis terhadap metode istimbath hukum Imam Syafi`i, analisis terhadap pendapat Imam Syafi`i tentang penyamarataan pendistribusian zakat kepada mustahik

Bab V Penutup

Merupakan sebagai bab akhir dari penulisan skripsi ini yang terdiri dari : kesimpulan, saran-saran, penutup dan lampiran

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :