KORELASI ANTARA KEAKTIFAN MENGIKUTI KEGIATAN KEPRAMUKAAN DENGAN SIKAP KEMANDIRIAN BELAJAR MAHASISWA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA TAHUN

119 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

KORELASI ANTARA KEAKTIFAN MENGIKUTI

KEGIATAN KEPRAMUKAAN DENGAN SIKAP

KEMANDIRIAN BELAJAR MAHASISWA SEKOLAH

TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA TAHUN

2011

S K R I P S I

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam

Oleh :

M. TAUFIK

NIM. 12107051

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

(2)
(3)
(4)

iv

MOTTO

“Masa lalu yang pedih dan pahit bukan untuk kita lupakan, masa lalu

yang bahagia dan manis bukan untuk kita kenang, tapi jadikanlah

(5)

v

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

1. Bapak (Slamet Sutrisno ) dan Ibu (Alfiyah) tercinta, yang senantiasa

mencurahkan kasih sayang, dukungan, dan doa yang tak pernah putus

untuk anak-anaknya.

2. Buat kakak-kakakku (Sumarni, Tukiman, Nur Wahyudi, Winayati,

Suryadi) tercinta yang selalu memberikan motivasi.

3. Adikku (Halim Budiarto, Ari Kurniawan) tercinta yang membuatku

termotivasi dan semangat.

4. Belahan hatiku Leni Rahmawati yang selalu memberikan motivasi

serta kasih sayangnya baik suka maupun duka.

5. Sahabat seperjuangan (Cholilurrochman, S. Pd.I) yang telah

membantu.

6. Kepada Keluarga Besar Beliau Bapak Muhzidin yang selalu

memberikan bimbingan dan motivasi untuk menjadi yang terbaik.

7. Keluarga besar Racana kususnya Racana Kusuma Dilaga -Woro

Srikandhi, yang selalu menemaniku dalam menimba ilmu dan

pengalaman selama masa studi.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat serta salam penulis sanjungkan kepada Nabi

Muhammad SAW, sehingga penyusunan skripsi yang berjudul “Korelasi Antara

Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kepramukaan Dengan Sikap Kemandirian Belajar

Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga Tahun 2011.” dapat

terselesaikan.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa banyak bantuan yang

telah diberikan dari berbagai pihak, baik berupa material, maupun spiritual.

Selanjutnya penulis haturkan ucapan terima kasih dan penghargaan

setinggi-tingginya kepada yang kami hormati:

1. Bapak Dr. Imam Sutomo, M.Ag, selaku Ketua STAIN Salatiga.

2. Bapak Suwardi, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Tarbiyah.

3. Ibu Dra. Siti Asdiqoh, M.Si, selaku Ketua Program studi PAI.

4. Bapak Drs. Abdul syukur, M.Si, selaku dosen pembimbing skripsi yang

senantiasa memberikan bimbingan dan arahan sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan dengan baik.

5. Bapak Prof. Dr, H, Budihardjo M.Ag, selaku dosen pembimbing akademik

yang selalu memberikan bimbingan dan motivasi untuk menjadi yang terbaik

6.

Dra. Astuti Sakdiyah, M. Pd dan pak Mukti Ali selaku pembina pramuka STAIN

salatiga yang selalu memberikan masukan, bimbingan dan motivasi kepada anggota Racana Kusuma Dilaga - Woro Srikandhi.

(7)

vii

7. Bapak dan ibu dosen serta karyawan STAIN Salatiga, yang telah membantu

proses penyusunan skripsi ini.

8. Ayahku Slamet Sutrisno dan Ibuku Alfiyah serta keluargaku yang lainnya.

Yang selalu memberikan kontribusi, dukungan dan dorongan sehingga dapat

menyelsaikan masa studiku.

9. Kepada Keluarga Besar Beliau Bapak Muhzidin yang selalu memberikan

bimbingan dan motivasi untuk menjadi yang terbaik.

10. Teman-teman di Racana Kusuma Dilaga-Woro Sri Kandhi serta semua

kakak-kakak dewan dan anggota Racana yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu yang bersedia membantu dan membagi ingformasi serta

memotivasi sehigga dapat menyelsaikan karya ini.

11. Semua pihak yang banyak memberikan bantuan, motivasi, dukungan serta

do‟a yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan

bagi pembaca pada umumnya. Saran dan kritik yang membangun sangat

diharapkan untuk perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini.

Salatiga, 12 Desember 2011

Penulis

M. Taufik

NIM:12107051

(8)

viii

ABSTRAK

M.Taufik. 2012.Korelasi Antara Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kepramukaan

Dengan Sikap Kemandirian Belajar Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama

Islam Negeri Salatiga Tahun 2011. Skripsi. Jurusan Tarbiyah Program

Studi Pendidikan Agama Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri

Salatiga.

Pembimbing: Drs Abdul Syukur, M.Si.

Kata kunci: keaktifan mengikuti kegiatan kepramukaan dan sikap kemandirian

belajar mahasiswa.

Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui tingkat Keaktifan Mengikuti

Kegiatan Kepramukaan Dengan Sikap Kemandirian Belajar Mahasiswa Sekolah

Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga Tahun 2011. Pertanyaan utama yang ingin

dijawab melalui penelitian ini adalah (1) Bagaimana keaktifan mahasiswa program

studi PAI dalam mengikuti kegiatan kepramukaan (Racana) di STAIN Salatiga?. (2)

Bagaimana hasil sikap kemandirian belajar yang dicapai mahasiswa Program Studi

PAI yang mengikuti kegiatan kepramukaan di STAIN Salatiga tahun 2011?. (3)

Apakah Ada Korelasi Antara Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kepramukaan Dengan

Sikap Kemandirian Belajar Mahasiswa Program Studi PAI STAIN Salatiga Tahun

2011?.Tekhnik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tekhnik angket,

metode dokumentasi, dan metode observasi. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa

yang mengikuti organisasi gerakan pramuka (Racana Kusuma Dilaga-Woro

Srikandhi) di STAIN, sebanyak 30 mahasiswa dari tahun 2008-2011.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat keaktifan mahasiswa

program studi PAI di kegiatan kepramukaan (Racana Kusuma Dilaga-Woro

Srikandhi) di STAIN Salatiga Tahun 2011 sebanyak 63% (Sebanyak 19

mahasiswa).

Sedangkan tingkat sikap kemandirian belajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan

Agama Islam STAIN Salatiga sebagian besar tergolong dalam kategori tinggi yaitu

67% (Sebanyak 30 mahasiswa).

Setelah dianalisis menggunakan korelasi product moment diperoleh nilai rxy

sebesar 0,769. pada taraf signifikan 1% (0,463 ) antara keaktifan mengikuti kegiatan

kepramukaan dengan sikap kemandirian belajar mahasiswa STAIN Salatiga Tahun

2011.

(9)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ISI ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Hipotesis ... 10

E. Manfaat Penelitian ... 10

(10)

x

G. Metodologi Penelitian ... 14

H. Instrumen Penelitian ... 16

I. Metode Pengumpulan Data ... 17

J. Sistematika Penulisan Skripsi ... 21

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Tentang Kepramukaan ... 23

1. Pengertian ... 23

2. Sejarah ... 25

3. Sifat dan Fungsi Kepramukaan ... 31

4. Dasar, Asas, Tujuan dan Sasaran Gerakan Pramuka ... 34

5. Prinsip Dasar Pendidikan Kepramukaan ... 37

6. Pendidikan Kepramukaan Di Satuan Racana Pandega ... 39

B. Sikap Kemandirian Belajar ... 41

1. Pengertian Sikap Kemandirian Belajar ... 41

2. Cara Belajar Yang Baik Dan Tujuan Belajar ... 44

3. Perfektif Islam Tentang Kemandirian Belajar ... 46

C. Urgensi Kegiatan Kepramukaan Terhadap sikap Kemandirian

Belajar Mahasiswa Racana Tahun 2011 ... 48

(11)

xi

BAB III

LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Gambaran umum lokasi dan subjek penelitian ... 52

1. Profil STAIN Salatiga ... 52

2. Profil Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandi Gudep

02.237-02.0238 kota Salatiga ... 65

B. Data Responden ... 68

C. Penyajian Data Penelitian ... 71

1. Data Jawaban Angket Keaktifan Mengikuti Kegiatan

Kepramukaan Di Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandi

tahun 2011... 71

2. Data Jawaban Angket Sikap Kemandirian Belajar

Mahasiswa Racana ... 74

BAB IV

ANALISIS DATA

A. Analisis Pendahuluan ... 76

1. Analisis Data Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kepramukaan

di Racana STAIN Salatiga Tahun 2011... 76

2. Analisis Data Sikap Kemandirian Belajar Mahasiswa

Racana... 82

B. Analisis Uji Hipotesis ... 87

C. Pembahasan ... 90

(12)

xii

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan ... 93

B. Saran-saran ... 95

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

TABEL I

Daftar Nama Responden Anggota Racana STAIN Salatiga

Tahun 2011... 69

TABEL II

Data Jawaban Angket Keaktifan Mengikuti Kegiatan

Kepramukaan di Racana Tahun 2011... 71

TABEL III Data Jawaban Angket Kemandirian Belajar ... 74

Tabel IV

Data Nilai dan Nominasi Tingkat Keaktifan Mengikuti Kegiatan

Kepramukaan di Racana STAIN Salatiga Tahun 2011 ... 78

TABEL V

Frekuensi Tingkat Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kepramukaan

Di Racana STAIN Salatiga tahun 2011 ... 81

TABEL VI Data Nilai dan Nominasi Tingkat Sikap Kemandirian Belajar

Mahasiswa Racana STAIN Salatiga tahun 2011 ... 83

TABEL VII Frekuensi Tingkat Sikap Kemandirian Belajar Mahasiswa

Racana STAIN Salatiga Tahun 2011 ... 86

TABEL VIII Tabel Kerja Product Moment Korelasi Antara keaktifan Mengikuti

Kegiatan Kepramukaan Dengan Sikap Kemandirian Belajar

Mahasiswa STAIN Salatiga Tahu 2011 ... 87

TABEL IX Nilai Product Moment ... 91

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah suatu pengembangan diri individu dan kepribadian seseorang yang akan dilakukan secara sadar dan penuh tanggung jawab untuk dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai sehingga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Muri yusuf. 1988:25). Pendidikan merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Perubahan di bidang pendidikan merupakan langkah yang paling baik dalam pembinaan sumber daya manusia, oleh karena itu untuk mencapai hasil tersebut pemerintah harus lebih mengutamakan dan memberikan perhatian khusus dalam bidang pendidikan baik formal maupun nonformal.

Pendidikan kepramukaan termasuk dalam pendidikan formal yang sering disebut dengan pendidikan dengan ekstrakurikuler ditingkat sekolah menengah. Sedangkan pendidikan pramuka di STAIN Salatiga merupakan pendidikan nonformal yang tersaji dilingkup unit kegiatan Mahasiswa (UKM) dengan nama Racana Kusuma Dilaga- Woro Srikandhi STAIN Salatiga.

Kepramukaan merupakan proses pendidikan luar lingkungan sekolah dan di luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah praktis yang dilakukan dialam terbuka dengan prinsip kepramukaan dan metode kepramukaan yang sarana akhirnya pembentukan watak (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka. 1999:56) Pada hakikatnya

(15)

2

kegiatan kepramukaan merupakan suatu proses pendidikan dalam bentuk kegiatan bagi anak atau remaja yang dilaksanakan diluar pendidikan keluarga dengan menggunakan prinsip dasar. Kepramukaan merupakan proses kegiatan belajar sendiri yang progresif bagi kaum muda untuk mengembangkan diri pribadinya secara utuh baik sosial, intelektual, fisik ketrampilan dan sebagainya sebagai individu dan anggota masyarakat.

Menyadari betapa pentingnya peranan remaja bagi masa depan bangsa, maka perlu diadakan pembinaan remaja dan harus ada kerja sama antara orang tua, sekolah dan remaja yang bersangkutan. Oleh karena itu remaja ini harus mempersiapkan dirinya dengan bekal ilmu pengetahuan dan kecakapan serta ketrampilan yang memungkinkan masuk kedalam masyarakat orang dewasa dan sanggup berintregrasi dan serasi dengan mereka (Zakiyah Daradjat. 1971:37). Orang tua yang belum sadar dan faham tentang arti penting kegiatan pendidikan kepramukaan kadang masih melarang anaknya untuk aktif dalam kegiatan tersebut. Mereka memandang kegiatan tersebut hanya sekedar permainan, tidak ada manfaatnya bagi anak yang menghabiskan waktu, tenaga, biaya sehingga mereka ragu apakah pendidikan yang bersifat kemandirian, kedisiplinan ataupun yang lainnya bisa diterapkan melalui pendidikan kepramukaan, sedangkan kegiatannya hanya tepuk tangan.

Kalau kita baca buku “BPS Out Look” didalamnya terdapat pendapat Lord Boden Powell, sebagai berikut:

“Scouting is not a science to be solemnly studied, nor is it a collecting of doctrgine and texts. No!, it is a jolly game in the out of doors, where boy man and boy can go adventuring together asleader and younger brothers picking of health and happiness handicraff and help fulness”.

(16)

3

Artinya : “ Kepramukaan bukanlah suatu ilmu yang harus dipelajari secara tekun, bukan pula merupakan suatu kumpulan dari ajaran-ajaran dan naskah-naskah buku. Bukan!, kepramukaan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka , tempat orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama, mengadakan pengembaraan seperti kakak beradik, membina kesehatan dan kebahagiaan, keterampilan dan kesediaan memberikan pertolongan (Gerakan Pramuka. 1983:26)

Pendidikan kepramukaan bukanlah kegiatan hura-hura dan bukan merupakan pendidikan tepuk tangan, tetapi merupakan suatu proses belajar melatih diri guna mengerti dan memahami orang serta berlatih di masyarakat dan dapat belajar tentang pendidikan tentang alam dan teknologi. Dengan demikian pendidikan pramuka tersebut sangat luas lingkupnya, terhadap diri sendiri, masyarakat bahkan untuk kepentingan negara karena sifatnya yang sosial serta dapat mempelajari untuk mengenal alam. Selain itu kita juga dapat menggunakan pendidikan kepramukaan tersebut sebagai dasar pembentukan sikap kemandirian belajar mahasiswa.

Karena hasil pendidikan itu merupakan pilar utama yang digunakan untuk hidup di masyarakat. Oleh karena itu kegiatan pendidikan yang dilakukan tidak sebatas dalam kegiatan formal akan tetapi membutuhkan kegiatan tambahan atau nonformal untuk melengkapi dan mengasah bakat mereka. Berbeda dengan sekolah umum, Perguruan Tinggi Islam di Salatiga khususnya di STAIN Salatiga, kegiatan nonformal bernama organisasi kemahasiswaan. Organisasi kemahasiswaan adalah wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa kearah perluasan wawasan dan peningkatan kecerdasan intlektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual (STAIN Salatiga Press, 2007:85).

Melihat dari definisi yang diutarakan diatas, beroganisasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan dan meningkatkan diri mahasiswa dalam dunia kampus. Sehingga organisasi menjadi faktor penting disamping pembelajaran di

(17)

4

perkuliahan. Dalam Al-quran surat As-Sshaf ayat 4 menerangkan tentang pentingnya organisasi, yaitu:

























Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Ash Shaff: 4)

Kalimat “mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” pada ayat ini mengisyaratkan kepada kaum muslimin agar mereka menjaga persatuan yang kuat dan kesatuan yang kokoh, memberi semangat yangg tinggi, suka berjuang dan berkorban di dalam kalangan kaum muslimin. Membentuk dan menjaga persatuan serta kesatuan di kalangan kaum muslimin berarti menyingkirkan segala sesuatu yang mungkin menimbulkan perpecahan. seperti perbedaan pendapat tentang sesuatu yang sepele dan tidak penting, sifat mementingkan diri sendiri, sifat membangga-banggakan suku dan keturunan, sifat mementingkan golongan, sifat yang tidak berprikemanusiaan dan sebagainya. Stephen P. Robbins menyatakan ,“Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan”. Dari definisi ahli diatas maka cara menyatukan berbagai perbedaan yang ada menjadi satu kesatuan yaitu dengan cara membentuk suatu organisasi sebagai wadah untuk menampung dan mencapai suatu tujuan bersama. Surat ini pada intinya menekankan pada kejamaahan dan kekokohan organisasi, terutama pada umat Islam. Karena dengan kokohnya organisasi maka umat islam semakin kuat dan kokoh.

(18)

5

Di STAIN Salatiga ada banyak organisasi baik dari organisasi yang bernotaben musik, olahraga, keagamaan, maupun organisasi yang bernotaben kepramukaan, dan lain-lain. Namun hanya sebagian kecil dari jumlah keseluruhan mahasiswa mengikuti organisasi. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar mahasiswa hanya mengikuti kuliah kemudian pulang. Jika penulis simpulkan berdasarkan orientasinya mahasiswa itu dibagi menjadi 3, yaitu mahasiswa akademis (mahasiswa yang berorientasi pada kuliah saja), mahasiswa organisatoris (mahasiswa yang beorientasi pada organisasi saja) dan mahasiswa akademis organisatoris (mahasiswa yang berorientasi pada kuliah dan berorganisasi). Untuk mahasiswa yang hanya aktif kuliah biasanya jumlahnya paling banyak. Untuk mahasiswa yang kuliah dan berorganisasi jumlahnya lebih sedikit, sedangkan mahasiswa yang hanya organisasi saja jumlahnya paling sedikit.

Di STAIN Salatiga, organisasi gerakan pramuka menjadi salah satu organisasi yang paling banyak diminati oleh mahasiswa lain. Meskipun sebenarnya masih banyak organisasi intra kampus lain yang lebih sesuai dalam mewadahi minat dan bakat mereka. Hal ini bisa dibuktikan dari jumlah anggota yang aktif maupun dalam setiap pendaftaran anggota baru. Gerakan Pramuka merupakan organisasi yang dibentuk oleh pramuka untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan (UU RI No.12 2011: Bab I pasal 1) yang juga berfungsi sebagai organisasi pendidikan nonformal yang berada di luar kampus yang menampung aspirasi dalam kepramukaan. Untuk menjadikan kader yang aktif, kreatif dan cerdas maka gerakan pramuka perlu adanya upaya untuk mendidik dan melatih para anggota pramuka. Untuk istilah organisasi gerakan pramuka itu sendiri di STAIN Salatiga dinamakan Racana Kusuma Dilaga- Woro Srikandhi (Hasil Musawarah Racana ke XXII, 2011 bab I ayat 1)

(19)

6

Melihat dari keaktifan mahasiwa Program Studi Pendidikan Agama Islam dalam organisasi pramuka (Racana Kusuma dilaga-Woro Srikandhi) ini terkadang sering berbenturan waktu, baik antara aktif di organisasi dengan kuliah bahkan ada yang terhambat tugas akademiknya, artinya mahasiswa yang aktif di dalam suatu organisasi terkadang jarang sekali bisa hadir di bangku kuliah karena lebih mengutamakan tugas organisasinya atau dia lebih memilih salah satunya. Meskipun keaktifan mahasiswa program studi pendidikan agama islam (PAI) pada organisasi gerakan pramuka sebenarnya bukan prioritas utama dalam meraih gelar strata satu, namun itu menjadi suatu tantangan tersendiri bagi mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam yang aktif diantara keduanya dengan prinsip “kuliah cepat organisasi mantap”. Karena memang bentuk kegiatan dan pengalaman serta ilmu yang di dapat di organisasi gerakan pramuka (Racana) ini tidak bertentangan dengan ranah pendidikan itu sendiri. Berikut penulis utarakan alasan pemilihan judul:

a. Banyaknya mahasiswa yang aktif kuliah namun mereka aktif di organisasi sebagai langkah untuk mengembangkan bakat serta menambah pengalaman dan ketrampilan.

b. Racana sebagai organisasi gerakan pramuka intra kampus yang mewadahi mahasiswa baik dari semua jurusan apakah mampu memberikan implikasi positif terhadap sikap kemandirian belajar dari mahasiswa Program Studi PAI atau hanya dunia pendidikan secara umum.

(20)

7

Dari uraian latar belakang di atas penulis merasa sangat tertarik untuk meneliti apakah mahasiswa program studi PAI yang aktif dalam kegiatan kepramukaan dapat mempengaruhi sikap kemandirian belajar? Oleh karena itu penulis mengambil judul “KORELASI ANTARA KEAKTIFAN MENGIKUTI

KEGIATAN KEPRAMUKAAN DENGAN SIKAP KEMANDIRIAN

BELAJAR MAHASISWA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA TAHUN 2011”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka dapat diambil beberapa masalah pokok yang sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut, diantaranya:

1. Bagaimana keaktifan mahasiswa program studi PAI dalam mengikuti kegiatan kepramukaan (Racana) di STAIN Salatiga tahun 2011?

2. Bagaimana sikap kemandirian belajar yang dicapai oleh Mahasiswa Program Studi PAI yang mengikuti kegiatan kepramukaan di STAIN Salatiga Tahun 2011?

3. Apakah ada korelasi antara keaktifan mengikuti kegiatan kepramukaan dengan sikap kemandirian belajar Mahasiswa Program Studi PAI STAIN Salatiga 2011?

(21)

8

C. Tujuan Penelitian

Dengan adanya uraian di atas, maka tujuan dari penelitian ini diantaranya adalah:

1. Mengetahui keaktifan mahasiswa program studi PAI dalam mengikuti kegiatan kepramukaan (Racana) di STAIN Salatiga tahun 2011

2. Mengetahui hasil sikap kemandirian belajar Mahasiswa yang dicapai oleh mahasiswa program studi PAI yang mengikuti kegiatan kepramukaan di STAIN Salatiga Tahun 2011.

3. Untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara keaktifan Mahasiswa program studi PAI dalam mengikuti kegiatan kepramukaan (Racana) dengan sikap kemandirian belajar Mahasiswa di STAIN Salatiga Tahun 2011.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar yang mungkin salah, hipotesis yang benar nantinya akan dipakai dan hipotesis yang salah akan ditolak pemakaiannya, tetap dan tidaknya hipotesis tergantung dari data yang terkumpul (Sutrisno Hadi.1983:63).

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang diajukan adalah:

“Ada korelasi yang positif antara keaktifan mengikuti kegiatan kepramukaan dengan sikap kemandirian belajar mahasiswa Program Studi PAI STAIN Salatiga Tahun 2011”.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat kita ambil dari penelitian ini diantaranya adalah:

(22)

9

a. Secara teoritik, diharapkan penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran atau pengembangan ilmu dunia pendidikan khususnya pendidikan agama atau pun disiplin ilmu tarbiyah lainnnya.

b. Secara praktis, bagi STAIN Salatiga kususnya pada Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi, untuk mengetahui korelasi antara keaktifan mengikuti kegiatan kepramukaan dengan sikap kemandirian belajar mahasiswa program studi PAI.

F. Definisi Operasional

1. Keaktifan Kegiatan Kepramukaan.

Keaktifan berasal dari kata ”Aktif” mendapat imbuan “Ke” dan “an” yang memiliki arti giat (Bekerja, berusaha). (W.J.S. Poerwadarmito

2006:20).

Kegiatan berasal dari kata “Giat” dan mendapat imbuhan “Ke” dan “an” yang memiliki arti kekuatan dan ketangkasan (W.J.S. Poerwadarmito 2006:378).

Kepramukaan berasal dari kata pramuka yang berarti praja muda karana, yaitu rakyat muda yang suka berkarya (W.J.S. Poerwadarmito 1976:230). Akar kata ini mendapat awalan ke- dan akhiran –an, sehingga menjadi kepramukaan yang artinya suatu proses pendidikan dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan bagi anak dan pemuda di bawah tanggung jawab orang dewasa (W.J.S. Poerwadarmito. 1976:649).

Jadi yang penulis maksud untuk keaktifan mengikuti kegiatan kepramukaan yaitu aktifnya seorang mahasiswa Program Studi Agama Islam dalam mengikuti organisasi gerakan pramuka atau Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi Gudep 02.237-02.238 di STAIN Salatiga.

(23)

10 2. Sikap kemandirian belajar.

Sikap adalah pandangan-pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai sikap objek tadi (Heri Purwanto, 1998:62).

Kemandirian adalah usaha membantu siswa untuk mandiri berarti mendorong mereka agar bebas dari bantuan orang lain (Suharsimi Arikunto 1998:108).

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan,

sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan

lingkungan (Moh. Surya. 1981:32).

Dengan demikian sikap kemandirian belajar adalah kemampuan

untuk melakukan kegiatan belajar yang bertumpu pada aktivitas dan

tanggung jawab dengan didorong oleh motivasi dalam dirinya sendiri

sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara

sesudah belajar dan sebelum belajar.

Adapun indikator-indikator sikap kemandirian belajar oleh penulis dituliskan sebagai berikut yaitu:

1) Belajar tepat pada waktunya

2) Selalu mengerjakan pekerjaan rumah

3) Selalu menyalin pelajaran

(24)

11

5) Tidak pernah gelisah apabila menghadapi ulangan/ujian.

6) Selalu bertanya pada hal yang belum di pahami

7) Tidak menyontek dalam mengerjaan tugas/soal.

8) Percaya diri dalam menyelesaikan tugas, sehingga tidak mudah

meminta bantuan orang lain.

9) Dapat mengambil keputusan dalam memilih atau menentukan suatu

pilihan.

G. Metodologi Penelitian 1. Populasi dan Sempel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Prof. Dr. Sugiono. 2007: 61).

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Prof. Dr. Sugiono. 2007: 61). Dalam hal ini penulis akan melakukan penelitian lapangan. Menurut Suharsimi arikunto jika jumlah sampel kurang dari 100 lebih baik diambil semua untuk di teliti akan tetapi jika subyeknya lebih besar maka diambil antara 10%−15% atau 20%−25%. Karena jumlah mahasiswa yang terdaftar sebagai anggota Racana ada 300 orang untuk semua jurusan, dari angkatan 2008-2011, maka penulis hanya mengambil mahasiswa yang termasuk Program Studi PAI sebanyak 30 orang dari angkatan 2008-2011. Jadi dalam hal ini penulis tidak menggunakan sampel, tetapi menggunakan populasi dengan jumlah total 30 0rang.

(25)

12 2. Lokasi dan Waktu Pengelitian

Penulis melakukan penelitian ini di Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi Kampus 1 STAIN Salatiga tepatnya di Jl. Tentara Pelajar No. 2 STAIN Salatiga.

Pelaksanaan penelitian yaitu pada bulan September tahun 2011 untuk mahasiswa program studi PAI tahun angkatan 2008-2011. Jadi penelitian ini kurang lebih memakan waktu 1 bulan.

3. Variabel Penelitian

Variabel penelitian berdasarkan judul yang akan penulis teliti “Korelasi Antara Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kepramukaan Dengan Sikap Kemandirian belajar mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga Tahun 2011”, maka Variabel penelitian ini ada dua yaitu :

b. Variabel independent yaitu variabel bebas yang mempengaruhi. Yang termasuk variabel ini adalah “Keaktifan mengikuti kegiatan Kepramukaan (Racana)” dengan indikator:

1. Sering mengikuti kegiatan yang diadakan Racana 2. Membantu dalam setiap kegiatan organisasi Racana. 3. Melaksanakan tugas dan kewajiban yang diemban.

4. Mematuhi aturan organisasi gerakan pramuka yang ditetapkan (Adat Racana Kusuma dilaga-Woro Srikandhi).

(26)

13

c. Variabel dependent yaitu variabel yang dipengaruhi. Dalam penelitian ini yang termasuk dalam variabel ini adalah sikap kemandirian belajar. Adapun yang menjadi indikator adalah:

1. Belajar tepat pada waktunya

2. Selalu mengerjakan pekerjaan rumah

3. Selalu menyalin pelajaran

4. Selalu mencatat pelajaran.

5. Tidak pernah gelisah apabila menghadapi ulangan/ujian.

6. Selalu bertanya pada hal yang belum di pahami

7. Tidak menyontek dalam mengerjakan tugas/soal.

8. Percaya diri dalam menyelesaikan tugas, sehingga tidak mudah

meminta bantuan orang lain.

9. Dapat mengambil keputusan dalam memilih atau menentukan suatu pilihan.

H. Metode Pengumpuan Data

Untuk mendapatkan semua data yang ada dilapangan, langkah yang Penulis tempuh terlebih dahulu adalah meminta izin di lokasi penelitian dan mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan dalam penelitian. Dalam melakukan penelitian ini Penulis mendapatkan data secara langsung dilapangan. Jadi Penulis disini sebagai pengamat independent dalam penelitian. .

(27)

14

I. Instrumen Penelitian

Instrument adalah alat yang digunakan untuk melakukan penelitian. Dalam hal ini instrument yang penulis gunakan yaitu:

a. Metode observasi

Metode observasi adalah alat pengumpul data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat sistematika gejala-gejala yang diselidiki (Achmadi, dkk. 1991:70)

Data yang diperoleh adalah data tentang situasi umum STAIN salatiga dan pendidikan kepramukaan.

b. Metode Angket

Angket atau kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang telah disiapkan secara sistematis dan digunakan untuk memproleh informasi yang dibutuhkan dari responden.

Penyebaran angket ini hanya diperuntukkan bagi populasi utama yaitu kepada siswa untuk memperoleh data tentang keaktifan mengikuti kegiatan kepramukaan dan sikap kemandirian belajar siswa.

c. Metode Wawancara

Wawancara adalah suatu proses tanya jawab lisan dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri suaranya (Sutrino Hadi, 1989: 192) dalam hal ini menguraikan keaktifan mengikuti organisasi gerakan pramuka (Racana Kusuma dilaga-Worosrikandhi) di STAIN Salatiga.

(28)

15

Kemudian untuk keaktifan kegiatan kepramukaan, penulis bertanya kepada beberapa pengurus/dewan racana. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana keaktifan mahasiswa program studi PAI yang mengikuti organisasi gerakan pramuka atau Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi.

d. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang diperoleh dengan bahan-bahan yang tersimpan (Sutrisno Hadi. 1983:2898). Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data yang berupa surat-surat, sertifikat, buku-buku, dan lain-lain. Dapat juga digunakan untuk mengetahui gambaran umum lokasi penelitian, materi pramuka, dokumen buku induk Racana dan dokumen lain yang berkenaan dengan penelitian ini. Langkah ini pun penulis gunakan bersamaan dengan melakukan observasi di lapangan.

2. Analisis Data a. Analisis Awal

Yang penulis maksud analisa disini adalah cara untuk mengelolah data yang terkumpul sehingga data dapat dengan mudah dibaca dan ditafsirkan. Untuk menganalisa “Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kepramukaan Dan Sikap Kemandirian Belajar Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga Tahun 2011”. Maka penulis akan menganalisis presentase, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

% 100 X N F P Keterangan:

(29)

16

F = Frekuensi jawaban yang dipilih

N = Jumlah individu yang menjadi sampel 100% bilangan konstan. b. Analisis Lanjut

Untuk mengetahui ada atau tidaknya Korelasi Antara Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kepramukaan Dengan Sikap Kemandirian Belajar Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga Tahun 2011, penulis menggunakan rumus product moment sebagai berikut:

  

 

 

2 2 2 2

}

y

y

N

x

x

N

y

x

xy

N

rxy

Keterangan:

rxy : Koefisien antara variabel x dan y XY : Perkalian antara x dan y

X2 : Variabel Pengaruh

Y 2 : Variabel Terpengaruh N : Jumlah sampel yang dimiliki

: Sigma (jumlah)

Jika telah diketahui rxy maka dilakukan analisa uji hipotesis, sehingga hipotesis yang dikemukakan dapat diterima atau ditolak.

J. Sistematika Penulisan Skripsi

Untuk memudahkan serta memberikan gambaran selintas kepada para pembaca, maka penulisan skripsi ini dibuat sistematika sebagai berikut:

(30)

17 BAB I : Pendahuluan

Pendahuluan ini berisi beberapa masalah meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis, manfaat penelitian, definisi operasional dan metodologi penelitian.

BAB II : Kajian Pustaka

Pada bab ini membahas secara tuntas judul yang ada sesuai dengan teori yang mendukungnya. Yaitu keaktifan mengikuti organisasi gerakan pramuka (Racana) dengan sikap kemandirian belajar mahasiswa.

BAB III : Laporan hasil penelitian

Profil STAIN Salatiga dan profil Racana Kusuma Dilaga-Woro Srikandhi serta laporan hasil angket yang telah diisi responden (penelitian di lapangan) dalam bentuk tulisan.

BAB IV : Analisis data

Meliputi analisa data yang berasal dari lapangan untuk diteliti lebih lanjut baik dari variabel X maupun variabel Y sehingga dapat di ketahui hasil dari perhitungan kedua data tersebut.

BAB V : Penutup

(31)

18

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Tentang kepramukaan

Mengkaji tentang suatu permasalahan tidak akan dilepaskan dari pemahaman terhadap permasalahan itu sendiri apalagi jika dikaitkan dengan fenomena yang lain. Sebuah kajian menjadi tidak bermakna, jika konsep dasarnya tidak dimengerti. Hal itu justru akan menimbulkan kerancauan dan tidak dapat dijadikan standar ilmu pengetahuan. Dengan demikian, permasalahan itu harus diketahui pengertiannya, sejarahnya, konsep dasar dan karakteristiknya.

Berdasarkan pengantar diatas, penulis akan menguraikan tentang kepramukaan secara komprehensip, sehingga akan dapat ditemukan maksud dari kajian ini.

1. Pengertian Kepramukaan

Istilah kepramukaan berasal dari kata pramuka yang merupakan kepanjangan dari “praja muda karana”, berarti rakyat muda yang suka berkarya (W. J. S. Poerwodarminto. 1976:230). Akar kata ini mendapat awalan ke- dan akhiran –an, sehingga menjadi kata kepramukaan yang artinya suatu proses dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan bagi anak dan pemuda di bawah tanggung jawab orang dewasa (W. J. S. Poerwodarminto. 1976:649). Dalam buku BPS Out Look yang dikutip oleh Kwarnas. Lord Boden Powell menyatakan tentang kepramukaan sebagai berikut

“Scouting is not a science to be solemnly studied, nor is it a collecting of doctrine and texts. No!, it is a jolly game in the out of doors, where boy man

(32)

19

and boy can go adventuring together asleader and younger brothers picking of health and happiness handicraff and help fulness”.

Artinya : “ Kepramukaan bukanlah suatu ilmu yang harus dipelajari secara tekun, bukan pula merupakan suatu kumpulan dari ajaran-ajaran dan naskah-naskah buku. Bukan!, kepramukaan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka, tempat orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama, mengadakan pengembaraan seperti kakak beradik, membina kesehatan dan kebahagiaan, keterampilan dan kesediaan memberikan pertolongan (Gerakan Pramuka. 1983:26). Sedangkan merujuk pengertian kepramukaan berdasarkan AD/ART gerakan pramuka BAB III Pasal 8 butir 2A Kepres RI Nomer 34/1999 disebutkan bahwa kepramukaan merupakan proses pendidikan luar lingkungan sekolah dan diluar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip kepramukaan dan metode kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak (Tim Pelatih Kwarda Jateng. 2003:7).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka hakikat kepramukaan adalah: a. Suatu proses pendidikan dalam bentuk kegiatan prinsip dasar yang

menyenangkan bagi anak-anak dan pemuda dibawah tanggung jawab orang dewasa.

b. Kepramukaan dilaksanakan diluar pendidikan lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga.

c. Pendidikan tersebut dengan menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang bersifat universal.

2. Sejarah Kepramukaan

a. Sejarah kepramukaan dunia

Mengutip buku yang di susun oleh Tim Kwarda Jateng (Tim Pelatih Kwarda Jateng. 2003:14-15) sejarah kepramukaan Dunia disebutkan bahwa pada awal tahun 1908, Lord Boden Powell selalu menulis cerita pengalamannya sebagai bungkus acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Kumpulan dari tulisannya itu kemudian terbit sebagai buku

(33)

20

“Scouting Four Boys”. Buku ini cepat beredar di Inggris, bahkan ke negara-negara lainnya. Pada perkembangan selanjutnya di banyak negara berdiri organisasi kepramukaan, yang semula untuk anak laki-laki seusai penggalang yang disebut Boy Scout kemudian disusul organisasi putri yang diberi nama Girl Guides atas bantuan Agnes, adik perempuan Boden Powell dan diteruskan oleh Ny. Boden Powell.

Tahum 1916 Gerakan Pramuka semakin berkembang. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya kelompok pramuka seusia siaga yang disebut Cub (anak serigala) dengan buku The Jungle Book, berisi tentang Mowgli Anak didikan Rimba (anak yang dipelihara dihutan oleh induk serigala) karangan Rudyyard Kipling sebagai cerita pembungkus Cub.

Pada tahun 1981 Boden Powel membentuk Rover Scout (pramuka usia penegak) untuk menampung mereka yang sudah lewat 17 tahun tetapi masih senang dan giat di bidang kepramukaan. Disusun 4 tahun kemudian, Boden Powel menerbitkan buku Rovering To Success (mengembara menuju kebahagiaan) yang berisi petunjuk bagi para pramuka penegak dalam menghadapi pantangan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan.

Pada tahun 1920 diselenggarakan jambore sedunia yang bertempat diarea olympia, London. Boden Powell mengundang pramuka dari 27 negara. Setelah kegiatan ini, Lord Boden Powel diangkat menjadi bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World). Pada tahun yang sama, dibentuk Dewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro Sekretariatnya yang berada di London.

(34)

21

Lord Boden powel yang telah mempelopori gerakan pramuka mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat dunia. Hal ini dapat dilihat dengan berdirinya pramuka di negara Belanda dengan sebutan Padvinder dan Padvinderij. Pemerintah Belanda yang ada di Indonesia juga mendirikan Padvinderij dan Padvinder, seperti NIPV (Netherland

IndischenPadvinder Vereniging/Persatuan Pandu-Pandu Belanda).

Sedangkan tokoh-tokoh pergerakan Nasional Indonesia mendirikan Gerakan Kepanduan yang jumplahnya sampai 100 organisasi Kepanduan, diantaranya: JPO (Javaanse Padvinders Organizatie), JJP (Jong Java

Padvinderij), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvinderij), NATIPI

(Nasionale Islamitiche Padvinderij), dan HW (Hizbul Wathan). b. Sejarah Singkat Gerakan Pramuka

Pendidikan Kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan nasional yang penting, merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Melalui uraian sejarah singkat kepramukaan, diharapkan para pembaca dapat mengerti dan memahami hubungan erat antara organisasi kepramukaan dengan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia sampai masa sekarang, bahkan pada masa mendatang.

Proses kelahiran Gerakan Kepramukaan di Indonesia di jiwai oleh sumpah pemuda yang dicetuskan dalam konggres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang saat itu lebih dikenal dengan sebutan Gerakan Kepanduan. Istilah kepanduan dikarenakan adanya larangan pemerintah Belanda kepada organisasi Kepanduan di luar NIVP untuk menggunakan istilah Padvinder dan Padvinderij, maka KH. Agus Salim menggunakan

(35)

22

istilah Pandu dan Kepanduan untuk menggunakan istilah asing Padvinder dan Padvinderij (Tim Pelatih Kwarda Jateng. 2003:16).

Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran Nasional, timbul niat untuk menggerakan persatuan antar organisasi-organisasi Kepanduan pada tahun 1930, antara lain: INPO (Indonesische Padvinder

Organizatie), PK (Panduan Kesultanan), PPS (Pandu pemuda Sumatera).

Ketiga organisasi tersebut bergabung menjadi satu organisasi, yaitu KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian dalam perkembangannya, terbentuk suatu federasi yang dinamakan Persatuan antar Pandu-Pandu Indonesia (PAPI) pada tahun 1931 dan berubah lagi menjadi Badan Pusat Persatuan Kepanduan Indonesia (BPPKAI) tahun 1938.

Pada saat pendudukan Jepang, organisasi Kepanduan di Indonesia dilarang keberadaanya. Banyak tokoh Pandu yang beralih ke organisasi yang bersifat perlawanan seperti Seinendan, Keibondan dan PETA. Sesudah proklamasi kemerdekaan dan perang kemerdekaan, dibentuklah organisasi Kepanduan yang berbentuk kesatuan, yaitu Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Solo sebagai satu-satunya organisasi Kepanduan di dalam wilayah Negara Republik Indonesia.

Setelah pengakuan kedaulatan kemerdekaan Indonesia di dalam alam liberal, dibuka kesempatan kepada siapa saja untuk membentuk organisasi-organisasi Kepanduan atas dasar ingin kebebasan tersebut, berdiri kembali organisasi, seperti HW, SIAP, Pandu Islam Indonesia, Pandu Kristen, Pandu Katolik, Pandu Ansor, KBI dan lain-lain. Menjelang tahun 1961 Kepanduan Indonesia yang berjumplah lebih dari 100. Kondisi yang demikian itu, menjadikan Kepanduan di Indonesia

(36)

23

terpecah belah dan lemah, meskipun sebagian dari organisasi itu terhimpun dalan 3 federasi organisasi Kepanduan, yaitu 1 federasi Kepanduan putra (IPINDO)dan 2 federasi organisasi-organisasi Kepanduan putri (POPPINDO dan PKPI).

Menyadari lemahnya Kepanduan Indonesia, 3 federasi tersebut melebur menjadi 1 federasi yang diberi nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia). Anggota dari organisasi ini hanya 60 buah saja dari 100 lebih organisasi Kepanduan. Namun demikian, sebagian dari 60 organisasi anggota PERKINDO terutama yang berda di bawah organisasi politik tetap saling berhadapan satu sama lain. Akibatnya, tetap terasa lemah Gerakan Kepanduan di Indonesia.

Kelemahan Gerakan Kepanduan di Indonesia dimanfaatkan dan akan dipergunakan pihak Komunis sebagai alasan untuk memaksa Gerakan Kepanduan Indonesia menjadi Gerakan Pioner Muda sebagai mana yang berlaku di negara-nagara Komunis. Kondisi yang genting tersebut dapat tercium oleh kekuatan Pancasila yang berada di dalam PERKINDO sehingga terjadi Gerakan penentangan. Atas jasa Perdana Menteri Juanda, perjuangan kekuatan Pancasila menghasilkan keputusan Presiden Republik Indonesia Nomer 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani Ir. Juanda sebagai Pejabat Presiden RI. Berdasarkan keputusan Presiden tersebut ditetapkan:

1. Penyelenggaraan pendidikan Kepanduan kepada anak-anak dan Pemuda Indonesia ditugaskan kepada perkumpulan Gerakan Pramuka.

(37)

24

2. Diseluruh wilayah Republik Indonesia perkumpulan Gerakan Pramuka adalah satu-satunya badan yang diperbolehkan untuk menyelenggarakan Pendidikan Kepanduan.

3. Badan-badan lain yang sama sifatnya atau yang menyerupai perkumpulan gerakan pramuka dilarang adanya.

4. Surat keputusan ini berlaku pada tanggal 20 Mei 1961.

Berdasarkan keputusan Presiden RI di atas, Gerakan Pramuka ternyata lebih kuat organisasinya dan memperoleh tanggapan positif dari masyarakat luas, sehingga dalam waktu yang relatif singkat telah berkembang dari kota-kota sampai kampung-kampung yang jumplahnya meningkat dengan pesat, Kemajuan itu juga adanya partisipasi aktif dari sistem Majlis Pembimbing yang di jalankan Gerakan Pramuka pada tiap tingkat, dari Nasional sampai dengan Gugus Depan.

3. Sifat Dan Fungsi Kepramukaan

a. Sifat Kepramukaan

Merujuk dari Resolusi konperensi Kepramukaan sedunia pada bulan Agustus 1942 di Kopenhagen, menyatakan bahwa Kepramukaan itu mempunyai 3 sifat/arti khas, yaitu:

1. Kepramukaan bersifat Nasional.

Kepramukaan diselenggarakan di negara manapun hendaknya menyesuaikan pendidikannnya dengan keadaan dan perkembangan masyarakat, bangsa dan negara masing-masing.

2. Kepramukan bersifat Internasional.

Organisasi Kepramukaan di negara manapun di Dunia ini harus di bina dan mengembangkan rasa persaudaraan dan

(38)

25

persahabatan untuk mencapai perdamain dunia tanpa membedakan sesuatu.

3. Kepramukaan bersifat universal.

Kepramukaan itu dapat dilaksanakan dimana saja untuk mendidik anak dari suku dan bangsa apa saja yang dalam pelaksanaannya harus selalu menggunakan prinsip dasar pendidikan Kepramukaan (M. Soeparman. 1981:12).

Menelaah dari landasan pikir di atas, penulis memberikan pemahaman, bahwa Kepramukaan mempunyai sifat dasar, yaitu Gerakan yang disesuailan dengan keadaan lingkungan dan kepentingan masyarakat, membina dan mengembangkan persaudaraan untuk tercapainya perdamaian abadi dan persamaan harkat kemanusiaan dan Gerakan Pramuka memegang prinsip dasar pendidikan.

b. Fungsi Kepramukaan

Anggaran dasar Kepramukaan pada bab II pasal 6 menegaskan tentang fungsi pramuka, yaitu sebagai lembaga pendidikan diluar sekolah dan diluar keluarga sebagai wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda, menerapkan prinsip dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan serta sistem among yang pelaksanaanya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa serta masyarakat Indonesia (Tim Pelatih Kwarda Jateng. 2003:10).

Dari Landasan di atas, Kepramukaan berfungsi sebagai: 1. Kegiatan yang menarik bagi anak dan pemuda.

(39)

26

Kegiatan menarik (game) dimaksudkan kegiatan yang menyenangkan dan mengandung pendidikan, karena itu dapat diartikan suatu permainan yang mempunyai tujuan dan aturan permainan, bukan hanya sekedar main-main yang mengarah pada hiburan semata.

2. Pengabdian (Job) bagi orang dewasa.

Bagi orang dewasa, Kepramukaan bukan lagi permainan, tetapi suatu tugas yang memperlukan keikhlasan dan pengabdian. Orang dewasa ini mempunyai kewajiban untuk secara sukarela membaktikan dirinya demi suksesnya pencapaian tujuan organisasi. 3. Alat (Means) bagi masyarakat dan organisasi.

Kepramukaan merupakan alat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan alat bagi organisasi untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian, kegiatan kepramukaan yang diberikan sebagai latihan berkala dalam satuan pramuka itu sekedar latihan saja dan bukan tujuan pendidikannya (Mashudi. 1983:21).

Berdasarkan paparan diatas, disimpulkan bahwa fungsi kepramukaan meliputi kebutuhan anak, kebutuhan sekaligus kewajiban orang dewasa dan kebutuhan masyarakat. Melalui kegitan yang menarik dan menyenangkan, maka anak dengan sendirinya akan mengikuti. Demikian pula dengan orang dewasa, pada dirinya akan tumbuh kesadaran untuk mengabdikan diri pada masyarakatnya sehingga ia menjadi generasi berguna. Disamping itu, bagi masyarakat secara umum dengan adanya kepramukaan akan terpenuhi salah satu kebutuhannya terutama dalam hal pendidikan anak-anaknya.

(40)

27

4. Dasar, Asas, Tujuan dan Sasaran Gerakan Pramuka

Kegiatan Kepramukaan sebagai proses pendidikan, pengabdian dan merupakan alat masyarakat untuk mencapai sasaran dan tujuan yang menjadi cita-cita bangsa.

Dalam pola umum gerakan pramuka disebutkan mengenai landasan sebagai berikut:

a. Landasan Ideal 1. Pancasila

2. Undang-Undang Dasar 1945

b. Landasan Konstitusional dan Struktural 1. Undang-Undang Dasar 1945

2. Keputusan Presiden RI Nomer 238 tahun 1961 dan nomer 12 tahun 1971.

3. Undang-Undang lainnya c. Landasan Konsepsional

1. Hakikat Gerakan Pramuka 2. Tujuan Gerakan Pramuka

3. Keduduka dan Peran Majelis Pembimbing 4. Asas Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia 5. Asas Pembangunan Nasional

d. Landasan operasioanl

1. Peraturan perundang-undangan tentang Pendidikan 2. Keputusan musyawarah Nasional Gerakan Pramuka 3. Keputusan Kwartir Nasional

(41)

28 1. Satya Pramuka

2. Darma Pramuka (Amin Abbas. 1990:42)

Adapun asas dan tujuan kepramukaan diuraikan sebagai berikut:

a. Asas setiap anggota Gerakan Pramuka adalah penghayatan dan pengamalan Pancasila yang diwujudkan dalam setiap sikap dan perilaku sehari-hari.

b. Gerakan Pramuka bertujuan mendidik dan membina kaum muda Indonesia agar menjadi:

1. Manusia berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur yang: a. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kuat

mental dan tinggi moral.

b. Tinggi kecerdasan dan mutu ketrampilannya. c. Kuat dan sehat jasmaninya.

2. Warga Negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baik dan berguna, dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan, baik lokal, Nasional maupun Internasioal (Tim Kwarda jateng.2003:24)

Gerakan Pramuka mempunyai tugas pokok melaksanakan pendidikan bagi kaum muda melalui kepramukaan di lingkungan luar sekolah yang melengkapi pendidikan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Adapun tujuannnya adalah:

(42)

29

a. Membentuk kader bangsa dan sekaligus kader pembangunan yang beriman dan bertakwa serta berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi. b. Membentuk sikap dan perilaku yang positif, menguasai ketrampilan dan

kecakapan serta memeliki kecerdasan emosional sehingga dapat menjadi manusia yang berkepribadian Indonesia, yang percaya pada kemampuan sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan masyarakat, bangsa dan negara.

c. Dalam melaksanakan pendidikan kepramukaan, Gerakan Pramuka selalu memperhatikan: keadaan, kemampuan, kebutuhan dan minat peserta didiknya. Keadaan, adat istiadat dan harapan masyarakat termasuk orang tua pramuka.

d. Dalam pelaksanaan kegiatannya, Gerakan Pramuka menggunakan PDK dan MK, Sistem Among dan berbagai metode penyajian lainnya. Para pramuka mendapat pembinaan dalam satuan gerak sesuai dengan usia dan bidang kegiatannya, dengan mengikuti ketentuan pada SKU, SKK dan syarat Pramuka Garuda (Tim Kwarda Jateng. 2003:24).

Adapun sasaran Kepramukaan adalah mempersiapkan kader bangsa yang: a. Memilki kepribadian dan kepemimpinan yang berjiwa pancasila.

b. Berdisiplin yaitu: berpikir, bersikap dan bertingkah laku tertib. c. Sehat dan kuat mental, moral dan fisiknya.

d. Memiliki jiwa patriot yang berwawasan luas dan dijiwai nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh pejuang bangsa.

e. Berkemampuan untuk berkarya dengan semangat kemandirian, berpikir kreatif, inovatif, dapat dipercaya, berani dan mampu menghadapi tugas-tugas (Tim Kwarda Jateng. 2003:90).

(43)

30

4. Prinsip dasar pendidikan Kepramukaan (PDPK)

Prinsip Dasar Pendidikan Kepramukaan merupakan prinsip yang digunakan dalam pendidikan Kepramukaan yang membedakan dengan gerakan pendidikan lainnya. PDPK juga sebagai bukti bahwa kepramukaan itu bersifat universal, artinya merupakan syarat untuk mutlak untuk diterima menjadi anggota organisasi kepramukaan sedunia.

Prinsip Dasar Pendidikan Kepramukaan di Indonesia dihasilkan pada seminar

Kepramukaan di Tugu Jawa Barat 21-24 Januari 1957. Prinsip ini termuat dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka terdapat sembilan prinsip yaitu:

a. Prinsip kesukarelaan. b. Prinsip kode kesukarelaan. c. Prinsip sistem beregu. d. Prinsip satuan terpisah.

e. Prinsip sistem tanda kecakapan.

f. Prinsip kegiatan menarik yang mengandung pendidikan.

g. Prinsip penyesuaian dengan perkembangan rohani dan jasmani anak-anak dan pemuda.

h. Prinsip keprasahajaan hidup.

Dalam pencapaian tujuan, gerakan pramuka harus mengarah pada pengembangan dan pembinaan watak, mental, jasmani, rohani, bakat, pengetahuan, pengalaman dan kecakapan pramuka melalui kegiatan yang dilakukan dengan praktek secara praktis dengan menggunakan sistem among dan PDPK tersebut.

(44)

31

Adapun prinsip dasar pendidikan kepramukaan tersebut adalah: a. Bertaqwa kepada Tuhan.

b. Berpusat pada anak/pemuda. c. Berpusat pada masyarakat.

Berdasarkan urain di atas, penerapan PDPK mengantarkan anak pada pemuda pada proses pendidikan berbasis pada tiga dimensi. Yaitu hubungan anak dengan Tuhan, anak kepada anak sendiri, dan anak kepada masyarakat. Dengan demikian, tujuan membina manusia seutuhnya yang selaras, serasi dan seimbang akan dapat diwujudkan melalui prinsip dasar pendidikan kepramukaan

5. Pendidikan kepramukaan Disatuan Racana Pandega

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya dan memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (materi komprehensif PAI). Dalam uraian singkat pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sendiri dalam menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan untuk berperan pada masa yang akan datang (Kwarda 11 Jateng:34). Sedangkan pendidikan dan kepramukaan merupakan suatu proses pembinaan dan pengembangan sepanjang hayat yang berkesinambungan atas kecakapan yang dimiliki peserta didik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.

Dalam organisasi gerakan pramuka proses pendidikan pada peserta didik ditujukan pada pencapaian tujuan gerakan pramuka yang dilakukan dalam bentuk kegiatan yang dilaksanakan dari, oleh dan untuk peserta didik dalamg

(45)

32

lingkungannya sendiri di bawah bimbingan, pembinaan dan pengawasan orang dewasa. Proses pendidikan ini di atur melalui SKU (Syarat Kecakapan Umum), SKK (Syarat Kecakapan Khusus) dan SPG (Syarat Pramuka Garuda).

Racana sebagai wadah bagi pramuka pandega dengan batasan usia 21-25 tahun hanya mampu menyelesaikan satu tingkat SKU (Syarat Kecakapan Umum) saja yaitu Pandega. Hal ini berbeda dengan pramuka penggalang yang ada tiga tingkatan penggalang yaitu: ramu, rakit dan terap dan penegak yaitu: Bantara dan Laksana. Adapun dalam SKK (Syarat Kecakapan Khusus) pandega dapat dicapai sesuai dengan keinginannya.

Racana Kusuma Dilaga – Woro Srikandhi merupakan salah satu dari satuan pandega yang berdomisili di STAIN Salatiga. Racana disini memiliki proses pendidikan yang mana lebih diarahkan kearah tugas mahasiswa (tridarma perguruan tinggi). Oleh karena itu agar mampu menyelesaikan tugas dari kuliah dan berorganisasi, maka perlu adanya menejemen waktu yang dapat membagi jadwal untuk kuliah dan meluangkan waktu untuk berorganisasi di gerakan pramuka. Dengan begitu harapan untuk berprestasi dan berkiprah di organisasi benar-benar kita dapatkan

B. SIKAP KEMANDIRIAN BELAJAR.

Memahami tentang sikap kemandirian belajar secara komprehensip, penulis terlebih dahulu akan menguraikan satu persatu maknanya. Hal ini sebagai cara untuk memudahkan gambaran dan maksud dari rumusan sikap kemandirian belajar.

(46)

33

1. Pengertian sikap kemandirian belajar mahasiswa

Sikap adalah kesiapan seseorang yang bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu (Sarlito Wirawan. 1976:94). Sikap dapat bersifat positif dan dapat bersikap negatif. Dalam sikap positif, tindakannya cenderung mendekati, menyenangi, berharap objek tertentu, sedangkan dalam sikap negatif cenderung menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu. Menurut Nurhadi Jamal, sikap adalah kecenderungan untuk berpikir atau bertindak yang terjadi pada orang atau persoalan-persoalan, sifatnya insidental tergantung pada situasi sesaat, disamping kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukannya (Noerhadi Jamal. 1985:74). Sedangkan menurut H. Abu Ahmadi, sikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dan perbuatan-perbuatan yang mungkin akan terjadi (H. Abu Ahmadi.1984:162).

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan, bahwa sikap adalah tingkah laku seseorang yang bersifat positif dan ada pula yang bersifat negatif dalam tingkah laku sosial.

Istilah kemandirian berasal dari kata mandiri yang mendapat awalan ke- dan akhiran –an yang berarti berdiri sendiri (W. J. S. Poerwodarminto. 1982:625). Dalam perpektif ilmu ekonomi, sikap kemandirian sseseorang merupakan bagian dari wiraswata. Manusia wiraswasta adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk berprestasi. Ia senantiasa memiliki motivasi yang besar untuk maju berprestasi. Dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong dirinya sendiri di dalam mengatasi segala permasalahan yang terjadi di dalam kehidupannya. Dengan kekuatan yang ada pada dirinya, manusia wiraswasta mampu berusaha mampu untuk memenuhi segala kebutuhannya.

(47)

34

Persoalan maju dan tidaknya kehidupan manusia tergantung pada manusia sendiri. Manusia wiraswasta selalu berusaha mmelengkapi diri dengan jiwa besar. Oleh karena itu, seseorang manusia wiraswasta berkepribadian kuat. Manusia yang berkepribadian kuat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Memiliki moral tinggi.

b. Memiliki sikap mental mandiri.

c. Memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan. d. Memiliki ketrampilan.

Merangkai dua istilah sikap dan kemandirian, dapat dijadikan suatu rumusan pengertian, yakni sikap yang sudah mampu berdiri sendiri dalam mengatasi persoalan yang di hadapinya. Belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Belajar merupakan dasar untuk merubah tingkah laku suatu perbuatan bagi setiap orang. Adapun definisi belajar sebagai berikut:

a. S. Nasution

Belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumplah pengetahuan. Disini yang dipentingkan mengenai pendidikan intelektual. Diberikan bermacam-macam atau pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimiliki (S. Nasution. 1982:71).

b. Sardiman AM

Belajar adalah sesuatu usaha yang senantiasa merupakan perubahan perilaku dengan serangkaian kegiatan, seperti membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya (Sardiman AM:22)

(48)

35 c. Pasaribu

Belajar adalah suatu proses perubahan kegiatan, reaksi terhadap lingkungan. Perubahan tersebut tidak dapat disebut belajar apabila oleh pertumbuhan atau keadaan sementara seseorang seperti kelelahan atau disebabkan obat-obatan (Dra. Pasaribu.1983:59).

d. Oemar Hamalik.

Belajar adalah suatu bentuk perubahan atau pertumbuhan dalam tingkah laku berkat pengalaman dan latihan (Umar Hamalik.1983:21).

Berdasarkan berbagai pendapat diatas, penulis dapat memberikan batasan tentang pengertian belajar, yaitu usaha untuk mengubah tingkah laku seseorang melalui pengetahuan, pengalaman, latihan-latihan dan kegiatan yang berinteraksi langsung dengan lingkungan, sehingga mampu menghadapi masalah yang dihadapi dan bertanggung jawab serta dengan sendirinya dapat menumbuhkan sikap kemandirian belajar anak.

2. Cara Belajar yang baik dan Tujuan Belajar

Cara belajar merupakan suatu hal yang penting dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Belajar yang tidak di ikuti dengan cara atau metode yang tepat, hasilnya tidak akan maksimal. Oleh karena itu, Belajar yang baik harus menggunakan metode supaya mendapatkan prestasi yang baik pula. Menurut Bimo Walgito, Cara belajar yang baik dengan memperhatikan lingkungan dan materi yang dipelajari (Bimo Walgito.1995:120). Faktor lingkungan berhubungan dengan tempat, alat-alat untuk belajar, suasana, waktu dan pergaulan. Faktor bahan yang dipelajari menentukan metode belajar yang akan ditempuhnya. Hal ini dapat dicontohkan, mempelajari mata pelajaran eksakta

(49)

36

berbeda dengan mata pelajaran yang bersifat sosial. Meski demikian, pada hal-hal tertentu bisa mengguanakan metode yang sama.

Keberhasilan belajar juga dipengaruhi oleh faktor fisik dan psikis. Pada faktor psikis, seorang peserta didik harus mempunyai kesiapan mental (mental set) untuk menghadapi tugas yang harus dipelajari. Mental set ini akan mempengaruhi di dalam soal motivasi, minat, perhatian, konsentrasi dan sebagainya. Pada faktor fisik, kondisinya harus dijaga betul agar selalu sehat. Jika badan sakit akan mempengaruhi di dalam belajar. Menurut Siti Partini Suardiman, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor intern dan faktor exteren. Faktor intern adalah suatu faktor yang terdapat pada diri seseorang peserta didik yang berupa kematangan. Keadaan fisik atau jasmani dan keadaan psikis (Siti Partini Suardiman.1986:53). Faktor ekstern adalah suatu yang terdapat diluar individu. Faktor ini dapat berupa:

a. Adanya orang lain yang mempengaruhi belajarnya.

Seseorang yang sedang belajar kemudian didatangi oleh temannya dan mengajak bermain, bercengkrama dan sebagainya.

b. Letak sekolah

Sekolah yang terletak di tengah keramaian akan menggangu peserta didik yang ada di dalamnya.

c. Alat-alat Belajar.

Semua alat yang dapat membantu terselenggaranya proses belajar, misalnya buku tulis atau pelajaran, alat peraga dan alat lainnya.

(50)

37

3. Perspektif Islam tentang Sikap Kemandirian

Islam merupakan sebuah tatanan yang bersifat universal, melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia. Islam tidak sekedar berbicara tentang ketuhanan semata, bahkan memberikan petunjuk kepada umat manusia mengenai hidupnya baik sebagai pribadi, maupun anggota masyarakat. Dengan demikian, dapat disebutkan, bahwa ajaran islam adalah tuntunan yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Berkaitan dengan masalah kepentingan manusia, islam memberikan dorongan agar manusia memaksimalkan potensi yang dimilikinya sehingga akan memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Manusia tidak diperkenankan untuk berpangku tangan, menunggu sesuatu yang datangnya tanpa diusahakan. Manusia di haruskan mempunyai sikap pantang menyerah dan tidak bergantung pada orang lain. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah:

























“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”. (Qs. An Najm:39-40). (Departemen Agama RI.1995:874).

Ayat di atas memberikan pemahaman,bahwa setiap orang tidak akan memperoleh sesuatu yang di inginkan kecuali dirinya sendiri yang berusaha. Dalam hadis juga dijelaskan sebagai berikut:

ربنملا ىلعٌىً ملسً ويلع الله ىلص الله لٌسر تعمس لٌقي رم اع هب تبقع هع

لٌقي

:

لاا ىمرلا ةٌقلا نا لاا ىمرلا ةٌقلا نا لاا ةٌق هم متعطتساام ميلاًدعاً

(51)

38

ىمرلا ةٌقلا نا

(

ملسملا هاًر

)

Artinya:

Dari „Ukbah Bin „Amir r.a katanya Dia mendengar Rosulullah saw bersabda di atas mimbar: “Siapkanlah untuk menghadapi (musuh) kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah! Sesungguhnya kekuatan itu ialah keterampilan memanah. Ketahuilah! Sesungguhnya kekuatan itu ialah keterampilan memanah. Ketahuilah! Sesungguhnya kekuatan itu ialah keterampilan memanah. (HR. Muslim). (Terjemah Hadis” Shahih Muslim”. 1984: 56)

Dalam hadis ini dapat dimaknai, bahwa setiap pribadi manusia diharuskan mempunyai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah tidak akan memberi rezeki yang membawa keberkahan kepada orang yang hanya berpangku tangan, menunggu pemberian orang lain. Segala sesuatu yang di inginkan perlu adanya usaha keras tanpa kenal lelah.

Penegasan untuk senantiasa hidup mandiri juga dijelaskan Allah sebagaimana firmannya berikut ini:

































“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (Qs, Al Jumu‟ah;10) (Departemen Agama.1995:933),.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :