R ancangan M odel P enilaian P r oduk U nggulan Usaha M ikr o, K ecil,
dan M enengah
Hendang Setyo R ukmi1, F adhilah R amadhan2
1,2
J urusan T eknik Industri, Institut T eknologi Nasional Bandung E -mail: hendang@ itenas.ac.id
A B ST R A K
Peran penting dan strategis UMK M dalam perekonomian nasional menjadi dasar perlunya penguatan UMK M di Indonesi a. Salah satu program penguatan UMK M yang telah dicanangkan adalah One Product One Village (OPOV ). Melalui program OPOV akan dipilih dan dikembangkan produk unggulan yang unik dan khas di daerah untuk menjadi produk kelas global. K arena jumlah UMK M cukup banyak, perlu dilakukan skala prioritas. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk memilih dan mengembangkan produk unggulan daerah, namun kriteria yang digunakan beragam. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model peni lai an produk unggulan UMK M berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014 dan peneliti an sebelumnya. Tahapan yang dilakukan adalah 1) penetapan kriteria/sub kriteria peni laian, 2) penetapan indikator penilaian, dan 3) penetapan skala penil aian. Model penilaian yang dirancang terdiri dari 12 kriteria dan 21 subkriteria dengan skala penilaian mayoritas 4 level. Penilaian produk unggulan UMK M dilakukan dengan menjumlahkan seluruh nilai skala setiap subkriteria.
K ata K unci : produk unggulan UMK M, kriteria produk unggulan, indikator penilaian, skal a penil aian
1. Pendahul uan
Usaha Mikro, K ecil, dan Menengah (UMK M) memiliki peranan yang sangat vital dan strategis di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, baik di negara-negara berkembang seperti Indonesia maupun di negara-negara maju. D i Indonesia, selain berperan dal am pertumbuhan pembangunan dan ekonomi, UMK M berperan dalam mengatasi masalah pengangguran. T umbuhnya usaha mikro menjadi kannya sebagai sumber pertumbuhan kesempatan kerja dan pendapatan.
A danya peran penting dan strategis UMK M dalam perekonomian nasional menjadi dasar perlunya penguatan UMK M di Indonesia. Oleh karena itu pemerintah pusat membuat berbagai kebijakan dan program pemberdayaan UMK M agar tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang sehat, tangguh, dan mampu berdaya saing menghadapi persaingan bebas. Sal ah satu program pemerintah pusat yang telah dicanangkan adalah One Product One Village (OPOV ) , yaitu suatu pendekatan pengembangan potensi daerah di satu wilayah, baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia, untuk menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar global, namun tetap memiliki ciri khas keunikan karakteristik dari daerah tersebut (T riharini, dkk., 2014). Melalui program OPOV akan dipil ih dan dikembangkan produk unggulan yang unik dan khas di daerah tersebut untuk menjadi produk kelas global. Pengembangan produk unggulan daerah yang dilakukan melalui pendekatan OPOV tersebut menjadi salah satu agenda penting menghadapi pasar bebas A sia T enggara (industri.bisni s.com, 2013). Persaingan era global sangat ditentukan keunggulan yang dimiliki atau keunggulan produk. Bahkan, ini bisa disebut dengan keunggulan kompetitif. D i sisi lain, potensi keunggulan komparatif sudah tidak menjamin secara kontinyu atas persaingan global.
usaha nasional. UMK M tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di J awa Barat saja, pada 2014 ada 201.997 UMK M yang tersebar di berbagai kota/kabupaten (F ati man, 2016). Oleh karena itu pemerintah daerah harus mampu memetakan UMK M untuk menentukan skala prioritas pengembangannya.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk membantu pemerintah daerah dalam memilih produk unggulan daerah yang akan dikembangkan. Soetarto dan Mabruroh (2011) meneliti produk unggulan di K abupaten Sukoharjo, J awa T engah. Herdiansyah, dkk. ( 2013) meneliti produk unggulan di K abupaten K ol aka-Sulawesi T enggara. R ukmi (2014) meneliti produk unggulan di K abupaten Bandung Barat. Sandriana, dkk. ( 2015) meneliti produk unggulan di K ota Malang. Bijaksana, dkk. (2016) menel iti produk unggulan daerah sektor industri pangan di K abupaten Majalengka. Permasalahannya peneli tian-penelitian tersebut menggunakan kriteria beragam dan belum mengacu kepada Peraturan Menteri D alam Negeri R epublik Indonesia (Permendagri R I) Nomor 9 T ahun 2014. Sebagai bagian dari pemerintah pusat, tentunya pemerintah daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam menilai produk unggulan UMK M. Oleh karena itu kriteria produk unggul an UMK M harus mengacu kepada Permendagri R I Nomor 9 T ahun 2014.
Pemilihan dan pengembangan produk unggulan daerah penting untuk dilakukan karena erat kaitannya dengan penerapan otonomi daerah dan relevansinya dengan penyerapan basis ekonomi lokal untuk bisa memacu Pendapatan A sli Daerah serta penyerapan tenaga. T idak adanya penilaian standar mendorong dilakukannya penelitian terkait perancangan model penilaian produk unggulan UMK M yang mengacu pada Permendagri R I Nomor 9 T ahun 2014.
2. M etodol ogi Penelitian
T ahapan dalam perancangan model penilaian produk ungguan UMK M ini adalah sebagai berikut :
a. Penetapan kriteria/sub kriteria penilaian,
K riteria/sub kriteria produk unggulan akan dikaji berdasarkan Permendagri R I Nomor 9 T ahun 2014 serta penelitian Soetarto dan Mabruroh ( 2011), Herdiansyah, dkk. (2013), R ukmi (2014), Sandriana, dkk. ( 2015), dan Bijaksana, dkk. (2016). K ajian terhadap kriteria-kriteria yang telah digunakan dalam penelitian sebelumnya dilakukan untuk melihat keluasan dan kelengkapan kriteria/sub kriteria produk unggulan yang tercakup dalam Permendagri R I Nomor 9 T ahun 2014.
b. Penetapan indikator penilaian
Indikator penilaian merupakan definisi operasional setiap kriteri a/subkri teria. Indikator penilaian diperlukan untuk menentukan ukuran-ukuran yang akan digunakan di setiap kriteria/subkriteria.
c. Penetapan skala penilaian.
Skala penilaian merupakan tingkatan kondisi UMK M untuk setiap kriteria/subkriteria. S etiap skala penilaian akan didefinisikan guna menghindari subyektivitas dalam penilaian.
3. H asil dan Pembahasan
K riteria yang digunakan pada penelitian Soetarto dan Mabruroh (2011), Herdiansyah, dkk. (2013), Sandriana, dkk. (2015), dan Bijaksana, dkk. ( 2016) telah tercakup dalam kriteria Permendagri R I Nomor 9 T ahun 2014. T erdapat beberapa kriteria di dalam Permendagri R I Nomor 9 T ahun 2014 yang tidak tercantum dalam penelitian yang telah dilakukan sebelumnya tersebut.
R ancangan model penelitian terdiri dari 12 kriteria dan 21 sub kriteria. K riteria/subkriterianya adalah:
a. K riteria penyerapan tenaga kerja.
Indikator penilaian : % jumlah T K yang memiliki pendidikan, keahlian, dan kreativitas sesuai dengan kebutuhan.
Skala penil aian :
Nilai 1 J ika ketiga aspek ( pendidikan, keahlian, dan kreativitas) tidak sesuai. Nilai 2 J ika dua dari tiga aspek (pendidikan, keahlian, dan kreativitas) tidak sesuai. Nilai 3 J ika satu dari tiga aspek(pendidikan, keahlian, dan kreativitas) tidak sesuai. Nilai 4 J ika seluruh aspek (pendidikan, keahlian, dan kreativitas) sesuai.
a.2. S ub kriteria tingkat penyerapan tenaga kerja lokal.
Indikator penilaian : persentase penggunaan tenaga kerja lokal. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika penggunaan tenaga kerja lokal <50%.
Nilai 3
Nilai 4 J ika Penggunaan tenaga kerja lokal 100%. a.3. S ub kriteria tingkat ketersediaan tenaga kerja lokal.
Indikator penilaian : lama proses pencarian/pengadaan tenaga kerja lokal. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika pencarian T K lebih dari tiga bulan.
Nilai 2 J ika pencarian T K lebih dari satu bulan sampai tiga bulan. Nilai 3 J ika pencarian T K satu minggu sampai dengan satu bulan. Nilai 4 J ika pencarian T K kurang dari seminggu.
b. K riteria sumbangan terhadap perekonomian.
b.1. S ub kriteria tingkat kemanfaatan produk bagi konsumen.
Indikator penilaian : ada tidaknya manfaat fungsional, psikologis dan sosial produk. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika hanya memiliki satu manfaat fungsional.
Nilai 2 J ika memiliki satu manfaat fungsional dan satu manfaat psikologis/sosial. Nilai 3 J ika memiliki 1 manfaat fungsional, 1 manfaat psikologis, dan 1 manfaat sosial. Nilai 4 J ika seluruh manfaat dimiliki dan minimal ada 1 jenis manfaat yang jumlahnya >1. b.2. S ub kriteria dampak perkembangan produk terhadap perkembangan komoditas lain.
Indikator penilaian : jumlah komoditas basis yang menjadi bahan baku produk Skala penil aian :
Nilai 1 J ika perkembangan produk hanya berdampak pada perkembangan satu komoditas dan komoditas tersebut bukan komoditas unggulan daerah.
Nilai 2 J ika perkembangan produk berdampak pada perkembangan dua atau lebih komodi tas dan komoditas tersebut bukan komoditas unggulan daerah.
Nilai 3 J ika perkembangan produk berdampak pada perkembangan dua atau lebih komoditas dan salah satu komoditas tersebut merupakan komoditas unggulan daerah. Nilai 4 J ika perkembangan produk berdampak pada perkembangan dua atau lebih komodi tas dan seluruh komoditas tersebut merupakan komoditas unggulan daerah.
b.3. S ub kriteria keuntungan ekonomi bagi pemangku kepentingan dan daerah.
Indikator penilaian : nilai produksi rata-rata, jumlah IMK M yang tidak kontinyu produksinya, dan jumlah IMK M yang belum maksimal kapasitasnya.
Skala penil aian :
Nilai 1 J ika nilai produksi rata-rata di bawah 4,8 M, ada IMK M yang produksinya tidak kontinyu, dan seluruh kapasitas produksi IMK M sudah maksimum.
Nilai 3 J ika 1 dari 3 aspek (nilai produksi rata-rata < 4,8 M, ada IMK M yang produksinya tidak kontinyu, dan seluruh IMK M kapasitas produksinya sudah maksimum) terpenuhi. Nilai 4 J ika nilai produksi rata- K M produksinya kontinyu, dan seluruh IMK M kapasitas produksinya belum maksimum.
c. K riteria sektor basis ekonomi daerah.
c.1. Sub kriteria potensi produk menjadi sektor basis ekonomi daerah.
Indikator penilaian : keunggulan produk dibandingkan pesaing, dan % penjualan ke luar. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika satu atau dua aspek (tidak ada keunggulan produk dibandingkan dengan pesaing dan produk dipasarkan sebagian besar lokal di wilayah kecamatan) terpenuhi. Nilai 2 J i ka produk memiliki keunggulan dibandingkan dengan pesaing di luar wilayah kecamatan dalam satu kabupaten dan sebagian besar produk (minimal 70%) dipasarkan ke luar kecamatan tetapi dalam satu kabupaten.
Nilai 3 J i ka produk memiliki keunggulan dibandingkan dengan pesaing di luar wilayah provinsi dan sebagian besar produk ( minimal 70%) dipasarkan ke luar provinsi.
Nilai 4 J i ka produk memiliki keunggulan dibandingkan dengan pesaing di luar wilayah provinsi dan sebagian besar produk (minimal 70%) dipasarkan ke luar provinsi.
Nilai 5 J ika produk memili ki keunggulan dibandingkan dengan pesaing di luar negeri dan sebagian besar produk (minimal 70%) dipasarkan ke luar negeri.
d. K riteria tingkat pemanfaatan bahan baku yang dapat diperbaharui. d.1. S ub kriteria tingkat kemanfaatan produk bagi konsumen.
Indikator penilaian : % jenis bahan baku yang dapat diperbaharui. Skala penil aian :
Nilai
Nilai 4 J ika seluruh bahan baku dapat diperbaharui
d.2. S ub kriteria tingkat pencemaran serta cara penanggulangannya.
Indikator penilaian : jenis limbah yang dihasilkan dan penanggulangannya. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika menghasilkan limbah B3 yang membutuhkan penanganan khusus.
Nilai 2 J ika limbah yang dihasilkan kategori tidak berbahaya (l imbah organik/anorganik) yang tidak dapat dimanfaatkan serta membutuhkan penanganan khusus.
Nilai 3 J ika limbah yang dihasilkan kategori tidak berbahaya (l imbah organik/anorganik) yang tidak dapat dimanfaatkan namun penanganannya mudah.
Nilai 4 J ika limbah yang dihasilkan kategori tidak berbahaya (l imbah organik/anorganik) yang masih dapat di manfaatkan.
e. K riteria sosial budaya.
e.1. S ub kriteria tingkat kekhasan daerah ( penggunaan talenta masyarakat/lembaga yang bercirikan kondisi sosial budaya lokal).
Indikator penilaian : kekhasan produk dibandingkan pesaing luar wilayah. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika tidak ada keunikan produk.
Nilai 2 J i ka produk hanya memiliki sedikit keunikan dibandingkan produk pesaing dan keunikan tersebut tidak memiliki ciri khas daerah.
Nilai 3 J ika produk sangat unik dibandingkan pesaing, namun keunikan tersebut tidak memili ki ciri khas daerah.
f. K riteria ketersediaan pasar.
f.1. Sub kriteria tingkat kemanfaatan produk bagi konsumen.
Indikator penilaian : % permintaan terhadap produksi yang tidak dapat dipenuhi. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika
Nilai 4 J ika persentase volume atau nilai permintaan terhadap volume atau nilai produksi yang tidak dapat dipenuhi > 0%.
f.2. Sub kriteria jangkauan pemasaran.
Indikator penilaian : wilayah pemasaran produk. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika pemasaran masih skala kecamatan. Nilai 2 J ika pemasaran masih skala kabupaten . Nilai 3 J ika pemasaran sudah skala provinsi. Nilai 4 J ika pemasaran sudah skala nasional. Nilai 5 J ika sudah melakukan ekspor.
f.3. Sub kriteria potensi pasar di masa mendatang (trend preferensi konsumen). Indikator penilaian : trend volume atau nilai penjual an.
Skala penil aian :
Nilai 1 J ika trend volume atau nilai penjualan menurun atau fluktuatif cukup besar. Nilai 2 J ika trend volume atau nilai penjualan tetap atau fluktuatif relatif kecil. Nilai 3 J ika trend volume atau nilai penjualan meningkat. tetapi 5% .
Nilai 4 J ika trend volume atau nilai penjualan meningkat secara signifikan (>5%) .
g. K riteria bahan baku.
g.1. S ub kriteria tingkat penggunaan bahan baku lokal. Indikator penilaian : % penggunaan bahan baku l okal .
Skala penil aian :
Nilai 4 J ika bahan baku yang digunakan 100% lokal g.2. S ub kriteria tingkat ketersediaan bahan baku.
Indikator penilaian : % permintaan bahan baku yang tidak bisa dipenuhi oleh supplier karena ketiadaan bahan baku.
Skala penil aian :
bahan baku yang bisa dipenuhi supplier <75%
Nilai 4 J ika permintaan bahan baku selalu bisa dipenuhi supplier.
g.3. S ub kriteria tingkat kemudahan mendapatkan bahan baku dengan harga yang kompetitif. Indikator penilaian : % kesesuaian harga bahan baku yang dibeli dengan harga di pasaran. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika harga bahan baku lebih mahal 30% atau lebih dari harga pasaran Nilai 2 J ika harga bahan baku lebih mahal 10-30% dari harga pasaran. Nilai 3 J ika harga bahan baku lebih mahal 0-10% dari harga pasaran. Nilai 4 J ika harga bahan baku sesuai pasaran.
h.1. Sub kriteria tingkat ketersediaan dan kecukupan dana bagi kelancaran usaha untuk kebutuhan investasi dan modal kerja.
Indikator penilaian : % penambahan modal (dari modal sekarang) yang diperlukan. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika memerlukan penambahan modal lebih dari 60% dari modal yang ada sekarang. modal yang ada sekarang.
Nilai 4 J ika tidak perlu penambahan modal.
i. K riteria sarana dan prasarana produksi.
i.1. Sub kriteria kemudahan dalam memperoleh sarana dan prasarana produksi dengan harga yang kompetitif.
Indikator penilaian : kesesuaian harga mesin/alat yang dibeli dengan harga di pasaran. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika harga mesin/alat lebih mahal 30% atau lebih dari harga pasaran. Nilai 2 J ika harga mesin/alat leb -30% dari harga pasaran. Nilai 3 J ika harga mesin/alat lebih mahal 0-<10% dari harga pasaran. Nilai 4 J ika harga mesin/alat sesuai pasaran.
j. K riteria teknologi
j.1. S ub kriteria tingkat penggunaan teknologi tepat guna.
Indikator penilaian : mesin/alat yang digunakan efisien, efekti f (kualitas produk bagus), harga investasi mesin/alat, dan kemudahan mengoperasikan mesin/alat.
Skala penil aian :
Nilai 1 J ika seluruh aspek (mesin/alat/metode kerja yang digunakan sekarang tidak efisien, tidak efektif, harganya mahal , dan sulit dioperasi kan) tidak terpenuhi.
Nilai 2 J ika tiga dari empat aspek (mesin/alat/metode kerja yang digunakan sekarang tidak efi sien, tidak efektif, harganya mahal, dan sulit dioperasikan) tidak terpenuhi.
Nilai 3 J ika dua dari empat aspek ( mesin/alat/metode kerja yang digunakan sekarang tidak efi sien, tidak efektif, harganya mahal, dan sulit dioperasikan) tidak terpenuhi.
Nilai 4 J ika mesin/alat yang digunakan sekarang sudah cukup efisien dan efektif, harga terjangkau ol eh IMK M, dan mudah dioperasikan.
j.2. S ub kriteria tingkat penggunaan unsur yang tidak mudah ditiru.
Indikator penil aian : jumlah inovasi yang dil akukan dan selang waktu dilakukannya inovasi.
Skala penil aian :
Nilai 1 J ika tidak pernah melakukan inovasi.
Nilai 2 J ika inovasi dilakukan tetapi tidak rutin, selang waktu antara satu inovasi dengan inovasi l ainnya cukup panjang (sama atau lebih dari dua tahun).
Nilai 3 J i ka inovasi dilakukan secara rutin tetapi periodenya cukup panjang (dua tahun sekali atau l ebih).
Nilai 4 J ika paling lama setahun sekali melakukan inovasi.
k. K riteria manajemen usaha.
k.1. S ub kriteria kemampuan mengelola usaha secara profesional.
Indikator penilaian : pencatatan keuangan (tidak ada/belum baik/sudah baik), pencatatan barang masuk/keluar (tidak ada/bel um bai k/sudah baik), pengarsipan data (tidak ada/belum bai k/sudah baik) , pengendalian kualitas (tidak ada/belum baik/sudah baik), serta kompetensi pengelola (terpenuhi /tidak terpenuhi).
Skala penil aian :
ada atau belum baik, pengendalian kualitas tidak ada atau bel um baik, serta kompetensi pengelola ( pendidikan/keahlian/ dan pengalaman) terpenuhi.
Nilai 2 J ika dua aspek ini (pencatatan keuangan tidak ada atau belum baik, pencatatan barang masuk/keluar tidak ada atau belum baik, pengarsipan data belum ada atau bel um bai k, pengendalian kualitas tidak ada atau bel um baik, serta kompetensi pengelola (pendidikan/keahli an/dan pengalaman) terpenuhi.
Nilai 3 J ika satu aspek ini (pencatatan keuangan tidak ada atau belum baik, pencatatan barang masuk/keluar tidak ada atau belum baik, pengarsipan data belum ada atau bel um bai k, pengendalian kualitas tidak ada atau belum baik, serta kompetensi pengelola (pendidikan/keahli an/dan pengalaman) terpenuhi.
Nilai 4 J ika tidak ada aspek ini (pencatatan keuangan tidak ada atau belum baik, pencatatan barang masuk/keluar tidak ada atau belum baik, pengarsipan data belum ada atau belum bai k, pengendalian kualitas tidak ada atau belum baik, serta kompetensi pengelola (pendidikan/keahli an/ dan pengalaman) yang terpenuhi.
k.2. S ub kriteria kemampuan memanfaatkan talenta dan kelembagaan masyarakat.
Indikator penilaian : jumlah organisasi yang relevan yang diikuti dan jumlah kerjasama usaha dengan pihak luar.
Skala penil aian :
Nilai 1 J ika tidak ada organisasi yang diikuti dan tidak ada kerjasama dengan pihak lain dalam menjalankan usaha.
Nilai 2 J ika ada kerjasama dengan miniml satu organisasi terkait dan atau ada kerjasama dengan minimal satu satu pihak lain dalam menjalankan usaha.
Nilai 3 J ika ada kerjasama dengan satu organisasi terkait dan ada kerjasama dengan satu pihak dalam menjalankan usaha.
Nilai 4 J ika ada kerjasama dengan lebih dari satu organisasi terkait dan ada kerjasama dengan l ebih dari satu pihak dalam menjalankan usaha.
l. K riteria harga.
l.1. Sub kriteria kemampuan memberikan nilai tambah dan mendatangkan laba usaha. Indikator penil aian : % nilai tambah (harga jual -biaya produksi) per unit produk. Skala penil aian :
Nilai 1 J ika nilai tambah < 5% per unit produk
Nilai 4 J ika nilai tambah lebih dari 35 % per unit produk
Pada penel itian ini si stem penilaian dilakukan dengan menjumlahkan seluruh nilai skala setiap kriteria/subkriteria.
5. K esimpulan
Daftar Pustak a
[1] _ _ _ _ _ _ _ Peraturan Menteri Dalam Negeri R epublik Indonesia tentang Pedoman Pengembangan Produk Unggulan D aerah, Permendagri Nomor 9 T ahun 2014.
[2] Bijaksana, A .A ., K urniasih, D., Dan T arliah, T . (2016). Usulan Strategi Pengembangan K omoditi Unggul an pada Sektor Industri Pangan di K abupaten Majalengka dengan Metode A HP QSPM (Studi K asus K abupaten Majalengka Sektor Industri Pengolahan Sub Sektor Industri Pangan). T ugas A khir, J urusan T eknik Industri, Universitas Pasundan, Bandung. [3] F atiman, S. (2016, 26 F ebruari). Industri K ecil Menengah J adi Andal an untuk Gerakkan Roda
E konomi J abar. Diperoleh dari http://jabar.tribunnews.com/2016/02/26/industri -kecil-menengah-jadi-andalan-untuk-gerakkan-roda-ekonomi -jabar.
[4] Herdiansyah, D ., Sutiarso, L ., Purwadi, D., dan T aryono. ( 2013) . K riteria K ualitatif Penentuan Produk Unggulan K omodi tas Perkebunan D engan Metode Delphi D i K abupaten K olaka-Sulawesi T enggara. J urnal Agri tech, 33( 1), 60-69.
[5] Industri.bisnis.com. ( 2013, 11 J uni). E konomi Asean: Produk Unggulan Daerah J adi Agenda Penting. D iperoleh dari http://industri.bisnis.com/read/20130611/87/144193.
[6] R ukmi, H. S. (2014). Penentuan Pr ior itas Pengembangan Usaha K ecil M enengah K reatif Unggulan B er basis Per tanian di K abupaten B andung B ar at M enggunak an A nalytical H ier ar chy Pr ocess. Prosiding Seminar Nasional T eknoin Yogyakarta. Universitas I slam I ndonesi a Y ogyak ar ta, 129-137.
[7] Sandriana, N., Hakim, A ., dan Saleh C . (2015). Strategi Pengembangan Produk Unggulan Daerah Berbasi s K l aster di K ota Malang. J urnal Reformasi, ISSN 2088-7469, 5 (1), 89-100. [8] Soetarto, M. A ., dan Mabruroh ( 2011). Produk Unggulan dan Nilai PA D: K asus di K abupaten
Sukoharjo, J awa T engah. Proceeding Seminar Nasi onal Ilmu E konomi Terapan, F akultas E konomi UNIMUS , Solo.