Panduan Prakiraan Dampak Kualitas Air

80 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Kualitas Air Permukaan

Dampak Lingkungan:

Panduan Memprakirakan

(2)
(3)

Juni 2010

Diterbitkan oleh Deputi Bidang Tata Lingkungan - Kementerian Lingkungan Hidup dengan dukungan

Kualitas Air Permukaan

(4)

Pengantar

Penyelenggaraan sistem Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) di Indonesia masih membutuhkan berbagai penyempurnaan. Baik itu penyempurnaan pada aspek peraturan, aspek kelembagaan, maupun aspek sumber daya manusia pelaksana AMDAL. Selain aspek-aspek tersebut, KLH juga masih menjumpai berbagai kekurangan pada aspek teknik pengerjaan AMDAL. Sorotan khusus diberikan banyak pihak terhadap lemahnya proses prakiraan dampak lingkungan dalam kajian ANDAL. Banyak konsultan penyusun AMDAL mengerjakannya dengan menggunakan metodologi prakiraan dampak yang kurang tepat.

Buku Memprakirakan Dampak Lingkungan: Kualitas Air Permukaan ini diterbitkan sebagai salah satu wujud upaya KLH untuk meningkatkan kualitas proses prakiraan dampak. Sebagaimana tercermin dari judulnya, buku ini memang khusus membahas prakiraan dampak terhadap kualitas air permukaan. Penekanan khusu diberikan pada urutan langkah kerja dan output yang sebaiknya dihasilkan dari proses prakiraan dampak kualitas air permukaan.

Sebagai edisi pertama, buku ini tentunya masih ada kekurangan. Tanggapan dan masukan dari para pembaca sangat diharapkan agar KLH dapat terus menyempurkana buku ini di edisi-edisi selanjutnya. Buku-buku sejenis akan segera diterbitkan meyusul buku panduan ini.

Sebagai penutup, KLH mengucapkan rasa penghargaan dan terima kasih kepada Pemerintah Kerajaan Denmark (melalui Danish International Development atau DANIDA) atas dukungannya dalam penyusunan, pencetakan, dan penyebarluasan buku ini.

Jakarta, Juni 2010

Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Ir. Hermien Roosita, MM

(5)

Daftar Isi

MEMAHAMI PRAKIRAAN DAMPAK KUALITAS AIR PERMUKAAN

1

Perubahan Kualitas Air Permukaan

2

Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

10

Tahapan Prakiraan Dampak Kualitas Air

14

TAHAP 1: MEMPELAJARI SUMBER DAMPAK

17

Identifi kasi Sumber Dampak

18

Karakterisasi Polutan

21

TAHAP 2: MENGENALI OBYEK PENERIMA DAMPAK

27

Mengenali Badan Air

28

Membatasi Wilayah Studi

30

Identifi kasi Obyek Penerima Dampak

31

TAHAP 3: MEMPERTAJAM LINGKUP PRAKIRAAN DAMPAK

35

Menseleksi Polutan Penting

36

Menentukan Waktu & Skenario Prakiraan

39

TAHAP 4: MENCERMATI WILAYAH STUDI

41

Mempelajari Badan Air

42

Mengukur Rona Awal

44

Mencermati Kondisi Wilayah

46

TAHAP 5: MENSIMULASI PENYEBARAN PENCEMAR

49

Memilih Teknik Simulasi

50

Menghitung Konsentrasi Sebaran Polutan

53

TAHAP 6: MENGEVALUASI HASIL PRAKIRAAN DAMPAK

63

Menentukan Sifat Penting Dampak

64

Mengetahui Pengaruh Dampak

66

(6)

Pengarah

Hermien Roosita, Ary Sudijanto, M. Askary, Shinta Saptarina, Laksmi Widiajayanti, Sena Pradipta (Kantor Asisten Deputi Kajian Dampak Lingkungan, Deputi Bidang Tata Lingkungan, KLH).

Penyusun

Qipra Galang Kualita, yang terdiri dari: Rudy Yuwono, Riza Oktavianus (konsep & tulisan), M. Taufi k Sugandi, E. Sunandar (tata letak & desain grafi s), Isna marifa (dukungan editorial).

Apresiasi

Untuk Pendanaan: Danish International Development Agency (DANIDA) melalui Environmental Sector Progam

(ESP) Phase 2.

Untuk Foto: Riza Oktavianus, Badruddin Machbub, E. Sunandar.

Nara Sumber

Badruddin Machbub, Arie Herlambang, Taufi k Afi ff .

Tentang Buku Ini

Buku ini berisi uraian dari langkah-langkah kerja yang dibutuhkan dalam melakukan prakiraan dampak lingkungan terhadap kualitas air permukaan. Langkah-langkah kerja disusun sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan kajian AMDAL. Termasuk di dalamnya adalah langkah-langkah kerja dalam tahap pelingkupan, khususnya penyusunan dampak penting hipotetik untuk kebutuhan prakiraan dampak kualitas air permukaan.

Buku ini tidak ditujukan untuk menguraikan aspek ke-ilmiahan dari penyebaran polutan di badan air secara mendalam. Untuk uraian tersebut, pembaca disarankan untuk mencarinya dari referensi lain yang banyak tesedia.

Sasaran pembaca buku ini adalah para ahli (konsultan) pencemaran air yang akan membantu pemrakarsa dalam memprakirakan dampak kualitas air permukaan sebagai bagian dari kajian ANDAL. Para anggota Komisi Penilai AMDAL juga dapat memanfaatkan informasi dari buku ini saat memeriksa kelayakan dokumen ANDAL yang dinilainya. KLH tidak membatasi pemrakarsa dan para tenaga ahlinya utuk menggunakan metode-metode yang disebutkan dalam buku ini. Selama pemrakarsa memiliki alasan yang dapat diterima oleh Komisi Penilai AMDAL, KLH mempersilahkan pemrakarsa untuk menggunakan metode prakiraan dampak yang diinginkannya.

About This Book

This book presents a step-by-step approach to impact prediction of surface water quality particularly in the context of implementing environmental impact analysis (EIA or AMDAL). Included in this book is the scoping process, where hypothetical impacts are defi ned to guide the impact prediction process.

This guidebook does not discuss in-depth the scientifi c aspects of pollutant distribution. For this purpose, readers are advised to obtain information from other references that are widely available.

The target readers of this guidebook are water pollution experts (consultants) who assist project proponents in predicting water quality impacts from proposed activities as part of the ANDAL analysis. AMDAL review commission members can also make use of the information in this guidebook during ANDAL documents review.

The Ministry of Environment require the use of these methods by project proponents and their experts, Project proponents are free to choose and utilize other scientifi cally-accepted prediction methods, as long as their reasons are acceptable to the AMDAL

Disclaimer

Panduan ini adalah panduan lepas mengenai metodologi prakiraan dampak lingkungan terhadap kualitas air permukaan. Isi dari panduan ini bukan merupakan satu-satunya metodologi yang harus dipakai. Panduan ini tidak memiliki kekuatan hukum yang sama sebagaimana produk hukum Kementerian

Diterbitkan Oleh

Deputi Bidang Tata Lingkungan

Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Gedung A Lantai 6

Jl. D. I. Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas, Jakarta 13410 Telp./Faks. (021) 85904925

PO BOX 7777 JAT 13000 email: amdal@menlh.go.id website: http:\\www.menlh.go.id

(7)

Susunan Buku

Buku ini diawali dengan Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan yang memuat deskripsi air permukaan penyebab perubahan kualitas air, dasar-dasar prakiraan dampak, output prakiraan, kegiatan wajib prakiraan dampak, dan evaluasi dampak. Setelah membaca bagian ini, pembaca diharapkan memiliki kesamaan pemahaman mengenai proses prakiraan dampak sebelum melangkah ke tahapan selanjutnya. Pada bagian terakhir, disajikan tahapan dalam prakiraan dampak kualitas air permukaan.

Bagian selanjutnya Tahap1: Mempelajari Sumber Dampak mengulas langkah paling pertama dalam proses prakiraan dampak. Di bagian ini dibahas cara mengidentifi kasi sumber dampak dan mengkarakterisasi polutan yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana kegiatan.

Tahap 2: Mengenali Obyek Penerima Dampak merupakan langkah selanjutnya yang membahas perihal karakteristik badan air, bagaimana membatasi wilayah studi, dan bagaimana mengidentifi kasi obyek-obyek yang berpotensi menerima dampak.

Selanjutnya adalah Tahap 3: Mempertajam Lingkup Prakiraan Dampak. Tahap ini merupakan sesuatu yang dilakukan untuk membuat prakiraan dampak yang akan dilakukan lebih fokus terutama dalam hal menseleksi polutan penting, menentukan waktu & skenario prakiraan, dan bagaimana memperjelas kriteria sifat penting tersebut.

Pada Tahap 4: Mencermati Wilayah Studi dibahas mengenai permasalahan identifi kasi rona awal lingkungan air, kondisi wilayah studi, dan karakterisasi aliran dari suatu badan air.

Pemilihan teknik pemodelan, perhitungan, dan simulasi dari data-data yang telah terkumpul pada 4 (empat) sebelumnya dibahas pada Tahap 5: Mensimulasi Penyebaran Pencemar.

Langkah terakhir yaitu Tahap 6: Mengevaluasi Hasil Prakiraan Dampak memberikan penjelasan kepada pembaca tentang sifat penting dampak, pembobotan dampak, dan permasalahan evaluasi secara holistik.

Book Content

The fi rst chapter of this guidebook, entitled Understand the Surface Water Quality Impact Prediction, describes factors that cause changes in surface water quality, basics of impact prediction, prediction outputs, activities that are subject to impact predictions, and impact evaluation. After reading this chapter, readers are expected to understand the process of impact prediction before proceeding to further stages. At the end of this chapter, proper steps that need to be taken in surface water quality impact prediction are presented. The next chapter describes Step 1: Study the Impacts’ Sources. This chapter discusses the very fi rst step of impact prediction process. Methods on how to identify impacts’ sources and pollutant characterization are also discussed.

Step 2: Identify the Impacts’ Receivers is the next step. This chapter that discusses characteristics of surface water, how to determine the study area boundaries, and how to identify objects that are potentially impacted.

The next chapter is Step 3: Focus on Impact Prediction Scope. This step describes actions to focus the impact prediction process, particularly with regard to selection of signifi cant pollutants, prediction timeframe and scenario, and how to set clearer criteria for signifi cant impacts.

Step 4: Determine the Study Area, discusses following issues: baseline study of water environment, study area condition, and fl ow characteristics of the water body.

Modeling techniques, mathematical calculations, and simulation from available data are discussed in Step 5: Pollutant Distribution Simulation.

(8)
(9)

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

MEMAHAMI

PRAKIRAAN DAMPAK

KUALITAS AIR PERMUKAAN

PERUBAHAN KUALITAS AIR PERMUKAAN 2 SUNGAI 2 DANAU 4

KUALITAS AIR PERMUKAAN 5

PENYEBAB PERUBAHAN KUALITAS AIR 5 DAMPAK PERUBAHAN KUALITAS AIR PERMUKAAN 8 PRAKIRAAN DAMPAK KUALITAS AIR PERMUKAAN 10

PRAKIRAAN DAMPAK DALAM AMDAL 10

Besaran Dampak 11

Dampak Penting Hipotetik 12

Output Prakiraan Dampak 12

KEGIATAN WAJIB PRAKIRAAN DAMPAK 13

EVALUASI DAMPAK 13

TAHAPAN PRAKIRAAN DAMPAK KUALITAS AIR 14

Bagian ini membahas makna dari prakiraan dampak lingkungan dari suatu kegiatan terhadap kualitas air permukaan. Khususnya pemahaman prakiraan dampak dalam konteks pengerjaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

Hidup (AMDAL). Bagian ini diawali dengan bahasan singkat mengenai sungai

dan danau berikut kemungkinan perubahan kualitas airnya. Parameter kualitas air permukaan akan diperkenalkan dalam uraian selanjutnya. Di akhir bagian ini, kita akan menguraikan langkah-langkah yang harus dijalani dalam suatu prakiraan dampak kualitas air permukaan. Informasi pada bagian ini perlu dipahami sepenuhnya sebelum kita melanjutkan ke uraian-uraian lain dalam buku ini.

(10)

Air permukaan dapat dibedakan menjadi air permukaan laut dan air permukaan darat. Sungai dan danau merupakan dua contoh air permukaan darat yang akan dicakup dalam buku panduan ini. Air yang dijumpai di dalam sungai dan danau merupakan bagian dari daur hidrologis yang kompleks (lihat Gambar). Selama perjalanan dari hulu ke hilir, air sungai akan bersinggungan dengan beragam kondisi lingkungan, sehingga dapat dipastikan karakteristik aliran dan kualitas air akan berubah. Demikian juga dengan air danau yang akan bersinggungan dengan beragam kondisi lingkungan, termasuk karakteristik air yang masuk ke dalamnya.

SUNGAI

Sungai terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian hulu, badan sungai, dan bagian muara. Badan sungai dapat bercabang membentuk anak-anak sungai (lihat Foto). Sungai merupakan tempat hidup biota air dalam berbagai jenis dan ukuran. Bagi manusia, sungai memiliki fungsi yang sangat penting. Sungai dapat berfungsi sebagai sumber air baku, irigasi pertanian, transportasi, saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan objek wisata. Di banyak tempat di Indonesia, sungai masih banyak digunakan sebagai tempat mandi, cuci, dan kakus.

Keberadaan air permukaan merupakan hasil dari adanya siklus hidrologis. Air yang dijumpai dalam badan air permukaan merupakan gabungan dari air yang jatuh langsung sebagai presipitasi, air limpasan (run-off ) permukaan tanah, dan air infi ltrasi yang keluar kembali. Sebagian air permukaan kemudian akan kembali mengalami evaporasi akibat panas matahari. Uap air kemudian akan ter-kondensasi akibat suhu yang sangat rendah di lapisan udara bagian atas. Lalu, jatuh kembali sebagai presipitasi, baik dalam bentuk hujan air atau kabut. Sebagian air permukaan lainnya, baik yang mengalir melalui sungai maupun yang terkumpul di danau, waduk, atau rawa pada akhirnya akan mengalir ke laut.

PERUBAHAN KUALITAS AIR PERMUKAAN

Ilustrasi : Taufi k S presipitasi presipitasi evaporasi infi ltrasi kondensasi transpirasi surfac e run-off

(11)

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

Sungai memiliki debit dan kualitas air yang bervariasi, baik terhadap waktu maupun ruang. Variasi debit biasanya diakibatkan adanya perbedaan musim. Sementara itu, variasi kualitas air biasanya diakibatkan adanya asupan-asupan materi sepanjang aliran sungai. Variasi kualitas air juga dapat diakibatkan oleh adanya variasi debit. Demikian juga akibat variasi komposisi batuan di dasar sungai dan tingkat pelapukan batuan tersebut (berkaitan dengan umur sungai).

Kualitas air dapat diperkirakan melalui penampakan warna dan baunya. Air sungai yang baik (tidak tercemar) umumnya jernih dan tidak berbau. Air dengan kualitas demikian biasanya dapat anda jumpai di daerah hulu sungai dimana sungai belum banyak bersinggungan dengan kegiatan manusia.

Warna air dapat terjadi akibat batuan di dasar sungai atau di sekelilingnya. Misalnya, warna air yang kehijauan akibat

tingginya kandungan logam nikel dan tembaga. Warna air sungai yang hitam menandakan tingginya kandungan senyawa organik humus terutama pada sungai-sungai di daerah gambut. Air sungai yang hitam dan berbau busuk menandakan terjadinya proses pembusukan bahan organik secara anaerobik sehingga menghasilkan gas H2S dan metan. Air sungai yang bewarna coklat keruh menandakan kandungan suspended solids-nya yang tinggi yang merupakan hasil dari proses erosi tanah.

Walau tampak jernih, air sungai dapat saja memiliki kandungan kimiawi yang berbahaya. Contohnya adalah air sungai dengan kandungan logam arsenik yang tinggi di beberapa sungai di Kalimantan. Hal ini terjadi karena adanya batuan lempung dengan kandungan arsenik yang tinggi di mata airnya. Aliran air sungai di daerah batuan kapur juga terlihat jernih namun memiliki kandungan padatan terlarut (TDS) dan kalsium yang tinggi.

Perbedaan penampang geometris sungai menyebabkan timbulnya variasi kecepatan air di sepanjang aliran sungai tersebut. Variasi kecepatan air juga terjadi terhadap kedalaman aliran. Umumnya, kecepatan air terendah terjadi di bagian aliran yang bersinggungan dengan dasar sungai.

Dua proses penting dalam sungai adalah erosi dan pengendapan, yang dipengaruhi oleh kecepatan aliran air dan tingkat turbulensinya, yaitu:

• Aliran laminer: jika air mengalir dengan lambat,

partikel akan bergerak ke dalam arah paralel terhadap saluran.

• Aliran turbulen: jika kecepatan aliran berbeda pada

bagian atas, tengah, bawah, depan dan belakang dalam saluran, sebagai akibat adanya perubahan friksi, yang mengakibatkan perubahan gradien kecepatan. Kecepatan maksimum pada aliran turbulen umunya terjadi pada kedalaman 1/3 dari permukaan air terhadap kedalaman sungai.

Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan di sekitar daerah aliran sungai menuju laut. Interaksi sungai dengan lingkungan sekitarnya akan menentukan kualitas air di dalamnya.

anak sungai sungai utama Fo to : w w w .fsw .go v

(12)

Erosi terjadi pada dinding ataupun dasar sungai pada kondisi aliran yang bersifat turbulen. Pengendapan akan terjadi jika material yang dipindahkan jauh lebih berat untuk digerakkan oleh kecepatan dan kondisi aliran. Pada kondisi aliran turbulen, erosi akan terjadi akibat terbawanya material dan pengendapan terjadi ketika hasil erosi tersebut menuju ke arah bawah tidak terpindahkan lagi oleh aliran.

DANAU

Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi air dimana seluruh bagiannya dikelilingi daratan. Selain yang terbentuk secara alamiah, banyak danau merupakan buatan manusia. Danau buatan atau waduk sengaja dibangun antara lain untuk pengendalian banjir, irigasi, penyediaan tenaga listrik-hidro, perikanan darat, rekreasi, dan persediaan air. Contoh waduk misalnya, Waduk Jatiluhur, Waduk Kedungombo, Waduk Riam Kanan, dan sebagainya.

Sama dengan sungai, danau merupakan tempat hidup biota air. Fungsi ekologisnya juga hampir serupa, yaitu

sebagai bahan baku air minum, irigasi pertanian, wadah pembuangan air hujan dan air limbah, dan objek wisata. Selain itu, danau banyak digunakan untuk budidaya ikan yang umumnya menggunakan karamba.

Karakteristik danau dapat dibedakan berdasarkan ukuran dan kedalamannya. Perbedaan karakteristik danau ini tentu sangat mempengaruhi waktu tinggal air di dalamnya berikut tingkat pencampuran dan tingkat tropiknya.

TABEL 1. Hubungan Antara Tipe Danau dan Karakeristik Pencampuran

Karakteristik Arus air

Cepat Sedang Lambat

Waktu tinggal (R, hari) R ≤ 20 20 < R ≤ 300 R > 300 Tingkat Pencampuran Tercampur sempurna Ada stratifi kasi Stratifi kasi sempurna Tingkat trofi k Pertumbuhan plankton terhambat Tingkat trofi k mulai terjadi Tingkat trofi k terjadi.

Danau dapat diklasifi kasikan sesuai status trofi knya, yaitu:

• Oligotrofi k: Status trofi k dengan kandungan nutrien

MINTAKAT LITORAL Bagian dangkal di mana sinar matahari dapat menembus sampai ke dasar perairan.

MINTAKAT LIMNETIK Bagian perairan terbuka yang terlalu dalam untuk pertumbuhan tumbuh-tumbuhan berakar, tetapi masih memungkinkan sinar matahari menembus lapisan ini untuk digunakan fotosintetis tumbuh-tumbuhan air

MINTAKAT PROFUNDAL Lapisan di bawah mintakat limnetik di mana sinar matahari tidak tidak dapat menembus.

Menurut ekosistem dan tingkat daya tembus sinar matahari ke dalam air, danau dapat dibagi menjadi tiga mintakat (zona) yakni 1) mintakat litoral, 2) mintakat limnetik, dan 3) mintakat profundal (lihat Gambar di samping). Di tiap mintakat di atas, jenis fl ora dan fauna air tentunya akan berbeda. Tumbuhan apung, terutama fi toplankton, dan tumbuhan berakar banyak dijumpai di mintakat litoral. Fitoplankton, zooplankton, ganggang hijau dan biru, copepoda, dan cladocera dapat dijumpai di mintakat limnetik. Sebagian besar ikan hidup di mintakat limnetik. Pada mintakat profundal hidup bakteri anaerobik dan fungsi, cacing, nematoda, keong dan beberapa jenis ikan.

(13)

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

yang rendah. Status ini menunjukkan kualitas air masih alamiah dan belum tercemar nitrogen dan fosfor.

• Mesotrofi k: Status trofi k dengan kandungan nutrien

yang sedang. Status ini menunjukkan adanya peningkatan kadar nitrogen dan fosfor namun masih dalam batas toleransi (belum menunjukkan adanya indikasi pencemaran).

• Eutrofi k: Status trofi k dengan kandungan nutrien

yang yang tinggi. Status ini menunjukkan air telah tercemar oleh peningkatan kadar nitrogen dan fosfor.

• Hipereutrofi k/Hipertrofi k: Status trofi k dengan

kandungan nutrien yang sangat tinggi. Status ini menunjukkan air telah tercemar berat oleh senyawa nitrogen dan fosfor.

Cara penetapan status trofi k danau atau waduk sudah diatur pemerintah melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 28 tahun 2009 tentang Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau dan/atau Waduk.

KUALITAS AIR PERMUKAAN

Kualitas air permukaan dapat dinilai dari kandungan materi, energi, dan makhluk hidup di dalamnya. Berbagai parameter kimiawi, fi sik, dan biologis umum digunakan sebagai acuan dalam menilai kualitas air permukaan. Dalam aturan mengenai kriteria mutu air, PP No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, setidaknya ada 46 parameter yang digunakan untuk menentukan kelas air dari suatu badan air. Aturan tersebut juga mengklasifi kasikan danau dan sungai sesuai kelas peruntukan airnya. Tiap kelas air memiliki kriteria mutu airnya masing-masing, sebagaimana dapat dilihat dalam boks

Kriteria Mutu Air. Baku Mutu Air (BMA) kemudian ditentukan

dengan memperhatikan kriteria mutu air tersebut.

Seperti disebutkan sebelumnya, kualitas air di sungai dan danau bervariasi sesuai waktu dan tempat. Suatu nilai rata-rata dibutuhkan untuk menunjukkan kualitas air di suatu

saat. Nilai rata-rata dapat ditentukan berdasarkan waktu (tiap jam, harian, mingguan, bulanan, tahunan, atau musiman) atau tempat (horizontal, vertikal). Nilai rata-rata mana yang digunakan nantinya perlu disepakati sesuai dengan kebutuhannya.

PENYEBAB PERUBAHAN KUALITAS AIR

Kualitas air permukaan dapat berubah sesuai interaksinya dengan kondisi lingkungan dan kegiatan di sekitarnya. Beberapa penyebab perubahan kualitas air adalah:

1. Asupan materi; biasanya terbawa bersama aliran air limbah dari sumber proses produksi atau sumber rumah tangga. Jenis materi tergantung kepada karakteristik sumber limbah tersebut. Asupan materi juga dapat berasal dari air limpasan permukaan tanah.

2. Asupan panas atau dingin; biasanya disebabkan oleh aliran buangan air limbah dari proses pendinginan (cooling process). Asupan panas akan meningkatkan suhu air. Walau demikian, peningkatan suhu air belum tentu akan menimbulkan gangguan berarti.

3. Pengambilan air; biasanya untuk kepentingan pengolahan air bersih. Pengambilan air akan mengakibatkan jumlah air berkurang sehingga kemampuan pengenceran dari suatu badan air akan berkurang. Konsekuensinya, polutan akan lebih terakumulasi dalam air yang lebih sedikit.

4. Perubahan kontinyuitas aliran; misalnya akibat pembuatan bendungan, penambahan alat dan bangunan air, pembangunan kanal, dan sebagainya. Perubahan kontinyuitas aliran dapat berupa perubahan fl uktuasi debit atau kecepatan aliran air. Aliran air yang melambat akan menimbulkan akumulasi sedangkan aliran yang bertambah cepat akan menimbulkan penggelontoran pencemar yang dikandungnya.

5. Perubahan morfologi badan air; misalnya akibat normalisasi tepi sungai, pengerukan dasar sungai, pengerasan dasar sungai, dan sebagainya. Seperti halnya perubahan kontinyuitas aliran, berubahnya

(14)

TEMPERATUR

Parameter fi sika yang menunjukkan suhu air. Parameter T (temperatur) umumnya ditampilkan dalam satuan derajat Celsius (OC). Batasan

deviasi 3 dapat diartikan sebagai ± 3OC dari suhu

normal air alamiah. Artinya, jika T normal air 25OC, maka kriteria

kelas 1 sampai kelas 3 membatasi T air di kisaran 22OC - 28OC.

pH

Parameter kimia yang menunjukkan derajat keasaman air. Parameter pH mengindikasikan konsentrasi ion hidrogen dalam air. Semakin banyak ion hidrogen dalam air, semakin tinggi derajat keasamannya, namun nilai pH semakin rendah. Air dikatakan asam jika memiliki pH < 6, sedangkan air dikatakan basa jika memiliki pH > 8.

CHEMICAL OXYGEN DEMAND

Parameter kimia yang mengindikasikan jumlah senyawa organik total dalam air. Selisih antara nilai COD (Chemical Oxygen Demand) dengan nilai BOD mengindikasikan jumlah senyawa organik-tak-terurai dalam air. Jika BOD/COD < 30%, limbah digolongkan sulit terurai oleh mikroba air.

T

pH

COD

Kelas 1 ± 3 50 mg/L 6 – 9 2 mg/L 10 mg/L 6 Kelas 2 ± 3 50 mg/L 6 – 9 3 mg/L 25 mg/L 4 Kelas 3 ± 3 400 mg/L 6 – 9 6 mg/L 50 mg/L 3 Kelas 4 ± 3 400 mg/L 5 – 9 12 mg/L 100 mg/L 0

SS

BOD

5

DO

SUSPENDED SOLIDS

Parameter fi sika yang menunjukkan jumlah residu padatan yang tersuspensi dalam air. Sesuai cara analisanya, parameter SS (suspended solids) didefi nisikan sebagai padatan yang lolos saringan berukuran 2 mikrometer. Tingginya nilai SS di dalam air biasanya membuat air menjadi keruh. Parameter SS tidak membedakan padatan organik dengan padatan anorganik.

BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND – 5 DAY

Parameter kimia yang mengindikasikan jumlah senyawa organik-terurai dalam air. Parameter BOD5 (Biochemical Oxygen Demand) menunjukkan laju penggunaan oksigen terlarut (DO) yang dipakai mikroba untuk menguraikan senyawa organik-terurai selama 5 hari. Banyaknya DO yang digunakan dianggap sebanding dengan banyaknya organik-terurai. Semakin tinggi nilai BOD5, semakin tinggi jumlah senyawa organik-terurai . DISSOLVED OXYGEN Parameter kimia yang menunjukkan konsentrasi oksigen terlarut (DO atau dissolved oxygen) dalam air. Konsentrasi DO sangat dipengaruhi antara lain oleh temperatur air, keberadaan senyawa organik, dan populasi makhluk hidup air. Umumnya biota air tidak senang hidup dalam air dengan DO rendah. Jika DO terlalu rendah, biota air akan menjadi lemah atau bahkan mati karena tidak dapat bernafas.

Boks:

Kriteria Mutu air

Pemerintah Republik Indonesia, dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, telah menetapkan Klasifi kasi Mutu Air menjadi 4 (empat) kelas sesuai dengan peruntukkannya. Pengklasifi kasian tersebut adalah:

Kelas 1: mutu air untuk

penggunaan air baku air minum,

Kelas 2: mutu air untuk

penggunaan rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, dan pertanaman,

Kelas 3: mutu air untuk

penggunaan budidaya ikan air tawar, peternakan, pertanaman,

Kelas 4: mutu air untuk

penggunaan pertanaman. Tiap-tiap kelas memiliki kriteria mutu/parameter tersendiri yang kadarnya dinyatakan dalam satuan tertentu. Satuan yang dipakai umumnya adalah massa senyawa pencemar (dalam mg) per volume air (liter atau mililiter). Penetapan kelas air untuk tiap sumber air ditetapkan oleh pemerintah pusat (Presiden RI) atau pemerintah daerah (Gubernur Propinsi atau Bupati), tergantung dari lokasi dimana sumber air tersebut berada.

(15)

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

FOSFAT

Parameter kimia yang mengindikasikan banyaknya senyawa fosfat (PO4) dalam air.

Fosfat adalah salah satu unsur nutrien utama pertumbuhan sel makhluk hidup. Nilai dalam parameter PO4 menunjukkan

konsentrasi ion fosfor (P). Tatacara analisanya memastikan bahwa nilai yang terukur merupakan nilai konsentrasi P yang berada dalam ikatan senyawa fosfat.

ARSEN

Parameter kimia yang menunjukkan konsentrasi arsen (As) dalam air. Arsen, atau arsenik, merupakan salah satu jenis semi-logam (metalloid) yang beracun. Senyawa arsenik digunakan sebagai bahan pestisida, herbisida, dan insektisida. Asupan As sebesar 100 mg merupakan dosis mematikan pada seorang manusia.

KHROMIUM

Parameter kimia yang menunjukkan konsentrasi ion khrom ber-valensi 6 (Cr6+)

di dalam air. Khrom adalah jenis logam transisi, bersifat keras, berwarna abu gelap dan mengkilap sehingga sering dipakai sebagai bahan pelapis. Dibandingkan khrom valensi-3, Cr6+ bersifat

tidak stabil dan sangat beracun. HIDROGEN SULFIDA Parameter kimia yang menunjukkan konsentrasi senyawa hidrogen sulfi da (H2S)

dalam air. Senyawa sulfur merupakan salah satu unsur pembentuk sel tubuh makhluk hidup. H2S merupakan gas tak

berwarna dan reduktor yang sangat kuat. Kehadirannya terdeteksi oleh adanya bau seperti telur busuk.

OIL AND GREASE

Parameter kimia yang menunjukkan konsentrasi minyak (oil) dan lemak (grease). Minyak biasanya berwujud cair normal sedangkan lemak berwujud semi-solid. Pengukuran O&G umumnya dilakukan dengan ekstraksi senyawa alkohol dan pengukuran berat senyawa terekstrak (metode gravimetri).

PO

4

As

Cr (VI)

H

2

S

O&G

0,2 mg/L 10 mg/L 0,05 mg/L 0,01 mg/L 0,05 mg/L 0,001 mg/L 0,002 mg/L 100 /100 mL 1.000 μg/L 200 μg/L 0,2 mg/L 10 mg/L 1 mg/L 0,01 mg/L 0,05 mg/L 0,002 mg/L 0,002 mg/L 1.000/100 mL 1.000 μg/L 200 μg/L 1 mg/L 20 mg/L 1 mg/L 0,01 mg/L 0,05 mg/L 0,002 mg/L 0,002 mg/L 2.000/100 mL 1.000 μg/L 200 μg/L 5 mg/L 20 mg/L 1 mg/L 0,01 mg/L 0,1 mg/L 0,005 mg/L - 2.000/100 mL -

-NO

3

Cd

Hg

Coliform MBAS

NITRAT

Parameter kimia yang mengindikasikan banyaknya senyawa nitrat (NO3) dalam air.

Nitrat merupakan salah satu unsur nutrien utama pembentukan protein dalam tubuh makhluk hidup. Nilai parameter NO3 sebenarnya

menunjukkan

konsentrasi ion nitrogen (N). Walau demikian, cara analisanya memastikan bahwa nilai yang terukur merupakan nilai konsentrasi N yang berada dalam ikatan senyawa nitrat. KADMIUM Parameter kimia yang menunjukkan konsentrasi logam cadmium (Cd) dalam air. Kadmium termasuk logam berat dan seperti logam berat lainnya, pengukuran kadmium dapat dilakukan dengan metode

atomic-absorption spectrophotometry (AAS). Kadmium saat ini sangat banyak dipakai sebagai bahan pembuat baterai kering.

RAKSA

Parameter kimia yang menunjukkan konsentrasi raksa (Hg) di dalam air. Raksa merupakan logam berat bersifat racun terutama bila terikat dengan senyawa lain (ethyl dan

methyl) dan terkenal dapat menumpuk pada jaringan tubuh makhluk hidup.

FECAL COLIFORM

Parameter mikrobiologi yang mengindikasikan besarnya populasi bakteri coliform yang berasal dari tinja manusia (fecal) dan kotoran hewan lainnya dalam air. Nilai besarnya populasi yang didapat (jumlah/100 mL) merupakan hasil estimasi statistik dari pembiakan bakteri dalam tabung reaksi dan sering disebut dengan most probable number (MPN).

DETERJEN

Parameter kimia yang mengindikasikan kandungan deterjen dan sabun dalam air. Deterjen dan sabun mengandung senyawa surfaktan yang merupakan agen muka-aktif (surface-active agents). Besarnya kandungan surfaktan tersebut didapat dengan mengukur kadar methylene blue active substance

(16)

morfologi badan air akan menimbulkan penyesuaian aliran air yang kemudian akan menimbulkan akumulasi atau penggelontoran pencemar yang dikandungnya. 6. Interaksi kehidupan fl ora-fauna; misalnya akibat

pertumbuhan atau pembusukan alga dalam jumlah yang sangat besar. Pertumbuhan ini disebabkan oleh asupan materi berupa nutrien yang tinggi. Tingginya pertumbuhan alga akan membuat oksigen di dalam air menipis (septik) yang berakibat matinya ikan dan makhluk air lain. Hal ini kerap terjadi pada danau-danau Indonesia yang tercemar limbah pertanian, kegiatan perikanan, dan kegiatan domestik (lihat Gambar di bawah).

Perubahan kualitas air tidak selalu dapat diartikan air sebagai pencemaran air. Pencemaran air baru dianggap terjadi jika masukan polutan menyebabkan mutu air turun sampai ke tingkatan yang menyebabkan fungsinya terganggu. Misalnya, sampai ke tingkatan yang mengganggu budidaya ikan air tawar, atau menghalangi

pemanfaatannya sebagai air baku. Untuk mempermudah penilaian atas tercemar-tidaknya air, anda dapat membandingkan kualitas air dengan BMA. Jika konsentrasi polutan sudah melampaui nilai baku mutunya, kita dapat menyatakan bahwa air sudah tercemar.

DAMPAK PERUBAHAN KUALITAS AIR

Berubahnya kualitas air akan menyebabkan timbulnya dampak lanjutan yang dapat digolongkan sebagai:

Gangguan Terhadap Kesehatan Manusia; berbagai

penyakit dan iritasi dapat ditimbulkan akibat adanya asupan materi atau panas ke dalam badan air. Dampak kesehatan dapat bersifat akut maupun kronis. Misalnya, masuknya senyawa asam ke dalam air sehingga dapat menimbulkan gangguan pada kulit manusia yang bersentuhan dengan air tersebut.

• Gangguan Terhadap Keseimbangan Ekosistem Air; perubahan komposisi kandungan materi dan energi dalam air dapat mengganggu keseimbangan

1. Asupan nutrien: berasal dari limpasan air hujan yang melewati daerah pertanian (pupuk, dedaunan), dan kotoran ikan kegiatan jaring ikan;

4. Tumbuhnya bakteri pembusuk: bangkai alga dan tanaman memicu pertumbuhan bakteri pembusuk yang mengurangi kadar oksigen. Hal ini membuat menimbulkan bau busuk, zat racun, nyamuk dan serangga pengganggu, Sinar matahari Serangga waktu Tumpukan Bahan Nutrien Hewan dan tanaman

Bakteri Pembusuk

Alga

2. Suburnya tanaman air: senyawa nutrien yang masuk ini menyuburkan alga, teratai, eceng gondok dan lainnya; 5. Matinya ekosistem: hilangya oksigen dari dalam air menyebabkan matinya makhluk air. Hal ini memperburuk kualitas danau dan membuat danau menjadi semakin dangkal. 3. Marak Alga (Algae blooms) dan penipisan kadar

oksigen: tanaman air menghalangi sinar matahari menyebabkan fotosintesis terganggu sehingga kadar oksigen di dalam air juga menipis,

Bau

busu

k Rangkaian terjadinya eutrofi kasi di air danau. Fenomena ini diawali

dengan masuknya materi nutrien ke dalam badan air. Pada akhirnya, eutrofi kasi dapat mengakibatkan matinya ekosistem air danau.

(17)

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

ekosistem kehidupan makhluk hidup air. Misalnya, naiknya kandungan nutrien akan menyebabkan terjadinya eutrofi kasi yang kemudian akan mengganggu kehidupan makhluk hidup air lainnya.

• Gangguan Terhadap Peruntukan Air; perubahan

kualitas air dapat mengganggu peruntukannya, misalnya sebagai air untuk penggunaan air baku, rekreasi air, budidaya ikan, pertanaman, atau transportasi. Demikian juga pemanfaatan air untuk menunjang aktivitas rumah tangga, seperti mandi dan cuci dapat terganggu akibat air yang sudah tercemar.

Dampak-dampak di atas dapat berhubungan satu dengan yang lainnya. Misalnya, dampak terhadap keseimbangan ekosistem dapat menimbulkan dampak terhadap

kesehatan manusia dan peruntukan air. Hubungan antar dampak ini mengakibatkan adanya penggolongan dampak sebagai:

1. Dampak primer: perubahan kualitas air akibat adanya

interaksi antara sumber dampak (komponen kegiatan) dengan air danau atau sungai (komponen lingkungan).

2. Dampak sekunder: dampak lanjutan yang

ditimbulkan oleh perubahan kualitas air danau atau sungai (dampak primer).

3. Dampak tersier: dampak lanjutan yang ditimbulkan

oleh dampak sekunder.

Selanjutnya, dampak tersier mungkin saja akan menimbulkan dampak untuk tingkat-tingkat selanjutnya.

Suatu sumber dampak dapat menimbulkan dampak primer, dampak sekunder, dampak tersier, dan selanjutnya. Dalam pengerjaan AMDAL, prakiraan dampak sekunder dan tersier sangat sulit dilakukan secara akurat dan kuantitatif. Kesulitan ini terkait dengan 1) kesepakatan terhadap penentuan skenario/urutan objek penerima dampak yang akan terjadi; dan 2) penentuan rentang waktu lamanya kejadian dampak terutama untuk fenomena bioakumulasi senyawa pencemar pada rantai makanan. Penggunaan referensi terdahulu dapat mengurangi tingkat ketidak-akuratan tersebut. Biaya pengolahan air meningkat Lalu lintas transportasi air terganggu Produktivitas perikanan menurun

Dampak

Tersier

Komponen Kegiatan

(Sumber Dampak)

Dampak

Primer

Dampak

Sekunder

Pembukaan lahan Erosi permukaan tanah meningkat Peningkatan konsentrasi SS di air sungai Pengolahan air bersih terganggu Peningkatan sedimen di dasar sungai Kehidupan ikan terganggu

(18)

Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) merupakan salah satu tahap dalam pengerjaan AMDAL. Dalam ANDAL, anda akan mengkaji berbagai dampak lingkungan penting yang diprakirakan akan timbul saat suatu komponen kegiatan diimplementasikan. Hasil-hasil kajian akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memutuskan kelayakan lingkungan dari suatu rencana kegiatan. Dan pada akhirnya, hasil prakiraan dampak turut menentukan dapat diterbitkannya berbagai jenis ijin terkait.

PRAKIRAAN DAMPAK DALAM AMDAL

Proses prakiraan dampak dapat diartikan sebagai upaya pendugaan ilmiah guna mendapatkan informasi mengenai besaran dan karakteristik dampak yang mungkin terjadi akibat adanya suatu komponen kegiatan. Prakiraan dampak perlu dilakukan dengan sebaik mungkin. Hasil prakiraan dampak menentukan layak tidaknya suatu komponen kegiatan untuk dilaksanakan. Suatu komponen kegiatan hanya dapat dinyatakan layak untuk dilaksanakan jika dampaknya diprakirakan tidak akan menyebabkan daya dukung dan daya tampung badan air terlampaui. Untuk beberapa jenis komponen kegiatan, hasil prakiraan dampak menentukan dapat diterbitkan atau tidaknya suatu ijin terkait. Jika hasil prakiraan dampak keliru, maka ijin yang diterbitkan dapat dipermasalahkan di kemudian hari. Bukannya tidak mungkin, sesuai ketentuan UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 32 tahun 2009, pemberi ijin yang bermasalah juga dapat dikenakan sanksi.

Untuk menjamin hasil yang baik, suatu prakiraan dampak

harus menggunakan data dan metodologi prakiraan yang secara ilmiah dapat dipertanggung-jawabkan. Ahli yang terlibat juga harus memiliki kompetensi kelimuan yang memadai dan sesuai dengan jenis dampak yang diprakirakan. Sesuai tatalaksana AMDAL (lihat Diagram berikut) yang berlaku saat ini, langkah prakiraan dampak dilakukan dalam tahap analisis. Uraian pengerjaan prakiraan dampak dan hasilnya kemudian didokumentasikan dalam dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).

Prakiraan dampak harus dilakukan sesuai dengan lingkup dugaan-dugaan dampak penting yang sudah disepakati sebelumnya atau dampak penting hipotetik (lihat bahasan khusus mengenai Dampak Penting Hipotetik). Adanya lingkup dugaan dampak tersebut akan membuat

PRAKIRAAN DAMPAK

KUALITAS AIR PERMUKAAN

Lingkup prakiraan: - Dampak penting hipotetik - Wilayah studi - Waktu kajian Prakiraan besaran dampak dan evaluasi sifat penting dampak Rencana pencegahan dan pengendalian dampak penting Rencana pemantauan komponen lingkungan terkena dampak

KA - ANDAL

RKL

RPL

ANDAL

Bagian pengerjaan AMDAL sesuai dengan dokumentasi yang dihasilkannya. Proses prekiraan dampak dilakukan dalam pelaksanaan ANDAL.

(19)

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

proses prakiraan dampak dapat berlangsung dengan efi sien berdasarkan sasarannya yang jelas. Sesuai tatalaksana AMDAL (lihat diagram), dampak penting hipotetik ditentukan dalam tahap pelingkupan (scoping). Uraian pengerjaan pelingkupan dan hasilnya kemudian didokumentasikan dalam dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL).

Besaran Dampak

Besaran dampak yang diperoleh dari proses prakiraan dampak bukan diperoleh dengan membandingkan karakteristik lingkungan di saat sebelum (before) dengan saat sesudah (after) keberadaan suatu komponen kegiatan. Dalam terminologi AMDAL, besaran dampak lebih diartikan sebagai perbedaan antara perubahan karakteristik lingkungan akibat keberadaan suatu komponen kegiatan dengan perubahan karakteristik lingkungan yang terjadi tanpa adanya komponen kegiatan tersebut. Proses prakiraan dampak terdiri dari 3 (tiga) langkah berikut (lihat Diagram).

1. Prakiraan karakteristik lingkungan di suatu saat

akibat adanya suatu komponen kegiatan (XI,T);

merupakan karakteristik lingkungan di suatu saat (T) yang terbentuk akibat pengaruh komponen kegiatan.

2. Prakiraan karakteristik lingkungan di suatu saat

tanpa adanya suatu komponen kegiatan (X0,T);

merupakan karakteristik lingkungan di suatu saat (T) yang terbentuk dengan sendirinya tanpa adanya komponen kegiatan (nir-kegiatan).

3. Prakiraan besaran dampak di suatu saat akibat

adanya suatu komponen kegiatan (ΔXT); merupakan

perbedaan antara karakteristik lingkungan akibat suatu komponen kegiatan (XI,T) dengan karakteristik lingkungan nir-kegiatan (XO,T). Singkatnya,

(ΔXT) ~ (XI,T) - (XO,T).

Selain secara kuantitatif (terukur), besaran dampak juga dapat dinyatakan secara deskriptif.

1. Prakiraan kualitas air sungai dengan adanya komponen kegiatan (XI,T)

konsentrasi padatan (dengan kegiatan) konsentrasi padatan (nir-kegiatan) konsentrasi padatan saat ini

2. Prakiraan kualitas air sungai tanpa adanya komponen kegiatan (X0,T)

3. Prakiraan besaran dampak terhadap kualitas air sungai (ΔXT) konsentrasi padatan (dengan kegiatan) onsentrasi padatan aat ini konsentrasi padata (nir-kegiatan)

2010

2012

k k s sa n

2010

2012

g

Besarnya suatu dampak didapat dengan membandingkan karakteristik lingkungan jika kegiatan terlaksana (XI,T) dengan karakteristik

lingkungan jika kegiatannya tidak terlaksana (XO,T). Untuk mendapatkan besaran dampak yang sesuai dengan defi nisinya, kedua kondisi tersebut memang harus diprakirakan.

(20)

KOMPONEN KEGIATAN (SUMBER DAMPAK): Limpasan air kawasan permukiman

KOMPONEN LINGKUNGAN TERKENA DAMPAK: - Primer: kualitas air sungai

- Sekunder : kualitas pertumbuhan ikan

Dalam suatu dampak penting hipotetik, baik komponen kegiatan sumber dampak maupun komponen lingkungan terkena dampak perlu disampaikan secara spesifi k. Informasi kedua jenis komponen tersebut perlu juga dilengkapi dengan waktu prakiraan, lokasi, dan sebagainya.

Ilustrasi : Taufi k S

Dampak Penting Hipotetik

Suatu prakiraan dampak, seperti sudah disinggung sebelumnya, perlu dilakukan berdasarkan dampak penting hipotetik yang telah disepakati. Untuk membuat suatu proses prakiraan dapat berlangsung efi sien, suatu dampak penting hipotetik setidaknya harus menyebutkan kedua komponen berikut secara spesifi k:

a) Komponen kegiatan penyebab dampak; Disebut

juga sumber dampak. Untuk prakiraan dampak kualitas air permukaan, beberapa sumber dampak antara lain adalah pembuangan air limbah (liquid waste discharge), limpasan air, dan erosi dinding sungai.

b) Komponen lingkungan terkena dampak; Untuk

dampak primer, komponen lingkungan terkena dampaknya pasti adalah kualitas air sungai atau danau. Untuk dampak selanjutnya, komponen lingkungan terkena dampak dapat berupa kesehatan manusia, keseimbangan ekosistem air, dan peruntukan air.

Prakiraan dampak perlu dilakukan untuk berbagai skenario kasus berbeda. Dengan demikian, pengambilan keputusan dalam AMDAL dapat didasarkan pada pertimbangan yang

lengkap. Skenario yang umum dilakukan adalah skenario kondisi tersering (most-likely case scenario) dan skenario kondisi terburuk (worst-case scenario).

Output Prakiraan Dampak

Hasil prakiraan dampak sedapat mungkin ditampilkan secara kuantitatif. Untuk memperjelas penyajiannya, output besaran dampak sebaiknya ditampilkan sebagai

Tabel Output Hasil Prakiraan. Tabel ini menampilkan

serangkaian nilai konsentrasi (atau unit lainnya) dari suatu parameter kualitas air di lokasi obyek terkena dampak pada waktu prakiraan tertentu (lihat Tabel berikut).

Jika dibutuhkan, output prakiraan dampak dapat ditampilkan dalam bentuk Peta Isokonsentrasi Pencemar. yang menghubungkan lokasi-lokasi yang diprakirakan akan memiliki nilai konsentrasi polutan yang sama. Pembuatan peta ini umumnya hanya dibutuhkan untuk output prakiraan dampak pada danau yang luas.

Output prakiraan dampak juga perlu disertai dengan informasi mengenai frekuensi, durasi, dan

(21)

ke-kontinuitas-Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

an dari dampak yang akan terjadi. Informasi tersebut dibutuhkan agar pihak-pihak berkepentingan mengetahui bahwa suatu output prakiraan dampak hanya terjadi dalam rentang waktu dan kondisi tertentu saja.

KEGIATAN WAJIB PRAKIRAAN DAMPAK

Prakiraan dampak kualitas air permukaan perlu dilakukan jika suatu rencana kegiatan Wajib AMDAL memiliki satu atau lebih komponen kegiatan yang akan menyebabkan berubahnya kualitas air secara signifi kan (lihat bahasan mengenai Penyebab Perubahan Kualitas Air). Beberapa jenis komponen kegiatan tersebut antara lain adalah: 1. Pengambilan air baku dari sungai atau danau.

2. Pembuangan air limbah (efl uen IPAL) ke sungai atau danau.

3. Pengerukan dasar sungai atau danau.

4. Reklamasi daerah aliran sungai atau sekitar danau. 5. Normalisasi tepi sungai atau danau.

6. Penambangan permukaan.

7. Pembangunan struktur sipil di atas sungai atau danau. 8. Pembukaan lahan atau pemanfaatan lahan.

9. Pembangunan kawasan wisata di sekitar badan air.

Prakiraan dampak juga seringkali tetap perlu dilakukan untuk suatu sumber dampak yang buangannya

akan memenuhi Baku Mutu Efl uen (BME). Walau konsentrasinya kecil, komponen kegiatan itu mungkin saja akan membuang polutan dalam jumlah yang besar. Dengan debit yang tinggi, buangan polutan tersebut tetap mungkin mempengaruhi kualitas air secara signifi kan. Atau karena sungai atau danau memiliki daya dukung yang sudah sangat terbatas.

EVALUASI DAMPAK

Hasil prakiraan dampak perlu dievaluasi untuk mengetahui karakteristik dari dampak tersebut. Beberapa sifat dampak yang perlu diketahui adalah:

• Sifat penting dampak; untuk menentukan apakah

suatu dampak tergolong dampak penting atau tidak. Evaluasinya dilakukan dengan membandingkan kualitas air akibat keberadaan komponen kegiatan (XI,T) dengan kriteria penilaian yang disepakati sebelumnya, seperti baku mutu air, alokasi tambahan polutan sesuai daya dukung badan air, jumlah manusia terkena dampak, dan sebagainya.

• Pengaruh dampak; untuk menentukan apakah

suatu dampak tergolong dampak negatif atau positif. Pengaruh dampak dinilai dengan melihat hasil perhitungan besaran dampak dari suatu parameter kualitas air (ΔXT) yang merupakan perbandingan antara kualitas air akibat keberadaan komponen kegiatan (XI,T) dengan kualitas air tanpa keberadaan komponen kegiatan (XO,T). Dampak dianggap negatif jika sumber dampak akan membuat kualitas air menjadi lebih buruk dibandingkan dengan kualitas air nir-kegiatan di waktu yang sama.

Banyak penyusun AMDAL saat ini tidak melakukan prakiraan kualitas air nir-kegiatan. Jadi, penilaian besar-kecilnya dampak dinilai dengan mengacu kepada kualitas air saat ini (rona lingkungan awal). Hal ini dapat dibenarkan selama kita yakin bahwa kualitas air nir-kegiatan akan tetap sama (statis) untuk tahun prakiraan yang kita pilih.

Output Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

Polutan

Sumber Dampak Rencana Kegiatan Tahun Prakiraan

: Kandungan Organik (BOD) : Efl uen IPAL

: Pabrik Pulp dan Kertas : 2012

Obyek Terkena Dampak Jarak (km) BOD (mg/L) Prakiraan Rona Awal

Desa Pertiwi 2 42 38

Jembatan Letkom-1 6 40 34

Pelabuhan Pelita Pantai 15 36 26

(22)

TAHAPAN PRAKIRAAN DAMPAK KUALITAS AIR

Tahap pelingkupan diawali dengan pengenalan sumber dampak dan obyek-obyek yang berpotensi menerima dampak. Kedua tahap diharapkan dapat mengidentifi kasi dampak-dampak potensial yang mungkin timbul dari rencana kegiatan. Seluruh dampak potensial tersebut kemudian dievaluasi dan dipertajam. Penajaman dilakukan berdasarkan pada sifat penting polutan, batasan waktu dan skenario prakiraan, dan juga pada beberapa kriteria sifat penting dampak. Setelah melewati 3 (tiga) tahapan ini, maka akan terbentuk suatu daftar dampak penting hipotetik yang akan dianalisis pada tahap ANDAL.

Identifi kasi Sumber Dampak

Karakterisasi Polutan

Tahap 1:

Mempelajari Sumber Dampak

Mengenali Badan Air

Seleksi Polutan Penting

Membatasi Wilayah Studi

Identifi kasi Obyek Penerima

Dampak

Memperjelas Kriteria Sifat

Penting Dampak

Menentukan Waktu &

Skenario Prakiraan

Tahap 2:

Mengenali Obyek Penerima

Dampak

Tahap 3:

Mempertajam Lingkup

Prakiraan Dampak

KA-ANDAL

Berikut ini adalah tahapan lengkap dari proses prakiraan dampak kualitas air. Mengacu ke tatalaksana pengerjaan AMDAL, ketiga tahap awal dalam diagram berikut merupakan bagian dari proses pelingkupan. Hasilnya

dituangkan dalam dokumen KA-ANDAL. Tahap-tahap selanjutnya merupakan bagian dari proses prakiraan dampak yang, baik proses maupun hasilnya, dituangkan dalam dokumen ANDAL.

(23)

Memahami Prakiraan Dampak Kualitas Air Permukaan

Studi ANDAL didahului dengan perihal bagaimana mendapatkan informasi pelengkap mengenai wilayah yang dipelajari baik perihal umum mengenai badan air itu sendiri, rona awal sungai/danau, maupun hal lain di sekitar wilayah studi yang perlu dicermati. Dengan informasi yang di dapat dan dilengkapi dengan informasi yang terkumpul dari 3 (tiga) tahapan penyusunan KA-ANDAL, kemudian dilakukan simulasi penyebaran pencemar. Hasil pemodelan penyebaran pencemar tersebut akan dievaluasi berdasarkan sifat penting dampak dan pengaruh positif atau negatif dari dampak.

Menentukan Ukuran

Dampak Penting

Mengevaluasi Secara Holistik

Mengetahui Pengaruh

Dampak

Menentukan Ukuran

Dampak Penting

Menentukan Sifat Penting

Dampak

Tahap 6:

Mengevaluasi Hasil

Prakiraan Dampak

Mempelajari Badan Air

Memilih Teknik Simulasi

Mengukur Rona Awal

Mencermati Kondisi Sekitar

Menghitung Konsentrasi

Sebaran Polutan

Tahap 4:

Mencermati Wilayah Studi

Tahap 5:

Mensimulasi Penyebaran

Pencemar

(24)
(25)

Mempelajari Sumber Dampak

Tahap 1

MEMPELAJARI

SUMBER DAMPAK

IDENTIFIKASI SUMBER DAMPAK 18

JENIS SUMBER DAMPAK 18

SKALA SUMBER DAMPAK 19

LOKASI SUMBER DAMPAK 20

WAKTU KEBERADAAN SUMBER DAMPAK 20

KARAKTERISASI POLUTAN 21

IDENTIFIKASI JENIS POLUTAN 21

ESTIMASI JUMLAH POLUTAN 22

Estimasi Dengan Data Sumber Sejenis 22 Estimasi Dengan Data Tipikal 23 Estimasi Dengan Baku Mutu Limbah Cair 23 Estimasi Dengan Keseimbangan Masa 25

POLA PEMUNCULAN POLUTAN 25

Bagian ini akan menguraikan tahap pertama dari proses prakiraan dampak kualitas air permukaan, yaitu Mempelajari Sumber Dampak. Tahap ini terdiri dari 2 (dua) langkah kerja, yaitu 1) identifi kasi sumber dampak dan 2) karakterisasi sumber dampak. Dari dokumen perencanaan yang ada, anda dapat mengidentifi kasi seluruh sumber dampak yang mungkin ada. Tiap sumber dampak harus dikenali karakteristiknya. Perdalam informasinya sampai anda mendapatkan gambaran mengenai parameter kualitas air yang akan terpengaruh. Dalam pengerjaan AMDAL, tahap ini dapat dianggap sebagai bagian awal dari proses pelingkupan (scoping) yang hasilnya dicantumkan dalam dokumen Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL).

(26)

Dalam konteks buku ini, sumber dampak adalah komponen atau bagian dari suatu rencana kegiatan yang dapat menyebabkan perubahan kualitas air permukaan. Sumber dampak tidak selalu berupa komponen kegiatan yang menimbulkan air limbah, tetapi dapat juga komponen kegiatan yang merubah volume air, pola aliran, maupun morfologi badan air (lihat bahasan mengenai

Penyebab Perubahan Kualitas Air). Tidak jarang suatu

rencana kegiatan memiliki lebih dari satu sumber dampak yang jenisnya berbeda.

Dalam proses prakiraan dampak, langkah pertama yang perlu anda lakukan adalah mengidentifi kasi seluruh komponen kegiatan yang dapat menjadi sumber dampak. Baik itu komponen-komponen kegiatan di tahap pra-konstruksi, pra-konstruksi, operasi, maupun pasca-operasi. Jenisnya bermacam-macam, demikian juga dengan sifat

pemunculannya (lihat bahasan berikut mengenai Jenis

Sumber Dampak).

Informasi dari suatu sumber dampak perlu dilengkapi dengan informasi mengenai skala, lokasi, dan waktu keberadaan sumber dampak (lihat bahasan berikut mengenai Skala Sumber Dampak, Lokasi Sumber

Dampak, dan Waktu Keberadaan Sumber Dampak).

Informasi tersebut nantinya sangat dibutuhkan dalam pemodelan penyebaran pencemar.

JENIS SUMBER DAMPAK

Banyak jenis komponen kegiatan yang dapat menjadi sumber dampak (lihat bahasan mengenai Penyebab

Perubahan Kualitas Air). Seperti dibahas sebelumnya,

sumber dampak dapat terdiri dari komponen kegiatan

Perkebunan sawit memiliki beberapa komponen kegiatan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap badan air di sekitarnya. Dalam tahap konstruksi, pembukaan lahan yang dilakukannya akan merubah volume limpasan air hujan ke badan air. Dalam tahap operasi, kegiatan pemupukan akan memberikan asupan sisa nutrien bersamaan dengan limpasan air hujan yang masuk ke badan air.

(27)

Mempelajari Sumber Dampak

yang menyebabkan adanya asupan materi, asupan panas, pengambilan air, perubahan pola aliran, dan perubahan morfologi badan air. Demikian juga dengan komponen kegiatan yang dapat meningkatkan atau menurunkan interaksi kehidupan fl ora-fauna.

Sumber dampak dapat berupa sumber terpusat (point source) maupun sumber menyebar (non-point source). Sumber terpusat merupakan sumber dampak terpusat yang lokasinya mudah diketahui secara pasti. Contohnya antara lain adalah efl uen IPAL, titik pengambilan air baku, outlet saluran drainase, dan sebagainya. Dalam sumber terpusat, pencemar akan masuk ke badan air dari suatu titik terpusat. Sementara itu, sumber menyebar merupakan sumber dampak yang berbentuk bidang luas.

Pencemar akan masuk ke badan air dari suatu bidang yang lebar. Contohnya, limpasan (run off ) air hujan dari lahan pertanian.

Identifi kasi sumber dampak dapat dilakukan dengan mempelajari dokumen rancangan teknis dan jadwal pelaksanaannya. Adanya denah (layout) rencana kegiatan dapat mempermudah pengidentifi kasian sumber dampak. Selain itu, sumber dampak dapat juga diidentifi kasi dengan mempelajari kegiatan lain yang sejenis.

SKALA SUMBER DAMPAK

Skala sumber dampak menunjukkan besaran (magnitude) dari komponen kegiatan yang akan menimbulkan polutan

Suatu rencana kegiatan dapat saja memiliki banyak komponen kegiatan yang dapat menimbulkan dampak terhadap kualitas air permukaan di sekitarnya. Ilustrasi berikut menunjukkan suatu rencana kegiatan yang memiliki setidaknya 3 (tiga) sumber dampak, yaitu 1) outlet limpasan air dari area parkir, 2) efl uen IPAL. dan 3) outlet saluran drainase stockpile area. Secara bersamaan, ketiga sumber dampak itu akan mengalirkan air limbahnya ke sungai terdekat sehingga dapat menimbulkan dampak akumulatif terhadap sungai tersebut.

Sungai

outlet limpasan area parkir

IPAL

Stock pile area

Ilustr

asi: T

oppeak

efl uen IPAL

(28)

ke badan air. Informasi skala sumber dampak dibutuhkan nantinya untuk menghitung jumlah polutan yang ditimbulkan sumber tersebut (lihat bahasan mengenai

Estimasi Jumlah Polutan). Informasi skala sumber

dampak biasanya diperoleh dari dokumen rancangan teknis suatu kegiatan.

Satuan dari skala sumber dampak sangat ditentukan oleh jenis sumber dampak. Untuk kegiatan pembuangan limbah cair, satuannya dapat berupa m3/hari. Untuk

kegiatan pengerukan dasar sungai, satuannya dapat berupa hektar. Untuk kegiatan normalisasi sungai, satuannya dapat berupa meter atau kilometer.

LOKASI SUMBER DAMPAK

Lokasi sumber dampak sedapat mungkin perlu diketahui sespesifi k mungkin. Informasi ini dibutuhkan nantinya untuk menghitung jarak antara sumber dampak dengan obyek-obyek penerima dampak. Demikian juga dalam penentuan batas wilayah kajian studi ANDAL.

Lokasi sumber dampak khususnya sumber terpusat terkadang perlu dinyatakan dalam sistem koordinat

Cartesian. Untuk sumber dampak menyebar, anda perlu menyebutkan koordinat dari bagian sumber dampak yang letaknya paling dekat dengan obyek penerima dampak. Koordinat titik terdekat itu nantinya digunakan dalam perhitungan jarak dengan obyek penerima dampak.

Informasi wilayah administratif dari suatu sumber dampak juga perlu untuk disampaikan khususnya untuk sumber-sumber dampak dari suatu rencana kegiatan yang tapak proyeknya sangat luas.

WAKTU KEBERADAAN SUMBER DAMPAK

Informasi mengenai kapan suatu sumber dampak akan dilaksanakan, dibangun atau dioperasikan sangat berguna

nantinya saat anda ingin menentukan waktu prakiraan. Waktu keberadaan sumber dampak perlu disampaikan sespesifi k mungkin, misalnya menyebutkan bulan dan tahun dari keberadaannya. Jadi tidak hanya sekedar menyebutkan bahwa sumber pencemar akan ada di tahap prakonstruksi, konstruksi, operasi dan pasca-operasi.

Waktu keberadaan tiap sumber dampak dapat diperoleh dari jadwal pelaksanaan rencana kegiatan. Dari jadwal tersebut, anda dapat mengetahui durasi kelangsungan sumber dampak. Perlu diingat bahwa mungkin saja beberapa sumber dampak akan dilaksanakan dalam rentang waktu yang sama. Jika waktu keberadaannya bersamaan, ada kemungkinan dampak dari sumber-sumber itu nantinya perlu diakumulasikan.

Akumulasi limpasan area perkebunan Perkebunan 1 Perkebunan 3 Perkebunan 2

Ilustrasi dari dampak kumulatif yang terjadi pada suatu badan air akibat limpasan air dari 3 lokasi perkebunan yang muncul pada waktu yang sama.

(29)

Mempelajari Sumber Dampak

Setelah seluruh sumber dampak teridentifi kasi, anda perlu mengenali karakteristik dari polutan yang dapat ditimbulkan sumber-sumber dampak tersebut. Ada 2 (dua) hal yang setidaknya perlu dilakukan dalam karakterisasi polutan, yaitu 1) identifi kasi jenis polutan dan 2) estimasi jumlah polutan. Selain ke-2 hal itu, informasi mengenai karakteristik polutan juga perlu dilengkapi dengan keterangan mengenai sifat-sifat pemunculannya.

Jenis polutan dapat diidentifi kasi jika anda memahami karakteristik dari komponen-komponen kegiatan yang menjadi sumber dampak (lihat bahasan berikut mengenai

Identifi kasi Jenis Polutan). Sementara itu, jumlah

polutan dapat diestimasi jika anda mengetahui skala atau besaran sumber dampak (lihat bahasan berikut mengenai

Estimasi Jumlah Polutan).

IDENTIFIKASI JENIS POLUTAN

Jenis polutan yang akan ditimbulkan suatu sumber dampak dapat diidentifi kasi dengan mempelajari

karakteristik dari komponen kegiatan sumber dampak tersebut. Misalnya, dengan mengkaji keseimbangan massa (mass balance) dari berbagai bahan dan proses yang digunakan komponen kegiatan.

Pengalaman pihak lain dalam melaksanakan komponen kegiatan serupa dapat membantu anda untuk mengidentifi kasi jenis polutan yang mungkin ada. Banyak literatur juga tersedia untuk memberikan anda informasi mengenai jenis polutan yang biasanya ditimbulkan oleh suatu komponen kegiatan.

Jenis polutan yang dapat ditimbulkan oleh suatu komponen kegiatan juga dapat diidentifi kasi dari aturan baku mutu limbah cair yang berhubungan dengan kegiatan tersebut. Beberapa kegiatan memiliki baku mutu limbah cair yang spesifi k membatasi konsentrasi dari polutan-polutan yang umum ditimbulkan kegiatan-kegiatan tersebut. Walau demikian, anda tetap perlu mewaspadai adanya polutan lain yang mungkin muncul namun tidak tercantum dalam baku mutu tersebut.

KARAKTERISASI POLUTAN

Baku mutu limbah cair suatu kegiatan dapat memberikan indikasi dari parameter-parameter kualitas yang perlu diperhatikan dalam proses prakiraan dampak. Secara tidak langsung, parameter-parameter di baku mutu itu akan mengindikasikan jenis dampak yang dapat ditimbulkan oleh suatu jenis kegiatan. NIlai konsentrasi maksimal tiap parameter dan kuantitas air limbah maksimal yang tercantum dalam baku mutu tersebut nantinya dapat digunakan untuk perhitungan estimasi jumlah polutan.

(30)

Secara umum, polutan yang ditimbulkan oleh berbagai jenis komponen kegiatan dapat dibagi ke dalam 8 (delapan) kelompok polutan (lihat Tabel 1), yaitu 1) padatan, 2) senyawa organik, 3) senyawa anorganik, 4) senyawa nutrien, 5) senyawa asam-basa, 6) senyawa logam berat, 7) panas, dan 8) mikrobiologi. Tiap polutan memiliki parameter-parameter yang umum digunakan untuk menunjukkan jumlah atau konsentrasinya secara kuantitatif.

ESTIMASI JUMLAH POLUTAN

Jumlah polutan perlu diestimasi secara kuantitatif agar output prakiraan dampak nantinya dapat dinyatakan secara kuantitatif pula (lihat bahasan Output Prakiraan

Dampak di bab sebelumnya). Nilai kuantitatif tersebut

akan menyebabkan terciptanya konsentrasi polutan di dalam sungai atau danau. Konsentrasi ini akan berubah

karena polutan akan berinteraksi dengan komponen badan air (lihat Boks Perilaku Polutan di Badan Air pada

Tahap 5 Mensimulasi Penyebaran Pencemar).

Estimasi kuantitatif jenis polutan sebaiknya memberikan hasil dalam satuan beban limbah cair (loading), yaitu berat atau volume polutan per-satuan waktu (misalnya: 300 kilogram suspended solids/hari, 5 ton BOD5/tahun). Berikut ini adalah beberapa pendekatan yang dapat anda lakukan untuk mengestimasi jumlah polutan yang ditimbulkan sumber dampak.

Estimasi Dengan Data Sumber Sejenis

Jumlah polutan dapat diestimasi berdasarkan data dari sumber dampak sejenis yang sudah ada. Misalnya, untuk mengestimasi jumlah polutan air limbah dari rencana pabrik pulp and paper berdasarkan data efl uen air limbah

Tabel 1. Kelompok Polutan dan Hubungannya dengan Parameter Polutan dan Sumber Dampak.

KELOMPOK POLUTAN PARAMETER POLUTAN SUMBER DAMPAK

Padatan Residu (Padatan) Terlarut, Residu (Padatan) Tersuspensi

Limpasan air dari lahan terbuka, efl uen proses produksi, lepasan materi tanah dari dinding badan air, buangan limbah domestik, penggalian atau pengurukan tanah.

Senyawa Organik BOD, COD, Minyak dan Lemak, Fenol, Pestisida

Efl uen proses produksi yang menggunakan bahan organik, limpasan air dari lahan pertanian, buangan limbah domestik, pencucian bahan baku organik, budidaya peternakan.

Senyawa Anorganik Klorida, Belerang Efl uen proses produksi yang menggunakan bahan anorganik, buangan limbah domestik, limpasan air dari lahan penambangan mineral, lindi sampah.

Senyawa Nutrien Total Fosfat, Nitrat, Amonium Limpasan air dari lahan yang menggunakan pupuk, efl uen proses produksi yang menggunakan senyawa nutrien, buangan limbah domestik.

Senyawa Asam-Basa

pH Efl uen proses produksi yang menggunakan senyawa asam basa,

limpasan air dari lahan penambangan mineral. Senyawa Logam

Berat

Arsen, Kobalt, Barium, Boron, Selenium, Kadmium, Kromium, Tembaga, Besi, Timbal, Mangan, Raksa, Seng

Proses produksi yang menggunakan bahan anorganik, buangan limbah domestik, lindi sampah, efl uen kilang minyak dan gas.

Panas atau dingin Temperatur Buangan limbah bahang dari alat-alat pertukaran panas (cooling tower), limpasan air hujan dari area jalan dan parkir.

Mikrobiologi Fecal Coli , Total Coliform Lindi sampah, buangan limbah domestik, proses penyiapan bahan makanan, budidaya peternakan.

(31)

Mempelajari Sumber Dampak

dari pabrik pulp and paper yang sudah ada. Pendekatan ini sangat layak diterapkan untuk rencana kegiatan yang merupakan perluasan atau peningkatan dari kegiatan itu sendiri. Misalnya, estimasi jumlah polutan dari suatu industri yang akan meningkatkan kapasitasnya.

Agar valid, data harus berasal dari sumber dampak yang menggunakan teknologi dan bahan yang sama. Data dapat diperoleh dari laporan pemantauan lingkungan kegiatan sejenis. Misalnya, dari laporan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) kegiatan tersebut.

Estimasi Dengan Data Tipikal

Saat ini sudah banyak tersedia data tipikal yang menghubungkan satuan skala kegiatan dengan (a) debit air limbah atau (b) jumlah polutan. Sebagai contoh: • produksi 1 barel minyak bumi ≈ 3 barel limbah cair, • produksi 1 ton kertas ≈ 160 m3 limbah cair.

Selain itu ada juga data tipikal yang dinyatakan dalam satuan population equivalen (PE). Artinya, 1 PE limbah cair ekivalen dengan limbah cair dometik yang dihasilkan oleh 1 manusia dalam sehari (54 gram BOD5/hari atau 90 gram SS/hari). Selain PE yang berhubungan dengan BOD dan SS, tersedia juga PE yang berhubungan dengan nutrien dan senyawa pencemar lain.

Dengan mengetahui data debit dan konsentrasi tipikal, anda dapat mengestimasi jumlah polutan yang akan dihasilkan suatu rencana kegiatan. Perlu diingat, penggunaan data debit atau jumlah polutan tipikal merupakan estimasi kasar yang masih perlu dikaji kesamaan teknologi atau bahan yang digunakan. Teknologi baru terkadang memiliki nilai debit tipikal yang lebih efi sien atau jumlah polutan tipikal yang lebih rendah.

Estimasi Dengan Baku Mutu Limbah Cair

Baku mutu limbah cair (BMLC) mencantumkan nilai konsentrasi maksimum dari beberapa polutan dan debit maksimal yang masih diperbolehkan untuk dibuang ke badan air. Estimasi dengan BMLC hanya dapat digunakan untuk sumber dampak yang menimbulkan asupan limbah cair ke badan air. Diasumsikan, pemrakarsa kegiatan tentu tidak akan membuang limbah cair yang karakterisitiknya masih melampaui BMLC.

Setelah mengetahui konsentrasi polutan dalam limbah cair (Cp) dan debit limbah cair (Q), maka jumlah polutan (M) dapat dihitung dengan persamaan:

M = Q x CP

Besarnya debit limbah cair (Q) tentu dapat diketahui hanya jika anda memiliki informasi mengenai skala kegiatan dari sumber dampak (lihat bahasan Skala Sumber Dampak).

Saat ini sudah tersedia BMLC untuk beragam jenis kegiatan spesifi k. Baik itu untuk industri, kegiatan domestik, perminyakan, dan sebagainya. Selain itu juga tersedia BMLC yang bersifat umum.

Energi listrik Proses produksi Bahan baku Material pembantu

Air bersih Airlimbah

Panas dan limbah lain Produkjadi

Ilustrasi keseimbangan massa kegiatan industri yang menggunakan air bersih dan membuang air limbah. Jumlah dan karakteristik air limbah dapat diprakirakan menggunakan diagram ini.

(32)

Contoh Kasus

KARAKTERISASI SUMBER DAMPAK

Suatu kegiatan wajib AMDAL, yaitu industri pulp berkapasitas 3.000 ton per hari akan dibangun di tepi sungai Kumering. Industri ini direncanakan akan memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Efl uen IPAL akan dibuang ke sungai Kumering sesuai Baku Mutu Limbah Cair (BMLC) yang diberlakukan pemerintah setempat (lihat tabel berikut).

Dari identifi kasi sumber dampak disepakati bahwa pengaliran efl uen IPAL ke Sungai Kumering merupakan suatu jenis sumber dampak yang perlu dikaji dalam ANDAL. Untuk Karakterisasi Sumber Dampak, ditetapkan hal-hal berikut:

Baku Mutu Limbah Cair Industri Pulp

KELOMPOK POLUTAN KONSENTRASI MAKSIMAL BEBAN MAKSIMAL

BOD 100 mg/L 8,5 kg/ton produk

COD 350 mg/L 29,75 kg/ton produk

TSS 100 mg/L 8,5 kg/ton produk

Debit Maks. 85 m3/ton

Denah dari Industri Pulp yang digunakan dalam contoh kasus di buku ini. Pengolahan air limbah ditetapkan sebagai suatu sumber dampak yang efl uennya dapat mempengaruhi kualitas air sungai Kumering di dekatnya.

IPAL

Skala komponen kegiatan: 60.000 m3/hari Debit limbah cair (Q) dihitung berdasarkan debit tipikal yang diperoleh dari industri sejenis (dipakai nilai 20 m3/ton). Perhitungannya:

Q (debit limbah cair) = kapasitas produksi x debit maksimum = 3.000 ton pulp/hari x 20 m3/ton pulp = 60.000 m3/hari

Jenis polutan: Organik (BOD dan COD) dan padatan (TSS) Ditentukan berdasarkan parameter yang tercantum di BMLC Industri Pulp

Jumlah polutan (M) dihitung dengan persamaan:

M = Q x CP Contoh:

Jumlah polutan BOD (berdasarkan BMLC) = Q x CBOD

= 60.000 m3/hari x 100 mg/L x (10-9 ton/mg x 103 L/m3) = 6 ton BOD/hari

Jumlah polutan berdasarkan konsentrasi efl uen IPAL industri sejenis (BOD: 65 mg/L; COD : 215 mg/L; SS: 90 mg/L):

BOD = 3,9 ton/hari COD = 12,9 ton/hari TSS = 5,4 ton/ hari Jumlah polutan berdasarkan BMLC: BOD = 6 ton/hari

COD = 21 ton/hari TSS = 6 ton/ hari

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :