• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesenian Islam di Pulau Jawa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kesenian Islam di Pulau Jawa"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

1. Seni Musik

a.

Karawitan

Istilah karawitan dikenal masyarakat Jawa sebagai terminologi musik yang memiliki pengertian musik yang menggunakan perangkat gamelan slendro dan pelog. Dalam budaya Jawa, karawitan ini dibedakan menjadi dua yaitu karawitan vokal dan karawitan yang melibatkan gamelan kompit selendro dan pelog. Karawitan dalam bentuk vokal ini berbentuk sekar macapat, sekar tengahan dan sekar ageng.

Dari sudut pandang agama diketahui hampir seluruh makna dalam macapat mengandung amar ma’ruf nahi munkar. Isi macapat jelas tentang ajaran agama yang berisi ajaran moral dan budi pekerti yang ideal. Dengan kandungan semacam ini, macapat disajikan untuk disimak dan direnungkan oleh masyarakat.

(3)

b. Qasidah

Qasidah adalah bentuk syair epik kesusastraan Arab yang dinyanyikan. Penyanyi menyanyikan lirik berisi puji-pujian (dakwah keagamaan dan satire) untuk kaum muslim. Qasidah merupakan seni suara yang bernapaskan Islam, di mana lagu-lagunya banyak mengandung unsur-unsur dakwah Islamiyah dan nasihat-nasihat baik sesuai ajaran Islam.

(4)

c.

Janengan

Janeng adalah sebuah kesenian tradisional yang berupa nyanyian sholawat dan diiringi dengan musik tradisional. Alat musik yang digunakan berupa terbang (rebana dengan ukuran diameter 50-100 cm ), kendang, calung, dan alat musik tradisional lainnya. Sholawat yang dilatunkan berupa puji-pujian kepada Allah SWT dan Rasulullah Saw, ada yang berbahasa arab dan tak jarang pula menggunakan bahasa jawa.

(5)

2. Seni Bangunan/Arsitektur

a.

Masjid

Masjid merupakan seni arsitektur Islam yang paling menonjol. Masjid adalah tempat peribadatan umat Islam. Berbeda dengan masjid-masjid yang ada sekarang, atap masjid peninggalan sejarah biasanya beratap tumpang bersusun. Semakin ke atas atapnya makin kecil. Jumlah atap tumpang itu biasanya ganjil, yaitu tiga atau lima. Atap yang paling atas berbentuk limas. Di dalam masjid terdapat empat tiang utama yang menyangga atap tumpang.

(6)

b. Keraton

Keraton adalah daerah tempat seorang penguasa (raja atau ratu) memerintah atau tempat tinggalnya (istana). Dalam pengertian sehari-hari, keraton sering merujuk pada istana penguasa di Jawa. Dalam Bahasa Jawa, kata karaton (ke-ratu-an) berasal dari kata dasar ratu yang berarti penguasa. Kata Jawa ratu berkerabat dengan kata dalam Bahasa Melayu; datuk/datu.

(7)

3. Seni Kaligrafi

Kaligrafi atau Khot adalah menulis indah dan disusun dalam aneka bentuk menarik dengan menggunakan bahasa Arab. Dalam dunia Islam, kaligrafi terdiri atas petikan ayat-ayat suci Al Qur’an. Bentuknya beraneka macam, dari yang sederhana, berbentuk tulisan mendatar, sampai bentuk yang rumit seperti sebuah lingkaran, segitiga atau membentuk suatu bangun tertentu seperti masjid.

Seni kaligrafi Islam berkembang pesat sebab agama Islam melarang melukis makhluk hidup sehingga para pelukis Islam mencurahkan bakat lukisannya pada seni kaligrafi.

(8)

4. Tradisi Islam yang Bercorak Islam

a. Upacara Sekaten dan Grebeg Maulid Nabi

Tradisi Sekaten dan grebeg Maulid Nabi sudah dilaksanakan sejak pertama penyebaran agama Islam di Jawa. Penyebar Islam pertama seorang dari Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga yang mempergunakan instrument musik Jawa gemelan sebagai sarana untuk memikat masyarakat agar menikmati pagelaran seni karawitan.

Untuk pagelaran tersebut mempergunakan dua perangkat gamelan yang memiliki suara merdu, dinamakan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu.

Sekaten merupakan upacara pendahuluan dari peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi yang diselenggarakan pada tanggal 5 sampai 12 Rabiul Awal. Kata sekaten berasal dari bahasa Arab yaitu syahadatain. Upacara ini dimulai dengan membunyikan gamelan kraton bertalu-talu.

(9)

Pada umumnya masyarakat berpartisipasi ikut merayakan hari kelahiran Muhammad ini, dan dipercaya akan memperoleh pahala dan dianugerahi awet muda. Setelah masyarakat datang dan menonton, maka dimulai pembacaan basmalah dan ucapan syahadatain yang sekarang disebut sekaten.

Ucapan syahadat sebagai pertanda taat kepada ajaran agama Islam. Setiap tanggal 5 bulan Maulud, kedua perangkat gamelan tersebut yaitu Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu dikeluarkan dari tempat penyimpanannya dari bangsal Sri Mangantri ke bangsal Pancaniti, dan sore harinya mulai dibunyikan antara pukul 23.00 sampai pukul 24.00 WIB.

Upacara sekaten merupakan upacara keagamaan yang diadakan di keraton Jogjakarta dan keraton Surakarta secara bersamaan. Upacara ini menurut sejarahnya digunakan oleh Hamengkubuwono I pendiri keraton jogjakarta untuk mengikuti kegiatan peringatan Maulud dan memeluk agam Islam.

Tahapan pelaksanaan sekaten

Pada hari pertama upacara dimulai pada malam hari dan diiringi oleh barisan punggawa keraton bersama-sama dengan dua set gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Iring-iringan ini dimulai dari pendapa Pancaniti menuju Masjid Agung di alun-alun dengan dikawal oleh prajurit keraton.

Kyai Nogowilogo ditempatkan di sisi utara masjid Agung dan Kyai Guntur Madu di sisi sebelah selatan masjid. Kedua gamelan ini akan dibunyikan setiap tanggal 11 bulan Maulud selam 7 hari. Pada malam, hari terakhir akan dibawa pulang ke dalam keraton.

(10)

Tumplak Wajik adalah upacara pendahuluan Grebeg Mulud yang dilakukan di halaman istana Magangan pada pukul 16.00 WIB. Upacara ini berupa kotekan atau permainan lagu dengan menggunakan kentongan, lumpang untuk menumbuk padi dan semacamnya yang menandai awal dari pembuatan gunungan yang akan diarak pada saat acara Grebeg Maulud.

(11)

b. Selikuran

(12)

c. Megengan / Dandangan

(13)

d. Nyadran

(14)

Pelaksanaan

Nyadran merupakan salah satu tradisi dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kegiatan yang biasa dilakukan saat Nyadran atau Ruwahan adalah:

 Menyelenggarakan kenduri, dengan pembacaan ayat Al-Quran, zikir, tahlil, dan doa, kemudian ditutup dengan makan bersama.

 Melakukan besik, yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan.  Melakukan upacara ziarah kubur, dengan berdoa kepada roh yang telah meninggal di

area makam.

Nyadran biasanya dilaksanakan pada setiap hari ke-10 bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya'ban. Dalam ziarah kubur, biasanya peziarah membawa bunga, terutama bunga telasih. Bunga telasih digunakan sebagai lambang adanay hubungan yang akrab antara peziarah dengan arwah yang diziarahi. Para masyarakat yang mengikuti Nyadran biasanya berdoa untuk kakek-nenek, bapak-ibu, serta saudara-saudari mereka yang telah meninggal.

Referensi

Dokumen terkait