KOLOQIUM
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Dalam
Mata Kuliah Seminar Fisika
Oleh
RIZQA SITORUS NIM: 0906103030006
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
ABSTRAK
Bila suatu zat dipanaskan maka molekul-molekulnya akan bergetar lebih cepat dan amplitudo getaran akan bertambah besar. Karena molekul penyusun zat cair lebih renggang maka molekulnya lebih cepat bergetar dan jarak antara molekul benda menjadi lebih besar sehingga terjadilah pemuaian zat cair. Berdasarkan uraian tersebut penulis melakukan penelitian untuk mengukur koefisien muai volum zat cair. Adapun zat yang akan diselidiki ialah zat cair berupa air yang mengalami kenaikan temperatur di atas 40C dan etanol. Langkah yang dilakukan penulis ialah melakukan pengukuran koefisien muai volum dengan menggunakan alat yang disebut dengan kolom berimbang. Kolom berimbang merupakan dua bejana (tabung) dari gelas yang dihubungkan dengan pipa kapiler. Kedua tabung di isi dengan zat cair yang sama dan temperatur keduanya dibuat tidak sama, sehingga mempengaruhi ketinggian zat cair pada kedua bejana. Perbedaan temperatur dan ketinggian zat cair pada kedua kolom (tabung) ini dimanfaatkan oleh penulis untuk menyelidiki besarnya koefisien muai volum zat cair. Hasil dari penelitian ini akan dibandingkan dengan nilai koefisien zat cair yang ada pada literatur. Ternyata diperoleh besar koefisien muai volum zat cair untuk air, secara eksperimen sebesar 2,20 x 10-4/0C dan secara teori sebesar 2,01 x 10-4 /0C sedangkan untuk etanol secara eksperimen diperoleh koefisien muai volum sebesar 7,22 x 10-4/0C dan secara teori sebesar 7,50 x 10-4/0C. Melihat hasil yang diperoleh dari eksperimen tidak berbeda jauh dengan yang ada pada teori, tentunya kolom berimbang dapat digunakan untuk mengukur koefisien muai volum zat cair.
iv Puji beserta syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, shalawat dan salam
kepada Nabi Mumammad SAW atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga
makalah yang berjudul “Pengukuran Koefisien Muai Volum Zat Cair dengan
Metode Kolom Berimbang” ini dapat diselesaikan.
Dalam penyelesaian penulisan makalah ini, penulis mendapat bimbingan,
pengarahan, dan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu, melalui kata pengantar
ini disampaikan ungkapan rasa terima kasih kepada Drs. Abdul Hamid, M.Si, selaku
pembimbing yang selama ini dengan penuh keikhlasan dan sungguh-sungguh telah
memotivasi dan membimbing penulis sehingga makalah ini dapat diselesaikan
dengan baik.
Segala usaha telah dilakukan untuk menyempurnakan makalah ini. Namun,
penulis menyadari bahwa dalam keseluruhan penyajianya bukan tidak mustahil dapat
ditemukan kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran
yang dapat dijadikan masukan guna perbaikan dimasa yang akan datang.
Darussalam, 17 Juni 2013
v
2.5 Hubungan Pemuaian dan Tekanan ... 12
2.6 Kolom Berimbang ... 14
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian... 15
vi 5.2 Saran ... 24
vii DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
Gambar 2.1 Kolom air setinggi h dengan luas penampang A... 6
Gambar 2.2 Bejana berhubungan ... 12
Gambar 3.1 Rancangan alat eksperimen ... 16
Tabel 2.1 Koefisien muai volum zat cair ... 11
Tabel 3.1 Hubungan antara temperatur dan tinggi zat cair ... 17
Tabel 4.1 Hasil pengukuran koefisien muai volum air ... 18
Tabel 4.2 Hasil pengukuran koefisien muai volum Etanol ... 18
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fisika merupakan ilmu yang mempelajari struktur materi dan energi serta
keterkaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu fisika diawali dengan mengamati
alam, tetapi hanya duduk di kursi dan menyaksikan gejala alam tidaklah cukup.
Pengamatan gejala alam haruslah disertai dengan data kuantitatif yang diperoleh dari
hasil pengukuran. Menurut Zeamansky (2001:5), “Lord Kelvin, seorang fisikawan
mengatakan bahwa apabila kita dapat mengukur apa yang sedang kita bicarakan dan
menyatakan dengan angka-angka berarti kita dapat mengetahui apa yang sedang kita
bicarakan”.
Dalam mempelajari fisika kita menemukan banyak sekali besaran. Besaran
merupakan sesuatu yang dapat diukur dan dapat dihitung. Besaran-besaran itu selalu
dapat dinyatakan dalam kuantitas, sehingga fisika tidak terlepas dari persoalan
mengukur dan menghitung. Akibatnya matematika dalam fisika memegang peranan
yang sangat penting. Adapun salah satu besaran yang dapat dihitung dan diukur ialah
temperatur (Mirza 2007:6).
Temperatur merupakan ukuran panas atau dinginnya suatu benda. Secara lebih
tepat, temperatur merupakan ukuran energi kinetik molekular internal rata-rata sebuah
benda. Banyak sifat zat yang berubah terhadap temperatur. Sebagai contoh sebagian
Zat tersusun atas atom. Kumpulan atom-atom membentuk molekul.
Molekul-molekul pembentuk zat senantiasa bergerak. Jika zat dipanaskan, gerakan Molekul-
molekul-molekulnya makin cepat. Hal tersebut menyebabkan terjadinya dorongan antara satu
molekul dan molekul yang lain sehingga jarak antar molekulnya menjadi lebih besar.
Molekul-molekul akan menempati ruang yang lebih besar, peristiwa ini disebut
pemuaian.
Zat cair memiliki sifat dimana molekul-molekul penyusunnya lebih renggang
dibandingkan dengan zat padat. Untuk itu, pemuaian pada zat cair tentunya lebih besar
dibandingkan dengan zat padat. Hal tersebut dikarenakan, bila suatu zat dipanaskan
maka molekul-molekulnya akan bergetar lebih cepat dan amplitudo getaran akan
bertambah besar. Karena molekul penyusun zat cair lebih renggang maka molekulnya
lebih cepat bergetar dan jarak antara molekul benda menjadi lebih besar sehingga
terjadilah pemuaian zat cair (Kamajaya 2001:227).
Air merupakan salah satu contoh suatu zat yang apabila dipanaskan akan
mengalami pemuaian. Akan tetapi pada temperatur 00C sampai 40C air akan mengalami
penyusutan bila dipanaskan atau diberi kalor. Sebagaimana yang dijelaskan oleh
Zeamansky (2001:465), “ Air, pada rentang 00C sampai 40C, volumenya menyusut
seiring kenaikan temperatur. Pada rentang ini koefisien ekspansi volume adalah negatif.
Di atas 40C, air berekspansi saat dipanaskan”.
Sifat zat cair yang mengalami pemuaian dimanfaatkan untuk mengetahui besar
koefisien muai volum zat cair. Menurut Yudyanto (1997) sebagai peneliti koefisien muai
3
tetapi memiliki ketelitian yang cukup tinggi dapat digunakan untuk mengukur koefisien
muai volum zat cair”.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dengan
judul Pengukuran Koefisien Muai Volum Zat Cair Dengan Metode Kolom
Berimbang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi
rumusan masalah adalah:
1. Apakah metode kolom berimbang dapat digunakan untuk menghitung koefisien
muai volum zat cair?
2. Bagaimana hasil pengukuran besar koefisien muai volum zat cair dengan
menggunakan metode kolom berimbang terhadap tabel tetapan koefisien muai
volum zat cair yang ada pada literatur?
1.3 Tujuan Penelitan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi tujuan dari peneliti
adalah :
1. Untuk mengetahui bahwa metode kolom berimbang dapat digunakan untuk
2. Untuk membandingkan besar koefisien muai volum zat cair yang di dapat dari hasil
praktikum dengan tabel tetapan koefisien muai volum zat cair yang ada pada
literatur.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagi penulis untuk membandingkan besar koefisien muai zat cair dengan
menggunakan metode kolom berimbang dengan koefisien muai zat cair pada
literatur.
2. Bagi pembaca untuk menambah wawasan tentang cara mengukur besar koefisien
muai zat cair.
1.5 Pembatasan Masalah
Dalam rangka untuk mencapai tujuan penulisan dari makalah ini maka penulis
perlu membatasi masalah yang akan dibahas agar makalah ini dapat tersusun secara
sistematis. Adapun masalah yang dibahas dalam penulisan makalah ini adalah hanya
koefisien muai zat cair yang berupa air yang mengalami kenaikan temperatur dari
5 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1Temperatur
Temperatur merupakan ukuran panas atau dinginnya suatu benda. Pada
hakikatnya, temperatur adalah ukuran energi kinetik rata-rata yang dimiliki oleh
molekul-molekul suatu benda. Pada saat kita memanaskan atau mendinginkan suatu
benda sampai pada temperatur tertentu, beberapa sifat fisik benda tersebut berubah
(Tipler 1998:561)
Sifat-sifat benda yang bisa berubah akibat adanya perubahan temperatur benda
disebut sifat termometrik. Contoh sifat termometrik tersebut antara lain perubahan
panjang logam, volume zat cair, hambatan listrik suatu kawat, tekanan dan volume gas,
serta warna filamen lampu pijar. Dengan demikian, perubahan suatu sifat termometrik
menunjukkan adanya perubahan temperatur suatu benda. Berdasarkan sifat termometrik
tersebut kita dapat membuat alat yang digunakan untuk mengukur temperatur suatu
benda, yang disebut termometer.
Ada banyak thermometer, tapi cara kerjanya selalu bergantung pada beberapa
sifat materi yang berubah terhadap temperatur. Untuk mengukur temperatur secara
kuantitatif, perlu didefenisikan semacam skala numerik. Skala yang paling banyak
dipakai sekarang adalah skala celcius, kadang-kadang disebut centigrade. Skala yang
2.2Tekanan
Tekanan didefenisikan sebagai gaya per satuan luas. Jika gaya sebesar F
bekerja merata dan tegak lurus pada suatu permukaan yang luasnya A, maka tekanan P
pada permukaan dirumuskan sebagai
Dalam fluida, konsep tekanan memegang peranan penting. Gaya ke atas yang
timbul pada benda yang tercelup disebabkan adanya tekanan dalam fluida. Tekanan
yang dihasilkan oleh fluida menyebar ke segala arah. Fluida yang ada di sekitar kita
selalu mengalami pengaruh gaya gravitasi. Pada setiap bagian zat cair bekerja gaya
gravitasi yang arahnya ke bawah seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.1.
7
Untuk cairan seperti air yang kerapatannya konstan dimana-mana, tekanan
bertambah linier dengan ke dalaman. Kita dapat melihat ini secara mudah dengan
memperhatikan kolom cairan setinggi h dengan luas penampang A yang ditunjukkan
pada gambar 2.1. Tekanan di dasar kolom harus lebih besar dari tekanan di bagian atas
kolom untuk menopang berat zat cair secara keseluruhan (Tipler 1998:390). Massa
kolom cairan ini ialah :
Dan beratnya adalah
Jika Po adalah tekanan di bagian atas dan P adalah tekanan di dasar, maka gaya
neto ke atas yang disebabkan oleh beda tekanan ini ialah PA-P0A. dengan membuat gaya
ke atas neto ini sama dengan berat kolom cairan, kita dapatkan
Atau
Kenyataaan bahwa tekanan pada kedalaman h lebih besar daripada bagian
daripada tekanan dibagian atas sejumlah berlaku untuk cairan dalam bejana apapun,
tak bergantung pada bentuk bejana. Selanjutnya, tekanan adalah sama di setiap titik pada
2.3 Pemuaian
Efek-efek yang lazim dari perubahan temperatur ialah perubahan ukuran dan
perubahan keadaan bahan-bahan. Bila temperatur dinaikkan maka jarak rata-rata
diantara atom akan bertambah, yang mengakibatkan suatu ekspansi dari seluruh benda
tersebut. Perubahan setiap dimensi linear seperti panjangnya, dan lebarnya dinamakan
ekspansi linear (Halliday, 1985:709).
Zat tersusun atas atom, kumpulan atom-atom membentuk molekul.
Molekul-molekul pembentuk senantiasa bergerak dan menimbulkan gaya tarik menarik. Jika zat
dipanaskan, gerakan molekul-molekulnya makin cepat. Hal tersebut menyebabkan
terjadinya dorongan antara satu molekul dengan molekul yang lain sehingga jarak antar
molekulnya menjadi lebih besar. Molekul-molekul tersebut akan menempati ruang yang
lebih besar. Peristiwa tersebut dinamakan pemuaian (Kamajaya 2007:227).
Sebaliknya, jika suatu zat didinginkan, gerakan molekul-molekulnya menjadi
lebih lambat. Gaya tarik menarik antar molekulnya menjadi lebih besar sehingga jarak
antar molekulnya menjadi kecil. Zat tersebut mengalami penyusutan. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa pada umumnya semua zat jika dipanaskan akan memuai dan jika
didinginkan akan menyusut.
Secara umum bentuk suatu materi dapat dibedakan atas padatan, cairan dan gas.
Jika sebuah gaya diberikan pada benda padat, benda padat cenderung mempertahankan
bentuk dan ukurannya. Jika gaya ini diberikan pada zat cair, maka zat cair akan
9
bentuk maupun volume yang tetap, gas akan menyebar memenuhi tempatnya (Giancoli
2001:324).
Besar pemuaian sebuah benda bergantung pada jenis zat penyusun benda, ukuran
awal benda, dan besarnya kenaikan temperatur benda tersebut. Pemuaian zat padat lebih
kecil dibandingkan zat cair. Demikian juga jika dibandingkan dengan gas. Pemuaian gas
lebih besar dibandingkan pemuaian pada zat padat dan zat cair. Jika pemuaian zat padat
tidak diberi sedikit ruang, pertambahan panjang dari zat padat akan memiliki gaya
dorong yang sangat besar. Sebagai contoh, jika sambungan satu rel dengan rel yang lain
pada rel kereta api tidak diberikan celah (jarak) saat terjadi pemuaian, rel tersebut akan
melengkung. Lengkungan tersebut terjadi akibat dari daya dorong pemuaian.
2.4 Pemuaian Zat Cair
Secara umum dapat dikatakan bahwa zat akan mengalami pemuaian jika
dipanaskan. Namun, pemuian dan penyusutan pada zat seperti yang telah dijelaskan ,
tidak berlaku sepenuhnya pada air dan bismuth. Sebagai contoh, volume air akan
menyusut jika temperaturnya dinaikkan dari 00C sampai 40C. Peristiwa tersebut
dinamakan anomali. Di atas temperatur 00C sampai 40C air memenuhi hukum pemuaian.
Jika air pada temperatur 00C dipanaskan, kenaikan temperatur akan
mengakibatkan penyusutan volume air hingga pada temperatur 40C jika air tersebut terus
dipanaskan, air pun akan memuai, seperti lazimnya zat-zat yang lain. Bagaimana kondisi
es dan air pada temperatur 00C untuk massa yang sama? Volume es akan lebih besar
massa jenis air karena massa jenis es berbanding terbalik dengan volume untuk massa
yang sama (Young 2007:465).
Terjadinya peristiwa anomali air atau kelainan pada air dapat diterangkan dengan
mengamati bangun Kristal es. Hasil pengamatan terhadap Kristal es menunjukkan
bahwa kedudukan molekul H2O cukup teratur dengan struktur segi enam (texagonal),
struktur Kristal demikian menyebabkan molekul-molekul es menempati ruang yang
lebih besar sehingga massa jenisnya mengecil. Pada temperatur 00C sampai 40C, struktur
Kristal es terpecah. Akibat semua molekul air mengalami perubahan struktur seperti ini,
gerakan molekul yang satu menakan molekul yang lain. Oleh karena itu, volume pada
temperatur tersebut mengecil (Kamajaya 2007:230).
Pada molekul H2O dalam bentuk zat cair, hasil penelitian menunjukkan susunan
molekul-molekulnya lebih rapat dibandingkan dalam bentuk es. Selain
rapat,molekul-molekul ini dapat bergerak sehingga dapat menempati ruang yan kosong yang ada. Oleh
karena itu kerapatan air lebih besar dibandingkan dengan es. Sehingga es akan terapung
di air.
Peningkatan temperatur umumnya menimbulkan ekspansi volume, baik pada
bahan padat atupun cair. Seperti pada pemuaian linear, percobaan menunjukkan bahwa
jika perubahan temperatur tidak terlalu besar (kurang dari 100 0C, atau di
sekitarnya), kenaikan volume dapat dianggap berbanding lurus dengan perubahan
temperatur dan volume awal V0 :
11
Atau
[ ]
menyatakan sifat pemuaian volume pada bahan tertentu, disebut sebagai
koefisien pemuaian volume. Satuan adalah K-1 atau (C0)-1. Seperti pada pemuaian
linear, berubah terhadap temperatur, dan persamaan (2.5) adalah hubungan yang
disederhanakan dan hanya berlaku untuk perubahan temperatur yang kecil (Young &
Freedman 2007:463).
Beberapa nilai pada temperatur ruang dijabarkan pada tabel (2.1).
Tabel 2.1 Koefisien muai volume zat cair
NO Jenis Zat Cair Koefisien Muai Volum (/0C)
Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya, bahwa untuk menghitung pemuaian
volum zat cair dapat menggunakan persamaan 2.5 sebagai berikut:
[ ]
Apabila pemuaian volume yang diakibatkan oleh perubahan temperatur dikaitkan
pada ketergantungan massa jenis zat cair didapatkan persamaan sebagai berikut:
Kembali mengingat persamaan (2.4). Persamaan tersebut menunjukkan bahwa
tekanan yang ditimbulkan oleh zat cair hanya bergantung pada massa jenis dan
kedalaman saja. Jadi bentuk bejana tidak mempengaruhi tekanan, artinya tekanan tetap
sama disetiap titik yang mempunyai kedalaman yang sama, apapun bentuk atau ukuran
bejananya. Perhatikan gambar berikut :
Gambar 2.2 Dua tabung berisi zat cair yang sama, dengan temperatur yang
berbeda dihubungkan dengan pipa kapiler.
Gambar 2.2 memperlihatkan dua tabung A dan B yang dihubungkan dengan
sebuah pipa kapiler yang fungsinya untuk memperlambat laju aliran antara kedua tabung
tersebut. Tekanan di titik A dan B masing-masing diberikan oleh hubungan :
Menurut hukum pokok hidrostatika untuk bejana berhubungan tekanan pada titik
A sama dengan tekanan di titik B (PA = PB) sehingga persamaan diatas menjadi :
13
Bila persamaan (2.6) dihubungkan dengan persamaan (2.8), maka diperoleh
hubungan
[ ] [ ]
[ ]
[ ]
Persamaan (2.9) memberikan petunjuk cara mengukur koefisien muai ruang
suatu zat cair. Dengan memvariasikan temperatur zat cair (t2 dan t1) kemudian mengukur
beda ketinggian zat cair pada kedua tabung , maka dapat dihitung dengan
persamaan tersebut (Yudyanto, 1997).
2.6 Kolom Berimbang
Dalam menentukan koefisien muai ruang zat cair digunakan suatu alat ukur yang
disebut dengan kolom berimbang. Adapun yang dimaksud dengan kolom berimbang
ialah dua buah tabung yang memiliki ukuran yang sama dan dihubungkan dengan pipa
kapiler. Selanjutnya ke dalam tabung tersebut di masukkan zat cair sehingga pada kedua
buah tabung memiliki tinggi yang sama.
Dengan menggunakan hukum pokok hidrostatika pada kedua buah tabung
sehingga didapat persamaan 2.9 terhadap kolom berimbang, diharapkan kita dapat
menentukan koefisien muai volum zat cair. Untuk itu diperlukan temperatur yang
Untuk mendapatkan temperatur yang berbeda maka salah satu tabung harus
dipanaskan, pipa kapiler akan memperlambat laju zat cair pada tabung yang tidak di
panaskan sehingga diperoleh temperature yang berbeda. Seiring dengan kenaikan
temperatur maka zat cair akan mengalami pemuaian. Pemuaian yang paling besar
tentunya dialami oleh tabung yang dipanaskan. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat
perbedaan ketinggian zat cair pada kedua buah tabung.
Dengan menggunakan persamaan 2.9 dan temperatur serta ketinggian yang
15 BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisika Prodi pendidikan fisika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini
berlangsung pada tanggal 27 April sampai 3 Juni 2013.
3.2 Alat dan Bahan
5. Batang statif panjang 2 buah
6. Batang statif pendek 1 buah
7. Dasar statif 2 buah
1. Rancang alat kolom berimbang seperti gambar berikut :
Gambar 3.1 Rancangan alat eksperimen
Gantungkan kolom berimbang pada batang statif yang telah disusun.
2. Hubungkan 2 buah sensor temperatur pada xplorer GLX. Agar explorer GLX
mampu membaca 2 temperatur sekaligus tekan menu home dan pilih digit.
Explorer GLX lansung menunjukkan derajat temperatur.
3. Masukkan zat cair kedalam kolom berimbang. Hubungkan ujung sensor
temperatur pada kedua buah tabung, t1 untuk tabung yang tidak dipanaskan dan
t2 untuk tabung yang dipanaskan. Catat suhu dan tinggi mula-mula air sebelum
salah satu tabung dipanaskan. Usahakan agar tinggi dan suhu kedua tabung
bernilai sama. Masukkan hasil pengukuran pada tabel pengamatan
4. Hidupkan pemanas air sehingga uap mengalir pada salah satu tabung. Amati
kenaikan temperatur dan juga tinggi zat cair. Catat untuk temperatur yang
berbeda dan tinggi zat cair yang berbeda. Lakukan langkah ini hingga tiga kali
untuk jenis zat cair yang berbeda.
17
Tabel 3.1 hubungan antara temperatur dan tinggi zat cair
No t0
Setelah semua data pengamatan didapatkan, kemudian dilakukan
pengolahan data untuk mendapatkan hasil tentang percobaan yang telah dilakukan.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk pengolahan data adalah sebagai
berikut:
1. Mengamati kenaikan temperature pada xplorer GLX
2. Mengamati kenaikan zat cair pada kolom berimbang
3. Mengisikan hasil pengamatan pada tabel pengamatan yang sudah disediakan.
4. Menganalisis atau mengolah data berdasarkan persamaan (2.9)
5. Mencari rata-rata dari persamaan 2.9 untuk setiap zat cair.
18 4.1 Tabel Pengamatan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai pemuaian volum zat cair
diperoleh data sebagai beriku:
1. Air
Tabel 4.1. Hasil Pengukuran koefisien muai volum air
No t0
Tabel 4.2. Hasil Pengukuran koefisien muai volum alkohol etil
No t0
volum zat cair dengan menggunakan persamaan 2.9 sebagai berikut :
[ ]
Sehingga
19
Maka untuk masing masing pengamatan diperoleh hasil sebagai berikut
1. Air
[ ]
[ ]
[ ]
[ ]
[ ]
[ ]
[ ]
[ ]
Adapun besar koefisien muai ruang (γ) dari air dapat kita ketahui dari rata
-rata tiga data di atas. Sehingga didapat
∑
Untuk mengetahui ralat kesalahan dari penelitian ini maka kita dapat
menggunakan persamaan berikut :
| |
| |
| |
2. Etanol 96%
[ ]
21
[ ]
[ ]
[ ]
[ ]
[ ]
[ ]
[ ]
Adapun besar koefisien muai ruang (γ) dari etanol dapat kita ketahui dari
rata-rata tiga data di atas. Sehingga didapat
∑
yang ada diliteratur. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel 4 berikut ini.
Tabel 4.3 Perbandingan koefisien muai zat cair dari eksperimen dan teori
23
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa hasil perolehan koefisien
muai volum secara eksperimen dengan literatur tidak jauh berbeda. Hal ini
menunjukkan bahwa kolom berimbang dapat digunakan untuk menentukan koefisien
muai volum suatu zat cair. Adapun data yang diperoleh peneliti untuk
masing-masing zat cair diperoleh sebanyak tiga kali percobaan, yakni dengan tinggi dan
temperatur yang berbeda.
Untuk kesalahan relatif dari hasil pengukuran air diperoleh sebesar 9%.
Kesalahan ini masih dapat diperkecil dengan memperbaiki ketelitian dalam
mengukur temperatur maupun perbedaan ketinggian cairan dari kedua tabung.
Sedangkan untuk etanol diperoleh kesalahan yang relatif kecil yakni 3,7% hal ini
dikarenakan peneliti sudah lebih teliti dalam mengukur temperatur dan mengukur
24 4.1 Simpulan
Dari hasil penelitian di atas mengenai pengukuran koefisien muai volum zat
cair dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Metode kolom berimbang dapat digunakan dalam menghitung koefisien muai
volum zat cair. Hal ini terbukti dari metode kolom berimbang diperoleh nilai
koefisien muai zat cair yang besarnya hampir sama dengan nilai pada literatur.
2. Hasil pengukuran koefisien muai volum zat cair untuk air, secara eksperimen
diperoleh koefisien muai volum sebesar 2,20 x 10-4/0C dan secara teori sebesar
2,01 x 10-4 /0C sedangkan untuk etanol secara eksperimen diperoleh koefisien
muai volum sebesar 7,54 x 10-4/0C dan secara teori sebesar /0C.
4.2 Saran
Pada penelitian ini penulis menyarankan agar ada penelitian tindak lanjut
mengenai pengukuran koefisien muai zat cair dengan jenis zat cair yang berbeda ,
yakni selain air dan etanol. Penelitian hendaknya dilakukan lebih dari tiga kali
pengambilan data. Hal ini dikarenakan dengan jumlah data yang lebih banyak akan
25
DAFTAR PUSTAKA
Giancoli. 2001. Fisika Jilid I. Penerbit Erlangga : Jakarta Halliday, David. 1985. Fisika jilid I. Jakarta : Erlangga
Marcelo Alonso, Edward J. 1998. Dasar-Dasar Fisika Universitas. Jakarta: Erlangga.
Sears, Zemansky.1992. Universitas Physics I. California : Addison Wesley Publishing Company, Inc.
Sutrisno. 1994. Penelitian Eksperimental. ITB. Bandung. Tipler, Paul A. 1998. Fisika Jilid I. Jakarta : Erlangga
Halliday, David. 1985. Fisika jilid I. Jakarta : Erlangga
Marcelo Alonso, Edward J. 1998. Dasar-Dasar Fisika Universitas.Jakarta : Erlangga. Sears, Zemansky.1992. Universitas Physics I. California : Addison Wesley Publishing
Company, Inc.
Sutrisno. 1994. Penelitian Eksperimental. ITB. Bandung. Tipler, Paul A. 1998. Fisika Jilid I. Jakarta : Erlangga
Yudyanto. 1997. Pengukuran Koefisien Muai Ruang Zat Cair Dengan Metode Kolom
LAMPIRAN
Gambar 1. Alat-alat pengukuran koefisien muai volum zat cair