View of MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW MELALUI SUPERVISI AKADEMIK DENGAN PENDEKATAN BIMBINGAN TEHNIS DALAM PEMBELAJARAN (BINI-DAMBEL)

Teks penuh

(1)

251

PEMBELAJARAN (BINI-DAMBEL)

M A H F U D A N W A R I

Pengawas SMP Kabupaten

Abstrak: Dalam dunia pendidikan tidak mengenal berhenti dan tidak akan pernah berhenti dari perkembangan dan pembaharuan.Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang stnadar proses, mengamanatkan roses belajar siswa tidak hanya mencatat dan menghafal, siswa belajar secara aktif dan menyenangkan. Anak belajar bukan hanya mengenal tetapi harus aktif, belajar harus dalam suasana yang menyenangkan. Untuk itu agar pembelajaran menyenangkan guru harus kreatif. Paradigma baru pembelajaran menekankan siswa harus mengkonstruksi sendiri pengetahuan, siswa menemukan mengkoinstruksi dan memaknai pengetahuan yang diperolehnya, sehingga pengetahuan akan meening full bagiu siswa. Namun kenyataannya proses pembelajaran berlangsung secara konvensional. Pembelajaran kooperatif Jigsaw merupakan salah satu alternatif uintuk memecahkan masalah tersebut. Permasalahan yang diangkat dirumuskan sebagai berikut : 1). Apakah Supervisi Akademik melalui pendekatan BINI-DAMBEL dapat meningkatkan kemampuan guru menyusun RPP sesuai dengan pembelajaran kooperatif Jigsaw? 2). Apakah Supervisi Akademik melalui pendekatan BINI-DAMBEL dapat meningkatkan kemampuan guru menerapkan pembelajaran Jigsaw?. Subyek penelitiannya adalah 5 orang guru di SMPN 1 Tragah dan SMPN 2 Tragah Bangkalan Tahun Pelajaran 2015/2016.Penelitian ini dilakukan 3 (tiga) siklus dengan hasil penelitian sebagai berikut siklus pertama tingkat keberhasilan dalam penyusunan RPP mencapai 20%, siklus kedua mencapai 80% siklus ketiga mencapai 100 %. Dalam melaksanakan proses pembelajaran pada pertama tingkat keberhasilan 20% siklus kedua 60% dan pada siklus ketiga 100%. Kesimpulan yang diambil adalah bahwa 1).Supervisi akademik dengan pendekatan pemndampingan dalam pembelajaran (BINI-DAMBEL) dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP sesuai dengan pembelajaran kooperatif jigsaw, 2). Supervisi akademik dengan pendekatan pemndampingan dalam pembelajaran (BINI-DAMBEL) dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran Kooperatif Jigsaw.

Kata Kunci: Pembelajaran Jigsaw, supervisi Akademik, Bini Dambel, kemampuan guru

(2)

252

knowledge will mean full for students. But in reality the learning process takes place conventionally. Jigsaw cooperative learning is one of the alternatives to solve the problem. The issues raised are formulated as follows: 1). Will Academic Supervision through BINI-DAMBEL approach to improve the ability of teachers to prepare RPPs in accordance with Jigsaw cooperative learning? 2). Will Academic Supervision through BINI-DAMBEL approach improve teachers' ability to apply Jigsaw learning? The subjects of this research are 5 teachers in SMPN 1 Tragah and SMPN 2 Tragah Bangkalan in academic 2015 / 2016. This research conducted 3 (three) cycles with result of research as follows first cycle success rate in preparation of RPP reach 20%, second cycle reach 80% the third cycle reaches 100%. In implementing the learning process on the first success rate of 20% second cycle 60% and in the third cycle 100%. The conclusion drawn is that 1). Academic supervision with learning approach (BINI-DAMBEL) can improve teacher ability in preparing RPP according to jigsaw cooperative learning, 2). Academic supervision with a learning approach (BINI-DAMBEL) can improve teachers' ability to apply Jigsaw Cooperative learning.

Pendahuluan

Dalam melaksanakan tugas su-pervisi dapat dipilah menjadi dua kelompok besar yakni supervisi ma-najerial dan supervisi akademik. Sa-lah satu pembinaan yang dilakukan dalam supervisi akademik adalah ma-salah pembelajaran.

Berdasarkan pengamatan sela-ma melaksanakan supervisi di SMPN 1 dan SMPN 2 Tragah penulis mene-mukan hal-hal sebagai berikut :a. Pembelajaran yang berlangsung se-cara konvensional,maksudnya guru dalam melaksanakan pembelajaran selalu mendominasi kegiatan, siswa lebih banyak sebagai obyek sehingga mereka hanya sebagai pendengar, pencatat dan penghafal fakta-fakta. b. Guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sendiri pengetahuan yang diperoleh-nya, sehingga siswa selalu hanya menerima pengetahuan dari gurunya. c. Siswa selalu belajar dengan model satu arah tidak ada kesempataan untuk berdiskusi sesama teman,

ka-rena siswa hanya penerima informasi dari gurunya, d. Pembelajaran selalu dalam bentuk klasikal,sehingga ku-rang inovatif,dan siswa kuku-rang ada ruang untuk saling berdiskusi dan bertukar pengetahuan dan pengala-man sesama siswa maupun sisa dengan guru. Dan masih banyak lagi temuan yang pada prinsipnya pembe-lajaran berlangsung kurang inovatif dan kurang menantang bagi siswa untuk belajar.

Paradigma baru dalam pembela-jaran menuntut adanya perubahan cara belajar siswa dari menerima menuju menemukan, dari menyadap pengetahuan menuju mengkonstruksi pengetahuan. Dalam paradigma ini

Santrock menjelaskan bahwa “penge -tahuan dibangun dan dikonstruksi secara bersama-sama, keterlibatan orang lain dalam mengevaluasi dan mengkonstruksi pengetahuan

(3)

253 Peraturan Pemerintah nomor 74 tahun 2008 tentang guru pada pasal 15 ayat 4 menyatakan bahwa guru yang diangkat dalam jabatan kepala satuan pendidikan melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan profe-sional guru dan tugas kepengawasan. Tugas kepala sekolah adalah mela-kukan pembinaan, supervisi, peni-laian dan monitoring dalam berbagai kegiatan yang dilakukan guru dalam sekolah binaan.

Dalam Undang-Undang sistem Pendidikan Nasional pada ketentuan Umum pasal satu menjelaskan bahwa:

” Pendidikan adalah usaha sadar dan terancana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembe-lajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk untuk memiliki kekuatan siri-tual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mu-lia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan

negara.” (Depdiknas:2006:3)

Sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang tersebut tentunya pro-ses pembelajaran yang didominasi oleh guru sehingga siswa pasif bukan merupakan sebuah proses pembelaja-ran yang tidak produktif. Proses pem-belajaran yang demikian hanyalah akan mengebiri hak siswa untuk berinovatif dan berkreasi dalam mengaktualisasikan dan mengem-bangkan potensi yang ada pada dirinya. Kondisi yang demikian menimbulkan adanya kesenjangan sehingga bahwa pembelajaran tidak sesuai dengan perkembangan jaman

dan kurang menumbuhkan kreativitas dan inovasi bagi siswa.

Peraturan Menteri Pendidikan nasional nomor 41 tahun 2007 ten-tang standar proses dijelaskan bahwa kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, dan menye-nangkan serta memberikan kesem-patan kepada siswa untuk mengem-bangkan potensinya secara optimal.

Salah satu metode pembelajaran yang dapat memberikan peluang sis-wa untuk saling mengisi,saling asah dan asuh adalah model pembelajaran Kooperatif Jigsaw. Isjoni (2014:77)

menjelaskan bahwa “ pembelajaran

kooperatif Jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling memanbtu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai

prestasi yang maksimal.”

Berdasar pandangan modern di bidang pendidikan menyatakan bah-wa pembelajaran yang sebenarnya adalah menciptakan lingkungan se-demikian rupa sehingga siswa akan dapat belajar dengan senang, kreatif, inovatif dan efektif. Guru bukan lagi sebagai satu-satunya orang yang pa-ling ahli dalam setiap pengetahuan, namun guru diharapkan lebih berfungsi sebagai fasilitator, sehingga siswa akan dapat membangun penge-tahuannya, menemukan nya, dan menggunakan pengetahuan-nya dalam kehidupan sehari-hari.

(4)

254 memberikan kesempatan kepada sis-wa untuk menemukan, mengkons-truksi, dan menggunakan pengeta-huan dalam kehidupan sehari-hari, namun kondisi riil menunjukkan lain. Dalam belajar siswa tak ubahnya dijadikan obyek, dan harus sesuai dengan kemauan guru, bukan lagi subyek yang dapat berbuat sesuai dengan kebutuhannya. Hal tersebut mengakibatkan adanya kematian kre-atifitas, hilangnya inovasi, dan kejenuhan dalam pembelajaran.

Untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut diperlukan adanya pembinaan kepada para guru dalam menerapkan pembelajaran yang dapat menumbuhkan kreatifitas dan inovasi pada siswa. Pembelajaran yang dapat menjembatani dan me-numbuhkan kreatifitas siswa dian-taranya adalah model pembelajaran JIGSAW.

Kondisi tersebut disebabkan beberapa hal diantaranya adalah guru belum menguasai model-model pem-belajaran sesuai dengan amanat permendiknas, supervisi yang sering dilakukan baik pengawas sekolah maupun kepala sekolah sendiri belum optimal dalam melakukan pembinaan pada sisi akademik. Sementara ini supervisi dititik beratkan pada sisi manajerial atau administratif untuk perlengkapan pengusulan PAK guru.

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya Kepala Sekolah tentunya mulai merubah paradigmanya dengan melakukan kegiatan supervisi aka-demik, mengadakan kunjungan kelas untuk mengamati guru dalam mela-kukan kegiatan pembelajaran,

sehing-ga dapat memberikan saran yang baik tentang pembelajaran yang aktif, inovatif, efektif dan menyenangkan. Bahkan kalau perlu guru melakukan pendampingan dalam pembelajaran.

Berdasar hal-hal tersebutlah penulis mengadakan penelitian tinda-kan sekolah judul : “Meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif JIGSAW melalui supervisi akademik dengan pendekatan bimbingan Tehnis dalam pembelajaran (BINI-DAMBEL) di beberapa SMP dalam wilayah binaan Kabupaten Bangkalan Tahun Pelaja-ran 2015/2016”.

Model Pembelajaran Kooperatif JIGSAW

Menurut Davidson dan

Wars-ham (dalam Isjoni, 2011: 28), “Pem -belajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pen-dekatan pembelajaran yang berefekti-fitas yang mengintegrasikan keteram-pilan sosial yang bermuatan

akade-mik”.

Slavin (dalam Isjoni, 2011: 15)

menyatakan bahwa “pembelajaran

kooperatif adalah suatu model pem-belajaran dimana siswa belajar dan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok

(5)

255 dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-perta-nyaan yang diberikan pada mereka.

Menurut Lie (2003: 12) Pembe-lajaran Kooperatifadalah sistem pengajaran yang memberikan kesem-patan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruk-tur. Pembelajaran kooperatif merupa-kan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas ke-lompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memaha-mi materi pelajaran.

Di pihak lain menurut Slavin (dalam Solihatin, 2007: 5), pembe-lajaran koope-ratif atau Coopera-tive learning adalah suatu model p embelajaran dimana siswa bela-jar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolabo-ratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur ke-lompok yang bersifat heterogen. Se lanjutnya

dikatakan pula, keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada ke-mampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun kelompok

Meskipun ciri khas pembelaja-ran kooperatif adalah terbentuknya kelompok belajar, namun tidak semua belajar kelompok dapat disebut sebagai pembe-lajaran kooperatif. Pada Pembelajaran Kooperatifada unsur-unsur yang harus dipenuhi. Hal

ini seperti dikemukakan oleh Johnson dalam Lie (2003: 30)

“Tidak semua kerja kelompok

bisa dianggap Cooperative Learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur pembelajaran kooperatif harus di-terapkan, yaitu : (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perse-orangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, dan (5)

evaluasi proses kelompok”.

Model Pembelajaran Kooperatif JIGSAW

Dari sisi etimologi Jigsaw be-rasal dari bahasa ingris yaitu gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah Fuzzle, yaitu sebuah teka teki yang menyususn potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini juga mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji ( jigsaw), yaitu siswa melakukan se-suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.

(6)

256 Jigsaw pertama kali dikembang-kan dan diujicobadikembang-kan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Univer-sitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).

Teknik mengajar Jigsaw dikem-bangkan oleh Aronson et. al. sebagai metode Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.

Dalam teknik ini, guru memper-hatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih ber-makna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keteram-pilan berkomunikasi.

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997).

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembe-lajaran kooperatif dimana siswa bela-jar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pela-jaran yang harus dipelajari dan

me-nyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997).

Jigsaw didesain untuk mening-katkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelom-poknya yang lain. Dengan demikian,

“siswa saling tergantung satu dengan

yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari

materi yang ditugaskan” (Lie, A.,

1994).

Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.

(7)

me-257 nyelesaikan tugas-tugas yang berhu-bungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukanakan pendapat, dan mengelolah imformasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasii, anggo-ta kelompok beranggo-tanggung jawab aanggo-tas keberhasilan kelompoknya dan ketun-tasan bagian materi yang dipelajari, dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya (Rusman, 2008.203).

Langkah-langkah dalam Model Pembelajaran Kooperatif JIGSAW

Pada model pembelajaran Ko-operatif JIGSAW dilakukan dengan langkah- langkah yang berbeda de-ngan model yang lain, dalam model JIGSAW ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling asah,asih dan asuh. Dalam pembelajaran ko-operatif JIGSAW juga menanamkan beberapa karakter seperti jujur, meng-hargai pendapat orang lain, bekerja-sama sebekerja-sama teman, berani menge-mukakan pendapat dengan benar dan sebagainya.

Menurut Rusman (2008 : 205) model pembelajaran jigsaw ini dike-nal juga dengan kooperatif para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Namun, permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, kita sebut sebagai team ahli yang bertugas membahas permasalahan yang diha-dapi. Selanjutnya, hasil pembahasan itu di bawah kekelompok asal dan

disampaikan pada anggota kelompok-nya.

Kegiatan yang dilakukan pada model pembelajaran kooperatif Jig-saw sebagai berikut: 1) Melakukan mambaca untuk menggali informasi. Siswa memeperoleh topik - topik permasalahan untuk di baca sehingga mendapatkan imformasi dari perma-salahan tersebut. 2) Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatka topik permasalahan yang sama berte-mu dalam satu kelompok atau kita sebut dengan kelompok ahli untuk membicaran topik permasalahan ter-sebut. 3) Laporan kelompok, kelom-pok ahli kembali ke kelomkelom-pok asal dan menjelaskan dari hasil yang didapat dari diskusi tim ahli. 4) Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi. 5) Perhitungan sekor kelompok dan menetukan penghargaan kelompok.

(8)

258 tentang sub bab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya mendengar-kan dengan seksama. 6) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. 7) Guru memberi evaluasi. 8) Penutup.

Evaluasi dalam Pembelajaran Jigs-aw

Pandangan ini menganut falsa-fah homo homini socius yang mene-kankan saling ketergantungan antar mahluk hidup. Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama, tak akan ada individu, keluarga, organisasi, atau masyarakat. Tanpa kerjasama, kese-imbangan lingkungan hidup akan terancam punah. Namun demikian, tidak semua kerja kelompok bisa diangap cooperative learning. Ada beberapa prosedur dan unsur yang harus diterapkan dalam sistem pengajaran Cooperative Learning. Diantaranya adalah tanggung jawab pribadi dan saling ketergantungan yang positif.

Dalam penilian, siswa men-dapat nilai pribadi dan nilai kelom-pok. Siswa bekerja sama dengan metode cooperative learning. Mere-ka saling membantu dalam memer-siapkan diri untuk tes. Kemudian, masing-masing mengerjakan tes sendiri-sendiri dan menerima nilai pribadi.

Nilai kelompok bisa dibentuk dengan beberapa cara. Pertama, nilai kelompok bisa diambil dari nilai terendah yang didapat siswa dalam kelompok. Kedua, nilai kelompok yang bisa diambil dari

rata-rata nilai semua anggota

kelom-pok, dari “sumbangan” setiap ang -gota. Kelebihan kedua cara ini adalah semangat gotong royong yang ditanamkan. Dengan cara ini kelompok bisa berusaha lebih keras untuk membantu semua anggota dalam mempersiapkan diri untuk tes. Namun, kekurangannya adalah perasaan negatif dan tidak adil. Siswa yang mampu akan merasa dirugikan oleh nilai rekannya yang rendah, sedangkan siswa yang lemah mungkin bisa merasa bersalah karena sumbangan nilainya paling rendah.

Untuk menjaga rasa keadilan ada cara lain yang bisa dipilih. Setiap aanggota menyumbangkan poin diatas milai rata-rata mereka sendiri. Misalnya, nilai rata-rata si A adalah 60 dan kali ini dia mendapat 65, dia akan menyumbangkan 5 poin untuk kelompok. Ini berarti setiap siswa, pandai ataupun lamban, mempunyai kesempatan untuk memberikan kontribusi. Siswa lam-ban tak merasa minder terhadap rekan-rekan mereka karena mereka-juga bisa memberikan sumbangan. Malahan mereka akan merasa terpacu untuk meningkatkan kontri-busi mereka dan dengan demikian menaikan nilai pribadi mereka sen-diri.

Supervisi Akademik dengan Pende-katan BINI-DAMBEL

(9)

meru-259 pakan pekerjaan inspeksi, mengawasi dalam pengertian mencari kesalahan dan menemukan kesalahan dengan tujuan untuk diperbaiki. Dalam per-kembangannya cara ini dapat menja-dikan guru ketakutan dan setiap langkah kerja guru selalu takut melakukan kesalahan sehingga mere-ka terlalu tegang. Kemudian penger-tian tersebut mengalami pergeseran. Supervisi bukan lagi upaya mencari kesalahan guru tetapi merupakan upa-ya upa-yang dilakukan pengawas untuk memberikan arah serta mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pembelajaran.

Pada perkembangan terakhir ditegaskan bahwa tujuan supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan untuk pengembangan situasi pembelajaran yang dilakukan guru di dalam kelas. Sesuai dengan pedoman supervisi tahun 2007 ditegaskan bahwa pengawas sekolah mempunyai tugas untuk melakukan supervisi manajerial dan supervisi akademis. Supervisi manajerial ditujukan kepa-da kepala sekolah kepa-dalam kaitan bagai-mana mereka harus mebagai-manage seko-lah berdasarkan aturan dan pedoman menajemen berbasis sekolah, sedang-kan supervisi akademis ditujusedang-kan un-tuk membina para guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran di kelas termasuk bagaimana guru harus menyusun rencana pembelajarannya.

Prinsip-prinsip Supervisi Pendidi-kan

Menurut Sahertian dalam buku-nya Konsep Dasar dan Teknik Supe-rvisi Pendidikan dijelaskan bahwa

prinsip-prinsip supervisi adalah seba-gai berikut :

1) Prinsip ilmiah maksudnya adalah bahwa supervisi dilaksanakan ber-dasarkan data yang objektif yang diperoleh alat seperti obserasi, angket dan sebagainya. Dan super-visi tersebut dilaksanakan secara sistematis.

2) Prinsip Demokratis

Supervisi dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru merasa aman untuk mengembang-kan tugasnya. Demokrasi mengan-dung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru, bukan berdasarkan atasan dan bawahan, tetapi berdasarkan rasa kesejawatan.

3) Prinsip Kerjasama

Yang dimaksud dengan kerja-sama atau mengembangkan usaha bersama dalam supervisi adalah sharing of idea, sharing of experience, memberi support, mendorong, menstimulasi guru se-hingga mereka merasa tumbuh bersama.

(10)

260 Berdasarkan prinsip-prinsip se-bagaimana tesebut diatas jelaslah bahwa dalam melaksanakan supevisi seorang supervisor haruslah mem-bangun kerjasamadengan guru yang disupervisi dalam rangka memecah-kan permasalahan yang dihadapi guru dalam melaksanakan tugas pembela-jaran.

Supervisi Akademik

Supervisi secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni Supevisi Akademis dan Super-visi Manajerial. SuperSuper-visi akademis adalah supervisi yang sasaran binaan-nya mengarah pada masalah-masalah akademis seperti Proses belajar me-ngajar, Bimbingan dan Konseling, Penilaian dan sebagainya.

Dalam supervisi akademis seo-rang pengawas harus dapat embantu guru dalam memecahkan berbagai persoalan tentang proses belajar mengajar. Masalah proses belajar mengajar berkaitan dengan hal-hal penggunaan media pembelajaran, penggunaan metode pembelajaran, melaksanakan penilaian pembelaja-ran, program remidi dan pengayaan.

Pembelajaran pakem merupa-kan model pembelajaran yang sedang trend an dikembangkan di Indonesia untuk itu supervise menejerial menga-rah pada bagaiana penerapan pembe-lajaran pakem di sekolah guru tempat mengajar.

Bimbingan Tehnis Dalam Pembela-jaran (BINI-DAMBEL)

Pendampingan dalam pembela-jaran adalah merupakan salah satu cara yang dilaakukan pengawas

sekolah dalam membina guru dalam wilayah binaan. Proses kegiatan pendampingan dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut 1) Supervisor (kepala Sekolah)

mela-kukan identifikasi kekurangan atau kelemahan guru dalammelakukan kegiatan pembelajaran baik dari sisi Rencaan pembelajatan , dari sisi pelaksanaan pembelajaran, maupun evaluasinya.

2) Supervisor (Kepala Sekolah) mela-kukan rencana perbaikan atau pembinaan atas kekurangan atau kelemahan yang dilakukan guru; 3) Supervisor (Kepala Sekolah)

mela-kukan pendampingan atau men-dampingi selama guru melakukan kegiatan pembelajaran, sehingga dengan demikian pengawas tahu betul kekurangan atau kelemahan dalam melakukan kegiatan pembe-lajaran.

Kegiatan Kepala Sekolah de-ngan melakukan pendampide-ngan ini masih banyak belum dilakukan, oleh karenanya kegiatan ini Kepala Seko-lah berusaha sekuat tenaga atau secara optimal agar pendampingan dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan baik dan berhasil memebina guru dalam melakukan kegiatan pembela-jaran JIGSAW.

Metode Penelitian

(11)

pene-261 litian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan Sekolah, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tin-dakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pe-ngamatan), dan reflection (refleksi).

Subyek dan Obyek Penelitian

Subyek penelitian adalah orang yang terlibat dalam penelitian dan keududkannya sangat strategis. Da-lam penelitian ini subyek penelitian adalah orang-orang yang dilihat kegi-atannya sesuai obyek yang diamati, untuk ditentukan tingkat keberha-silannya dalam melakukan kegiatan tentang obyek penelitian.

Subyek penelitian dalam hal ini adalah guru di SMPN 1 Tragah dan SMPN 2 Tragah 1, Kamal Tahun Pelajaran 2014/2015 yang jumlahnya 8 (delapan) orang. Obyek Penelitian-nya adalah kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran koope-ratif Jigsaw. Dengan demikian yang menjadi pengamatan peneliti adalah bagaimana guru menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw di Kelasnya.

Untuk melaksanakan pengama-tan tersebut peneliti menggunakan instrumen pengamatan yang disebut Instrumen Pengamatan Kegiatan Guru atau IPKG. Intstrumen tersebut mencakup bagaimana guru melaksa-nakan persiapan pembelajaran, me-laksanakan baik pendahuluan kegi-atan inti maupun kegikegi-atan akhir, dan

juga bagaimana guru subyek peneli-tian mengadaan peniliaan hasil bela-jar.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan berda-sarkan lokasi penelitian yakni di SMPN 1 dan SMPN 2 Tragah, Kabu-paten Bangkalan. Sekolah tersebut merupakan sekolah tempat peneliti melaksanakan tugas sehari-hari. Se-dangkan alamat sekolah berada Ka-bupaten Bangkalan.

Penelitian ini dilaksanakan se-lama 3 (tiga) Bulan yakni pada bulan Februari 2016 sampai dengan bulan April 2016.

Prosedur Penelitian

Dalam penelitian tindakan se-kolah ini dilakukan melalui beberapa siklus, dan masing-masing siklus dila-kukan melalui beberapa tahapan yak-ni tahap perencanaan, tahap pelak-sanaan, tahap observasi dan tahap refleksi.

Instrumen Pengumpulan Data dan Tehnik Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan un-tuk pengumpulan data dalam peneliti-an ini adalah Instrumen Penilaipeneliti-an Kinerja Guru atau yang disebut IPKG. Dalam penelitian ini diguna-kan dua instrumen yakni IPKG 1 yang digunakan untuk menilai Ren-cana Pembelajaran yang digunakan oleh Guru dan IPKG 2 yang diguna-kan untuk menilai kgiatan pembela-jaran guru.

(12)

262 rencana pembelajaran mencakup : 1) Kejelasan perumusan tujuan pembe-lajaran. 2) Pemilihan dan pengemba-ngan materi pembelajaran. 3) Pengor-ganisasian Materi pelajaran 4) Pemili-han sumber / media pembelajaran. 5) Kejelasan skenario pembelajaran 6) Kesesuaian tehnik evaluasi yang direncanakan. 7) Kelengkapan instru-men evaluasi yang direncanakan.

IPKG 2 berisi aspek pegamatan tentang kegiatan pembelajaran meto-de pembelajaran kooperatif mometo-del group investigation (GI) yang melipu-ti : 1) Mempersiapkan siswa untuk belajar. 2) Melakukan kegiatan apersepsi. 3) Penguasaan materi belajaran. 4) Mengaitkan materi pem-belajaran dengan pengetahuan lain yang relevan. 5) Menyampaikan materi pembelajaran dengan jelas dan runtut sesuai dengan hierarkhi belajar dan karakteristik siswa. 6) Mengait-kan materi pembelajaran dengan realitas kehidupan. 7) Melaksanakan pembelajaran sesuai dengn tujuan. 8) Menguasai kelas. 9) Melaksanakan pembelajaran dengan mengaktifkan siswa. 10) Melaksanakan pembela-jaran yang memungkinkan tumbuh-nya kebiasaan positif bagi siswa. 11) Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direnca-nakan. 12) Menggunakan media pem-belajaran secara efektif dan efisien. 13) Menbuhkan partisipasi aktif dalam pembelajaran. 14) Menunjuk-kan sikap terbuka terhadap respon siswa. 15) Menubuhkan keceriaan dan antusiasme siswa dalam belajar. 16) Memantau/melakukan penilaian dalam proses. 17) Melakukan

peni-laian akhir sesuai dengan tujuan. 18) Penggunaan gaya yang sesuai dan bahasa baik tulis maupun lisan dengan jelas baik dan benar. 19) Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa. 20) Melakukan tindak lanjut dengan memberikan arahan atau kegiatan atau tugas sebagai bagian remidial/ pengayaan.

Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengupulkan data penu-lis menggunakan metode observasi dan dokumentasi. Observasi dilaku-kan ketika guru melaksanadilaku-kan pem-belajaran.

Dokumentasi digunakan nuntuk menilai rencana pembelajaran yang digunakan guru.

Kriteria Keberhasilan Penelitian

Kriteria keberhasilan ditetapkan bahwa : Masing-masing guru maupun secara keseluruhan dinyatakan tuntas atau berhasil jika mencapai nilai se-bagai berikut :

1. Kriteria keberhasilan/ketuntasan dalam menyusun RPP.

(13)

263 2. Kriteria keberhasilan/ ketuntasan

penelitian dalam pelaksanaan pem-belajaran.

Dalam menetapkan apakah pe-nelitian pelaksanaan pembelajaran berhasil atau tidak, maka ditetap-kan kriteria keberhasilan atau kri-teria ketuntasan dalam penelitian tindakan sebagai berikut :

a. Penelitian dalam pelaksanaan pembelajaran dinyatakan tuntas/ berhasil secara individu jika tiap guru mencapai skor mini-mal 80, artinya tiap aspek mi-nimal mendapat nilai 4 dari 20 aspek pengamatan kegiatan pembelajaran.

b. Penelitian ini dianggap selesai atau berhasil jika 80 % dari guru-guru yang menjadi respon-den dalam penerapan pembela-jaran kontekstual telah menda-pat nilai minimal 80.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

a. Hasil Penelitian Per Siklus

Siklus I

a) Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini dilaksanakan pada hari Sabtu 7 Februari 2015. Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan guru yang menjadi subjek penelitian mendapatkan penjelasan ten-tang cara menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan metode pembelajaran yang hendak diterapkan yakni meto-de pembelajaran Kooperatif JIGSAW. Penjelasan tersebut disesuaikan berdasarkan hasil temuan yang ditemukan peneliti

di lapangan sehingga kekura-ngan yang ditemukan di lapa-ngan diharapkan dapat ditutupi sehingga tujuan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar dapar tercapai secara maksimal.

Kegiatan bimbingan dalam menyusun RPP sesuai dengan pembelajaran Kooperatif Jigsaw dilakukan dalam bentuk pen-dampingan.Selanjutnya dengan bimbingan peneliti, guru me-nyusun rencana pembelajaran untuk digunakan pada siklus I. Pada perencanaan ini rencana pembelajaran dibuat dengan ke-rangka acuan yakni penge-fektifan penerapan pembelaja-ran Jigsaw dalam proses belajar mengajar melalui supervisi aka-demik yang dilakukan kepala sekolah selaku peneliti dalam kegiatan ini.

b)Pelaksanaan Tindakan

Tahap pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan pada tanggal 11 sampai dengan 13 Februari 2016. Dengan rincian kegiatan, pada hari Rabu, tanggal 11 Maret 2016, guru sebagai sub-yek penelitian melaksanakan kegiatan pembelajaran seba-nyak 2 orang guru . Sedangkan pada tanggal 12 Februari 2016, yang akan diobservasi sebanyak 2 orang guru , pada tanggal 13 Februari 2016 guru yang akan diamati 1 orang guru .

c) Observasi

(14)

bersa-264 maan dengan tahap pelaksa-nakan tindakan, hanya saja dalam tahap observasi ini, peneliti mengamati kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehingga peneliti dapat mengetahui bagian-bagian mana saja yang perlu diadakan perbaikan. Secara faktual dapat dikemukakan bah-wa pada bulan Februari 2016 peneliti mengobservasi guru dalam menerapkan pembelajara Kooperatif Jigsaw.

Jadi dalam tahap ini peneliti dapat menarik kesimpulan dari pelaksanaan tindakan pada siklus I sehinga nantinya akan diperbaiki pada siklus selan-jutnya. Peneliti tidak hanya mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilak-sanakan guru tapi juga menge-nai rencana pembelajaran yang dibuat.

Hasil pengamatan atau observasi pada siklus pertama dapat direkap sebagai berikut.

Tabel 4.1

Rekapitulasi Hasil Pengamatan Siklus Pertama. Kurang dari 28 Sama atau lebih

Siklus I dilaksanakan tanggal 11 sampai dengan 13 Februari 2015 dengan hasil observasi sebagaimana tersebut dalam tabel di atas dapat dilihat secara riil bahwa pada siklus tersebut masih terdapat 4 orang guru yang belum mencapai nilai minimal yang ditetapkan. Artinya pembelajaran yang di-laksanakan masih sesuai dengan yuang diharapkan.

Siklus II

a) Perencanaan

Perencanaan pada siklus kedua dilaksanakan pada tang-gal 20 Februari 2016, untuk menyempurnakan pelaksanaan siklus sebelumnya. Peneliti membahas hasil refleksi tinda-kan pada siklus I dan tindatinda-kan yang dilaksanakan pada siklus II. Pada perencanaan siklus kedua peneliti bersama guru subyek penelitian membahas solusi atas kelemahan yang terjadi pada siklus pertama. Peneliti mengingatkan bahwa guru subyek penelitian harus menyempurnakan rencana pela-jaran maupun pelaksanaan pem-belajaran.

(15)

penyusu-265 nan alat evaluasi atau instrumen alat evaluasinya perlu dileng-kapi dengan kunci jawaban, rumus penilaian.

Kekurangan pada pelaksa-naan pembelajaran Jigsaw ter-letak pada kegiatan bahwa gurubelum menyapaikan tujuan pembelajaran pada awal ke-giatan, penilaian dalam proses belum dilakukan, belum me-refleksi dan kesimpulan hanya dilakukan oleh guru. Hal-hal tersebut yang disempurnakan pada perencanaan pembelaja-ran, sehingga dalam pelaksana-an pembelajarpelaksana-an siklus kedua akan lebih sempurna.

Kekurangan tersebut disam-paikan kepada para guru seba-gai subyek penelitian untuk di-rencanakan dan disempurnakan pada kegiatan siklus kedua. Pada tahap perencanaan siklus kedua inilah guru menyusun rencana pembelajaran dan se-mua fasilitas yang diperlukan untuk menerapkan pembelaja-ran Jigsaw pada siklus kedua. Dengan persiapan dan masukan yang diberikan oleh peneliti atau Kepala Sekolah diharapkan perancanaan dan pelaksanaan pembelajaran Jigsaw dapat dilakukan lebih sempurna.

b) Pelaksanaan Tindakan

Tahap pelaksanaan ini dilak-sanakan pada tanggal 25 sampai dengan 27 Februari 2015 di SMPN 1 dan SMPN 2 Tragah. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mengacu

pada RPP yang telah disem-purnakan pada siklus kedua. Guru menyampaikan informasi tujuan pembelajaran yang akan disampaikan. Dalam pertemuan ini tampak berbeda dengan siklus 1, Di samping itu lang-kah-langkah kegiatan pembela-jaran sepertu penyusunan lompok, pemberian tugas ke-lompok, disksusi kelompok dan diskusi kelas tampak dilaksa-nakan dengan baik.Guru lebih berperan sebagai motivator dan fasilitatoruntuk memberi ke-sempatan agar siswa mene-mukan dan mengkonstruksikan pengetahuan yang diperoleh dan disiskusikan.Meskipun

demikian masih terdapat bebe-rapa kekurangan jika dibanding-kan dengan rencana pembelaja-ran yang telah disusun.

c) Observasi

(16)

266 post test. Namun demikain post test dilakukan guru untuk me-ngetahui keberhasilan pembela-jaran.

Pada tanggal 26 Februari 2016 peneliti mengobservasi kegiatan pembelajaran bagi gu-ru IPA dan IPS , fokus obser-vasi adalah bagaimana proses pembelajaran dilakukan guru dan siswa, langkah-langkah ke-giatan pembelajaran Jigsaw, penilaian dalam proses selama kegiatan belajar mengajar. Ob-servasi dilakukan oleh peneliti yaknikepala sekolah dan guru senior sebagai observer.

Pada tanggal 27 Februari 2015 pengamatan dilaksanakan bagi pembelajaran pada Guru , yakni sudah menyampaikan tu-juan dalam pembelajaran tetapi penilaian dalam proses belum dilaksanakan, refleksi belum di-laksanakan meskupun sudah dilaksanakan post test.

Pada siklus kedua ini peneliti lebih cermat dalam mengamati tindakan atau pelaksanaan pebe-lajaran yang dilakukan guru diamati oleh peneliti dan guru senior, dengan demikian hasil pengamatan diharapkan akan lebih baik dan hasil penelitian diharapkan akan lebih optimal. Meskipun demikian instrumen yang digunakan dalam menga-mati pelaksanaan pembelajaran oleh subyek penelitian tetap seperti pada siklus pertama yakni menggunakan IPKG1 un-tuk menilai rencana pebelajaran

dan IPKG 2 untuk menilai pe-laksanaan pembelajaran.

Hasil pengamatan atau ob-servasi pada siklus kedua dapat direkap sebagai berikut.

Tabel 4.2

(17)

pembela-267 jaran dapat dicapai optimal dan dapat dijadikan bahan rujukan bagi guru-guru lain untuk dapat mencontoh dan merealisasikan dengan baik dan benar.

Siklus III

a) Perencanaan

Perencnaan pada siklus keti-ga dilaksanakan pada tangketi-gal 7 Maret 2015, di sekolah tenpat penelitian. Peneliti bersama de-ngan guru senior dan guru siubyek penelitian memenyem-purnakan hasil tindakan pada siklus II dan tindakan untuk dilaksanakan pada siklus III. Masalah yang disempurnakan yaitu penerapan pebelajaran Jigsaw berdasarkan hasil reflek-si reflek-siklus II. Pada reflek-siklus ketiga ini yang disempurnakan pada RPP adalah penyempurnaan alat atau untsrumen evaluasi, se-dangkan kegiatan pembelajaran Jigsaw tentang refleksi dan penilaian dalam proses yang belum dilaksanakan oleh guru.

b) Pelaksanaan Tindakan

Tahap pelaksanaan ini dilak-sanakan pada tanggal 18 sampai dengan 20 Maret 2015 di lokasi penelitian yakni di SMPN 1 dan SMPN 2 Tragah. Guru melak-sanakan kegiatan pembelajaran dengan mengacu pada persia-panatau rencana pembelajaran yang telah disempurnakan dari siklus kedua. Guru menyampai-kan informasi tujuan pembela-jaran yang akan disampaikan.

Pada tanggal 18 Maret 2015 kegiatan pembelajaran dilaksa-nakan oleh guru , Pada tanggal 19 Maret 2015 kegiatan pem-belajaran dilaksanakan guru IPA dan IPS. Pada tanggal 20 Maret 2015 kegiatan pembela-jaran dilaksanakan oleh guru .

Semua guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan Rencana pembelajaran yang telah disusun dengan cara pendampingan bersama peneliti dan guru senior.

c) Observasi

Tahap ini dilaksanakan ber-saaan dengan tahap pelaksana-an, yakni tanggal 18 sampai dengan 20 Maret 2015. Obser-vasi dilakukan secara bersama-an dengbersama-an pelaksbersama-anabersama-an tinda-kan, dengan tujuan untuk mem-proleh informasi yang lebih mendalam dan menyeluruh tentang pelaksanaan pembela-jaran pada siklus ketiga. Fokus observasi adalah bagaimana proses penerapan tindakan yang dilakukan guru berdasar Ren-cana Pembelajaran yang telah disusunnya.

(18)

268 sebelumnya, karena semua langkah dan semua kegiatan penlaian dalam proses, refleksi, menyimpulkan dan penilaian akhir telah dilaksanakan dengan baik

Pada tanggal 19 Maret 2015 peneliti bersama guru senior mengobservasi kegiatan pembe-lajaran yang dilakukan oleh guru IPA yang mengajar kelas 4 dan Guru IPS. Hasil penga-matan menunjukkan bahwa se-mua guru telah melaksanakan pembelajaran dengan baik dan lebih baik dari siklus sebelum-nya, Rencana pembelajaran te-lah disusun dengan baik instru-men penliaian yang biasanya belum sempurna telah disusun dengan baik dan lengkap, baik instrumennya maupun kunci jawaban dan rumus penilaian-nya. Demikian juga dengan pelaksanaan pembelajaran, ke-dua guru telah melaksanakan kegiatan pembelajaran lebih sempurna dari siklus sebelum-nya (siklus kedua). Langkah-langkah jigsaw tampak, penilai-an baik dalam proses maupun pada akhir kegiatan pembelaja-ran tekah dilaksanakan dengan baik.

Pada tanggal 20 Maret 2015 peneliti dan guru senior melak-sanakan observasi kegiatam pembelajaran bagi guru yang telah menyusun rencana pembe-lajaran dengan baik sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, baik langkah-langkah, tujuan

pembelajaran sudah variatif an-tara C1, C2, C3 dan setersunya, alat evaluasi atau instrumen evaluasi telah disusun dengan baik dan lengkap.

Hasil pengamatan atau ob-servasi pada siklus ketiga dapat direkap sebagai berikut.

Tabel 4.3

Rekapitulasi Hasil Pengamatan Siklus Ketiga. Kurang dari 28 Sama atau lebih

Tahap refleksi merupakan tahap untuk merenungkan ten-tang hasil pengamatan atau obsevasi yang dilakukan baik oleh observer maupun oleh peneliti dalam hal ini Kepala Sekolah. Dari hasil observasi ternyata pada peyusunan ren-cana pembelajaran semua guru telah melakukannya dengan baik, hal itu terbukti bahwa tidak ada seorang gurupun yang memperoleh nilai dibawah nilai ketuntasan.

(19)

269 guru yang belum mencapai ketuntasan meskipun masih ada sedikit pada penilaian dalam prosesbelum optimal, semua guru telah mencapai standar nilai yang ditetapkan. Artinya secara umum berdasar keten-tuan ketuntasan pelaksanaan pembelajaran pada siklus ketiga ini telah tuntas.

Pembahasan

Hasil pengamatan pada rencana pembelajaran pada siklus pertama dan siklus kedua terdapat perubahan yang sangat signifikan. Hasil pengamatan pada siklus pertama masih banyak ditemukan kekurangan sehingga pro-sentase keberhasilan masih dibawah kiteria keberhasilan atau kriteria ketuntasan dalam penelitian. Hasil pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran pada siklus ketiga di-dapatkan bahwa untuk penilaian rencana pembelajaran tidak ada seorang gurupun yang mendapat nilai di bawah 28 dari 7 aspek yang dia-mati,artinya nilai minimal tiap aspek 4.

Dalam membandingkan hasil pengamatan peneliti memisahkan an-tara hasil pengamatan tentang rencana pembelajaran dengan hasil pengama-tan tenpengama-tang pelaksanaan pembelaja-ran, Hal ini dimaksudkan agar lebih rinci diketahui keberhasilan masing-masing unsur. Perbandingan hasil pengamatan tersebut dapat disajikan pada tabel 4.4.dan tabel 4.5. Adapun hasil pengamatan dengan mengguna-kan instrumen IPKG1 yakni dengan meneliti RPP yang didudun guru menunjukkan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.4

Perbandingan Hasil Pengamatan tentang Rencana Pembelajaran

Masing-Masing Siklus tahui bahwa perekmbangan kemam-puan guru dalam menyusun RPP sesuai pembelajaran Jigsaw. Untuk lebih jelasnya data tersebut bisa ditampilkan dalam sebuah grafik .Adapun grafik perbandingan hasil pengamatan tentang rencana pembela-jaran dari ketiga siklus tersebut di atas yakni sebagai berikut :

(20)

270 Pada siklus kedua meningkat terdapat 4 orang guru atau 80% guru dapat

menyusun RPP dengan benar. 3) Sedangkan pada siklus ketida

semua atau 100 % telah guru dapat menyusun RPP dengan benar.

Dengan demikian dapat dika-takan bahwa supervisi akademik dengan pendekatan BINI-DAMBEL dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun rencana pembela-jaran.

Selanjutnya akan dipaparkan hasil pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran berdasar pembelajaran model JIGSAW. Perbandingan hasil pengamatan dilaksanakan dengan menggunakan instrumen IPKG2 da-pat dilihat pada tabel 4.5. Perban-dingan hasil pengamatan pelaksanaan pembelajaran dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5

Perbandingan Hasil Pengamatan tentang Pelaksanaan Pembelajaran

Masing-Masing Siklus

Pada perbandingan tersebut da-pat dilihat adanya kenaikan kemam-puan guru dalam melaksanakan kegi-atan pembelajaran, setelah mengikuti pendampingan dalam kegiatan

pem-belajaran oleh Pengawas Sekolah. Dari siklus ke siklus ternyata ang-kanya makin naik tentang ketuntasan kemampuan guru dalam melaksa-nakan kegiatan pembelajaran Jigsaw.

Perbandingan hasil pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran masing-masing siklus tersebut di atas dapat dilihat pula dalam bentuk grafik perbandingan yakni sebagaimana berikut :

(21)

271 Keberhasilan tersebut dipenga-ruhi oleh beberapa hal diantaranya : 1) Pelaksanaan supervisi dengan melibatkan pihak lain yakni guru senior untuk memberikan masukan kepada guru yang disupervisi. 2) Supervisi akademik dengan pende-katan BINI-DAMBEL kepada guru. Karena dengan pendekatan ini guru tidak merasa disalahkan, tetapi diajak berfikir bersama, melakukan kegiatan didamping Kepala Sekolah dan dalam mengatasi permasalahan yang diha-dapi dilakukan bersama. Dengan de-mikian Kepala sekolah sebagai mitra guru dapat memfasilitasi kebutuhan guru dalam meningkatkan kinerjanya. 3) Guru lebih terbuka jika diajak mus-yawarah layaknya mitra kerja dalam membahas dan menyempurnakan ke-kurangan yang dilakukan dalam pem-belajaran di kelas.

Kesimpulan dan Saran

Berdasar hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bah-wa : 1) Supervisi akademik dengan pendekatan Bimbinan Tehnis dalam Pembelajaran (BINI-DAMBEL) da-pat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun rencana pembe-lajaran sesuai dengan pembepembe-lajaran kooperatif Jigsaw di SMPN 1 dan SMPN 2 Tragah Tahun Pelajaran 2015/2016. 2) Supervisi akademik dengan pendekatan Bimbinan Tehnis dalam Pembelajaran (BINI-DAM-BEL) dapat meningkatkan kemampu-an guru dalam melakskemampu-anakkemampu-an kegiatkemampu-an pembelajaran sesuai dengan pembela-jaran kooperatif Jigsaw di SMPN 1

dan SMPN 2 Tragah Tahun Pelajaran 2014/2015.

(22)

272

Daftar Pustaka

Depdiknas , 2006, Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Ja-karta.Depdiknas.

Dimyati, 2002, Belajar dan Pembela-jaran, Jakarta, Rineka Cipta.

Isjoni, 2014, Pembelajaran Koope-ratif Meningkatkan Kecerdasan Komuinikasi Antar Peserta Di-dik, Pustaka Pelajar, Yogyaka-rta.

Lie A, 2005, Kooperatif Learning, Grasindo, Jakarta.

Furchan Arief, 2005, Pengantar Pe-nelitian Dalam Pendidikan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Sahertian P, 2000, Konsep dan Tehnik Supervisi Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.

Santrock,2009, Psikologi Pendidikan Educational Psychology, Sa-lemba Humanika, Jakarta

Slavin, 2005,Cooperative Learning Teori,Riset dan Praktik, Nusa Media, Bandung

Yuwono Patwiynto,Pengebangan Profesi

Pengawas,Depdiknas,Jakarta.

Zainal Akib dan Elham Rohmanto,2007. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah,Yrama Widya,Bandung.

Figur

Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Pengamatan

Tabel 4.1

Rekapitulasi Hasil Pengamatan p.14
Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Pengamatan

Tabel 4.2

Rekapitulasi Hasil Pengamatan p.16
Tabel 4.4 Perbandingan Hasil Pengamatan

Tabel 4.4

Perbandingan Hasil Pengamatan p.19
Tabel 4.5 saw dapatlah disimpulkan bahwa : 1)

Tabel 4.5

saw dapatlah disimpulkan bahwa : 1) p.20

Referensi

Memperbarui...