BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Proses Berpikir - BAB II

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

A. Proses Berpikir

Berpikir adalah proses menggunakan dengan sebaik-baiknya

informasi, fakta dan pengalaman yang telah kita miliki. Pada dasarnya

berpikir itu sama dengan melepaskan suatu ide dari serangkaian kata-kata

dan menggabungkannya dengan rangkaian kata-kata lain (Hutabarat,

1995: 112).

James Brever (dalam Wilantara, 2003: 30) mengatakan bahwa

berpikir adalah rangkaian gagasan-gagasan an dalam pengertian yang lebih

sempit, rangkaian gagasan-gagasan yang muncul karena adanya suatu

persoalan.

Santyasa (dalam Widyastuti, 2009: 10) mengatakan bahwa proses

berpikir merupakan seperangkat operasi mental yang meliputi

pembentukan konsep, pembentukan prinsip, pemahaman, pemecahan

masalah, pengambilan keputusan dan penelitian. Proses-proses

pembentukan konsep, pembentukan prinsip, dan pemahaman merupakan

proses-proses pengkonstruksian pengetahuan.

Proses yang harus dilalui dalam berpikir:

1. Pembentukan pengertian

Suatu upaya dalam proses berpikir dengan memanfaatkan sisi ingatan,

(2)

2. Pembentukan pendapat

Merupakan lanjutan berpikir dengan pengkategorian pengertian atas

subjek dan predikat, pemberian kualitas dan kuantitas terhadap

pengertian sehingga benar-benar mengandung arti.

3. Penarikan kesimpulan

Membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat lain. Dari

sifat dan menurut terjadinya, ada tiga macam pembentukan

kesimpulan, yaitu (1) kesimpulan; (2) kesimpulan reduksi; (3)

kesimpulan analogi (Baharuddin, 2009: 46-47).

Menurut Piaget & Inheler (dalam Widyastuti, 2009: 13) ada

beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan berpikir seseorang,

yaitu kematangan, pengalaman, transmisi sosial, dan ekuilibrasi. Faktor

yang mempengaruhi perkembangan berpikir yang pertama adalah

kematangan. Terkait dengan kematangan, Piaget berpendapat bahwa

keturunan yang spesifik memberikan perangkat struktur fisik yang berbeda

pada anak, yang akan mempengaruhi perkembangan kognisinya.

Faktor yang kedua adalah pengalaman. Menurut Piaget pengalaman

adalah kontak dengan lingkungan. Ada dua pengalaman menurut Piaget,

yaitu pengalaman fisik yang terkait dengan perangkat fisik dari

benda-benda dan pengalaman logika-matematis, yaitu pengalaman sebagai

refleksi dari tindakan individu.

Faktor yang ketiga adalah transmisi sosial. Perkembangan berpikir

(3)

memungkinkan anak untuk belajar dari pengalaman orang lain, penjelasan

orang tua, hasil membaca buku, ajaran guru, hasil diskusi dengan teman

atau imitasi anak terhadap model.

Faktor yang keempat adalah ekuilibrasi. Ekuilibrasi merupakan

proses pengamatan diri yang dilakukan anak untuk berkembang.

B. Kemampuan Berpikir Formal

Piaget (dalam Desmita, 2009: 101 ) meyakini bahwa seorang anak

berkembang melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga

masa dewasa. Dalam hal ini Piaget membagi tahap perkembangan kognitif

manusia menjadi 4 tahap, yaitu tahap sensori-motorik (usia 0 sampai 2

tahun), tahap pra-operasional (usia 2sampai 7 tahun), tahap

konkret-operasional (usia 7 sampai 11 tahun), dan tahap konkret-operasional formal (usia

11 tahun ke atas).

Tahap operasional formal merupakan periode terakhir

perkembangan kognitif dalam teori perkembangan Piaget. Karakteristik

tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak,

menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang

tersedia.

Pada tahap ini anak yang menginjak usia remaja sudah dapat

berpikir secara abstrak dan hipotesis, sehingga ia mampu memikirkan

sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang bersifat abstrak.

(4)

mampu memahami waktu historis dan ruang luar angkasa. Mereka dapat

menggunakan simbol untuk menyimbol.

Remaja pada tahap operasional formal dapat meninterretasikan apa

yang telah mereka pelajari dengan tantangan dimasa mendatang dan

membuat rencana untuk masa depan. Mereka juga sudah mampu berpikir

secara sistematis, mampu berpikir dalam kerangka apa yang mungkin

terjadi, bukan hanya apa yang terjadimereka memikirkan semua

kemungkinan secara sistematis untuk memecahkan permasalahan.

1. Pengertian Kemampuan Berpkir Formal

Piaget (dalam Towne, 2009: 16) menyimpulkan “formal thinkers can dissociate general ideas or concepts from the contexts in which they were learned and therefore specific concrete case are not necessary to trigger the recall and use of these general principles.. Formal thinker are also able to intellectually manipulate concepts by integrating them into universal generalizations or by taking these generalizations back to first principles. Furthermore, formal opertional thinking is hypothetico-deductive; the students is able to conceive new ideas, concepts, hypotheses or principles, explore their implications and then test for their validity”.

Pada tahap perkembangan operasional formal, terdapat beberapa

jenis kemampuan berpikir yang menjadi ciri kognisi tahap ini. Menurut

Lawson (dalam Widyastuti; 2009: 16) pola pikir pada tahapan

operasional formal meupakan pola yang digunakan dalam pengujian

hipotesis kausal alternatif, yang meliputi jenis-jenis kemampuan

(5)

a. Berpikir kombinatorial

Dalam konteks berpikir ini, seseorang dapat

mempertimbangkan berbagai hubungan yang mungkin yang

menjadi bagian komplemen dalam sebuah eksperimen.

b. Identifikasi dan kontrol variabel

Identifikasi dan kontrol variabel dibutuhkan dalam

perumusan dan pengujian hipotesis. Pada perumusan hipotesis

diperlukan kemampuan yang baik dalam mepertimbangkan

berbagai variabel yang bisa saja muncul atau dimunculkan.

Sedangkan pada pengujian hipotesis, kemampuan mengendalikan

variabel yang dipresentasikan melalui rancangan pengujian

merupakan hal mendasar dan harus dimiliki.

c. Berpikir proporsional

Berpikir secara proporsional diperlukan untuk

menginterpretasikan hubungan antar varibel, dimana

interpretasikan yang dihasilkan haruslah didasarkan pada porsi tiap

varibel yang dimunculkan.

d. Berpikir probabilitas

Kemampuan berpikir probabilitas menjadi penting dimiliki

karena berbagai fenomena alam yang menjadi dasar lahirnya

aktifitas ilmiah.Memiliki karakter probabilitas, artinya semua hal

(6)

pertimbangan probabilistik juga diperlukan dalam upaya menyusun

dan menjelaskan kesimpulan.

e. Berpikir korelasional

Kemampuan berpikir korelasional dibutuhkan dalam

memahami penyebab maupun berbagai hubungan yang dapat

muncul pada fenomena yang diamati melalui perbandingan

terhadap fenomena lain.

2. Pengukuran Kemampuan Berpikir Formal

Lawson (dalam Widyastuti; 2009: 18) mengemukakan bahwa

berpikir merupakan proses yang bisa jadi tidak terbatas namun dapat

diukur. Mengukur kemampuan berpikir formal dapat dilakukan dengan

melihat pola pikirnya. Dengan demikian berpikir logis sebagai

kerangka berpikir formal harus menjadi objek pertama dalam

pengukuran kemampuan berpikir formal seseorang.

Tobin & Capie (dalam Valanides, 1997: 174) mengemukakan

untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir formal dapat

menggunakan Test of Logical Thinking (TOLT). TOLT berisi

seperangkat pertanyaan yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya

kelima variabel kemampuan berpikir formal dituangkan dalam sepuluh

pertanyaan yang terdiri dari delapan pertanyaan pilihan ganda

(7)

C. Pembelajaran Berbasis Masalah

1. Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah

Menurut Soekamto model pembelajaran adalah kerangka

konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam

mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar

tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang

pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar

mengajar (Trianto, 2009:23).Jadi, model pembelajaran pada dasarnya

merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai

akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model

pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu

pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model

pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang

membutuhkan penyelidikan autentik yakni penyelidikan yang

membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan yang nyata

(Trianto, 2009: 91).

Menurut Ratumanan pembelajaran berdasarkan masalah

merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir

tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses

informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan

(8)

Menurut Arends pembelajaran berbasis masalah merupakan

suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan

permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun

pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan

keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan

kemandirian dan percaya diri (Trianto, 2009: 92).

Nurhadi, dkk (2004:56) mendefinisikan pembelajaran berbasis

masalah adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan

masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar

tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta

untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi

pelajaran.

2. Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah

Langkah-langkah model pembelajaran berbasis masalah sebagai

berikut:

a. Guru mempersiapkan dan memberikan masalah kepada siswa.

b. Membentuk kelompok kecil, masing-masing kelompok siswa

mendiskusikan masalah tersebut dengan memanfaatkan dan

merefleksikan pengetahuan/keterampilan yang mereka miliki.

Siswa juga membuat rumusan masalahnya dan membuat hipotesis.

c. Siswa mencari informasi dan data yang berhubungan dengan

(9)

d. Siswa berkumpul dalam kelompoknya untuk melaporkan data apa

yang sudah diperoleh dan mendiskusikan dalam kelompoknya

berdasarkan data-data yang diperoleh tersebut. Langkah ini

diulang-ulang sampai memperoleh solusinya.

e. Kegiatan diskusi penutup sebagai kegiatan akhir, apabila proses

sudah memperoleh solusi yang tepat.

Dalam pelaksanaan model pembelajaran ini diharapkan

memanfaatkan sumber-sumber belajar yang relevan dengan

pemecahan masalah. Dalam implementasinya, bisa menggunakan

berbagai pendekatan atau metode lainnya. Model ini juga merangsang

berpikir siswa dan mampu mengembangkan kemandirian belajar

sekaligus belajar bersama dengan kelompoknya.

3. Keunggulan Pembelajaran Berbasis Masalah

Keunggulan model pembelajaran pembelajaran berbasis masalah

adalah:

a. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk

lebih memahami isi pelajaran.

b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta

memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi

siswa.

c. Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai

(10)

d. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer

pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan

nyata.

e. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk

secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan

formal telah berakhir.

4. Kelemahan Pembelajaran Berbasis Masalah

Kelemahan model pembelajaran pembelajaran berbasis masalah

adalah :

a. Manakala siswa tidak memilki minat atau tidak mempunyai

kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan,

maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.

b. Keberhasilan pembelajaran ini membutuhkan cukup waktu untuk

persiapan.

c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahakan

masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar

apa yang mereka ingin pelajari.

D. Hasil Belajar

1. Pengertian Belajar

Pengertian belajar menurut Slameto (2010: 8) ialah suatu proses

yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya

(11)

Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik

sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan

dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Dengan

demikian ada ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian

belajar.

a. Perubahan terjadi secara sadar

Ini berarti bahwa seseorang yang belajar akan menyadari

terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan

telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.

b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri

seseorang berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu

perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya

dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar

berikutnya.

c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu

senantiasa bertambah dan tertuju untuk memeperoleh sesuatu yang

lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha

belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan

yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa

perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena

(12)

d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara

Perubahan yang bersifat sementara atau temporer terjadi

hanya untuk beberapa saat saja tidak dapat digolongkan sebagai

perubahan dalam arti belajar. Perubahan yang terjadi karena proses

belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahwa tingkah

laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.

e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah

Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena

ada tujuan yang akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada

perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Dengan

demikian perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah

kepada tingkah laku yang telah ditetapkan.

f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui proses

belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika

seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami

perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap,

keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.

2. Hakikat dan Bukti Belajar

Nana Sudjana (2010: 3) menyatakan bahwa hasil belajar siswa

pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku siswa. Ia

menambahkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan

(13)

Horward Kingsley (dalam Sudjana, 2010: 22) membagi tiga

macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b)

pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing

jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan

dalam kurikulum. Sedangkan Gagne (dalam Sudjana, 2010: 22)

membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informasi verbal, (b)

keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e)

keterampilan motoris. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan

tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional,

menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang

secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah

kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang

terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman,

aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut

kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk

kognitif tingkat tinggi.

Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima

aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi,

dan internalisasi.

Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar

keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah

(14)

dasar, (c) kemampaun konseptual, (d) keharmonisan atau ketepatan,

(e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan

interpretasi.

E. Materi Alat-alat Optik 1. Mata

Sebagai salah satu alat optik, bagian-bagian mata bekerja

berdasarkan pada sifat-sifat cahaya. Perhatikan gambar bagian-bagian

mata berikut ini!

Keterangan:

1. Kornea, merupakan lapisan terluar dari mata yang bersifat kuat dan tembus cahaya.

2. Aqueous humor, merupakan cairan di antara kornea dan lensa mata.

3. Lensa kristalin, lensa mata yang berperan penting mengatur letak bayangan agar tepat jatuh di bintik kuning.

4. Iris, selaput yang membentuk celah lingkaran di tengah-tengahnya. Iris memberikan warna pada mata dan berfungsi untuk mengatur besar-kecil pupil untuk membatasi jumlah cahaya yang masuk. 5. Pupil, celah yang dibentuk oleh iris berfungsi sebagai tempat

masuk cahaya.

6. Otot mata, otot yang menyangga lensa kristalin dan mengatur besar kecilnya lensa.

(15)

8. Retina, lapisan pada dinding belakang bola mata tempat bayangan dibentuk.

9. Bintik kuning, lengkungan pada retina yang merupakan bagian yang paling peka pada retina.

10. Syaraf optik, penerus rangsang cahaya dari retina ke otak.

Pada saat mata melihat sebuah benda yang dekat, lensa mata

akan berkontraksi menjadi lebih cembung. Sedangkan pada saat melihat

benda-benda di kejauhan, lensa mata berelaksasi sehingga lensa mata

menjadi semakin pipih. Hal itu dilakukan agar bayangan benda tepat

jatuh di daerah sekitar bintik kuning pada retina. Kemampuan lensa

mata untuk berkontraksi dan berelaksasi disebut daya akomodasi mata.

Agar objek dapat terlihat jelas oleh mata, letak objek harus pada daerah

penglihatan mata, yaitu daerah antara titik dekat dan titik jauh mata

tersebut.

Titik dekat (punctum proksimum = pp) ialah jarak yang paling

dekat yang dapat dilihat dengan jelas oleh mata dengan akomodasi

maksimum. Titik jauh(punctum remotum = pr) ialah jarak yang paling

jauh yang dapat dilihat dengan jelas oleh mata tanpa berakomodasi.

Pada jarak ini lensa mata dalam keadaan sepipih-pipihnya.

a. Mata normal (Emetropi)

Untuk mata normal, mempunyai titik dekat kurang lebih 25

sentimeter dan titik jauh tak terhingga (jauh sekali).

(16)

Cacat mata yang diderita oleh seseorang dapat disebabkan oleh

kerja mata yang terlalu forsir atau cacat sejak lahir. Ada tiga cacat

mata, yaitu rabun jauh, rabun dekat, dan mata tua.

1) Rabun jauh ( Miopi )

Rabun jauh adalah cacat mata tidak dapat melihat dengan

jelas benda-benda yang jauh letaknya. Miopi terjadi karena

bentuk bola mata terlalu cembung dan tidak dapat memipih.

Akibatnya, bayangan benda jatuh di depan retina. Agar bayangan

jatuh di retina sinar yang masuk pada lensa mata harus menyebar.

Untuk itu di depan mata harus diberi lensa cekung (divergen).

Jadi, untuk mata miopi dapat ditolong dengan kacamata berlensa

cekung (negatif).

Rumus menghitung kekuatan lensa rabun jauh:

P =− 1

PR

Keterangan :

P = Kekuatan Lensa ( D )

PR = Titik terjauh mata miopi (m)

2) Rabun dekat ( Hipermetropi )

(17)

Rabun dekat adalah cacat mata tidak dapat melihat dengan

jelas benda-benda yang dekat letaknya. Hipermetropi terjadi

karena bentuk bola mata terlalu pipih sehingga bayangan jatuh di

belakang retina. Agar bayangan jatuh di retina sinar yang masuk

pada lensa mata, titik dekat harus lebih mengumpul. Untuk itu di

depan mata harus diberi lensa cembung (konvergen). Jadi, untuk

mata hipermetropi dapat ditolong dengan kacamata berlensa

cembung.

Rumus menghitung kekuatan lensa rabun dekat :

P = 4−

1

PP

Keterangan :

P = Kekuatan Lensa ( D )

PP = Titik terdekat mata hipermetropi (m)

3) Rabun tua (Presbiopi)

Rabun tua adalah cacat mata yang disebabkan usia tua

sehingga daya akomodasi mata sudah berkurang. Rabun tua

disebabkan karena menurunnya daya akomodasi mata. Daya

(18)

yang sudah melemah karena usia tua. Oleh karena itu, mata tua

harus ditolong dengan kacamata berlensa rangkap (bivokal).

4) Astigmatisme

Astigmatisme adalah cacat mata yang terjadi karena bentuk

bola mata yang melengkung (tidak sferis) sehingga berkas cahaya

yang masuk ke mata tidak terfokus di satu titik. Seorang penderita

astigmatis tidak dapat membedakan garis tegak (vertikal) dan

garis mendatar (horisontal) secara bersamaan. Jika seorang

penderita astigmatis melihat sekumpulan garis vertikal dan

horisontal maka garis-garis vertikal akan tampak jelas, sedangkan

garis horisontal akan tampak kabur.

2. Kamera

Kamera merupakan alat yang digunakan untuk menghasilkan

bayangan fotografi pada film negatif. Fungsi bagian-bagian kamera

yaitu :

a. Lensa positif, yaitu bagian dari kamera yangberfungsi untuk

menempatkan bayangan agar jatuh di pelat film.

b. Diafragma, yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur banyak

sedikitnya cahaya yang yang diterima oleh film.

c. Layar shutter, yaitu alat yang berfungsi untuk menutup jalannya

(19)

Adapun pembentukan bayangan pada kamera yaitu:

Sinar yang melalui pusat optik akan diteruskan dan sinar sinar

sejajar akan dibiaskan melalui titik fokus. Bayangan pada kamera

selalu nyata, terbalik, dan diperkecil.

3. Lup

Lup digunakan untuk mengamati benda-benda kecil agar tampak

besar dan jelas. Lup terdiri dari sebuah lensa cembung. Ada dua cara

dalam menggunakan lup, yaitu dengan mata berakomodasi dan dengan

mata tak berakomodasi. Untuk mata yang menggunakan lup dengan

berakomodasi maksimum, bayangan yang terjadi adalah maya, tegak,

lebih besar, dan terletak pada titik dekat mata.

Gambar 2.4 Kamera

(20)

Rumus Perbesaran bayangan pada lup :

M =

Sn

S

dengan:

M = Perbesaran anguler

α = Sudut antara mata dan benda tanpa lup

β = Sudut antara mata dan benda dengan menggunakan lup Sn = titik dekat mata)

S = Jarak antara lensa dengan benda

4.

Mikroskop

Mikroskop adalah alat untuk mengamati benda-benda yang

sangat kecil. Mikroskop memiliki dua lensa cembung, yaitu lensa

objektif dan lensa okuler. Lensa objektif adalah lensa yang dekat

dengan objek atau benda yang akan diamati. Lensa okuler adalah lensa

yang dekat dengan mata pengamat. Jarak antara lensa objektif dan

lensa okuler disebut panjang mikroskop.

Gambar 2.6 Pembentukan bayangan objek dengan akomodasi minimum

(21)

Benda yang akan diamati diletakkan dekat dengan lensa objektif

yang membentuk bayangan nyata, diperbesar, dan terbalik. Bayangan

yang dibentuk lensa objektif merupakan benda untuk lensa okuler dan

bayangan yang dibentuk okuler akan dilihat oleh mata. Bayangan akhir

yang dilihat mata adalah maya, terbalik, dan diperbesar.

a. Mata berakomodasi maksimum

Oleh karena lensa okuler berfungsi sebagai lup, untuk

pengamatan dengan mata berakomodasi maksimum, lensa okuler

diatur demikian agar bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif

jatuh di antara titik 0 dan F lensa okuler.

Perbesaran bayangan :

𝛾 = 𝑀𝑜𝑏 ×𝑀𝑜𝑘

Panjang mikroskop:

𝐿= 𝑠𝑜𝑏′ +𝑠𝑜𝑘

b. Mata tak berakomodasi

Oleh karena lensa okuler berfungsi sebagai lup, untuk

pengamatan dengan mata tak berakomodasi, lensa okuler harus

digeser demikian agar bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif

jatuh pada F (titik fokus) lensa okuler.

(22)

Perbesaran bayangan:

𝛾 =𝑀𝑜𝑏 ×𝑀𝑜𝑘

Panjang mikroskop:

𝐿= 𝑠𝑜𝑏′ +𝑓𝑜𝑘

5. Teropong

Teropong merupakan alat yang digunakan untuk mengamati

benda-benda yang letaknya jauh agar kelihatan lebih dekat dan jelas.

Ada beberapa jenis teropong. Dipandang dari letak objeknya dapat

dibedakan menjadi teropong bintang dan teropong medan.

a. Teropong bintang

Teropong bintang sederhana terdiri dari dua buah

lensabikonveks, yaitu lensa objektif yang dekat ke benda dan lensa

okuler yang dekat ke mata. Benda-benda yang diamati oleh

teropong bintang adalah benda-benda yang sangat jauh (seperti

bulan, planet, bintang, dan sebagainya), karena itu benda ini

dianggap berada di tak terhingga.

(23)

Agar mata tidak berakomodasi, maka bayangan dari lensa objektif

harus berada tepat di titik focus lensa okuler. Hal ini menyebabkan

titik fokus lensa objektif dan titik fokus lensa okuler berimpit.

Rumus menghitung perbesaran dan panjang teropong :

Perbesaran bayangan :

M = ffob ok

dengan:

M = Perbesaran teropong fob = Jarak fokus lensa objektif fok = Jarak fokus lensa okuler

Panjang teropong :

𝑑 = 𝑓𝑜𝑏 +𝑓𝑜𝑘

dengan:

d = Panjang teropong bintang fob = Jarak fokus lensa objekti fok = Jarak fokus lensa okuler

b. Teropong Bumi

Teropong bumi adalah alat optik yang digunakan untuk

melihat benda-benda jauh di permukaan bumi. Prinsip kerja

teropong bumi sama dengan prinsip kerja teropong bintang. Hanya

saja, bayangan yang terbentuk oleh teropong bintang terbalik, dan

hal ini akan menyulitkan jika objek yang diamati berada di bumi.

Karena itu, pada teropong bumi ditambahkan sebuah lensa

Figur

Gambar 2.1  Bagian-bagian mata
Gambar 2 1 Bagian bagian mata . View in document p.14
Gambar 2.2  Titik tangkap mata rabun jauh
Gambar 2 2 Titik tangkap mata rabun jauh . View in document p.16
Gambar 2.3 Titik tangkap mata rabun dekat
Gambar 2 3 Titik tangkap mata rabun dekat . View in document p.17
Gambar 2.4  Kamera
Gambar 2 4 Kamera . View in document p.19
Gambar 2.5 Pembentukan bayangan pada kamera
Gambar 2 5 Pembentukan bayangan pada kamera . View in document p.19
Gambar 2.6   Pembentukan bayangan objek dengan akomodasi minimum
Gambar 2 6 Pembentukan bayangan objek dengan akomodasi minimum . View in document p.20
Gambar 2.7   Pembentukan bayangan objek dengan akomodasi maksimum
Gambar 2 7 Pembentukan bayangan objek dengan akomodasi maksimum . View in document p.20
Gambar 2.8 Pembentukan bayangan dengan akomodasi maksimum
Gambar 2 8 Pembentukan bayangan dengan akomodasi maksimum . View in document p.21
Gambar 2.9   Pembentukan bayangan dengan akomodasi minimum
Gambar 2 9 Pembentukan bayangan dengan akomodasi minimum . View in document p.22

Referensi

Memperbarui...