SINOPSIS BURUNG BURUNG MANYAR docx

318  Download (0)

Teks penuh

(1)

SINOPSIS BURUNG-BURUNG MANYAR

IDENTITAS BUKU :

Judul buku : Burung-Burung Manyar

Pengarang : Y.B. Mangunwijaya

Tahun Terbit : 2007

Tebal Halaman : 319

Penerbit : Djambatan

Novel ini menceritakan tentang kisah perjalanan hidup seorang anak kolong bernama Setadewa yang biasa dipanggil Teto. Seorang anak yang terlahir dari perkawinan seorang perempuan keturunan Indo-Belanda, Marice, dengan seorang lelaki keturunan ningrat Keraton yang pada saat itu menjabat sebagai seorang kapten KNIL pada saat pemerintahan Belanda di Indonesia, Brajabasuki namanya, yang karena ketidaknyamanannya berada di istana membuatnya keluar dari istana Keraton dan memilih untuk menjadi seorang kapten KNIL. pemuda yang berpendidikan tinggi, seorang dokter tamatan Universitas Havard yang menjadi ahli computer di sebuah perusahaan besar di Amerika. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga tentara KNIL. Ayahnya seorang kepala garnisun II pada masa KNIL, Belanda berpangkat letnan. Maminya dikenal sebagai wanita indo bernama Marice, seorang wanita yang terkenal cantik.

Teto sendiri adalah seorang anak kolong yang suka bermain dengan anak para serdadu yang mungkin menurut kedudukan papinya sangat tidak sederajat, namun papinya tidak pernah memaksanya untuk bermain dengan orang-orang yang mungkin sederajat dengannya. Lain dengan maminya yang selalu memarahinya karena Teto sering pulang dalam keadaan kotor akibat bermain dengan para anak serdadu. Maminya meskipun seorang yang berketurunan Belanda namun sangat percaya dengan tahayul-tahayul Keraton yang tentu sangat membuat Teto begitu aneh dengan maminya itu.

(2)

Setelah pemerintah Belanda kalah oleh pemerintah Jepang dan kedudukan Belanda diambil alih oleh Jepang, kehidupan rakyat Indonesia berubah drastis menjadi lebih tidak terkendali. Rumah Teto sekeluarga diambil oleh Jepang dan dengan terpaksa mereka harus mengungsi ketempat yang lebih aman dan membeli sebuah rumah kecil persis di belakang rumah seorang pemerintah Jepang.

Teto sendiri pada saat itu disekolahkan ke kota Semarang dan tentu saja jarang pulang ke rumah. Ketika ia pulang dari Semarang, papinya mengajak Teto untuk masuk ke kamar papinya dan memberi tahu Teto bahwa sudah saatnya bagi Teto untuk membantu papinya. Pembantu dari keluarga Jepang yang ada di depan rumah mereka tersebut adalah seorang yang dekat dengan papi dan maminya meskipun Teto sendiri sangat benci kepada perempuan tua tersebut, namun perempuan itu telah membantu mereka untuk mempermudah kegiatan yang akan dilakukan mereka.

Teto disuruh untuk masuk ke dalam rumah tersebut dan memasang alat yang akan membuat mereka tahu kegiatan-kegiatan yang dilakukan serdadu Jepang tersebut. Hingga suatu hari di hari yang tepat, Teto melaksanakan aksinya tanpa diketahui oleh pemilik rumah tersebut. Ia memasang alat tersebut di dalam wc yang sudah tidak digunakan lagi oleh pemiliknya dan menyambungkan kabel ke rumahnya.

Setelah beberapa hari, Teto pun kembali lagi ke Semarang untuk bersekolah hingga suatu hari ia pulang dari Semarang dengan niat ingin menjenguk mami papinya, namun dilihatnya rumahnya terkunci rapat, kata tetangganya, kedua orang tuanya pergi menjenguk kakeknya yang lagi sakit. Teto segera memahami maksud dari kalimat tersebut, karena kakeknya sudah lama meninggal dan ia sudah berpirasat ada sesuatu yang terjadi dengan keluarganya. Ia sampai di Surakarta dan dilihatnya sang mami telah menangis sedari tadi dan ketika melihat Teto sudah datang, maminya langsung mencium Teto sambil menyuruh Teto untuk mendoakan papinya yang telah tertangkap oleh para serdadu Jepang.

Tiga bulan setelah itu, ketika Teto sudah kembali ke Semarang tiba-tiba ia mendapat surat dari seseorang yang tak ia kenal, isi surat tersebut antara lain meyuruh Teto untuk datang ke Jakarta di suatu rumah, namun karena ia sedang menghadapi ujian akhir sekolah dari SMT ia tak bisa langsung ke Jakarta.

(3)

sepi, dan bahkan semua pintunya dikunci rapat-rapat. Teto memeriksa lagi alamat rumah tersebut dan benar rumah itulah tujuannya, akhirnya ia memutuskan untuk menuggu saja di teras depan rumah. Setelah lumayan lama datang seorang perempuan yang mungkin umurnya dibawah Teto, ia memberi hormat kepada gadis tersebut dan dibalas dengan salam. Teto benar-benar tidak menyangka kalau gadis yang ada di depannya kini adalah Larasati, anak dari sahabat papinya, pak Hendraningrat yang juga mempersunting wanita keturunan Keraton yaitu bu Antana,istrinya. Setelah itu mereka berbincang-bincang dan kemudian Teto diajaknya masuk ke rumah.

Ketika di dalam rumah tersebut Teto melihat maminya menangis dan dihibur oleh bu Antana. Dari cerita maminya kepada Bu Antana, ia sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa papinya sudah ditangkap serdadu Jepang ketika mereka bertemu di suatu tempat dan dengan segala permohonan papinya, mami Teto akhirnya dilepaskan. Semenjak itu Teto bertekad untuk meneruskan perjuangan papinya menjadi seorang kapten KNIL. Akhirnya ia dan maminya tinggal di rumah Bu Antana dan karena rasa sungkannya mereka akhirnya pindah rumah dan membeli sebuah rumah kecil dengan sisa tabungan orang tuanya. Teto pun masuk jurusan Kedokteran karena paksaan dari maminya, ia juga bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hingga suatu hari ketika ia pulang dari kerja, ia mendapatkan rumahnya dalam keadaan kosong dengan sebuah surat dari maminya yang menyuruhnya untuk pergi ke rumah Bu Antana karena Bu Antanalah yang akan menjelaskan kemana maminya pergi.

Di bawah pohon di belakang rumah Bu Antana, Teto menangis terisak-isak ketika diberi tahu maminya pergi meninggalkan rumah karena mendapat surat dari Kepala Kenpeitai yang menyuruhnya untuk memilih antara nyawa papinya atau ia menjadi seorang gundik Jepang. Dan karena rasa cintanya kepada sang suami, ia memilih untuk menjadi gundik Jepang selamanya. Teto merasa kasihan kepada maminya tapi ia juga merasa marah karena maminya memilih menjadi gundik Jepang.

(4)

hatinya tetap terkenang keluarganya dan keluarga Bu Antana terutama Atik. Dan Atik sendiri kini menjadi sekretaris pemerintah Indonesia seperti katanya dulu kalau ia akan berbakti kepada Negara.

Suatu hari ketika ia pergi bertugas, ia menyempatkan diri untuk pergi ke rumah Atik di Kramat, tapi dilihatnya rumah itu sudah kosong, tak ada seorangpun di rumah itu. Para anggotanya ia suruh untuk berjaga di luar sedangkan ia sendiri ke pekarangan belakang rumah karena teringat biasanya Bu Antana sering menaruh kunci dapur di bagian semak-semak yang tak terlihat seorangpun.

Ketika ia mengambil sesuatu dari dalam semak tersebut, ia mendapatkan sebuah surat dari Atik yang mengabarkannya kalau Atik sekeluarga kini sudah mengabdi kepada Negara Indonesia. Teto semakin sering mengunjungi rumah Atik di Kramat tersebut karena ia hanya bisa merasakan ketenangan di rumah itu. Hingga suatu hari Komandan Verbruggen tahu kalau ia sering ke tempat tersebut, meskipun ia dimarahi komandan tapi arahnya mengandung nilai kepabaan yang membuat Teto terharu.

Begitulah kerjaan Teto sampai pada akhirnya pasukan KNIL dikalahkan oleh pasukan Jepang. Teto pun kemudian memilih untuk study ke luar negeri dan menjadi seorang menejer produksi pacipic oil wells Company milik Negara lain. Ketika pulang lagi ke Indonesia, ia memutuskan untuk ziarah ke makam mami dan papinya. Ia juga pergi berkeliling kota mencari Larasati yang katanya tinggal di suatu desa dekat lereng gunung. Ketika di tengah perjalanan, ia akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah seorang kepala desa karena mobil jip yang disewanya harus kehabisan bensin di tengah jalan. Keesokan harinya, ia mengikuti acara wisuda Larasati yang kini akan meeaih gelar doktor. Ia memutuskan untuk duduk paling pojok dimana ia bisa melihat Larasati dengan sangat jelas. Seketika masuk seorang wanita digendeng suaminya dengan menggunakan kebaya. Ia masih tetap cantik.

(5)

kepada Setadewa karena tamu itu bukan untuknya melainkan untuk Setadewa.

Ia heran bagaimana Larasati tahu kalau ia ada di sini. Ia bertanya kepada pak dukuh dan ternyata pak dukkuhlah yang memberi tahu bahwa ia kedatangan seorang tamu dari perusahaan minyak dan memakai mobil jip yang telah pergi berziarah ke makam ibunya di Magelang. Pak dukuh meninggalkannya untuk berganti pakaian sedangkan ia sudah tak sanggup membuka pintu, namun ia berusaha dan ketika dibukanya pintu ia melihat mereka baru menaiki tangga teras, Larasati bersama suaminya.

Tiba-tiba Larasati bersorak memanggil namanya kemudian memeluknya dan menangis di pelukannya. Setadewa membelai punggung Larasati berusaha unntuk menenangkannya. Ia melirik ke arah suami Larasati dan suaminya hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum memahami keduanya. Suami Larasati mendekati Setadewa sambil berkedip mengisyaratkan agar ia membiarkan istrinya seperti itu dulu. Kemudian keluar pak dukuh dengan penuh heran melihat mereka berpelukan sambil menghampiri tuan Janakatamsi, ia kemudian mengangguk-angguk mengerti.

Setelah tangis Larasati reda, suami Larasati mengajaknya untuk tinggal bersama mereka dan juga tentunya bersama Bu Antana yang sudah sangat merindukannya serta bersama ketiga anaknya, Teto, Padmi, dan Kris.

Mereka berangkat ke rumah Atik di Cemorojajar. Paginya karena tidak bisa tidur, pagi-pagi ia sudah berdiru di tepi jalan melihat kegiatan orang-orang yang lalu lalang. Tiba-tiba Bu Antana sudah berada di sampingnya, menyapanya dan berbincang-bincang kemudian. Bu Antana menceritakan kehidupan mereka setelah ia tidak pernah menemui mereka lagi. Jelaslah kini ia mengerti kalau Larasati dan suaminya, Jana, adalah perkawinan zaman kuno karena tidak ingin menjadi perawan tua. Semenjak kedatangan Teto ke rumah mereka, jelas terlihat Larasati sangat riang dan semakin bahagia.

Pagi itu, Teto bercakap-cakap dengan Jana. Mereka duduk di dekat jendela sambil menyaksikan dua anak SMA sedang menunggu becak yang akan ditumpangi ke sekolah. Kemudian mereka sama-sama bercerita tentang masa ketika peperngan dulu.

(6)

untuk pergi bermain dan meninggalkan para tetua di sana ingin membicarakan sesuatu. Namun ternyata Jana juga ikut bersama mereka. Tinggallah mereka berdua di sana, Atik dan Teto.

Atik menyuruhnya untuk tetap tinggal bersama mereka karena bagi Atik suaminya tak dapat memimpin dan justru Atiklah yang memimpinnya. Kemudian Teto menjelaskan kepadanya kalau suaminya sebenarnya tak seperti itu, namun itu hanya perasaan yang ia rasakan semata. Teto juga memberi tahunya kalau ia telah mendapat pesan dari ayah Jana yang ternyata adalah dokter yang merawat maminya dulu, ia meminta kepada Jana untuk naik haji sebelum ia wafat. Dan blab la bla.

Karena nasihat Teto itu, akhirnya Atik mendampingi suaminya pergi ke tanah suci Mekkah untuk haji. Dalam perjalanan menunaikan ibadah haji, pesawat mereka menabrak bukit dekat Kolombo, Sri Langka sana. Begitulah berita yang didengar Teto di radio, namun anehnya ia tak terkejut mendengar berita itu karena menurutnya mereka mati dalam keadaan baik. musibah menimpa Yanakatamsi dan istrinya. Pesawat yang mereka tumpangi menabrak bukit di Colombo. Mereka hanya pulang nama. Ketiga anak mereka menjadi yatim piatu. Peristiwa ini akhirnya membuat Teto menjadi ayah ketiga anak Larasati dengan Ibu Antana sebagai nenek mereka

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Burung-burung Manyar