Teknologi Untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal

215  11 

Teks penuh

(1)
(2)

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Teknologi Untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal

Proyeksi 2035

Edisi 2017

BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

(3)

Teknologi Untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal

Proyeksi 2035

Edisi 2017

ISBN 978-602-410-100-8

Diterbitkan oleh

BPPT PRESS

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Anggota IKAPI (No. 467/DKI/III/2014)

Alamat : Jl. MH Thamrin No. 8, Jakarta Pusat, 13340

Telp.021-3169091, 021-31696067; Fax. 021-3101802 e-mail: bpptpress@bppt.go.id

© Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang

Dilarang memperbanyak isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya dalam bentuk apapun tanpa ijin tertulis dari Penerbit

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 Pasal 44 Tentang Hak Cipta

(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk iru, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(4)

KATA PENGANTAR

Mengawali kata pengantar dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang

Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya sehingga Outlook Teknologi

Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal ini telah

selesai disusun dengan baik.

Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku

dan Obat Herbal disusun dalam rangka memberikan informasi, potret dan proyeksi

kebutuhan teknologi untuk mendukung pengembangan dan penguatan industri obat

herbal nasional dengan merujuk pada data-data dari para narasumber, referensi pustaka

dan publikasi lainnya. Buku ini mengulas kajian dan pemetaan potensi bahan baku obat

herbal dan pengembangan produk serta pasar obat herbal disertai dengan analisis dan

proyeksinya. Kebutuhan akan inovasi teknologi untuk mewujudkan kemandirian dan daya

saing industri obat herbal dimulai dari budidaya tanaman obat, pascapanen dan produksi

simplisia tanaman obat sampai dengan produksi ekstrak, formulasi dan pengujian produk

herbal secara pra klinik dan klinik.

Selain informasi dan proyeksi kebutuhan teknologi, Buku Outlook ini juga

memberikan usulan rekomendasi tentang pengembangan teknologi yang dapat

mendorong pemanfaatan potensi sumber daya tanaman obat melalui budidaya yang

baik, produksi simplisia dan ekstrak yang terstandardisasi serta formulasi dan pengujian

produk herbal yang mengacu kepada regulasi dan standar yang berlaku. Oleh karena itu,

buku ini diharapkan menjadi salah satu rujukan bagi institusi dan industri dalam

pengembangan bahan baku dan produk herbal nasional.

Penghargaan dan terima kasih yang tulus disampaikan kepada semua pihak

yang telah memberikan masukan dan kontribusi dalam penyusunan Buku Outlook

Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal.

(5)

pengembangan bahan baku dan produk herbal guna memperkuat industri bahan baku

dan obat herbal nasional menuju kemandirian dan daya saing industri nasional.

Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang meridhoi semua langkah

menuju kebaikan kita bersama. Aamiin.

Jakarta, Juni 2017

Tim Penyusun

Catatan penyusun :

Pemahaman istilah dan batasan pengertian “obat herbal”

(6)

Kementerian Kesehatan menyusun buku Farmakope Herbal Indonesia (FHI), sedangkan Badan POM mengeluarkan buku Pedoman Uji Klinik Obat Herbal. Pada aspek ekonomi, Kementerian Koordinator Perekonomian memberikan buka panduan pengembangan dengan nama Roadmap Pengembangan Jamu 2011-2025.

Uraian di atas menggambarkan belum adanya kesepakatan dan kesepahaman bersama diantara stakeholder tentang “produk” yang berasal dari tanaman obat dan bahan alam lainnya, baik dari aspek filosofi, batasan pengertian dan keilmuan (body of knowledge) maupun konsep pemanfaatan dan pengembangannya.

Mengacu pada kondisi tersebut, dalam buku outlook ini digunakan :

 Terminologi “obat herbal” dengan pengertian suatu produk atau sediaan yang

mengandung bahan aktif dari tanaman baik berupa ekstrak, fraksi tunggal atau campuran yang mempunyai klaim khasiat tertentu berdasarkan bukti empirik dan atau data penelitian ilmiah.

 Terminologi “ïndustri obat herbal” dengan pengertian suatu sistem proses produksi

dan bisnis serta tatakelola sumberdaya yang berkelanjutan untuk menghasilan produk bahan baku dan produk jadi sediaan obat herbal serta pemasarannya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

(7)

SAMBUTAN

KEPALA BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa Outlook

Teknologi Kesehatan Edisi 2017 telah diselesaikan dengan baik. Saya sampaikan

ucapan selamat dan terima kasih kepada Tim Penyusun dari Pusat Teknologi Farmasi

dan Medika, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT yang telah

berhasil menyusun Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri

Bahan Baku dan Obat Herbal dalam waktu yang relatif singkat.

Outlook Teknologi Kesehatan telah diluncurkan pertama kali sejak tahun 2016,

yang membahas dan memberikan informasi dan dukungan teknologi kepada stakeholder

bidang kesehatan dan masyarakat luas. Selain itu juga menyajikan potret kesehatan

nasional, industri farmasi dan alat kesehatan, yang dilengkapi analisis dan proyeksi

kebutuhan produk dan teknologi kesehatan di masa yang akan datang hingga 2035.

Mengingat lingkup bahasan Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2016 cukup luas, maka

pada Edisi 2017 lebih difokuskan pada bahasan Teknologi untuk Industri Bahan Baku

dan Obat Herbal.

Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku

dan Obat Herbal memberikan informasi yang penting dalam pemanfaatan tanaman obat

dan pengembangan produk obat herbal yang mencakup analisis dan proyeksi kebutuhan

produk dan teknologi untuk mendukung institusi dan industri yang bergerak dalam bidang

pengembangan bahan baku dan obat herbal. Dukungan teknologi sangat diperlukan

untuk menumbuhkan inovasi teknologi di industri obat herbal mulai dari tahap budidaya

tanaman obat, pascapanen, proses ekstraksi, formulai dan pengujian obat herbal untuk

(8)

Saya berharap dengan diterbitkannya buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi

2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal selain menjadi salah satu

luaran kinerja BPPT dalam rangka penguatan peran BPPT di bidang pengkajian dan

penerapan teknologi, juga dapat meningkatkan dan memperkuat sinergi BPPT dalam

melakukan inovasi dan layanan teknologi dengan lembaga terkait dan mitra industri.

Semoga buku ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Jakarta, Juni 2017

Kepala BPPT

(9)

SAMBUTAN

MENTERI NEGARA RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

Bismillahirrohmanirrohiim.

Assalamu’alaikum wr.wb.

Kesehatan merupakan salah satu pilar utama pembangunan nasional, dan saya memahami bahwa dalam melaksanakan pembangunan nasional di bidang kesehatan, banyak tantangan yang dihadapi, di antaranya jumlah penduduk yang terus meningkat, pergeseran demografi dan pola penyakit serta ketergantungan pada impor bahan baku obat dan alat kesehatan. Salah satu tantangan utama dalam menghadapi permasalahan tersebut adalah bagaimana mengurangi ketertinggalan penguasaan teknologi sehingga kemandirian dan daya saing industri kesehatan nasional menjadi semakin kuat. Oleh karenanya, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi senantiasa berkomitmen dan berusaha untuk mengarahkan dan mendorong agar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa ini semakin kuat dan tidak tertinggal serta memajukan kegiatan riset dan mengaplikasikan hasil-hasil riset kepada industri sesuai Rencana Induk Riset Nasional 2017-2045 (RIRN) yang telah kita rinti bersama.

Kesiapan teknologi dan inovasi merupakan dua faktor penting yang harus mendapatkan perhatian serius untuk memperkuat peran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa. Kesiapan teknologi yang tinggi perlu didukung dengan pemilihan jenis teknologi dan cara pengembangannya yang tepat, terarah dan berkelanjutan dengan aplikasi metodologi yang benar. Inovasi teknologi yang diaplikasikan akan menghasilkan tidak hanya output baru, tetapi juga outcome yang berdampak pada penguatan industri nasional. Dengan kata lain, pemilihan dan pengembangan teknologi yang tepat, terarah dan berkelanjutan menjadi kata kunci dalam mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa. Untuk itulah, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sangat mengapresiasi kepada BPPT yang telah melakukan kajian dan analisis kebutuhan dan pengembangan teknologi, khususnya untuk industri kesehatan, secara cermat dan tepat berupa buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal.

Saya berharap agar buku Outlook Teknologi Kesehatan ini dapat menjadi salah satu bahan rujukan dan pertimbangan dalam menentukan program riset prioritas di bidang kesehatan dan obat, khususnya pengembangan bahan baku dan obat herbal, sesuai RIRN. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sangat mendukung upaya penyusunan dan sosialisasi terhadap isi buku Outlook Teknologi Kesehatan ini dan mendorong terus dikembangkannya Konsorsium Riset yang telah terbangun seperti Forum RisetLife ScienceNasional, Konsorsium Riset Vaksin dan Farmasetik Nasional, sehingga ke depan diharapkan sinergi riset di bidang kesehatan dan obat dapat terwujud dan menghasilkan output dan outcome yang mempunyai dampak dalam mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya siang ndutri kesehatan nasional.

(10)

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI

Saya menyambut baik dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang telah menerbitkan

buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri

Bahan Baku dan Obat Herbal.

Buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017 ini merupakan salah satu

bentuk nyata kontribusi BPPT dalam memberikan “warna teknologi”

dalam mendukung dan mendorong pembangunan nasional di bidang

kesehatan. Banyak aspek yang perlu ditingkatkan dalam pelaksanaan

pembangunan kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih tinggi. Selain

infrastruktur dan tersedianya tenaga kesehatan yang profesional, peranan teknologi sangat

diperlukan dalam upaya mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri

kesehatan nasional.

Berkembangnya produk obat, termasuk obat herbal tidak saja penting untuk mendapatkan

perhatian dari kacamata kesehatan nasional, namun juga harus dilihat dalam perspektif

pertumbuhan ekonomi nasional. Berkembangnya industri obat berbasis herbal mengindikasikan

bahwa produk herbal telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Adanya

peningkatan penggunaan produk kesehatan berbasis herbal, termasuk produk dari luar negeri

dalam jumlah yang cukup signifikan yakni antara 15-20% dari total peredaran produk herbal di

Indonesia, memberikan gambaran bahwa masyarakat Indonesia menyukai produk kesehatan

yang berasal dari bahan alam. Oleh karena itu diperlukan teknologi yang tepat dan mampu

(11)

Terjaminnya kualitas, keamanan dan kemanfaatan produk herbal tidak hanya melindungi

kepentingan masyarakat secara luas tapi juga meningkatkan kepercayaan bagi para pengguna

terutama dari kalangan kesehatan. Secara khusus, peran teknologi perlu ditingkatkan dan

dikembangkan dengan serius, berkelanjutan dan lintas sektor terutama terkait dengan tantangan

pada aspek standarisasi, formulasi dan teknologi pembuatan serta keamanan produk.

Kementerian Kesehatan menyadari sepenuhnya bahwa kesehatan merupakan salah satu pilar

utama pembangunan nasional. Industri kesehatan menjadi bagian utama dalam penyediaan

produk-produk kesehatan. Peningkatan pengembangan produk kesehatan dalam negeri dapat

meningkatkan kemandirian dan daya saing industri kesehatan. Oleh karena itu, ketersediaan

teknologi diharapkan menjadi salah satu solusi dan komponen utama dalam mewujudkan

kemandirian dan meningkatkan daya saing industri kesehatan nasional. Sekali lagi saya

mengucapkan selamat dan berharap agar Buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017 ini

bermanfaat serta menjadi acuan teknologi bagi banyak pihak yang terlibat dalam pengembangan

produk herbal.

MENTERI KESEHATAN RI

Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K).

(12)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di

dunia, dimana penggunaan tanaman obat dalam sistem pengobatan masyarakat telah

menjadi budaya pada setiap etnis/suku. Saat ini perkembangan obat herbal telah

mencakup pada segala aspek yang terkait seperti budidaya, pengolahan simplisia dan

bahan baku ekstrak, pengujian farmakologi hingga perkembangan bentuk sediaannya.

Meningkatnya pasar obat herbal nasional maupun dunia, menyebabkan semakin

tingginya permintaan pasar akan produk herbal. Tuntutan sekaligus peluang ini

mendorong perlunya percepatan pengembangan industri herbal nasional sesuai dengan

Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 6 tahun 2016 tentang Percepatan

Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Dalam hal ini, peran teknologi

merupakan salah satu komponen utama dalam meningkatkan daya saing industri dan

upaya mewujudkan kemandirian bangsa.

Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku

dan Obat Herbal ini difokuskan pada teknologi untuk industri herbal. Buku ini merupakan

kajian yang berisi tentang potret, review, kebijakan pemerintah dan proyeksi kebutuhan

teknologi untuk industri obat herbal hingga tahun 2035. Kajian ini juga memperhatikan

profil demografi dan pola penyakit di Indonesia serta kecenderungan berkembangnya

penyakit atau gangguan kesehatan masyarakat global.

Berdasarkan data demografi, penduduk Indonesia tahun 2035 akan mencapai

305,5 juta jiwa. Sementara itu diproyeksikan bahwa pola penyakit di Indonesia akan

mengalami pergeseran, yaitu kelompok penyakit menular mengalami penurunan,

sedangkan kelompok penyakit tidak menular terutama penyakit degeneratif dan penyakit

akibat cedera menunjukkan peningkatan. Diperkirakan permintaan pasar produk herbal

lebih banyak untuk fungsi pencegahan penyakit, peningkatan daya tahan tubuh,

(13)

Pertumbuhan pasar obat herbal nasional pada tahun 2015 sebesar 15 triliun

rupiah, dan diprediksikan hingga tahun 2030 akan meningkat menjadi 30 triliun, sejalan

dengan bertambahnya tingkat kepercayaan penggunaan obat herbal. Konsekuensi dari

peningkatan pasar ini adalah juga peningkatan kebutuhan bahan baku obat herbal. Nilai

ekspor impor tanaman obat masih bersifat fluktuatif, pada tahun 2014 terdapat

peningkatan nilai ekspor tanaman obat sebesar 31,2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Prediksi hingga tahun 2035 diharapkan nilai ekspor akan sangat jauh meningkat dan nilai

impor rendah. Pada tahun 2016 tercatat sebanyak 1.243 industri obat herbal yang terdiri

dari 129 Industri Obat Tradisional (IOT) dan sisanya adalah Usaha Menengah Obat

Tradisional (UMOT) dan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT).

Kajian ini juga membahas mengenai pengembangan potensi sumberdaya

tanaman obat yang mencakup kearifan lokal, bioprospeksi dan keragaman genetika

tanaman obat. Sebagian besar obat herbal yang beredar di pasaran saat ini berasal dari

pengembangan formula tradisional yang merupakan kearifan lokal bangsa Indonesia.

Perkembangan teknologi menuntun pencarian obat herbal baru dari hasil bioprospeksi

tanaman obat berdasarkan analisa gen dan fitokimia. Keragaman hayati Indonesia yang

menduduki peringkat kedua dunia, merupakan potensi yang sangat besar bagi

penemuan obat herbal baru. Tahun 2015 telah berhasil diidentifikasi lebih dari 2500

spesies tanaman obat dari 211 famili. Pengembangan dan peningkatan kualitas obat

herbal perlu dilakukan dengan dukungan teknologi budidaya, pengolahan bahan baku,

pengujian farmakologi dan teknologi pembuatan sediaan obat herbal.

Kajian ini membagi kebutuhan teknologi untuk industri obat herbal menjadi 4

(empat) subtopik, yaitu:

1. Teknologi budidaya dan pascapanen tanaman obat

Kajian pada subtopik ini membahas mengenai konservasi dan domestikasi tanaman

obat terutama untuk pencarian tanaman obat baru, budidaya tanaman obat

berdasarkan Good Agriculture Practice (GAP) untuk menjaga kontinuitas

(14)

pascapanen (Good Handling Practices/GHP) sebagai salah satu bagian penting untuk memenuhi standar tanaman obat dan bahan baku simplisia, terutama dari

aspek mutu, keamanan dan manfaatnya.

2. Teknologi ekstraksi dan standardisasi ekstrak

Teknologi ekstraksi merupakan bagian yang penting dalam proses produksi obat

herbal berbasis ekstrak. Proses ini dilengkapi upaya standardisasi ekstrak untuk

menjamin kualitas bahan berkhasiat dalam ekstrak dengan merujuk pada peraturan

yang berlaku. Kajian dalam subtopik ini membahas berbagai metode ekstraksi dan

teknologi terbaru dalam proses ekstraksi seperti green extraction technology.

3. Pengujian obat herbal

Kajian untuk mengevaluasi khasiat dan keamanan obat herbal pada subtopik ini

mencakup dari tiga jenis pengujian yaitu secara in vitro (enzimatis, seluler maupun

biologi molekuler, pengujian non klinik pada hewan dan pengujian klinik pada

manusia. Kajian ini merupakan review dari metode yang ada saat ini hingga metode

baru yang membutuhkan peralatan dan fasilitas dengan kualifikasi tinggi.

Persaingan pasar dan permintaan data industri dimasa depan menuntut pengujian

obat herbal lebih dalam lagi.

4. Teknologi formulasi obat herbal

Bentuk sediaan obat herbal kini telah berkembang dari bentuk tradisional ke bentuk

sediaan obat modern sehingga tingkat penerimaan masyarakat menjadi lebih baik.

Subtopik ini secara garis besar mengkaji teknologi sediaan obat herbal beserta

permasalahannya terutama dari sifat fisikokimia bahan baku, formulasi dan proyeksi

pengembangan sediaan herbal dengan teknik formulasi yang lebih tinggi seperti

mikroenkapsulasi. Selain itu juga dibahas mengenai evaluasi sediaan obat herbal

sebagai salah satu bagian penting untuk menjamin mutu dan kualitas sediaan

(15)

TIM PENYUSUN

PENGARAH

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi

Prof. Dr. Eng Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng.

PENANGGUNG JAWAB

Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

Ir. Imam Paryanto, M.Eng.

PENULIS

Bab 1

Dr. Agung Eru Wibowo, M.Si., Apt

Bab 2

Dr. Chaidir, Apt

Lely Khojayanti, ST., MT

Bab 3

Fifit Juniarti, B.Sc (Hons)

Syofi Rosmalawati, M.AgrSc

Ahmad Riyadi, M.Si.

Bab 4

Syofi Rosmalawati, M.AgrSc

Ahmad Riyadi, M.Si.

Lely Khojayanti, ST., MT

Bab 5

Ir. Bambang Srijanto

Dr. Eriawan Rismana

Dr. Agus Supriyono

Dr. Prasetyawan Yunianto, S.Si., MP

(16)

Bab 6

Dr. Kurnia Agustini, M.Si., Apt

Dr. Sri Ningsih, M.Si., Apt

Dr. Churiyah, M.Si.

Siska Andrina Kusumastuti, S.Farm., Apt

Bab 7

Dr. Etik Mardliyati, M.Eng

Idah Rosidah, M.Farm., Apt

Damai Ria Setyawati, M.Farm., Apt

Bab 8

Dr. Bambang Marwoto, Apt., MEng.

DISAIN DAN LAYOUT

Fifit Juniarti, B.Sc (Hons)

Idah Rosidah, M.Farm., Apt

Alfan Danny Arbianto, S.Si

Indica Chandramanan Brillianto, A.Md. Kom.

Nizar, MM

INFORMASI

Sekretariat Tim Penyusun Outlook Teknologi Kesehatan – BPPT

Gedung 610-611 LAPTIAB BPPT Kawasan Puspiptek

Serpong Tangerang Selatan Banten 15314

Telp./Fax : (021) 756 2331

(17)

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada semua

pihak yang telah berkontribusi besar dalam penyusunan naskah Outlook Teknologi

Kesehatan Edisi 2017 : Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal.

1. Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp. M(K), Menteri Kesehatan Republik Indonesia

2. Prof. H. Mohammad Nasir, Ph.D., Ak., Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan

Tinggi Republik Indonesia

3. Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc., Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

4. Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng., Deputi Kepala BPPT Bidang

Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi

5. Drs. Hary Wahyu T., Apt., Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik dan

Produk Komplementer, Badan POM

6. Dita Novianti, S.Si., Apt., MM, Kasubdit Kemandirian Obat Bahan Baku Sediaan

Farmasi, Direktorat Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Kementerian Kesehatan

7. Ir. Wiwi Sutiwi, MM, Kasubdit Tanaman Obat, Direktorat Sayuran dan Tanaman

Obat, Kementerian Pertanian

8. Drs. Nyoto Wardoyo, Apt., Presiden Direktur PT. Deltomed Laboratories

9. Dra. Barokah Sri Utami, Apt., MM, Presiden Direktur Utama PT. Phapros, Tbk.

10. Dr. Raphael Aswin Susilowidodo, ST., M.Si., Direktur R & D, SOHO Global Health

11. dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, MS., M.Kes., SpFK, Kepala Divisi Advokasi dan

Legislasi dengan Lembaga, PB IDI

12. Dra. Lucie Widowati, M.Si., Apt., Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan

Tanaman Obat dan Obat Tradisional

13. Prof. Agung Endro Nugroho, S.Si., M.Si., PhD., Apt, Dekan Fakultas Farmasi UGM

14. Dr. Gusmaini, M.Si., Peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat,

Kementerian Pertanian

(18)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

SAMBUTAN KEPALA BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI ... iv

SAMBUTAN MENTERI NEGARA RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI ... vi

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI ... vii

RINGKASAN EKSEKUTIF... ix

TIM PENYUSUN ... xii

UCAPAN TERIMA KASIH ... xiv

DAFTAR ISI... xv

DAFTAR GAMBAR... xix

DAFTAR TABEL... xxi

DAFTAR ISTILAH...xxii

DAFTAR SINGKATAN ... xxvii

BAB 1 PENDAHULUAN ...1

1.1. Latar Belakang... 1

1.1.1. Potensi Sumberdaya Hayati dan Pengetahuan Tradisional Indonesia ...1

1.1.2. Demografi dan Pola Penyakit...2

1.1.3. Pertumbuhan Industri dan Pasar Obat Herbal Nasional ...3

1.1.4. Tantangan Pengembangan Obat Herbal ...4

1.1.5. Regulasi dan Kebijakan Pemerintah Terkait Industri Obat Herbal ...5

1.2. Kerangka dan Alur Pikir ...6

1.3. Tujuan 8 1.4. Ruang Lingkup... 8

1.5. Metodologi ...8

BAB 2 POTRET INDUSTRI OBAT HERBAL ... 11

(19)

2.1.1. Prediksi Kebutuhan Nasional ... 11

2.1.2. Prediksi Kebutuhan Global... 17

2.2. Potret Industri Obat Herbal Nasional ... 21

2.3. Potret Industri Obat Herbal Global ... 31

2.3.1. Industri Obat Herbal ... 31

2.3.2. Industri Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT)... 33

BAB 3 PENGEMBANGAN POTENSI SUMBER DAYA TUMBUHAN OBAT ... 35

3.1. Kearifan Lokal ... 35

3.2. Bioprospeksi ... 37

3.3. Keragaman Genetika Tumbuhan Obat ... 40

BAB 4 TEKNOLOGI BUDIDAYA DAN PASCAPANEN TANAMAN OBAT ... 51

4.1. Konservasi dan Domestikasi... 52

4.2. Budidaya Tanaman Obat ... 56

4.2.1 Registrasi dan Sertifikasi Lahan ... 61

4.2.2 Identifikasi/Otentifikasi Jenis Tanaman Obat yang Dibudidayakan . 61 4.2.3 Pembenihan ... 61

4.2.4 Budidaya ... 62

4.2.5 Pencatatan dan Penelusuran Balik ... 65

4.3. Panen dan Pascapanen... 66

4.3.1. Panen... 67

4.3.2. Pascapanen ... 70

BAB 5 TEKNOLOGI EKSTRAKSI DAN STANDARDISASI EKSTRAK... 73

5.1. Perkembangan Teknologi Ekstraksi... 74

5.1.1. Teknologi Ekstraksi ... 74

5.1.2. Teknik Standardisasi Ekstrak ... 77

(20)

6.1. PengujianIn Vitro...93

6.1.1. Primary Bioassay: High-Throughput Screening (HTS), Ultra High Screening(UHS) danHigh Content Screening(HCS) ...95

6.1.2. Secondary Bioassay...101

6.2. Pengujian Preklinik ...106

6.3. Pengujian Klinik ... 119

6.3.1 Produk Obat Herbal yang akan Diuji Kllinik...120

6.3.2 Pelaksanaan uji klinik...121

6.4. Prediksi Jumlah Fitofarmaka Tahun 2035 ...Error! Bookmark not defined. BAB 7 TEKNOLOGI FORMULASI OBAT HERBAL...129

7.1. Pengembangan Teknologi Formulasi Sediaan Obat Herbal ...131

7.1.1. Pembuatan sediaan cair ... 132

7.1.2. Pembuatan Sediaan Padat ... 134

7.1.3. Pembuatan Sediaan Semi Padat ...136

7.1.4. Pembuatan Sediaan Parenteral ...138

7.2. Pengembangan Teknologi Farmasi ... 139

7.2.1. Dispersi Padat...140

7.2.2. Pembentukan Komplek Inklusi...140

7.2.3. TeknologiMasking...141

7.2.4. Teknologi Mikroenkapsulasi... 142

7.2.5. Teknologi Sistem Penghantaran Obat ...142

7.3. Pengembangan Obat dengan Bantuan Sistem Komputer ... 143

7.4. Teknologi Evaluasi Sediaan Obat Herbal ...146

BAB 8 PENUTUP ...161

8.1 Proyeksi Kebutuhan Obat Herbal hingga Tahun 2035... 161

8.1.1 Pertumbuhan Industri dan Pasar Obat Herbal Nasional ...161

8.1.2 Prediksi Kebutuhan Global... 162

(21)

8.2.1. Teknologi Budidaya dan Pascapanen Tanaman Obat ... 163

8.2.2. Teknologi Ekstraksi dan Standardisasi Ekstrak... 165

8.2.3. Teknologi Pengujian Obat Herbal... 166

8.2.4. Teknologi Formulasi Sediaan Obat Herbal... 167

(22)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka dan alur pikir Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017:

Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal...7

Gambar 2.1 Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010-2015 dan proyeksi tahun 2020,

2025, 2030 dan 2035 ...12

Gambar 2.2 Perubahan jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur ...12

Gambar 2.3 Pergeseran epidemiologi dari penyakit menular ke penyakit tidak

menular serta gangguan kesehatan akibat cedera di Indonesia

sepanjang tahun 1990 - 2015... 14

Gambar 2.4 Sepuluh besar penyakit penyebab kematian di Indonesia ...15

Gambar 2.5 Pertumbuhan pasar obat tradisional Indonesia 2003-2015 ...16

Gambar 2.6 Distribusi populasi dunia pada tahun 2015 berdasarkan umur dan jenis

kelamin...18

Gambar 2.7 Pertumbuhan pasar obat tradisional global 2013 -2020 ...20

Gambar 2.8 Jumlah industri farmasi, industri obat tradisional (IOT) dan industri

ekstrak bahan alam (IEBA) ...22

Gambar 2.9 Pertumbuhan pasar produk obat herbal nasional tahun 2003-2015...24

Gambar 2.10 Perkembangan impor bahan obat dalam juta USD dengan dominasi

bahan alam sebesar 55%...25

Gambar 2.11 Perkembangan ekspor obat tradisional dalam juta USD ...26

Gambar 2.12 Negara tujuan ekspor tanaman obat ...26

Gambar 2.13 Kinerja perdagangan tanaman obat tahun 2010-2015 ...27

Gambar 2.14 Postur industri obat herbal dalam negeri dilihat dari sisi jumlah menurut

skala usaha/golongan industri, penguasaan pasar, modal dan teknologi.

...30

Gambar 3.1 Hubungan Ideal antara Bioprospeksi dan Konvensi Keanekaragaman

(23)

Gambar 3.2 Peta Provinsi dilakukannya RISTOJA tahun 2012 (hijau) dan tahun 2015

(merah)... 43

Gambar 4.1 Konsep alur penyediaan bahan baku tanaman obat yang berkelanjutan

... 51

Gambar 4.2 Jumlah tanaman obat yang digunakan pengobatan di dunia ... 56

Gambar 4.3 Diagram alir pembuatan simplisia rimpang... 71

Gambar 5.1 Sifat pelarut ideal yang digunakan pada proses ekstraksi ... 87

Gambar 5.2 Perbandingan teknik dan pelarut yang digunakan pada proses ekstraksi

... 87

Gambar 5.3 Skema ideal standardisasi produk herbal... 89

Gambar 6.1 Alur pengujian Obat Herbal ... 92

Gambar 6.2 Peran primary dan secondary bioassay dalam pengembangan obat

herbal ... 94

Gambar 6.3 Alur pengujian primary bioassay dan secondary bioassay dalam

pengujian preklinik secara in vitro... 101

Gambar 6.4 Primary bioassay dan secondary bioassay untuk pengujian pre-klinik

secara in vitro untuk pengembangan obat herbal antidiabetes ... 102

Gambar 6.5 Hewan coba untuk pengujian preklinik di Indonesia ... 114

Gambar 6.6 Beberapa model hewan transgenik, knockout dan imunodefisiensi .. 116

Gambar 7.1 Bentuk sediaan obat herbal yang terdaftar periode Januari- Maret 2017

... 130

Gambar 7.2 Alur proses pembuatan sediaan cair ... 134

Gambar 7.3 Alur proses pembuatan sediaan padat ... 136

Gambar 7.4 Alur proses pembuatan sediaan semi padat ... 138

Gambar 7.5 Prototipe sistem hibrid ... 144

(24)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jumlah penduduk dunia dan beberapa wilayah utama pada tahun 2015,

serta proyeksi pada tahun 2030, 2050, dan 2100 ... 17

Tabel 2.2 Perkiraan kebutuhan tanaman obat dalam negeri tahun 2014-2019

(dalam ton) ... 24

Tabel 2.3 Target Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT) yang harus dikembangkan

hingga 2025 ...28

Tabel 3.1 Pembagian keuntungan seperti tercantum dalam Protokol Nagoya...39

Tabel 3.2 Jumlah spesies tumbuhan obat berdasarkan famili ... 42

Tabel 3.3 Sebaran etnis RISTOJA 2015 ... 44

Tabel 3.4 Beberapa varietas tanaman obat unggul yang sudah dilepas ...49

Tabel 5.1 Data ekstrak terstandar, ekstrak terpurifikasi dan isolat senyawa

penanda yang telah dikembangkan di Indonesia ...79

Tabel 6.1 Klasifikasi Obat Herbal ...91

Tabel 6.2 Perbedaan primary dan secondary bioassay ...95

Tabel 6.3 HTS secara enzimatis untuk target aktivitas ...98

Tabel 6.4 HTS untuk pengujian second messenger, gen reporter dan proliferasi sel

...99

Tabel 6.5 Metode pengujian HTS berbasis sel untuk target penyakit dengan

prevalensi terbanyak di Indonesia ...100

Tabel 6.6 Kategori efek toksik suatu bahan yang berasal dari herbal ...107

Tabel 6.7 Kisaran lama pengujian toksisitas kronik...108

Tabel 6.8 Beberapa model hewan untuk indikasi penyakit degeneratif...111

Tabel 6.9 Daftar Komite Etik di Indonesia ... 112

Tabel 6.10 Hewan model transgenik untuk pengujian farmakologi ...117

Tabel 6.11 Alat Bioimaging ...118

Tabel 7.1 Persyaratan uji praklinik dan klinik untuk obat herbal yang mengalami

(25)

DAFTAR ISTILAH

Bioassay In vitro adalah pengujian aktivitas yang dilakukan diluar tubuh atau sistem biologi

makhluk hidup dengan menggunakan enzim termurnikan, sel, jaringan atau organ tubuh.

Dekokadalah metode ekstraksi dengan pelarut air pada suhu 90°C selama 30 menit atau lebih

Distilasiataupenyulinganadalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan

kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.

Distilasi kukus (steam distillation)adalah jenis khusus proses distilasi untuk memisahkan bahan

yang sensitif terhadap suhu, seperti golongan senyawa aromatik.

Efikasiadalah efektivitas, kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Eksipien ataubahan penolongadalah materi yang terdapat dalam bentuk sediaan obat namun

tidak mengandung zat berkhasiat obat, yang berfungsi sebagai pengisi, pembawa atau

pelarut zat aktif sehingga memungkinkan dibuat bentuk sediaan.

Ekstraksi adalah proses pemisahan senyawa dari bahan asalnya dengan menggunakan cairan

penyari dan teknik yang disesuaikan.

Enzyme-Assisted Extraction (EAE) adalah proses ekstraksi yang dilakukan dengan bantuan

enzim pada tahapan penguraian senyawa aktif yang akan dipisahkan agar didapatkan

rendemen yang tinggi.

Evaporatoradalah sebuah alat yang berfungsi mengubah pelarut dari bentuk cair menjadi uap.

Fitofarmaka adalah sediaan herbal yang terbukti berkhasiat pada pengujian secara klinik pada

manusia.

Fluida superkritisadalah zat yang berada pada suhu dan tekanan di atas titik kritis termodinamika.

Fluida ini memiliki kemampuan untuk berdifusi melalui benda padat seperti gas, dan

melarutkan benda seperti cairan serta dapat mengubah kepadatannya jika ingin mengubah

sedikit suhu dan tekanannya.

Formulaadalah susunan kualitatif dan kuantitatif bahan berkhasiat dan bahan tambahan.

Formulasiadalah segala permasalahan yang menyangkut komposisi bahan, metode pembuatan,

(26)

Granul adalah sediaan bentuk padat, berupa partikel serbuk dengan diameter 2-4 mikrometer

dengan atau tanpa vehikulum.

Granulasiadalah pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme pengikatan tertentu.

HTS (High-Throughput Screening) adalah sistem pengujian yang digunakan untuk menapis

aktivitas ratusan atau ribuan ekstrak tanaman obat menggunakan prinsip interaksi

ligan-target yang kemudian didapatkan informasi/data dalam jumlah masif.

HTS (High-Throughput Screening) berbasis seladalah pengujian yang menggunakan sel primer

atau cell line sebagai objek pengujian dalam HTS.

HTS (High-Throughput Screening) secara enzimatis adalah pengujian secara biokimia atau

enzimatis menggunakan reseptor dari manusia atau enzim sebagai reagen dalam sistem

pengujian HTS.

Infus adalah metode ekstraksi dengan menggunakan air yang mendidih pada suhu 96-98°C,

dalam waktu tertentu sekitar 15 menit.

Kapsuladalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat

larut dalam cairan saluran pencernaan. Cangkang pada umumnya terbuat dari gelatin, bisa

juga dari pati atau bahan lain yang sesuai.

Komite Etik Penelitian Kesehatan adalah badan independen yang dibentuk untuk mengawasi

agar penelitian pada manusia maupun hewan dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip

International Convention on Harmonization of Good Clinical Trial Practice(ICH-GCP).

LD50 adalah dosis pemberian yang menyebabkan kematian 50% hewan coba

Maserasi adalah metode ekstraksi melalui perendaman bahan/simplisia dengan cairan penyari

yang sesuai tanpa pemanasan, tanpa atau dengan pengadukan/pengocokan.

Metabolomik adalah proses penentuan metabolit sekunder atau mikromolekul. Sinonim dari

metabolomik adalah metabolite profiling atau penentuan metabolit-metabolit dengan

karakter tertentu terkait dengan penyakit, respon pengobatan, metabolisme obat, perlakuan

(27)

Microwave assisted extraction (MAE) adalah proses ekstraksi menggunakan bantuan energi

gelombang mikro dengan panjang gelombang 0.001 m to 1 m untuk memfasilitasi partisi

zat aktif atau analit dari matriks sampel ke pelarut.

Multiple effect evaporatorsadalah suatu peralatan yang dirancang dengan tujuan meningkatkan

efisiensi energi dari proses evaporasi yang berlangsung dengan menggunakan energi

panas dari steam (uap) untuk menguapkan air. Proses kerjanya adalah sumber luar

dikondensasikan dalam elemen pemanas efek pertama. Suhu mendidih di mana efek

pertama beroperasi cukup tinggi sehingga air menguap dapat berfungsi sebagai media

pemanas untuk efek kedua. Uap yang terbentuk kemudian dikirim ke kondensor jika itu

adalah evaporator efek ganda. Umpan untuk evaporator jenis multi-efek ini umumnya

ditransfer dari satu efek yang lain.

Obat Herbal Terstandaradalah sediaan herbal yang bahannya berupa ekstrak terstandar yang

telah terbukti berkhasiat dan aman pada pengujian menggunakan hewan coba

Perkolasi adalah metode ekstraksi yang dilakukan dengan mengalirkan larutan/cairan

pengekstrak secara berkesinambuangan (kontinu) melalui serbuk simplisia yang telah

dibasahi.

Primary Bioassayadalah pengujian awal terhadap sampel dalam jumlah besar untuk menseleksi

sampel yang berpotensi dengan menggunakan metode yang sederhana dan mudah.

Randomized double blind controlled clinical trialadalah metode ideal dalam pelaksanan uji klinik

dengan melibatkan alokasi random (acak) subjek ke dalam kelompok dan dapat

mengurangi bias sehingga memberikan hasil sesuai tujuan.

Secondary Bioassay adalah pengujian terhadap sampel dengan metode yang lebih detail untuk

mengetahui mekanisme aksi hingga ke tingkat molekular sesuai dengan target yang

diinginkan.

Sediaan cair adalah sediaan dengan wujud cair, mengandung satu atau lebih zat aktif yang

terlarut atau terdispersi stabil dalam medium yang homogen pada saat diaplikasikan.

Sediaan obat herbal adalah sediaan obat yang dibuat dari bahan atau ramuan bahan alami

(28)

Sediaan oral adalah sediaan obat yang pemakaiannya dengan cara memasukkannya lewat

mulut. Dapat dikatakan juga sebagai obat dalam.

Sediaan padatadalah sediaan yang mempunyai bentuk dan tekstur yang padat dan kompak.

Sediaan parenteralyaitu sediaan obat yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui injeksi.

Sediaan semi padatadalah sediaan setengah padat yang dibuat untuk tujuan pengobatan topikal

melalui kulit. Bentuk sediaan ini dapat bervariasi tergantung bahan pembawa (basis) yang

digunakan.

Serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk

pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.

Sistem klasifikasi biofarmasetik (Biopharmaceutical Classification System, BCS) adalah

pengelompokan obat dalam kelompok yang didasarkan pada: kelarutan, permeabilitas dan

kecepatan disolusi in vitro. Klasifikasi sistem ini dapat digunakan untuk menjustifikasi

persyaratan-persyaratan penelitian in vitro (sediaan) obat yang melarut secara cepat,

mengandung bahan aktif yang sangat larut dan sangat permeabel.

Sokletasi adalah suatu metode pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat padat

dengan cara penyaringan berulang-ulang dengan menggunakan pelarut tertentu, sehingga

semua komponen yang diinginkan akan terisolasi

Subcritical Water Extraction (SWE) adalah proses ekstraksi menggunakan pelarut air pada

kondisi air subkritik yakni air dengan suhu antara 100°C-300°C.

Supercritical Fluid Extraction (SFE) adalah proses ekstraksi menggunakan fluida superkritis

sebagai pelarut.

Supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui

rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih

atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau

lebih dengan atau tanpa zat tambahan.

Toksisitas akutadalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul dalam waktu

singkat setelah pemberian sediaan uji yang diberikan secara oral dalam dosis tunggal, atau

(29)

Toksisitas kronisadalah uji toksisitas kronis oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek

toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji secara berulang sampai seluruh umur

hewan.

Uji klinik adalah pengujian suatu produk uji pada subjek manusia untuk menemukan efek klinik,

farmakologik dan/atau farmakodinamik dengan tujuan untuk memastikan keamanan dan

atau efektivitas produk yang diteliti.

Uji praklinik adalah pengujian suatu produk uji pada hewan coba untuk mempelajari efek

farmakodinamik dan atau keamanan produk uji.

Uji toksisitas subkronis oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul

setelah pemberian sediaan uji dengan dosis berulang yang diberikan secara oral pada

hewan uji selama sebagian umur hewan, tetapi tidak lebih dari 10% seluruh umur hewan.

Ultrasound Assisted Extraction (UAE) adalah proses ekstraksi yang dilakukan dengan

menggunakan bantuan gelombang ultrasonik dengan frekuensi 20 kHz-2.000 kHz

Zat aktif adalah unsur dalam obat yang memiliki khasiat menyembuhkan penyakit atau gejala

(30)

DAFTAR SINGKATAN

Badan POM Badan Pengawasan Obat dan Makanan

CCE Counter Current Extraction

CID Controlled Instantaneous Decomposition

CPOB Cara Pembuatan Obat yang Baik

CPOTB Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik

DNA Deoxyribonucleic Acid

EAE Enzyme-Assisted Extraction

EMA European Medicines Agency

FOHAI Formularium Obat Herbal Asli Indonesia

GAP Good Agricultural Practices

GK Gas Kromatografi

GMP Good Manufacturing Practices

HPLC High Perfomance Liquid Chromatography

IEBA Industri Ekstrak Bahan Alam

KCKT Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

KK Kromatografi Kolom

LC-MS Liquid Chromatography-Mass Spectrometry

MAE Microwave Assisted Extraction

NADES Natural Deep Eutectic Solvents

NMR Nuclear Magnetic Resonance

PSE Pressured Solvent Extraction

SDE Simultaneous Distillation Extraction

SFE Supercritical Fluid Extraction

SPME Solid Phase Micro Extraction

SWE Subcritical Water Extraction

TLC Thin Layer Chromatography

UAE Ultrasound Assisted Extracti

UPLC-MS Ultra Performance Liquid Chromatography-Mass Spectoscopy

(31)
(32)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

1.1.1. Potensi Sumberdaya Hayati dan Pengetahuan Tradisional Indonesia

Indonesia merupakan negara besar dengan jumlah pulau 13.466, luas wilayah

daratan 1.922.570 km² dan luas wilayah perairan 3.257.483 km² (Badan Informasi

Geospasial, 2017). Letak geografis Indonesia yang berada pada garis katulistiwa,

menjadikan Indonesia sebagai negara tropis dengan tingkat keanekaragaman hayati

yang sangat tinggi. Keragaman hayati dimaksud meliputi keragaman ekosistem,

keragaman jenis dan keragaman genetika. Anugerah tersebut merupakan suatu

keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh negara di belahan benua lain. Selain itu,

interaksi penduduk dengan alam sekitar menghasilkan khasanah kearifan lokal dan

pengetahuan tradisional tentang pemanfaatan sumberdaya tanaman untuk kebutuhan

bahan pangan, menjaga kesehatan dan kebutuhan hidup lainnya, sejalan dengan

perkembangan peradaban dan budaya pada masanya.

Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) yang dilakukan oleh Badan Litbang

Kementerian Kesehatan tahun 2012 dan 2015 menemukan sebanyak 10.048 ramuan

tradisional untuk 74 indikasi penyakit yang telah digunakan oleh masyarakat. Sejumlah

19.871 tanaman obat yang digunakan sebagai ramuan tradisional tersebut telah dikoleksi

dan 16.218 diantaranya telah berhasil diidentifikasi (Kementerian Kesehatan, 2015).

Suatu gambaran potensi kekayaan alam dan khasanah tradisional yang luar biasa yang

perlu segera dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi produk kompetitif dan unggulan.

Kementerian Kesehatan telah menetapkan 9 ramuan tradisional potensial untuk dikaji

dan dikembangkan yaitu : (1) ramuan untuk perawatan bayi, (2) ramuan perawatan

pra/pasca persalinan, (3) ramuan untuk darah tinggi, (4) ramuan untuk kencing manis,

(33)

malaria, (8) ramuan untuk sakit kuning, (9) ramuan untuk sakit TBC, (10) ramuan untuk

HIV/AIDS, dan (11) ramuan untuk tumor/kanker (Kementerian Kesehatan, 2015).

Informasi etnofarmakologi yang berupa ramuan tradisional tersebut, merupakan

data empirik yang penting dan sangat bermanfaat. Dengan mengacu pada potensi

sumberdaya hayati dan data empirik tersebut, langkah-langkah pengembangan produk

obat herbal menjadi lebih terarah, utamanya dalam penentuan indikasi khasiat dan

evaluasi keamanannya.

1.1.2. Demografi dan Pola Penyakit

Sebagai produk yang mempunyai dimensi kesehatan, pengembangan obat

herbal harus memperhatikan profil demografi dan pola penyakit di Indonesia serta

kecenderungan berkembangnya penyakit atau gangguan kesehatan masyarakat global.

Jumlah penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan. Diperkirakan

tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 271.066.400 jiwa, dan akan

terus meningkat menjadi 305.653.400 jiwa pada tahun 2035 (Badan Pusat Statistik,

2016).

Seiring dengan keberhasilan pembangunan bidang kesehatan, angka harapan

hidup manusia Indonesia terus menunjukkan peningkatan, yaitu 66 tahun pada tahun

2000, meningkat menjadi 69,1 tahun pada tahun 2010 dan 70,1 tahun pada 2015. Pada

kurun waktu 2020-2035, angka harapan hidup manusia Indonesia diperkirakan

meningkat menjadi 72,2 tahun (Badan Pusat Statistik, 2016). Sementara itu penduduk

berumur di atas 65 tahun pada 2035 diprediksi mencapai 10,6 % dari jumlah penduduk

Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2013a).

Penyakit di Indonesia bisa dikategorikan dalam 3 kelompok penyakit, yaitu

penyakit menular (communicable diseases), penyakit tidak menular (noncommunicable diseases) dan penyakit akibat cedera. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan telah terjadi pergeseran pola penyakit seiring dengan perubahan demografi Indonesia. Dalam

(34)

mengalami penurunan dari 56% pada tahun 1990 menjadi 30% pada tahun 2015.

Sebaliknya kelompok penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, diabetes, hipertensi

dan kanker menunjukkan peningkatan dari 37% pada tahun 1990 meningkat menjadi

57% pada tahun 2015. Demikian pula dengan penyakit cidera, meningkat dari 7% pada

tahun 1990 meningkat menjadi 13% pada tahun 2015 (Menteri Kesehatan, 2015).

1.1.3. Pertumbuhan Industri dan Pasar Obat Herbal Nasional

Industri obat herbal merupakan kelompok industri yang mempunyai dimensi

ekonomi, kesehatan dan budaya. Industri herbal mempunyai potensi Tingkat Kandungan

Dalam Negeri (TKDN) yang cukup tinggi dibandingkan dengan kelompok industri lainnya,

karena sebagai besar bahan baku produk herbal diperoleh dari dalam negeri. Saat ini

tercatat 1.247 industri obat herbal terdiri dari sekitar 93 Industri Obat Tradisional (IOT),

11 Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA) dan sisanya berupa Usaha Kecil Obat Tradisional

(UKOT) dan Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT) yang tersebar di Indonesia (Novianti,

2017).Suatu sumberdaya industri nasional yang cukup potensial untuk dikembangkan.

Potensi pasar produk berbasis tanaman (herbal) cukup besar. Produk herbal

untuk menjaga kesehatan, kebugaran dan kecantikan terus berkembang pesat termasuk

produk arometerapi dan fragrans (produk berbasis minyak asensial), kosmetika herbal

(sediaan kosmetika dengan bahan aktif dari ekstrak tanaman), pangan kesehatan

(fungsional), nutraseutika, teh herbal, fitomedisin (obat herbal terstandar, fitofarmaka)

dan sediaan tradisional (jamu).

Pertumbuhan pasar obat herbal dalam negeri terus menunjukkan peningkatan

dari tahun ke tahun, sejalan dengan penguatan trend dan keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi produk berbasis bahan alam. Tahun 2005 nilai pasar obat herbal sebesar

Rp. 4,7 triliun, meningkat signifikan menjadi Rp. 15 triliun pada tahun 2015. Suatu

pertumbuhan pasar yang menggembirakan dan perlu terus didorong peningkatan dan

penguasaan pasarnya. Dalam tatakelola perdagangan nasional, tanaman obat, minyak

(35)

dikembangkan, karena memiliki potensi pasar yang cukup menjanjikan baik pasar lokal

maupun global.

1.1.4. Tantangan Pengembangan Obat Herbal

Dalam tataran konsep, pengembangan obat herbal diarahkan pada 2 tujuan

utama, yaitu: (1) Berkembangnya industri obat herbal, yaitu mewujudkan industri obat

herbal yang berdaya saing baik di pasar lokal maupun global dan (2) Dimanfaatkannya

obat herbal dalam pelayanan kesehatan formal, yaitu terbangunnya sistem dan

infrastruktur pelayanan kesehatan dengan menggunakan sediaan obat herbal.

Tantangan dalam pengembangan obat herbal cukup signifikan, baik pada tataran

makro (konsepsi) maupun pada tataran mikro (operasional), termasuk unsur teknologi

dan kelembagaan, yaitu penyedia produk (provider), praktisi pengobat (practice), dan pengguna (konsumen). Perbedaan pemahaman dan konsepsi pemanfaatan dan

pengembangan obat herbal yang masih sering muncul diantara pemangku kepentingan

termasuk praktisi industri, regulator, peneliti dan akademisi secara langsung atau tidak

langsung mempengaruhi upaya percepatan pengembangan industri obat herbal.

Disisi lain perkembangan pasar dan permintaan konsumen menuntut adanya

inovasi produk herbal yang dinamis untuk bisa menghadirkan produk yang aman,

berkhasiat dan bermutu serta nyaman dikonsumsi. Penguatan inovasi teknologi produksi

obat herbal hulu-hilir penting untuk dilakukan, guna mewujudkan berkembangnya industri

bahan baku obat herbal, industri manufaktur produk obat herbal dan sistem pelayanan

kesehatan menggunakan obat herbal. Pengembangan dan penerapan teknologi produksi

bahan baku herbal (simplisia, ekstrak), teknologi pengujian khasiat dan keamanan serta

teknologi formulasi sediaan untuk mendapatkan produk obat herbal yang bermutu

merupakan tantangan positif untuk segera mendapatkan solusi yang tepat.

Tantangan lain terkait upaya pemanfaatan sediaan obat herbal dalam pelayanan

kesehatan formal adalah belum adanya infrastruktur, SDM, regulasi dan pedoman teknis

(36)

yaitu pengobatan konvensional dan pengobatan komplementer menggunakan sediaan

obat herbal. Konsepsi atau perubahan paradigma dari pengobatan dan penanganan

penyakit (paradigma sakit, bersifat kuratif) menuju pencegahan penyakit dan pengelolaan

kesehatan (paradigma sehat, bersifat preventif) merupakan langkah penting yang akan

menjadi arah pengelolaan kesehatan masyarakat ke depan termasuk mendorong

pemanfaatan sediaan obat herbal.

1.1.5. Regulasi dan Kebijakan Pemerintah Terkait Industri Obat Herbal

Pemerintah melalui beberapa kementerian dan lembaga telah memberikan

komitmen kuat untuk mendorong pemanfaatan dan pengembangan obat herbal dalam

bentuk regulasi dan kebijakan, diantaranya:

1) Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang mengamanahkan

upaya penyelenggaraan kesehatan melalui pelayanan kesehatan tradisional

dengan menggunakan obat tradisional.

2) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 103 tahun 2014 Tentang Pelayanan Kesehatan

Tradisional (Yankestrad) yang memberikan pengertian dan batasan serta mengatur

tentang pelayanan kesehatan tradisional.

3) Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk

Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 di mana industri farmasi

(termasuk industri obat herbal) dikategorikan sebagai salah satu industri prioritas di

masa depan,

4) Paket Kebijakan Ekonomi IX yang merupakan stimulus pemerintah untuk

mendorong pengembangan industri farmasi termasuk industri obat herbal.

5) Inpres Nomor 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Farmasi

dan Alat Kesehatan, yang diantaranya menugaskan kepada 13 Kementerian untuk

meningkatkan daya saing industri farmasi, mendorong penguasaan teknologi dan

(37)

6) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2017 tentang

Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan yang mengatur

tentang rencana aksi pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan.

Regulasi dan kebijakan di atas, merupakan salah satu bentuk komitmen dan

keberpihakan pemerintah dalam upaya mendorong dan mempercepat pertumbuhan,

daya saing dan kemandirian industri farmasi nasional, termasuk industri obat herbal.

Dari gambaran di atas, dapat disarikan bahwa selain tantangan teknologi,

tantangan yang bersifat non teknologi perlu mendapat perhatian serius dari seluruh

pemangku kepentingan. Teknologi merupakan salah satu variabel penting yang perlu

diterjemahkan dengan lebih tepat dan sistematis. Selain tepat guna, aplikatif dan layak

untuk dimanfaatkan oleh pengguna, pengembangan teknologi obat herbal juga perlu

diarahkan pada hal-hal yang solutif dengan berorientasi pada kebutuhan industri dan

masyarakat luas. Lingkup teknologi dimaksud adalah dari hulu hingga hilir, dari

pengadaan bahan baku, produk antara hingga produk jadi serta teknologi informasi dan

pendukung lainnya. Analisis dan prediksi kebutuhan teknologi untuk pengembangan obat

herbal ke depan yang dituangkan dalam bentuk Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017:

Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal, penting untuk dilakukan. Dalam

outlook ini, informasi, pembahasan dan analisis terkait teknologi pengembangan obat

herbal menjadi substansi utama. Baik dari aspek bahan baku, pengembangan produk

antara, pengujian dan formulasi sediaan akhir.

1.2.

Kerangka dan Alur Pikir

Dalam buku outlook ini, pembahasan dibatasi pada lingkup sediaan obat herbal,

tidak termasuk aromaterapi, kosmetika herbal, pangan fungsional, dan fragrans. Yang

dimaksud obat herbal adalah suatu produk atau sediaan yang mengandung bahan aktif

ekstrak dari bahan alam utamanya tanaman, atau fraksi ekstrak dalam bentuk tunggal

atau campuran yang mempunyai klaim khasiat tertentu berdasarkan bukti empirik dan

(38)

bahan baku atau sediaan jadi obat herbal secara kontinyu yang memenuhi persyaratan

keamanan, manfaat dan mutu serta layak secara ekonomi. Selain sumberdaya, faktor

strategis, kebijakan, dan pasar, faktor teknologi mempunyai peran penting dalam

mendorong pertumbuhan industri obat herbal. Beberapa jenis teknologi untuk

meningkatkan produktivitas dan kualitas bahan baku obat herbal (simplisia, ekstrak),

teknologi untuk memberikan kepastian ilmiah tentang keamanan dan manfaat obat

herbal, serta teknologi untuk menghasilkan sediaan obat herbal yang bermutu, efisien

dan nyaman dikonsumsi sangat penting untuk dikembangkan. Penerapan jenis teknologi

yang tepat dengan dukungan sumberdaya, kebijakan dan akses pasar yang kuat akan

meningkatkan daya saing industri herbal nasional dan mendorong perkembangan

industri obat herbal dalam negeri serta peningkatan pemanfaatan obat herbal oleh

masyarakat. Kerangka dan alur fikir buku outlook ini dituangkan dalam skema alur proses

berfikir seperti tertera pada Gambar 1.1 berikut ini.

Gambar 1.1 Kerangka dan alur pikir Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk

(39)

1.3.

Tujuan

Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku

dan Obat Herbal disusun dengan tujuan untuk memberikan gambaran, pandangan dan

arah riset serta pengembangan teknologi yang diperlukan guna mendukung

pemanfaatan dan pengembangan sediaan serta industri obat herbal.

1.4.

Ruang Lingkup

1) Pemetaan potensi industri obat herbal, potensi pasar dalam negeri, pasar ekspor

dan potensi pengembangan industri obat herbal

2) Pemetaan dan kajian tentang jenis teknologi yang perlu dikembangkan dan

diterapkan (hulu-hilir) dalam rangka meningkatkan daya saing industri obat herbal

dan pemanfaatan sediaan obat herbal dalam pelayanan kesehatan formal.

1.5.

Metodologi

Metodologi yang digunakan dalam analisis dan penyusunan outlook

1) Telaah pustaka, dokumen, data dan informasi.

Langkah awal penyusunan outlook ini adalah melakukan pengumpulan data dan

informasi terkait obat herbal dari berbagai sumber dilanjutkan dengan analisis

substansi.

2) Penyebaran kuesioner

Kuesioner yang berisikan pertanyaan dan pilihan jawaban terkait kebutuhan bahan

baku, kapasitas produksi, pengembangan produk, kebijakan dan tantangan yang

dihadapi, disampaikan kepada pihak industri untuk mendapatkan respon dan

(40)

3) Diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion)

Diskusi terfokus pada aspek kebutuhan bahan baku obat herbal, arah riset dan

pengembangan teknologi serta upaya peningkatan daya saing industri obat herbal

dilakukan dengan mendapatkan pandangan dan masukan dari para narasumber

yang kompeten.

4) Pandangan dan pendapat para ahli/narasumber

Pandangan danjudgementsubstansi teknologi terkait pengembangan industri obat herbal dari narasumber dilakukan melalui forum diskusi.

5) Analisis dan perumusan.

Melakukan analisis substansi terkait potensi pasar, kebutuhan produk obat herbal,

kebutuhan teknologi dan kebijakan terkait dilanjutkan dengan perumusan substansi

(41)
(42)

BAB 2

POTRET INDUSTRI OBAT HERBAL

2.1.

Prediksi Kebutuhan Bahan Baku dan Obat Herbal

2.1.1. Prediksi Kebutuhan Nasional

Obat merupakan komponen penting dalam sistem pelayanan kesehatan

nasional, termasuk sediaan farmasi berbasis tanaman obat (obat herbal). Sejak tahun

2004 dikenal tiga kategori sediaan farmasi berbasis tanaman obat, yaitu jamu, obat

herbal terstandar dan fitofarmaka. Seperti halnya dengan kebutuhan obat konvensional,

prediksi kebutuhan obat herbal ditentukan oleh 2 faktor utama, yaitu perkembangan

demografi dan perkembangan pola penyakit.

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 telah mencapai sekitar 255 juta

penduduk (Badan Pusat Statistik, 2013b). Meskipun tingkat kelahiran dan kematian

menurun dalam dekade belakangan ini, penduduk Indonesia terus mengalami

peningkatan dengan laju pertumbuhan turun dari 1,38% pada periode 2010-2015 menjadi

0,62% pada periode 2030-2035 (Badan Pusat Statistik, 2013a). Indonesia merupakan

negara dengan jumlah penduduk terbesar di wilayah ASEAN, yaitu 39,9% dari total

populasi ASEAN yang berjumlah sekitar 537 juta penduduk. Sedangkan di dunia

Indonesia menempati peringkat ke empat setelah Cina, India dan USA. Diperkirakan

tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 271,1 juta jiwa. Pada tahun 2035

penduduk Indonesia diproyeksi menjadi 305,7 juta penduduk penduduk (Badan Pusat

Statistik, 2013b). Gambar 2.1 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia tahun 2010-2015

dan proyeksi tahun 2020, 2025, 2030 dan 2035. Dengan jumlah penduduk tersebut, di

wilayah Asia, Indonesia merupakan pangsa pasar yang besar bagi negara-negara

maju/industri baru dengan industri obat herbal yang telah mapan, seperti Cina, India dan

(43)

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013a

Gambar 2.1 Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010-2015 dan proyeksi tahun 2020, 2025,

2030 dan 2035

Secara demografi, berdasarkan kelompok umur terjadi pergeseran jumlah

penduduk seperti tertera pada Gambar 2.2. Jumlah penduduk berusia 15-59 tahun

mengalami peningkatan dan menjadi bagian utama dari profil demografi Indonesia

beberapa tahun ke depan (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional,

2016). Kelompok usia produktif ini tentu akan mendominasi profil demografi Indonesai

selama dua dekade ke depan hingga tahun 2035.

Sumber : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2016

Gambar 2.2 Perubahan jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur 0

2010 2015 2020 2025 2030 2035

238.5 255.5

(44)

Sementara itu, terjadi juga pertambahan jumlah penduduk berusia lanjut sejalan

dengan meningkatnya angka harapan hidup manusia Indonesia, yaitu 68,1 tahun pada

tahun 2000, menjadi 69,6 tahun pada tahun 2010 dan 70,7 tahun pada 2015.

Diperkirakan pada tahun 2050 menjadi 77 (Kementerian Kesehatan, 2014). Data tersebut

menggambarkan bahwa derajat kesehatan masyarakat Indonesia makin meningkat,

seiring dengan perbaikan pelayanan kesehatan dan peningkatan kesejahteraan

penduduk. Pada periode tahun 2030-2035 angka harapan hidup penduduk Indonesia

diperkirakan 72,2 tahun. Sementara itu penduduk berumur di atas 65 tahun pada 2035

diprediksi mencapai 10,6 % dari jumlah penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik,

2013a).

Dengan besarnya kelompok usia produktif pada profil demografi Indonesia,

kebutuhan produk-produk kesehatan akan ditentukan lebih banyak oleh kelompok usia

ini. Perubahan gaya hidup pada kelompok usia tersebut, menjadi ciri utama akibat

perubahan sosial-ekonomi yang dialami. Perubahan gaya hidup tersebut antara lain

berpengaruh pada pola makan dan obesitas, kebiasaan merokok, minum alkohol,

aktivitas fisik yang kurang, stres dan pencemaran lingkungan, berpotensi menjadi faktor

gangguan kesehatan pada kelompok ini. Gangguan kesehatan tersebut dapat berupa

penyakit kronis degeneratif dan sindrom metabolik. Dikenal ada berbagai jenis penyakit

degeneratif dan sindrom metabolik, antara lain: penyakit jantung dan pembuluh darah

(hipertensi, jantung, stroke), endokrin (diabetes mellitus, thyroid, kekurangan nutrisi,

hiperkolesterol), neoplasma (tumor jinak, tumor ganas), osteophorosis, gangguan

pencernaan (konstipasi, wasir, kanker usus), dan kegemukan (Suhaema & Masthalina,

2015).

Di bidang kesehatan, seperti halnya dengan negara-negara berkembang lain,

Indonesia masih menghadapi permasalahan kesehatan cukup besar. Indonesia dalam

beberapa dekade terakhir menghadapi masalah kesehatan triple burden akibat adanya pergeseran epidemiologi. Di satu sisi, penyakit menular (PM) masih menjadi masalah

(45)

emerging diseases), serta munculnya penyakit-penyakit menular baru (new-emerging diseases), seperti Avian Influenza, dan Flu Babi. Di sisi lain, Penyakit Tidak Menular (PTM), seperti stroke, jantung, diabetes, hipertensi, kanker dan penyakit degeneratif atau

sindrom metabolik lain, menunjukkan adanya kecenderungan yang semakin meningkat

dari waktu ke waktu (Pradono, et al., 2005). Sedangkan masalah kesehatan yang ketiga

adalah meningkatnya gangguan kesehatan akibat cedera (kecelakaan lalu lintas,

kecelakaan kerja, dsb.). Gambar 2.3 berikut ini menunjukkan adanya pergeseran

epidemiologi di Indonesia tahun 1990-2015.

Sumber: disalin dari Menteri Kesehatan, 2015

Gambar 2.3 Pergeseran epidemiologi dari penyakit menular ke penyakit tidak menular serta

gangguan kesehatan akibat cedera di Indonesia sepanjang tahun 1990 - 2015

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013, penyakit tidak

menular utama dengan prevalensi tinggi adalah hipertensi (25,8%), penyakit

sendi/rematik (24,7%), stroke (12,1%), asma (4,5%), penyakit paru obstruksi kronis

(PPOK) (3,7%) diabetes melitus (2,1%) jantung koroner (1,5%) dan kanker (1,4%)

(Kementerian Kesehatan, 2013). Selebihnya prevalensi penyakit di bawah angka 1%.

Sedangkan penyakut menular utama dengan prevalensi paling tinggi atau mendapat

5

(46)

perhatian adalah HIV/AIDS, tuberculosis, malaria, demam berdarah, influenza dan flu

burung:

Sumber : Litbang Kompas dari Kementerian Kesehatan RI, 2013

Gambar 2.4 Sepuluh besar penyakit penyebab kematian di Indonesia

Penyakit sindrom metabolik degeneratif umumya disebabkan oleh banyak faktor

dengan etiologi yang kompleks, sehingga tidak dapat disembuhkan dengan obat

konvensional, yang umumnya bersifat simptomatik. Selain umumnya bekerja untuk

mengatasi “gejala”, obat untuk kelompok penyakit ini juga harus diminum seumur hidup,

sehingga meningkatkan kemungkinan efek samping obat dan masalah terkait obat (drug related problems) lainnya serta meningkatkan biaya pengobatan (Handayani, et al., 2006). Tingkat morbiditas dan kematian tinggi akibat efek obat yang tidak diinginkan

(47)

banyak pasien dan kalangan klinis untuk melihat kembali pengobatan tradisional dengan

pendekatan holistik untuk menangani penyakit tersebut, salah satunya kembali pada

penggunaan obat hebal dan pangan fungsional (Purwaningsih, 2013).

Secara ekonomi hal ini tentu menguntungkan, mengingat belanja kesehatan

terbesar umumnya dari komponen obat (Satriabudi, 2005), di mana sebagian besar

komponen obat diperoleh melalui impor. Belanja kesehatan rakyat Indonesia, khususnya

belanja obat (drug expenditure) pada tahun 2015 adalah sebesar Rp 75 triliun atau 3,45% dari APBN dan pada tahun 2016 menjadi Rp 109 triliun. Pada tahun 2014 belanja

kesehatan Indonesia masih berada di bawah Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapore.

Nilai ini tentu sangat kecil, terutama jika dibandingkan dengan belanja obat negara maju,

seperti Jerman yang mencapai 319,7 USD per kapita, Jepang 463,3 USD dan USA 756,2

USD (IMS, 2015).

Kecenderungan penggunaan obat herbal ini sejalan dengan pertumbuhan pasar

obat herbal di Indonesia, yang dari tahun ketahun mengalami peningkatan dengan tingkat

pertumbuhan sekitar 6,5% pertahun pada periode 2009-2013 (Kementerian

Perdagangan, 2014). Gambar 2.5 memperlihatkan pertumbuhan pasar obat herbal di

Indonesia sepanjang tahun 2003-2015. Pertumbuhan pasar obat herbal ini semakin

meningkat sejak Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) mengeluarkan

peraturan tentang pengelompokkan obat tradisional, serta berbagai regulasi lain terkait

misalnya, penelitian dan pengembangan produk obat herbal, produk, pelayanan dan

industri obat herbal (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011).

Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011

(48)

2.1.2. Prediksi Kebutuhan Global

Perkembangan pasar obat herbal Indonesia pada dasarnya sejalan dengan

perkembangan pasar obat dunia yang terus meningkat dari tahun ke tahun, akibat

meningkatnya perhatian terhadap peluang pengobatan tradisional dengan pendekatan

holistik, untuk mengatasi penyakit sindrom metabolik degeneratif. Pertumbuhan

penduduk dunia yang diikuti dengan pertumbuhan ekonomi di berbagai kawasan, serta

perubahan gaya hidup yang menyertainya, juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan

permintaan terhadap produk-produk obat herbal.

Berdasarkan perhitungan PBB, hingga pertengahan tahun 2015 populasi dunia

mencapai 7.3 milyar orang (Tabel 2.1), atau telah bertambah sekitar 1 milyar dalam waktu

12 tahun terakhir. Saat ini pertumbuhan populasi dunia mengalami penurunan

dibandingkan sebelumnya. Pertumbuhan populasi dunia sepuluh tahun yang lalu sebesar

1,24% per tahun, saat ini tumbuh 1,18% per tahun atau sekitar 83 juta penduduk

pertahun. Dengan demikian jumlah penduduk dunia pada tahun 2030 diproyeksikan akan

mencapai 8,5 milyar dan terus bertambah menjadi 9,7 milyar pada tahun 2050 dan 11,2

milyar pada tahun 2100. Dari populasi tersebut sebanyak 60% hidup di wilayah Asia (4.4

milyar), 16% di Afrika (1,2 milyar), 10 % di Eropa (738 juta), 9% di Amerika Latin dan

Karibia (634 juta) dan sisanya 5% di Amerika Utara (358 juta) dan Oseania (39 juta). Cina

(1,4 milyar) dan India (1,3 milyar) merupakan dua negara dengan jumlah penduduk

terbesar dengan masing-masing 19% dan 18% populasi dunia (United Nation, 2015).

Tabel 2.1 Jumlah penduduk dunia dan beberapa wilayah utama pada tahun 2015, serta

proyeksi pada tahun 2030, 2050, dan 2100

Wilayah

Jumlah Penduduk (juta)

2015 2030 2050 2100

Dunia 7.349 8.501 9.725 11.213

Afrika 1.186 1.679 2.478 4.387

(49)

Wilayah Jumlah Penduduk (juta)

2015 2030 2050 2100

Amerika Latin dan Wilayah Karibia 634 721 784 721

Amerika Utara 358 396 433 500

Oceania 39 47 57 71

Sumber : United Nation, 2015

Pada tahun 2015, 50,4% dari populasi dunia adalah pria dan sisanya 49,6%

perempuan (Gambar 2.6). Rata-rata usia populasi dunia adalah 29,6 tahun. Sekitar

seperempat (26 persen) penduduk dunia berusia di bawah 15 tahun, 62% berusia 15-59

tahun dan 12% berusia 60 tahun atau lebih (United Nation, 2015). Hal ini menunjukkan

bahwa hingga dua dekade ke depan populasi dunia juga akan didominasi oleh usia

produktif dengan konsentrasi pada negara-negara di kawasan Asia, yang memiliki

populasi tertinggi.

percentage

Sumber : United Nation, 2015

Gambar 2.6 Distribusi populasi dunia pada tahun 2015 berdasarkan umur dan jenis kelamin

ag

Figur

Gambar 2.3Pergeseran epidemiologi dari penyakit menular ke penyakit tidak menular sertagangguan kesehatan akibat cedera di Indonesia sepanjang tahun 1990 - 2015
Gambar 2 3Pergeseran epidemiologi dari penyakit menular ke penyakit tidak menular sertagangguan kesehatan akibat cedera di Indonesia sepanjang tahun 1990 2015. View in document p.45
Gambar 2.4Sepuluh besar penyakit penyebab kematian di Indonesia
Gambar 2 4Sepuluh besar penyakit penyebab kematian di Indonesia. View in document p.46
Gambar 2.6Distribusi populasi dunia pada tahun 2015 berdasarkan umur dan jenis kelamin
Gambar 2 6Distribusi populasi dunia pada tahun 2015 berdasarkan umur dan jenis kelamin. View in document p.49
Gambar 2.10 Perkembangan impor bahan obat dalam juta USD dengan dominasi bahan alam
Gambar 2 10 Perkembangan impor bahan obat dalam juta USD dengan dominasi bahan alam. View in document p.56
Tabel 2.3Target Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT) yang harus dikembangkan hingga 2025
Tabel 2 3Target Bahan Baku Obat Tradisional BBOT yang harus dikembangkan hingga 2025. View in document p.59
Gambar 3.1Hubungan Ideal antara Bioprospeksi dan Konvensi Keanekaragaman Hayati
Gambar 3 1Hubungan Ideal antara Bioprospeksi dan Konvensi Keanekaragaman Hayati. View in document p.69
Tabel 3.1Pembagian keuntungan seperti tercantum dalam Protokol Nagoya
Tabel 3 1Pembagian keuntungan seperti tercantum dalam Protokol Nagoya. View in document p.70
Tabel 3.2Jumlah spesies tumbuhan obat berdasarkan famili
Tabel 3 2Jumlah spesies tumbuhan obat berdasarkan famili. View in document p.73
Gambar 3.2Peta Provinsi dilakukannya RISTOJA tahun 2012 (hijau) dan tahun 2015 (merah)
Gambar 3 2Peta Provinsi dilakukannya RISTOJA tahun 2012 hijau dan tahun 2015 merah . View in document p.74
Tabel 3.3Sebaran etnis RISTOJA 2015
Tabel 3 3Sebaran etnis RISTOJA 2015. View in document p.75
Tabel 3.4Beberapa varietas tanaman obat unggul yang sudah dilepas
Tabel 3 4Beberapa varietas tanaman obat unggul yang sudah dilepas. View in document p.80
Gambar 4.1Konsep alur penyediaan bahan baku tanaman obat yang berkelanjutan
Gambar 4 1Konsep alur penyediaan bahan baku tanaman obat yang berkelanjutan. View in document p.82
Gambar 4.5Faktor-faktor yang mempengaruhi budidaya tanaman obat
Gambar 4 5Faktor faktor yang mempengaruhi budidaya tanaman obat. View in document p.95
Gambar 4.3Diagram alir pembuatan simplisia rimpang
Gambar 4 3Diagram alir pembuatan simplisia rimpang. View in document p.102
Gambar 5.3Skema ideal standardisasi produk herbal
Gambar 5 3Skema ideal standardisasi produk herbal. View in document p.120
Gambar 6.1Alur pengujian Obat Herbal
Gambar 6 1Alur pengujian Obat Herbal. View in document p.123
Gambar 6.2Peran primary dan secondary bioassay dalam pengembangan obat herbal
Gambar 6 2Peran primary dan secondary bioassay dalam pengembangan obat herbal. View in document p.125
Tabel 6.3HTS secara enzimatis untuk target aktivitas
Tabel 6 3HTS secara enzimatis untuk target aktivitas. View in document p.129
Tabel 6.4HTS untuk pengujian second messenger, gen reporter dan proliferasi sel
Tabel 6 4HTS untuk pengujian second messenger gen reporter dan proliferasi sel. View in document p.130
Gambar 6.3.Pengembangan Metode: HTS dan Secondary bioassay
Gambar 6 3 Pengembangan Metode HTS dan Secondary bioassay. View in document p.132
Gambar 6.4Primary bioassay dan secondary bioassay untuk pengujian pre-klinik secara in
Gambar 6 4Primary bioassay dan secondary bioassay untuk pengujian pre klinik secara in. View in document p.133
Tabel 6.8Beberapa model hewan untuk indikasi penyakit degeneratif
Tabel 6 8Beberapa model hewan untuk indikasi penyakit degeneratif. View in document p.142
Tabel 6.9Daftar Komite Etik di Indonesia
Tabel 6 9Daftar Komite Etik di Indonesia. View in document p.143
Tabel 6.10 menyajikan beberapa hewan model dan penggunaannya dalamskrining aktivitas farmakologi suatu bahan.
Tabel 6 10 menyajikan beberapa hewan model dan penggunaannya dalamskrining aktivitas farmakologi suatu bahan . View in document p.147
Tabel 6.10Hewan model transgenik untuk pengujian farmakologi
Tabel 6 10Hewan model transgenik untuk pengujian farmakologi. View in document p.148
Gambar 7.2Alur proses pembuatan sediaan cair
Gambar 7 2Alur proses pembuatan sediaan cair. View in document p.165
Gambar 7.3Alur proses pembuatan sediaan padat
Gambar 7 3Alur proses pembuatan sediaan padat. View in document p.167
Gambar 7.4Alur proses pembuatan sediaan semi padat
Gambar 7 4Alur proses pembuatan sediaan semi padat. View in document p.169
Tabel 7.1Persyaratan uji praklinik dan klinik untuk obat herbal yang mengalami perubahan
Tabel 7 1Persyaratan uji praklinik dan klinik untuk obat herbal yang mengalami perubahan. View in document p.183
Gambar 7.6Sidik jari kromatografi sampel Ginko biloba dari beberapa sumber
Gambar 7 6Sidik jari kromatografi sampel Ginko biloba dari beberapa sumber. View in document p.191

Referensi

Memperbarui...